You are on page 1of 7

Bahan dan Hasil Diskusi Kasus PT Elektrindo

1. Berikan komentar anda terkait dengan pembagian tugas dan pekerjaan staf pajak
Perusahaan!
Menurut kami, tugas dan pekerjaan staff pajak sudah dibagi sesuai dengan fokus
jenis pajak. Hal ini akan memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan, karena karyawan
hanya berfokus pada salah satu jenis pajak saja. Namun, setiap lini dalam departemen
perpajakan harus tetap saling berkoordinasi satu sama lain.
Menurut UU KUP Pasal 28 Ayat 11 Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari
pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib
disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat
tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan.
Jadi seharusnya seluruh dokumen disimpan dengan baik oleh para Staff Pajak
sesuai dengan ketentuan ini. Bukan menurut cara mereka sendiri.
2. Menyangkut omset perusahaan, mengapa terdapat perbedaan antara omset
Perusahaan berdasarkan PPh Badan dan SPT PPN? Jelaskan jawaban Anda!
Pada dasarnya nilai penyerahan barang di SPT PPN adalah nilai penyerahan BKP
dan JKP. apabila ada bagian dari penyerahan di perusahaan yang bukan merupakan BKP
dan JKP maka nilai penyerahan ini dapat menjadikan omset di SPT PPN dan PPh badan
berbeda.
Perbedaan ini diakibatkan oleh faktor berikut :

Pada awal Maret 2013, sebagai bentuk CSR Perusahaan, diserahkan produk senilai
Rp 250 juta kepada 20 panti asuhan yang ada di Jabodetabek. → Menurut UU PPN
Pasal 1A ayat 1 huruf d sumbangan Masuk ke komponen penjualan bagi SPT PPN
tapi Tidak termasuk Kriteria Peredaran Bruto (Omset), jadi tidak masuk ke
Perhitungan omset PPh Badan.
Peredaran bruto sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UndangUndang Pajak Penghasilan dijelaskan pada SE-02/PJ/2015 yaitu semua penghasilan
yang diterima dan/atau diperoleh dari kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha,
setelah dikurangi dengan retur dan pengurangan penjualan serta potongan tunai
dalam Tahun Pajak yang bersangkutan, sebelum dikurangi biaya untuk

menagih. Peredaran bruto sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UndangUndang Pajak Penghasilan dijelaskan pada SE-02/PJ/2015 yaitu semua penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh dari kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha. Perusahaan juga menggunakan produk TV dan kulkas yang diproduksinya untuk diletakkan di ruang customer service kantor. Selain itu. jadi tidak masuk ke Perhitungan omset PPh Badan. dan memelihara penghasilan. menagih. dan memelihara penghasilan. dan memelihara penghasilan.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan tidak bersifat final. setelah dikurangi dengan retur dan pengurangan penjualan serta potongan tunai dalam Tahun Pajak yang bersangkutan.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final. dan . Menurut UU PPN Pasal 1A ayat 1 huruf d sumbangan Masuk ke komponen penjualan bagi SPT PPN tapi Tidak termasuk Kriteria Peredaran Bruto (Omset). meliputi: .mendapatkan. meliputi: . Peredaran bruto sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UndangUndang Pajak Penghasilan dijelaskan pada SE-02/PJ/2015 yaitu semua penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh dari kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha. sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan. ruang tunggu sopir dan pantry kantor senilai Rp 50 juta. Tidak termasuk Kriteria Peredaran Bruto (Omset). jadi tidak masuk ke Perhitungan omset PPh Badan. dan .penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak  Pada bulan Agustus 2013 Perusahaan berperan serta mensukseskan HUT Kemerdekaan RI dengan menyumbangkan produk elektroniknya senilai Rp 200 juta kepada Pemda DKI.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan tidak bersifat final. meliputi:  . baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan. . setelah dikurangi dengan retur dan pengurangan penjualan serta potongan tunai dalam Tahun Pajak yang bersangkutan. jadi tidak masuk ke Perhitungan omset PPh Badan. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final. menagih. . Tidak termasuk Kriteria Peredaran Bruto (Omset). baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak Pada bulan Juli 2013 Perusahaan menggunakan produk kamera CCTV yang diproduksinya senilai Rp 100 juta untuk digunakan di area kantor dan gudang Perusahaan.

000.000 (-) Ekspor 100. PP tersebut menyatakan bahwa saat penyerahan atau ekspor BKP/JKP merupakan saat terutangnya PPN.000.→ Menurut Pasal 19 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2012.500. Jadi dari kalimat tersebut bisa kita simpulkan bahwa Faktur Pajak harus dibuat pada saat terutangnya PPN yaitu pada saat penyerahan BKP/JKP atau pada saat ekspor BKP/JKP. 3..000. Sementara di Pasal 17 dan memori penjelasannya. Dalam hal ini.000. Faktur Pajak harus diterbitkan pada saat penyerahan atau ekspor BKP/JKP yang disebutkan dalam Pasal 17 PP tersebut.penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak  Pada akhir bulan Desember 2013 Perusahaan melakukan penjualan ekspor senilai Rp 100 juta yang pembayarannya diterima pada minggu pertama 2014. PT Elektrindo belum menerbitkan Faktur pajak tapi sudah mengakui dalam Laporan Laba Rugi.000 CSR 250. Apakah perusahaan melakukan kesalahan dalam pengakuan beban karyawan untuk menghitung laba fiskal? Jelaskan jawaban Anda! Ada kesalahan saat pengakuan beban karyawan untuk menghitung laba fiskal: .000 (+) Omset Menurut PPh Badan 5.000 (-) Sumbangan HUT 200.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final. Jadi menyebabkan perbedaan dalam omset antara PPh Badan dnegan SPT PPN.000.000.penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan tidak bersifat final.000 Apa tindakan yang harus dilakukan PT ELEKTRINDO terkait dengan perbedaan tersebut? Terkait dengan perbedaan tersebut. Terkait beban karyawan: a. dan .000 (-) Pemakaian sendiri 150.000. Ringkasan : Omset Menurut SPT PPN 6. seharusnya PT Elektrindo memberi penjelasan tambahan mengenai rekonsiliasi antara SPT PPN dengan Peredaran Usaha di SPT PPh Badan. .

karena merupakan natura dengan pengecualian. Berikan masukan Anda kepada perusahaan mengenai kewajiban perpajakan yang terkait dengan beban karyawan! Staff pajak melakukan koreksi terhadap pemberian seragam dan juga pemberian makan siang. Terkait beban bunga. menagih. seharusnya staff pajak hanya mengoreksi beban makan siang karena merupakan natura yang memang hanya diberikan kepada staff gudang. Sedangkan untuk beban seragam tidak seharusnya dikoreksi. Seperti yang disebutkan pada UU PPh pasal 9 ayat 1e.  karena seragam tersebut merupakan keharusan untuk melaksanakan pekerjaan. dan memelihara penghasilan. (UU PPh pasal 9 ayat 1e) PPh karyawan juga seharusnya tidak menjadi penggurang laba bruto karena bersifat benefit in kind sehingga merupakan non deductible expense. Pemberian makan siang yang hanya diberikan pada staff gudang merupakan non deductible expense karena merupakan natura dan hanya diberikan kepada staff  gudang. apakah perusahaan melakukan kesalahan dalam pengakuan beban bunga untuk menghitung laba fiskal? Jelaskan jawaban Anda! Biaya-biaya yang boleh dikurangkan (deductible expense) dari penghasilan bruto Wajib Pajak dalam rangka menghitung PPh terutang (Pasal 6 UU PPh) adalah Biaya untuk mendapatkan. pemberian seragam yang hanya untuk satpam merupakan deductible expense (natura dengan pengecualian). (UU PPh pasal 9 ayat 1e) b. Dalam hal ini beban bunga . Ringkasan : Karyawan Tetap Gaji Rp 900 juta Tidak ada Koreksi Lembur Rp 120 juta Tidak ada Koreksi Tunjangan Transportasi Rp 150 juta Tidak ada Koreksi Bonus dan THR Rp 200 juta Tidak ada Koreksi PPh Pasal 21 Karyawan Rp 325 juta Koreksi Fiskal Makan Siang Rp 70 juta Koreksi Fiskal Biaya pengobatan Rp 150 juta Koreksi Fiskal Pakaian Seragam Rp 35 juta Tidak ada Koreksi 4. Sesuai pasal 9 ayat 1e UU PPh.

5. Selain itu antara nilai konsultasi manajemen yang lebih besar dibandingkan dengan nilai konsultasi manajemen sejenis dipasaran juga diperlakukan sebagai deviden mengingat bahwa pada tahun tersebut perusahaan tidak membagikan deviden sehingga selisihnya sebesar (Rp200jt .4/1995 tanggal 5 Oktober 1995 memberikan penegasan sebagai berikut :  Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil dari jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya. hal ini tidak mempengaruhi pembebanan dalam laporan laba rugi fiskal karena penghasilan dibayar/ terutang kepada Bank dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23 sesuai Pasal 23 ayat (4) huruf a UU Nomor 36 Tahun 2008. jelaskan apakah diperlukan koreksi atas beban konsultasi manajemen yang diakui perusahaan? Jelaskan jawaban Anda! Menurut UU PPh Pasal 9 Ayat 1 Huruf F “jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan” merupakan non deductible expense. SE-46/PJ. Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya. Menurut pendapat Anda. rata-rata yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya ( selisih rata-rata pinjaman dengan ratarata deposito). Maka beban bunga yang dapat dibebankan adalah10 % * (2Milyar -  1Milyar ) = 100juta Dalam hal tidak ada bukti potong PPh 23. Sehubungan dengan beban-beban yang sering dikoreksi: a.diasumsikan berasal dari pinjaman untuk mendapatkan. dan memelihara penghasilan. Sehingga boleh dibebankan dalam laporan laba rugi fiskal. menagih. Sehubungan dengan beban konsultasi manajemen. apakah yang menyebabkan beban-beban tersebut dikoreksi oleh pemeriksa pajak selama ini? . maka biaya bunga atas pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi. SE Dirjen Pajak No. maka biaya bunga yang dibayar atau terhutang atas pinjaman tersebut  seluruhnya tidak dapat dibebankan sebagai biaya.Rp100jt) dianggap sebagi deviden terselubung yang harus dipotong PPh 23 6.

Perusahaan seyogyanya mengeluarkan Surat Tugas bagi pegawai yang ditugaskan dan sebagai bentuk pertanggungjawaban tugasnya pegawai tersebut . seperti pada saat perjalanan dinas bukan hanya karyawan yang mengikuti perjalanan dinas. beban-beban yang sering dikoreksi disebabkan karena perusahaan masih saja membebankan yang seharusnya tidak dibebankan. seharusnya perusahaan tidak mengurangkan biaya yang dikeluarkan untuk non karyawan dengan laba brutonya. Sesuai UU PPh pasal 9 ayat 1g. namun ada keluarga yang ikut  menemani dalam perjalanan tersebut. (pasal 9 ayat 1i UU PPh) Adanya kemungkinan bahwa biaya perjalanan dinas secara lump sum ini menimbulkan berkelebihan uang yang membuat para staff mempunyai kemampuan ekonomis seperti yang dinyatakan pada definisi objek pajak penghasilan (pasal 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan). maka dapat disimpulkan bahwa staff tersebut akan berkelebihan uang yang membuatnya mempunyai kemampuan ekonomis. reimbursement/penggantian. Jika perusahaan mengeluarkan uang untuk Biaya Perjalanan Dinas dengan cara di atas. yaitu:  Mungkin saja pada beban perjalanan dinas perusahaan masih terdapat beban yang seharusnya tidak dimasukkan. sumbangan merupakan non deductible expense. Sehingga wajar jika beban sumbangan tersebut dikoreksi oleh fiskus. Terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi mengapa fiskus selalu mengkoreksi. kecuali sumbangan-sumbangan yang tercantum dalam Pasal 6 ayat 1 huruf i sampai dengan huruf m. Beban lainya yang sering dikoreksi adalah beban sumbangan. b. Jelaskan tindakan dan kebijakan apa yang harus diubah/dilakukan PT ELEKTRINDO untuk menjamin koreksi semacam itu tidak terjadi lagi! Untuk perjalanan dinas.Menurut kelompok kami. Sehingga seharusnya terhadap Biaya Perjalanan Dinas merupakan Objek Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi staff yang menerimanya dan terhadap biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto (pasal 6 ayat 1  Undang-Undang Pajak Penghasilan). Biaya Akomodasi dan Uang Saku dapat dibayarkan kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas dengan cara lumpsum (pembayaran di awal). ataupun dengan cara pemberian uang muka seharusnya tidak membuat pegawai menjadi berkelebihan uang yang membuatnya mempunyai kemampuan ekonomis seperti yang dinyatakan pada definisi objek pajak penghasilan (pasal 4 Undang-Undang Pajak Penghasilan).

sebaiknya tidak lagi dibebankan kedalam beban sumbangan atau menjadi pengurang penghasilan bruto. sumbangan yang diberikan kepada perorangan atau institusi yang meminta langsung dengan proposal tanpa adanya hubungan kerja ataupun tanpa ada kepentingan perusahaan. Direktur keuangan tidak seharusnya berpesan kepada Sugiri bahwa dalam membuat SPT PPh Badan. Sedangkan. 7. Karena menurut Pasal 28 ayat (3) UndangUndang KUP mengatur bahwa pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. maka pegawai tersebut harus mengembalikan sisa uang perjalanan yang diterima di muka. Menurut Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang PPh. . Maka terhadap Biaya Perjalanan Dinas bukan objek Pajak Penghasilan Pasal 21 dan bagi perusahaan. biaya tersebut dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto. pembayaran oleh pemberi kerja sehubungan dengan Biaya Perjalanan Dinas dianggap bukan sebagai imbalan berkenaan dengan pekerjaan dan Biaya Perjalanan Dinas dianggap tidak memberikan tambahan kemampuan ekonomis bagi pegawai / karyawan. karena merupakan deductible expense sesuai UU PPh pasal 9 ayat 1e.membuat laporan yang disertai dengan dan rincian biaya yang dikeluarkan serta jika perusahaan menerapkan sistim pengembalian uang sisa. maka terhadap biaya ini tidak merupakan objek pajak penghasilan bagi yang menerimanya. Berikan komentar anda terkait dengan pesan Direktur Keuangan kepada Sugiri dalam pembuatan SPT PPh Badan tahun 2013! Menurut kelompok kami. hendaknya Sugiri hanya melakukan koreksi fiskal terhadap beban depresiasi dan beban karyawan (beban makan siang dan seragam) saja dengan alasan tidak mau ribet.