You are on page 1of 14

BAB I

PENDAHULUAN
Soeripto (1998) mengatakan bahwa kenyataan dilapangan masih banyak
pimpinan perusahaan yang melupakan tanggung jawabnya dengan tidak
memasukkan K3 kedalam fungsi manajemen. Hal ini disebabkan oleh adanya
pandangan bahwa penerapan K3 di perusahaan merupakan pengeluaran kedua
(investasi kedua) yang tidak memberikan keuntungan secara langsung atau
merupakan suatu kerugian belaka. Tanpa disadari dengan tidak menerapkan
SMK3 justru dapat memberikan kerugian yang besar baik bagi perusahaan tenaga
kerja beserta keluarga dan masyarakat sekitar perusahaan. Mengingat tingginya
angka kecelakaan kerja di Indonesia, maka pemerintah mengeluarkan UU RI No.
13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Pasal 87 UU tersebut mewajibkan setiap
perusahaan menerapkan SMK3 sebagai bagian dari manajemen perusahaan, dan
bagi yang tidak menerapkannya akan diberikan sanksi. Selain itu, telah
dikeluarkan pula PERMENAKER No. 05/ MEN/ 1996 tentang pedoman
penerapan SMK3 dan parameter audit SMK3. PT. Liya Cool adalah perusahaan
yang bergerak di bidang pangan, industri ini memproduksi produk jelly siap
makan. Perusahaan ini mempekerjakan 100 orang pekerja, dimana 57 orang
diantaranya pekerja tetap dan 43 orang pekerja harian. Pekerja harian ini bekerja
sesuai permintaan barang dan dibawahi oleh pengawas harian. Urusan yang
menyangkut upah dan jaminan kesehatan serta keselamatan diurus secara terpisah
oleh pengawas harian.
Perusahaan ini termasuk kedalam perusahaan besar dengan tingkat resiko
tinggi. Ini terlihat dari tata letak perusahaan dan proses produksinya yang banyak
menggunakan mesin-mesin produksi yang berteknologi tinggi sehingga
menimbulkan potensi bahaya yang cukup banyak. Mesin-mesin produksi ini
biasanya dapat menimbulkan kebisingan. Semua ini menyebabkan PT Liya Cool
wajib menerapkan SMK3.
Tahun 1999 PT Wijaya Karya Beton mulai menerapkan SMK3, dan telah 4
kali melakukan audit SMK3 eksternal, yaitu tahun 1999, 2002, 2005 dan 2008.
Dari 4 audit SMK3 yang dilakukan oleh badan audit Sucofindo ini, PT Wijaya

Tujuan kami adalah untuk mencapai zero accidient yang mengakibatkan cacat permanen dan untuk secara substansial mengurangi kecelakaan yang menyebabkan kehilangan jam kerja (lost time injury) bahkan kematian akibat lingkungan kerja yang tidak aman. dan perencanaan secara keseluruhan dari suatu organisasi dan pemeliharaannya. Manajemen K3 yang efektif mencakup penilaian resiko dari desain lokasi sejak awal tahap konstruksi perusahaan.Karya mendapat 4 kali sertifikat dan bendera emas. Bogor. Penerapan SMK3 secara umum sejak awal perlu dilakukan sebagai upaya untuk meminimalkan kecelakaan kerja di PT Liya Cool ini. serta mempunyai kewajiban untuk memberikan kontribusi dengan berperilaku yang bertanggung jawab. Semua kegiatan operasional yang berhubungan dengan pekerja harus secara kontinyu meningkatkan kinerja K3. training. pembentukan organisasi P2K3. Prinsip-prinsip Panduan : Semua orang yang bekerja di perusahan Liya Cool mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan atau kondisi kerja yang aman dan sehat. K3 dapat dianggap sebagai nilai bisnis utama yang diintregasikan pada seluruh aspek kinerja perusahaan. substansi. dan supervisi yang tepat. Setiap cidera atau kasus sakit akibat hubungan kerja dapat dihindari dengan sistem kerja. Struktur organisasi . 30 Mei 2012 CEO Liya cool. 1) Kebijakan Kesehatan & Keselamatan Kerja A. B. Selain audit SMK3 eksternal. PT Liya Cool juga melakukan audit internal setiap 6 bulan sekali bersamaan dengan audit mutu internal (ISO 9001:2000). peralatan.

diperlukan sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai tingkatan yang mewakili jabatan dari setiap divisi pekerjaan. Struktur organisasi perusahaan Dalam suatu perusahaan. Liya Cool ini adalah sebagai berikut : DAM i ua rrdndn eia ktg t oe ur rK e u aa n g a n Karyawan Keterangan :          Direktur : Bragas Mukti Riyadi Auditor : Rico Fernando Theo Manager Keuangan : Cynthia Arviyanti Manager Produksi : Opi Ropiah Manager HRD : Obelia Susanty Manager Perencanaan : Nurul ulfah D Marketing : Riska Mella Administrasi : Muhammad Rully SDM : Alfred Jery Thomson .Tugas dan fungsi : Setiap manager di semua jenjang dan bidang menjamin kesehatan dan keselamatan untuk orang orang yang ada di tempat kerja di bawah tanggung . Tujuan pembentukan organisasi pada perusahaan ini yaitu untuk memudahkan perusahaan dalam mengelola dan mengatur setiap kebijakan yang berhubungan dengan perusahaan maupun dengan para pekerja itu sendiri. Adapun struktur organisasi perusahaan dari PT.

Manager harus menerapkan kebijakan dan sistem dalam area kontrol dan pengaruhnya. latihan dan penelitian keselamatan dan kesehatan kerja. Pemilik industri Liya Cool (CEO) memikul tanggung jawab ini pada level group. Fungsi P2K3 Menghimpun dan mengelolah segala data dan atau permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja yang bersangkitan serta SK membantu pengusaha atau manajemen mengadakan serta meningkatkan et katpenyuluhan. Sebagaimana pelaksanaan pasal 10 Undang-undang Keselamatan Kerja telah diterbitkan Keputusan Menteri Tenga Kerja No 155/Men/1984. b. fungsi dan mekanisme kerja Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. c. Struktur organisasi P2K3 P2K3 adalah singkatan dari Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tugas Pokok P2K3 Memberi saran dan pertimbagan kepada pengusaha/manajemen tempat kerja yang bersangkutan mengenai masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Ketentuan tentang Paniatia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Keputusan Menteri Tenaga kerja tersebut adalah sebagai berikut : a. rfuAdapun struktur organisasi P2K3 di PT. pengawasan. SDM dari Perusahaan bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan mengevaluasi kembali secara keseluruhan kebijakan K3. Semua karyawan memiliki tanggung jawab untuk kesehatan & keselamatan mereka sendiri dan teman lainnya yang berada dalam lingkup/terpengaruh oleh tindakan mereka. Liya Cool adalah sebagai berikut : a eK te abP ra2 ikK sa3sa3 r aa . keahlian dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.jawabnya. ia mendukung dengan tingkat kepedulian yang tinggi untuk menjamin bahwa dalam tiap divisi dan unit bisnis manajemen memiliki otoritas. Dalam Keputusan Menteri tersebut diatur tugas. memberikan rekomendasikan mengenai hal tersebut kepada pemilik perusahaan.

e. d. Ketua a. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program-program K3 di perusahaan. Dalam hal Ketua berhalangan. Mengelola administrasi surat-surat P2K3. Mencatat data-data yang berhubungan dengan K3. 2. d. c. kebijakan demi tercapainya programprogram P2K3. e. Membuat undangan rapat dan notulen. Wakil ketua melaksanakan tugasnya. c. b. Mempertanggung-jawabkan setempat melalui program-program pimpinan P2K3 dan pelaksanaannya kepada Direksi. .Keterangan :   Ketua P2K3 : Bragas Mukti Riyadi  Sekretaris : Tono Murdiyono  Staff Kebakaran : Mulyadi Agung  Kesehatan Kerja : Maya Trisna  Perlengkapan Bina dan sidik K3 : Pradipto Cahyo Tugas-tugas pengurus P2K3 1. Seorang tenaga profesional keselamatan dan kesehatan kerja yaitu manajer keselamatan dan kesehatan kerja atau ahli keselamatan dan b. Menentukan langkah. Memberikan saran-saran yang diperlukan oleh seksi-seksi demi suksesnya program-program K3. Memimpin semua rapat pleno P2K3 atau menunjuk anggota untuk memimpin rapat pleno. Mempertanggung-jawabkan pelaksanaan K3 di perusahaan kepada Disnakertrans Kabupaten/Kota perusahaan. f. Sekretaris a. kesehatan kerja.

3. 3. b. penilaian dan pengendalian risiko sesuai persyaratan perUndangan yang berlaku serta hasil pelaksanaan tinjauan awal terhadap K3. Meningkatkan pencegahan kecelakaan melalui pendekatan sistem 2) Perencanaan K3 Perusahaan harus membuat perencanaan yang efektif guna mencapai keberhasilan penerapan dan kegiatan Sistem Manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur.f. Dalam hal ini. Melaksanakan program-program yang telah ditetapkan sesuai dengan seksi masing-masing. permasalahan yang memiliki resiko paling tinggi terjadinya kecelakaan di tempat kerja yaitu kecelakaan kerja akibat unsafe act. Mesin seal yang berbahaya d. Pekerja merokok f. Membuat laporan ke Disnakertrans setempat dan instansi lain yang bersangkutan mengenai tindakan berbahaya (unsafe action) dan kondisi berbahaya (unsafe condition) ditempat kerja. Anggota a. a. Tujuan penerapan K3 1. Melaporkan kepada ketua atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Mengobrol saat bekerja Dari sekian banyak permasalahan yang telah diidentifikasi. d. Sumber pencahayaan tidak baik e. yaitu : a. 2. Penempatan bahan baku yang tidak tepat dan sangat membahayakan c. Identifikasi permasalahan Hasil identifikasi kunjungan industri ke PT Liya Cool banyak ditemukan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. sasaran dan indikator kinerja yang diterapkan dengan mempertimbangkan identifikasi sumber bahaya. unsafe act yang terjadi di PT Liya Cool yaitu yaitu pekerja merokok pada saat jam kerja. Pekerja tidak menggunakan APD b. Melindungi pekerja Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja Menghindari kerugian material akibat kecelakaan kerja Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja merasa aman dalam bekerja 5. tindakan yang tidak aman ini dapat menyebabkan resiko kecelakaan kerja yang berdampak pada kesehatan pekerja dan keselamatan pekerja lain. Unsafe act adalah suatu tindakan yang salah dalam bekerja tidak menurut SOP (Standard Operational) yang telah ditentukan (Human Error). . Perencanaan harus memuat tujuan. 4.

13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum. Pengupahan. Dalam peraturan perundang-undangan ini diatur lebih lanjut mengenai perlindungan keselamatan kerja. yaitu : Bab 10 Perlindungan. Peraturan perundang-undangan Dalam melakukan perencanaan K3 di perusahaan. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Moral dan kesusilaan. Perlindungan sebaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku . Adapun peraturan-peraturan tersebut adalah sebagai berikut : 1. PT Liya Cool menjadikan Peraturan Perundang-Undangan dan Keputusan Menteri Tenaga sebagai landasan utama dalam menerapkan K3 di perusahaan. 2. selain membahayakan diri sendiri juga dapat menyebabkan kondisi berbahaya yaitu terjadinya kebakaran di tempat kerja. badan hukum. atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. b. Pemberi kerja adalah orang perseorangan. Undang-undang No. dan c. Keselamatan dan kesehatan kerja b. dan Kesejahteraan Pasal 86 – 87 Pasal 86 1. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilainilai agama. pengusaha. Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : a. 3.Tindakan pekerja yang tidak aman ini. selama dan sesudah masa kerja.

PERMENAKER No. identifikasi sumber bahaya. Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. c. 4. 04/ MEN/ 1987 tentang P2K3 serta tata cara penunjukan Ahli Keselamatan Kerja. KEPMENAKER No. Melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada pekerja mengenai bahaya merokok saat di tempat kerja. 3) Penerapan K3 Pelaksanaan K3 di perusahaan yang meliputi jaminan kemampuan. Membuat aturan mengenai pelarangan merokok selama bekerja. Secara lebih lanjut menyediakan sensor khusus yang peka terhadap asap sebagai alat pendeteksi dan pencegahan terjadi kebakaran akibat asap rokok. 2. 6. Mencegah setiap pekerja membawa rokok dengan melakukan 2. penilaian dan pengendalian . 3. kegiatan pendukung. Menyediakan APAR untuk mencegah kemungkinan kebakaran akibat api yang ditimbulkan oleh rokok. Membuat slogan-slogan tertulis di sekitar tempat bekerja. Program kerja Dalam rangka mendukung kebijakan K3 yang dibentuk oleh perusahaan maka dibuat suatu program kerja yang nantinya dapat meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja. Undang-undang No. 02/ MEN/ 1970 tentang penetapan pembentukan P2K3 di tempat kerja. 5. 155/ MEN/ 1984 tentang P2K3 dan DK3N / DK3W. Adapun program kerja yang dilakukan adalah : 1. Melakukan monitoring secara langsung oleh supervisor. 4. 3. saling pengertian dan partisipasi aktif dari pengusaha/pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk melakukan tugas dan kewajiban bersama dibidang berproduksi. 5. KEPMENAKER No. 1 Tahun 1970 Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk P2K3 guna mengembangkan kerja sama. pemeriksaan saat karyawan masuk ke lingkungan kerja. 7.Pasal 87  Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan  kesehatan kerja yangterintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

Hal ini didasarkan pada kebijakan K3 yang merefleksikan kebijakan korporasi dalam hal prinsip-prinsipnya. Pada tahun ini. tanggung jawab. Pada tahun 2012. kewajiban ini juga mencakup Unit baru yang bergabung dengan Perusahaan. SMK3 di seluruh unit kerja khususnya pada proses produksi maupun proses distribusi disamping sistem manajemen mutu. koordinasi dan pengawasan. Skedul Pelaksanaan Program Kerja Proses dan Alat Utama pada tingkat Korporasi Divisi memiliki suatu sistem Manajemen K3 untuk memastikan adanya peningkatan kinerja secara berkesinambungan. kerangka kerja.resiko di PT Liya Cool. dibentuklah Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) sebagai penanggung jawab dari pelaksanaan operasional dan pengendalian keseluruhan SMK3 yang ada di perusahaan a. Sumber daya tertentu seperti manusia. Analisa Resiko . keuangan di dedikasikan dan di identifikasikan guna mencapai target. seluruh pimpinan dan jajaran PT Liya Cool sepakat untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Karyawan. . Audit & Inspeksi dilaporkan dan digunakan untuk tindakan korektif dan preventif. kontraktor dan konsumen berhak dan wajib mendapatkan informasi mengenai resiko yang ada dan langkah-langkah yang diambil untuk mengeliminasi atau meminimalkannya. Analisa Cidera dan Malfungsi Cidera. dll. Suatu sistem monitoring dan kesiagaan/alert dipastikan tersedia. yang menggunakan apa yang disebut tehnik “ fresh view”. Inspeksi dan audit ini dilakukan oleh Manajemen tingkat lini yang dilatih untuk tujuan tersebut. diperlukan adanya audit silang antara lokasi kerja yang berbeda. dengan bantuan dari staff/unit keselamatan dan personil yang terluka atau terlibat. Audit & Inspeksi Keselamatan Audit dan inspeksi direncanakan dan dilakukan secara reguler. mencakup juga tingkat Management Atas. yang akan memastikan adanya kontrol pada resiko di tingkat Manajemen sesuai tingkat keseriusannya. yang dikelola dengan cara yang sama seperti yang dilakukan saat analisa suatu cidera.Proses manajemen dipastikan tersedia untuk menjamin resiko telah di identifikasikan secara baik. yang dilakukan oleh Manager (di sektor yang menjadi tanggung jawabnya). Personil dilibatkan sebanyak mungkin dalam audit dan inspeksi ini. Sebagai tambahan audit internal ini. kejadian hampir celaka/near-miss atau gangguan fungsi apapun merupakan subyek dari suatu penyelidikan yang mendalam dan metodis. terkontrol dalam organisasi.

Pencegahan dan Kontrol resiko Peralatan Menetap dan Bergerak Instalasi baru didesain dan dibangun dengan mempertimbangkan keamanan operasi dan keamanan personil perawatan. tanpa resiko pada kesehatan. peraturan dan prosedur Instruksi. Alat Pelindung Diri (APD) APD guna keperluan kerja harus diidentifikasi. Pelaporan dan komunikasi mengenai cidera harus sesuai dengan arahan Group dan Divisi. dan sesuai dengan penilaian resiko. peraturan dan prosedur dibuat sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara aman.Laporan harus dibuat dan memuat detail apa yang yang terjadi dan tindakan yang diambil ( atau yang dilakukan dan skala waktunya) untuk mencegah terulang kembali. akan bersifat : . diuji dan dilakukan inspeksi.Tertulis . Komite Manajemen K3 wajib secara reguler memeriksa relevansi tindakan yang diambil dan menjamin bahwa tindakan tersebut dilakukan. usaha investigasi harus proporsional pada resiko potensial. kondisi di mana APD harus dikenakan harus ditentukan dan direncanakan secara sesuai dan dirancang meliputi training dan pengawasan untuk menjamin APD dikenakan (lihat Appendix data sheet penggunaan APD) Instruksi. merupakan subyek untuk dikontrol secara rutin. Instalasi dan peralatan yang bergerak harus diperlihara secara efektif.

Indikator kinerja keselamatan untuk Perusahaan dicatat dan dilaporkan dan merupakan alat evaluasi kinerja.Diketahui dan dimengerti oleh semua pihak yang terlibat . Kontraktor secara aktif dibantu dalam masalah keselamatan. jika diperlukan dikomunikasikan dan dipraktekan secara rutin. Latihan wajib dilakukan dan dilatih secara rutin mencakup skenario yang direncanakan atas resiko yang berpotensi tinggi. kontrak kerjasama dengan pihak Kontraktor harus menentukan hak dan kewajiban tiap pihak dalam hal K3. Rencana ini harus di perbaharui. K3 harus secara efektif dikelola di lokasi kerja. Kinerja keselamatan yang buruk tidak akan ditoleransi dan dapat menyebabkan pemberhentian lebih cepat. (lihat appendix untuk kebijakan tanggap darurat) Kontraktor Peraturan K3 diterapkan dengan cara sama untuk kontraktor dan karyawan yang bekerja di lokasi.Realistik . Kemampuan pihak yang dikontrak untuk bekerja secara aman menjadi kriteria seleksi yang utama.Selalu disesuaikan / diperbaharui .Ditindaklanjuti dan dihargai Program Tanggap Darurat Semua lokasi kerja harus memiliki rencana tanggap darurat.. yang berhubungan dengan sifat operasi mereka dan resiko yang telah dinilai.Sesuai dengan peraturan hokum/regulasi . . Hal ini harus mencakup audit secara rutin.

Manajemen ( audit. umpan balik dalam hal kinerja dan tindakan yang diambil.Pelatihan mengenai prosedur dan metode . promosi.kontraktor sesuai keperluan Semua pelatihan keselamatan terdata. khususnya pada file pribadi secara rutin harus dikaji ulang. ini mencakup tersedianya pelatihan & perlunya pengalaman yang sesuai. . transfer.Pelatihan guna mendapatkan otorisasi dan lisensi Ini menyangkut semua personil seperti : .Pelatihan & Komunikasi Pelatihan Rencana dan program yang sesuai harus dibuat untuk menjamin semua personil memiliki kompetensi dalam bidang K3. dll) . tindakan pencegahan.Pelatihan perilaku selamat dan mengapa K3 merupakan hal yang penting .karyawan baru dan karyawan tidak tetap . Pelatihan Keselamatan meliputi : . Komunikasi Komunikasi merupakan suatu faktor penting dari program keselamatan. harus mencakup informasi mengenai program keselamatan khusus setiap lokasi. mempelajari hal penting guna mencegah kecelakaan. mutasi) .staff yang telah ada (penempatan kembali.Pelatihan penilaian resiko .Pelatihan penggunaan peralatan kerja . investigasi. rapat untuk memfasilitasi.Pelatihan Manajemen K3 .

Liya Cool Cilebut .Hal ini akan mendukung arus informasi yang bebas (dari atas ke bawah dan sebaliknya) Permasalahan mengenai K3 di PT.