You are on page 1of 64

1

UNIVERSITAS INDONESIA

RANCANGAN PENGEMBANGAN FORMULA
GEL PELEMBAB (MOISTURIZING GEL) YANG
MENGANDUNG BAHAN AKTIF ASAM HIALURONAT
KELOMPOK 6 (RPF-B)

Faradilla Mauliddini

1306343580

Hansen

1306343656

Ida Nur Asyifa

1306434175

Novita Damayanti

1306343971

Ulfah Nurhidayah

1306344356

Riski Amanda

1306344160

PROGRAM STUDI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2013
Universitas Indonesia

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan perlindungan-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan
makalah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Rencana Pengembangan Formula pada program studi Apoteker di Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia.
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Dr. Silvia Surini
M.Pharm.Sc., Apt. selaku dosen mata kuliah Rencana Pengembangan Formula
atas bimbingan yang diberikan sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik.
Tak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima segala kritik dan saran
demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan
ilmu farmasi pada khususnya.

Penulis
2013

Universitas
Universitas
IndonesiaIndonesia

3

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................i
KATA PENGANTAR .........................................................................................ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................1
1.1.

.............................................................................Latar Belakang

1.2.

1
...........................................................................Tujuan Penelitian
3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................4
2.1. Kulit ...............................................................................................4
2.2. Kosmetik Pelembab .......................................................................7
2.3. Gel .................................................................................................9
2.4. Gel Pelembab ...............................................................................20
2.5. Zat Aktif .......................................................................................22
2.6. Spesifikasi Sediaan dan Kemasan................................................29
2.7. Permasalahan dan Solusi Pembuatan Sediaan..............................30
BAB 3 PRAFORMULASI DAN FORMULASI ..........................................33
3.1. Praformulasi..................................................................................33
3.2. Formulasi .....................................................................................45
3.3. Perhitungan Bahan .......................................................................46
3.4. Prinsip Pembuatan........................................................................46
3.5. Prosep Produksi (Cara Pembuatan) .............................................48
BAB 4 EVALUASI DAN KEMASAN............................................................51
4.1. Evaluasi........................................................................................51
4.2. Kemasan.......................................................................................58
Universitas Indonesia

dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat (Tranggono dan Latifah............. Pada abad ke-19..... berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering (Wasitaatmadja.. pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian....... Bahkan sekarang teknologi kosmetik begitu maju dan merupakan paduan antara kosmetik dan obat (pharmaceutical) atau yang disebut kosmetik medik (cosmeceuticals) (Tranggono dan Latifah...................1........ lebih mampu menembus sel-sel stratum corneum. 2007).......... sinar matahari terik..... Tetapi konsentrasi gliserol yang tinggi sedikit banyak dapat mengiritasi kulit.... Kosmetik pelembab (moisturizers) termasuk kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering..... Kosmetik pelembab yang mengandung gliserol akan mengering di permukaan kulit................... Perkembangan ilmu kosmetik serta indrustrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20................ Kesimpulan............ 1997).2............. Saran............................62 5.................4 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN... Latar Belakang Kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu......... Preparat ini membuat kulit nampak lebih halus dan mencegah dehidrasi lapisan stratum corneum kulit.. yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan............. Universitas Indonesia Universitas Indonesia ......... Sedangkan kosmetik yang ditambahkan campuran minyak seperti minyak tumbuhan lebih mudah bercampur dengan lemak kulit...........62 5.62 DAFTAR ACUAN 63 BAB 1 PENDAHULUAN Universitas Indonesia 1........... membentuk lapisan yang bersifat higroskopis...... umur lanjut..1... 2007)........ yang menyerap uap air dari udara dan mempertahankannya di permukaan kulit. Sekarang konsentrasi gliserol yang lazim digunakan adalah 1020 %.... Kosmetik menjadi salah satu bagian dunia usaha..

tidak kering. Secara alamiah kulit berusaha untuk melindungi diri dari kemungkinan tersebut. kelembaban udara yang rendah. Bahan yang biasa digunakan mencakup zat emolien. zat pengawet. 1985). Bahan-bahan ini termasuk dalam golongan pelembab yang bersifat larut dalam air. Asam hialuronat adalah glikosaminoglikan disakarida yang terdiri dari ribuan unit Universitas Indonesia . Kekeringan kulit ditinjau dari sudut biokimia tidak lain merupakan kandungan air dalam kulit dan efek melembabkan merupakan fenomena yang berhubungan dengan konsentrasi air tersebut. Karena faktor-faktor tersebut dapat terjadi penguapan yang berlebihan pada epidermis kulit sehingga kadar air dalam stratum korneum < 10% dan menyebabkan kulit kering. gelling agent. yaitu dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang diperoleh dari kelenjar lemak dan sedikit kelenjar keringat serta adanya lapisan kulit luar yang berfungsi sebagai sawar kulit. berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh. sinar matahari. dalam kondisi tertentu faktor perlindungan kulit alamiah (natural moisturizing factor) tidak mencukupi sehingga diperlukan perlindungan tambahan non alamiah yaitu dengan pemberian kosmetika pelembab (Wasitaatmadja. propilenglikol atau polietilenglikol (PEG).2 Kulit merupakan organ pertama yang terkena pengaruh tidak menguntungkan dari lingkungan. Gel pelembab adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut. dan mudah pecah. Asam hialuronat adalah karbohidrat atau yang lebih spesifik merupakan mukopolisakarida yang secara alami terdapat dalam semua organisme hidup. 1985). menjaga kulit tetap halus dan lembut dan akan memperlambat proses penguapan air dari kulit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. dan zat warna (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. zat humektan (pelembab). Untuk melindungi kulit dari hal tersebut di atas maka dibuatlah gel pelembab. sorbitol. 1997). usia. Humektan atau pelembab adalah bahan-bahan yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi kekeringan kulit disamping bersifat protektif terhadap kulit. Namun. parfum. misalnya udara kering. Berbagai faktor baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh dapat mempengaruhi struktur dan fungsi kulit. bersisik. Bahan pelembab yang biasa digunakan adalah gliserin.

melindungi dan menutrisi kulit. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gel pelembab yang mengandung asam hialuronat (Hyaluronic acid moisturizing gel). krim dan lotions pelembab. vitamin. pengobatan untuk kulit sensitif dan kering.3 D-glucoronic acid dan N-acetyl-D-glucosamine yang berikatan secara berulang. produk perawatan kulit sebagai pelembab. Pada pH fisiologis asam hialuronat sebagian besar terdapat dalam bentuk garam natrium.2. Universitas Indonesia . dapat dikombinasikan dengan pelindung kolagen. Bila asam hialuronat tidak terikat dengan molekul lain. argireline dan Lacto-Ceramide. Aplikasi asam hialuronat dalam kosmetik antara lain sebagai gel pelembab. anti keriput atau anti-aging. 2009). bentuk garam ini adalah bentuk paling umum yang tersedia secara komersial (Kablik dkk. 1. lotions after sun. asam hialuronat akan berikatan dengan air membentuk cairan yang kental mirip dengan “jelly”.

berikut.1. (Draelos. Kulit terdiri atas tiga kompartemen utama yaitu epidermis.4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Universitas Indonesia .1 Anatomi Fisiologi Kulit Terdapat tiga lapisan utama dari kulit yaitu lapisan epidermis.1. Strukur lapisan kulit dapat dilihat pada Gambar 2. Struktur terluar dari epidermis adalah stratum korneum yang membentuk barrier permeabilitas epidermal yang mencegah hilangnya air dan elektrolit. dermis dan hipodermis (subkutan). dermis dan hipodermis atau subkutan. 2.1 Kulit Kulit merupakan lapisan yang menutupi permukaan tubuh dan menghubungkannya dengan lingkungan. 2010). jaringan epitelnya terdiri atas beberapa lapisan. Epidermis merupakan struktur terluar yang berlapis-lapis.

5

Gambar 2.1. Struktur anatomi kulit.
Tidak ada garis tegas yang memisahkan antara dermis dan subkutan.
Subkutan ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan sel-sel yang
membentuk jaringan lemak. Lapisan epidermis dan dermis dibatasi oleh taut
dermoepidermal (dermoepidermal junction). Fungsi utama kulit antara lain:
1. Fungsi proteksi: untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme, bahan
kimia, radiasi panas, listrik, dan kejutan mekanik.
2. Fungsi ekskresi: untuk mengekskresi zat-zat yang tidak berguna atau sisa
metabolisme di dalam tubuh seperti NaCl, urea, dan lain-lain
3. Fungsi termoregulasi: mengatur temperatur tubuh melalui mekanisme dilatasi
dan konstruksi pembuluh kapiler dan melalui perspirasi
4. Fungsi persepsi sensori: sebagai indera terhadap rangsangan dari luar berupa
tekanan, raba, suhu dan nyeri
5. Fungsi absorpsi: melalui epidermis dan kelenjar sebasea
6. Fungsi pembetukan pigmen (melanogenesis)
7. Fungsi keratinisasi
8. Fungsi produksi vitamin D
2.1.1.1 Epidermis (Draelos, 2010; Rieger, 2000)
Universitas Indonesia

6

Epidermis merupakan bagian terluar kulit yang banyak mengandung sel
epidermal atau keratinosit. Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai
bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 mm pada telapak kaki dan telapak
tangan, sedangkan lapisan tipis berukuran 0,1 mm terdapat pada kelopak mata,
pipi, dahi dan perut. Terjadi regenerasi pada epidermis setiap 4-6 minggu.
Epidermis terdiri atas lima lapisan yaitu:
a. Stratum corneum (lapisan tanduk)
Terdiri atas beberapa lapis sel yang pipih, tidak memiliki inti, tidak
mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung
air. Lapisan ini sebagian besar terdiri atas keratin, suatu jenis protein yang tidak
larut air dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia. Hal ini berkaitan dengan
fungsi kulit untuk memproteksi tubuh dari pengaruh luar. Secara alami, sel-sel
yang sudah mati di permukaan kulit akan melepaskan diri untuk beregenerasi.
Permukaan stratum corneum dilapisi oleh suatu lapisan pelindung lembab tipis
yang bersifat asam, disebut mantel asam kulit.
b. Stratum lucidum (lapisan jernih)
Terletak tepat di bawah stratum corneum, merupakan lapisan yang tipis
berupa garis translusen, jernih, mengandung eleidin, sangat tampak jelas pada
telapak tangan dan telapak kaki.
c. Stratum granulosum (lapisan berbutir-butir)
Tersusun oleh sel-sel keratinosit yang berbentuk poligonal, berbutir kasar,
berinti mengkerut. Di dalam butir keratohyalin terdapat bahan logam, khususnya
tembaga yang menjadi katalisator proses pertandukan kulit.
d. Stratum spinosum (lapisan malphigi)
Memiliki sel yang berbentuk kubus dan seperti berduri. Setiap sel berisi
filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut protein.
e. Stratum germinativum (lapisan basal)
Merupakan sel-sel induk yang berbentuk silindris (tabung) dengan inti
lonjong. Pada lapisan terbawah epidermis ini terdapat sel-sel melanosit, yaitu selsel yang tidak mengalami keratinisasi dan fungsinya hanya membentuk pigmen
Universitas Indonesia

7

melanin dan memberikannya kepada sel-sel keratinosit melalui dendritdendritnya. Satu sel melanosit hanya melayani sekitar 36 sel keratinosit. Kesatuan
ini diberi nama unit melanin epidermal. Terdapat dua jenis melanin berdasarkan
komposisi dan warnanya. Eumelanin yang lebih gelap adalah melanin yang paling
bersifat protektif terhadap sinar UV dibandingkan feomelanin yang lebih terang
dan mengandung sulfur dalam konsentrasi tinggi.
2.1.1.2 Dermis (Draelos, 2010; Mitsui 1993)
Lapisan dermis terdiri dari bahan dasar serabut kolagen dan elastin, yang
berada di dalam substansi dasar yang bersifat koloid dan terbuat dari gelatin
mukopeptida. Serabut-serabut kolagen dan elastin semakin menebal, namun
sintesisnya berkurang seiring bertambahnya usia. Selain berfungsi dalam
mempertahankan elatisitas kulit, serabut elastin juga berperan dalam melindungi
organ internal tubuh dari goncangan mekanik.
Di dalam dermis terdapat adneksa-adneksa kulit seperti folikel rambut,
papila rambut, kelenjar keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak
rambut, ujung pembuluh darah dan ujung saraf, juga sebagian serabut lemak yang
terdapat pada lapisan lemak bawah kulit. Lapisan dermis berperan penting dalam
fungsi termoregulasi atau pengaturan suhu tubuh.
2.1.1.3 Subkutan (Draelos, 2010)
Lapisan subkutan merupakan kelanjutan dermis, terdiri jaringan ikat
longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel lemak merupakan sel bulat, besar,
dengan inti terdesak ke pinggir karena sitoplasma lemak yang bertambah besar.
Lapisan sel lemak disebut panikulus adiposus, berfungsi sebagai cadangan
makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan
saluran getah bening. Lapisan lemak ini juga berfungsi sebagai bantalan untuk
melindungi organ dalam tubuh.
2.2

Kosmetika Pelembab

Universitas Indonesia

yaitu dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang diperoleh dari kelenjar lemak dan sedikit kelenjar Universitas Indonesia . Kosmetik pelembab (moisturizers) termasuk kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering. 1997). Preparat ini membuat kulit nampak lebih halus dan mencegah dehidrasi lapisan stratum corneum kulit. membentuk lapisan yang bersifat higroskopis. Kulit merupakan organ pertama yang terkena pengaruh tidak menguntungkan dari lingkungan. umur lanjut. Karena faktor-faktor tersebut dapat terjadi penguapan yang berlebihan pada epidermis kulit sehingga kadar air dalam stratum korneum < 10% dan menyebabkan kulit kering. sinar matahari. yang menyerap uap air dari udara dan mempertahankannya di permukaan kulit. lebih mampu menembus sel-sel stratum corneum. Secara alamiah kulit berusaha untuk melindungi diri dari kemungkinan tersebut. 2007). Bahkan sekarang teknologi kosmetik begitu maju dan merupakan paduan antara kosmetik dan obat (pharmaceutical) atau yang disebut kosmetik medik (cosmeceuticals) (Tranggono dan Latifah.8 Kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Tetapi konsentrasi gliserol yang tinggi sedikit banyak dapat mengiritasi kulit. usia. sinar matahari terik. yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Sedangkan kosmetik yang ditambahkan campuran minyak seperti minyak tumbuhan lebih mudah bercampur dengan lemak kulit. Kosmetik menjadi salah satu bagian dunia usaha. dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat (Tranggono dan Latifah. misalnya udara kering. Pada abad ke-19. 2007). berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering (Wasitaatmadja. kelembaban udara yang rendah. berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh. pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian. Kosmetik pelembab yang mengandung gliserol akan mengering di permukaan kulit. Sekarang konsentrasi gliserol yang lazim digunakan adalah 1020 %. Berbagai faktor baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh dapat mempengaruhi struktur dan fungsi kulit. Perkembangan ilmu kosmetik serta indrustrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20.

Bahan pelembab yang biasa digunakan adalah gliserin. Untuk melindungi kulit dari hal tersebut di atas maka dibuatlah gel pelembab. tidak kering. Ansel Universitas Indonesia . Menurut Farmakope Indonesia edisi IV. Swarbick dan Cammarata. dalam kondisi tertentu faktor perlindungan kulit alamiah (natural moisturizing factor) tidak mencukupi sehingga diperlukan perlindungan tambahan non alamiah yaitu dengan pemberian kosmetika pelembab (Wasitaatmadja. 1983). Humektan atau pelembab adalah bahan-bahan yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi kekeringan kulit disamping bersifat protektif terhadap kulit. Ansel mendefinisikan gel sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan. 1997). pasta. menjaga kulit tetap halus dan lembut dan akan memperlambat proses penguapan air dari kulit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985). 2. zat humektan (pelembab). Bahan yang biasa digunakan mencakup zat emolien. bersisik. dan mudah pecah. Sedangkan Howard C. dan zat warna (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. propilenglikol atau polietilenglikol (PEG). Bahan-bahan ini termasuk dalam golongan pelembab yang bersifat larut dalam air. gel atau jelli merupakan sistem semi padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar terpenetrasi oleh suatu cairan.3 Gel Gel adalah sistem padat atau setengah padat dari paling sedikit dua konstituen yang terdiri dari massa yang rapat dan diselusupi oleh cairan (Martin. Namun. Gel pelembab adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut.9 keringat serta adanya lapisan kulit luar yang berfungsi sebagai sawar kulit. gelling agent. Sedangkan Howard C. sorbitol. Gel merupakan salah satu sediaan semi solid selain salep. Kekeringan kulit ditinjau dari sudut biokimia tidak lain merupakan kandungan air dalam kulit dan efek melembabkan merupakan fenomena yang berhubungan dengan konsentrasi air tersebut. parfum. zat pengawet. dan krim yang sering digunakan dengan tujuan pemakaian obat topikal. 1985).

tidak mengiritasi. Gel dibuat dengan bantuan agen pembentuk gel yaitu polimer alam atau sintetik yang membentuk suatu matriks tiga dimensi dalam cairan. peningkat penetrasi (etanol. Polimer pembentuk gel yang umum digunakan termasuk polimer alam seperti gum tragakan. Sejumlah gelling agent yang secara komersial digunakan pada sediaan gel topikal di antaranya adalah karbomer sintetik. bahan semi sintetik seperti metil selulosa. hidroksi etil selulosa. memungkinkan permeasi obat. DMSO. selulosa semi sintetik. Perkembangan terbaru produk gel topikal yang mengandung obat. agar. serta bahanbahan lainnya. 1988). biokompatibel dengan komposisi lain. Polimer pembentuk gel yang umum digunakan termasuk polimer alam seperti gum tragakan. benzil alkohol. Karakter polimer yang ideal yaitu bersifat inert. hidroksi etil selulosa. pengawet (metilparaben. dan asam alginat. isopropil miristat. agar. sifat sineresis dan rheologi yang sesuai untuk pemadatan dan pengerasan sistem. dan karboksi metil selulosa. 2. Selain itu. dan derivat selulosa. hidroksi propil metil selulosa. diantaranya humektan (propilen glikol. propilen glikol. menthol. pektin. Dalam formulasi. dan karboksi metil selulosa. dan bahan sintetik yaitu karbopol (Aulton. karagenan.1 Kandungan Gel Formulasi gel membutuhkan pemilihan gelling agent yang sesuai. bahan semisintetik seperti metil selulosa. sorbitol. gliserin. pektin. dan biodegradabel. umumnya berupa polimer. dan sebagainya). dan bahan sintetik yaitu karbopol (Aulton. 1988).10 mendefinisikan gel sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan. karagenan. memiliki pelekatan yang baik terhadap membran. dan sebagainya). propilparaben. butilparaben. Gel dapat dibuat dari polimer alam atau sintetik yang membentuk suatu matriks tiga dimensi dalam cairan. dalam formulasi gel terkandung bahan-bahan lain. aman. polimer pembentuk gel harus menunjukkan daya mengembang yang baik (swelling). mulai Universitas Indonesia . hidroksi propil metil selulosa.3. dan asam alginat. dan sebagainya).

3. Sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel. Pada kesetimbangan. pH. benzil alkohol. Selain itu. dan sebagainya). xanthan gum. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekanan yang elastis. dan kitosan. dan sebagainya). isopropilmiristat. peningkat penetrasi (etanol. sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Adanya perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah. sorbitol. dan bahan lain dalam formulasi. propilenglikol. gaya elastik makromolekul kembali seperti semula. Pengembangan gel akan kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang. serta bahan-bahan lainnya. pengawet (metilparaben. b. Hal ini menyebabkan penyusutan molekul Universitas Indonesia . dalam formulasi gel terkandung bahan-bahan lain. Swelling Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorpsi larutan sehingga terjadi penambahan volume. Mekanisme tejadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. di antaranya humektan (propilen glikol. Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. dan sebagainya). Sineresis Sineresis adalah suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Sifat swelling pada kebanyakan gel dipengaruhi olah suhu. sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Pada pendinginan. khelating agent (Na2EDTA. keberadaan elektrolit. propilparaben. menthol. tekanan osmotik sistem menurun dan oleh karena itu. misalnya biopolimer karragenan. sistem akan mempertahankan kestabilan fisiknya karena gaya osmotik swelling seimbang dengan gaya elastik makromolekul. 2. misalnya pada Na-alginat yang sensitif terhadap adanya logam bobot). Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dan gelling agent.2 Sifat dan Karakteristik Gel a. DMSO.11 memperhatikan pengembangan gelling agent baru yang berasal dari bahan alam. gliserin. butilparaben.

2. Bentuk struktur gel resisten terhadap deformasi dan mempunyai aliran vikoelastik. struktur gel ini dapat bermacam-macam tergantung dari komponen penyusun gel. Selama transformasi dari bentuk sol menjadi bentuk gel terjadi peningkatan elastisitas dan konsentrasi pembentuk gel.12 yang telah meregang dan terjadi penekanan medium dispersi dari matriks gel. larutan tersebut membentuk gel. Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation. hal ini disebabkan karena terjadi pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut. Hidrogel disiapkan dengan bahan larut air atau Universitas Indonesia . Elastisitas dan rigiditas Elastisitas dan rigiditas merupakan karakteristik dari gel gelatin dan nitroselulosa. Adanya elektrolit Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik. f. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur maupun pada kenaikan temperatur hingga suhu tertentu. Rheologi Larutan pembentuk gel dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis. e.3 Klasifikasi Gel Gel diklasifikasikan sebagai hidrogel dan organogel pada keadaan fisik gelling agent dalam dispersi. dimana ion akan berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada sehingga koloid akan melarut. c. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion kalsium.3. Perubahan suhu Perubahan suhu dapat mempengaruhi struktur gel. Penambahan agen osmotik seperti sukrosa. glukosa. Pada peningkatan suhu. d. Polimer seperti metil selulosa dan hidroksi propil metil selulosa. dan elektrolit lain dapat membantu mempertahankan tekanan osmotik yang lebih tinggi pada suhu rendah dan menghindari sineresis gel. terlarut hanya pada air yang dingin dan membentuk larutan yang kental.

dan pektin. Sifat mengembang hidrogel ini Universitas Indonesia . dan gliserol monolinoleat. yang umum digunakan adalah ester gliserol dari asam lemak seperti gliserol monooleat. dan suhu eksternal mempengaruhi sifat fase kristalin cair. Bahan tersebut berada dalam bentuk wax pada suhu ruang dan membentuk kristal likuid kubik dalam air dan meningkatkan viskositas dispersi. Gelling agent organik umumnya merupaka derivat polimer berbobot molekul besar menghasilkan struktur gel karena daya mengembang dan pembentuk belitan rantai. Stimuli-responsive hidrogel Jaringan tiga dimensi polimer hidrofilik menyerap sejumlah besar air dan membentuk struktur lunak pada jaringan biologis. dan suhu pembentukan gel. c. bahan inorganik seperti alumina. Kesetimbangan kandungan air pada organogel adalah 35%. bobot molekul gelling agent. b. Jenis wax seperti carnauba wax digunakan pada sediaan organogel untuk kosmetik. serta bahan organik seperti polimer selulosa. bentonit. Gel ini disiapkan dengan lipid tidak larut air seperti ester gliserol dari asam lemak. a. silika. gliserol monopalmitostearat. Organogel disiapkan dari bahan mengandung minyak tidak larut air.13 terdispersi dalam air membentuk koloid. jumlah air pada sistem. Pelepasan obat dapat diatur dengan mengubah komponen hidrofilik dan lipofilik. natrium alginat. yang mengembang dalam air dan membentuk lyotropic liquid crystal tipe lain. yang membantu mempertahankan struktur gel. dan veegum. Bahan-bahan tersebut akan terdispersi menjadi koloid dalam fase air atau terlarut sempurna dalam air untuk membentuk struktur gel. Gom dan gelling agent inorganik membentuk gel karena sifat alami peningkatan viskositas yang bahan tersebut miliki. Rantai molekul yang memgembang menyatu karena gaya valensi sekunder. Sifat struktur lipid. Hidrogel Gom alam dan sintetik seperti tragakan. Kekuatan fisik struktur gel didasarkan pada jumlah gelling agent. kelarutan obat yang diinkorporasikan. pH produk. Sejumlah besar air terjebak antara lipid bilayer tiga dimensi. Sifat bipolar organogel memungkinkan inkorporasi obat hidrofilik dan lipofilik. akan membentuk hidrogel dalam air. Organogel Organogel dikenal sebagai oleaginous gel.

Oleh karena hal ini. dan karbomer. pH. Polimer (gel organik) a) Gum alam (natural gums) Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air). 2. dan faktor kimia seperti struktur polimer.4 Komponen Gel a. Natrium alginat Merupakan polisakarida. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. seperti guar gum.3. thermoresponsive hydrogel. Faktor fisik seperti suhu. ionik responsive hydrogel.14 dapat diubah oleh parameter fisikokimia yang beragam. turunan selulosa. meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral. yang termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam. dan 5-10% digunakan sebagai pembawa. Oleh karena itu. selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Karena komponen yang membangun struktur kimianya. Gelling Agents Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel.5-2% digunakan sebagai lubrikan. ada klasifikasi lebih lanjut yaitu pH responsive hydrogel. maka natural gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Natrium alginat 1. Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent: 1. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air. Beberapa contoh gum alam: a. dan kekuatan ionik medium swelling. Garam kalsium dapat Universitas Indonesia . modifikasi kimia (crosslink) dapat mengubah laju swelling. sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang cukup. terdiri dari berbagai proporsi asam D-mannuronik dan asam L-guluronik yang didapatkan dari rumput laut coklat dalam bentuk garam monovalen dan divalen.

kalsium. Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan tragakan. magnesium. Gel kappa yang cenderung getas. didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus gummifer Labillardie. amonium. Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya proses sineresis. atau spesies Asia dari Astragalus. Material kompleks yang sebagian besar tersusun atas asam polisakarida yang terdiri dari kalsium. Gum ini mengembang di dalam air. iota. merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K.15 ditambahkan untuk meningkatkan viskositas dan kebanyakan formulasi mengandung gliserol sebagai pendispersi. tragakantin. dan lambda karagenan. Jenis kopolimer utama ialah kappa. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4. a. Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan. Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum. Gel iota bersifat elastis dan tetap jernih dengan keberadaan ion K. Semua karagenan adalah anionik. Sisanya adalah polisakarida netral. dan kalium. Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh panas. Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan atau volatile oil untuk mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air. Pektin Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam makanan. Karagenan Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga merah yang merupakan suatu campuran tidak tetap dari natrium. kalium. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan. b. Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang bervariasi. dan 5% sebagai pembawa.5-7. Tragakan Menurut Netherland Farmakope (NF). Universitas Indonesia . rentan terhadap degradasi oleh mikroba. dan 3. b.6-anhidrogalaktosa. dan ester-ester magnesium sulfat dari polimer galaktosa.

Untuk membentuk gel. gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa yang sesuai. gel yang jernih. pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses netralisasi atau pH yang tinggi. Na CMC. Polietilen (gelling oil) Digunakan dalam gel hidrofobik liquid. polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 80 ºC) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks. dan HPC. mudah tersebar. HPMC. Karbomer merupakan gelling agent yang kuat. Derivat selulosa yang sering digunakan adalah MC. maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil. Derivat selulosa Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat kristalinitas yang tinggi.16 c. dan NH 4OH sebaiknya ditambahkan. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering digunakan. Na CMC. viskositas stabil. d. EHEC. Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya kontak dengan sumber selulosa. Misalnya MC. dan menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering. 2. setelah udara yang terperangkap keluar semua. HEMC. KOH. Misalnya MC. Polimer sintetis (Karbomer = karbopol) Sebagai pengental sediaan dan produk kosmetik. HEC. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. membentuk gel pada konsentrasi sekitar 0. Karbomer merupakan gelling agent yang kuat. Dalam sistem cair. dan membentuk lapisan / film yang tahan air pada permukaan kulit.5%. pertama-tama dibersihkan dulu. Dalam media air. akan dihasilkan gel yang lembut. Substitusi dengan gugus hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar rantai. HEC. resisten terhadap pertumbuhan mikroba. yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya. 3. Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. Koloid padat terdispersi Universitas Indonesia . Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion. basa anorganik seperti NaOH. HPMC. HPC Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral.

tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai Universitas Indonesia . Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. 5. 6. carnauba wax. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut. Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. Contohnya: Bentonit. Bahan tambahan Pengawet Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba. air. Polivinil alkohol Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Clays (gel anorganik) Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. laponite b.17 Mikro kristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit. Bentonit harus disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. 1. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan. dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Untuk cairan polar diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel. Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax. setil ester wax. 7. Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral. Magnesium oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. karena adanya kompetisi dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. veegum. 4.

Dalam pemilihan zat pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.1-0. MC: fenil merkuri nitrat 0. Beberapa faktor berikut penting untuk mendapatkan sediaan gel yang seragam. atau klorokresol 0. Na alginat: metil hidroksi benzoat 0. maka bahan akan dicampur setelah gel terbentuk. Contohnya EDTA.1-0. Biasanya digunkan pelarut air yang mengandung metilparaben 0.02 % w/v.001 % w/v atau benzalkonium klorida 0.1 % w/v atau asam benzoat 0. Sebagai tambahan pada gelling agent.2 % w/v. b. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent: a. Pektin: asam benzoat 0. 2. 2. stabilizer. dan peningkat penetrasi.2 % w/v. agen pendispersi.02 % w/v. g.12 % w/v atau klorokresol 0.5 Preparasi dan Pengemasan Gel Gel relatif lebih mudah disiapkan dibandingkan salep dan krim.2 % w/v atau asam benzoat 0. Penambahan Bahan higroskopis Penambahan Bahan higroskopis bertujuan untuk mencegah kehilangan air. Jika bahan berpengaruh pada laju dan daya pengembangan gelling agent.05 % w/v.025% sebagai pengawet. Starch glyserin: metil hidroksi benzoat 0. Tragakan: metil hidroksi benzoat 0. Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Pencampuran Pencampuran bahan-bahan dengan gelling agent didasarkan pada pengaruh bahan pada proses pembentukan gel. medicated gel mengandung obat. Contohnya gliserol. d.0. pengawet / antimikroba. 3. Na CMC: metil hidroksi benzoat 0. Chelating agent Chelating agent bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam bobot. Universitas Indonesia .2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0.18 antimikroba.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0.2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0. f.075% dan propilparaben 0. a. Polivinil alkohol: klorheksidin asetat 0.02% w/v.2 % w/v.1. propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 %. e. c.3.2 % w/v.

Campuran etanol dan toluen memperbaiki dispersi etilselulosa. HPMC. Pada kasus ini. Gelling agent seperti CMC Na. dan tragakan membentuk gel pada pH asam lemah atau mendekati netral (pH 5-8). alkohol memperbaiki stabilitas rheologisgel polietilen oksida. Perhatian khusus diperlukan untuk menghindari evaporasi atau degradasi kosolven ini dan agen dispersi selama preparasi gel. gel juga mungkin mengandung kosolven atau agen pendispersi. dan gelling agent ditambahkan ke larutan ini dan dibiarkan mengembang. air dingin dipilih untuk dispersi metilselulosa. Penghilangan gelembung udara lebih lanjut dapat dicapai dengan pendiaman gel Universitas Indonesia . HEC membentuk gel pada pH basa. Tempatkan propeller pada dasar wadah pencampuran akan mengurangi penjebakkan udara. Penghilangan udara yang terjebak Penghilangan udara pada matriks gel merupakan isu penting. poloxamer. durasi pengembangan. Durasi pengembangan sekitar 24 – 48 jam umumnya menghasilkan gel yang homogen. perlu dipertimbangkan efek suhu pencampuran. obat dan bahan tambahan dilarutkan dalam pelarut untuk swelling. Gelling medium Purified water merupakan medium dispersi paling umum pada preparasi gel. dan gliserol. air panas dipilih untuk gelatin dan PVA. propilenglikol. pH pendispersian. Kondisi ini bervariasi untuk setiap gelling agent.19 Pada kondisi tidak adanya interferensi. d. Di bawah kondisi tertentu. Gom alam membutuhkan waktu sekitar 24 jam dan polimer selulosa membutuhkan waktu 48 jam untuk hidrasi yang sempurna. Karbomer. Sebagai contoh. guar gum. dan alkohol memperbaiki dispersi natrium alginat. b. durasi pengembangan merupakan paramter kritis pada preparasi gel. Idealnya. sukrosa. diklorometan dan metanol memperbaiki viskositas dispersi HPC. HPC. Kondisi proses dan durasi pengembangan Suhu proses. obat dan zat tambahan lain dicampurkan pada proses pengembangan. c. dan natrium alginat membentuk gel pada kisaran pH yang luas (4-10). dan kondisi proses lainnya pada stabilitas fisikokimia obat dan bahan tambahan. khususnya pada proses pengembangan yang melibatkan prosedur pencampuran atau penambahan obat dan eksipien setelah proses pengembangan.

Karena kebanyakan gel mengandung fase air. viskositas. dan pengemas yang berbeda. dan bioekuivalensi sama dengan pengujian pada salep dan krim. Pengemasan Gel viskos dan merupakan sistem non-Newtonian. deaerator. mixer. microbial screening and assay. stabilitas. memerlukan perhatian khusus selama pengemasan ke dalam wadah. dan karakteristik in vivo gel. pengawetan dalam wadah yang kedap udara membantu melindungi dari serangan mikroba. vacuum vessel deaerator digunakan untuk menghilangkan gelembung udara. Umumnya. sonikasi. gel dikemas ke dalam squeeze tube atau jar dari bahan plastik.4 Gel Pelembab Gel pelembab merupakan jenis salah satu jenis sediaan semisolid yang digunakan untuk mencegah terjadinya penguapan air yang berlebihan dari kulit. mikrobial. digunakan mesin mill. Pada produksi skala besar. separator. 2. Sejumlah uji yang direkomendasikan USP untuk sediaan gel adalah minimum fill. pelepasan in vitro. tetapi pada beberapa orang lainnya jarang mengalami gejala yang sama Universitas Indonesia . e.3. penyimpanan suhu rendah. uji sterilitas. in vitro. Beberapa orang dapat mengalami kulit kering pada waktu dan berbagai kondisi lingkungan tertentu. Mekanisme dimana kulit mengalami kekeringan belum jelas dipahami.20 dalam waktu lama. microbial screening. Pada produksi skala besar. sifat rheologi. Uji ini dimaksudkan untuk menjamin kualitas formulasi gel dan meminimalkan variasi antar batch. bioadhesi. sterilitas dan kandungan alkohol juga perlu dispesifikasikan.6 Evaluasi Gel Uji-uji pada Farmakope dan sumber non Farmakope dilakukan untuk mengevaluasi sifat fisikokimia. atau penambahan agen antibusa silikon. 2. Terdapat pula uji tambahan seperti uji homogenitas. pH. Wadah aluminium juga digunakan bila pH produk agak asam. Prosedur uji minimum fill. Pump dispenser dan prefilled syringe juga kadang digunakan untuk pengemasan gel. Umumnya disimpan pada suhu ruang dan dilindungi dari cahaya matahari langsung dan kelembaban. kandungan alkohol. Pada beberapa kasus. morfologi permukaan. shifter. dan penetrasi ex vivo.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah penguapan air dari sel kulit. steril stearat. seperti minyak hidrokarbon. Pembentukan lapisan lemak tersebut terutama untuk melindungi kulit dari kelebihan penguapan air yang akan menyebabkan dehidrasi kulit. 2000) a. lanolin. minyak tumbuhan dan hewan. lauril alcohol. Memberikan tabir surya agar terhindar dari pengaruh buruk sinar matahari 4 yang mengeringkan kulit. yang antara lain terdiri atas produksi kelenjar minyak kulit. Substansi ini berperan penting dalam Universitas Indonesia . dan turunan asam fosfat yang jumlah totalnya 20% dari bobot lapisan stratum korneum (Tranggono & Latifah. Humektan menarik air ke dalam kulit tepatnya pada stratum korneum yang memberikan kesan kulit lebih halus. merupakan substansi larut dalam air. Natural moisturizing factor. Selain itu. dan beberapa vitamin. propilenglikol. mencegah penguapan dan juga pengentalan produk.21 pada berbagai kondisi lingkungan. kulit juga dilindungi oleh bahan-bahan yang bisa menyerap air seperti asam amino. Misalnya: asam hialuronat. bila terjadi penguapan air berlebihan maka nilai kandungan air tersebut berkurang. Humektan merupakan bahan yang larut dalam air dengan kemampuan mengikat air yang tinggi. asam lemak. Kekeringan pada umumnya terlihat pada keadaan udara dingin dan ketika kelembaban relatif rendah. purin. bersifat higroskopis pada stratum korneum. setil alcohol. lesitin. antara lain: 1 Oklusif yaitu menutup permukaan kulit dengan minyak. 2007). Bahan ini mampu menarik air dari atmosfer (jika kelembaban atmosfer > 80%) dan epidermis. carnauba. Secara alamiah kulit memiliki lapisan lemak tipis di permukaannya. sorbitol.. wax esters lanolin. choline. Memberikan humektan yaitu zat yang mengikat air dari udara dan dalam kulit. fatty alcohols. Membentuk sawar terhadap kehilangan air dengan memberikan zat 3 hidrofilik yang menyerap air. pentosa. asam hialuronat. 2 kolesterol. gelatin. waxes. asam stearat. Kandungan air dalam sel-sel kulit normal adalah 10 – 20 %. (Draelos. candelilla. Misalnya: gliserin. propilen glikol. Humektan terdiri atas. beeswax.

butilen glikol. heksilen glikol. AHA pada konsenrasi tinggi memungkinkn menyebabkan iritasi. b. zink oksida. d. Universitas Indonesia .1 Senyawa Pelembab dan Mekanisme Kerjanya Kelas Mekanisme kerja Senyawa Keterangan Osklusif Secara fisik menghambat kehilangan air tansdermal. silikon. bahannya antara lain gliserol. polyisobutene. - Humektan Emollien Kulit halus dengan mengisi ruang Kontak dermatitis (lanolin). terdiri dari sejumlah molekul hidroksil yang bersifat higroskopis. contohnya asam karboksilik pirolidon. Glikol juga meningkatkan efek dari pengawet. urea. Liposom seperti niosom Secara ilmiah. propilen glikol. sorbitol dan propilen glikol. Polyol. Molekul makro seperti asam hialuronat. mineral oil. pengobatan sebagai pelembab meliputi 4 tahap: 1 2 3 4 Memperbaiki penghalang kulit Meningkatkan kadar air Mengurangi kehilangan air secara transepidermal Memperbaiki fungsi air penghalang lipid. urea dan asam laktat. Petrolatum. Tabel 2. Memungkinkan terjadinya comedogenic. Menarik air ke stratum korneum.22 menahan air pada stratum korneum. lanolin. c. sorbitol. Plant oils. alphahydroxy acids (AHA’s). Gliserin. kondroitin sulfat dan elastin.

mitosis. Pada manusia dengan bobot ratarata 70 kg mempunyai kurang lebih 15 g hyaluronan. keratin. elastin. Fungsi utama asam hialuronat dalam tubuh adalah untuk mengikat air dan untuk melumasi bagian tubuh yang bergerak seperti sendi Universitas Indonesia .. asam hialuronat akan berikatan dengan air membentuk cairan yang kental mirip dengan “jelly”. 2009). 2009). bentuk garam ini adalah bentuk paling umum yang tersedia secara komersial (Kablik dkk. Asam hialuronat adalah glikosaminoglikan disakarida yang terdiri dari ribuan unit D-glucoronic acid dan N-acetyl-D-glucosamine yang berikatan secara berulang. asam lemak. 2002.2002. 1986. minyak.5 Mengisi kembali protein dalam stratum korneum. - Zat Aktif a. dan dalam jaringan pendukung tulang rawan. Toole dkk. campuran protein. Asam hialuronat ditemukan pada tahun 1934 oleh Karl Meyer dan asistennya John Palmer dalam vitreous mata sapi. pembentukan supramolekul proteoglikan dalam matriks ekstraseluler. perkembangan tumor dan metastasis dan inflamasi (Balazs dkk. Asam hialuronat secara alami terdapat dalam matriks ekstraseluler yang ditemukan dalam berbagai macam jaringan pada manusia termasuk kulit. cairan vitreous mata.. Protein 2..23 antara serpihan squalene. kontrol hidrasi jaringan dan transportasi air. berbagai peran reseptor. kulit dengan tetesan ceramide. Kolagen. Turley dkk. Fungsi biologis asam hialuronat meliputi pemeliharaan elastoviscosity jaringan ikat seperti cairan sinovial sendi dan cairan vitreous mata. Bila asam hialuronat tidak terikat dengan molekul lain.. sekitar 50% dari total asam hialuronat dalam tubuh ditemukan di kulit (Kablik dkk. cairan synovial sendi. 2004). Asam Hialuronat Asam hialuronat adalah karbohidrat atau yang lebih spesifik merupakan mukopolisakarida yang secara alami terdapat dalam semua organisme hidup. Jumlah terbesar asam terdapat dalam jaringan kulit yaitu 7-8 g pada manusia dewasa. Pada pH fisiologis asam hialuronat sebagian besar terdapat dalam bentuk garam natrium. migrasi. Hascall dkk..

24 dan otot. konsentrasi atau shear rate.. 2004) Natrium hialuronat menurut European pharmacopoeia bersifat sedikit larut hingga larut dalam air.9 dan karena itu perubahan pH akan mempengaruhi tingkat ionisasi ranta asam hialuronat. Tabel 2. Pergeseran ionisasi mengubah interaksi antarmolekul asam hialuronat yang mengubah sifat reologi dari komponen (Brown dan Jones. Sifat hidrofobik asam hialuronat diperoleh dari atom axial hydrogen sekitar delapan kelompok -CH pada sisi molekul. Asam hialuronat memiliki pKa 2. kemudian terjadi cross-link antara molekul asam Universitas Indonesia . Asam hialuronat dalam larutan berair dilaporkan mengalami transisi dari karakteristik Newton ke non-Newton searah dengan peningkatan bobot molekul.2 Bobot Molekul Natrium Hialuronat Ketika dilarutkan dalam air natrium hialuronat menjadi asam hialuronat berbentuk larutan yang memiliki biokompatibilitas yang baik tetapi mempunyai sifat mekanik yang buruk. Asam hialuronat adalah salah satu senyawa alami yang paling hidrofilik di alam dan digambarkan sebagai pelembab alami. semakin rendah MW semakin cepat larut. Perubahan pada bobot molekul dapat terjadi karena pemanasan atau pH extrim (semakin tinggi MW semakin rendah stabilitas). Kecepatan kelarutannya bergantung pada bobot molekul (MW). Selain itu semakin tinggi bobot molekul dan konsentrasi asam hialuronat semakin tinggi pula viskositasnya. Konsistensinya dan ikatannya yang baik dengan jaringan menjadikan asam hialuronat memungkinkan untuk digunakan dalam produk perawatan kulit sebagai pelembab yang sangat baik. Viskositas asam hialuronat dalam larutan berair adalah bergantung pH dan dipengaruhi oleh kekuatan ionic lingkungannya.

nasal. Universitas Indonesia . melindungi dan menutrisi kulit. yaitu: 1. dapat dikombinasikan dengan pelindung kolagen. mendukung penyembuhan luka. Aplikasi dalam bidang farmasi. Aplikasi dalam bidang biologi selain dari yang telah disebutkan sebelumnya juga meliputi memberikan kelembutan dan elastisitas pada kulit.25 hialuronat membentuk gel akan tetapi ikatan antara molekul asam hialuronat ini tidak cukup kuat dan mudah terjadi degradasi. sebagai agen penghantar obat (drug delivery agent) dengan banyak rute pemberian termasuk ophthalmic. krim dan lotions pelembab. asam hialuronat telah digunakan dalam perangkat medis oftalmik untuk operasi katarak mata. Gambar 2. 3. produk perawatan kulit sebagai pelembab. pulmonary. Aplikasi dalam kosmetik antara lain sebagai gel pelembab. vitamin. parenteral. injeksi untuk arthritis. lotions after sun. pengobatan untuk kulit sensitif dan kering. penggunaan topikal pada kulit untuk mendukung penyembuhan dan regenerasi luka pasca operasi. Cross-linking asam hialuronat. obat tetes mata. anti keriput atau anti-aging. 2.2. mendorong pertumbuhan sel kulit baru. memiliki efek anti keriput yang sangat baik. Aplikasi asam hialuronat. argireline dan Lacto-Ceramide. dan topikal.

Semakin bertambahnya usia kemampuan • memproduksi asam hialuronat semakin menurun. Moisturizing Asam hialuronat dapat mengikat air lebih banyak daripada molekul lain yang ada dalam tubuh dan dibutuhkan secara alami untuk menjaga hidrasi collagen. Menjaga (mengisi) celah intercellular untuk membentuk struktur jaringan kulit • (efek anti keriput). Efek farmakologi asam hialuronat A. sebagai matriks yang dibutuhkan untuk mendukung regenerasi kulit. Gambar 2. Kulit membutuhkan kadar air tertentu untuk menjaga kelembutan dan elastisitasnya.4. Efek moisturizing asam hialuronat diperoleh dari water holding capacity Universitas Indonesia .3. yaitu: Asam hialuronat secara kontinyu melembabkan kulit dengan berikatan dengan air > 1000 kali dari BM-nya. • Asam hialuronat pada kulit. Asam hialuronat bersifat sangat higroskopis dengan atom axial hidrogen yang mendukung sifat higroskopis asam hialuronat. Kulit kering dan kulit yang dikuatkan dengan asam hialuronat. memperpanjang efek moisturizing. HA mengikat air dalam • sel mempertahankan kandungan air pada lapisan epidermis kulit. Ketika diaplikasikan pada kulit akan membentuk film pada permukaan kulit • yang dapat menahan air.26 Gambar 2. Asam hialuronat pada kulit.

27 (kemampuan mengikat air).5. Hal ini mengindikasikan bahwa asam hialuronat memiliki kemampuan retensi air yang kuat. Water Holding Capacity Kemampuan mengikat air asam hialuronat sangat tinggi dibandingkan dengan misturizer lain seperti pada bagan berikut: Gambar 2. dan tampak lebih muda. 1. water retension (kemampuan retensi air). Grafik retensi lembab dari pelembab. Water uptake (higroscopic property) Universitas Indonesia . Water retension Bagan di bawah mengilustrasikan laju evaporasi lembab dari asam hialuronat paling kecil di antara moisturizer lainnya. Asam hialuronat mengikat air dalam sel dan mambantu membentuk struktur kulit pada lapisan epidermis kulit sehingga kulit menjadi lebih halus. Tabel 2. 2.3 Evaporasi Kelembaban dari Larutan Pelembab 3. elastis. dan water uptake (higroskopisitas).

asam ini mudah diserap oleh kulit. Gambar 2. D . Panthenol menginduksi sintesis prekursor asam lemak dan sphingolipids. Universitas Indonesia . b. Panthenol dapat menstimulasi epitalisasi dengan mempercepat regenerasi kulit. berpenetrasi hingga ke dalam lapisan bawah epidermis. yang dibutuhkan dalam pembentukan lipid bilayer dari stratum korneum dan merupakan anti inflamasi.28 Pada kelembaban rendah (33%) asam hialuronat memiliki kemampuan mengabsorbsi lembab yang paling tinggi. Asam pantotenat bekerja sebagai humektan dengan menarik air ke dalam sel (water binding) sehingga dapat mempertahankan kelembaban di dalam jaringan kulit.6. Grafik higroskopisitas pelembab pada kelembaban relative 33 % dan 75%. CoA digunakan dalam oksidasi asam lemak dan banyak reaksi biokimia lain dalam sel. sedangkan pada kelembaban tinggi (75%) menunjukkan kemampuan mengabsorbsi lembab yang paling rendah.Panthenol Asam pantothenat adalah komponen mayor dalam Co enzyme A. Jika terjadi defisiensi asetil CoA dalam tubuh maka oksidasi asam lemak akan melambat dan menyebabkan kulit menjadi berminyak dan mudah tumbuh jerawat. ketika panthenol diaplikasikan secara topikal akan di absorbsi oleh kulit dan dikonversi menjadi asam pantotenat (vit B5).

1.6. nilai yield value 500-700 dyne/cm2 dan dapat memberikan bentuk gel yang baik. Sediaan gel yang memberikan sensasi dingin. 4. 3. Sediaan gel dengan kemasan yang tertutup baik dan terlindung dari cahaya. 5. Universitas Indonesia . Sediaan gel yang berfungsi untuk melembabkan kulit (untuk pelembab sehari-hari). berbau khas.5-6. dan tidak cepat tengik. Sediaan gel dengan penampilan fisik berwarna jernih. kemasan sekunder kertas karton dan brosur dalam kemasan sekunder yang berisi informasi terkait sediaan dan cara penggunaannya. 2.5 dan pH stabilitas sodium hyaluronate yaitu pH 5. Sediaan gel yang dapat memberikan rasa sejuk dan nyaman di kulit.6. 7.6. 9. 2. Sediaan gel memiliki pH yang termasuk dalam rentang pH balance kulit yaitu 4.2. Struktur Coenzyme-A. 8. Sediaan gel dengan konsistensi tinggi. transparan. Pengemasan gel terdiri dari kemasan primer berupa pot dari bahan acrylic.29 Gambar 2. Spesifikasi Sediaan 1.5% larutan dalam air. dan tidak sineresis.7. Sediaan gel yang tidak rusak pada saat penyimpanan (stabil secara fisik) selama penyimpanan dua tahun. Spesifikasi Kemasan 1. Spesifikasi Sediaan dan Kemasan 2. mudah merata.5 pada 0. 2. 6. Sediaan gel dengan viskositas tinggi (40000-65000 cps) dengan mempunyai sifat aliran pseudoplastis tiksotropik.0-8.

dimana larutan 0. Bellomo. 2011).6 x 106 Da) (Kamonwan Bongkotphet) dan jenis yang digunakan dalam kosmetika di pasaran yaitu natrium hialuronat dengan bobot molekul yang kecil karena mempengaruhi kemampuannya meretensi air. 4. Masalah Terkait Zat aktif dan Sediaan 1. Larutan 2% natrium hialuronat akan mengikat sisa 98% air dengan sangat kuat dan membentuk gel (Loden. berikatan dengan permukaan sel reseptor dan molekul matriks lainnya (Tammi. Prehm. Gel dikemas dengan bobot bersih 50 g. 1991.0 %.7. 2. Natrium hialuronat merupakan serbuk yang berwarna putih / hampir putih dan sangat higroskopis (Krause. harga natrium hialuronat relatif mahal ($ 400-600 per kilogram). Solusi: konsentrasi penggunaan natrium hialuronat dalam sediaan yang digunakan kecil yaitu 0. 2009). 2008). Permasalahan dan Solusi Pembuatan Sediaan 2. Brauner. viskoelastisitas natrium Universitas Indonesia . dan ketika tidak mengikat molekul lain natrium hialuronat mengikat air dan membentuk karakter viskositas yang kaku seperti gel (Necas.5% dalam air memiliki pH 5-8. & Colby. Bartosikova. Solusi: pada pembuatan gel ditambahkan gellating agent yaitu karbomer 940. 2001) dan sediaan yang akan dibuat adalah hidrogel. Natrium hialuronat larut atau larut sebagian dalam air. 5. & Tammi. memfilter makromolekul.5 (Sweetman. konsentrasi penggunaan yang digunakan untuk high moisture cosmetic yaitu 0. Dermaxime. Natrium hialuronat dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan bobot molekul dan Da nya yaitu bobot molekul besar (6 x 106 Da) dan bobot molekul kecil (0. 2. Asam hialuronat secara komersial yang berada di pasaran tersedia dalam bentuk garam natriumnya. Maibach.1. Solusi: zat aktif yang digunakan yaitu bentuk garamnya (natrium hialuronat). 3. Pengemasan gel dibuat dengan cetakan huruf dan gambar yang berkualitas baik serta mudah untuk dibaca.7. Solusi: natrium hialuronat yang digunakan yang bobot molekulnya kecil.1.1%.5-3. 3. 2001.1. 1983).30 2. Saamanen. & Kolar.

Natrium hialuronat bersifat higroskopis dan cenderung tidak stabil bentuk gelnya sebagai agen pelembab. 11. Solusi: ditambahkan humektan yaitu propilen glikol. Sediaan gel mengandung banyak air sehingga mudah ditumbuhi mikroba. 9. Solusi: kemasan primer sediaan berupa pot dari bahan acrylic dan dilengkapi label. 6. kemasan sekunder dari karton yang didesain menarik dan jelas serta diberikan brosur. Solusi: ditambahkan zat pengawet fenoksietanol dan propil paraben (efeknya sinerges untuk spektrum luas). perubahan pH mempengaruhi banyaknya ionisasi pada rantai natrium hialuronat. Solusi: pH dibuat pH stabil = pH kulit (4.5). 8. Solusi: ditambahkan zat antioksidan yaitu propil galat. Masalah Terkait Kemasan Bentuk pengemasan sediaan gel untuk penggunaan pada kulit secara topikal agar mempermudah dalam pemakaian dan meningkatkan daya tarik dan beli konsumen. Solusi: Fragrance larut air (green tea floral water).31 hialuronat dalam larutan dipengaruhi oleh pH dan kekuatan ion lingkungannya.2. 2. Natrium hialuronat dan D-panthenol 75 W mudah teroksidasi. Sediaan gel agar memberikan kenyamanan dan daya tarik pemakaian. Dalam media air karbomer 940 akan bersifat asam sehingga dalam proses pembuatannya perlu dinetralisasi dengan basa yang sesuai.7. Pemilihan agen pelembab yang larut air dan sinergis dengan natrium hialuronat. Solusi: ditambahkan zat pelembab yang kompatibel dengan natrium hialuronat yaitu D-Panthenol 75W. 10. 7. Universitas Indonesia . Solusi: ditambahkan zat penetral yaitu TEA.5-6.

75 Propilen Glikol 15 Metil Paraben 0. Tiap pot gel pelembab asam hialuronat mengandung: R/ R/D-panthenol 75 W 1 Natrium hialuronat 0.1.5 Propil galat 0.Sifat Fisika-kimia Zat Aktif dan Bahan Tambahan serta Alasan Pemilihan 1.1 Karbomer 940 0.32 BAB 3 PRAFORMULASI DAN FORMULASI 3.05 Green Tea Floral Water 0.1.1 Fenoksietanol 0.01 Aquadest ad 50 gram 3.05 Na2EDTA 0.1.2. Bahan Natrium hialuronat (Asam hialuronat) Universitas Indonesia .5 Trietanolamin 0.1. Praformulasi 3.

sangat higroskopis. e. : 2. : (C14H20NNaO11)r b. d. Kegunaan h. : Sedikit larut hingga larut dalam air. Garam sodium dari asam hialuronat adalah glycosaminoglycan terdiri dari unit D-glucoronic acid dan N-acetyl-D-glucosamine. Nama kimia :(R)-2. i. Stabilitas : 1% larutan stabil pd pH 3. dan tidak berbau. sangat sensitif terhadap radikal bebas. : agen pelembab kulit (zat aktif).0-8. Pemerian : Serbuk. c. D-Panthenol 1.0 dl/g. d. pKa f.3 : C9H19NO4. praktis tidak Kelarutan larut dalam aseton dan etanol.33 Gambar 3. a. cairan kental higroskopis.5 pada 0.1. Struktur kimia sodium hyaluronate.9 : 27.4dihydroxy-N-(3- hydroxypropyl)-3. Universitas Indonesia . Pemerian : Tidak berwarna atau sedikit kekuningan. praktis tidak berbau. 2. Rumus kimia : 205. absorbansi pada 600 nm tidak lebih dari 0.3-dimethylbutyramide.068 g asam pantothenat. a. Viskositas intrinsik g. jernih.5% larutan dalam air. putih atau hampir putih.01.000 g D-panthenol ~ 1. sedikit pahit. Tampilan dari larutan : Larutan jernih.5-9. Rumus kimia c. pH : 5.0-32. stabil di bawah suhu 60 °C. Bobot molekul b.

g. Karbomer tidak Universitas Indonesia . dalam eter. setelah dinetralisasi pada etanol (95%). mudah larut dalam etanol (96%). k.5. sedikit larut f. Rotasi optik : +29°hingga +32°. h. Karbomer 940 Gambar 3.  Isopropanol 99% = 15 g/100 g  Propylenglycol = 35 g/ 100 g pH : pH 5% larutan tidak lebih besar dari 10. Bobot molekul : 104. Kelarutan : Mengembang pada air dan gliserin. Dosis : 0. 3.3% . Pemeriaan : Serbuk berwarna putih.34 e. j. stabil pada pH 4-6 pada pH asam atau basa dapat terjadi hidrolisis. Kegunaan : agen pelembab dan penghalus kulit (zat aktif). a. Struktur kimia karbomer 940. i.5. fluffy. c. higroskopis dengan karakteristik sedikit bau. asam.400 b.2. larut dalam gliserol. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air. Titik didih : 118°C-120°C. tidak larut dalam lemak dan minyak. Polimer karbomer dengan viskositas dan rigiditas rendah memiliki bobot molekul yang tinggi.0%. Karbomer adalah polimer sintetik dari asam akrilat yang di crosslink dengan alil sukrosa atau alil eter dari pentaeritritol. Stabilitas : Relatif stabil terhadap cahaya dan udara. Polimer tersebut mengandung 52-68% asam karboksilat terhitung dari basis kering.

: gelling agent (0. h. NaCO3. Logam besi dan Universitas Indonesia . Moisture Content : 2% w/w. serta pada kehadiran elektrolit kuat. Namun. dan elektrolit dengan level tinggi. Inkompatibilitas : Berubah warna karena resorsinol dan tidak kompatibel dengan fenol. Gel akan kehilangan viskositas apabila terpapar sinar UV. polimer kationik.5-2. g. j. Kegunaan yang ter crosslink 3 secara 3 dimensional. Stabilitas : Stabil dan higroskopis. Dapat dipanaskan hingga temperatur dibawah 104 ºC selama 2 jam tanpa menpengaruhi kekentalannya. Serbuk karbomer seharusnya pertama kali didispersikan pada air sambil diaduk untuk menghindari formasi dari aglomerat yang tidak terdispersi. dan amin organik seperti trietanolamin. KOH.4 gr NaOH.5-4. dinetralisasi Senyaawa yang dengan dapat digunakan untuk menetralkan polimer karbomer adalah asam amino. NaOH. paparan dari temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan kehilangan warna dan penurunan stabilutas. Viskositas Larutan : 40. penambahan suatu kemudian basa. Kelembaban karbomer tidak menpengaruhi sifat kekentalannya. i. Viskositas akan menurun ketika pH <3 dan > 12. Viskositas : Dispersi karbomer pada air membentuk dispersi koloidal yang asam.0%).5% w/v).35 melarut tapi mengembang karena merupakan mikrogel d. 1 gram karbomer dinetralkan dengan 0.000 cps (0.0 dari 0. : 2. pH e. tapi dapat diminimalkan dengan penambahan antioksidan. f. Gel yang dinetralisasi akan lebih kental pada pH 6-11. ketika dinetralisasi akan membentuk gel yang sangat viskos. tapi kenaikan kandungan lembab membuat karbomer lebih sulit untuk didispersikan.2% dispersi cairan.000-65. asam kuat.

3. Universitas Indonesia . a. asam kuat. Pada formula ini tidak dipilih agen pembentuk gel alami seperti yang berasal dari golongan selulosa dikarenakan larutan dari golongan selulosa seperti CMC Na memiliki stabilitas dan viskositas maksimum pada pH 7-9 yang tidak sesuai dengan pH dari larutan asam hialuronat. dan paling sering digunakan dalam industri kosmetik untuk pembuatan gel. : 10.5 (larutan 0. Kelarutan : Bercampur dengan air. : Agen pembasa dan peningkat vikositas karbomer. g. Rumus molekul Bobot molekul Pemeriaan Kegunaan pH : C6H15NO3 : 149.19 : Kristal higroskopis tidak bewarna. Selain itu. 4. agen pengoksidasi dan materi pengabsorpsi (selulosa).36 transisi lainnya dapat mengkatalisis degradasi dispersi polimer. aseton. gel yang dihasilkan dari karbomer 940 menghasilkan tingkat kejernihan gel yang tinggi. Penggunaan karbomer 940 dibandingkan dengan jenis karbomer lainnya karena karbomer 940 menghasilkan nilai viskositas yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis karbomer lainnya. Alasan pemilihan bahan: Karbomer merupakan material agen pembentuk gel yang tidak toksik. Larut dalam kloroform. Struktur kimia trietanolamin. Stabilitas : Tidak kompatibel dengan logam seperti aluminium.1 N) f. c. dan metanol. b. Selain itu penggunaannya pada sediaan topikal tidak menunjukkan reaksi hipersensitivitas. etanol. d. Trietanolamin (TEA) Gambar 3. agak larut dalam benzene dan dietil eter. tidak mengiritasi. e. tembaga.

4. Penambahan TEA selain fungsinya sebagai agen pembasa. Kelarutan : 1 dalam 286 air pada suhu 25 0C. c. a. Struktur kimia propil galat. Universitas Indonesia .5 propilen glikol pada suhu 250C. dan eter pada larutan. 1 dalam 2. agen pembasa seperti NaOH juga mudah bereaksi dengan asam. ester. d. juga memiliki peranan penting untuk meningkatan viskositas dari dispersi carbomer dalam air yaitu dengan berikatan dengan gugus karboksilat pada carbomer menjadi bentuk garamnya. b.2 : Serbuk kristal putih. 5. : Antioksidan e. tidak berbau. Rumus Molekul Bobot molekul Pemeriaan Fungsi : C10H12O5 : 212.37 Alasan Pemilihan Bahan: Trietanolamin merupakan basa lemah yang baik dan sering dipakai sebagai agen pembasa dalam sediaan kosmetik. TEA dipilih dibandingkan dengan agen pembasa lainnya seperti NaOH dan KOH dikarenakan NaOH dan KOH merupakan basa kuat yang dikhawatirkan akan menaikkan pH sediaan secara drastis. Propil galat Gambar 3. 1 dalam 3 etanol 95%. Selain itu. Sehingga ukuran molekul carbomer meningkat dan viskositas sediaan ikut meningkat. salah satunya untuk moisturizing gel.

1% b/v). : Tidak stabil pada suhu tinggi. Inkompatibilitas : Logam seperti sodium. : Bercampur dengan air. methyl ethylene. Kegunaan g. h.5. bereaksi dengan agen pengoksidasi.9 (0. Pemerian : Cairan jernih. Propilenglikol merupakan bahan yang Universitas Indonesia . a. pH h. Propilen Glikol Gambar 3. f.1% dalam kosmetik : 5. dan jamur. propylenglycolum. Selain itu. Kegunaan : Humektan dan pelarut. potassium. Kelarutan dan rasa sedikit manis. Alasan Pemilihan Bahan: Propil galat merupakan antioksidan yang telah dipakai secara luas dalam sediaan kosmetik. 2- hydroxypropanol. Stabilitas : maksimum 0.09 d. Struktur kimia propilen glikol. Selain itu. positif. Sinonim : 1. g. Stabilitas : Pada suhu tinggi dan wadah terbuka akan teroksidasi. 6. dan besi membentuk kompleks bewarna.38 f. E1520. Konsentrasi : Humektan sampai dengan 15%. Pembentukkan kompleks ini dapat dihindari dengan penambahan agen pengkelat. Penggunaan antioksidan ini karena sifatnya yang larut dalam air dan tidak berbau seperti antioksidan Na-metabisulfit. : C3H8O2 : 76.2-diol. kelebihan dari propil galat adalah menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram negative. glycol. propane-1. Rumus Molekul c. i. solvent atau cosolvent : 5-80%. tidak berwarna.2-Dihydroxypropane. Bobot Molekul glycol. methyl b. tidak berbau e.

Na2EDTA Gambar 3. 2009). Sinonim b. : Inkompatibel dengan agen pengoksidasi. Alasan Pemilihan Bahan: Na2EDTA dapat menghambat terjadinya reaksi oksidasi dengan mengikat logam bobot. serbuk tidak berbau dengan sedikit rasa asam. Kelarutan f. Sn. seperti Fe. 7. Kegunaan : Dinatrium Edetat. Sebaiknya disimpan dalam wadah yang bebas dari alkali. Struktur kimia Na2EDTA. Bobot Molekul d. Ni yang mungkin berasal dari proses Universitas Indonesia .39 higroskopis. Inkompabilitas : Na2EDTA berperan sebagai basa lemah. : Agen pengkelat. basa kuat dan ion logam.6.1% b/v. Cu. a. maka simpan dalam wadah yang tertutup rapat. Rumus Molekul c. : Larut dalam air (1:11) : 0. & Quinn. Inkompatibel dengan agen pengoksidasi. i.005 – 0. : C10H14N2Na2O8 : 336. e. menggantikan karbondioksida dari karbonat dan bereaksi dengan logam membentuk hidrogen. Mn. terlindung dari cahaya dan kering. Propilen glikol digunakan untuk membantu pelarutan dari bahan pengawet pada formula yaitu metal paraben.2 Pemerian : Kristal putih. Penggunaannya tergolong aman secara topikal karena tidak toksik dan sangat kecil kemungkinan terjadi iritasi (Rowe. Co. h. Inkompabilitas Alasan Pemilihan Bahan: Propilen glikol dengan konsentasi 5 % merupakan eksipien yang dapat digunakan sebagai humektan untuk menjaga kelembaban kulit. Stabilitas : Garam edetat lebih stabil daripada asam edetat. Sheskey. i. Konsentrasi g.

9. Penggunaan : Antimikroba (pengawet) pada kosmetik dan sediaan topikal (0. kosmetik.1. Alasan Pemilihan Bahan: Aktivitas antimikroba merupakan zat pengawet atau antibakteri yang efektif pada rentang pH yang luas terhadap strain Pseudomonas aeruginosa dan pada tingkat lebih rendah terhadap Proteus vulgaris dan organisme gram-negatif lainnya. untuk mendapatkan aktivitas spektrum antimikroba yang lebih luas. Rumus Molekul b. Batas yang diijinkan : 1% (oleh BPOM).16 : Cairan kental tidak berwarna dengan bau agak enak dan rasa pedas c. Pemerian : C8H10O2 : 138. 2009). Penambahan Na 2EDTA ini berfungsi untuk mengikat logam yang kemungkinan terdapat pada sediaan sehingga tidak mengkatalis proses oksidasi terhadap produk yang dihasilkan. 8. dan etanol 95%. b. Bobot Molekul b. bercampur aseton. Na2EDTA merupakan agen pengkelat yang paling sering digunakan dalam formulasi farmasetika. a. dan juga produk makanan.5% . Sheskey. Hal ini paling sering digunakan dalam kombinasi dengan bahan pengawet lainnya.0%). a. Metil Paraben Universitas Indonesia . Fenoksietanol Gambar 3. Struktur kimia fenoksietanol. seperti sebagai paraben. Kelarutan : 1:43 dalam air. & Quinn. gliserin.40 pembuatan atau wadah kemasan (Rowe.7.

Kegunaan : Pengawet dalam formulasi farmasetika. Inkompatibel dengan bentonite. Sinonim b. : Dalam sediaan topikal 0. Kelarutan : Propilen glikol (1:5). Konsentrasi pada suhu 50 ºC). Rumus Molekul c. tragakan. Inkompabilitas : Aktivitas antimikroba golongan paraben akan menurun dengan adanya surfaktan nonionik.41 Gambar 3. Pemerian : Kristal tidak berwarna atau serbuk kristalin putih. dengan adanya prolpilen glikol akan mencegah interaksi antara metilparaben dan polisorbat 80. dan terutama dalam kosmetik. Air (1:400). g. h. dingin dan sejuk. sorbitol dan atropine. maka dapat Universitas Indonesia .8. seperti polisorbat 80 karena terjadinya miselisasi. produk makanan. minyak esensial. Tidak berasa sampai hampir berasa dan sedikit rasa terbakar. Mg trisilikat. Bobot Molekul : Methyl-4-hydroxybenzoate. 1:50 (air f. : C8H8O3 : 152. a. e. 1:30 (air pada suhu 80 ºC).15 d. natrium alginat. sementara jika pH 9 atau lebih akan cepat terhidrolisis (10% atau lebih setelah 60 tahun pada penyimpanan suhu ruang). talk. Plastik dapat mengabsorpsi metilparaben. i. Akan tetapi. Simpan pada wadah yang rapat. Bereaksi dengan gula.02-3%. Struktur kimia metil paraben. Stabilitas : Larutan metilparaben stabil dalam pH 3-6 (kurang dari 10% terdekomposisi) sampai 4 tahun pada suhu ruang.

b. & Quinn. 10. : agen pengoksidasi. Bobot Molekul : H2O : 18 c. Sheskey. 11. : larut dalam air. 2009). Alasan Pemilihan Bahan: Aquadest merupakan air murni yang diperoleh dengan penyulingan. Alasan Pemilihan Bahan: Efektifitas pengawet ini berada pada rentang pH 4-8. Caranya dengan pertukaran ion. Dapat terhidrolisis dengan adanya asam kuat atau basa lemah. 3.2. : Fragrance. Formulasi Universitas Indonesia . Caranya dengan pertukaran ion. osmotik terbalik atau cara lain yang sesuai. Kegunaan : Pelarut. Pemeriaan : Aquadest merupakan air murni yang diperoleh dengan penyulingan. air murni lebih bebas dari kotoran zat – zat padat. c.42 digunakan low-density and high-density polyethylene bottles yang tidak mengabsorpsi metilparaben. a. Dibandingkan dengan air minum biasa. Alasan Pemilihan Bahan: Untuk memberikan wangi yang segar terhadap sediaan gel yang dibuat. Dibandingkan dengan air minum biasa. Rumus Molekul b. Memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang luas dan efektif pada pH luas (Rowe. 1979). d. Aquadest a. air murni lebih bebas dari kotoran zat – zat padat (Depkes RI. Green Tea Floral Water Pemerian Kelarutan Kengunaan Inkompatibel : Cairan yang memiliki bau seperti teh hijau. d. osmotik terbalik atau cara lain yang sesuai.

Formulasi Gel Pelembab Asam Hialuronat Komponen Bahan Fungsi Konsentrasi D-panthenol 75 W Zat aktif (pelembab) 1 Natrium hialuronat Zat aktif (pelembab) 0.5 Propil gallat Antioksidan 0.5 Trietanolamin Agen pembasa 0.1 Fenoksietanol Pengawet 0.3. Perhitungan Bahan Tabel 3.1 Karbomer 940 Gelling agent 0.01 Aquadest ad Pelarut 50 gram 3.2.05 Na2EDTA Zat pengkelat 0.75 Propilen Glikol Pelarut dan humektan 15 Metil Paraben Pengawet 0.1.05 Green Tea Floral Water Fragrance 0. Perhitungan Bahan dalam Formula Konsentrasi yang Bahan Baku digunakan (%) Dalam satu kemasan (gram) Dalam satu batch (500 kemasan @ 50 gram/kemasan) (gram) Universitas Indonesia .43 Tabel 3.

homogen.5 0. Pembuatan gel yang bersih. seperti Trietanolamin (TEA).94 40.05 0.05 0.5 mL 250 mL Natrium hialuronat 0.5 g Na2EDTA 0.44 D-panthenol 75 W 1 0. kemudian menarik polimer menjadi larutan koloidal (membentuk cross-linking). Prinsip Pembuatan Gel Pembuatan gel dapat melibatkan proses fusi atau prosedur khusus lainnya tergantung pada gelling agent yang digunakan. Pada langkah Universitas Indonesia . Ketika dispersi yang terbentuk sudah homogen.5 g 0.1 0.01 0. proses pembuatan gel dimulai dengan cara menetralkan sistem tersebut dengan basa anorganik atau dengan amin.5 g 3750 g Metil Paraben 0. dan bebas gelembung udara dilakukan dengan memperhatikan karakteristik pembuatannya.1 0.5 mL 81. Polimer tersebut terlebih dahulu didispersikan dalam air.970 mL 20485 mL Green Tea Floral Water Aquadest 3.375 g 187.005 mL 2. dan membentuk struktur matriks yang diinginkan.05 g 25 g Karbomer 940 0.75 0. Pembuatan karbomer menjadi gel dilakukan dengan prosedur tertentu.5 g Propilen Glikol 15 7.025 g 12.025 g 12.25 g 125 g Trietanolamin 0. sehingga hasil dispersi tersebut bersifat asam.4.25 g 125 g Propil gallat 0.05 g 25 g Fenoksietanol 0. Basa ini akan mengionisasi gugus karboksil pada polimer.5 0.

Proses produksi baru dilakukan jika semua bahan baku (zat aktif dan zat tambahan). pemindahan bahan ke ruang pembuatan (manufacturing). proses pembuatan gel adalah sebagai berikut: 1. 3. Hal ini dilakukan untuk menarik udara yang terperangkap dari dispersi selama proses pembuatan dan mencegah terperangkapnya udara yang mungkin terjadi karena pecahnya lapisan permukaan. lalu diberi etiket dan dikemas dalam wadah yang dilengkapi brosur dan etiket.45 awal.5 Proses Produksi (Cara Pembuatan) Proses produksi meliputi penimbangan bahan. hal penting lainnya ialah saat proses kontrol berat isi pada pengemasan. Proses mixing sebaiknya dilakukan pada keadaan vakum. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing 3. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuran tersebut atau sebaliknya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan. karbomer membutuhkan high shear untuk membentuk dispersi yang homogen. pengisian ke dalam wadah dan dan pengemasan. dan peralatan produksi telah Universitas Indonesia . Selain itu. terutama untuk skala industri. di dalam medium asam. dilanjutkan dengan low-shear mixing selama proses penetralisasian. 5. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya 4. Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang dibutuhkan 2. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi gel dan diisikan ke dalam kemasan sebanyak yang dibutuhkan. bahan pengemas (pump). Minimalisasi terperangkapnya udara penting bagi estetika gel tersebut. kemasan ditutup. pencampuran bahan. Secara umum.

Purified water sebanyak 13. Zat aktif (natrium hialuronat 25 g) ditimbang dan zat tambahan (karbomer 940 125 g.5 g. Selanjutnya.46 persyaratan yang ditetapkan. Adapun cara pembuatan hyaluronic acid moisturizing gel adalah sebagai berikut: 1. Carbomer 940 sebanyak 125 g didispersikan dalam larutan di dalam VMP. Na2 EDTA 12. Pada proses mixing sediaan dan pembuatan basis gel carbomer 940 dilakukan menggunakan vacuum mixing plan untuk mencegah terjebaknya gelembung udara dalam sediaan gel yang dapat mempengaruhi volume gel saat proses pengisian ke dalam pump. propil gallat 12. 4. Seluruh alat yang digunakan pada pembuatan gel disiapkan sesuai standar CPOB lalu dibersihkan terlebih dahulu dan dipastikan bahwa peralatan telah bersih dan siap untuk digunakan. 3.5 g. Trietanolamin sebanyak 187.5 g) ditimbang serta diukur larutan d-panthenol 75 W 250 mL.5 mL dan aquadest 20. fenoksietanol 125 g.485 L ditambahkan ke dalam VMP dengan kecepatan 500 rpm selama 5 menit. dihomogenkan dengan kecepatan 2000 rpm selama 20 menit.5 g ditambahkan secara perlahan ke dalam VMP dengan kecepatan 500 rpm selama 10 menit hingga larut homogen. Fenoksietanol sebanyak 125 g dan Na2EDTA sebanyak 12. 2. Green tea floral water 2.485 L. Universitas Indonesia . trietanolamin 187. dihomogenkan menggunakan Vacuum Mixing Plant (VMP tipe VM 75N) dengan kecepatan 500 rpm selama 10 menit hingga larut homogen. propilen glikol 3750 g. semua bahan baku dibawa ke ruang pembuatan.5 g ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam VMP dengan kecepatan alat 1500 rpm selama 20 menit.5 g dilarutkan dalam propilen glikol sebanyak 2500 g. metil paraben 25 g. Metil paraben sebanyak 25 g dan propil gallat sebanyak 12.

9. 6. Natrium hialuronat sebanyak 25 g dilarutkan dalam 1250 g propilen glikol. Larutan tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam VMP. Universitas Indonesia . Vacuum Mixing Plant (VMP tipe VM 75N).3.47 Gambar 3. dihomogenkan dengan kecepatan 500 rpm selama 10 menit. Spesifikasi Macam-Macam VMP. dihomogenkan menggunakan homomixer dengan kecepatan 500 rpm selama 5 menit di dalam wadah-A kemudian ditambahkan 7 L purified water secara perlahan-lahan ke dalam wadah-A. Tabel 3. Larutan d-panthenol 75 W sebanyak 250 mL dan green tea floral water sebanyak 2. dihomogenkan menggunakan homomixer dengan kecepatan 500 rpm selama 5 menit. ditambahkan ke dalam VMP.5 mL. dihomogenkan dengan kecepatan 500 rpm selama 5 menit. 5.

1. 8. bau. cycling test. konsistensi. Pengamatan Organoleptis` Tujuan untuk mengukur daya penerimaan terhadap produk berdasarkan indera. Produk diberikan label. BAB 4 EVALUASI DAN KEMASAN 4. Dilakukan karantina untuk selanjutnya dilakukan uji PPC (uji isi minimum.1 In Process Control (IPC) 1. tekstur penampilan sediaan. stabilitas. dan homogenitas). dimasukkan ke dalam kemasan sekundernya.48 7. Campuran dipindahkan ke dalam Storage tank dan didiamkan selama 24 jam. pH. Lakukan IPC (organoleptis. Setelah dilakukan pengujian. diberikan brosur. batas mikroba. Prosedur kerja Dapat dilakukan dengan mengamati warna. Kriteria Warna : jernih. Universitas Indonesia . 10. wadah dan kemasan). viskositas. penetapan kadar. 11.1. produk ruahan dimasukkan ke dalam Gel Filling Machine untuk dilakukan pengisian pada pump 50 g ke dalam pot dan disegel. 9. Evaluasi 4. Sediaan yang telah dikemas lalu dipack dalam box untuk siap dipasarkan dan didistribusikan.

Pengukuran dilakukan pada suhu ruang. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7.5 tidak lebih dari 6. Angka viskositas yang ditunjukkan oleh jarum merah dicatat. 2. spindel yang sesuai diturunkan hingga batas spindel tercelup ke dalam sediaan. kemudian motor dan spindel dinyalakan.5. Metode pelaksanaan Menggunakan pH meter.49 Bau : aroma teh hijau. Kriteria pH sediaan tidak kurang dari 4. 4. Metode Dilakukan dengan cara mengoleskan 0. Prosedur kerja Ditimbang sediaan gel sebanyak 1 g. Kemudian elektroda dicelupkan ke dalam larutan sediaan dan dicatat nilai pH yang tertera pada layar. Uji Viskositas dan Sifat Alir Tujuan Untuk mengetahui pengaruh kuantitas eksipien atau pelarut yang digunakan terhadap viskositas gel yang dihasilkan. Nilai viskositas diperoleh Universitas Indonesia . Metode pelaksanaan Dengan menggunakan viskometer Brookfield. kemudian dikalikan dengan faktor koreksi pada tabel yang terdapat pada brosur alat. . Kriteria Semua bahan tersebar dengan homogen dalam sediaan gel.1 gram sediaan pada kaca transparan. lalu didispersikan dalam 10 mL akuades. Uji pH Tujuan Untuk mengetahui pH sediaan. Tekstur : semi padat yang kenyal dan lunak. Prosedur kerja Sediaan gel dimasukkan ke dalam wadah berupa beaker glass 250 mL. Uji Homogenitas Tujuan Untuk mengetahui homogenitas bahan di dalam sediaan. 3.

5. Angka penetrasi dibaca lima detik setelah kerucut menembus sediaan. Batang pendorong dilepas dengan mendorong tombol start. dan 0. Kriteria Viskositas: 40. 10 dan 20 rpm.5.50 dengan mengubah rpm dari 0. 4. 10. 1.1. Metode pelaksanaan Dengan menggunakan penetrometer. Nilai viskositas dihitung pada pengukuran menggunakan 1 jenis spindel dan pada kecepatan tertentu. hilangkan semua etiket yang dapat mempengaruhi bobot pada waktu isi wadah dikeluarkan Universitas Indonesia . tipe aliran: pseudoplastis-tiksotropik. Uji Konsistensi Tujuan Untuk mengetahui pengaruh kuantitas eksipien atau pelarut yang digunakan terhadap konsistensi gel yang dihasilkan. Dari pengukuran konsistensi dengan penetrometer akan diperoleh yield value. 2. 2.000 – 65.5. Prosedur pengujian Sediaan gel dimasukkan ke dalam wadah khusus dan diletakkan pada meja penetrometer. Ambil contoh sebanyak 10 wadah sediaan. Kriteria Yield value : 500-700 dyne/cm2.000 cps. Uji Isi Minimum Tujuan Untuk mengetahui jumlah minimum sediaan gel yang masih diperbolehkan dalam pengisian kemasan. 2. Peralatan diatur hingga ujung kerucut menyentuh bayang permukaan sediaan. 1. Selanjutnya dilakukan kebalikannya dari 20. Post Process Control (PPC) 1. 4. 4.5. 2.5 rpm.2. Prosedur 1.

51 2. dan untuk menyatakan sediaan tersebut bebas dari spesies mikroba tertentu. Bobot bersih rata-rata isi dari 30 wadah tidak kurang dari bobot yang tertera pada etiket. Uji Batas Mikroba Tujuan Memperkirakan jumlah mikroba aerob viabel di dalam sediaan. tetapkan bobot bersih isi 20 wadah tambahan. Jika persyaratan di atas tidak dipenuhi. Prosedur Dilakukan uji angka lempeng total. Prinsipnya perhitungan koloni bakteri pada media agar non selektif maupun ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri setelah pengkayaan. Standar validasi proses: 1. nyatakan hasil pengujian sebagai: “kurang dari 10 mikroba per gram atau ml spesimen”. jika perlu cuci pot dengan pelarut yang sesuai 4. Selama menyiapkan dan melaksanakan pengujian. dan hanya satu wadah yang bobot bersih isinya <90% dari bobot yang tertera pada etiket. Perbedaan antara kedua penimbangan adalah bobot bersih isi wadah. Dilakukan minimal 2 cawan petri. dan tidak satu wadahpun yang bobot bersih isinya <90% dari bobot yang tertera pada etiket 2. Keringkan dan timbang lagi masing-masing wadah kosong beserta tutupnya. Staphylococcus aereus ATCC 6538 atau galur yang setara Kriteria Jika tidak ditemukan koloni mikroba di dalam cawan dengan enceran awal. spesimen harus ditangani secara aseptik. Kriteria 1. 2. Keluarkan isi dari dalam pot secara kuantitatif dari masing-masing wadah. Bobot bersih rata-rata isi dari 10 wadah tidak kurang dari bobot yang tertera pada etiket. Bersihkan dan keringkan dengan sempurna bagian luar wadah dan timbang satu per satu 3. Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027 atau galur yang setara 2. Universitas Indonesia .

Larutan stok baku. e. dalam mg/g Universitas Indonesia . yang telah diberi nomor 1 sampai 25.0 mL reagen A ke dalam masing-masing tabung uji.5 µg/g hingga 65 µg/g asam D-glukuronat. dalam air es.52 3. Dinginkan hingga suhu ruang dan ukur absorbansi larutan pada 530 nm .125 g karbazol dalam 100. Prosedur analisis a. d.0 mL asam sulfat b. c. Larutan uji.0 mL air pada tabung uji no 25 (blangko).0 mL dari ketiga larutan uji secara triplo ke dalam tabung 16 sampai 24 (tabung uji). Siapkan larutan secara triplo. Buka tutup tabung. Reagent B.0 g dengan air. dan letakkan dalam water bath selama 15 menit.20 mL reagen B. terhadap blangko. Encerkan 10.1 g asam D-glukuronat yang sebelumnya dikeringkan hingga massanya tetap dalam vakum difosfor pentoksida. dan 1. Larutkan 0. Encerkan hingga 100. Hitung persentase sodium hyaluronat menggunakan persamaan berikut: cg = rata-rata konsentrasi asam D-glukuronat dalam larutan uji. d. c. kocok. Tambahkan 5.0 mL etanol anhidrat. Dinginkan dalam air es. Siapkan 5 pengenceran dari larutan stok baku dengan konsentrasi dari 6. b.95 g dinatrium tetraborat dalam 100. Letakkan 25 tabung uji. Natrium hialuronat Metode Spektrofotometer UV-Vis Preparasi sampel a. kocok dan letakkan kembali dalam water bath selama 15 menit. Larutkan 0. dalam air dan encerkan hingga 100. Ambil sejumlah massa gel yang setara 0. e.0 g dengan pelarut yang sama. Lakukan ekstraksi terhadap sediaan gel. Larutkan 0.0 g dengan pelarut yang sama. Penetapan Kadar a. Tutup rapat tabung dengan plastik.0 mL dari kelima larutan baku secara triplo ke dalam tabung 1 sampai 15 (tabung baku). Tambahkan 1.170 g zat aktif. Larutan baku. dan tambahkan 0. yang sebelumnya telah didinginkan dalam air es. 1. Reagent A.0 g larutan ini hingga 200.

0 ml asam perklorat 0.1 N. dan encerkan dengan asam asetat glasial hingga 1000 ml. simpan hasil bilasan di dalam labu. dalam mg/g Z = persentase C6H10O7 dalam asam D-glukuronat h = persentase susut pengeringan 401. Panthenol Metode Titrasi bebas air Preparasi sampel a. Lakukan ekstraksi terhadap sediaan gel.42 g Kalium biftalat dengan asam asetat glasial di dalam labu ukur 1000 ml. hangatkan campuran dengan steam bath untuk melarutkan. Larutan Kalium biphtalat: larutkan 20. Uji Stabilitas a) Uji Stabilitas Jangka Panjang Metode Universitas Indonesia . Jika dibutuhkan. 4.0 % dari jumlah yang tertera pada etiket. Lakukan penetapan blangko dan catat perbedaan volume yang dibutuhkan. Kriteria keberterimaan 90. dan refluks selama 5 jam. c.1 N ekuivalen dengan 20. Dinginkan.0 – 110. Dinginkan hingga suhu kamar.0 – 110. perhatikan terhadap adanya absorpsi karena kelembaban.53 cs = rata-rata konsentrasi zat uji dalam larutan uji. Tambahkan 50.3 = bobot molekul relatif dari fragmen disakarida 194.53 C9H19O4. Tiap mL perbedaan volume asam perklorat 0. b.0% dari jumlah yang tertera pada etiket. dan bilas kondenser dengan asam asetat glasial. perhatikan adanya kelembaban atmosfer yang masuk ke dalam kondenser. Larutan uji: Ambil sejumlah massa gel yang setara 400 mg Panthenol.1 = bobot molekul relatif dari asam glukuronat Kriteria Keberterimaan 90. Analisis Titrasi larutan uji dengan Kalium biftalat hingga titik akhir berwarna biru-hijau menggunakan indikator 5 tetes kristal violet. b.

Inkubasi pada suhu 200-250C 4. Uji Efektifitas Pengawet Antimikroba (Depkes RI. yaitu pada bulan ke-0. Syarat a. Setiap 6 bulan pada tahun kedua. Universitas Indonesia . Aspergillus niger (ATCC No. Amati pada hari ke 7. Mikroba Uji Candida albicans ATCC No. Kemudian. 9027). 14. dan Staphylococcus aureus (ATCC No. Inokulasi dengan suspensi mikroba baku. 3. a. b. 10231. Pseudomonas aeruginosa (ATCC No. 16404). Jumlah bakteri viable pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih dari 0. Untuk wadah yang tidak dapat ditembus secara aseptik. ambil 20ml sampel masukkan ke dalam 5 tabung bakteriologik bertutup 2. dengan perbandingan 0. Kriteria Sediaan gel stabil secara fisik. 6538). Pembuatan inokula Inokulasi permukaan media agar dengan mikroba uji sebelum pengujian dan inkubasi pada suhu 30-35 C selama 18-24 jam. Escherichia coli (ATCC No. dilakukan uji efektifitas pengawet antimikroba. Temperatur uji yang digunakan adalah 30° ± 2°C dengan kelembapan relatif 65% ± 5%. pada uji stabilitas jangka panjang. 21. 1995) Tujuan Untuk mengetahui efektifitas pengawet yang ditambahkan pada sediaan setelah penyimpanan sediaan dalam periode waktu tertentu. dan 28. 6. 9.54 Uji jangka panjang dilakukan pada tidak kurang dari tiga bets dengan waktu penyimpanan minimal 12 bulan dan dilanjutkan hingga waktu daluwarsa yang diajukan. Prosedur 1. dan 12. 8739). Pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan pada tahun pertama.1 % dari jumlah awal. Media Pilih media agar yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba uji seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium.10ml inokula ≈ 20ml sediaan 3.

b) Uji Stabilitas Dipercepat Metode dilakukan pada tiga bets dengan waktu penyimpanan selama 6 bulan pada temperatur uji dan kelembapan relatif yang dinaikkan. Jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang. Universitas Indonesia . c) Uji Freeze-Thaw (Cycling Test) Metode Uji ini dilakukan dengan menyimpan sediaan pada suhu rendah (4° ± 2°C) selama interval waktu tertentu dan dilanjutkan dengan penyimpanan pada suhu tinggi (40° ± 2°C). Kemasan Kemasan dibagi menjadi tiga macam. dan tidak sineresis. dan kadar.2. Jumlah kapang dan khamir viable selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari jumlah awal c. dan 6. 2. sediaan gel stabil secara fisik. Kriteria Tidak terjadi perubahan pada sediaan. 3. Temperatur uji yang digunakan adalah 40° ± 2°C dan kelembapan relatif 75% ± 5%. dimana 1 siklus adalah 24 jam suhu rendah dan 24 jam suhu tinggi. Tampilan organoleptis sediaan tidak berubah. misalnya pot atau tube. Dilakukan selama 6 siklus.55 b. Kriteria 1. viskositas. 1. 2 Kemasan sekunder adalah digunakan untuk mengemas dan melindungi produk yang telah dikemas dalam kemasan primer. yaitu: 1 Kemasan primer adalah bahan kemasan yang secara langsung membungkus sediaan. Stabilitas sampel dianalisis pada bulan ke-0. Tidak terjadi degradasi produk di luar kriteria sediaan yang diinginkan à pH. 4. 2.

dan kemasan sekunder dapat dilihat di bawah ini: 1. Kemasan primer yang digunakan adalah pot akrilik. 3. Memudahkan pengambilan sediaan gel. Besarnya isi sediaan yaitu sebesar 50 g. Memudahkan pengamatan akan jumlah sediaan yang tersisa dan meminimalkan sediaan yang tersisa. Pot akrilik dipilih sebagai wadah sediaan gel dengan pertimbangan sebagai berikut: 1.56 3 Kemasan tersier digunakan untuk distribusi sediaan dalam skala besar contohnya kardus. Universitas Indonesia . Adapun desain kemasan primer. Desain kemasan primer. label. Desain kemasan primer Gambar4. Penampilan produk terlihat lebih menarik (estetika) 4. sehingga diperlukan wadah yang lebih besar pula untuk menyimpan sediaan namun tidak mengurangi penampilan produk. Sedangkan kemasan sekunder yang digunakan adalah kemasan karton. 2.1. brosur.

Desain label kemasan primer. Desain label kemasan primer Gambar 4. Tampak Depan Gambar 4. 4. 3. b.2. Desain kemasan sekunder Universitas Indonesia . Tampak Belakang Gambar 4. Desain Brosur a.3.57 2. Desain brosur tampak depan. Desain brosur tampak belakang.4.

b) Nomor batch dan expired date tercetak harus benar. c) Cetakan nomor batch dan expire date tidak boleh luntur. Pemeriksaan hasil cetakan pada label wadah dan kemasan a) Karton pengemas yang digunakan harus benar. 2. Desain kemasan sekunder. Adapun evaluasi terhadap wadah dan kemasan meliputi: 1.5.58 Gambar 4. b) Pelipatan brosur sesuai dengan standar. BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Universitas Indonesia . Pemeriksaan brosur a) Brosur yang digunakan harus benar.

kimia dan biologi sediaan gel yang dipersyaratkan. Kesimpulan 1. Selain itu dapat pula sediaan gel ini dibuat sebagai sediaan emulgel. Reformulasi gel HYAGEL dari segi komponen gelling agent dan pelarut dapat dilakukan untuk menghasilkan gel dengan konsistensi dan viskositas yang lebih baik. Sediaan gel HYAGEL yang mengandung natrium hialuronat dan Dpanthenol 75W memenuhi kriteria evaluasi fisik. Saran Dapat dikembangkan formulasi sediaan gel pelembab dengan menggunakan bahan aktif yang mempunyai efek perawatan kulit lainnya selain efek pelembab kulit seperti natrium hialuronat.59 5. 2.2. Formula gel pelembab asam hialuronat (hyaluronic acid moisturizing gel) telah berhasil membentuk sediaan gel pelembab kosmetik dengan nama dagang HYAGEL. 5. DAFTAR ACUAN Universitas Indonesia .1.

com. Jakarta: Dirjen POM...60 Anonim. Noveon. (2005). Howard C. The Pharmaceutical Code (12th ed. (2002). The Chemistry.kyowa. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1985). Penerjemah). (2009). Wenner-Gren International Series. & Cammarata.A. Panthenol. (2008). A. Sodium Hyaluronate. 397-411. Necas J. 308–318.. London. 16:32 WIB. Vol 72. Portland Press. T. New York: Marcel Dekker. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. http://www.P. (Joshita. Jakarta: Dirjen POM. 53 (8). M. Veterinarni Medicina. Jakarta: UI Press. diakses pada 22 september 2013. Lund.eu/daiichi/panthenol. Biology and Medical Applications of Hyaluronan and its Derivatives. Ansel. Brown.V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kolar J. (1979). Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. & Gershkovich J. Kablik J. S. C. Penerjemah). A. G. Inc. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. JEADV 19.D. Neutralizing Carbopol® and Pemulen® Polymers in Aqueous and Hydroalcoholic Systems. (1996). Martin.. Brauner P.302-312. (2008). Formularium Kosmetik Indonesia.. Banker.. Farmasi Fisik Edisi Ketiga. Walter. Yu L. 189. Hascall. (1989). Jakarta: Dirjen POM. diakses pada 22 September 2013 16:50 WIB.C. Hyaluronic Acid (hyaluronan): a review. (1995). Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Modern Pharmaceutics 3rd edition. American Society for Dermatologic Surgery 35.B. TDS-237: Januari 2002. Hal. Bartosikova L. (2013). London: The Pharmaceutical Press. http://www.). J. Comparative Physical Properties of Hyaluronic Acid Dermal Fillers. Hyaluronic acid: a unique topical vehicle for the localized delivery of drugs to the skin. Swarbick. (1998). Monheit G. & Jones. hal 295-296. Chang G. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: UI Press.fenchem. (1994). Universitas Indonesia .S. T.. Fenchem. & Laurent. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. & Christopher. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Ketiga (Farida Ibrahim.

. Hal. (1995).61 Rowe. Voight. J Controlled Release 90. 7-8. Wasitaatmadja. M. Universitas Indonesia . (2009). R. 26-29.I. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. 291-301.E. R. (1997). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. (2007).I & F. Tranggono. & Takayama K. Mitsui (ed). Release phenomena of insulin from an implantable device composed of a polyion complex of chitosan and sodium hyaluronate. Jakarta: Universitas Indonesia Press.J. R. T. Tranggono. Akiyama H. Handbook of Pharmaceutical Excipients (6th ed. R. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi Kelima. P. hal. Morishita M.). 63. 122-124. New Cosmetic Sciences. (2007). F. Latifah. Yogyakarta: UGM Press. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.C. & Quinn.M. Hal.S & Latifah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama..... S. 380-381. 40. Surini S. Nagai T.. Sheskey. 93-96. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. 2003. Grayslake: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. (1997).. Amsterdam: Elseiver Scinces BV.