You are on page 1of 8

1.

Unsur Hara Nitrogen (N)


Nitrogen adalah unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting di
dalam sel, di antaranya protein, DNA dan RNA. Kandungan atmosfer sekitar 80%
adalah nitrogen (N2), namun tidak ada yang secara langsung dapat digunakan oleh
tanaman. Sementara itu, keberadaan dan ketersediaan senyawa nitrogen dalam
tanah sangat terbatas, terlebih dari sifat senyawa nitrogen yang mudah hilang
(leaching). Untuk itu, pemanfaatan N2 bebas dari udara melalui penambatan (fiksasi)
merupakan hal penting untuk meningkatkan ketersediaan nitrogen bagi tanaman.
Penambatan nitrogen merupakan proses biokimiawi di dalam tanah yang
memainkan salah satu peranan paling penting, yaitu mengubah nitrogen atmosfer
(N2, atau nitrogen bebas) menjadi nitrogen dalam persenyawaan/ nitrogen tertambat
yang melibatkan peran mikroba tertentu.
Mikroorganisme seperti bakteri dapat dimanfaatkan untuk menyediakan atau
memfiksasi nitrogen bebas yang berada diudara yang kemudian diubah menjadi
senyawa nitrogen sehingga keberadaanya menjadi tersedia untuk tanaman dan
dapat dipergunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Terdapat
berbagai penelitian mengenai pemanfaatan mikroba dengan tujuan mampu
menyediakan unsur hara N untuk tanaman budidaya.
Berdasarkan jurnal Rhizobium: Pemanfaatannya sebagai Bakteri Penambat
Nitrogen yang ditulis oleh Sari dan Retno (2015) fiksasi (penambatan) nitrogen
merupakan proses biokimiawi di dalam tanah yang memainkan salah satu peranan
paling penting, yaitu mengubah nitrogen atmosfer (N2, atau nitrogen bebas) menjadi
nitrogen dalam persenyawaan/nitrogen tertambat. Terdapat genus bakteri yang
mampu mengikat N2 bebas, tetapi hanya dapat hidup jika bersimbiosis dengan
tanaman dari suku Leguminoceae, yaitu genus Rhizobium. Kemampuan bakteri
Rhizobium menambat nitrogen telah banyak dilaporkan. Diperkirakan dalam
setahun, bakteri ini mampu menambat N udara antara 50 - 600 kg/ha. Angka
sebesar itu, jika disetarakan dengan pupuk urea menjadi sekitar 100 - 1300 kg/ha.
Pemberian bakteri simbiotik penambat nitrogen diharapkan dapat menambah
sumber nitrogen yang murah sehingga membantu mengurangi biaya produksi,
mengingat pupuk kimia urea harganya semakin mahal dan penggunaan terusmenerus pupuk kimia tersebut dapat mencemari lingkungan.
Pada jurnal penelitian dikatakan bahwa Rhizobium masuk ke dalam akar
legum melalui rambut akar atau secara langsung ke titik munculnya akar lateral.
Rambut akar merupakan bagian tanaman yang pertama kali dapat memberikan
respon karena terinfeksi Rhizobium. Di dalam bintil akar tidak hanya terdapat satu
strain Rhizobium saja, mungkin dua atau lebih strain hidup bersama-sama di dalam
satu bintil akar. Meskipun demikian, beberapa genus hanya ditemukan pada
tanaman inang tertentu (spesifik) saja. Strain Rhizobium mampu menginfeksi legum
dengan melepaskan polisakarida spesifik yang menyebabkan lebih banyak aktivitas
pektolitik oleh akar. Beberapa berpendapat bahwa robekan mekanik terjadi di mana

Rhizobium masuk ke dinding rambut akar yang pecah dan Rhizobium terperangkap
sampai rambut akar yang telah berubah bentuk terbungkus kembali (Dewi, 2007).
Dewi (2007) menyatakan terbentuknya nodula akar dimulai dengan
masuknya infeksi benang dan berpenetrasi ke dalam akar dari sel ke sel. Sel ini
terbagi membentuk jaringan nodula di mana bakteri ini membelah dan
menggandakan diri. Batas pemisah pun berkembang, lokasi pusat di mana bakteri
berada dinamakan zona bakteri yang ditandai dengan adanya nodula dari bakteri
yang menyerangnya, sedangkan jaringan bebas dinamakan korteks nodula.
Jaringan nodula tumbuh dalam berbagai ukuran, mendorong dirinya melalui akar
dan kemudian muncul sebagai tambahan dalam sistem perakaran. Ukuran dan
bentuknya bergantung pada spesies dan tanaman legumnya.
Pada jurnal Mekanisme Penambatan Nitrogen Udara oleh bakteri
Rhizobium Menginspirasi Perkembangan Teknologi Pemupukan Organik yang
Ramah Lingkungan yang ditulis oleh Adnyana (2012) mekanisme bakteri Rhizobium
menginfeksi tanaman jenis legume tepatnya pada daerah rizosfer, daerah ini
merupakan tempat ideal bagi tempat berkumpulnya mikroba karena di daerah ini
terdapat banyak jenis substrat organik yang dikeluarkan tanaman seperti hormon,
lektin dan enzim-enzim perombak senyawa organik (Battisti et al., 1992; Singh et al.,
2008). Semakin tinggi jumlah bahan organik, populasi mikroorganisme juga semakin
tinggi. Dugaan bahwa sebelum sel bakteri menginfeksi tanaman inang didahului oleh
adanya senyawa protein spesifik yang disebut inducer yang dikeluarkan tanaman
sebagai signal yang dikenal bakteri (Battisti et al., 1992; Long, 1995; Singh et al.,
2008). Selanjutnya, bakteri mengeluarkan senyawa lipo-oligosakarida atau
selanjutnya disebut nod factor. untuk perintah pembelahan sel inang. Oleh karena
itu, diduga simbiosis dapat terjadi ditentukan oleh kecocokan masing-masing
substrat yang dihasilkan (Long, 1995; Foyer dan Noctor, 2004; Werner dan Newton,
2005).
Mekanisme penambatan nitrogen secara biokimia belum dipahami secara
pasti. Walaupun demikian, dalam reaksi reduksi nitrogen menjadi amonia dibutuhkan
komponen-komponen utama seperti: (i) N2 sebagai elektron akseptor; (ii) ATP
sebagai sumber energi, (iii) NADPH2 sebagai rantai transfer elektron, feredoksin
merupakan sumber elektron, (iv) nitrogenase (enzim yang mengkatalis reaksi)
(Lawn, 1975; Foyer dan Noctor, 2004; Werner dan Newton, 2005).
Bakteroid membutuhkan sejumlah energy untuk membentuk tenaga reduksi
(misalnya NDPH2, feredoksin) dan ATP untuk mengendalikan reaksi. Energi
didapatkan dari fotosintat tanaman inang. Sukrose, glukose, dan asam-asam organik
ditranslokasikan ke dalam nodul dan oksidasi dari bahan-bahan ini menghasilkan
energi (fosforilasi oksidatif). Proses respirasi ini membutuhkan sejumlah oksigen,
yang diikat oleh leghaemoglobin di sekitar bakteroid. Mekanisme kerjanya sama
dengan leghaemoglobin yang terdapat pada darah mamalia yaitu sebagai pembawa
oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi. Enzim nitrogenase, yang
mengkatalis reduksi N2 terdiri atas dua komponen yaitu protein Fe-Mo dan protein

Fe-S. Hasil akhir dari reaksi reduksi N2 adalah amonia (NH3) melalui hasil antara
berupa senyawa diimida dan hidrasin (Goodwin dan Mercer, 1983). Faktor-faktor
yang mempengaruhi penambatan nitrogen adalah (i) suplai fotosintat, (ii) aerasi, (iii)
temperatur, (iv) pH tanah dan (v) ketersediaan hara nitrogen.
Lintasan reaksi amonia menjadi nitrogen organik diperankan oleh aktivitas
dua jenis enzim yaitu glutamin sintetase (GS) dan glutaminamida (2-oksoglutarat
aminotransferase)-oksidoreduktase NADP (Gambar 2). Reaksi ini terjadi di dalam
sel tanaman. Di dalam sel tanaman, terdapat inti yang bertanggung jawab terhadap
terlaksananya sintesis protein. Senyawa nitrogen organik yang menjadi dasar
penyusun protein adalah gugus asam amino (Goodwin dan Mercer, 1983).
Selain pemanfaatan bakteri Rhizobium pada jurnal Pengujian Kapasitas
Penambat Nitrogen Azotobacter sp Indigen dan Eksogen Secara In-Vitro pada
Tanah Andisol Areal Pertanaman Teh yang ditulis oleh Pranoto dan Mieke (2014)
Mikroba tanah pemfiksasi nitrogen mempunyai peranan penting dalam membantu
tersedianya berbagai hara nitrogen yang berguna bagi tanaman. Keberadaan
mikroorganisme tanah sangat penting dalam proses mobilisasi dan mineralisasi hara
sehingga tersedia untuk tanaman.
Penelitian ini dibatasi pada Azotobacter sp sebagai mikroorganisme
penambat nitrogen non-simbiotik. Penambatan nitrogen terjadi karena adanya enzim
nitrogenase. Zinniel et al. (2002) menginformasikan bahwa bakteri penambat
nitrogen juga dapat meningkatkan penyerapan mineral, fiksasi nitrogen, mengurangi
kerusakan akibat perubahan cuaca dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap
penyakit, serta menghasilkan fitohormon asam asetat indole-3 (IAA) dan sitokinin
yang dapat memacu pertumbuhan akar dan tajuk (Setiawati et al., 2009).
Bakteri penambat N2 Azotobacter adalah bakteri aerob yang mudah
ditemukan di rizosfer berbagai tanaman. Rhizobacteria azotobacter dapat menambat
N2 secara bebas meskipun kapasitas fiksasinya lebih rendah daripada bakteri
simbiotik yang dapat menyediakan N terfiksasi sampai 100-300 kg N/ha (Wani et al.,
1995). Kontribusi N terfiksasi di tanah oleh bakteri pemfiksasi non-simbiotik hanya
10% dari total N terfiksasi (Roper and Ladha, 1995). Menurut Arjjumend (2006),
Azotobacter dapat menyumbang N. Azotobacter chroococcum pada konsentrasi 108
CFU/ml meningkatkan perkecambahan benih jagung (Sachin & Misra, 2009).
Respon positif telah diperlihatkan pula oleh tanaman serealia lain, yaitu gandum
(Triticum aestivum), inokulasi meningkatkan hasil sekitar 15% (Abbasdokht, 2008).
Konsorsium Bradyrhizobium dan Azotobacter telah dibuktikan meningkatkan berat
kering dan kandungan nitrogen tanaman kedelai (Milic et al., 2002).
Bahan penelitian yang dipergunakan dalam penelitian adalah Azotobacter sp
indigen dan eksogen yang merupakan isolat terpilih hasil dari penelitian pertama,
Azotobacter vinelandii, Azotobacter N.D.93 (eksogen) dan Azotobacter kedelai II,
serta Azotobacter sp. Serta tanah Andisol yang telah disterilkan dengan autoclave
pada suhu 212C selama 30 menit. Metode Metode yang digunakan adalah metode

eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan 11 perlakuan dan setiap


perlakuan diulang tiga kali.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Azotobacter sp indigen
memiliki kapasitas penambatan nitrogen sebesar 7,67% lebih tinggi dibandingkan
Azotobacter sp eksogen dalam pertumbuhannya pada tanah Andisol areal
pertanaman the yang memiliki pH 4,55,6. Azotobacter sp indigen yang terbaik
adalah mikroba dengan kode II-1, sedangkan mikroba eksogen terbaik adalah
Azotobacter sp dengan kode A. kedelai II.

2. Unsur Hara Phospat (P)


Fosfat merupakan nutrisi essensial yang diperlukan oleh tanaman dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Fosfat sebenarnya terdapat dalam jumlah
yang melimpah dalam tanah, namun sekitar 95-99% terdapat dalam bentuk fosfat
tidak terlarut sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman (Sanjotha, dkk., 2011).
Pada tanahtanah masam, fosfat akan bersenyawa dalam bentuk-bentuk Al-P, Fe-P,
dan occluded-P, sedangkan pada tanah-tanah alkali, fosfat akan bersenyawa
dengan kalsium (Ca) sebagai Ca-P membentuk senyawa kompleks yang sukar larut
(Ginting, dkk., 2006).
Banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan P di dalam
tanah antara lain penambahan pupuk kandang, guano, dolomit, serta bahan organik
yang berasal dari serasah tanaman. Seiring dengan perkembangan bioteknologi
pertanian, maka alternatif lain untuk meningkatkan ketersediaan fosfat di dalam
tanah adalah dengan memanfaatkan jamur pelarut fosfat dan mikoriza.
Mikroorganisme pelarut fosfat merupakan mikroorganisme yang mempunyai
kemampuan mengekstrak fosfat dari bentuk yang tidak larut menjadi bentuk yang
tersedia bagi tanaman melalui sekresi asamasam organik yang dihasilkan untuk
melepaskan P dari kompleks jerapan (Hanafiah, dkk, 2009).
Pada jurnal Pemanfaatan Jamur Pelarut Fosfat dan Mikoriza untuk
Meningkatkan Ketersediaan dan Serapan P Tanaman Jagung pada Tanah Alkalin
yang ditulis oleh Mardian dkk. (2014) memanfaatkan organisme pelarut fosfat untuk
mengatasi pemasalahan bentuk ketersediaan unsur hara P di dalam tanah yang
sering menjadi faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur pelarut fosfat dan mikoriza
serta interaksinya dalam meningkatkan ketersediaan dan serapan P tanaman jagung
pada tanah alkalin.
Penelitian dilaksanakan di Rumah Kasa, Laboratorium Biologi Tanah, dan
Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian USU pada MaretAgustus 2013, menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial, dengan 2 faktor
dan 4 blok. Faktor pertama adalah inokulasi jamur pelarut fosfat yang terdiri dari 2
perlakuan (tanpa dan dengan inokulasi) dan faktor kedua adalah aplikasi mikoriza
yang terdiri dari 3 perlakuan (0, 10, 20 g/polibag). Parameter yang diamati adalah pH
tanah, C-organik, P tersedia, tinggi tanaman, diameter batang, berat kering tajuk,
berat kering akar, Serapan P, bobot 100 biji, derajat infeksi mikoriza dan populasi
jamur pelarut fosfat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jamur pelarut fosfat
berpengaruh nyata meningkatkan populasi jamur pelarut fosfat dan tidak
berpengaruh terhadap parameter lainnya namun dapat meningkatkan pertumbuhan
dan produksi tanaman. Pemberian mikoriza berpengaruh nyata menurunkan pH
tanah dan diameter batang serta nyata meningkatkan derajat infeksi mikoriza.

Sedangkan pada jurnal Karakteristik Kemampuan Melarutkan Fosfat Bakteri


Pelarut Fosfat Asal Tithonia diverssifolin pada Media Agar Ekstrak Tanah yang
ditulis oleh Yani (2011) penelitian ditujukan untuk mempelajari pertumbuhan dan
aktivitas bakteri pelarut fosfat pada media agar dengan nutrisi utama dari ekstrak
tanah, melakukan karakterisasi kemampuan melarutkan fosfat isolat bakteri pelarut
fosfat yang diperoleh terhadap perubahan lingkungan tumbuh (pH dan temperatur)
serta sumber karbon (karbohidrat) dan mendapatkan media uji yang tepat terhadap
aktivitas melarutkan fosfat sesuai dengan kondisi alami.
Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa bakteri pelarut fosfat mampu
tumbuh dan melakukan aktivitas melarutkan fosfat pada media agar dengan nutrisi
utama dari ekstrak tanah. Isolat bakteri pelarut fosfat yang diperoleh mampu
berkembang dengan baik dan melarutkan fosfat pada media agar ekstrak tanah
dengan menggunakan sumber karbon glukosa untuk isolat dengan warna koloni
putih susu (pt) dan galaktosa untuk isolat dengan warna koloni putih kekuningan (pk)
pada tingkatan temperature 24 30C dan pH 4.5 6.0. Isolat BPF mampu
melakukan aktivitas melarutkan fosfat pada media uji yang hampir sesuai dengan
kondisi alami yaitu aktivitas pelarutan tertinggi pada media dengan pH 6.0 dan
temperatur 24C. Serta dari penelitian yang dilakukan media ekstrak tanah (Ultisol)
dapat dijadikan sebagai media uji yang tepat untuk karakterisasi bakteri pelarut
fosfat yang diisolasi dari tanah masam.

3. Unsur Hara Mg dan Ca


Unsur hara Cad an Mg merupakan unsur hara yang tersedia dalam bentuk
kation bervalensi dua, hal ini menyebabkan proses fiksasi kedua unsur ini lebih
lemah dibandingkan K, sehingga tiga bentuk utamanya adalah kation terlarut, kation
tertukar dan dalam mineral tanah. Mineral sumber Ca meliputi feldspar, apatit, kalsit,
dolomit, gipsum dan amphibol, sedangkan mineral Mg meliputi biotit, dolomite, augit,
serpentin, hornblend dan olivin. Kedua unsure ini merupakan kation penyusunan
kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg-(CO3)2) yang terkait dengan upaya pengapuran
tanah masam.
Ketersediaan Ca dan Mg terkait dengan kapasitas tukar kation (KTK) dan
persen kejenuhan basa-basa (Ca, Mg, K dan Na) (KB). Kejenuhan basa yang
rendah mencerminkan ketersediaan Ca dan Mg yang rendah. Jika dibandingkan,
keterikatan Mg pada situs pertukaran kation lebih lemah dibanding Mg. Oleh karena
itu, kehilangan lewat pelindian dan defisiensi Mg lebih sering menjadi masalah. Hal
ini terkait dengan lebih besarnya BA (berat atom) Ca (= 40) disbanding Mg (= 24).
Salah satu upaya peningkatan ketersediaan unsur hara Ca dan Mg dapat
dilakukan dengan penambahan abu hasil pembakaran limbah pertanian. Hasil
penelitian Bintang dan Lahuddin (2007) juga menunjukkan bahwa aplikasi abu
gergaji kayu pada tanah Ultisol dapat meningkatkan K dapat ditukar. Sementara
Flinn dan Marciano (1984) menyatakan bahwa penggunaan abu pada budidaya padi
meningkatkan produksi padi. Ini berarti abu hasil pembakaran limbah pertanian
berpotensi untuk digunakan sebagai sumber pupuk alternatif yang murah, sehingga
dapat mengurangi biaya produksi dan menguntungkan petani. Berdasarkan uraian
tersebut, maka peneltian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis potensi
abu limbah pertanian sebagai sumber alternatif unsur hara K, Ca, Mg berdasarkan
pada kandungan unsur hara abu.
Tingginya kandungan kalium, kalsium, dan magnesium abu dapur
mengindikasikan bahwa abu dapur dapat digunakan sebagai sumber nutrisi dalam
budidaya tanaman. Demikian pula, abu lainnya juga dapat digunakan sebagai
sumber hara karena ketersediaan pupuk kimia sering mengalami kendala dan
keuntungan penggunaan abu sebagai pupuk organik. Hasil penelitian Priyadharshini
dan Seran (2009), menunjukkan bahwa pemberian abu sekam padi sebesar 4,5
ton/ha memberikan hasil yang tinggi pada budidaya kacang tunggak (1,44 ton/ ha) di
tanah pasir regosol. Penelitian lain, menunjukkan bahwa pemberian abu janjang
kelapa sawit pada lahan gambut secara signifikan berpengaruh pada tingkat
keterediaan P dan K tanah (Anonymous, 2006). Disamping berpotensi sebagai
sumber hara tanaman, abu juga berpotensi sebagai amandemen tanah karena
kandungan kalsium yang tinggi. Hasil penelitian Risse dan Harris (2012),
menunjukkan bahwa abu kayu memiliki efek pengapuran antara 8 persen - 90
persen dari total daya penetralisir kapur dan dapat meningkatkan pertumbuhan
tanaman hingga 45 persen dibandingkan batu kapur tradisional.

DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, Gede Menaka. 2012. Mekanisme Penambatan Nitrogen Udara oleh
bakteri Rhizobium Menginspirasi Perkembangan Teknologi Pemupukan
Organik yang Ramah Lingkungan. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas
Pertanian. Universitas Udayana. Bali.
Mardiana, Rizky N., T. Sabrina dan Fauzi. 2014. Pemanfaatan Jamur Pelarut Fosfat
dan Mikoriza untuk Meningkatkan Ketersediaan dan Serapan P Tanaman
Jagung pada Tanah Alkalin. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas
Pertanian. Universitas Sumatra Utara. Medan. Vol.2(3): 1003-1010
Pranoto, Eko dan Mieke Rochimi Setiawan. 2014. Pengujian Kapasitas Penambat
Nitrogen Azotobacter sp Indigen dan Eksogen Secara In-Vitro pada Tanah
Andisol
Areal
Pertanaman
Teh.
Online.
http://tcrjournal.com/index.php/tcrj/article/download/43/pdf. Diunduh tanggal 15
Oktober 2016
Sari, Ramdana dan Retno Prayudyaningsih. 2015. Rhizobium: Pemanfaatannya
sebagai Bakteri Penambat Nitrogen. Balai Penelitian Kehutanan Makasar.
Vol.12(1) 14p.
Yani, Rakhma. 2011. Karakteristik Kemampuan Melarutkan Fosfat Bakteri Pelarut
Fosfat Asal Tithonia diverssifolin pada Media Agar Ekstrak Tanah. Fakultas
Pertanian. Universitas Andalas. Padang.