You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR

Oleh:
Windi Tri Astuti
2014.B.15.0401

YAYASAN EKA HARAP PALANGKARAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI D-III KEPERAWATAN
2016

1995:553). Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. Jadi. Fraktur olecranon adalah fraktur yang terjadi pada siku yang disebabkan oleh kekerasan langsung. dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat. dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. Etiologi Menurut Sachdeva (1996). 1995:543). . Oerswari. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bias terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas. 1989 : 144). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer. biasanya kominuta dan disertai oleh fraktur lain atau dislokasi anterior dari sendi tersebut (FKUI. Pengertian Fraktur adalah putusnya hubungan suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan (E. B. Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya. mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI.LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR KONSEP PENYAKIT A. yaitu 1) Cedera Traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a. 2000 : 347). jatuh dari ketinggian). kesimpulan fraktur adalah suatu cedera yang mengenai tulang yang disebabkan oleh trauma benda keras. 1999 : 1138).

biasanya disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. C. . Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. c. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma. yaitu: - Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya. misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. lambat dan sakit nyeri. Klasifikasi Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan) : 1) Faktur Tertutup (Closed). bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. c. 2) Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain. 3) Secara Spontan Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran. b. Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.b.

c) Green Stick Fraktur. bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. - Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. - Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement. - Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. . 2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga. - Grade III : sangat terkontaminasi. mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. panjangnya kurang dari 1 cm. 2) Fraktur Inkomplit.- Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya. dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma : 1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. 2) Fraktur Terbuka (Open/Compound). bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) b) Buckle atau Torus Fraktur. 3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. - Grade I : luka bersih. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur : 1) Fraktur Komplit.

Berdasarkan jumlah garis patah : 1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. Fraktur Patologis : Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. terbagi atas: a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping). b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). 5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang : 1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.ulang. Berdasarkan posisi frakur Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : 1) 1/3 proksimal 2) 1/3 medial 3) 1/3 distal Fraktur Kelelahan : fraktur akibat tekanan yang berulang . 3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama. c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh). 2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen. 2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan. .

COP menurun maka terjadi perubahan perfusi jaringan. mungkin terjadi dari rusaknya syaraf / perdarahan ). yaitu stress. patologik. baik yang terbuka ataupun tertutup. 6) Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur didaerah yang berdekatan. gangguan metabolik. 4) Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. 8) Pergerakan abnormal. 2) Bengkak : Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. 7) Kehilangan sensasi (mati rasa. b. 5) Tenderness / keempukan. 10) Krepitasi E. Penekanan tulang. maka volume darah menurun. Kemampuan otot mendukung tulang turun. Rotasi pemendekan tulang. gangguan fisik. Patofisiologi Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan adanya gaya dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan. Tanda dan Gejala 1) Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. 3) Echimosis dari perdarahan Subculaneous. Disamping itu fraktur terbuka dapat . Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh. 9) Dari hilangnya darah.D.

yang dapat terjadi dalam 48 jam atau lebih. Komplikasi Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera. F. memasang pembebatan yang memadai.dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler. mengurangi nyeri yang diderita pasien. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu. Komplikasi lainnya adalah infeksi. . Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh. emboli lemak. biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik. yang berakibat kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani segera. toraks. pelvis. dan sindrom kompartemen. Syok hipovolemik atau traumatik. akibat pendarahan (baik kehilangan dara eksterna maupun tak kelihatan ) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada fraktur ekstremitas. Penanganan meliputi mempertahankan volume darah. khususnya pada frakturfemur pelvis. maka dapat terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai akibat trauma.mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Fraktur adalah patah tulang. disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. dan melindungi pasien dari cedera lebih lanjut. patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. tromboemboli yang dapat menyebabkan kematian beberapa minggu setelahcedera dankoagulopati intravaskuler diseminata (KID).

atau cidera remuk dapat terjadi emboli lemak. Penatalaksanaan a.dapat terjadi dari beberapa jam sampai satu minggu setelah cidera gambaran khansya berupa hipoksia. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan lokasi fraktur. dan radiologi. (Carpenito 2000:50) H. paru. CCT kalau banyak kerusakan otot. Prinsip penanganan fraktur 1) Rekognisi Prinsip utama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis. atau MRI Scans 4. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli.Sindrom Emboli Lemak.takipnea. Setelah terjadi fraktur panjang atau pelvis. Bone scans. bentuk fraktur. dan pireksia. pemeriksaan klinis.Ray 2. takikardia. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.fraktur multiple. ginjal dan organ lain awitan dan gejalanya. yang sangat cepat. Tomogram. menentukan tehnik yang sesuai untuk pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan. X. khususnya pada dewasa muda 20-30th pria pada saat terjadi fraktur globula lemat dapat termasuk ke dalam darah karma tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karma katekolamin yang di lepaskan oleh reaksi setres pasien akan memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadiya globula lemak dalam aliran darah. 2) Reduksi . 5. G. Pemeriksaan Penunjang 1. Foto Ronsen 3. yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok otak.

sekrup atau pen kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. 4) Rehabilitasi adalah mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.Reduksi fraktur adalah mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan. Mempertahankan imobilisasi dalam fraktur Setelah fraktur direduksi. 3) Retensi adalah metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama masa penyembuhan dengan cara imobilisasi. ORIF akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku. b. deformitas serta perubahan osteoarthritis dikemudian hari. Fiksasi eksternal dapat menggunakan konselosascrew atau dengan metilmetakrilat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-jenis lain seperti gips. . 1) Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau Reduksi terbuka dengan Fiksasi Internal. 2) Open Reduction and External Fixation (OREF) atau Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Eksternal Tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur. fragmen tulang harus di imobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Fiksasi internal sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang pinggul yang sering terjadi pada orang tua.

- Neurosensori Gejala : Hilang gerakan atau sensasi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri atau ansietas atau trauma lain). spasme otot. nyeri) - Sirkulasi Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri atau ansietas) dan hipotensi. - Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan atau kerusakan tulang. angulasi abnormal. Memerlukan bantuan dengan transportasi. terlihat kelemahan atau hilang fungsi. pemendekan. perdarahan. atau terjadi secara sekunder. hipovolemia). tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.MANAJEMEN KEPERAWATAN A. . Kebas atau kesemutan (parestesis). avulsi jaringan. - Keamanan Tanda : Laserasi kulit. pengisian kapiler lambat. Pengkajian Menurut Doenges. krepitasi. dapat berkurang pada imobilisasi). aktivitas perawatan diri. rotasi. Marilynn. Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba) - Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Lingkungan cedera. Takikardia (respon stress. dari pembengkakan jaringan. 2000 : 761 adalah data dasar pengkajian klien adalah sebagai berikut : - Aktivitas/Istirahat Tanda : Keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera. Spasme atau kram otot setelah imobilisasi). Tanda : Deformitas lokal. pucat pada bagian yang terkena. dan tugas pemeliharaan atau perawatan rumah. Penurunan atau tak ada nadi pada bagian distal yang cedera. spasme otot. perubahan warna. fraktur itu sendiri.

Tingkat intensitas nyeri Klien penyebab & frekuensi Dari nyeri menunjukkan 4. C. Observasi tandatanda vital 5. Intervensi dan Rasional Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional Keperawatan Gangguan rasa Kriteria Hasil Nyeri dapat nyaman berkurang / pendekatan pada baik membuat nyeri berhubungan hilang klien & keluarga klien & dengan terputusnya pasien tampak jaringan tulang tenang 1. 2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal. Jelaskan pada 1.B. 3) Resiko infeksi berhubungan dengan adanya kuman masuk. Untuk mengetahui perkembangan . Hubungan yang keluarga kooperatif 2. Melakukan skala nyeri 3. Lakukan 2. 2006 meliputi : 1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur Wilkinson. Kaji tingkat intensitas & frekuensi nyeri 3. Memberikan penjelasan akan Kolaborasi menambah Dengan tim pengetahuan Medis dalam klien tentang Pemberian nyer Analgetik 4.

klien 5. mampu untuk mobilisasi dini melakukan 3. pulih kembali . Rencanakan stimulasi nyeri 1. dimana analgetik berfungsi untuk memblok Gangguan pasien memiliki mobilitas cukup energi periode istirahat aktifitas dan fisik berhubungan untuk yang cukup energi yang dengan kerusakan beraktifias muskuloskeletal perilaku aktifitas secara menampakkan bertahap kemampuan 1. Mengurangi 2. Merupakan tindakan dependent perawat. Setelah latihan dan secara perlahan aktifitas kaji dengan respon pasien menghemat pasien tenaga tujuan mengungkapkan yang tepat. Tahapantahapan yang diberikan untuk dalam memenuhi membantu memenuhi kebutuhan proses aktifitas kebutuhan sendiri 4. berikan latihan 3. Mengurangi beberapa pemakaian aktifitas tanpa energy sampai dibantu kekuatan pasien koordinasi otot. Bantu pasien tidak terpakai 2.

menjaga kemungkinan adanya abnormal dari tubuh sebagai akibat dari Resiko infeksi luka pasien berhubungan sembuh dengan dan kering adanya kuman tidak ada tanda masuk. Evaluasi Keperawatan Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker. 1. . 3) Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. E. Mengetahui kondisi luka pasien umum pasien D. Implementasi Keperawatan `Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Mengkaji luka pasien 2. Monitor keadaan latihan. 2001).tulang dan 4. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah : 1) Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. Menjaga anggota kemungkinan gerak lainnya adanya – baik. infeksi 1. 2) Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Implementasi dilakukan berdasarkan pengkajian diagnose keperawatan dan intervensi.

efek prosedur dan proses pengobatan. DAFTAR PUSTAKA . 6) Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. 5) Infeksi tidak terjadi / terkontrol.4) Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.

Makasar : Lintang Imumpasue. al. New Jersey : Prentice Hall. Edisi 8. Arif. Gramedia. Wilson. Rasjad. Pocket Companion For Medical Surgical Nursing. Anatomi dan Fisiologi Untuk Para Medis. Jakarta : EGC. 2006. Ignatavicius. Aziz Alimus. David T. 1992. Chairuddin. Sylvia A. Martini. Evelyn. Jakarta : PT. Reeves. Jakarta : EGC. . Edisi 3. United States Of Amerika : W. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC. Fourth Edition. (2000). Keperawatan Medikal Bedah (Penerjemah Joko Setyono).B. Charlene J. Jakarta : Penerbit Salemba Medica. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Edisi III. Muttaqin. et.Carpenito. 2005. 2001. 2008. Hidayat. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Bare Brenda G. Jakarta : EGC. et. 2003. Functional Human Anatomy. Jakarta : EGC Syaifuddin. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. 2006. 1996. Frederich H. 2004. Edisi 10. Arif. (2001).al. Saunders Company. Jakarta : Media Aesculapius. Lorraine M. Mansjoer. Marilynn E. Smeltzer. Lynda Juall. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner & Suddarth. (2000) Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. Doenges. Fundamentals of Anatomy and Physiology. (Alih bahasa oleh : I Made Kariasa. Donna D. Lindsay. Price. Suzanne C. United States of America : Mosby. dkk). Pearce. Patofisiologi : Konsep Klinis Prosesproses Penyakit.