You are on page 1of 41

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat-Nya Sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan asuhan kebidanan pada keluarga
Tn S dengan diare, di RT 08 RW 02 dusun karangan Desa Donowarih,
Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.
Laporan Asuhan Kebidanan keluarga ini disusun dalam rangka pemenuhan
tugas praktek kebidanan komunitas yang dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus
2008 sampai dengan 13 September 2008 dan diselenggarakan oleh STIKES
WIDYAGAMA HUSADA MALANG demi meningkatkan kwalitas pendidikan
sesuai kurikulum yang ada.
Dalam penyusunan Asuhan Kebidanan keluarga ini, penulis mendapatkan
banyak bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Drg. Titik selaku kepala Puskesmas Karangploso yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk melaksanakan praktek kebidanan komunitas di
wilayah Karang ploso.
2. Ibu Dra. Laily Amie selaku direktur prodi D-III kebidanan Stikes Widyagama
Husada.
3. Bapak Kabul selaku Kepala desa Donowih beserta perangkat desa yang telah
memberi kesempatan dan bantuan kepada kami selama praktek kebidanan
komunitas
3. Ibu Wiwin widyawati Amd. Keb. selaku bidan desa Donowarih yang telah
memberi bimbingan dan dororngan kepada kami selama praktek kebidanan
komunitas.
4. Ibu Sulistiyah, S.SiT selaku dosen pembimbing praktek kebidanan komunitas
yang telahmemberikan bimbingan serta koreksi sehingga dapat disusun laporan
ini.
6. Kader-kader posyandu dusun karangan
7. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun
spiritual.

8. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
dalam praktek kebidanan komunitas.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang bersifat membangun sebagai bekal penulis pada khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya.
Malang,

September 2008

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) adalah rangkaian
kegiatan masyarakat dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri
dalam memecahkan masalah untuk memenuhi kebutuhannya di bidang
kesehatan dan di bidang lain yang berkaitan agar mampu mencapai
kehidupan sehat sejahtera.
Penyusunan asuhan kebidanan keluarga ini disesuaikan dengan
jangkauan

kemampuan

penulis

agar

dalam

pelaksanaannya

dapat

memberikan bantuan terutama di bahas pada laporan ini adalah tentang


kesehatan ibu dan anak (KIA). KIA ini meliputi kesehatan ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, ibu meneteki, imunisasi, KB, dan kesehatan anak. Dalam
hal mahasiswa terjun ke masyarakat (keluarga) desa tersebut. Masalah
kesehatan yang dapat muncul dalam masyarakat yang dikatakan perawatan
bagi seorang ibu adalah pada saat hamil, bersalin, nifas serta masa bayi dan
balita.
Dalam laporan ini penyusun akan memberikan asuhan kebidanan pada
keluarga Tn S yang mengalami masalah kesehatan mengenai diare. Pada
AnR di RT:08 RW:02 Dusun Karangan, Desa Donowarih, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang.
1.2

Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan
asuhankebidanan keluarga dan agar mahasiswa dapat secara nyata dalam
memberikan asuhan kebidanan keluarga.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian data dan mengolah data untuk
menentukan adanya masalah kesehatan.

b. Mampu menganalisis data keluarga untuk menentukan masalah


kesehatan.
c. Dapat menyusun skala prioritas masalah kesehatan.
d. Mampu menyusun rencana asuhan kebidanan keluarga yang
dilakukan.
e. Mampu melaksanakan rencana asuhan kebidanan keluarga.
f. Mampu mengevaluasi keberhasilan tindakan kebidanan yang telah
dilakukan.
g. Mampu

mengikuti

perkembangan

masalah

kesehatan

setelah

dilakukan asuhan kebidanan keluarga.


1.3

Ruang lingkup
Ruang lingkup dalam asuhan kebidanan ini hanya pada masalah kesehatan
keluarga.

1.4

Metode penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis adalah:
a. Wawancara
b. Observasi
c. Studi pustaka

1.5

Pelaksanaan
Laporan ini disusun pada saat praktek kebidanan komunitas didesa
Donowarih Dusun Karangan Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang
tanggal 26 Agustus 2008 sampai 13 September 2008.

1.6

Sistematika Penulisan
Sistematikan penulisan asuhan kebidanan keluarga ini terdiri dari lima BAB
yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan

1.3 Ruang lingkup


1.4 Metode penulisan
1.5 Pelaksanaan
1.6 Sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep keluarga
2.2 Konsep teori diare
BAB III ASUHAN KELUARGA DENGAN MASALAH KEBIDANAN
3.1 Pengkajian
3.2 Menentukan Diagnosa/Masalah Kebidanan
3.3 Perencanaan
3.4 Pelaksanaan
3.5 Evaluasi
3.6 Catatan perkembangan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Keluarga
2.1.1 Pengertian

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah satu atap atau dalam keadaan saling ketergantungan.
(Departemen Kesehatan RI, 1988)

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergantung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan
dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan.
(Salvicion G. Bailion & Aracelis, 1989)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat terdiri atas kepala


keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat.
(Drs Nasrul effendi, 1995)

2.1.2 Tahap-tahap perkembangan keluarga


Menurut Duval tahap-tahap kehidupan keluarga adalah sebagai berikut:
a. Tahap pembentukan keluarga
b. Tahap menjelang kelahiran anak
c. Tahap menghadapi bayi
d. Tahap menghadapi anak pra sekolah
e. Tahap menghadapi anak sekolah
f. Tahap menghadapi anak remaja
g. Tahap melepas anak ke masyarakat
h. Tahap kedua kembali
i. Tahap masa tua
(Ilmu kesehatan masyarakat, 1998)

2.1.3 Tugas-tugas keluarga


a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya
b. Pemeliharaan sumber daya yang ada dalam keluarga
c. Pembagian

tugas

masing-masing

anggotanya

sesuai

dengan

kedudukannya masing-masing.
d. Sosialisasi antara keluarga
e. Pengaturan jumlah keluarga
f. Pemeliharaan keterlibatan anggota keluarga
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih
luas.
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.
(Efendi, 1998: hal 37)
2.1.4 Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalani keluarga sebagai berikut:

Fungsi biologis
-

Untuk meneruskan keturunan

Memelihara dan membesarkan anak

Memenuhi kebutuhan gizi keluarga

Memelihara dan merawat anggota keluarga

Fungsi psikologis
-

Memberikan kasih sayang dan rasa aman

Memberikan perhatian diantara anggota keluarga

Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga

Memberikan identitas keluarga

Fungsi sosialisasi
-

Membina sosialisasi pada anak

Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat


perkembangan anak

Fungsi ekonomi

Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan


keluarga

Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi


kebutuhan keluarga

Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di


masa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan
hari tua, dan sebagainya

Fungsi pendidikan
-

Menyekolahkan

anak

untuk

memberikan

pengetahuan,

keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat


dan minat yang dimilikinya
-

Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang


dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa

Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya

Menurut arti membagi fungsi keluarga sebagai berikut:

Fungsi pendidikan

Fungsi sosialisasi anak

Fungsi perlindungan

Fungsi perasaan

Fungsi religius

Fungsi ekonomi

Fungsi rekreatif

Fungsi biologis
(Departemen Kesehatan RI, 1988)

2.1.5 Fungsi Pokok Keluarga


a. Asih
Memberi kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan pada
anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan
berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
b. Asuh

Menuju

kebutuhan

pemeliharaan

dan

perawatan

anak

agar

kesehatannya selalu terpelihara sehingga memungkinkan menjadi


anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
c. Asah
Memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi
manusia mandiri dapat mempersiapkan masa depannya.
(Ilmu kesehatan masyarakat. 1998)
2.1.6 Struktur Keluarga
Struktur keluarga ada bermacam-macam, diantaranya adalah:
1. Patrilineal : keluarga yang sedarah yang terdiri dari sanak saudara
dalam beberapa generasi di mana hubungan itu disusun melalui jalur
garis ayah.
2. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi di mana hubungan itu disusun melalui garis
ibu.
3. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri
4. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami.
5. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.
(Ilmu Kesehatan Masyarakat, 1998)
2.1.7 Tipe atau bentuk keluarga menurut Anderson Carter (1998)
a. Keluarga inti (nuklear family) adalah keluarga yang terdiri atas ayah,
ibu dan anak.
b. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah sanak
saudara misalnya: nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi.

c. Keluarga berantai (sereal family) adalah keluarga yang terdiri dari


wanita atau pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu
keluarga inti.
d. Keluarga janda / duda (single family) adalah keluarga yang terjadi
karena perceraian dan kematian.
e. Keluarga

berkomposisi

(composits)

adalah

keluarga

yang

perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.


f. Keluarga kabitas (cabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
2.1.8 Pemegang kekuasaan

Patrilokal yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga


adalah dari pihak ayah

Matrilokal yang dominan yang memegang kekuasaan dalam keluarga


adalah dari pihak ibu

Equalitarian yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah ayah


dan ibu

B. Konsep teori diare


2.2.1 Definisi
Diare merupakan mekanisme alamiah tubuh mengeluarkan isi usus yang
busuk dan akan berhenti sendiri jika telah bersih. Diare bukan suatu
penyakit, tetapi merupakan gejala awal gangguan kesehatan.
(Umar Fachmi Achmad, 2005)
Diare diartikan sebagai BAB yang tidak normal/ bentuk tinja yang encer
dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya.
(IKA FKUI/ RSCM)
Diare adalah tinja yang sedikit lembek dari biasanya atau hanya
bertambah sering beberapa kali saja.
(Maria Suryabudi, 229)
2.2.2 Frekuensi atau konsistensi buang air besar:
a. Frekuensi buang ari besar lebih dari 3 kali sehari
b. Buang air besar encer atau buang air besar seperti air
c. Peningkatan besar feses lebih dari 200 gram per hari
(IKA FKUI/ RSCM)
2.2.3 Klasifikasi diare
a. Berdasarkan lokasi, yaitu :

Diare enterik

Kelainan ini terjadi karena gangguan pencernaan pada lambung dan


usus halus, dalam fases ditemukan bahan makanan yang belum
dicerna

Diare kolonik

Terjadi karena adanya radang di usus besar. Fases lebih ringan dan
tidak ada bahan makanan yang tidak dicerna.
b. Berdasarkan waktu terjadinya, yaitu:

Diare akut

Terjadi tiba-tiba pada orang yang sebelumnya sehat. Biasanya


berlangsung singkat hanya dalam beberapa hari sampai seminggu,
umumnya disebabkan oleh makanan atau infeksi.

Diare kronik

Kelainan menetap lebih dari 3-4 minggu. Dapat berlangsung


berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Biasanya diare tidak
berlangsung terus menerus sehingga ada waktu dimana buang air
besarnya normal.
c. Berdasarkan derajat penyakit, yaitu:

Diare ringan

Frekuensi buang air besar meningkat sedikit, yaitu 2-3 kali sehari,
disertai mules atau mual. Pada keadaan ini tidak diperlukan
pembatasan aktivitas dan perawatan khusus.

Diare sedang

Buang air besar lebih dari 4 kali sehari diikuti gejala-gejala seperti
mules, mual, muntah dan demam atau menggigil. Diperlukan
istirahat, tetapi tidak lebih dari sehari.

Diare berat

Sama dengan diare sedang, dapat disertai dengan nyeri pinggang.


Keadaan ini memerlukan perawatan intensif.
d. Berdasarkan penyebab, yaitu:

Diare spesifik

Penyebabnya dapat ditemukan dan diidentifikasi dari analisis feses,


seperti sigella atau amoeba.

Diare non Spesifik

Fases yang keras, benda asing, tumor, invaginasi, tekanan dari luar
saluran cerna dan angulasi usus.
(Narsono, 1998)

2.2.4 Etiologi
Penyebab diare
a. Iritasi

Mekanik : feses keras, benda asing, tumor, invaginasi, tekanan dari


luar saluran cerna

Kimiawi : racun, obat pencahar

Bakterial : Salmonela, Shigella, Staphylococcus, Streptococcus,


E.colli, Clostridia dan lain-lain

Parasit : Ambiasisi, Trichinosisi, Ascariasisi

b. Diet makanan
Gangguan toleransi terhadap makanan tertentu
Makanan yang kasar dan keras
Defisiensi vitamin
c. Alergi
Sensitif terhadap obat atau makanan tertentu
d. Stress emosional
Ketergantungan, atau kerja fisik yang berat seperti perjalanan jauh
yang melelahkan
e. Penyakit-penyakit sistemik yang mengganggu saluran cerna. Beberapa
penyakit sistemik dapat mengganggu saluran cerna seperti uremia,
penyakit grave, gagal jantung, hipertensi porta, penyakit nerologis,
keracunan logam berat dan sebagainya
(Mansjoer arif, 2000)
2.2.5 Penatalaksanaan Diare
Penatalaksanaan diare akut dan diare non spesifik umumnya cukup
sistematis saja. Tetapi sistematis ini dapat juga dipakai sebagai
terapisementara sebelum kausa pasti diidentifikasi. Ini terutama
bermanfaat pada penderita yang sangat muda, sangat tua atau pada
orang-orang yang tidak bekerja, sehingga tidak mengganggu pekerjaan.
Terapi sistematis ini antara lain : tirah baring, rehidrasi oral (oralit) dan
pengaturan.

a) Istirahat
Dengan istirahat frekuensi buang air besar dapat dikurangi.
b) Penggantian cairan
* Dengan rehidrasi oral (oralit)
Pemberian larutan garam gula akan membantu penyerapan air,
karena gula akan menarik air. Disamping itu larutan ini juga akan
mengatasi gangguan keseimbangan elektrolit, karena dalam larutan
ini terkandung elektrolit terutama Natrium yang banyak hilang
bersama dengan keluarnya cairan pada diare. Disamping itu dapat
juga diberikan air tajin, kuah sayur atau sari buah. Yang penting
adalah penggantian cairan yang hilang bersama feses. Pada diare
ringan gangguan elektrolit belum terlalu berat, sehingga keadaan
membaik dan tubuh akan berusaha mengembalikan keseimbangan
tersebut.
* Cara membuat oralit
Bahan larutan :
1. Air minum yang matang
2. Gula pasir
3. Garam dapur
4. Gelas belimbing (200 cc)
5. Sendok (teh & makan))
Cara membuat :
1. Isi gelas dengan air matang sebanyak 200 cc
2. Masukkan 1 sendok makan gula pasir
3. Tambahkan sendok teh garam
4. Aduk hingga rata
Larutan ini tidak boleh terlalu asin, karena bila kandungan garam
terlalu tinggi, rasanya tidak enak, sehingga pasien tidak mau
minum dan sasaran tidak tercapai. Disamping itu konsentrasi
larutan yang terlalu pekat akan menimbulkan efek peningkatan
suhu tubuh
Cara pemberian :

Cairan diberikan setiap setelah buang air besar dan diusahakan


pemasukan sebanding dengan pengeluaran. Pada bayi dan anakanak dapat diberikan setiap terlihat has atau minta minum.
Oralit hanya dapat diberikan selama 24 jam. Bila lebih dari 24 jam
diare tidak teratasi atau bila sebelum 24 jam pasien terlihat lemah
dan diare makin berat, maka segera datang ke petugas kesehatan.
c) Diet
Diet pada pasien diare memegang peranan penting. Usahakan
memberikan diet yang mudah dicerna, sehingga saluran cerna idak
bekerja terlalu berat. Untuk itu hindari pemberian susu buatan yang
banyak mengandung lemak, serta jangan diberikan makanan tinggi
serat.
Untuk penderita dewasa :
- Hindari makanan banyak mengandung lemak selama 12 hingga 24
jam.
- Makanan tersaji dalam bentuk sederhana dan hanya mengandung
sedikit residu seperti daging atau roti panggang.
- Berikan sari buah karena banyak mengandung kalium
- Berikan makanan yang lunak.
- Bila kondisi membaik, tingkatkan kalori
Untuk bayi :
- Tetap berikan ASI dan juga diberikan larutan gula
- Bila keadaan segera membaik dapat diberikan bubur
- Bila keadaan membaik maka dapat diberikan susu dan makanan
seperti biasanya
Pencegahan :
Higiene sanitasi makanan dan minuman, sebab diare belum dapat
cegah dengan iminisasi aktif
Pemberian ASI (imunisasi pasif)
Makanan yang dimakan harus dimasak terlebih dahulu
Pemberian sari buah karena banyak mengandung kalium
(Narsono, 1998)

BAB III
ASUHAN KELUARGA DENGAN MASALAH KEBIDANAN
3.1 PENGKAJIAN DATA
Hari, tanggal jam pengkajian : Jumat 05-09-2008, 09.30 WIB
Tempat

: RT.08

RW.02

Donowarih,

Dusun

karangan

Kecamatan

Desa

Karangploso,

Kabupaten Malang
Oleh

: Mita Khurniasari

A. Struktur dan sifat keluarga


1. Identitas Kepala Keluarga
Nama KK

: Tn. Sugiono

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 35 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: Pedagang

Suku/bangsa

: Jawa / Indonesia

Alamat

: RT.08 RW.02 Dusun Karangan, Desa Donowarih


Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang

2. Susunan anggota keluarga


No Nama

Umur Sex Agama Hub.

Pendidikan

pekerjaan

Tn. Sugiono

35 th

Islam

KK

Tamat SLTP

Pedagang

Ny. Markumi 29 th

Islam

Istri

Tamat SLTP

IRT

Rochman W.

11 th

Islam

Anak SD

Rizky

5 th

Islam

Anak Belum

sekolah
5

Rahayu

5 th

Islam

Anak Belum
sekolah

3. Genogram
1

Keterangan :

: laki-laki
: perempuan

: KK

: Istri

: Anak

4. Pengambilan keputusan
Dalam keluarga Tn. S yang memutuskan permasalahan dan
pengambilan keputusan adalah kepala keluarga yang sebelumnya
dimusyawarahkan dengan istri terlebih dahulu.
5. Hubungan dalam keluarga

Hubungan suami dengan istri harmonis, jarang terjadi pertengkaran


antara anggota keluarga.

Hubungan suami dan anak baik, sore hari waktu diberikan untuk
anak untuk mengajari pelajaran sekolah.

Hubungan istri dengan anak baik, istri lebih banyak mengasuh dan
merawat anak karena suami bekerja.

6. Kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari


a. Kebutuhan nutrisi
Suami :

Makan 3x / hari, dengan porsi banyak, lauk yang dimakan

sehari hari tahu, tempe dan ikan. Sayur yang sering


dikonsumsi kacang panjang, sawi, kangkung. Makan
daging/ayam hanya kadang-kadang jika ada rejeki lebih.
Buah yang sering dikonsumsi pepaya dan pisang. Minum air
putih 7 gelas/hari. Minum kopi 1x/hari tiap pagi.
Istri

: Makan 3 x/hari dengan nasi porsi sedang, lauk yang sering


di konsumsi sehari-hari tahu, tempe dan ikan. Sayur yang
sering dikonsumsi bayam, kangkung, sawi, kacang panjang.
Kadang-kadang makan daging/ayam jika suami ada rejeki.

Rochman : Makan 3x/hari dengan nasi porsi sedang, lauk yang


sering dikonsumsi sehari-hari tahu, tempe, ikan dan telur.
Sayur yang sering dikonsumsi bayam, kangkung, sawi,
kacang panjang. Kadang-kadang makan daging/ayam jika
suami ada rezeki lebih. Buah yang sering dikonsumsi adalah
pepaya dan pisang. Minum air putih 5 gelas/hari. Pernah
minum susu sejak usia 2,5 tahun. Minum teh 1x/hari tiap
pagi.
Rizky : Makan 3x/hari dengan porsi sedikit, lauk yang sering
dikonsumsi sehari-hari tahu, tempe, ikan dan telur. Sayur
yang sering dikonsumsi bayam, kangkung, sawi, kacang
panjang. Kadang-kadang makan daging/ayam jika ayahnya
ada rezeki lebih. Buah yang sering dikonsumsi adalah pepaya
dan pisang. Minum susu putih 5 gelas/hari. Tidak pernah
minum susu sejak usia 2,5 tahun. Minum teh 1x/hari tiap
pagi.
Rahayu : Makan nasi lotek (MPASI). ASI diberikan setiap bayi
menangis. Nasi lotek (MPASI) diberikan sejak bayi usia 4,5
bulan. Tidak diberikan MPASI lain selain nasi lotek. Selama
diare tetap diberikan nasi lotek
b. Kebutuhan Eliminasi
Suami

: Pola BAB 1x/hari tiap pagi di WC umum


Pola BAK 4-5 x/hari

Istri

: Pola BAB 1x/hari tiap pagi di WC umum


Pola BAK 5 x/hari

Rochman : Pola BAB 1x/hari tiap pagi/sore hari di WC umum


Pola BAK 6 x/hari
Rizky

: Pola BAB 2 x/hari tiap pagi / sore di WC umum


Pola BAK 6-7 x/hari, terkadang ngompol

Rahayu

: Pola BAB 7-8 x/hari konsistensi cair, hijau berlendir,


bau khas
Pola BAK 7-8 x/hari, sering ngompol

c. Kebiasaan Olah Raga


Suami

: Tidak pernah olah raga karena setiap pagi harus


berdagang di pasar. Dengan bersepeda pasar sudah
dianggap sebagai olah raga.

Istri

: Tidak pernah olah raga. Pekerjaan di rumah sehari-hari


sudah dianggap sebagai olah raga.

Rochman : Olah raga hanya ketika ada pelajaran olah raga di


sekolah
Rizky

: Terkadang jalan-jalan pagi dengan teman-temannya pada


hari Minggu.

Rahayu

: Tidak pernah olahraga karena masih bayi

d. Pola Kebersihan diri


Suami

: Mandi 2x/hari menggunakan sabun, gosok gigi 2x/hari


dilakukan setiap kali mandi dengan menggunakan pasta
gigi, mandi di kamar mandi umum. Ganti pakaian 2x/hari.

Istri

: Mandi 2x/hari menggunakan sabun, gosok gigi 2x/hari


dilakukan setiap kali mandi dengan menggunakan pasta
gigi, mandi di kamar mandi umum, ganti pakaian 2x/hari.

Rochman : Mandi 2x/hari menggunakan sabun, gosok gigi 2x/hari


dilakukan setiap kali mandi dengan menggunakan pasta
gigi. Mandi di kamar mandi umum. Ganti pakaian 2x/hari.
Rizky

: Mandi 2x/hari menggunakan sabun, gosok gigi 2x/hari


dilakukan setiap kali mandi dengan menggunakan pasta
gigi. Mandi di kamar mandi umum. Ganti pakaian 2x/hari.

Bayi

: Mandi 2x/hari di bak mandi menggunakan air hangat


dengan sabun. Ganti pakaian setiap kali mandi dan setiap
kali basah.

e. Kebiasaan Istirahat
Suami

: Tidur malam mulai jam 22.00-04.00 WIB dan tidak


pernah tidur siang karena bekerja

Istri

: Tidur malam mulai jam 21.00-04.00 WIB (terbangun jika


bayi menangis
Tidur siang mulai jam 12.30 15.00 WIB

Rochman : Tidur malam mulai jam 21.00 05.3 WIB


Tidur siang mulai jam 21.00 07.00 WIB
Rizky

: Tidur malam mulai jam 21.00 07.00 WIB


Tidur siang mulai jam 12.00 16.00 WIB

Rahayu

: Tidur malam mulai jam 20.00 06.00 (terbangun jika


merasa lapar, BAK / BAB)
Dan tidur sewaktu-waktu jika merasa ngantuk

f. Kebiasaan Rekreasi
Keluarga tidak pernah rekreasi ke tempat pariwisata hanya saja watu
luang dipakai untuk menonton televisi atau mendengarkan radio.
g. Kebiasaan Berobat
Suami : Jika suami sakit flu atau batuk, biasanya hanya beli obat di
warung atau minum jamu, tetapi jika belum sembuh maka
berobat ke Polindes.
Istri

: Jika ibu sakit flu atau batuk, biasanya beli obat di


warung/pijat tetapi jika masih belum sembuh maka berobat
ke polindes
Selama hamil anak pertama ibu ANC 3x di polindes dan
melahirkan di rumah di tolong oleh dukun.
Selama hamil anak kedua ibu ANC di polindes sebanyak 5
kali dan melahirkan dipondes.
Selama hamil anak ke tiga ibu ANC di polindes sebanyak 5
kali dan melahirkan di polindes

Rachman : Jika sakit panas, flu atau batuk dibelikan obat di warung
atau bila belum sembuh di bawa ke polindes
Imunisasi lengkap di posyandu (BCG, HB I/2, DPT 1/2/3,
campak dan polio)
Rizky

: Jika sakit flu, demam atau batuk di bawa ke Polindes


Imunisasi lengkap di posyandu (BCG, HB 1/2, DPT 1/2/3,
campak dan polio)

Rahayu : Anak baru sakit pertama kali ini yaitu diare dan belum
diperiksakan kemana-mana
Imunisasi belum lengkap (BCG, HB 1/2, Polio 1/2/3/, DPT
1/2/3)
h. Kebiasaan aktivitas
Suami

: Mengikuti acara di dusun yaitu tahlilan 1 mingg 1x

Istri

: Mengikuti acara di dusun seperti PKK, tahlilan


1x/Minggu

Rochman : Bersekolah setiap hari kecuali hari minggu


Rizky

: Mengaji dan bermain-main dengan teman-temannya

B. Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya


1. Penghasilan dan pengeluaran
- Anggota keluarga yang mencari nafkah adalah suami yang bekerja
sebagai pedagang dengan penghasilan Rp. 25.000,- per hari
- Suami bekerja mulai jam 04.00 13.30 WIB
- Besar pengeluaran untuk belanja kira-kira Rp. 15.000/hari untuk beli
beras, lauk, sayur, minyak dan keperluan dapur lainnya.
- Uang jajan untuk anak-anak Rp. 4000/ hari
- Biaya sekolah Rp. 12.500/bulan dan biaya bayar listrik + Rp.
25.000/bln
2. Sistem Nilai
Keluarga adalah suku Jawa

3. Hubungan dengan masyarakat


Semua anggota keluarga memiliki hubungan baik dengan tetangga
sekitar. Suami selalu mengikuti perkumpulan tahlil dan pengajian
1x/Minggu. Begitu juga dengan istrinya mengikuti perkumpulan
pengajian dan PKK 1x/Minggu.
4. Spiritual
Keluarga menganut agama islam, suami, Rochman, dan Rizky biasanya
melaksanakan sholat magrib dan isya berjamaah di mushollah. Suami
dan Rochman puasa Ramadhan namun ibu tidak puasa karena harus
menyusui bayinya.
5. KB
Setelah melahirkan anak pertama ibu menggunakan KB suntik 3
bulanan + selama 5 tahun. Setelah 5 tahun ibu berhenti KB karena ingin
hamil lagi, setelah melahirkan anak ke dua ibu kembali menggunakan
KB suntik 3 bulan selama 4 tahun, lalu berhenti dan hamil anak ke 3.
selama menggunakan KB suntik 3 bulan tidak ada keluhan maupun
efek samping yang dirasakan oleh Ibu. Setelah melahirkan anak ke tiga
ibu belum menggunakan KB dan berencana tetap menginginkan
menggunakan KB suntik 3 bulan.
C. Faktor Lingkungan
1. Perumahan dan jenis bangunan
Rumah yang ditempati Tn S adalah milik sendiri dan bersifat
permanen, penerangan rumah menggunakan listrik dan mendapatkan
cukup cahaya matahari, lantai rumah terbuat dari semen cukup bersih,
dinding tembok, terdapat ventilasi dan jendela terbuka di ruang tamu 2
jendela terbuka, kamar 1 jendela terbuka, dan dapur terdapat 1 jendela
terbuka dan 1 jendela tertutup. Keluarga tidak mempunyai perkarangan
rumah di samping kanan kiri, tetapi di belakang rumahnya terdapat
pekarangan milik orang lain yang di tanaman produktif yaitu pohon
pisang, ketela pohon, cabe merah besar, dan pohon belimbing. Halaman

di depan rumahnya cukup bersih, terdapat taman kecil yang terdapat


tanaman non produktif yang ditanam di pot yaitu sebanyak 7 buah.

Kamar tidur
III

Ruang keluarga

Kamar tidur
II

Dapur

Ruang tamu
S

Kamar I

Keterangan :
Luas bangunan : 56 m2
Ukuran

: - Ruang tamu 4 x 4 m2
- Ruang keluarga 4 x 2 m
- Ruang dapur 1,5 x 7 m
- Kamar tidur I 2,5 x 2 m
- Kamar tidur II 2,5 x 2 m
- Kamar tidur III 2,5 x 2 m

3. Pemakaian air kebersihan


Sumber air berasal dari PDAM milik umum. Air cukup bersih tidak
berwarna dan tidak berbau. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, misalnya: memasak, minum, mencuci dan mandi. Air
minum direbus terlebih dahulu sebelum diminum.
4. Jamban dan kamar mandi
Keluarga tidak memiliki jamban dan kamar mandi, sehingga memakai
kamar mandi umum untuk mandi, buang air besar, dan mencuci. Bak
mandi berlumut karena jarang dibersihkan.

5. Pembuangan air limbah dapur


Pembuangan air limbah rumah tangga melalui selokan yang
dihubungkan dari tetangga ke tetangga yang mengalir menuju ke
pembuangan akhir yaitu sungai
6. Dapur
Lantai dapur cukup bersih, terdapat 2 kompor yang sedikit kotor karena
terkena minyak, dan peralatan dapur yang cukup bersih.
7. Pembuangan sampah
Sampah rumah tangga di buang di sungai dekat rumah
8. Hewan ternak
Keluarga tidak mempunyai hewan peliharaan / hewan ternak.
9. Sistem informasi
Terdapat 1 televisi, 1 radio, dan keluarga tidak pernah berlangganan
koran, tidak punya telpon, atau alat informasi lainnya
D. Psikologi
a. Situasi emosi
Istri dan anak-anaknya senang bergurau, jarang terjadi pertengkaran
antara suami, istri dan anak-anaknya.
b. Konsep diri
1. Harga diri
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada masalah tentang harga
diri
2. Identitas
Tidak ada gangguan mengenai identitas diri karena setiap anggota
keluarga saling menghargai dan menghormati serta menjalankan
fungsinya masing-masing.
c. Pola Interaksi
Interaksi antara keluarga yaitu dengan cara nonton televisi bersama,
memasak bersama, atau bergurau saat terdapat waktu luang. Dan pola
interaksi dengan masyarakat berjalan baik yaitu dengan cara mengikuti
acara pengajian, dan PKK.

E. Status Keluarga
No

Nama

1 Ny S

Pemeriksaan Fisik

Keterangan

BB 65 kg

Tidak pernah sakit berat atau dirawat

TB 161 cm

di rumah sakit, hanya kadang-kadang

TD 130/80 mmHg

badannya terasa pegal setelah bekerja


dan dapat hilang setelah minum obat
yang di beli di warung atau pijit

2 Ny M

BB 52 kg

Tidak pernah sakit berat atau dirawat

TB 152 cm

di rumah sakit, hanya kadang-kadang

TD 120/80 mmHg

badannya terasa pegal setelah bekerja


dan dapat hilang setelah minum obat
yang di beli di warung atau pijit

3 An R

BB 28 kg

Tidak pernah sakit berat atau di rawat

TB 117 cm

di rumah sakit, hanya terkadang flu,

TD

batuk/ demam biasanya hanya cukup


di belikan obat di warung atau bila
belum sembuh di bawa ke polindes.
Imunisasi yang sudah diberikan yaitu
(BCG, HB 1/2, DPT 1/2/3, Polio
1/2/3/4

dan

campak)

dan

ASI

diberikan sampai umur 6 bulan dan


diberi MPASI yaitu nasi/ pisang lotek
4 An R

BB 13 kg

mulai umur 2 bulan.


Tidak pernah sakit berat atau di rawat

TB 102 cm

di rumah sakit, hanya terkadang sakit


flu/ batuk biasanya di bawa ke
polindes.

Imunisasi

yang

sudah

diberikan yaitu (BCG, HB 1/2, DPT


1/2/3, Polio 1/2/3/4 dan campak) dan
ASI diberikan sampai umur 6 bulan

dengan diberi MPASI yaitu nasi/


pisang lotek mulai umur 4 bulan.

5 An R

BB 6,6 kg

Anak tidak pernah sakit parah atau

TB 62

dirawat di rumah sakit tetapi sejak 2


hari yang lalu anak menderita diare
dan belum diperiksakan ke tenaga
kesehatan. Masih diberikan ASI setiap
bayi menangis dan sudah diberikan
MPASI yaitu nasi lotek Imunisasi yang
sudah diberikan (BCG, HB 1/2, DPT
1/2/3, Polio 1/2/3), dan ibu rutin
mengikuti posyandu

3.2 MENENTUKAN DIAGNOSA / MASALAH KEBIDANAN


Data

Masalah

Ds : Ibu mengatakan sejak 2 hari yang lalu Anak usia 5 bulan dengan
anaknya

diare

cair, berwarna

hijau diare

yang

dapat

berlendir dan belum diperiksa ke tenaga menyebabkan dehidrasi


kesehatan. Pada saat sakit diare ASI
masih di berikan sesering mungkin atau
setiap saat bayi menangis dengan di
tambahkan makanan pendamping ASI
yaitu nasi lotek
Do : Tampak An R turgor kulit tidak
kembali dalam 3 detik, tinja berwarna
hijau encer berlendir, bayi terlihat gelisah
dan rewel

Imunisasi
BCG
HB
Polio
DPT
Campak

Prioritas Masalah
Anak usia 5 bulan dengan diare
No
Kriteria
Perhitungan Score
Pembenaran
1. Sifat masalah skala 2/3 x 1
2/3 Jika tidak segera ditangani
tidak/kurang sehat

maka

komplikasi

bisa

2. Kemungkinan

2/2 x 2

mengancam kesehatan
Keluarganya bisa mengatasi

masalah dapat di

masalah yaitu dengan periksa

ubah skala dengan

ke

mudah

mendapatkan penangan yang

3. Potensi

tepat
Masalah dapat diubah dengan

masalah

2/3 x 1

2/3

untuk diubah

tenaga

penanganan

medis

yang

dan

tepat

terutama partisipasi keluarga


4. Menonjolnya

3/3 x 1

masalah

dalam merawatnya
Keluarga menyadari dan perlu
segera

mengatasi

masalah

tersebut
Total

4 /8

3.3 PERENCANAAN
Masalah kesehatan : Anak usia 5 bulan dengan diare
Sasaran : setelah penyuluhan, keluarga dapat memahami kondisi anaknya saat
ini dan apa yang seharusnya dilakukan
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan keluarga dapat:
1. Menjelaskan pengertian diare
2. Mengerti cara penularan penyakit dan penyebab dari diare
3. Ibu dapat menjaga kondisi dan mengenali gejala
4. Memberikan perawatan yang benar terhadap anak yang sakit
5. Mempraktekkan cara pembuatan larutan oralit
6. Memeriksakan ke petugas kesehatan
7. Ibu bisa mengubah pola makan bayinya
Kriteria:
Umpan balik secara lisan
Adanya respon verbal
Standart : Jawaban keluarga tentang:
1. Pengertian dan penyebab diare

2. Tindakan yang tepat bila ada anggota keluarga sakit/tanggapan


anggota keluarga terhadap masalah kesehatan dan kami harus
segera membawa ke petugas kesehatan.
3. Ibu mengetahui dan bisa membuat larutan oralit
Intervensi:
1. Diskusikan dengan keluarga tenmang pengertian diare
R/ dengan diskusi keluarga mengetahui pengetahuan dan pemahaman yang
lebih luas tentang diare
2. Jelaskan penyebab dari diare kepada keluarga
R/ ibu mengerti tentang penyebab dari diare
3. Anjurkan pada ibu untuk sering memberikan ASI
R/ dengan pemberian ASI maka nutrisi anak dapat terpenuhi
4. Beritahu ibu cara membuat larutan oralit dan berikan oralit setiap setelah
anak BAB
R/ Oralit dapat memenuhi kebutuhan elektrolit dalam tubuh
5. Anjurkan ibu untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
R/ antisipasi terhadap kuman penyebab diare
6. Beritahu ibu untuk menjaga kebersihan dalam mengolah makanan
R/ agar dalam makanan tidak ada bakteri penyebab diare
7. Beritahu ibu untuk segera membawa anaknya ke tenaga kesehatan
R/ antisipasi adanya komplikasi
8. Pantau keadaan bayi dengan melakukan kunjungan ulang
R/ apabila terjadi komplikasi dapat segera di tangani

3.4 PELAKSANAAN
Tanggal

Masalah kesehatan

Jumat 05-09-08

Anak usia 5 bulan

Pukul 09.30 WIB

dengan diare

Implementasi

Memperkenalkan diri pada


keluarga

Menjelaskan

tujuan

kunjungan
Mengkaji status keluarga dan

lingkungan

dengan

wawancaradan pengamatan

1. Mendiskusikan dengan keluarga


tentang pengertian diare, yaitu
frekuensi buang air besar lebih
dari 4 kali pada bayi, atau lebih
dari 3 kali pada anak-anak dengan
konsistensi cair atau encer yang
dapat

berwarna

hijau/

pola

bercampur lendir/ lendir darah


2. Menjelaskan penyebab dari diare
pada keluarga yaitu dari infeksi
virus atau bakteri
Dari gangguan pencernaan
Dari makanan basi, beracun,
alergi

terhadap

makanan,

atau dari psikologis yaitu


rasa takut/ cemas
3. Menganjurkan ibu untuk tetap
memberikan
mungkin
nutrisi
5-9-2008

Anak usia 5 bulan

Pukul 10.00 WIB

dengan diare

ASI
untuk

sesering
memenuhi

bayi dan cairan tubuh

yang hilang
4. Menjelaskan kepada keluarga cara
cara

mengatasi

mengajarkan

diare

cara

yaitu

pembuatan

oralit: Bahan larutan :


Air minum yang matang, gula

pasir,

garam

dapur,

gelas

belimbing (200 cc), sendok (teh &


makan))
Cara membuat :
Isi

gelas

dengan

air

matang

sebanyak 200 cc. Masukkan 1


sendok

makan

gula

pasir.

Tambahkan sendok teh garam


Aduk hingga rata.
Atau apabila ada serbuk oralit,
campur dengan 200 cc air matang
dan minumkan setiap bayi selesai
buang air besar
5. Menganjurkan

pada

seluruh

anggota keluarga selalu mencuci


tangan

sebelum

dan

sesudah

kepada

keluarga

makan .
6. Memberitahu

selalu menjaga kebersihan dalam


mengolah makanan seperti:

Selalu

mencuci

bahan

makanan sebelum dimasak


Tidak makan makanan mentah

7. Memberitahu ibu untuk segera


membawa anaknya ke tenaga
kesehatan, karena kondisi anak
tidak membaik yaitu frekuensi
BAB 7-8x sehari, cair, dan

berwarna hijau berlendir

3.5 EVALUASI
Tanggal

Masalah

Implementasi

kesehatan
05-09-2008

Anak usia 5

S:-

Pukul 12.00 WIB

bulan dengan

penyebab dan cara penularan

diare

penyakit diare dengan benar


-

Keluarga

dapat

menjelaskan

Ibu mengatakan sudah mengerti


manfaat kebersihan dan dalam
mengolah makanan
- Ibu mengatakan sudah paham
manfaat

mengkonsumsi

makanan yang bergizi


- Ibu mengatakan sudah
memeriksakan

anaknya

ke

polindes
O : - Turgor kulit perut kembali <3
detik
-

Tinja masih cair, berwarna hijau


berlendir

- Anak terlihat gelisah dan rewel


A : Anak usia 5 bulan dengan pemulihan
diare
P: - Motivasi keluarga untuk selalu
menjaga kebersihan.
- Menganjurkan ibu untuk tetap
memberikan ASI untuk memenuhi
kebutuhan
bayinya.

elektrolit

tubuh

Mempraktekkan cara membuat


larutan oralit untuk diberikan pada
bayinya.

05-09-08

Anak usia 5

S : - Ibu mengetahui cara penularan

Pukul 12.30

bulan dengan

penyakit diare dan akan selalu

pemulihan

menjaga kebersihan

diare

- ibu mengatakan sudah memberi


oralit
O : - KU cukup
- Turgor kulit kembali + 2 detik
A : Anak usia 5 bulan masih dalam
masa pemulihan diare
P:

Anjurkan pada ibu untuk kembali


memeriksakan bayinya ke polindes
apabila diare bertambah berat/
belum teratasi

CATATAN PERKEMBANGAN
1. Tanggal : 06-09-2008
S:

Jam : 09.30 WIB

Ibu mengatakan bayinya masih diare tetapi sudah berkurang yaitu


sebanyak 5x sehari, berwarna kuning, dan lembek.

O:

Keadaan anak baik, dan tidak rewel lagi


Turgor kulit perut kembali < 2 detik
Berat badan tetap yaitu 6,6 kg
BAB bayi berwarna kuning dan lembek
Minum ASI lancar dan bayipun minum dengan lahap

A:

Anak usia 5 bulan dengan pemulihan diare

P:

- Anjurkan ibu untuk selalu memberikan ASI nya sesering mungkin


sampai bayi merasa kenyang
- Menganjurkan ibu untuk mengganti MPASI bayinya yang semula nasi
lotek saja dengan menambahkan sayur atau memberikan sari buah
karena gizinya lebih baik dari pada hanya diberikan nasi lotek saja

I:

a.

Mempraktekkan cara pembuatan nasi lotek yang dicampur dengan


wortel dan bayam yang kemudian dihaluskan
Persiapan alat dan bahan :
1. Wortel 1 batang
2. Bayam secukupnya
3. Nasi yang telah dilumatkan
Cara pembuatan :
1. Cuci wortel dan bayam di bawah air mengalir
2. Kupas wortel dan cincang hingga halus
3. Potong bayam
4. Rebus wortel yang telah di cincang halus didalam air yang
sudah mendidih sampai terlihat setengah matang, kemudian
masukkan bayam lalu tunggu sampai layu, setelah matang
angkat lalu tiriskan
5. Lumatkan/ haluskan wortel dan bayam yang sudah di rebus
kemudian tuangkan di atas nasi yang telah dilumatkan dan beri
kuah hasil rebusan sayur tadi kemudian sajikan dan berikan
pada bayi

b. Mempraktekkan cara membuat sari buah yang diberikan kepada bayi


yaitu misalnya buah tomat : cuci buah tomat di bawah air mengalir
sampai bersih kemudian potong kecil-kecil kemudian saring sampai
tersisa air atau sari buahnya
E : - Ibu sudah bisa membuat nasi lotek yang dicampur dengan sayur
- Ibu sudah bisa membuat sari buah dan kemudian diberikan kepada
anaknya
- Ibu sudah bisa membuat larutan gula garam dan sudah memberikan
secara rutin yang diberikan setelah BAB (diare)
- Evaluasi satu hari lagi keadaan diare
2. Tanggal 07-09-2008
S:

Jam 10.30 WIB

Ibu mengatakan keadaan bayinya semakin membaik yaitu buang air


besarnya 3x sehari berwarna kuning, lembek dan berampas

O:

KU baik

Turgor kulit perut kembali < 2 detik


BAB bayi berwarna kuning, lembek dan berampas
Berat badan bayi tetap yaitu 6,6 kg
Minum ASI lancar
A:

Anak usia 5 bulan dengan diare, masalah teratasi sebagian

P:

Lanjutkan pemberian larutan oralit bila bayi masih diare


Tetap memantau berat badan bayi untuk mengetahui input dan out put
bayi

I:

Menimbang berat badan :


1. Menyiapkan timbangan bayi
2. Memeriksa tanda 0 apakah sudah sejajar dengan garis tengah
3 Kemudian menimbang bayi
4. Memperhatikan dengan seksama yaitu angka harus sejajar dengan
mata
Menyuapi bayi dengan nasi lotek yang di campur dengan wortel yang
telah di lumatkan

E:

- Ibu menjalankan anjuran dari petugas yaitu terlihat ibu selalu mencuci
tangan dengan air dan sabun sebelum dan sesudah makan dan setiap
akan memegang bayi
- Evaluasi satu hari lagi keadaan diare

3. Tanggal : 08-09-2008
S:

Jam : 10.00 WIB

Ibu mengatakan BAB anaknya sudah kembali seperti normal yaitu 2x


sehari dan bayi tidak malas minum

O:

KU baik
Turgor kulit perut baik (kembali < 2 detik)
BAB bayi berwarna kuning, lembek dan berampas

Berat badan bayi bertambah menjadi 6,7 kg


Minum ASInya lancar dan bayipun minum dengan lahap
A:

Masalah teratasi

P:

Memberikan KIE tentang :

Beritahu ibu apabila anak sakit diare lagi sebaiknya ibu segera
membuat

sendiri larutan gula garam atau serbuk oralit untuk

diberikan pada bayinya dan segera memeriksakan pada petugas


kesehatan.

Anjurkan kepada ibu untuk rutin membawa bayinya ke posyandu


untuk memantau tumbuh kembangnya dan penberian imunisasi
sampai lengkapyaitu pada umur 9 bulan

Anjurkan kepada keluarga untuk tetap menjaga kebersihan, dan


mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

I:

- Menimbang berat badan anak


- Menganjurkan kepada ibu untuk rutin membawa bayinya ke posyandu
untuk memantau tumbuh kembangnya dan pemberian imunisasi
sampai lengkap yaitu sampai umur 9 bulan
- Menganjurkan kepada ibu untuk tetap menjaga kebersihan, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mengolah makanan yang benar,
dan selalu memberikan ASI sesering mungkin

E:

Keadaan anak baik


Diare sudah berhenti setelah rutin di berikan oralit
Ibu mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Diare merupakan mekanisme alamiah tubuh mengeluarkan isi usus yang
busuk dan akan berhenti sendiri jika telah bersih. Diare bukan suatu
penyakit, tetapi merupakan gejala awal gangguan kesehatan. Diare dapat
disebabkan karena Iritasi yaitu mekanik (feses keras, benda asing, tumor,
invaginasi, tekanan dari luar saluran cerna), kimiawi (racun, obat pencahar),
bakterial, parasit, Diet makanan, gangangguan toleransi terhadap makanan
tertentu, makanan yang kasar dan keras, defisiensi vitamin, alergi (sensitif
terhadap obat atau makanan tertentu), stress emosional (ketergantungan, atau
kerja fisik yang berat seperti perjalanan jauh yang melelahkan), ataupun
penyakit-penyakit sistemik yang mengganggu saluran cerna seperti uremia,
penyakit grave, gagal jantung, hipertensi porta, penyakit nerologis, keracunan
logam berat. Penatalaksanaan diare umumnya cukup sistematis saja. Tetapi
sistematis ini dapat juga dipakai sebagai terapi sementara sebelum kausa pasti
diidentifikasi. Terapi sistematis ini antara lain : tirah baring, rehidrasi oral
(oralit).
Setelah dilakukan pengkajian data sampai evaluasi dan catatan
perkembangan, maka dapat di simpulkan bahwa keluarga Tn S termasuk
keluarga sejahterah karena rumah yang ditempati merupakan milik sendiri dan
penghasilan per bulan Tn S sudah mencukupi kebutuhan keluarganya.
Masalah yang ditemukan dalam keluarga Tn S yaitu anaknya yang berusia 5
bulan sakit diare. Setelah dilakukan intervensi dari masalah yang di dapat,
keluarga Tn S dapat melakukan tindakan untuk mengatasi masalah yang ada
yaitu dengan memberikan oralit setiap anaknya diare, memberikan ASI lebih
dari biasanya untuk mengganti cairan tubuh bayinya yang hilang dan
menambahkan sayur yang dihaluskan pada nasi loteknya, juga sari buah
karena nilai gizinya yang tinggi dan selalu mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan ataupun sebelum dan sesudah memegang bayi. Pada dasarnya
keluarga Tn S sudah memiliki sikap sadar kesehatan. Ini terbukti pada saat

ibu menanggulangi gejala-gejala yang timbul dengan langsung membawa


anaknya ke petugas kesehatan untuk mendapatkan tindakan segera.
5.2 Saran
Bagi petugas kesehatan
Diharapkan petugas kesehatan dapat menentukan suatu masalah kesehatan
dengan melakukan pengkajian yang sedalam-dalamnya sehingga masalah
tersebut benar-benar dapat ditangani. Dan petugas kesehatan dapat
melakukan kunjungan rumah sehingga bisa memastikan perkembangan
kesehatan dari suatu keluarga.
Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat untuk aktif mengadakan program-program
kesehatan terutama pada ibu dan bayi. Serta mengharapkan pada seluruh
ibu-ibu baik ibu hamil, ibu nifas, maupun ibu yang memiliki bayi atau
balita rajin mengikuti kegiatan penyuluhan sekitar program yang telah
diadakan guna menambah informasi atau mengingat kembali akan
pentngnya kesehatan
Bagi mahasiwa
Diharapkan kepada seluruh mahasiswa untuk lebih memperdalam ilmu
pengetahuan khususnya ilmu tentang kebidanan, dan mampu memberikan
asuhan kebidanan pada setiap keluarga sesuai teori dalam praktek di
lapangan.

BAB IV
PEMBAHASAN
Diare merupakan infeksi saluran

pencernaan yang dapat menimbulkan

dehidrasi dan mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta kebutuhan


nutrisi. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor infeksi
enternal, parental, dan faktor malarbsorbsi. Penanganan yang kurang dapat
menambah beratnya infeksi yang ada dan dapat menimbulkan komplikasikomplikasi seperti dehidrasi, mal nutrisi, dan lain-lain. Untuk mencegah
terjadinya komplikasi tersebut, maka dilakukan perawatan atau pengobatan yang
baik dan sesuai karena penyakit diare ini menyerang pencernaan maka
penanganan yang utama yaitu pada pemberian oralit dan ASI untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang.
Pada tinjauan teori disebutkan bahwa tanda gejala dengan klasifikasi derajat
dehidrasi adalah : keadaaan umum baik, kesadaran composmentis, mulut dan bibir
kering atau lembab, turgor kulit kembali cepat <2 detik ini termasuk diare (tanpa
dehidrasi). Gelisah, rewel, mata cekung, haus, minum yang banyak, turgor kulit
perut lambat (dehidrasi ringan atau sedang). Letargis, mata cekung, tidak bisa atau
malas minum, turgor kulit kembali sangat lambat ini termasuk (dehidrasi berat).
Pada kasus An Rahayu di dapatkan tanda dan gejala dehidrasi sedang yaitu
turgor kulit lambat atau tidak kembali dalam 3 detik, tinja berwarna hijau encer
berlendir, bayi terlihat gelisah dan rewel.

Pada kunjungan pertama keadaan anak Keadaan anak cukup baik, dan tidak
rewel lagi, turgor kulit perut kembali < 2 detik, berat badan tetap yaitu 6,6 kg,
BAB bayi berwarna kuning dan lembek. Maka keluarga Tn S diberikan
asuhan kebidanan tentang:
-

Cara mengatasi diare yaitu mengajarkan cara pembuatan oralit


Cara membuat :
Isi gelas dengan air matang sebanyak 200 cc. Masukkan 1 sendok
makan gula pasir. Tambahkan sendok teh garam. Kemudian aduk

hingga rata. Atau apabila ada serbuk oralit, campur dengan 200 cc air
matang dan minumkan setiap bayi selesai buang air besar
-

Dan mengganti makanan pengganti ASI bayinya yang semula nasi lotek
saja sekarang dengan menambahkan sayur atau memberikan sari buah
karena gizinya lebih tinggi dari pada hanya diberikan nasi lotek saja

Pada kunjungan ke dua keadaan anak baik, turgor kulit perut kembali < 2 detik
BAB bayi berwarna kuning, lembek dan berampas, berat badan bayi tetap yaitu
6,6 kg, minum ASI lancar maka keluarga Tn S diberikan asuhan kebidanan
yaitu:
-

Keluarga Tn S harus selalu mencuci tangan dengan air dan sabun


sebelum dan sesudah makan dan sebelum dan sesudah memegang bayi

Memantau berat badan bayi dengan menimbang berat badannya untuk


mengetahui keseimbangan input dan output bayi

Pada kunjungan ke tiga keadaan anak baik, turgor kulit perut baik (kembali <
2 detik), diare bayi sudah berhenti, berat badan bayi bertambah menjadi 6,7
kg, ASI lancar dan bayipun minum dengan lahap
Maka keluarga diberikan KIE tentang :
- Apabila anak sakit diare lagi sebaiknya ibu segera membuat sendiri larutan
gula garam atau serbuk oralit untuk diberikan pada bayinya dan segera
memeriksakannya pada petugas kesehatan.
- Anjurkan kepada ibu untuk rutin membawa bayinya ke posyandu untuk
memantau tumbuh kembangnya dan penberian imunisasi sampai lengkap
yaitu pada umur 9 bulan
- Untuk tetap menjaga kebersihan, dan mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan
Dan setelah mendapat asuhan kebidanan tersebut maka keluarga Tn S dapat
mengatasi masalah kesehatan dalam keluarganya dan merekapun tanggap
terhadap kondisi kesehatan keluarganya sehingga masalah dapat teratasi dengan
baik.

DAFTAR PUSTAKA
Effendy. 1998. Ilmu kesehatan masyarakat. EGC : Jakarta
Narsono. 1998. Kesehatan anak untuk perawat, petugas penyuluhan kesehatan,
bidan di desa. Gajah mada universitas press : Yogjakarta
Depkes RI. 1998. Keluarga dalam masyarakat. Depkes RI : Jakarta
Notoatmojo. 1999. Ilmu kesehatan masyarakat. Pustaka ilmu : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Media aesculapius : Jakarta
Salvicion cellis. 1998. Keluarga dan komponennya. Pustaka ilmu : Jakarta
Petrus, Andrianto. 1992. Diare akut. EGC : Jakarta