You are on page 1of 13

DAFTAR ISI

BAB I........................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN........................................................................................................... 2
A.

Latar belakang.......................................................................................................... 2

BAB II TIN JAUAN PUSTAKA.......................................................................................... 4


A.Konsep Dasar Psikososial Pada Lanjut Usia.........................................................................4
1.

Pengertian............................................................................................................... 4

2.

Penyebab................................................................................................................. 4

3.

Factor Predisposisi..................................................................................................... 5

4.

Factor presipitasi....................................................................................................... 5

5.

Tanda dan gejala........................................................................................................ 5

6.

Rentang Respon........................................................................................................ 6

7.

Karakteristik Perilaku................................................................................................. 6

B.

Permasalahan........................................................................................................... 7

1.

Permasalahan Umum.................................................................................................. 7

2.

Permasalahan khusus.................................................................................................. 7

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL : MENARIK DIRI.......8


Diagnosa dan Intervensi Keperawatan................................................................................... 9
BAB III....................................................................................................................... 12
PENUTUP................................................................................................................... 12
Kesimpulan.................................................................................................................. 12
BSaran12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Proses menua ( aging ) adalah proses alami yang di sertai adanya penurunan
kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan
itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun
kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga
dalam masalah kesehatan yang di bahas pada pasien pasien geriatric dan psikogeriatik
yang merupakan bagian dari gerotologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan
masalah lansia, meliputi aspek psikologis, fisiologis, social, cultural, ekonomi dan lain
lain. Menurut Setiawan ( 1973 ), timbulnya perhatian pada orang orang usia lanjut di
karnakan adanya sifat sifat atau factor factor khusus yang mempengaruhi kehidupan
pada usia lanjut.
Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang di alami oleh individu yang
berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis dan
social. Menurut Laksmana ( 1983;77 ), perubahan yang terjadi pada lansia dapat di sebut
sebagai perubahan seneseens dan perubahan senilitas. Perubahan seneseens adalah
perubahan perubahan normal dan psikologig akibat usia lanjut. Perubahan senilitas
adalah perubahan patologik permanen dan disertai dengan makin memburuknya kondisi
badan pada usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang di hadapi lansia pada umumnya
pada bidang klinik, kesehatan jiwa dan problema bidang social ekonomi. Oleh karna itu
lansia adalah kelompok dengan resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental.
Proses menua pada manusia merupakan fenomena yang tidak dapat di hindarkan,
semakin baik pelayanan kesehatan sebuah bangsa makin tinggi pula harapan hidup
masyarakatnya dan pada gilirannya makin tinggi pula jumlah penduduknya berusia
lanjut. Demikian pula di Indonesia. Dalam pendektan pelayanan kesehatan pada
kelompok lansia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik,
psikologis, spiritual dan social. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak
akan menunjang pelayanan kesehatan pada lansia yang membutuhkan satu pelayanan
yang komprehensif.
Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmania saja,
tetapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Lansia sebagai
tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering diwarnai dengan kondisi hidup yang
tidak sesuai dengan harapan, banyak factor yang menyebabkan seorang mengalami
gangguan mental seperti menarik diri.
Ada beberapa factor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.
Factor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat

menikmati di hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa factor yang dihadapi
para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:
Penurunan kondisi fisik
Penurunan fungsi dan potensi seksual
Perubahan aspek psikososial
Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Perubahan dalam peran social di masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Psikososial Pada Lanjut Usia


1. Pengertian
Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh prilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri/ citacita / harapan langsung menghasilkan perasaan berharga. Harga diri dapat diperoleh
melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri
juga ditentukan oleh perasaan diterima, dicintai, dihormati oleh orang lain, serta
keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (hidayat,2006). Isolasi
adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan
kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi
tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito,1998).
Isolasi social adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena
orang lain menyatakan sikap yang negative dan mengancam ( Towsend,1998).
Seseorang dengan prilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.
Individu merasa bahwa dia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk membagi persaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia memiliki
kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang
dimanisfestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak
sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (Depkes,1998).
Dari kehidupan social cultural, interaksi social adalah merupakan hal yang utama
dalam kehidupan bermasyarakat sebagai dampak adanya kerusakan interaksi social:
menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomenal kehidupan, yaitu
terganggunya komunikasi yang merupakan suatu eleme penting dalam mengadakan
hubungan dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
2. Penyebab
Penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah yaitu perasaan negative terhadap
diri sendiri hilang kepercayaan diri, merasakan gagal mencapai keinginan, yang
ditandai dengan perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri
sendiri, gangguan hubungan social, merendahkan martabat, percaya diri kurang dan
juga dapat mencederai diri (Carpenito,I,.J,1998:352)

3. Factor Predisposisi
Factor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan
perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya
orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain,
menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan merasa
tertekan. Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam persaan
yang parah. Teori ini menunjukan rentang factor-faktor penyebab yang mungkin
bekerja sendiri dalam kombinasi.
- Factor genetic, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan efektif
melalui riwayat keluarga atau keturunan.
- Teori agresi menyerang kedalam menunjukan bahwa dpresi terjadi karena
perasaan marah yang ditunjukan kepada diri sendiri
- Teori kehilangan objek, merujuk kepada perpisahan traumatic individu
dengan benda atau yang sangat berarti
- Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri yang
negative dan harga diri rendah mempengaruhi system keyakinan dan
penilaian seseorang terhadap sesuatu.
- Model kognitif menyatakan bahwa depresi, merupakan masalah kognitif
yang di dominasi oleh evaluasi negative seseorang terhadap diri seseorang,
dunia seseorang dan masa depan seseorang
4. Factor presipitasi
Sedangkan factor presipitasi dari factor social cultural karena menurunya stabilitas
keluarga dan terpisah karena meninggal dan factor psikologis seperti berpisah dengan
orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak seperti
dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespon menghindar dengan menarik
diri dari lingkungan (Struart dan Sundeen, 1995).
5. Tanda dan gejala
o Apatis, ekspresi, efek tumpul
o Menhindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri
dari orang lain
o Komunikasi kurang atau tidak ada.
o Tidak ada kontak mata klien lebih sering menunduk.
o Berdiam diri di kamar / tempat berpisah- klien kurang mobilitasnya
o Menolak hubungan dengan orang lain klien memutuskan percakapan
atau pergi jika diajak bercakap-cakap
o Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan
kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan

6. Rentang Respon
1. Menyendiri (solitude) merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk
merenungkan apa yang telah dilakukan dilingkungan sosialnya dan suatu cara
mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya
2. Otonomi merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide-ide pikiran , perasaan dalam hubungan social
3. Bekerjasama (mutualisme) adalah sutu kondisi dalam hubungan interpersonal
dimana individu tersebut mampu untuk saling member dan menerima
4. Saling tergantung (interdependen) adalah sutu kondisi saling tergantung antara
individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
5. Menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
6. Tergantung (dependen) terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya
diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses
7. Manipulasi merupakan gangguan hubungan social yang terdapat pada individu
yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat
membina hubungan social secara mendalam.
8. Curiga terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang
lain. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda
cemburu, iri hati, dan berhati-hati perasaan individu dengan humor yang kurang,
dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi.
7. Karakteristik Perilaku
Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.
Berat badan menurun atau meningkat secara drastic
Kemunduran secara fisik
Tidur berlebihan
Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama
Banyak tidur siang
Kurang bergairah
Tidak memperdulikan lingkungan
Kegiatan menurun
Immobilisasi
Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).
Keinginan seksusal menurun

B. Permasalahan
Berbagai permasalahan social yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan
Lanjut Usia, antara lain sebagai berikut :
1. Permasalahan Umum
a. Masih besarnya jumlah Lanjut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b. Makin melemahnya nilai kekerabatan, sehingga anggota keluarga yang
berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati, berhubung terjadi
perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah
pada bentuk keluarga kecil.
c. Lahirnya kelompok masyarakat industry, yang memiliki ciri kehidupan yang
lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan
perhitungan untung rugi, lugas dan efisien, yang secara tidak langsung
merugikan kesejahteraan lanjut usia.
d. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga professional pelayanan lanjut
usia dan masih terbatasnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut
usia dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia.
e. Belum membudaya dan melembaga kegiatan pembinaan kesejahteraan lanjut
usia.
2. Permasalahan khusus
a. Berlangsungnya proses menjadi tua, yang berakibat timbulnya masalah baik
fisik, mental maupun social.
b. Berkurangnya integrasi social lanjut usia, akibat produktifitas dan kegiatan
lansia menurun.
c. Rendahnya produktifitas kerja lansia dibandingkan dengan tenaga kerja muda
dan tingkat pendidikan serta keterampilan yang rendah.
d. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat, sehingga diperlukan
bantuan dari berbagai pihak agar mereka tetap mandiri serta mempunyai
penghasilan cukup.

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN


MASALAH PSIKOSOSIAL : MENARIK DIRI
A. Pengkajian
Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal MRS,
tanggal pengkajian, nomor rumah klien, dan alamat klien.
Orang-orang terdekat
Status perkawinan, kebiasaan pasien dalam tugas-tugas keluarga dan fungsinya,
pengaruh orang terdekat, proses interaksi dalam keluarga.
Cultural
Latar belakang etnis, tingkah laku, mengusahakan kesehatan, nilai-nilai yang
berhubungan dengan kesehatan dan keperawatan, factor-faktor cultural yang
dihubungkan dengan penyakit secara umum dan respon terhadap rasa sakit,
kepercayaan mengenai perawatan dan pengobatan
Keluhan utama
Keluhan biasanya berupa menyendiri (menghindar dari orang lain), komunikasi
kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak berinteraksi dengan
oranglain, tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
Factor predisposisi
Kehilangan, perpisahan, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan atau
frustasi berulang, perubahan struktur social.
Aspek fisik atau biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, pernapasan, TB, BB) dan
keluhan fisik yang dialami klien.
Aspek psikososial
1. Genogram
2. Konsep diri
a. Citra tubuh
b. Identitas diri
c. Peran
d. Ideal diri
e. Harga diri
3. Klien mempunyai gangguan dalam melakukan hubungan social orang lain.
4. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk beribadah (spiritual).

Status mental
8

Kontak mata klien kurang, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka
menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan oranglain, adanya perasaan
keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
Mekanisme koping
klien apabila mendapatkan takut atau tidak mau menceritakan pada orang lain
(lebih sering menggunakan koping menarik diri).
Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa terapi farmakologi ECT, psikomotor, terapi
okopasional , TAK, dan rehabilitas.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respon baik aktual
maupun kontensial (stuart dan sudeen 1995).
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah
sebagai berikut:
Isolasi sosial : menarik diri
Gangguan konsep diri: harga diri rendah
Resiko perubahan sensori persepsi
Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantugan pada orang lain
Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal
Intoleransi aktivitas
Kekerasan resiko tinggi
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1
Isolasi sosial berhubungan dengan menarik diri
Tujuan :
1) Pasien mampu mengekspresikan perasaannya
2) Pasien mampu kembali bersosialisasi dengan lingkungan
Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya
2. Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.
3. Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positif / adaptif dan
memberikan kepuasan timbal balik :
Beri penguatan dan kritikan yang positif
Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien bertanya.
Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif
Hindari ketergantungan klien
4. Libatkan dalam kegiatan ruangan.
5. Ciptakan lingkungan terapeutik
6. Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi masalah klien.
9

Diagnosa 2
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan konsep diri dan depresi
Tujuan :
1) Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya
2) Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan masalahnya
Intervensi
1. Bicara secara langsung dengan klien, hargai individu dan ruang pribadinya jika tepat
2. Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan perawatan
3. Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab terhadap perawatan dirinya
4. Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh : minta pasien
memilih apakah mau mandi, sikat gigi atau gunting kuku.
5. Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk mencapai tujuan.
Contoh : Jika pasien memilih mandi, bantu pasien untuk menetapkan aktifitas untuk
mandi (bawa sabun, handuk, pakaian bersih)
Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.
Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat ini
6. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih
dimiliki pasien.
7. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki.
8. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal kegiatan yang sudah dibuat.
Diagnosa 3
Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif berhubungan dengan
kehilangan pasangan.
Tujuan :
1) Klien merasa harga dirinya naik.
2) Klien mengunakan koping yang adaptif.
3) Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.

1.
2.
3.
4.
5.

Intervensi
Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
Maksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
Bantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain melalui
keterbukaan.
Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada klien.
10

6. Mengeksplorasi respon koping adaptif dan maladaptif terhadap masalahnya.


7. Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
8. Bantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk merubah respon maladaptif
dan mempertahankan respon koping yang adaptif.
D. Evaluasi
a) Pasien mampu mengidentifikasi adanya kekuatan dan pandangan diri sebagai
orang yang mampu mengatasi masalahnya
b) Pasien mampu menunjukkan kewaspadaan dari koping pribadi/kemampuan
pemecahan masalah
c) Pasien mampu melakukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas
ketingkat yang dapat diatasi
d) Pasien dapat menunjukkan pengetahuan yang akurat akan penyakit dan
pemahaman regimen pengobatan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menarik diri adalah penilain yang salah tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan idel diri pencapain ideal
diri/cita cita/ harapan langsung menghasilkan perasan berharga. Harga diri dapat
diperoleh dari melalui perhargaan diri sendiri maupun dari orang lain.
Perkembangan harga diri dapat ditentukan oleh perasaan diterima,cintai,
11

dihormati, oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam
hidupnya.
B. Saran
a.Mengingat kondisi psikososial lansia yang tidak berbeda diantara lokasi
pemukiman, maka lansia dapat tinggal di mana saja aslkan mendapatkan
perhatian atau dukungan, baik dari keluarga, masyarakat maupun
pemerintah.
b.
Dapat dibentuk dalam wadah tempat lansia bersosialisasi bersampa
per grupnya. Untuk meningkatkan aktifitas fisik atau perilaku kesehatan,
hendaknya difasilitasi memeberikan kesejahteran berupa dukungan moril
dan spiritual kepada kelompoik lansia berupa perbaikan ekonomi,
kesehatan, transportasi, dan perumahan serta memberikan gizi yang baik
dan obat obatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa
mepercepat proses menua.

DAFTAR PUSTAKA
Setiabudhi, tony dan hardywinoto. 2005. Panduan Gerontik : Tinjauan Dari Berbagai Aspek.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
E.donges,marlyon.dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

12

13