You are on page 1of 12

Permintaan Tenaga Kerja

Permintaan tenaga kerja merupakan keputusan pengusaha yang berkaitan dengan kepentingan
perusahaannya yakni berkaitan dengan tingkat kesempatan kerja optimal yang diinginkan oleh
perusahaan. Untuk memenuhi kesempatan kerja yang optimal ini perusahaan akan memberikan
respon terhadap perubahan dalam upah, biaya modal dan input-input lainny, tingkat penjualan
perusahaan dan perkembangan teknologi.
Permintaan tenaga kerja dibedakan dalam dua kategori, yaitu:
2.1.1 Permintaan Tenaga Kerja dalam Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, modal adalah konstan. Karena modal konstan maka dalam jangka pendek
perusahaan tidak dapat meningkatkan atau menurunkan skala usaha atau melakukan pembelian
atau penjualan peralatan. Perusahaan hanya dapat meningkatkan produksi yang dihasilkan
dengan cara menambah input tenaga kerja dan bahan baku.
2.1.2 Permintaan Tenaga Kerja dalam Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, modal adalah tidak konstan. Perusahaan dapat melakukan ekspansi atau
penurunan skala usaha dan peralatan, perusahaan dapat melakukan perubahan semua input
selain perubahan tenaga kerja.
Permintaan tenaga kerja di dasarkan dari permintaan produsen terhadap input tenaga kerja
sebagai salah satu input dalam proses produksi. Produsen mempekerjakan seseorang dalam
rangka membantu memproduksi barang atau jasa untuk dijual kepada konsumen. Apabila
permintaan konsumen terhadap barang atau jasa yang diproduksi meningkat, maka pengusaha
terdorong untuk meningkatkan produksinya melalui penambahan input, termasuk input tenaga
kerja, selama manfaat dari penambahan produksi tersebut lebih tinggi dari tambahan biaya
karena penambahan input. Dengan kata lain, peningkatan permintaan tenaga kerja oleh
produsen, tergantung dari peningkatan permintaan barang dan jasa oleh konsumen. Dengan
demikian permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan dari permintaan output
(McConnell, 1995; Ruby, 2003).
Dalam kerangka makro ekonomi, permintaan output agregat, seringkali diukur berdasarkan
sumber-sumber pertumbuhan ekonomi (PDB/PDRB) suatu perekonomian (Todaro,
2009;Mankiw, 2003). Karena itu, permintaan tenaga kerja agregat selain di pengaruhi oleh
upah, juga ditentukan oleh berbagai variabel sumber-sumber pertumbuhan ekonomi, seperti
konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, impor.
Permintaan tenaga kerja berarti hubungan antara tingkat upah dan jumlah tenaga kerja yang
dikehendaki oleh pengusaha untuk dipekerjakan.
Hal ini berbeda dengan permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. Orang membeli barang dan
jasa karena barang itu memberikan nikmat (utility) kepada si pembeli sementara pengusaha
mempekerjakan seseorang karena untuk membantu memproduksikan barang/jasa untuk dijual

kepada konsumen. Oleh karena itu kenaikan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja
tergantung dari kenaikan permintaan konsumen akan barang yang diproduksinya. Permintaan tenaga
kerja seperti itu disebut derived demand (Payaman Simanjuntak, 2001)
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan atau
instansi tertentu. Biasanya permintaan akan tenaga kerja ini dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah
dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan hasil (Soni Sumarsono, 2003). Permintaan
tenaga kerja dipengaruhi oleh:
a. Perubahan tingkat upah
Perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Apabila
digunakan asumsi tingkat upah naik maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut: Naiknya tingkat upah
akan menaikkan biaya produksi perusahaan selanjutnya akan meningkatkan pula harga per unit
produksi. Biasanya para konsumen akan memberikan respon yang cepat apabila terjadi kenaikan
harga barang, yaitu mengurangi monsumsi atau bahkan tidak membeli sama sekali. Akibatnya
banyak hasil produksi yang tidak terjualdan terpaksa produsen mengurangi jumlah produksinya.
Turunnya target produksi mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Penurunan
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena pengaruh turunnya skala produksi disebut dengan efek
skala produksi atau scale effect.
Pengusaha lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses produksinya dan
menggantikan tenaga kerja dengan barang-barang modal seperti mesin dan lain-lain. Kondisi seperti
ini terjadi apabila upah naik dengan asumsi harga barang-barang modal lainnya tetap. Penurunan
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya penggantian atau penambahan penggunaan
mesin-mesin disebut efek substitusi tenaga kerja.
Baik efek skala produksi maupun efek substitusi akan menghasilkan suatu bentuk kurva permintaan
tenaga kerja yang mempunyai slope negatif .
b. Perubahan permintaan hasil akhir produksi oleh konsumen
Apabila permintaan akan hasil produksi perusahaan meningkat, perusahaan cenderung untuk
menambah kapasitas produksinya, untuk maksud tersebut perusahaan akan menambah
penggunaan tenaga kerjanya.+
c. Harga barang modal turun
Apabila harga barang modal turun maka biaya produksi turun dan tentunya mengakibatkan harga jual
barang per unit ikut turun. Pada keadaan ini perusahaan akan cenderung meningkatkan produksinya
karena permintaan hasil produksi bertambah besar, akibatnya permintaan tenaga kerja meningkat
pula.

A. Permintaan Tenaga Kerja Jangka Pendek
Permintaan tenaga kerja dalam jangka pendek mengkondisikan perubahan menerima harga jual
produk dan tingkat upah yang diberikan. Dalam mengkombinasikan penggunaan modal dan tenaga
kerja untuk menghasilkan output, perusahaan tidak mampu merubah kuantitas modal yang akan
digunakan dan hanya bisa menambah penggunaan tenaga kerja untuk meningkatkan output.
Dalam memperkirakan berapa tenaga kerja yang perlu ditambah, perusahaan akan melihat tambahan
hasil marginal dari penambahan seorang karyawan tersebut. Selain itu, perusahaan akan menghitung
jumlah uang yang akan diterima dengan adanya tambahan hasil marginal. Jumlah uang yang
dinamakan penerimaan marginal (VMPPL) yaitu nilai dari MPPL dikalikan dengan harga per unit
barang. (simanjuntak, 1998).
Jumlah biaya yang dikeluarkan pengusaha sehubungan dengan mempekerjakan mempekerjakan
tambahan seorang karyawan adalah upahnya sendiri (W) dan dinamakakn biaya marginal (MC). Bila
tambahan penerimaan marginal (MR) lebih besar dari biaya mempekerjakan seorang yang
memnghasilkan (W), maka mempekerjakan tambahan orang tersebut akan menambah keuntungan
pengusaha. Dengan kata lain dalam rangka menambah keuntungan, pengusaha senantiasa akan
terus menambah jumlah karyawan selama MR lebih besar dari MC.
Dari teori perilaku produsen diketahui bahwa posisi keuntungan maksimum (posisi keseimbangan)
produsen tercapai apabila memenuhi syarat:

MR = MC
Dalam hal ini MR merupakan nilai rupiah produksi marginal yang diperoleh dari mengalikan harga
produk yang berlaku dengan produksi marginal. Sehingga dapat dibuat persamaan sebagai berikut :

VMP = P.MPTK
Jumlah nilai VMP menggambarkan tambahan pendapatan yang diterima oleh pengusaha bila
menambah penggunaan tenaga kerja satu unit lagi.
Bila perusahaan menggunakan garis wage rate sebagai dasar maka tambahan biaya yang harus
dibayar perusahaan adalah sama dengan tingkat upah (W) berfungsi sebagai MC adalah W ,
sehingga posisi optimal adalah :

VMP = W
Jadi dalam rangka menambah keuntungan, pengusaha akan terus menambah jumlah karyawan
selama MR lebih besar dari pada W , sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1 Fungsi Permintaan Tenaga Kerja

Berdasarkan gambar diatas, garis DD menggambarkan nilai hasil marjinal karyawan (VMPTK) untuk
setiap kuantitas tenaga kerja. Bila misalnya jumlah karyawan yang dipekerjakan sebanyak OA == 100
orang, maka nilai hasil kerja orang yang ke-100 dinamakan VMPTK nya dan besarnya sama dengan
MPTK x P = W1. Nilai ini lebih besar dari tingkat upah yang sedang berlaku (W). oleh sebab itu laba
pengusaha akan bertambah dengan menambah tenaga kerja baru.
Pengusaha dapat terus menambah laba perusahaan dengan memperkerjakan tenaga kerja hingga
ON. Di titik N pengusaha mencapai laba maksimum dan nilai MPTK x P sama dengan upah yang
dibayarkan pada karyawan. Dengan kata lain pengusaha mencapai laba maksimum bila MPTK x P =
W . Penambahan tenaga kerja yang lebih besar dari pada ON, misalnya OB maka akan mengurangi
keuntungan pengusaha. Pengusaha membayar upah pada tingkat yang berlaku (W), padahal hasil
nilai marginal yang diperolehnya sebesar W2 yang lebih kecil dari pada W. Jadi pengusaha
cenderung untuk menghindari jumlah karyawan yang lebih besar dari pada ON. Penambahan
karyawan yang lebih besar dari ON dapat dilaksanakan hanya bila pengusaha yang bersangkutan

dapat membayar upah dibawah W atau pengusaha dapat menaikkan harga jual barang.

B. Permintaan Tenaga Kerja Jangka Panjang
Permintaan tenaga kerja dalam jangka panjang memberikan kebebasan kepada perusahaan untuk
melakukan penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja dengan mengadakan perubahan terhadap
input lainnya. Dalam hal ini perusahaan dapat memilih berbagai bentuk kombinasi modal dan tenaga
kerja dalam menghasilkan output yang mengandung biaya paling rendah.

PERMINTAAN TENAGA KERJA
PERMINTAAN TENAGA KERJA
I. Konsep permintaan
Permintaan adalah suatu hubungan antar harga dan kuantitas. Sehubungan dengan tenaga
kerja, permintaan adalah hubungan antara tingkat upah (yang ditilik dari prespektif seorang
majikan adalah harga tenaga kerja) dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh majikan
untuk dipekerjakan (dalam hal ini dapat dikatakan dibeli). Secara khusus, suatu kurva
permintaan menggambarkan jumlah maksimum yang dikehendaki seorang pembeli untuk
membelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal tenaga
kerja, kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum tenaga kerja yang seorang tenaga
kerja pengusaha bersedia untuk mempekerjakannya pada setiap kemungkinan tingkat upah
dalam jangka waktu tertentu.
Oleh sebab itu tujuan kita adalah mengembangkan kerangka yang menunjukan jumlah
tenaga kerja yang diminta pihak perusahaan pada berbagai macam alternatif harga tenaga
kerja. Permintaan akan tenaga kerja ini kita dapatkan dari suatu perangkat keadaan yang
disebut jangka pendek, yang patut menjadi bahan tinjauan tambahan yang terpaksa harus
diterima oleh pengusaha, baik menyangkut harga jual produk maupun tingkat upah yang
diberikan. Setelah kita kita mengembangkan permintaan perusahaan akan tenaga kerja dalam
jangka waktu pendek, maka kita mengalihkan perhatian kepada permintaan tenaga kerja
menggunakan berbagai macam input. Teori yang kita sajikan ini dikenal sebagai teori
produktivitas marjinal tentang permintaan tenaga kerja dalam pasar-pasar yang bersaingan.
II. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Pendek
a. Hubungan Produksi : Produk Fisik Marjinal
Gambar: isokuan produksi bagi batubara. Setiap kuantitas batubara yang diberikan dapat
dihasilkan dengan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal. Misalnya, 19 ton
batubara dapat dihasilkan dengan 4 unit modal dan 1 unit tenaga kerja atau dengan 3 modal dan
2 unit tenaga kerja.
Hubungan input-output pada suatu perusahaan yang khusus, digambarkan secara grafik pada
gambar di atas. Unit modal yang digunakan dalam proses produksi diperlihatkan dalam sumbu
vertikal; unit tenaga kerja, yang kita ukur dengan hari-hari kerja, diperlihatkan oleh garis sumbu
yang horisontal. Garis-garis kurva yang disebut isokuan (isuquants) memperlihatkan berbagai
macam kombinasi tenaga kerja dan modal yang dapat digunakan peruhaan untuk menghasilkan
“kuantitas yang sama” dari output. Misalnya, perusahaan kita yang khusus itu, yang sengaja kita
andaikan mengelola sebuah tambang batubara, dapat menambah 19 ton batubara dengan cara
menggunakan lima unit modal dan dua unit tenaga kerja, atau dengan cara kombinasi lainnya
antara tenaga kerja dengan modal pada isokuan yang sama. Tenaga kerja dan modal lalu
merupakan subsitusi dalam proses produksi.
Sebagaimana dapat kita lihat dari gambar di atas, maka perusahaan dapat meningkatkan
outputnya dari 19 ton batubara, katakanlah menjadi 27 ton dengan cara meningkatkan jumlah
modal yang digunakannya, dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakannya atau
dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang digunakannya, atau meningkatkan kedua input
tsb. Apabila diberi kebebasan untuk memilih, maka pengusaha akan menghasilkan setiap jenis
output khusus dengan kombinasi modal dan tenaga kerja yang paling sedikit biayanya. Akan
tetapi oleh karena asumsi kita bahwa merubah kuantitas modal yang ia gunakan. Perusahaan
dalam jangka pendek tidak dapat menambah output kecuali dengan menambah penggunaan
tenaga kerja.
b. Skedul Nilai Produk Fisik Marjinal.
Kita telah mengasumsikan bahwa perusahaan kita menjual produknya dalam suatu pasar produk
yang bersaing secara murni, gambar di bawah menunjukan penentuan harga dalam pasar
produk dimana perusahaan itu menjual outputnya. Harga pasar batubara ditentukan oleh
interaksi permintaan akan batubara dan penawaran batubara.

(a) Pasar (b) perusahaan
Gambar : Kurva permintaan batubara, pasar dan perusahaan. Harga batubara ditentukan oleh
interaksi permintaan pasar D dan penawaran S seperti pada panel a. Sebagai akibatnya, kurva
permintaan dalam persaingan murni adalah elastis tak terhingga pada harga pasar $ 40.
Menjual suatu output apapun di atas harga ini, memang tidak ada alasan untuk menjual di
bawah harga ini karena ia dapat menjual sebanyak mungkin batubara yan gia kehendaki dengan
harga $ 40 per ton. Penerimaan perusahaan itu akan bertambah dengan $ 40 bagi setiap ton
batubara yang dijualnya, suatu jumlah yang sama dengan harga penjualan produk.
Kita sekarang dapat menyusun suatu skedul yang memperlihatkan jumlah yang dapat
meningkatkan penerimaan perusahaan jika ia menambah penggunaan tenaga kerja. Apabila
perusahaan itu menambahkan penggunaan tenaga kerja lagi, maka penerimaannya akan
bertambah dengan jumlah nilai produk fisik marjinal VMPP, yang merupakan harga dari tiap unit
output P, dikalikan dengan jumlah unit output yang dihasilkan oleh unit tenaga kerja tambahan
(MMP bagi tenaga kerja dari gambar di bawah) menggambarkan skedul VMMP bagi produsen
batubara kita. Sebagaimana gambar memperlihatkan kepada kita, setiap urutan input
tenaga kerja mengandung secara berturut-turut peneerrimaan yang makin berkurang bagi
perusahaan. Hal, ini disebabkan oleh adanya diminshing returns dalam produksi. Unit
tenaga kerja pertama menambahkan $ 400 bagi penerimaan perusahaan, unit yan gkedua
menambahkan $ 360 dan unit yan gketiga menambahkan $ 320. Karena unit tenaga kerja yang
kesebelas mempunyai MPP nol, maka penggunaan unit itu tiadak akan mendatangkan
penerimaan tambahan bagi perusahaan.
Gambar : Nilai produk fisik marginal bagi suatu perusahaan dalam persaingan murni nilai. Nilai
produk fisik marjinal VMPP adalah produk fisik marginal tenaga kerja MPP dikalikan dengan
harga produk P pada setiap jumlah tenaga kerja yang digunakan. Apabila tingkat upah pasar
adalah $ 80 per hari kerja, perusahaan menghadapi suatu kurva penawaran tenaga kerja yang
elastis tak terhingga pada upah itu, suatu upah yang sama dengan biaya faktor marjinal bagi
perusahaan. Perusahaan akan memaksimalkan keuntungan dengan cara menggunakan tenaga
kerja 9 hari kerja.
c. VMMP Adalah Permintaan Perusahaan Akan Tenaga kerja
Skedul VMPP merupakan permintaan perusahaan akan tenaga kerja. Ia merupakan kurva
permintaan perusahaan karena ia menentukan harga maksimum yang akan dibayarkan oleh
perusahaan bagi berbagai jumlah tenaga kerja. Setiap perusahaan yang diasumsikan hendak
memaksimalkan keuntungan akan tidak mau dengan sengaja membayar setiap input lebih dari
pada input yang ditambahkan kepada penerimaan perusahaan secara keseluruhan.
Kurva permintaan tenaga kerja yang menunjukan kecondongan garis menurun merupakan
kesimpulan utama bagi para ahli ilmu ekonomi teori neoklasik perusahaan. Perusahaan yang
menghendaki keuntungan maksimal dapat memilih jumlah terbaik bagi tenaga kerja untuk
digunakan. Jumlah itu dalam persaingan murni selalu merupakan jumlah yang menjadikan
VMPP tenaga kerja sama dengan upah, oleh karena upah merupakan biaya marjinal bagi suatu
unit tenaga kerja. Apabila tenga kerja meningkat, perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga
kerja dan sebaliknya.
III. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Panjang
Jangka panjang dalam teori perusahaan adalah konsep perusahaan dalam melakukan
penyesuaian penuh terhadap keadaan ekonomi yang berubah. Perbedaan antara permintaan
tenaga kerja jangka pendek dan jangka panjang adalah perbedaan antara :
1. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan itu tidak
sanggup mengadakan perubahan terhadap input yang lain.
2. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan apabila
perusahaan itu sanggup mengadakan perubahan terhadap inptunya yang lain.
a. Penyesuaian Modal Perusahaan
Analisis isokuan produksi kita menunjukan bahwa suatu tingkat output khusus dapat dihasilkan
oleh siapa saja yang menggambarkan sebagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal. Biaya

modal tidak begitu langsung dapat kita identifikasikan untuk menghindari beberapa kesulitan
yang tercakup dalam suatu penyajian penuh biaya modal, kita akan berasumsi bahwa
perusahaan dapat menyewa perlengkapan modal atas dasar harian dan bukannya dengan cara
membelinya.

I.2.1 Permintaan Tenaga Kerja
Permintaan tenaga kerja berlainan dengan permintaan barang dan jasa. Konsumen membeli barang
karena barang tersebut memberikan kegunaan (utility), akan tetapi pengusaha meminta seseorang
sebagai tenaga kerja adalah untuk memproduksi barang atau jasa untuk dijual. Dengan kata lain,
pertambahan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja tergantung pertambahan permintaan
pengusaha terhadap barang yang diproduksinya. Permintaan tenaga kerja ini disebut derived
demand, misalnya meningkatnya permintaan terhadap perumahan akan menimbulkan tambahan
permintaan terhadap karyawan bangunan.
Permintaan tenaga kerja atau kebutuhan tenaga kerja dalam suatu perkembangan ekonomi dapat
dilihat dari kesempatan kerja (orang yang telah bekerja) dari setiap sektor atau kebutuhan tenaga
kerja merupakan jumlah kesempatan kerja yang tersedia di dalam sistem ekonomi, yang dinyatakan
dalam jumlah satuan orang yang bekerja pada masing-masing sektor untuk melakukan kegiatan
produksi.
Dalam arti yang lebih luas, kebutuhan ini tidak saja menyangkut jumlahnya, tetapi juga kualitasnya
(pendidikan dan keahlian). Karena mereka yang bekerja tidak seluruhnya memiliki jam kerja normal
(full employment), maka kebutuhan tenaga kerja dalam analisa-analisa tertentu juga dinyatakan
dalam satuan ekivalen pekerja penuh (full-time worker equipment). Normatif yang digunakan untuk
satu ekivalen pekerja penuh adalah 35 jam kerja per minggu, ada yang menggunakan 40 jam kerja
per minggu, karena tiap-tiap sektor biasanya memiliki jumlah jam kerja yang berbeda, dan akan lebih
baik lagi bila digunakan normatif yang juga berbeda antar sektor.
Untuk melihat besarnya permintaan tenaga kerja atau orang yang telah bekerja dapat juga
menggunakan metode elastisitas kesempatan kerja. Tingkat elastisitas merupakan koefisien daya
serap lapangan kerja. Koefisien ini menunjukkan besarnya persentase perubahan jumlah tenaga
kerja yang dibutuhkan atau diminta terhadap besarnya persentase perubahan output.
Secara teoritis dalam negara yang sedang berkembang bila pertumbuhan ekonomi meningkat maka
permintaan tenaga kerja atau partisipasi rakyat dalam pembangunan akan meningkat pula. Dengan
demikian faktor-faktor yang dapat meningkatkan demand tenaga kerja adalah pertumbuhan ekonomi,
atau jumlah orang yang bekerja tergantung dari besarnya permintaan atau demand dari masyarakat,
di mana permintaan tersebut dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi dan juga tingkat upah.
Proses terjadinya penempatan atau hubungan kerja melalui penyediaan permintaan tenaga kerja
dinamakan pasar kerja, berarti ada yang menawarkan jasanya untuk produksi, apakah yang
bersangkutan sedang bekerja atau mencari pekerjaan.

Pasar tenaga kerja adalah jumlah permintaan dan penawaran terhadap
tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan kegiatan produksi.
Dengan demikian dalam pasar tenaga kerja tergantung dari luas dan
sempitnya kegiatan produksi. Sehingga pemakaian faktor produksi tenaga
kerja akan ditentukan oleh tuntutan dunia usaha atau lapangan produksi.
Sebagaimana pasar lainnya dalam perekonomian, pasar tenaga kerja juga
dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Pasar tenaga kerja
agak berbeda dari sebagian besar pasar lainnya karena permintaan
tenaga kerja merupakan permintaan turunan.
1. Perusahaan Kompetitif yang Memaksimalkan Keuntungan
Perusahaan tertentu seperti perusahaan apel memiliki berbagai
pertimbangan untuk memutuskan jumlah tenaga kerja yang akan diminta.
Kita membuat dua asumsi mengenai perusahaan tersebut. Asumsi
pertama, bahwa perusahaan tersebut kompetitif pada pasar yang menjual
buah apel (perusahaan berperan sebagai penjual) dan pada pasar yang
menjual jasa pemetik apel (perusahaan berperan sebagai pembeli).
Perusahaan kompetitif menerima harga pasar seperti apa adanya dan
memberi upah sesuai kondisi pasar. Perusahaan hanya perlu memutuskan
berapa orang pekerja yang harus dipekerjakan dan berapa banyak buah
apel yang harus dijual.

Asumsi kedua bahwa perusahaan memaksimalkan keuntungan dimana
perusahaan tidak secara langsung peduli akan jumlah pekerja yang
dimiliki atau jumlah apel yang diproduksinya. Perusahaan hanya
mempedulikan keuntungan yang sama dengan pendapatan total dari
penjualan dikurangi biaya produksi total perusahaan.
2. Fungsi Produksi dan Produk Marginal Tenaga Kerja
Fungsi produksi (production function) untuk menggambarkan hubungan
antara jumlah input yang digunakan dalam produksi dan jumlah hasil
produksi. Input dalam contoh ini adalah “pemetik apel” dan hasil produksi
ialah “buah apel” sedangkan input yang lainnya bernilai tetap untuk saat
ini.
Produk marjinal tenaga kerja (marginal product of labor, MPL)
adalah jumlah output tambahan yang didapat perusahaan dari satu unit
tenaga kerja tambahan dengan modal tetap,digambarkan dengan fungsi
produksi:

MPL = F (K, L + 1) - F(K, L)

Sebagian besar fungsi produksi memiliki sifat produk marjinal menurun
(diminishing marginal product) yaitu dengan modal tetap, produk marjinal
tenaga kerja menurun bila jumlah tenaga kerja meningkat. Berikut ini
adalah tabel yang menggambarkan kondisi perusahaan apel tersebut.

Grafik 1. Fungsi Produksi Perusahaan Apel
3. Nilai Produk Marginal dan Permintaan Tenaga Kerja
Nilai produk marginal (value of the marginal product) dari input apa pun
adalah produk marginal dari input itu dikalikan dengan harga hasil
produksi di pasar. Karena harga pasar tetap pada perusahaan kompetitif,
nilai produk marginal (seperti produk marginal itu sendiri) akan menurun
jika pekerja meningkat. Para ekonom kadang-kadang menyebut
dengan produk pendapatan marginal perusahaan, yaitu pendapatan
tambahan yang diperoleh perusahaan dengan mempekerjakan satu unit
tambahan faktor produksi (dalam hal ini tenaga kerja).
Pada perusahaan yang dicontohkan yaitu perusahaan apel, anggaplah
upah pasar bagi pemetik apel adalah $500 per minggu. Pada kasus ini,
seperti yang tercantum pada Tabel 1 bahwa pekerja pertama di
perusahaan menguntungkan karena pekerja pertama menghasilkan
pendapatan perusahaan $1000 atau keuntungan sebesar $500. Pekerja
kedua menghasilkan pendapatan tambahan sebesar $800 atau
keuntungan $300 dan pekerja ketiga menghasilkan pendapatan tambahan
sebesar $600 atau keuntungan sebesar $100. Namun, setelah pekerja
ketiga menambah pekerja tidak akan memberikan keuntungan lagi karena
pekerja keempat hanya memberikan tambahan pendapatan sebesar $400
padahal biaya upah $500 sehingga perusahaan justru rugi $100.

Kurva ini menurun karena produk marginal tenaga kerja berkurang ketika
jumlah pekerja meningkat. Pada Grafik 2 terdapat garis horisontal yang
menunjukkan
upah
pasar.
Untuk
memaksimalkan
keuntungan,
perusahaan akan terus menambah pekerja hingga tercapai titik dimana
kedua kurva berpotongan. Di bawah tingkat ini, nilai produk marginal
melampaui upah, sehingga menambah pekerja akan meningkatkan
keuntungan. Sedangkan jika di atas tingkat ini, nilai produk marginal lebih

kecil dari upah sehingga pekerja marginal tidak mendatangkan
keuntungan. Dengan demikian, sebuah perusahaan yang kompetitif dan
memaksimalkan keuntungan menambah terus pekerjanya hingga titik
dimana nilai produk marginal tenaga kerja sama dengan upah. Kurva nilai
produk marginal merupakan kurva permintaan tenaga kerja bagi sebuah
perusahaan kompetitif yang memaksimalkan keuntungan.

Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat
disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah
dalam jangka waktu tertentu.

Tradeof antara Kerja dan Waktu Luang
Tradeof adalah situasi dimana seseorang harus membuat keputusan
terhadap dua hal atau mungkin lebih, mengorbankan salah satu aspek
dengan alasan tertentu untuk memperoleh aspek lain dengan kualitas
yang berbeda. Penawaran tenaga kerja muncul dari tradeof antara waktu
kerja
dan
waktu
luang
yang
dimiliki
seseorang.
Kurva penawaran tenaga kerja mencerminkan bagaimana keputusan para
pekerja mengenaitradeof antara tenaga kerja dan waktu luang
merespons perubahan biaya kesempatannya. Kurva penawaran tenaga
kerja yang kemiringannya positif menandakan bahwa masyarakat
merespons peningkatan upah dengan cara menikmati waktu luang yang
lebih sedikit dan jam kerja yang lebih banyak.

Apa yang Menyebabkan Kurva Penawaran Tenaga
Kerja Bergeser?

Kurva penawaran tenaga kerja mengalami pergeseran setiap kali
masyarakat mengubah jumlah jam kerja sesuai keinginan mereka pada
tingkat upah tertentu. Adapun beberapa hal yang menyebabkan kurva
penawaran tenaga kerja mengalami pergeseran adalah sebagai berikut:
1.

Perubahan Selera
Pada tahun 1950, hanya 34% wanita yang mencari pekerjaan, angka ini
meningkat menjadi 60% pada tahun 2000. Salah satu faktor yang
mempengaruhi adalah perubahan selera, atau sikap terhadap pekerjaan.
Pada tahun 1950 merupakan hal yang wajar apabila seorang wanita hanya
tinggal di rumah sambil mengasuh anak, tetapi saat ini lebih banyak ibu
rumah tangga yang memilih untuk bekerja, dan akibatnya terjadilah
peningkatan penawaran tenaga kerja.

2.

Perubahan Kesempatan Alternatif
Penawaran tenaga kerja pada setiap pasar tenaga kerja bergantung pada
kesempatan yang tersedia pada pasar tenaga kerja lainnya.
Contoh:
Apabila upah yang diperoleh para pemetik buah pir tiba-tiba meningkat,
sebagian penetik buah pir mungkin memilih untuk beralih ke pekerjaan
lain. Penawaran tenaga kerja pada pasar pemetik buah pir mengalami
penurunan.

3.

Imigrasi
Perpindahan pekerja dari suatu wilayah ke wilayah lain, atau dari suatu
negara ke negara lain, merupakan penyebab nyata dari pergeseran
penawaran tenaga kerja.
Contoh:
Ketika para imigran dating ke AS, penawaran tenaga kerja di AS
meningkat dan penawaran tenaga kerja di Negara asal para imigran akan
menurun.