You are on page 1of 1

Diagnosis Konjungtivitis

Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena


mungkin saja penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan
tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang aktif secara
seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual dan riwayat
penyakit pada pasangan seksual. Perlu juga ditanyakan durasi
lamanya penyakit, riwayat penyakit yang sama sebelumnya, riwayat
penyakit sistemik, obat-obatan, penggunaan obat-obat kemoterapi,
riwayat pekerjaan yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit,
riwayat alergi dan alergi terhadap obat-obatan, dan riwayat
penggunaan lensa-kontak (Marlin, 2009).
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung
etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan pada gejala-gejala
yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan
informasi mengenai, durasi dan gejala-gejala sistemik maupun ocular,
keparahan dan frekuensi gejala,faktor-faktor resiko dan keadaan
lingkungan sekitaruntuk menetapkan diagnosis konjungtivitis virus
(AOA, 2010). Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan onset,
dan juga apakah hanya sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi
(Gleadle, 2007). Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan
konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya dan untuk itu harus
dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan lanjutan jarang
dilakukan karena menghabiskan waktu dan biaya (Hurwitz, 2009).
Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun keluarga
pasien serta observasi pada gejala klinis untuk menegakkan diagnosis
konjungtivitis alergi. Gejala yang paling penting untuk mendiagnosis
penyakit ini adalah rasa gatal pada mata, yang mungkin saja disertai
mata berair, kemerahan dan fotofobia (Weissman, 2010).