You are on page 1of 25

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan Negara Indonesia di warnai oleh berbagai kebudayaan dan
agama,

oleh

sebab

itu

bangsa

Indonesia

merupakan

bangsa

yang

mengedepankan kebudayaan dan keagamaan melalui pendidikan, menurut Dr.
Emmanuel Bassey Joseph, dkk, The concept of education has been given
different definitions by various authorities. dalam konsep pendidikan itu
mempunyai definisi yang berbeda sebagaimana ungkapan Ukeje (1979) in
Akpomedaye (2010) viewed the concept of education from three dimensions of
process, product and discipline (Joseph, 2: 2010) jika direalisasikan sesuai
dengan konsep maka hasilnya menjadi maksimal dan lebih baik
Al-ghazali memberikan penjelasan bahwa pendidikan merupakan suatu
proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk
menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan
efisien, Untuk mencapai tujuan dari sistem pendidikan apapun, ada dua faktor
yang mutlak diperlukan:
1. Aspek-aspek ilmu pengetahuan yang harus dibekali kepada murid-murid
2. Metode yang telah digunakan untuk menyampaikan ilmu-ilmu atau
materi-materi kepada murid (Solahudin,161: 2014)
Dalam dunia pendidikan, belajar dapat di maknai sebagai suatu proses
yang menunjukan adanya perubahan yang sikapnya positif sehingga pada tahap

1

akhirnya, akan didapat ketrampilan, kecakapan, dan pengetahuan baru yang
didapat dari akumulasi pengalaman dan pembelajaran.
Gagne mengemukakan bahwa “learing is change in human disposition or
capacity, which persists over a period time, and which is not simply ascribable
to process growth.”artinya belajar adalah perubahan yang terjadi dalam
kemampuan manusia setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan
proses pertumbuhan saja (Saefuddin, 2014: 8)
Dalam proses pembelajaran diperlukan strategi, strategi memiliki peran
yang cukup besar dalam mencapai sebuah tujuan. Karena itu strategi menjadi
sarana dan salah satu alat untuk mencapai tujuan, yaitu dengan materi
pembelajaran atau strategi pembelajaran yang tersusun rapi dalam kurikulum
pendidikan. Sebagaimana Made Wane memberikan pengertian bahwa strategi
pembelajaran adalah cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar
dalam upaya membelajarkan siswa (Made Wena, 2014: 2)
Salah satu realita kependidikan yang telah membudaya dikalangan
sebagian bangsa, terutama dikalangan sebagian umat islam yang merupakan
golongan mayoritas dari bangsa Indonesia ini adalah pesantren (Mastuhu,1994:
3). Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan yang dalam prosesnya ialah
membina individu-individu muslim yang berkarakter islami yaitu ciri-ciri
kepribadian islam yang tampil dalam pola fikir, pola sikap dan pola tindakan,
yang dalam istilah islam di sebut dengan “ahlakul karimah” dan dalam
pendidikan formal disebut pendidikan karakter.

2

Salah satu cirikhas proses pendidikan di pesantren adalah penekanan pada
pembelajaran secara aktif dan mandiri sehingga santri tidak melulu
mengandalkan pengajaran dari kyai atau ustadz dalam memperoleh pengetahuan
dan mengembangkan ketrampilan hidupnya, tetapi kreatif menciptakan berbagai
kegiatan yang mendukung proses pembelajaranya.
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas tentang model
pembelajaran Active-Learning dipesantren Girikusuma

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas dapat ditarik benang
merah, diantaranya:
1. Bagaimana Model Active Learning di Pesantren Girikusuma?
2. Metode apa saja yang di terapkan dalam Active Learning di Pesantren
Girikusuma?
3. Bagaimana strategi Active-Learning di Pesantren Girikusuma?

3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Model Active Learning di Pesantren Girikusuma
1. Pembelajaran Active learning
Pembelajaran aktif adalah suatu istilah yang memayungi beberapa
model

pembelajaran,

yang

memfokuskan

tanggung

jawab

proses

pembelajaran pada si pelajar, istilah active learning ini sudah dikenal pada
tahun 1980-an. Kemudian pada tahun 1990-an Association For The Study
Of Higber Education (ASHE) memberikan laporan yang lengkap tentang
active learning ini. Dalam laporan tersebut mereka telah mendiskusikan
berbagai metode pembelajaran untuk mengenalkan active learning (Asmani,
2010: 64-65)
Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan
utama dalam praktik pendidikan saat ini. Dimana pembelajaran aktif ini
terasa semakin mengemuka hingga sekarang dan para guru terus menerus
menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran
kepada siswanya, beberapa kalangan berpendapat, bahwa inti dari reformasi
pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari
model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.
sebagaimana pendapat Dee fink tentang konsep Active Learning
diantaranya :
a) Dialogue With Self
b) Dialogue With Others

4

c) Experience of Observing
d) Experience Of Doing
Model ini menunjukkan bahwa semua kegiatan belajar melibatkan
beberapa jenis pengalaman atau semacam dialog, baik dialog dengan diri
ataupun dialog dengan lainnya, dan juga pengalaman yang meliputi
"Mengamati" dan "Melakukan (Dee fink, 1999: 2-3)
Ilustrasi gambar konsep active learning
Experience Of

Dialogue With

Doing

Self

Observing

Others

Pandangan Silberman mengenai pembelajaran aktif terbentuk dalam
kata-kata bijak yang diungkapkan oleh konfusius yang berbunyi:
Yang saya dengar, saya lupa
Yang saya lihat, saya ingat
Yang saya kerjakan, saya paham
Kemudian kata-kata bijak itu diperluas menjadi :

5

Yang saya dengar, saya lupa
Yang saya dengar dan saya lihat, saya sedikit ingat
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan
orang lain, saya mulai paham.
Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapat
pengetahuan dan ketrampilan.
Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai (Silbermen, 1996:
23)
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa
kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah
satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara
kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa
yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata
per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata
per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa
mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak
sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang
diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan (Silbermen,
1996: 24)
Charles C. Bonwell, memberikan kejelasan bahwa pembelajaran
dikatakan aktif jika mempunyai karaktekterstik :
1) Siswa terlibat lebih dalam dari pasif mendengarkan

6

2) Siswa terlibat dalam kegiatan (misalnya, membaca, berdiskusi,
menulis)
3) Ada kurang penekanan pada transmisi informasi dan penekanan yang
lebih besar ditempatkan pada pengembangan keterampilan siswa
4) Ada penekanan yang lebih besar ditempatkan pada eksplorasi sikap dan
nilai-nilai
5) Motivasi siswa meningkat (terutama untuk pelajar dewasa)
6) Siswa dapat menerima umpan balik langsung dari instruktur mereka
7) Siswa terlibat dalam berpikir tingkat tinggi (analisis, sintesis, evaluasi)
(Charles,1991: 37)
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Pembelajaran Aktif adalah
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
aktif membangun sendiri konsep dan makna melalui berbagai kegiatan,
siswa dituntut aktif bukan guru yang aktif, sedangkan guru harus kreatif
dalam mengelola pembelajaran dan tidak lupa harus kreatif pula
menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran
sehingga akan didapat suatu pengalaman belajar yang aktif.
Sejalan dengan berjalanya waktu, lembaga pendidikan pesantren
girikusuma juga tidak menutup diri untuk mengadakan pembaharuanpembaharuan model pembelajaran yang ada
Model pembelajaran yang diterapkan di pesantren girikusuma
mempunyai karakteristik di antaranya :
1) Santri tidak terlibat lebih, pasif mendengarkan ceramah

7

Kebanyakan santri kelihatan pasif yang notabenya adalah bagi para
pemula dalam mempelajari kajian agama, meraka di persiapkan dan
juga mengawali melalui kegiatan sekolah islam salaf persiapan dan juga
kajian dengan para senior ataupun ustadz yang mendampinginya.
Realitan membuktikan bahwa setiap santri harus mengikuti ujian masuk
dalam menempatkan posisinya, apakah ia ikut sekolah persiapan atau
justru masuk jenjang selanjutnya. Sehingga dalam proses kegiatan
belajar yang teralisasi adalah pembelajaran konvensional.
2) Kyai atau Ustadż yang membacakan, menjelaskan dan santri
mendengarkan dan mencatat (bandongan)
Realita membuktikan bahwa di pesantren girikusuma kyai dan ustadz
mempunyai

peran

yang

signifikan

terutama

dalam

mengkaji,

menjelaskan kitab-kitab klasik kepada para santri, oleh sebab itu kajian
kitab – kitab klasik di jadwalkan oleh kyai kepada para ustadz untuk
menyampaikan kepada santri melalui kajian secara bersama- sama, baik
santri senior ataupun junior dalam pelaksanaanya kajian tersebut
dimulai dari setelah selesai shalat ashar untuk semua jenjang baik
i’dadiyah dengan pendampingan ustadz dan materi sendiri, mutashasit
juga dengan pendampingan ustadz dan aliyah, setelah sholat magrib
bagi para santri senior semua mengikuti kajian kitab Riyadhus shalihin
kepada ustadz yang lebih senior dan kajian kepada sesepuh pondok,
kyai dilaksanakan pada hari- hari tertentu seperti hari sabtu malam,
senin malam dan rabu malam dengan kajian kitab Bukhari

8

Muslim,Hikam Ibnu Atthaillah dan karya al ghazali seperti Minhajul
Abidin, dan juga kajian bersama-sama setiap malam jum’at dengan
masyarakat yang ada di desa girikusuma ataupun luar girikusuma
dengan kajian mujahadah ratib al attas, bacaan khatmil qur’an juz 30
dan juga bacaan al barjanji kemudian di lanjutkan dengan tausiyah oleh
para kyai yang hadir dalam acara pengajian tersebut.
3) Santri membahas materi yang di ajarkan oleh ustadż dari kitab
kemudian di bahas kembali dengan teman-temanya (Mudżakarah)
Pesantren girikusuma menerapkan mudżakarah setiap malam setelah
selesai shalat isyak bagi semua santri yang masih mengikuti sekolah
islam salaf ketika pagi sampai siang hari, para santri sesuai dengan
jenjang masing-masing. Dalam proses mudzakarah setiap santri
memimpin kelompok masing- masing untuk membacakan kitab yang di
ajarkan oleh ustadz ketika di sekolahan kemudian di bahas mulai dari
cara membaca yang benar sesuai dengan ilmu gramatika dan juga
penjelasan terhadap kitab yang di baca. Ketika terjadi kesalahan dalam
membaca, memahami maka teman-teman boleh menyangkal dan juga
memberikan argumentasi terhadap kitab tersebut sehingga terjadilah
perdebatan

yang

memancing

santri

untuk

semangat

dalam

mempertahankan pendapatnya. Sistem mudzakar ini semua santri saling
bergantian dalam membaca kitab sesuai dengan jadwal pelajaran di
sekolah islam salaf pada waktu pagi harinya.

9

4) Diskusi kelompok, Kyai atau Ustadż memberikan topik atau masalah
sementara santri berdiskusi di kalangan sendiri kemudian baru
berdiskusi dengan kyai (Musyawarah)
Berdasarkan karakteristik tersebut pondok pesantren girikusuma juga
menerapkan

model

pembelajaran

Active

Learning

pada

kegiatan

mudzakarah dan musyawarah, akan tetapi pondok pesantren Girikusuma
tetap menggunakan model pembelajaran pasif atau (konvensional).
B. Metode dalam Active Learning di Pesantren Girikusuma
Metode pembelajaran dalam model Active Learning ada bermacam-macam,
antara lain :
1. Metode debat (diskusi)
Menurut A’la (2012), metode debat termasuk dalam bagian dari salah
satu metode pembelajaran efektif. Dalam metode ini, siswa di bagi dalam
beberapa kelompok dan setiap kelompok beranggotakan beberapa siswa.
Selanjutnya guru memberikan materi debat dalam setiap kelompok dan
dalam tiap kelompok tersebut ada yang mengambil posisi sebagai pro dan
posisi kontra. Dalam hal ini, peran guru adalah mengevaluasi setiap siswa
tentang penguasaan materi dan seberapa efektif siswa terlibat dalam debat
tersebut. Dalam metode ini, siswa dapat diajarkan keterampilan berupa
peran masing-masing siswa untuk memfasilitasi proses kelompok, misalnya
peran sebagai pencatat, peran sebagai pembuat keputusan, dll. Sedangkan
peran guru adalah pe-monitor proses belajar.

10

Menurut Asmani (2014), metode debat / diskusi dapat digunakan
sebagai alternatif jawaban untuk memecahkan berbagai problem kehidupan.
Dengan catatan, persoalan yang akan didiskusikan harus dikuasai secara
mendalam. Adapun kelebihan metode ini adalah :
1. Menyadarkan anak didik (siswa) bahwa masalah dapat dipecahkan
dengan berbagai jalan.
2. Menyadarkan siswa bahwa dengan berdiskusi, mereka bisa saling
mengemukakan

pendapat secara konstruktif, sehingga dapat

diperoleh keputusan yang lebih baik.
3. Membiasakan siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain.
Akan tetapi metode ini memiliki beberapa kekurangan, antara lain :
1. Tidak dapat digunakan pada kelompok yang besar.
2. Peserta diskusi mendapatkan informasi yang terbatas
3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara
4. Basanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.

11

maupun tehnis dalam pelaksanaan pendidikan, pesantren Girikusuma
berupaya mengadakan inovasi serta pembaharuan terhadap model
pembelajaran yang ada.
karena Pasantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang
berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara
terpadu dengan sejenis lembaga pendidikan lainnya.
Pada awal berdirinya pesantren Girikusuma, metode yang digunakan
adalah metode bandongan dan sorogan bagi pondok non klasikal, pada
perkembangan selanjutnya maka metode pembelajaran pondok pesantren
mencoba

untuk

merenofasi

metode

yang

ada

tersebut

untuk

mengembangkan pada metode yang baru yaitu metode klasikal.
Metode pembelajaran kitab di pesantren Girikusuma, meliputi:
1) Metode Sorogan
Sorogan yaitu suatu sistem belajar

secara individual dimana

seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dengan sistem
pengajaran secara sorogan ini memungkinkan hubungan Kyai dengan
Santri sangat dekat, sebab Kyiai dapat mengenal kemampuan pribadi
santri secara satu persatu (Mastuhu: 1994: 61)

12

Sistem pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan
santri yang biasanya pandai menyodorkan sebuah kitab kepada kyai
untuk dibaca dihadapan kyai, dan kalau ada salahnya, kesalahan itu
langsung dihadapi oleh kyai.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa metode sorogan
yang diterapkan di pesantren Girikusuma merupakan bagian dari
konsep pembelajaran Active Learning (Dialogue With Others) artinya
santri berkomunikasi dengan orang lain, baik itu guru atau kyai.
2) Wetonan/ Bandongan
Bandongan adalah belajar secara kelompok yang diikuti oleh
seluruh santri. Berlangsungnnya pengajian itu merupakan inisiatif kyai
itu sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu terutama kitabnya.
Kelompok santri yang duduk mengitari kyai dalam pengajian itu
disebut halaqah (Dhofier, 1999: 28)
Pelaksanaan sistem pengajaran wetonan ini adalah sebagai berikut:
kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, dan santri membawa
kitab yang sama, kemudian mendengarkan dan menyimak tentang
bacaan kyai tersebut. Sistem pengajaran yang demikian seolah-olah
sistem bebas, sebab absensi santri tidak ada, santri boleh datang boleh
tidak, tidak ada sistem kenaikan kelas. Dan santri yang cepat
menamatkan kitab boleh menyambung ke kitab yang lebih tinggi atau
mempelajari kitab kitab yang lain. Seolah-olah sistem ini mendidik
anak supaya kreatif dan dinamis, ditambah lagi sistem pengajaran

13

wetonan ini lama belajar santri tidak tergantung kepada lamanya tahun
belajar, tetapi berpatokan kepada kapan anak itu menamatkan kitabkitab pelajaran yang telah di tetapkan. Kegiatan pembelajaran ini,
dilakukan dalam format diskusi, diawal dengan mereviu kembali materi
pelajaran sebelumnya yang disampaikan oleh rois masing-masing fak
ilmu, atau rosi am. Dilanjutkan dengan siswa mendengarkan seorang
guru yang membaca, menerjemahkan, dan menerangkan buku-buku
Islam dalam bahasa Arab (kitab kuning). Kelompok kelas dari sistem
bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok siswa yang
belajar dibawah bimbingan seorang guru.
3) Metode Mudżakarah
Mudżakarah atau Musyawarah adalah pertemuan ilmiah yang
secara khusus membahas persoalan agama pada umumnya. Metode ini
digunakan dalam dua tingkatan, ( Thoriqussu’ud, 2012: 236):
Pertama: Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk
membahas suatu masalah dengan tujuan, melatih para santri agar
terlatih

dalam

memecahkan

persoalan

dengan

mempergunakan

kitabkitab yang tersedia. Salah seorng santri mesti ditunjuk sebagai juru
bicara

untuk

menyampaikan

kesimpulan

dari

masalah

yang

didiskusikan
Kedua: Mudzakarah yang dipimpin oleh kyai, dimana hasil
mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti

14

dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan
hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.
Tabel Metode Pembelajaran
Sistem Pengajaran

Individual

Sorogan

Hafalan

Klasikal

Bandongan/

Wetonan

Mudżakara

Halaqah

h

Kyai atau Ustadż
Pengajian
Santri
yang
umum
membahas
membacakan,
5-500 santri.
materi yang di
Kyai atau
menjelaskan dan
ajarkan oleh
Ustadż yang
santri
ustadż dari
membacakan,
mendengarkan
kitab
menjelaskan
kemudian di
dan mencatat
dan santri
bahas kembali
Menurut
mendengarkan
dengan temanzamakhsyari
dan mencatat
temanya
dhofir perkiraan
(zamakhsyari
dhofir : 28:
santri tidak
1980)
melebihi
3
C. Model
Pembelajaran
Aktif di Pesantren Girikusuma
sampai 4
1) Model Bimbingan

Diskusi
kelompok, Kyai
atau Ustadż
memberikan
topik atau
masalah
sementara santri
berdiskusi di
kalangan
sendiri
kemudian baru
berdiskusi
dengan kyai

Model ini lebih banyak mengaktifkan santri/siswa agar belajar mandiri
sedangkan ustadz/guru hanya mengawasi dan membimbing bila siswa
mendapat kesulitan dan menghadapi masalah dalam belajarnya. Metode ini
biasanya digunakan dalam kegiatan ko-kurikuler di malam hari. Santri belajar

15

berkelompok-kelompok secara bebas,ustadz pengasuh berkeliling memantau
kegiatan belajar siswa.
2) Model Penugasan.
Model ini digunakan untuk beberapa pelajaran tertentu, yaitu dengan
memberikan tugas hafalan kepada santri/siswa untuk diselesaikan dalam
jangka waktu tertentu.Tugas hafalan tersebut menyangkut pelajaran Alquran,
dan mahfuzat. Hafalan Al-Quran, sampai kelas VI siswa harus sudah hafal juz
Amma di luar kepala. Sedangkan mahfûzât berupa kumpulan dari berbagai
kalimat berhikmah dan merupakan nilai-nilai kehidupan biasanya diambil
dari hikam, hadis-hadis, ayat-ayat Al-Quran, syair-syair atau peribahasaperibahasa.
3) Model Kerja Praktek
Dengan

model

ini

santri

mempraktekkan

kegiatan-kegiatan

kepesantrenan baik pembelajaran, pengasuhan, maupun pengelolaan Pondok.
Digunakan untuk santri masa bakti, yaitu pengabdian kepada Pondok bagi
santri yang telah menyelesaikan program pendidikannya.

Model-model

pembelajaran-aktif (active-learning) ini dialami santri selama proses
pendidikan di Pondok Pesantren berlangsung. Dalam proses tersebut, para
santri mengalami beragam proses belajar, yaitu (1) Belajar di bawah
pengarahan ustadz/guru; (2) Belajar mandiri di bawah bimbingan dan
pengawasan ustadz/guru; (3) Belajar membiasakan sesuatu yang patut dan
baik; (4) Belajar hidup bermasyarakat; (5) Belajar melalui pengalaman; (6)
Belajar mengurusi diri sendiri; (7) Belajar memanfaatkan waktu; (8) Belajar

16

mengikatkan diri terhadap norma-norma agama dan norma kehidupan dan
mentaati aturan kelompok
D. Strategi pembelajaran
1. Pengertian
Pada awalnya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang
diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk
memenangkan suatu peperangan, dalam dunia pendidikan, strategi diartikan
sebagai

a plan method, or series of activies designed to achieves a

particular educational goal (J.R. David, 1976), jadi dengan demikian
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi
tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu (Sanjaya, 2006: 125-126)
Terdapat beberapa pendapat tentang strategi pembelajaran yang
dikemukakan oleh para ahli diantaranya :
1) Konza (1989) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat
memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju
tercapainya pembelajaran tertentu.
2) Gerlach dan ely (1980) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode
pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.
3) Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri
atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan

17

kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu
peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
4) Gropper (1990) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan
pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai (Uno, 2009: 1)
5) Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi diartikan sebagai
rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
(2005: 1092)
6) Menurut

Jamal

serangkaian

dan

Ma’ruf

Asmani

keseluruhan

strategi

tindakan

pembelajaran
strategis

guru

adalah
dalam

merealisasikan perwujudan kegiatan pembelajaran actual yang efektif
dan efesien, untuk pencapaian pembelajaran (Asmani, 2010: 27)
7) Made

Wane

dalam

bukunya

mengungkapkan

bahwa

strategi

pembelajaran adalah cara dan seni untuk menggunakan sumber belajar
dalam upaya membelajarkan siswa (Made wena, 2014: 2)
8) Suyono dan Hariyanto (2011) mendefisikan strategi pembelajaran
sebagai rangkaian kegiatan terkait dengan pengelolaan siswa,
pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar, dan
penilaian untuk mencapai tujuan pembelajaran (Suyono dkk, 2015: 85)
Crawford, Saul, Matthews, dan Makinster. Mereka menulis buku
dengan judul Teaching and Learning Strategies for Thinking Classroom.
Dalam buku tersebut istilah metode dan strategi digunakan secara
bergantian dengan pengertian yang sama. Pada bab (section) kedua terdapat

18

bab dengan judul bab teaching methods and strategies (metode dan strategi
pengajaran). Pada bab tersebut istilah metode dan strategi digunakan secara
saling menggantikan sehingga pada paragraph pertama ada kalimat:
“Pengajaran lebih dari hanya seperangkat metode,” sedangkan pada paragraf
ketiga disebutkan: “Meski pengajaran lebih dari seperangkat strategi, namun
ada beberapa metode pembelajaran yang harus menjadi bagian dari
perbendaharaan guru yang kreatif (Crawford, 2005: 10)
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan
guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan
efesien.
2. Jenis Strategi Pembelajaran.
Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan, Rowntree
(1974) mengelompokan strategi menjadi:
1) Strategi penyampaian penemuan atau expotision- discovery learing.
2) Strategi pembelajaran kelompok .
3) Strategi pembelajaran individual atau group individual learning (Sanjaya,
2006: 128)
Menurut Degeng (1989) secara lengkap ada tiga komponen yang
perlu diperhatikan dalam mendiskripsikan strategi penyampaian, yaitu
sebagai berikut:
1) Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang
dapat dimuat pesan yang akan di sampaikan kepada siswa, baik
berupa orang, alat, ataupun manusia.

19

2) Interaksi

siswa

dengan

media

adalah

komponen

strategi

penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang
dilakukan

oleh

siswa

danbagaimana

peranan

media

dalam

merangsang kegiatan belajar.
3) Bentuk (struktur) belajar mengajar adalah komponen strategi
penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada apakah siswa
belajar dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan,
ataukah belajar mandiri (Made Wane, 2014: 9)
A. Metode pembelajaran.
1. Pengertian.
Dalam kamus bahasa indonesia didefinisikan metode adalah cara
yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan pembelajaran
adalah suatu proses untuk menuju yang lebih baik.
Wina sanjaya memberikan pengertian bahwa metode adalah cara
yang digunakan untuk mengimplentasikan rencana yang sudah disusun
dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal (Sanjaya, 2006: 147)
Hamzah (2011:2) medefinisikan metode pembelajaran sebagai cara
yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat
untuk mencapai tujuan pembelajaran (Uno, 2011: 2)
Suyono dan Hariyanto dalam bukunya yang berjudul implementasi
belajar dan pembelajaran menjelaskan tentang metode pembelajaran
bahwa seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah-langkah
kegiatan pembelajaran yang seringkali juga terkait dengan pilihan cara
penilaian yang akan dilaksanakan (Suyono, 2015: 91)
“Liu and Shi, as quoted by Peter Westwood, defining the methods
of learning as a set of principles, procedures, or strategies implemented
20

by teachers to achieve the desired learning of students”( Westwood, V:
2008)
Liu dan Shi, sebagaimana dikutip oleh Peter Westwood,
mendefinisikan metode pembelajaran sebagai seperangkat prinsip,
prosedur, atau

strategi yang diterapkan oleh guru untuk mencapai

pembelajaran yang diinginkan dari siswa
Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulakan bahwa
metode pembelajaran adalah langkah – langkah dan cara yang digunakan
guru dan disajikan khas oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran,
Metode pembelajaran dikelompokan menjadi tiga macam:
1) Metode pembelajaran yang berpusat kepada guru (Teacher-Centered
Method)
2) Metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa (Student- Centered
Method)
3) Metode pembelajaran langsung ( Direct Intruction,DI)
2. Macam – Macam Metode Pembelajaran
1) Metode Ceramah
B. Analisis
Pembelajaran kontemporer merupakan pembelajaran yang menekankan
kepada siswa untuk selalu berimajinasi, menemukan gagasan – gagasan baru
dalam mengelaborasi dan mengexplor pelajaran, sebagaiamana ketika seorang
siswa diberi kesempatan untuk menjelalajah pada materi pelajaran kemudian
pembimbing selalu memberikan kesempatan maka alhasil siswa akan lebih
banyak menguasai materi dan bahkan lebih berpengalaman di dalam penguasaan

21

pelajaran disebabkan karena kebebasan mereka dalam mengexplorasi mata
pelajaran.
Dalam metodelogi pembelajaran kontemporer diperlukan strategistrategi yang relevan dan juga metode – metode yang menarik sehingga dalam
pelaksanaan pembelajaran selalu menyenangkan tidak bosan sebagaimana
strategi pembelajaran yang bertujuan kepada siswa untuk selalu aktif dan kreatif
dalam dalam pembelajaran. Metode PAIKEM ( pembelajaran aktif kreatif efektif
dan menyenangkan) menjadi kebutuhan dalam pembelajaran kontemporer
karena dalam penerapanya sangat efektif dan efesien dalam merealisasikan
pembelajaran. Alhasil output yang dikehendaki sesuai dengan target yang di
inginkan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

22

Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada intinya
model pembelajaran kontemporer harus menyesuaikan perkembangan zaman
dan perkembangan teknologi. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah bagaimana
penerapan strategi dan metode pembelajaran yang inovatif sehingga proses
transformasi keilmuan antara siswa dan guru terjadi. Dalam teori pembelajaran
kontemporer yang paling ditekankan adalah siswa, bagaimana siswa mampu
mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan dalam belajar, maka dalam
prosesnya ada pergeseran fungsi guru sebagai informasi belajar dan buku
sebagai teman dalam menjelah
Proses pembelajaran kontemporer meliputi pendekatan, konsep belajar
mengajar strategi dan metode pembelajaran. Strategi dan metode inovatif
merupakan salah satu cara, kunci keberhasilan dalam mentrasfer ilmu kesiswa
karena dengan strategi dan metode yang bagus maka proses pembelajaran
berjalan lancer dan sukses

DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur, 2014, 7tips Aplikasi Pakem(Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan, Sampangan Gg perk utut.

23

Bonwell, Charles C., dan James A. Eison, 1996,

Active Learning Creating

Excitement in the Classroom, Clearinghouse on Higher Education The
George Washington University)
Crawford, Alan E, 2005, Teaching and Learning Strategies for Thinking
Classroom, New York: The International Debate Education Association
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma
Instructional Development Program, 1999
Joseph, Emmanuel Bassey, 2010, International Journal of Pembangunan
Penelitian, Education and Contemporary Issues in Nigeria: Matters
Arisingin Vocational and Technical Education (VTE).
Mastuhu, 1994, Dinamika Sistem Pesantren, Jakarta, Perpustakaan Nasional
Soahudin, 2014, Islamic Studies Journal, konsep pendidikan Al-Ghazali tinjauan
filsafatpendidikan, | Vol. 2 No. 1 Januari – Juni.
Sefuddin, Asis, 2014, Pembelajaran Efektif, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Suyono, 2015 Implementasi Belajar Dan Pembelajaran, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya.
Sanjaya, Wina, 2006, Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses
Pendidikan, Jakarta, Kencana Prenada Media Grup.
Sagala, Syaiful, 2012, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu
Memecahkan

Problematika

Belajar

Mengajar,

Bandung,

CV,

ALFABETA.
Suprijono, Agus, 2012, Cooperative learning teori dan aplikasi paikem,
Yogyakarta, Pustaka Pelajar

24

Uno, Hamzah, 2011, Model Pembelajaran,Menciptakan Proses Belajar Mengajar
Yang Kreatif Dan Efektif, Jakarta, Bumi aksara.
Wena, Made, 2014, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Suatu Tinjauan
Konseptual Operasional, Jakarta Timur, Bumi Aksara.
Westwood, Peter, What Teachers Need to Know about Teaching Methods,
(Victoria: ACER Press, 2008).
Richard, Jack C. dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methodes in
Language Teaching, (Cambridge: Cambridge University Press, 1999)
Thoriqussu’ud, Muhammad, 2012, Jurnal Ilmu Tarbiyah "At-Tajdid", Vol. 1, No.
2, Juli.
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai,
Jakarta, LP3ES, 1984.
Rizal Ahmad, 2012, Pendidikan Nilai Secara Active Learning, Jurnal Pendidikan
Agama Islam – Ta’lim Volume 10 No.1

25