You are on page 1of 30

Pengertian Surveilans Epidemiologi dan Kesehatan

Terdapat berbagai pengertian surveilans. Menurut WHO (2004), surveilans merupakan proses
pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta
penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Berdasarkan
definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan pengamatan penyakit yang
dilakukan secara terus menerus dan sistematis terhadap kejadian dan distribusi penyakit serta faktorfaktor yang mempengaruhi nya pada masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan untuk dapat
mengambil tindakan efektif.
Menurut CDC (Center of Disease Control), merupakan pengumpulan, analisis dan interpretasi data
kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan
evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada
pihak-pihak yang perlu mengetahuinya
Sementara menurut Timmreck (2005), pengertian surveilans kesehatan masyarakat merupakan proses
pengumpulan data kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik, tetapi
juga melibatkan analisis, interpretasi, penyebaran, dan penggunaan informasi kesehatan. Hasil surveilans
dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang
status kesehatan populasi guna merencanakan, menerapkan, mendeskripsikan, dan mengevaluasi program
kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah kejadian yang merugikan kesehatan. Dengan
demikian, agar data dapat berguna, data harus akurat, tepat waktu, dan tersedia dalam bentuk yang dapat
digunakan.
Sedangkan menurut DCP2 (2008), surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan
analisis data secara terus-menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan)
kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya.
Tujuan Surveilans menurut Depkes RI (2004a) adalah untuk pencegahan dan pengendalian penyakit
dalam masyarakat, sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa
(KLB), memperoleh informasi yang diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan, penanggulangan
maupun pemberantasannya pada berbagai tingkat administrasi.
Sedangkan Komponen kegiatan surveilans menurut antara lain sebagai berikut :
1.

Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi yang jelas, tepat dan ada
hubungannya dengan penyakit yang bersangkutan. Tujuan dari pengumpulan data epidemiologi
adalah: untuk menentukan kelompok populasi yang mempunyai resiko terbesar terhadap serangan
penyakit; untuk menentukan reservoir dari infeksi; untuk menentukan jenis dari penyebab penyakit
dan karakteristiknya; untuk memastikan keadaan yang dapat menyebabkan berlangsungnya transmisi
penyakit; untuk mencatat penyakit secara keseluruhan; untuk memastikan sifat dasar suatu wabah,
sumbernya, cara penularannya dan seberapa jauh penyebarannya.
2.
Kompilasi, analisis dan interpretasi data. Data yang terkumpul selanjutnya dikompilasi, dianalisis
berdasarkan orang, tempat dan Analisa dapat berupa teks tabel, grafik dan spot map sehingga mudah
dibaca dan merupakan informasi yang akurat. Dari hasil analisis dan interpretasi selanjutnya dibuat
saran bagaimana menentukan tindakan dalam menghadapi masalah yang baru.
3.
Penyebaran hasil analisis dan hasil interpretasi data. Hasil analisis dan interpretasi data digunakan
untuk unit-unit kesehatan setempat guna menentukan tindak lanjut dan disebarluaskan ke unit terkait
antara lain berupa laporan kepada atasan atau kepada lintas sektor yang terkait sebagai informasi
lebih lanjut.

Pada bidang kesehatan masyarakat, menurut McNabb et al., (2002), kegiatan surveilans mempunyai
aktifitas inti sebagai berikut:
1.

Pendeteksian kasus (case detection), merupakan proses mengidentifikasi peristiwa atau keadaan
kesehatan. Unit sumber data menyediakan data yang diperl ukan dalam penyelenggaraan surveilans
epidemiologi seperti rumah sakit, puskesmas, laboratorium, unit penelitian, unit program-sektor dan
unit statistik.
2.
Pencatatan kasus (registration), merupakan proses pencatatan kasus hasil identifikasi peristiwa
atau keadaan kesehatan.
3.
Konfirmasi (confirmation), merupakan evaluasi dari ukuran-ukuran epidemiologi sampai pada
hasil percobaan laboratorium.
4.
Pelaporan (reporting), berupa data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan surveilans
epidemiologi yang kemudian disampaikan kepada berbagai pihak yang dapat melakukan tindakan
penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan program kesehatan. Juga disampaikan kepada
pusat penelitian dan kajian serta untuk pertukaran data dalam jejaring surveilans
5.
Analisis data (data analysis), merupakan analisis terhadap berbagai data dan angka sebagai bahan
untuk menentukan indikator pada
6.
Respon segera/ kesiapsiagaan wabah (epidemic preparedness), merupakan kesiapsiagaan dalam
menghadapi wabah/kejadian luar biasa.
7.
Respon terencana (response and control), merupakan sistem pengawasan kesehatan masyarakat.
Respon ini hanya dapat digunakan jika data yang ada bisa digunakan dalam peringatan dini pada
munculnya masalah kesehatan masyarakat.
8.
Umpan balik (feedback), berfungsi penting untuk sistem pengawasan, alur pesan dan informasi
kembali ke tingkat yang lebih rendah dari tingkat yang lebih tinggi.
Dalam pelaksanaannya, diperlukan sistem evaluasi pada surveilans ini. Evaluasi Sistem Surveilans
Kesehatan merupakan penilaian periodik dari perubahan dalam hasil yang ditargetkan (sasaran) yang
dapat dihubungkan dengan sistem surveilans dan respon. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat perubahan
dalam keluaran, hasil dan pengaruh (negatif atau positif target atau non target) dari sistem surveilans dan
respon.
Kriteria evaluasi tersebut menurut Unicef (1990) dalam Trisnantoro (2005) antara lain:
1.

Relevansi, apakah nilai intervensi sesuai dengan kebutuhan utama pemegang kekuasaan, prioritas
nasional, kebijakan nasional dan internasional. Standar global ini bisa sebagai referensi evaluasi baik
proses maupun hasil.
2.
Efisiensi, apakah program cukup efisien untuk mencapai tujuan.
3.
Efektivitas, apakah kegiatan yang dilaksanakan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4.
Dampak, yaitu efek yang timbul dari kegiatan baik positif maupun negatif meliputi sosial,
ekonomi, lingkungan individu, komunitas atau institusi.
5.
Kelanjutan, yaitu apakah aktivitas dan dampaknya mungkin diteruskan ketika dukungan dari luar
dihentikan dan akankah akan lebih banyak ditiru atau diadaptasi.
Refference, antara lain:

Deteksi Dini KLB
Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, September 9, 2015 | 10:19 PM
Peran Puskesmas pada Kegiatan Deteksi Dini dan Kajian Epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Kita harus memahami bahwa diperlukan kajian secara terus menerus dan sistematis terhadap berbagai
jenis penyakit berpotensi KLB di tempat kerja kita. Tujuannya kegiatan ini terutama untuk mengetahui
potensi ancaman KLB. Sedangkan potensi yang dapat kita gunakan untuk menilai ini, kita pergunakan
data yang bersumber dari surveilans terpadu penyakit dan jejaring surveilans epidemiologi penyakit
berpotensi KLB. Kemudian berdasarkan kajian epidemiologi tersebut, kita dapat merumuskan suatu
peringatan kewaspadaan dini KLB pada daerah dan periode waktu tertentu.
Berdasarkan periodisasi waktu, peringatan kewaspadaan dini KLB dan atau terjadinya peningkatan KLB
pada daerah tertentu dibuat untuk jangka pendek (periode 3 - 6 bulanan) dan disampaikan kepada semua
unit terkait di jajaran sektor kesehatan Kabupaten dan sektor terkait lainya serta anggota masyarakat.
Tujuan kegiatan ini agar dapat mendorong peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB di
Unit Pelayanan Kesehatan dan program terkait serta peningkatan kewaspadaan pada masyarakat,
kelompok, maupun perorangan.
Peringatan kewaspadaan dini KLB dapat juga dilakukan terhadap penyakit berpotensi KLB dalam jangka
panjang (periode 5 tahun yang akan datang), agar terjadi kesiapsiagaan yang lebih baik serta dapat
menjadi acuan perumusan perencanaan strategis program penanggulangan KLB.
Terdapat beberapa jenis kegiatan dalam usaha deteksi dini KLB. Peningkatan Kewaspadaan dan
Kesiapsiagaan terhadap KLB, antara lain meliputi kegiatan :
1. Deteksi dini kondisi rentan KLB
2. Deteksi dini KLB
3. Pelaporan kewaspadaan KLB oleh masyarakat
4. Kesiapsiagaan menghadapi KLB
5. Tindakan penanggulangan KLB secara cepat dan tepat
6. Advokasi dan asistensi penyelenggaraan SKD-KLB
7. Pengembangan teknologi SKD KLB untuk penanggulangan KLB.

Penyelenggaraan kegiatan Kajian Epidemiologi Ancaman KLB. Pada kegiatan ini.  Melakukan kajian epidemiologi terus menerus secara sistematis terhadap perkembangan penyakit berpotensi KLB dan faktor risikonya. Melaksanakan penyelidikan kondisi rentan KLB.Posyandu dan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam melakukan deteksi dini dan pelayanan pertama dalam pencegahan dan penaggulangan kasus KLB. Peningkatan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Terhadap KLB. pemantauan wilayah setempat terhadap penyakit-penyakit berpotensi KLB . maka dalam waktu secepatnya. Peringatan Kewaspadaan Dini KLB Apabila teridentifikasi adanya ancaman KLB yang sangat penting dan mendesak.  Melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data serta informasi penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB dan kondisi rentan KLB di wilayan kerja Puskesmas. Puskesmas memberikan peringatan kewaspadaan dini KLB kepada program terkait di lingkungan Puskesmas.  Peningkatan kegiatan surveilans untuk deteksi dini KLB dengan penyelenggaraan pemantauan wilayah setempat penyakit berpotensi KLB di Puskemas dan Pustu  Penyelidikan lebih luas terhadap dugaan adanya KLB  Melaksanakan penyuluhan serta mendorong kewaspadaan KLB di Pustu. klinik dan masyarakat. serta melaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota 3. Kegiatan surveilans ini dilakukan dengan melaksanakan pemantauan wilayah setempat. serta melakukan kegiatan penyelidikan dugaan KLB. khususnya terkait kondisi rentan KLB di wilayah Puskesmas. Rumah Sakit. Beberspa peran tersebut antara lain : 1. terdapat berbagai macam peran yang dapat dilakukan oleh Puskesmas. Klinik dan Masyarakat .  2.  Peningkatan kegiatan surveilans dan penyelidikan lebih luas terhadap kondisi rentan KLB dan mendorong upaya-upaya pencegahan KLB. termasuk rumah sakit. Kegiatan deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya KLB dengan mengidentifikasi berbagai kasus yang berpotensi menimbulkankejadian luar biasa. dan sektor terkait di wilayah puskesmas. sehingga dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB pada wilayah Puskesmas.

4. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan. Kegiatan Pokok Surveilans Epidemiologi Ada 5 komponen utama dari kegiatan Surveilans 1. serum. Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya. Perencanaan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya. Kesiapsiagaan menghadapi KLB. dan vaksin  Data demografi dan lingkungan BAB IPENDAHULUAN . Evaluasi/penilaian hasil kegiatan. terutama penyiapan tim penyelidikan dan penanggulangan KLB puskesmas yang merupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulangan KLB Kabupaten/Kota. 5. 10 Elemen Langmuir  Catatan Kematian  Laporan penyakit  Laporan wabah  Pemeriksaan laboratorium  Penyelidikan peristiwa penyakit  Penyelidikan wabah  Survey  Hasil pengamatan vektor  Penggunaan obat. 3. 2. Pengelola data untuk dapat memberikan keterangan yang berarti.

Pada awalnya surveilans epidemiologi banyak dimanfaatkan pada upaya pemberantasan penyakit menular. Bertambahnya jumlah penduduk dan “overcrowding” mempercepat terjadinya penularan penyakit dari orang ke orang. Perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah baru yang mempunyai ekologi lain membawa konsekuensi orang-orang yang pindah tersebut mengalami kontak dengan agen penyakit tertentu yang dapat menimbulkan masalah penyakit baru. Latar Belakang Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan. Journal baru yang berjudul Emerging Infectious Diseases telah diterbitkan. Faktor pertumbuhan dan mobilitas penduduk ini juga memperngaruhi perubahan gambaran Epidemiologis serta virulensi dari penyakit menular tertentu. Apapun jenis penyakitnya. CDC Atlanta telah mengembangkan rencana strategis untuk mengatasi masalahmasalah yang muncul termasuk mengembangkan jaringan susrveilans sentinel. maupun terhadap upaya kesehatan lainnya. . CDC dengan WHO telah pula melakukan kerjasama tukar menukar informasi melalui media elektronika sejak tahun 1990 an. apakah dia penyakit yang sangat prevalens di suatu wilayah ataukah penyakit yang baru muncul ataupun penyakit yang digunakan dalam bioteririsme. baik upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Bagaimanapun juga deteksi dini terhadap suatu kejadian penyakit menular sangat tergantung kepada kejelian para petugas kesehatan yang berada di ujung tombak untuk mengenali kejadian kesehatan yang tidak biasa secara dini.A. yang paliang penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan adalah mengenal dan mengidentifikasinnya sedini mungkin. Pelaporan Penyakit Menular hanya salah satu bagian saja namun yang paling penting dari suatu system surveilans kesehatan masyarakat. pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka system surveilans yang tertata rapi sangat diperlukan. tetapi pada saat ini surveilans mutlak diperlukan pada setiap upaya kesehatan masyarakat. pengembangan pusat-pusat surveilans berbasis masyarakat dan berbagai proyek yang melengkapi kegiatan surveilans. Sebagai tambahan.

Memonitor kecenderungan beban suatu penyakit atau terkait dengan kesehatan lainnya.Mengetahui jenis surveilans d . khususnya terkait (elaborasi) dengan teori simpul Ahmadi. Landasan Teori Surveilans penting untuk pahami.Mengetahui pengertian surveilans kesehatan masyarakat b . Menurut German (2001). Sebagai pedoman dalam melakukan tindakan segera untuk kasus-kasus penting kesehatan masyarakat b.Mengetahui pendekatan atau sumber data surveilans kesehatan Masyarakat e . Tujuan a . dan meningkatkan status kesehatan. termasuk identifikasi populasi resiko tinggi c. Mengukur beban suatu penyakit atau terkait dengan kesehatan lainnya. analisis dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan masyarakat dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian. B. termasuk mendeteksi terjadinya outbreak dan pandemic .Dokter atau tenaga kesehatan yang menemukan yang aneh di lapangan punya kewajiban untuk melaporkan kepada otoritas kesehatan yang lebih tinggi agar dapat dilakukan tindakan yang semestinya. surveilans kesehatan masyarakat (public health surveillance) adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus¬ menerus berupa pengumpulan data secara sistematik.Mengetahui rumusan tujuan surveilans kesehatan Masyarakat c .Mengetahui kegunaan surveilans kesehatan Masyarakat BAB IIPEMBAHASAN A. Data yang dihasilkan oleh sistem surveilans kesehatan masyarakat dapat digunakan : a. surveilans menjadi vital juga karena pijakan pola fikir kita sejauh menyangkut konsep dasar Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL).

dan tersedia dalam bentuk yang dapat digunakan. interpretasi. dan mengevaluasi program kesehatan masyarakat untuk mengendalikan dan mencegah kejadian yang merugikan kesehatan. menerapkan. Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang status kesehatan populasi guna merencanakan. pengamatan menyeluruh. Sebagai pedoman dalam perencanaan. Menurut German (2001). agar data dapat berguna. dan interpretasi secara sistematik dan berkesinambungan pada data yang berkaitan dengan kesehatan. pemantauan konstan. pengawasan berkelanjutan. kondisi. analisis. surveilans epidemiologi adalah pengumpulan. mendeskripsikan. mengkaji. mengevaluasi. penyebaran. Surveilans kesehatan masyarakat adalah proses pengumpulan data kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik. data harus akurat. Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan. Sementara menurut pendapat lain dikemukakan. Dengan demikian. analisis. serta pengkajian perubahan dalam populasi yang berkaitan dengan penyakit. tetapi juga melibatkan analisis. dan kondisi. Temuan dari kegiatan surveilans epidemiologi digunakan untuk merencanakan. atau kecenderungan kematian. dan evaluasi program e. Menurut Timmreck (2005). surveilans merupakan sebuah istilah umum yang mengacu pada observasi yang sedang berjalan. Menyediakan suatu dasar untuk penelitian epidemiologi lebih lanjut. implementasi. dan analisis data secara terusmenerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada . penyakit. cedera. tepat waktu. Mengevaluasi kebijakan-kebijakan publik f.d. surveilans kesehatan masyarakat (public health surveillance) adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus¬ menerus berupa pengumpulan data secara sistematik. dan penggunaan informasi kesehatan. dan menerapkan program pencegahan dan pengendalian di bidang kesehatan. ketidakmampuan. dan meningkatkan status kesehatan. analisis dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan masyarakat dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian. Memprioritaskan alokasi sumber daya kesehatan dan g.

B. 2008).  Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas. kementerian keuangan. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last. dan reservoir. sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health). dan evaluasi program kesehatan. sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. implementasi. Memantau kesehatan populasi. dan donor. Surveilans memungkinkan pengambil keeputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif. membantu perencanaan. Rumusan tujuan surveilans kesehatan Masyarakat Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan populasi. monitoring. Kadang digunakan istilahsurveilans epidemiologi. Surveilans kesehatan masyarakat memberikan informasi kewaspadaan dini bagi pengambil keputusan dan manajer tentang masalah-masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada suatu populasi. Tujuan khusus surveilans:    Memonitor kecenderungan (trends) penyakit. . 2008). sebab menggunakan metode yang sama. Surveilans kesehatan masyarakat merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreak penyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik (DCP2. 2001). menaksir besarnya beban penyakit (disease burden) pada populasi. vektor. untuk mendeteksi dini outbreak. dan tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat. Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit. mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit. mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi.pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2. Informasi dari surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan. seperti perubahan-perubahan biologis pada agen. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi hakikatnya sama saja. Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit.

konsolidasi. melalui pengumpulan sistematis. Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS. tifus. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last. 2002).  Karantina parsial. 2002. misalnya pes. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan. tuberkulosis. program surveilans tuberkulosis. Dikenal dua jenis karantina. b. 2001. sedang di pospos lainnya tetap bekerja. evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian. cacar. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa inkubasi. C Jenis Surveilans Dikenal beberapa jenis surveilans: a. Surveilans Penyakit Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit. demam kuning. pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertikal (pusatdaerah). Sebagai contoh. bukan individu. karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode menular. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan  Mengidentifikasi kebutuhan riset (Last. berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit. serta data relevan lainnya. Di banyak negara. 2001). anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit. sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Contoh. yaitu:  Karantina total. program surveilans malaria. sifilis. JHU. untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak. Surveilans Individu Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius. sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Giesecke. Beberapa dari . Contoh. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif.

2006).. mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing. tanda. karena pemerintah kekurangan biaya.sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif. termasuk flu burung. Dalam surveilans tersebut. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit. Sloan et al. sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal. d. laboratorium. penggunaansebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu . Sebagai contoh. sehingga mengakibatkan inefisiensi. sehingga dapat memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al. c. Sebagai contoh. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya. disebut surveilans sentinel.. dan memberikan informasi duplikatif. dan antraks. atau anggota komunitas. pada lokasi tertentu. tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps. para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai influenza. yang dapat ditelusuri dari aneka sumber. Surveilans Berbasis Laboratorium Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi. regional. pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. seperti pola perilaku. menggunakan fungsi penunjang masing-masing. dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans Sindromik Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terusmenerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit. 2004. maupun nasional. Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin. Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan. atau temuan laboratorium. bukan masing-masing penyakit. gejala-gejala. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis.

proses. peneliti. pelatihan dan supervisi. penguatan laboratorium.  Menggunakan pendekatan solusi majemuk. Meskipun menggunakan pendekatan terpadu. memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.. dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhankebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. yang manyatukan para praktisi kesehatan. 2001. tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni. pengumpulan. f. baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging . pemerintah. dan personalia yang sama.memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik e. masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. migrasi manusia dan binatang serta organisme.  Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Surveilans terpadu Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:  Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services). pelaporan. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern. melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. komunikasi. Sloan et al. analisis data.  Menggunakan pendekatan fungsional. manajemen sumber daya).  Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global. surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO. 2002). Konsekunsinya. bukan struktural. 2002. 2006). Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia. Surveilans terpadu menggunakan struktur.

yang . sehingga dengan surveilans pasif dapat dilakukan analisis perbandingan penyakit internasional.diseases). dengan tujuan mengidentifikasi kasus baru penyakit atau kematian. sehingga memerlukan pelatihan diagnosis kasus bagi kader kesehatan. Negara-negara anggota WHO diwajibkan melaporkan sejumlah penyakit infeksi yang harus dilaporkan. karena waktupetugas terbagi dengan tanggungjawab utama memberikan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan masing-masing. Definisi kasus yang sensitif dapat membantu para kader kesehatan mengenali dan merujuk kasus mungkin (probable cases) ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. b. surveilans aktif dapat mengidentifikasi outbreak lokal. Surveilans pasif. dengan menggunakan data penyakit yang harus dilaporkan (reportable diseases) yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan. dan SARS. Petugas kesehatan di tingkat lebih tinggi dilatih menggunakan definsi kasus lebih spesifik. termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi . Dalam community surveilance. Surveilans pasif memantau penyakit secara pasif. Kelebihan surveilans pasif. flu burung. informasi dikumpulkan langsung dari komunitas oleh kader kesehatan. disebut penemuan kasus (case finding). Kelebihan surveilans aktif. seperti HIV/AIDS. D. Pendekatan atau sumber data surveilans kesehatan Masyarakat Berdasarkan pendekatan sumber data surveilans dapat dibagi menjadi dua jenis: a. desa-desa. Surveilans aktif Surveilans aktif menggunakan petugas khusus surveilans untuk kunjungan berkala ke lapangan. karena tidak semua kasus datang ke fasilitas pelayanan kesehatan formal. disebut community surveilance. tingkat pelaporan dan kelengkapan laporan biasanya rendah. Data yang dihasilkan cenderung under-reported. dan rumah sakit. Selain itu. Selain itu. maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemergingdiseases). puskesmas. klinik. tempat praktik pribadi dokter dan tenaga medis lainnya. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru. Kelemahan surveilans aktif. lebih mahal dan lebih sulituntuk dilakukan daripada surveilans pasif Sistem surveilans dapat diperluas pada level komunitas. Kekurangan surveilans pasif adalah kurang sensitif dalam mendeteksi kecenderungan penyakit. instrumen pelaporan perlu dibuat sederhana dan ringkas. sebab dilakukan oleh petugas yang memang dipekerjakan untuk menjalankan tanggungjawab itu. Untuk mengatasi problem tersebut. dan konfirmasi laporan kasus indeks. relatif murah dan mudah untuk dilakukan. lebih akurat daripada surveilans pasif.

Kegunaan surveilans kesehatan Msayarakat Adapun kegunaan surveilans dalam pelayanan kesehatan Masyarakat adalah sebagai berikut: a. Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit potensial pada populasi sehingga dapat efektif dalam investigasi. E. 1116/menkes/sk/VIII/2003: 1. serta keterpaparan faktor resiko). Data demografi yang dapat diperoleh dari unit ststistik kependudukan dan masyarakat 4. Laporan wabah 8. controling dan pencegahan penyakit di populasi. Studi epidemiologi dan hasil penelitian lainnya 11. Data geografi yang dapat di peroleh dari unit unit meteorologi dan geofisika 5. Data kondisi lingkungan 7. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan 10. Data laboratorium yang dapat di peroleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat 6. Data hewan dan vektor sumber penularan penyakit yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat 12. Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat 2. . b. Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta laporan kantor pemerintah dan masyarakat 3. Mempelajari riwayat alamiah penyakit. Laporan kondisi pangan. 2006).memerlukan konfirmasi laboratorium. spektrum klinik dan epidemiologi penyakit (siapa. Community surveilans mengurangi kemungkinan negatif palsu (JHU. Laporan penyelidikan wabah/KLB 9. kapan dan dimana terjadinya. Sumber data dalam survelans epidemiologi menurut kemenkes RI no.

KESIMPULAN a. Menyediakan basis data yang dapat digunakan untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan. 2. sumber data surveilans dapat dibagi menjadi dua jenis: Surveilans pasif. 4. 3. Epidemiologi . SARAN Surveilans kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan penanggulangan penyakit terutama dalam penanggulangan wabah (KLB). Dikenal beberapa jenis surveilans: Surveilans Individu. Surveilans kesehatan masyarakat adalah proses pengumpulan data kesehatan yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik. surveilans sinromik dll c. penyebaran. Pengelola data untuk dapat memberikan keterangan yang berarti. Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan. Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan populasi. surveilan penyakit.c. Menurut cara memperolehnya. Surveilans aktif B. sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif d. BAB IIIPENUTUP A. Maka dari itu dalam pengoperasian data surveilans haruslah relevan dan akurat sehingga dalam pengambilan keputusan menjadi tepat sasaran. Perencanaan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya. Kegiatan Pokok Surveilans Ada 5 komponen utama dari kegiatan Surveilans 1. tetapi juga melibatkan analisis. dan penggunaan informasi kesehatan b. interpretasi.

untuk melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan program. bentuk grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan keterangan yang berarti. Data yang terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel. Evaluasi: Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat digunakan untuk perencanaan. laporan masyarakat. untuk kegiatan tindak lanjut (follow up). dan petugas kesehatan lain. dan KLB. selanjutnya dapat disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan.5. Tehnik pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan. Distribusi Data: Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan. dan sarana pelayanan kesehatan lain. Analisis dan Interpretasi Data: Data yang telah disusun dan dikompilasi. dan pencatatan jumlah populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati. Survei khusus. penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya. Menentukan reservoir. Pengelolaan Data: Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah (row data) yang masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Pengumpulan Data: Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit. Evaluasi/penilaian hasil kegiatan. agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya. Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk. Transmisi. puskesmas. Menentukan jenis dan karakteristik (penyebabnya). selanjutnya dianalisis dan dilakukan interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi yang ada dalam masyarakat. Tujuan dari Surveilans Epidemiologi  Untuk memantau kecenderungan penyakit  Untuk deteksi dan prediksi terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) dari sebuah penyakit  Memantau kemajuan suatu program pemberantasan  Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan pelayanan kesehatan . laporan petugas surveilans di lapangan. serta untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan. Pencatatan kejadian penyakit.

sensitif (sesuai dengan laporan kasus.  Bisa digunakan sebagai dasar penelitian untuk menentukan suatu tindakan penanggulangan atau pencegahan penyakit  Mengidentifikasikan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian suatu penyakit  Memungkinkan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap tindakan penanggulangan  Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakan-tindakan praktek klinis oleh petugas kesehatan yang terlibat dalam sistim surveilans. untuk itu ditetapkan sebuah atribut / pedoman dalam pelaksanaannya. proporsi dari masalah kesehatan). bisa diterima (acceptability). Manfaat Surveilans Puskesmas · Deteksi Perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya · Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit · Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu. orang dan tempat · Identifikasi factor risiko dan penyebab lainnya · Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi · Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis · Mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya · Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa datang . benar dan tepat waktu. Memperkirakan besarnya suatu kesakitan atau kematian yang berhubungan dengan masalah yang sedang diamati. Sebuah kegiatan surveilans epidemiologi hendaknya mengikuti beberapa kriteria seperti sederhana.  Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit Dalam menjalankan kegiatan surveilans epidemiologi. fleksibel. diperlukan keterpaduan satu sama lain.

komposisi umur. dll) 5. Survei khusus terhadap penyakit tertentu atau screening 3. Data penduduk (termasuk social budaya.· Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan Kegiatan Pokok Surveilans Puskesmas · Pengumpulan data · Tabulasi dan analisis data · Penyebarluasan hasil dan informasi Sumber data Surveilans Puskesmas 1. ketinggian. Laporan (catatan/registrasi) o Kematian o Kesakitan o Laboratorium o Kejadian Luar Biasa/Wabah o Kasus individu o Laporan penelitian (eksperimen atau observasi) 2. Laporan vector binatang (reservoir) 4. dll) Peran dan Mekanisme Kerja Surveilans Terpadu Penyakit (STP) di Puskesmas . geografi termasuk curah hujan. Data lingkungan (sanitasi.

informasi program dan sektor terkait serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. maka Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi dan menginformasikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. · Umpan Balik. Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis tahunan perkembangan penyakit dan menghubungkannya dengan faktor risiko. sebagai pelaksanaan pemantauan wilayah setempat (PWS) atau sistem kewaspadaan dini penyakit potensial KLB di Puskesmas. tidak termasuk data dari unit pelayanan bukan puskesmas dan kader kesehatan. Puskesmas memanfaatkan hasilnya sebagai bahan profil tahunan. Puskesmas mengirim data PWS penyakit potensial KLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagaimana formulir PWS KLB.PUS. Pada data PWS penyakit potensial KLB dan data STP Puskesmas ini tidak termasuk data unit pelayanan kesehatan bukan puskesmas dan data kader kesehatan. Unit surveilans Puskesmas mengirim umpan balik bulanan absensi laporan dan permintaan perbaikan data ke Puskesmas Pembantu di daerah kerjanya Laporan. kemudian menginformasikan hasilnya kepada Kepala Puskesmas. Apabila ditemukan adanya kecenderungan peningkatan jumlah penderita penyakit potensial KLB tertentu. Puskesmas mengirim data STP Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan jenis penyakit dan variabelnya sebagaimana formulir STP. Unit Pelayanan bukan Puskesmas mengirim data PWS penyakit potensial KLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.· Pengumpulan dan Pengolahan Data. perubahan lingkungan. Pengumpulan dan pengolahan data tersebut dimanfaatkan untuk bahan analisis dan rekomendasi tindak lanjut serta distribusi data. Setiap minggu. bahan perencanaan Puskesmas. Setiap bulan. Setiap minggu. Unit surveilans Puskesmas mengumpulkan dan mengolah data STP Puskesmas harian bersumber dari register rawat jalan & register rawat inap di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis bulanan terhadap penyakit potensial KLB di daerahnya dalam bentuk tabel menurut desa/kelurahan dan grafik kecenderungan penyakit mingguan. serta perencanaan dan keberhasilan program. · Analisis serta Rekomendasi Tindak Lanjut. Tentang Surveilans Sentinel .

kecacatan atau kematian yang dapat menjadi tanda penting bahwa upaya preventif atau pengobatan yang sedang dijalankan perlu melakukan perbaikan. total kunjungan. Sentinel Sentinel sendiri Health terbagi Event atas tiga (Sentinel macam. - - para Sumber Register - (kerjasama harian dan Register LBI Puskesmas yang total rawat pelayanan Data Penyakit Pencatatan penyelenggara jalan dan termasuk dan rawat perorangan) Surveilans dicatat laki-laki kesehatan pencatatan adalah perempuan inap dari Rumah serta sakit Sentinel Puskesmas Pembantu. dan grafik kecenderungan . dan total kematian perjenis penyakit. Sentinel kejadian kesehatan. antara lain sebagai berikut: 1. Sentinel Provider 2. Surveilans Sentinel. (Depkes RI. 2004) Surveilans Sentinel melakukan aktivitas pemantauan terhadap suatu populasi luas atau suatu populasi tertentu yang difokuskan pada indikator kesehatan kunci.Melakukan analisis mingguan PWS penyakit potensial KLB dalam bentuk tabel. yakni suatu sistem yang dapat memperkirakan insiden penyakit pada suatu negara yang tidak memiliki sistem surveilans yang baik berbasis populasi tanpa melakukan survei yang mahal. (Rutsein) 2.1. Definisi Sentinel Surveilans adalah kegiatan analisis data dengan cara pengumpulan dan pengolahan data secara terus menerus yang dilakukan di wilayah/ unit yang terbatas atau sempit. (Woodhall) Adapun pengertian 1. Analisis dan rekomendasi tindak lanjut Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dalam analisis dan rekomendasi tindak lanjut adalah sebagai berikut : . yakni berupa kejadian penyakit. 3. yaitu kejadian : kesehatan) 2. kasus baru total kunjungan (RL2a dan RL2b) . Sentinel Site (klinik atau pusat pelayanan lain yang memonitor kejadian-kejadian kesehatan) 3.Pada register rawat jalan dan rawat inap RS dicatat total laki-laki dan perempuan.

/kota. serta informasi program untuk Dinas Kesehatan propinsi. 4. antibiotic .Melakukan analisis tahunan perkembangan penyakit.kecenderungan pnemonia b. serta Surveilans a.Memanfaatkan hasil analisis untuk profil tahunan. . Surveilans Sentinel HIV .mingguan. Indikator sentinel kusta STP h. Ditjen PPM & PL. STP STP berbasis berbasis f. e. Rumah sakit. bahan perencanaan Dinkes Kab. puskesmas rumah sakit Sentinel g. Surveilans sektor terkait di Sentinel Sentinel - kasus - penggunaan di PD3I.Menginformasikan hasilnya pada Rumah sakit Sentinel dan non sentinel. Indonesia Diare dan Pneumonia – imunisasi oralit. . pusat penelitian. Puskesmas.Input Tenaga Buku : Juknis Ada :Ada ./kota yang berbatasan dengan PWS atau SKD KLB serta sektor terkait. dan keberhasilan program. Sentinel - dampak pelayanan - krisis rumah sakit pelayanan puskesmas . daerahnya. perencanaan. sentinel berbasis berbasis puskesmas rumah Penyelenggaraan Surveilans sakit Sentinel . perguruan tinggi.kecenderungan HIV c. dan menghubungkannya dengan faktor risiko. program terkait di Dinas Kesehatan Kab/kota dan Dinas Kesehatan Ka. . laboratorium.derajat kesehatan masyarakat d. perubahan lingkungan. STP 5.

dan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20 %) - Diagnosis Laboratoris adalah hasil pemeriksaan serologis pada tersangka DBD menunjukan hasil positif pada pemeriksaan HI test atau peninggian (positif) IgG saja atau IgM dan IgG pada pemeriksaan dengue rapid test. b. . berlangsung terus menerus selama 2 – 7 hari disertai manifestasi perdarahan (sekurang – kurangnya uji tourniquet positif). Trombositopenia (jumlah trombosit ≤ 100. Penegakan diagnosis DBD - Diagnosis klinis DBD adalah penderita dengan gejala demam tinggi mendadak. analisis dan interpretasi data. tanpa sebab yang jelas. yaitu : a. pengolahan. ada beberapa hal yang perlu diketahui. Penderita DBD adalah penderita penyakit yang didiagnosis sebagai DBD atau SSD d.Proses kelengkapan laporan :90% Ketepatan laporan : 80% - Output Analisis data bulanan : Ada Analisis data tahunan : Ada Surveilans Epidemiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) 1. serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak / instansi terkait secara sistematis dan terus menerus tentang situasi DBD dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien. Kasus DBD adalah penderita DBD atau SSD c. Pengertian Dalam Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).Surveilans Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah proses pengumpulan.000/μl).

. nyeri kepala berat. j. Puskesmas. dan lain – lain. g. nyeri belakang bola mata. kadang bifasik (saddle back fever). balai pengobatan. Tersangka DBD adalah penderita demam tinggi mendadak. poliklinik. h. Pada penderita DD tidak dijumpai kebocoran plasma atau hasil pemeriksaan serologis pada penderita yang diduga DD menunjukan peninggian (positif) IgM saja. nyeri otot. dokter praktek swasta. 1) Stratifikasi desa / kelurahan DBD : Kelurahan / desa endemis adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun terakhir. dokter praktek bersama. berlangsung terus menerus selama 2 – 7 hari disertai tanda – tanda perdarahan sekurang – kurangnya uji tourniquet (Rumple Leede) positif dan atau jumlah trombosit ≤ 100. DBD dan SSD) termasuk tersangka DBD agar segera dapat dilakukan tindakan atau langkah – langkah penanggulangan seperlunya. setiap tahun ada penderita DBD. Laporan tersangka DBD dimaksudkan hanya untuk kegiatan proaktif surveilans dan peningkatan kewaspadaan. Puskesmas setempat ialah puskesmas dengan wilayah kerja di tempat dimana penderita DBD berdomisili. mual. tetapi bukan sebagai laporan kasus atau penderita DBD. k. Penegakan diagnosis DD adalah gejala demam tinggi mendadak.e. f. Puskesmas Pembantu.000 / μl. tulang atau sendi. Unit pelayanan kesehatan adalah rumah sakit (RS). i. 2) Kelurahan / desa sporadis adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun terakhir terdapat penderita DBD tetapi tidak setiap tahun. dan timbulnya ruam. tanpa sebab yang jelas. Laporan kewaspadaan dini DBD (KD/RS DBD) adalah laporan segera (paling lambat dikirimkan dalam 24 jam setelah penegakkan diagnosis) tentang adanya penderita (DD. muntah. Hasil pemeriksaan darah menunjukannleukopeni kadang dijumpai trombositopeni.

mempunyai hubungan transportasi yang ramai dengan wilayah yang lain dan presentase rumah yang ditemukan jentik lebih atau sama dengan 5 %. 2) Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten / kota · Menggunakan formulir KD/RS-DBD untuk pelaporan kasus DBD dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan (lampiran 1) · Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang dilaporkan perbulan (lampiran 2) · Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) · Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5) 3) Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten / kota ke dinas kesehatan provinsi . tetapi penduduknya padat. Pelaporan Rutin 1) Pelaporan dari unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas) Setiap unit pelayanan kesehatan yang menemukan tersangka atau penderita DBD wajib segera melaporkannya ke dinas kesehatan kabupaten / kota setempat selambat – lambatnya dalam 24 jam dengan tembusan ke puskesmas wilayah tempat tinggal penderita. 2. Laporan tersangka DBD merupakan laporan yang dipergunakan untuk tindakan kewaspadaan dan tindak lanjut penanggulangannya juga merupakan laporan yang dipergunakan sebagai laporan kasus yang diteruskan secara berjenjang dari puskesmas sampai pusat. dan formulir rekapitulasi penderita DBD per bulan (DP-DBD/RS) (lampiran 2). Alur Pelaporan Penyakit Demam Berdarah Dengue a. 4) Kelurahan / desa bebas adalah kelurahan / desa yang tidak pernah ada penderita DBD selama 3 tahun terakhir dan presentase rumah yang ditemukan jentik kurang dari 5 %. Formulir yang digunakan adalah formulir kewaspadaan dini RS (KD/RSDBD) (lampiran 1).3) Kelurahan / desa potensial adalah Kelurahan / desa yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah ada penderita DBD.

· Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang dilaporkan perbulan (lampiran 2) · Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) · Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5) 4) Pelaporan dari dinas kesehatan provinsi ke Ditjen PP & PL · Menggunakan formulir DP-DBD sebagai data dasar perorangan DBD yang dilaporkan perbulan (lampiran 2) · Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (lampiran 3) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) · Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB (lampiran 5) b. Pelaporan dalam situasi kejadian luar biasa 1) Pelaporan oleh unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas) · Menggunakan formulir W1 (lampiran 5) · Pelaporan dengan formulir DP-DBD ditingkatkan frekuensinya menjadi mingguan atau harian (lampiran 2) · Pelaporan dengan formulir KD/RS-DBD tetap dilaksanakan (lampiran 1) 2) Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten / kota · Menggunakan formulir W1 (lampiran 5) · Menggunakan formulir KD/RS-DBD untuk pelaporan kasus DBD dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan (lampiran 1) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) 3) Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten / kota ke dinas kesehatan provinsi .

dan hasil penyelidikan epidemiologi (kasus tambahan jika sudah ada konfirmasi dari rumah sakit / unit pelayanan kesehatan lainnya). Data tersangka DBD dan penderita DD. laporan bulanan kasus/kematian DBD dan program pemberantasan (K-DBD). bila ada laporan tersangka DBD dan penderita DD. SSD. laporan mingguan KLB (W2-DBD). puskesmas sendiri atau puskesmas lain (cross notification) dan puskesmas pembantu. DBD. KD/RS-DBD untuk pelaporan tersangka DBD. SSD dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan. DBD. a. kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan serta analisis terhadap laporan. Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas meliputi kegiatan pengumpulan dan pencatatan data tersangka DBD dan penderita DD. . dan lain – lain).SSD. penentuan stratifikasi (endemisitas) desa/kelurahan. distribusi kasus DBD per RW/dusun. dokter praktek swasta. Pengumpulan dan pencatatan data. 3. DBD. DBD. poliklinik. penentuan musim penularan dan kecenderungan DBD. SSD yang diterima puskesmas dapat berasal dari rumah sakit atau dinas kesehatan kabupaten/kota.DBD.· Menggunakan formulir W1 (lampiran 5) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) 4) Pelaporan dari dinas kesehatan provinsi ke Ditjen PP & PL · Menggunakan formulir W1 (lampiran 5) · Menggunakan formulir W2-DBD sebagai laporan mingguan KLB (lampiran 4) c. unit pelayanan kesehatan lain (balai pengobatan. laporan KLB (W1). SSD (DP-DBD). Umpan balik pelaporan Umpan balik pelaporan perlu dilaksanakan guna meningkatkan kualitas dan memelihara kesinambungan pelaporan. penderita DD. Frekuensi umpan balik oleh masing – masing tingkat administrasi dilaksanakan setiap tiga bulan. 1) Pengumpulan dan pencatatan dilakukan setiap hari. pengolahan dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan KLB. data dasar perorangan penderita DD. minimal dua kali dalam setahun.

DBD. SSD mingguan menurut desa/kelurahan 2) Penyampaian laporan tersangka DBD dan penderita DD.2) Untuk pencatatan tersangka DBD dan penderita DD. Pengolahan dan Penyajian data. SSD menggunakan ‘Buku catatan harian penderita DBD’ yang memuat catatan (kolom) sekurang – kurangnya seperti pada form DP-DBD ditambah catatan (kolom) tersangka DBD. DBD. Data dalam ‘Buku catatan harian penderita DBD’ diolah dan disajikan dalam bentuk : 1) Pemantauan situasi DD. DBD. Penentuan stratifikasi desa / kelurahan DBD Cara menentukan stratifikasi (endemisitas) desa / kelurahan - Buatlah tabel desa/kelurahan dengan menjumlahkan penderita DBD dan SSD dalam 3 (tiga) tahun terakhir. DBD. b. DBD. - Jumlah Tentuka n stratifikasi masing – masing desa/kelurahan menurut criteria House Index (HI) = rumah/bangunan yang ditemukan jentik Jumlah diperiksa X rumah/bangunan yang 100% . 3) Laporan data dasar perorangan penderita DD. 6) Laporkan ke dinas kesehatan kabupaten / kota dengan formulir K-DBD. SSD selambat – lambatnya dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan menggunakan formulir KD/RS-DBD. 4) Laporan mingguan (W2-DBD) - Jumlahkan penderita DBD dan SSD setiap minggu menurut desa / kelurahan - Laporkan ke dinas kesehatan kabupaten / kota dengan formulir W2-DBD 5) Laporan bulanan - Jumlahkan penderita / kematian DB. SSD menggunakan formulir DP-DBD yang disampaikan perbulan. SSD termasuk data beberapa kegiatan pokok pemberantasan / penanggulangannya setiap bulan.

Surveilans Epidemiologis Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Dinas Kesehatan Kabupaten a. Pencatatan data . 4. dibuat pertahun dengan cara menjumlahkan penderita DBD dan SSD per RW / dusun. untuk mengetahui apakah situasi penyakit DBD diwilayah puskesmas tetap.stratifikasi - desa/kelurahan Stratifikasi desa tersebut di sajikan dalam bentuk peta 7) Mengetahui distribusi penderita DBD per RW/dusun. naik atau turun. Pencatatan Data 1) Sumber data - Laporan KD/RS-DBD dari RS (pemerintah atau swasta) - Laporan data dasar personal DBD dari puskesmas (DP-DBD) - Laporan rutin bulanan (K-DBD) dari puskesmas - Laporan W1 dan W2-DBD - Laporan hasil surveilans aktif oleh dinas kesehatan kabupaten / kota ke unit pelayanan kesehatan - 2) Cross Notification dari kabupaten / kota lain. 8) Penentuan musim penularan DBD. Jumlahkan penderita DBD dan SSD per bulan selama 5 tahun terakhir dan disajikan dalam bentuk table dan selanjutnya di sajikan dalam bentuk grafik. 9) Mengetahui kecenderungan situasi penyakit.

DBD. SSD menggunakan formulir DP-DBD yang disampaikan per bulan. - Perlu kecermatan terhadap kemungkinan pencatatan yang berulang untuk pasien yang sama. - Penentuan stratifikasi kecamatan DBD - Mengetahui distribusi penderita DBD per desa / kelurahan - Penentuan musim penularan - Mengetahui kecenderungan situasi DBD. DBD. DBD dan SSD per tahun - Mengetahui distribusi penderita dan kematian DBD menurut tahun. b. jumlahkan dan laporkan penderita / kematian DD. misalnya antara tersangka DBD dan penderita DBD selama proses perawatan dan antara penderita DBD yang dilaporkan RS dengan yang dilaporkan oleh puskesmas. untuk mengetahui apakah situasi penyakit DBD di wilayah kabupaten / kota tetap. misalnya menggunakan ‘Buku catatan penderita DBD’ yang memuat catatan (kolom) sekurang – kurangnya seperti pada form DP-DBD ditambah catatan (kolom) tersangka DBD. DBD. DBD. naik atau turun. sehingga perlu penyesuaian data. - Laporan mingguan (W2-DBD) Laporan bulanan. kelompok umur dan jenis kelamin Sumber : . - Mengetahui jumlah penderita DD.- Untuk pencatatan tersangka DBD dan penderita DD. SSD. Pengolahan dan Penyajian Data Dari data yang ada pada buku catatan penderita DD. SSD termasuk beberapakegiatan pokok pemberantasan / penanggulangannya setiap bulan. SSD mingguan menurut kecamatan - Laporan data dasar perorangan penderita DD. DBD dan SSD dapat dilakukan penyajian data sebagai berikut : - Pemantauan situasi DD.

Adi.blogkesmas.html .Fitramaya.Yogyakarta Ø Budiarto.Jakarta Ø http://kompilasiartikelakbidakper.Ø Heru.EGC.2010.Eko.com/2013/01/konsep-dasar-surveilans-epidemiologi.html http://www.2003.com/2009/02/surveilans-epidemiologi-sebagaibentuk.Pengantar Epidemiologi.Epidemiologi Kebidanan.blogspot.