You are on page 1of 7

Hutan dan Gunggung Senoaji

Kembalikan Fungsi Utama Hutan sebagai Penyeimbang Ekosistem Bumi
Skip to content

BERANDA

ABOUT

CATEGORY ARCHIVES: KEHUTANAN

Masyarakat Desa Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun Di Bengkulu
Posted on 17 Oktober 2010 | 2 komentar

Telah siap diterbitkan di Jurnal Sosiohumaniora

Hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia karena mampu menghasilkan barang dan jasa serta dapat
menciptakan kesetabilan lingkungan (Steinlin, 1988). Sejalan dengan waktu, hutan yang semula dianggap tidak akan habis berangsur-angsur mulai berkurang. Banyak
lahan hutan digunakan untuk kepentingan lain, seperti pertanian, perkebunan, pemukiman, industri dan penggunaan lainnya. Di Provinsi Bengkulu luas kawasan hutan
yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, tanah kosong, dan kebun campuran mencapai 286.777 hektar atau sekitar 31,14% dari
luas total hutan yang ada (Pemerintah Propinsi Bengkulu, 2008).

Permasalahan konversi hutan ini berakar dari pertambahan penduduk yang terus meningkat. Pertambahan penduduk menuntut tercukupinya kebutuhan pangan,
kebutuhan kayu bakar, kebutuhan kayu pertukangan, dan tempat pemukiman. Di lain pihak lahan pertanian sebagai penghasil pangan luasannya terbatas, sehingga
alternatif utama untuk pemenuhan kebutuhan pangan adalah mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian (Simon, 2001). Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh
masyarakat di sekitar hutan akan berakibat pada kondisi hutan di sekelilingnya. Mereka akan menggantungkan hidupnya pada hutan yang ada di sekeliling
pemukimannya guna memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Tanpa pengelolaan yang tepat, hal seperti ini merupakan ancaman bagi keberadaan dan
kelestarian hutan, serta dapat menurunkan fungsi dari peruntukan hutan ini.

Penduduk Desa Air Lanang berjumlah 285 kepala keluarga (KK) , dengan mata pencaharian pokok masyarakatnya adalah petani (98,6 %). Jenis pekerjaan penduduk
akan berhubungan erat dengan tekanan masyarakat ke dalam hutan. Senoaji dan Ridwan (2006) menjelaskan bahwa masyarakat desa hutan yang jenis pekerjaannya
petani cenderung akan meningkatkan tekanan penduduknya ke dalam kawasan hutan; hal ini disebabkan karena semakin terbatasnya lahan pertanian akibat
pertambahan jumlah penduduk. Kebutuhan lahan setiap petani dengan komoditas kopi adalah 0,3 hektar/jiwa atau 1,5 hektar per kepala keluarga, ini berarti
masyarakat di desa ini kekurangan lahan pertanian; sehingga untuk memperluas lahan pertaniannya mereka membuka hutan lindung yang ada di sekeliling
pemukimannya.
Sebanyak 66,7 % responden masyarakat desa membuka kebun di dalam kawasan hutan. Rata-rata luas lahan garapan masyarakat di desa ini setiap kepala keluarga
adalah 2,5 hektar; dengan demikian jika dirata-ratakan berdasarkan jumlah petani dan luas lahan garapan serta kepemilikan lahannya, maka setiap kepala keluarga
petani di desa ini memiliki luas lahan di dalam kawasan hutan sekitar 1,6 hektar. Jika setiap kepala keluarga membuka lahan kebun di hutan seluas 1,6 hektar, maka
lahan hutan yang terbuka di desa ini telah mencapai 456 hektar, dan akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Hasil komoditas utama petani di Desa Air Lanang adalah kopi. Hasil pertanian lainnya umumnya digunakan sendiri untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh
karena itu pendapatan petani di Desa Air Lanang sangat ditentukan oleh produksi kopi dan harga jual kopi . Produksi rata-rata kopi per tahun adalah 500 kg per hektar.

Akibat bertambahnya jumlah penduduk, lahan pertanian yang tersedia menjadi terbatas; sedangkan budaya untuk memiliki kebun kopi tetap menjadi tuntutan
masyarakat. Cara yang paling mudah untuk memiliki kebun adalah dengan membuka kebun kopi di kawasan hutan lindung. Di beberapa tempat, luasnya kebun kopi
masih menjadi tolak ukur tingginya derajat seseorang. Budaya seperti ini menjadi faktor penyebab tingginya kerusakan hutan lindung Beberapa masyarakat desa
mengakui bahwa perbuatan membuka kebun di hutan lindung adalah perbuatan yang melanggar aturan. Namun karena desakan kebutuhan ekonomi dan terbatasnya
lahan di luar kawasan hutan, terpaksa mereka membuka kebun di hutan lindung.

Pemerintah, melalui Departemen Kehutanan, telah mengupayakan pengelolaan hutan di desa ini dengan konsep hutan kemasyarakatan, yakni konsep pengelolaan
hutan lindung yang memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar desa untuk memanfaatkan lahan hutannya dengan memperhitungkan aspek pemilihan jenis

yaitu masyarakat Baduy Dalam dan Masyarakat Baduy Luar. buah-buahan dan madu.tanaman dan jarak tanam. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. berburu. dan satwa liar. 2 Komentar Dipublikasi di Kehutanan Masyarakat Baduy. Hak ulayat ini merupakan kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam. boboko. Edisi Juli 2010 Hutan dan lingkungannya merupakan sumberdaya alam yang dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya dengan fungsi utama untuk penyeimbang ekosistem bumi bagi perlindungan lingkungan. nyiru. Alasan mereka pohonpohon tersebut mengganggu pertumbuhan kopi. Wilayah Baduy Dalam memiliki luas 1. kayu pertukangan. Harapannya. air. Hasil wawancara dengan masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu pengelolaan hutan yang dapat memberikan keseimbangan pemanfaatan fungsi lingkungan dan fungsi ekonomi. membuat alat pertanian seperti golok dan kored. membuat atap dari daun kirai. termasuk tamah dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupan yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan. hutan juga dapat berfungsi sebagai penyedia manfaat barang yang dibutuhkan manusia seperti : kayu bakar. penyiapan bibit. Namun demikian selain berfungsi perlindungan lingkungan. Tujuan akhir dari program hutan kemasyarakatan sebenarnya adalah menggantikan tanaman kopi dengan tanaman kehutanan. Data kependudukan tentang orang Baduy pertama kali tercatat pada tahun 1888 dengan jumlah 1. Kabupaten Lebak. pangan. sedangkan di Baduy Dalam jumlah kampungnya tetap tidak berubah sepanjang masa. pendampingan. Beberapa anak-anak Baduy telah dapat menulis namanya sendiri dengan bahasa latin. petani tetap mengutamakan tanaman kopinya dan bahkan mulai menebangi tanaman hutannya. Adat melarang warganya untuk bersekolah.476 jiwa. Luas wilayah Desa Kanekes menjadi lebih kecil.089 (2. durian. Kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada bagaimana mereka memanfaatkan hutannya. secara fisik persentase penanaman tananaman MPTS yang dilakukan cukup berhasil.172 jiwa terdiri dari 2. penanaman. Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang padi tanah kering. dengan menggunakan jarak tanam pohon tertentu seperti 6 x 6 meter. hanya saja tanaman kemiri atau pinang yang ditanam di lahannya sudah mulai ditebangi oleh masyarakat. Kedua fungsi hutan itu bisa saling bertentangan satu sama lainnya. Jumlah kampung di Baduy pada tahun 2009 sebanyak 58 kampung. Struktur masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua kelompok besar. Cisimeut. Pada permulaan abad ke-20 sejalan dengan pembukaan perkebunan karet oleh Hindia Belanda. Pemanfaatan fungsi ekonomi yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya fungsi lingkungan. dan monitoring evaluasi. masyarakat Baduy ada yang mengenal baca tulis dan berhitung. ranji. di sekitar Pegunungan Kendeng. Wilayah ulayat Masyarakat Baduy memiliki luas sekitar 5. Pengembangan kampung ini hanya terjadi di pemukiman Baduy Luar. Kecamatan Leuwidamar. Secara administrasi pemerintahan. yakni Baduy-Dalam dan Baduy-Luar. Masyarakat Baduy tidak mengenal sistem pendidikan atau sekolah formal. terpanggil untuk memberikan penghargaan “Kehati Award tahun 2004 ” kepada komunitas masyarakat sebagai kelompok masyarakat yang mampu mengelola lingkungan dengan baik dan pada tahun yang sama juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah. suatu lembaga nasional yang bergerak di bidang lingkungan. yang dikenal dengan sebutan Hutan Baduy. Mereka berpendapat bila orang Baduy bersekolah akan bertambah pintar. membuat koja (tas dari kulit kayu). Atas keberhasilan masyarakat Baduy ini dalam mengelola hutan dan lingkungannya. sebaliknya pemanfaatan fungsi lingkungan yang terlalu ekstrim seperti larangan memasuki dan memanfaatkan kawasan hutan akan menimbulkan mubadzir hutan.083 orang (281 KK) yang tersebar di tiga kampung. Namun setelah sekitar sembilan tahun penanaman dan pertumbuhan tanaman pohon telah baik. pinang. mereka sudah paham terutama dalam hal perhitungan uang untuk jual beli. yang mereka tulis dengan arang pada kayu-kayu di rumahnya. Mata pencaharian sampingan saat menunggu waktu panen atau waktu luang adalah membuat kerajinan tangan dari bambu (asepan. dan kemiri. Jumlah penduduk Baduy di wilayah Desa Kanekes sampai dengan bulan Juni 2009 adalah 11. Kekuatan hukum status wilayah Baduy ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. Wilayahnya terbentang mulai dari Leuwidamar. Berhasilkan program hutan kemasyarakatan ? ternyata budaya berkebun kopi memegang peranan penting dalam aspek pengelolaan hutan seperti ini.101. Perum Perhutani melakukan tata batas untuk wilayah Baduy. telah diakui oleh banyak pihak. 3 kampung di Baduy Dalam dan 55 kampung di Baduy Luar. wilayah Baduy atau Desa Kanekes terdiri atas beberapa Kampung yang terbagi menjadi dua kelompok besar.948 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 58 kampung. terutama tentang buyut karuhun (larangan leluhur) tentang bagaimana memanfaatkan alam lingkungannya. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman kopi dan tanaman pertanian masyarakat dengan tanaman kehutanan multi purpose tree species (MPTS) atau tanaman kayu-kayuan seperti : kayu bawang.8 hektar. pete. Pada suatu tempat di Pedalaman Banten.667 KK). petani akan mengurangi aktifitasnya terhadap kopi dan beralih kepada budidaya tanaman kehutanan. Pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat Baduy lebih banyak dilakukan melalui ujaran-ujaran yang disampaikan oleh orang tuanya. dan Lingkungan Posted on 30 Agustus 2010 | Tinggalkan komentar Telah terbit di Jurnal Manusia dan Lingkungan. Masyarakat Baduy adalah masyarakat yang hidupnya sangat tergantung pada keberadaan hutan dan lingkungannya. sampai ke Pantai Selatan. Propinsi Banten. sedangkan wilayah Baduy Luar luasnya 3. Walaupun tidak berpendidikan formal. ternak.975 hektar dengan jumlah penduduk 1. pete. pelatihan. Mereka belajar dari orang luar yang datang ke lingkungannya. masuk ke dalam hutan mencari rotan. . terutama pihak-pihak yang berkompeten dalam pengelolaan lingkungan. yakni hanya tiga kampung. dll). terdapat sekelompok masyarakat yang mampu mengelola hutan dan lingkungannya dengan baik. Sehingga nantinya lahan kebun hutannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman kayu keras yang lebih banyak memberikan fungsi perlindungan lingkungan dibanding kopi. Program hutan kemasyarakatan di desa ini mulai digulirkan sejak tahun 1999 mulai dari pembentukan kelembagaan. Lingkungan hidup mereka adalah hutan yang pengelolaannya diatur secara bijaksana untuk perlindungan lingkungan dan untuk penyedia kebutuhan pangan dan ekonomi. tampaknya secara tegas diadakan pengukuran dan penataan tanah. wilayah ini dikukuhkan menjadi Desa Kanekes. Hutan.127 hektar dengan jumlah penduduk 10. jika tanaman kehutanannya sudah menghasilkan dan tanaman kopinya sudah ternaungi. dan orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan merubah semua aturan yang telah ditetapkan oleh karuhun. terletak di sebelah Barat Pulau Jawa. surian. Sudah saatnya pemerintah membuat program pengelolaan hutan yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat desa hutan dengan tetap mengutamakan fungsi perlindungan lingkungan. Sebagai suatu desa. Dalam hal hitung menghitung. Pada tahun 1984. Keberhasilan pengelolaan hutan dan lingkungan yang lestari oleh masyarakat Baduy. yakni Yayasan Kehati Indonesia. Untuk keperluan itu diadakan kesepakatan antara Sultan Banten dengan Orang Baduy mengenai batas Desa Kanekes yang diambil oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sistem perladangannya adalah berladang berpindah dengan masa bera (mengistirahatkan lahan) pada saat ini selama 5 tahun. Kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan Urang Baduy.

yaitu percaya serta yakin adanya satu kuasa. pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan untuk perlindungan lingkungan. (5) Dilarang memelihara binatang ternak kaki empat. Di samping adanya kepercayaan kepada Batara Tunggal. atau kerbau. (4) Dilarang menggunakan teknologi kimia. Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun. dan Sang Hiyang Keresa (Yang menghendaki). lestari. Oleh karena itu tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman. Kegiatan utama masyarakat Baduy. dan nasib. ruhnya akan kembali kepada Sang Pencipta yakni Batara Tunggal. Jatake. maka seluruh kehidupan di dunia akan rusak pula. Cikadu. Masyarakat Baduy juga mengenal kalimat syahadat seperti halnya orang Islam. Sebutan lain bagi batara tunggal adalah Nungersakeun (Yang Maha Menghendaki). mereka juga disunat. (6) Berladang harus sesuai dengan ketentuan adat Tinggalkan komentar Dipublikasi di Kehutanan. obat pemberantas hama penyakit. Kedudukan para pimpinan adat memiliki peranan dan kekuasaan luas terhadap keseluruhan sistem sosial budayanya. (2) Dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon atau berladang (3) Dilarang menebang sembarangan jenis pohon-pohonan. serta lahan-lahan yang diberakan. dan menuba ikan. pertanian. percaya adanya hidup.Kepercayaan orang Baduy disebut agama sunda wiwitan. yakni Batara Tunggal. seperti kambing. sakit. misalnya menggunakan pupuk. misalnya membuat kolam ikan. seperti hutan yang terletak di Gunung Baduy. Jika taneuh titipan ini hancur dan rusak. sapi. drainase. Lingkungan Hidup Dinamika Masyarakat Baduy dalam mengelola Hutan dan Lingkungan Posted on 22 Agustus 2010 | Tinggalkan komentar Telah diterbitkan pada Jurnal Bumi Lestari edisi Agustus 2010 Anak-anak Baduy berbalut busana adat . Dalam masalah kematian orang Baduy berpendapat bahwa apabila manusia telah sampai pada ajalnya. Adanya aturan seperti ini menjadikan hutan di lingkungan di Baduy tetap terjaga. Aturan utamanya adalah konsistensi terhadap penataan ruang yang telah menjadi aturan. yang tidak bisa dilihat dengan mata tetapi bisa diraba dengan hati. menggosok gigi menggunakan pasta. Dalam keyakinannya merekapun mempunyai nabi yaitu Nabi Adam. dan membuat irigasi atau bendungan. Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan keberadaannya. Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat. menggunakan minyak tanah. dan Pagelaran. yakni kawasan hutan untuk perlindungan lingkungan dan kawasan budidaya untuk lahan pertanian dan atau pemukiman. dan utuh sampai saat ini. Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku turun menurun. yang semua itu berada pada kekuasaan Sang Hyang Batara Tunggal. Wewenang dan kedudukan itu sudah ditentukan oleh karuhun dengan maksud untuk menyelamatkan taneuh titipan (wilayah baduy) yang merupakan intinya jagat. mandi menggunakan sabun. masyarakat Baduy juga mempercayai bahwa untuk mengayomi dan menjaga terhadap ciptaan Batara Tunggal itu ada pula kekuatan gaib dari roh nenek moyang mereka yang disebut karuhun/leluhur. dan hutan tetap. dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan. maha segala tahu yang bergerak dan berusik di dunia ini. seperti hutan lindung (leuweung kolot/titipan). mati. Masyarakat Baduy dalam “peri kehidupannya” selalu berpedoman kepada buyut(aturan) yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhun. Bulangit. Beberapa aturan adat yang mengatur hubungan masyarakat dengan lingkungan di antaranya adalah : (1) Dilarang merubah jalan air.

Satu rumah untuk keluarga Baduy rata-rata membutuhkan 300 batang kayu tiang (10 cm x 10 cm x 3 m). diperbolehkan ditanami beberapa jenis tanaman perkebunan seperti cengkeh.8 hektar berupa hak ulayat yang diberikan oleh pemerintah. gelas. bilik. sungkai. tidak ada fasilitas pendidikan formal. Aturan adat melarang warganya untuk menerima modernisasi pembangunan. dan karet yang di wilayah Baduy dilarang. senter. Januari 2010 Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan (Pemerintah Republik Indonesia. dan kondisi pemukiman penduduknya sangat sederhana. sekarang ini hanya Baduy-Dalam yang tugasnyabertapa. kawasan rawan bencana alam. aturan adat yang semula melarang menanam tanaman kayu di ladang berangsur-angsur mulai mengendur. dan kawasan lindung lainnya. sikat gigi. Awalnya semua masyarakat Baduy harus ikut bertapamenjaga alam lingkungannya. Tanaman kayu tersebut akan ditebang pada saat akhir masa bera. bagi hasil. sendok. Mampukah aturan adat masyarakat Baduy bertahan dalam kondisi modernisasi yang pesat dengan luas lahan pertanian yang dimilikinya terbatas ? Perubahan sosial dan budaya masyarakat Baduy dikatagorikan ke dalam perubahan statis. kawasan perlindungan setempat. menjalin tatanan hidup yang terus berkesinambungan dan dominan.5 cm x 3 m). Dalam hal kepemilikan lahan. kayu afrika. hanya saja masyarakat diperbolehkan mengambil kayu di hutan dengan batasan diameter yang boleh ditebang tidak lebih dari 20 cm. Awalnya kebutuhan kayu pertukangan dapat diperoleh dari ladangnya yang sudah di-bera-kan lebih dari 10 tahun. tidak ada sarana transportasi. kopi. Pola kehidupan masyarakat Baduy sangat ditentukan oleh aturan-aturan dan norma-norma yang berperanan penting dalam proses kehidupan sosial mereka. Propinsi Banten (Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak. Mengingat fungsi tersebut keberadaan hutan lindung mempunyai peranan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem sekitarnya. piring. selalu menjadi perhatian ketua adat. mahoni. Perubahan status masyarakat telah terjadi pada kehidupan masyarakat Baduy. Kayu hasil penebangannya ada yang dipakai sendiri dan ada pula yang sebagian dijual ke masyarakat luar. Masyarakat Baduy-Luar tugasnya hanya ikut menjaga dan membantutapanya orang Baduy-Dalam. Ketua adat Baduy selalu mengingatkan kepada seluruh warganya untuk tidak membuka lahan hutan menjadi lahan pertanian. dengan perubahan masa bera menjadi 5 tahun. penanaman jenis-jenis tanaman kayu selama menunggu masa bera dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sekaligus melindungi tanah dan lahannya dari erosi. 30 lembar bilik bambu (2. Undang-Undang No. mencegah banjir. Bahan untuk membuat atap rumah. Ladang yang di-bera-kan lebih dari 10 tahun akan menghasilkan jenis-jenis kayu yang dapat digunakan untuk tiang seperti kayu kecapi. dan sebagainya. Dalam lima belas tahun terakhir ini. sedangkan masyarakat Baduy-Dalam mulai memperpendek masa bera lahannya.101. khusus di Baduy-Luar telah menjadi milik perorangan dan bisa diperjualkan sesama orang Baduy. Kawasan lindung terdiri dari : kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. kawasan lindung geologi. Larangan penggunaan kamera dan video camera hanya berlaku pada masyarakat Baduy-Dalam. Masyarakat Baduy-Luar yang sudah tidak memiliki lahan pertanian di dalam wilayah Baduy diharuskan mengolah lahan di luar wilayah. Hikmahnya agar mereka mampu memperkokoh benteng kehidupan anak turunan. Pertemuan rutinan itu dilanjutkan dengan pemeriksaan seluruh batas kawasan hutan Baduy untuk melihat kondisi hutannya dan mengingatkan tentang batas-batas kawasan hutan kepada seluruh warga Baduy. sedangkan dari segi ekonomi akan meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus mengatasi masalah kekurangan kayu. Masyarakat Baduy-Luar mulai diperbolehkan mencari lahan garapan ladang di luar wilayah Baduy dengan cara menyewa tanah. untuk mampu mematuhi hak dan kewajibannya. Tinggalkan komentar Dipublikasi di Kehutanan. dan lingkungannya. sekarang hanya 5 tahun bahkan 3 tahun merupakan salah satu indikator terjadinya perubahan itu. karena perubahan sosial yang terjadi sangatlah lambat. Masyarakat Baduy ini merupakan salah satu suku di Pulau Jawa yang hidupnya mengasingkan diri dari keramaian dan tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan. Pertambahan penduduk yang menyebabkan berkurangnya lahan garapan adalah pangkal dari terjadinya perubahan sosial ini. tidak ada fasilitas kesehatan.Masyarakat Baduy adalah kelompok masyarakat Sunda yang tinggal di Desa Kanekes.7 m x 3 m). Masyarakat Baduy-Luar sudah mulai memakai baju buatan pabrik. 2001). lahan. sengaja atau tidak disengaja telah terjadi perubahan sosial di pemukiman masyarakat Baduy. Hubungan yang terbina karena “bisnis” sewa menyewa dan jual beli ladang. dan 30 batang bambu untuk lantainya (palupuh). Salah satu kawasan lindung yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya adalah hutan lindung (Pemerintah Republik Indonesia. Saat ini terlihat perbedaan yang jelas pada kehidupan masyarakat Baduy-Luar dan Baduy-Dalam. Masyarakat Baduy menempati wilayah seluas 5. Bengkulu) Posted on 20 April 2010 | 1 komentar Diterbitkan di Jurnal Ilmu Kehutanan. 150 batang kayu papan (10 cm x 2. kakao. kihiang. blue jeans. 2008). Untuk mencapai ke lokasi pemukiman. hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak tanpa pengerasan. penanaman jenis tanaman kayu di ladang tetap dilarang. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan mendefinisikan hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. tidak ada pengerasan jalan. jenis-jenis kayu tersebut belum layak untuk dijadikan tiang. dan memelihara kesuburan tanah. Kebutuhan akan kayu pertukangan yang menjadi masalah dalam membuat rumah. Kabupaten Lebak. yang berperan sebagai alat pengayom bagi seluruh warga sehingga mampu menggiring semua warganya kepada tertib hukum. sabun. sedangkan pada Baduy-Luar sudah sering stasiun TV mengekspose kehidupan mereka. membentuk suatu interaksi yang cukup antara masyarakat Baduy dengan masyarakat luar. dan lantai tidak menjadi permasalahan karena jumlahnya melimpah dan mudah untuk dibudidayakan. Jenis tanaman kayu yang ditanam masyarakat Baduy-Luar di ladangnya diantaranya adalah sengon. Walaupun demikian. Dinamika sosial dan budaya masyarakat Baduy berdampak juga pada pengelolaan hutan. seluruh lahan yang dikelola oleh masyarakat Baduy-Luar ditanami tanaman kayu yang penanamannya dilakukan bersamaan pada saat menanam padi. sendal jepit. Lingkungan Hidup Kesesuaian kawasan hutan lindung (studi kasus di HL Konak. Untuk di Baduy-Dalam. pelestarian alam dan cagar budaya. Perubahan penentuan masabera lahan pertanian yang semula 7 tahun ke atas. Bertambahnya jumlah penduduk juga meningkatkan kebutuhan kayu pertukangan untuk membuat rumah. . bahkan sudah cukup banyak masyarakat Baduy yang telah menggunakan telepon seluler. yang membentuk homogenitas prilaku dan sosial ekonomi masyarakatnya. mengendalikan erosi. kasur. Untuk mengatasi hal tersebut. Sampai sekarang terlihat pola kehidupan yang sangat berbeda dengan masyarakat luar pada umumnya. yang semula semua lahannya milik adat. masyarakat Baduy-Luar diperbolehkan menanam tanaman kayu di ladangnya. Namun. Kecamatan Leuwidamar. 2007). karenanya itu masyarakat Baduy mulai melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mempertahankan hidupnya. Dari sisi konservasi. Di perkampungan Baduy tidak ada listrik. Peningkatan jumlah penduduk yang mengakibatkan berkurangnya luas kepemilikan lahan pertanian setiap keluarga. Untuk menambah pendapatannya pada lahan mereka di luar Baduy. kawasan suaka alam. atau membeli tanah masyarakat luar. Beberapa masyarakat di Baduy-Luar sudah ada yang berdagang di kampungnya masing-masing. Musyawarah tentang larangan membuka hutan selalu disampaikan setiap tiga bulan sekali yang dihadiri oleh seluruh kepala kampung Baduy. dan mindi. Interaksi ini berdampak pada perubahan tingkah laku dan pola hidup masyarakat Baduy. 600 lembar atap daun kirai. Saat ini. aren. dan patromaks. mencegah intrusi air laut. Aturan dan norma itu dijabarkan dalam suatu hukum adat.

2004 dan 2008). semak belukar. mencegah intrusi air laut. dan lading (Bapedalda Propinsi Bengkulu. mengendalikan erosi.07 % yang masih berhutan. Dengan kondisi alamiah sesuai kriteria kawasan hutan lindung. dan memelihara kesuburan tanah. dan lain sebagainya. hanya sekitar 3. Penentuan suatu areal menjadi atau dilepaskan dari kawasan hutan adalah kewenangan menteri kehutanan. karena fungsi kawasan lindung adalah untuk mengatur tata air. Curah hujan harian yang didasarkan pada pengamatan curah hujan tahunan dari Badan Metereologi dan Geofisika di Kabupaten Kepahiang tahun 2006 dan  2007. berarti termasuk dalam kelas satu dengan nilai 10. selebihnya sekitar 15. mencegah banjir. budidaya tanaman. khususnya masyarakat di bagian hilir (Senoaji. Suatu kawasan ditetapkan menjadi kawasan lindung jika arealnya dapat menjadi wahana perlindungan lingkungan di sekitarnya atau di daerah hilirnya. 2006). intensitas curah hujan.  Ketinggian tempat di hutan lindung Konak terletak pada kisaran 500 meter dari permukaan laut. hutan kota.71 hektar telah berubah bentuk menjadi kebun campuran.60 hektar atau sekitar 17. 1 Komentar Dipublikasi di Kehutanan Kondisi Ekosistem Hutan Lindung Bukit Daun di Kepahiang Bengkulu Posted on 10 Maret 2010 | Tinggalkan komentar Hutan Lindung : antara pinus dan kebun masyarakat .31 hektar. 2007).Kriteria penetapan suatu kawasan menjadi kawasan hutan lindung didasarkan kepada kondisi alamiah wilayahnya yang mencakup jenis tanah. Dengan demikian pengalihfungsian hutan lindung Konak menjadi fungsi lainnya baik bidang kehutanan ataupun di luar bidang kehutanan sepenuhnya menjadi kewenangan menteri kehutanan. cukup banyak kawasan hutan lindung yang dialihfungsikan oleh masyarakat menjadi lahan pertanian dan perkebunan (Senoaji.6 mm/hari. diharapkan wilayah tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap tanah dan tata air dan sebagai sistem penyangga kehidupan masyarakat. Kriteria-kriteria itu dengan nilai tertentu mengharuskan suatu untuk dijadikan kawasan hutan lindung. Berdasarkan hasil perhitungan kriteria-kriteria kesesuaian lahan untuk menentukan kawasan lindung. yang berarti mempunyai nilai 20. sawah. 2006). Pemerintah Kabupaten Kepahiang baru bisa melakukan pemanfaatan kawasan tersebut sesuai dengan persetujuannya. Dalam hal ini. topografi. Sudahkan kriteria tersebut diterapkan dalam penetapan suatu areal menjadi hutan lindung ? Kenyataan di lapangan. dan ketinggian tempat dari permukaan laut (Pemerintah Republik Indonesia. yang berarti termasuk dalam katagori tanah peka terhadap erosi yang nilainya adalah 60. Beralihnya fungsi hutan tersebut akan mengakibatkan terganggunya fungsi perlindungan dan keseimbangan lingkungan Hasil penentuan kesesuaian lahan di areal hutan lindung Konak terhadap kriteria-kriteria kesesuaian lahan untuk kawasan lindung lindung adalah sebagai berikut :  Kemiringan lahan di hutan lindung Konak dominasinya adalah 0-8 %. Hasil interpretasi citra satelit tahun 2005 menunjukkan bahwa dari luas kawasan hutan di Kabupaten Kepahiang sekitar 18. semestinya pemerintah Kabupaten Kepahiang mengajukan permohonan kepada menteri kehutanan untuk mengalihfungsikan kawasannya.127. nilai dari hutan lindung Konak ini adalah 90.  Jenis tanah di hutan lindung Konak adalah podsolik. Nilai ini menunjukkan bahwa hutan lindung Konak ini lebih sesuai jika digunakan untuk fungsi lain seperti tempat rekreasi. intensitas hujannya sebesar 8.194. Ini berarti nilainya masih dibawah kriteria untuk kesesuaian lahan sebagai kawasan lindung. kerena secara fisiografis kurang cocok sebagai lahan yang diperuntukan bagi perlindungan lingkungan. Jika ijin pengalihfungsiannya telah dikeluarkan.322. Batas nilai kriteriakriteria untuk kesesuaian lahan menjadi kawasan lindung adalah diatas 174. tanah kosong.

Bengkulu.5 % dari total pendapatan. dan hutan kebun Vegetasi tingkat pohon di Hutan Lindung Bukit Daun pada kelompok hutan primer disusun oleh 17 jenis. Tanaman kopi merupakan tanaman utama dan menjadikan prestise bagi pemiliknya.045 hektar. 60 % tingkat pendidikannya lulusan sekolah dasar. dan ladang.5 %. dan selebihnya seluas 6. Berdasarkan kondisi penutupan vegetasinya.571. Maret 2009 Hutan lindung merupakan kawasan hutan yang fungsi pokoknya sebagai perlindungan lingkungan. 96 % pekerjaannya sebagai petani. Potensi tegakan untuk tingkat pohon sekitar 132. yaitu : hutan primer. persawahan. Tinggalkan komentar Dipublikasi di Kehutanan Tag Ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan masyarakat yang diperoleh dari hutan lindung. hutan primernya hanya 1. Rata-rata curah hujan hariannya sebesar 8. Hutan Lindung Bukit Daun memiliki luasan sekitar 8. Penelitian ini dilakukan di Desa Air Lanang. hutan tegakan pinus. Ini berarti bahwa mengeluarkan masyarakat dari aktifitasnya di hutan lindung akan mengurangi pendapatannya sebesar 52. Kontribusi pendapatan masyarakat dari kawasan hutan lindung ini sebesar 52.11 hektar. Upaya pemerintah mengeluarkan masyarakat dari kawasan ini berarti akan mengurangi pendapatannya. lahan terbuka. Tinggalkan komentar Dipublikasi di Kehutanan Tag Hutan. belukar muda. Balai Diklat Dephut RI. Data dan informasi yang dikumpulkan. Tipe ekosistemnya hutan dataran rendah dan ekosistem hutan dataran tinggi. Juni 2009 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem kawasan Hutan Lindung Bukit Daun di Kabupaten Kepahiang Bengkulu Metode yang digunakan adalah studi peta dan survey lingkungan. Kenyataannya banyak hutan lindung yang diolah masyarakat menjadi kebun dan menjadi salah satu sumber pendapatannya. dikelompokkan menjadi tiga kelompok hutan.460 jiwa (285 KK).Pondok Masyarakat di Hutan Lindung Diterbitkan pada Buletin Sawala. Metode dasar yang digunakan adalah metode survey dengan teknik PRA.5 hektar di lahan milik dan kawasan hutan.31 m3 per hektar dengan jumlah pohon per hektar sekitar 105 pohon.72 hektar telah berubah menjadi kebun campuran. 435.038.6 mm/hari. Rata-rata kelerengan lahannya 15 – 45 % dengan jenis tanahnya didominasi oleh kambisol/dystropepts. dianalisis dengan analisis dekriptif kualitatif dan kuantitatif. Hutan Lindung Kontribusi keberadaan hutan lindung terhadap pendapatan masyarakat Posted on 10 Maret 2010 | Tinggalkan komentar Diterbitkan pada Jurnal Manusia dan Lingkungan.17 hektar berupa belukar tua. Luas lahan mereka sekitar 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa jumlah penduduk desa adalah 1. Masyarakat Kajian Ekologi dan Fungsi Hutan di Pulau Enggano Bengkulu Posted on 10 Maret 2010 | 1 komentar .

2007 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologis kawasan hutan pulau Enggano berdasarkan fungsinya dan tipe ekosistem penyusun hutan. Jenis-jenis yang dominan di hutan dataran rendah adalah suku Dipterocarpaceae. Topografi kawasan hutan Pulau Enggano bervariasi mulai dari datar sampai curam dengan ketinggian tempat 0 – 220 meter dari permukaan laut. dan hutan dataran rendah. sedangkan pada ekosintem mangrove. hutan pantai. di hutan rawa adalah suku palmae (nibung) dan rumput rawa.Hutan dataran rendah di Pulau Enggano Hutan Mangrove di Puau Enggano Diterbitkan di Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian. hutan produksi terbatas. Jenis-jenis yang dominan di hutan pantai adalah suku Malvaceae dan Guttiferae. dan Myrtaceae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan hutan Pulau Enggano berdasarkan fungsinya terdiri dari hutan lindung. Ekosistem hutannya adalah hutan mangrove. cagar alam dan taman buru. hutan rawa. jenis yang dominan adalah suku Rhizophoraceae dan Soneratiaceae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan cara membuat petak pengamatan berupa jalur pada kawasan hutan yang akan dikaji. Sapindaceae.  .