You are on page 1of 24

BAHAN AJAR

DISEMINASI DAN SOSIALISASI KETEKNIKAN
BIDANG PLP SEKTOR DRAINASE

MODUL 03
DASAR-DASAR TEKNIK & MANAJEMEN
DRAINASE PERKOTAAN

halaman kosong

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ ii
DASAR-DASAR TEKNIK DAN MANAJEMEN DRAINASE PERKOTAAN........ 135
1 PRINSIP-PRINSIP DASAR SISTEM DRAINASE PERKOTAAN .................... 135
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 135
1.2 Maksud dan Tujuan .........................................................................................135
1.2.1
Maksud ................................................................................................... 135
1.2.2
Tujuan ..................................................................................................... 135
1.3 Istilah- istilah ...................................................................................................136
1.4 Sistem Drainase Perkotaan ..............................................................................137
1.4.1
Pengendalian Banjir (Flood Control) ..................................................... 137
1.4.2
Badan Air ................................................................................................ 137
1.5 Fungsi Drainase Perkotaan ..............................................................................138
1.6 Proses Terjadinya Banjir di Perkotaan ............................................................ 145
1.6.1
Kondisi Alam (Statis) ............................................................................ 145
1.6.2
Kondisi Alam (Dinamis) ....................................................................... 145
1.6.3
Kegiatan Manusia (Dinamis) ................................................................. 146
1.7 Faktor yang Berpengaruh pada Sistem Drainase Perkotaan ........................... 146
1.7.1
Intensitas Hujan ...................................................................................... 146
1.7.2
Catchment Area ...................................................................................... 146
1.7.3
Pertumbuhan Daerah Perkotaan ............................................................. 147
1.7.4
Faktor Medan dan Lingkungan............................................................... 147
2 PENGATURAN WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB ........................... 148
2.1 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2004 ......................................................148
2.2 Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 .150
2.3 Konsep Panduan Kelembagaan Pengelola bidang PLP di Kabupaten/Kota
Tahun 2010 ......................................................................................................152
3 PENUTUP ............................................................................................................. 152
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 153

i

DAFTAR TABEL
Tabel 2-1 Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pekerjaan Umum Sub.Bidang
Drainase ..................................................................................................... 150

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Lay-out umum dari sistem drainase perkotaan ..................................... 140
Gambar 1.2. Skematik lay-out drainase minor dan mayor sistem drainase perkotaan
............................................................................................................... 140
Gambar 1.3. Tipe-tipe Saluran Drainase Perkotaan .................................................. 141
Gambar 1.4 Tipe-tipe Saluran ................................................................................... 142
Gambar 1.5. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal ................................................ 142
Gambar 1.6. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal ................................................ 143
Gambar 1.7. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal ................................................ 144
Gambar 1.8. Utilitas yang Ada di Jalan ..................................................................... 144

ii

DASAR-DASAR TEKNIK DAN MANAJEMEN
DRAINASE PERKOTAAN

1

PRINSIP-PRINSIP DASAR SISTEM DRAINASE PERKOTAAN

1.1

Latar Belakang

Seiring dengan pertumbuhan penduduk perkotaan yang amat pesat di Indonesia, permasalahan
drainase semakin meningkat pula pada umumnya melampaui kemampuan penyediaan prasarana
dan sarana perkotaan. Akibatnya permasalahan banjir atau genangan semakin meningkat pula.
Pada umumnya penanganan sistem drainase di banyak kota di Indonesia masih bersifat parsial,
sehingga tidak menyelesaikan permasalahan banjir dan genangan secara tuntas. Pengelolaan
drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh, mengacu pada SIDLACOM dimulai
dari tahap Survey, Investigation (investigasi), Design (perencanaan), Land Acquisation
(pembebasan lahan), Construction (konstruksi), Operation (operasi) dan Maintenance
(pemeliharaan), serta ditunjang dengan peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi
masyarakat. Peningkatan pemahaman mengenai sistem drainase kepada pihak yang terlibat baik
pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan. Agar penanganan
permasalahan sistem drainase dapat dilakukan secara terus menerus dengan sebaik-baiknya.

1.2
1.2.1

Maksud dan Tujuan
Maksud

Modul ini dimaksudkan sebagai pegangan bagi perencana serta pelaksana dalam rangka
penanganan sistem drainase perkotaan agar lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan
masalah SIDLACOM tersebut diatas. Para pengelola sistem drainase perkotaan diharapkan
menjadi paham antara lain terhadap fungsi drainase dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
pembangunan drainase.
1.2.2 Tujuan
Tujuan modul Dasar-dasar Teknik dan Manajemen Sistem Drainase Perkotaan ini adalah untuk
mewujudkan penanganan sistem drainase perkotaan yang berwawasan lingkungan yang dapat
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

135

1.3

Istilah- istilah

1) Drainase (Drainage)
Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke
bangunan resapan buatan.
Urban Drainage
Urban
=
Drainage
=
Urban Drainage =

Perkotaan
Drainase
Drainase Perkotaan

2) Sistem Drainase Perkotaan
Adalah sistem drainase dalam wilayah administrasi kota dan daerah perkotaan (urban).
Sistem tersebut berupa jaringan pembuangan air yang berfungsi mengendalikan atau
mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan
lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan
manusia.
3) Drainase Berwawasan Lingkungan
Adalah pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi
lingkungan.
Terdapat 2 (dua) pola yang umum dipakai untuk mengelola drainase yang berwawasan
lingkungan:
a. Pola detensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat kolam
penampungan  kolam detensi.
b.

Pola retensi (meresapkan), antara lain dengan membuat sumur resapan, saluran
resapan, bidang resapan atau kolam resapan  kolam retensi.

4) Sungai adalah alur di permukaan tanah tempat mengalirnya aliran permukaan yang
mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS), yang mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke
muara laut. Sungai mengalirkan sebagian air sebagai aliran dasar (base flow) dari kumpulan
mata-air di dalam DAS-nya mulai dari daerah pegunungan sampai ke pantai (laut).

136

5) Satuan Wilayah Sungai adalah hamparan permukaan bumi yang dialiri oleh sungai yang
ditetapkan dengan peraturan.

6) Sungai dan Saluran
Adalah alur tempat mengalirnya air di bidang permukaan tanah atau di bawah permukaan
tanah.
a. Sungai terjadi karena peristiwa alam dimana aliran air mengalir sesuai dengan
morfologinya dan secara umum alirannya adalah aliran unsteady flow (aliran yang
tidak tetap).
b. Sedangkan saluran adalah alur tempat aliran air yang sengaja dibuat oleh manusia,
secara umum alirannya adalah aliran steady flow (aliran tetap).

1.4

Sistem Drainase Perkotaan

Dapat ditinjau dari 2 sisi berikut:
1) Satuan Wilayah Sungai adalah kumpulan anak-anak sungai yang berada di dalam Satuan
Wilayah Sungai yang tergolong mikro pada orde sungai tingkat 2 atau 3 yang sepenuhnya
berada di dalam batas administratif Perkotaan.
2) Administratif Perkotaan adalah kumpulan jaringan anak-anak sungai dan saluran pada
masing-masing Daerah Alirannya dimana penanganannya menjadi kewenangan
Pemerintahan Kabupaten atau Pemerintahan Kota sekalipun sebagai ibukota Provinsi.
1.4.1

Pengendalian Banjir (Flood Control)

Dapat dibagi ke dalam 2 areal berikut:
1) Untuk areal urban adalah upaya untuk mengendalikan aliran banjir pada sungai yang
melintasi kota agar muka air banjir tidak melampau tanggul kanan dan tanggul kirinya
(overtopping) yang akan menyebabkan banjir/genangan di dalam kota.
2) Untuk Daerah Aliran Sungai adalah upaya untuk menghindari terjadinya banjir pada lahanlahan produktif.
1.4.2

Badan Air

Adalah tempat pengolahan air yang terakhir, yang dapat melakukan proses self purification
(memperbaiki diri sendiri). Dapat berupa sungai, danau, rawa dan laut yang menerima aliran
dari sistem drainase perkotaan.

137

1.5

Fungsi Drainase Perkotaan

1) Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya lebih rendah dari genangan
sehingga tidak menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan infrastruktur kota dan harta
benda milik masyarakat.
2) Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar tidak
membanjiri atau menggenangi kota yang dapat merusak selain harta benda masyarakat juga
infrastruktur perkotaan.
3) Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk
persediaan air dan kehidupan akuatik.
4) Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah.
Berdasarkan pembagian kewenangannya pengelolaan dan fungsi pelayanan untuk sistem
drainase perkotaan menggunakan istilah sebagai berikut:
1) Sistem Drainase Lokal (Minor Urban Drainage)
Sistem drainase lokal (minor) adalah suatu jaringan sistem drainase yang melayani suatu
kawasan kota tertentu seperti kompleks permukiman, daerah komersial, perkantoran dan
kawasan industri, pasar dan kawasan pariwisata. Sistem ini melayani area sekitar kurang
lebih 10 Ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggungjawab masyarakat,
pengembang atau instansi pada kawasan masing-masing (lihat Gambar 1.1 dan 1.2).
2) Sistem Drainase Utama (Major Urban Drainage)
Sistem Jaringan Utama (major urban drainage) adalah sistem jaringan drinase yang secara
struktur terdiri dari saluran primer yang menampung aliran dari saluran-saluran sekunder.
Saluran sekunder menampung aliran dari saluran-saluran tersier. Saluran tersier
menampung aliran dari Daerah Alirannya masing-masing. Jaringan drainase lokal dapat
langsung mengalirkan alirannya ke saluran primer, sekunder maupun tersier (lihat Gambar
1.1 dan 1.2).
3) Pengendalian Banjir (Flood Control)
Pengendalian Banjir adalah upaya mengendalikan aliran permukaan dalam sungai maupun
dalam badan air yang lainnya agar tidak meluap serta limpas atau menggenangi daerah
perkotaan. Pengendalian banjir merupakan tanggung jawab pemerintah Propinsi atau
Pemerintah Pusat. Konstruksi atau bangunan air pada sistem flood control antara lain
berupa:

138




Tanggul
Bangunan Bagi
Pintu Air
Saluran Flood Way

Berdasarkan fisiknya, sistem drainase terdiri atas saluran primer, sekunder, tersier sebagai
berikut:
4) Sistem Saluran Primer
Saluran primer adalah saluran yang menerima masukan aliran dari saluran-saluran sekunder.
Saluran primer relatif besar sebab letak saluran paling hilir. Aliran dari saluran primer
langsung dialirkan ke badan air.
5) Sistem Saluran Sekunder
Saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran-saluran tersier
dan meneruskan aliran ke saluran primer.
6) Sistem Saluran Tersier
Saluran drainase yang menerima aliran air langsung dari saluran-saluran pembuangan
rumah-rumah. Umumnya saluran tersier ini adalah saluran kiri kanan jalan perumahan.
Untuk Kota-kota air seperti Palembang, Banjarmasin dan Pontianak agak sulit menentukan
dan membedakan mana sungai dan saluran drainase. Sebab aliran yang dipengaruhi pasang
laut yang tinggi terkadang berputar arah alirannya.

“Drainase perkotaan adalah drainase di wilayah kota yang
berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga tidak
mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi
kegiatan kehidupan manusia”

Gambar 1.2 sampai dengan 1.8 memperlihatkan gambaran beberapa prasarana dan sarana
sistem drainase perkotaan.

139

LEGENDA
Catchment Area Sistem Minor
Catchment Area Sistem Major
Saluran Drainase Major
Saluran Drainase Minor

Gambar 1.1. Lay-out umum dari sistem drainase perkotaan

LEGENDA
Catchment Area Sistem Minor
Catchment Area Sistem Major
Saluran Drainase Major
Saluran Drainase Minor

Gambar 1.2. Skematik lay-out drainase minor dan mayor sistem drainase perkotaan

140

Gambar 1.3. Tipe-tipe Saluran Drainase Perkotaan

141

Beton
Bertulang

Pasir urug

Pasangan batu kali

Plat Penutup
(Beton Bertulang)

Pasangan batu kali

Beton
Bertulang

Pasir urug

Gambar 1.4 Tipe-tipe Saluran

Gambar 1.5. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal berupa Sumur Resapan

142

Peresapan Pada Lubang Resapan
Dengan Pipa Infiltrasi Pada Lapangan
Parkir

Penahan Air Pada Jalan
Lokal

Kerikil

Peresapan Pada Daerah Jalur
Hijau

Tabung Peresapan Tegak

Peresapan Melalui
Penyimpanan Bawah
Tanah

Gambar 1.6. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal

143

Peresapan Pada
Pekarangan Belakang
Industri / Sekolah

Penampungan
Lokal

Gambar 1.7. Peresapan pada Sistem Drainase Lokal

Gambar 1.8. Utilitas yang Ada di Jalan

144

1.6

Proses Terjadinya Banjir di Perkotaan

Secara umum proses terjadinya banjir diakibatkan oleh faktor kondisi alam dan ulah manusia
sebagai berikut:
1.6.1

Kondisi Alam (Statis)

1) Geografi
(1) Apabila kota dibangun di daerah pegunungan akan menyebabkan lahan resapan air
akan tertutup oleh bangunan dan infrastruktur kota dan akan meningkatan debit banjir
yang akan mengancam kota yang ada di bagian hilir.
(2) Apabila kota dibangun di tepi pantai, pengaruh pasang laut akan menyebabkan sebagian
aliran tidak dapat mengalir secara gravitasi, dan akan dapat menyebabkan genangan.
Aliran air dalam sungai akan mengalami kenaikan akibat back water curve yang dapat
menyebabkan over toping dan dapat menyebabkan banjir di dalam kota.

2) Topografi
Kondisi topografi yang bergelombang, maka untuk kota yang berada pada bagian yang
rendah akan rawan terkena bajir dan genangan.

3) Geometri Alur Sungai
(1) Kemiringan dasar sungai yang terlalu besar akan menimbulkan gerusan dasar sungai.
Hal semacam ini akan menyebab konsentrasi sedimentasi pada bagian hilir yang datar
yang dapat menyebabkan saluran / sungai cepat menjadi dangkal.
(2) Meandering umumnya terjadi pada alur sungai yang disebut dalam morfologi sungai
sebagai sungai tua, dimana kemiringan alur sungai sudah berkurang. Sedimentasi akan
mengendap pada bagian yang kecepatan alirannya menurun. Endapan sedimentasi
tersebut dapat membelokkan arah aliran ke kanan atau kekiri sehingga sungai menjadi
berkelok-kelok.

1.6.2

Kondisi Alam (Dinamis)

1) Curah Hujan dengan intensitasnya yang tinggi merupakan faktor penyebab terjadinya
banjir dan genangan.
2) Tingginya pasang surut laut merupakan faktor penyebab banjir untuk kota di daerah
pantai.

145

1.6.3

Kegiatan Manusia (Dinamis)

1) Penyimpangan RUTR pada bantaran banjir dan di Daerah Aliran Sungai yang tidak sesuai
dengan peruntukan.
2) Permukiman di bantaran sungai dan di atas saluran drainase.
3) Pengambilan air tanah yang berlebihan yang menyebabkan terjadinya penurunan lahan.
4) Pembuangan sampah oleh masyarakat kedalam saluran drainase.
5) Bangunan persilangan yang tidak terencana dengan baik seperti adanya pipa PDAM, pipa
telepon dan listrik yang melintang di penampang basah saluran.
6) Pemeliharaan rutin yang terabaikan menyebabkan saluran cepat menjadi dangkal.

1.7
1.7.1

Faktor yang Berpengaruh pada Sistem Drainase Perkotaan
Intensitas Hujan

Intensitas hujan adalah derasnya hujan yang jatuh pada luas daerah tadah hujan tertentu. Ukuran
deras hujan yaitu akumulasi tinggi hujan pada jangka waktu (menit) tertentu dinyatakan dalam
satuan mm per menit.
Data curah hujan di Indonesia dikumpulkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG). Jika dikaitkan dengan perencanaan drainase, maka penggunaan data curah hujan
adalah untuk :
1) Perhitungan dimensi saluran drainase
2) Perhitungan dimensi bangunan-bangunan drainase
Air hujan sebagian meresap ke dalam tanah, menguap dan sebagian lagi dialirkan ke permukaan
yang lebih rendah. Hal ini tergantung dari porositas tanah tadah hujannya (kondisi geologi
setempat), disamping kerapatan vegetasi/tanaman. Besarnya aliran dinyatakan dalam istilah
debit air (Q) dalam satuan volume per satuan waktu.
1.7.2

Catchment Area

Catchment area atau daerah tangkapan air adalah kesatuan area dimana air permukaannya
mengalir ke badan air yang sama baik berupa sungai atau danau, mengikuti arah kontur
topografi area tersebut.

146

1.7.3

Pertumbuhan Daerah Perkotaan

1) Pertumbuhan fisik kota: Pertumbuhan fisik kota dipengaruhi oleh laju pertumbuhan
penduduk dan urbanisasi, yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan lahan. Makin
sempitnya ruang terbuka menyebabkan makin besarnya pengaliran (koefisien run-off) air
permukaan sehingga beban sistem drainase perkotaan semakin berat. Dengan demikian
pembangunan sistem drainase perkotaan harus mengantisipasi laju pertumbuhan penduduk,
sejalan dengan arahan Rencana Tata Ruang Kota maupun pentahapan pelaksanaannya.
2) Keseimbangan pembangunan antarkota dan dalam kota: Pertumbuhan suatu kota harus
didukung oleh daerah belakang yang menunjang pertumbuhan kota tersebut. Pertumbuhan
daerah belakang yang tidak terkendali atau tidak sesuai dengan peruntukannya dapat
mengakibatkan bertambahnya potensi banjir dan genangan di wilayah perkotaan, karena
penurunan fungsi daerah tersebut sebagai daerah resapan air. Sebagai contoh adalah
pertumbuhan kawasan Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur) yang tidak terkendali telah
mengakibatkan banjir kiriman di kota Jakarta.
3) Faktor sosial ekonomi budaya: Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sanitasi
lingkungan dapat menimbulkan permasalahan dalam pembangunan drainase. Sebagai
contoh adalah masyarakat yang membuang sampah ke dalam saluran, atau kecenderungan
masyarakat berpenghasilan rendah untuk membuat bangunan hunian dalam garis sempadan
sungai atau saluran. Kesemuanya menyebabkan penyempitan saluran disamping
menghambat pembangunan sistem drainase.
Penerapan peraturan serta perkuatan aspek hukum sangat diperlukan, agar lahan sepanjang
sungai atau saluran dapat dibebaskan dari hunian penduduk sehingga memudahkan untuk
pelebaran atau peningkatan kapasitas saluran di masa mendatang dan kegiatan operasi dan
pemeliharaan saluran.
1.7.4

Faktor Medan dan Lingkungan

1) Topografi: Pembangunan sistem drainase harus memperhatikan topografi, keberadaan
jaringan saluran drainase, jalan, sawah, perkampungan dan keberadaan badan air.
Pembangunan drainase pada daerah datar harus memperhatikan sistem aliran dan
ketersediaan air penggelontor untuk mengatasi kemungkinan pengendapan dan pencemaran.
2) Kestabilan tanah: Pembangunan drainase di daerah lereng pegunungan harus
memperhatikan masalah longsor yang disebabkan oleh kandungan air tanah.

147

3) Pengempangan: Pada daerah yang terkena pengaruh pengempangan dari waduk atau laut
perlu memperhatikan pembendungan atau pengempangan yang diakibatkan oleh aliran balik
(back water).

2

PENGATURAN WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB

2.1

Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2004

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, antara lain
berisi pengaturan wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa.

Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah:
1)
2)

menetapkan kebijakan nasional sumber daya air,
menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah
sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional;
3) menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi,
wilayah sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional;
4) menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas
provinsi, wilayah sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional;
5) melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah
sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional;
6) mengatur, menetapkan, dan member izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan
pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas
negara dan wilayah sungai strategis nasional;
7) mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, peruntukan,
penggunaan, dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan
cekungan air tanah lintas negara;
8) membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan sumber daya air wilayah sungai
lintas provinsi, dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional;
9) memfasilitasi penyelesaian sengketa antarprovinsi dalam pengelolaan sumber daya air;
10) menetapkan norma, standar, kriteria, dan pedoman pengelolaan sumber daya air;
11) menjaga efektifitas, efesiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber
daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara dan wilayah
sungai strategis nasional; dan
12) memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

148

Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Provinsi meliputi :
1) menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan
nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya;
2) menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
3) menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas
kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya;
4) menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas
kabupaten/kota;
5) melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota
dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya;
6) mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan
pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
7) mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan,
peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas
kabupaten/kota;
8) membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat provinsi dan/atau
pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
9) memfasilitasi penyelesaian sengketa antarkabupaten/kota dalam pengelolaan sumber daya
air;
10) membantu
kabupaten/kota pada wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan pokok
masyarakat atas air;
11) menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber
daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; dan
12) memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah
kabupaten/kota.
Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota meliputi:
1) menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan
nasional sumber daya air dan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi dengan
memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya;
2) menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota;
3) menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya;
4) menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota;

149

5)

melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota
dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya;
mengatur, menetapkan, dan memberi izin penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan
pengusahaan air tanah di wilayahnya serta sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu
kabupaten/kota;
membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat kabupaten/kota
dan/atau pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota;
memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di wilayahnya;
dan
menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber
daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

6)

7)
8)
9)

2.2

Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007

Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 mengatur tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota.
Pembagian urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum sub bidang drainase disajikan dalam
Tabel 2-1 berikut.

Tabel 2-1 Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pekerjaan Umum Sub.Bidang
Drainase
Sub-sub Bidang
1. Pengaturan

150

Pemerintah
1. Penetapan kebijakan
dan strategi nasional
dalam
penyelenggaraan
drainase dan
pematusan.
2. Penetapan NSPK
penyelenggaraan
drainase dan
pemantauan genangan

Pemerintahan Daerah
Provinsi
1. Penetapan peraturan
daerah kebijakan dan
strategi provinsi
berdasarkan kebijakan
dan strategi nasional.
2. Penetapan peraturan
daerah NSPK provinsi
berdasarkan SPM
yang ditetapkan oleh
pemerintah di wilayah
provinsi.

Pemerintahan Daerah
Kabupaten/ Kota
1. Penetapan peraturan
daerah kebijakan dan
strategi kabupaten/
kota berdasarkan
kebijakan nasional dan
provinsi.
2. Penetapan peraturan
daerah NSPK drainase
dan pemanfaatan
genangan di wilayah
kabupaten/kota
berdasarkan SPM
yang disusun
pemerintah pusat dan
provinsi.

Sub-sub Bidang
2.

Pembinaan

3. Pembangunan

4. Pengawasan

Pemerintah

Pemerintahan Daerah
Provinsi
1. Bantuan teknis
pembangunan,
pemeliharaan dan
pengelolaan.
2. Peningkatan kapasitas
teknik dan manajemen
penyelenggaraan
drainase dan
pematusan genangan
di wilayah provinsi.

Pemerintahan Daerah
Kabupaten/ Kota
1. -

1. Fasilitas bantuan
teknis pembangunan,
pemeliharaan dan
pengelolaan drainase
2. Peningkatan kapasitas
2. Peningkatan kapasitas
teknik dan
teknik dan manajemen
manajemen
penyelenggara
penyelenggaraan
drainase dan
drainase dan
pematusan genangan
pematusan genangan
di wilayah kabupaten/
secara nasional
kota.
1. Fasilitasi
1. Fasilitasi penyelesaian 1. Penyelesaian masalah
penyelesaian masalah
masalah dan
dan permasalahan
dan permasalahan
permasalahan
operasionalisasi sistem
operasionalisasi
operasionalisasi sistem
drainase dan
sistem drainase dan
drainase dan
penanggulangan banjir
penanggulangan
penanggulangan banjir
di wilayah
banjir lintas provinsi.
lintas kabupaten/kota.
kabupaten/kota serta
koordinasi dengan
daerah sekitarnya
2. Fasilitasi
2. Fasilitasi
2. Penyelenggaraan
penyelenggaraan
penyelenggaraan
pembangunan dan
pembangunan dan
pembangunan dan
pemeliharaan PS
pemeliharaan PS
pemeliharaan PS
drainase di wilayah
drainase dan
drainase di wilayah
kabupaten/kota.
pengendalian banjir di
provinsi.
kawasan khusus dan
strategis nasional
3. Fasilitasi penyusunan 3. Penyusunan rencana
3. Penyusunan rencana
rencana induk
induk PS drainase
induk PS drainase
penyelenggaraan
skala regional/lintas
skala kabupaten/kota
prasarana sarana
daerah.
drainase dan
pengendalian banjir
skala nasional.
1. Evaluasi kinerja
1. Evaluasi di provinsi
1. Evaluasi terhadap
penyelenggaraan
terhadap
penyelenggaraan
sistem drainase dan
penyelenggaraan
sistem drainase dan
pengendali banjir
sistem drainase dan
pengendali banjir di
secara nasional
pengendali banjir di
wilayah
wilayah provinsi
kabupaten/kota
2. Pengawasan dan
2. Pengawasan dan
2. Pengawasan dan
pengendalian
pengendalian
pengendalian
penyelenggaraan
penyelenggaraan
penyelenggaraan
drainase dan
drainase dan
drainase dan
pengendalian banjir
pengendaliaan banjir
pengendalian banjir di

151

Sub-sub Bidang

Pemerintah
secara lintas provinsi.
3. Pengawasan dan
pengendalian
pelaksanaan NSPK.

Sumber:

2.3

Pemerintahan Daerah
Provinsi
lintas kabupaten/kota
3. Pengawasan dan
pengendalian atas
pelaksanaan NSPK

Pemerintahan Daerah
Kabupaten/ Kota
kabupaten/kota.
3. Pengawasan dan
pengendalian atas
pelaksanaan NSPK.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/
Kota

Konsep Panduan Kelembagaan Pengelola bidang PLP di Kabupaten/Kota
Tahun 2010

Secara lebih khusus konsep panduan kelembagaan pengelola bidang PLP di kabupaten/ kota
disajikan dalam buku tersendiri.
Produk Pengaturan yang Sudah ada
 SK SNI 02-2453-2002, tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Sumur Resapan Air Hujan
untuk Lahan Pekarangan
 SK SNI 02-2406-1991, tentang Tata Cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan
 SK SNI 06-2459-2002, tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan
Pekarangan

3

PENUTUP

Sebagai penutup uraian tentang pengetahuan Dasar-dasar Teknik dan Manajemen tentang
drainase perkotaan dan permasalahannya ini, maka perlu ditekankan bahwa permasalahanpermasalahan drainase yang diuraikan di atas akan sangat menentukan keberhasilan dalam
penanganan drainase perkotaan
Tekad untuk menangani permasalahan drainase tersebut di atas haruslah dilandasi oleh indikasi
bahwa tingkat kebutuhan drainase perkotaan sudah sangat tinggi terutama pada kota-kota yang
pesat perkembangannya, sehingga pada musim hujan tidak terjadi musibah banjir yang
menimbulkan kerugian moril dan materil yang sangat besar dan tidak menimbulkan putusnya
hubungan lalu lintas yang dengan sendirinya mengancam perputaran roda perekonomian kota
tersebut.

152

DAFTAR PUSTAKA
1. Urban Drainage Guidelines and Technical Design Standard, WSWCF 092/020
2. Tata cara Perencanaan Umum Drainase Perkotaan, SK SNI 02-2406-1991
3. Tata Cara Teknik Pembuatan Sumur Resapan Air Hujan Untuk Lahan Pekarangan, SK SNI
02-2453-2002
4. Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, SK SNI 06-2459-2002
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/ Kota.
6. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

153

halaman kosong

154