You are on page 1of 47

SEMINAR PRESENTASI KASUS DAN JURNAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.G P1A0 DENGAN POST PARTUM
SPONTAN DENGAN KPD 10 JAM PADA PRIMIPARA PRE ATERM
DI RUANG DAHLIA
RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI
Di Susun unruk Memenuhi Syarat tugas Stase Keperawatan Maternitas
Dosen Pengampu: Melania Wahyuningsih.,S.Kep.,MSN

Di susun oleh :
Kelompok 31
1 Handar Ustamy
2 Ema Wati
3 Nurul fitri Ekaningsih
4 Maria olinda cardoso

(15160003)
(15160101)
(15160016)
(15160082)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

1

Puji syukur kami ucapkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmatNya lah kami dapat menyelesaiakan tugas kelompok yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada Ny.G P1a0 Dengan Post Partum Spontan Dengan Kpd 10 Jam Pada
Primipara H. Aterm Di Ruang Dahlia Rsud Pandan Arang Boyolali”. sesuai dengan apa
yang kami semua harapkan. Makalah ini kami buat dalam rangka memperdalam
pemahaman masalah asuhan keperawatan pada pasien nifas dengan ketuban pecah dini
serta melakuakan apa yang menjadi tugas seorang perawat masa depan.
Dalam penulisan makalah ini penulis menemukan kesulitan. Namun berkat bantuan,
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini sesuai dengan waktu yang diberikan.
Demikian makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan baik dalam pengetikan
maupun bahasa, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.
Boyolali,

Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

2

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Utama Dan Tujuan Khusus
BAB II TINJAUAN TEORI
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.

Definisi
Etiologi
Manifestasi Klinis
Patofisiologi
Pathway
Pemeriksaan Penunjang
Komplikasi
Penatalaksanaan Medis Dan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Intervensi

BAB III KASUS
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Pengkajian
Analisa
Prioritas Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Implementasi
Evaluasi

BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pengelolaan KPD merupakan masalah yang masih kontroversial dalam ilmu
kandungan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada. KPD sering
kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas
pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

3

perinatal yang cukup tinggi antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang
bulan dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tidak maju, partus lama,
dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada
pengelolaan konservatif.
Pengelolaan KPD masih menjadi pembicaraan yang masih di perdebatkan
dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan atau
harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan
memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sifat
konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan
harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.
Ada dua komplikasi yang sering terjadi pada KPD yaitu infeksi karena
ketuban yang utuh merupakan barier/penghalang masuknya penyebab infeksi.
Pecahnya selaput ketuban seperti KPD, flora vagina yang normal bisa menjadi
patogen yang akan membahayakan pada ibu atau pada janin. Yang kedua adalah
kurang bulan atau prematuritas, masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang
bulan adalah gejala sesak nafas yang disebabkan karena belum matangnya organ
paru pada bayi.
Protokol yang maksimal harus mempertimbangkan 2 hal diatas dan faktorfaktor seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan.
Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD,
tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis yang dapat mengurangi
mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak
maupun pada ibu.
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka da didapatkan hasil
yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8-10% dari semua kehamilan. Hal
yang menguntungkan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih
banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan daripada yang kurang bulan yaitu
sekitar 95%, sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada
kehamilan preterm terjadi sekitar 34% semua kelahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang
bulan dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada
bayi yang kurang bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu
sangat kompleks yang bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

4

prematuritas.
Dari uraian diatas, maka dalam hal ini kelompok melakukan asuhan
keperawatan selama tiga hari dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.G
P1a0 Dengan Post Partum Spontan Dengan Kpd 10 Jam Pada Primipara H.
Aterm Di Ruang Dahlia Rsud Pandan Arang Boyolali”.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Penulis mampu menjelaskan konsep dan menerapkan asuhan keperawatan ibu
nifas dengan Post Partum Spontan Dengan Kpd 10 Jam Pada Primipara H.
Aterm Di Ruang Dahlia Rsud Pandan Arang Boyolali.
2. Tujuan Khusus
a.
Mengetahui definisi KPD
b.
Mengetahui etiologi KPD
c.
Mengetahui tanda dan gejala KPD
d.
Mengetahui patofisiologi KPD
e.
Mengetahui pathway KPD
f.
Mengetahui pemeriksaan penunjang KPD
g.
Mengetahui komplikasi KPD
h.
Mengetahui penatalaksanaan medis KPD
i.
Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan KPD

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

MASA NIFAS
1.
Pengertian Nifas
Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan
berkahir setelah kira-kira 6 minggu (Kapita Selekta Kedokteran,2001).
Masa puerpenium (nipas) adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genetal baru pulih
kembali seperti sebelumnya ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Ilmu
Kebidanan,2007).

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

5

2.
Masa nifas atau peurpenium dibagi dalam 3 periode
a. Puerpenium dini
kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerpenium intermedial
kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerpenium
waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama
hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.
3.

Perubahan-perubahan yang penting pada masa nifas
a. Adaptasi Fisiologi:
Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal, yaitu :
1) System reproduksi
a) Involusi uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah
plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Dalam waktu
12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilicus.
Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung
dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam.
Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada
dipertengahan antara umbilicus dan simpisis pubis. Uterus tidak bisa
dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum.
b) Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah
bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume
intrauterine yang sangat besar. Hemostasis pascapartum dicapai
terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan
oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen
yang dilepas kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi
uterus, mengkompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis.
Selama 1 sampai 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi
uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur.
c) Afterpains
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada
umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik
sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan
sepanjang masa awal puerperium.
d) Lokhea
Pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam
uterus selama masa nifas disebut lokia. Lokia ini terdiri dari lokia
rubra (1-4 hari) jumlahnya sedang berwarna merah dan terutama

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

6

darah, lokia serosa (4- 8 hari) jumlahnya berkurang dan berwarna
merah muda (hemoserosa), lokia alba (8-14 hari) jumlahnya sedikit,
berwarna putih atau hampir tidak berwarna.
e) Serviks
Servik mengalami involusi bersama-sama

uterus.

Setelah

persalinan ,ostium eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari
tangan; setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup.
f) Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari
pertama setelah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam
keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina kembali kepada
keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur
akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.

g) Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak
maju. Pada postnatal hari ke 5, perineum sudah mendapat kembali
sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada
keadaan sebelum melahirkan.
h) Payudara
Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali
jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih
kencang dan mula – mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap
perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi.
i) Traktus urinarius
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan
terdapat spasme (kontraksi otot yang mendadak diluar kemaluan)
sfingter dan edema leher buli – buli sesudah bagian ini mengalami
kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan.
Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36
jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone
estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang
mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang
berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.
1) System kardiovaskuler
a) Tekanan darah

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

7

Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Hipotensi ortostatik, yang
diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera
berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama.
b) Denyut nadi
Nadi umumnya 60–80 denyut permenit dan segera setelah partus
dapat terjadi takikardi. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas
mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. Pada
masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu. Pada
minggu ke 8 sampai ke 10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali
ke frekuensi sebelum hamil.
c) Komponen darah
Hemoglobin, hematokrit dan eritrosit akan kembali kekeadaan
semula sebelum melahirkan.
2) Sistem endokrin
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormonhormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Kadar estrogen dan
progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar
terendahnya tercapai kira – kira satu minggu pascapartum. Pada wanita
yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu
kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang
menyusui pada pascapartum hari ke 17. Kadar prolaktin meningkat
secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui, kadar
prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan.
Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama
setiap kali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan.
3) Sistem perkemihan
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi)
turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan
kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab
penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. Fungsi ginjal
kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan.
Diperlukan kira – kira 2 sampai 8 minggu supaya hipotonia pada
kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali kekeadaan
sebelum hamil. Pada sebagian kecil wanita, dilatasi traktus urinarius bisa
menetap selama tiga bulan.
4) Sistem gastrointestinal
Ibu biasanya lapar setelah melahirkan, sehingga ia boleh
mengkonsumsi makan-makanan ringan. penurunan tonus dan mortilitas
otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
Kelebihan analgesia dan anestesi bisa memperlambat pengembalian

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

8

tonus dan motilitas keadaan normal. Buang air besar secara spontan bisa
tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini
bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses
persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan,
enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali
sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya
diperineum akibat episiotomy, laserasi atau hemoroid.
5) Sistem muskuloskletal
Adaptasi ini mencakup hal–hal yang membantu relaksasi dan
hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran
rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke 8
setelah wanita melahirkan.
6) Sistem integument
Kloasma yang muncul pada masa kehamilan biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi diareola dan linea nigra tidak
menghilang seluruhnya. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen,
paha dan panggul mungkin memudar tapi tidak hilang seluruhnya.
b. Adaptasi psikologis
Dibagi menjadi 3 fase :
1) Fase taking in
Yaitu fase ketergantungan, hari pertama sampai dengan hari ketiga post
partum, fokus pada diri sendiri, berperilaku pasif dan ketergantungan,
menyatakan ingin makan dan tidur, sulit membuat keputusan.
2) Fase taking hold
Yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri, dari hari ketiga
sampai dengan kesepuluh post partum, fokus sudah ke bayi, mandiri
dalam perawatan diri, mulai memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan
bayi, mulai terbuka dalam menerima pendidikan kesehatan.
3) Fase letting go
Yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru,
hari kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum, ibu sudah
melaksanakan fungsinya, ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi
dengan bayi.
B. Pengertian Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan
(Manuaba, 2006).
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada
usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William, 2006).
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

9

terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan
aterm (saifudin, 2010).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Ketuban
dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban
pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina
serviks (Bobak, 2009).
Jadi dapat disimpulkan ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban
sebelum persalinan dimulai yang ditandai dengan keluarnya cairan berupa air dari
vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung
dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu.
C. Etiologi
Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas, namun menurut Saifudin (2007)
ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau
meningkatnya tekanan intrauterine. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan
oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Akan tetapi ada
beberapa keadaan yang berhubungan dengan terjadinya KPD ini, diantaranya adalah
:
1) Trauma : Amniosintesis, pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual.
2) Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang tidak sanggup terus
menutup, melainkan perlahan-lahan membuka
3) Peningkatan tekanan intrauterus pada kehamilan

kembar, atau

polihidramnion.
4) Infeksi vagina, serviks atau korioamnionitis serta bakteri vagina.
5) Keadaan abnormal dari fetus seperti malpresentasi.
D. Manifestasi klinis
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui
vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin
cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna
darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi
E. Patofisiologi
Di dalam ruang yang diliputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion
dan lapisan korion terdapat likuora amnii (air ketuban). Volume likuor amnii pada
hamil cukup bulan adalah 1.000-1.500 ml. Warna putih, agak keruh serta
mempunyai bau yang khas yaitu bau amis dan berasa amis. Reaksinya agak alkalis

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

10

dan netral dengan berat jenis 1.008. Komposisinya terdiri atas 98% air dan sisanya
terdiri atas garam organik serta bahan organik dan bila teliti dengan benar terdapat
rambut lanugo sel-sel epitel dan vernik kaseosa, protein ditemukan rata-rata 2,6%
gr/liter sebagian besar sebagai albumen. Peredaran cairan ketuban sekitar 500
cc/jam atau sekitar 1% terjadi gangguan peredaran pada air ketuban melebihi 1.500
cc air ketuban dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk kematangan paruparu janin (Sarwono, 2009). Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat
berlangsung sebagai berikut :
1) Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi.
2) Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan
mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.
3) Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler
korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan
inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi,
terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase
jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion,
menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

F. Pathway ketuban pecah dini (KPD)

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

11

G. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH
nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau
sekret vagina.
a) Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
,menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
b) Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran
daun pakis.
2) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

12

Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion. Walaupun
pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada
umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan
sederhana.
H. Komplikasi
Komplikasi dari terjadinya ketuban pecah dini adalah sebagai berikut:
1) Ibu
a) Infeksi
Infeksi bakteri di dalam uterus terjadi antara jaringan ibu dan membran janin
(yaitu di dalam rongga koriodesidua), di dalam membran bayi (amnion dan
korion), di dalam plasenta, di dalam cairan amnion, atau di dalam tali pusat
atau janin. Infeksi membran fetus seperti dicatat oleh temuan histologis atau
kultur, disebut korioamnionitis. Infeksi tali pusat disebut funisitis, infeksi
cairan amnion disebut amnionitis. Walaupu vili plasenta mungkin terlibat
dalam infeksi intrauterin yang berasal dari darah seperti malaria, infeksi
bakteri di dalam plasenta (vilitis) jarang terjadi.
2) Janin
1) Prolaps tali pusat
Tali pusat yang teraba keluar atau berada di samping dan melewati bagian
terendah janin di dalam jalan lahir, tali pusat dapat prolaps ke dalam vagina
atau bahkan di luar vagina setelah ketuban pecah
2) Trauma pada waktu lahir
3) Premature
Setelah ketuban pecah biasannya segera disusul oleh persalinan, periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90 % terjadi dalam 24 jam
setela ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan
dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi
dalam 1 minggu.
4) Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal, yaitu kurang dari 500 cc. Oligohidramnion juga menyebabkan
terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada
saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penanganan ketuban pecah dini meliputi :
1. Konservatif
Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu
maupun pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
a) Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak tahan
ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
b) Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih
keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

13

c) Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes
buss negativ beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
d) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
e) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi.
f) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra
uterin).
g) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu
kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan
spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal
selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
2. Aktif
a) Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea.
Dapat pula diberikanmisoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4
kali.
b) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi. Dan
persalinan diakhiri.
c) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan servik, kemudian induksi. Jika
tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
d) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam
J. Pengkajian keperawatan
1. Identitas ibu
a. Riwayat penyakit
1) Riwayat kesehatan sekarang
ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia kehamilan mencapai 37
minggu dengan atau tanpa komplikasi .
2) Riwayat kesehatan dahulu
a) Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion
b) Sintesi ,pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual
c) Infeksi vagiana /serviks oleh kuman sterptokokus
d) Selaput amnion yang lemah/tipis
e) Posisi fetus tidak normal
f) Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang
pendek
g) Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
b. Pemeriksaan fisik
1) Kepala dan leher
a) Mata perlu diperiksa dibagian skelra,konjungtiva
b) Hidung ,ada atau tidaknya pembebngkakan konka nasalis, ada /tidaknya
hipersekresi mukosa.
c) Mulut
Gigi karies/tidak ,mukosa mulut kering dan warna mukosa gigi. Leher
berupa pemeriksaan JVP,KGB Dan tiroid
2) Dada
a) Troraks
Inspeksi kesimetrisan dada, jenis oernapasan torakaabdominal,dan tidak

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

14

ada retraksi dinding dada.Frekuensi pernapasan normal. Palpasi
:payudara tidak ada pembengkakan Auskultasi:terdengar Bj 1 dan II di
IC kiri/kanan,Bunyi napas normal vesikuler .
b) Abdomen Inspeksi :ada atau tidak bekas operasi ,striae dan linea.
Palpasi:TFU kontraksi ada/tidak ,posisi kansung kemih penuh/tidak,
auskultasi: DJJ ada atau tidak.
3) Genitalia
a)
Inspeksi :kebersihan ada

atau

tidaknya

tanda-tanda REEDA

(Red,Edema,discharge,approxiamately), pengeluaran air ketuban (jumlah
,warna,bau 0dan lender merah mda kecoklatan.
b) Palpasi :pembukaan serviks (0-4)
4) Ekstrimitas :edema ,varises ada/tidak.
c. Pemeriksaan diagnostik
1) Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia,infeksi
2) Golongan darah dan faktor Rh
3) Rasio lestin terhadap spingomielin (rasio US):menentukan maturitas janin.
4) Tes ferning dan kertas nitrazine:memastikan pecah ketuban
5) Ultrasonografi ;menentukan usia gestasi ,ukuran janin ,gerakan jantung
janinmdan lokasi plasenta.
K.
1.
2.
3.

Diagnosa keperawatan
Risiko Infeksi
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

L. Rencana keperawatan
1. Risiko Infeksi
NOC:
Knowledge: infection control
Risk kontrol
Kriteria hasil:
a. Klien mengetahui tanda dan gejala infeksi
b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
c. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
d. Jumlah leukosit dalam batas normal
e. Klien mampu ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan infeksi
NIC:
Infection control:
a. Observasi tanda-tanda terjadinya infeksi. Tanda-tanda radang mencakup
rubor (kemerahan), kalor (panas/demam), dolor (rasa sakit), dan tumor
(pembengkakan) serta function laesa (perubahan fungsi).
b. Pertahankan teknik aseptic saat tindakan
c. Berikan penjelasan kepada klien agar meningkatkan asupan nutrisi untuk
d.
e.
f.
g.
h.

mencegah atau memperbaiki imunitas tubuh sehingga tidak terjadi infeksi.
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan pada klien
Lakukan rawat luka klien dengan tehnik aseptic setiap pagi
Pantau suhu tubuh klien
Pantau peningkatan leukosit
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik sesuai indikasi.
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

15

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
NOC:
Pain level
Pain control
Kriteria hasil:
a. Melaporkan nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
b. Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
c. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
d. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda gejala nyeri)
NIC:
Pain manajemen
a. Kaji nyeri meliputi PQRST
b. Monitor TTV klien
c. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi).
d. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, distraksi.
e. Lakukan kompres dingin pada area nyeri
f. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.
3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
NOC:Anxiety control
Kriteria hasil:
a. Tidak gelisah
b. Mampu menyebutkan penyebab kecemasan
NIC:Anxiety reduction
a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
b. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang faktor penyebab cemas
c. Berikan informasi tentang keadaan/ kondisi pasien saat ini
M. Implementasi Keperawatan
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan
pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau
tindakan yang diberikan kepada klien dengan menerapkan pengetahuan dan
kemampuan klinik berdasarkan ilmu-ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu lainnya yang
terkait. Seluruh perencanaan tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana dengan
baik.
N. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi
dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data
objektif. Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana
keperawatan,

menilai,

meningkatkan

mutu

asuhan

keperawatan

melalui

perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan standar.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

16

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
FORMAT PENGKAJIAN POST PARTUM
UNIT KEPERAWATAN MATERNITAS
Tanggal masuk

:14 Mei 2016

Jam masuk

: 15.00 WIB

Ruang/kelas

: Dahlia/3

Kamar No

: A4

Pengkajian tanggal

:15 Mei 2015

Jam

:08.00 WIB

Diagnosa Medis

: PP Spontan P1A0 dengan KPD 10 jam pada Primipara Pre aterm

A. IDENTITAS
Nama

: Ny.G

Nama Suami : Tn.S

Umur

: 21th

Umur

Suku/ bangsa

: Jawa/Indonesia

Suku/ bangsa : Jawa/Indonesia

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Bakalan, boyolali

Alamat

: Bakalan, boyolali

Status

: Menikah

: 25 th

:

B. STATUS KESEHATAN SAAT INI
1.

Alasan kunjungan ke rumah sakit :
Klien datang ke RSUD Panandarang dengan kehamilan G1 p0 A0 usia 21 tahun
dengan usia kehamilan 36 minggu dengan keterangan pasien merasa hamil 9
bulan, gerak janin masih dirasakan, kencang (+), air ketuban (+), lender darah (+)
muka sebelah kiri bengkak karena KDRT.

2.

Keluhan utama saat ini :
Klien mengatakan nyeri pada pada luka post episiotomy

3.

Timbulnya keluhan :
() bertahap
( √) mendadak

4.

Faktor yang memperberat :
Klien mengatakan merasa nyeri saat bergerak, ketika ingin memggerakkan tubuh
kekanan dan ke kiri dan ketika ingin mengubah posisi berbaring ke posisi duduk.
Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 6, klien mengatakan

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

17

nyeri dirasakan hilang timbul. Klien tampak menahan nyeri dan tampak
memegangi abdomen.
5.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi :
Klien mengatakan untuk mengurangi nyeri klien membatasi bergerak dan lebih
banyak berbaring di tempat tidur

C. RIWAYAT KEPERAWATAN
1. RIWAYAT OBSTETRI :
a. Riwayat menstruasi :

Menarche

: 13 tahun

Banyaknya

: Sehari 3x

ganti pembalut
HPHT

Siklus

Lamanya

:12-09-2015

: 28 hari/teratur

: 6 hari

Keluhan

:Tidakada

b. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu :
Anak ke
No

Tahun

Kehamilan
Umur
kehamila

Penyulit

Persalinan
Jenis

Penolong

Spontan

Dokter &

Komplikasi nif
Penyulit

Laserasi

n
1

2016

36
minggu

Bidan

c. Genogram

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

18

Infeksi

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Klien
: Tinggal dalam satu rumah
: Garis keturunan
: Garis pernikahan

Ny.G berusia 21 tahun dengan masalah PP Spontan dengan KPD 10 jam pada
Primivara H. atermtinggal dalam satu rumah bersama kedua orangtuanya. Ny.G
mempunyai 2 saudara kandung perempuan.Ny.G mempunyai seorang anak
perempuan.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

19

2. RIWAYAT KELUARGA BERENCANA :

Melaksanakan KB

: Klien mengatakan

belum memakai KB jenis apapun

Bila ya jenis kontrasepsi apa yang digunakan :Belum

Sejak kapan menggunakan kontrasepsi :Belum

Masalah yang terjadi

:tidak ada

3. RIWAYAT KESEHATAN :

Penyakit yang pernah dialami ibu :
Klien mengatakan tidak ada masalah selama kehamilan

Pengobatan yang didapat

:

Klien mengatakan tidak ada obat yang dikonsumsi selama hamil

Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga seperti DM,
hipertensi, dan penyakit jantung.

4. RIWAYAT LINGKUNGAN :

Kebersihan:
Klien mengatakan lingkungan tempat klien cukup bersih
Bahaya
:
Klien mengatakan rumahnya jauh dari pabrik-pabrik kimia yang berbahaya

5. ASPEK PSIKOSOSIAL :
a. Persepsi ibu tentang keluhan/ penyakit :
Klien mengatakan keadaannya yang dialaminya saat ini merupakan suatu hal
yang tidak wajar karena akibat dari KDRT yang dilakukan suaminya
b. Apakah keadaan ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan sehari-hari:
Klien mengatakan keadan saat ini menimbulkan perubahan terhadap kehidupan
sehari-hari karena klien merasa sedih dengan tingkah laku suaminya sedangkan
mereka sudah dikarunia bayi perempuan.
Bila ya bagaimana:
Klien mengatakan mengalami keterbatasan dalam mobilisasi dan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari selain itu juga klien belum bisa menyusui karena
ASI klien belum keluar dari sejak hari pertama persalinan.
c. Harapan yang ibu inginkan :
Klien mengatakan ingin segara pulang dan cepat sembuh, klien berharap ASInya
bisa secepatnya keluar sehingga bisa memberikan ASI kepada bayinya.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

d. Ibu tinggal dengan siapa :
Klien mengatakan dirumah tinggal dengan suaminya.
e. Siapakah orang yang terpenting bagi ibu:
Klien mengatakan orang terpenting adalah bayinya, serta keluarganya.
f. Sikap anggota keluarga terhadap keadaan saat ini :
Klien mengatakan saat ini semua anggota keluarga sangat senang dengan
kelahiran By.Ny.G karena lahir dengan selamat serta keadaan bayi klien sehat.
Serta keluarga selalu menjenguk dan menemani klien selama di RS.
g. Kesiapan mental untuk menjadi ibu :
Klien mengatakan sudah siap untuk menjadi ibu untuk bayinya dan akan
berusaha merawat bayinya dengan sebaik-baiknya.
6. KEBUTUHAN DASAR KHUSUS :
a. Pola Nutrisi

Frekwensi makan

: 3 x sehari

Nafsu makan

:Tidak nafsu, alasan: klien mengatakan tidak

nafsu makan karena lidah merasa pahit

Jenis makanan rumah :
Klien mengatakan selama dirumah jenis makanan yang di konsumsi adalah
nasi, sayur, lauk pauk seperti tempe, tahu serta kadang klien mengkonsumsi
ayam dan ikan.

Makanan yang tidak disukai/ alergi/ pantangan :
Klien mengatakan tidak ada makanan yang tidak disukai, tidak mempunyai
alergi terhadap makanan dan tidak mempunyai pantangan terhadap makanan
tertentu

b. Pola eliminasi :

BAK
Klien mengatakatan saat dirumah biasanya BAK 5-6x/hari. Saat dilakukan
pengkajian klien tidak terpasang DC dan warna urin kuning jernih serta saat
BAK dibantu oleh keluargta dengan menggunakan Pispot

BAB
Kilen mengatakan biasanya BAB 1x/hari dengan warna feses kuning
kecoklatan, konsistensi agak lembek, dan bau khas.
Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan belum BAB setelah melahirkan

c. Pola personal hygiene

Mandi

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan belum mandi, klien hanya di
sibin oleh keluarganya 2 x/sehari.
Oral hygiene

Klien mengatakan menggosok gigi sebanyak 1 x/hari saat setelah bangun
pagi
Cuci rambut

Klien mengatakan saat di rawat di RS klien belum mencuci rambutnya
karena klien masih takut untuk banyak bergerak.
d. Pola istirahat dan tidur

Lama tidur : 6-7 jam/hari

Kebiasaan sebelum tidur : klien mengatakan tidak mempunyai
kebiasaan sebelum tidur
Keluhan : klien mengatakan masih nyeri pada bagian perut dan jalan


lahir

e. Pola aktifitas dan latihan

Kegiatan dalam pekerjaan : klien mengatakan pekerjaannya adalah IRT

Waktu bekerja

: klien mengatakan waktu kerjanya adalah pagi dan

siang hari bantu-bantu keluarga dirumah

Olah raga

: klien mengatakan tidak berolaraga

Kegiatan waktu luang :
Klien mengatakan jika ada waktu luang klien berkumpul dengan
keluarganya dan terkadang rekreasi dengan anggota keluarga. Saat
mendekati persalinan klien lebih banyak beristirahat di rumah.

Keluhan dalam beraktifitas:
Klien mengatakan mengalami keterbatasan dalam aktivitas setelah
melahirankan, klien mengatakan masih kesulitan dalam merubah posisi
untuk miring kanan dan kiri, dan merubah posisi dari berbaring keposisi
duduk. Klien tampak lebih banyak berbaring ditempat tidur, pergerakan
kilen terbatas, dan untuk ADL klien sepenuhnya dibantu oleh keluarga klien.

f. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan

Merokok: klien mengatakan tidak pernah merokok

Minuman keras : klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi
minuman keras

Ketergantungan obat

:

klien

mengatakan

tidak

ketergantungan terhadap obat tertentu.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

mempunyai

7. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : baik

Tekanan darah

Kesadaran
: 110/70 mmHg

: Composmentis

Nadi

:

82x/menit

Respirasi

Berat badan

: 20x/menit

Suhu

: 50kg

: 36,7C
Tinggi badan

: 156cm

Kepala, mata kuping, hidung dan tenggorokan :
Kepala : Bentuk : Normal, tidak ada lesi dan bengkak.
Keluhan : klien mengatakan tidak mengalami pusing dan nyeri kepala.
Mata :
Kelopak mata

: Kelopak mata klien tidak ada lesi namuntampak

bengkak sebelah kiri
Gerakan mata

: Klien mampu menggerakkna bola mata kekanan dan

Konjungtiva

: Tidak anemis

Sklera

: Tidak ikterik

Pupil

: isokor

Akomodasi

: KDRT


kekiri

Hidung :

Reaksi alergi

: Klien mengatakan tidak ada alergi debu dan alergi

Sinus

: Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit

dingin

sinusitis
Mulut dan Tenggorokan :
Gigi

: Klien mengatakan mempunyai gigi berlubang

sebanyak 2 buah.
Kesulitan menelan

: Kilen mengatakan tidak mengalami kesulitan

menelan

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Dada dan Axilla

Bentuk

: Bentuk payudara klien simetris kanan dan kiri

Mammae

: Mammae klien membesar

Areolla mammae

: Areola klien tampak berwarna coklat

kehitaman.
Colostrum

: Ibu mengatakan ASI belum keluar, namun

saat dipijat oksitosin keluar colostrum.
Engorgement

: ketika dipalpasi pasien tidak merasa nyeri, terdapat

bendungan ASI, payudara sedikit bengkak.
Kebersihan

: Payudara klien tampak bersih.

Pernafasan

Jalan nafas

: Jalan nafas bersih dan paten

Suara nafas

. : Vesikuler

Menggunakan otot-otot bantu pernafasan : pasien tidak menggunakan
otot bantu dalam bernafas.

Sirkulasi jantung

Kecepatan denyut apical

: 84x/menit

Irama

Kelainan bunyi jantung : Tidak ada kelainan bunyi jantung, bunyi

: Reguler

jantung 1 dan 2 tunggal tidak ada keainan seperti mur-mur..
Sakit dada

: Saat dilakukan pengkajian klien tidak

mengalami nyeri pada dada.
Abdomen

Kondisi umum

: Abdomen supel

Linea dan striae

: Terdapat linea dan striae pada abdomen klien

Luka bekas operasi

: Tidak terdapat luka atau bekas operasi pada

abdomen pasien.

Diastasis rectus abdominis:

Fundus uteri

Kontraksi

: Teraba TFU 2 jari dibawah pusat
: Baik, Kuat, uterus teraba keras

Genitourinary

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Vesika Urinaria

: Vesika urinaria tidak teraba penuh

Lokhea

Jumlah

: Klien mengatakan ganti pembalut 2x/hari

Warna

: Merah

Konsistensi

: Cair

Bau

: Khas

Perineum

Apakah terdapat luka pada perineum

: ada luka pada perineum 3 cm

Luka episiotomy

: ada luka epiostomy jahitan 4

REEDA

: R : ada tampak kemerahan pada sekitar luka episiotomy
E : tidak nampak memar pada area luka episiotomy
E : tampak bengkak pada area luka epesiotomy
D :tidak napak keluar sekret seperti nanah
A : Luka jahitan bagus dan Perlekatan jaringan

Kebersihan

: Perineum klien bersih, hanya terdapat lokhea pada perineum

Hemoroid

: Tidak terdapat hemoroid pada anus klien

Ekstrermitas (integumen/muskuloskeletal)

Turgor kulit

: Elastis

Warna kulit

: Tidak tampak pucat

Kontraktur pada persendian ekstrimitas : Klien mengatakan tidak mengalami
nyeri pada kaki dan tangan klien.

Kesulitan dalam pergerakan

: Klien mengatakan masih takut untuk

banyak bergerak karena masih nyeri pada jalan lahir.

Varises

: Tidak terdapat varises

Tanda Homman

: Tanda homman negatif, tidak adanya

tromboflebitis
d. Data Penunjang
1)

Laboratorium

Tanggal : 14 Mei2016 Jam : 13.41 Wib
Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Darah Lengkap
Hemoglobin
Lekosit
LED

Hasil

9.5
L
14850 H
55

Harga Normal

12-16
4800-10800
0-20

Satuan

g/dl
/uL
/mm

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Interpretasi Hasil

Menurun
Meningkat
Meningkat

Hitung Jenis
Eosinofil %
Basofil %
Neutrofil Batang %
Neutrofil Segmen %
Limfosit %
Monosit %
Hematokrit
Protein Plasma
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Golongan Darah
PT
APTT
Kimia
GDS
IMUNOSEROLOG
I
HBsaG

0.00
0.20
.
87.00
9.40
3.40
31.0
6.2
289
4.52
68.6
21.0
30.6
17.4
A
17.3
29.2

L

1-3
0-1
1-6
H 50-70
L 20-40
2-8
L 37-47
6-8
150-450
4.2-5.4
80-100
27-32
32-36
-

72
23

%
%
%
%
%
%
%
g/dl
10^3/uL
10^6/uL
FL
Pg
d/dl
%

Menurun
Normal

12-16
26-42

Detik
Detik

Meningkat
Meningkat

70-125
10-50

mg/dl
mg/dl

Normal
Normal

Non

Meningkat
Menurun
Normal
Menurun
Normal
Normal
Normal
Menurun
Menurun
Menurun

Non Reaktif Normal

Reaktif
Lain-lain
BHP2

2)

USG

Tanggal :…….........… Jam :…….........……..
Jenis Pemeriksaan

3)

Hasil Bacaan

Kesan

Interpretasi Hasil

Kesan

Interpretasi Hasil

Rontgen

Tanggal :…….........… Jam :…….........……..
Jenis Pemeriksaan

Hasil Bacaan

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

4)

Terapi yang didapat

Jenis Terapi
Cairan IV

Nama Obat
Infus RL

Dosis
20 tpm

Rute
IV

Fungsi
Menambah cairan

tubuh

pasien

Obat parenteral

Ketorolax

30 mg

IV

Obat

analgesik

(untuk

mengurangi nyeri)

Obat peroral

Cefadroxil

2x500 mg

Oral

Obat

antibiotic(mencegah

infeksi

dan

mempercepat

penyembuh)
Asam mefenamat

3x500 mg Oral

Obat untuk mengurangi nyeri

Vitamin C

3x100 mg

Daya tahan tubuh pasien

Oral

Obat Topikal

5)

Data Tambahan

...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
...................................................................................................................................
Yogyakarta, ........................................
Pemeriksa

(..................................................)

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

STASE KEPERAWATAN MATERNITAS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
ANALISA DATA
Nama klien

: Ny. G

No. Register

Umur

: 21 tahun

Diagnosa Medis : PP Spontan dengan KPD 10 jam

Ruang Rawat : Dahlia

pada Primipara Pre aterm
Alamat

TGl/JAM
15/05/20 DS:
16

: 16516638

: Bakalan,Boyolali

DATA FOKUS
ETIOLOGI
Klien
mengatakan Agen Cedera Fisik

nyeri

pada

luka

epiostomi.
P:Klien mengatakan
merasa nyeri saat
bergerak, ketika ingin
menggerakkan tubuh
kekanan dan ke kiri dan
ketika ingin mengubah
posisi berbaring ke posisi
duduk.
Q: Klien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk.
R: Klien mengatakan nyeri
di daerah jalan lahir
S: Klien mengatakan skala
nyeri 6
T: Klien mengatakan nyeri
hilang timbul.
DO:
-

klien tampak menahan

-

nyeri saat bergerak
klen tampak memegang
tempat lokasi yang
nyeri

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

PROBLEM
Nyeri Akut

-

TTV :
TD : 110/70 mmHg
HR : 83 x/mnt
RR : 19 x/mnt
S : 36,5 C

DS : DO :
- Leukosit 14850 g/dl
- Terdapat luka Episiotomi
- TTV :
TD : 110/70 mmHg
HR : 83 x/mnt
RR : 19 x/mnt
S : 36,5 C

Prosedur Invasif

15/05/20

DS:

Defisit pengetahuan

16

-

Klien

-

belum di berikan ASI.
Klien mengatakan ASInya

15/05/2016

mengatakan

Resiko infeksi

(Episiotomi)

bayinya

Ketidakefektifan
pemberian ASI

belum keluar dari setelah
melahirkan
DO:
-

Payudara klien tampak

-

membesar.
Tampak adanya bendungan

-

ASI
Saat dilakukan pemencetan
puting tampak tidak adanya

15/05/20

ASI yang keluar.
DS:

16

-

Pasien

-

kondisi luka perineum
Pasien mengatakan kapan

bertanya

tindakan

infasif Resiko infeksi

tentang (Episiotomy)

luka jahitannya menyatu dan
sembuh.
DO :
- Tampak luka jahitan pada
daerah

perineum,

-

jahitan 4
Luka
jahitan

-

kemerahan
Leukosit 14850/UL
Hemoglobin 9,5 g/dl

jumlah
tampak

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

PRIORITAS DIAGNOSA
1. Nyeri akut berhubunan dengan agen cedera fisik
2. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan defisit pengetahuan.
3. Resiko infeksi berhubugan dengan tindakan invasif (Episiotomy)

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

STASE KEPERAWATAN MATERNITAS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

RENCANA TINDAKAN
Nama klien

: Ny.G

No. Register

Umur

: 21 tahun

Diagnosa Medis : PP Spontan dengan KPD 10 jam

Ruang Rawat : Dahlia

pada Primipara Pre aterm
Alamat

No
1

Diagnosa

:16516638

Tujuan &

Keperawatan
Nyeri akut b.d

Kriteria Hasil
NOC:

agen cedera fisik

1. Pain level
2. Pain control
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan nyeri
berkurang dengan
kriteria hasil:
a. Melaporkan nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
b. Mengatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
c. Mampu mengontrol

:Bakalan, Boyolali

Intervensi

Rasionalisasi

NIC:
Pain manajemen
1. Kaji nyeri meliputi
(PQRST).
2. Monitor TTV klien
3. Berikan pasien
posisi nyaman
4. Ajarkan
penggunaan teknik
manajemen nyeri
(l]teknik re;aksasi
naas dalam,
distraksi).
5. Kolaborasi

Nama/
TTD
Kel 31

1. Mengetahui
keadaan nyeri
klien.
2. Mengetahui
keadaan umum
klien.
3. Megurangi
penekanan pada
daerah nyeri
klien.
4. Membantu
megurangi nyeri
pada pasien.
5. Membantu

pemberian analgetik

menguragi

sesuai idikasi

rasanyeri klien.

nyeri (tahu enyebab
nyeri, mampu
menggunakan teknik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri
d. Mampu

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Kel 31

mengenalinyeri
NOC:
Breastfeeding
2

Ketidakcukupan

Establishment:

NIC:

ASI

Maternal
Setelah dilakukan

Lactation counseling

tindakan keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan adanya
produksi ASI, dengan
kriteria hasil:
1. ASI dapat keluar

Nutritional

1. Mengetahui

monitoring

apakah ASI

1. Monitor

sudah keluar

pengeluaran ASI
klien.
2. Monitoring asupan
nutrisi klien
3. Anjurkan kepada

atau belum
2. Mengetahui
intake nutrisi
klien
3. Nutrisi yang

klien untuk

yang cukup dan

meningkatkan

mengandung

4. asupan nutrisi

nilai gizi yang

5. Ajarkan kepada

seimbang sangat

klien tentang cara

bermanfaat

perawatan payudara

dalam

6. Ajarkan kepada
klien tentang teknik
menyusui yang
tepat
7. Lakukan pijat
oksitosin pada klien

meningkatkan
produksi ASI.
4. Perawatan
payudara sangat
penting dalam
meyusui.
5. Mencegah
terjadiinya
kesalahan dalam
menyusui
6. Pijat oksitosin
dapat
bermanfaat
untuk
meningkatkan
produksi ASI

NOC :
-

Immune status

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Klp 31

3

Resiko

infeksi

berhubugan
dengan tindakan
infasiv

Knowledge : Infeksi

control
- Risk control
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3x24 jam

(Episiotomy)

diharapkan tidak terjadi
infeksi, dengan kriteria
hasil:
1. Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
2. Leokosit dalam batas
normal
3. Menun jukan
perilaku hidup sehat

NIC :
-

1. Agar tidak terjadi

Infection control

infeksi yang

1. Monitor tanda dan
gejala infeksi

berkelanjutan
2. Untuk

2. Monitor tanda-tanda

mengetahui

vital

kondisi umum

3. Pertahankan

pasien

lingkungan yang

3. Untuk

aseptic

mnghindari

4. Ajarkan pasien

resiko infeksi

mencuci tangan

yang dapat

yang tepat dan

memperburuk

benar

kondisi pasien

5. Kolaborasi dengan

4. Untuk mencegah

dokter dalam
pemberian obat

resiko infeksi
5. Obat

antibiotik

farmakologi
guna untuk
membantu dalam
penyembuhan

CATATAN PERKEMBANGAN I
Nama klien

: Ny. G

No. Register

: 16516638

Umur

: 21 Th

Diagnosa Medis : PP Spontan dengan KPD 10 jam

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Ruang Rawat : Dahlia

pada Primipara Pre aterm

Alamat
: Bakalan, Boyolali
IMPLEMENT
TANGGAL
JAM
EVALUASI
Dx
ASI
15/05/20 10.30
1. Mengkaji nyeri meliputi
Pukul: 13.30 WIB
NO

1

16

WIB

PQRST
S: Klien mengatakan nyeri
pada luka epiostomy
P: Klien mengatakan
merasa nyeri saat
bergerak, ketika ingin
memggerakkan tubuh
kekanan dan ke kiri dan
ketika ingi mengubah
posisi berbaring ke
posisi duduk.
Q: Klien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk.
R: Klien mengatakan nyeri
di jalan lahir setelah
melahirkan
S: Klien mengatakan skala
nyeri 6
T: Klien mengatakan nyeri
hilang timbul
O: Klien tampak menahan
nyeri saat bergerak

11.00
WIB

S:
1. Klien mengatakan
masih terasa nyeri
pada luka epiostomy
P: Klien mengatakan
merasa nyeri saat
bergerak, ketika
ingin
memggerakkan
tubuh kekanan dan
ke kiri dan ketika
ingi mengubah
posisi berbaring ke
posisi duduk.
Q: Klien mengatakan
nyeri seperti ditusuktusuk.
R: Klien mengatakan
nyeri di jalan lahir
setelah melahirkan
S: Klien mengatakan
skala nyeri 6

2. Memonitor TTV klien
T: Klien mengatakan
S: O:
nyeri hilang timbul
TTV:
O: Klien tampak
TD : 110/70 mmHg
menahan nyeri saat
N : 84x/menit
RR : 20x/menit
bergerak
0
S : 36,5 C
O:
3. Memberikan posisi nyaman
1. TTV
pada klien
TD : 110/70 mmHg
S: Klien mengatakan
N : 86x/menit
nyaman dengan posisi
RR : 20x/menit
S : 36,50C
berbaring terlentang
2. Klien masih tampak
dengan kepala sedikit
menahan nyeri

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

NAMA/
TTD
Klp 31

ditinggikan.
O: Klien tampak berbaring
ditempat tidur dengan
posisi supinasi.
4. Mengajarkan penggunaan

WIB

teratasi
P: Lanjutkan intervensi
1. Kaji nyeri meliputi

dengan teknik relaksasi

PQRST
2. Monitor TTV klien
3. Pertahankan posisi

napas dalam.
S: Klien mengatakan

nyaman pada klien
4. Anjurkan pada

teknik manajemen nyeri
10.05

A: Masalah nyeri belum

bersedia diajarkan teknik

klien dalam

relaksasi napas dalam

menggunakan

untuk mengurangi nyeri.
O: Klien tampak ikut
mempraktikkan teknik
manajemen nyeri dengan
relaksasi napas dalam.
5. Mengelola pemberian
terapi obat analgetik

teknik relaksasi
napas dalam untuk
mengurangi nyeri
5. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik untuk
mengurangi nyeri

ketolorac 30 mg
S: Klien mengatakan
10.10

bersedia diberka injeksi

WIB

obat.
O: Klien mendapat terapi
obat

10.00

analgetik

Asam

mefenamat

WIB
2

15/05/20

11.00

16

WIB

1. Memonitor pengeluaran
ASI klien
S: Klien mengatakan ASI
belum keluar
O: Saat dilakukan

Pukul 13.30 WIB
S: Klien mengatakan ASI
belum keluar
O: Saat dilakukan
pemencetan puting

pemencetan puting tidak

tidak ada ASI yang

11.05

terdapat ASI yang

keluar

WIB

keluar
2. Memonitor asupan nutrisi

A: Masalah

klien

ketidakcukupan ASI

S: Klien mengatakan hanya

belum teratasi

menghabiskan ½ porsi

P: lanjutkan Intervensi

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Klp 31

makan diit RS

1. Monitor

O: Tampak diit RS hanya ½
11.10

porsi yang dihabiskan

WIB

klien.

pengeluaran ASI
klien
2. Monitor asupan
nutrisi klien
3. Anjurkan kepada

3. Menganjurkan kepada klien
untuk meningkatkan

klien untuk

asupan nutrisi

melakukan

S: Klien mengatakan setuju

perawatan

dan akan
11.20

meningkatkatkan asupan

WIB

nutrisi

payudara
4. Lakukan pijat
oksitosin pada

O: Klien tampak paham

klien

4. Mengajarkan kepada klien
tentang cara perawatan
payudara
S: Klien mengatakan
bersedia untuk diajarkan
cara perawatan payudara
O: Klien tampak
memperhatikan
penjelasan dan cara
melakukan perawatan
payudara

3

15/05/2016

11.00

1. Memonitoring tanda

WIB

dan gejala infeksi

Pukul 13.30 WIB

31

S : pasien bertanya

S:

tentang kondisi luka

- Pasien mengatakan sakit

O: -terdapat luka

pada daerah lukanya.

jahitan epiostomi.

- pasien mengatakan

-

Kondisi luka merah belum bisa bergerak

2. Memonitor tanda-

Kelompok

seperti jalan.

tanda vital

O:

S:-

-

Keadaan luka

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

O : TTV :

epiostomi merah

-

TD : 120/90 mmHg

,tidak ada tanda-tanda

-

Nadi : 81x/menit

-

RR : 23x/menit

-

Suhu : 37,5 0C

infeksi
TTV :
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 81x/menit
RR : 23x/menit
Suhu : 37,5 0C

3. Pertahankan

-

-

lingkungan

A : Masalah belum

yang aseptic

teratasi

S:-

P : Lanjutkan intervensi

O : -Menggantikan

1. Monitor tanda dan

sprei yang telah

gejala infeksi

digunakan oleh

2. Monitor tanda-tanda

pasien lain

vital

Mencuci tangan

3. Pertahankan

sebelum dan sesudah

lingkungan yang aseptic

melakukan tindakan

4. Ajarkan pasien

pada pasien

mencuci tangan yang

4. Ajarkan pasien

tepat dan benar

mencuci tangan yang

5. Kolaborasi dengan

tepat dan benar 6

dokter dalam pemberian

langkah 5 moment

obat antibiotik

S: pasien mengatakan
siap mengikuti cara
mencuci tangan
dengaan benar
O : -Pasien mengikuti
cara cuci tangan yang
benar
5. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian obat
antibiotic
S:O:
-

Cefadroxil

-

Asam mefenamat

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

-

Vitamin C

CATATAN PERKEMBANGAN II
Nama klien

: Ny. G

No. Register

: 16516638

Umur

: 21 Th

Diagnosa Medis : PP Spontan dengan KPD 10 jam

Ruang Rawat : Dahlia

1

pada Primipara Pre aterm

Alamat
: Bakalan, Boyolali
NO
IMPLEMENT
TANGGAL
JAM
EVALUASI
Dx
ASI
16/05/20 10.30
1. Mengkaji nyeri meliputi
Pukul: 13.30 WIB
16

WIB

PQRST
S: Klien mengatakan nyeri pada

S:
1.

Klien

luka epiostomy
P: Klien mengatakan merasa

mengatakan nyeri pada

nyeri saat bergerak, ketika

luka epiostomy
P: Klien mengatakan

ingin memggerakkan
tubuh kekanan dan ke kiri
dan ketika ingi mengubah
posisi berbaring ke posisi
duduk tetapi sudah

merasa nyeri saat
bergerak, ketika
ingin
memggerakkan
tubuh kekanan dan

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

NAMA/
TTD
Klp 31

mendingan di bandingkan

ke kiri dan ketika

hari kemarin,

ingi mengubah

Q: Klien mengatakan nyeri

posisi berbaring ke

seperti ditusuk-tusuk.

posisi duduk tetapi

R: Klien mengatakan nyeri di

sudah mendingan di

jalan lahir setelah

bandingkan hari

melahirkan

kemarin,

S: Klien mengatakan skala

Q: Klien mengatakan

nyeri 3

nyeri seperti ditusuk-

T: Klien mengatakan nyeri

tusuk.

hilang timbul
O:
-

R: Klien mengatakan
nyeri di jalan lahir

Klien tampak

setelah melahirkan

menahan nyeri saat
11.00
WIB

-

S: Klien mengatakan

bergerak
Bergerak tampak

sedikit hati-hati
2. Memonitor TTV klien
S: O:
TTV:
TD : 110/70 mmHg
N : 84x/menit
RR : 20x/menit
S : 36,50C
3. Memberikan posisi nyaman

skala nyeri 3
T: Klien mengatakan

mengatakan nyaman
dengan posisi berbaring
terlentang dengan
kepala sedikit

pada klien
3.
S: Klien mengatakan nyaman

WIB

tampak rileks
4. Mengajarkan penggunaan

WIB

relaksasi napas dalam

sedikit ditinggikan.
O: Klien tampak berbaring
posisi supinasi dan pasien

10.10

diajarkan teknik

terlentang dengan kepala

ditempat tidur dengan

ditinggikan.
Klien
mengatakan bersedia

dengan posisi berbaring
10.05

nyeri hilang timbul
Klien

2.

4.

untuk mengurangi nyeri.
Klien
mengatakan bersedia
diberkan obat.

O:

teknik manajemen nyeri

1. Klien tampak menahan

dengan teknik relaksasi

nyeri saat bergerak
2. Bergerak tampak

napas dalam.
S: Klien mengatakan
bersedia diajarkan teknik
relaksasi napas dalam

sedikit hati-hati
3. Klien tampak berbaring
ditempat tidur dengan

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

10.00
WIB

untuk mengurangi nyeri.
O: Klien tampak ikut
mempraktikkan teknik

posisi supinasi dan
pasien tampak rileks
4. Klien tampak ikut

manajemen nyeri dengan

mempraktikkan teknik

relaksasi napas dalam dan

manajemen nyeri

pasien tampak rileks
5. Mengelola pemberian terapi
obat analgetik asam
efenamant
S: Klien mengatakan

dengan relaksasi napas
dalam dan pasien
tampak rileks
5. Klien mendapat terapi
obat analgetik Asam

bersedia diberkan obat.

mefenamat
O: Klien mendapat terapi 6. TD : 110/70 mmHg
N : 84x/menit
obat
analgetik
Asam
RR : 20x/menit
mefenamat
S : 36,50C
A: Masalah nyeri belum
teratasi
P: Lanjutkan intervensi
1. Kaji nyeri meliputi
PQRST
2. Monitor TTV klien
3. Pertahankan posisi
nyaman pada klien
4. Anjurkan pada
klien dalam
menggunakan
teknik relaksasi
napas dalam untuk
mengurangi nyeri
5. Kolaborasi dalam
pemberian
analgetik untuk
mengurangi nyeri
2

15/05/20

11.00

16

WIB

1. Memonitor pengeluaran ASI
klien

Pukul 13.30 WIB
S:

S: Klien mengatakan ASI
keluar tetapi sedikit
O: Saat dilakukan
pemencetan putingkeluar
11.05

Klp 31

ASI sedikit

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

1.

WIB

2. Memonitor asupapan nutrisi
2.

klien
S: Klien mengatakan hanya
menghabiskan 1 porsi
makan diit RS
O: Tampak diit RS hanya 1
porsi yang dihabiskan
11.10
WIB

klien.
3. Menganjurkan kepada klien
untuk meningkatkan asupan

3.

nutrisi
S: Klien mengatakan setuju
dan akan meningkatkatkan
asupan nutrisi untuk
11.20
WIB

mengkatkan ASI
O: Klien tampak paham
meningkatkan asupan
nutrisi
4. Mengajarkan kepada klien
tentang cara perawatan
payudara
S: Klien mengatakan

4.

bersedia untuk diajarkan
cara perawatan payudara
O: Klien tampak
memperhatikan penjelasan
dan cara melakukan
perawatan payudara

O:
1.

Saat
dilakukan pemencetan
putingkeluar ASI
sedikit

2.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Tampak diit

RS hanya 1 porsi yang
3.

dihabiskan klien
Klien
tampak paham
meningkatkan asupan
nutrisi

4.

Klien
tampak memperhatikan
penjelasan dan cara
melakukan perawatan
payudara

A: Masalah
ketidakcukupan ASI
belum teratasi
P: lanjutkan Intervensi
1. Monitor
pengeluaran ASI
klien
2. Monitor asupan
nutrisi klien
3. Anjurkan kepada
klien untuk
melakukan
perawatan
payudara
4. Lakukan pijat
oksitosin pada
3

15/05/2016

11.00

1. Memonitoring tanda dan
gejala infeksi
S:
pasien bertanya tentang
kondisi luka
O:
- terdapat luka jahitan
epiostomi.
- Kondisi luka merah
2. Memonitor tanda-tanda vital
S:
O:
TTV :
TD : 120/90 mmHg

klien
Pukul 13.30 WIB
S:
-

Pasien mengatakan
sakit pada daerah

-

lukanya.
pasien mengatakan
belum bisa bergerak
seperti jalan.

O:
-

Keadaan luka

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

Klpk 31

Nadi : 81x/menit
RR : 23x/menit
Suhu : 37,5 0C
3. Pertahankan lingkungan

epiostomi merah ,tidak
-

mmHgNadi :

yang aseptic
S:
O:
- Menggantikan sprei yang
telah digunakan oleh
-

-

81x/menit
RR : 23x/menit
Suhu : 37,5 0C
Pemberian obat anti
biotik Cefadroxil

pasien lain
Mencuci tangan sebelum

A : Masalah belum

dan sesudah melakukan

teratasi

tindakan pada pasien
4. Ajarkan pasien mencuci
tangan yang tepat dan benar
6 langkah 5 moment
S:
- pasien mengatakan siap
mengikuti cara mencuci
tangan dengaan benar
O:
-

ada tanda-tanda infeksi
TTV :TD : 120/90

Pasien mengikuti cara

cuci tangan yang benar
5. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat

P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda dan
gejala infeksi
2. Monitor tanda-tanda
vital
3. Pertahankan
lingkungan yang
aseptic
4. Ajarkan pasien
mencuci tangan yang
tepat dan benar
5. Kolaborasi dengan
dokter dalam

antibiotic
pemberian obat
S:
antibiotic
O:
6. Hari ini BLPL
- Pemberian obat antibiotik
Lakukan discharge
Cefadroxil
planing tentang
perawatan luka
epiostomy, pijat
oksitosin dan cara
menyusui.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini di bahas tentang asuhan keperawatan pada Ny. G diagnosa medis
PP Spontan dengan KPD 10 jam pada Primipara Pre aterm. Adapun ruang lingkup dari
pembahasan kasus ini adalah sesuai dengan proses keperawatan yaitu mulai dari
pengkajian,

diagnosa

keperawatan,

perencanaan

(intervensi),

pelaksanaan

(implementasi) dan evaluasi.
Pada kasus Ny. G ketika dikaji keluhan yang paling mengganggu pada pasien
Ny. G adalah nyeri. Pada kasus pasien Ny. G dilakukan tindakan asuhan keperawatan
selama 2 x 24 jam .
A. Pengkajian
Proses pengkajian yang dilakukan pada Ny. G dengan PP Spontan dengan KPD
10 jam pada Primipara

Pre aterm dilakukan dengan melakukan observasi, dan

pemeriksaan fisik langsung ke pada pasien Ny. G. Pelaksanaan pengkajian mengacu
pada teori, akan tetapi disesuaikan dengan kondisi pasien Ny. G saat dikaji.
Pada saat dilakukan pengkajian, Ny. G berada di ruangan bangsal setelah
dilakukan

tindakan

post

persalinansehingga

memudahkan

untuk

dilakukan

pemeriksaan fisik dan pelaksanaan asuhan keperawatan. Dari data yang terkumpul
kemudian dilakukan analisa dan identifikasi masalah yang dihadapi oleh klien yang
merupakan data fokus dan selanjutnya dirumuskan diagnosa atau masalah
keperawatan.
Pemeriksaan TTV:
Ku : compos mentis
TD : 120/90 mmHg
Nadi : 81x/menit
RR : 23x/menit
Suhu : 37,5 0C
B. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa yang muncul padaNy. G prioritas diagnosaadalah :
1. Nyeri akut berhubunan dengan agen cedera fisik
2. Ketidakcukupan ASI berhubungandengan
3. Resiko infeksi berhubugan dengan tindakan infasiv (Episiotomy)

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

C. Perencanaan
Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data terkumpul,
dikelompokkan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan
disusun berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi klien.
Setelah masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan pelayanan keperawatan
ditetapkan. Tujuan bisa ditetapkan dalam jangka panjang atau jangka pendek, harus
jelas, dapat diukur dan realistis. Ditegaskan dalam bentuk perubahan, kriteria hasil
sebagai alat ukur pencapaian tujuan yang mengacu pada tujuan yang disusun pada
rencana keperawatan. Pada penyusunan kriteria hasil penulis menyesuaikan dengan
waktu pemberian perawatan yang dilakukan yaitu selama 2x24 jam.
Perencanaan yang dibuat padapasien Ny. G dengan masalah utama nyeri
berhubungan dengan agen cedera fisikpada dasarnya untuk meminimalkan keluhan
yang ada padapasien Ny. G saat itu.
D. Implementasi /Pelaksanaan
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan
pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau
tindakan yang diberikan padapasien Ny. G. Seluruh perencanaan tindakan yang
telah dibuat dapat terlaksana dengan baik.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan
keperawatan atau hambatan yang penulis dapatkan. Hambatan-hambatan tersebut
antara lain, keterbatasan sumber referensi buku sebagai acuan penulis dan juga alat
yang tersedia, pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat ruangan tidak
lengkap sehingga sulit untuk mengetahui perkembangan klien dari mulai masuk
sampai sekarang secara detail, lingkungan fisik atau fasilitas rumah sakit yang
kurang memadai dan keberadaan penulis di ruang tempat klien di rawat terbatas.
Dalam implementasi di atas, perawat hanya melakukan tindakan keperawatan
dalam waktu 2x24 jam.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi
dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data
objektif yang akan menunjukkan apakan tujuan asuhan keperawatan sudah tercapai
sepenuhnya, sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan masalah apa yang
perlu dikaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana
keperawatan,

menilai,

meningkatkan

mutu

asuhan

keperawatan

melalui

perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan standar

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

yang telah di tetapkan lebih dulu.
Adapun evaluasi dari tindakan keperawatan di atas adalah karena tindakan
yang dilakukan hanya 2x24 jam, maka tujuan keperawatan belum tercapai.
F. Keterkaitan teori dengan kasus
Dari pengkajian sampai intervensi terdapat kelainan karena kasus yg ada
dilapangan sebagian tidak sesuai dengan teori yang ada. Disini kelompok membuat
pengkajian berdasarkan kasus yang ada dilapangan tetapi masih mengacu kepada
teori Dari hasil pengkajian dari kasus yang ada ditemukan perbedaan diagnosa .

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi
pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm
(saifudin, 2010).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Ketuban
dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban
pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina serviks
(Bobak, 2009).
Jadi dapat disimpulkan ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum
persalinan dimulai yang ditandai dengan keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi
pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu.
Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas, namun menurut Saifudin (2007)ketuban pecah
dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya
tekanan intrauterine. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
Di kasus kami ini kami menegakan beberapa diagnosa antara lain :
1. Nyeri akut berhubunan dengan agen cedera fisik
2. Ketidakcukupan ASI berhubungandengan
3. Resiko infeksi berhubugan dengan tindakan infasiv (Episiotomy)
B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar meningkatkanpat pengetahuan dan perawatan tentang post
partem dengan KPD (Ketuban Pecah Dini) dan juga meningkatkan kemampuan
dalam membuat asuhan keperawatan yang baik dan benar
2. Bagi Perawat
Diharapkan bagi perawat agar dapat meningkatkan keterampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan serta pengetahuan sehingga dapat memebrikan
asuhakan keperawatan yang optimal khususnya pada ibu post partm dengan KPD
(Ketuban Pecah Dini) dan prawat mampu indikator yang baik bagi pasien dan
keluarga.

Format pengkajian post partum/universitas respati yogyakarta