You are on page 1of 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HIPOTIROID

A. Konsep penyakit
1. Definisi
Hipotiroid adalah suatu keadaan hipometabolik akibat defisiensi
hormone tiroid yang dapat terjadi pada setiap umur. Hipotirod merupakan
keadaan kurang aktifnya kelenjar tiroid yang menyebabakan sekresi hormon
tiroid tidak terjadi atau mengalami penurunan. Hipotiroid adalah suatu penyakit
akibat penurunan fungsi hormon tiroid yang dikikuti tanda dan gejala yang
mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Faktor penyebabnya akibat
penurunan fungsi kelanjar tiroid, yang dapat terjadi kongenital atau seiring
perkembangan usia. Pada kondisi hipotiroid ini dilihat dari adanya penurunan
konsentrasi hormon tiroid dalam darah disebabkan peningkatan kadar TSH
(Tyroid Stimulating Hormon).
Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif
dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat
disebut miksedema.
2. Etiologi
Etiologi dari hipotiroidisme dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu :
a. Hipotiroid primer
Mungkin disebabkan oleh congenital dari tyroid (kretinism), sintesis
hormone yang kurang baik, defisiensi iodine (prenatal dan postnatal), obat
anti tiroid, pembedahan atau terapi radioaktif untuk hipotiroidisme,
penyakit inflamasi kronik seperti penyakit hasimoto, amylodosis dan
sarcoidosis.
b. Hipotiroid sekunder
Hipotiroid sekunder berkembang ketika adanya stimulasi yang tidak
memadai dari kelenjar tiroid normal, konsekwensinya jumlah tiroid
stimulating hormone (TSH) meningkat, ini mungkin awal dari suatu mal
fungsi dari pituitary atau hipotalamus. Ini dapat juga disebabkan oleh
resistensi perifer terhadap hormone tiroid.
c. Hipotiroid tertier / pusat
Hipotiroid tertier dapat berkembang jika hipotalamus gagal untuk
memproduksi tiroid releasing hormone (TRH) dan akibatnya tidak dapat

distimulasi pituitary untuk mengeluarkan TSH. Ini mungkin berhubungan


dengan suatu tumor / lesi destruktif lainnya diarea hipotalamus. Ada dua
bentuk utama dari goiter sederhana yaitu endemic dan sporadic. Giter
endemic prinsipnya disebabkan oleh nutrisi, defisiensi iodine. Ini
mengalah pada "goiter belt" dengan karakteristik area geografis oleh
minyak dan air yang berkurang dan iodine.
Sporadik goiter tidak menyempit ke area geografik lain. Biasanya
disebabkan oleh :
Kelainan genetik yang dihasilkan karena metabolisme iodine yang
salah
Ingesti dari jumlah besar nutrisi goiterogen (agen produksi goiter yang
menghambat produksi T4) seperti kobis, kacang, kedelai, buah
persik, bayam, kacang polong, strowbery, dan lobak. Semuanya
mengandung goitogenik glikosida
Ingesti dari obat goitrogen seperti thioureas (propylthiracil) thocarbomen,
(aminothiazole, tolbutamid).
Penyebab yang paling sering ditemukan adalah Tiroiditis Hashimoto.
Pada

Tiroiditis

Hashimoto,

kelenjar

tiroid

seringkali

membesar

dan

hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah


kelenjar yang masih berfungsi.
Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik
yodium

radioaktif

hipotiroidisme.

maupun

Kekurangan

pembedahan
yodium

jangka

cenderung
panjang

menyebabkan

dalam

makanan,

menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme


goitrosa).

3. Manifestasi klinis
a. Kulit dan rambut
- Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
- Pembengkakan tangan, mata dan wajah
- Rambut rontok, alopeksia, kering dan pertumbuhannya buruk
- Tidak tahan dingin
- Pertumbuuhna kuku buruk, kuku menebal
b. Muskuloskeletal
- Volume otot bertambah, glosomegali
- Kejang otot, kaku, paramitoni

- Artralgia dan efusi sinovial


- Osteoporosis
- Pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda
- Umur tulang tertinggal disbanding usia kronologis
- Kadar fosfatase alkali menurun
c. Neurologik
- Letargi dan mental menjadi lambat
- Aliran darah otak menurun
- Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian
kurang, penurunan reflek tendon)
- Ataksia (serebelum terkena)
- Gangguan saraf (carfal tunnel)
- Tuli perseptif, rasa kecap, penciuman terganggu
d. Kardiorespiratorik
- Bradikardi, disritmia, hipotensi
- Curah jantung menurun, gagal jantung
- Efusi pericardial (sedikit, temponade sangat jarang)
- Kardiomiopati di pembuluh. EKG menunjukan mendatar/inverse
- Penyakit jantung iskemic
- Hipotensilasi
- Efusi pleural
- Dispnea

e. Gastrointestinal
- Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
- Obstruksi usus oleh efusi perioneal
- Aklohidra, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa
f. Renalis
- Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
- Retensi air (volume plasma berkurang)
- Hipokalsemia
g. Hematologi
- Anemia normokrom normositik
- Anemia mikrositik/makrositik
- Gangguan koagulasi ringan
h. Sistem endokrin
- Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore/ masa
menstruasi

yang

memanjang,

menoragi

dan

hiperprolektemi
Gangguan fertilitas
Gangguan hormone pertumbuhan dan

terhadap insulin akibat hipoglikemia


Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
Insufisiensi kelenjar adernal autoimun

galaktore

dan

respon ACTH, hipofisis

Psikologis atau emosi: apatis, agitasi, derpesi, paranoid,menarik diri,

perilaku maniak
Manifestasi klinis lain berupa: edema perordita, wajah seperti bulan (moon
face), wajah kasar, suara serak, pembesaran leher, lidah tebal, sensitifitas
terhadap opioid, haluaran urine menurun, lemah, ekspresi wajah kosong
dan lemah
4. Patofisiologi
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada
pengobatan tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis
kelenjar tiroid dan atropi kelenjar tiroid yang bersifat idiopatik. Prevalensi
penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30-60 tahun, empat kali lipat
angka kejadiannya pada wanita dibandingkan pria. Hipotiroidisme congenital
dijumpai satu orang pada empat ribu kelahiran hidup.
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan
berkompensasi

untuk

meningkatkan

kompensesi

untuk

meningkatkan

sekresinya sebagai sebagai respons terhadap rangsangan hormone TSH.


Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme
basal yang akan mempengaruhi semua system tubuh. Proses metabolik yang
dipengaruhi antara lain:
a. Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria)
b. Penurunan motolitas usus
c. Penurunan detak jantung
d. Gangguan fungsi neurologic
e. Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana
akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien
berpotensi mengalami atherosclerosis. Akumulasi proteoglicans hidropilik di
rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.
Pembentukan erosit yang tidak optimal sebagai dampak dari menurunnya
hormone tiroid memungkinkan klien mengalami anemia.

5. Pathway
6.

Defisiensi lodium, disfungsi hipofisis, disfungsi THR hipotalamus


Penekanan prod. H. Tiroid (hipotiroidisme)

Gangguan metabolic lemak


TSH merangsang kelenjar tiroid untuk mensekresi
Laju BMR lambat

Penurunan produksi panas

Peningkatan kolestrol dan trigliserida

Kel. Tiroid a/ membesar


gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Peningkatan arteriosklerosis
Menekan struktur dileher dan dada
achlorhydria
Oklusi pembuluh darah
Perubahan suhu tubuh hipotermi
Kekurangan vit. B12 dan asam folat
Disfagia gangguan respirasi
Penurunan mortilitas usus

Suplai darah ke jaringan otak menurun


Depresi ventilasi

Pembentukan eritrosit tidak optimal


Penurunan fungsi GI

7. Pemeriksaan penunjang
8.
Pemeriksaan laboratoruim yang didapat pada pasien hipotiroidisme
Aliran darah turun terus-menerus
didapatkan hasil sebagai berikut:
a. T3 dan T4 serum menurun.
b. TSH meningkat pada hipotiroid primer.
c. TSH rendah pada hipotiroid sekunder.
- Kegalan hipofisis: respon TSH terhadap TRH
mendatar.
Ketidakefektifan
pola napas
Kontraksi jantung
menurun
- Penyakit Hipotalamus: TSH dan TRH meningkat.
d. Titer autoantibody tiroid tinggi pada >80% kasus.
e. Peningkat kolestrol.
f. Pembesaran jantung pada sinar X dada.
g. EKG menunjukan sinus bradikardi
rendahnya
kompleks QRS dan
Penurunan
curah voltase
jantung
gelombang T datar atau inverse.
9.
10. Penatalaksanaan
11.
Pada pasien yang sudah mendapatkan suplementasi
levotiroksin sebelumnya, dilakukan penilaian status fungsional tiroidnya. Selain
dapat diketahui dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, dapat pula dilakukan
pemeriksaan

laboratorium.

Pada

pasien

yang

baru

dicurigai

adanya

hipotiroidisme pada saat praoperasi, maka dilakukan pemeriksaan konsentrasi


FT4 dan TSH, juga perlu ditentukan apakah hipotiroidismenya tersebut ringan,
sedang atau berat. Pada hipotiroidisme yang berat, ditandai adanya koma
miksedema, gangguan status mental, gagal jantung atau konsentrasi hormon
tiroksin yang sangat rendah, maka sebaiknya operasi ditunda sampai kondisi
hipotiroidisme beratnya teratasi. Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan
kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat
mulut). Yang banyak disukai adalah hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain
adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).
12.
Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan
hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan
efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar
TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup
penderita. Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai
pengganti hormon tiroid. Apabila penyebab hipotiroidisme berkaitan dengan
tumor susunan saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi, radiasi, atau
pembedahan.Penggantian hormon tiroid : levotiroksin ( Syinthroid), liotironin
(Cytomel), tiroglobulin, liotrix (Thyrolar), aktivitas : berhati-hati dengan olahraga

kontak atau pekerjaan fisik yang berat dan monitoring tanda vital, asupan /
keluaran cairan dan hasil laboratorium (kadar T3, T4 dan Natrium).
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

B. Konsep Askep
1. Pengkajian
a.
21. Merupakan

Identitas klien
biodata klien yang

meliputi

nama,

umur, jenis

kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan, bahasa yang dipakai,


pekerjaan, penghasilan dan alamat.
22.
b.
Keluhan utama
23. Keluhan utama yaitu kurang energi, manifestasinya sebagai lesu,
lamban bicara, mudah lupa, obstipasi. Metabolisme rendah menyebabkan
bradikardia, tidak tahan dingin, berat badan naik dan anoreksia. Kelainan
psikologis meliputi depresi, meskipun nervositas dan agitasi dapat terjadi.
Kelainan reproduksi yaitu oligomenorea, infertil, aterosklerosis meningkat.
24.
c.
Riwayat penyakit sekarang
25. Pada orang dewasa, paling sering mengenai wanita dan ditandai oleh
peningkatan laju metabolik basal, kelelahan dan letargi, kepekaan terhadap
dingin, dan gangguan menstruasi. Bila tidak diobati, akan berkembang
menjadi miksedema nyata.
26. Pada bayi, hipotiroidisme hebat menimbulkan kretinisme.
27. Pada remaja hingga dewasa, manifestasinya merupakan peralihan
dengan retardasi perkembangan dan mental yang relatif kurang hebat serta
miksedema disebut demikian karena adanya edematus, penebalan merata
dari kulit yang timbul akibat penimbunan mukopolisakarida hidrofilik pada
jaringan ikat di seluruh tubuh.
28.
d.
Riwayat penyakit dahulu
29. Hipotiroidisme tidak terjadi dalam semalam, tetapi perlahan selama
berbulan-bulan, sehingga pada awalnya pasien atau keluarganya tidak
menyadari, bahkan menganggapnya sebagai efek penuaan. Pasien
mungkin kedokter ketika mengalami keluhan yang tidak khas seperti lelah
dan penambahan berat badan. Dokter akan meminta pemeriksaan
laboratorium yang tepat, yaitu kadar T4 rendah dan TSH yang tinggi,
sehingga diagnosis hipotirodisme dapat diketahui pada tahap awal ketika
gejalanya masih ringan.
30.
e.
1)
31.

Pola Fungsi Kesehatan Gordon


Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Ketidaktahuan klien tentang informasi dari penyakit yang

dideritanya.

Secara

umum,

hipotiroid

ini

adalah

akibat

dari

menurunnya fungsi kelenjar tiroid dalam mamproduksi hormone tiroid.


Penyakit ini termasuk dalam autoimun yang menghasilkan antibody
yang dapat menurunkan produksi hormone tiroid secara bebas.
Kurangnya pengetahuan klien tentang penyebab dan factor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya hipotiroid.
32.
2)
Pola Nutrisi-Metabolik
33. Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore/
masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore dan
hiperprolektemi, gangguan hormone pertumbuhan dan respon ACTH,
hipofisis terhadap insulin akibat hipoglikemia, gangguan sintesis
kortison, kliren kortison menurun, Insufisiensi kelenjar adernal
autoimun, nafsu makan berkurang, anoreksia.
34.
3)
Pola Aktivitas dan Latihan
35. Sering terjadi Kejang otot, kaku saat beraktifitas gerakan tubuh
lamban, lemah, pusing, capek, pucat, sakit pada sendi atau otot,
produksi keringat berkurang.
36.
4)
Pola Kognitif dan Persepsi
37. Perseptual ada kekhawatiran karena pusing, kesemutan,
gangguan penglihatan, penglihatan ganda, gangguan koordinasi,
Pikiran sukar berkonsentrasi.
38.
5)
Pola Eleminasi
39. Pasien dengan hipotiroid akan mengalami konstipasi, anoreksia,
peningkatan BB, distensi abdomen, haluaran urine menurun.
6)
Pola Persepsi-Konsep diri
40. gangguan citra diri akibat perubahan struktur anatomi,
pembengkakan tangan, mata dan wajah, rambut rontok, alopeksia,
kering dan pertumbuhannya buruk, kulit kering, pecah-pecah, bersisik
dan menebal, pertumbuuhna kuku buruk, kuku menebal kelenjar
gondok membesar (struma nodosa), kurus.
41.
7)
Pola Tidur dan Istirahat
42. Pasien dengan hipotiroid cenderung mengalami insomnia
sehingga sulit untuk berkonsentrasi, menyebabkan pola istirahat dan
tidur terganggu.
43.
8)

Pola Peran-Hubungan

44.

Psikologis atau emosi: apatis, agitasi, depresi, paranoid,menarik

diri, perilaku maniak, nervus, tegang, gelisah, cemas, mudah


tersinggung. Bila bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan maka
tidak akan menjadi masalah dalam hubungannya dengan orang lain,
anggota keluarga maupun masyarakat.
45.
9)
Pola Seksual-Reproduksi
46. Penurunan libido, hipomenore, amenore dan impoten, Haid
menjadi tidak teratur dan sedikit, kehamilan sering berakhir dengan
keguguran, gangguan fertilitas.
47.
10)
Pola Toleransi Stress-Koping
48. Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik. Emosi
labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.
49.
11)
Pola Nilai-Kepercayaan
50. Nilai kepercayaan pasien tergantung pada kebiasaan, ajaran
dan aturan dari agama yang dianut oleh individu tersebut.
51.
52.
53.

f.

Pemeriksaan Fisik
54.

Head to toe

1) Kepala
a) Rambut
55.
Inspeksi: rambut kering, kasar, dan rontok.
b) Mata
56.
Inspeksi: mata exofthalmus
2) Leher
57. Palpasi: ada benjolan pada leher depan, dan ada nyeri tekan.
3) Dada
a) Paru
58.
Inspeksi: Bentuk dada bidang, simetris antara kiri dan
kanan, frekuensi napas pasien ireguler.
59.
Palpasi : vokal fremitus normal
60.
Auskultasi : dipsneu
61.
Perkusi : sonor
b) Jantung
62.
Inspeksi: denyutan jantung tidak normal (bradikardi)
63.
Palpasi: Ictus cordis normal di IC ke 5
64.
Auskultasi: Bunyi jantung normal S1 dan S2
65.
Perkusi: terdengar pekak di sepanjang batas ICS 3-5
toraks sinistra karena terdapat kardiomegali (pembesaran
jantung)
4) Abdomen
66. Inspeksi: warna kulit abdomen normal seperti warna kulit
disekitarnya, tidak ada distensi, tidak adanya bekas operasi, tidak
terdapat kolostomi.
67. Auskultasi: peristaltik usus 3 x/ menit
68. Perkusi: timpani
5) Otot
69. Inspeksi: Kelemahan otot dan penurunan kekuatan, penurunan

g.

refleks tendon
6) Integumen
70. Inspeksi: pucat, kering, bersisik, dan menebal
71. Palpasi : kulit dingin
72. CRT : Pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal
7) Persyarafan
a) Tingkat kesadaran: Letargi
b) GCS:
(1) Eye: Membuka secara spontan 4
(2) Motorik : mengikuti perintah 6
(3) Verbal: Orientasi lama, 4
73.
Total GCS: Nilai 14
74.
Pemeriksaan penunjang

75. Hasil pemeriksaan penunjang pada pasien dengan hipotiroid yaitu


kadar T3 15 pg/dl, dan kadar T4 20 g/dl dan kadar TSH pada pasien
tersebut yaitu <0,005 IU/ml.

2. Diagnosa
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan volume
sekuncup akibat bradikardi dan arteriosklerosi arteri koronia.
b. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
c. Resiko Tinggi Terhadap Konstipasi berhubungan dengan Faktor Penurunan
peristaltik, penurunan tingkat aktivitas.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan faktor
penurunan metabolisme sekunder terhadap hipotiroidisme.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan faktor penurunan metabolisme
sekunder terhadap hipotiroidisme.
f. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan
perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
76.
3. Intervensi
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan volume
sekuncup akibat bradikardi dan arteriosklerosi arteri koronia.
77. Tujuan :
78. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam, diharapkan
fungsi kardiovaskuler tetap optimal yang ditandai dengan tekanan darah,
irama jantung dalam batas normal.
79. Kriteria hasil :
80. Denyut nadi klien normal.
81. Intervensi:
1) Pantau tekanan darah, denyut dan irama jantung setiap 2 jam untuk
82.
mengidentifikasi
kemungkinan
terjadinya
gangguan
hemodinamik jantung seperti hipotensi.
83.
R/ : Memudahkan menilai fungsi kardiovaskuler.
2) Catat warna kulit dan kaji kualitas nadi
84.
R/ : Sirkulasi perifer turun jika curah jantung turun. Membuat kulit
pucat atau warna abu-abu dan menurunnya kekuatan nadi
3) Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
85.
R/ : Penghematan energy membantu menurunkan beban
jantung
4) Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian
obat-obatan anti disritmia
86.
R/ : Untuk hasil penunjang dan pengobatan lebih lanjut
87.
b. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
88. Tujuan :
89. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan
perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas menjadi
normal.

90. Kriteria hasil :


91. Memperlihatkan perbaikan status pennafasan dan pemeliharaan pola
pernafasan yang normal, menarik nafas dalam dan batuk ketika di
anjurkan, menunjukan suara nafas yang normal tanpa bising tambahan
pada auskultasi.
92. Intervensi:
1) Pantau frekuensi; kedalaman, pola pernapasan; oksimetri denyut nadi
dan gas darah arterial.
93.
R/ : Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau
perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi.
2) Ubah posisi secara periodik
94.
R/ : Meningkatkan pengisian udara seluruh segment paru
3) Tinggikan posisi kepala 30o.
95.
R/ : Mendorong pengembangan diafragma/ ekspansi paru
optimal & meminimalkan tekanan isi abdomen pada rongga thorak
4) Berikan oksigen tambahan
96.
R/ : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran dan
penurunan kerja napas
97.
c. Resiko Tinggi Terhadap Konstipasi berhubungan dengan Faktor Penurunan
peristaltik, penurunan tingkat aktivitas.
98. Tujuan :
99. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan
konstipasi tidak terjadi.
100.
Kriteria hasil :
101.
Peristaltic usus normal, pasien dapat BAB 1 kali sehari
102.
Intervensi:
1) Intruksikan pasien untuk:.
a) Minum sedikitnya 2-3 liter cairan setiap hari
b) Meningkatkan masukan makanan tinggi serat (buah mentah,
sayuran, roti dari gandum, sereal, jus prem)
c) Gunakan pelunak fases bentuk bulk seperti Metamucil
d) Gunakan laksatif bila terjadi defekasi pada tiga hari
103. R/ : Tindakan-tindakan ini membantu melunakkan fases.
Konstipasi menetap dapat menandakan perlunya evaluasi lebih lanjut
untuk menentukan bila dosis obat harus di tingkatkan..
2) Tinjau ulang semua obat-obatan lain yang ditentukan untuk pasien
untuk menentukan potensial obat menyebabkan konstipasi
104. R/ : Banyak obat-obatan dapat menyebabkan konstipasi. Orang
dengan hipotiroidisme mempunyai toleransi rendah terhadap obatobatan karena penurunan metabolisme

105.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan faktor
penurunan metabolisme sekunder terhadap hipotiroidisme.
106.
Tujuan :
107.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam,
diharapkan kebutuhan nutrisi klien adekuat.
108.
Kriteria hasil :
109.
Tidak terjadi penurunan berat badan, melaporkan peningkatan
masukan makanan,
110.
Intervensi:
1) Pantau:
a) Laporan JDL, khususnya SDM, hemoglobin, hematokrit
b) Presentase makanan yang dikonsumsi pada setiap makan
c) Berat badan setiap minggu.
111. R/ : Untuk mengevaluasi keefektifan terapi.
2) Pertahankan ruangan tetap hangat agar tidak mengalami hipotermi.
Biarkan pasien mengetahuibahwa toleransi dingin berkurang setalah
obat-obatan hormon tiroid mulai menunjukkan efeknya, biasanya 2-3
minggu.
112. R/ : Untuk mencegah kehilangan panas. Pada hipotiriodisme,
produksi panas kurang karena penurunan metabolisme
113.
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan faktor penurunan metabolisme
sekunder terhadap hipotiroidisme.
114.
115.

Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam,

diharapkan pasien dapat toleran terhadap aktivitasnya.


116.
Kriteria hasil :
117.
Klien dapat beraktifitas secara bertahap, JDL menunjukkan tak
ada anemia
118.
Intervensi:
1) Pantau :
a) Hasil laporan JDL, khususnya JDL, dan hematokrit
b) Hasil kadar T3 dan T4 serum.
119. R/ : Untuk mengevaluasi keefektifan terapi.
2) Anjurkan aktivitas-aktivitas sesuai toleransi. Anjurkan pasien untuk
istirahat dengan interval selama sehari. Jelaskan bahwa penggantian
hormon tiroid mulai menunjukkan efeknya
120. R/ : Pada hipotiroidisme, penurunan

laju

metabolisme

menyebabkan penurunan produksi energi, meningkatan kelelahan


istirahat

membantu menghemat energi. Frustrasi kurang mungkin

terjadi bila pasien merasakan mampu menyeleseikan aktivitas

121.
f. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan
perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
122.
123.

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam

diharapkan proses berpikir klien kembali ketingkat yang optimal.


124.
Kriteria hasil :
125.
Pasien memahami tentang proses penyakit yang terjadi pada
dirinya.
126.
Intervensi:
1) Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian
disekitar dirinya.
127. R/ : Meningkatkan pola pikir dan daya ingat klien tentang
sesuatu.
2) Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang tidak bersifat
mengancam
128. R/ : Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien
terhadap stres
3) Beri penjelasan tentang proses penyakit yang dialami oleh pasien.
129. R/ : Memperbaiki proses berpikir dan menambah pengetahuan
pasien tentang penyakitnya.
4) Kolaborasi dengan ahli Psikologi tentang terapy yang cocok untuk
masalah Proses Berpikir
130. R/ : Memperbaiki proses berpikir dan menambah pengetahuan
pasien tentang penyakitnya.
131.
4. Implementasi
132. Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang telah disusun
sebelumnya.
133.
5. Evaluasi
a. fungsi kardiovaskuler tetap optimal.
b. Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas menjadi
c.
d.
e.
f.

normal.
konstipasi tidak terjadi.
kebutuhan nutrisi klien adekuat.
toleran terhadap aktivitas.
proses berpikir klien kembali ketingkat yang optimal.

134.

DAFTAR PUSTAKA

137.

135.
136.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan

138.

Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : Media Action.


Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :

139.

EGC.
Rumahorbo, Hotma. 1999. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem

140.

Endokrin. Bandung : EGC.


Hartono, Andri. 2012. Medikal Bedah Buku Saku Keperawatan Pasien dengan
Gangguan Fungsi Endokrin. Tangerang Selatan : BINAPURA AKSARA publisher