You are on page 1of 11

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) FISIKA

BERBASIS REACT (RELATING, EXPERIENCING, APPLYING,
COOPERATING, TRANSFERRING) PADA POKOK BAHASAN IMPULS
DAN MOMENTUM UNTUK SISWA SMA KELAS XI IPA
Miftachul Choiriyah, Kadim Masjkur, dan Yudyanto
Universitas Negeri Malang
E-mail: gofreshtach@gmail.com
ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk (1) menghasilkan lembar kegiatan siswa
(lks) berbasis REACT pada pokok bahasan impuls dan momentum (2)
mendeskripsikan kelayakan produk pengembangan lks berbasis REACT.
Penelitian ini disusun dengan memodifikasi sepuluh langkah penelitian dan
pengembangan berdasarkan Borg dan Gall dan mengacu pada model penelitian
prosedural deskriptif. Langkah penelitian ini ada 3 tahapan utama yang meliputi:
(1) tahap studi pendahuluan yang terdiri dari (a) studi kepustakaan dan (b)
pengamatan lapangan; (2) tahap pengembangan yang terdiri dari (a) penyusunan
draft awal, (b) validasi para ahli dan (c) evaluasi dan revisi draft produk; (3)
Pengujian yang terdiri dari (a) uji coba terbatas, (b) revisi produk berdasarkan hasil
uji coba terbatas. Berdasarkan analisis data hasil penilaian LKS berbasis REACT
dari validator menggunakan teknik nilai rata-rata, diperoleh nilai rata-rata
kelayakan sebesar 3,30 yang termasuk pada kriteria layak. Dari analisis hasil
ujicoba terbatas pada 31 siswa diperoleh nilai rata-rata kelayakan 3,37 yang
memenuhi kriteria layak. Untuk tes hasil belajar diperoleh persentase ketuntasan
77,4% termasuk dalam kriteria baik, dan kemampuan kerja ilmiah diperoleh
kemampuan persentase keberhasilan kelas dalam semua aspek adalah 79,52%,
persentase ini masuk dalam kriteria baik.
Kata Kunci: pengembangan lembar kegiatan siswa, fisika SMA, REACT, Impuls
dan Momentum.

Fisika masih menjadi pelajaran yang dianggap kurang menyenangkan dan
sulit dipahami oleh sebagain besar siswa. Ketika mengerjakan soal-soal fisika,
siswa merasa kesulitan dan melakukan kesalahan. Berdasarkan penelitian yang
berjudul Profil Kesalahan Siswa SMA dalam Pengerjaan Soal pada Materi
Impuls dan Momentum diperoleh bahwa jenis kesalahan yang dilakukan siswa
dalam menyelesaikan soal-soal pada materi Impuls dan Momentum adalah karena
kesalahan strategi (36%), kesalahan terjemahan (84%), kesalahan konsep (68%),
kesalahan hitung (60%), dan kesalahan tanda (48%) (Rufaida: 2012). Dari data
persentase profil kesalahan siswa ini, nampak bahwa materi Impuls dan
Momentum masih menjadi materi yang sulit bagi siswa. Kesulitan ini bisa
disebabkan dari faktor internal siswa ataupun faktor eksternal. Faktor internal
bisa berupa kurangnya motivasi belajar siswa. Faktor eksternal bisa pada proses
pembelajaran yang kurang mendukung siswa untuk berproses aktif membangun
sendiri pengetahuannya, mengaitkan dengan kehidupan nyata dan menerapkan
pengetahuan pada konteks baru.
1

2 Menurut teori belajar konstruktivistik. dari penelitian yang dilakukan oleh Novika pada 2009. Kabupaten Ponorogo. Terdapat fakta. mampu bekerjasama. . bahwa melalui penerapan model pembelajaran REACT terjadi peningkatan nilai rata-rata mata pelajaran fisika pada siswa kelas XI IPA-1 SMAN 1 Jenangan. Awalnya nilai rata-rata yang dicapai siswa pada mata pelajaran fisika adalah 45. terampil mengaplikasikan pengetahuan dan inovatif (Yuliati: 2008).67%. ingatan dan pemahaman siswa tentang suatu materi atau konsep menjadi lebih lama. serta mampu menerapkan pemahaman mereka pada konteks yang lain. Penggunaan LKS diharapkan dapat membantu meningkatkan efektifitas dan kelancaran dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Pembelajaran REACT menghasilkan output mudah beradaptasi. Diantara tahapan REACT siswa dibelajarkan untuk melakukan penggalian. Diantaranya LKS yang diterbitkan oleh Sagufindo Kinarya Edisi 2012/2013. Salah satu bentuk bahan ajar adalah Lembar Kegiatan Siswa (LKS).75%. LKS yang diterbitkan oleh Grahadi pada 2011. Setelah diterapkan model pembelajaran REACT nilai rata-rata yang dicapai siswa pada mata pelajaran fisika sebesar 80. belajar merupakan proses aktif dari siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya dan mencari makna dari setiap materi atau konsep yang telah dipelajari (Yuliati: 2008). Lembar kerja siswa (LKS) merupakan bahan ajar cetak yang sampai saat ini masih banyak digunakan oleh guru. pencarian dan penemuan konsep yang akan dipelajari melalui kegiatan praktikum dengan bekerja secara tim. LKS yang diterbitkan oleh Graha Pustaka pada 2011 dan LKS yang diterbitkan oleh Arya Duta pada 2011. Salah satu model pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk lebih banyak terlibat dalam proses pembelajaran adalah model pembelajaran REACT. LKS yang diterbitkan oleh Intan Pariwara pada 2011. Hal ini bertujuan agar belajar siswa menjadi lebih bermakna. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan peneliti terhadap beberapa LKS yang beredar. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif akan menjadi lebih efektif apabila guru menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik materi fisika dan model pembelajaran yang digunakan.

METODE Penelitian ini merupakan penelitian research and development (R&D) atau penelitian pengembangan.3 Dari pengamatan terhadap kelima LKS ini peneliti memperoleh beberapa hal yaitu. Dan LKS belum menunjukkan pentingnya bekerja sama dalam penyelesaian suatu masalah. LKS berisi ringkasan materi dan cenderung langsung memberikan rumus-rumus. LKS kurang mendukung siswa untuk terlibat aktif dalam proses membangun pengetahuannya sendiri. LKS juga kurang memberikan contoh aplikasi materi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan LKS yang ada kecenderungannya guru menyampaikan materi di kelas kemudian meminta siswa untuk mengerjakan beberapa soal di LKS. Selain itu. siswa kesulitan menggunakan rumus-rumus dan bingung menyelesaikannya. model ini bersifat deskriptif. Untuk mendukung proses pembelajaran yang menggunakan REACT dibutuhkan LKS yang sesuai. 2010: 222). masih sangat sedikit LKS yang secara khusus menyajikan suatu materi fisika yang dikembangkan secara terstruktur berbasis suatu model pembelajaran. LKS yang disusun dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi kegiatan pembelajaran yang akan dihadapi (Widjajanti: 2008). Karena pada saat ini belum ada LKS yang secara khusus menyajikan materi Impuls dan Momentum yang secara terstruktur dikembangkan berbasis REACT. Efeknya siswa hanya menghafalkan rumus. . yaitu menggariskan langkahlangkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk (Setyosari. sehingga siswa langsung menggunakan rumus-rumus yang dicantumkan. kecenderungannya siswa mengerjakan soal-soal secara individual. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model prosedural. Dalam hal ini peneliti memilih untuk mengembangkan LKS berbasis REACT khususnya pokok bahasan Impuls dan Momentum. lalu ketika diberikan masalah yang agak rumit dan sedikit berbeda dengan contoh yang diberikan. Proses pembelajaran cenderung monoton dan pasif.

angket respon siswa. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan hasil kuesioner yang berupa skor penilaian produk dengan format skala linkert. kritik. dimana skor 1 menunjukkan skor terendah dan skor 4 menunjukkan skor tertinggi.51 – 3.75. (2) tahap pengembangan yang terdiri dari (a) penyusunan draft awal. Jenis data yang terdapat di dalam penelitian dan pengembangan ini berupa jenis data hasil validasi oleh pakar dan uji coba terbatas pada peserta didik. (b) validasi para ahli dan (c) evaluasi dan revisi draft produk.75 Kategori Validasi Layak Cukup layak Kurang layak Tidak layak . tanggapan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari angket validasi ahli. (3) Pengujian yang terdiri dari (a) uji coba terbatas. Dalam menghitung data hasil validasi.25 1. dikembangkan jenjang kualifikasi kriteria kelayakan. (b) revisi produk berdasarkan hasil validasi uji coba terbatas. diperoleh data kualitatif dan data kuantitatif.4 Pada penelitian ini diambil 3 tahapan utama yang dilaksanakan meliputi: (1) tahap studi pendahuluan yang terdiri dari (a) studi kepustakaan dan (b) pengamatan lapangan.Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data kualitas produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah dengan perhitungan rata-rata. Data kuantitatif yang dihimpun berdasarkan angket atau kuesioner merupakan hasil penilaian dari validator.00 2. Kriteria kelayakan nilai rata-rata hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 1.50 1. Data kualitatif diperoleh berdasarkan masukan.00 – 1. Tabel 1 Kriteria Kelayakan Nilai Rata-rata Hasil Validasi Rata-rata 3.26 – 4. Kriteria penilaian menggunakan skor 1-4. Penentuan rentang skala pada kriteria penilaian dapat diperloleh dengan cara mengurangi skor tertinggi dengan skor terendah kemudian membagi hasilnya dengan skor tertinggi. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh rentang 0.76 – 2. soal uji kompetensi dan lembar penilaian kemampuan kerja ilmiah siswa. Dan jenis data hasil uji coba terbatas di kelas diperoleh data tes hasil belajar dan kemampuan kerja ilmiah siswa. dan saran perbaikan dari para validator.

Data tes hasil belajar dianalisis menggunakan rumusan sebagai berikut.5 (diadaptasi dari Arikunto. Tabel 2 Kriteria Kecakapan Akademik Persentase Ketuntasan 80% ≤ 60 – 79.91% Baik 50 -74 % Cukup Baik 25 . menggunakan rumus sebagai berikut.9 % < 50 % Klasifikasi Sangat baik Baik Cukup Baik Kurang Baik (diadaptasi dari Widyoko. 2010: 285) Nilai   skor yang diperoleh x100% skor maksimum Data hasil belajar diperoleh dari penilaian terhadap pengerjaan soal-soal uji kompetensi oleh siswa.49 % Kurang Baik 0 – 24% Tidak Baik (diadaptasi dari Arikunto 2010: 352) HASIL DAN PEMBAHASAN . Persentase siswa yang tuntas  banyak siswa yang tuntas x100% banyak siswa dalam kelas kriteria penilaian kecakapan akademik dpaat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.9 % 50 – 59. 2009: 45) Data kemampuan kerja ilmiah siswa diperoleh saat siswa melakukan praktikum pada tahapan experiencing. Menghitung keberhasilan kelas dalam semua aspek kemampuan kerja ilmiah.100% Sangat baik 75 . P jumlah skor seluruh siswa dalam semua aspek  100% jumlah skor seluruh siswa ideal dalam semua aspek Tabel 3 Kriteria Kemampuan Kerja Ilmiah Persentase Ketuntasan Klasifikasi 92 .

33 4. KD dan pengembangan indikator yang disesuaikan dengan KTSP SMA.17 3.33 3.30 3. Komponen yang dikembangkan yaitu halaman muka (cover).00 8 Kesesuaian dengan Perkembangan Peserta Didik 3.25 3. diperoleh hasil evaluasi seperti yang disajikan pada Tabel 4.00 3.33 Ratarata V2 3.17 9 Teknik Penyajian Materi 3.40 3. Tabel 4 Hasil Evaluasi Terhadap LKS Oleh Guru No Validator Aspek yang Dinilai 1 2 Kesesuaian Uraian Materi dengan SK dan KD Keakuratan Materi V1 3.20 3.24 10 11 12 13 14 15 Pendukung Penyajian Penyajian Pembelajaran Evaluasi Keterlaksanaan Metode REACT Didaktik 3.00 3.17 3. kegiatan siswa.50 4.11 16 17 Konstruksi Teknis 3. pendahuluan.14 3.Pd) .67 3. kata pengantar.29 3.22 Keterangan Layak Cukup Layak Layak Cukup Layak 5 Ketepatan Penggunaan Istilah dan Simbol 3.50 3.00 3.40 3.00 3.17 7 Kekomunikatifan 3.00 3.00 3.75 3.33 3.00 3.28 Cukup Layak Cukup Layak Cukup Layak Cukup Layak Layak Layak Layak Layak Layak Cukup Layak Layak Layak 3.40 3.40 3 4 Mendorong Keingintahuan Kesesuaian dengan Kaidah Bahasa Indonesia 4.33 4.00 3.6 LKS Impuls dan Momentum materi tersebut dikembangkan berdasarkan SK dan KD dari Standar Isi dan Depdiknas yang kemudian dijabarkan menjadi indikator dam pemetaan kebutuhan materi.00 3.67 3.27 3.00 3.00 3.00 3.Pd) V2 : Validator 2 (Agus Sigid W S.00 3.00 3.29 3.00 3.00 4.00 3.00 3. LKS Impuls dan Momentum berbasis REACT dikemas dalam bentuk buku.5 0 3.30 Layak Rata-rata Total Keterangan: V1 : Validator 1 (Ahmad Masruri S.33 3.50 3.33 3.00 3.00 4. LKS Fisika berbasis REACT ini disusun berdasarkan SK. daftar isi.33 3.00 3.33 3.67 3. uji kompetensi dan daftar pustaka.00 3.33 3.00 3.33 Layak 6 Keefektifan dan Kelugasan 3.20 3.30 3.00 V3 3.33 3. Dari analisis data hasil evaluasi terhadap LKS oleh guru.50 3.00 3.

26.33. Kritea yang memenuhi kriteria layak yaitu kesesuaian uraian dengan SK dan KD dengan nilai kelayakan 3. evaluasi dengan nilai kelayakan 3.28.48 3. Dari analisis data hasil angket respon terhadap LKS oleh siswa.67.26 3.17. mendorong keingintahuan dengan nilai kelayakan 3.67. Aspek yang memenuhi kategori layak yaitu kognitif dengan nilai kelayakan 3. keefektifan dan kelugasan dengan nilai kelayakan 3. kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia dengan nilai kelayakan 3. kekomunikatifan dengan nilai kelayakan 3.20. yaitu untuk aspek keakuratan materi dengan nilai kelayakan 3. pendukung penyajian dengan nilai kelayakan 3.24.37.17. ketepatan penggunaan istilah dan simbol dengan nilai kelayakan 3.53 3.52 3.17. afektif dengan nilai kelayakan 3. Tabel 5 Hasil Angket Respon Terhadap LKS oleh Siswa Aspek yang Direspon oleh Siswa Kognitif Afektif Psikomotor Percaya Diri Introspeksi Objektifitas Rata-rata Total Rata-rata 3.37 Keterangan Layak Layak Layak Cukup Layak Layak Layak Layak Hasil nilai rata-rata total dari kelayakan LKS sebesar 3.33. keterlaksanaan dengan nilai kelayakan 3.30. nilai rata-rata kelayakan ini memenuhi kategori layak.22. psikomotor . konstruksi dengan nilai kelayakan 3. Perbaikan ini menjadi bahan untuk evaluasi dan revisi produk LKS berbasis REACT. dan didaktik dengan nilai kelayakan 3.39 3. dari analisis data evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan LKS berbasis REACT tidak memerlukan perbaikan yang signifikan dan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran.33.67.52. Perbaikan untuk meningkatkan menjadi kategori layak diperlukan untuk aspek yang masih dalam kategori cukup layak. teknik penyajian materi dengan nilai kelayakan 3.33 dan teknis dengan nilai kelayakan 3. Oleh karena itu. kesesuaian dengan perkembangan peserta didik dengan nilai kelayakn 3.11.7 V3 : Validator 3 (Dra. nilai rata-rata ini memenuhi kategori layak. diperoleh hasil seperti yang disajikan pada Tabel 5.05 3.00.27. penyajian pembelajaran dengan nilai kelayakan 3.Pd) Hasil nilai rata-rata tota dari kelayakanl LKS sebesar 3. Dewi Insani M. metode REACT dengan nilai kelayakan 3.

8 dengan nilai kelayakan 3. Berdasarkan tabel kriteria penilaian kecakapan akademik. Dari analisis data tes hasil belajar diperoleh hasil seperti yang disajikan pada Tabel 6. persentase ketuntasan 77.05.53 instropeksi dengan nilai kelayakan3. yaitu untuk aspek percaya diri dengan nilai kelayakan 3.48. Tabel 7 Ringkasan Hasil Kerja Ilmiah Siswa .4% P Berdasarkan Tabel 6 diperoleh siswa yang tidak lulus dengan nilai 70 sebanyak 7 siswa dan siswa yang lulus dengan rentang nilai 75 – 90 sebanyak 24 siswa. Perbaikan ini dilakukan pada tahap revisi produk llks berbasis REACT sehingga mengalami peningkatan menjadi layak. Dari analisis data hasil kerja ilmiah siswa diperoleh hasil seperti yang disajikan Tabel 7.4% termasuk dalam kriteria baik. Tabel 6 Ringkasan Hasil Tes Belajar Nilai Jumlah Siswa 70 7 75 6 80 10 85 6 90 2 Total siswa 31 Siswa tidak lulus Siswa lulus P Keterangan Tidak lulus Lulus Lulus Lulus Lulus 7 siswa 24 siswa banyak siswa yang tuntas x100% banyak siswa dalam kelas 24 X 100% 31 P  77. Persentase siswa yang tuntas belajar yaitu.39 dan objektifitas dengan nilai kelayakan 3. Perbaikan diperlukan untuk aspek yang masih dalam kategori cukup layak.

9 Kegiatan Melakukan pengamatan Menggunakan alat praktikum Mengumpulkan data Menyusun kesimpulan Membuat dan melaporkan hasil pengamatan Total Skor Jumlah Skor 99 102 93 95 104 493 Persentase Klasifikasi 79. persentase ini masuk dalam kriteria baik. mengumpulkan data secara keseluruhan siswa memperoleh skor 93. jumlah skor seluruh siswa dalam semua aspek jumlah skor seluruh siswa ideal dalam semua aspek 493 P  100% 620 P  79. menyusun kesimpulan secara keseluruhan siswa memperoleh skor 95 dan membuat dan melaporkan hasil pengamatan secara keseluruhan siswa memperoleh skor 104. menggunakan alat praktikum secara keseluruhan siswa memperoleh skor 102. Untuk skor persentase keberhasilan kelas dalam semua aspek sebagai berikut.61 83.84 82.87 Baik Baik Baik Baik Baik jumlah skor seluruh siswa dalam semua aspek jumlah skor seluruh siswa ideal dalam semua aspek 493 P  100% 620 P  79. yaitu untuk aspek melakukan pengamatan secara keseluruhan siswa memperoleh skor 99.00 76.52%.52% Berdasarkan P Tabel 7 diperoleh bahwa kemampuan keseluruhan siswa tiap aspek baik.52% P Persentase keberhasilan kelas dalam semua aspek adalah 79.26 75. .

daftar isi. kegiatan siswa. Untuk kegiatan siswa dikembangkan empat sub pokok bahasan yaitu (1) Konsep Impuls dan Momentum. .10 Hasil kelayakan LKS Fisika berbasis REACT secara umum menunjukkan hasil yang baik. LKS berbasis REACT memperoleh nilai rata-rata kelayakan untuk semua aspek sebesar 3. pendahuluan.30. Secara keseluruhan produk akhir yang dihasilkan yaitu LKS berbasis REACT pada Pokok Bahasan Impuls dan Momentum memenuhi kriteria layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. KD dan pengembangan indikator yang disesuaikan dengan KTSP SMA.37 yang memenuhi kriteria layak. Materi tersebut dikembangkan berdasarkan SK dan KD dari Standar Isi dan Depdiknas yang kemudian dijabarkan menjadi indikator dam pemetaan kebutuhan materi. LKS Fisika berbasis REACT dikemas dalam bentuk buku. pada saat siswa menggunakan LKS berbasis REACT siswa memperoleh ketuntasan belajar yang baik dan kemampuan kerja ilmiah memenuhi kriteria baik. Keempat sub poko bahasan ini dikembangkan berdasarkan tahapan pada model pembelajaran REACT Berdasarkan hasil validasi yang telah dilakukan oleh para ahli. Komentar dan saran dari validator dipertimbangkan sebagai bahan revisi agar lks menjadi lebih baik. nilai rata-rata kelayakan ini memenuhi kategori layak. Komponen yang dikembangkan yaitu halaman muka (cover). Selain itu. kata pengantar. diberikan beberapa saran sebagai berikut. LKS Fisika berbasis REACT ini disusun berdasarkan SK. Berdasarkan hasil ujicoba terbatas yang dilakukan di kelas XI IPA-C SMAN 2 Tuban yang terdiri dari 31 siswa diperoleh nilai rata-rata total untuk semua aspek sebesar 3. PENUTUP Kesimpulan Pengembangan LKS Fisika berbasis REACT ini dibatasi hanya pada materi impuls dan momentum. (2) Hubungan Impuls dan Momentum. Saran Berdasarkan pada hasil pengembangan LKS berbasis REACT. (3) Hukum Kekekalan Momentum dan (4) Jenis-Jenis Tumbukan. uji kompetensi dan daftar pustaka.

PR Fisika untuk SMA Kelas 11 Semester 1.11 1. Buku Pintar Belajar Fisika untuk SMA/MA Kelas XI-A. Lembar kegiatan siswa berbasis REACT pada pokok bahasan Impuls dan Momentum masih perlu untuk diuji cobakan terbatas lagi pada sub pokok bahasan Konsep Impuls dan Momentum. Jakarta: Depdiknas. Skripsi tidak diterbitkan. SIMPATI (Sarana Pasti Meraih Prestasi) SMA Fisika untuk Semester 1. 2012. 2008. Depok: Arya Duta Tim Penyusun. Untuk proses pengembangan LKS lebih lanjut. Surakarta: UNS F-KIP Prog. Skripsi tidak diterbitkan. Fanin Dya. Malang: FMIPA UM Rufaida. Graha Pustaka Tim Penyusun. L. Ringkasan Materi dan Latihan Soal TUNTAS (Tuntunan ke UniversitasI). 2009. 2012. Rineka Cipta. 2011. Model-model Pembelajaran Fisika ”Teori dan Praktek”. S. Risdiyani. Agar diperoleh kelayakan yang lebih valid untuk semua sub pokok bahasan. Studi Pendidikan Fisika Sunarno. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2011. Meredith D. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 2008. Profil Kesalahan Siswa SMA dalam Pengerjaan Soal pada Materi Impuls dan Momentum. Penerapan Strategi REACT untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Pemahaman Konsep Fisika Siswa Kelas XI IPA-1 SMAN 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo. Hubungan Impuls dan Momentum. Jakarta: PT. 2010. LKS FISIKA SMA Kelas XI IPA Semester 1. Hukum dan Hukum Kekekalan Momentum. 2. 1983. Jakarta: Sagufindo Kinarya. Surakarta: Grahadi Tim Penulis. Klaten: Intan Pariwara Depdiknas. Endang. Chasanah. Educational Reseacrh. Bekasi.A. 2011. Borg. Penyusunan LKS Mata Pelajaran Kimia Berdasarkan KTSP Bagi Guru SMK/MAK. Malang: Universitas Negeri Malang. Lembar kegiatan siswa berbasis REACT pada pokok bahasan Impuls dan Momentum akan lebih optimal jika digunakan pada saat proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran REACT. Novika. 3. peneliti sarankan agar para peneliti dapat mengembangkan LKS berbasis REACT pada pokok bahasan lain yang disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku saat itu. London: Logman Inc. S. Widjajanti. Walter R & Gall. DAFTAR RUJUKAN Arikunto. . 2011. Yogyakarta: UNY Press Yuliati.