Dr.

Hilmy Bakar Almascaty

Konsep

KayaSejati
Meraih Kekayaan Melalui Spiritualitas Islam

Insya Allah terbit dipasaran secepatnya... Mohon do’a para pembaca

Pendahuluan
Bagian Pertama

Fiqih KayaSejati
(Pengantar Memahami KayaSejati)
”Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan, maka di-faqih-kannya dalam agama” (al-Hadits)

1. Kesalahfahaman Terhadap Keutamaan Miskin

Beberapa waktu lalu di Kuala Lumpur Malaysia saya bertemu dengan seorang konglomerat Malaysia yang sudah memiliki kekayaan berlimpah ruah dengan segala kemewahannya. Beliau menunjukkan kekecewaan mendalamnya pada sebuah latihan motivasi terkenal asal Jakarta yang menurutnya justru berdampak negatif terhadap kekayaan. ”Saya heran, setelah mengikuti latihan motivasi yang mahal itu, banyak teman dan anak buah saya yang membenci dunia, menganggap kekayaan dan uang tidak penting”. Beliau menilai paradigma tentang dunia dan akhirat yang ditawarkan pelatihan itu salah kaprah, sehingga orang yang kurang faham Islam akan menganggap dunia tidak penting, kekayaan dan uang tidak perlu bahkan mendorong orang lari dari semua itu. Dengan bersemangat beliau menceritakan, ”Seorang teman saya yang memiliki rumah besar, mobil besar dan penghasilan besar menyalahkan semua yang dimiliki dan mencampakkannya setelah mengikuti latihan itu. Kekayaan yang dimilikinya itu dianggapnya telah menghambat dirinya menjadi seorang yang baik. Anehnya mereka memungut biaya besar untuk latihan yang menganggap duit tidak penting, padahal kami memungut biaya murah untuk mengajarkan pentingnya kaya dan duit bagi kehidupan” serunya kesal. Saya pernah mendengar keluhan-keluhan seperti itu akibat dari kesalah fahaman dalam memahami hakikat dunia dan akhirat serta pola kehidupan Rasulullah dengan para sahabat. Ironisnya para motivator mahal itu menyerukan tidak pentingnya kekayaan dan harta dalam kehidupan dunia ini, namun pada saat yang sama mereka menunjukkan kemewahan atau tepatnya kemubaziran para pencinta dunia. Tinggal di rumah super mewah dengan perlengkapan mewahnya, mobil dan kantor yang mentereng serta menginap di hotel-hotel berpintang lima tempat tinggal para hartawan. Ironisnya motivator-motivator ini menyerukan tidak pentingnya sebuah kekayaan, sehingga orang yang tadinya memiliki kekayaan dengan usaha kerasnya mencampakkan keberhasilannya akibat sebuah pelatihan salah yang dibayarnya mahal.

2

”Seharusnya dengan biaya mahal itu mereka mendorong para peserta untuk menjadi orang-orang kaya yang memahami pentingnya kekayaan untuk beramal saleh dan membantu sesamanya” kata pengusaha yang telah bergelar Dato’ ini. ”Sudah berkali-kali saya ingatkan motivator itu untuk merubah paradigmanya tentang dunia akhirat, namun responnya lambat. Saya mengusulkan agar kekayaan didudukkan sebagaimana mestinya sebagai jalan untuk menggapai kemenangan akhirat”. Setelah berdiskusi panjang, kami berdua menyimpulkan bahwa para motivator itu salah faham dalam menjelaskan urusan pentingnya kekayaan untuk jalan kebaikan dan kemeanngan akhirat. Sebenarnya para motivator itupun mengetahui nikmatnya kekayaan, buktinya mereka memiliki segala kemewahan dari hasil latihan yang mahal ini. Mereka seharusnya lebih tegas lagi menyampaikan pentingnya kekayaan atau wajibnya kaya bagi kaum muslimin agar tidak ada yang salah faham dan menganggap kemiskinan sebagai sebuah pilihan utama hidup, sebagaimana yang telah menimpa teman Dato’ itu. Saya juga pernah menghadiri sebuah ceramah seorang ustadz di pinggiran Jakarta yang sedang membahas masalah ”keutamaan hidup miskin”. Dengan fasihnya ustadz muda ini membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang diperkuat dengan beberapa argumen dari kitab Ihya’ Ulum al-Dien karya agung Imam al-Ghazali. Dengan seksama saya simak dalil-dalil yang dibacakannya, sangat menarik. Saya mulai gelisah ketika sang ustadz menyatakan bahwa ”orang miskin akan cepat masuk surga, karena tidak terhalang oleh hisab kekayaannya sebagaimana orang kaya, yang akan dihisab dari mana memperoleh kekayaan dan ke mana mengeluarkannya”. Mungkin dia berfikir timbangan (mizan) Allah itu seperti alat manual manusia, sehingga jika jumlahnya banyak akan terkesan sangat lama dihitung dibandingkan jumlah yang sedikit. Dia berfikir jika orang kaya banyak harta akan dihitung bertahun-tahun yang menyebabkannya tertahan masuk surga. Padahal timbangan Allah mampu menghisab segala sesuatu dalam hitungan cepat, bahkan lebih cepat dari perhitungan komputer tercanggihpun. Materi ceramah yang disampaikan tidak asing lagi bagi saya, karena saya juga pernah menganut pemahaman serupa di pengajian yang mendoktrinkan mulianya hidup miskin dalam spektrum yang berbeda. Namun referensi dan pengertiannya hampir sama. Akibat pemahaman ini, ketika muda dulu saya selalu mencibir orang-orang kaya sebagai kapitalis dan materialis, bahkan secara tidak sadar saya membenci orang kaya dan kekayaan yang mereka miliki. Ketika saya menjadi ustadz muda, seperti penceramah ini, saya juga seringkali membaca ayat-ayat dan hadits yang dibacakannya, menyerukan pendengar agar tidak mencintai dunia yang orientasinya menjadi orang yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan lebih menjurus pada kemiskinan. Ironisnya ketika saya akan membangun gedung untuk lembaga pendidikan yang saya pimpin, saya datang kepada orangorang kaya yang saya cerca dan benci untuk meminta-minta bantuan dana. Jadi saya agak mengerti keadaan ustadz ini yang kurang memahami atau minimal salah faham terhadap paradigma kemiskinan yang dibolehkan Islam. Dia terjebak dalam metode pembahasan Imam al-Ghazali yang jika tidak dicermati secara menyeluruh seakan-akan lebih mengutamakan kemiskinan dari amalan-amalan lainnya. Padahal di lain tempat beliau juga

3

menyebutkan dalam karyanya tentang keutamaan hidup kaya, yang juga dipujinya sebagaimana memuji hidup dalam kemiskinan. Pujian-pujian sangat berlebihan terhadap kemiskinan tanpa memberikan penyeimbang terhadap keutamaan dan kemulian atas kelebihan kekayaan akan mendorong para pendengar untuk hidup dalam serta kekurangan. Bahkan akan memberi semangat kepada kemalasan dalam bekerja dan berkarir. Jika Anda yang belum faham benar ajaran Islam, lalu mendengar ceramah ini, maka dengan serta merta dapat menyimpulkan bahwa kemiskinan adalah sebuah kemuliaan dan keutamaan yang dianjurkan Islam kepada para pemeluknya. Apalagi yang mendengar adalah orang yang tengah ditimpa kemiskinan, maka akan menjadi argumennya untuk tetap menjadi mulia dengan mempertahankan kemiskinannya. Celakanya, jika orang sudah kaya mendengar argumen ustadz ini, maka dia akan takut dengan kekayaannya serta memilih hidup miskin dan meninggalkan kerja yang telah membuatnya kaya. Sebagaimana yang dialami keluarga dekat teman saya yang telah meninggalkan kehidupan mapannya akibat salah memahami kemiskinan. Membuang rumah mewahnya, mobil mewahnya dan karir cemerlangnya, karena anggapan semua itu menjadi penghalangnya menjadi seorang Islam yang baik. Mengakhiri bacaan ayat dan haditsnya, sang ustadz memberikan komentar dengan tambahan, ”maka berbahagialah orang-orang yang fakir dan miskin, mereka adalah hamba-hamba Allah yang menjadi kekasih-Nya di dunia dan akhirat”. Kata-kata selanjutnya membuat saya bertambah gelisah. Rasulullah saw junjungan kita, katanya dengan lantang, ”selalu berdoa, ”Ya Allah, hidupkanlah aku bersama dengan orang-orang miskin, matikan aku bersama orang-orang miskin, dan bangkitkan aku bersama orang-orang miskin pula”. Kesimpulan yang dapat saya ambil, ustadz ini berpendapat bahwa orang-orang miskin adalah pilihan Allah, kekasihnya di muka bumi. Saya tercengang dengan kesimpulan ini, karena tanpa disuruhpun memang kini orang-orang Islam adalah yang termiskin di Republik ini. Anda bisa membayangkan bagaimana dampaknya jika kaum muslimin yang mayoritas menjadi fakir miskin semua karena mengejar keutamaan dan kemuliaan sebagaimana dinyatakan ustadz ini. Bukan hanya lembagalembaga sosial dan pendidikan Islam yang selama ini mendapat bantuan orang kaya yang akan gulung tikar, tapi juga negara akan bangkrut akibat hilangnya pendapatan pajak dari umat Islam dan sekaligus mengurusi kemiskinan mereka yang amat besar melalui Departemen Sosial. Apalagi jika seluruh umat Islam di dunia berfahaman seperti ini, akan seperti apa jadinya dunia ini. Jika sebuah masyarakat yang disebut Allah sebagai ummat terbaik yang bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan dan mencegah kerusakan adalah orang-orang yang hidup melarat, terbelakang dan miskin apakah akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik di muka bumi? Mana mungkin masyarakat yang hidup dalam kemiskinan akan mampu memberikan pengarahan kepada masyarakat yang kaya dan maju, seperti yang kaum muslimin alami saat ini, walaupun jumlahnya besar tapi tidak mampu mendekte negara Amerika, padahal ada negara-negara muslim yang juga kaya. Apalagi jika miskin semua. Di dalam benak saya terbayang kengerian dahsyat bagaimana seandainya kaum muslimin semuanya berlomba-lomba menjauhi dunia sebagaimana yang dianjurkan ustadz tersebut lalu menjadi fakir miskin.

4

Tidak ada lagi yang akan mengeluarkan zakat, infak dan shadaqah, kaum muslimin tidak mampu membayar pajak kepada negara, tidak mampu menyediakan pendidikan berkualitas kepada generasi mudanya, dan seterusnya. Dan bagaimana jadinya jika yang kaya raya adalah orang-orang yang tidak peduli kepada agama dan kepentingan kaum muslimin, apalagi jika mereka adalah yang disebut al-Qur’an sebagai ”orang-orang yang hendak memadamkan cahaya (agama) Allah”? Dengan sabar saya menunggu materi selesai disampaikan. Setelah habis berceramah, dengan cepat saya mengangkat tangan, ”ustadz, saya mau bertanya” seru saya. Dengan mimik agak kaget, sang ustadz mempersilahkan. ”Saya ingin mengoreksi beberapa pendapat ustadz tadi”, kata saya tegas. Saya mulai menyanggah pemikiran sang ustadz sambil membaca beberapa ayat-ayat jihad yang semuanya hampir didahulukan dengan jihad bil mal (harta), sambil berkata: ”bukankah ayat tersebut memberi keutamaan kepada orang yang beriman kaya yang berjihad dengan harta”. Selanjutnya saya membacakan beberapa hadits Nabi tentang keutamaan orang-orang kaya yang banyak bersedekah, berjihad dan membaca dzikir dari orang-orang miskin yang sabar. Saya menegaskan ada sebuah hadits yang menyatakan: ”sesungguhnya kefakiran itu hampir-hampir membawa orang kepada kekufuran” dengan memberikan contoh berapa banyak orang Islam yang murtad karena miskin dan tidak sabar dengan kemiskinan yang menimpanya. Terakhir saya bacakan pendapat Sayyidina Ali yang berkata: ”Andaikan kemiskinan itu berbentuk manusia, maka pasti akan kupenggal lehernya”. Maknanya sahabat agung ini benar-benar serius ingin memerangi dan mengeyahkan kemiskinan dari kaum muslimin. Sayapun berujar: ”bagaimana kita akan mendirikan sekolah terbaik, jika kita semua menjadi miskin. Apakah kita berharap musuh-musuh Islam akan membangun sekolah yang baik untuk kegemilangan generasi kita? Justru sebaliknya, mereka mendirikan sekolah untuk memurtadkan dan melemahkan iman generasi muda kita”. Dengan pendapat yang panjang lebar, saya meyakinkan bahwa menjadi orang miskin bukanlah satu-satunya pilihan bagi kaum muslimin, tapi boleh menjadi salah satu pilihan. ”Jadi menurut saya kemiskinan itu tidak salah, sebagaimana juga tidak salahnya orang menjadi kaya”. Bahwa Imam al-Ghazali memuji kemiskinan agar orang miskin tidak putus harapan dan tetap bersabar atas kemiskinan yang telah menimpanya. Jika seorang sudah miskin, tapi tidak bersabar atas kemiskinannya, boleh jadi akan membawa dirinya menjadi pelaku kriminal atau frustasi dan putus asa yang dekat dengak kekufuran pula. ”Bahkan pada kesempatan yang lain beliau juga menyanjung kekayaan yang terdapat pada orang-orang saleh, sebagaimana hadits: ”sebaik-baik kekayaan adalah pada orang saleh”. Atau ada hadits yang menyatakan bahwa ”tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah (peminta)”. Mafhumnya, tentu orang kaya yang memberikan hartanya lebih baik dari orang miskin yang meminta-minta. Mengakhiri sanggahan, saya menekankan bahwa seorang muslim yang miskin hendaklah bersabar dan berusaha dan terus berusaha pantang menyerah dengan sungguh-sungguh keluar dari kemiskinannya, agar hidupnya lebih mulia dengan menjadi pemberi atau tangan di atas. Namun apabila telah berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap miskin juga, maka hendaklah mereka bersabar, karena Allah dan Rasul-Nya tetap

5

mencintai mereka dan akan dimasukkan ke dalam surga atas nasib miskin serta kesabarannya. Demikian pula halnya dengan yang kaya, mereka wajib bersyukur dengan kekayaan yang diperolehnya. Bentuk kesyukuran itu adalah dengan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Kesyukurannya inilah yang akan mengantarkannya beramal saleh sebanyak-banyaknya dengan kekayaannya, sehingga diapun layak masuk surga. Nah jika ada orang kaya yang tidak bersyukur, tentu lebih baik orang miskin yang bersabar. Setelah termangut-mangut mendengarkan sanggahan saya, sang ustadz muda menyetujui pendapat saya. Dengan semangat dia menambahkan: ”saat ini kita sedang membahas masalah keutamaan miskin, namun di lain waktu kita akan membahas juga tentang keutamaan kaya, sebagaimana saran tadi”. Setelah selesai acara, beberapa orang pendengar mendatangi saya, dan memberi salam dan ucapan terima kasihnya atas sanggahan saya. Sayapun lega dan mendapat kekuatan baru untuk menerangkan pentingnya kaya, karena masih banyak yang keliru memahami kemiskinan yang dibenci Islam dengan orang miskin yang wajib disayangi dan dibela serta ditolong. Bukan hanya sekali saja saya mengalami peristiwa seperti ini. Sering sekali saya bertemu dengan para ustadz atau penceramah yang membela mati-matian keutamaan hidup dalam kemiskinan dan mencerca kekayaan secara berlebihan. Suatu hari terjadi perdebatan yang panas antara saya dengan seorang ustadz yang sudah saya kenal lebih 30 tahun di Kuala Lumpur. Dengan penjelasan yang rinci beliau menyakinkan saya bahwa kemiskinan adalah lebih utama dari pada kaya. Karena untuk menjadi kaya sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya amatlah sulit, bahkan mustahil katanya. Setelah berdiskusi panjang lebar, beliau memberikan saya kitab terjemahan Ihya Ulum al-Dien, karya Imam al-Ghazali, jilid ke 5 yang begitu saya buka tertera judul Kitab Tercelanya Dunia yang diikuti dengan Tercelanya Cinta Harta. Padahal 35 tahun lalu kitab ini menjadi kegemaran saya. Halaman demi halaman saya baca dengan penuh pemahaman, terutama hadits-hasdits yang dinukilkan dalam kitab tersebut. Setelah saya selesai membaca, saya jadi terguncang, mengingat kuatnya dalil-dalil yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali tentang bagaimana tercelanya harta termasuk menjadi kaya. Namun saya menenangkah hati. Meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan kebenaran yang sebenar-benarnya, sambil mencari buku-buku referensi yang lain, dengan harapan mendapatkan pandangan yang berbeda. Karena saya tengah mengambil Doktor sejarah di Universitas Kebangsaan Malaysia, maka saya sedikit banyak dapat memahami sebuah pendapat yang difatwakan berdasarkan kurun terjadinya peristiwa. Yang saya fahami adalah Imam al-Ghazali hidup di masa puncak kejayaan Islam, kejayaan yang paling puncak, sehingga kemakmuran bagi kaum muslimin sudah terlampau, karena 200 tahun sebelumnya, yaitu pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah, sudah sulit menemui penerima zakat, karena masyarakat Islam sudah terbebas dari kemiskinan. Kita dapat membayangkan keadaan pada waktu itu keadaan kaum muslimin yang menjadi super power dunia dengan menyatukan kekuatan-kekuatan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maka tidak mengherankan telah

6

melahirkan orang-orang kaya dengan kemakmuran yang luar biasa. Keluarga Imam al-Ghazali sendiri termasuk dari kalangan orang kaya dan beliau juga awalnya adalah orang kaya, yang memahami hakikat kekayaan. Setelah mencari-cari rujukan di beberapa perpustakaan pribadi sahabat dan berkeliling ke beberapa toko buku di sekitar Kuala Lumpur, akhirnya saya menemukan beberapa buku yang cukup menarik dan dapat menjadi hujjah saya dalam menguraikan, mana yang lebih utama pada waktu, antara orang miskin yang bersabar dan orang kaya yang bersyukur. Aliran Menolak Dunia Tidak dipungkiri ada aliran di kalangan kaum mislimin, terutama para pengikut ajaran tasauf atau tarikat tertentu yang berlebihan mengajarkan hidup zuhud sampai-sampai mewajibkan kemiskinan sebagai jalan mencapai kesempurnaan peribadahan. Karena menurut aliran ini, hanya dengan kemiskinanlah jalan yang akan membebaskan manusia dari segala keterikatan dunia yang fana, hina dan telah dilaknat. Bahkan mereka mengganggap bahwa dunia adalah penjara bagi kaum muslimin, atau tempat mendapat kepedihan dan kemiskinan, sementara surga bagi orang-orang kafir, sehingga mereka boleh meraup kekayaan semaunya. Jika seorang muslim ingin merdeka, bebas dari penjara dunia, menurut faham ini, mereka harus membebaskan diri dari segala bentuk dunia, termasuk menghindari diri dari kekayaan. Hidup dalam kesusahan, kekurangan dan kemiskinan bagaikan pertapa untuk mendapatkan kehidupan yang sempurna di akhirat kelak. Awalnya para pengikut aliran ini hanya menyerukan kemiskinan kepada para jamaahnya saja, namun lama kelamaan, semakin dalam fanatismenya terhadap alirannya, merekapun akhirnya membenci kekayaan dan juga orang-orang kaya yang dianggapnya sebagai hamba dunia. Bahkan ada yang secara terbuka menyerang orang-orang kaya secara membabi buta. Akibatnya mereka semakin tersingkir dari dunia dan menjadi komunitas tersendiri yang apatis terhadap segala bentuk dunia, termasuk kemajuan peradaban dan pengetahuan yang merupakan bagian dari dunia. Mereka hidup menjadi ahli kebatinan yang berzikir siang malam, menikmati eksotisnya dunia mistis, fana dalam dunia ghaib menelantarkan kehidupan dunianya, perdagangannya dan termasuk anak dan istrinya karena terlalu nikmat dengan alam rohaninya. Semakin dalam mereka terlibat dalam alirat ini, sedikit demi sedikit mereka menolak ajaran Islam selain dari kekayaan, termasuk untuk berkeluarga yang dianggap akan menjadi penghalang dalam perjalanan kerohaniannya. Jika ditelusuri sejarahnya, faham keagamaan ini berkembang pesat terutama di abad ketiga sampai dengan kelima hijriah, di saat Islam dan kaum muslimin menggapai kegemilangan dan kemegahan tiada taranya di muka bumi. Pusat-pusat dunia Islam adalah pusat peradaban, pengetahuan sekaligus kemakmuran sebagai akibat kebangkitan Islam dan kemenangannya, sehingga mendatangkan kemewahan yang luar biasa kepada kaum muslimin. Menurut para ahli sejarah, pada saat itulah puncak pencapaian Islam ditemukan, dengan segala kemakmuran dan kemewahan yang masih tersisa sampai saat ini. Maka pada saat seperti itulah, di mana kemewahan dan kekayaan telah menjadi panglima kehidupan dan mengubah arah kehidupan kaum muslimin, lahir para penyeru perbaikan yang mendakwahnya pentingnya hidup sederhana dan kemiskinan sebagai jalan

7

kembali (pertobatan) menuju kemuliaan. Ahli sufi terbesar seperti Imam alGhazali lahir dalam kondisi masyarakat muslim seperti ini, yang telah terlampau hidup dalam kemewahan dan bergelimang kekayaan. Beliau menyerukan kehidupan yang zuhud agar menjadi seorang muslim yang baik. Tapi tentu beliau kemudian tidak mengharamkan kaum muslimin menjadi kaya. Dampak aliran pemikiran ini terhadap kaum muslimin sangat dahsyat. Banyak ahli sejarah yang menyebutkan bahwa aliran seperti ini telah bertanggung jawab atas kemunduran dan keterbelakangan kaum muslimin yang dimulai sejak abad pertengahan lalu. Akibat terlalu lenanya sebagian besar kaum muslimin kepada alam kerohanian sebagai pelarian terhadap budaya hedonisme segelintir penguasa dan bangsawan, telah menimbulkan kelemahan demi kelemahan yang berakibat fatal kepada peradaban Islam. Perhatian pada kekuatan ekonomi dan militer yang menjadi poros utama kekuataan Islam, yang sebelumnya menjadi prioritas utama pemerintahan Islam terbengkalai. Ketika kaum muslimin di serang pasukan bar-bar Genggish Khan dari Mongolia, pusat-pusat peradaban, pengetahuan dan ekonomi dihancurkan tanpa perlawanan berarti. Meninggalkan urusan dunia termasuk urusan ekonomi telah menyebabkan bencana kemunduran kepada kaum muslimin yang sampai saat ini masih terasa akibatnya. Kemunduran ekonomi telah mengakibatkan kemunduran sosial, pendidikan, militer yang berujung penjajahan kolonilis Barat yang telah merubah jati diri kaum muslimin. Pada masa penjajahan Barat terhadap kaum muslimin, para penjajah sengaja memelihara dan mengembangkan aliran seperti ini, bahkan memberikan bantuan dana yang tujuannya jelas untuk memperlemah dan tetap memperbudak kaum muslimin yang hidup dalam kemiskinan. Bagaimana mungkin masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan tanpa harga diri akan dapat melawan penjajah yang kaya dan memiliki kekuatan teknologi. Penjajahan telah menimbulkan keterbelakangan dan utamanya kemiskinan kepada kaum muslimin. Masyarakat miskin akan melahirkan sebuah negara yang miskin pula, sebagaimana yang tengah menimpa sebagian besar negara-negara kaum muslimin yang dikatakan sebagai negara sedang berkembang saat ini. Negara terbelakang yang penuh dengan konflik, perebutan kekuasaan dan peperangan yang dipimpin oleh rezimrezim diktator. Walaupun sebahagian besar kaum muslimin didera kemiskinan saat ini, aliran pemikiran ini masih berkembang pesat, menjadi pembenaran atas kemiskinan yang tengah menimpa bahkan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang anti dunia dan kemajuan. Seakan-akan memang benar Allah telah menakdirkan mereka hidup dalam keterbelakangan di muka bumi. Bagaimana mungkin mereka dapat menjadi khalifah atau wakil Allah di muka bumi jika mereka dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Padahal yang diwakilinya adalah Allah, Tuhan seru sekalian alam Yang Maha Kaya Raya. Ironisnya semakin ditimpa kemiskinan dan kekuarangan, semakin dalam pula mereka menghanyutkan diri ke dalam dunia kerohanian dan meninggalkan dunia nyata sehingga perekonomian, pengetahuan, teknologi dan kemajuan peradaban lainnya dikuasai orang lain. Di Aceh saya menyaksikan bagaimana dampak kemiskinan terhadap masyarakat luas. Syukurnya masyarakat Aceh adalah di antara masyarakat

8

yang kuat memegang adat dan tradisi yang berdasarkan Islam sehingga dampaknya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Namun demikian, kemiskinan telah menjadi pintu efektif untuk setan menggoda manusia agar tergelincir dari jalan Allah. Setelah mengalami konflik berkepanjangan, masyarakat Aceh hidup di bawah rata-rata, yang lebih tepat diidentikkan dengan kemiskinan. Kemiskinan terstruktur ini telah membunuh bakat-bakat cemerlang generasi muda Aceh, yang seharusnya dapat menjadi orang sukses, cendekiawan ataupun profesional. Akibat kemiskinan yang mendera, sebagaian besar generasi berbakat Aceh tidak dapat mengenyam pendidikan layak apalagi berkualitas. Fasilitas pendidikan sangat minim sementara guru dibawah standar yang menjadikan kualitas pendidikan sangat rendah dan tidak mampu bersaing dengan tamatan daerah lainnya. Rendahnya kualitas pendidikan telah mengakibatkan rendahnya SDM, yang tentu berdampak langsung terhadap kemiskinan yang banyak menimpa masyarakat Aceh dengan segala akibat sosialnya, terutama pengangguran yang akan melahirkan kemiskinan juga. Di daerah lain, kemiskinan telah mengantarkan sebagian orang menuju kekufuran. Dampak dari kemiskinan memang hanya dapat dihayati oleh mereka yang pernah mengalami hidup dalam kemiskinan atau hidup dalam lingkungan kemiskinan. Di waktu kecil saya memiliki pengalaman tersendiri tentang kemiskinan ini. Kesimpulan saya hidup dalam kemiskinan adalah menyakitkan yang menimbulkan trauma mendalam dan tentunya rendah diri maupun semangat hidup. Ketika kecil saya tinggal bersama orang tua angkat yang termasuk orang kurang berada, bekerja sebagai buruh tani, pedagang asongan dan tinggal di rumah yang tidak layak kesehatan di sebuah kampung pinggiran kota Mataram, Lombok. Karena saya tidak betah tinggal di rumah sendiri sejak bayi, maka di boyong ke rumah orang tua angkat dan hidup dalam keadaan yang serba kurang. Dari kecil saya terbiasa ikut menjadi buruh tani atau penjual asongan keliling dengan hidup yang pas-pasan dan tentu kurang gizi. Saya tumbuh di tengah kemiskinan, bersama dengan anak-anak miskin di kampung. Sesekali saya diajak ke kota naik angkutan umum dan bertemu dengan anak-anak kota yang serba berkecukupan. Ketika anak-anak kota menikmati es krim atau coklat, saya hanya menelan liur saja, karena orang tua angkat tidak akan mampu membelikan. Untuk dapat uang jajan, saya harus bekerja atau memungut botol bekas. Saya sering menyaksikan ayah angkat saya dimarah oleh mandor tani, yang menimbulkan rasa minder pada diri saya. Kemiskinan akan mendorong orang menjadi lemah mental dan kurang mendapat kesempatan dalam pendidikan dan hanya sedikit orang yang mendapatkan kesempatan emas keluar dari permasalahan yang menghimpitnya. Berbeda dengan orang kaya, kesempatan untuk mendapat pendidikan terbaik terbuka lebar untuknya, sehingga menjadi sarana untuk menggapai kesuksesan di masa depan. Pada masa kehidupan Rasulullah dan sahabatpun telah tumbuh pola hidup yang dianggap mengutamakan kemiskinan, padahal lebih tepatnya hidup dalam kesederhanaan. Namun sangat berbeda substansinya dan tidak seekstrim yang berkembang kemudian sebagaimana digambarkan di atas. Di dorong oleh pemahaman yang mendalam tentang hakikat keimanan dan kehidupan dunia fana ini, ada di antara para sahabat terkemuka yang

9

berkonsentrasi penuh memikirkan kehidupan akhirat dan menghindari dunia serta telah menjadikan kemiskinan menjadi jalan hidup dan pilihan mereka seperti yang dikenal dengan sahabat ahl al-suffah, yang hidup miskin bahkan diantaranya sampai tidak mampu memiliki rumah dan keluarga. Para ahli sejarah menyatakan jumlah mereka sekitar tujuh puluhan orang dari puluhan ribu jumlah total para sahabat Nabi Muhammad. Artinya tidak semua para sahabat menjadi seperti kelompok ahl al-suffah. Jika sahabat mayoritas lainnya sibuk dengan perdagangan, perkebunan atau urusan kehidupan duniawi, maka mereka menyibukkan diri dengan berdoa dan berzikir di masjid dan menerima penghidupan dari santunan negara atau pemberian kaum muslimin. Ada juga dikalangan sahabat agung ini yang berasal dari orang kaya raya, karena perjuangan Islam masa itu membutuhkan dana yang besar, mereka telah menginvestasikan kekayaannya di jalan Allah. Membelanjakannya untuk perjuangan menegakkan dakwah Islam dan memilih hidup sederhana untuk mendapat kebahagian sejati di akhirat kelak. Atau kekayaan mereka dirampas oleh kaum musyrikin Mekkah ketika berhijrah ke Madinah, kemudian mereka memulai hidup baru dari nol lagi. Mereka dipuji oleh Allah : di antara manusia ada orang-orang yang membeli dirinya untuk mendapatkan ridha Allah. Ayat ini berkaitan dengan salah seorang sahabat yang meninggalkan kekayaannya untuk berhijrah mencari ridha Allah bersama Rasul-Nya. Kehidupan sahabat Umar bin Khattab juga menggambarkan hal ini. Beliau adalah kepala pemerintahan Islam yang telah menaklukkan dua super power masa itu, Romawi dan Persia, karena dasar keimanan mendalam memilih hidup sangat sederhana, diriwayatkan rumahnya sangat sempit dan bajunyapun penuh tambalan. Padahal jika beliau mau, istana Persia yang megahpun dapat dipindahkan menjadi rumahnya, dan segala kemewahannya dapat diraupnya sebagai kepala negara kaum muslimin yang terbentang luas. Sebelumnya sahabat Umar adalah seorang kaya raya dan setelah memeluk Islam serta menjadi kepala negara justru memilih kesederhanaan sebagai pola hidupnya. Inilah kemiskinan yang menjadi pilihan hidup, seorang yang kaya raya dan mampu kaya raya namun memberikan seluruh kekayaan yang didapatnya dan memilih hidup sederhana karena pemahamannya yang mendalam tentang keimanan. Tradisi ini diikuti oleh kepala pemerintahan pengganti beliau bernama sahabat Usman bin Affan, yang juga kaya raya namun menjadikan kesederhanaan sebagai pola hidupnya. Keadaan ini tentu berbeda dengan generasi Islam abad bertengahan. Setelah mereka mengalami puncak kemakmuran kemudian meninggalkan urusan dunia dan lari pada alam kerohanian. Tapi generasi Islam angkatan sahabat menyumbangkan seluruh kekayaan dunianya untuk mendapatkan ketinggian kerohanian. Para sahabat mencari kekayaan sebanyakbanyaknya, menjadi kaya raya, kemudian berlomba-lomba membelanjakannya di jalan Allah adalah cara para sahabat untuk mendapatkan ketinggian spiritualitas. Mereka sangat faham dengan makna ayat al-Qur’an: ”engkau tidak akan mencapai kebaikan tertinggi, sehingga menafkahkan harta yang paling engkau sukai”. Untuk dapat mengeluarkan kekayaan di jalan Allah, tentu mereka harus memiliki kekayaan.

10

Para sahabat yang terpuji dan mulia memilih pola hidup kaya juga atas dasar pemahaman dan keimanan, yang akan dijadikan sebagai sarana menegakkan peribadatan kepada Allah. Dalam sejarah kehidupan sahabat banyak di antara mereka yang senantiasa dilimpahkan kekayaan yang berlimpah ruah, seperti yang dialami sahabat Abdurrahman bin ’Auf. Walaupun beliau telah menyumbangkan kekayaannya di jalan Allah, kekayaannya bukan habis atau berkurang tapi malah bertambah banyak. Namun dengan kekayaannya tidak menjadikan beliau lupa daratan. Memilih hidup kaya seperti sahabat Abdurrahman juga merupakan kemuliaan, bukan sebuah laknat dan kehinaan sebagaimana yang dituduhkan. Jika kita telusuri sejarah hidup beberapa Nabi, maka kita akan mendapati ada kesamaan pola, bahwa ada beberapa Nabi sebelum diangkat menjadi Nabi adalah orang kaya atau hidup dalam lingkungan kaya. Mereka telah mengecap kekayaan terlebih dahulu dan diangkat menjadi Nabi. Hikmahnya tidak lain, karena orang kaya lebih memiliki rasa percaya diri yang besar dalam menyampaikan ajaran Allah dan terpandang oleh masyarakatnya dibandingkan dengan orang yang miskin. Karena watak dari manusia lebih mendengar perkataan orang yang ada diatasnya dari pada dibawahnya. Kebanyakan para Nabi dan utusan Allah adalah dari keturunan orang-orang mulia dan terpandang di dalam lingkungan masyarakatnya. Mereka adalah orang-orang besar yang memiliki sejarah kebesaran keluarga dan dipersiapkan oleh Sang Pencipta untuk menyampaikan ajarannya. Bapak para Nabi, Ibrahim as digambarkan sangat kaya raya dengan kekayaan berupa binatang ternak yang memenuhi padang rumput seluas mata memandang, sehingga masyarakat memuliakannya dan mengangkatnya sebagai pemimpin komunitasnya. Nabi Yusuf misalnya, beliau dibesarkan dalam lingkungan orang kaya dan akhirnya menyandang bendaharawan negara Mesir yang kaya raya. Nabi Musa as, terlahir dalam lingkungan Bani Israil yang tengah diperbudak oleh Fir’aun, kemudian beliau dengan cara yang luar biasa menjadi seorang Pangeran di lingkungan istana Fir’aun dengan segala kemegahan dan kekayaan tentunya. Ketika tiba saatnya menjadi Nabi, beliau dikeluarkan dari istana dan menentang Fir’aun yang pernah menjadi kerabatnya. Yang paling spektakuler adalah Nabi Sulaiman as yang digambarkan memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya, memiliki istana yang terbuat dari batu permata yang tiada tandingannya bahkan dapat memindahkan kemegahan yang dikehendakinya dalam sekejap mata. Semua kekayaannya digunakan sebagai sarana menegakkan kekuasaan Allah di muka bumi. Kehidupan Muhammad Rasulullah saw sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi juga perlu menjadi pelajaran buat kita. Sebagaimana yang ditulis para ahli sejarah, bahwa Rasulullah adalah seorang anak yatim piatu yang dipelihara oleh pamannya. Digambarkan bahwa kehidupan beliau dalam keadaan yang sangat sederhana. Namun keadaan ini tidak mematahkan semangat beliau untuk keluar dari keadaannya. Beliau memulai karir sebagai pengembala kambing dan seterusnya menjadi seorang pedagang. Karena strategi perdagangan yang dijalankannya, Nabi Muhammad menjadi salah seorang pedagang ternama yang terkenal jujur dan amanah. Kesuksesan demi kesuksesan yang dialaminya dalam berdagang telah mengangkat kehidupannya dan mensejajarkannya dengan para pedagang ternama Quraisy di Makkah. Hal inilah yang menarik perhatian pedagang kaya

11

Khadijah untuk menjadikannya sebagai mitra dagang dan selanjutnya menjadi pasangan hidup. Untuk mengukur tingkat kekayaan Nabi Muhammad, yang saat itu berusia 25 tahun, adalah dengan mahar atau mas kawin yang diberikannya kepada mempelai wanitanya, Khadijah. Manurut riwayat, Nabi Muhammad yang ketika itu menjadi seorang pedagang telah menyerahkan sebanyak 20 ekor unta muda sebagai mas kawinnya dan belum termasuk berbagai bentuk hadiah mas dan pakaian mewah. Menurut pakar ekonomi kontemporer, jika dinilai dengan harga sekarang, kira-kira senilai enam miliar rupiah. Jumlah yang sangat besar bagi seorang pengusaha muda yang berangkat dari nol sebagaimana Nabi Muhammad. Namun itulah ukuran kesuksesan dan kekayaan beliau. Usaha perdagangan yang dilakukan Nabi Muhammad bersama Khadijah berkembang pesat, dan tidak diragukan telah mengantarkan mereka menjadi salah satu jajaran pedagang kaya raya di kota Makkah. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila diketahui teman-teman dekat Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman dan lainnya adalah pengusaha-pengusaha sukses yang kaya raya. Setelah masuk Islam mereka menjadikan kekayaannya sebagai penunjang perjuangan dakwah Islam. Maka sebenarnya tidak berlebihan jika dikatakan kehidupan Nabi Muhammad adalah kehidupan kalangan kelas menengah atau orang kaya di Makkah. Terutama setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses dan terkenal di semenanjung Arabia. Tidak diragukan bahwa Rasulullah adalah orang kaya yang kemudian menginvestasikan kekayaannya di jalan Allah. Setelah diangkat menjadi Nabipun, sebenarnya Muhammad saw adalah orang yang kaya. Diriwayatkan ketika kembali dari perang Hunain, Rasulullah mendapat bagian dari rampasan perang yang sangat banyak. Lalu beliau berkata: ”letakkanlah semua di masjid”. Jumlah rampasan itu adalah yang terbanyak yang pernah diterimanya. Kemudian beliau salat di masjid, tanpa menoleh kepada rampasan tadi. Ketika beliau selesai salat, beliau duduk dekat rampasan tersebut dan memberikannya kepada setiap orang yang memintanya. Beliau baru berdiri setelah semua rampasan tersebut habis dibagi, tanpa beliau ambil sedikitpun. Di lain waktu juga diriwayatkan datang seseorang kepada beliau untuk meminta sesuatu. Oleh beliau diberikanlah orang itu kambing yang banyak, saking banyaknya sampai memenuhi jalan antara dua bukit. Lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata, ”Masuk Islamlah kamu sekalian, sesungguhnya Muhammad bila memberi, dia seperti orang yang tidak takut miskin.” Dari kedua peristiwa ini saja dapat digambarkan bagaimana kayanya Rasullah, jika beliau mau menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri. Karena sebagai seorang Rasul sekaligus kepala negara, beliau mendapat bagian yang besar. Kemiskinan yang mulia dan terpuji di sisi Islam hanyalah pola hidup yang telah dipilih atas dasar pemahaman yang mendalam dan kesadaran jiwa untuk menggapai kehidupan yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang telah dilalui para sahabat agung. Mereka sangat mampu menjadi kaya raya karena mereka adalah pengusaha sukses dan kepala pemerintahan. Mereka tetap bekerja keras bahkan lebih giat mencari kekayaan sebanyak-banyaknya lebih banyak dari sebelumnya bukan untuk

12

kepentingan pribadi sebagaimana dahulu namun untuk Allah dan Rasul-Nya, untuk disumbangkan kepada perjuangan menegakkan Islam di muka bumi. Jika dahulu para sahabat agung hanya berdagang, setelah kemenangan Islam mereka menjadi pengendali pasar-pasar besar, penguasa jalur perdagangan dan sumber-sumber ekonomi yang berlimpah ruah, menyatukan kekayaan dan kemakmuran Romawi, Persia, Mesir dan lainnya dalam satu poros pemerintahan yang menegakkan keadilan dan kebenaran Islam. Mereka sangat mampu melampaui kekayaan dan kemakmuran Romawi, Persia dan Mesir, namun prioritas perjuangan mereka menghendaki untuk lebih fokus kepada penyebaran Islam daripada berfoya-foya atau berdagang dan menumpuk kekayaan, sehingga mereka memilih hidup sederhana atau lebih mendekati kemiskinan, namun mereka bukanlah orangorang yang miskin. Mereka adalah manusia-manusia agung yang zahirnya miskin namun sangat kaya raya, kekayaannya tidak mereka tumpuk dan pamerkan di dunia, tapi mereka investasikan untuk kehidupan akhirat kelak. Jika para sahabat agung ingin menjalankan hidup super mewah seperti masyarakat Romawi, Persia atau Mesir dengan membangun istana-istana megah di Madinah misalnya, pasti mereka sangat mampu. Seluruh sumber kemewahan sudah berada di telapak tangan mereka. Karena mereka sangat memahami hakikat ajaran Islam, kekayaan yang diperolehnya dari penaklukkan dan kemenangan tidak mereka timbun di Madinah dan tidak pula menyulap kota Madinah menjadi kota super mewah. Kekayaan dan kemewahan yang mereka dapatkan, mereka investasikan kembali kepada Allah untuk perjuangan Islam. Mereka menikmati kekayaan itu hanya sedikit saja, sekedar untuk mampu bertahan hidup dan menjalankan perjuangan selanjutnya. Keadaan ini yang menjadikan mereka kelihatan seperti orangorang miskin, namun hakikatnya mereka memiliki investasi jangka sangat panjang yang besar. Mereka diajarkan untuk membangun kemewahan kelak di akhirat yang kehidupannya kekal abadi. Mereka rela hidup sederhana bahkan miskin, namun pada hakikatnya mereka adalah orang-orang kaya raya yang sedang menginvestasikan kekayaannya. Sejarah mencatat bahwa mayoritas para sahabat agung sangat giat berjuang mendapatkan kekayaan dunia yang akan diinvestasikannya untuk kehidupan akhiratnya. Mereka rela berkorban, bepergian juah, melakukan peperangan, penaklukan besar ataupun perdagangan sampai ke Romawi, Persia, Mesir, Eropa, Sumatera, China, Afrika dan lainnya, yang dibuktikan dengan banyaknya sahabat yang wafat di tempat-tempat tersebut. Mereka sangat giat mengumpulkan kekayaan, dan setiap mendapat kekayaan, segera mereka investasikan kembali, demikianlah seterusnya, sehingga hanya sedikit yang tersisa untuk kehidupan dunianya. Seperti itulah kehidupan mayoritas sahabat, kelihatan miskin dan sederhana tapi sangat kaya raya. Kehidupan seperti ini jelas berbeda halnya dengan kemiskinan akibat dari kemalasan dan kekalahan mental dalam berjuang mencari rizki. Kemalasan dan kekalahan akan bersatu mencari alasan-alasan yang membenarkan keadaannya, seperti seorang miskin yang berkata ”ya saya sudah ditakdirkan miskin, mau apa lagi, biar berusaha tetap juga miskin”. Padahal dia kalah sebelum bertanding, mentalnya lemah menghadapi persaingan hidup yang keras dan tidak tahu harus berbuat apa untuk keluar dari kemiskinan. Keadaan ini biasanya menimpa mereka yang hidup dalam

13

lingkaran setan kemiskinan, hidup miskin, keturunan orang miskin, berada dalam lingkungan miskin, pasrah dengan kemiskinan, dan yang paling parah miskin dari agama dan semangat hidup. Seakan-akan dia menyalahkan Allah Yang Maha Kaya atas kemiskinan yang menimpanya, padahal pada saat yang sama dia sama sekali tidak gundah atas kemiskinan yang menimpanya apalagi berusaha semaksimal kemampuannya menjadi kaya, bercita-cita kayapun tidak berani. Kita tidak boleh pasrah miskin, karena kita diperintahkan berusaha semaksimal kemampuan kita, termasuk berusaha untuk kaya. Namun setelah kita berusaha dengan segala ikhtiar, tetap juga miskin, maka bersabarlah atas kemiskinan yang menimpa, yang penting sudah ada niat untuk kaya dan memanfaatkan kekayaan di jalan Allah. Jika ”kemiskinan dekat dengan kekufuran” maka ”kekayaan bisa dekat dengan keimanan”. Kemiskinan yang diikuti dengan ketaatan dan kesabaran adalah kemiskinan yang dianjurkan dan akan mengantarkan mereka menuju surga. Namun jika kemiskinan yang tidak taat dan juga tidak sabar, maka akan menjerumuskan pelakunya menuju kemurkaan Allah. Realitasnya berapa banyak yang ditimpa kemiskinan, namun tidak bersabar, kemudian akibat kemiskinan yang tidak dapat ditanggungnya mendorongnya melakukan perkara kriminal, menjual diri, mencuri, korupsi sampai menjual keimanannya. Itulah yang dimaksud dengan kemiskinan dapat menghantarkan kepada kekufuran. Sementara kekayaan yang digunakan untuk tujuan kebaikan, tentu akan menjadi sarana beribadah yang akan meningkatkan keimanan pemiliknya. Dengan banyaknya bersedekah, menolong orang susah atau pergi berhaji dengan kekayaan yang dimilikinya dapat mendekatkan dirinya kepada Allah dan mendekatkannya kepada keimanan. Mohd. Nahar Mohd. Arshad dalam bukunya Hidup Kaya Tanpa Riba menulis: Islam sebenarnya menyuruh kita menjadi kaya. Ibn Qayyim dengan jelas menyatakan kedudukan berharta dan berpengaruh adalah lebih utama asalkan seseorang itu menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan dan tahu melaksanakan tanggungjawabnya pada orang lain, yaitu tidak mementingkan diri sendiri. Ibn Qayyim menyatakan zuhud adalah sikap rohani manusia yang tidak terpengaruh dengan pesona keduniaan lalu menjadikan seseorang itu tidak meletakkan kekayaan dan kedudukan dunia sebagai tujuan kehidupannya. Orang kaya mampu mencapai dan memiliki sikap rohani ini, tetapi orang miskin sukar mencapainya. Terhadap kemiskinan ini, sepatutnya kita bersikap seperti yang dikatakan sahabat besar Sayyidina Ali, ”andaikan kemiskinan itu berbentuk manusia akan kupenggal lehernya”. Sikap ini adalah sikap seorang yang sangat faham dengan hakikat terdalam ajaran Islam, karena Sayyidina Ali dijuluki sebagai pintu ilmu oleh Rasulullah saw. Kebencian beliau kepada kemiskinan, bukan terhadap orang-orang miskin. Karena kemiskinan adalah sarana dan pintu yang akan memudahkan syaitan untuk menggelincirkan manusia menuju kejahatan. Dengan kata lainnya kemiskinan harus kita benci dan tidak tertarik dengan sebagaimana sikap sahabat nabi tersebut. Jika kebencian harus ditimpakan kepada kemiskinan, maka lawannya, tentu kita dianjurkan untuk menjadi kaya yang menjadi lawan dari kemiskinan. Paradigma mencitai kaya inilah yang sepatutnya dipegang kaum muslimin agar mereka dapat beribadah dengan sempurna dan terhindar dari perkara-

14

perkara yang menjauhkan dirinya dari Allah akibat kemiskinan yang mendera. Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa menjadi kaya menurut tuntunan Islam adalah sebuah kemuliaan. Hidup dalam kekayaan bahkan lebih baik daripada kemiskinan. Bagi seorang yang beriman, kekayaan akan memberikan manfaat yang banyak untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Jika seorang muslim diberikan pilihan maka jelas menjadi seorang kaya yang bersyukur lebih utama, karena dengan kekayaan dan kesyukurannya akan memberikan nilai tambah. Dia dapat beribadah dan berdoa seperti orang miskin yang bersabar, namun kelebihannya dapat mengeluarkan kekayaannya untuk kebajikan yang tidak dapat dilakukan oleh orang miskin.

2. Kaya Menurut Islam

Setiap yang saya tanya: “Maukah kaya?”. Hampir semua menjawab dengan spontan dan bersemangat: “mau”, “pasti maulah”, “hari gini, siapa yang ngak pingin kaya?”. Tidak diragukan memang, setiap manusia ingin menjadi kaya, ingin memiliki kekayaan yang berlimpah ruah agar hidupnya nyaman penuh kemudahan dan kebahagian tentunya. “Siapa sih yang gak mau kaya?, kan sekarang dunia serba pake duit”, kata teman saya menimpali pertanyaan sama. “Mau pergi haji atau berdakwah aja perlu dana, mau bangun pondok pesantren juga perlu dana”, kata Pak Kiyai saya. Saya menjadi ingat nasihat orang tua, ketika saya masih kecil dulu.”Orang kaya lebih banyak kesempatannya untuk beramal saleh, termasuk untuk membahagiakan diri, keluarga dan orang lain”. ”Kaya itu jalan untuk mencapai kebahagiaan, bukan tujuan hidup”. Namun jika kembali kita bertanya, apakah arti kaya, maka mereka akan memberikan jawaban yang beraneka ragam. Ada yang menunjuk seperti Pak Pengusaha Kaya itu, atau seperti Pak Pejabat sana, atau seperti para artis glemour itu dan pribadi-pribadi yang terkenal lainnya. Ada juga yang menjawab lebih spesifik : ”memiliki banyak uang”, ”memiliki rumah besar”, ”mobil mewah”, ”sawah-ladang luas”, ”binatang ternak yang banyak”, ”memiliki saham yang banyak”. Anak saya yang masih di sekolah menengah menceritakan teman-temannya banyak anak-anak orang kaya, ”karena mainannya barang-barang mahal”. Demikian juga ketika di kampung saya membangun rumah yang lumayan besar, maka orang menganggap saya orang kaya. Pandangan orang desa dengan orang kota terhadap kaya tentu berbeda, tapi ada persamaan, yaitu seseorang dianggap kaya apabila telah dianggap mampu memenuhi segala keperluan hidupnya di atas ratarata. Dengan kata lainnya, seseorang yang dapat memenuhi segala keinginannya, seperti memiliki rumah besar, mobil mewah, sawah-ladang luas, saham yang banyak dan berbagai kekayaan lainnya dapatlah dianggap sebagai kaya. Sementara jika kita menanyakan orang-orang yang sudah kita anggap kaya, apakah mereka adalah orang kaya, maka mereka akan menghindar bahkan kurang senang jika dijuluki sebagai orang kaya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang sudah saya anggap kaya, memiliki penghasilan besar, rumah mewah, mobil bagus dan fasilitas lainnya, namun ketika saya bertanya apakah mereka menganggap dirinya sebagai orang kaya?. Rata-

15

rata dengan tersenyum mereka menjawab dengan rendah hati, mereka belum merasa dirinya sebagai orang kaya. Orang lain saja yang telah menganggap mereka kaya. Seorang teman yang sudah saya anggap kaya pernah berkata, ”jika kamu tanya orang terkayapun di muka bumi ini, tentu mereka tidak mau mengaku disebut kaya, jika mereka sudah menganggap dirinya kaya, maka mereka akan berhenti dari mencari kekayaan. Ukuran kaya adalah ketika mereka sudah mati, berapa kekayaan yang ditinggalkannya” katanya dengan nada yakin. Kaya biasanya disandangkan kepada orang yang memiliki kekayaan berlimpah, yang telah memiliki kebebasan dari masalah kehidupan sehingga tidak memerlukan bantuan ekonomi dari orang lain. Menurut Kamus Kontemporer Arab-Indonesia karya Atabik Ali, kaya dapat disepadankan dalam bahasa Arab sebagai ghina’ sementara jamaknya adalah aghniya’ yang dapat diartikan sebagai kecukupan. Huwa fi ghina anhu, maknanya dia merasa cukup atau tidak perlu lagi. Dengan pengertian ini, maka dalam pandangan Islam, seseorang dapat dikategorikan sebagai kaya, apabila telah terbebas dari keperluan-keperluan asasi manusia, tidak memerlukan bantuan orang lain dalam kehidupannya, mampu berdiri sendiri memenuhi keperluan hidupnya, lepas dari jerat kemiskinan dan hutang serta yang paling penting telah mampu mengeluarkan kekayaannya di jalan Allah, baik untuk zakat, infaq, sedekah dan seumpamanya. Pada dasarnya seseorang yang telah mampu mengeluarkan hak-hak Allah dari kekayaannya, maka dapatlah dikategorikan sebagai kaya. Kaya adalah naluri kemanusiaan yang telah menjadi sifat bawaannya. Manusia manapun di muka bumi ini tidak ada yang tidak ingin kaya. Apakah mereka berkulit putih, merah, hitam kuning ataupun sawo. Manusia kapitalis di dunia Barat bahkan menciptakan berbagai metode untuk meraup kekayaan berlimpah ruah dengan semboyan ”dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya”. Para petinggi Republik Rakyat Cina (RRC) atau Rusia yang awalnya adalah pemeluk fanatik idiologi komunisme-sosialisme sejati yang memiliki semboyan ”sama rata sama rasa” (biar miskin yang penting sama-sama miskin), kini menukar kebijakannya untuk memberikan peluang kaya raya tanpa batas kepada rakyatnya yang mampu, sehingga melahirkan banyak orang kaya baru (okb) yang memiliki kekayaan melimpah ruah, bahkan menjadi deretan orang kaya dunia yang melampaui kekayaan orang di negara kapitalis. Manusia telah mewariskan watak mencintai kekayaan bahkan sebagiaannya berbentuk keserakahan yang telah mendorong peperangan, penjajahan dan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Generasi tua juga menasihatkan kepada generasi mudanya agar selalu bekerja keras, rajin belajar, meniti karir dengan baik, menjadi pegawai yang cemerlang dan sebagainya agar dapat hidup kaya. Kaya bagi masyarakat modern adalah lambang dari sebuah kesuksesan dalam meniti karir kehidupan. Jika ada yang mengaku sukses tapi belum menunjukkan dirinya sebagai orang kaya, maka masyarakat belum menganggapnya sebagai orang yang sukses. Masyarakat yang bersifat materialistis akan mencemooh orang yang menganggap dirinya sukses, namun masih menggantungkan keperluan hidup dan kehidupannya pada belas kasihan orang lain, walaupun telah mencapai kesuksesan pada bidang lain, pada bidang akademis misalnya. Seorang profesor yang miskin akan ditertawakan oleh kebanyakan orang, karena ukuran keberhasilannya dinilai

16

dari kekayaan yang dikumpulkannya. Itulah sebabnya, banyak orang saat ini melambangkan diri dengan kekayaan untuk mendapat penghargaan atau penghormatan masyarakat. Saya terkejut ketika berkunjung ke rumah beberapa orang ustadz terkenal, walaupun mereka adalah penceramah agama dan pejuang Islam, namun rumah mereka besar dan tergolong mewah. Sebagiannya dibangunkan oleh murid atau pengikutnya yang kaya tentunya, dengan alasan untuk menjaga kehormatan sang ustadz dengan menunjukkannya setatusnya sebagai orang kaya. Kaya bukan hanya mengangkat status dan derajat seseorang di tengah masyarakat, namun dengan kekayaan yang dimilikinya mereka bisa merebut kekuasaan, dapat menjadi wakil rakyat di parlemen, mendapat jabatan empuk seperti Bupati, Gubernur, Menteri bahkan Wakil Presiden. Dalam masyarakat, orang-orang kaya biasanya mendapat kedudukan terhormat dan memiliki percaya diri yang tinggi. Kekayaan juga dapat menjadi ladang amal saleh bagi pemiliknya, dengan hartanya mereka bisa membayar zakat, mengeluarkan infak dan sedekah, pergi umrah dan naik haji, membangun masjid, pesantren, panti asuhan dan sarana sosial lainnya. Kekayaan dapat menjadi sarana untuk mencapai kebahagian bagi pemiliknya di dunia dan di akhirat. Kekayaan dapat membawa perdamaian, namun juga menjadi penyebab peperangan di antara umat manusia. Kekayaan juga telah menimbulkan penjajahan dan penindasan bangsa terhadap bangsa lainnya. Dalam dunia modern sekarang, tidak mengherankan apabila manusia berlomba-lomba menjadi kaya. Karena kaya akan memberikan banyak keistimewaan kepada penyandangnya. Orang yang miskin kurang mendapat perhatian dari keluarga sendiri, bahkan banyak yang menjauhi mereka, namun berbeda halnya dengan orang kaya, semua orang akan mengakuinya sebagai keluarga dan mendekat kepadanya dengan berbagai harapan. Kaya telah membius sebagian besar manusia modern, bahkan untuk mencapai tujuannya banyak yang menempuh berbagai cara yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan negara. Itulah sebabnya, orang akan memandang aneh terhadap mereka yang tidak mau dan tidak ada keinginan untuk menjadi kaya. Ironisnya, kita menyaksikan ada sebagian manusia yang mendapatkan kekayaan berlimpah ruah dengan fasilitas yang serba lengkap, namun belum juga mendapat kebahagian yang dirasakannya. Seorang teman menceritakan bahwa Bapaknya punya seorang teman yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, dari rumah mewah sampai pesawat terbang dengan pengangkat tuasnya berlapis emas, saking kayanya. Namun setiap ujung minggu dia menghabiskan hidupnya di apartemen sendirian sambil menyantap mie instan, jauh dari keluarga dan masyarakatnya. Hidupnya sepi, gundah dan frustasi. Seperti inilah gambaran masyarakat super metropolis yang mengalami krisis spiritual sebagaimana digambarkan Danah Zohar, dalam Spiritual Quatient. Tentang pentingnya kaya ini akan saya ceritakan pengalaman pribadi saya ketika memimpin lebih seribu orang relawan kemanusiaan ketika bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Organisasi relawan kami adalah salah satu organisasi nekat yang berangkat menuju lapangan tanpa perlengkapan dan logistik yang mencukupi untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusian. Karena kami memang tidak berpengalaman sebagai sebuah organisasi kemanusian yang menghadapi bencana dahsyat seperti ini. Saya

17

berangkat dari lapangan terbang Halim di Jakarta tanpa membawa bekal apapun, dengan uang di dompet yang sangat terbatas. Sampai di Banda Aceh yang porak poranda, saya kebingungan, harus berbuat apa dan bagaimana. Pada saat yang sama saya melihat organisasi-organisasi kemanusiaan lainnya datang dengan perlengkapan canggih dan logistik cukup. Apa yang saya lakukan dengan para relawan adalah perjuangan di jalan Allah yang mulia, namun tanpa ditopang oleh fasilitas memadai sehingga hasilnya kurang maksimal. Pada tahap-tahap awal, kami mengalami kekurangan makanan, minuman dan juga alat. Untuk mengevakuasi mayat yang membusuk, relawan kami hanya memakai sarung tangan yang biasanya digunakan untuk mencuci piring. Pada saat tersulit itu saya berguman “andaikan saya orang kaya, maka keadaan seperti ini tidak akan terjadi”. Seperti yang dilakukan pengusaha kaya dermawan dari Arab, yang dengan kekayaannya dia memberikan sumbangan kepada para korban bencana dengan tangannya sendiri. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari pentingnya menjadi orang kaya untuk menopang sebuah pekerjaan mulia, sebagaimana disebutkan Rasulullah: “sebaik-baik kekayaan adalah pada seorang yang saleh”. Artinya bila kekayaan dimiliki oleh orang saleh, maka dapat dimanfaatkan untuk keperluan amal saleh. Hukum Kaya Menurut Fiqih Islam Adapun hukum kaya bagi seorang muslim menurut fiqih Islam, apakah termasuk wajib, sunat, haram, boleh (jaiz) atau lainnya. Sebagaimana hukum umum yang berkaitan dengan mua’amalah, maka para ulama memberikan patokan, ”al-Aslu fie al-Muamalat al-Ibahah illa maa dalla al-dalil ala tajrimiha” artinya Hukum pokok dari muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Hukum kaya pada dasarnya adalah dibolehkan (ibahah/jaiz) kepada mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk meraihnya dengan cara-cara yang digariskan syari’at. Namun pada waktu keadaan tertentu dapat jatuh kepada hukum wajib atau haram. Misalnya ada seorang yang memiliki kemampuan dan kesempatan lalu bercita-cita kaya, dengan kekayaannya dia akan berbuat maksiat, menentang Islam, berkeinginan untuk mencelakakan kaum muslimin ataupun dengan kekayaannya akan melaksanakan yang diharamkan agama, maka kepada orang ini hukumnya diharamkan kaya atasnya, karena niat dan tujuannya kaya adalah untuk melakukan yang diharamkan. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang yang memiliki kemampuan dan kesempatan, memiliki aqidah yang lurus, akhlak mulia lalu bercita-cita kaya, kemudian bekerja sesuai dengan perintah Allah dan kelak dengan kekayaannya akan bertujuan untuk menegakkan amal saleh untuk dirinya dan orang lain, serta menegakkan kewajiban agama, seperti jihad fi sabilillah, maka jelas hukumnya adalah wajib, merujuk kepada kaidah fiqih: ma la yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib (segala sesuatu yang dengannya tidak tertegak yang wajib, maka hukumnya wajib pula). Kaya (mampu) adalah jalan untuk menegakkan kewajiban agama, maka kaya menjadi wajib pula hukumnya bagi seseorang yang bercita-cita menegakkan agama Allah. Menurut pandangan ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf alQardhawy misalnya, bahwa pada zaman modern ini diperlukan sebuah fatwafatwa baru yang berkaitan dengan hukum sosial yang berdasarkan pada fiqh

18

al-Aulawiyah (fiqih prioritas). Jika ditinjau dari fiqih prioritas, maka kaya adalah sebuah kewajiban yang menjadi prioritas kaum muslimin. Karena pada saat ini kebanyakan kaum muslimin dalam keadaan terbelakang dan fakir-miskin yang telah melemahkan keadaan kaum muslimin terhadap bangsa-bangsa lainnya, yang telah menempatkan posisi kaum muslimin sebagai ummah yang lemah dari semua sisi. Untuk membangkitkan kembali kaum muslimin, diperlukan perjuangan yang menyeluruh, baik dalam perjuangan pendidikan, perjuangan ekonomi, perjuangan sains-teknologi sampai kepada perjuangan militer yang semuanya memerlukan pendanaan. Artinya perjuangan akan berjalan apabila ada tersedia banyak dana (mal) pada kaum muslimin. Tentu dana hanya dimiliki oleh orang-orang yang memilikinya, yaitu orang kaya. Maka dengan pandangan ini seorang muslim pada zaman sekarang menurut fiqih prioritas adalah wajib. Jika kita perhatikan keadaan kaum muslimin secara menyeluruh saat ini, terutama dari sisi ekonomi atau kekayaan, maka keadaan kaum muslimin adalah di antara orang-orang yang mengalami kekurangan dan kemiskinan, walaupun ada sebagian kecil yang kaya, namun tidak mencukupi kekayaannya untuk menegakkan Islam secara sempurna. Kekayaan melimpah terkumpul pada orang-orang bukan Islam bahkan ada yang memusuhi Islam dan kaum muslimin dengan kekayaan yang mereka miliki. Orang-orang kaya dari musuh Islam telah melancarkan berbagai serangan terhadap kaum muslimin, baik secara terang-terangan ataupun melalui kekuatan yang dibiayainya, sementara orang-orang kaya kaum muslimin tidak menjalankan kewajibannya untuk menegakkan Islam sebagaimana diperintahakan karena takut ataupun bakhil. Maka mengambil fiqih prioritas, adalah wajib ada dikalangan kaum muslimin yang bercita-cita kaya dan berusaha kaya di jalan Allah yang akan menjadikan kekayaannya sebagai sarana untuk mempertahankan dan menegakkan Islam, sehinggalah kalimat Allah tegak di muka bumi dan kaum muslimin menjadi sebuah ummat yang termulia dan teragung. Adapun kewajiban ini temasuk wajib ’ain (fardhu a’in) atau wajib kifayah (fardhu kifayah), adalah tergantung pada kondisi dan keadaan kaum muslimin. Jika kekayaan digunakan untuk mempertahankan kaum muslimin dari ancaman musuh secara nyata yang telah menguasai kaum muslimin, maka mayoritas ulama memberikan fatwa bahwa hukum jihad menjadi fardhu ’ain atau menjadi kewajiban terhadap seluruh kaum muslimin untuk menggunakan kekayaannya membela Islam. Jika kekayaan akan dipergunakan untuk perjuangan secara umum, maka hukumnya menjadi fardhu kifayah, yaitu kewajiban ini terbebani kepada kelompok tertentu yang mampu melakukannya. Namun apabila tidak ada kelompok tertentu yang melaksanakannya, maka kewajiban ini menjadi fardhu ’ain sampai ada sekelompok tertentu yang telah melaksanakannya. Menurut pemahaman dan tinjauan maqasid al-syari’at, tujuan syar’i dari jihad ekonomi untuk menjadi kaya adalah sama dengan tujuan jihad fi sabilillah pada umumnya, yaitu untuk menegakkan kalimah Allah (Islam) di muka bumi, memberikan rahmat, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia (rahmat lil alamin). Sebagaimana jihad militer (jihad askari), yang memerlukan pelatihan dan persiapan sempurna, demikian pula halnya dengan jihad ekonomi ini, diperlukan seperangkat pengetahuan (ulum wa ma’rifah), strategi, pelatihan, persiapan, kiat-kiat dalam persaingan dalam

19

mencapai kemenangan sesuai dengan keperluannya. Jika kemenangan dalam jihad militer adalah memenangkan peperangan, maka tujuan dari jihad ekonomi adalah terkumpulnya sebanyak-banyaknya aset pada orang-orang beriman yang akan dijadikan sebagai sarana menegakkan kalimah Allah. Artinya tujuan syar’i dari jihad ekonomi adalah melahirkan sebanyak-banyak muslim yang kaya raya, yang memiliki aset kekayaan. Maka pengetahuan (ma’rifah) tentang jihad ekonomi ini adalah sama wajib hukumnya dengan mempelajari ilmu pengetahuan jihad militer. Pelatihan (tarbiyah) jihad ekonomi adalah sama wajib hukumnya dengan pelatihan kemiliteran (tarbiyah jundiyah). Sementara seluruh ulama sepakat dan telah memutlakkan hukum wajib untuk pelatihan jihad militer ini, sementara kurang kita dengar fatwa yang mewajibkan pelatihan jihad ekonomi dan pelatihan yang akan menjadi wasilah kayanya seorang muslim. Maka dengan dasar pemikiran ini, bagi saya, pelatihan jihad ekonomi atau segala sesuatu pelatihan yang akan menjadikan seorang muslim menjadi kaya adalah wajib hukumnya, sebagaimana wajibnya pelatihan militer dalam hukum Islam. Hal ini sudah saya bahas panjang lebar dalam buku saya Panduan Jihad. Implikasinya bahwa segala sesuatu pengetahuan yang berhubungan dengan jihad ekonomi, pelatihan dan metode memperoleh kekayaan yang halal adalah wajib pula hukumnya, mengambil kaidah fikih “ma la yatimmu al-wajib illa bihi, fa huwa wajib”. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “sebaik-baik harta kekayaan adalah yang dimiliki oleh orang saleh”. Artinya orang-orang yang saleh diperintahkan untuk mencari harta benda sebanyak-banyaknya untuk digunakan menegakkan Islam. Karena punya harta atau kaya adalah jalan untuk memenuhi kewajiban jihad, maka dengan demikian menjadi kaya adalah sebuah kewajiban pula. Sebagaimana disebutkan di atas, kewajiban jihad menjadi kaya ini memerlukan sebuah pengetahuan yang membahas tata cara tentang kaya. Sebuah fiqih atau ajaran-ajaran yang bersumber pada Islam yang membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kaya, baik makrifat, hakikat, syariat, manhaj maupun tariqatnya. Pengetahuan ini bukan hanya dapat memahamkan tentang kaya dengan segala seluk beluknya, tapi yang paling penting adalah bagaimana cara menggapai kaya, sehingga pembacanya diharapkan dapat menemukan jalan menjadi orang kaya menurut ajaran Islam. Hujjah Tentang Kewajiban dan Keutamaan Kaya Untuk memperkuat hujjah tentang kewajiban dan keutamaan kaya, maka di bawah ini akan disampaiakan beberapa hujjah, di antaranya adalah: 1. Hujjah Dari al-Qur’an - Surat al-Shaff ayat 10-11 ”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. - Surat Ali Imran ayat 133-134

20

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orangorang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” - Surat al-Hadid ayat 7 "Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. - Surat al-Baqarah ayat 261 ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. - Surat al-Nur ayat 33 ”Dan berikanlah kepada mereka sebagian harta yang dikaruniakan kepadamu” - Surat al-Taubah ayat 103 ”Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka - Surat al-Baqarah ayat 267 ”Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian daripada hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” Perintah untuk membelanjakan harta di jalan Allah, baik berupa zakat, infaq, sadaqah dan sejenisnya pada dasarnya merupakan perintah agar kaum muslimin memiliki harta kekayaan atau mereka menjadi orang yang kaya. Jika mereka bukan orang kaya yang memiliki kekayaan, maka mana mungkin dapat menjalankan perintah Allah ini. Artinya hanya orang-orang kayalah yang mampu menjalankan perintah Allah untuk membelanjakan harta kekayaan sesuai dengan yang telah digariskannya. Jika kaum muslimin dalam keadaan miskin semua, maka tentu ayat ini akan sulit dijalankan, maka itulah sebabnya secara tidak langsung Allah memerintahkan kepada kaum muslimin yang mampu untuk kaya agar mencari kekayaan dan menjadi orang kaya. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa ayat di bawah ini: - Surat al-Qashas ayat 77 ”Carilah apa yang diberikan oleh Allah kepada kamu di negeri Akhirat dan jangan kamu lupa bahagian kamu di dunia ini. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kamu dan janganlah kamu

21

membuat kerusakan di atas bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” - Surat al-Jumu’ah ayat 10 ”Apabila selesai mengerjakan salat (Jum’at) maka bertebaranlah di atas bumi dan carilah karunia Allah dan banyaklah berzikir kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapat kejayaan.” 2. Hujjah Dari Hadits Nabi Muhammad saw - Hadits Riwayat Muslim ”Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang kaya lagi menyembunyikan (kekayaannya).” - Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar Bahwasanya orang-orang dari sahabat Rasulullah saw datang menemui beliau. Mereka berkata: “ Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memiliki banyak pahala, mereka salat seperti kami; mereka puasa seperti kami; dan mereka bersedekah dengan harta mereka”. Hadits ini menerangkan bahwa para sahabat yang miskin merasa cemburu dengan para sahabat yang kaya, yang dapat bersedekah dengan harta yang mereka miliki, sementara mereka tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Demikianlah keutamaan orang yang memiliki kekayaan, mereka dapat lebih banyak beramal saleh dengan kekayaannya. - Hadits Riwayat Tabrani dari Ibn Umar ”Sesungguhnya Allah SWT memiliki hamba-hamba yang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba-hamba yang lainnya (orang kaya). Dan orang-orang (miskin) selalu berdatangan untuk meminta pertolongan kepada mereka (orang kaya) untuk memenuhi kebutuhankebutuhannya. Mereka itu (orang kaya) adalah orang-orang yang selamat dari adzab Allah SWT.” - Hadits Riwayat Bukhari “Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utus tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memikul seikat kayu baker dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesame manusia, baik mereka memberi maupun tidak.” - Hadits Riwayat Muslim “Bekerjalah kamu untuk dunia seolah-olah engkau akan hidup selamalamanya, dan bekerjalah untuk akhirat, seolah-olah kamu akan mati esok hari.” - Hadits Riwayat Tabrani “Sesungguhnya di antara dosa-dosa terdapat dosa-dosa yang tidak terhapuskan dengan salat, sedekah dan haji. Dan ia terhapuskan dengan jerih payah untuk mencari penghidupan (rezeki).”

22

- Hadits Riwayat al-Dailami “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya letih dan payah karena bekerja mencari (rezeki) yang halal”. 3.Hujjah Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. ’Ala bin Ziyad al-Haritsi adalah konglomerat besar yang hidup pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Ia tinggal di kota Bashrah. Hampir semua penduduk kota mengenalinya, karena mudah dikenali ciri-cirinya. Rumahnya mewah, pakaiannya mewah dan kendaraannya luar biasa. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib berkunjung ke Bashrah. ’Ala yang dikenali kaya raya meminta agar Khalifah berkenan untuk mengunjungi rumahnya. Ia berfikir bahwa khalifah yang menguasai hampir separuh dunia itu sangat layak untuk dijamu dirumahnya. Sesampai di rumah ’Ala, Amirul Mukminin sangat kagum melihat kemewahan rumahnya. Ia sendiri hanya tinggal di rumah sederhana layaknya rakyat biasa. Setelah puas memandang perabot rumahnya, Ali bin Abi Thalib menghampiri tuan rumah, sambil berkata: Wahai ’Ala, apa untungnya memiliki rumah sebesar ini, padahal engkau memerlukanrumah yang lebih besar dan lebih mewah kelak di akhirat? Pertanyaan Ali tidak bisa dijawab oleh ’Ala. Pada mulanya ia brfikir bahwa khalifah hanya layak dijamu di istananya yang mewah dan megah itu, tapi ternyata sang khalifah bukanlah ”orang dunia”. Ia tidak memandang dunia lebih dari sayap nyamuk. Kekuasaan yang digenggamnya tidak lebih dari sekedar sarana untuk beribadah kepada Allah dengan cara melayani makhluk-makhluk-Nya, yang bernama manusia. Ia menguasai dunia, tapi tidak dikuasai dunia. Melihat perubahan mimik dan perwajahan tuan rumah, Ali bin Abi Thalib segera dapat menangkapnya. Apalagi sebelumnya ia telah mengetahui bahwa tuan rumah mendapatkan kekayaannya melalui jerih payahnya sebagai saudagar, bukan dari hasil nepotisme. Oleh karenanya, Khalifah Ali segera menyampaikan pesannya: Wahai ’Ala, engkau bisa menjadikan rumahmu yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkanmu pada rumah yang lebih besar di akhirat kelak. Betapa gembiranya tua rumah mendengar pernyataan khalifah yang bijak itu. Ia segera menyambutnya dengan pertanyaan: Bagaimanakah caranya, wahai Amirul Mukminin? Ali menjawab : Engkau buka rumahmu ini untuk para tamu yang menghajatkannya, ikat silaturrahim di antara kaum Muslimin, bela dan tampakkan hak-hak kaum Muslimin di rumahmu, jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudara sesama Islam, dan jangan batasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata-mata. Puas dengan pernyataan dan jawaban Khalifah, tuan rumah memanfaatkan kesempatan langka itu untuk mengajukan permasalahannya yang lain. Ia bertanya: Wahai Amirul Mukminin, aku mempunyai seorang saudara. Dia telah mngubah total cara hidupnya. Dia sekarang hanya berkhalwat di tempat-tempat sunyi, berpakaian kumuh, meninggalkan pekerjaan, bahkan menelantarkan keluarganya. Saudaraku yang bernama Ashim bin Ziyad al-Haritsi ini selalu mengatakan:

23

”Semua itu aku lakukan semata-mata hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apakah sikap dan perbuatan saudaraku itu benar? Ali bin Abi Thalib meminta agar ’Ashim dihadirkan kehadapannya. Di depan ’Ashim, khalifah berkata agak keras. Wahai Ashim, orang yang telah memusuhi dirinya sendiri!! Sungguh syaitan telah memperdaya akalmu. Mengapa engkau telantarkan anak dan istrimu dengan alasan ingin mendekatkan diri kepada Allah? Apakah kau kira bahwa Allah yang menciptakan alam semesta beserta seluruh kenikmatannya itu tidak rela jika kau gunakan kenikmatan itu secara tepat? Demi Allah, tidak begitu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah!!! Merasa tersudut, kemudian Ashim menjawab: ”Wahai Amirul Mukminin, aku lakukan semua ini semata-mata karena ingin meniru kezuhudan dan kesehajaanmu. Engkau hidup susah, akupun demikian. Engkau berpakaian kasar, akupun meniru. Engkau cukupkan dengan makan sekeping roti, akupun mencontohimu. Engkau adalah panutanku, wahai Amirul Mukminin.” Menghadapi jawaban Ashim, Ali mencoba untuk mengklarisikasi dan mendudukkan persoalan pada tempatnya. Ia berkata: ”Wahai Ashim, aku berbeda dengan kamu. Aku memegang kekuasaan khalifah kaum muslimin, sedangkan kamu tidak. Di bahuku terpikul amanat yang amat berat, sedangkan kamu tidak demikian. Aku mengenakan jubah kepemimpinan, sedangkan kamu adalah rakyat yang aku pimpin. Tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah itu teramat sangat berat. Allah mewajibkan para pemimpin untuk berbuat adil kepada setiap rakyatnya, sedangkan rakyat yang paling lemah adalah standar bagi dirinya. Seorang pemimpin selayaknya hidup seperti rakyatnya yang paling sederhana agar tercipta solidaritas dan perasaan senasib seperjuangan. Oleh karena itu, di bahuku ada kewajiban yang harus kutunaikan, sedangkan dibahumu ada kewajiban lain yang harus engkau laksanakan... (Dikutip dari: Mencari Rezeki Halal oleh Harun Arrasyid) Riwayat ini menegaskan bahwa Sayyina Ali ra yang terkenal dengan julukan sebagai pintu ilmu, telah membenarkan sikap ’Ala untuk menjadi kaya dan menikmati kekayaannya serta menjadikannya sebagai sarana untuk menggapai kemenangan akhirat. Pada saat yang sama Sayyidina Ali mencela sikap Ashim yang meninggalkan dunia walaupun dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencontoh kehidupan Sayyidina Ali. 4. Hujjah Dari Imam Ja’far al-Shadiq Sufyan al-Tsury yang hidup di kota Madinah, datang mengunjungi Imam Ja’far al-Shadiq ra. Dia melihat Imam memakai pakaian yang rapi dan sangat elok, bagaikan tabir halus yang memisahkan antara kuning telur dengan putihnya. Sufyan mengkritik: ”Anda tidak selayaknya menceburkan diri Anda dalam kemewahan duniawi. Dari andalah diharapkan ketaqwaan, kezuhudan, dan sifat menghindari dunia”. Lalu Imam berkata: ”Dengar baik-baik hai Sufyan. Akan aku katakan sesuatu yang berguna untuk dunia dan akhiratmu. Apabila engkau keliru dan tidak mengetahui pandangan agama Islam yang sebenarnya tentang perkara ini, maka ucapanku ini akan betul-betul berguna. Namun, kalau maksudmu untuk berbuat sesuatu yang bid’ah dan menyelengkan ajaran agama, itu soal

24

lain, dan kata-kataku ini tidak akan ada gunanya. Mungkin engkau mengamalkan cara hidup Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang faqir dan bersahaja pada zaman dulu, kemudian engkau mengira bahwa itu merupakan satu jenis taklif (kewajiban) bagi setiap muslim sampai hari kiamat. Namun aku katakan kepadamu, bahwa Nabi hidup di suatu masa dan keadaan di mana kesengsaraan, kemiskinan, dan kesempitan melanda mereka. Rata-rata kaum muslimin saat itu tidak memiliki bahan keperluan pokok untuk hidup. Kehidupan Nabi dan sahabat-sahabatnya pada masa itu memang disebabkan oleh situasi dan kondisi yang menimpa semua orang. Tapi kalau hidup di suatu masa di mana keperluan-keperluan hidup mudah didapatkan dan kondisinya mengizinkan kita untuk menikmati pemberian-pemberian Ilahi, maka yang paling berhak menikmati karunia dan nikmat-nikmat Allah tersebut adalah orang-orang saleh dan bertaqwa, bukan orang-orang fasiq; orang-orang muslim bukan orang-orang kafir. ’Aib apa yang engkau lihat pada diriku? Demi Allah, meskipun – sebagaimana engkau lihat- aku menikmati pemberian-pemberian dan nikmat-nikmat Ilahi ini, tapi sejak masa baligh-ku sampai sekarang, tidak pernah malam dan siang berlalu tanpa aku menyadari apakah hak orang lain masih ada di tanganku atau tidak. Kalau ada, segera aku lunasi dan kusampaikan kepadanya. Sufyan diam dan tidak bisa menjawab penjelasan Imam Ja’far alShadiq. Dia keluar dengan hati yang ”kalah”. Dia pergi ke tempat sahabatsahabat sufinya dan menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan Imam Ja’far. Mereka berembuk untuk menemui Imam Ja’far beramai-ramai untuk mendiskusikan hal tersebut. Setelah sepakat, mereka datang dan berkata: ”Sahabat kami tidak bisa menjawab Anda dengan dalil yang kuat. Kini kami datang untuk menjelaskan kepada Anda alasan-alasan kami.” ”Katakanlah dalil-dalil kalian”, kata Imam Ja’far. ”Dalil kami adalah al-Qur’an. Apakah ada dalil lain yang lebih baik dari al-Qur’an?”. ”Coba sebutkan, aku bersedia mendengarnya”. ”Ada dua ayat dalam al-Qur’an yang kami ambil sebagai dalil untuk membuktikan kebenaran kami dan ajaran tarikat kami. Dan ini cukup bagi kami. Allah SWT memuji sekumpulan sahabat dalam al-Qur’an, yakni firman Allah: ”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr : 9) Dalam ayat lain Allah berfirman: ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang-orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawan. (al-Insan : 9) Ketika hujjah para sufi itu sampai di sini, seseorang yang hadir berkomentar dari kejauhan, ”Sejauh yang aku ketahui, kalian sendiri tidak mempercayai apa yang kalian ucapkan itu. Kalian hanya ingin agar mereka menjauhi harta benda mereka, lalu memberikannya kepada kalian, dan pada gilirannya kalianlah yang menikmati semua itu. Karena itu, tidak pernah

25

tampak kalian menghindari makanan-makanan yang lezat!!”. ”Tidak ada gunanya engkau terburu-buru mengucapkan kata-kata itu..” Imam Ja’far menegur orang yang berkata tadi. Lalu beliau menghadap para sufi dan berkata: ”Pertama-tama, apakah kalian bisa membedakan antara muhkan dan mutasyabih, nasakh dan mansukh yang ada dalam al-Qur’an ketika kalian berargumentasi dengan ayat-ayat suci al-Qur’an? Kesesatan yang menimpa umat Islam ini adalah karena mereka berpegang pada suatu ayat, tanpa mengetahui pengertian yang benar dari al-Qur’an? ”Sebenarnya kami hanya tahu secara garis besar tentang ilmu al-Qur’an ini, tidak terlalu sempurna”. Mereka menjawab. ”Itulah letak kesalahan kalian.” Kata Imam Ja’far. ”Hadits-hadits Nabi adalah sama juga seperti ayat-ayat al-Qur’an. Untuknya diperlukan pengetahuan dan pengertian yang sempurna. Ayat-ayat al-Qur’an yang kalian baca tadi, bukan merupakan dalil yang mengharamkan kita menikmati pemberian-pemberian Ilahi ’Azza Wa Jalla. Ayat itu berkenaan dengan pengorbanan dan pemberian infaq. Ayat itu memuji suatu kaum pada suatu masa tertentu, karena mementingkan orang lain lebih dari pada diri mereka sendiri, dan memberikan hartanya yang halal kepada mereka. Namun kalau mereka tidak melakukan semua itu, bukan berarti mereka telah berbuat ingkar dan dosa. Allah tidak mewajibkan mereka berbuat demikian, dan pada waktu yang sama tidak juga melarang mereka. Kaum Anshar berkorban dan mementingkan kaum Muhajirin berdasarkan rasa ihsan dan panggilan hati nurani mereka, karenanya Allah SWT akan memberikan ganjaran kepada mereka.” ”Dengan demikian, ayat itu tidak membuktikan kebenaran dakwaan kalian, karena kalian melarang dan mencela orang-orang yang menikmati pemberian-pemberian dan harta-harta yang Allah telah anugrahkan kepada mereka. Sahabat Nabi pada waktu itu terlalu banyak menginfakkan dan mengorbankan hak milik mereka, sampai turun wahyu Allah yang membatasi perbuatan mereka tadi. Wahyu yang datang kemudian me-mansukh-kan amal perbuatan mereka. Seharusnya kita mengikuti wahyu yang datang belakangan, bukan asal mengikuti perbuatan mereka sebelumnya.” ”Allah, berdasarkan rahmat-Nya yang tersendiri dan demi kepentingan orang-orang Mukmin, melarang seseorang menyengsarakan diri dan keluarganya dengan memberi apa yang ada di tangannya kepada orang lain, karena dalam keluarganya terdapat orang-orang yang lemah, anak-anak kecil, dan orang-orang tua yang tidak dapat memikul semua itu. Seandainya aku memiliki beberapa keping roti, dan ku-infakkan semuanya, sedangkan keluargakulah yang berhak menerimanya, maka mereka akan mati kelaparan.”.......... ”Ketika Nabi mendengar seorang Anshar wafat, meninggalkan anakanak yang masih kecil, sedangkan hartanya yang tidak seberapa itu diinfakkan di jalan Allah, beliau bersabda: ”Kalau sebelum ini kalian beritahu aku, maka aku tidak akan memperkenankan dia dikebumikan di pekuburan orang-orang Muslim. Dia meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil, lalu ia buka tangannya untuk orang lain.” ”Selain itu, nash al-Qur’an melarang cara dan infaq kalian. Allah berfirman: ” (orang-orang Mukmin) adalah orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah infak itu di tengah-tengah antara yang demikian”. Banyak ayat-

26

ayat al-Qur’an yang melarang berinfak secara berlebihan sebagaimana melarang sifat bakhil dan kikir. Al-Qur’an telah menentukan batas tengah dan kesederhanaan dalam amal ini. Ia tidak membenarkan seseorang memberikan setiap yang dimilikinya kepada orang lain, dan membiarkan dirinya sendiri hidup dalam keadaan sengsara; kemudian mengangkat tangannya dan berdo’a: ”Ya Allah, limpahkanlah rezeki-Mu kepada hamba-Mu ini”, Allah tidak akan mengabulkan doa seperti ini. ”Rasulullah saw bersabda: ” Allah tidak akan mengabulkan doa beberapa golongan, yakni:......... 5). Seseorang yang telah mendapatkan harta yang banyak dari Allah, lalu habis disebabkan oleh infak dan pemberiannya yang berlebih-lebihan, kemudian dia mengangkat tangannya dan berdoa: ”Ya Allah, limpahkanlah rizki-Mu padaku” Dalam jawabannya Allah akan berkata: ”Bukankah Aku telah berikan kepadamu rizki yang banyak? Kenapa kau tidak bersahaja? Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu agar bersahaja dalam infak? Bukankah telah Kularang berinfak tanpa perhitungan dan berlebihan?.” ”Di dalam al-Qur’an, Allah SWT mengajarkan cara berinfak yang benar, khususnya kepada Nabi saw. Suatu hari, Nabi saw memegang beberapa keping uang emas. Beliau mau menginfakkan semuanya untuk fakir miskin karena tidak mau memilikinya walau untuk satu malam. Kemudian beliau infakkan semuanya dan diberikannya ke kanan dan ke kiri dalam satu hari. Besoknya, ada seseorang datang dan mendesak meminta pertolongan Nabi. Beliau tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada peminta ini. Karenanya beliau merasa sangat sedih hati. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berkenanaan dengan cara berinfak: ”Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kamu terlalu menghulurkannya; karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (al-Isra’ : 29) ......................... ”Aku ingin mengingatkan kalian pada suatu hadits yang diriwayatkan ayahku, beliau meriwayatkan dari ayahnya sampai kepada Nabi saw, bahwasanya Nabi saw bersabda: ”Sesuatu yang paling menakjubkan adalah keteguhan iman seseorang Mukmin dalam keadaan yang jika badannya diputus sepotong-potong dengan pisau, maka semua itu merupakan kebaikan dan kebahagiaan baginya. Dan jika kekuasaan Barat dan Timur diberikan kepadanya, inipun merupakan kebaikan dan kebahagiaan baginya.” ”Kebaikan seorang Mukmin tidak seharusnya ada dalam lingkaran kefakiran dan kemiskinan. Kebaikannya berangkat dari hakikat iman dan aqidahnya dalam segala keadaan, apakah jatuh fakir dan miskin, atau kaya dan berkecukupan. Semua itu tidak mengubahnya untuk menjalankan kewajibannya dengan cara yang terbaik. Inilah yang dikatakan sebagai keadaan paling menakjubkan dari seorang Mukmin di mana setiap kejadian, kesusahan atau kesenangan, baginya adalah baik dan membahagiakan”. ....................... ”Ada beberapa perkara di mana kaum muslim wajib atau tidak mengeluarkan infaknya, seperti zakat atau kaffarah (denda). Andaikan kita difinisikan zuhud sebagai menghindar dari kehidupan dan keperluankeperluan hidup, dan andainya semua orang –mengikuti kemauan kalianmenjadi zuhud dan berpaling dari kehidupannya sehari-hari, maka bagaimanakah nasib infak-infak wajib seperti zakat dan kaffarah? Bagaimana

27

pula nasib zakat-zakat wajib seperti emas, perak, kambing, unta, sapi, kurma, kismis, dan lain sebagainya? Bukankah maksud yang tersirat dari pemberian infak adalah agar orang-orang yang tidak mampu bisa hidup lebih baik, dan mereka bisa menikmati anugrah-anugrah Ilahi itu.” ”Inilah sebenarnya maksud yang tersirat di balik penentuan hukumhukum tersebut. Kalau motivasi agama adalah menjadi fakir, dan hidup dalam kesengsaraan adalah puncak tertinggi dari tarbiyah diniyah (pendidikan agama), itu berarti bahwa orang-orang fakir telah berhasil mencapai puncak tersebut dan mereka tidak boleh diberi apapun agar tetap dapat dalam keadaan yang baik dan berbahagia. Pada gilirannya merekapun tidak boleh menerima setiap pemberian agar tetap dalam suasana mereka yang selalu berbahagia.” ”Kalau apa yang kalian ucapkan itu benar, maka selayaknya setiap orang tidak menyimpan harta. Apa yang ia peroleh harus diinfakkan. Dengan demikian kewajiban membayar zakat tidak perlu ada lagi. Maka jelas bahwa apa yang kalian anut dan sebarkan, adalah satu ajaran dan tarikat yang salah dan berbahaya. Dan ajaran ini berasal dari kejahilan dan ketidakfahaman kalian akan al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw.” ”Coba kalian jawab argumenku berikut ini mengenai kisah Nabi Sulaiman bin Daud as. Beliau memohon sesuatu kekuasaan dari Allah SWT yang tidak akan diperoleh siapapun sepeninggalnya: ”Dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku”. (Shaad : 35). Dan Allahpun memberikan kepadanya.” ”Nabi Sulaiman tidak menginginkan sesuatu kecuali yang haq. Dalam hal ini, baik Allah SWT atau orang-orang mukmin, tidak mencela Nabi Sulaiman karena memohon kekuasaan yang begitu besar dari Allah. Begitu juga halnya dengan Nabi Daud as yang datang sebelumnya.” ”Dalam kisah Nabi Yusuf, beliau berkata kepada Raja: ” Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan. (Yusuf : 55). Akhirnya beliau menangani semua urusan negara yang terbentang luas dari Mesir sampai Yaman....., Ini tidak menyebabkan Yusuf lupa pada yang haq, dan Allah pun tidak mencelanya di dalam al-Qur’an. Begitu juga dengan kisah Dzul Qarnain, seorang hamba yang cinta kepada Allah dan dicintai oleh-Nya. Kepada Dzul Qarnain, Allah memberikan kemudahan-kemudahan dan kekuasaan dunia, dari Barat sampai ke Timur.” ”Hai orang-orang sufi..!!, Tinggalkanlah jalan yang tidak benar itu. Tunjukkanlah adab Islam yang sebenarnya. Jangan melampaui perintah dan larangan Allah, dan jangan pula mengurangi perintah-perintah-Nya. Jangan kalian ceburkan diri kalian ke dalam masalah-masalah yang kalian tidak ketahui. Tuntutlah ilmu-ilmu itu dari ahlinya. Kenalilah perbedaan antara naskh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, serta halal dan haram. Semua itu akan lebih baik dan mudah bagi kalian, serta dapat menjauhkan kalian dari kejahilan.......” Demikianlah petikan ucapan Imam Ja’far al-Shadiq. (Dikutip dari : Mencari Rezeki Halal, Harun Arrasyid) Ucapan Imam Ja’far yang jelas dan terang benderang ini tidak perlu dikomentari lagi. 5. Hujjah Dari Imam Ahmad dan Imam Qurthubi

28

Pada suatu ketika, Imam Ahmad pernah ditanya mengenai laki-laki yang duduk saja di rumah atau di masjid dan berkata, “Aku tidak akan bekerja apapun sehingga rezeki datang kepadaku.” Maka Imam Ahmad berkata, “Sungguh, orang ini tidak memiliki pengetahuan. Sebenarnya, Rasulullah saw. telah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku berada di bawah bayangan panahku.” Beliau juga bersabda, “Jika kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, tentu Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia telah memberi rezeki kepada burung yang pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pada sore hari telah kenyang.” Lalu Imam Ahmad menyimpulkan, “Para sahabat juga bekerja di kebun-kebun mereka, dan sudah seharusnya apabila kita mencontoh mereka.” “Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah.” (Al-Muzammil : 20) Imam Qurthubi berkata; “Dalam ayat-ayat tersebut Allah menyamakan derajat pejuang di jalan Allah dengan orang yang mencari harta yang halal untuk menafkahi dirinya dan keluarganya, berbuat kebaikan dan keutamaan. Karena itulah Ibnu Umar berkata; “Tidaklah Allah menciptakan kematian setelah kematianku di jalan Allah yang mana kematian tersebut lebih aku cintai daripada mati di antara tempat duduk untaku yang di sana aku bepergian mencari keutamaan (rezeki) dari Allah.” (Tafsir al-Qurthubi, jil 19, hal. 49) 6. Hujjah Dari Ibn Qayyim al-Jauzi dan Imam al-Ghazali Abdul Azim dalam Economic Thought of Ibn al-Qayyim menukilkan: ”Islam sebenarnya menyuruh kita kaya. Ibn al-Qayyim dengan jelas menyatakan kedudukan berharta dan berpengaruh adalah lebih utama asalkan seseorang itu menjadi lebih bersyukur kepada Tuhan dan tahu melaksanakan tanggungjawabnya pada orang lain yaitu tidak mementingkan diri sendiri. Ibn Qayyim menyatakan zuhud adalah sikap kerohanian manusia yang tidak terpesona keduniaan, kemudian menjadikan seseorang itu tidak menempatkan kekayaan dan kedudukan dunia sebagai tujuan kehidupannya. Orang kaya mampu mencapai dan memiliki sikap kerohanian ini, tetapi orang miskin mungkin sukar mencapainya.” Imam al-Ghazali dalam Ihya’ menukilkan: “Diriwayatkan bahwa Nabi Isa AS melihat seorang laki-laki dan berkata; “Apa yang kau kerjakan?” Lakilaki itu menjawab; “Aku sedang beribadah.” Nabi Isa bertanya ; “Siapa yang memberimu nafkah?” ia berkata; “Saudara lelakiku” kemudian Nabi Isa berkata; “Saudara lelakimu lebih beribadah dibandingkan denganmu.” 7. Hujjah Dari Kisah Sufi Kaya Dikisahkan suatu ketika, seorang guru merekomendasikan kepada muridnya untuk berguru kepada seorang sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat panjang, sang murid akhirnya bisa bertemu dengan guru yang dimaksud. Betapa kagetnya setelah ia mengetahui rumahnya yang mewah bagaikan istana raja. Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul

29

bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi sebagaimana direkomendasikan oleh gurunya. Semuanya menjawab ”ya”. Lebih kagum lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya. Sang murid bertanyatanya dalam hatinya, apakah benar yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi karena terlanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, iapun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut. Setelah menyampaikan salam dari gurunya, iapun menyampaikan maksud dan tujuannya. Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu. Ia berkata, ”Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.” Bagaikan disambar petir di siang hari. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memeberikan nasihat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bukankah yang lebih sibuk mengurus dunia adalah orang kaya tersebut? Ia pamit pulang, tidak jadi berguru kepada orang yang direkomendasikan oleh gurunya. Sesampai di padepokan gurunya, ia melaporkan semua kejadian yang dialaminya, termasuk nasihat orang kaya itu kepada gurunya. Sang murid lebih tidak mengerti lagi setelah sang guru yang sangat dihormati itu ternyata menangis dan membenarkan nasihat orang kaya raya tersebut. Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus, dan selalu berpakaian indah. Tanah perkebunannya luas serta memiliki pabrik yang mempekerjakan banyak karyawaan. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada Allah. Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada Allah. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, Allah, iapun tidak merasa terhina karenanya. Ia memandang harta biasabiasa saja. Sementara saya, kata sang guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan boleh jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada sufi yang kaya raya tersebut. Sufi kaya raya inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam al-Qur’an: ”Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan salat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (al-Nur : 36-38) Maka dengan demikian, jelaslah hujjah bahwa kaya raya adalah dibolehkan kepada kaum muslimin menurut dalil-dalil syar’i sebagaimana dijelaskan di atas. Bahkan pada keadaan seperti sekarang ini, dimana

30

kebanyakan kaum muslimin adalah fakir-miskin dan dalam keadaan tertndas oleh musuh-musuhnya, maka menjadi kaya raya adalah kewajiban (fardhu kifayah) dibebankan kepada sekelompok orang yang ingin berjihad dengan hartanya.

3. Jenis Kaya Yang Wajibkan
Sebagai seorang muslim yang bercita-cita menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, menjadi kaya adalah sebuah kewajiban. Karena dengan kekayaan yang dimiliki akan digunakan untuk menegakkan Islam sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Walaupun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Islam, mana yang lebih utama antara miskin yang bersabar dengan kaya yang bersyukur, maka menjadi hak masing-masing individu muslim untuk memilih pola kehidupan yang akan dijalankannya masing-masing dengan penuh pengetahuan dan kesadaran. Jika ada yang memilih untuk menjadi miskin yang bersabar, maka janganlah ia menghina atau melecehkan saudaranya yang bercita-cita menjadi seorang kaya yang bersyukur. Untuk menjadi miskin jalan amatlah mudah, cukup dengan malas bekerja, berleha-leha, pasrah dengan yang ada maka kemiskinan akan datang. Perjuangan menjadi miskin tidaklah sesusah perjuangan menjadi kaya yang memerlukan strategi sampai kehati-hatian dalam memilih yang halal. Menjadi kaya bukanlah hambatan untuk melakukan amal saleh sebagaimana amal saleh kaum miskin, bahkan kekayaan akan menambah banyak lagi amal saleh yang diperintahkan agama. Bagi mereka yang telah berazam untuk menjadi kaya dalam kemunduran kaum muslimin saat ini, adalah sebuah kewajiban yang tidak perlu diperdebatkan keutamaannya. Kaya seperti apakah yang ingin Anda dapatkan dalam kehidupan ini. Apakah seperti kayanya orang-orang yang telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan pribadi dengan merugikan orang lain seperti para pengedar narkoba? Apakah kaya raya seperti para koruptor yang mengambil milik rakyat untuk kepentingan pribadinya? Apakah seperti orangorang yang kaya karena serakah mengeksploitasi alam, menggunduli hutan sehingga menimbulkan bencana kepada masyarakat? Apakah kaya seperti para bintang dan artis yang hidupnya gemerlap? Apakah semua pekerjaan akan Anda jalankan, asalkan Anda dapat kaya? Tentu tidak. Bukan seperti itu yang Anda inginkan, karena bertentangan tengan hati nurani Anda, bertentangan dengan kebiasaan masyarakat Anda dan pasti bertentangan dengan agama yang Anda yakini. Menjadi seorang kaya yang merugikan orang lain, merugikan masyarakat dan Negara, tidak mungkin akan Anda tempuh jika Anda mengharapkan kebahagian, keagungan dan kemuliaan. Kenyataannya menjadi kaya saja tidak cukup untuk mendapatkan kebahagian, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Itulah sebabnya, jika orang kaya ingin mendapatkan kebahagian, maka dia juga harus menjadi orang yang mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya,

31

jalan yang penuh dengan keagungan dan kemuliaan. Jika orang yang agung dan mulia di jalan-Nya ingin mendapatkan kesempurnaan harus juga ditopang oleh kekayaan yang akan mempermudah amalannya. Kaya yang tidak mengikuti jalan petunjuk keagungan dan kemulian dari-Nya akan mengantarkan kepada krisis spiritual yang digambarkan diatas, sementara keagungan dan kemuliaan di jalan-Nya tanpa didukung kekayaan akan menghambat datangnya keagungan dan kemulian yang lebih besar sebagaimana yang saya alami. Bahkan ada pekerjaan-pekerjaan yang pada awalnya agung dan mulia, karena tidak didukung oleh kekayaan yang mencukupi, menimbulkan frustasi dan penyimpangan para pelakunya. Sebagai contoh ada sekelompok orang yang mendakwa dirinya sebagai pejuang yang akan menegakkan Islam, namun karena kekurangan dana dalam perjuangannya, apakah karena masyarakat tidak simpati, tidak percaya atau apatis, akhirnya mereka melakukan pekerjaan yang menyimpang, seperti mencuri dan merampok milik orang lain, bahkan milik saudara seagamanya dengan mengkafirkan mereka. Ironisnya kekayaan yang didapatnya itu digunakan untuk membunuh saudara seimannya pula. Perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan Rasulullah ini, mereka lakukan jelas karena terdesak dan mengambil jalan pintas akibat keputusasaan mereka dalam mencari kekayaan yang halal. Menurut kajian saya, ada beberapa bentuk kaya, diantara secara garis besar adalah: 1. Kaya Jahil 2. Kaya Palsu 3. Kaya Hutang 4. Kaya Semu 5. Kaya Mulia 6. Kaya Tercela 7. KayaSejati Kaya Jahil Adalah kaya yang didapatkan dari jalan yang tidak jelas, boleh jadi hasil korupsi, penipuan ataupun menjual barang-barang yang diharamkan. Kekayaan yang diperoleh dari cara haram ini tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pemiliknya walaupun dia menyumbangkan untuk kepentingan sosial dan agama. Kekayaan yang diperoleh secara haram, lebih cendrung untuk membawa pemiliknya untuk melakukan perkaraperkara yang haram pula. Maka tidak mengherankan apabila ada orang kaya, namun kekayaannya telah menjerumuskan dirinya ke lembah kemaksiatan yang membinasakan dirinya. Kayanya kaum kapitalis dan kaum kafir yang hanya mementingkan kenikmatan nafsu dan syahwat, termasuk dalam kategori ini. Mereka tidak percaya kepada hari akhirat dan pembalasannya, sehingga memuaskan kehidupannya pada hari sekarang. Dengan kekayaan yang diperolehnya, walaupun mungkin dengan cara benar, digunakannya untuk berfoya-foya memuaskan nafsu syahwatnya, seperti kehidupan para hartawanhartawan di dunia maju dengan segala gloumournya. Mereka bekerja keras mencari kekayaan siang malam, kemudian dinikmatinya kekayaan itu, sebagaimana halnya binatang yang pergi pagi mencari makanan tanpa menghiraukan lingkungannya. Orang yang mengaku muslim, 1.

32

namun kelakuan tidak ubah seperti kaum kapitalis kufur ini, maka kelompok ini termasuk dalam kaya jahil. ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam kelompoknya”. Ada juga dari kelompok ini yang menjadi kaya raya karena warisan atau harga tanahnya melambung tinggi, sehingga menjadi kaya mendadak. Karena tidak terbiasa mengelola keuangan dengan baik, maka dalam tempo singkat kekayaannya habis akibat keborosan hidupnya. Kekayaan yang diperolehnya digunakan untuk menyenangkan dirinya dan mereka menjadi miskin kembali setelah menjadi kaya yang bodoh. Miskinnya kembali orang seperti ini sangat berbahaya, karena boleh jadi akan menjadi kufur nikmat, sebagaimana disebutkan : kemiskinan akan membawa kepada kekufuran. Kaya Palsu Kaya palsu adalah kaya yang pura-pura kaya, dengan menampilkan diri sebagai orang kaya, padahal mereka adalah para penipu untuk mendapatkan kekayaan dengan cara curang. Orang-orang kaya palsu ini biasanya adalah orang-orang miskin yang ingin mendapatkan kehormatan dengan berpura-pura menjadi orang kaya, dengan menyewa atau meminjam mobil mewah, rumah mewah dan segala yang menjadi lambang orang kaya dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu. Mereka adalah orang-orang yang telah menipu dirinya sendiri dan mengharapkan penghargaan dengan cara penipu. Di kota-kota besar seperti Jakarta orang-orang ini berkeliaran bagaikan orang kaya, kemudian mencari cara untuk menipu orang lain dengan berbagai proyek, yang tujuannya adalah untuk memperdaya dan mereka mendapat keuntungan darinya. Saya sering melihat manusia seperti ini yang berpura-pura menjadi orang kaya yang memilki segala macam fasilitas, namun tujuannya jelas untuk memperdaya orang lain. Jika mereka berhasil memperdaya dan menjadi kaya dengan caranya itu, maka mereka tetaplah termasuk orang kaya penipu atau palsu yang kekayaannya tidak akan membawa kebaikan dan berkah kepada dirinya. Suatu saat topengnya akan terbongkar dan penipuannya akan ketahuan juga. Seorang teman menceritakan kepada saya kisah tentang konglomerat yang telah menjadi kaya raya karena menipu mitranya. Walaupun sekarang dia sudah menjadi konglomerat terkenal, maka tetaplah dia sebagai orang Kaya Penipu, yang kekayaannya diperolehnya dari penipuan yang telah dilakukannya. Walaupun dia telah memiliki kekayaan berlimpah, dia tetaplah kaya palsu. 2. Kaya Hutang Kaya jenis ini adalah kayanya orang-orang yang berhutang, biasanya pada bank atau lembaga keuangan dan juga pribadi. Walaupun mereka memiliki kekayaan yang melimpah ruah dengan aset yang banyak, rumah besar, mobil mewah dan segala fasilitas yang dimilikinya menandakannya sebagai orang kaya, namun jika ditotal seluruh aset dan hutangnnya, maka hutangnya lebih banyak daripada asetnya, maka inilah orang kaya hutang. Menjadi kaya karena hutangnya. Pada suatu saat, jika hutangnya telah jatuh tempo dan diputuskan kekayaannya harus disita untuk menutup hutangnya, maka dia akan jatuh miskin. Biasanya orang kaya 3.

33

hutang ini adalah orang yang sulit melunasi hutangnya dengan berbagai alasan, bahkan mereka akan memperdaya bank tempatnya mengutang untuk memberikan keringan kepadanya. Kita banyak mendengar beberapa pengusaha yang masih memiliki hutang besar, namun masih juga hidup sebagai orang kaya, maka merekalah yang disebut sebagai Orang Kaya Hutang. Kaya Semu Kaya jenis ini adalah seperti kebanyakan orang kaya yang tidak mendapat kebahagian dari kekayaan yang dimilikinya, bahkan dengan kekayaan yang ada padanya, hidup dan kehidupannya tidak bahagia. Mereka mencari kekayaan dengan kuatnya, namun karena tidak mengetahui dengan pasti untuk apa kekayaan itu, selain daripada untuk bersenang-senang dan memuaskan diri, akibatnya mereka mengalami krisis spiritual, kehilangan makna dalam menjalankan kehidupan sebagaimana yang diderita masyarakat modern. Hidupnya selalu dihatui was-was dan rasa takut untuk kehilangan kekayaannya, atau dia takut mati meninggalkan kekayaan yang sangat disayanginya, perasaannya dihinggapi rasa takut kekayaannya akan menimbulkan perpecahan atau permusuhan kepada ahli warisnya akibat memperebutkannya. Namun pada saat yang sama dia sangat kikir dan bakhil untuk membelanjakan hartanya kepada kebaikan. Sebenarnya kesemuan dan ketidakbahagiaan hidupnya ini bersumber dari kekikirannya dalam membelanjakan kekayaannya. Hidupnya bagaikan fatamorgana, yang terlihat indah dalam bayangan, namun tiada bentuknya dalam kenyataan. Hidup kaya yang semu bagaikan fatamorgana. Kaya seperti ini adalah kaya orang yang bekerja keras menjadi orang kaya, baik dikenal atau tidak, tapi memiliki kekayaan yang menjadikannya layak disebut sebagai orang kaya. Memiliki rumah besar, fasilitas hidup di atas rata-rata dan memiliki kemampuan untuk memenuhi kehidupannya. Mereka bekerja keras, lalu mendapat kekayaan berlimpah, menikmatinya lalu ajalpun menjempunya tanpa membuat prestasi yang berari untuk lingkungan dan agamanya. Jumlah mereka sangat banyak, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, namun orang hanya tau dari rumah dan fasilitas yang dimilikinya. Kehadirannya tidak menggenapkan dan kehilangannya tidak mengganjilkan. Kehidupannya sebagai orang kaya, datar-datar saja, terkadang tidak merasa kaya, sehingga menjadi kikir dan menjaga kekayaannya jangan berkurang. Di antara mereka terkena penyakit yang senantiasa merasa kurang dengan apa yang dimilikinya. Kekayaannya tidak bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Jika diminta bantuannya, mereka hanya memberi ala kadarnya agar jangan dikatakan kikir dan bakhil. Menurut para ulama sufi, orang kaya seperti ini adalah orang kaya yang lalai dan celaka, yang tidak selamat dari azab Allah. 4. Kaya Mulia Kaya mulia adalah orang kaya yang mendapatkan kekayaannya secara mulia, legal dan tidak merugikan orang lain, lalu memanfaatkan 5.

34

kekayaannya untuk tujuan-tujuan yang mulia pula. Kita mengenal Bill Gates pendiri Microsoft yang telah mendirikan Yayasan Gates dan menyalurkan 95 % kekayaannya yang berjumlah lebih dari $US 50 Milyar untuk memberikan kebaikan kepada umat manusia, memerangi kemiskinan dan memperbaiki kesehatan serta membangun pendidikan berkualitas. Kita juga mengenal Warren Buffet, yang juga menjadi penyumbang Yayasan Gates yang mencapai $US 30 Milyar yang merupakan 85 % dari kekayaannya. Dan masih banyak lagi orang-orang kaya mulia yang telah memberikan bantuan berharga kepada umat manusia. Dalam pandangan Islam mereka adalah orang kaya mulia, orang kaya dan mulia di dunia saja, dan apa-apa yang disumbangkannya tidak akan membawa kebahagiannya sampai akhirat. Segala amal kebajikan akan dinilai pertama kali faktor keimanannya, apabila keimanan telah benar, barulah akan dinilai amal salehnya. Sebagaimana yang disebutkan alQur’an: ”Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (al-Nur : 39) Ada juga orang kaya dari kalangan kaum muslimin yang termasuk kelompok ini, mereka mendapatkan kekayaan dengan cara yang halal namun masi bercampur baur dengan cara-cara syubhat, kemudian membelanjakan hartanya sesuai dengan perintah agama untuk kebajikan dan kemajuan Islam dan kaum muslimin. Mereka juga menikmati kekayaannya sebagaimana orang lain menikmatinya, dan membangun rumah-rumah besar bagaikan istana namun pada saat yang sama juga membangun masjid indah, panti asuhan, sarana pendidikan dan melakukan kebajikan-kebajikan besar lainnya. Mereka adalah orang kaya yang mulia di dunia, dan mudah-mudahan Allah membalas amalan mereka di akhirat. Mereka akan dihisab, jika kekayaannya dapat dipertanggungjawabkan sumbernya dan pengeluarnya lebih banyak untuk amal soleh, mudah-mudahan mereka mendapat rahmat Allah dan ditempatkan pada surganya. Pola hidup mereka tidak sampai kepada pola hidup Muhammad Rasulullah, Sahabat dan jalan para Nabi dan Rasul dari golongan orang kaya yang telah menginvestasikan seluruh kekayaannya di jalan Allah dan menikmati ala kadar untuk sekedar hidup dan melanjutkan perjuangan. Kaya Tercela Kaya tercela adalah kedudukan orang kaya yang beriman dan muslim, namun mereka menjadi tercela karena telah menjadi budak dari kekayaan yang dimilikinya. Mereka mendapatkan kekayaan dengan cara yang halal dan legal, namun kekayaannya tidak dipergunakan secara maksimal sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Kekayaan yang dimilikinya dinikmatinya dengan berlebihan, membangun rumah-rumah super mewah yang kadangkala tidak ditempatinya atau memiliki kendaraan-kendaraan mahal yang tidak mampu dikendarainya, 6.

35

sementara pada saat yang sama masih banyak dikalangan kaum muslimin yang memerlukan kekayaannya untuk membangun sarana ibadah ataupun pendidikan Islam. Pada zaman kegemilangan Islam, yang disebutkan sangat sulit untuk mencari muslim yang berhak menerima zakat karena tingginya tingkat kemakmuran zaman itu, telah melahirkan orang-orang kaya muslim dengan kemewahannya di antara kota-kota Bagdad dan sekitarnya. Kaum kaya ini tetap menjalankan perintah agamanya dan menyedekahkan kekayaannya sebagaimana diperintah Allah, namun mereka bergelimang dengan kemewahan. Maka muncullah para ulama, diantaranya yang utama adalah Imam al-Ghazaly yang dijuluki hujjatul Islam, yang mengingatkan mereka dan menyatakan mereka sebagai orang kaya muslim tercela, sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Ihya’ Ulum alDien dalam bab Tercelanya Dunia. Menurut Imam Ghazaly, tercelanya orang-orang kaya ini karena mereka tidak mengikuti pola kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat dan para Nabi sebelumnya, yang hidup sederhana dan banyak menyedekahkan hartanya untuk kebaikan. Mereka bahkan lebih condong mengikuti pola kehidupan bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan Islam, hidup dalam kemewahan yang berlebih-lebihan, menjadi budak dunia yang menjadikan mereka jauh dari jalan Islam. Jika pada zaman kegemilangan Islam yang tidak ada orang berhak menerima zakatpun, perilaku bermewah-mewah kaum kaya muslim telah dianggap tercela oleh ulama, maka bagaimana halnya apabila itu terjadi pada zaman kita yang keadaan kaum muslimin adalah mayoritas miskin, terbelakang dan bodoh tidak terpelajar. Orang kaya tercela inilah yang banyak disebutkan oleh Rasulullah akan masuk surga dengan cara yang lambat, akan diperhitungkan segala amalannya, darimanakah mereka mendapatkan hartanya, jika sudah bersih sumber pemasukannya, maka akan diperhitungkan pula kemanakah dialokasikan kekayaannya. Berapa yang mereka peruntukkan untuk Allah dan rasul-Nya serta berapa yang mereka nikmati untuk kemewahan dunianya. Maka orang kaya yang masih terjangkit penyakit-penyakit kerohanian seperti bakhil, kikir, riya’, sombong, berfoya-foya dan sejenisnya adalah dimasukkan dalam kalangan kaya tercela, yang kurang disenangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka diharapkan sadar dan segera menaikkan derajat mereka lebih tinggi lagi menjadi orang kaya sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. KayaSejati Kaya Sejati (selanjutnya akan ditulis KayaSejati, sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan), adalah kaya yang telah didapatkan oleh orangorang kaya yang telah dipilih Allah sebagai contoh kebajikan teragung di muka bumi. Jalan ini adalah jalan para Nabi dan Rasul yang dianugrahkan kekayaan untuk mempermudah perjuangannya menebarkan kebenaran dan keadilan. Jalan yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim yang kaya raya dengan binatang ternak, jalan Nabi Yusuf yang kaya raya dan terhormat, jalan Nabi Sulaiman yang kekayaannya tiada tertanding dan dijadikan sarana untuk menegakkan kekuasaan Allah di muka bumi. Inilah jalan 7.

36

yang ditempuh oleh Nabi Muhammad saw dengan para sahabatnya, yang menjadikan sebagai orang KayaSejati, menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagian dalam kehidupan kekal abadi kelak di akhirat. Kaya seperti yang digambarkan al-Qur’an: ”Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan salat, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (al-Nur : 36-38) Untuk menjadi KayaSejati, seseorang harus mengikuti jalan yang telah ditempuh para Nabi dan Rasul, jalan yang mengutamakan keimanan dan kebenaran sebagai landasan hidupnya. Kekayaan yang diperoleh sematamata untuk mempermudah peribadatan menuju Allah, yang menjadikan kekayaannya sebagai budak yang akan mengantarkannya menuju keridhaan Allah, dan bukan sebaliknya diperbudak oleh kekayaannya sehingga jauh dari jalan dan keridhaan Allah. Kekayaan yang diperolehnya adalah sebuah keutamaan dari Allah sebagai ujian kepada, apakah menjadi orang yang bersyukur atau orang yang ingkar, sebagaimana dinyatakan Nabi Sulaiman as. Tanpa keimanan yang mendalam terhadap Allah, malaikat, Rasul, Kitab dan hari akhir, seseorang tidak dapat dimasukkan kedalam kelompok KayaSejati. Karena keimanan yang mendalam inilah menjadi tonggak utama jalan KayaSejati. Yang selanjutnya diikuti oleh kepasrahan untuk mengakui Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah, mengerjakan salat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat dan menunaikan haji serta menjalankan perintah yang telah disebutkan alQur’an. Jalan KayaSejati adalah jalan orang yang berimana dan berislam dengan penuh kesadaran untuk mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat. Gambaran Pribadi KayaSejati Dengan demikian KayaSejati adalah sebuah pola kehidupan yang berangkat dari kayakinan mendalam tentang pentingnya arti sebuah kekayaan dan keagungan dalam kehidupan. Kekayaan berapapun besarnya, jika didapat, dipakai dan disebarkan bukan dalam batas-batas keagungan, akan mendatangkan kemudaratan bagi pemiliknya. Seorang yang beriman akan diminta pertanggungjawaban oleh Sang Pemilik kekayaan tersebut, dari manakah datangnya, apakah berasal dari sumber yang halal dan baik, bukan dari hasil korupsi, penipuan, perampokan dan sejenisnya. Setelah didapatkan, kekayaan tersebut akan ditanyakan peredarannya, apakah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sebagaimana diperintahkan agama atau untuk menambah maksiat dan dosa pemiliknya. Idialnya adalah kekayaan yang baik akan dikeluarkan pada jalan kebaikan, inilah sebuah kemuliaan. Namun kadangkala kekayaan yang bersumber dari yang baik dapat pula dikeluarkan ke jalan yang tidak baik, maka ini bukanlah sebuah

37

kemuliaan. Atau ada kekayaan dari sumber yang tidak baik seperti dari hasil korupsi misalnya, kemudian dikeluarkan pada jalan yang baik, untuk membangun masjid misalnya, maka tentu ini bukanlah sebuah kemuliaan yang diajarkan Islam. KayaSejati yang dimaksud adalah sebuah model kehidupan yang berusaha mendapatkan kekayaan dengan jalan-jalan yang mulia, mulia menurut agama dan masyarakat, kemudian dimanfaatkannya kekayaan tersebut untuk hal-hal yang mulia pula. Seperti seorang pengusaha yang ulet, yang menjalankan usahanya dengan jujur, usaha yang halal dengan cara-cara yang ditentukan syariat. Dengan usahanya tersebut, dia mendapatkan keuntungan yang besar dan mengantarkannya menjadi orang yang kaya. Tidak berhenti sampai di sini, setelah menjadi orang kaya, dia mengeluarkan zakat, infak dan sadaqah yang diwajibkan atasnya, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan membangun sarana ibadah, pendidikan dan sosial misalnya. Seperti inilah gambaran kehidupan Kaya dalam Islam. Pola KayaSejati yang diajarkan Islam, bukanlah sebuah kehidupan idialis atau angan-angan yang tidak pernah terjadi di muka bumi. Dalam sejarah kehidupan manusia, banyak sekali contoh-contoh manusia yang telah menggambarkan kehidupan Kaya yang mulia ini. Di zaman Rasulullah misalnya, telah tampil pengusaha-pengusaha kaya raya yang masuk Islam kemudian kekayaannya dijadikan sebagai sarana menegakkan keadilan dan kebenaran untuk mendapatkan kehidupan yang mulia. Di antara mereka adalah sahabat Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf dan banyak lagi. Mereka adalah komunitas Kaya yang telah mengeluarkan kekayaannya di jalan keagungan dan kemuliaan. Inilah contoh karakteristik pribadi KayaSejati yang digambarkan salah seorang sahabat utama Abdurrahman bin ’Auf, seorang konglomerat muslim sejati di zaman kegemilangan Islam, sebagaimana dikutip Khalid M. Khalid dalam bukunya Rijal Haula al-Rasul: “Pada suatu hari, bumi kota Madinah seolah-olah bergetar, terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Ummul Mukminin Aisyah bertanya, “Suara apakah yang hiruk pikuk. Apa yang telah terjadi di kota Madinah?”. Orangorang menjawab, “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya, dengan iring-iringan tujuh ratus unta bermuatan penuh membawa sandang pangan dan keperluankeperluan penduduk.” Ummul Mukminin berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya bagi Abdurrahman bin Auf dengan baktinya di dunia serta pahala yang besar di Akhirat.” Selanjutnya, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan merangkak.” Sebelum iringiringan unta berhenti dan tali temali perniagaan belum dilepaskan, berita dari Ummul Mukminin itu telah sampai kepadanya. Secepat kilat, Abdurrahman bin Auf datang menemui Aisyah dan berkata, “Anda telah mengingatkan aku dengan sebuah hadits yang tidak pernah kulupakan.” Dia kemudian berkata, “Kini, saksikanlah bahwa kafilah ini dengan seluruh muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah Azza wa Jalla.” Maka, dibagikanlah muatan tujuh ratus unta itu kepada seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai suatu amal yang mulia di jalan Allah.”

38

Sejarah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat dekat Nabi yang menjadi konglomerat muslim yang kaya raya, mujahid sejati, mujahid entrepreneur, yang sangat indah ini tidak perlu dikomentari. Apakah kemudian dengan menyedekahkan hartanya di jalan Allah, Abdurrahman bin ’Auf menjadi miskin? Ternyata tidak, Abdurrahman tidak pernah jatuh miskin dan papa, bahkan dia menjadi konglomerat terbesar dunia yang tiada tertandingi, yang telah menaklukkan konglomeratkonglomerat terbesar di zamannya bersamaan dengan perkembangan Islam yang telah menguasai 2/3 dunia di zaman Khalifah Umar Ibn Khattab. Karena orang KayaSejati seperti Abdurrahman sangat yakin dengan janji Allah dalam al-Qur’an: “Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (al-Baqarah : 261) Perilaku bisnis yang dijalankan Abdurrahman bin ’Auf sebagaimana yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya telah mengantarkannya kepada taraf seorang KayaSejati yang tidak dapat disaingi atau dikalahkan oleh pengusaha-pengusaha non-muslim di zamannya. Islam yang agung dan sempurna telah mencetak pribadi Abdurrahman menjadi manusia unggul yang terunggul dalam bidangnya, sebagai seorang pengusaha muslim terbesar. Mengenai kebesarannya sebagai seorang entrepreneur KayaSejati, Khalid M. Khalid menukilkan: “Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga dia berkata: ”Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak…..!”. Tidak diragukan bahwa Abdurrahman bin ’Auf adalah sebaik-baik dan seagung-agung manusia kaya raya sepanjang sejarah kemanusiaan. Tindak tanduk dalam kehidupannya adalah sumber inpirasi dan motivasi bagi siapa yang mengenalnya. Yang dihadirkan Sang Pencipta sebagai teladan sepanjang masa, karena dia dibina oleh manusia teragung, Muhammad saw, dari sumber Yang Maha Agung, dan tumbuh berkembang dilingkungan dan masyarakat agung yang berhubungan langsung dengan langit melalui perantaraan wahyu yang diturunkan kepada malaikat Jibril. Seluruh kesempurnaan seorang KayaSejati ada padanya, secara personalitas, karakter, mental, moral dan spiritual yang berkembang berdasarkan ajaran Islam. Untuk menjadi seorang KayaSejati, Mujahid Kaya, tentara Allah yang menjalankan syariatnya secara kaffah, namun pada saat yang sama kaya raya, bukanlah perkara yang terlalu mudah, bahkan mungkin orang akan menganggap pemikiran ini ketinggalan zaman dan tidak masuk akal. Namun tidak ada yang sukar bagi ajaran Allah dan Rasul-Nya, karena memang ajaran-ajaran Islam yang agung, mulia dan sempurna ini diturunkan untuk membimbing manusia menuju kemenangan hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat Nabi. Islamlah yang telah melahirkan manusia-manusia agung seperti konglomerat muslim sejati seperti Abdurrahman bin ’Auf, dan Islam pasti dapat melahirkan kembali para konglomerat agung sepanjang masa, karena Islam diturunkan sebagai petunjuk umat manusia sepanjang masa.

39

Mereka yang menganggap menjadi seorang yang kaya raya sekaligus sebagai seorang muslim yang taat adalah tidak masuk akal atau ketinggalan zaman adalah orang yang lari dari keyataan sejarah, bahkan mereka telah berprasangka buruk pada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Bahwa kegagalan demi kegagalan atau keterbelakangan demi keterbelakangan yang dialami oleh kaum muslimin, termasuk para pengusaha dan konglomeratnya, pasti dan sangat pasti bukan disebabkan oleh ajaran Islam yang sempurna…!!! Saya pernah bertemu dengan para pengusaha yang berfikiran seperti itu. Mereka beranggapan untuk sukses dalam dunia bisnis dan kaya raya harus meniru pengetahuan dan perilaku para pengusaha kafir kapitalissekuler yang kenyataannya memang berhasil menguasai dunia bisnis. Bahkan ada yang dengan lantang menyatakan “kalau kita ikuti ajaran Islam secara ketat, mana mungkin kita dapat menjadi konglomerat seperti orangorang non muslim, jadi kita harus ikuti cara bermain mereka agar kita dapat menyamai mereka…”. Inilah penyebab utama kekalahan para pengusaha muslim. Mereka mengakui Islam sebagai agamanya, melaksanakan solat, naik haji, namun ketika berbisnis menggunakan cara-cara orang kafir, dan mereka mengganggap dirinya berhasil. Walaupun kenyataannya memang ada sebagian mereka yang berhasil menjadi konglomerat yang kaya raya. Tapi ketahuilah bahwa seandainya mereka, pengusaha muslim yang sudah dapat menjadi konglomerat itu menerapkan ajaran Allah dan Rasul-Nya dalam dunia bisnis, maka pastilah pencapaian mereka akan jauh lebih dahsyat dan hebat lagi. Mereka pasti akan dapat mengalahkan semua bentuk permainan dan trik kaum kafir kapitalis-sekuler itu, mereka pasti akan menjadi konglomerat kaya raya terbesar yang tak tertandingi. Ini bukan hayalan dan utopia, karena Abdurrahman bin ’Auf telah membuktikannya. Ketika Abdurrahman bin ’Auf baru tiba hijrah di Madinah dari Makkah, dia mulai menjalankan bisnisnya. Seorang pelarian seperti Abdurrahman tentu tidak memiliki modal kuat seperti yang dimiliki para pengusaha Madinah, seperti kaum Yahudi yang tengah menguasai pasar Madinah pada saat itu. Walaupun Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ seorang pengusaha terkemuka Madinah oleh Nabi saw, namun beliau tidak memanfaatkan kekayaan saudaranya, atau menikmatinya dengan nganggur dan ongkang-ongkang. Dari Anas ra, telah berkata:…. “dan berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya….!” Jawab Abdurrahman bin Auf: “Semoga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda!, tapi tunjukkan letaknya pasar agar aku dapat berbisnis…..!” Ya, itulah karakteristik mujahid bisnis sejati. Ketika ditanya tentang kebutuhannya, Abdurrahman hanya berkata: “Tunjukkan aku pasar”. Saudara pengusahanyapun menunjukkan pasar Madinah yang didominasi pedagang Yahudi dengan segala hiruk pikuknya dan beliau menganalisis keadaan pasar dengan segala seluk beluknya. Hasil analisis Abdurrahman ditindaklanjuti dengan pengajuan rekomendasi kepada Rasulullah sebagai Pemimpin komunitasnya. “Pisahkan pasar Yahudi dengan pasar Kaum

40

Muslimin”, rekomendasinya kepada Rasulullah yang diterima dan ditaati oleh komunitas muslim Madinah. Dengan adanya dua pasar, pasar Yahudi dan pasar Islam, maka Abdurrahman telah menciptakan persaingan sehat antara kedua pasar dengan dua sistem, infrastuktur dan kualitas SDM-nya. Apa yang terjadi kemudian? Hanya dalam hitungan hari, pasar Yahudi yang penuh tipu daya, trik-rtik busuk dan kebohongan itu sepi yang akhirnya tutup akibat dijauhi konsumennya yang berpindah kepada pasar Islam yang mengutamakan kejujuran, keterbukaan, persaingan sehat, penuh persaudaraan yang dikomandoi mujahid bisnis Abdurrahman bin Auf dengan beberapa kolega usahanya dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Itulah sebabnya, ketika Abdurrahman bin ’Auf, orang KayaSejati ini ditanya tentang kisah sukses bisnisnya, beliau mengatakan bahwa kunci keberhasilannya sebagai seorang konglomerat muslim adalah “kejujuran”. “Jika barang itu rusak katakanlah rusak, jangan engkau sembunyikan.” “Jika barang itu murah, jangan engkau katakan mahal.” “Jika barang ini jelek katakanlah jelek, jangan engkau katakan bagus”. Hanya dengan kejujuran (as-sidqu wa al-amien) pasar Yahudi yang telah mendominasi Madinah terkalahkan. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda: “Pengusaha yang jujur lagi amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang Syahid dan orang-orang Soleh.” (HR. Tirmidzi).

Kesimpulan Bagian Pertama : 1. Tidak semua kemiskinan adalah mulia dan utama. Kemiskinan yang mulia dan utama adalah kemiskinan yang dijadikan pilihan hidup oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk kaya raya, namun memilih kemiskinan sebagai jalan kehidupan, karena

41

2.

3.

4.

5.

6.

7.

menginvestasikan kekayaannya untuk kebahagian akhirat sebagimana dilakukan oleh para sahabat agung Rasulullah. Adapun kemiskinan yang disebabkan oleh kemiskinan natural atau kemiskinan struktutural, adalah kemiskinan yang perlu dibasmi dan diperangi sebagaimana perkataan Sayyidina Ali ra: ”Andaikan kemiskinan itu berupa manusia, maka akan kupenggal lehernya”. Karena kemiskinan jenis terakhir ini sangat berbahaya, kemiskinan yang dapat membawa kepada kekufuran, ”adalah kemiskinan itu dapat menjadikan kekufuran”. Kaya adalah naluri kemanusian yang dianugrahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang sama sekali tidak dilarang oleh Allah. Bahkan jika difahami perintah Allah dan Rasul-Nya mengenai jihad, zakat, sahaqah, infak dan lainnya, secara tidak langsung diperintahkan agar kaum muslimin menjadi kaya agar dapat melaksanakan kewajinbannya tersebut. Kekayaan adalah milik Allah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Bagi orang Islam yang memiliki kemampuan dan kesempatan, baik secara material maupun spiritual untuk menjadi kaya, maka kepadanya dibebankan kewajiban untuk menjadi kaya. Dengan adanya pribadi Islam yang ta’at dan kaya, maka diharapkan menjadi batul mal bagi perjuangan Islam dan masyarakat. Bahkan jika ditinjau dari fiqh al-Aulawiyah (fiqih prioritas) dan maqasid al-Syar’iat (tujuan syar’i), maka dalam keadaan seperti sekarang ini, dimana mayoritas kaum muslimin dalam keadaan lemah dan menderita kemiskinan, maka wajib hukumnya bagi sekelompok muslim untuk menjadi kaya secara berjama’ah, agar kepentingan Islam dan umatnya terjaga. Tidak diragukan pada saat ini perjuangan menegakkan Islam dalam segala lapangan sedang memerlukan dana yang sangat besar, terutama untuk mengembalikan kejayaan dan keagungan Islam dalam semua aspek kehidupan. Seluruh ulama sepakat bahwa perjuangan menegakkan Islam, terutama mempertahan Islam dan kaum muslimin dari invansi musuh adalah sebuah fardhi ’ain (dhifa’ an aradhil mu’min, ahamma min furud al-a’yan). Bagaimana kita dapat menjalankan kewajiban ini jika tidak ada orang-orang Muslim kaya yang mengeluarkan kekayaannya. Maka berlakulah kaidah fiqih ma la yatimmu al-wajib illa bihi, fa huwa wajib, (sebuah kewajiban tidak akan tegak dengan suatu perkara, maka perkara itu wajib pula hukumnya). Di dalam al-Qur’an, al-Sunnah, riwayat para sahabat dan tabi’in serta ulama salaf dan khalaf, banyak sekali terdapat ajaran dan fatwa yang memberikan keutamaan hidup kaya bagi seorang muslim. Kekayaan yang diperolehnya dapat menjadi sarana untuk mendapatkan kebahagian akhirat. Kaya yang diperintahkan oleh Islam, adalah kaya yang sesuai dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya, yaitu kaya yang berdasarkan kepada keimanan yang mendalam serta keyakinan yang teguh dalam melaksanakan perintah-Nya, yaitu KayaSejati. Dalam perjalanan sejarah Islam telah tampil orang-orang KayaSejati yang dapat dijadikan teladan, diantaranya adalah sahabat Abdurrahman bin ’Auf. Para penerus orang KayaSejati telah menghiasi

42

tinta mas perjuangan umat Islam, melalui pengorbanan perjuangannya dengan kekayaan halal yang dimilikinya.

dan

Perhatian : Jika Anda belum sampai pada kesimpulan di atas, saya mengharapkan agar Anda membaca kembali dengan seksama bagian ini dengan fikiran terbuka dan hati yang lapang, sambil berdo’a kepada Allah agar ditunjukkan kebenaran yang hakiki. Jika belum puas, maka carilah dalil-dalil pembantu atau refernsi tambahan untuk menguatkan Anda mengenai masalah yang dibahas. Saya mengharapkan, setelah Anda membaca bagian pertama ini memiliki kesimpulan : KAYA YANG BERSYUKUR ADALAH LEBIH UTAMA DARI MISKIN YANG BERSABAR. Jika kesimpulan ini belum Anda dapatkan, berarti Anda belum faham benar masalah yang dibahas pada bagian ini. Karena tujuan utama dari bagian ini, dengan segala dalil dan hujjah yang telah disampaikan adalah untuk memberikan keyakianan bahwa kaya itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya yang merupakan kewajiban bagi muslim yang memiliki kemampuan mencapainya.

43

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful