TERAS

dan tujuan selamanya adalah melahirkan, apakah wanita bagi pria….? Permainan yang paling berbahaya,pria harus dididik untuk berperang dan wanita adalah untuk rekreasi bagi orang yang berperang itu, semua adalah kebodohan, anda mendapatkan wanita ? jangan lupa cambukmu, tentu saja pandangan Nictsche tersebut tak perlu di gubris. Bukankah hal itu semua sudah melampaui batas ?? Dengan kenyataan yang demikian ini banyaklah wanita dimana-mana sampai detik ini terkekang kesempatannya untuk berkembang sebagaimana mestinya sebanding dengan pria, dengan melihat kenyataan nasib wanita seperti diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita telah dijajah dan ditindas serta dihisap oleh kaum pria. Wanita diperlakukan semena-mena,tidak selayaknya dihargai dan dihormati sebagai manusia yang juga mempunyai hak-hak yang sama seperti pria,pendeknya nasib sebagai wanita rendah, pahit dan malang. Namun diluar itu banyak fakta berbicara bahwa tidak kurang wanita yang menjalankan peranan yang penting atau menyumbangkan pengaruhnya yang besar dalam kemajuan manusia dan masyarakat. Oleh karena kaum wanita (hawa) sejak dia diciptakan telah dibekali Tuhan rohani dan daya pikir yang sempurna sebagaimana kaum pria (Adam), maka dengan sendirinya wanita (kaum hawa) tidak mau menerima perlakuan terhadap dirinya begitu saja. Dia menyadari pula bahwa bagaimanapun juga dirinya adalah sama-sama manusia dengan pria, jadi sama-sama berhak untuk menduduki tempat yang sama dalam arti wanita memiliki nilai instrinsik (dalam dirinya sendiri) dan kemampuan yang sama tinggi baik teori maupun dalam praktek. Wanita dan pria mempunyai bidang tanggung jawab sendiri-sendiri,yang salah satunya tidak dapat dipisah-pisahkan, yang satu menjadi penguat yang lain,sehingga tercapailah kesuksesan apa yang dicita-citakan pria dan wanita tanpa mendapat kesulitan sedikitpun. Wanita memiliki kodrat manusiawi sepenuhnya dan dihadapan penciptanya wanita sama sempurna dengan pria. Mereka berdua sama-sama merupakan suatu kesatuan dalam realisasi manusia ciptaan Tuhan dan diadakan justru untuk saling melengkapi,tetapi kelengkapan hanya dapat dan mungkin terjadi dengan saling mencintai, yaitu terbuka untuk menerima dan menghargai atau memandang pihak lain “sederajat”. “Women, Was created from the rib of man, not from his head, to be a bove him, not his feat to be walked upon, but from this side to be aqual near his arm, to be proctected, and close to his heart to be beloved” (Dale s.Hardley)

ada abad yang silam sudah bukan rahasia lagi bahwa wanita dipandang lebih rendah daripada p r i a , ke m a n u s i a a n , ke m a m p u a n d a n peranannya tidak setinggi pria karena itu wanita tidak mendapatkan perlakuan dan penghormatan sebagaimana mestinya sebagai manusia. Pa n d a n g a n i t u d a p a t d i b u k t i k a n kebenarannya dalam sejarah kehidupan manusia pada jaman dahulu hingga jaman kini,hanya mungkin pandangan itu pada masa kini sudah tidak begitu tampak kejam tetapi masih tampak juga bekas – bekasnya. Pada jaman dahulu bangsa Israel sendiri yang terkenal sebagai bangsa yang terpilih,memandang bahwa wanita adalah jauh dibawah laki-laki. wanita dipandang sebagai tukang melahirkan anak saja, serta umumnya wanita hampir disamakan dengan babu, ternak atau harta milik lainnya. Anggapan tersebut diatas tidak hanya terdapat dikalangan bangsa Israel saja.tapi juga terdapat pada bangsa-bangsa lain diseluruh penjuru dunia ini. Misalnya saja di Tiongkok wanita tidak berhak atas memilih dan tidak diberikan pendidikan keilmuan sebab lapangan kerjanya adalah rumah tangga saja, mereka tunduk kepada ayahnya sebelum menikah dan sesudah menikah tunduk pada suaminya dan kalau janda tunduk pada anaknya. Selanjutnya di Tiongkok apabila wanita (istri) mendapat kesalahan maka suami dapat menjual istrinya dan istri tidak dapat memiliki hak untuk menuntut, suami boleh memukul istrinya tetapi istri harus ditampar seratus kali bila berani memukul suaminya, jadi betapa celakanya menjadi manusia sebagai wanita di Tiongkok pada masa itu. Sekalipun kemajuan jaman telah banyak membawa perubahan kehidupan manusia dengan segala seginya namun tidak dapat disangkal bahwa pada saat inipun masih terlihat juga gejala-gejala adanya anggapan rendah terhadap kemanusiaan dan kedudukan wanita dalam masyarakat. Misalnya saja dalam abad 19 Nictsche masih sangat memandang kaum wanita yang sangat menyakiti hati,dia berkata “ semua dalam diri wanita adalah teka –teki dan semuanya mempunyai satu jawaban saja yaitu “melahirkan anak”, pria bagi wanita adalah suatu daya

P

WANITA

No. 02 / Edisi April 2010

SAPA

03

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

“Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan dari kepalanya untuk menjadi diatas pria, juga bukan dari kakinya untuk diinjak-injak tetapi dari sisinya untuk menjadi sederajat, dekat dengan lengannya untuk dilindungi dekat dihatinya untuk dicintai”. Dengan demikian terdapatlah pandangan yang sebenarnya yang berlaku sepanjang masa bagi pria dan wanita,yaitu masing-masing sebagai partner yang saling melengkapi,terbukti kepemimpinan suami istri (pria dan wanita) dalam bidang rumah tangga mereka harus ada rasa keseimbangan di dalam mengatur urusan rumah tangga. Pekerjaan memimpin rumah tangga,memeliharanya, mengasuh anak-anak dan lain-lain, semua itu berkehendak pada ketelitian, ketenangan, kesabaran dan lebih sesuai dikerjakan oleh kaum wanita. Perlu ditegaskan bahwa walaupun kaum wanita pada umumnya diserahi memelihara rumah tangga dan mengasuh anak-anak tetapi tidaklah berarti bahwa bidang-bidang selain dari itu tertutup bagi kaum wanita, sebagai manusia pribadi atau anggota masyarakat, kaum wanita mempunyai

hak-hak dan tugas-tugas diluar rumah tangga,mereka berhak mencampuri urusan – urusan sosial dan kemasyarakatan, malah pada saat –saat tertentu dalam perjuangan bahkan peperangan mereka mempunyai tugas-tugas khusus yang sesuai dengan kemampuan dan kodrat kaum wanita. Sungguh tidak ringan tugas yang dibebankan Tuhan kepada kaum wanita di dalam rumah tangga,disamping kewajibannya mengurus dan menyelenggarakan rumah tangga, harta dan diri suaminya, dia juga harus dan berkewajiban mendidik anak-anaknya. Menghormati kaum wanita khususnya kaum ibu adalah hal yang penting dan paling utama,oleh ibulah anak itu dikandungnya dan dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati, oleh ibulah anak itu disusui dijaga dan dididiknya sampai ia menjadi dewasa, bahwa pendidikan dasar orang-orang itu adalah dari ibu, itulah sebabnya sorga itu dikatakn terletak dibawah telapak kaki ibu, sebab manusia-manusia yang memperoleh pendidikan yang baik dari ibunyalah yang kelak bisa menjadi manusia teladan dan yang bisa mengatur umat didunia ini. ( Yt )

OPINI
PEJUANG PEREMPUAN DAN PEREMPUAN PEJUANG
Oleh : Nuraini Ariswari
"Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang Modern dan Independen,yang melangkah penuh percaya diri dalam hidupnya,ceria dan kuat,antusias dan punya komitmen,bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya tetapi juga memberikan dirinya untuk m a sya ra ka t l u a s , b e ke r j a u n t u k ke b a i ka n sesamanya.Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas bergelora”. “Keadaan dan situasi disekeliling sungguh mengiris hatiku,membawa kepedihan yang dalam...... Bisa saja aku mengobrak abrik tradisi ini jika aki tidak terlihat kepada orang-orang yang memberikan kehidupan dan kepada mereka aku berhutang segalanya” Surat-surat Kartini pada Stela (Cute 2004) Berbicara tentang ,gerakan perempuan dinegeri ini,dan tidak akan lengkap tanpa menghadirkan sosok Kartini.Dia bukanlah seorang aktivis perempuan karena secara tidak langsung membuat suatu gerakan atau mengorganisir para perempuan untuk melakukan aksi publik.Kartini juga bukan seorang politikus atau negarawan karena ia tidak pernah aktif dipartai politik atau menjadi pemimpin di eksekutif atau legislatif.Dia juga bukan seorang pahlawan yang memanggul senjata untuk memimpin perang seperti Cut Nya'Dien,Nyai Ageng Serang,dll. Hidupnya sangat pendek.Ia meninggal dalam usia 25 tahun,4 hari setelah melahirkan putra pertamanya. Bukan karena kemiskinan,tetapi karena teknologi kedokteran,belum mampu mengatasi komplikasi yang dapat dialami perempuan pasca melahirkan kurang lebih 100 tahun kemudian,diawal abad 21 baru muncul Milenium Development Goals/MD GS,yang salah satu programnya adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI). Kartini hanya mampu menulis surat dari balik tembok Istana Kabupaten yang dia layangkan ke sahabat-sahabatnya dinegeri Belanda untuk mengungkapkan isi hatinya namun,dalam surat-surat tersebut ditemukan banyak gagasan yang Progresif Revolusioner tentang emansipasi perempuan,yang menjadi sumber Inspirasi bagi para aktivis perempuan sesudahnya. Kartini mendobrak penjara domestik ,dan m e n j a d i k a n p e r e m p u a n b e ra d a d i ra m a h publik,sejajar dengan laki-laki.“Perempuan harus menjadi subyek bukan obyek”. Perinsipnya betul. Perempuan menyatakan “perempuan harus merubah bukan dirubah yang berpengaruh dan bukan dipengaruhi.Perempuan harus mampu memahami bahwa akibat-akibat pemikiran yang menyimpang

04

SAPA

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

No. 02 / Edisi April 2010

tentang hakikat wanita dapat menyebabkan kehancuran seluruh peradaban manusia.Karena itu perempuan harus mampu mengenal dan mengetahui bahwa dirinya adalah penguat yang mampu mencapai derajat manusia yang mulia,menyinari sejarah yang abadi,memberdayakan,dan membangkitkan melalui sinarnya yang khas. Gagasan-gagasan Kartini dan Cetusan Ideide para tokoh laki-laki yang sudah respon gender,perlu diimplementasikan para aktivis perempuan.Budaya patriarki,yang beratus-ratus abad telah menjadi pola pikir hingga sekarang.Anehnya,kadang menimpa pejuangpejuang perempuan itu sendiri. M e to d e ko rs e l i n g te r h a d a p ko r b a n ata u pengembangan kasus,yang tidak disertai nalar perspektif gender,akan menjadi bumerang bagi para pejuang-pejuang perempuan yang menangani kekerasan terhadap perempuan, Konsep kesetaraan dan keadilan gender tampaknya harus terus menerus disuarakan,serta

upaya untuk menghilangkan praktik-praktik eksploitasi,kekerasan,dan marginalisasi terhadap perempuan harus pula diupayakan tidak putus. Perjuangan kearah kesetaraan dan keadilan gender,bukanlah perang perempuan melawan lakilaki,tetapi Ideologi pembebasan dan kesadaran berkordinasi,berbagi kuasa namun tidak saling menguasai. Perjuangan kesetaraan gender perlu mengalami Revitalisasi.Perjuangan tersebut harus diletakkan dalam konteks keadilan sosial yang lebih luas,yaitu membebaskan manusia dari segala bentuk diskriminasi atas dasar jenis kelamin,suku,agama,dan daerah asal.Dalam hal ini ketimpangan gender tidak hanya menjadi masalah perempuan,tetapi semua masalah anak bangsa.Demikian juga masyarakat yang berkeadilan gender tidak hanya menguntungkan perempuan tetapi juga laki-laki,karena majunya perempuan akan berimplikasi pada kemajuan seliruh masyarakat laki-laki dan perempuan.

KATA PEREMPUAN

SEMARAK BUSANA BATIK TALON OMBO

*Demikian kemandirian perempuan Wanita kelahiran Wonosobo 13 Juli 1973 mempunyai nama singkat dan sederhana yaituA Alfiah yang bersuamikan Atur Riyadi seorang supir bis Damri yang bercita-cita ingin membantu kaumnya menjadi wanita yang pinter dan mandiri. Berawal dari salah seorang warga yang menikahi wanita asal Purworejo bernama ibu Ngatur pandai membatik tapi prosesnya masih diselesaikan di Purworejo, dari kondisi tersebut maka timbul keinginan bu Alfi untuk membuat batik sendiri. Setelah desa Talon Ombo menjuarai lomba P2WKSS ibu kepala Desa mengumpulkan ibu-ibu untuk diberikan pelatihan membatik yang diajari langsung oleh ibu Ngatur. *Program yang dijalankan 5 Mei 2008 dilaksanakan pelatihan membatik dan mengecap dengan ciri khas Pekalongan dengan nara sumber dari Kota Batik Pekalongan. Pelatihan ini mendapat dukungan dari UMKM yang diprakarsai oleh Disperindak yang bekerja sama dengan pemerintah desa, adapun bantuan yang diterima berupa peralatan membatik dan pelatihan membatik. Pada tahun 2009 memperoleh pelatihan kembali guna meningkkatkan mutu batik yang berkualitas dari

I

majinasi adalah sumber kekayaan yang membawa alfiah memimpin kopersi batik Carika Lestari Talon Ombo menjadi ciri khas batik Wonosobo.

balai batik Jogjakarta. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dari bupati Wonosobo Drs. H. Kholik Arif karena sebagai karya yang bisa dibangakan di kota wonosobo dengan memberikan identitas seperti buah carika dan bunga purwaceng, adapun motif lain bercorak relief Candi, serat kayu, jamur, cabe, sekar jagad, dan lain-lain. Bantuan modal yang diterima berupa bantuan dari ADD Rp. 7 000.000,- (tujuh juta) pada tahun 2008, 5.000.000,- (lima juta) dari Disperindah tahun2008, dan Rp. 5.000.000,- (limajuta) dari BRI Wonosobo tahun 2009. *Tenaga dan Pemasaran Koperasi batik Carika Lestari Talon Ombo mempunyai 25 orang tenaga kerja hampir semua ibu rumah tangga yang berusia antara 20-35 tahun dan ibu-ibu PKK desa. Hal ini bertujuan agar mampu memberdayakan diri menjadi wanita yang mandiri supaya tidak ada ketimpangan gender dan dapat membantu ekonomi keluarga agar menjadi keluarga yang aman dan sejahtera. Pemasaran produk batik Talon Ombo berjalan lancar dan melalui koperasi sudah mampu menerima pesanan batik dalam jumlah yang relatif banyak dari instansi pemerintah kabupaten Wonosobo. Sistem pemasaran yang sudah dilakukan diantaranya dengan mengikuti pameran diantaranya: 1. Tahun 2008 Expo Wonosobo

No. 02 / Edisi April 2010

SAPA

05

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

Tahun 2008 Bazar Pasar Murah di Wonosobo 3. Tahun 2008 Gebyar akhir tahun di Semarang 4. Tahun 2009 Pameran Batik Ungaran 5. Tahun 2009 Pameran Batik di Magelang 6. Tahun 2009 Pameran di Surya Asia (acara GOW se jateng) *Kendala yang dihadapi 1. Permasalahan modal yang harus didapat 2. Perluasan Rumah produksi 3. Perluasan Pemasaran

2.

4. Tempat pembuangan limbah yang belum memadai. *Target yang diinginkan : batik Talon Ombo bisa berkembang pesat dan selalu meningkat mutu serta kwalitasnya, agar senantiasa di senangi khususnya warga Wonosobo dan bisa mencapai pemasaran di Jawa Tengah dan mampu bersaing dengan batik yang telah ada di kota lain. Bu alfiah juga berterima kasih dengan bapak Mukhasudin selaku kepala desa dan bapak Tarjo S.os (Camat Sapuran) yang telah mensuport dan membimbing serta memberikan motivasi demi kemajuan koperasi “Karika Lestari Talon Ombo” ( Ss )

KATA PEREMPUAN
menghabiskan waktu di taman Viktoria. Di taman Viktoria yang luas menjadi ruang publik di Hongkong adalah tempat salah satu tempat berkumpul para PRT dan tempat bertukar cerita, selain internet dan telepon dan dari situlah Bo Niok mulai menulis. Selain kegiatannya sebagai penulis Bo Niok juga aktif memberikan motifasi kepada masyarakat sekitarnya, dengan mendirikan Taman Bacaan Istana Rumbia dan mengajari warga untuk menulis. Banyak kontribisi yang telah diberikan oleh Bo Niok kepada warga desa hingga ia sering dipercaya warga untuk membantu menyelesaikan permasalahan seperti; membantu menyelesaikan keluh kesah (sebagai tempat curhat) bagi teman-temannya yang baru pulang kerja dari luar negeri, seperti penguatan psikis; rata-rata mereka yang baru pulang masih dengan kebiasaan konsumtif dan belum bisa mengatur keuangannya sehingga menimbulkan dampak konflik batin untuk mengalahkan ego diri. Melaui PKKBMI (Perkumpulan Korban Keluarga Buruh Migran Indonesia) sebagai forum berbagi pengalaman bersama teman yang tergabung di terminal 4 (empat) yang membahas kelanjutan hidup mereka untuk merubah nasib lebih baik dan tetap bertahan di negeri sendiri baik menjadi pengusaha atau kembali menjalani kehidupannya dengan semangat yang lebih baik. Dipercaya sebagai bendahara UMKM (Usaha Nopember Menengah Kecil Mandiri) ia berusaha mengembangkan perekonomian desa. 2008 mendapatkan bantuan dari Setda PP kabupaten Wonosobo 20 juta (dua puluh juta) sebagai modal bergulir hingga berkembang mencapai 28 juta (dua puluh delapan juta) dengan jumlah anggota 45 orang dan 25 orang yang baru mendapatkan batuan sebesar 1,5 juta perorang. Usaha makanan khas Wonosobo yang dikelola melibatkan banyak orang untuk dipekerjakan, mulai dari pengadaan bahan dasar, pengolahan, pengepakan sampai ke proses pemasaran.

TERAPI DENGAN MENULIS
Bermodal pena dan kertas sebagai media untuk menuangkan segala keresahan, kegelisahan kekecewaan dan kesedihan sampai kisah asmara semua bisa tertulis disana. Dengan menulis semua curahan hati akan terobati sebagai kepuasan tanpa orang lain mengetahui lembaran coretan yang kita tulis karena bisa dibuang begitu saja atau juga bisa dibukukan sebagai kumpulan kisah pribadi, begitulah ungkap Maria Bo Niok ketika tim SAPA mewawancari di kediamannya di desa Pasunten, Leksono (Rabo, 13 Januari 2010) Siti Marian Ghozali atau lebih dikenal dengan Maria Bo Niok adalah aktifis perempuan yang telah mengharumkan kota Wonosobo dengan prestasinya sebagai penulis buku yang karyanya bisa kita jumpai di toko-toko buku ternama. Selain itu juga dia sering menjadi nara sumber dibeberapa acara yang ditayangkan di media elektronik maupun diacara bedah buku yang dilakukan oleh even organiser. Kisah menarik tentang Maria Bo Niok, awalnya dia sebagai pengusaha yang mempekerjakan empat pekerja rumah tangga atau PRT. Kebakaran pasar Wonosobo tahun 1995 yang juga menghanguskan empat tokonya membuat keadaanya berbalik 180 derajat, untuk mengatasi kondisi dimana dia juga terjerat hutang dan waktu itu baru bercerai dengan suaminya yang suka berjudi salah satu jawaban pada tahun 1996 berangkat ke Hongkong untuk menjadi PRT. “kalau mau kerja lain, belum tentu saya bisa melunasi utang dengan cepat, maklum saya hanya tamat SMA” ucap ibu yang meiliki 6 orang anak. Menjadi PRT untuk yang kedua kalinya di Hongkong tidak hanya dipakai untuk bekerja tapi juga menambah ketrampilannya, waktu libur Bo Niok mengambil kursus bahasa china, teakwondo dan

06

SAPA

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

No. 02 / Edisi April 2010

KATA PEREMPUAN
Sesungguhnya pemerintah sudah menyediakan fasilitas-fasilitas baik kesehatan, pendidikan maupun ketrampilan. Dari program PKK pun juga mengupayakan untuk memajukan perempuan, seperti di bidang Pendidikan dengan memberikan life skill untuk masyarakat yang buta aksara, pengembangan minat baca dan perpustakaan Desa/Kelurahan, pengelolaan perpustakaan TP PKK Kab. Wonosobo dsb. Untuk bidang kesehatan, sudah membaik dengan dilihat angka kematian ibu hamil dan bayi menurun, gizi buruk sudah tidak ada. Dan di tahun 2010 ini, PKK akan mengusahakan m e n g a d a ka n p e l a t i h a n - p e l a t i h a n u nt u k mengembangkan sumber daya manusia. Apa kendala-kendala yang dihadapi dalam memajukan perempuan? Memang ada beberapa kendala-kendala yang dihadapi antara lain kultur budaya, dimana sebagian perempuan tinggal di pedesaan masih menganggap bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena tanpa sekolah tinggi pun sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang. Selain itu perempuan yang sakit atau hamil masih belum mau periksa ke dokter atau bidan padahal fasilitas sudah disediakan oleh pemerintah. Apa yang menjadi harapan ibu bagi perempuan di Wonosobo ? 1. Kesadaran akan pendidikan yang merata dan meningkat 2. Perempuan mejadi energi dalam keluarga 3. Apabila perempuan memiliki pendidikan, ketrampilan dan kesehatan yang prima maka akan berpengaruh kepada keluarga. 4. Di masa global perempuan lebih jeli dalam menjaga keluarga dari bahaya Narkoba dengan membekali dan agama 5. Bagi perempuan-perempuan yang sudah bekerja hendaklah keluarga tetap menjadi prioritas utama. ( Et)

WAWANCARA DENGAN

IBU AINA LIZA KHOLIK, SS
bu Aina Liza Kholik, SS kelahiran Banjarmasin 24 April 1978, mempunyai 3 orang putra dan 1 orang putri. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Penggerak PKK Kab. Wonosobo, Ketua DEKRANASDA Kab. Wonosobo, Penasihat Dharma Wanita, Penasihat GOW dan Penasihat PKK. Berikut ini wawancara Tim SAPA dengan beliau mengenai pandangan beliau tentang perempuanperempuan di Wonosobo. Bagaimana pandangan Ibu Aina sebagai perempuan No. 1 di Wonosobo mengenai perempuanperempuan Wonosobo? Perempuan di Wonosobo sebagian sudah mandiri dan banyak yang menjadi tulang punggung keluarga dan membantu suami mencari nafkah, mereka juga pekerja keras bahkan bisa dikatakan sebagai ibu pejuang. Terbukti ada banyak kegiatan-kegiatan yang didominasi oleh perempuan. Bisa dikatakan perempuan wonosobo adalah perempuan yang produktif. Bagaimana dengan kesempatan perempuan wonosobo untuk mendapatkan pendidikan? Banyak perempuan-perempuan di Wonosobo yang sudah mendapatkan kesempatan sampai ke Perguruan TInggi dan bekerja baik di Pemerintahan maupun swasta. Tapi memang tidak dipungkiri, bahwa sebagian perempuan, khususnya yang di daerah-daerah yang belum memperoleh pendidikan yang tinggi hal ini bisa disebabkan karena kultur budaya, mereka menganggap bahwa perempuanperempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan juga pengaruh bahwa tidak perlu sekolah tinggi saja asal mau bekerja bisa dapat uang. Upaya-upaya apa yang dilakukan guna memajukan perempuan?

I

CURHAT

12 HARI MENCARI CINTA SEJATI
asih terngiang jelas suaranya yang lantang dan tegas memanggilku ibu, dia adalah gadis kecil yang pernah tinggal selama 12 hari di shelter (rumah aman) UPIPA. Sebut saja Luna, anak yang cerdas dan pemberani ia juga mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Diusianya yang baru 9 (Sembilan) tahun dimana dia masih ingin dimanja, diperhatikan dan diberi kasih sayang serta pelukan hangat dari seseorang yang sepatutnya memberikan itu semua yaitu kedua orang tua dan keluarganya,

M

tetapi yang terjadi hanyalah keadaan yang sebaliknya, dia harus menerima sebuah kenyataan pahit sendiri. Berawal dari sebuah perceraian, waktu itu usaianya masih 3 tahun, kemudian dibawa bapaknya pergi dan terpisah dari ibunya. Hal ini sengaja dia lakukan yaitu memisahkan Luna dari ibunya. Selama terpisah dari ibunya Meda , bapaknya Ujang (bukan nama sebenarnya) yang tidak memiliki pekerjaan

No. 02 / Edisi April 2010

SAPA

07

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

tetap membuat dia kerepotan mengurusi anaknya yang masih kecil, lalu dia menitipkan Luna di saudara jauhnya yang sering dipanggil nenek untuk mengasuhnya. Karena penghasilannya tidak menentu dan jarang menjenguk anaknya maka neneknya memberikan Luna kepada teman berdagangnya di pasar untuk mengasuhnya sebagai anak angkat. Luna disekolahkan oleh orang tua asuhnya di TK yang cukup maju di kota Wonosobo, karena tidak memiliki anak maka rasa kasih sayang tercurah dari orang tua angkatnya, hingga dia juga disekolahkan MI (Madrasah Ibditaiyah) setara SD ternama juga di Wonosobo. Sesuatu hal telah terjadi, yaitu kejadian yang membuat orang tua angkatnya berang, menurut pengakuannya, bapaknya Luna sering datang dan meminta uang, dan hal ini dilakukannya berulang kali. Tapi ada hal yang lebih membuat kita tercengang yaitu Luna juga memiliki kebiasaan buruk yaitu mengambil uang orang tua angkatnya. Sejak kejadian tersebut maka Luna yang baru duduk di kelas satu dikembalikan kekeluarganya, dan sudah tidak mau membiayai sekolahnya. Luna kembali kekeluarganya yang tinggal di tengah jantung kota Wonosobo, yang berjarak 1 (satu) km dari sekolahnya. Luna ikut nenek yang bukanlah nenek kandung, dia nenek iringan yang juga serumah dengan anaknya yang sudah berkeluarga. Keadaan ekonominya pas-pasan, neneknya tidak punya pekerjaan tetap dan Omnya hanyalah buruh harian disebuah toko Meubel. Untuk biaya sekolah Luna diperoleh dari donatur Sekolah yang biasa membantu anak-anak tidak mampu di sekolah itu. Dan untuk uang saku dia mendapat jatah dari guru kelasnya setiap hari. Tubuhnya yang tampak kurus, membuat matanya terlihat besar bulat, rambut sedikit ikal, kulit kuning langsat dia anak yang yang cantik. Sore itu dia ditemukan di depan rumah yang tidak jauh dari kantor UPIPA, dengan mengenakan piama dan tidak membawa apapun dia pergi dari rumah dan ketika ditanya oleh pak Edi yang mengantarkan ke UPIPA dia sudah tidak mau tinggal dengan neneknya. Kemudian pak Edi mencari informasi tentang keluarganya, hingga Om dan tante Luna datang menjenguknya dan ingin membawa pulang ke rumah. Tetapi Luna tidak mau ikut, dia ingin tinggal dipantai asuhan saja. Karena alasan tersebut maka om dan tantenya meninggalkannya di Shelter UPIPA . Selama tinggal di shelter Luna tidak sendiri, saat itu ada 6 anak-anak seusianya yang tinggal di shelter karena kasus kekerasan dalam rumah tangga. Mereka saling bercerita tentang kehidupannya, mereka lebih sering bercanda dan lebih tampak bahagia. Berselang 5 hari keenam anak yang lebih dulu tinggal di shelter musti pindah tempat mereka harus berangkat ke sekolah lagi dan dua dari mereka ada yang pulang ke pantai asuhan. Lunasangat

kesepian dia belum mulai beragkat ke sekolah, karena serangam dan keperluan sekolahnya belum diantar ke shelter. Mendengar cerita tentang pantai asuhan maka dia juga tertarik untuk bisa sekolah dan tinggal di pantai asuhan. Pihak UPIPA pun berusaha untuk menghubungi keluarganya yang di Wonosobo, mengenai keberadaan orang tua Luna yang sebenarnya tapi tidak ada jawaban yang jelas. Pernyataan Luna selama ini bahwa ibunya telah meninggal dunia dan dia juga jarang bertemu dengan bapaknya karena sudah menikah lagi dan tidak diketahui keberadaannya. Karena alasan tersebut maka pihak UPIPA berusaha menghubungi pantai asuhan yang memiliki fasilitas sekolah formal. Ahkirnya pihak UPIPA mendatangi neneknya untuk memberitahukan bahwa Luna ingin tinggal di pantai asuhan, dan meminta surat keterangan keluarga yang menyatakan status yatim/piatu, dan belum ada jawaban yang pasti Omnya hanya pasrah ke UPIPA. Ada dua pilihan pantai asuhan yaitu di Manggisan dan di Kepil, dan yang Luna pilih adalah manggisan dengan harapan mudah untuk dijenguk karena masih di kota Wonosobo. Saat kami menungggu kabar dari keluarganya, tiba-tiba ada telepon ke shelter yang mengaku dari orang tua Luna yang berada di Bandung, dan melarang kami untuk memasukkan Luna ke pantai asuhan, penjaga shelter hanya mengiyakan dan menunggu mereka datang. Senin Pukul 10.30, mereka datang secara tiba-tiba satu mobil inova yang berisikan kakek, nenek, paman, bibi, ibu dan adik Luna dari suami keduanya. Dengan membawa foto waktu Luna masih berumur 3 (tiga) tahun, ibunya berusaha menyakinkan bahwa Luna adalah anaknya. Beberapa menit kemudian setelah mereka istirahat dan hanya sekedar minum teh, pengelola shelterpun membangunkan Luna, karena masih ngantuk Luna hanya terdiam, setelah bertemu dengan keluarganya dia langsung lari ke ketiak kakeknya dan larut dalam kerinduan dipangkuannya. Semua tertegun dan hanya air mata yang bicara, ibunya heran melihat anaknya sudah tumbuh tinggi dan besar. “Enam tahun kami terpisah, bapaknya sangat kejam memisahkan kami, dengan perginya Luna dari rumah kemarin merupakan berkah sehingga kami bisa bertemu kembali”: tutur ibunya sambil tak henti-hentinya meneteskan air mata. Setelah saling melepas rindu, maka pihak keluarganya akan membawa Luna ke Bandung, disaksikan oleh ibu ketua UPIPA penyerahan kembali Luna kepada keluarganya berakhir hingga Luna meninggalkan shelter malam itu juga. Sekarang Luna hidup bahagia bersama ibu, bapak dan adik barunya. Lalu dia pindah sekolah di SD Negeri di Bandung, diapun sering telepon ke UPIPA sebagai tanda terima kasihnya, Pesan cerita:

08

SAPA

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

No. 02 / Edisi April 2010

Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan kabulnya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan

keburukan serta diterlantarkan seperti hewan ternak, nscaya dia akan menjai orang yang celaka dan binasa. Keadaan fitrahnya akan senantiasa siap untuk menerima yang baik atau yang buruk dari orang tua atau pendidikannya. (Jamaal'Abdul Rahman,Tahapan Mendidik Anak,IBS, 2005, hal 5).

MITOS ATAU FAKTA

MITOS DAPATKAN BAYI LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN.

M i t o s d a n fa k ta s e p u ta r b a ga i m a n a mendapatkan jenis kelamin bayi yang diinginkan masih tetap menjadi pembicaraan yang menarik dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Konsultan ginekologi obstetric dan endokrin reproduktif dari Brawijaya Women and Children Hospital Jakarta, Prof. Dr. dr. Med. Ali Baziad, Sp.OG (K) mengatakan jika memang kemudian jenis kelamin yang didapat sesuai dengan harapan, sebenarnya itu hanya faktor kebetulan saja. “Terus terang saja, itu hanya mitos dan testimoni yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah,” tegas Prof. Ali. Nah, agar Anda tak makin bertanya-tanya, berikut sejumlah fakta yang dipaparkan Prof. Ali seputar kiat mendapatkan anak laki-laki atau perempuan. Cuka vs Soda Kue Mitos : Beberapa orang percaya dengan mengondisikan vagina dalam keadaan asam atau basa dapat mempengaruhi terjadinya anak laki-laki dan perempuan. Misalnya, jika sebelum berhubungan seks istri membasuh vaginanya dengan larutan soda kue, bisa mendapatkan anak laki-laki. Sedangkan jika vaginanya dibasuh dengan larutan cuka, akan didapat anak perempuan. Fakta : Vagina dalam kondisi alami memiliki pH

yang rendah atau asam. Pada kondisi ini bakteri dapat berkembang baik dan menekan perkembangan bakteri patogen. Meski demikian, pada kondisi asam sel sperma tetap dapat berenang dengan baik untuk mencapai sel telur di dalam tuba. Jika suasana ini diubah dengan tujuan menyortir sel sperma XX atau XY, tetap tak bisa menjamin 100 persen akan tersortir sesuai keinginan pasangan. Daging vs Sayur Mitos : Mengonsumi jenis makanan tertentu juga dipercaya bisa mempengaruhi pH vagina dan kualitas sel sperma, sehingga dapat memperbesar kemungkinan mendapat anak laki-laki atau perempuan. Contohnya, jika istri banyak makan sayuran dan suami banyak makan daging, bisa didapat anak perempuan. Demikian pula sebaliknya. Fakta : Mitos ini, menurut Prof. Ali, tetap sulit dipertanggungjawabkan, karena tak ada penjelasan logis yang bisa menerangkan manfaat langsung dari mengonsumsi jenis makanan tadi. Jika dilakukan pun, tak menjamin harapan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu benar-benar akan terwujud. “Kalaupun ada yang berhasil, itu hanya faktor kebetulan saja.”, tegas Prof. Ali. (mtY).

No. 02 / Edisi April 2010

SAPA

09

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

PROFIL

Romyatul Laila, SH, (almh ) Penata Tingkat I/III/d yang menjabat sebagai Kasubag PUG Bagian PP d a n PA S etd a ka b u p ate n Wo n o s o b o, meninggalkan kita semua pada usia 48 tahun. Bersuamikan Tri Hendarto, BA dan memiliki tiga putra tercinta; Syahdat Arsal Gumilang (21 th), Syaukat Akmal Ghofar (15 th), dan Syaima Sabine Fasawwa (12 th). Beralamatkan di Perum Griya Argopeni Indah Blok B-14 RT 01/RW XI kelurahan Kalianget Wonosobo. Ceria , periang, pintar dan bijaksana itu yang selalu teringat ketika mengenang mbak Lela panggilan akrabnya. Semangat juang yang tinggi dalam peran sertanya membangun

perempuan di kota Wonosobo pelalui berbagai kegiatan yang ia emban. Dari kegiatan ke kegiatan yang selalu membawa tema perempuan di situ mba Lela selalu ada untuk berbagi ilmu dan memberi support ke pada kaun hawa dengan tujuan dan harapan untuk memajukan perempuan supaya berdaya dan mandiri. Banyak daerah-daerah binaan program perempuan di Wonosobo yang telah mbak Lela kelola, dan mereka semua selalu terkesan dengan itikad baiknya, selamat jalan mba Lela… (Z)

10

SAPA

Suara Aspirasi Perempuan dan Anak Wonosobo

No. 02 / Edisi April 2010