You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asma bronkial merupakan gangguan inflamasi jalan nafas
yang ditandai oleh obstruksi aliran udara nafas dan respon jalan
nafas yang berlebihan terhadap berbagai bentuk rangsangan.
Dalam penatalaksanaan asma salah satu upaya yang dapat
dilakukan oleh pasien yaitu pencegahan dengan menghindari
faktor-faktor presipitasi, seperti alergen atau iritan dari lingkungan
untuk menghindari kekambuhan asma; pencegahan merupakan
tindakan terbaik (Kowalak, 2011). GINA (Global Initiative for Asthma
Management and Prevention) pada tahun 2002 yang dikutip oleh
Sudoyo (2006) menyatakan bahwa ada 6 komponen dalam
pengobatan asma, yaitu penyuluhan kepada pasien, penilaian
derajat beratnya asma, pencegahan dan pengendalian faktor
pencetus serangan, perencanaan obat-obat jangka panjang,
merencanakan pengobatan asma akut (serangan asma), dan
berobat secara teratur.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di
Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung pada tanggal
5-7 November 2015, terdapat 5 pasien asma bronkial yang datang,
meliputi 3 orang datang karena mengalami kekambuhan dan 2
orang datang untuk kontrol obat. Ketika dilakukan wawancara pada
semua pasien tersebut, diketahui bahwa semua pasien tersebut

Dalam data RISKESDAS 2013 Kemenkes RI.2 mengalami kekambuhan 2-4 kali dalam seminggu dan tidak melakukan tindakan pencegahan kekambuhan karena tidak mengetahui tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Prevalansi asma bronkial di NTB cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. terjadi jumlah peningkatan kasus kejadian asma. dengan 564 yang menjalani rawat jalan dan 66 yang rawat inap. pengetahuan dan fasilitas pengobatan. Hal ini menunjukkan belum efektifnya upaya pencegahan kekambuhan asma bronkial yang dilakukan oleh pasien. prevalensi asma bronkial di Indonesia yaitu 4. Menurut data WHO 2013. dengan . sekitar 300 juta manusia di dunia menderita asma bronkial dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025 (Ratnawati. pada tahun 2011 tercatat angka kejadian kasus asma bronkial sejumlah 650 pasien. Sedangkan. Penyakit asma bronkial masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Dinas Kesehatan DIY (2011) mengatakan angka kejadian asma bronkial 80% terjadi di negara berkembang akibat kemiskinan.1 persen per mil.5 persen per mil dan khusus di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu 5. jumlah pasien penderita asma bronkial yang pernah masuk rumah sakit lebih dari satu kali sebanyak 54 orang. 2011). Pada tahun 2012. Menurut data dari rekam medik RSUD Patut Patuh Patju Gerung. Tercatat sejumlah 766 kasus asma. kurangnya tingkat pendidikan.

serta belum terlihat adanya kemauan dan usaha yang baik dalam mengontrol dan menghindari alergen. Pada tahun 2013 juga terjadi peningkatan kasus kejadian asma menjadi 879 kasus. jumlah alergen dalam rumah dan stres akibat gaya hidup modern merupakan beberapa faktor yang sulit dihindari oleh penderita asma (Ayres. 168 pasien rawat inap. Namun. Pengobatannya hanya dapat memperingan atau mengendalikan frekuensi terjadinya serangan asma yang berlangsung dan disebut asma terkontrol. dan 88 pasien yang mengalami kekambuhan berulang. Artinya penyakit asma dapat dikontrol ataupun dikendalikan agar serangan asma tidak terjadi sewaktu-waktu. beberapa faktor yang menyebabkan kekambuhan pada pasien asma bronkial. kurangnya upaya untuk melaksanakan pencegahan serangan asma bronkial di rumah. 2003). 78 yang rawat inap.3 632 yang menjalani rawat jalan. Penyakit asma sebenarnya tidak dapat disembuhkan. tak jarang juga ditemui penderita yang mengetahui penyebab kambuhnya asma yang mereka miliki. yaitu kurangnya pengetahuan penderita tentang asma bronkial. Hal . dengan 711 pasien yang menjalani rawat jalan. infeksi virus. tetapi mereka tak mempedulikannya dan tak bisa menghindarinya sehingga asma yang mereka miliki sewaktu-waktu bisa kambuh. Peningkatan polusi udara. dan 76 pasien mengalami kekambuhan berulang. Banyaknya angka kekambuhan penderita asma ini disebabkan karena rendahnya pengetahuan penderita asma dalam menghindari faktor pemicu kekambuhan asma. Menurut Sundaru (2007).

4 ini akan mencegah tingkat keparahan dan kerusakan jangka panjang pada paru-paru (Mumpuni. Salah satu komponen dalam pengobatan asma. yaitu penyuluhan kepada pasien. kepercayaan. Berdasarkan latar belakang tersebut. keyakinan. Penyuluhan kesehatan dapat memberikan pengetahuan kepada pasien tentang penyakit dan pengobatan yang dijalaninya sehingga pasien mampu melakukan tindakan pencegahan terjadinya serangan berikutnya (Sudoyo (2006). Usaha pencegahan timbulnya gejala asma adalah strategi yang terbaik dalam pengendalian kekambuhan penyakit asma. dan nilai-nilai. Faktor-faktor predisposisi (predisposition factors) yang mempengaruhi tindakan/perilaku menurut teori Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) yaitu pengetahuan. sikap. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial di Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung”. 2013). .

Tujuan Penelitian 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut.5 B. Menganalisis hubungan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial. Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial di Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung. Tujuan Khusus a. maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: “Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial di Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung?” C. c. D. 2. Mengidentifikasi tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial. b. Mengidentifikasi sikap tentang pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial. e. Hipotesis Adapun hipotesis dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial. d. Hipotesa Alternative (Ha): . Mengidentifikasi pengetahuan tentang pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial.

Bagi SDM Institusi Pendidikan Mampu mengembangkan metode kesehatan yang lebih beragam masyarakat.6 Ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial di Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung. 2. . E. Bagi SDM RSUD Patut Patuh Patju Gerung Pemberi pelayanan kesehatan mampu memberikan promosi kesehatan dalam bentuk pendidikan kesehatan untuk mencegah kekambuhan asma bronkial. Bagi Peneliti Lain dan Mahasiswa Mampu mengembangkan ketika penelitian penyuluhan pengabdian lebih lanjut tentang asma bronkial pada aspek pemberian motivasi dalam melakukan pencegahan kekambuhan asma. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan. 2. Manfaat Penelitian 1. b. dan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Manfaat Praktis a. c. d. serta sebagai bahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan. menggunakan obat yang dapat meringankan gejala asma. Bagi Responden Responden penelitian mampu khususnya melakukan dalam bidang penatalaksanaan asma bronkial meliputi mencegah terjadinya kekambuhan asma. Hipotesa Nol (H0): Tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan kekambuhan pada pasien asma bronkial di Poli Penyakit Dalam RSUD Patut Patuh Patju Gerung.