You are on page 1of 17

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA

A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit
lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta
jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan
(packed

red

cells

volume)

dalam

100

ml

darah.

(http.//

www.media.ilmukeperawatan.com)

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah


merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu
penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi
apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen
ke jaringan.(http.//www.asuhankeperawatan.com)
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari,seperti kehilangan
komponen darah,elemen tak adekuat,atau kurang nutrisi yang dibutuhkan
untuk pembentukan sel darah , yang mengakibatkan penurunan kapasitas
pengangkut oksigen darah.( Sumber : Doengoes,Marilynn .E ,2000.)
2. Etiologi
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan,
kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab
anemia antara lain sebagai berikut:
a. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan,
operasi

dan

persalinan

dengan

perdarahan

atau

perdarahan

menahun:cacingan.
b. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena
intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang
bertambah.

c. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena


faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel:
intoksikasi, infeksi malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
d. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh
sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
3. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan
sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor
atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat
hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat
defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah
yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil
samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan
peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5
mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak
mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam

sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum
tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopasieni; dan
ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung

4. Tanda dan Gejala


a. Tanda-tanda umum anemia:
1) pucat,
2) tacicardi,
3) bising sistolik anorganik,
4) bising karotis,
5) pembesaran jantung.
b. Manifestasi khusus pada anemia:
1) Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi
bakteri,

demam,

anemis,

pucat,

lelah,

takikardi,

ikterus,

hepatosplenomegali
Anemia defisiensi: konjungtiva

2)

pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8


gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik,
letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau
aktivitas

bermain.

Pasien

tampak

lemas,

sering

berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, pasien


tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir,
farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak
membesar

dan

terdengar

bising

sistolik

yang

fungsional.
5. Komplikasi
a. Gagal jantung
b. Parestisia
c. Kejang.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32%
(normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah,
iron binding capacity meningkat.

b. Kelainan laboratorium sederhana untuk masing-masing tipe anemia :


1) Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
2) Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total
naik, urobilinuria.
3) Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel
patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena
keganasan.
7. Penatalaksanaan
a. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma
ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan
infus IV apa saja.
b. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari.
Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan
infeksi sekunder, makanan dan istirahat.

8. WOC
Perdarahan
masif

Kurang
bahan baku
pembuat sel
darah

Penghancuran
Eritrosit yang
berlebih

Terhentinya
pembuatan sel
darah merah di
sum-sum tulang
belakang

Anemia

Anoreksia

Lemas

Cepat
Lelah

Resti ggn.
Nutrisi
kurang dari
kebutuhan

Kadar Hb

Komparten sel
penghantar oksigen/
zat nutrisi ke sel <

Prognosis
pengobatan

cemas

Gg perfusi
jaringan

Intoleransi
aktivitas

B. Tinjauan Kasus
1. Pengkajian
Adapun kemungkinan data yang didapat yaitu :
DS
: mudah lelah, pusing, nyeri perut, mual, muntah, anoreksia
DO
: pucat, napas pendek, nafas cepat, kadang-kadang terjadi
penurunan produksi urin, gangguan pada system saraf, pika,
cengeng, rewel atau mudah tersinggung, suhu tubuh meningkat
Nilai normal sel darah
Jenis sel darah
Eritrosit (juta/mikro lt) umur bbl 5,9 (4,1 7,5), 1 Tahun 4,6 (4,1 5,1), 5
Tahun 4,7 (4,2 -5,2), 8 12 Tahun 5 (4,5 -5,4).
Hb (gr/dl)Bayi baru lahir 19 (14 24), 1 Tahun 12 (11 15), 5 Tahun 13,5
(12,5 15), 8 12 Tahun 14 (13 15,5).
Leokosit (per mikro lt) Bayi baru lahir 17.000 (8-38), 1 Tahun 10.000 (5
15), 5 Tahun 8000 (5 13), 8 12 Tahun 8000 (5-12).
Trombosit (per mikro lt)Bayi baru lahir 200.000, 1 Tahun 260.000, 5 Tahun
260.000, 8 12 Tahun 260.000
Hemotokrit (%0)Bayi baru lahir 54, 1 Tahun 36, 5 Tahun 38, 8 12 Tahun 40.
Dasar Data Pengkajian Pasien
a. Aktivitas/Istirahat
Pasien pasien mengalami keletihan,kelemahan,penurunan
semangat,kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tandanya : pasien mengalami takikardia/takipnea,dispena pada saat
beraktivitas atau istirahat,letargi,menarik diri,apatis,lesu,dan kurang

tertarik pada sekitarnya,ataksia,tubuh tidak tegak,postur lunglai, dan


berjalan lambat.
b. Sirkulasi
Pasien pasien mengalami kelainan jantung congenital : palpitasi.
Tandanya : disritmia,abnormalitas EKG,bunyi jantung abnormal,pucat
pada kulit dan membran mukosa,sklera biru atau putih seperti
mutiara,pengisian kapiler melambat,kuku berbentuk seperti sendok,rambut
kering,mudah putus,menipis,tumbuh uban secara prematur.
c. Integritas Ego
Pasien pasien mengalami depresi
d. Eliminasi
Pasien pasien dapat mengalami gagal ginjal ,pielonefritis,flatulen,sindrom
malabsorpasieni,hematemesis,melena,diare atau konstipasi,penurnan
haluaran urine.
Tandanya : Pasien mengalami distensi abdomen
e. Makanan/Cairan
Pasien pasien dapat mengalami nyeri mulut/lidah,kesulitan
menelan,mual/muntah,dyspepasienia,anoreksia,dan adanya penurunan
berat badan.
Tandanya : Lidah tampak merah daging/halus,membrane mukosa
kering/pucat,turgor kulit buruk,kering,tampak kisut/hilang elastisitas
(DB),stomatitis dan glottis,inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah.
f. Higiene

Pasien pasien mengalami lemah ,penampilan tidak rapi


g. Neurosensori
Pasien pasien dapat mengalami sakit kepala,tinnitus,ketidakmampuan
berkonsentrasi,insomnia,penurunan penglihatan,dan bayangan pada
mata,kelemahan,keseimbangan buruk,kaki goyah.
Tandanya : peka terhadap rangsang,gelisah,depresi,cenderung
tidur,apatis,hemoragi retina,hepistaksis,ataksia,paralysis.
h. Nyeri/Kenyamanan
Pasien pasien dapat mengalami nyeri abdomen samara dan sakit kepala.
i. Pernapasan
Pasien pasien dapat mengalami riwayat penyakit paru bawaan,abses
paru,napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tandanya : takipnea,ortopnea,dan dispnea
j. Keamanan
Pasien pasien memiliki riwayat terpajan pada radiasi,baik sebagai
pengobatan, atau kecelakaan,tidak toleran terhadap dingin dan/atau panas.
Transfusi darah sebelumnya,gangguan penglihatan,penyembuhan luka
buruk,sering infeksi.
Tandanya : Demam ,menggigil,berkeringat malam,limfadenopati,petekie
dan ekimosis.
k. Penyuluhan/Pembelajaran
Kecenderungan diarahkan pada keluarga pasien.
9

Sumber : Doengoes,Marilynn .E ,2000.


2. Diagnosa
a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten
seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
b. Intoleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya
kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
c. Perubahan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan kurangnya selera makan.


d. Ansietas/cemas b/d prognosis pengobatan

3. Intervensi
No Dx.
1

Tujuan
Intervensi
Setelah diberikan
askep
selama
3x24
jam
diharapkan
perfusi jaringan
kembali normal
dengan criteria
hasil :
TTV (TD :
110/70120/80mmHg
, N : 60100x/menit,
R
:
1620x/menit,
S
:
3637,50C)
Warna kulit
tidak pucat
Membrane
mukosa
lembab
Tidak
ada
rasa nyeri
Tidak
ada
keterlambata
n
respon

Intervensi
1. Memonitor
tanda-tanda vital,
pengisian kapiler,
wama kulit,

Rasional
1. Untuk
mengetahui
perkembangan pasien
sehingga
dapat
menentukan intervensi
yang tepat.

membran mukosa.
2. Meninggikan
posisi kepala di
tempat tidur

3. Memeriksa dan
mendokumentasik
an adanya rasa
nyeri.
4. Observasi adanya
keterlambatan
respon verbal,
kebingungan, atau

2. Meningkatkan
ekspansi paru dan
memaksimalkan
oksigenasi
untuk
kebutuhan seluler.
3. Iskemia
seluler
mempengaruhi
jaringan
miokardial,atau
potensial risiko infark.
4. Dapat
mengidentifikasi
gangguan
fungsi
serebral,karena
hipoksia
atau
defisiensi vitamin B12.

10

verbal,
kebingungan
atau gelisah
Pernapasan
pasien
normal (tidak
memerlukan
tambahan
oksigen)

gelisah
5 pertahankan suhu
lingkungan agar
tetap hangat sesuai
kebutuhan tubuh.

5. Vasokonstriksi
ke
organ
vital
menurunkan sirkulasi
perifer.Kenyamanan
pasien/kebutuhan
rasa hangat harus
seimbang
dengan
kebutuhan
untuk
menghindari panas
berlebihan pencetus
vasodilatasi.
(penurunan perfusi
organ)

Memberikan
oksigen sesuai
kebutuhan.

Setelah diberikan
asuhan
keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan
intoleransi
aktivitas
dapat
diatasi
dengan
criteria hasil :

Px.
Mampu
melakukan
aktivitas sesuai
dengan
perkembangan
pasien
seusianya.

TTV
dalam
batas
normal ( TD :
110/70-120/80

Menilai
kemampuan

6. Memaksimalkan
transpor oksigen ke
jaringan.

Mempengaruhi
pilihan
intervensi/bantuan

pasien dalam
melakukan
aktivitas
sesuai
dengan
kondisi
dan

fisik
tugas

perkembanga
n pasien.
Memonitor
tanda-tanda

Manifestasi
kardiopulmonal dari
upaya jantung dan
paru
untuk
membawa jumlah o2
adekuat ke jaringan.

11

mmHg, N : 60100x/menit, R :
16-20x/menit,
S : 36-37,50C)

Tidak
terdapat gejalagejala
peningkatan
denyut jantung,
peningkatan
tekanan darah,
nafas
cepat,
pusing
atau
kelelahan

vital

selama

dan

setelah

melakukan
aktivitas, dan
mencatat
adanya
respon
fisiologis
terhadap
aktivitas
(peningkatan
denyut
jantung
peningkatan

Memberikan dasar
pengetahuan
sehingga
keluarga
diharapkan
dapat
membuat
pilihan
yang tepat.

tekanan
darah,

atau

nafas cepat
Memberikan
informasi kepada
pasien

atau

keluarga

untuk

berhenti
melakukan
aktivitas

jika

terjadi
gejala-gejala
peningkatan
denyut

jantung,

peningkatan
tekanan

darah,

Menurunkan ansietas
pasien, dan dapat
meningkatkan
kerjasama
dalam
kepatuhan
melakspasienan

12

nafas

cepat,

pusing

program terapi.

atau

kelelahan).
Berikan
dukungan
kepada

pasien

untuk melakukan
kegiatan

sehari

hari

sesuai

dengan

Membantu
pasien
dan keluarga dalam
memahami program
terapy
dan
terbinanya
sikap
saling percaya antara
pasien
dan
tim
terapis.

kemampuan
pasien
M

embuat

jadwal

aktivitas
bersama
dan

pasien
keluarga

dengan
melibatkan

tim

kesehatan lain.

Setelah diberikan
asuhan
keperawatan
selama 3x24jam
diharapkan
kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi
dengan criteria
hasil :
Nafsu makan
meningkat

Mengijinkan
pasien untuk
memakan
makanan
yang

Meningkatkan
rasa percaya pasien
pada
petugas,dan
meningkatkan
kualitas gizi pasien.

dapat

ditoleransi
pasien,

renc

13

Berat badan
pasien dalam
batas normal.
Karakteristik

pasienan

dan

kualitas

konsistensi

pada

feses

selera makan

pasien

untuk
memperbaiki
gizi
saat

normal

pasien

Px.

meningkat

mengetahui

peningkatan
asupan nutrisi,dapat
mengurangi
factor
resiko
yang
menunjang krisis

Meningkatkan
rasa percaya pasien
pada
petugas
kesehatan.

Mengawasi
penurunan
berat
badan atau aktivitas
intervensi nutrisi.

Meningkatkan
nafsu makan dan
pemasukan
oral,
menurunkan
pertumbuhan bakteri,
meminimalkan
kemungkinan
infeksi.

Berikan

cara

makanan

yang

pencegahan

disertai

warna gigi

suplemen nutrisi

dengan

untuk
meningkatkan
kualitas

intake

nutrisi.
Mengijinkan
pasien

untuk

terlibat

dalam

persiapan

dan

pemilihan
makanan
Mengevaluasi
berat

badan

pasien

setiap

hari.
Ajarkan

cara

mencegah
perubahan warna
gigi

akibat
14

minum

atau

makan zat besi


dengan

cara

berkumur setelah
minum

obat,

minum preparat
dengan air atau
jus jeruk

Gejala Gi dapat
menunjukkan
efek
anemia pada organ.

Kaji fases pasien

Setelah diberikan
asuhan
keperawatan
selama 1x24 jam
diharapkan
ansietas
pasien/keluarga
hilang/berkurang,
dengan criteria
hasil :
Px.
dan
keluarga
mengetahui
prosedur dan
tujuan
diagnosis
Px. mampu
mengekspresi
kan
perasaannya
Px
tidak
rewel

Libatkan orang
tua bersama
pasien dalam
persiapan
prosedur

Untuk meningkatkan
kepercayaan kepada
perawat sehingga
kerjasama dalam
proses terapi dapat
berjalan dengan baik.

diagnosis
Jelaskan tujuan
pemberian
komponen darah

Untuk mengurangi
ansietas pasien dan
keluarga.

Antisipasi peka
rangsang pasien,
kerewelan
dengan

Mengurangi tingkat stress


pasien sehingga
terapi dapat berjalan
dengan baik.

membantu
aktivitas pasien
Dorong pasien

Dengan mengekspresikan
mengekspresikan
perasaannya
diharapkan pasien
untuk

15

perasaan

dapat merasa lebih


mengontrol situasi,
menurunkan cemas
dan depresi serta
memudahkan prilaku
koping positif.

Berikan darah,
sel darah atau
trombosit sesuai
dengan
ketentuan,
dengan
harapan pasien
mau menerima

Memperbaiki atau
menormalkan jumlah
sel darah dan
kapasitas pembawa
oksigen untuk
memperbaiki
anemia, berguna
untuk mencegah atau
mengobati
perdarahan.

Memberikan
informasi

Memberikan dasar
pengetahuan
spesifik pada
sehingga pasien
keluarga.
dapat membuat
pilihan yang tepat.
Diskusikan
Menurunkan ansietas
kenyataan bahwa
dan dapat
meningkatkan kerja
terapi tergantung
sama dalam program
pada tipe dan
terapi.
anemia secara

beratnya anemia.

16

DAFTAR PUSTAKA
Arief, mansjoer. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Doengoes, marlynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
(http.// www.media.ilmukeperawatan.com). Dibuka pada tanggal 30 Mei 2009
pada pukul 15.00 Wita

.(http.//www.asuhankeperawatan.com). Dibuka pada tanggal 30 Mei


2009 pada pukul 16.00 Wita

17