You are on page 1of 26

Diajukan Kepada YTH

:

dr. Slamet Widi S., Sp.A

Case Based Discussion Kelompok
Seorang Anak dengan TBC Paru
Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Di RSUD Kota Semarang

Disusun oleh :
Ardya Garry
Suseno
012116334
Reza Anggita S
30101206724
Pembimbing:
dr. Slamet Widi
S., Sp.A
dr. Zuhriah
Hidajati, Sp. A,
M.Si M.ed.
dr. Lilia Dewiyanti, Sp. A, M.Si M.ed.
dr. Neni Sumarni, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

LEMBAR PENGESAHAN

1

Nama

: Ardya Garry Suseno

NIM

: 012116334

Universitas

: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Judul Kasus

: Seorang Anak dengan TBC Paru

Bagian

: Ilmu Kesehatan Anak - RSUD Kota Semarang

Pembimbing : dr. Slamet Widi S., Sp.A

Semarang,

November 2016

dr. Slamet Widi S., Sp.A

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien

: An. DSR
2

Demak Bangsal : Nakula 4.00 WIB. CM : 3747xx Tanggal Masuk RS : 04/11/2016 Tanggal Keluar RS : 07/11/2016 Nama Ayah : Tn. penurunan nafsu makan  Riwayat Penyakit Sekarang 3 .Umur : 1 tahun 3 bulan Tanggal Lahir : 19/08/2015 Jenis Kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Alamat : Mranggen. D Umur : 30 Tahun Pekerjaan : Karyawan Pendidikan : S1 Nama Ibu : Ny. kamar 5.2  Keluhan Utama : Batuk  Keluhan Tambahan : Sesak nafas. di ruang Nakula 4. Anamnesis Alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada hari Rabu. A Umur : 27 Tahun Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMA II.2 No. kamar 5. 5 November 2016 pukul 12. lemas. demam. DATA PASIEN 1.

Tidak ada riwayat alergi makanan maupun obat. dan belum diperiksakan ke dokter. Riwayat minum obat tanpa resep dokter maupun jamu disangkal. 1 hari setelah masuk rumah sakit. sesak dirasakan memberat jika pasien batuk. Pasien sudah mengkonsumsi obat batuk yang dibeli di warung namun keluhan batuk tetap ada. Batuk dirasakan terus-menerus. 3 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam. buang air besarnya normal. Saat memasuki usia kehamilan 8 bulan. pemeriksaan dilakukan 2 kali.  Riwayat Pemeliharaan Prenatal Ibu rutin memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. ibu tidak pernah menderita penyakit. 1 kali setiap bulan. Demam diukur oleh ibu pasien menggunakan termometer pribadi. didapatkan suhu 37. Selain itu juga terdapat sesak. Riwayat trauma disangkal. tetapi keluhan tidak membaik. Keluhan nyeri tenggorok disangkal. Lalu ibu pasien membawa pasien ke RSUD Kota Semarang. Ibu mengaku anaknya tidak nafsu makan sejak sakit dan hanya mau makan sedikit. Selain itu anaknya selalu lemas dan kurang aktif. dan asma.  Riwayat Penyakit Keluarga Sepupu pasien mengalami batuk lama yang terus menerus. 3 hari sebelum masuk rumah sakit batuk yang dialami pasien semakin buruk. Batuk dirasakan berdahak namun sulit untuk dikeluarkan. bicara meracau.1 Bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami batuk.  Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.9 derajat celcius. Demam juga tidak disertai diare. Ibu pasien mengatakan bahwa dahak pernah keluar sedikit. dan menggigil. tidak sakit saat pipis dan tidak ada darah. Kesan : riwayat prenatal baik  Riwayat Persalinan dan Kehamilan 4 . Demam tidak disertai kejang. dan sakit perut. Pasien tidak pernah masuk rumah sakit sebelumnya dan dan menjalani operasi. berwarna putih dan tidak pernah disertai darah. Pasien tidak ada riwayat ke daerah endemis. Demam bersifat naik turun. Selama hamil. tidak mencret. Pemeriksaan dilakukan sejak ibu mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 7 bulan. Riwayat alergi makanan maupun obat dan asma disangkal. Demam membaik dengan pemberian obat penurun panas tetapi muncul kembali setelah beberapa jam setelah pemberian obat. tidak sakit perut. Pasien tidak mual. buang air kecil juga seperti biasa. telah dibawa ke klinik terdekat dan diberikan obat batuk. batuk yang dialami pasien membaik dan demam yang dialami sudah turun.

 Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan: Berat badan lahir 3200 gram. Panjang badan lahir 49 cm. hamil 39 minggu. namun porsi makan pasien sedikit. • Sejak usia 6 bulan. sayur sop dan buah-buahan seperti pisang dan pepaya. sudah mulai ditambah dengan bubur 2x/hari. bubur tim. Kesan : riwayat postnatal baik. lahir spontan  Riwayat Pemeliharaan Postnatal Pemeliharaan postnatal dilakukan di Posyandu dan anak dalam keadaan sehat. ibu mengaku lupa lingkar kepala dan lingkar dada pasien saat lahir.Pasien merupakan anak laki-laki ke-2 dari ibu G2P2A0 . • Saat ini pasien makan makanan menu keluarga yang dimasak oleh ibunya 3x/hari. panjang badan lahir 49 cm. dan sejak sakit semakin tidak nafsu makan. Berat badan sekarang 9 kg. tidak ada kelainan bawaan. Panjang badan sekarang 78 cm. gerakan aktif. Bayi langsung menangis saat lahir. Kesan : neonatus aterm. • Sejak usia 7 bulan mulai makan biskuit bayi • Sejak usia 12 bulan makan 3x/hari: nasi lembek. Setiap kontrol di posyandu anak selalu dalam keadaan sehat dan kondisi anak dicatat pada KMS. Perkembangan : • Tengkurap: 3 Bulan • Duduk: 7 Bulan • Mengoceh: 7 Bulan • Berdiri: 9 Bulan • Bicara: 1 Tahun • Berjalan: 1 Tahun Kesan : Tidak ada gangguan tumbuh kembang  Riwayat Nutrisi • ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. lahir spontan per-vaginam ditolong bidan di puskesmas. 5 . Berat badan lahir 3200 gram.

rambut tebal. Menanggung 2 orang anak.30 WIB. Barang-barang perabotan di rumah ditata dengan rapih dan rutin dibersihkan. pada palpasi teraba satu buah benjolan pada regio colli dextra di bawah mandibula. Biaya pengobatan ditanggung sendiri oleh orang tua pasien (Umum). Suhu : 37. • Mulut : Tonsil T1/T1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 5 November 2016. tidak mudah dicabut. pukul 12. RR : 24 x/menit. 6 . Sumber pencahayaan di rumah cukup.2 °C Status Internus • Kepala : Normocephali. Anak laki-laki usia 1 tahun 1 bulan. faring hiperemis. hanya sepupu pasien yang mengalami batuk lama. dengan BB 9 kg.  Riwayat Imunisasi Ibu pasien lupa jenis imunisasi yang diberikan. • Leher : Tampak benjolan pada regio colli dextra di bawah mandibula. Tidak ada tetangga yang mengalami sakit seperti pasien. reguler.  Riwayat Lingkungan Daerah tempat tinggal pasien dan keluarganya cukup padat. 2.Kesan : ASI eksklusif 6 bulan. Kesan : status sosial ekonomi cukup. namun mengaku pasien telah mendapat imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal. dan kualitas makan dan minum baik. Sumber air dirumah adalah air PAM. Penghasilan ayah tidak diketahui. PB 78 cm Keadaan umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos Mentis Tanda vital : HR : 104 x/menit. reguler. Setiap hari jendela rumah dibuka sehingga sinar matahari dapat masuk ke rumah.  Riwayat Sosial Ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai karyawan di bengkel motor. sedangkan ibu pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga.

murmur (-). simetris  Auskultasi : bising usus (+) 5 kali/ menit  Palpasi : supel. Tidak ada pembengkakan di lutut maupun sendi-sendi jari tangan dan kaki pasien. tidak nyeri. retraksi (-) • Palpasi : Stem fremitus simetris kanan dan kiri. 3. • Auskultasi : Suara nafas vesikuler +/+ . Tonus otot baik. warna sesuai warna kulit di sekitarnya. • Perkusi : Sonor di kedua lapang paru. Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium 04/11/16 05/11/16 06/11/16 7 .  Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak tampak  Palpasi : Ictus cordis tidak teraba  Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan  Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular. gallop (-) Cor  Abdomen  Inspeksi : datar. turgor kulit baik  Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomen  Genitalia : Jenis kelamin laki-laki  Anorektal : Anus (+)  Ekstremitas : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe di axilla maupun di inguinal. konsistensi lunak. nyeri tekan lepas (-).ukuran kurang lebih 1-2 cm. • Thoraks Paru . wheezing -/-. dapat digerakan.paru • Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi. hepar dan lien tidak teraba membesar. rhonki -/-.

700 11.5 11.100 Trombosit (103/uL) 456.6 11.700 8.20 34.000 S Typhi O Negatif S Typhi H Negatif Natrium 134 Kalium 3.000 397.30 33. Jenis Foto: AP 8 .Hematologi: Hb (g/dL) 11.3 Kalsium 1.70 Leukosit (/uL) 12.5 Ht (%) 33.000 498.25  Uji Tuberkulin  Negatif  Foto Rontgen Thoraks tanggal 04 November 2016.

9 .

Pemeriksaan Khusus Data antropometri : Anak laki-laki berusia 1 tahun 3 bulan.8 = 0.4) / 1. RESUME 1 Bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami batuk. Gambaran bronkopneumonia 4.Kesan : Cor konfigurasi Normal.5) / 0.6 SD (Normal) Kesan: Status gizi baik. III. Selain itu juga terdapat sesak. Tinggi Badan 78cm. 3 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam. perawakan normal Scoring TB Paru: Riwayat Kontak: 2 Uji Tuberkulin: 0 Status Gizi: 1 Demam: 1 Batuk: 1 Pembesaran kelenjar: 1 Pembengkakkan tulang/sendi: 0 Foto Thorak: 1 Scoring TB: 7  diagnosis TB dapat ditegakkan. Ibu pasien mengatakan bahwa dahak pernah keluar sedikit. Demam bersifat naik turun. Pasien sudah mengkonsumsi obat batuk yang dibeli di warung namun keluhan batuk tetap ada.2) / 2. Berat badan 9 kg. Keluhan nyeri tenggorok disangkal.27 SD (Berat Normal) • HAZ = (78-77.1 = -1. Demam membaik dengan pemberian obat penurun panas tetapi muncul kembali setelah beberapa jam setelah pemberian obat.9 = -1. Demam diukur oleh ibu pasien 10 . sesak dirasakan memberat jika pasien batuk.28 SD (Panjang Badan Normal) • WHZ = (9-10. Batuk dirasakan berdahak namun sulit untuk dikeluarkan. berwarna putih dan tidak pernah disertai darah. • WAZ = (9-10. Batuk dirasakan terusmenerus.

Selain itu anaknya selalu lemas dan kurang aktif. Pasien tidak mual. buang air kecil juga seperti biasa. tidak mencret. dan menggigil. buang air besarnya normal. tetapi keluhan tidak membaik. dan sakit perut. pendarahan gusi ataupun mimisan. bicara meracau.  TATA LAKSANA Non medika mentosa: 11 . Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kesan leukositosis dan trombositosis. Skoring TB didapatkan hasil 7. Demam tidak disertai kejang. terdapat pembesaran KGB dextra 1cm. Demam juga tidak disertai bercak merah. tidak sakit saat pipis dan tidak ada darah. Lalu ibu pasien membawa pasien ke RSUD Kota Semarang. 1 hari setelah masuk rumah sakit. diare. batuk yang dialami pasien membaik dan demam yang dialami sudah turun. Pada pemeriksaan radiologi thoraks tanggal 04 November 2016 didapatkan kesan Bronkopneumonia. Ibu mengaku anaknya tidak nafsu makan sejak sakit dan hanya mau makan sedikit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang. IV. telah dibawa ke klinik terdekat dan diberikan obat batuk. tidak sakit perut. lemah dan status gizi baik.9 derajat celcius. DIAGNOSA BANDING Batuk  TB Paru  Bronkopneumonia Observasi Febris V.  TB Paru  ISPA  Demam Tifoid  Malaria DIAGNOSA KERJA  TB Paru  Bronkopneumonia  Status gizi baik VI. didapatkan suhu 37. 3 hari sebelum masuk rumah sakit batuk yang dialami pasien semakin buruk.menggunakan termometer pribadi.

Ceftriaxon 2x250mg PO:  PCT syr 3x1cth  Imunos syr 2x1cth OAT  Rifampisin 75mg  INH 50 mg  Pirazinamid 150 mg  B6 5 mg PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam 12 .- Memberikan penjelasan kepada keluarga. Inj. bahwa TB paru memerlukan pengobatan yang lama ± 6 bulan - Edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya kepatuhan meminum obat setiap hari  - Skrining terhadap saudara pasien dan kedua orang tua pasien - Pengobatan pada keluarga yang menderita TB - Memberi asupan gizi yang baik sesuai usia - Menghindarkan kontak dengan pasien TB - Kontrol tiap 1 bulan sekali Medikamentosa o Infus Kaen3B 14 cc/jam o Injeksi:  o o VII.

Vit. FOLLOW UP HARIAN 04/11/2016 S/ demam. GPulmo: rhonki (-/-). 06/11/2016 Bising usus (+) Normal S/ batuk mulai berkurang. M -.7°C 13 . wheezing (-/-) Abdomen: Nyeri tekan (-). C 1x100mg O/ Po: Ambroxol syr. sesak. M -. P/ Lab OAT Lanjut Terlampir Besok rencana pulang O/ HR: 102x/menit RR: 25x/menit Suhu: 36. nafsu makan Kaen3B 14 tpm Terlampir kurang OAT Rifampisin 75 mg O/ INH 50 mg HR: 104x/menit Pirazinamid 150 mg RR: 24x/menit B6 5 mg Suhu: 37.6°C Cor: BJ1BJ2 Reg. GPulmo: rhonki (-/-). HR: 98x/menit PCT syr 3x1cth RR: 36x/menit Imunos syr 2x1cth Suhu: 37.1°C Cor: BJ1BJ2 Reg. P/ O2 2l/menit Lab nafsu makan kurang. sesak mulai berkurang. Ceftriaxon 2x250mg Inj.VIII. 05/11/2016 Bising usus (+) Normal S/ batuk. berat Kaen3B 14 tpm terlampir badan turun Inj. batuk. sesak napas P/ Terapi lanjut Lab berkurang. Konsul Radiologi foto thoraks AP wheezing (-/-) Abdomen: Nyeri tekan (-).

7 °C Cor: BJ1BJ2 Reg. GPulmo: rhonki (-/-). 07/11/2016 Bising usus (+) Normal S/ batuk mulai berkurang. wheezing (-/-) Abdomen: Nyeri tekan (-). M -. wheezing (-/-) Abdomen: Nyeri tekan (-). M -. sesak mulai berkurang P/ OAT lanjut Boleh pulang O/ HR: 98x/menit RR: 22x/menit Suhu: 36.Cor: BJ1BJ2 Reg. GPulmo: rhonki (-/-). Bising usus (+) Normal TINJAUAN PUSTAKA TUBERKULOSIS PARU 14 .

Tuberkulosis tetap merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Asia. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. tetapi juga di negara maju. Tuberkulosis. dari 1261 kasus TB anak berusia <15 tahun. terutama TB paru. Amerika. sedangkan di negara maju.I. TB pada anak berusia < 15 tahun adalah 15% dari seluruh kasus TB. baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di negara berkembang. II. didapatkan bahwa 452 anak berusia <15 tahun menderita TB (MRCT-CDU. yaitu 5-7%. Pada survey nasionai di Inggris dan Wales selama setahun pada tahun 1983. angkanya lebih rendah. World health organization memperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia (2 miliar orang) telah terinfeksi oleh M. dilaporkan bahwa selama II (tahun 1983-993) didapatkan 171 kasus TB anak usia <15 tahun. 15 . Berdasarkan laporan tahun 1985. PREVALENS Morbiditas dan mortalitas Laporan mengenai TB anak jarang didapatkan. DEFINISI Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Salah satu diantaranya adalah TB. tuberculosis. dan Amerika Latin. EPIDEMIOLOGI Sejak akhir tahun 1990-an. Diperkirakan jumlah kasus TB anak per tahun adalah 5-6% dari total kasus TB. Dari Alabama. dengan angka tertinggi di Afrika. dilakukan deteksi terhadap beberapa penyakit yang kembali muncul dan menjadi masalah terutama di negara maju. merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang. 1988). III. yang disebut juga basil tahan asam. 63% di antaranya berusia <5 tahun.

kemiskinan. 1.4 juta kasus baru). dari 7. Pada tahun 2000 terdapat 1.000 penduduk) pada tahun 1995. dan akan mencapai 11. Kasus baru diperkirakan akan meningkat setiap tahun. 8 juta di antaranya berhubungan dengan infeksi HIV. batuk produktif dan kuat. Risiko timbulnya transmisi kuman dari orang dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien dewasa tersebut mempunyai BTA sputum positif. setelah India (2. diperkirakan kasus TB naik 58% dari tahun 1990.1 juta. diperkirakan sebanyak 88. tempat penampungan umum (panti asuhan. 90% di antaranya terjadi di negara berkembang.5%). IV. peningkatan TB paling banyak terjadi pada usia 25-44 tahun (54.8 juta) disertai infeksi HIV.000 penduduk) pada tahun 1990.1%). Pada tahun 2005.000 di antaranya berhubungan dengan HIV. 226.9 juta kasus pada tahun 2005. dan 5-12 tahun (38. diikuti oleh usia 0-4 tahun (36. lingkungan yang tidak sehat (higiene dan sanitasi yang tidak membaik).1 juta kasus) dan Cina (1.1%). dari tahun 1990-1999.8 juta kematian akibat TB. dan 450. peningkatan TB pada anak berusia 0-4 tahun adalah 19%. selama 10 tahun. serta terdapat faktor lingkungan yang kurang sehat terutama sirkulasi udara yang kurang baik.1 juta kasus). infiltrat luas atau kavitas pada lobus atas. Selama tahun 1985-1992. menjadi 8.3 juta kasus baru TB anak. Menurut WHO (1994). produksi sputum banyak dan encer. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam jumlah kasus baru TB (0. Resiko infeksi TB Faktor resiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB aktif (kontak TB positif).2 juta penyandang TB. WHO memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat 1.8 juta kasus (152 kasus per 100. 8% di antaranya (2.5 juta kasus (143 kasus per 100. diperkirakan bahwa jumlah kasus baru adalah 35. Di Amerika Serikat dan Kanada. 16 . penjara atau panti perawatan lain) yang banyak terdapat pasien TB dewasa aktif. menjadi 10. daerah endemis. scdangkan pada usia 5-15 tahun adalah 40%.000 penduduk) pada tahun 2000. Total insidens TB selama 10 tahun.2 juta kasus (163 kasus per 100. Di Asia Tenggara.000 anak usia <15 tahun meninggal dunia karena TB. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi faktor resiko infeksi dan faktor resiko progresi infeksi menjadi penyakit (resiko penyakit).Pada tahun 1989. FAKTOR RESIKO Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi TB maupun timbulnya penyakit TB pada anak. Sebanyak 10% dari seluruh kasus terjadi pada anak berusia < 15 tahun.

b. a. penghasilan yang kurang. pengangguran. Sedikitnya atau tidak ada produksi sputum dan tidak terdapatnya reseptor batuk di daerah parenkim menyebabkan jarangnya gejala batuk pada TB anak. Virulensi dari M. sehingga tidak terjadi produksi sputum. Lokasi infeksi primer yang kemudian berkembang menjadi sakit TB primer biasanya terjadi di daerah parenkim yang jauh dari bronkus. pendidikan yang rendah. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan berkembangnya infeksi TB menjadi sakit TB. rentang waktu antara terjadinya infeksi dan timbulnya sakit TB singkat (kurang dari 1 tahun) dan biasanya timbul gejala yang akut. Pada bayi. c.Pasien TB anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa di sekitarnya. b. Sosial ekonomi yang rendah. risiko sakit TB ini akan berkurang secara bertahap seiring dengan pertambahan usia. Hal tersebut karena: a. Anak berusia < 5 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB diseminata (seperti TB milier dan meningitis TB). a. Akan tetapi. Usia Anak berusia ≤ 5 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi infeksi menjadi sakit TB karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur). Infeksi baru yang ditandai dengan adanya konversi uji tuberkulin (dari negatif menjadi positif) dalam 1 tahun terakhir. Resiko sakit TB Anak yang telah terinfeksi TB tidak selalu akan mengalami sakit TB. imunokompromais (misalnya pada infeksi HIV. 17 . kepadatan hunian. tetapi karena imunitas anak masih lemah jumlah yang sedikit tersebut sudah mampu menyebabkan sakit. Hal ini dikarenakan kuman TB sangat jarang ditemukan di dalam sekret endobronkial pasien anak. Jumlah kuman pada TB anak biasanya sedikit (paucibacillary). keganasan. 2. c. transplantasi organ dan pengobatan imunosupresi). Faktor lain yaitu malnutrisi. d. Tuberculosis dan dosis infeksinya.

fokus primer di jaringan paru dapat mengalami salah satu hal sebagai berikut. bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Melalui saluran limfe kuman akan menyebar menuju kelenjar limfe regional. pada sebagian kasus lainnya. Pada saat terbentuknya komplek primer inilah. Akan tetapi. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika fokus primer terletak di bawah atau tengah. kuman TB dapat dihancurkan seluruhnya oleh mekanisme imunologis nonspesifik. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini. Dapat juga terjadi obstruksi total yang menyebabkan atelektasis. Setelah imunitas seluler terbentuk. kuman TB dalam droplet nuclei yang terhirup setelah melewati barier mukosa basil TB akan mencapai alveolus. Masa inkubasi (waktu antara masuknya kuman dengan terbentuknya komplek primer secara lengkap) bervariasi antara 4-8 minggu. Pada sebagian kasus. kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahiler. Kelenjar limfe hilus atau paratrakeal yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi akan membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. sehingga bronkus dapat terganggu yaitu obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal yang akan menimbulkan hiperinflasi di segmen distal paru. Jika terjadi nekrosis pengkejuan yang berat.V. tidak seluruhnya dapat dihancurkan. yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein yaitu timbulnya respon positif terhadap uji tuberkulin. sehingga tidak terjadi respon imunologis spesifik. Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis dan pleuritis fokal. Selanjutnya kuman TB membentuk lesi di tempat tersebut yang dinamakan fokus ghon (fokus primer). infeksi TB primer terjadi. mengalami resolusi secara sempurna. Karena ukurannya yang sangat kecil. Komplek primer dapat juga mengalami komplikasi yang disebabkan oleh fokus di paru atau di kelenjar limfe regional. PATOGENESIS DAN PERJALANAN ALAMIAH Paru merupakan port d’entree lebih dari 98% kasus infeksi TB. Pada individu yang tidak dapat menghancurkan seluruh kuman. dan akhirnya menyebabkan lisis makrofag. 18 . sedangkan jika fokus primer terletakfadenitis dinamakan kompleks primer. sebagian kecil kuman TB yang tidak dapat dihancurkan akan terus berkembang biak di dalam makrofag. makrofag alveolus akan memfagosit kuman TB yang sebagian besar dihancurkan. Akan tetapi. atau membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis pengkejuan dan enkapsulasi. tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan paru.

Penyebaran hematogen sering tersamar (occult hematogenic spread) sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh dan biasanya yang dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik terutama apek paru atau lobus atas paru. Sedangkan pada penyebaran hematogen. kuman tetap hidup dalam bentuk dorman dan bisa terjadi reaktivasi jika daya tahan tubuh pejamu turun. Di berbagai lokasi tersebut kuman TB akan bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya. 19 . kuman TB masuk kedalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh dan disebut penyakit sistemik.Selama masa inkubasi sebelum terbentuknya imunitas seluler dapat terjadi penyebaran secara hematogen dan limfogen. Pada penyebaran limfogen kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk komplek primer.

dan limladenitis regional (3). Penyebaran hematogen umumnya terjadi secara sporadik (occult hematogenic spread). 3. Kompleks primer terdiri dari fokus primer (1). 2. Fokus ini berpotensi mengalami reaktivasi di kemudian hari.Bagan patogenesis tuberkulosis. terjadinya penyebaran hematogen. lirntangitis (2). Catatan: 1. 20 . Kuman TB kemudian membuat focus koloni di berbagai organ dengan vaskularisasi yang baik. terbentuknya kompleks primer dan imunitas selular spesifik. TB primer adalah proses masuknya kuman TB. hingga pasien mengalami infeksi TB dan dapat menjadi sakit TB primer.

Selain itu tingkat kerusakan parenkim paru tidak seberat pada dewasa. Karena alasan di atas. walaupun batuknya berdahak. Yang termasuk manifestasi klinis antara lain. 2) Tuberkulosis otak dan saraf (menigitis Tb dan tuberkuloma). 2) nafsu makan tidak ada (anoreksia) yang dapat disertai penurunan berat badan. diagnosis TB anak bergantung pada penemuan klinis dan radiologis yang keduanya seringkali tidak spesifik. 4) malaise dan 5) diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan baku diare. Diagnosis TB anak ditentukan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang seperti uji tuberkulin positif. Kuman BTA baru dapat dilihat dengan mikroskop bila jumlahnya paling sedikit 5. Sedangkan yang termasuk manifestasi spesifik organ antara lain. manifestasi klinis TB sangat bervariasi tergantung padaa beberapa faktor yaitu jumlah kuman. DIAGNOSIS Diagnosis pasti TB ditegakkan dengan menemukan M. Selain itu. Dahak yang representatif untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis adalah dahak yang kental dan purulen. Manifestasi klinis TB dibagi 2 yaitu manifestasi klinis dan manifestasi spesifik organ. dan foto paru yang mengarah pada TB (sugestif TB) merupakan bukti kuat yang menyatakan anak telah sakit TB. berwarna hijau kekuningan dengan volume 3-5 ml.4 Sakit TB pada keadaan ini disebut TB pascaprimer karena mekanismenya bisa melalui proses reaktivasi fokus lama TB (endogen) atau reinfeksi (infeksi sekunder dan seterusnya) oleh kuman TB dari luar (eksogen). Kesulitan kedua. virulensi kuman dan daya tahan tubuh host.TB pada pemeriksaan sputum atau bilasan lambung. dibuatlah sistem skoring yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Kadang-kadang TB anak ditemukan karena adanya TB dewasa di sekitarnya. Kesulitan dalam mendiagnosis TB anak karena gejalanya tidak khas. 3) batuk lama lebih dari 3 minggu. VI. cairan cerebrospinal. biasanya dahak akan ditelan sehingga diperlukan bilasan lambung yang diambil melalui NGT. 4) tuberkulosis kulit (skrodulodermal). Pembobotan tertinggi ada pada uji 21 . cairan pleura atau pada biopsi jaringan. pengambilan spesimen/sputum sulit dilakukan. Pada anak.000 kuman dalam 1 ml dahak. 1) TB kelenjar superfisial yang paling banyak mengenai kelenjar kolli. gonisitis). 3) tuberkulosis skeletal (spondilitis. Jumlah kuman TB di sekret bronkus pasien anak lebih sedikit daripada dewasa karena lokasi kerusakan jaringan TB paru primer terletak di kelenjar limfe hilus dan parenkim paru bagian perifer. 1) deman lebih dari 2 minggu dengan penyebab yang tidak jelas yang dapat disertai keringat malam hari.

tidak nyeri Pembengkakan tulang/sendi panggul. jumlah inguinal >1. Berikut tabel sistem skoring gejala dan pemeriksaan penunjang TB Parameter Kontak TB 0 1 2 3 Tidak - Laporan BTA (+) keluarga. tidak tahu/tidak jelas Uji tuberkulin Negatif - - Positif (≥10 mm. ≥1 cm.tuberkulin dan adanya kontak TB dengan BTA positif. - aksila. atau ≥5 mm pada keadaan imunosupres i) Berat badan/keadaan - gizi BB/TB Klinis gizi <90% buruk - atau BB/U BB/TB <80% <70% atau BB/U < 60% Demam tanpa sebab - yang jelas ≥2 - - - - - - - - minggu Batuk - ≥3 minggu Pembesaran kelenjar limfe koli. - Ada pembengk 22 . karena berdasarkan penelitian akan menularkan sekitar 65% orang di sekitarnya. jelas BTA (-).

dan hasilnya dinyatakan dalani milimeter.1 ml PPD RT-232TU atau PPD S 5TU. Uji tuberkulin cara Mantoux dilakukan dengan menyuntikkan 0. falang akan Foto rontgen toraks Normal/ Kesan TB - - Tidak jelas Keterangan : anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥6.lutut. bila ukuran indurasi >15 mm. Pengukuran dilakukan terhadap indurasi yang timbul. diameter indurasi 10—15 mm dinyatakan uji tuberkulin positif. Uji tuberkulin positif dapat dijumpai pada tiga keadaan sebagai berikut: 1. VII. Infeksi TB alamiah a. Jika tidak timbul indurasi sama sekali. Pembacaan dilakukan 48—72 jam setelah penyuntikan. kemudian diameter transversal indurasi diukur dengan alat pengukur transparan. kemungkinan besar karena infeksi TB alamiah. yaitu tertekannya sistem imun (imunokompromais). endapan fibrin dan terakumulasinya sel-sel inflamasi di daerah suntikan. Pada keadaan tertentu. Pada anak balita yang telah mendapat BCG. Jika disuntikkan secara intrakutan kepada seseorang yang telah terinfeksi TB (telah ada kompleks primer dalam tubuhnya dan telah terbentuk imunitas selular terhadap TB). hasil positif ini sangat mungkin karena infeksi TB alamiah. Akan tetapi. secara intrakutan di bagian volar lengan bawah. infeksi TB tanpa sakit TB (infeksi TB laten) b. maka akan terjadi reaksi berupa indurasi di lokasi suntikan. edema. Secara umum. Uji Tuberkulin Tuberkulin adalah komponen protein kuman TB yang mempunyai sifat antigenik yang kuat. hasilnya dilaporkan sebagai 0 mm. ditandai dengan pulpen. Indurasi ini terjadi karena vasodilatasi lokal. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. maka cut off-point hasil positif yang digunakan adalah ≥5 mm. jangan hanya dilaporkan sebagai negative. infeksi TB dan sakit TB 23 . Ukuran indurasi dan bentuk reaksi tuberkulin tidak dapat menentukan tingkat aktivitas dan beratnya proses penyakit. tetapi masih mungkin disebabkan oleh BCGnya. ( skor maksimal 13). Indurasi diperiksa dengan cara palpasi untuk menentukan tepi indurasi. bukan hiperemi/eritemanya. hasil uji tuberkulin dengan diameter indurasi > 10 mm dinyatakan positif tanpa menghiraukan penyebabnya.

3. 2. infiltrate. Terapi TB diberikan pada anak yang sakit TB. 3. atelektasis. Secara umum gambaran radiologis yang sugestif TB adalah : pembesaran kelenjar hilus dengan/tanpa infiltrate. Dalam masa inkubasi infeksi TB. Tidak ada infeksi TB. 2. Sebaliknya. tuberkuloma. TB yang telah sembuh. Infeksi mikobakterium atipik. Mikrobiologis Diagnosis pasti TB ditegakkan bila ditemukan kuman TB pada pemeriksaan mikrobiologis. sedangkan profilaksis TB diberikan pada anak yang kontak TB (profilaksis primer atau anak yang terinfeksi TB tanpa sakit TB (profilaksis sekunder)). foto toraks yang normal (tidak terdetek secara radiologis) tidak dapat menyingkirkan diagnosis TB jika klinis dan pemeriksaan penunjang lain mendukung. milier. konsolidasi segmental. efusi pleura. Tatalaksana medikamentosa TB anak terdiri dari terapi (pengobatan) dan profilaksis (pencegahan). 3. Anergi.c. tubercuosis VIII. TATALAKSANA TB PADA ANAK Beberapa hal penting dalam penatalaksanaan TB anak adalah:  Obat TB diberikan dalam paduan obat tidak boleh diberikan dalam monoterapi  Pemberian gizi yang kuat  Mencari penyakit penyerta dan jika ada ditatalaksana secara simultan. Uji tuberkulin negatif dapat dijumpai pada tiga keadaan berikut: 1. 24 . pemeriksaan mikrobiologis yang dilakukan terdiri dari dua macam: pemeriksaan mikrobiologis apusan langsung untuk BTA dan pemeriksaan biakan kuman M. Radiologis Gambaran foto toraks pada TB tidak khas. lmunisasi BCG (infeksi TB buatan). kelainan-kelainan radiologis pada TB dapat juga dijumpai pada penyakit lain. 2. kalsifikasi dengan infiltrate.

Pirazinamid 15-30 2000 Toksisitas hepar. neuritis perifer. peningkatan enzim hati. hipersensitivitas. Nama obat Isoniazid Dosis harian Dosis (mg/kgBB/har maksimal i) (mg/hari) 5-15 300 Efek samping Hepatitis. artralgia. Pemberian paduan obat ini ditujukan untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. meningitis TB.Paduan Obat Terapi TB Anak Prinsip dasar terapi TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu relatif lama (6-12 bulan). dan peritonitis TB diberikan kortikosteroid (prednison) dengan dosis 1-2 mg/kg BB/hari. Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan (4 bulan kecuali pada TB berat). trombositopenia. dibagi 3 dosis. gastrointestinal Etambutol 15-20 1250 Neuritis optik. cairan tubuh berwarna oranye kemerahan. Sedangkan pemberian obat jangka panjang selain untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kekambuhan. efusi pleura TB. Tujuan pemberian steroid adalah untuk mengurangi proses inflamasi dan mencegah terjadinya perlekatan jaringan. OAT diberikan setiap hari dengan paduan obat yaitu rifampisin. gastriintestinal Streptomisi 15-40 1000 Ototoksisk. Berikut tabel dosis OAT yang biasa digunakan. buta warna merah hijau. TB endobronkial. Pada fase intensif diberikan rifampisin. Lama pemberian kortikosteroid adalah 2-4 minggu dengan dosis penuh dilanjutkan taffering off dalam jangka waktu yang sama. Sedangkan pada fase lanjutan diberikan rifampisin dan isoniazid. ketajaman mata berkurang. nefrotoksik n 25 . hipersensitivitas Rifampisin 10-20 600 Gastrointestinal. perikarditis TB. reaksi kulit. isoniazid dan pirazinamid. hepatitis. Untuk kasus TB tertentu yaitu : TB milier. isoniazid dan pirazinamid.

2000.D. h. 2005. Mubin Halim A. Ed ke-2. Jakarta WHO Indonesia. 2008. h. dkk. Disadur dari www. 2004.emedicine. 2007. h. Jakarta: EGC. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.Ed. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. 988-9 Prashant G Deshpande . 2008. 23 Agustus 2012.. TBC. Alih bahasa: Tim Adaptasi Indonesia. 2008. Sudoyo W. dkk. Ed ke-3.com. 459-69. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Buku Ajar Respirologi Anak Ed. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota.I. Kapita Selekta Kedokteran. Oct 3. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Hardiono. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI. Mansjoer A.1 . Ikatan Dokter Anak Indonesia. Aru. Setyanto Budi. dkk. Jakarta: Depkes RI. 230-3. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Ed ke-4. 26 . 2009. Jilid II.