You are on page 1of 7

BAKTERI

Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil
dengan diameter kurang dari 0,1 mm yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa tanpa
bantuan suatu peralatan khusus. Mikrobiologi meliputi berbagai disiplin ilmu seperti
bakteriologi, imunologi, virologi mikologi dan parasitologi.

Ultrastruktur Bakteri
Bakteri termasuk dalam golongan prokariota, yang strukturnya lebih sederhana dari
eukariota.
1. Inti / nukleus.
Dengan mikroskop elektron tampak bahwa badan inti tidak mempunyai
dinding inti / membran inti.didalam nya terdapat benang DNA yang bila diekstrasi
berupa molekul tunggal dan utuh dari DNA dengan berat molekul 2-3 x 109.
2. Sitoplasma.
Sel prokariota tidak mempunyai mitokindria atau kloroplast sehingga enzim
untuk transport elektron tidak bekerja dimembran sel. Bakteri menyimpan cadangan
makanan dalam bentuk granula sitoplasma yang bekerja sebagai sumber karbon,
tetapi bila sumber protein berkurang, karbon dalam granula ini dapat dipecah mejadi
sumber nitrogen.
3. Membran sitoplasma.
Terdiri dari fosfolipid dan protein. Ditempat tertentu pada membran
sitoplasma terdapat cekungan / lekukan kedalam yang disebut mesosom. Ada 2 jenis
mesosom, yaitu Septal mesosom yang berfungsi dalam pembelahan sel dan lateral
mesosom.
4. Dinding sel.
Dinding sel berfungsi sebagai :
Menjaga tekanan osmotik.
Memegang peranan penting dalam proses pembelahan.,
Melaksanakan sendiri biosintesa untuk membentuk dinding sel.
Sebagai proteksi yang merupakan faktor penentu sifat / identitas.
5. Flagel.
Bagian kuman yang berbentuk seperti benang yang terdiri dari protein dengan
diameter 12 30 nm. Flagel merupakan alat pergerakan. Ada 4jenis flagel :
Monotrikh
: flagel tunggal & terdapat dibagian ujung kanan.
Lofotrikh
: lebih dari 1 flagel disatu bagian polar kuman.
Amfitrikh
: flagel terdapat satu atau lebih dikedua polar dari kuman.
Peritrikh
: flagel tersebar merata disekeliling badan kuman.
6. Pili / fimbriae.
Phili terdiri dari subunit protein yang memiliki rambut pendek dan keras.
7. Kapsul.

Banyaknya spesies bakteri yang mensintesa polimer ekstrasel (umumnya


polisakarida) yang berkondensasi dan membentuk lapisan disekeliling dinding sel
yang disebut kapsul. Kuman berkapsul lebih tahan lama terhadap efek fagositosis dari
daya pertahanan badan.
Morfologi Kuman
Morfologi kuman dapat dibagi dalam 3 bentuk utama, yaitu :
1. Kokus, berbentuk bulat dapat tersusun sebagai berikut :
Mikrokokus : sendiri (single).
Diplokokus : berpasangan dua dua.
Pneumokokus : diplokokus bentuk lanset.
Gonokokus : diplokokus bentuk biji kopi.
Tetrade: tersusun rapi dalam kelompok 4 sel.
Sarsina
: kelompok 8 sel yang tersusun rapi dalam bentuk kubus.
Streptococcus : tersusun seperti rantai.
Staphylococcus: bergerombol tidak teratur seperti anggur.
2. Basillus, kuman berbentuk batang dengan panjang bervariasi dari 2 10 kali diameter
kuman tersebut :
Kokobasilus : batang yang sangat pendek.
Fusiformis
: kedua ujung batang meruncing.
Streptobacillus
: sel sel bergandengan membentuk suatu filamen.
3. Spiral, kuman berbentuk spiral, yaitu :
Vibrio
: sel batang bengkok.
Spirilum
: bentuk spiral kasar & kaku, tidak fleksibel dan bergerak
dengan flagel.
Spirochaeta : bentuk spiral halus, elastik, fleksibel, dan bergerak dengan
aksial filamen.

Pewarnaan Kuman
Untuk mempelajari morfologi, struktur, sifat sifat kuman untuk membantuk
mengidentifikasinya maka kuman perlu diwarnai. Jenis jenis pewarnaan kuman adalah
sebagai berikut :
1. Pewarnaan Negatif :
Kuman dibuat dalam zat warna negrosin / tinta bak.
Kuman tidak diwarnai.
Dipakai untuk kuman yang sukar diwarnai, seperti Sprirochaeta Sp.
2. Pewarnaan Sederhana :
Hanya 1 macam zat warna, misalnya metilen blue, air fukhsin atau ungu
kristal selama 1-2 menit.
Zat warna anilin mudah diserap kuman.
3. Pewarnaan Diferensial : Lebih dari 1 macam zat warna.
a. Pewarnaan Gram :

Sediaan yang sudah direkatkan diwarnai dengan karbol kristal ungu


selama 5 menit.
Diganti dengan larutan lugol dibiarkan selama 45 60 detik.
Dicuci dengan alkohol 96% selama 30 detik.
Dicuci dengan air & diwarnai dengan air fukhsin selama 1-2 menit.
Sediaan dicuci, dikeringkan & diperiksa dibawah mikroskop dengan
pembesaran 10x100 menggunakan emersi oil.
Hasil : warna ungu jika Gram positif. Warna merah jika Gram negatif.
b. Pewarnaan Tahan Asam :
Pewarnaan Ziehl Neelsen.
Pewarnaan Kinyoung Gabbett.
4. Pewarnaan Khusus.
Flagel : gray.
Simpai : gins burri.
Spora : klein.
Inti
: feulgen.
Difteri : neisser.

Fisiologi Pertumbuhan Kuman.


Substansi yang diperlukan :
1. Air.

2.

3.

4.

5.
6.

Pengantar semua bahan gizi yang diperlukan sel untuk membuang semua zat
yang tidak diperlukan ke luar sel.
Kuman perlu air dalam konsentrasi tinggi untuk pertumbuhan &
perkembangbiakan.
Garam garam organik.
Untuk mempertahankan keadaan koloidal & tekanan osmotik dalam sel.
Memelihara keseimbangan asam basa.
Sebagai bagian enzim / aktivator reaksi enzim.
Mineral.
Sulfur
: komponen substansi sel.
PO4
: komponen asam asam nukleat dan koenzim.
Aktivator enzim
: sejumlah mineral diperlukan sebagai aktivator enzim
seperti Mg, Fe, K & Ca.
Sumber nitrogen.
Nitrogen yang dipakai kuman, diambil dalam bentuk NO 3, NO2, NH3, N2, RNH2 ( R-radikal organik ).
CO2.
Diperlukan dalam proses sintesa dengan timbul asimilasi CO2 dalam sel.
O2, berdasarkan kebutuhan O2 dibagi menjadi :
Anaerob obligat
: hidup tanpa O2.
Anaerob aerotoleran : tidak mati dengan adanya O2.

Anaerob fakultatif
: mampu tumbuh baik dalam suasana dengan / tanpa O2.
Aerob obligat
: butuh sekali O2.
Mikroaerofilik
: tumbuh hanya dalam tekanan O2 yang rendah.
7. Temperatur.
Tiap kuman mempunyai temperatur minimum, yaitu kuman dapat tumbuh baik dan
batas-batas temperatur dimana pertumbuhan terjadi. Kuman yang patogen terhadap
manusia tumbuh baik pada suhu 37oC. Berdasarkan batas suhu pertumbuhan, dibagi
menjadi :
Psikhofilik
: -5 sampai +30oC dengan optimum 10-20 oC.
Mesofilik
: 10-45 oC dengan optimum 20-40 oC.
Thermofilik : 25-80 oC dengan optimum 50-60 oC.
8. PH.
pH perbenihan juga mempengaruhi pertumbuhan kuman. Kebanyakan kuman yang
patogen mempunyai pH optimum 7,2 7,6.
Reproduksi Kuman.
Reproduksi Asseksual :
a. Pembelahan :
Berkembang biak secara amitosis dengan membelah menjadi 2 bagian. Waktu
diantara 2 pembelahan (generatin time) berlainan untuk tiap jenis kuman bervariasi
20-15 jam.
b. Pembentukan tunas / cabang.
Terjadi pada famili Streptomycetaceae. Kuman bentuk tunas kemudian tunas
melepaskan diri dan membentuk kuman baru.
c. Pembentukan filamen.
Sel mengeluarkan serabut panjang, filamen tidak bercabang. Bahan kromosom
kemudian masuk ke dalam filamen. Filamen terputus-putus menjadi beberapa bagian.
Tiap bagian membentuk kuman baru.biasanya dijumpai pada kuman abnormal.
Reproduksi Seksual :
Pembelahan kuman disini didahului oleh peleburan bahan kromosom dari 2 kuman.
Alibatkan timbul sel kuman dengan sifat-sifat yang berasal dari kedua sel induknya. Bila
kuman ditanam ndalam perbenihan yang sesuai dan pada waktu-waktu tertentu ditinjau
jumlah kuman yang hidup, maka dapat dilihat suatu grafik yang dapat dibagi dalam 4 fase :
a. Log phase (penyesuaian diri) :
Waktu penyesuaian berlangsung selama 2jam. Kuman belum berkembang biak tapi
aktivitas metabolismenya sangat tinggi.
b. Experiental phase (fase penyesuaian) :
Kuman berkembang biask dengan berlipat2, jumlah kuman meningkat secara
eksponensial.fase ini berlangsung 18-24 jam. Pada pertengan fase ini
pertumbuhankuman sangat ideal, pembelahan terjadi sangat teratur, semua bahan
dalam sel dalam keadaan seimbang.
c. Stationary phase (fase stationer) :
Dengan meningkatnya jumlah kuman maka meningkat juga jumlah hasil metabolisme
yang toksik. Kuman mulai ada yang mati, pembelahan terhambat.
d. Period of decline (fase penurunan) :

Jumlah kuman hidup menurun dan berkurang. Keadaan lingkungan menjadi sangat
jelek. Pada beberapa jenis kuman timbul bentuk abnormal.
Resistensi Kuman.
Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi kuman menjadi resisten terhadap
antibiotika, yaitu :
1. Mikrorganisme memproduksi enzim yang merusak daya kerja obat.
Contoh : Staphylococcus resisten terhadap penisilin yang disebabkan karna
Staphylococcus memproduksi enzim beta laktamase yang memecahkan
cincin beta laktam dari penisilin, sehingga penisilin tidak aktif lagi
bekerja.
2. Terjadinya perubahan permeabilitas kuman terhadap obat tertentu.
Contoh : Beberapa kuman tertentu mempunyai barier khusus terhadap segolongan
obat, misalnya Streptococcus mempunyai barier alami terhadap obat
golongan aminoglikosida.
3. Terjadinya perubahan pada tempat/lokus tertentu di dalam sel sekelompok
mikroorganisme tertentu yang menjadi target dari obat.
Contoh : Obat golongan aminoglikosida memecah atau membunuh kuman karna
obat ini merusak sistem ribosom subunit 30S. Bila karna suatu hal, lokus
kerja obat pada ribosom 30S berubah, maka kuman tidak lagi sensitif
terhadap obat dengan golongan ini.
4. Terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang menjadi target organ.
Contoh : Kuman yang resisten terhadap obat golongan sulfonamida tidak perlukan
PABA dari luar sel, tapi dapat menggunakan asam folat sehingga
sulfonamida yang berkompetisi dengan PABA tidak berpengaruh pada
metabolisme sel.
5. Terjadi perubahan enzimatik sehingga kuman meskipun masih dapat hidup dengan
baik tapi kurang sensitif terhadap antibiotik.
Contoh : Kuman yang sensitif terhadap sulfonamida mempunyai afinitas yang lebih
besar terhadap sulfonamida dibandingkan dengan PABA sehingga kuman
akan mati.
Pengendalian Mikroba
Secara Fisik :
Merupakan membunuh kuman dengan panas (thermal kill) adalah mudah, dipercaya
dan relatif tidak mahal. Terminologi thermal kill adalah sebagai berikut :
Thermal death point :
Suhu dimana suatu suspensi organisme telah disterilkan setelah pemaparan selama
10menit.
Thermal death time :
Waktu yang diperlukan bagi suatu suhu tertentu untuk mensterilkan suatu suspensi
organisme.
D value :

Wwaktu yang diperlukan untuk membunuh 90% dari organisme dalamsuatu suspensi
pada suatu suhu tertentu. Suhu biasanya dinyatakan sebagan D100 oC atau D59 oC.
Z value :
Jumlah derajat kenaikan suhu yang diperlukan untuk menurunkan D Value sampai
menjadi satu persepuluh nilai semula.

I.

Pemanasan Basah.
a. Otoklaf.
Teknik sterilisasi dengan penggunaan uap air disertai dengan tekanan yang
dilakukan dengan alat. Cara ini akan mencapai tekanan diatas 1 atm, suhu 121 oC
dalam waktu 10-12 menit. Dalam pemanasan ini semua bentuk hidup spora akan
dimatikan.
b. Merebus (boilling).
Teknik disinfektan termudah & termurah. Waktu yang dianjurkan 15 menit
dihitung setelah air mendidih. Sel vegetatif akan mati dalam waktu 5-10 menit
pemaparan, tapi spora & kebanyakan virus mampu bertahan berjam-jam.
c. Pasteurisasi.
Suhu yang digunakan sekitar 65oC & waktu yang digunakan 30 menit.

II.

Pemanasan Kering.
a. Pembakaran (incineration).
Cara sterilisasi tidak 100% efektif tapi terbatas penggunaannya. Biasanya
digunakan untuk mensterilkasn alat penanam kuman (sengkelit/oase) dengan
membakarnya hingga pijar. Dengan cara ini semua bentuk hidup akan dimatikan.
b. Sterilisasi dengan udara panas (hot air sterilization).
Ditempatkan didalam oven dimana suhunya mwncapai 160-180 oC. Sterilisasi
dengan udara panas ini digunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti piring
petri, pipet, tabung reaksi, labu, dan sebagainya.

III.

Radiasi.
a. Radiasi ungu ultra (ultraviolet).
Dengan panjang gelombang 220-290 nm dengan radiadi paling efektif 253,7 nm.
Faktor penghambatnya adalah daya filtrasi yang lemah sehingga bahan yang akan
di sterilkan harus dialirkan/ditempatkan langsung di bawah sinar ultraviolet dalam
lapisan yang efektif.
b. Penyaringan (filtration).
Mengalirkan cahaya/gas melalui suatu bahan penyaring yang memiliki pori cukup
kecil untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan akan
tercemmar, sedangkan cairan/gas yang melaluinya akan steril. Dilakukan untuk
subtansi yang peka terhadap panas seperti serum, solusi enzim, toksin kuman,
ekstrak sel.

Secara kimiawi :
a. Halogen :

Meliputi senyawa klorin dan iodium, baik organik maupun nonorganik.


Kebanyakan senyawa halogen membunuh sel hidup. Mereka membunuh sel karena
mengoksidasi protein, dan dengan demikian merusak membran dan menginaktifkan
senzim-enzim.
b. Iodium :
Solusi iodium baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik
dan telah dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan.
Pada konsentrasi yang tepat, iodium tidak akan mengganggu kulit.
c. Klorin :
Klorin bebas memiliki warna khas (hijau0 dan bau yang tajam. Solusi
hipoklorit paling banyak dipakai untuk maksud disinfeksi dan menghilangkan bau,
kkarna bersifat relatif tidak membahayakan jaringan manusia, mudah ditangani, tidak
berwarna & tidak mewarnai, meskipun memudarkan warna.
d. Alkohol :
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat dihandalkan untuk
sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol akan mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi,
dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu membran sel akan dirusak dan
enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Semakin tinggi berat molekulnya makan
semakin tinggi daya bakterisidnya.