You are on page 1of 58

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Banjir
Banjir berasal dari aliran limpasan yang mengalir melalui sungai atau
menjadi genangan. Sedangkan limpasan adalah aliran air mengalir pada
permukaan tanah yang ditimbulkan oleh curah hujan setelah air mengalami
infiltrasi dan evaporasi, selanjutnya mengalir menuju ke sungai (Hadisusanto,
2010). Dalam (Suripin, 2004) menerangkan, banjir adalah suatu kondisi dimana
tidak tertampungnya air dalam saluran pembuang (palung sungai) atau
terhambatnya air di dalam saluran pembuang, sehingga meluap mengenai daerah
(dataran banjir) sekitarnya. Selanjutnya dinyatakan bentuk hidrograf banjir pada
suatu daerah tangkapan ditentukan oleh 2 hal yaitu :
1. Karakteristik hujan lebat yaitu didistribusi dari intensitas hujan dalam
waktu dan ruang.
2. Karakteristik daerah tangkapan seperti : luas, bentuk, sistem saluran dan
kemiringan lahan, jenis, dan distribusi lapisan tanah serta struktur geologi
dan geomorfologi.
Disebutkan juga mengenai dataran banjir, definisi dataran banjir adalah
dataran yang luas, dan berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen
akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
Dataran banjir merupakan bagian terendah dari floodplain. Ukuran dan bentuk
dari dataran banjir ini sangat tergantung dari sejarah perkembangan banjir, tetapi
umumnya berbentuk memanjang (elongate). Endapan dataran banjir (floodpain)
biasanya terbentuk selama proses penggenangan/inundations (pencariilmugoresantinta.blogspot.com,2011).
Dataran banjir saat ini sering dimanfaatkan sebagai lahan tempat tinggal
oleh penduduk, sehingga menyulitkan untuk menanggulangi permasalahan
pengaliran air pada beberapa wilayah yang merupakan aliran air alami. Pada
umumnya banjir di perkotaan disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : curah
hujan tinggi, pengaruh fisografi, erosi dan sedimentasi pada saluran,
pendangkalan sungai, kapasitas drainase yang kurang memadai, kawasan kumuh,

6

sampah, alih fungsi lahan, dan perencanaan penanggulangan banjir yang tidak
tepat (Kodoatie dan Sugiyanto, 2002).

2.1.1. Penyebab Banjir

Menurut Kodoatie, dan Sugiyanto (2002), banyak faktor menjadi
penyebab terjadinya banjir. Namun secara umum penyebab terjadinya banjir
dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori, yaitu banjir yang disebabkan oleh
sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan manusia.
Yang termasuk sebab-sebab alami diantaranya adalah:
1. Curah hujan
Indonesia mempunyai iklim tropis sehingga sepanjang tahun
mempunyai dua musim yaitu musim hujan yang umumnya terjadi antara
bulan Oktober sampai bulan Maret, dan musim kemarau yang terjadi
antara bulan April sampai bulan September. Pada musim penghujan, curah
hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan apabila banjir
tersebut melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan.
2. Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan
kemiringan daerah pengaliran sungai (DPS), kemiringan sungai, geometrik
hidrolik (bentuk

penampang seperti

lebar,

kedalaman, potongan

memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai dll. merupakan hal-hal
yang mempengaruhi terjadinya banjir.
3. Erosi dan Sedimentasi
Erosi dan sedimentasi di DPS berpengaruh terhadap pengurangan
kapasitas penampang sungai. Erosi dan sedimentasi menjadi problem
klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya sedimentasi akan mengurangi
kapasitas saluran, sehingga timbul genangan dan banjir di sungai.
4. Kapasitas sungai
Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan
oleh pengendapan yang berasal dari erosi DPS dan erosi tanggul sungai
yang berlebihan dan sedimentasi di sungai yang dikarenakan tidak adanya
vegetasi penutup dan penggunaan lahan yang tidak tepat

7

5. Kapasitas Drainase yang tidak memadai
Hampir semua kota-kota di Indonesia mempunyai drainase daerah
genangan yang tidak memadai, sehingga kota-kota tersebut sering menjadi
langganan banjir di musim hujan.
6. Pengaruh air pasang
Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu
banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan
atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater). Contoh
terjadi di Kota Semarang dan Jakarta. Genangan ini terjadi sepanjang
tahun baik di musim hujan dan maupun di musim kemarau.
Yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah:
1. Perubahan Kondisi DPS
Perubahan DPS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang
kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tata guna lahan lainnya, dapat
memperburuk masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir.
Perubahan tata guna lahan memberikan kontribusi yang besar terhadap
naiknya kuantitas dan kualitas banjir.
2. Kawasan kumuh
Perumahan kumuh yang terdapat di sepanjang sungai, dapat
merupakan penghambat aliran. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai
faktor penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
3. Sampah
Ketidakdisiplinan masyarakat untuk membuang sampah pada tempat
yang ditentukan, umumnya mereka langsung membuang sampah ke
sungai. Di kotakota besar hal ini sangat mudah dijumpai. Pembuangan
sampah di alur sungai dapat meninggikan muka air banjir karena
menghalangi aliran air.
4. Drainase lahan
Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah
bantuan banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung
debit air yang tinggi.

8

5. Bendung dan bangunan air
Bendung dan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat
meningkatkan elevasi muka air banjir karena efek aliran balik (backwater).
6. Kerusakan bangunan pengendali banjir
Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengendali
banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya menjadi tidak
berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.
7. Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat
Beberapa sistem pengendalian banjir memang dapat mengurangi
kerusakan akibat banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin dapat
menambah kerusakan selama banjir-banjir yang besar. Sebagai contoh
bangunan tanggul sungai yang tinggi. Limpasan pada tanggul pada waktu
terjadi banjir yang melebihi banjir rencana dapat menyebabkan keruntuhan
tanggul, hal ini menimbulkan kecepatan aliran air menjadi sangat besar yang
melalui bobolnya tanggul sehingga menimbulkan banjir yang besar.

2.1.2. Daerah Genangan Air
Menurut Kodoatie (2005), akibat adanya peningkatan jumlah
penduduk, kebutuhan infrastruktur terutama permukiman meningkat,
sehingga merubah sifat dan karakteristik tata guna lahan. Sama dengan
prinsip pengendalian banjir perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali
menyebabkan aliran permukaan (run-off) meningkat sehingga terjadi
genangan air. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya genangan-genangan air
di suatu lokasi antara lain:

Dimensi saluran yang tidak sesuai.

Perubahan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan
debit banjir di suatu daerah aliran sistem drainase

Elevasi saluran tidak memadai

Lokasi merupakan daerah cekungan

Lokasi merupakan tempat retensi air yang diubah fungsinya misalnya
menjadi pemukiman. Ketika berfungsi tempat retensi (parkir air) dan

9

belum dihuni adanya genangan tidak menjadi masalah. Problem timbul
ketika daerah tersebut dihuni

Tanggul kurang tinggi

Kapasitas tampungan kurang besar

Dimensi gorong-gorong terlalu kecil sehingga terjadi aliran balik

Adanya penyempitan saluran

Tersumbatnya saluran oleh endapan, sedimentasi atau timbunan
sampah

Terjadi penurunan tanah (land-subsidence)

Perubahan fungsi kawasan bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) sebesar
+ 15% mengakibatkan keseimbangan sungai / drainase mulai terganggu.
Gangguan ini mengkontribusi kenaikan (tajam) kuantitas debit aliran dan
kuantitas sedimentasi pada sungai / drainase. Hal ini dapat diartikan pula bahwa
suatu daerah aliran sungai yang masih alami dengan vegetasi yang padat dapat
diubah fungsi kawasannya sebesar 15 % tanpa harus merubah keadaan alam dari
sungai / drainase yang bersangkutan. Bila perubahannya melebihi 15 % maka
harus dicarikan alternatif pengganti atau perlu kompensasi untuk menjaga
kelestarian sungai / drainase, misalnya dengan pembuatan sumur resapan.

2.1.3. Kerugian Akibat Banjir
Menurut Kodoatie, dan Sugiyanto (2002), kerugian akibat banjir pada
umumnya sulit diidentifikasi secara jelas, dimana terdiri dari kerugian banjir
akibat banjir langsung dan tak langsung. Kerugian akibat banjir langsung,
merupakan kerugian fisik akibat banjir yang terjadi, antara lain robohnya gedung
sekolah, industri, rusaknya sarana transportasi, hilangnya nyawa, hilangnya harta
benda, kerusakan di pemukiman, kerusakan daerah pertanian dan peternakan,
kerusakan sistem irigasi, sistem air bersih, sistem drainase, sistem kelistrikan,
sistem pengendali banjir termasuk bangunannya, kerusakan sungai, dsb.
Sedangkan kerugian akibat banjir tak langsung berupa kerugian kesulitan yang
timbul secara tak langsung diakibatkan oleh banjir, seperti komunikasi,
pendidikan, kesehatan, kegiatan bisnis terganggu dsb.

10

11 . 3. 6. terutama di daerah dataran banjir. Evaluasi dan analisis daerah genangan banjir. sistem pengendalian banjir pada suatu daerah perlu dibuat dengan baik dan efisien. Cara pengendalian banjir dapat dilakukan secara struktur dan non-struktur. 5.1.4. Evaluasi dan analisis daerah pemukiman yang ada maupun perkembangan yang akan datang.2. dengan berbagai cara mulai dari hulu sampai hilir yang mungkin dapat dilaksanakan. Pada penyusunan sistem pengendalian banjir perlu adanya evaluasi dan analisis atau memperhatikan hal-hal yang meliputi : 1. Evaluasi dan analisis tata guna tanah di daerah studi. 4.1. Memperhatikan potensi dan pengembangan sumber daya air mendatang. 2. termasuk data kerugian akibat banjir. dan Sugiyanto (2002). Analisis cara pengendalian banjir yang ada pada daerah tersebut atau yang sedang berjalan. memperhatikan kondisi yang ada dan pengembangan pemanfaatan sumber air mendatang. Memperhatikan pemanfaatan sumber daya air yang ada termasuk bangunan yang ada. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas dapat direncanakan sistem pengendalian banjir dengan menyesuaikan kondisi yang ada. Sistem Pengendalian Banjir (Flood Control System) Menurut Kodoatie.

maka aliran banjir pada salah satu atau semua sungai mungkin akan terhalang. Sugiyanto (2002) A. Sedangkan jika anak sungai arusnya deras dan membawa banyak sedimen mengalir ke sungai utama. Sungai utama akan terdesak oleh anak sungai tersebut. maka pada titik pertemuan. Sistem jaringan sungai Apabila beberapa sungai yang berbeda baik ukuran maupun sifatnya mengalir berdampingan dan akhirnya bertemu.1 Pengendalian banjir dengan metode struktur dan non-struktur Sumber : Kodoatie. Akibat perubahan tersebut. dasarnya akan berubah dengan sangat intensif.Gambar 2. Pengendalian Banjir Metode Struktur Cara-cara pengendalian banjir dalam metode struktur dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. maka terjadi pengendapan berbentuk kipas. Karena itu arus anak sungai dapat merusak tanggul sungai utama di seberang muara anak sungai atau memberikan pengaruh yang kurang menguntungkan bagi bangunan sungai yang terdapat di sebelah hilir pertemuan yang tidak deras arusnya. bentuk pertemuannya akan cenderung bergeser ke arah hulu. Lebar sungai utama pada pertemuan dengan anak sungai cenderung bertambah sehingga sering berbentuk gosong-gosong pasir dan berubah arah arus 12 .

perencanaan alur stabil terhadap proses erosi dan sedimentasi dasar sungai maupun erosi tebing dan elevasi muka banjir.  Pada lokasi pertemuan 2 (dua) buah sungai diusahakan supaya formasi pertemuannya membentuk garis singgung. f. Normalisasi alur sungai dan tanggul Usaha pengendalian banjir dengan normalisasi alur sungai dimaksudkan untuk memperbesar kapasitas pengaliran saluran. Melakukan rekonstruksi bangunan di sepanjang saluran yang tidak sesuai dan mengganggu pengaliran banjir.sungai. Pembuatan tanggul banjir. Kegiatan tersebut meliputi : a. maka pada kedua sungai tersebut diadakan perbaikan. Adapun perbaikannya adalah dengan pembuatan tanggul pemisah diantara kedua sungai tersebut dan pertemuannya digeser agak ke hilir apabila sebuah anak sungai yang kemiringannya curam bertemu dengan sungai utamanya. Normalisasi cross section b. 2. agar resimnya menjadi hampir sama. 13 . Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada cara ini adalah penggunaan penampang ganda dengan debit dominan untuk penampang bawah. perencanaan alur stabil terhadap proses erosi dan sedimentasi dasar saluran maupun erosi tebing dan elevasi muka air banjir. maka pada pertemuan sungai dilakukan penanganan sebagai berikut :  Pada pertemuan 2 (dua) buah sungai yang resimnya berlainan. Memperkecil kekasaran dinding alur saluran d. e. maka dekat pertemuannya dapat dibuatkan ambang bertangga. Pada pengendalian banjir dengan cara ini dapat dilakukan pada hampir seluruh sungai-sungai di bagian hilir. Perbaikan kemiringan dasar saluran c. Menstabilkan alur saluran. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada cara ini adalah penggunaan penampang ganda dengan debit dominan untuk penampang bawah. Pada pekerjaan ini diharapkan dapat menambah kapasitas pengaliran dan memperbaiki alur sungai. Guna mencegah terjadinya hal-hal di atas.

4. Floodway mempunyai head yang cukup. Selain itu pada ruas sungai yang demikian. c. terjadi peningkatan gerusan pada belokan luar dan menyebabkan kerusakan tebing sungai yang pada akhirnya mengancam kaki tanggul. Tidak mengganggu pemanfaatan sumber daya alam. Pembuatan sodetan (Shortcut) Pada ruas sungai yang belok-belokannya (meander) tajam atau sangat kritis. dan berkelok-kelok. Saluran banjir adalah saluran baru yang dibuat untuk mengalirkan air secara terpisah dari saluran utamanya. maka penambahan kapasitasnya dapat dilakukan dengan pembuatan saluran baru langsung ke laut. Saluran banjir dapat mengalirkan sebagian atau bahkan seluruh debit banjir. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan suatu saluran banjir (floodway) adalah : a. e. Pada belokan bagian dalam terjadi pengendapan yang intensif pula. alur jauh. Dampak negatif sosial ekonomi. agar pada ruas tersebut alur sungai mendekati garis lurus dan lebih 14 . Terdapat alur alam untuk jalur floodway. danau. Untuk mengurangi keadaan yang kurang menguntungkan tersebut perlu dipertimbangkan pembuatan alur baru. normalisasi floodway. Head alur lama tidak menguntungkan. atau saluran lain. Saluran baru ini disebut saluran banjir (floodway). b. f. Pembuatan alur pengendali banjir (Floodway) Ketika debit banjir terlalu besar dan tidak dimungkinkan peningkatan kapasitas tampung saluran diatas kapasitas yang sudah ada.3. Saluran banjir ini dibuat dengan berbagai tujuan antara lain menghindarkan pekerjaan saluran pada daerah pemukiman yang padat atau untuk memperpendek salah satu ruas saluran. Biasanya saluran banjir dilengkapi dengan pintu atau bendung untuk membagi debit sesuai dengan rencana. d. maka tanggul yang akan dibangun biasanya akan lebih panjang. Perencanaan floodway meliputi : pembagian jalur floodway. Normalisasi alur alam biasanya mengalami kesulitan lahan. Alur sungai yang panjang dan mempunyai kondisi seperti di atas menyebabkan kelancaran air banjir menjadi terganggu. dan bangunan pembagi banjir.

Mengkonsentrasikan arus sungai dan memudahkan penyadapan.pendek. Mempertahankan lebar dan kedalaman air pada alur sungai. Dengan adanya sodetan akan terjadi hidrograf banjir antara bagian hulu dan hilir sodetan. saluran-saluran. Sungai baru seperti itu disebut sodetan. sepanjang tanggul drainase. Mengatur arah arus sungai. Pengelolaan DAS mencakup aktivitasaktivitas berikut ini : 1) Pemeliharaan vegetasi di bagian hulu DAS. Contoh aktivitas penanganan tanpa bangunan adalah sebagai berikut : 1. b. Groyne (tanggul tangkis/tanggul banjir) Tanggul tangkis sering juga disebut groyne atau krib. Kegiatan penggunaan lahan dimaksudkan untuk menghemat dan menyimpan air dan konservasi tanah. sehingga akan menguntungkan daerah di bagian hulunya. B. Pengendalian Banjir Metode Non-Struktur Analisis pengendalian banjir dengan tidak menggunakan bangunan pengendali akan memberikan pengaruh cukup baik terhadap resim sungai. pelaksanaan. Mengurangi kecepatan arus sungai sepanjang tebing sungai. 5. Tujuan dilakukannya sodetan ini antara lain : a. Krib adalah bangunan yang dibuat mulai dari tebing sampai ke arah tengah untuk mengatur arus sungai dan tujuan utamanya adalah sebagai berikut : a. dan pelatihan. b. 3) Pemeliharaan vegetasi alam atau penanaman vegetasi tahan air yang tepat. Pengelolaan DAS Pengelolaan DAS berhubungan erat dengan peraturan. dan menjamin keamanan tanggul/tebing terhadap gerusan. d. dan daerah lain untuk pengendalian aliran yang berlebihan atau erosi tanah. c. Sodetan ini akan menurunkan muka air di sebelah hulunya tetapi muka air di sebelah hilirnya biasanya naik sedikit. 15 . Perbaikan alur sungai yang pada mulanya panjang dan berbelok-belok dan tidak stabil menjadi lebih pendek dan lebih lurus. memperkecil sedimentasi. 2) Penanaman vegetasi untuk mengendalikan kecepatan aliran air dan erosi tanah.

sehingga tidak menimbulkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. ditujukan untuk mengatur penggunaan lahan. Faktor pengelolaan penanaman memberikan andil yang paling besar dalam mengurangi laju erosi. Menekan laju erosi DAS yang berlebihan. Pengembangan Daerah Banjir Ada 4 (empat) strategi dasar untuk pengembangan daerah banjir yang meliputi: a. sesuai dengan rencana pola tata ruang wilayah yang ada. 2.4) Mengatur secara khusus bangunan-bangunan pengendali banjir (misal : check dam) sepanjang dasar aliran yang mudah tererosi. Pada dasarnya pengaturan penggunaan lahan di daerah aliran sungai dimaksudkan untuk : 1. Pengendalian Erosi Sedimen di suatu potongan melintang sungai merupakan hasil erosi di daerah aliran di hulu potongan tersebut dan sedimen tersebut terbawa oleh aliran dari tempat erosi terjadi menuju penampang melintang itu. 16 . yaitu berdasarkan kajian supply limited dari DAS atau kapasitas transport dari sungai. Hal ini untuk menghindari penggunaan lahan yang tidak terkendali. 3. Pengertian ini secara lebih spesifik menyatakan bahwa dengan pengelolaan tanaman yang benar sesuai kaidah teknis berarti dapat menekan laju erosi yang signifikan. sehingga mengakibatkan kerusakan daerah aliran sungai yang merupakan daerah tadah hujan. sehingga dapat memperkecil laju sedimentasi pada alur sungai di bagian hilir. Pengaturan Tata Guna Lahan Pengaturan tata guna lahan di daerah aliran sungai. 5) Pengelolaan khusus untuk mengantisipasi aliran sedimen yang dihasilkan dari kegiatan gunung berapi. Jenis dan kondisi semak (bush) dan tanaman pelindung yang bisa memberikan peneduh (canopy) untuk tanaman di bawahnya cukup besar dampaknya terhadap laju erosi. 2. Memperbaiki kondisi hidrologis DAS. 2. Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan). Oleh karena itu kajian pengendalian erosi dan sedimentasi juga berdasarkan kedua hal tersebut di atas.

dan pengawasan secara keseluruhan aktivitas di daerah dataran banjir yang diharapkan berguna dan bermanfaat untuk masyarakat di daerah tersebut.2. Drainase juga merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan infrastruktur. Drainase yang berasal dari kata to drain yang berarti 17 .2. yaitu memperhatikan keuntungan individu ataupun masyarakat sehubungan dengan biaya yang dikeluarkan. implementasi. pelaksanaan. Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau normalisasi sungai. Pemahaman Umum Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air (sungai. Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan. 4. Pengaturan Daerah Banjir Pada kegiatan ini dapat meliputi seluruh kegiatan dalam perencanaan dan tindakan yang diperlukan untuk menentukan kegiatan. 2. Drainase 2. Meminimumkan korban jiwa. zoning hanya merupakan salah satu cara pengaturan dan merupakan bagian dari manajemen daerah dataran banjir. kerugian maupun kesulitan yang diakibatkan oleh banjir yang akan terjadi.1. Demikian pula antara flood plain zoning dan flood plain regulation. dalam rangka menekan kerugian akibat banjir. Manajemen daerah dataran banjir pada dasarnya bertujuan untuk : 1. laut) atau ke bangunan resapan buatan. c. revisi perbaikan rencana. bahwa menajemen di sini dimaksudkan hanya untuk pengaturan penggunaan lahan (land use) sehubungan dengan banjir dan flood control untuk pengendalian mengatasi secara keseluruhan. 2. Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi dan penghindaran banjir (flood proofing). d.b. danau. Merupakan suatu usaha untuk mengoptimalkan penggunaan lahan di daerah dataran banjir dimasa mendatang. Kadang-kadang kita dikaburkan adanya istilah flood plain management dan flood control.

sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.2.mengeringkan atau mengalirkan air. Karena manusia sebagian besar hidupnya bergantung pada ketersediaan air. Drainase juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas. kemajuan dari berbagai sektor menyebabkan kegiatan manusia semakin bervariasi sehingga menghasilkan limbah buangan yang dapat mengganggu. Dari siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia bermukim. kawasan pemerintahan. termasuk penanganan genangan yang terjadi pada daerah perkotaan yang mempunyai ketinggian muka tanah di bawah muka air laut maupun muka air banjir pada saluran/sungai pengendali banjir. kawasan dagang (pusat ekonomi). Selanjutnya dijelaskan Ilmu drainase pada awalnya muncul dari keinginan manusia untuk hidup dekat dengan sumber air untuk memenuhi kebutuhan pokok. serta tempat-tempat lainnnya yang merupakan bagian dari sarana kota. Bermula dari kesadaran akan kebersihan dan kenyamanan maka orang mulai mencari cara melindungi daerah aktivitasnya dari air berlebih dan air limbah dengan sistem dan jaringan drainase perkotaan. Selain itu. yaitu merupakan suatu sistem pengeringan serta pengaliran air genangan (banjir) akibat adanya hujan lokal (hanya terjadi di kota tersebut) dari wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman. Dengan telah dikembangkannya ilmu drainase dan berbagai kemajuan di bidang hidro tidak menutup kemungkinan masih terjadinya masalah-masalah yang berkaitan dengan drainase. membuang. untuk kemudian dialirkan ke laut atau saluran pengendali banjir. atau mengalirkan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan. Drainase menurut Suripin (2004) mempunyai arti menguras.2. sehingga mengganggu kehidupan manusia itu sendiri. Drainase Perkotaan Menurut Suripin (2004) pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada suatu kawasan perkotaan. pada suatu waktu selalu terjadi kondisi ketersediaan air yang berlebih. pusat pendidikan (sekolah/kampus). 2. salah satunya adalah genangan air (banjir) pada sistem 18 .

dan timbunan sampah. Adanya penyempitan saluran. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya genangan air di suatu lokasi antara lain : 1. b. c. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal. Ketika berfungsi sebagai tempat retensi (parkir alir) dan belum dihuni. dan bangunan yang ada. Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah : 19 . masalah akan muncul. maka drainase di masing-masing kawasan merupakan komponen yang saling terkait dalam suatu jaringan drainase perkotaan dan membentuk satu sistem drainase perkotaan. 10. 5. Tujuan Utama dan Arahan Pelaksanaan Sistem Drainase Menurut Suripin (2004) tujuan adanya sistem drainase antara lain : a. Mengalirkan air lebih dari suatu kawasan yang berasal dari air hujan maupun air buangan. Perubahan tata guna lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan debit banjir di suatau daerah aliran sistem drainase. 7. 6. 4. sedimentasi. Kapasitas tampung kurang besar. adanya genangan tidak menjadi masalah. d.2. 2. Lokasi merupakan daerah cekungan. 8. Karena suatu kota terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air tanah. 2. Dimensi gorong-gorong terlalu kecil sehingga aliran balik (backwater). kerusakan jalan. Tanggul kurang tinggi. sedangkan ketika berubah fungsi menjadi pemukiman. agar tidak terjadi genangan yang berlebihan (banjir) pada suatu kawasan tertentu.3. Dimensi saluran yang tidak sesuai. Mengendalikan erosi tanah.atau jaringan drainase di perkotaan. Tersumbatnya saluran oleh endapan. Lokasi merupakan tempat retensi air yang diubah fungsinya (misal : pemukiman). Elevasi saluran tidak memadai. 3. 9.

d.2. Sistem Drainase Mikro Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2. Sistem drainase untuk lingkungan pemukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro. kanal-kanal atau sungai-sungai. salurn/selokan air hujan di sekitar bangunan. Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis. Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharaannya. Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat. 2.4. f. gorong-gorong. c. b. 2. Perencanaan drainase makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang Antara 5 sampai 25 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini. yaitu : 20 . Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada. saluran drainase kota. yaitu : 1.a. Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (mayor sistem) atau drainase primer. Pembagian Sistem Drainase Menurut Kodoatie (2013). Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat. Selanjutnya Subarkah (1990) juga membagi saluran sungai menjadi 3 bagian. sistem jaringan drainase perkotaan umumnya dibagi atas 2 bagian. Sistem jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer. dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampung tidak terlalu besar. 5 atau 10 tahun tergantung pada tata lahan yang ada. Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana. e. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase adalah saluran di sepanjang sisi jalan. Sistem Drainase Makro Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Cathment Area).

yaitu: a. pasar. Banjir yang terjadi pada saluran tersier bersifat setempat. dibuat pada daerah dimana masih cukup tersedia pola lahan serta bukan merupakan daerah yang sibuk (pertokoan. Saluran Drainase Tersier Fungsi saluran tersier adalah untuk meneruskan pengaliran air buangan maupun air limpasan permukaan menuju ke pembuangan sekunder. Saluran Drainase Sekunder Fungsi dari saluran sekunder adalah untuk menampung air drainase tersier serta limpasan air permukaan yang ada untuk diteruskan ke drainase utama (sungai). ekonomi. 3. Berdasarkan konstruksi saluran drainase dibedakan menjadi 2 macam. sedangkan banjir pada saluran sekunder dan saluran pembuangan utama akan membawa dampak yang luas bagi kehidupan masyarakat yang menyangkut social. dan pada daerah yang lalu lintasnya padat. dan sebagainya). Saluran terbuka. b. Saluran tertutup. Saluran Drainase Utama/Primer Saluran yang berfungsi sebagai pembuangan utama/primer adalah sebagai sungai/tukad yang ada di wilayah perencanaan yang cukup berpotensi untuk menampung dan mengalirkan air buangan dari saluran sekunder serta limpasan permukaan yang ada pada daerah tangkapan sungai tersebut. dengan batas-batas yang sesuai dengan topografi. dapat dipertimbangkan pemakaiannya ditempat-tempat yang produksi sampahnya melebihi rata-rata.1. seperti: pasar. Selain itu sistem drainase juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar drainase bagi kawasan hunian dan kota serta menunjang kebutuhan pembangunan dalam menunjang terciptanya scenario pengembangan kota 21 . terminal. 2. maupun kesehatan. Data mengenai kondisi saluran tersier tidak begitu banyak diperlukan dalam perencanaan sistem pembuangan air hujan. pertokoan. Sungai-sungai yang berfungsi sebagai pembuangan utama yang ada di wilayah studi perlu untuk diketahui jumlahnya dan masing-masing sungai akan terbentuk sistem drainase dan pola aliran tertentu.

2. Drainase alamiah (natural drainage) Adalah sistem drainase yang terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan manusia. 2009). c. karena tidak mengandung partikel-partikel atau zat-zat yang merugikan. Menurut jenis buangannya. Menurut sejarah terbentuknya. yaitu : a. yaitu : 1. 2. Drainase permukaan tanah (surface drainage) Adalah saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Drainase air hujan (storm water drainage) Drainase air hujan terletak di atas permukaan tanah. Drainase bawah tanah (sub surface drainage) Yaitu saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa). Drainase air limbah (sewer drainage) Drainase air limbah terletak di bawah permukaan tanah. Jenis-Jenis Sistem Drainase Ada beberapa jenis-jenis sistem drainase dibedakan berdasarkan beberapa hal (Kusumo dan Kurnia. Karena untuk air limbah yang mengandung partikel-partikel atau zat-zat yang merugikan harus dibuat sistem drainase tersendiri di bawah permukaan tanah. 2. Analisa alirannya merupakan analisa open channel flow. drainase terbagi menjadi 2. Menurut letak salurannya. yaitu : 1. drainase dibagi menjadi 2. yaitu : 1.2. untuk menentukan debit akibat hujan. dan dimensi saluran.untuk kawasan andalan dan menunjang sector unggulan yang berpedoman pada Rencana Umum Tata Ruang Kota. drainase terbagi menjadi 2. agar tidak mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup lainnya. Air hujan yang turun ke bumi masih dapat digunakan untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.5. 2. Drainase buatan (arficial drainage) Adalah sistem drainase yang dibentuk berdasarkan analisis ilmu drainase. b. dikarenakan alasan- 22 .

namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. antara lain : 1. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi seperti kota metropolitan dan kotakota besar lainnya. Saluran tertutup Yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. 1997). yaitu : 1.alasan tertentu. Saluran terbuka Yaitu sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah). Pada pinggiran kota. baik secara bercampur maupun bergantian. taman. 2. Menurut konstruksinya. Sungai sebagai saluran pembuangan akhir berada di tengah kota. 23 . pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata. drainase terbagi menjadi 2. lapangan terbang.6. yaitu : 1. Pola jaringan Drainase Pola jaringan drainase terdiri dari 6 (enam) macam (Karmawan. Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton. d.2. e. Menurut fungsinya. Saluran terbuka dibuat pada daerah dimana masih cukup tersedia lahan serta bukan merupakan daerah sibuk. Siku Digunakan pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi daripada sungai. saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik. Single Purpose Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja. tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran di permukaan tanah seperti sepak bola. 2. 2. dan lain-lain. Multi Puspose Yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis buangan. drainase terbagi menjadi 2.

apabila terjadi perkembangan kota. saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri. Bangunan-bangunan Sistem Saluran Drainase Bangunan-bangunan dalam sistem drainase adalah bangunanbangunan struktur dan bangunan-bangunan non-struktur. dan cocok untuk daerah dengan topografi datar. 6. 2. 5. Dengan saluran cabang (sekunder) yang cukup banyak dan pendek-pendek. Pararel Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Alamiah Pola jaringan alamiah sama seperti pola siku. Bangunan-bangunan sistem saluran drainase dan pelengkapnya terdiri atas: 1. Radial Pola jaringan radial terjadi pada daerah berbukit. Bangunan-Bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya Menurut Suripin (2004). 4. Saluran ini biasa dijumpai pada daerah dengan topografi yang cenderung datar dan terletak jauh dari sungai dan danau. bangunan terjunan. Contoh bangunan struktur adalah: rumah pompa. bangunan tembok penahan tanah. hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar. Grid Iron Pola jaringan ini terjadi pada daerah dimana sungai terletak di pinggir kota.2.2. Bangunan Struktur Bangunan struktur adalah bangunan pasangan disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu.7. a. sehingga pola aliran memencar ke segala arah. Jaring-jaring Pola ini mempunyai saluran-saluran pembuang yang mengikuti arah jalan raya. b. Bangunan Non-Struktur 24 . dan jembatan. 3. saluran-saluran cabang dkumpulkan terlebih dahulu pada saluran pegumpul.

Bangunan non-struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa pasangan. dan baja. Adapun bangunanbangunan pelengkap sistem drainase antara lain : a. karena pada kondisi tersebut berpotensi terjadi pengikisan atau erosi dinding saluran yang berakibat pengendapan (sedimentasi) dan berujung pada berjurangnya kapasitas saluran. manhole. Gorong-gorong (culvert) Gorong-gorong adalah saluran tertutup (pendek) yang mengalirkan air melewati jalan raya. alumunium. Dasar bak kontrol harus lebih dalam dari dasar saluran lainnya dimaksudkan apabila terdapat endapan lumpur agar lebih mudah dibersihkan dan sebagai peredam energi akibat kecepatan pengaliran. jalan kereta api. bak kontrol juga dibuat pada saluran yang berbelok. Street Inlet Yang dimaksudkan dengan street inlet adalah lubang di sisi-sisi jalan yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang 25 . b. tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu yang biasanya berbentuk siap pasang. Bak kontrol umumnya memiliki penutup dari beton bertulang dengan besi pegangan agar lebih mudah dibuka. Bangunan Pelengkap Sistem Drainase Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk melengkapi suatu sistem saluran untuk fungsi-fungsi tertentu. Bak Kontrol Merupakan salah satu bangunan pelengkap drainase berupa bak kecil yang biasa dibuat pada pertemuan saluran sekunder. atau timbunan lainnya. Gorong-gorong biasanya dibuat dari beton. c. Tanpa pasangan (saluran tanah dan saluran tanah berlapis rumput). Inlet Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar. street inlet). Contoh bangunan non-struktur adalah : Pasangan (saluran cecil tertutup. 2. maka dibuat suatu konstruksi khusus yaitu inlet. d. tembok talud saluran. Disamping itu. Inlet harus diberi saringan agar sampah tidak masuk ke dalam saluran tertutup.

Sebaiknya dalam merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan menggunakan 26 . maka pada jenis penggunaan saluran terbuka tidak diperlukan street inlet. Sesuai dengan kondisi dan penempatan saluran serta fungsi jalan yang ada. Catch basin dibuat pada setiap persimpangan jalan. Peletakan street inlet mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut:  Diletakkan pada tempat yang tidak memberikan gangguan terhadap lalu lintas. Shipon Shipon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai. karena ambang bebas.1) Dimana : e. Shipon dibangun lebih kebawah dari penampang sungai. g. f. menggunakan rumus : =√ . (2.  Ditempatkan pada daerah yang rendah. D = jarak antar street inlet (m) S = kemiringan (%) W = lebar jalan (m) Cacth Basin Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup dan air mengalir bebas di atas permukaan tanah menuju catch basin. pada tempat-tempat yang rendah (tempat parkir).  Jumlah street inlet harus cukup untuk dapat menangkap limpasan air pada jalan yang bersangkutan dengan spacing. Headwall Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi. karena tertanam di dalam tanah maka pada waktu pembuatannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan ataupun kerusakan konstruksi.  Limpasan yang masuk ke street inlet harus dapat secepatnya menuju ke arah saluran.berada di sepanjang jalan menuju ke dalam saluran.

8. dan dapat dimasuki oleh orang dewasa. dan sempadan. kolam tandon. Lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis. yang pada prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya banyak meresap ke dalam tanah dan tidak terbuang sebagai aliran. studi kelayakan. Tahap Perencanaan Tahap perencanaan drainase perkotaan meliputi : a) Tahapan dilakukan melalui pembuatan rencana induk. Manhole Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup di setiap saluran diberi manhole. dan perencanaan detail dengan penjelasan sebagai berikut :  Studi kelayakan dapat dibuat sebagai kelanjutan dari pembuatan rencana induk.2. perencanaan system drainase meliputi : 1. Manhole dibuat pada setiap pertemuan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan sumber daya air. h. perubahan dimensi.  Perencanaan detail perlu dibuat sebelum pekerjaan konstruksi drainase dilaksanakan.shipon. 2. antara lain membuat : bangunan resapan buatan. perubahan bentuk selokan. atau setiap jarak 10-25 m. penataan landscape. b) Drainase perkotaan di kota besar perlu direncanakan secara menyeluruh melalui tahapan rencana induk. c) Drainase perkotaan di kota sedang dan kota kecil dapat direncanakan melalui tahapan rencana kerangka sebagai pengganti rencana induk. dan sebaiknya saluran yang debitnya lebih tinggi tetap dibuat shipon dan saluran drainase yang dibuat berupa saluran terbuka atau gorong-gorong. 2. cukup. Perencanaan Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai prasarana kota yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Perencanaan Sistem Drainase Menurut Suripin (2004). 27 . Biasanya lubang manhole berdiameter 60 cm dengan tutup dari beton bertulang atau besi.

hidrologi. morfologi. Hujan Menurut Hadisusanto (2010). sifat tanah. 3) Data daerah pengaliran sungai atau saluran meliputi topografi. 4) Kependudukan. 2) Geoteknik. 6) Sosial ekonomi. 4) Data prasarana dan fasilitas kota yang telah ada dan yang direncanakan. merupakan data tambahan yang digunakan dalam perencanaan drainase perkotaan yang sifatnya menunjang dan melengkapi data primer. geometri dan dimensi saluran. Hidrologi 2. Hujan turun ke permukaan bumi selalu didahului dengan adanya pembentukan awan.1. 2. 3) Pembiayaan.d) Data dan Persyaratan Perencanaan sistem drainase perkotaan memerlukan data dalam persyaratan sebagai berikut :  Data primer. sistem. 7) Peran serta masyarakat. lama.3. kedalaman rata-rata dan frekuensi genangan. karena adanya penggambungan uap air yang ada di atmosfer melalui proses 28 . 2) Data keadaan fungsi. Hujan adalah titik-titik air yang jatuh dari awan melalui lapisan atmosfer ke permukaan bumi secara proses alam.  Data sekunder. sungai. tata guna lahan. merupakan data dasar yang dibutuhkan dalam perencanaan yang diperoleh baik dari lapangan maupun dari pustaka. dan sebagainya. terdiri atas : 1) Rencana pengembangan kota.3. 5) Institusi/kelembagaan. 8) Keadaan kesehatan lingkungan pemukiman. mencakup : 1) Data permasalahan dan data kuantitatif pada setiap lokasi genangan atau atau banjir yang meliputi luas.

yang pada akhirnya es jatuh dari awan ke permukaan bumi berbentuk es. hujan yang tercatat di masing-masing stasiun tidak sama. Jatuhnya butir-butir es melalui awan ini akan mengakibatkan butir-butir es dapat terus tumbuh dengan proses kondensasi dan bergabung dengan butir-butir yang lain. stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik mana stasiun tersebut berada. maka terbentuklah butir – butir air yang bila lebih berat dari gravitasi akan jatuh berupa hujan. maka titik uap air akan cenderung menyublim langsung diatas kristal es. dan metode Isohiet. Apabila pada suatu daerah terdapat lebih dari satu stasiun pengukur yang ditempatkan secara terpencar. maka es akan mencair dan jatuh sebagian hujan. metode rerata aritmatik. tekanan air diatas Kristal akan menurun lebih cepat dibandingkan suhu diatas air yang didinginkan Antara suhu -5°C dan -25°C. metode polygon Thiessen. Sehingga apabila Kristal es dan butir-butir uap air yang didinginkan berada secara bersamaan terjadi di awan. Teori ini mengemukakan bahwa pada kondisi udara dibawah suhu 0° C. Apabila suhu udara di bawah awan lebih tinggi dari titik beku es.2.2. Selanjutnya kristal es tersebut akan terbentuk menjadi lebih besar oleh adanya endapan uap air. Perhitungan Hujan Rata-Rata Menurut Triatmodjo (2008). sehingga hujan pada suatu luasan harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Proses terjadinya hujan menurut teori Kristal Es secara garis besar dapat diterangkan dengan teori “Bergaron” yang dikemukakan oleh seorang ahli meteorologi dari Skandinavia untuk mempelajari proses teori Kristas Es sekitar tahun 1930. a) Metode rerata aritmatik (aljabar)  P2  P1  P3 Gambar 2. yang dapat dilakukan dengan tiga metode berikut yaitu. Dalam analisis hidrologi sering diperlukan untuk menentukan hujan rerata pada daerah tersebut.3. Mengukur Tinggi Curah Hujan Metode Aljabar 29 .kondensasi. 2.

Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun terdekat.3.P3…. Mengukur Tinggi Curah Hujan Metode Poligon Thiesen Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang mewakili luasan di sekitarnya. (2.3. Pengukuran yang dilakukan di beberapa stasiun dalam waktu yang bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan jumlah stasiun.…. P= (2. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak merata.2) 30 . Perhitungan polygon Thiessen adalah sebagai berikut : P= . sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun mewakili luasan tersebut.2..P2.…. Metode rerata aljabar memberikan hasil yang baik apabila : - Stasiun tersebar secara merata di DAS - Distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS Hujan rerata pada seluruh DAS diberikan oleh bentuk berikut : Dimana : ..1) P = hujan rerata kawasan P1.n n = jumlah stasiun b) Metode Thiessen P1 A2 A1 A3 P2 r P3 Gambar 2.…. Stasiun hujan yang digunakan dalam hitungan biasanya adalah yang berada di dalam DAS. Hitungan curah hujan rerata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari setiap stasiun..Metode ini adalah yang paling sederhana untuk menghitung hujan rerata pada suatu daerah.Pn = hujan pada stasiun 1. . tetapi stasiun di luar DAS yang masih berdekatan juga masih bisa diperhitungkan.

3..A2.3.….…Pn = hujan pada stasiun 1.….3.Dimana : P = hujan rerata kawasan P1.3) (2. P= . n dan n+1 2..3.…n c) Metode Isohyet A4 A3 A1 A2 P1 P4 P3 P2 Gambar 2. 2 dan 3.4) A1.n+1 ) (2.. Pada metode isohyet.A3.3. Secara matematis hujan rerata tersebut dapat ditulis : .An = luas daerah yang dibatasi oleh garis isohyet ke 1 dan 2.…n A1. Mengukur Tinggi Curah Hujan Metode Isohyet Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan yang sama. dianggap bahwa hujan pada suatu daerah diantara dua garis isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rerata dari kedua garis isohyet tersebut.….In = garis isohyet ke 1.….A2.I2.n.4. agar tidak terjadi kesalahan data maka interprestasi data hujan perlu dilakukan.2. hal ini disebabkan sering dijumpai trend (penyimpangan data hujan) yang diakibatkan: 31 .I3.…An = hujan daerah stasiun 1.2.. Interprestasi Data Hujan Menurut Hadisusanto (2010).P2. Atau Dimana : P= ∑ ( ( ) P = hujan rerata kawasan I1.….2.

Pn = hujan pada saat yang sama dengan hujan yang (2.3.P2. Data pencatat hujan hilang dsb. Pengamat stasiun hujan berhalangan.4. Alat ukur hujan rusak.5) diperkirakan pada stasiun 1. Perkiraan Data Hujan yang Hilang Menurut Hadisusanto (2010). Metode Perbandingan Normal Jika pencatatan pada tahun tertentu terdapat data yang hilang. Metode perbandingan normal (Normal ratio method) 2. P1.4. dalam praktek lapangan sering dijumpai data hujan yang tidak lengkap. Metode Inversed square distance 2. 2.n 32 .P3.3. Dengan demikian untuk koreksi penyimpangan data tersebut perlu dilakukan analisa “Double Mass Curve Test” dengan cara membandingkan akumulasi hujan tahunan yang dikoreksi dengan akumulasi hujan rata-rata tahunan di sekitarnya.1.2. b.. 3. 2+ . Perubahan iklim. 3+. NA = jumlah hujan tahunan normal pada stasiun A. 2.1... Perubahan lingkungan. Untuk mengisi data hujan yang hilang dapat dilakukan dengan beberapa cara. Perubahan system pencatatan data hujan. 1+ . sedang stasiun lain di sekitarnya terdapat data pencatatan hujan waktunya panjang maka untuk memperkirakan data hujan yang hilang dapat digunakan cara “Metode Perbandingan Normal” yaitu: = ( Dimana: . … + . hal ini disebabkan oleh banyak sebab antara lain: a.3. tetapi pada sub-bab ini hanya dibahas cara yang sering digunakan untuk perencanaan hidrologi yaitu: 1. ) PA = hujan yang diperkirakan pada stasiun A. 4. c. Perubahan letak stasiun hujan.

…n = jarak dari stasiun X ke masing-masing stasiun hujan A. dimana stasiun hujan tersebut dikelilingi oleh beberapa stasiun hujan yang lain. Untuk perencanaan gorong-gorong. Jadi sebagai hujan rencana kita tetapkan curah hujan dengan masa ulang tertentu.PC. maka untuk memperkirakan data hujan yang hilang dapat dilakukan dengan perhitungan metode “Inversed Square Distance” sebagai berikut: = .. (2. dimungkinkan sifatnya tidak panggah (inconsistent).6) PX = hujan yang diperkirakan pada stasiun X (mm). 2.5. karena data di dalamnya berasal dari populasi yang berbeda. b. PA. 2.2. . A.3.4. Metode Inversed Square Distance Apabila terdapat data hujan yang hilang pada stasiun hujan tertentu.N (km). yaitu : 33 . bending.PB.5.N1.3. dan sebagainya di dalam sungai. ketidakpanggahan data dapat saja terjadi karena beberapa penyebab. jembatan.3.1. .Nn = jumlah hujan tahunan normal stasiu yang berdekatan. Dimana: ..N2.… . yang diperlukan ialah besarnya puncak banjir yang harus disalurkan melalui bangunan tersebut.PN = jarak hujan pada stasiun mengelilingi stasiun hujan X (mm). Consistency Test (Uji Kepanggahan) Satu seri data hujan untuk satu stasiun tertentu. Hujan Rencana Menurut Subarkah (1990). Data semacam ini tidak langsung dapat digunakan dalam analisis.… .B. 2..C. dengan menetapkan curah hujan rencana. Banjir rencana harus ditentukan berdasarkan curah hujan.N3.. c.

05 1.10) (2..42 1.7 40 1.26 1.29 1.36 1.1.44 1.62 1.22 1.27 1.21 1. Persamaannya adalah sebagai berikut : (Sri Harto.5 1.5 1.22 1.6 30 1.1 Nilai Q/√n dan R/√n Q/√n n R/√n 90% 95% 99% 90% 95% 99% 10 1.5 1.55 1.12 1.86 1.78 100 1.8) .24 1.14 1.4 1.43 1.12) Tabel 2.62 1. dimana 0 ≤ k ≤ n (2. misalnya semula dipasang pada tempat yang ideal kemudian berubah karena adanya bangunan dan pohon besar yang terlalu dekat dengan penempatan alat. c) Lingkungan di sekitar alat berubah.9) Q = max|Sk**| .n (2.10 1.29 1.46 1. 1993) So ∗= 0 ∗= 0 ∑ = ∗∗= ∑( (2.17 1.13 1.74 50 1.34 1.75 2 Sumber : Sri Harto.63 1. dengan k = 0.55 1.52 1. 1993 34 . dimana 0 ≤ k ≤ n Nilai statistic Q (2.….53 1.7) ( ) ∗/ − ) . n (2. akan tetapi secara administrative nama stasiun tidak diubah. dengan k = 1.….11) Nilai Statistik R (Range) R = Sk** max – Sk** min.38 20 1.14 1.a) Alat ukur yang diganti dengan spesifikasi yang berbeda atau alat dipasang dengan patokan yang berbeda. b) Alat ukur dipindahkan dari tempat semula.42 1. Metode yang digunakan untuk pengujian data yaitu metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums) yaitu pengujian dengan menggunakan data hujan tahunan rata-rata dari stasiun yang sudah ditetapkan dengan melakukan pengujian kumulatif penyimpangan kuadrat terhadap nilai reratanya.28 1.

Menghitung parameter-parameter statsitik Cs dan Ck.∑( )( ) ) (2.3.2.5.14) 4. Pada situasi tertentu walaupun data yang diperkirakan mengikuti distribusi yang sudah dikonversi ke dalam bentuk 35 . Penentuan Distribusi Frekuensi Penentuan jenis distribusi frekuensi deperlukan untuk mengetahui suatu rangkaian data cocok untuk suatu sebaran tertentu dan tidak cocok untuk sebaran lain.∑( ) )( )( ) =( (2. dan Gumbel.4002 Bila tidak ada yang memenuhi syarat digunakan sebaran Log Person Type III Sumber : Sri Harto. Untuk mengetahui kecocokan terhadap suatu jenis sebaran tertentu. Gumbel 4. 2. Koefisien kepuncakan/curtosis (Ck) dihitung dengan persamaan : . Log Person Tipe III. Koefisien variasi (Cv) = (2. Sebaran Syarat 1.2. Normal Cs = 0 2.2 Persyaratan Pemilihan Jenis Distribusi/Sebaran Frekuensi No. Koefisien kepencengan/skewness (Cs) dihitung dengan persamaan : =( . perlu dikaji terlebih dahulu ketentuan-ketentuan yang ada.1396 Ck = 5.15) Dimana : n = jumlah data = rata-rata data hujan (mm) S = simpangan baku (standar deviasi) X = data hujan (mm) Tabel 2. Log Normal. yaitu : 1.13) 3. 1993 Dalam statistik dikenal beberapa jenis distribusi frekuensi dan yang banyak digunakan dalam hidrologi yaitu Distribusi Normal. untuk menentukan macam analisis frekuensi yang dipakai. Log Normal Cs = 3 Cv 3. Cs = 1.

17) P (X) = peluang Log Normal X = nilai variat pengamatan = nilai rata-rata populasi 36 . Person telah mengembangkan serangkaian fungsi probilitas yang dapat dipakai untuk hampir semua distribusi probilitas empiris. PDF (probability density function) untuk distribusi Log Normal dapat dituliskan dalam bentuk ratarata dan simpangan bakunya sebagai berikut : ( )= Keterangan : √ − ( ) X>0 (2. dan masih tetap dipakai karena fleksibilitasnya. Distribusi Log Normal Menurut Suripin (2004). Fungsi densitas peluang normal (PDF = probability density function) yang paling dikenal adalah bentuk bell dan dikenal sebagai distribusi normal. maka X dikatakan mengikuti distribusi Log Normal. Bentuk kurvanya simetris terhadap X = . distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss. dan grafiknya selalu di atas dari X = + 3 dan X = . ternyata kedekatan antara data dan teori tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemakaian distribusi Log Normal.logaritmis. jika variable Y = Log X terdistribusi secara normal. Distribusi Normal Menurut Suripin (2004).3 . Nilai mean = median = modus. Nilai X mempunyai batas: - <X<+ 2.16) = rata-rata nilai X = simpangan baku dari nilai X Analisis kurva normal cukup menggunakan parameter statistic juga . 2004) 1. PDF distribusi normal dapat dituliskan dalam bentuk rata-rata dan simpangan bakunya sebagai berikut : ( )= Keterangan : − √ ( ) −∞ ≤ ≤∞ P(X) = fungsi densitas peluang normal (ordinat kurva normal) X = variable acak kontinu (2. (Suripin.

Pada Log Person Tipe III. Hitung harga rata-ratanya dengan rumus : = ∑ (2. parameter statistic yang diperlukan pada distribusi ini adalah harga rata-rata. Hitung harga simpangan baku dengan rumus : 37 .18) Yang dapat didekati dengan : = = + (2. menganjurkan pertama kali mentranformasi data ke nilai-nilai logaritmanya.= deviasi standar nilai variat Y Apabila nilai P(X) digambarkan pada kertas. sehingga dapat dinyatakan sebagai model matematik dengan persamaan : = + (2. USA.19) (2. salah satu distribusi dari serangkaian distribusi yang dikembangkan Person yang menjadi perhatian ahli sumber daya air adalah Log-Person Tipe III (LP. dan koefisien kepencengan. 3. The Hydrology Comitte of Water Resources Council. Secara garis besar langkah-langkahnya adalah sebagai berikut (Suripin. standar deviasi. 2004) : 1. X = log X 2. kemudian menghitung parameter-parameter statistiknya. Ubahlah data ke dalam bentuk logaritmis. Distribusi Log-Person Tipe III Menurut Suripin (2004). Untuk menghitung banjir rencana dalam praktek.21) 3.20) Keterangan: YT = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-tahunan Y = nilai rata-rata hitung variat S = deviasi standar nilai variat KT = factor frekuensi.III). merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang dan tipe modal matematik distribusi peluang yang digunakan untuk analisis peluang. maka peluang logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus.

24) - = curah hujan dengan periode ulang tahun - = rata-rata log curah hujan harian maksimum - = factor penyimpangan.22) 4. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T mengunakan rumus : Dimana : = log + .23) 5.= ∑ ( ) (2.3 - = simpangan baku - = variable standar untuk X yang besarnya tergantung koefisien kemencengan G 38 . seperti tabel 2. (2. Hitung koefisien kepencengan dengan rumus : = ∑ ( ( )( ) ) (2.

891 2.714 -7.351 0.848 -1.301 1.574 1.666 0.795 0.368 0.164 0.092 -1.675 1.271 -0.152 -0.340 2.615 -0.973 2.4 -2.732 1.768 -3.254 0.6 -1.945 1.029 -0.755 2.609 1.769 0.855 1.844 1.499 3.302 2.267 3.706 -1.777 -0.351 0.000 50.844 -0.336 1.271 3.282 1.132 0.880 2.785 0.880 1.666 -0.329 2.780 -1.714 0.856 -0.834 -2.636 -0.2 2 1.4 2.000 4.6 -2.275 3.830 -3.832 -0.340 2.888 0.558 -0.574 0.460 1.219 2.198 1.696 0.643 0.626 -1. 2004 39 100 1.675 0.066 0.606 1.4 0.000 4.000 2.6 2.469 0.278 3.856 1.2 0 -0.000 0.660 0.8 0.033 0.240 2.000 80.178 2.6 0.643 1.852 1.667 -0.850 -0.758 1.266 1.492 -2.818 2.747 0.Tabel 2.086 1.939 2.225 0.800 1.799 -0.261 -2.970 -0.528 1.891 -0.799 0.615 2.832 1.307 0.817 0.051 -2.490 0.816 1.844 0.889 3.326 -0.087 -0.780 1.149 3.752 -0.282 0.035 1.895 0.609 0.755 -0.328 1.852 -0.270 -2.499 -0.850 1.725 -0.4 1.8 -3 Interval kejadian (Recurrence interval).830 1.472 -0.448 1.069 -3.128 2.816 0.238 2.178 -0.752 0.8 -1 -1.000 -0.733 1.420 1.696 -0.330 0.2 1 0.994 1.449 1.880 -0.307 0.990 0.751 2.128 1.000 10.714 -0.282 0.099 0.666 0.043 2.063 2.326 2.705 -0.959 0.472 2.379 -2.366 1.066 0.195 0.2 -0.725 0.4 -1.258 1.823 0.842 0.317 1.855 -0.499 1.705 3.210 2.000 20.071 -0.857 -0.313 -0.817 -0.537 1.254 0.542 -1.702 0.180 2.705 0.087 0.606 -3.830 0.537 0.087 2.800 3.8 2.680 1.099 0.800 -0.800 0.990 -0.2 -2.8 1.197 1.905 -0.889 -0.225 0.900 -3.832 -0.318 2.733 -0.2 -1.777 0.636 0.764 0.051 3.857 1.705 1.25 2 5 10 25 50 Persentase peluang terlampaui (Percent chance of being exceeded) 99.197 -0.318 1.384 0.453 -1.905 0.732 0.666 Sumber : Suripin.022 -0.605 -0.388 3.195 0.3 Nilai K untuk distribusi Log-Person III Koef G 3 2.149 -0.164 0.4 -0.159 -2.993 2. tahun (periode ulang) 1.200 1.842 1.262 2.8 -2 -2.780 0.116 1.022 2.023 -0.588 1.6 -0.420 0.396 0.282 1.832 0.369 0.769 -0.256 3.166 -3.041 1.980 -3.193 2.388 -0.605 3.231 1.726 -2.337 2.284 2.712 0.029 1.132 0.114 -0.330 0.384 0.368 0.359 -2.051 0.667 .0101 1.973 -0.449 -0.033 0.945 -2.6 1.

842 30 1. Distribusi Gumbel Menurut Suripin (2004).220 2.554 5.038 2.261 Sumber : Suripin. Yt dapat dilihat pada tabel 2.241 3.943 3.086 2.400 100 1.187 2.006 25 1.230 2.466 2.727 40 1.283 2. Sn.25) (2.625 2. X2.7 Tabel 2.109 3.393 3.235 2.031 3.998 2.4 sampai dengan tabel 2.005 6.413 75 1.253 2.632 3.721 4.155 3.4 Faktor Frekuensi untuk Nilai Ekstrim (K) n Kala Ulang (tahun) 10 20 25 50 75 100 1000 15 1.466 2.326 2.188 2.491 5.26) X = harga rata-rata sampel S = standar deviasi (simpangan baku) sampel Yt = reduced variate sebagai fungsi periode ulang “T” tahun =− − (2.059 2.410 2.302 2.27) Sn = reduced standart deviation yang tergantung dari jumlah data Yn = reduced mean yang juga tergantung dari jumlah data Untuk besaran K.770 3.889 3.575 2.029 2.517 3.563 3.541 2.321 3.401 1.812 3.088 3.446 70 1.359 5.…Xn mempunyai fungsi distribusi eksponensial ganda.824 3.432 2.126 2.703 2.169 3.265 20 1.393 3.478 60 1.200 3. = Dimana : + ∗ = (2.349 5.729 5.495 2.476 50 1.852 3. Yn.836 6.026 3. 2004 40 .444 3. gumbel menggunakan harga ekstrim untuk menunjukkan bahwa dalam deret harga-harga ekstrim X1.430 2.4.463 3. X3.653 5.179 3.

20 1.3665 1.17 1.558 .14 1.18 1.525 .04 1.530 .495 .543 .522 .532 .14 1.539 .555 .555 .16 1.20 5 1.17 1.518 .20 6 1.20 3 0.6 Rata-rata Tereduksi (Yn) n 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 .13 1.553 .20 Sumber : Suripin.557 .16 1.560 1 .10 1.554 .548 .18 1.541 .534 .19 1.11 1.14 1.550 .549 .6001 Sumber : Suripin.18 1.510 .17 1.550 .529 .503 .545 .532 .19 1.11 1.19 1.05 1.552 .19 1.13 1.536 .19 1.549 .555 -0.12 1.20 1.554 .545 .19 1.20 2 0.541 .551 .04 1.552 .542 .19 1.520 .02 1.555 .512 .559 4 .18 1.558 .18 1.533 .547 .15 1.16 1.10 1.554 .Tabel 2.16 1.06 1.20 9 1.551 .555 .543 .515 .558 2 .558 .16 1.551 .538 .9019 4.559 6 .550 .10 1.559 7 1.558 .13 1.553 .15 1.15 1.15 1.94 1.5 Simpangan Baku Tereduksi (Sn) n 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 0.98 1.558 .08 1.18 1.556 . 2004 41 9 .07 1.552 .17 1.14 1.556 .553 .12 1.18 1.558 7 . 2004 Tabel 2.559 Sumber : Suripin.507 .20 1 0. 2004 Tabel 2.559 8 .546 .09 1.553 .559 5 .526 .13 1.538 .19 1.20 4 1.19 1.00 1.556 .14 1.4999 2.11 1.1985 3.557 .19 1.08 1.18 1.18 1.99 1.540 .19 1.7 Hubungan Antara Kala Ulang dengan Faktor Reduksi (Yt) Kala Ulang (tahun) 2 5 10 25 50 100 Faktor Reduksi (Yt) 0.18 1.2502 3.547 .557 .20 3 .17 1.549 .20 8 1.528 .548 .544 .556 .558 .19 1.499 .17 1.06 1.03 1.12 1.537 .554 .16 1.16 1.544 .19 1.559 .557 .15 1.96 1.17 1.546 .18 1.556 .18 1.09 1.532 .

28) m = nomor urut (peringkat) data setelah diurutkan dari besar ke kecil n = banyak data atau jumlah kejadian (event) 2. Banyak metode yang telah dikembangkan untuk menentukan posisi pengeplotan yang sebagian besar dibuat secara empiris.2. yaitu : Dengan : = (2. Uji Chi – kuadrat Uji Chi – kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telah dipilih dapat mewakili distribusi statistic sampel data yang dianalisis. pengeplotan data pada kertas probabilitas merupakan nilai probabilitas yang dimiliki oleh masing-masing data yang diplot. diperlukan penguji parameter untuk menguji kecocokan distribusi frekuensi sampel data terhadap distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. 1. Pengambilan keputusan uji ini menggunakan parameter X2 . Untuk keperluan penentu posisi ini. yang dapat dihitung dengan rumus berikut: Dengan : =∑ ( ) Xh2 = parameter chi-kuadrat terhitung G = jumlah sub kelompok Oi = jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i Ei = jumlah nilai teoritus pada sub kelompok i (2.7. data hidrologi (hujan atau banjir) yang telah ditabelkan diurutkan dari besar ke kecil (berdasarkan peringkat m).3. Pengeplotan Data Menurut Suripin (2004). dimulai dengan m = 1 untuk data dengan nilai tertinggi dan m = n (n adalah jumlah data) untuk data dengan nilai terkecil.3. Pengujian parameter yang sering dipakai adalah Chi-kuadrat dan SmirnovKolmogorov. Periode ulang Tr dapat dihitung dengan persamaan Weibull.6. Uji Kecocokan Menurut Suripin (2004).30) Jumlah kelas distribusi dihitung dengan persamaan Strurges : 42 .

991 7.325 16.277 14.262 7.816 4.535 20.142 5.635 12.8 Nilai Kritis untuk Distribusi Chi-Kuadrat dk 1 (α) derajat kepercayaan 0.688 29.307 20.226 21. Tabel 2.145 11.229 6.209 25.141 31.05 0.072 0.757 12 3.115 0.075 4.000157 0.821 6.00393 3.167 14.635 7.070 12.955 9 1.646 2.000 34.088 2.483 23.278 8 1.845 32.575 19.239 1.940 18.074 3.488 30.378 9. Apabila peluang berada diantara 1-5%.996 27.090 21.879 3 0.0100 0.841 5.908 7.750 6 0.026 23.237 1.107 5.735 2.01 0.801 16 5. Apabila peluang kurang dari 1%.180 2.013 18.404 5.554 0.337 26.344 1.025 0.920 24.891 14 4.000982 0. Apabila peluang lebih lama dari 5%.712 28.962 26.023 21.589 10 2.297 0.831 1.629 6.448 11.733 15.711 9.919 19.879 2 0.119 29.690 2.300 13 3.601 5.660 5.067 16.700 3.548 7 0.832 15.99 0.103 5.352 7.207 0. maka persamaan distribusi yang digunakan tidak dapat diterima. maka tidak mungkin mengambil keputusan.676 0.31) K = jumah kelas n = jumlah data Derajat bebas (number of degrees of freedom) V=K–h–1 (2.592 14.319 15 4.603 3.0506 0.053 3.725 26.736 27.565 4.247 3.989 1.95 0.975 0.872 1.449 16.188 11 2.024 6.009 5.666 23.812 18.267 43 . b.332 log (2.571 23.143 13. diperlukan tambahan data.860 5 0.345 12.Dengan : = 1 + 3.507 17.261 24.815 9.005 0.210 10.0000393 0.484 0.362 24.685 26.571 4.348 11.838 4 0.578 32.269 28.995 0. c.0201 0.675 21. maka persamaan distribusi yang digunakan dapat diterima.421 0.32) Dimana : h = jumlah parameter = 2 Interprestasi hasil uji adalah sebagai berikut : a.475 20.892 22.558 3.086 16.216 0.156 2.

172 38.015 8.410 34.17 5.113 43.611 37.479 38.415 39. Uji Smirnov – Kolmogorov Uji kecocokan Smirnov – Kolmogorov sering disebut juga dengan uji kecocokan non parametik.379 38.464 44.897 10.191 33.290 27 11. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1) Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut.144 32.542 10.364 42.156 19 6.390 28.936 49.526 34.645 Sumber: Suripin. 3) Dari kedua nilai peluang tersebut.796 23 9.697 6.034 8.652 40.408 7. X1 = P (X1) X2 = P (X2) X3 = P (X3).907 10. D maksimum = P (Xn) – P’ (Xn) (2. Namun dengan memperhatikan kurva dan penggambaran data pada kertas probabilitas.980 45. 2004 2.885 41.250 11.633 8. 2) Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data (persamaan distribusinya).558 25 10.260 10.587 30. X1 = P’ (X1) X2 = P’ (X2) X3 = P’ (X3).848 36. tentukanlah selisih terbesarnya Antara peluang pengamatan dengan peluang teoritis. (untuk contoh penggambaran data pada masingmasing distribusi dapat dilihat pada lampiran).401 13.401 22 8.643 9.886 10.643 8.869 31.265 7.198 13.181 24 9.091 36.698 13.573 16.781 40.120 14.582 20 8.117 30. dan seterusnya.852 36.718 18 6.231 9.33) 44 .409 35.196 11.808 12.238 11. dan seterusnya.524 13.170 37.338 33.591 32.924 36.591 10.851 31.289 42.672 27. karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.805 37.642 48.314 46.160 12.638 44.076 41.566 39.997 21 8.932 41.879 14.844 15.194 46.844 7.564 8.928 26 11.923 45.260 9.982 12.191 38.856 12.671 35.151 40.

27 40 0.27 0.23 0. N > 50 Sumber : Suripin. 1.32 0.17 0.9 Nilai kritis untuk uji Smirnov – Kolmogorov N Derajat Kepercayaan.27 0.2 0.9 Tabel 2.18 0. 1.15 0.67 10 0.45 0.23 0.21 0.2 0.005 0. Analisis Intensitas Hujan Didalam buku Triatmodjo (2008) Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF) biasanya diberikan dalam bentuk kurva yang memberikan hubungan antara intensitas hujan sebagai ordinat.19 15 0.29 0.25 45 0.51 0.63 N .21 0.1 0.10.23 1.16 0. goronggorong.3. Untuk hujan dengan durasi 30 menitan dengan periode ulang 10 tahunan diperoleh intensitas hujan sekitar 170 mm/jam.36 25 0. seperti dalam sebuah perencanaan sistem drainase kota.24 0.24 0.34 0.8.26 0.36 N . Gambar 2.41 0.50 dan 100 tahunan.22 N .4 20 0.2 0. Didaerah tangkapan yang kecil.19 0. Analisis IDF dilakukan untuk memperkirakan debit puncak didaerah tangkapan kecil.3 0. durasi hujan sebagai absis dan beberapa grafik yang menunjukan frekuensi atau periode ulang.22 0.01 5 0. 2004 2. hujan yang deras dengan durasi singkat ( intensitas hujan dengan durasi singkat adalah sangat tinggi) yang 45 .37 0.32 30 0.07 N . dan jembatan.19 0.56 0.5 adalah kurva IDF untuk daerah Halim Perdana Kusuma Jakarta.19 0. 1.4) Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov – Kolmogorov test) tentukan harga Do dari tabel 2.29 35 0.25.18 0.24 50 0.17 0. 0. Dalam gambar tersebut terdapat lima grafik IDF yang masing-masing menunjukan periode ulang 5.

Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari pos penakar hujan otomatis. misalnya 5 menit. yang dapat menghasilkan debit puncak. Selanjutnya berdasarkan data hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF dapat dibuat dengan salah satu dari beberapa persamaan berikut (Triatmodjo. ∑[ ] ∑[ ] [∑. 10 menit. = (2. ] (2. Gambar 2.34) Dimana : I = Intensitas hujan (mm/jam) t = lamanya hujan (jam) a dan b = konstranta yang tergantung pada lama terjadinya DAS. dan jam-jaman untuk membentuk lengkung IDF. lama hujan dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas – Durasi – Frekuansi (IDF/IntensityDuration-Frequency Curve). Rumus Talbot (1881) Rumus ini banyak digunakan karena mudah diterapkan dan tetapan-tetapan a dan b ditentukan dengan harga-harga yang terukur. = ∑[ .5 Kurva IDF untuk daerah Halim Perdana Kusuma Jakarta Hubungan antara intensitas. 30 menit.35) 46 . 60 menit. ] ∑ ∑ . 2008) : 1. Diperlukan data hujan jangka pendek.jatuh di berabagai titik pada seluruh daerah tangkapan hujan dapat terkonsentrasi di titik kontrol yang ditinjau dalam waktu yang bersamaan.

= ∑ . Rumus Sherman (1905) Rumus ini mungkin cocok untuk jangka waktu curah hujan yang lamanya lebih dari 2 jam.38) (2. Rumus Ishiguro (1953) = (2.∑ .√ ∑[ ] ∑[ ] [∑. (2.42) Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia.43) Dimana : I = Intensitas hujan (mm/jam) t = lamanya hujan (jam) 47 .40) √ Dimana : I = intensitas hujan (mm/jam) t = lamanya hujan (jam) a dan b = konstanta = = ∑ .√ ∑ ∑ .∑ ∑[ ] ∑[ ] ∑[ [∑ ] ∑[ [∑ . ] ] ]∑ (2. ] .41) (2. ] ∑ ∑[ ] [∑. ∑[ . ] .√ (2. maka intensitas hujan dapat dihitung dengan rumus Mononobe. ] ∑ .36) 2. = (2.37) Dimana : I = intensitas hujan (mm/jam) t = lamanya hujan (jam) n = konstanta log = = ∑ ∑ .39) 3. = (2.√ ∑ ∑[ ] [∑. ] . yang ada hanya data hujan harian.∑[ .

Untuk Hidrograf Satuan memerlukan rekaman data limpasan dan data hujan.R24 = curah hujan maksimum harian (selama 24 jam) (mm). Kehilangan hujan merupakan bagian hujan yang menguap. dan simpanan air tanah. yaitu aliran permukaan yang berasal dari aliran langsung air hujan. Padahal sering dijumpai beberapa DAS tidak memiliki sama sekali catatan limpasan.9. masuk ke dalam tanah kelembaban tanah. Metode yang dipakai di suatu lokasi lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan data.3. gorong-gorong dan saluran pembuang. Analisis Debit Rencana Menurut Suripin (2004). Hujan juga dapat dianggap terbagi dalam dua komponen. Hujan efektif adalah bagian hujan yang menyebabkan terjadinya aliran permukaan. Ada beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir). dan aliran dasar (base flow). Hidrograf Satuan Sintetis dapat digunakan. (Suripin. Aliran dasar berasal dari air tanah yang ada pada umumnya tidak memberikan respon yang cepat terhadap hujan. Metode Hidrograf Satuan Hidrograf dapat didefinisikan sebagai hubungan antara salah satu unsur aliran terhadap waktu. Pada saat pembangunan bangunan air ini yang menjadi masalah adalah berapa debit banjir yang harus disalurkan. Dalam kondisi seperti itu. 2. yaitu hujan efektif dan kehilangan (losses). 2004) Metode Hidrograf dapat dibagi menjadi dua yaitu Hidrograf Satuan dan Hidrograf Satuan Sintetis. 1. Metode yang digunakan adalah Metode Hidrograf dan Non Hidrograf. Penurunan Hidrograf Satuan Sintetis berdasarkan pada 48 . debit banjir ini disebut debit banjir rencana. pada saat pembangunan bangunan air seperti bendungan. Hidrograf tersusun dari dua komponen. tetapi kalau yang harus disalurkan tersebut adalah debit saluran pembuang atau sungai maka besarnya debit air yang harus diambil cukup besarnya. Kalau yang disalurkan itu adalah debit saluran irigasi dan atau air minum yang besarnya sudah tertentu. maka dimensi bangunannya ditentukan berdasarkan debit yang tertentu pula. dimensi diperhitungkan cukup untuk mengalirkan sejumlah volume air tertentu dalam satuan waktu tertentu yang disebut dengan debit.

6 Grafik Hidrograf Segitiga SCS 49 .karakteristik fisik dari DAS. Metode Gama I dan Metode Nakayasu.cm) 1 2 tr tp qp t (jam) tr Tp 1.  Hidrograf SCS (Soil Conservation Service) Hidrograf SCS (Soil Conservation Service) menggunakan hidrograf tak berdimensi yang dikembangkan dari analisis sejumlah besar hidrograf satan dari data lapangan dengan berbagi ukuran DAS dan lokasi berbeda (Triatmodjo.44) + (2.67 Tp Gambar 2. dengan nilai (Gupta. 2008). Dalam hal ini. yang akan dibahas adalah Metode SCS. Hidrograf Satuan Sintetis dapat digunakan dengan salah satu dari beberapa metode. Metode SCS (Soil Conservation Service). yaitu Metode Snyder. Ordinat hidrograf satuan untuk periode waktu berbeda dapat diperoleh dari tabel berikut.45) = kelambatan DAS (jam) Tp = waktu puncak (jam) tr = durasi hujan efektif (jam) qp = debit puncak per satuan luas (m3/dt. = ∙ (2.1989) didalam Tratmojo (2008) : = Keterangan : tp .cm) Qp = debit maksimum (m3/dt) q (m/dt.

13 0.47) Dimana Qa = limpasan sebelum mencapai debit puncak (m3/detik) dan t adalah waktu (jam).098 0. .0 0.6 1.66 4.3 = waktu yang diperlukan oleh penurun debit puncak sampai menjadi 30% dari debit puncak (jam) C = 1.98 2.97 2. ( .075 1.28 1.0 0. (2.4 0.6 0.004 0. 2008  Hidrograf Satuan Sintesis Nakayasu Nakayasu dari Jepang.5 0.5 0.075 0.84 3.42 5.56 4.16 1.2 0. 1995): = .0 2.1 0.0 0.8 0.0 1.6 0.7 0.009 0. Rumus tersebut adalah sebagai berikut (Soemarto.2 (Nakayasu) - Bagian lengkung naik (rising limb) hidrograf satuan mempunyai persamaan: = .77 1.036 0.92 2.43 1.32 0.6 0. 50 .46) Qp = debit puncak banjir (m3/detik) R0 = hujan satuan (mm) Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam) T0. telah menyelidiki hidrograf satuan pada beberapa sungai di Jepang.1 0.4 0.10 Hidrograf satuan metode SCS t/Pr Q/Qp t/Pr Q/Qp t/Pr Q/Qp 0 0 1.18 0.75 3.3 0.5 0.0 0.2 0.Tabel 2. Ia membuat rumus hidrograf satuan sintetik dari hasil penyelidikannya.8 0.3 0.018 0.24 0 Sumber : Triatmodjo.5 0.8 0.9 0. Dimana : ) (2.4 0.2 0.89 2.015 1.

0.3 >   = = = .4 + 0. .50) .49) .21 L L > 15 km tg = 0.058 L Dimana: L = panjang alur sungai (km) tg = waktu kosentrasi (jam) tr = 0.5 tg sampai tg (jam) T0.5 Untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun yang lambat =3 Gambar 2.7 Grafik Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu 51 . (2.3 .48) .3 > 0. . (2.7 L < 15 km tg = 0.51) 0. . 0. (2.8 tr dimana untuk : .3 = tg (jam)  Untuk daerah pengaliran biasa  Untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat  =2 = 1. 0.3  > 0. (2.3 .3 0.3 Tenggang waktu Tp = tg + 0.- Bagian lengkung turun (decreasing limb) : > 0.

Persamaan matematik metode rasional dinyatakan dalam bentuk : Qp = 0.2. Metode Rasional Menurut Suripin (2004) Metode rasional umum yang di pakai untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak adalah metode Rasional USSCS (1973).2778 C I A (2. namun penggunaanya terbatas untuk DAS-DAS ukuran kecil yaitu kurang dari 300 ha. maka tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk hidrograf.52) Dimana : Qp = laju aliran permukaan (debit) puncak (m3/detik) C = koefisien aliran permukaan (0 ≤ C ≤ 1) I = intensitas hujan (mm/jam) A = luas DAS (km2) 52 . Karena model ini merupakan model kotak hitam. Metode ini sangat simple dan mudah penggunaanya.

18 . 0-5% 0.60 .50 .50 . paving 0.0. 2-7% 0.0. tergabung 0.50 .13 .0.40 Bergelombang. 10-30% Sumber : Suripin.40 Apartemen 0.0.30 .11 Koefisien Aliran Permukaan untuk Metode Rasional Deskripsi lahan/karakter permukaan Koefisien aliran (C) Business Perkotaan 0.25 .0.60 Multiunit.10 Rata-rata.70 Atap 0.70 Perumahan Rumah tunggal 0.10 .15 Curam.10 .50 Multiunit.95 Halaman. 2004 0.50 Berbukit.40 .Tabel 2.90 Perkerasan Aspal dan beton 0.0.0.0.95 Batu bata.05 .25 . tanah berat Datar 2% 0.70 .20 .60 .0.60 53 .22 Curam.35 Taman. perkuburan 0. 2-7% 0.80 Berat 0.30 .0.0.70 .0.10 .0.0.0.75 Perkampungan 0.25 Hutan Datar.0. tanah berpasir Datar 2% 0.50 .15 . 7% 0.35 Taman tempat bermain 0.0.0.95 Pinggiran 0.70 Industri Ringan 0.75 . 7% 0. terpisah 0.10 .20 Halaman.0.25 .17 Rata-rata.0.0.0.0. 5-10% 0.0.35 Halaman kereta api 0.

Dimana : tc ( . maka setiap bagian DAS secara serentak telah menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol.56) = waktu konsentrasi (jam) 54 . California Culvert practice (1942) = 60 .2. ada beberapa rumus waktu konsentrasi lain.54) tc = waktu konsentrasi (jam) L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (kilometer) S = kemiringan saluran ΔH = selisih ketinggian antara tempat terjauh dan tempat pengamatan (meter) Selain rumus Kiprich. (2.10. Waktu Kosentrasi (tc) Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang di perlukan oleh air hujan yg jauh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat keluaran DAS (titik control) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi. . .3. yaitu : 1. . Federal Aviation Administration (FAA. Salah satu metode untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang di kembangkan oleh Kirpich (1940) dikutip oleh (Suripin.55) Dimana : tc = waktu konsentrasi (jam) L = panjang aliran sungai (meter) H = selisih ketinggian antara saluran pembagi dan saluran pembuang (meter) 2.53) (2. ) . 2004). . × × (2. 1970) = . yaitu : = Dimana : = ∆ . (2.

sehingga : tc = to + td (2.28 × Dimana : = . (2. yaitu : 1. Dimana : .60) Ls = panjang lintasan aliran di dalam saluran (meter) V = kecepatan aliran di dalam saluran (detik) 55 . Waktu perjalanan dari pertama masuk saluran sampai titik keluaran (td). Kinematic wave formulas (1965) = . . .L = panjang aliran sungai (meter) i = intensitas hujan (mm/jam) c = koefisien perlambatan S = kemiringan aliran 3. . .57) tc = waktu konsentrasi (jam) L = panjang aliran sungai (meter) i = intensitas hujan (mm/jam) n = koefisien kekasaran dinding S = kemiringan lintasan aliran Suripin (2004) juga menyatakan bahwa waktu konsentrasi dapat dihitung dengan membedakannya menjadi dua komponen.59) (2. . × √ menit menit n = angka kekasaran manning S = kemiringan lahan L = panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (meter) (2. Waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan sampai saluran terdekat (to) 2.58) dengan : dan = × 3.

Adapun bentuk-bentuk saluran yang dikaitkan dengan fungsi saluran adalah sebagai berikut : a. 2. Bangunan pembawa ini dapat terbuka atau memiliki bagian permukaan yang bebas maupun tertutup bagian atasnya atau bagian permukaannya tidak bebas.4. saluran irigasi. sedangakan yang terbuka bagian atasnya disebut saluran terbuka (open channel). gorong-gorong. sedangkan pipa merupakan saluran tertutup (Suripin. b. terowongan merupakan saluran terbuka. bentuk penampang saluran juga dapat disesuaikan dengan fungsi saluran tersebut dibuat. serta adanya fluktuasi debit aliran atau untuk mengalirkan air limbah. Bentuk penampang persegi panjang apabila dilihat pada bagian dinding saluran dapat digunakan sebagai dinding penahan serta ruang untuk saluran sangat terbatas. Sungai. Penampang Saluran Penampang hidrolik terbaik adalah penampang yang mempunyai keliling basah terkecil pada luas penampang tertentu yang akan memberikan aliran yang maksimum atau penampang saluran memberikan luas penampang aliran (penampang basah) terkecil pada debit aliran tertentu dimana bentuk penampang saluran akan dapat berpengaruh terhadap besarnya debit aliran yang dapat diangkut/dialirkan oleh saluran (Suripin. Walaupun pembuatannya relatif agak sulit tetapi apabila dilihat dari fungsi saluran cukup efektif untuk mengalirkan bahan endapan. Penampang tersusun dapat dibuat kombinasi antara empat persegi panjang dengan setengah lingkaran atau persegi panjang dengan setengah lingkaran atau persegi panjang dengan segitiga dibagian bawah dan sebagainya. Saluran yang tertutup bagian atasnya disebut saluran tertutup (closed conduit). selokan. 2004). Hidraulika Zat cair dapat diangkut dari satu tempat ke tempat lain melalui bangunan pembawa alamiah ataupun buatan manusia.4. Bentuk penampang tersusun dibuat apabila lahan terbatas untuk saluran atau fungsi saluran mengalirkan air limbah dan air hujan (tercampur). 56 .1. Disamping untuk meningkatkan kapasitas saluran.2. Bentuk penampang lingkaran atau parabola. c. 2004).

Pemilihan bentuk penampang saluran dalam praktek harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sedapat mungkin dipenuhi aspek ekonomis penampang saluran dalam arti kata dengan luas penampang tertentu mampu mengalirkan debit sebanyak-banyaknya (maksimum).8). misalnya apabila saluran untuk mengalirkan endapan.64) dapat dideferensialkan terhadap h dan dibuat sama dengan nol untuk memperoleh harga P minimum. maka persamaan (2. luas penampang basah A dan keliling basah P dapat dituliskan sebagai berikut : A=B.63) h B Gambar 2.8 Penampang melintang saluran berbentuk persegi panjang Substitusi persamaan (2. A.65) 57 . maka diperoleh persamaan : = + 2ℎ (2. adalah konstan.61) atau = (2.h (2.64) Dengan asumsi luas penampang.62) ke (2. Penampang Berbentuk Persegi paling Ekonomis Pada penampang melintang saluran berbentuk persegi dengan lebar dasar B dan kedalaman air h (Gambar 2.63).62) P = B + 2h (2. bentuk-bentuk saluran yang ekonomis adalah sebagai berikut : 1. =− + 2ℎ = 0 (2. Menurut Suripin (2004). selain juga melihat fungsi saluran.

dan kemiringan dinding. 2. dan keliling basah.ℎ (2.73) 58 .68) dapat dideferensialkan terhadap h dan dibuat sama dengan nol untuk memperoleh kondisi P minimum. Atau = P − 4h√ = 4√ +1+2 ℎ =0 +1 −2 ℎ (2.h).h √ +1 + . (2.68) = P − 2h√ +1 (2. saluran dengan penampang melintang yang berbentuk trapesium dengan lebar dasar B. A.71) Diasumsikan bahwa luas penampang. A. m.ℎ (2. h (2.9). Penampang Berbentuk Trapesium yang Ekonomis Luas penampang melintang.70) .66) Dalam hal ini. kedalaman air h. dapat dirumuskan sebagai berikut : A = (B + m. maka diperoleh persamaan berikut : = P − 2h√ atau +1 ℎ+ = P . dan kemiringan dinding 1 : m (gambar 2. adalah konstan. maka persamaan (2.67) = B + 2h√ +1 (2. P.72) (2. bentuk penampang melintang persegi yang paling ekonomis adalah jika kedalaman air setengah dari lebar dasar saluran.h − 2 .69) disubstitusikan ke dalam persamaan (2.Jari-jari hidraulik = = .69) atau Nilai B pada persamaan (2.67). atau jari-jari hidrauliknya setengah dari kedalaman air.

h 1 m B Gambar 2.74) ) (2. A. Ө. Trapesium yang terbentuk berupa setengah segienam beraturan (heksagonal). keliling basah. h (gambar 2.10). Penampang Segitiga yang Ekonomis Pada potongan melintang saluran yang berbentuk segitiga dengan kemiringan sisi terhadap garis vertikal. maka penampang basah. dan kedalaman air.10 Penampang melintang saluran berbentuk segitiga 59 .75) 1 ? ? h m Gambar 2.9 Penampang melintang saluran berbentuk trapesium Penampang trapesium yang paling efisien adalah jika kemiringan = dindingnya √ atau Ө = 60o. P. 3. dapat ditulis sebagai berikut : A = h tanθ = √ √ ( (2.

Saluran berbentuk segitiga yang paling ekonomis adalah jika kemiringan dindingnya membentuk sudut 45o dengan garis vertikal (Ө = 45o). Adapun keunggulan dari penampang ini antara lain :  Memiliki penampang basah yang besar  Mengalirkan debit besar dengan kelandaian kecil  Mampu mengalirkan debit dalam jumlah minimal  Dapat melewatkan endapan/sedimen dengan mudah  Saluran air menjadi lancar dan genangan dapat dikurangi Kombinasi antara segi empat pada bagian atas dan setengah lingkaran pada bagian bawah (Suripin. 2004) t h1 h2 B Gambar 2.11 Kombinasi penampang saluran Keterangan : t = tinggi jagaan h = kedalaman air b = lebar saluran 60 . Untuk mendapatkan saluran yang ekonomis juga dapat digunakan penampang kombinasi yaitu menggabungkan dua jenis penampang. Salah satunya adalah penampang segiempat (di bagian atas) dan lingkaran (di bagian bawah).

76) Keterangan : R = jari-jari hidrolik (m) V = kecepatan aliran (m/dt) I = kemiringan memanjang dasar saluran n = koefisien kekasaran menurut Manning yang besarnya tergantung dari bahan dinding saluran yang dipakai. 2) Tetumbuhan yang juga memperkecil kapasitas saluran dan menghambat aliran. faktor-faktor yang mempengaruhi kekasaran Manning adalah sebagai berikut : 1) Kekasaran permukaan. 2004) : = (2. yang ditandai dengan ukuran dan bentuk butiran bahan yang membentuk luas basah dan menimbulkan efek hambatan terhadap aliran. Apabila bentuk rumus Manning diubah menjadi rumus Chezy maka besarnya C adalah sebagai berikut : = (2. yang mencakup pula ketidakteraturan keliling basah dan variasi penampang.78) C = Koefisien Chezy R = jari-jari hidrolik (m) n = koefisien kekasaran menurut Manning yang besarnya tergantung dari bahan dinding saluran yang dipakai Menurut Chow (1989).77) Dimana rumus Chezy : Keterangan : = √ (2.2.4. ukuran dan bentuk di sepanjang saluran. maka semakin besar kecepatan aliran tersebut. 3) Ketidakteraturan saluran.2. Secara umum perubahan lambat laun dan teratur dari penampang 61 . Semakin kecil nilai n. Kekasaran Dinding Saluran Rumus kecepatan menurut Manning (1889) dikutip oleh (Suripin. Secara umum dikatakan bahwa butiran halus menyebabkan nilai n yang relatif rendah dan butiran kasar memiliki nilai n yang tinggi.

022 Saluran tanah 0.014 Kaca 0. Tabel 2. 5) Pengendapan dan penggerusan. sedangkan penggerusan dapat berakibat sebaliknya dan memperbesar n.015 Pasangan batu disemen 0. Namun efek utama dari pengendapan akan tergantung dari sifat alamiah bahan yang diendapkan.025 Saluran tanah bersih 0.040 Sumber : Triatmodjo. 4) Trase saluran.ukuran dan bentuk tidak terlalu mempengaruhi nilai n.12 Harga rata-rata n dalam rumus Manning Bahan n Besi tulang lapis 0. 62 . dimana kelengkungan yang landai dengan garis tengah yang besar akan mengakibatkan nilai n yang relatif rendah. pilar jembatan dan sejenisnya yang cenderung memperbesar nilai n. 2008 Nilai yang berupa koefisien atau angka (jari-jari) kekasaran dinding akan sangat berpengaruh pada besarnya kecepatan aliran dan akan berpengaruh terhadap besarnya debit aliran.030 Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0. sedangkan kelengkungan yang tajam dengan belokan-belokan yang patah akan memperbesar nilai n. berupa balok sekat.013 Bata dilapis mortar 0. Secara umum pengendapan dapat mengubah saluran yang sangat tidak beraturan menjadi cukup beraturan dan memperkecil n. Semakin kasar dinding akan semakin besar nilai kekasaran dinding dan menghasilkan debit aliran yang semakin kecil dan juga sebaliknya semakin halus dinding akan menghasilkan debit aliran yang semakin tinggi. 6) Hambatan.040 Saluran pada galian batu padas 0.010 Saluran beton 0. tetapi perubahan tiba-tiba atau peralihan dari penampang kecil ke besar memerlukan penggunaan nilai n yang besar.

5 .0 > 25 Tinggi Jagaan (m) 0.5 . 2004) adalah : Q=A.25. Rumus yang digunakan (Suripin.0 . berdasarkan debit maksimum yang akan dialirkan.3 0. KP-03 (1986) 63 .5 0. Penentuan dimensi saluran baik yang ada (eksisting) atau yang direncanakan.15.80) ) (2.3.V (2.0.75 1 Sumber : Standar Perencanaan Irigasi.5 0.4.3 0.0 .6 0.3 .5 1.81) (2.79) Dimana : Q = debit banjir rancangan (m3/dt) A = luas penampang basah (m2) V = kecepatan rata-rata (m/dt) Dengan : A = (B + mh) h P = B + 2h (1 + R = (2.0.4 0.0 15.13 Tinggi Jagaan untuk Saluran Pasangan No 1 2 3 4 5 6 Debit (m3 /dt ) 0.82) Dengan : B = lebar dasar saluran (m) P = keliling basah saluran (m) h = tinggi muka air (m) m = kemiringan talud saluran Tabel 2.1. Kapasitas Saluran Perhitungan hidraulika digunakan untuk menganalisa dimensi penampang berdasarkan kapasitas maksimum saluran.2.