You are on page 1of 2

Minggu, 24/2/2002

Ayam Dan Burung Elang
Oleh: Gede Prama

Dalam sebuah kesempatan seminar di Surabaya, sahabat saya Krisnayana Yahya dari
Universitas Airlangga punya pendapat menarik. Sahabat yang menghabiskan kebanyakan
waktunya di Universitas ini, berani-beraninya menyebut Universitas sebagai ladang
pembunuhan kreativitas. Di bagian lain presentasinya, ia menyebut ketidakbergunaan
pengalaman. Banyak orang yang berpengalaman puluhan tahun, tetapi hanya mengulangi
pengalaman tahun pertama berpuluh-puluh kali.
Anda boleh saja menyebut sahabat di atas sebagai anarkis, atau sentimen pada Universitas.
Namun bagi saya, inilah orang-orang ‘kurang ajar’ namun amat diperlukan. Terutama setelah
menyadari bahwa Universitas telah lama hanya dipuja, bahkan telah menjadi berhala intelektual
yang mematikan bagi banyak sekali orang. Apapun yang datang dari sana, secara dogmatis
diterima sebagai kebenaran. Kendatipun sebagian hanya menghasilkan serangkaian jalan keluar
yang dari situ ke situ. Persis seperti ayam. Di mana, ayam kalau mencari makan akan berputar
dalam luas wilayah yang amat sempit. Bahkan, tidak sedikit ayam yang hanya mencari-cari
sesuatu di tanah yang sama berulang-ulang.
Kalau sejarah manusia dan bangsa boleh dihitung sebagai output Universitas, maka ada banyak
bukti menunjukkan, bahwa Universitas telah menghasilkan banyak ‘ayam’. Lihat saja sejarah
bangsa ini. Orde berganti beberapa kali, tetapi persoalan yang muncul cuma itu dan itu.
Demikian juga dengan sejarah perusahaan. Setiap orde pemerintahan menghasilkan rezim
pengusaha yang berbeda. Namun, hampir semuanya jatuh bersamaan dengan orde yang menjadi
gantungannya. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada sejarah manusia.
Digabung menjadi satu, entah karena faktor sekolah atau bukan, sebagian dari kita sedang
dibentuk dan membentuk diri seperti ‘ayam’. Di mana, ada semacam kesenangan untuk hanya
berputar di lingkungan ide yang kurang lebih sama. Enak memang, namun membuat kita seperti
ayam yang siap dipotong kapan saja. Bedanya, kalau ayam dipotong manusia. Kita cepat atau
lambat pasti dipotong kecenderungan.
Kalau benar intelektual adalah sejenis manusia yang bangun paling pagi, dengan banyaknya
‘ayam’ di setiap pojokan peradaban, saya sebenarnya mau bertanya, benarkan intelektual
bangun paling pagi ? Lebih-lebih sekolah sebagai lembaga, sinyalemen Krisnayana Yahya di
awal menunjukkan hal sebaliknya. Institusi yang semestinya menjadi ujung tombak kreasi,
malah menjadi ladang pembunuhan.
Dengan batasan seperti truth, methodology, ulangan dan sejenisnya, sebenarnya sekolah sedang
berputar-putar di sekitar wilayah ide yang terbatas, persis seperti ayam. Sayangnya, demikian
dahsyatnya daya berhala dari sekolah lengkap dengan pengetahuannya, kita seperti tidak
merasakan sedikitpun, sedang diajak berputar-putar di wilayah yang sama secara berulangulang.
Atau mengacu pada model knowledge pie ala Kenneth Blanchard, sekolah memfokuskan

Betapa celakanya ini kepala. Dalam perspektif inilah. terbang dan terbang. Kalau ini acuannya. Di tingkat paradigma – meminjam model Gibson Burrell dan Gareth Morgan dalam Sociological Paradigm And Organizational Analysis – tidak ada pergeseran dari dulu hingga sekarang. Akan tetapi. Membumikannya ke dalam wilayah berfikir dan pengetahuan. berarti kita seri. mengklasifikasikan pengetahuan – kendatipun saya tidak sepenuhnya setuju – kedalam empat kotak paradigma. Konsekwensinya. Kedua penulis yang juga tokoh Universitas ini. Sumbu vertikal mencakup asumsi tentang obyek pengamatan : stabil atau berubah secara radikal. Kalau Anda mengalami kesulitan untuk berfikir di luar kotak.pencaharian pada dua bagian kecil pia tadi : kita tahu apa yang kita tahu. Atau kalau sekolah amat patuh dan penurut untuk tidak keluar kotak. Sama-sama sedang diperbodoh tulisan ala ayam ini. dan kita tahu apa yang kita tidak tahu. Sebaliknya. maka burung elang mengajarkan kita untuk tidak melihat wilayah pengetahuan dalam bingkai-bingkai yang memasung. maka berfikir ala burung elang menjadi alternatif yang boleh dipertimbangkan. maka peta pengetahuan yang kita miliki hanya berputar di sekitar empat kotak yang sama. Berbeda dengan ayam. banyakkah sekolah yang mengajak fikiran muridnya berwisata melanglang jauh dari batas-batas pengetahuan yang menjadi batasnya ? Sebut saja manajemen sebagai contoh. pemetaan kedalam ayam dan burung elangpun sebenarnya sebuah kotak juga bukan ? Sama memasungnya – bahkan lebih memasung – dibandingkan dengan empat kotaknya Gibson Burrel dan Gareth Morgan. seperti terabaikan sejak dulu. kalau hanya diajak berputar-putar seperti ayam di kubangan yang amat terbatas ? Tidak hanya jenuh dan membosankan. Dan sudah menjadi ciri pengetahuan sejak dulu seperti itu : mengkondisikan fikiran ke dalam kotak-kotak. ia memiliki kemungkinan dipotong jauh lebih kecil dibandingkan ayam. melainkan juga mempermiskin fikiran secara amat menyedihkan. burung elang memiliki wilayah jelajah yang jauh lebih luas. Sumbu horisontal mencakup bagaimana pengetahuan diperoleh : subyektif atau obyektif. Coba sebut. Tugas kita hanya terbang. wilayah pengetahuan yang teramat besar (baca : kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu). maka segala macam kotak dan batasan – seperti empat kotak Burrel Dan Morgan di atas – menjadi tidak lagi relevan. .