You are on page 1of 71

Bah

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG


DAN INDIKASI PROGRAM UTAMA
Dalam rangka melaksanakan pembangunan daerah, telah diupayakan adanya
keterpaduan pembangunan sektoral dan wilayah/daerah. Wujud operasional secara

terpadu melalui pendekatan wilayah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) yang komprehensif dan berhirarki dad tingkat nasional, provinsi sampai
kabupaten/kota.
Rencana struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi DIY diwujudkan
melalui kegiatan pemanfaatan ruang berupa indikator program yang meliputi program,

kegiatan dan tahapan pelaksanaannya. Kegiatan pemanfaatan ruang ini mencakup


pengembangan struktur ruang, pengembangan pola ruang, peningkatan daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup.

7.1

Program Pengembangan Struktur Ruang

Program pengembangan Struktur Ruang meliputi program pengembangan sistem


kota-kota, infrastruktur wilayah, serta program pengembangan kawasan strategis.

7.1.1 Program Pengembangan Sistem Kota-Kota


Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarwilayah,
setiap PKN dan PKW perlu didukung oleh ketersediaan serta kualitas sarana dan

prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya. Untuk


pengembangan sistem kota-kota adalah

itu

program

a. Penataan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) / Kota Yogyakarta.


b. Pengembangan dan penataan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW Sleman dan Bantul)
dan PKW promosi (PKWp Kota Wonosaridan Wates).

c. Pengembangan

dan penataan Pusat Kegilatan Lokal, merupakan

kota-kota

Kecamatan) sebagai basis pertumbuhan ekonomi wilayah.


Program-program tersebut dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan berikut ini

1.

Penataan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) / Kota Yogyakarta.

.
.
.
.
.

Pengembangan pusat pemerintahan di Kota Yogyakarta.


Pengembangan jalan arteri Nasional.
Pembangunan TPA regional.
Peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.
Pembangunan rumah sakit tipe A.

R6r(-.-t.\.-l

't'.1't

.t |il,.t.\G n'1L.1)"tH PROI'1.\Sl Dll-

2()09-2029

7 -1

.
2.

Pengembangan angkutan massal DlY.

Pengembangan dan penataan Pusat Kegiatan Wilayah Sleman.

.
.
.
.

Pengembangan jalan arteri Nasional.

Pengembangan IPAL di Kabupaten Sleman.


Peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.
Pembangunan rumah sakit tipe B.

3. Pengembangan dan penataan Pusat Kegiatan

.
.
.
.
4.

Wilayah Bantul.

Pengembangan TPA Piyungan bagiwilayah Kertamantul.


Pengembangan jalan arteri Nasional.

Peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.


Pembangunan rumah sakit tipe B.

Pengembangan dan penataan Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp).

.
.
.
.

Pembangunan terminal regional tipe A di Wonosari.


Pengembanan jalan kolektor primer Nasional.
Peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan.
Pembangunan rumah sakit tipe C.

5. Pengembangan Pusat Kegiatan Lokal.

Pengembangan jalan lokal primer dan transportasi sebagai akses menuju

PKWPKWp.

Peningkatan kapasitas pelayanan air bersih di kawasan perkotaan dan


perdesaan

.
.
.

Pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas).


Pengembangan sarana Pendidikan Lanjutan.
Pengembangan pusat pelayanan jasa dan perdagangan.

7.1.2 Program Pengembangan Infrastruktur Wilayah


Program pengembangan infrastruktur wilayah meliputi program pengembangan
transportasi darat, laut dan udara, program pengembangan sumber daya air dan
rigasi, program pengembangan jaringan energi listrik dan telekomunikasi, program
pengembangan infrastruktur permukiman, program pengembangan kawasan andalan
serta program pengamanan kawasan pertahanan dan keamanan.

7.1.2.1 Program Pengembangan Transporasi Darat, Laut dan Udara


Untuk meningkatkan dan mempertahankan tingkat pelayanan infrastruktur transportasi

guna mendukung tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan, maka


pengembangan transportasi darat, laut, dan udara adalah

.
.
.
.

program

Peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan arteri primer.


Peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan kolektor primer.
Pembangunan jalan Tol.

Pembangunan sarana terminal.

7-2

R6.\'(t{,\. r T.r7'.r R(',4\G rrI1.1)".1H pROt',I^'y DIt' 2009-2029

Peningkatan kapasitas dan pelayanan pelabuhan dan bandar udara.

Program-program tersebut dijabarkan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut

.
.

Pembangunan Jalur Pantai selatan P. Jawa.


Pembangunan Jembatan Bantar lll yang berada diwilayah perbatasan Kabupaten
Kulonprogo dan Kabupaten Bantul.

.
.

RehabilitasiJalanArteriSelatan.
Rehabilitasi Jalan Sentolo-Milir dalam mendukung transportasi barang dan jasa
pada jalan strategis nasional Yogyakarta-Karangnongko.

Pembangunan Jalan Tol YOGYA

BAWEN dengan lokasi Kabupaten Sleman,

Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang.

.
.
.
.
.
.
.
.

Pembangunan Terminal Bus Type A Wonosari.


Pembangunan TerminalTerpadu Maguwo Baru, Udara dan Jalan.

Pengembangan Jalur KA Utara-Selatan


Pembangunan dermaga sungai.
Pembangunan Dermaga Sadeng.
Pembangunan Stasiun Maguwo Baru Bandara Adi Sutjipto.
Pengembangan Bandara Adi Sutjipto.
Pengembangan Bandara Udara Gading.

7.1.2.2 Program Pengembangan Sumberdaya Air dan lrigasi


Untuk mewujudkan keseimbangan ketersediaan air pada musim hujan dan kemarau

serta meningkatkan dan mempertahankan jaringan irigasi yang ada dalam rangka
ketahanan pangan, program pengembangan prasarana sumber daya air dan irigasi
adalah

Mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi


hidroorlogis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air.

Pembangunan waduk dan tandon air untuk menyediakan air baku serta konservasi

sumber air.

.
.
.

Pemanfaatan sumber air baku alternatif yaitu situ-situ dan kawah gunung.
Pembangunan prasarana pengendali banjir.
Pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi.

Kegiatan yang akan dilakukan untuk mengembangkan prasarana sumber daya air dan
irigasi meliputi

1. Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi Sungai, Danau & Sumber Air Lainnya

.
'
.
'
.

Pembangunan Waduk Tinalah.

Pembangunan Embung Tambakboyo Tahap Vl di Kabupaten Sleman (lanjutan).


Pembangunan Embung KemiriTahap lll di Kabupaten Sleman (lanjutan).
Pembangunan Embung Karanggeneng di Kabupaten Sleman.
Rehab. Embung Bete di Kabupaten Gunungkidul.

RENCANA 7,1T,4 II(1.1I'G LI'IL,!I'AH PROI'INSI DIT' 2009.20]9

-3

.
.
.
.
.
.
'

Rehab. Embung Dungbendo di Kabupaten Gunungkidul.


Rehab. Rip Rap Waduk Sermo.
Perkerasan Jalan InspeksiWaduk Sermo.
Shout Creet Terowongan Waduk Sermo.

Operasi& Pemeliharaan Waduk Sermo.


Rehabilitasi Pelampung Waduk Sermo.
Rehabilitasi Elektro Mekanis Waduk Sermo.

2. Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan lrigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Pembangunan Bendung dan Rehab. Jar. lrigasiSapon (1 buah).


Pembangunan Jaringan lrigasi Dl Tawang Tahap lV (3,5 Km).
Pembangunan Jaringan lrigasi D.l. Karang (1,5 Km).
Pembangunan Penyediaan Air lrigasi Dl.Karangtengah (2 Km).
Pembuatan Groundsill Pelindung Talang Sal.lnduk Kalibawang Km 20.
Rehabilitasi Saluran Sekunder Sistem Kalibawang (22Km).
Rehabilitasi Jaringan lrigasidan Penataan Kawasan D.l. Karang (10 Km).
RehabilitasiJaringan lrigasi D.l. Cibuk (Sistem Mataram) 8 Km.
Rehabilitasi Bendung D.l. Grojogan.
Rehabilitasi Jaringan lrigasi D.l. Merdiko (7 Km).
RehabilitasiJaringan lrigasi D.l. Cemoro Harjo Cs (2 Km).
Rehabilitasi Partisipatif Dl Gedangan (0,8 Km).
Rehabilitasi Partisipatif Dl Ngeposari (0,8 Km).

3. Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

RehabilitasiTebing Sungai Progo dan Anak Sungainya.


Rehabilitasi Tebing Sungai Bedog.
RehabilitasiTebing SungaiOpak dan Anak Sungainya.
Rehabilitasi Tebing Sungai Celeng.
RehabilitasiTebing dan Checkdam 8 Unit di SungaiOyo.
Rehabilitasi Drainase Bibis,Kabupaten Bantul (Swakelola).

Operasidan Pemeliharaan Prasarana Pengamanan Pantai.


Operasi & Pemeliharaan Muara Sungai Progo.
Penyempurnaan Pemecah Gelombang Glagah (Pembuatan Groind).
Pembuatan Groundsill Sungai Serang.
Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir Lahar di S. Boyong,
S. Gendoldan S. Kuning.

.
.
.

Groundsill K. Progo dan Related Works.


Pembangunan Dam Pengendali Sedimen K.Kuning (Ds Widomartani).
Paket 4 (Sabo Dam dan Evacuation Road).

4. Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku.

Pembangunan Jaringan Penyediaan Air Baku Sistem Wonolelo Tahap ll


(lanjutan).

.
7

-4

Pembangunan Jaringan Penyediaan Air Baku Sistem Hargowilis Tahap ll

RE,\'(" t,\. 1 T'. t 7 . 1 tt (,'..1.\' c

t' il,..t

1'.

Ut p fto t' 1 tr s t

D t r' 2 009- 20 2 9

(lanjutan).

.
.
'
.
.
.
'

Pembangunan Jaringan PAB Mata Air Umbul Kecamatan Dlingo.


Pembangunan Jaringan Penyediaan Air Baku Sistem Banjaroyo (tahap 1).
Rehabilitasi Telaga Mencukan, Kabupaten Gunungkidul.
Rehabilitasi Telaga Sumurombo, Kabupaten Gunungkidul.
Rehabilrtasi Telaga Wota-Wati, Kec. Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.
Rehabilitasi Telaga Sogo, Kec. Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Operasional dan Pemeliharaan Sarana Air Baku (Swakelola).

7.1.2.3 Program Pengembangan Jaringan Energi Listrik dan


Telekomunikasi
Untuk meningkatkan ketersediaan energi dan jaringan telekomunikasi, program
pengembangan prasararana energi dan telekomunikasi, meliputi

Pembangunan instalasi baru, pengoperasian instalasi penyaluran dan peningkatan


jaringan distribusi.

'
'

Pembangunan prasarana listrik yang bersumber dari energi alternatif.

Pengembangan fasilitas telekomunikasi perdesaan

dan

model-model

telekomunikasi alternatif.
Program-program tersebut dijabarkan dalam kegiatan berikut ini

.
.

Pengembangan Pembangkit Jawa Bali (PJB).


Peningkatan kapasitas terpasang listrik untuk zone pemusatan kegiatan industri
dan komersialdi Kawasan Sentolo, Kulonprogo dan Kawasan Pajangan, Bantul.

.
.
.
.

Pembangunan PLTA Waduk Sermo.


Peningkatan jaringan distribusi listrik ke daerah perdesaan.

Pengembangan PLTD (Pusat Listrik Tenaga Diesel) Wirobrajan.

Peningkatan pasokan daya listrik yang bersumber dari energi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan listrik perdesaan, diantaranya mikrohidro, angin, dan surya
di perdesaan.

Pembangunan sistem jaringan telekomunikasi di seluruh ibukota kecamatan dan


desa.

Menciptakan keanekaragaman model telekomunikasi sesuai dengan kondisi dan


kebutuhan.

7.1.2.4 Program Pengembangan Prasarana Perumahan dan Permukiman


Untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur perumahan dan permukiman, program

pengembangan Infastruktur permukiman adalah pembangunan prasarana yang


memiliki skala pelayanan lintas wilayah. Program inidilakukan melalui kegiatan

.
.

Penyediaan air bersih lintas wilayah.

Penyediaan

air minum Perkotaan Yogyakarta yang meliputi Kota

Yogyakarta,

Sebagian Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Kesulitan sumber air yang kontinyu dari Sungai Progo.

RE.\ C.-t,\.-t'1".

17 .

t R( ;.-t,\ G II' l l,. t ). u l P Ro t' l \ s l

l ) 1 1'

2009-:()29

-5

r
.

Pembangunan fisik sarana dan prasarananya Pelayanan Air Minum Perkotaan.


Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah/ lnstalasi Pengolahan Limbah
Tinja (IPAUIPLT) di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

Pengembangan TPA Piyungan yang merupakan tempat pembuangan sampah

bagiwilayah Kertamantul (Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta), TPA


Pukir Sari melayani Kota Wonosari Kabupaten Gunungkidul, dan TPA Ringin Ardi
melayani Kabupaten Kulon Progo.

7.1.2.5 Program Pengembangan Kawasan Strategis


Pengembangan kawasan andalan dilaksanakan melalui program pengembangan
agribisnis, industri, pariwisata, usaha bisnis kelautan, jasa dan sumber daya manusia.
Program-program ini kemudian dijabarkan melaluibeberapa kegiatan berikut ini

a. Program pengembangan agribisnis kegiatannya adalah:

.
.
.

Penataan kawasan sentra produksi pertanian.


Pembentukankelembagaan.

Penyediaan infrastruktur pendukung seperti transportasi, irigasi/pengairan,


listrik. dan telekomunikasi.

Pengembangan IPTEK atau pendidikan dan latihan teknis bagi aparat dan
Petani.

Optimalisasi balai-balai penelitian dan pengembangan melalui pengadaan alat


mesin pertanian, pengering an penggiling.

.
.
.
.

Pengadaan benih atau bibit unggul beserta pelatihannya.


Intensifikasi dan rehabilitasi komoditi unggulan.
Penguatan kelembagaan tani disetiap kawasan strategis
Pemanfaatan teknologidan sarana produksiyang ramah lingkungan.

b. Program pengembangan

.
.
.
.
.

industri kegiatannya adalah

ldentifikasidan pengembangan kelompok industri.


Penanganan produk-produk industri berbasis bahan baku lokal.
Mendorong masuknya investasi melalui regulasi dan perizinan.
Pengembangan jaringan pemasaran produk-produk industri.

Mengarahkan pengembangan kegiatan industri

di lokasi

kawasan industri

(industrial esfafe) di Sentolo.

c.

Program pengembangan pariwisata kegiatannya adalah:

.
.
.
.
d.

Penataan kawasan wisata.


Promosi pariwisata dan pengembangan tempat wisata.
Pengembanganprodukagroindustri.
Pengembangan agro estate.

Program pengembangan bisnis kelautan kegiatannya adalah

ldentifikasi daerah-daerah penangkapan ikan, sumberdaya ikan, dan budidaya


ikan.

7-6

R[,\'('.1.\.1 7'..t1.t

Rr

i.t,\'G fi'11.1]',AH PROt',tNSt Dil' 2009-2029

Pengembangan sarana dan prasarana penangkapan ikan

di Pantai

Selatan

Provinsi DlY.

.
.
.
.
.
e.

Pengembangan sentra pemasaran dan pengolahan hasil laut.


Perbaikan alur-alur pelayaran di Pantai Selatan DlY.
Rehabilitasi hutan mangrove di PantaiSelatan DlY.
:

Penumbuhan jasa informasi.


Pengembangan jasa perdagangan.
Pengembangan jasa konsultansi.
Pengembangan jasa pendidikan.
Pengembangan jasa riset dan teknologi.

Program pengembangan sumber daya manusia kegiatannya adalah

.
.
.
g.

Penguatan kelembagaan nelayan/masyarakat pesisir di Pantai Selatan DlY.

Program pengembangan jasa kegiatannya adalah

.
.
.
.
.
f.

Pengembangan sarana penyimpanan (cold sforage).

Pengembangan balai-balai riset dan teknologi.


Pengembangan perguruan tinggi.

Pengembanganbalai-balaipelatihan.

Keberadaan kawasan pertahanan dan keamanan perlu untuk diketahui oleh


masyarakat luas demi menjaga kepentingan pertahanan keamanan negara,
program pengamanan kawasan pertahanan dan keamanan kegiatannya antara
adalah

.
.
'

Pengukuhan lokasi kawasan pertahanan keamanan.


Sosialisasi lokasi kawasan pertahanan dan keamanan.

Penyusunan petunjuk operasional pemanfaatan ruang

di dalam kawasan

pertahanan dan keamanan.

7.2

Program Pengembangan Pola Ruang

Pengembangan Pola Ruang meliputi program pengembangan kawasan lindung dan


kawasan budidaya.

7.2.1 Program Pengembangan Kawasan Lindung


Pengembangan kawasan lindung ditujukan untuk mewujudkan proporsi kawasan
lindung sebesar 45%. Untuk itu programnya adalah

a. Pengukuhan kawasan lindung.


b. Rehabilitasi dan konservasi lahan di kawasan

lindung guna mengembalikan dan

meningkatkan fungsi lindung.

c. Pengendalian

kawasan lindung.

d.
e.

Pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan lindung.

f.

Program mitigasidan adaptasi perubahan iklim

Peningkatan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan.

R'ACIM]

TAl',1

R U,4

NG II' I L,4 T'..1 1T P RO I' I N S I

DI

I'

2 OO9- 2 0

29

-7

S.

Pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan kawasan lindung.

Program-program tersebut dijabarkan kedalam kegiatan-kegiatan di bawah ini

a. Pengukuhan kawasan lindung kegiatannya adalah

.
.
.
.
b.

Penunjukan kawasan lindung baik yang merupakan hutan maupun non hutan.
Penataan batas kawasan lindung.
Pemetaan kawasan lindung.
Penetapan kawasan lindung.

Rehabilitasi

dan konservasi lahan

di kawasan lindung

kegiatannya adalah

rehabilitasidan penghijauan di kawasan lindung bawahan dan lindung setempat.

c. Pengendalian kawasan lindung kegiatannya adalah

pengawasan, pengamanan

dan pengaturan pemanfaatan sumberdaya kawasan lindung di seluruh kawasan


lindung.

d.

Pengembangan partisipasi masyarakat kegiatannya adalah pengelolaan hutan


bersama masyarakaU masyarakat adat.

e. Program mitigasi

dan adaptasi perubahan iklim dilakukan melalui inventarisasi


kawasan lindung untuk mendapat penerimaan pendanaan dan perdagangan

carbon, Inventarisasi kepemilikan masyarakat dan pengembangan jasa lingkungan

f.

Peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya hutan dilakukan melalui


pengembangan wanafarma, ekogeowisata, agroforestry, dan lain-lain di TN.
Gunung Merapi (kawasan Konservasi Kab. Sleman), Suaka Margasatwa (SM)
Paliyan di Kabupaten Gunungkidul, SM Sermo di Kabupaten Kulon Progo, Tahura

Bunder Playen, Suaka Margasatwa Sermo Kabupaten Kulon Progo Terumbu


karang Wedi Ombo Kabupaten Gunungkidul.

g.

Pengembangan

pola insentif dan disinsentif pengelolaan kawasan

lindung

kegiatannya adalah pengembangan dana lingkungan, di DAS Progo, DAS Opak,


DAS Serang.

7.2.2 Program Pengembangan Kawasan Budidaya


Pengembangan kawasan peruntukan hutan produksi untuk mewujudkan kawasan
hutan produksi sebagai asset dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi daerah.
Untuk itu programnya adalah

o
.
.
o
.

Program pembinaan dan penertiban Industri Hasil Hutan


Program pemantapan kawasan hutan dan pengembangan pengusahaan hutan
Program pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan

Program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan


Program penguatan keamanan dan perlindungan hutan

7-8

RE,\'(-..Ir\.,1

7'.

t 1'.

R I t. t.\' (

i il' il.. t," U t p Ro I t,i\ s t D t )' 2 009- 2

29

Program-program tersebut dijabarkan kedalam kegiatan-kegiatan dibawah ini

Program pembinaan dan penertiban Industri Hasil Hutan kegiatan adalah


pengendalian tata usaha hasil hutan, perijinan usaha industri, dan pemantauan
pelaksanaan industri hasil hutan

Program pemantapan kawasan hutan dan pengembangan pengusahaan hutan


kegiatannya adalah orientasi, rekonstruksi kawasan hutan, penetapan areal kerja,

penyusunan rencana pengaturan kelestarian hutan, penyusunan rencana


kehutanan tingkat provinsi, penyusunan rencana teknik tahunan

Program pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan kegiatannya adalah


pelaksanaan pemungutan hasil hutan

pengangkutan hasil hutan, pengolahan

hasil hutan, pemeliharaan prasarana dan sarana produksi,

penanaman,

pemeliharaan, penjarangan.

Program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan kegiatannya adalah


pengendalian pengelolaan Hutan kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Tanaman
Rakyat (HTR) serta pengelolaan hutan bersama masyarakat, pengelolaan hutan
sisfem agroforestry.

Program penguatan keamanan dan perlindungan hutan kegiatannya adalah


penguatan Polisi Kehutanan, pelaksanaan operasi fungsional dan gabungan
pengamanan hutan, penyelesaian perkara pelanggaran, pemeliharaan prasarana

dan sarana produksi perlindungan kebakaran hutan, perlindungan gangguan


hama dan penyakit.

Untuk mempertahankan lahan sawah, terutama yang beririgasi teknis, program yang
akan dilakukan adalah

Pengukuhan kawasan pertanian lahan basah khususnya lahan sawah beririgasi


teknis.

Peningkatan pelayanan infrastruktur pertanian untuk mempertahankan keberadaan

fungsi lahan sawah beririgasi teknis.

Mengendalikan alih fungsi lahan sawah.

Program-program tersebut dijabarkan melalui kegiatan-kegiatan di bawah ini

Pengukuhan kawasan pertanian lahan basah khususnya lahan sawah beririgasi

teknis dilakukan kegiatannya adalah pemetaan dan penetapan lahan sawah


beririgasi teknis.

Peningkatan pelayanan infrastruktur pertanian untuk mempertahankan keberadaan

fungsi lahan sawah beririgasi teknis kegiatannya adalah peningkatan jaringan


irigasi, baik pada irigasi primer, sekunder dan tersier, termasuk irigasi desa.

RE\ ( l.lI:-l

7'.-1

7..1 R t,t,4,\'

G ll'

1..'l l ..l l

RO I' l I S l D I

I : 0( ) 9 - ) 0 : 9

-9

7.2.3 Program Pengembangan Daya Dukung dan Daya Tampung


Lingkungan Hidup
Untuk meningkatkan daya dukung alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan

daya tampung lingkungan Provinsi DlY, program pengembangan daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup adalah

a. Pengendalian kualitas lingkungan.


b. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.

c. Pengembangan daya dukung lingkungan buatan.


Program-program tersebut dijabarkan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut

a. Program pengendalian kualitas lingkungan kegiatannya adalah

Pengendalian pencemaran lingkungan terutama pada DAS Progo, DAS Opak,


DAS Serang.

Pengendalian kerusakan lingkungan terutama pada DAS Progo, DAS Opak,


DAS Serang.

.
b.

Penegakan hukum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Program efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam kegiatannya adalah:

Penerapan produksi ramah lingkungan terutama pada DAS Progo, DAS Opak,
DAS Serang.

Pengembangan energi alternatif terutama pada DAS Progo, DAS Opak, DAS
Serang.

Penerapan hemat energi terutama pada DAS Progo, DAS Opak, DAS Serang.

c. Program pengembangan daya dukung lingkungan buatan kegiatannya adalah:


. Pengembangan infrastruktur sumberdaya air, sumberdaya pesisir dan laut
pada DAS Progo, DAS Opak, DAS Serang.

.
.

Pengembangan terumbu karang buatan.


Pengembangan infrastruktursumberdayaenergi.

7.3. Indikasi Program Utama Lima Tahunan


Indikasi Program Lima Tahunan diuraikan dalam tabel berikut:

7 -10

RE-.\C].\.l 1"|T.J Rr

.t.\(;

u'I1.1)..1H

pROt't,\SI DII', 2009-2029

INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN


Perioclc l'elaksarra Tahap I

Lokasi

Nama Program

Suntber Biava

Besaran
201 0

201 I

2012

201 3

2014

PERU'UJUDAN STRUKTUR RUANG PROVINSI


l'erwu iu d a n S isle n Per kotu n n Provt nsi
A. Percepatan Pengembangan dan l,entngkatan
Furrcsi Kota-kola di Provirsr D.l.Yosvakarta

l.

Revitalisasi dan Pcngernbangan Kawasan


Perkotaan Yogyakarta (KPY)sebagai PKN
(Herarkhi l/Pusat pclayanan Nasional)
- Perencanaan.Legislasi, sosialisasi KPY

2.

Dokumen, Legislasi,Sosialisasi Peraturan


Zonasi KPY
Pererrcarraan. l-egislasi.Sosialisasi
Kas'asanCagarlludaya & Pariwisata
Penrantapan

&

pengembanlgan

KPY

Revitalisasi dan Pcrrgembangarr lbu Kota


Kabupaten sebagai PKW lHcrarkhi IIlPusat
Pelayanan Regional)

3 Paket
3 Paket

APBD, APBN,

2l

Ruang

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasarna

Prov.DIY

pendanaan

Peta

Rencana

Struktur

PKW Bantul
PKW Slcman
PKWp (promosi) Wates,
PKWp (promosi) Wonosari
Mendorong Pengembangan kota-kota pusal
oerturnbuhan wilavah
l. Mendorong Pengembangan lbu Kota
Kecamatan sebagai PKL (Flerarkhi III/Pusatpusat pelay'anan

Paket

Paket

I Pahet

Paket

APBD, APBN.
In\stasi swasta da[/

Peta

Rencana

atau kerjasanra

Struktur

penomaal

Ruang

2.

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,
Depdagri

I Paket

Prov.DIY
Mendorong Pengembangan lbu Kota
Kecamatan (Herarkhi IV/pusat-pusat
perturnbuhan)

RI:\CALTA TATA RII/ING 14/ll,.4YAH PROI4NSI DIY 2009-2029

7 -11

Periode Pelaksana

lnstansi
Pelaksana

Pem. Prov
Pern Kab,
Dep. PU,
Depdagri

Tahap II
2015 - 2019

Tahap lll
2020 -2024

Tahap IV
2025 -2029

Perwuiudon Sistem Transportasi Provinsi


A Peruuiudan Sistem Jarinean Jalan

I
2

Penrantapan iaringan ialan arteri primer

Peta

Penantapandanpengembanganjaringan

Rencana

ialan koleklor prirner


Penrbansunan ialan bebas hambatan (TOL)

Pengemba

690,25km

ngan

104 km

Pengembangan

.j

aringan jalan pantai selatan

.iawa (Pansela)

Perrvuiudan Sistem Jarinsan Jalur Kereta Aoi


Pemantapan Jaringan Jalur KA yang sudah
ada (timur barat)
Pengembangan Jaringan Jalur KA
Yosvakarta- Borobudur' ( utara)

Pengembangan Jaringan Jalur KA


Yogyakarta-Parangtritis (selatan)

Pengembangan Bandara Adisutjipto menjadi


Bandara Dusat penyebaran sekunder
Pengembangan landasan TNI AU Gading
sebagai sebagai landasan pendukung untuk
sekolah nenerbansan

Persiapan Pengembangan Bandara Baru


Penr,uiudan Pelabuhan Laut
Pengenrbangan Pelabuhan Sadeng
Kabupaten Gunungkidul menj adi Pelabuhan
Perikanan Pantai

Pengembangan Pelabuhan Glagah


Kabupaten Kulonprogo menjadi Pelabuhan
Perikanan

E.

APBD, APBN,
lnvestasi swasta
dan/ atau
kerjasama
pendanaan

Prasarana

wilayah
Prov

DIY

117.599
km

Peta

APBD, APBN,

Rencana

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

Pengemba
ngan
prasarana

47 km

pendanaan

vvilayah
Prov DIY

l5 km

Peta
Rencana
Pengemba
ngan
prasarana

Pem Kab,

Dep. PU.
Pem.Pror'.

Pem Kab,

Dep. PU,
Pem.Prov.

Perr.r'uiudan Bandar Udara

l68.8lkm

Penvuiudan Terminal dan Stasiun


Pemantapan Terminal tipe A Kota

Yosvakarta
Pemanlapan Tcrminal Kabupaten

wilayah
Prov

DIY

Peta
Rencana
Pengemba

APBD, APBN,

Paket

Investasi swasta

dar/ atau
kerjasama

I paket

pendanaan

paket

Paket

APBD, APBN,
dan/ atau
kerjasama

ngan
prasarana

Paket

Paket

pendanaan

wilayah
Prov

Dep. PU,
Pem.Pror'.

Pem. Prov,
Pern Kab,

Dep. PU,
Dephub,
Depbudpar

DIY

Peta
Rencana

APBD, APBN,
Investasi swasta
dar/ atau

Pensemba

RENCANA TATA RUANG ITILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

Pem Kab,

7-12

Pem. Prov,
Pem Kab,
Den. PI I

3.
4
5.

Gununekidul nreniadi terminal tine A


PengernbanganT'erminalKabupaten
Kulonorostl meniadi ternrinal tioe A

Pengembangan"l-erminall'erminal
Kabupaten Bantul meniadi terminal tipe B
Peugctnbangan 1'erminal Kabupaten Sleman
nrerriadi terrnirral tipe B

ngan
prasarana

u'ilayah
Prov DIY

Paket

Paket

Paket

Paket

Paket

Paket

6.

Paket

kerjasama

Dephub

pendanaan

Pengenrbarr-earr'l-ernr inal Anekutarr Barang

Perwuiudan Sislem Prtsnrnnn Lainnt'o

Air dan Irigasi


Pengembangan, l)cngelolaan dan Konservasi
Sungai, Waduk. Sumber Air*)
Pengenrbangan dan Pengelolaan Jaringan
Irip.asi *)
Pcngcndalian Banjir dan Pcngamanan Pantai

Pengernbangan Sumber Daya

2
l.

Rencana
Pengemba
ngan

Pcnl'cdiaan dan I'cngelolaan

Air Baku*)

APBD, APBN,
Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

prasa-rana

vr-ilayah

.l

Il

Peta

I pakel

Deptan

oaket

l)enselolaanAir'l'anah[]crnarvasanKonservasi
I Pcnrbangurran clan peneclolaan air tanah

APBD, APBN.
Inveslasi srvast
dan/ atau
kerjasama

bcrs as asarr konscrr asi

Il

Dep. PU,

pendanaan

Prov DIY
I

Pem. Pro'r,,
Pem Kab,

Pem. Pror'.
Pem Kab,

Dep. PU,
Dep. ESDM

nendanaan

Prograrn Pengenrbangarr Jaringan Energi

PenScnrbangan.iaringanListrik

*)
APBD, APBN,

Peta

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

Rencana
Pengemba
ngan
prasarana

Pcngembangan Energi Terbarukan

Dep. PU,
Dep. ESDM

Dendanaan

APBD, APBN,

wilayah
Prov DIY

RI'.\'('INA TATA RI;4,\G W'II,AT'AH PROI4NSI DIY 2009.2029

Pern. Prov,
Pem Kab,

Investasi swasta
dan/ atau
keriasama

7 -13

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,

Dep. ESDM

pendanaan

3'

APBD, APBN,

Pem. Prov.

Investasi srvasta

Pem Kab,
Dep. PU,
Dep. ESDM

dar/ atau

P.n-n.n,bangan Bahan Bakar

kerjasama

nendanaan

ProgramPerrgcmbangarrJaringauTelekomunikasi

l.

Ker.jasanra Informasi dengan Massnredia

Peta

APBD, APBN,

Pern. Prov,

Rencana
Pengemba

Investasi srvasta
dan/ atau
kerjasama

Pem Kab,
Dep. PU,

ngan
prasarana

2.

Pengembangan Konrunikasi. lnlbrmasi dan


Mediamassa

PERWTUTIDAN POLA RI.I,{NG PROVINSI


Pensuiudan Kmuastn Linduns Nasiontl dan Provittsi
A. Pengukuhan kauasan lindung

Depkominfb

oendanaan

lvilayah
Prov DIY

Kawasan

APBD, APBN,

4 paket

lindung

investasi swasta,

dar/atau
kerjasarna

Pem prov,

Kementerian
kehutanan,
Dishutbun

nendanaan

Rehabilitasi dan konservasi lahan kauasan linduns

Kawasan

APBD, APBN,

Pem prov,

lindung

lnveslasl swasla,
dan/atau
kerjasama

kehutanan,
Dishutbun

nendana;rn

Pemantapan Fungsi Lindung Bawahan

Kawasan

APBD, APBN,

5 pakel

Lindung
Bara'ahan

Pemantapan Furrgsi Lindung Setempat

Kawasan

4 paket

nendanaan

Dishutbun

APBD, APBN,

Pem prov,
Pem kab.
Kementerian
kehutanan.

investasi sw2sf

Setempat

dar/atau
keriasama

-14

Pem prov,

Pem Kab.
Kementerian
kehutanan,

Lindung

RENCANA TATA RUANG INLAYAH PROVIAISI DIY 2009-2029

investasi srvasta,
dan/atau
kerjasama

Pengendalian karvasan lindung

Kawasan

3 paket

lindung

pendanaan

Dishutbun

APBD, APBN,,

kerjasarna

Pem prov,
Pem Kab.
Kementerian
kehutanan,

nendanaan

Dishutbun

APBD, APBN..

kerjasarna

Pem prov,
Pern Kab.
Kementerian
kehutanan,

oendanaan

Dishutbun

APBD, APBN,,

kerjasama

Pem prov,
Pem Kab
Kementerian
kehutanan.

nendanann

Dishutbun

APBD, APBN,,

Pem prov,
Pern Kab.

investasi srvasta,
dan/atau

Pcngembanganpartisipasi

rnasyarakat

Kau'asan

2 paket

investasi swasta,

lindung

darVatau

Mitigasi dan adaptasi pelubahan iklim

Kawasan

3 pakel

investasi swasta,

lindung

dan/atau

Pengernbangan pola insentifdan disinsentif

Kawasan

3 paket

lindung

investasi swasta.
dan/atau

kerjasama
pendanaan

Ci

Penqernbanqan Peneelolaan Kalasarr Konservasi


Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM)

Karvasan

APBD, APBN,,

4 paket

TNGM

kerjasama

Pem prov.
Pem Kab.
Kementerian
kehutanan,

nendanaan

Dishutbun

APBD, APBN,.

Pem prov,
Kementerian
kehutanan,

investasi swasta,
darVatau

Suaka Margasatrva (SM)

kawasan

4 paket

SM

investasi swasta,
dan/atau
kerjasarna

Dishutbun

nendanaan

Taman Hutan Ra;'a (Tahura)

kawasan
Tahura

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROI/INSI DIY 2009-2029

APBD, APBN,

4 paket

7 -15

Pern prov,

investasi swasta,
dan/atau
kerjasama

Pem Kab
Kementerian
kehutanan,

nendanaan

Dishutbun

'l'aman Wisata Alam (TWA)

Kau'asan

4 paket

TWA

APBD. APBN.

Pem prov

investasi swasta,
dan/atau
kerjasama

Kementerian
kehutanan,
Dishutbun

nendannan

Terunrbu Karan_q

Wedi
Ombo

4 paket

APBD, APBN,

investasi srvasta,
dar/atau
kerjasama

dar/atau

Kementeri
kehutanan.
Dishutbun.
Pem prov,
Pem Kab.
Depbudpar.

kerjasama

Disbud

nendanaan

Tarnarr \trrisata

('audi Prambarran

APBD, APBN,,

dan

Ratu Boko

2 paket

Prambana

investasi srvasta,

Kasasan Casar Budava

Pem prov,
Pern Kab.

pendanaan

Perwujudan Kowusan Buditloya

Rehabilitasi dan Pengenrbangan Kauasan

Pertanian

Pemantapan Pengelolaan KPII

Paliet

APBD, APBN,

Peta

Investasi srvasta

Kawasan

b
2
a.

Pengembangan Dent Plot pertanian organik


dan pertanian tcrpadu

darV atau

Budidaya
Prov DIY

Pem. Prov,
Pem Kab,

kerjasarna

Paket

pendanaan

Dep. PU,
Dephut,
Dishutbun
Dinas
Pertanian,
f)entan

Pengernbangan Kawasan Peruntukan

I Hutan Produksi
Program pembinaan dan Penertiban Industri Hasil
Hutan

Kawasan
hutan

3 paliet

APBD, APBN,

investasi swasta,
dan/atau
kerjasama

produksi

Pem prov,

Kementerian
kehutanan,
Dishutbun

pendanaan

h.

Program pemantapan kawasan hutan dan


pengembangan pengusahaan hutan

Kawasan
hutan
nrodrrksi

RENCANA TATA RUANG IYILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

6 paket

APBD, APBN,

investasi swasta"

dar/atau

7-16

Pem prov,

Kementerian
kehutanan.

kerjasama

Dishutbun

nendanaan

c.

Progranr pengelolaarr dan penrantaatan kawasan


hutan

Kawasan
hutan
produksi

APBD, APBN,.

8 paket

darVatau

Pem prov,
Kementerian
kehutanan,

kerjasanra

Dishutbun

investasi srvasta.

nendanaan

d.

Progranr pcrnbcrdayaan nrasyarakal sekitar hutan

Kau'asan
hutan
produksi

4 paket

Kawasan
hutan
produksi

8 paket

APBD. APBN..
lnvgstasl swaSta,
dar/atau
kerjasama

APBD, APBN,,

Dishutbun
Pem prov,

investasi swasta.

Pern kab

oendanaan

c.

3.

Progranr penguatan kearrranan dan perlindungan


hutan

Perreelolaan Kar','asan l)cruntukanPertambansan


Pengelolaan .penrbinaan dan pengarvasan
pcrlanrbangan

Pem prov,
Pem kab
Kementerian
kehutanan,

dadatau

paket

kerjasama

kehutanan,

nendanaan

Dishutbun

APBD, APBN,,

Pern prov,

investasi swasta,

Kenrenterian

dar/atau

ESDM

kerjasama
oerrdanaarr

4. I{chabi I itasi dan Pcrr-eenrbarrsan Karvasan


l)alirr isata

a.
b.
c.
d.

Pengembangan kualitas dan kuantitas

ODTW DIY scbagai destinasi utama di


Indonesia.
Pengernbangan kualitas dan kuantitas
ODI'W DIY scbagai destinasi unggulan di
lndoncsia.
Pengenrbangan kualitas dan kuantitas
OD-|W DIY sebagai destinasi terkemuka di
Asia Tenqqara
Pcmantapar/mcnrpcrtahankan kuantitas
ODI-W DIY schagai destinasi terkernuka di
Asia Tenseara

I pakct

APBD, APBN,
Investasi srvasta
dan/ atau
kerjasama

Peta

pendanaan

Kawasan
Budidaya
Prov DIY

Rtt.\'("4^'A TATA R(;A.\',G lr.'il.,4Y,4H PROt',|NSI DIY 2009-2029

Dinas
Pariu'isata

DIY,
Dep.pariu'is
ata

7 -17

Pern Kab,

e.

Pengembangan Karvasan Depok Kab.


Bantul sebagai Wisata Pantai dan Kuliner
Ikan

Peta

APBD. APBN

Kawasan

Investasi swasta

DPUPESDM,

dar/ atau

Deplautkan.

kerjasama

Dislautkan.

Budidaya
Prov

I paket

DIY

pendanaan

Depbudpar,

Disoar

l.

Penecrnt''anpan l:asilitas Museum

Pern. Prov,
Pern Kab,
Dep. PtJ,

paket

Dephutbun,
Denhrrdnar

g.
-

Pcngenrbangan Desa/Kantong Budaya

I paket

Disbud

Rehabilitasi dan Pcnscnrbangan Kawasan


Perrnukiman

',

'"

Revitalisasi dan Pcngembangan Kota Bantul,


Slemarr. Watcs. Wonosari (lbu Kota
Kabupaten. herarkhi II)
Revitalisasi dan Pengembangan Kota (lbu
Kota Kecamatan. herarkhi lll)

o'

Rcvitalisasi dan Pengenrbanean Kota (lbu


Kota Kccarnatan. herarkhi lV)

t'

Rcvitalisasidarrl'eugenrbarrngarrKawasan
PcrkotaarrYoevakarta
APBD, APBN,
Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama
pendanaan

Pengembangan Kauasan Peluntukan lndustri

RENCANA TATA RT]ANG ITILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

Pem. Prov.
Pem Kab.
Dep. PU,
Depdagri,
Deperdagt

7 -18

Pengembangau Kawasan Industri Sentolo.


Pil ungan dan scrrtra industli

Pem Kab,
Dep PU,

Peta

Kawasan

Budidaya
Prov DIY

APBD, APBN,
Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

3 Paket

pendanaan

DPUPESDM,
Depperindag
kop,
Disperindag
kop, Balai

Kulit

l{ehabilitasi dan Pengenrbangan Kawasan


Pendidikan Tineei
APBD, APBN,

Peta

Investasi swasta
darv atau
kerjasama

Kawasan

Budidaya
Prov

tt

DIY

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,
Depdiknas

pendanaan

Rehabilitasi dan Pengembangan Kauasan Pesisir


dan Pulau-pulau Kecil
Penghilauan Kau asan Pesisrr

Peta

APBD. APBN.

Kawasan

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

Budidaya
Prov DIY

pendanaan

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,
Dephutbun,
Depkanla

Pentujudan Pengembangan Kawasan Strutegis


Nasional don Provinsi

Rehabilitasi dan Pengenrbangan Kawasan


Strategis Nasional dan Provinsi dari sudul
Keoentinean Pertaharran Keamanan

Rehabilitasi/Revitalisasikawasan

Pengembangan/Peningkatankualitaskawasan

RIIN('ANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

APBD, APBN

7 -19

Pem. Prov.
Pem Kab,

Dep. PU,
I)enhankam

Rehabilitasi dan Pcngcurbangan Kawasan


Strategis Nasional dan Pror,insi dari sudut
Keoentinsan Pertumbuhan Ekonomi
I Rehabilitasi /Rer italisasi karvasan
Pengembangan/Pen ingkatan kual itas kawasan

Investasi srvasta
dan/ atau
kerjasarna

Strategis
Prov DIY

pendanaan

Rehabilitasi/Rcvitalisasikau'asan

Pengembangan/l)cningkatankualitaskauasan
Rehabilitasi dan Peneenrbangan Karvasan
Strategis Nasiorral dan Provinsi dari sudut
Kepentingan Pendal a-eunaan Sumberdaya Alanr
dan/atau Ihnu Pensetahuan
l Pengernbangan/Peningkatan kualitas kal'asan

Peta

APBD, APBN,

Kawasan
Strategis
Prov DIY

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

Peta

APBD, APBN,

Kawasan
Strategis
Prov DIY

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama

Pem. Prov.
Pem Kab.
Dep. PU,
Dephub,

KLH,BLH

Rehabilitasi dan Pengcnrbangan Karvasan


Strategis Nasional dan Provinsi dari sudut
Kepentinpan Lindunp dan Budidaya
Peta

Rehabilitasi /Ro italisasi kau,asan

Pengembangan/Pcningkatan kualitas kawasan

APBD, APBN,

Kawasan
Strategis
Prov DIY

Investasi swasta
dan/ atau
kerjasama
pendanaan

'"

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,
Depbudpar

pendanaan

pendanaan

.".

Pem. Prov.
Pem Kab,
Dep. PU,
Dephub

Rehabilitasi dan Penecmbangan Kawasan


Strategis Nasional dan Provinsi dari sudut
Keoentinsan Sosial lludava

I
o

APBD, APBN,

Peta
Karvasan

Pengembangan Kau asan Strategis Nasional dan


Provinsi dari sudut Keoentinsan Pensembansan

RENCANA TATA RUANO IIlLAYAIT PROVIATSI DIY 2009-2029

7 -20

Pem. Pror,.
Pem Kab,
Dep. PU,
Dephutbun,
Deotamben.

Pesisir dan Penselolaan Hasil Laut


Pengembangan/Peningkatankualitaskawasan
(Sadeng, Baron, Karang Wuni/Glagah)

Peta

APBD,APBN,

Kawasan
Strategis
Prov DIY

Investasi swasta

dar/ atau

3 Paket

kerjasama
pendanaan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROI4NSI DIY 2009-2029

7 -21

Pem. Prov,
Pem Kab,
Dep. PU,
Dephub,
Deplautkan

tsah

ARAHAN PENGENDALIAN
DAN PENGAWASAN
PEMANFAATAN RUANG
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) DIY yang telah disusun ini agar

dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi-fungsinya perlu

didukung

pengendalian pemanfaatan ruang dan pengawasan penataan ruang. Untuk menjamin


keefektifan pengelolaan penataan ruang ini, perlu didukung dengan legalitas sesuai

peraturan perundangan berlaku dan kelembagaan yang

akan

mengoperasionalkannya, serta prosedur pengendalian pemanfaatan ruang dan


pengawasannya.

8.1

PengendalianPemanfaatanRuang

Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mencapai tertib tata ruang,

sesuaidengan UUPR 26Th2007 insttrumen pengendalian pemanfaatan ruang pada


RTRWP DIY melipurti4 (empat) jenis , yaitu
:

.
.
.
r

penetapan peraturan zonasi,


perijinan,

pemberian insentif dan disinsentif,


pengenaan sanksi;

8.1.1 Peraturan Zonasi


Peraturan zonasi seperti tersebut di atas sebagai pedoman pengendalian
pemanfaatan ruang, Peraturan zonasi disusun berdasar RTRWP DIY dalam bentuk
rencana rinci tata ruang.

Rencana RinciTata Ruang meliputi

.
.
.

Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Perkotaan.


Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.
Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi.

Pengaturan zonasi meliputi pemanfaatan yang harus ada, kegiatan pemanfaatan


ruang yang diizinkan, dan kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak diizinkan.

8.1.2 Perizinan
Perizinan merupakan pedoman pemanfaatan ruang, dimana setiap orang yang akan
memanfaatkan ruang wajib memiliki izin Pemanfaatan Ruang, lzin diajukan kepada
Gubernur melalui Kepala Dinas.
lzin Pemanfaatan Ruang terdiri atas
Rt.\('. l.\.1

l"-tT.1

Rll.\G

II

ll..ll.lH PROI'1.\y Dll

)009-1029

8-l

.
.

lzin Lokasi yang menyangkut fungsi ruang

Amplop

ruang

mencakup koefisien dasar ruang hijau, koefisien dasar

bangunan, koefisien lantai bangunan, dan garis sempadan bangunan; dan

Kualitas ruang merupakan kondisi ruang yang harus dicapai setelah


dimanfaatkan (kondisi udara, tanah, air, hidrogeologi, flora dan fauna).

Setiap orang yang telah memiliki lzin Pemanfaatan Ruang dalam pelaksanaan
pemanfaatan ruang harus sesuai dengan izinnya.

8.1.3 Insentif dan Disinsentif


lnsentif dan disinsentif dari pemerintah provinsi dapat dilakukan terhadap pemerintah

daerah (Kabupaten/kota) dan masyarakat. Fungsi dari insentif dan disinsentif


merupakan acuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi maupun
kabupaten/kota.
Insentif dapat diberikan kepada setiap orang atau pemerintah kabupaten/kota yang
melaksanakan kegiatan memanfaatkan ruang sejalan dengan RTRWP DlY.
Insentif diberikan dalam bentuk

Keringanan pajak, kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa ruang, dan


kontribusi saham, penghargaan

.
.

Pembangunan dan pengadaan prasarana.


Kemudahan prosedur perizinan.

Kemudian setiap orang yang melaksanakan kegiatan memanfaatkan ruang tidak


sejalan dengan RTRWP DIY dapat diberikan disinsentif.
Disinsentif diberikan dalam bentuk

Pengenaan pajak atau retribusi Daerah yang tinggi sebesar biaya yang
dibutuhkan untuk mengatasi dampak negatif lingkungan yang ditimbulkan oleh
kegiatan memanfaatkan ruang.

.
.

Pembatasanpenyediaanprasarana.
Pengenaan kompensasi , pinalti.

8.1.4 Pengenaan Sanksi


Sanksi dikenakan pada kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
RTRWP dalam bentuk:

.
.
.

Pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi di daerah;


Pemanfaatan ruang tanpa izin yang diterbitkan berdasarkan RTRWP;

Pelaksanaan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin yang


diterbitkan berdasarkan RTRWP;

Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan

izin

yang

diterbitkan berdasarkan RTRWP;

Pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh


pengaturan perundang-udangan dinyatakan sebagai milik umum; dan atau

8-2

Rt\'('.

l,\'.

1.17.t Rt;.'1,\'G Il'lL.lI',-lH PROI'l!\'SI DI)' 2009-)029

Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak
benar.

Pelanggaran terhadap RTRWP


pidana yaitu sebagai berikut

a.

ini dikenakan sanksi adminstrasi dan/atau

sanksi

Sanksi administrasi dan pembatalan kebijakan daerah.

Pelanggaran pemanfaatan ruang yang memerlukan sanksi administrasi dan


pembatalan kebijakan dilaporkan oleh BKPRD kepada Gubernur dan ditindaklanjuti

oleh instansi daerah yang membidangi tata ruang. Sanksi administratif dikenakan

atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang berakibat pada terhambatnya


pelaksanaan program pemanfaatan ruang.
Sanksi administratif dapat berupa

.
.
.
r
r
.
.
.
r
b.

Peringatan tertulis;

Penghentian sementara kegiatan pemanfaatan ruang di lapangan;


Penghentian sementara pelayanan umum/administratif;
Penutupan loksasi;
Pencabutan izin pemanfaatan ruang;
Pembatalan izin:
Pembongkaranbangunan;
Pemulhan fungsi ruang, dan/atau
Denda administratif.

Sanksi pidana dan perdata

Penyimpangan yang berkaitan dengan tindak pidana dilaporkan oleh BKPRD


kepada Gubernur dan diproses lebih lanjut oleh Kepolisian dan Kejaksaan. Selain

Pejabat Penyidik POLRI yang bertugas menyidik tindak pidana, penyidikan atas

tidak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga
dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di lingkungan
Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Dalam pelaksanaan tugas penyidikan, para Pejabat Penyidik berwenang

Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak


pidana.

Melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan
pemeriksaan.

Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri


tersangka.

r
.
r

Melakukan penyitaan benda dan atau surat.


Mengambil sidik jari dan memotret seseorang.
Memanggil seseorang untuk dijadikan tersangka atau saksi.

REI C.,l/l.l T.1T..r

R L'..t.\

rr' I 1.4

\',..|

H P RO I' I
^

D I )'

009 - 20

8-3

Mendatangkan orang

ahli yang diperlukan dalam hubungannya

dengan

pemeriksaan perkara.

Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari Penyidik Umum


bahwa tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan merupakan

tindak pidana dan selanjutnya melalui Penyidik Umum memberitahukan hal


tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka dan keluarganya.

Mengadakan tindakan
d

lain menurut hukum yang

dapat

ipertanggu ngjawabkan.

Setiap orang yang melanggar ketentuan yang diatur didalam rencana tata
ruang, dapat diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda

sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Selain itu tindak


pindana atas pelanggaran pemanfaatan ruang yang mengakibatkan perusakan

dan pencemaran lingkungan serta kepentingan umum lainnya dikenakan


ancaman pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8-4

RE

YC-tliJ

I'.1 7,.1 R Li.4,\' G I t' I L..t t',A H p RO t' I i',S I D I t', 2 0() 9- 2 0 2 9

TabelVlll.l
Ketentuan Sanksi Dalam Penataan Ruang

69 ayat (1)

69 ayat (2)

69 ayat (3)

70 ayat (1)

Tidak mentaati rencana tata ruang; dan


Mengakibatkan perubahan fungsi ruang.

Penjara paling lama 3 lahun dan denda paling banyak Rp. 500 juta

Tidak mentaali rencana tata ruang;


Mengakibatkan perubahan fungsi ruang; dan
Mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau rusaknya barang.

Penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 1, 5 mrlrar

Tidak mentaali rencana tata ruang;


Mengakibatkan perubahan fungsi ruang; dan
Mengakibatkan Kematian orang

Penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 5 miliar

Memanfaatkan ruang iidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang

Pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda palrng banyal( Rp. 500 Juta

berwenang.

Memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pe.iabat yang
70 ayat (2)

Memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
70 ayat (3)

11

Pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.5 milrar

berwenang; dan
Mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang.

M3manfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabal yang
70 ayat (4)

Pidana penjara paling lama 5 lahun dan denda paling banyak Rp. 1 miliar

berwenang; dan
Mengakibatkan perubahan fungsi ruang;

Pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 5 miliar

berwenang; dan

Mengakibaikan kematian orang


Tidak mematuhi ketentuan yang ditelapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang

Pidana penJara paling lama 3tahun dan denda paling banyal( Rp.5OOJuta

Tidak memberikan akss terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan

Pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp. 100juta

72

dinyalakan sebagai milik umum

al

Pejabat pemerintah ponerbit izin; dan


Manerbilkan izin tidak sesuai dengan rencana tata ruang

Pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp.500juta

Dapat dikenai pidana iambahan berupa pemberhentian tidak hormat dari


jabatannya.

Sumber . UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

RE]C,44: I 7'ATA RI I,J,YG WILAYAH PROYINSI DIY 2009-2029

8-5

8.2

Pengawasan Pemanfaatan Ruang

Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan upaya pengawasan


penataan

dan

agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan maka diperlukan pengawasan
terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan penataan ruang.

Pelaksanaan pengawasan dilakukan oleh pemerintah provinsi kepada pemerintah


kabupaten/kota dan dilakukan dengan melibatkan masyarakat.
Kegiatan pengawasan pada dasarnya terdiri atas 3 (tiga) kegiatan yaitu pemantauan,
evaluasi dan pelaporan.

8.2.1

Pemantauan

Pemantauan pemanfaatan ruang merupakan salah

satu bentuk kegiatan

dari

pengawasan penataan ruang.

Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati, mengawasi dan


memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak
sesuai dengan rencana tata ruang. Kegiatan pemantauan dilaksanakan setiap tahun.

Pemantauan pemanfaatan ruang dilakukan melalui penciptaan dan pengembangan

suatu sistem database yang terkoordinir baik dalam suatu unit pusat data dan
jaringannya untuk terus-menerus memonitor pemanfaatan ruang dan perubahanperubahan yang terjadi. Secara bertahap kegiatan

ini dapat dilakukan

dengan

menggunakan Sistem Informasi Geografis (SlG) dengan memanfaatkan teknologi


mutakhir.

8.2.2. Evaluasi
Evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam
mencapai tujuan rencana tata ruang.

Kegiatan

ini dimaksudkan untuk memberikan masukan-masukan bagi peninjauan

kembali atau evaluasi RTRWP yang dilakukan setiap 5 (Lima)tahun sekali.

8.2.3 Pelaporan
Pelaporan adalah kegiatan memberikan informasi secara objektif mengenai
pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang. Pelaporan dikoordinasikan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
(BKPRD) setiap tahunnya yang berisikan hasil-hasil pelaksanaan tata ruang

8.3

Arahan Pengendalian Pemanfaatan ruang

Arahan Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi digunakan sebagai acuan

dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi dan


pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota. Arahan
pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas

a. Indikasiarahan peraturan zonasi sistem provinsi;


b. Arahan perizinan;
c. Arahan pemberian insentif dan ndisinsentif;
d. Arahan sanksi.
8-6

R[ \ (- r \.,r

1'."t

..t tl

LJ \' (; il' t L. t I'..I1 p Ro t' t.\'s 1 D I t' 2 009-

20

29

8.3.1 Arahan

Peraturan Zonasi Sistem Provinsi

Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi meliputi indikasi arahan peraturan
zonasi untuk struktur ruang dan pola ruang, yang terdiri atas,

a. Sistem perkotaan provinsi;


b. System jaringan transportasi provinsi;
c. Sistem jaringan energi provinsi;
d. lsystem jaringan telekomunikasi provinsi;
e. Sistem jaringan sumberdaya air;

f.

Kawasan lindung provinsi;

S.

Kawasan budidaya

8.3.1.1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Struktur Ruang


Indikasi arahan peraturan zonasi untuk system perkotaan provinsi dan jaringan
prasarana wilayah provinsi direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan;

a. Pemanfaatan

ruang di sekitar jaringan prasarana provinsi untuk mendukung

berfungsinya system perkotaan provinsi dan jaringan prasarcna provinsi;

b. Kegiatan pemanfaatan ruang yang

menyebabkan gangguan terhadap


berfungsinya system perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi harus
dicegah;

c.

Pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi


system perkotaan provinsi dan jaringan prasarana provinsi.

8.3.1.1.1 IndikasiArahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Perkotaan Provinsi

1)

Peraturan Zonasi untuk PKW disusun dengan memperhatikan

a.

Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala provinsi

yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai


dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

b.

Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman


dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah yang mempunyai
kecenderungan pengembangan ruangnya kearah horizontal dikendalikan,
mengingat keterbatasan lahan diwilayah DlY.

2)

Peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang

untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas


sesuai dengan yang dilayaninya.

8.3.1.1.2 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Transportasi


Provinsi

1)

Peraturan zonasi untuk jaringan jalan provinsi disusun dengan memperhatikan

a.

Membatasi kegiatan pemanfaatan ruang

di sepanjang sisi jalan

provinsi

dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi;

b.

Mencegah alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisijalan


provinsi;

RErVCll,\.

7'.17'.

R U,l

i C rl' I L.4 )'.4 H P RO I' l,\'S I D I l' 2 (n)9

202

8-7

a.

Penetapan garis sempadan bangunan di sisijalan provinsiyang memenuhi


ketentuan ruang pengawasan jalan.

2)

Peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api disusun dengan memperhatikan

a.

Membatasi kegiatan pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jaringan jalur


kereta api yang dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga
tinggi;

b.

Mencegah kegiatan pemanfaatan ruang pengawasan jalur kereta api yang

dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan trasportasi


perkeretaapian;

c.

Pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan


akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api;

d.

Pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api


dan jalan;

e.

Penetapan garis sempadan bangunan

di sisi jalur

kereta api dengan

memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jalur


kereta api.

3)

Peraturan zonasi untuk Bandar Udara Umum disusun dengan memperhatikan

a.
b.

Pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara;

Pemanfaatan ruang

di sekitar bandar udara sesuai

dengan kebutuhan

pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku;

c.

Batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dan


batas-batas kawasan kebisingan;

d.

Peraturan zonasi untuk ruang udara untuk penerbangan disusun dengan


memperhatikan pembatasan pembatasan pemanfaatan ruang udara yang
digunakan untuk penerbangan agar tidak mengganggu system operasional

penerbangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-uindangan


yang berlaku.

8.3.1.1.3 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Jaringan Energi Provinsi


Jaringan energi provinsi meliputijaringan energi listrik dan gas bumi arahan peraturan
zonasinya sebagai berikut

a.

Peraturan zonasi untuk jaringan pipa minyak dan gas bumi disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar jaringan pipa minyak dan gas bumi
yang harus memperhatikan keselamatan kawasan di sekitarnya;

b.

Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik disusun dengan


memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit tenaga listrik harus
memperhatikan jarak aman darikegiatan lain;

c.

Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan


memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang

jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang


berlaku.

8-8

RENC.{ r\',{

7'.-t 7'.-1 1l (,t.-l

it G I I' I L.

I )' A

RO I' I I'S I D I I'

00 9- 2 0 2 9

8.3.1.1.4 Indikasi Arahan Peraturan

Zonasi Untuk Sistem

Jaringan

Telekomunikasi Provinsi
Peraturan zonasi untuk system jaringan telekomunikasi provinsi disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara
pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan
aktivitas kawasan di sekitarnya.

8.3.1.1.5 IndikasiArahan

Peraturan Zonai Untuk Sistem Jaringan Sumber daya

Air
Peraturan zonasi untuk system jaringan sumberdaya air pada wilayah sungai disusun
dengan memperhatikan

a.

Pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga
kelestarian lingkungan dan fungsi lindung bantaran sungai;

b. Pemanfaatan

ruang di sekitar wilayah sungai lintas provinsi dan lintas kabupaten

yang selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai di provinsi dan
kabupaten yang berbataan.

8.3.1.2. Arahan Peraturan Zonasi Untuk Pola Ruang


8.3.1.2.1. lndikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Provinsi

1)

Peraturan zonasi untuk kawasan lindung disusun dengan memperhatikan,

a. Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;


b. Ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas
kawasan hutan dan tutupan vegetasi;

c. Pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budi daya hanya diizinkan bagi
penduduk

asli dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi

lindung

kawasan, dan di bawah pengawasan ketat.

2)

Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan

a.

Pemanfaatan secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang


memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

b. Penyediaan

sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang

sudah ada:

c. Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap

tiap kegiatan budidaya

terbangun yang diajukan izinnya.

3)

Peraturan zonasi untuk sempadan pantai disusun dengan memperhatikan

a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;


b. Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah

c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang

abrasi;

kegiatan rekreasi

oantai:

d.

Ketentuan pelarangan pendirian bagunan selain yang menunjang kegiatan


rekreasi pantai;

e.

Ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas


nilai ekologis, dan estetika pantai.

R6I',(:t.,\.{ I.Jt.-t Iilt.t,\G It tL.t).ut PROI'l\,\'l

l)lI

:0t)9-:0:9

8-9

4)

Peraturan zonasi untuik sempadan sungai, dan kawasan sekitar waduk, embung,
telaga dan laguna disusun dengan memperhatikan

a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau,


b. Ketentuan pelarangan / pendirian bangunan

kecuali bangunan yang

dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air,

c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi,


d. Penetapan lebar garis sempadan

sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

5)

Peraturan zonasi untuk sempadan mata air disusun dengan memperhatikan,

a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau,


b. Pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan

pencemaran terhadap mata

air.

6)

Peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam disusun dengan memperhatikan

a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam,


b. Pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam,

c. Ketentuan pelarangan

pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan

perundang-undangan,

d.

Ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengurangi daya dukung dan


daya tampung lingkungan,

e. Ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah bentang

alam dan

ekosistem.

7)

Peraturan zonasi untuk kawasan suaka margasatwa, dan cagar alam disusun
dengan memperhatikan

a. Pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam,


b. Ketentuan pelarangan kegiatan selain penelitian, pendidikan, dan wisata
alam,

c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuik menunjang kegiatan penelitian,


pendidikan, dan wisata alam,

d. Ketentuan pelarangan

pendirian bangunan selain penelitian, pendidikan, dan

wisata alam.

e.

Ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan penglepasan satwa


yang bukan flora dan satwa endemik kawasan.

8)

Peraturan zonasi untuk taman hutan raya disusun dengan memperhatikan

a. Pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam,


b. Ketentuan pelarangan kegiatan selain penelitian, pendidikan, dan wisata
alam,

c.

Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan penelitian,


pendidikan, dan wisata alam,

d.

Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain penelitian, pendidikan, dan


wisata alam.

9)

Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun
dengan memperhatikan

8-10

i?f .\ (-..1,\.,1't".n

G il' t L. n'..t H

..1 tt r.

"l.\

Ro t' t,\'s t

Dl

t' 2 009-

2 0 29

a. Pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, dan pariwisata,


b. Ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan

yang tidak sesuai

dengan fungsi kawasan.

10) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana disusun

dengan

memperhatikan:

a.

Pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis dan


ancaman bencana,

b. Penentuan lokasi dan jaliur evakuasi

dari permukiman penduduk,

c. Pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan


ancaman bencana dan kepentingan umum.

8.3.1.2.2 lndikasiArahan Peraturan Zonasi Kawasan Budi Daya

1)

Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksidisusun dengan memperhatikan

a.

Pemanfaatan hasil hutan secara optimal dan lestari untuk menjaga kestabilan
neraca sumber daya hutan;

b.

Pemanfaatan kawasan untuk kegiatan non kehutanan dan/atau pendirian


bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan;
dan

c.
2)

Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf b.

Peraturan zonasi untuk kawasan pertanian disusun dengan memperhatikan

a.
b.

Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah; dan


Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan beririgasi menjadi lahan budidaya non
pertanian kecuali untuk kepentingan umum.

3)

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan


memperhatikan:

a.

Pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara


biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat; dan

b.

Pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan


pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan
kepentingan daerah.

4\

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan


memperhatikan

a.

baik yang sesuai dengan


kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam maupun
Pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri

sumber daya manusia di wilayah sekitarnya; dan

b.

Pembatasan pembangunan perumahan baru

di sekitar kawasan

peruntukan

industri.

5)

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan

memperhatikan

a.

Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai dengan daya


dukung dan daya tampung lingkungan;

b.

Perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;

/lE,\ ( : l,\.-t I'.47..1

R Li A N'

G tl: I LA

l'.-l

RO I' I i\ S I D I )

009 - 20 2 q

8-

11

c.

Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata;


dan

d.
6)

Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.

Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan


memperhatikan

a.
b.
c.
d.

Penetapan amplop bangunan;


Penetapan tema arsitektur bangunan;

Penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan; dan


Penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

7) Peraturan zonasi untuk kawasan pendidikan tinggidisusun dengan memperhatikan

a.
b.

Penetapan guna bangunan yang mendukung kegiatan pendidikan tinggi;

Pelarangan pendirian bangunan yang digunakan untuk kegiatan yang


bertentangan dengan kegiatan pendidikan tinggi;

c.
d.
e.
8.3.2

Penetapan tema arsitektur bangunan;

Penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;dan


Penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

Arahan Perizinan

1) Setiap orang yang akan memanfaatkan ruang wajib memiliki izin Pemanfaatan
Ruang.

2) lzin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diajukan kepada Gubernur melalui


Keoala Dinas.

3) lzin Pemanfaatan Ruang terdiriatas

a.
b.

lzin Lokasi yang menyangkut fungsi ruang;


Amplop ruang mencakup koefisien lantai bangunan dan garis sempadan
bangunan, dan

c.

Kualitas ruang merupakan kondisi ruang yang harus dicapai setelah


dimanfaatkan (kondisi udara, tanah, air hidrogeologi, flora dan fauna).

4) Setiap orang yang telah memiliki lzin Pemanfaatan Ruang dalam pelaksanaan
pemanfaatan ruang harus sesuai dengan izinnya.

8.3.3. Arahan Pemberian Insentif Dan Disinsentif


Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang Daerah
dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada kabupaten/kota dan kepada masyarakat.
Sasaran pemberian insentif dan disinsentif adalah

1)

Setiap orang atau korporasi/lembaga yang melaksanakan kegiatan memanfaatkan


ruang sejalan dengan RTRWP DIY dapat diberikan insentif.

2)

Setiap orang atau korporasi/lembaga yang melaksanakan kegiatan memanfaatkan


ruang tidak sejalan dengan RTRWP DIY dapat dikenaidisinsentif.

Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif tersebut dilaksanakan oleh instansi


benruenang sesuai dengan kewenangannya.

Bentuk pemberian insentif sebagai berikut

8-12

RENC.4,,\,4

7'..1

7"-t R I 1,1 I'. G

t', I L..t 1"1

H p RO I' l,\ S I

DI

t'

00

9-202

1)

Insentif kepada kabupaten/kota diberikan, antara lain dalam bentuk:

a. Pemberiankompensasi,
b. Urun saham.

c. Pembangunan serta pengadaan


d.
2)

prasarana, dan

Penghargaan.

Insentif kepada masyarakat diberikan antara lain dalam bentuk

a. Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi


b. lmbalan,
c. Sewa ruang, urun saham,
d. Penyediaan prasarana,
e. Kemudahan prosedur perizinan, dan

f.

silang

Penghargaan

Bentuk pemberian disinsentif sebagai berikut

1)

Disinsentif kepada kabupaten/kota dikenakan antar lain dalam bentuk

a. Pembatasan penyediaan
b. Pengenaan kompensasi,

prasarana,
dan/atau

c. Pinalti.
2)

Disinsentif kepada masyarakat dikenakan antara lain dalam bentuk

a. Pengenaan pajak yang tinggi,


b. Pembatasan pajak yang tinggi,
c. Pengenaan kompensasi, dan/atau
d. Pinalti.
8.3,4 Arahan sanksi.

Sanksi dikenakan untuk kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
RTRWP dalam bentuk

a. Pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi di daerah;


b. Pemanfaatan ruang tanpa izin yang diterbitkan berdasarkan RTRWP;
a. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin yang diterbitkan
berdasarkan RTR\A/P:

c.

Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan

izin

yang

diterbitkan berdasarkan RTRWP;

d. Pemanfaatan

ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh

pengaturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau

e. Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak
benar.

Pelanggaran terhadap Peraturan Daerah ini dikenakan sanksi administrasi dan/atau

sanksi pidana. Sanksi tersebut dikenakan kepada perseorangan dan/atau korporasi


yang melakukan pelanggaran sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sanksi administratif dalam bentuk

a.
b.

Peringatantertulis,
Penghentiansementarakegiatan;

RE,\'C.,J.\.J I.-tTA RL"1,\',G

IflL.-tI"-tf| PROI l\.\l DI',t )(X)9-10:9

8 - 13

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
8.4

Penghentian sementara pelayanan umum;

Penutupan lokasi;
Pencabutan izin;
Pembatalan izin;
Pembongkaranbangunan;
Pemulihan fungsi ruang;
Denda administratif.

Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang

Menurut PP No.69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk

dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang dan Kuputusan Rl
No.7 Tahun 1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam
pembangunan dan atau pengelolaan infrastruktur, menyatakan bahwa dalam kegiatan

penataan ruang masyarakat berhak berperan serta dala proses perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Peran masyarakat dalam proses perencanaan dilakukan melalui pemberian informasi

berupa data, bantuan pemikiran, dan keberatan, yang disampaikan dalam bentuk

dialog, angket, internet dan melalui media lainnya, baik langsung maupun tidak
langsung. Peran serta masyarakat dalam proses pemanfaatan ruang dapat dilakukan
melalui pelaksanaan program dan kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan
RTRWP, meliputi:

a.

Pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan RTRWP
yang telah ditetapkan.

b. Bantuan

pemikiran

dan

pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan

pemanfaatan ruang wilayah.

c.

Bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang.

Didalam proses pengendalian pemanfaatan ruang, peran masyarakat dapat dilakukan


melalui:

a.

Pengawasan dalam bentuk pemantauan terhadap pemanfaatan ruang dan


pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang.

b.

Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan


ruang.

Peran masyarakat dalam Penataan Ruang terdiridari

(1)

Dalam proses penataan ruang setiap orang berhak untuk

a)

Mengetahui RTRWP DIY dan rencana rinciyang akan disusun kemudian;

b)

Menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang di


daerah;

c) Memperoleh

penggantian yang layak akibat pelaksanaan kegiatan

pembangunan yang sesuaidengan RTRWP DIY;

8-14

RE.\ (" L\.

7'.t7..1 RLt..1.\G

il'il,.t]..il]

pROI',t,\St DD', 2009-2029

d)

Mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan


yang tidak sesuaidengan RTRWP DIY diwilayahnya;

e)

Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan permintaan penghentian


pembangunan yang tidak sesuai dengan RTRWP DIY kepada pejabat yang
berwenang;

f)

Mengajukan

gugatan ganti kerugian kepada pemerintah, dan/atau

pemegang izin apabila kegiatan pembangunan tidak sesuai dengan


RTRWP DIY yang menimbulkan kerugian; dan

g)

Mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara atas keputusan


Tata Usaha Negara yang terkait dengan tata ruang provinsi.

(2)

Agar masyarakat mengetahui RTRWP DIY dan rencana rinci yang telah
ditetapkan maka SKPD yang berwenang harus menyebarluaskan melalui media
massa, audio visual, papan pengumuman dan selebaran serta sosialisasi secara
langsung kepada seluruh aparat Daerah dan komunitas masyarakat di daerah.

(3)

Pelaksanaan hak masyarakat untuk menikmati pertambahan nilai ruang


dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4)

Hak memperoleh penggantian diselenggarakan dengan cara musyawarah di


antara fihak yang berkepentingan atau sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Kewajiban masyarakat dalam Penataan Ruang terdiri dari

(1)

Dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang wajib

a)
b)

Mentaati RTRWP DIY yang telah ditetapkan;

c)

Memberikan akses terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan yang

Memanfaatkan ruang sesuaidengan izin;

sesuai dengan RTR\A/P DIY;

d)

Menerapkan kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dipraktekkan


masyarakat secara turun temurun dengan memperhatikan faktor-faktor daya

dukung lingkungan, estetika lingkungan, lokasi, dan struktur pemanfaatan


ruang, serta dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi, selaras, dan
seimbang.

(2)
(3)

Dalam penataan ruang masyarakat wajib memelihara kualttas ruang.

Pelaksanaan kewajiban masyarakat dilaksanakan dengan mematuhi dan


menerapkan kriteria penataan ruang, kaidah penataan ruang, baku mutu
penataan ruang, dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Peran masyarakat dalam penataan ruang di Daerah dilakukan melalui:

a. Proses perencanaan tata ruang;


b. Pemanfaatan ruang; dan
/if

\(-.-r.\.1 t'.|T.-t R(,t..1.\'G ll'lL.rLlll PROI'1.\Sl

Dll 1009-289

8-15

c.

Pengendalian pemanfaatan ruang.

Bentuk peran masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang dapat berupa:

a. Pemberian masukan mengenai:


1. Penentuan arah pengembangan wilayah/kawasan;

2. Potensidan masalah pembangunan; dan


3. Perumusan rencana tata ruang;

b.

Penyampaian keberatan terhadap rancangan rencana tata ruang; dan

c. Kerjasama

dengan Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sesama unsur

masyarakat.
Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang dapat berupa:

a.

Kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan;

b. Penyampaian masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;

c. Pemberian dukungan bantuan teknik, keahlian, dan/atau dana dalam pengelolaan


pemanfaatan ruang,

d. Peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat,


ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan
lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

e.

Kerjasama pengelolaan ruang dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau

dan pihak lain secara bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan penataan
ruang;

f.

Kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan


dan sumber daya alam; dan

g.

Kegiatan investasi dan/atau jasa keahlian.

Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat berupa:

a. Pemberian masukan

mengenai arahan zonasi dan/atau peraturan zonasi,

perizinan, pemberian insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi;

b. Keikutsertaan dalam memantau dan

mengawasi pelaksanaan kegiatan

pemanfaatan ruang, rencana tata ruang yang telah ditetapkan, dan pemenuhan
standar pelayanan minimal di bidang penataan ruang;

c. Pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal


menemukan kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang

yang telah ditetapkan dan adanya indikasi kerusakan dan/atau pencemaran


lingkungan, tidak memenuhi standar pelayanan minimal dan/atau masalah yang
terjadi di masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang;

8-16

RIIVC{,\l.l

T', |

7.1 RUA

G rl: I LA

l'..1

Ll

RO

l'I

N'S

D I

I' 2 009-

202

d.

Pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat publik yang dipandang tidak


sesuai dengan rencana tata ruang; dan

e.

Pengajuan gugatan pembatalan izin dan/atau penghentian pembangunan yang


tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada instansi dan/atau pejabat yang
berwenang.

Peran masyarakat dalam penataan ruang dapat disampaikan

(1) Secara langsung dan/atau tertulis.


(2) Peran masyarakat dapat disampaikan kepada Gubernur yang mengkoordinasikan
penataan ruang provinsi melalui SKPD terkait.

Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat, pemerintah daerah membangun


sistem informasi dan dokumentasi penyelenggaraan penataan ruang yang dapat
diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Pelaksanaan tata cara peran masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

REA' C A A".T T.4 T.1 R U A N

I LA YA

"'

H P RO I' I N'SI

D I

I'

2 OO9

2 02

8-17

LAMPIRAN

REVC.-I

r.l T.1 T.-t R L;.-1.\ G fi: I LA

1"4

H P RO t'.I N S I

DI

l' 2 009 - 2 0 2 9

L-0

LAMPIRAN

TATA CARA PENENTUAN KRITERIA KAWASAN LINDUNG


Kawasan Lindung
Dalam SK Menteri Pertanian No. 837/KPTS/UM/1111980 dan No. 683/Kpts/Um/8/1981 tentang
kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi ada tiga faktor yang dinilai
sebagai penentu kemampuan lahan sebagai suatu kawasan lindung, yaitu :
1. Kelerengan lapangan.
2. Jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi.
3. Intensitas hujan harian rata - rata.
Adapun Klasifikasi dan nilai skor dari ketiga faktor di atas dapat dilihat pada

tabel dibawah

ini

Tabel L.1

Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Kelerengan

Pedoman Penyusunan Pola RLKT Tahun

Tabel L.2
Klasiflkasi dan Nilai Skor Faktor Jenis Tanah
Klasifikasi

Nilai Skor

Aluvial, Glei, Planosol,


Hidromerf, Laterik air
tanah

Tidak Peka

15

Latosol
Brown forest. soil. non
calcic brown mediteran

Kurang Peka
Agak Peka

30

Peka

60

Sangat Peka

75

Jenis Tanah

Kelas

II

ill
IV

Andosol, Latent, Grumosl,


Podso, Podsolic
Regosol, Litosol,
Organosol, Rensina

Sumber Pedoman Penyusunan Pola

TabelL.3
Klasifikasi

Nilai Skor Faktor lntensitas


Klasifikasi
Jenis Tanah

Kelas

Aluvial, Glei, Planosol,


Hidromerf, Laterik air
tanah
tl

Latosol

ill

Brown forest, soil, non


calcic brown mediteran

IV

Andosol. Latent. Grumosl


Podso. Podsolic
Regosol, Litosol,
Organosol, Rensina

7',1

T.-l R l ;.'1,\'

(i

IL' l

Nilai Skor

Tidak Peka

15

Kurang Peka

30

Agak Peka

45

Peka

OU

Sangat Peka

75

Pola RLKT Tahun 1994

Pedoman

R6.\'C4r\.1

Rata-Rata

L.'l

l',1

H P RO t' 1 \'S I

D I I' 2 009-2

0 2

L-1

LAMPIRAN

Kriteria kawasan lindung yang ditetapkan dalam Keppres No. 32 Tahun 1992 tentang Kawasan
Lindung dapat dilihat pada Gambar L.1:

Gambar L.1
Penentuan Kawasan Berfungsi Lindung
(Berdasarkan Kepres No. 32 Tahun 1990)

20
40
60
80
100

Vd 1,36 mm/hr

10

1,36 - 2,07 mm/hr

20

nnlhr

30

2J7 -3,48mnlhr
> 3,48 mm/hr

40

2,07 -2,77

skor > 175


Kemiringan > 40%
Ketinggian > 2.000 m

3U

- Skor 125 - 174

Litologi: Poros
Ketinggian > 1.0fi) m

IR
JT,,

45

Vegetasi Penutup > 75%


Curah Hujan > 3,48 mm/hr

IJ
Kalvasan Bergambut

l(aivasar Perlindungan
Semoadan Pantai
Sempadan Sungai
Sempadan Danau
Sempadan Mata Air

L-2

R'I'C-],\-TATA RUAi\'C'I:11,1}',1H

PROI'INSI

DII'

2OO9-2029

LAMPIRAN

LUAS KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG Dl KABUPATEN/KOTA PROVINSI DIY (Hektar)


TABEL L.4
KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG DI KABUPATEN BANTUL

Grand Total

KABUPATEN

Sumber : Hasil Analisis dengan proses analists supenmpose Sistem

RENCANA TATA RUANG WIL.4YAH PROVINSI DIY 2009-2029

L-3

LAMPIRAN

TABEL L.5
KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

KABUPATEN

Grand Total

GUNUNGKIDUL

6889,56
9611,06
7893.85

9126,78
7176,63
105
1

0390

7787.76

10849,51

7700,52
GUNUNGKIDUL
Total

147',!

Sumber : Hasil Analisis dengan proses analisis superimpose Sistem Informasi Geografis

RENCANA TATA RUANG IYILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

L-4

LAMPIRAN

TABEL L.5
KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG DI KOTA YOGYAKARTA

Grand Total

KABUPATEN

109,92

YOGYAKARTA

412.97

64,15

823,85

YOGYAKARTA
Total

J I ZJ,JZ

Sumber : Hasil Analisis dengan proses analigs superimpose Sistem Informasi Geografls

R]i,\,|CAAIA TATA RI]A,\,1G

PROIINSI DIY 2OO9-2O29


'I'I1,,4YAH

L-5

LAMPIRAN

TABEL L.7
KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG DI KOTA YOGYAKARTA

Grand Total

KABUPATEN

KULONPROGO
5823.12

KULONPROGO Total

56810,4

Sumber : Hasil Analisrs dengan proses analisis superimpose Sistem Informasi Geografis

RENCANA TATA RI/ANG IYILAYAH PROVIAISI DIY 2009-2029

L-6

LAMPIR,AN

TABEL L.8
KAWASAN BERFUNGSI LINDUNG DI KOTA YOGYAKARTA

KABUPATEN

Grand Total

SLEMAN
3414.4
291
2673.92
3606.19
2567
2782.87
3662,37
521

2670
311

3971,8
SLEMAN Tota|

57221.51

Grand Total

RI1N('ANA TATA RUANG I'YIL,IYAH PROI,'INSI DIY 2009-2029

31

L-7

5085.78

LAMPIRAN

TATA CARA PENENTUAN KAWASAN BUDIDAYA

a.

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Permukiman


Permukiman penduduk dengan segala fasilitas pendukungnya paling ideal berada pada
kemiringan 0-8%, kemiringan 8-15% masih dapat diterima dengan pembatasan kepadatan
bangunan, sedangkan kemiringan diatas 15% tidak baik untuk pusat pemukiman. Selain
itu, kualitas air tanah dan ketersediaan air bersih juga perlu diperhatikan, kualitas air harus
baik karena pada permukiman penggunaan air bersih akan sangat tinggi.

TabelL.9
Permukiman
Kesesuaian
Hujan, sungai, atau
sumur 10 m

Sumur >30 m
Asin

>15%
Sangat
cepaUsangat

Sumber: Maberry 0972),

b.

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Perindustrian


Faktor pembatas utama dalam menentukan lahan yang sesuai bagi pengembangn industri
adalah faktor kemiringan lahan, drainase tanah, ketinggian, resiko banjir dan genangan,
serta ketersediaan air bersih. Faktor pembatas lainnya bukan berasal dari faktor lahannya,
akan tetapi faktor aksesibilitas kepada bahan baku dan pasar, kelayakan ekonomis, dan
sebagainya. Dalam kajian ini hanya diidentiflkasikan kesesuaiannya berdasarkan sifat-sifat
fisiknya saja.

c.

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering,
dan Perkebunan
Penentuan kesesuaian lahan untuk pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, dan
perkebunan didasarkan pada kesuburan lahan, tekstur tanah, resiko banjir dan genangan,
prosentase batu-batu dipermukaan tanah, ketebalan tanah atas dan ketinggian. Untuk lebih
jelasnya kriteria penentuan kesesuaian lahan untuk pertanian lahan basah, pertanian lahan
kering, dan perkebunan ditunjukkan oleh Tabel L.10.

d-

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Peternakan


Faktor pembatas pengembangan peternakan sangat terkait pada faktor pembatas bagi
pengembangan tanaman makanan ternak dan ketersediaan air. Daerah dengan kualitas air
tanah payau sampai dengan asin dan tidak tersedia air sungai serta curah hujan yang
cukup dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai lahan pengembangan peternakan. Pada
daerah-daerah dengan ketebalan gambut lebih dari 10 cm juga tidak dianjurkan untuk
dt1-adikan peternakan, karena pada kondisi demikian. Pada umumnya rumput sebagai
makanan ternak tidak dapat tumbuh dengan baik.

e.

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Perikanan


Faktor pembatas utama dalam pengembangan perikanan adalah kedalaman efektif tanah,
tekstur tanah, drainase tanah, ketinggian lahan, dan ketebalan gambut. Lahan yang sesuai
untuk perikanan adalah lahan dengan tekstur halus sampai sedang, kondisi drainase
sangat terhambat dengan kedalaman efektif tanah diatas 150 cm, dan tidak bergambut.
Sedangkan kemiringan lahan yang paling baik adalah kurang dari 3o/o, beberapa sistem
lahan yang memiliki tekstur tanah berlempung kasar atau drainase terhambat, dengan
kedalaman antara 75-150 cm dan ketebalan gambut kurang dari 25 cm masih dapat
dikembangkan sebagai lahan perikanan dengan memberikan masukan dan perlakuan
khusus.

f.

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Pertambangan


Kesesuaian lahan untuk pertambangan sangat tergantung pada faktor ketersediaan dan
kandungan bahan tambang di suatu daerah. Penelitian yang cukup detail dan seksama
perlu dilakukan untuk memutuskan bahwa suatu kawasan layak untuk dieksploitasi. Satu-

L-8

Nf,\C, I,\,I 7,IT,.I

RL,'..ItrIG T]:IL,[T'AH PROI'INSI

DIY 2009-2029

LAMPIRAN
satunya pembatas bagi pengembangan pertambangan adalah kawasan-kawasan berfungsi
lindung, seperti yang ditetapkan dalam Kepres No. 32 tahun 1990. Pada dasarnya kegiatan
pertambangan adalah kegiatan penggalian tanah yang banyak bertentangan dengan
prinsip-prinsip pelestarian dan perlidungan alam.

Tabel L.10
Kriteria Kesesuaian lahan Untuk Kawasan Budidaya Lainnya
Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya

\,1o.

1
I

Perkiraan Luas (Ha)

% Terhadap Luas Provinsi

4.21U

13,411.7000

Hutan Produksi
Oaqar Perkampunqan (Desa Wisata)

2.124.7100

0.6680

Hutan Wisata Alam

1.551.9300

0.4879

lalur Sabuk Hiiau (Green Belt)

5.990.5700

'1.8833

Kawasan Pendidikan Tinqqi

1.684.9'100

0.5297

700.&f00

0.2203

13.722.0100

4.3139

7.149.9500

2.2478

Gwasan Pertanian Lahan Basah

44.035.3200

13.8439

(awasan Pertanian Lahan Kerinq

43.715.3100

13.7432

(awasan Peruntukan lndustri


Gwasan Perkotaan/Permukiman

(amsan Peruntukan Pertambanoan

-uas Kawasan Budidava

134.087.0500

-uas Provinsi

31

RENCAN.A TATA RU.4NG

I,I'1

LAI'AH PROI'IA'SI DI)' 2009-2029

8.085.7400

42.1544
1

00.0000

L-9

LAMPIRAN

Tabel L.11
Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering, Dan Perkebunan
Jenis Penggunaan
Perkebunan
Tidak Sesuai

<50cm
Berliat,
berdebu
halus,
berlempung
halus

berkuarsa

Sangat rendah
> 75o/o

Sangat rendah

<4,
> 8,0
<20

<20Vo
> 100 cm

Yo

> 150 cm

> 70%

<50cm

Tinggi, sangat tinggi

<1000&>5000

<1000&>5000

<400&>5000
Cepa!sangat cepat,
terhambatsangat
terhambat

RENCANA TATA RUANG IYILAYAIT PROVINSI DIY 2009-2029

L-10

LAMPIRAN

Jenis Penggunaan
No

Kriteria
Sesuai

12

13

Lahan Kering

Lahan Basah

Baniir dan
genangan
musiman

Tanpa

Ketinggian

<500m

Ssual

Perkebunan

Bersvarat

Tldak Sesuai

Sesuai

Sesuai Bersyarat

Tidak Sesual

Sesuai

Antara 2 sampai
7 bulan tanpa
ada genangan

Tanpa

Antara 2 ampai 4
bulan tanpa ada
genangan
permanen

Lebih dari 4 bulan


dan atau tergenang
permanen

Tanpa

permanen

Lebih dari 7
bulan dan atau
tergenang
permanen

500-1 000 m

> 1000 m

<500m

500-1500 m

> 1500 m

<500m

Sumber: Maberry 0972),

RL:NCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI DIY 2009-2029

L-

11

Sesuai Bersyarat
Antara 2 ampai 4
bulan tanpa ada
genan9an
permanen
500-1 500 m

Tidak Sesuai
Lebih dari 4 bulan dan
atau ter9enang
permanen

> 1500 m

LAMPIRAN

TABEL L.12
KAWASAN BERFUNGSI BUDIDAYA DI PROVINSI DIY
Grand Total

KABUPATEN

RENCANA TATA RUANG INLAYAH PROI4NSI DIY 2009-2029

L-12

LAMPIRAN

Grand Total

KABUPATEN

GUNUNGKIDUL
147163.23

Total

YOGYAKARTA

64,1 5

296,64

YOGYAKARTA
Total

31

RI',VCANA TATA RUANG IYILAYAH PROVINSI DIY 2009.2029

L- 13

96.59

LAMPIRAN

RENCANA TATA RUANG IIqLAYAH PROVIATSI DIY 2009.2029

L-14

LAMPIRAN

Tabel L.13

Luas Penggunaan Lahan Untuk Kawasan Hutan Produksi


Di Provinsi DIY

Kecamatan

No

Kabupaten

Luas (Ha)

Dlingo

Bantul

748,51

lmogiri

Bantul

18,44

Pleret

Bantul

68,68

Gedangsari

Gunungkidul

21,98

Karangmojo

Gunungkidul

752,69

Ngawen

Gunungkidul

27,48

Nglipar

Gunungkidul

2.125.O2

Paliyan

Gunungkidul

1.998,96

Panggang

Gunungkidul

1.473,16

10

Patuk

Gunungkidul

11

Playen

Gunungkidul

12

Ponjong

Gunungkidul

74,79

13

Saptosari

Gunungkidul

48,45

14

Semanu

Gunungkidul

549,91

1E

Semin

Gunungkidul

112,06

to

Tanjungsari

Gunungkidul

4,31

17

Wonosari

Gunungkidul

354,49

18

Kokap

Kulonprogo

786,63

19

Pengasih

Kulonprogo

o,21

20

Temon

Kulonprogo

82,89

Luas total /
kabupaten

835,63

280,2
10.634,12

Luas Total Kawasan Hutan Produksi Terbatas

2.810,62

869,73

12.339.48

Sumber: Hasil Analisis Overlay Peta, 2007.

RE,\C.{L-l TA7''l RU.4i\;C lI lL.lI.1H PROI'1.\SI DII :(n)9-20:9

L- 15

LAMPIRAN

Tabel L.14
Luas Penggunaan Lahan Untuk Kawasan Pertanian Lahan Basah
Di Provinsi DIY
Luas total /
kabupaten

12.163.4

10

12
13
14
15
16

116,35

17
18
19

zl

2.518,26
1

22

23

1.087,49

25

2.313,28

1.961,54

28
29
30
31

17.086,71

Luas Total Kawasan Pertanian Lahan Basah


Sumber: Hasil Analisis Overlav Peta. 2007

L-16

R6.\',CJI.l

T.

tT..t

R(,',..1,\',

r' I L.J

\".t |

p RO t' t

\.\ I

D I

t' 2 009-

20

29

LAMPIRAN
Tabel L.15
Luas Penggunaan Lahan Untuk Kawasan Pertanian Lahan Kering
Di Provinsi DIY
Kabupaten

Kecamatan

No

Luas (Ha)

Bambanglipuro

Bantul

49,73

Banguntapan

Bantul

379,1 9

Dlingo

Bantul

o,27

Kasihan

Bantul

932

Kretek

Bantul

8,1

Pajangan

Bantul

2.212,95

Pandak

Bantul

63,99

8
a

Sedayu

Bantul

595,38

Sewon

Bantul

5,5

10

Gedangsari

Gunungkidul

11

Girisubo

Gunungkidul

74,03
5.982.14

Karangmojo

Gununqkidul

13

Ngawen

Gununqkidul

478.45

'14

Nglipar

Gunungkidul

469,49

15

Paliyan

Gunungkidul

2352,O1

16

Panggang

Gunungkidul

337,66

17

Patuk

Gunungkidul

27,9

18

Playen

Gununqkidul

5.584,15

19

Purwosarl

Gununqkidul

330,36

20

Rongkop

Gunungkidul

1.438,39

21

Saptosari

Gunungkidul

498,1 3

aa

Semanu

Gunungkidul

1.6s8,92

23
24

Semin
Taniunqsari

Gununokidul
Gunungkidul

267,37

25

Teous

Gunungkidul

493,7

26

Wonosari

Gunungkidul

6.295,82

27

Danurejan

Kota Yoovakarta

109,92

28

Gedongtengen

Kota Yoqvakarta

98,23

29

Gondokusuman

Kota Yoqvakarta

412,97

30

Gondomanan

Kota Yogyakarta

114,93
171,55

32

Jetis
Kotagede

Kota Yogyakarta
Kota Yoovakarta

173,83

33

Kraton

Kota Yoqvakarta

38,55

34

Mergangsan

Kota Yogyakarta

114,98

35

Ngampilan

Kota Yoqyakarta

73,05

36

Pakualaman

Kota Yogyakarta

64,16

Teqalreio

Kota Yogyakarta

296,63

38

Umbulharjo

Kota Yogyakarta

526,67

39

Wirobrajan

Kota Yogyakarta

55,17

40

Galur

Kulonprogo

28,77

41

Girimulyo

Kulonprogo

42

Kalibawano

Kulonprogo

3.144,29

43

Kokap

Kulonprogo

1.320,32

44

Lendah

Kulonprogo

2.535,91

45

Nanggulan

Kulonprogo

3.2U,26

46

Paniatan

Kulonprogo

1.066,02

RL.\ C.-1.\..r

t-. I I

.1

R L',.1 tr

lt', I 1.1 ) .1

H P RO I', l.\ S I

D I

)'

0( )9- 20 2 9

4.247,11

1.10,47

12

31

Luas total /
kabupaten

26.563.43

164,44

2.250.64

.'175,93

23624,9

L- 17

I.AMPIRAN
Luas total /
kabupaten

12502,5

Total Luas Kawasan Pertanian Lahan Kering


Sumber: Hasil Analisis Overlay Peta, 2007.
Tabel L.16
Luas Penggunaan Lahan Untuk Kawasan Peruntukan Pertambangan
Di ProvinsiDlY
Luas total
Kecamatan

No

Kabupaten

Luas (Ha)

kabupaten

Karangmojo

Gunungkidul

443.52

Ponjong

Gunungkidul

2 419,23

Semanu

Gunungkidul

3 639,1

Tanjungsari

Gunungkidul

45,3

Wonosari

Gunungkidul

341,09

Cangkringan

Sleman

49,98

Pakem

Sleman

211,63

Tempel

Sleman

Luas Total Kawasan Peruntukan


Sumber: Hasil Analisis Overlay Peta,2007

L-18

Rf,|c-I.\:.J

".t

261,69
7149,94

G t r I 1.1 l'.. t H

R U,1

1 7

6888,25

0,08
n

T,

^:

p RO

r L\ S I

D I t', 2 0 0 9- 2 0 2

LAMPIRAN
Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Tabel L.17

Struktur Pekerjaan Penduduk Diperinci


No
I

2
4

Usaha Provinsi DIY Tahun 2005


LakiJumlah
Perempuan
Laki

Lapangan
Pekeriaan
Pertanian
lndustri Penqolahan
Banounan
Perdagangan Besar,
Eceran dan Rumah
Makan
Angkutan,
Pergudangan dan
Komunikasi
Keuangan, Asuransi,
Persewaan Bangunan/
Tanah
Jasa Kemasyarakatan
Lainnva
970.226

331.043

303.378

124/U

108.305
196.374

2.381
230.004

63/..42'l
240.273
110.686
426.378

50.06'l

8.806

58.867

19.988

9.735

29.723

129.875
10.096

116.993
390
1.757.702

246.868
10.486

747.476

15.789

o/o

36.01
I

24,26

3,

04

Sumber: Provinsi DIY Dalam Angka


Analisis Perekonomian Wilayah
Perubahan Struktur Ekonoml Wilayah
Tabel L.18

NilaiShift Share Provinsi DIY


Nasional T

Tot.shift
a. Tanaman Bahan

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

R6 'C,rA,l

7-.1T..t

RUA^',G

lllLAI'.AH PROI'|NS| DIl'.2009-2029

L- 19

LAMPIRAN

KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA


PERUSAHAAN

Sumber: Hasil Analisis. 2007


Tabel L.l9
Interpretasi HasilAnalisa Shift Share PDRB DIY
Pertumbuhan dan Perkembangan Wilayah
Pertumbuhan dan perkembangan yang lambat
dibandungkan pertumbuhan nasional, dan tidak ada
spesialisasi sektor sehingga perkembangan setiap
sektor ekonomi dalam wilayah DIY juga lambat
Pertumbuhan ekonomi yang cepat dibandingkan
dengan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi lambat
dalam perkembangan per sektor ekonomi dalam skala
wilayah DIY
Pertumbuhan yang lambat dibanding pertumbuhan
ekonomi nasional dan juga perkembangan yang lambat
pada setiap sektor ekonomi. Tetapijika pada akhirnya
didapatkan nilai total shift yang positif hal ini hanya
diakibat oleh penggabungan dua nilai negatif dari
diferensial dan proporsional shift

'Hasil Analisis.2007
Penentuan Sektor Basls dan Non Basis
Perkembangan ekonomi wilayah ditentukan oleh seberapa besar sektor ekonomi yang menjadi
basis mampu menggerakkan ekonomi wilayah. Basis perekonomian Provinsi DIY dengan
menggunakan analisis Location Quotient, berdasarkan sektor lapangan usaha PDRB dapat
dikelompokan menjadi
:

1. Komponen basis (SB), merupakan sektor dengan nilai LQ > 1 menunjukkan bahwa sektor
tersebut mempunyai potensi ekspor.
2. Komponen non basis (NB), merupakan sektor dengan nilai LQ < 1 menunjukkan bahwa sektor
tersebut mempunyai potensi impor.

L-20

REVC..l^r.,t

7.1

T.J

R I 1.4.\'.

G il: I L.tr t'.4 H p RO I' t.\'S I

D t

r'

200

9 -

2 02

LAMPIRAN

Tabel L.20

LQ PDRB Provinsi

Lapangan Usaha

No
1

5
o

2005

LQ

LQ

2001

2002

2003

2004

2005

Rata2

PERTANIAN

1,31

1,30

1,26

1,26

1,36

\6'

a, Tanaman Bahan Makanan

1,98

1,94

1,87

1,9't

2,08

2,45

b, Tanaman Perkebunan

0,20

0,20

0,20

0,19

0,2'l

0,25

c,
d,
e,

Peternakan dan hasil-hasilnya

1,52

1,60

1,55

1,46

Kehutanan
Perikanan

1,05

1,06

,13

1,06

1,15

1,36

0,13

0,15

0,16

0,16

0,17

0,19

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

0,07

0,07

0,07

0,08

0,08

0,09

a,
b,

0,00

0,00
0,00
0,91

0,00
0,00
0,85

0,00
0,00
0,85

0,00
0,00

1,00

0,00
0,00
0,95

INDUSTRI PENGOLAHAN
a, Industri Migas

0,57

0,55

0,54

0,52

0,54

i,6g-

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

b,

0,65

0,63

0,61

0,59

0,60

0,00
0,77

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

1,25

1,34

1,34

1,36

1,46

1AO

a,

Minyak dan Gas Bumi


Pertambangan Tanpa Migas
Penggalian

c,
3

DIY Tahun 2001

Indutsri Non Migas

Listrik

0,00

1,92

1,14

1,62

1,78

1,70

1,81

1,93

2,21

b, Gas Kota
c, Air Bersih

0,00
0,75

0,00
0,75

0,00
0,79

0,00

0,67

0,00
0,67

BANGUNAN

1,25

1,28

1?4

r,Jo

1,46

1,68

PERDAGANGAN, HOTEL DAN

121

t,zo

1,27

16C

0,63

0,80
3,84
5,48

RESTORAN
a, Perdagangan Besar dan Eceran
b, Hotel
c, Restoran

,zJ

0,91

4,O2

0,64
3,08
4,15

0,64
3,08
4,29

4,96

0,65
3,12
4,50

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI


a, Angkutan

1,81

1,79

1,73

1,67

1,66

2,16

1,81

1,82

1,85

1,94

2,31

8,67

6,60

1,81
A A'

5,95

6,44

8,54

3,28

3,36

3,37

3,42

3,64

4,27

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Angukutan rel

- Angkutan Jalan Raya


- Angkutan laut
- Angkutan sungai, danau dan
penyeorangan

0,65
3,08

3,01

0,93

't,09

1,26

1,60

1,64

1,63

0,33

0,31

0,29

0,28

0,31

0,38

1,82

1,71

1,55

1,35

1,22

1,91

1,02

1,02

1,03

1,02

1,09

1,30

a,Bank
b,Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c, Jasa Penunjang Keuangan
d,Sewa Bangunan

0,23

0,27

0,31

0,32

0,37

0,38

1,68

t,cz

1,38

1,41

1,47

1,86

0,48
2,70

0,47
2,60

0,45
2,55

0,44
2,47

o,47
2,56

0,58
3,22

e,Jasa Perusahaan

0,24

0,24

0,24

0,23

0,24

0,30

- Angkutan udara
- Jasa Penunjang Angkutan
b.

Komunikasi

- Pos dan Telekomunikasi


- Jasa Penunjang Komunikasi
KEUANGAN. PERSEWAAN DAN JASA
8

PERUSAHAAN

JASA.JASA

1,94

1,94

1,92

1,86

1,93

a, Pemerintah Umum

2,59

2,70

2,76

z,Io

2,9'l

2,40
3,43

4,05
0,00

4,22
0,00

4,33
0,00

4,33
0,00

4,57
0,00

s,38
0,00

' Adm, Pemerintahan & Pertahanan


Jasa Pemerintahan Lainnva

'
R[.\(.t.\.]

7"11 .-t

ItI .-t\(; Il'IL.ll".lH PROI'l.\SI DII

2009-2029

L-

21

LAMPIRAN
No

Lapangan Usaha

b,

Swasta

- Sosial Kemasyarakatan
- Hiburan dan Rekreasi
- Perorangan dan Rumah Tangga

LQ

LQ

2001

2002

2003

20u

2005

1,23
2,28

1,16
2,12

1,10
1,98

1,06
1,88

1,09
1,93

2,55
1,32

1,12

1,06

1,02

0,97

1,10

0,83

0,79

0,76

0,74

0,76

Rata2
'1,41

Sumber:Hasil

L-22

RENCANA TATA RUANG TTILAYAH PROVINSI DIY 2009.2029

LAMPIRAN
SISTEM TRANSPORTASI WILAYAH PROVINIS] DIY

Transportasi Darat
TabelL.21
Standar Pelayanan Minimal Jalan
No.

Bidang
Pelayanan

Standar Pelavanan

Kuantitas
Konsumsi/Produksi

CakuDan

Keterangan

Kualitas

Jaringan Jalan
Kepadatan Penduduk
liiwa/km2)
A. Aspek
Aksesibilitas

B.
1.

Aspek
Mobilitas

seluruh
jaringan

sanoat tinqqi >5000


tinqqi > 1000
sedanq > 500
rendah > 100
sanoat rendah < 100
PDRB per kapita

>0.05
lndeKs

liuta rn/kao/th)

Mobilitas

sanoal tinqqi >10


tinqqi > 5
sedanq > 2
rendah > 1
sanoat rendah < 1

>5

panjang jalan/

>2

1000 oenduduk

seluruh
jaringan

pemakai jalan

C. Aspek
Kecelakaan

lndeKs

Aksesibilitas
>5
>1.5

Panjang
jalan/luas
(km/km2)

>0.5
>0.1 5

>1

>0.5

>0.2

lndeks
Kecelakaan

Kecelakaan/
100.000 km.
1

kend.

Kepadatan Penduduk
{iiwa/km2}

seluruh
laringan

sanqat tinqqi >5000


tinqqi > 1000
sedanq > 500
rendah > '100
sanqat rendah < 100

lndeks
Kecelakaan 2

kecelakaan/
km/
tahun

Ruas Jalan

Lebar
Jalan Min

Volume Lalulintas (kend/hari)

Kondisi Jalan

lhr > 20000

sedang; trl 6:
rci > 6.5
sedang; iri < 6;
rci > 6.5
sedang; iri < 8;
rci > 5.5
sedang; iri < 8;
rci > 5.5

2x7m

A. Kondisi Jalan

7m

8000>lhr>20000

6m

3000 >l hr > 8000


lhr < 3000

4.5m
2

Fungsl
Jalan

Pengguna Jalan

arteri primer
kolektor
Dnmer
lokal orimer
Kondisi
Pelayanan
arteri
sekunder
kolektor
sekunder
Lokal
sekundet
Sumber: PP No. 25 Tahun 2000 (pasal 2

B.

R.\'(-. ]r\,1 T) 7'..t R l,:. r \ C It' I 1.4

I".l Ll

Kecepatan
Temouh Min

lalu lintas reoional iarak iauh

25 km/iam

lalu lintas regional jarak sedang

20 km/jam

lalu lintas lokal

20 km/iam

lalu lintas kota jarak jauh

25 km{am

lalu lintas kota jarak sedang

25 km/jam

lalu lintas lokal kota

20 km/jam

ayat 4

llO l' I i\ S I

DI

I' 2 009 - 2 ( ) 2 9

L- 23

LAMPIRAN

Tabel
I

L.

22

ndikator Aksesibilitas dan Mobilitas pada Kabu paten/Kota di Provinsi DIY


INDIKATOR

KABUPATEN

Luas Area
(km2)

Jumlah
Penduduk
(Jiwa)

Kepadatan
Penduduk
fiiwa/km2)

Panjang
Jalan (km)

PDRB

Perkapita (juta
Rp/Jiwa/tahun

AKSESIBILITAS (Km/Km2)

INDIKATOR MOBILITAS

Eksistin

Eksistin

o
KABUPATEN
BANTUL

506,85

813.087,00

1.604.20

1.067,66

KABUPATEN
KULON PROGO

586,27

457.779,00

780,83

1.112.38

1.485,36

760.128.00

5't 1,75

574.82

907.904.00

32,50
3.185.80

KABUPATEN
GUNUNGKIDUL
KABUPATEN
SLEMAN
KOTA
YOGYAKARTA

JUMLAH
SELURUHNYA

(+/-)

Min

(km/1000 pddk)
o

3,98

2,11

1,5

1,10

1,90

1,5

0,41

1.162,98

1,93

0,78

0,50

0,65

1.579,46

1.257,07

3,00

2,'t9

2,00

0,72

521.499.00

16.046,12

240,23

8,M

7,39

2,17

3.460.397,00

1.086,194

4.840,32

14,37

10,50

= dibawah SPM
+ = diatas SPM.
Sumber. Hasil Analisis , 2007

RENCANA TATA RUANG II'ILAYAFI PROVINSI DIY 2009-2029

L-24

0,76

4,72

Min

(+/-)

LAMPIRAN

TUHAN PRASARANA

Listrik

Tabel L.23

Proyeksi Kebutuhan Listrik di Provinsi D.l Yogyakarta


Tota

Tahun

Kebutuhan

Proyeksi

1 .1

2006

90.309.327

2007
2008

1.279.721.197

2009

1.324.427.133

2010
201

2012

1.458.544.938

2013

:!;503.250,873

1.547.956.808
1

2016

2017

2018

1.726.780.548

19

1.771.486.4e3
1.

Keterangan :
Penerangan Jalan

Komersiaf
Pemerintahan
RI1NCAA'A TATA RI|AAIG WII,.4I'AH PROI'INSI DIY 2009-2029

L-25

= 10% dari: pemakaian rumah tangga


= 'l25oh da(iLpemakaian rumah tangga
= 15% dari: pemakaian rumah tangga

LAMPIRAN

Sumber air yang dipakai oleh PDAM dapat dari air tanah atau air permukaan atau keduanya.
Pemakaian air yang dipergunakan untuk rumah tangga, dinyatakan dalam liter per orang per hari
(1/orang/h) dipengaruhi oleh

.
.
r
.
.

Jenis sumber air (sambungan ke rumah atau hidran umum).


Jenis pemakaian (toilet, mandi, dll).
Peralatan rumahtangga yang digunakan.
Penggunaan air di luar rumah (taman. cuci mobil, dsb).
Tingkat pendapatan.
Tabel L.24

Parameter Menghitung Kebutuhan Air Rumah Tangga & Perkotaan


Rumah Tangga (D)

Jumlah
Penduduk
Perkotaan

No.

SR

HU

SR

HU

Uo/h

{ND)

Kehilangan
h

rnlal

Uo/h

Keb.
Total
Puncak
olo

jml Uo/h

%E Uo/h (D+ND) Uo/h

>1.000.000

210

30

80

20

't74

60

104

25

70

348

1.15

400

500.000 s/d 1.000.000

170

30

80

20

'142

40

57

25

50

249

1-15

286

100.000

150

30

80

20

126

30

38

25

4',!

205

1.15

zfi

20.000 s/d 100.000

90

30

80

20

78

20

16

25

24

118

1.15

136

3.000 s/d 20.000

60

30

80

20

il

2.7

25

14

71

1.10

78

Pedesaan

s/d 500.000

60

60

60

Sumber: Direktort Air Bercih-Cipta Karya


Kelerangan

SR
HU
Uolh

: sambungan rumah
: hidran umum
: liter per-orang per-hari

Tabel L.25

Tingkat Pelayanan Air Bersih di Provinsi DIY

Air
Bersih
Mandiri

E3.5

68.0
51.1

Sumber data: Laporan PDAM.

Tabel L.26

Kebutuhan Air Rumah Tangga Menurut Ditjen Cipta Karya


Domestik
(l/o/h)

Non Domestik

(l/o/h)

Kehilangan Air
(l/o/h)

Total

> 1.000.000

174

104

70

348

500.000 - 1.000.000

142

57

50

249

500.000

tzo

38

41

205

20.000 - 100.000

78

to

24

118

< 20.000

54

2,7

14

70,7

Jumlah Penduduk

100.000

Sumber: Direktorat Cipta Karya

L -26

REVC.4I|.I T..lT.1 RU.4NG It/lLAy,4H PROI'INSI DIY 2009-2029

LAMPIRAN

Tabel L.27
Kebutuhan Air Non Domestik Kota Kategori l, ll, lll, lV
Sektor
Sekolah
Rumah Sakit

Liter/bed/hari
Liter/hari
Liter/pegawai/hari

Pasar
Hotel

Kawasan
Liter/detiUhektar

Kawasan Pariwisata

Sumber: Ditjen Cipta Karya Tahun 1993.

Tabel L.28
Kebutuhan Air Non Domestik Kota Kategori V (Desa)

Kebutuhan air untuk perhotelan dapat dihitung berdasarkan jumlah tamu

dan jumlah kamar.


Sumber: Ditjen Cipta Karya Tahun 1993.

Tabel L.29
Kebutuhan Air Non Domestik Kategori Lain
Satuan

Sektor

Liter/detik
- Terminal

Sumber: Ditien Cipta Karya Taltun 1993


Kebutuhan Air lndustri
Tabel L.30
Kebutuhan Air Industri Berdasar Jumlah Pekerja Tahun 2005
(asumsi: 500 l/pekerja/hari)
Kabupaten/Kota

No.

Jumlah Industri

(Unitl

Tenaga Kerja

Keb. air lndustri

loranol
5.913

51.975

Kabupaten Kulon Progo

qnq

9.981

Kabupaten Bantul

224

6.062

Kabupaten Gunungkidul

6.349

18.998

110

543

21.730

126

Kota Yogyakarta

Kabuoaten Sleman

58

Sumber: BPS DIY Dalam Angka Tahun 2005

RE\'('..1r..1 r.-t

T"

R L'.-t,\

G II' I 1.4

.-l

f I P RO I' I r S I D I

l' 2 009 -20 29

L-27

LAMPIRAN

ANALISIS KEBUTUHAN SARANA


Sarana Kesehatan

Sesuai dengan perhitungan analisis fasilitas yang lainnya, untuk

menghitung
ketersediaan/kebutuhan fasilitas kesehatan tetap mengacu kepada ketentuan Dirjen Cipta Karya
Departemen Pekerjaan Umum dengan membandingkan pada jumlah penduduk pendukungnya.
Jumlah penduduk pendukung untuk masing-masing sarana kesehatan dengan cakupan satuan
wilayah Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :

Rumah Sakit Umum (RSU) tipe A dengan skala pelayanan tingkat Provinsi jumlah penduduk
pendukungnya 1.200.000 jiwa.
Rumah Sakit Umum (RSU) tipe B dengan skala pelayanan tingkat Kota dan Regionaljumlah
penduduk pendukungnya 480.000 jiwa.
Rumah Sakit Umum (RSU) tipe C dengan skala pelayanan tingat Kabupaten jumlah penduduk
pendukungnya 240.000 jiwa.

.
.

Tabel L.31

Proyeksi Kebutuhan Sarana Kesehatan


Provinsi DIY Tahun 2027
No
'l

4
5

Tipe Rumah Sakit Tahun


2007 (unit)

Kabupaten/Kota

Tipe Rumah Sakit Tahun

2027 tunitl
B

Kabuoaten Kulon Prooo

Kabuoaten Bantul

Kabuoaten Gununo Kidul

Kabuoaten Sleman

Kota Yoqvakarta

15

17

Jumlahffotal
Sumber
Analisis. Tahun 2007

Sarana Pendldikan
Tabel L.32

Proyeksi Kebutuhan Sarana Pendidikan


Provinsi DIY Tahun 2026

L -28

RENC,4ALA 7.47.4 RU,4NG IT/ILAI',4

H PROI'INSI

DI}' 2009-2029

LAMPlRAN
Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2007.

Sarana Perdagangan
Untuk menghitung fasilitas perdagangan di Provinsi DIY dilakukan dengan menggunakan standar
berdasarkan ketentuan Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum yang didasarkan pada
jumlah penduduknya. Jumlah penduduk pendukung untuk masing-masing fasilitas peribadatan
cakupan satuan wilayah Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
. Pasar kelas I jumlah penduduk pendukungnya 480.000 jiwa, setara dengan pusat
perbelanjaan dan Niaga skala pelayanan tingkat Provinsi.
. Pasar kelas ll jumlah penduduk pendukungnya 27 .000 jiwa, setara dengan pusat perbelanjaan
dan Niaga skala pelayanan \Nilayah.
. Pasar kelas lll jumlah penduduk pendukungnya 2.5OQ jiwa, setara dengan pertokoan skala
Kota dan Kawasan.
Dalam pengembangan fasilitas perdagangan ini, pengalokasian fasilitas perdagangan dilakukan
dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a- Rencana pengembangan fasilitas perdagangan disesuaikan dengan rencana jaringan jalan
dan didukung oleh utilitas yang baik.
b. Lokasi sebaiknya tidak dekat dengan fasilitas peribadatan dan fasilitas pendidikan.
c. Lokasi sebaiknya dekat dengan lokasi permukiman dan terjangkau oleh transportasi umum.

TabelL.33
Proyeksi Kebutuhan Sarana Perdagangan
Provinsi DIY Tahun 2025

No.

Kecamatan
Kabupaten
Kulon
Prooo

Jenis
Fasilitas
Pasar
Kelas

Kabupaten
Bantul

Kabupaten
Gunung
Kidul

Pasar
Kelas I
Pasar
Kelas ll
Pasar
Kelas lll
Pasar
Kelas

Kabupaten
Sleman

Kota

Yoovakarta

Eksiting
Tahun

lJiwal

2005

Kebutuhan

Fasilitas
2026 (Unit)

Pengembangan
(Unit)

480000

771903

27000

771903

29

29

2500

771903

309

?no

480000

1133762

27000

1133762

42

42

2500

1133762

454

454

480000

't002992

1002992

37

36

't002992

401

354

1309348

Pasar
Kelas ll
Pasar
Kelas lll
4

Proyeksi
Penduduk
2026

Fasrlrtirs

Pasar
Kelas ll
Pasar
Kelas lll
2

Standar
Penduduk
(jiwa)

Pasar
Kelas
Pasar
Kelas ll
Pasar
Kelas lll

27000
2500

47

480000

Pasar
Kelas
Pasar
Kelas ll
Pasar
Kelas lll

27000

309348

48

46

2500

309348

524

523

705640

480000

27000

705640

26

24

2500

32

705640

282

250

Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2007

REN',CANA

TATA RLt.,tiG il/tL,ll'.rH PROI'lISl Dl]' 2009-2029

L-29

LAMPIRAN

Sarana Peribadatan

Tabel L.34

Proyeksi Kebutuhan Sarana Peribadatan


Provinsi DIY Tahun 2026

No.

Kecamatan

Kabupaten
Kulon Prooo

Kabupaten
Bantul

Kabupaten
Gununo Kidul

Kabupaten
Sleman

Jenis
Fasilitas

Penduduk
0iwa)

2.500

Mesiid

Fasilitas
Eksiting
Tahun
2005

Proyel(si
Jumlah
Penduduk
Tahun 2026

Pengemban
gan (Unit)

l-liwal

Jumlah
Fasilitas
Tahun
2026

56

771.903

253

309

Katholik

30.000

771.903

23

26

Protestan

30.000

12

771.903

14

26

Pure

30.000

771.903

26

26

Vihara

30.000

771.903

26

26

21

1.133.762

433

454

1.133.762

38

38

1.133.762

36

38

2500

Mesiid
Katholik

30000

Protestan

30000

Pure

30000

1.'133.762

38

38

Vihara

30000

1133.762

38

38

Meqiid

2.500

1.m.2.952

393

401

Katholik

30.000

1.002.992

32

33

Protestan

30.000

1.002.992

32

33

Pure

30.000

1.002.992

33

2?

Vihara

30.000

1.002.992

33

Mesiid

2.500

34

1.309.348

490

524

30.000
30.000

1.309.348

42

Protestan

1.309.348

40

44
44

Pure

30.000

1.309.348

44

44

Vihara

30.000

1.309.348

44

44

705.640

244

282

705.640

24

24

705.640

19

24

Katholik

Kota
Yoovakarta

Standar

2.500

Mesiid

38

Katholik

30.000

Proteslan

30.000

Pure

30.000

705.640

24

24

Vihara

30.000

705.640

24

24

Sumber: Hasil Analisis. Tahun 2007.

L-30

/t/tvc.].\..1

T.|7'..t

R(t..t^'c It IL.4y.4H pRot'INsI DIy 2009-2029

LAMPIRAN
Sarana Permukiman
Perumahan merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang harus dapat terpenuhi. Perkembangan

dan pertumbuhan jumlah penduduk akan diiringi dengan terus meningkatnya kebutuhan akan
pengadaan perumahan. Dalam pemenuhan kebutuhan perumahan ini didasarkan pada asumsi
bahwa tiap keluarga dapat hidup layak dan menempati satu rumah sendiri. Perhitungan untuk
fasilitas perumahan diasumsikan tiap 1 unit rumah untuk 4 orang.
Kebutuhan Ruang untuk fasilitas permukiman terbagi atas permukiman besar, permukiman sedang
dan permukiman kecil. Berdasarkan standar permukiman besar memiliki luas 360 m', permukiman
sedang 180 m2, dan permukiman kecil memiliki luas 90 m2. Luas kebutuhan lahan didapatkan dari
perkalian antara standar luas lahan untuk permukiman dengan jumlah kebutuhan fasilitas
permukiman pada tahun proyeksi.

Tabel L.35
Proyeksi Kebutuhan Sarana Permukiman
Provinsi DIY Tahun 2026
Luas (m2)

10.420.704

10.203.876
15.305.814
't5.305.814

9.026.928
13.540.392

6.350.760

9.526.140

66.469.248
66.469.248

Sumber: Hasil Analisis. Tahun 2007.

REN C A N A 7'AT,4 R U,4 N

TI/ I 1..4

I'A

H P RO I

IA SI D I

T' 2

009 -20

L- 31

LAMPIRAN
Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau
Tabel L.36
Proyeksi Kebutuhan Sarana Ruang Terbuka Hijau
PROVINSI DIY Tahun 2026
Kebutuhan
Fasilitas
Tahun 2026

31

26

38

40
33

52
44
11

28
24

Tahun 2007.

L-32

Rttc.-1.\:l

7'..17'.1 RL,'..t,\'(i

il'tL.,tI".tH Pttot't,\'st DII'1009-2029