You are on page 1of 104

FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

PASIEN ASMA DALAM MELAKUKAN SENAM ASMA INDONESIA

DI RS PERSAHABATAN TAHUN 2010 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
DI RS PERSAHABATAN TAHUN 2010
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
OLEH :
MUH. IBNU FIRDAUS
NIM : 106104003491

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1432 H / 2011 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. 2. 3. Jakarta,
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1.
2.
3.
Jakarta,

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Januari 2011

Muh. Ibnu Firdaus

i

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

Skripsi, Desember 2010

Muh. Ibnu Firdus, NIM : 106104003491 Melakukan Senam Asma Indonesia di Rumah Sakit Persahabatan Tahun
Muh. Ibnu Firdus, NIM : 106104003491
Melakukan Senam Asma Indonesia di Rumah Sakit Persahabatan Tahun 2010
xvii + 74 halaman + 13 tabel + 3 gambar + 6 lampiran
ABSTRAK

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pasien Asma dalam

Senam Asma Indonesia merupakan olahraga yang dianjurkan bagi pasien asma sebagai bagian dari penatalaksanaan jangka panjang. Senam ini sangat dianjurkan karena mempunyai banyak manfaat. Salah satunya adalah dapat meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan pasien asma. Namun, pasien asma yang melakukan senam ini masih sangat sedikit. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia tahun 2010 yaitu pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan keluarga. Jenis penelitian adalah analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi adalah semua pasien yang berkunjung ke RS Persahabatan untuk pengobatan. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 68 orang yang diambil dengan teknik systematic random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner selama bulan September 2010. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa chi square. Pada penelitian ini sebagian besar pasien asma tidak melakukan Senam Asma Indonesia (75%). Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa dari 4 variabel yang diteliti ada 2 variabel yang menyatakan ada hubungan yang bermakna yaitu dukungan petugas kesehatan (p-value=0.008, OR=6.667) dan dukungan keluarga (p-value=0.001, OR=24.8). Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis menyarankan kepada petugas kesehatan dan keluarga pasien untuk meningkatkan perannya dalam merubah perilaku pasien agar melakukan Senam Asma Indonesia.

Daftar bacaan : 42 (1989 2009)

ii

FACULTY OF MEDICAL AND HEALTH SCIENCES

THE STUDY PROGRAME OF NURSING SCIENCES

Undergraduated Thesis, December 2010 Muh. Ibnu Firdaus, ID Number : 106104003491 Asthma Exercise at the
Undergraduated Thesis, December 2010
Muh. Ibnu Firdaus, ID Number : 106104003491
Asthma Exercise at the Persahabatan Hospital in 2010
xvii + 74 pages + 13 tables + 3 image + 6 attachments
ABSTRACT

Factors Associated with Behavior of Patients with Asthma Doing Indonesian

Indonesian Asthma Exercise is a sport that is recommended for patients with asthma as part of a long-term medical treatment. This exercise is highly recommended because it has many advantages. One of those is to increase the strength of respiratory muscles of patients with asthma. However, patients with asthma who followed exercise was low frequences. The aims of this study is to identify the factors associated with behavior of patients with asthma doing Indonesian Asthma Exercise in 2010 such as knowledge, attitudes, support health workers, and family support. The type of this research was quantitave analysis with cross sectional design. The population was all of the patients who taking medicine in Persahabatan Hospital. The number of samples is as much as 68 peoples were taken by systematic random sample technique. The data was collected using questionnaires as long as September in 2010 and analysed by univariate and bivariate using chi square analysis. In this study, mostly the patients with asthma did not follow Indonesian Asthma Exercise (75%). The result of bivariate analysis showed that 2 of 4 variables had a significant associated with behavior of patients with asthma doing Indonesian Asthma Exercise was support health workers (P value = 0.008, OR=6.667) and family support (P value = 0.001, OR=24.8). Therefore, the authors suggest to health workers and families of patients to increase their role in modify behavior of patients to follow Indonesian Asthma Exercise.

References: 42 (1989 - 2009)

iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PASIEN ASMA DALAM MELAKUKAN SENAM ASMA INDONESIA
Skripsi dengan judul
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU
PASIEN ASMA DALAM MELAKUKAN SENAM ASMA INDONESIA
DI RS PERSAHABATAN TAHUN 2010
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 30 November 2010
Pembimbing I
Pembimbing II

ERNAWATI, S.Kp, M.Kep, Sp.MB NIP. 15068771

iv

YULI AMRAN, S.KM, MKM NIP. 150408687

Skripsi dengan judul

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

PASIEN ASMA DALAM MELAKUKAN SENAM ASMA INDONESIA DI RS PERSAHABATAN TAHUN 2010

Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh Muh. Ibnu Firdaus NIM. 106104003491 Pembimbing I Ernawati,
Telah disusun dan dipertahankan dihadapan penguji oleh
Muh. Ibnu Firdaus
NIM. 106104003491
Pembimbing I
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.MB
NIP. 15068771
Penguji I
Penguji II
Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep
NIP. 150408677
Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.MB
NIP. 15068771
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Penguji III

Pembimbing II

Yuli Amran, S.KM, MKM NIP. 150408687

Yuli Amran, S.KM, MKM NIP. 150408687

Tien Gartinah, MN

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Prof. DR (hc). Dr. M.K. Tajudin, Sp.And

v

RIWAYAT HIDUP

Nama : Muh. Ibnu Firdaus Tempat, Tgl lahir : Kuningan, 24 Februari 1988 Jenis Kelamin
Nama
: Muh. Ibnu Firdaus
Tempat, Tgl lahir
: Kuningan, 24 Februari 1988
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Alamat
: Jl. Cibuntu, Paksilaur Rt. 15/08 No. 29
Desa. Cibuntu, Kec. Cigandamekar, Kab. Kuningan JABAR
Tlp/ Hp
: 085716387472
Email
: ibnoe_88@yahoo.com
Riwayat Pendidikan :
1. TK Cibuntu I
(1993)
2. SD Negeri Cibuntu II
(1994-2000)
3. MTs Husnul Khotimah Kuningan
(2000-2003)

4. SMA Negeri 2 Cirebon

(2003-2006)

5. S-1 Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(2006-2010)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa syari’ah-Nya yang universal bagi semua manusia dalam setiap waktu dan tempat sampai akhir zaman. Atas nikamat-Nya dan karunia-Nya Yang Maha Besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010. Dalam penyusunan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang

1. 2. 3.
1.
2.
3.

penulis jumpai namun syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan hidayah-Nya, kesungguhan, kerja keras dan kerja cerdas disertai dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung, segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya yang pada akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh sebab itu, sudah sepantasnyalah pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada :

Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tajudin, Sp.And, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Drs. H. Achmad Gholib, MA, selaku Pembantu Dekan Bidang Administrasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dra. Farida Hamid, M.Pd, selaku Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Tien Gartinah, MN dan Irma Nurbaeti, S.Kp, M.Kep Sp.Mat, selaku Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

vii

5.

Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.MB dan Yuli Amran, S.KM, MKM, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan fikiran selama membimbing penulis.

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep, selaku dosen pembimbing akademik yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan nasehatnya selama penulis duduk di bangku kuliah.

Segenap Dosen atau Staf Pengajar, pada lingkungan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis selama duduk di bangku kuliah.

Segenap Jajaran Staf serta Karyawan Akademik dan Perpustakaan Fakultas yang telah banyak membantu dalam pengadaan referensi-referensi sebagai bahan rujukan skripsi.

Dr. Priyanti Z. Soepandi, Sp.P(K), selaku direktur RSUP Persahabatan serta seluruh jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam mencari data-data sekaligus sebagai bahan rujukan skripsi. Ibu Epi, selaku Kepala Ruangan Poliklinik Asma dan seluruh jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti dalam mencari data-data sekaligus wawancara sebagai bahan rujukan skripsi. Seluruh Responden yang telah meluangkan waktunya untuk bersedia diwawancara sehingga penulis memperoleh data yang diinginkan. Ucapan terimakasih penulis haturkan secara khusus kepada Ayahanda Abdurahman dan Ibunda Sumiah yang senantiasa memberikan dukungan penuh baik berupa material maupun spiritual dan selalu mengiringi setiap langkahku dengan do’a tulus ikhlas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi.

13. Adik-adikku yang dengan keceriaan serta dorongan mereka segala kejenuhan dan kepenatan dalam mengerjakan skripsi dapat terobati.

viii

14. Teman-teman seperjuangan Program Studi Ilmu Keperawatan angkatan ’06 yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Terima kasih atas dukungan, semangat, kenangan dan kebersamaan yang indah selama ini. 15. Teman-teman Asrama Graha Yusufiyah, Dershane, dan Ma’had Sabilussalam ’06 yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Terimakasih atas motivasi dan bantuan serta jalinan persahabatan yang indah tak terlupakan.

serta jalinan persahabatan yang indah tak terlupakan. Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga penulis dapat memperbaiki skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca yang mempergunakannya terutama untuk proses kemajuan pendidikan selanjutnya.

Jakarta, Desember 2010

Muh. Ibnu Firdaus

ix

LEMBAR PERSEMBAHAN Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir
LEMBAR PERSEMBAHAN
Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh.
Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman,
yang mengikuti kemana angin takdir berhembus.
Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat;
Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan.
Walau sungguh pun waktu berkuasa,
persahabatan sejati takkan mudah pudar olehnya.
Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi semerbak,
dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di jalan
berlubang kehidupan -- dan kau ada di sana sebagai sahabat yang
memahami segala keluh kesah.
Atas kebaikan yang mungkin tidak kau sadari, oleh sekedar canda yang
membuat hidup ini lebih memiliki arti; menjauhkan rasa nyeri sedari.
Dan sahabat, jika apa yang kita miliki memang persahabatan yang
tulus, maka ada tali silaturahmi yang mesti kita jaga.
Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan membawa
kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada seorang
sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.
Karya ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini.
Hanya sekeping tanda mata agar kau tak lupa, bahwa ada – ada
bahagia untuk menjadi seorang saudara.
******************
Untuk sahabat-sahabat yang ku cintai karena Allah
(Sahabat PSIK ’06, Ma’had Sabilussalam ’06, Asrama Graha
Yusufiyah, dan Dershane )
x

DAFTAR ISI

halaman

LEMBAR PERNYATAAN i ABSTRAK ii LEMBAR PERSETUJUAN iv LEMBAR PENGESAHAN v RIWAYAT HIDUP vi KATA
LEMBAR PERNYATAAN
i
ABSTRAK
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
iv
LEMBAR PENGESAHAN
v
RIWAYAT HIDUP
vi
KATA PENGANTAR
vii
LEMBAR PERSEMBAHAN
x
DAFTAR ISI
xi
DAFTAR TABEL
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
1
A Latar Belakang
1
B Perumusan Masalah
7
C Pertanyaan Penelitian
7

D Tujuan Penelitian

8

1. Tujuan Umum

8

2. Tujuan Khusus

8

E Manfaat Penelitian

9

1. Bagi RSUP Persahabatan

9

2. Bagi Profesi Keperawatan

9

xi

3.

Bagi Peneliti Selanjutnya

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

10

A Gambaran Umum Asma 10 1. Pengertian 10 2. Patofisiologi dan Mekanisme Terjadinya 10 3.
A Gambaran Umum Asma
10
1. Pengertian
10
2. Patofisiologi dan Mekanisme Terjadinya
10
3. Tanda dan Gejala
14
4. Klasifikasi
14
5. Penatalaksanaan …………………………………………
15
B Senam Asma Indonesia
21
1. Pengertian
21
2. Manfaat
21
3. Persiapan Senam Asma Indonesia
22
4. Tahapan Senam Asma Indonesia
23
C Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan
25
1. Perilaku
25
2. Perilaku Kesehatan
26
3. Perubahan Perilaku dan Indikatornya
29
 

D Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Kesehatan

32

E Kerangka Teori

 

34

BAB III

KERANGKA

KONSEP,

DEFINISI

OPERASIONAL

DAN

HIPOTESIS

35

A Kerangka Konsep

 

35

B Definisi Operasional

36

xii

C

Hipotesis

38

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

39

A Rancangan Penelitian 39 B Lokasi dan Waktu Penelitian 39 C Populasi, Sampel dan Teknik
A
Rancangan Penelitian
39
B
Lokasi dan Waktu Penelitian
39
C
Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
39
1. Populasi
39
2. Sampel
40
3. Teknik Sampling
41
D
Instrumen Penelitian
42
E
Uji Validitas dan Reabilitas
45
F
Pengolahan Data
47
G
Analisa Statistik
48
1. Analisa Univariat
48
2. Analisa Bivariat
48
H.
Etika Penelitian
49
BAB V
HASIL PENELITIAN
50
A.
Gambaran Rumah Sakit Persahabatan
50

1. Sejarah Singkat

50

2. Visi

51

3. Misi

51

4. Fasilitas

52

5. Pelayanan di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran

Respirasi FKUI/RS Persahabatan Jakarta

xiii

52

6.

Layanan Respirasi Unggulan Departemen Pulmonologi dan

Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI/RS Persahabatan

53

B. Analisa Univariat 53 1. Gambaran perilaku pasien asma dalam melakukan senam asma
B. Analisa Univariat
53
1. Gambaran perilaku pasien asma dalam
melakukan senam asma ……………………………………. 53
2. Gambaran Pengetahuan ……………………………………. 54
3. Gambaran Sikap …………………………………………… 54
4. Gambaran Dukungan Petugas Kesehatan …………………. 55
5. Gambaran Dukungan Keluarga ……………………………. 55
C. Analisa Bivariat
56
1. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pasien asma
dalam melakukan Senam Asma Indonesia ………………
56
2. Hubungan sikap dengan perilaku pasien asma
dalam melakukan Senam Asma Indonesia ………………… 57
3. Hubungan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku
pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia …
57
4. Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku

BAB VI

pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia ….

58

PEMBAHASAN …………………………………………………. 60

A. Keterbatasan Penelitian

B. Perilaku pasien Asma dalam

60

melakukan Senam Asma Indonesia …………………………… 61

C. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pasien asma

xiv

dalam melakukan Senam Asma Indonesia ……………………. 62

D. Hubungan sikap dengan perilaku pasien asma

dalam melakukan Senam Asma Indonesia ……………………. 65 E. Hubungan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku
dalam melakukan Senam Asma Indonesia ……………………. 65
E. Hubungan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku
pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia ………. 67
F. Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku
pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia ……
69
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
71
B. Saran
72
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xv

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman Tabel 2.1 Klasifikasi asma menurut NHLBI 1995 14 Tabel 2.2 Ciri -
No. Tabel
Halaman
Tabel 2.1
Klasifikasi asma menurut NHLBI 1995
14
Tabel 2.2
Ciri - Ciri Tingkatan Asma
20
Tabel 3.1
Definisi Operasional
36
Tabel 4.1
Validitas dan Reliabilitas ……………………………………………… 46
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perilaku Pasein Asma dalam
Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010 …. 53
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan
di
RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
54
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap
di
RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
54
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Dukungan Petugas Kesehatan
di
RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
55
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga
di RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
55

Tabel 5.6 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pasien Asma dalam

Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010

56

Tabel 5.7 Analisis Hubungan Sikap dengan Perilaku Pasien Asma dalam

Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010 …. 57

xvi

Tabel 5.8 Analisis Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan

Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia

di RS Persahabatan Tahun 2010 ……………………………………… 57 Tabel 5.9 Analisis Hubungan Dukungan
di
RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
57
Tabel 5.9
Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan
Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia
di
RS Persahabatan Tahun 2010 ………………………………………
58
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar
Halaman
Gambar 2.1
Patofisiologi, Penatalaksanaan, Manifestasi
13
Gambar 2.2
Kerangka Teori
34
Gambar 3.1
Kerangka Konsep
35
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Gerakan Senam Asma Indonesia
Lampiran 2
Surat izin pengambilan data

Lampiran 3

Lembar pernyataan persetujuan (informed consent)

Lampiran 4

Lembar kuesioner

Lampiran 5

Hasil uji validitas dan reliabilitas

Lampiran 6

Hasil analisa univariat dan bivariat

xvii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh
A. Latar Belakang
Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai
negara di seluruh dunia (Mangunnegoro, 2004). Sebagaimana yang dikutip
oleh Dewan Asma Indonesia (DAI) tahun 2009, bahwa Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) memperkirakan hingga saat ini jumlah pasien asma di dunia
mencapai 300 juta orang, dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat
hingga 400 juta penderita pada tahun 2025. Di Eropa dan Amerika Utara,
asma menyerang 5-7% populasi (Rubenstein, dkk, 2003). Di Indonesia,
penyakit ini masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan. Diperkirakan
prevalensi asma di Indonesia 5% dari seluruh penduduk Indonesia, artinya ada
12,5 juta pasien asma di Indonesia (DAI, 2009).
Menurut Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004,
prevalensi asma sebagai penyakit kronis pada penduduk berumur 15 tahun
atau lebih berada pada peringkat kedua setelah penyakit persendian yaitu
sebesar 4% (Pradono, dkk, 2005). Hasil penelitian International Study on

Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) pada tahun 2005 menunjukkan

bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dari 4,2% menjadi 5,4% di

Indonesia. Kota Jakarta sendiri memiliki prevalensi asma yang cukup besar,

yaitu mencapai 7,5% pada 2001 (Sundaru, 2007). Apabila tidak dicegah dan

ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi

yang lebih tinggi lagi pada masa yang akan datang serta mengganggu proses

tumbuh kembang anak dan kualitas hidup pasien (Depkes RI, 2008).

Selain menimbulkan morbiditas, asma juga dapat menyebabkan kematian. Di dunia, penyakit asma termasuk 5 besar
Selain menimbulkan morbiditas, asma juga dapat menyebabkan kematian.
Di dunia, penyakit asma termasuk 5 besar penyebab kematian yaitu mencapai
17,4% (DAI, 2009). WHO memperkirakan tahun 2005 di seluruh dunia
terdapat 255.000 penderita meninggal karena asma, sebagian besar atau 80%
terjadi di negara - negara sedang berkembang (Sundaru, 2007). Di Indonesia,
penyakit ini masuk ke dalam sepuluh besar penyebab kematian (DAI, 2009).
Pada
tahun
2006,
penyakit
tidak
menular
yang
menyebabkan
kematian
terbanyak di rumah sakit salah satunya adalah penyakit asma sebanyak 0,9%
dari seluruh kematian di rumah sakit, sehingga penyakit ini menduduki
peringkat ke enam (Depkes RI, 2008).
Penyakit asma ditandai oleh sesak napas berulang, mengi, atau batuk
akibat penyempitan lumen saluran napas yang reversibel (Rubenstein, 2007).
Asma tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol (DAI, 2009). Penyakit
ini berlangsung sepanjang masa, karena itu penyakit ini disebut sebagai
penyakit kronik. Karena bersifat fluktuatif maka penyakit ini sulit diprediksi,
bisa kapan saja muncul serangannya dan bila tidak dikelola dengan baik dapat

menyebabkan kematian (YAI, 2003).

Penelitian

dari

Amerika

Serikat

menunjukkan

penderita

asma

anak

kehilangan 10,1 juta hari sekolah atau 2 kali lebih besar dibanding anak yang

tidak menderita asma, menyebabkan 12,9 juta kunjungan ke dokter dan

perawatan di rumah sakit bagi sebanyak 200.000 penderita per tahun. Survei

yang

sama

juga

membuktikan

adanya

keterbatasan

aktivitas

pada

30%

penderita

asma

dibanding hanya

5% pada

yang bukan

penderita

asma.

Sedangkan pada penderita asma dewasa, suatu penelitian melaporkan jumlah

pekerja yang absen karena asma lebih dari 6 hari per tahun mencapai 19,2% pada penderita
pekerja yang absen karena asma lebih dari 6 hari per tahun mencapai 19,2%
pada penderita asma derajat sedang dan berat, serta 4,4% pada penderita asma
derajat ringan (Sundaru, 2007).
Hal tersebut di atas menurut DAI (2009) salah satunya adalah dikarenakan
penatalaksanaan jangka panjang belum banyak diterapkan.
Meskipun ilmu
pengetahuan dan teknologi sudah sedemikian maju, namun penanganan asma
di lapangan masih belum adekuat baik di negara berkembang maupun di
negara maju. Keadaan asma terkontrol yang menjadi tujuan penanganan asma
masih belum tercapai pada sebagian besar pasien asma. Konsep penanganan
asma masih berorientasi pada pengobatan gejala atau serangan asma, bukan
pada pencegahan agar serangan tersebut dapat ditekan bahkan dihilangkan
atau yang didefinisikan sebagai Kontrol Asma.
Salah
satu
penatalaksanaan
asma
jangka
panjang
adalah
menjaga
kebugaran fisik melalui olahraga (Depkes RI, 2008). Manfaat olahraga bagi
penderita asma adalah pada saat penderita mengalami sesak napas akan
menyebabkan tubuh berusaha melakukan kompensasi antara lain dengan

meningkatkan

kerja

otot-otot

pernapasan.

Maka

dengan

olahraga

atau

melakukan

latihan

fisik

akan

terjadi

peningkatan

efisiensi

kerja

otot

pernapasan serta memperbaiki fungsi pertukaran gas O 2 dan CO 2. Bentuk

olahraga yang dianjurkan antara lain berenang, bersepeda, jalan kaki atau

jogging, atau senam yang dirancang khusus bagi penderita asma seperti Senam

Asma Indonesia ( Supriyantoro, 2004).

Senam Asma Indonesia adalah senam yang diciptakan khusus untuk

penderita asma yang gerakan-gerakannya disesuaikan dengan kemampuan dan

kebutuhan penderita berdasarkan berat / ringannya penyakit asma (Supriyantoro, 2004). Senam asma merupakan terapi
kebutuhan
penderita
berdasarkan
berat
/
ringannya
penyakit
asma
(Supriyantoro, 2004). Senam asma merupakan terapi non medis yang sangat
baik untuk mencapai asma terkontrol (Hudoyo, 2008). Walaupun senam ini
diciptakan khusus untuk penderita asma, tetapi dapat dilakukan juga oleh
selain penderita asma (YAI, 2008).
Senam Asma Indonesia mempunyai banyak manfaat baik manfaat fisik
maupun psikologis atau sosial. Manfaat fisik di antaranya mengoptimalkan
otot – otot pernapasan dan penderita mampu bernapas dengan benar pada saat
terjadi serangan. Manfaat psikologis atau sosial di antaranya meningkatkan
rasa nyaman dan rasa percaya diri serta mengurangi kebutuhan obat – obatan
(YAI, 2008).
Manfaat tersebut telah dibuktikan dalam beberapa penelitian terdahulu
seperti
yang
dilakukan
oleh
Anwar
(1998)
dan
Rogayah
(1999)
menyimpulkan penelitiannya bahwa pasien asma yang mengikuti sanam asma
dapat memperbaiki gejala klinis yang dialami dan penggunaan obat – obatan
berkurang.
Kemudian
penelitian
yang
dilakukan
oleh
Sahat
(2008)
di

perkumpulan senam asma RSU Tangerang menyimpulkan bahwa senam asma

berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru

setelah dikontrol variabel usia, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Budi (2008) diperoleh hubungan

yang bermakna antara kualitas senam asma dengan kualitas hidup pasien

asma,

dimana

pasien

asma

yang

melakukan

senam

secara

teratur

dan

melakukan sosialisasi lebih banyak mempunyai kualitas hidup yang baik.

Berdasarkan manfaat senam asma yang telah disebutkan di atas, maka senam asma sangat dianjurkan bagi
Berdasarkan manfaat senam asma yang telah disebutkan di atas, maka
senam asma sangat dianjurkan bagi pasien asma. Anjuran ini diperkuat oleh
sabda Rasulullah SAW: “Mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih Allah cintai
dari
pada
Mukmin
yang
lemah,
dan
pada
keduanya
tetap
ada
kebaikan….”.(H.R. Muslim)
Efek maksimal latihan fisik tergantung dari intensitas, frekuensi, dan lama
latihan (Supriyantoro, 2004). Menurut Yayasan Asma Indonesia (YAI) (2008)
senam asma yang efektif adalah apabila dilakukan secara rutin 3 – 4 kali
seminggu, setiap kali senam 45 – 60 menit, dan akan menunjukkan hasilnya
setelah dilaksanakan 6 – 8 minggu.
Rumah Sakit Persahabatan sebagai Pusat Rujukan Nasional Kesehatan
Paru
mempunyai
layanan
unggulan
salah
satunya
yaitu
sebagai
pusat
pelayanan paru. Selain itu, rumah sakit juga mempunyai klub asma yaitu Klub
Asma Persahabatan. Klub Asma Persahabatan merupakan klub asma tertua di
Indonesia dari 40 klub asma yang terdaftar di YAI, di mana di Jakarta sendiri
terdapat 25 klub asma yang pada umumnya klub-klub asma tersebut secara

rutin mengadakan senam asma setiap 1 minggu sekali.

Studi pendahuluan yang peneliti lakukan di beberapa tempat menunjukkan

bahwa pasien asma yang melakukan senam asma masih terbilang sedikit. Di

Klub Asma Jakarta Respiratory Center (JRC) dan Klub Asma Persahabatan,

jumlah anggota yang aktif senam tidak mencapai 50 % dari total anggota klub

pasien asma yang berobat ke Poliklinik Asma RS Persahabatan didapat

sebanyak 60% pasien asma tidak melakukan senam asma. Sepengetahuan

peneliti, sejauh ini belum ada penelitian yang menjelaskan faktor yang mempengaruhi pasien tidak melakukan senam
peneliti, sejauh ini belum ada penelitian yang menjelaskan faktor yang
mempengaruhi pasien tidak melakukan senam asma.
Senam
Asma
Indonesia
sebagai
bagian
dari
penatalaksanaan
jangka
panjang penyakit asma, merupakan bentuk dari perilaku kesehatan. Menurut
teori Green (1991) yang diacu oleh Notoatmodjo (2007), faktor – faktor yang
mempengaruhi perilaku kesehatan di antaranya adalah faktor predisposisi,
faktor pemungkin, dan faktor pendorong. Faktor predisposisi yang terwujud
dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
Faktor pemungkin yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak
tersedianya
fasilitas-fasilitas
atau
sarana-sarana
kesehatan,
misalnya
puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya serta
keterjangkauan sumber daya. Adapun faktor pendorong yang terwujud dalam
sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Berdasarkan teori di atas, maka peneliti menggunakan faktor pengetahuan,
sikap, dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga sebagai faktor

yang mungkin berhubungan dengan

perilaku pasien asma dalam melakukan

Senam

Asma

Indonesia.

Mengingat

banyaknya

manfaat

Senam

Asma

Indonesia bagi pasien asma, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Faktor

Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan

Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010”.

B. Perumusan Masalah

Di

Indonesia,

penyakit

asma

masuk

dalam

sepuluh

besar

penyebab

kesakitan dan kematian. Diperkirakan prevalensi asma di Indonesia 5% dari seluruh penduduk Indonesia, artinya ada
kesakitan dan kematian. Diperkirakan prevalensi asma di Indonesia 5% dari
seluruh penduduk Indonesia, artinya ada 12,5 juta pasien asma di Indonesia
(DAI, 2009). Sedangkan sebagai penyakit tidak menular, penyakit asma ini
menyebabkan kematian sebanyak 0,9% dari seluruh kematian di rumah sakit
(Depkes RI, 2008). Hal tersebut menurut Dewan Asma Indonesia (DAI) tahun
2009, salah satunya adalah dikarenakan penatalaksanaan jangka panjang
belum banyak diterapkan.
Salah satu penatalaksanaan asma jangka panjang yang belum banyak
diterapkan adalah Senam Asma Indonesia. Hasil studi pendahuluan yang
peneliti lakukan pada 20 pasien asma yang berobat ke Poliklinik Asma RS
Persahabatan didapat sebanyak 60% pasien asma tidak melakukan senam
asma. Padahal berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan menyatakan
bahwa
Senam
Asma
Indonesia
sangat
bermanfaat
bagi
pasien
asma.
Berdasarkan
teori
dan
uraian
di
atas,
maka
peneliti
tertarik
untuk
membuktikan “Adakah hubungan antara faktor pengetahuan, sikap, dukungan
petugas kesehatan dan dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam

melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010?

C. Pertanyaan Penelitian

1.

Bagaimana gambaran perilaku pasien asma dalam melakukan Senam

Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010?

2. Bagaimana

gambaran

faktor

pengetahuan,

sikap,

dukungan

petugas

kesehatan dan dukungan keluarga pasien asma dalam melakukan Senam

Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010? 3. Adakah hubungan antara faktor pengetahuan, sikap, dukungan
Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010?
3. Adakah hubungan antara faktor pengetahuan, sikap, dukungan petugas
kesehatan dan dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam
melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien
asma terhadap Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
a. Teridentifikasi gambaran perilaku pasien asma terhadap Senam Asma
Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010.
b. Teridentifikasi gambaran faktor pengetahuan, sikap, dukungan petugas
kesehatan dan dukungan keluarga pasien asma dalam melakukan
Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010.
c. Teridentifikasi hubungan antara pengetahuan, sikap, dukungan petugas

kesehatan dan dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam

melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan tahun 2010.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi RS Persahabatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi yang objektif mengenai faktor - faktor yang berhubungan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi yang objektif
mengenai faktor - faktor yang berhubungan dengan perilaku pasien asma
dalam
melakukan
Senam
Asma
Indonesia
khususnya
bagi
RS
Persahabatan,
sehingga
dapat
menjadi
bahan
pertimbangan
dalam
menentukan strategi penanggulangan asma.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil
penelitian
ini
dapat
dijadikan
pertimbangan
terutama
bagi
perawat medikal bedah pada saat melakukan promosi kesehatan kepada
pasien asma untuk melakukan Senam Asma Indonesia.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil
penelitian
ini
dapat
memberikan
informasi
atau
gambaran
mengenai perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia
dan untuk pengembangan penelitian selanjutnya terkait faktor – faktor
yang mempengaruhinya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Asma 1. Pengertian reversibel dan gejala pernapasan serta melibatkan banyak sel ringan
A. Gambaran Umum Asma
1. Pengertian
reversibel
dan
gejala
pernapasan
serta
melibatkan
banyak
sel
ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan kematian (Depkes RI, 2008).
2. Patofisiologi dan Mekanisme Terjadinya
oleh satu atau lebih dari yang berikut (Smeltzer, 2001):
a.

Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan

yang dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang

inflamasi

(Sudoyo, 2006; Mansjoer, dkk, 1999). Penyakit ini ditandai oleh sesak napas

berulang, mengi, atau batuk akibat penyempitan lumen saluran napas yang

reversibel (Rubenstein, 2007). Asma bersifat fluktuatif artinya dapat tenang

tanpa gejala tidak mengganggu aktifitas tetapi dapat eksaserbasi dengan gejala

Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan

Kontraksi otot otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan

napas.

b. Pembengkakan membran yang melapisi bronki

c. Pengisian bronki dengan mukus yang kental.

Selain itu, otot otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar, sputum

yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflamasi, dengan

udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari

perubahan

ini

tidak

diketahui,

tetapi

apa

yang

paling

diketahui

adalah

keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom (Smeltzer, 2001). terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang
keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom (Smeltzer, 2001).
terhadap
lingkungan
mereka.
Antibodi
yang
dihasilkan
(IgE)
mengakibatkan
ikatan
antigen
dengan
antibodi,
menyebabkan
mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak (Smeltzer, 2001).
asetilkolin
yang
dilepaskan
meningkat.
Pelepasan
asetilkolin
ini

Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk

kemudian

menyerang sel - sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen

pelepasan

produk sel mast (disebut mediator) diantaranya adalah histamin, bradikinin,

dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-

A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan

kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkhospasme, pembengkakan membran

Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh

impuls saraf vagal melalui sistem saraf parasimpatis. Ketika ujung saraf pada

jalan napas dirangsang oleh faktor yang tidak berhubungan dengan alergen

spesifik seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, dan polutan, jumlah

secara

langsung

menyebabkan

bronkokontriksi

juga

merangsang

pembentukan

mediator kimiawi. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah

terhadap respons parasimpatis (Smeltzer, 2001).

Selain itu, reseptor α- dan β-adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak

dalam

bronki.

Ketika

reseptor

α-adrenergik

dirangsang,

terjadi

bronkokontriksi. Bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β-adrenergik yang

dirangsang. Keseimbangan antara reseptor α- dan β-adrenergik dikendalikan

terutama oleh siklik adenisin monofosfat (cAMP) (Smeltzer, 2001). Ada 2 faktor yang berperan untuk terjadinya
terutama oleh siklik adenisin monofosfat (cAMP) (Smeltzer, 2001).
Ada 2 faktor yang berperan untuk terjadinya asma yaitu faktor genetik dan
faktor lingkungan. Ada beberapa proses yang terjadi sebelum pasien terkena
asma (Depkes RI, 2008):
a.
Sensitisasi, yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila
terpajan
dengan
pemicu
(inducer/sensitisizer)
maka
akan
timbul
sensitisasi pada dirinya.
b.
Seseorang yang telah mengalami sensitisasi maka belum tentu menjadi
asma.
Apabila
seseorang
yang
telah
mengalami
sensitisasi
terpajan
dengan pemacu (enhancer) maka terjadi proses inflamasi pada saluran
napasnya.
Proses
inflamasi
yang
berlangsung
lama
atau
proses
inflamasinya berat secara klinis berhubungan dengan hiperreaktivitas
bronkus.
c.
Setelah mengalami inflamasi maka bila seseorang terpajan oleh pencetus
(trigger) maka akan terjadi serangan asma (mengi).

Faktor-faktor pemicu antara lain: Alergen dalam ruangan seperti tungau

debu rumah, binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), alergen kecoak, jamur,

kapang, ragi serta pajanan asap rokok; pemacu seperti rinovirus, ozon,

pemakaian β2-agonis; sedangkan pencetus adalah semua faktor pemicu dan

pemacu ditambah dengan aktivitas fisik, udara dingin, histamin dan metakolin

(Depkes RI, 2008).

Gambar 2.1 Patofisiologi, Penatalaksanaan, Manifestasi Terpapat bahan allergen & iritan Stress Udara dingin
Gambar 2.1 Patofisiologi, Penatalaksanaan, Manifestasi
Terpapat bahan allergen & iritan
Stress
Udara dingin
Exercise
Faktor lain
Steroid
Penstabil
Stimulus IgE
sel mast
Modifier
Antihistamin
Sel mast mengalami
degranulasi
leukotrien
Histamin
SRS-A
Prostaglandin
Bradikini
Leukotrien
Jalan napas hiperresponsif
Antikolinergi
Sekresi mukus
Inflamasi
Brokhospasme
Bronkhodilator
Dada sesak,
Batuk
Steroid
β2-agonis
Napas
tidak
Methilxanthine
pendek,
Wheezing,
Peak flow
variability
: Patofisiologi
: Penatalaksan
: Manifestasi
Sumber: Black & Hawk (2005).

3. Tanda dan Gejala

Pada saat serangan, asma ditandai dengan sensasi dada sesak, dyspoe,

wheezing dan batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan takikardi, takipnea, dan ekspirasi memanjang. Suara wheezing
wheezing dan batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan takikardi, takipnea,
dan
ekspirasi
memanjang.
Suara
wheezing
menyebar
terdengar
saat
auskultasi.
Pada
beberapa
serangan,
dapat
terjadi
penggunaan
otot-otot
tambahan pernapasan, retraksi interkostal, bunyi wheezing dan suara paru
yang melemah. Fatique, anxiety, ketakutan dan kesulitan bicara sebelum
menarik napas merupakan kondisi yang progresif. Tanpa penanganan yang
tepat
asma
dapat
berkembang
menjadi
gagal
napas
dengan
hipksemia,
hiperkapnia, dan asidosis. Pasien akan membutuhkan intubasi dan ventilator
mekanik serta obat-obatan (Lemon-Burke, 2000).
4.
Klasifikasi
Secara klinik, beratnya penyakit asma dibagi menjadi 4 bagian yaitu
intermiten, persisten ringan, sedang dan berat seperti terlihat pada tabel 2.1
(Anwar, 1998).
Tabel 2.1 Klasifikasi asma menurut NHLBI 1995
Derajat
Gambaran klinis pra terapi
Fungsi paru
asma
Intermiten
Gejala intermitten, singkat < 1 x / minggu
Gejala asma malam < 2 x / bulan
Asimtomatis dan fungsi paru normal antara 2 eksaserbasi
Membutuhkan bronkodilator
Jika serangan agak berat mungkin memerlukan
kortikosteroid
APE > 80 %
Variabilitas
APE < 20 %

Derajat Gambaran klinis pra terapi Fungsi paru asma Persisten Eksaserbasi > 1 x / minggu,
Derajat
Gambaran klinis pra terapi
Fungsi paru
asma
Persisten
Eksaserbasi > 1 x / minggu, tetapi < 1 x / hari
Gejala asma malam > 2 x / bulan
Eksaserbasi mempengaruhi aktivitas dan tidur
Membutuhkan bronkodilator dan kortikosteroid
ringan
APE > 80 %
Variabilitas
APE 20 – 30
%
Persisten
Gejala hampir setiap hari
Gejala asma malam > 1 x / minggu
Eksaserbasi mempengaruhi aktivitas dan tidur
Membutuhkan steroid inhalasi dan bronkodilator setiap hari
APE 60 – 80
sedang
%
Variabilitas
APE > 30 %
Persisten
berat
Sering eksaserbasi, sesak terus menerus
Gejala asma malam sering
Aktivitas fisik terhambat
APE < 60%
Variabilitas
APE > 30 %
Membutuhkan steroid inhalasi dosis tinggi, bronkodilator
dan steroid oral
5. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan
kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam
melakukan aktivitas sehari – hari (Mangunnegoro, 2004). Pada prinsipnya
penatalaksanaan asma diklasifikasikan menjadi (Depkes RI, 2008) :
a.
Penatalaksanaan asma akut atau saat serangan

Pada serangan asma obat-obat yang digunakan adalah :

1)

bronkodilator (β2-agonis kerja cepat dan ipratropium bromida)

2)

kortikosteroid sistemik

Pada serangan ringan obat yang digunakan hanya β2-agonis kerja cepat

yang

sebaiknya

diberikan

dalam

bentuk

inhalasi.

Bila

tidak

memungkinkan

dapat

diberikan

secara

sistemik.

Pada

dewasa

dapat

diberikan kombinasi dengan teofilin / aminofilin oral.

kortikosteroid oral (metilprednisolon) dapat diberikan dalam diberikan ipratropium bromida inhalasi maupun
kortikosteroid
oral
(metilprednisolon)
dapat
diberikan
dalam
diberikan
ipratropium
bromida
inhalasi
maupun
aminofilin
IV.
diperlukan
dapat
diberikan
oksigen
dan
pemberian
cairan
IV.
kerja
cepat
ipratropium
bromida
inhalasi,
kortikosteroid
IV,
aminofilin
IV
(bolusatau
drip).
Apabila
β2-agonis
kerja
cepat
Bila tidak ada dapat menggunakan IDT (MDI) dengan alat bantu (spacer).

Pada keadaan tertentu (seperti ada riwayat serangan berat sebelumnya)

waktu

singkat 3 - 5 hari. Pada serangan sedang diberikan β2-agonis kerja cepat

dan kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambahkan ipratropium

bromida inhalasi, aminofilin IV (bolus atau drip). Pada anak belum

Bila

Pada

serangan berat pasien dirawat dan diberikan oksigen, cairan IV, β2-agonis

dan

tidak

tersedia dapat digantikan dengan adrenalin subkutan. Pada serangan asma

yang mengancam jiwa langsung dirujuk ke ICU. Pemberian obat-obat

bronkodilator diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan nebuliser.

Bila penderita merasakan bahwa keadaan asmanya belum pulih kepada

keadaan

sebelum

serangan,

maka

layaknya

konsultasikan

ke

dokter,

kemungkinan

pengobatan

serangan

akut

belum

tuntas.

Untuk

mengembalikan

kepada

keadaan

sebelumnya,

umumnya

dibutuhkan

pengobatan beberapa hari sampai minggu bergantung kepada beratnya

serangan dan obat yang diberikan (Dianiati, 2002).

b. Penatalaksanaan asma jangka panjang

Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol

asma dan mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang disesuaikan dengan klasifikasi beratnya asma. Prinsip
asma
dan
mencegah
serangan.
Pengobatan
asma
jangka
panjang
disesuaikan dengan klasifikasi beratnya asma. Prinsip pengobatan jangka
panjang meliputi:
1)
Edukasi
Edukasi yang diberikan meliputi :
a)
Kapan pasien berobat/ mencari pertolongan
b)
Mengenali gejala serangan asma secara dini
c)
Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu
penggunaannya
d)
Mengenali dan menghindari faktor pencetus
e)
Kontrol teratur
Penderita dan keluarga seharusnya memahami apa itu asma dan
masalahnya, baik penyakitnya maupun penanganannya, karena hal itu
dapat meningkatkan motivasi penderita untuk patuh dalam penanganan
penyakitnya. Pengetahuan akan asma dapat diberikan oleh dokter atau

petugas kesehatan lainnya seperti perawat, penyuluh kesehatan dan

lainnya. Cara memberikan dapat bersifat individu seperti saat kontrol

atau datang langsung ke klinik konseling asma. Selain itu dapat pula

pemahaman dapat diberikan melalui kelompok seperti di klinik, rumah

sakit, atau di klub asma (Dianiati, 2002).

Konseling Asma memberikan edukasi yang meliputi:

a) Pengetahuan dasa Asma

napas, pola penyakit asma dan pencetus asma. b) Obat Asma pakai, efek samping obat dan
napas, pola penyakit asma dan pencetus asma.
b) Obat Asma
pakai, efek samping obat dan cara mengatasinya.
c) Pelangi Asma
dilakukan
dengan
cara
yang
tepat,
Klinik
Konseling
Asma yang tepat.
d) Senam Asma Indonesia
Mengajarkan senam yang efektif dan manfaat senam asma
e) Pengelolaan Asma

Memberikan informasi mengenai anatomi dan fisiologi saluran

Merupakan pengetahuan tentang berbagai macam, bentuk, dan

cara pakai obat asma, serta cara kerja dan manfaatnya, waktu

Agar Pelangi Asma atau penggunaan Peak Flow Meter dapat

Asma

memberikan informasi cara membuat dan menggunakan Pelangi

Memberikan langkah yang harus dilakukan penyandang asma

sehingga asmanya terkontrol.

f) 7 Langkah Pengendalian Asma

(1). Memahami seluk beluk penyakit asma

(2). Menilai dan memonitor berat asma secara berkala.

(3). Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus

(4). Merencanakan pengobatan jangka panjang

(5). Mengatasi serangan akut dengan tepat

(6). Kontrol secara teratur (7). Menjaga kebugaran dengan olahraga. 2) Obat asma (pengontrol dan pelega)
(6). Kontrol secara teratur
(7). Menjaga kebugaran dengan olahraga.
2)
Obat asma (pengontrol dan pelega)
Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Obat pelega
diberikan
pada
saat
serangan
asma,
sedangkan
obat
pengontrol
ditujukan
untuk
pencegahan
serangan
asma
dan
diberikan
dalam
jangka
panjang
dan
terus
menerus.
Obat
pengontrol
asma
menggunakan
anti
inflamasi
(kortikosteroid
inhalasi).
Pada
anak,
kontrol lingkungan mutlak dilakukan sebelum diberikan kortikosteroid
dan dosis diturunkan apabila dua sampai tiga bulan kondisi telah
terkontrol. Obat asma yang digunakan sebagai pengontrol antara lain :
a) Inhalasi kortikosteroid
b) β2-agonis kerja panjang
c) antileukotrien
d) teofilin lepas lambat

3)

Menjaga kebugaran.

Selain edukasi dan obat-obatan diperlukan juga menjaga kebugaran

antara lain dengan melakukan senam asma. Pada dewasa, dengan

Senam Asma Indonesia yang teratur, asma terkontrol akan tetap

terjaga, sedangkan pada anak dapat menggunakan olahraga lain yang

menunjang kebugaran.

Dengan melaksanakan ketiga hal diatas diharapkan tercapai tujuan penanganan asma, yaitu asma terkontrol. Berikut adalah
Dengan melaksanakan ketiga hal diatas diharapkan tercapai tujuan
penanganan asma, yaitu asma terkontrol. Berikut adalah ciri-ciri asma
terkontrol, terkontrol sebagian, dan tidak terkontrol (tabel 2.2).
Tabel 2.2 Ciri - Ciri Tingkatan Asma
Tingkatan Asma Terkontrol
Karakteristik
Terkontrol
Terkonrol
Tidak
Sebagian
Terkonrol
Gejala harian
Tidak ada (dua kali atau
kurang perminggu)
Lebih
dari
dua
kali
seminggu
Pembatasan
Tidak ada
Sewaktu -
waktu dalam
aktivitas
seminggu
Gejala nocturnal /
gangguan tidur
(terbangun)
Tidak ada
Sewaktu – waktu dalam
seminggu
Tiga atau lebih gejala
dalam kategori Asma
Terkontrol Sebagian,
muncul sewaktu –
waktu dalam
seminggu
Kebutuhan akan
Tidak ada (dua kali atau
kurang dalam seminggu)
Lebih
dari
dua
kali
reliever
atau
seminggu
terapi rescue
Fingsi Paru (PEF
atau FEV1*)
Normal
< 80% (perkiraan atau
dari kondisi terbaik bila
diukur)
Eksaserbasi
Tidak ada
Sekali
atau
lebih
dalam
Sekali
dalam
setahun**)
seminggu***)

Keterangan :

*)

Fungsi paru tidak berlaku untuk anak-anak di usia 5 tahun atau di bawah 5 tahun

**)

Untuk semua bentuk eksaserbasi sebaiknya dilihat kembali terapinya apakah

***)

benar-benar adekuat Suatu eksaserbasi mingguan, membuatnya menjadi asma tak terkontrol

Sumber : GINA (2006) dalam Depkes RI (2008).

B. Senam Asma Indonesia

1. Pengertian

Senam Asma Indonesia adalah senam kebutuhan penderita berdasarkan berat / ringannya penyakit (Supriyantoro, 2004)
Senam Asma Indonesia adalah senam
kebutuhan
penderita
berdasarkan
berat
/
ringannya
penyakit
(Supriyantoro, 2004)
2008) :
a. Senam melatih cara bernapas yang benar
b. Senam melatih melenturkan dan memperkuat otot – otot pernapasan
c. Senam meningkatkan sirkulasi darah
d. Senam mempertahankan asma tetap terkontrol
e. Senam meningkatkan kualitas hidup
2. Manfaat
garis besar dibagi menjadi dua (YAI, 2008) :
a. Manfaat Fisiologis / Fisik

yang diciptakan khusus untuk

penderita asma yang gerakan-gerakannya disesuaikan dengan kemampuan dan

asma

Senam Asma Indonesia merupakan pendukung terapi asma karena (YAI,

Senam Asma Indonesia mempunyai banyak sekali manfaat yang secara

1)

Memperbaiki sistem pembuluh darah, jantung dan otot

2)

Mengoptimalkan otot otot pernapasan

3)

Relaksasi otot otot dada

4)

Mampu bernapas dengan benar pada saat terjadi serangan asma

b. Manfaat Psikologis / Sosial

1)

Rekreasi

2) Meningkatkan rasa nyaman 3) Meningkatkan rasa percaya diri 4) Menurunkan frekuensi serangan asma 5)
2)
Meningkatkan rasa nyaman
3)
Meningkatkan rasa percaya diri
4)
Menurunkan frekuensi serangan asma
5)
Mengurangi kebutuhan obat – obatan
c. Cara Senam yang Efektif
1)
Lakukan senam secara rutin 3 - 4 kali seminggu
2)
Setiap kali senam 45 - 60 menit
3)
Senam akan menunjukkan hasilnya setelah dilaksanakan 6 - 8 minggu.
sesuai
dengan
petunjuknya
untuk
mendapatkan
hasil
yang
sesuai
memberi manfaat perbaikan (YAI, 2008).
3. Persiapan Senam Asma Indonesia

Efek maksimal latihan fisik tergantung dari intensitas, frekuensi, dan lama

latihan. Latihan dapat juga dilakukan satu kali seminggu dengan durasi latihan

60 menit (Supriyantoro, 2004). Senam Asma Indonesia harus dilaksanakan

atau

Menurut Supriyantoro (2004) persiapan sebelum mengikuti senam asma

khususnya bagi penderita asma adalah:

a. Melakukan pemeriksaan ke dokter khususnya untuk mengetahui derajat

(berat / ringan) penyakit asmanya, mengetahui ada atau tidaknya penyakit

lain yang menyertai (misalnya penyakit jantung)

b. Latihan sebaiknya dilakukan pada suhu yang agak panas dan lembab,

bukan pada suhu dingin atau kering.

c. Harus selalu membawa obat bronchodilator (kususnya dalam bentuk inhaler) d. Bagi penderita asma tipe
c.
Harus selalu membawa obat bronchodilator (kususnya dalam bentuk
inhaler)
d.
Bagi penderita asma tipe exercise Induced Asthma harus memperhatikan
beberapa hal yaitu: intensitas latihan jangan terlalu melelahkan (misalnya
setiap 6 menit latihan diselingi istirahat kurang lebih 1 menit kemudian
latihan lagi), sebelum senam digunakan obat bronchodilator inhaler.
4. Tahapan Senam Asma Indonesia
Tahapan senam asma selalu diawali dan diakhiri dengan berdoa, adapun
tahapan senam asma adalah (Supriyantoro, 2004):
a.
Pemanasan dan Peregangan
Gerakan pemanasan dan peregangan ditujukan untuk mempersiapkan
otot sendi, jantung, dan paru-paru sehingga tubuh dalam keadaan siap
untuk
melakukan
latihan.
Gerakan
pemanasan
dan
peragangan
pada
prinsipnya melibatkan seluruh persendian dan dimulai dari bagian atas ke
arah bawah.

b. Gerakan Inti A

Gerakan inti A bertujuan untuk melatih cara bernapas yang efektif bagi

pasien asma. Pada setiap gerakan inti A selalu diikuti dengan menarik

napas

(inspirasi)

dan

mengeluarkan

napas

(ekspirasi)

di

mana

pada

pernapasan yang ideal atau normal perbandingan waktu inspirasi dan

ekspirasi 1 : 2. Oleh karena itu pada gerakan ini dirancang menjadi 4

hitungan yaitu: hitungan 1 inspirasi atau tarik napas, hitungan 2 tahan

dapat memicu timbulnya sesak napas. c. Gerakan Inti B dipakai mengiringi lebih cepat dengan ketukan
dapat memicu timbulnya sesak napas.
c. Gerakan Inti B
dipakai mengiringi lebih cepat dengan ketukan 80 - 90 kali/menit.
d. Gerakan Aerobik

napas, hitungan 3 dan 4 hembuskan napas (ekspirasi). Agar gerakan dan

pernapasan dapat terkontrol dengan baik dan teratur, maka irama musik

pada tahap ini menggunakan ketukan 50 - 60 kali/menit. Total waktu

gerakan dan pernapasan ini tidak lebih dari 8 menit, karena jika lebih

Pada gerakan inti B ditujukan pada seluruh tubuh tetapi tetap yang

melibatkan otot pernapasan pada setiap gerakannya. Maksud gerakan pada

tahap ini adalah melicinkan gerak sendi di seluruh tubuh sehingga mampu

melakukan aktivitas maksimal, melibatkan kontraksi otot yang teratur

dengan irama yang ritmis sehingga otot - otot akan menjadi relaks, sebagai

latihan pra aerobik karena gerakan gerakan yang teratur dan cukup lama,

sehingga dapat menambah kemampuan daya tahan tubuh. Musik yang

Latihan aerobik merupakan tahap latihan yang umumnya hanya dapat

diikuti pasien asma ringan dan orang sehat. Di sini para peserta dicoba

untuk melakukan aktivitas yang lebih keras dan kontinyu untuk melatih

percaya

diri

bahwa

mereka

boleh

atau

mampu

melakukan

aktivitas

tertentu. Pada gerakan ini pelatih harus jeli memperhatikan peserta yang

mungkin terlalu lelah dan tidak bosan untuk selalu menganjurkan kepada

pasien agar tidak memaksakan mengikuti gerakan, tetapi semampunya

untuk mengiringi lebih cepat yaitu dengan ketukan 100 - 120 kali/menit. e. Gerakan Pendinginan Pada
untuk mengiringi lebih cepat yaitu dengan ketukan 100 - 120 kali/menit.
e. Gerakan Pendinginan
Pada
tahap
pendinginan
beban
latihan
secara
berangsur
diturunkan
sehingga
denyut
nadi
dan
frekuensi
pernapasan
normal, setelah mengalami peningkatan pada saat latihan.
f. Evaluasi
Flow meter pada saat sebelum dan sesudah latihan.
C. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan
1. Perilaku

saja, ukur dan kenali diri sendiri. Pada aerobik ini musik yang dipakai

kembali

menjadi

Evaluasi yang dilakukan untuk menilai efek dari senam asma terhadap

fungsi paru dapat dilakukan pemeriksaan fisik dan spirometri setiap 3 - 6

bulan. Pemeriksaan Arus Puncak Ekspirasi (APE) dengan alat mini Peak

Menurut Lewit seperti dikutip oleh Maulana (2009), perilaku merupakan

hasil pengalaman dan proses interaksi dengan lingkungannya, yang terwujud

dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan sehingga diperoleh keadaan

seimbang

antara

kekuatan

pendorong

dan

kekuatan

penahan.

Perilaku

seseorang

dapat

berubah

jika

terjadi

ketidakseimbangan

antara

kedua

kekuatan di dalam diri seseorang.

Skinner (1938) memberikan pengertian perilaku sebagai respon atau

reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu,

Berdasarkan teori Skinner tersebut, maka perilaku manusia dikelompokkan menjadi dua (Notoatmodjo, 2005) : a.
Berdasarkan
teori
Skinner
tersebut,
maka
perilaku
manusia
dikelompokkan menjadi dua (Notoatmodjo, 2005) :
a. Covert behavior ( Perilaku tertutup )
yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.
b. Overt behavior ( Perilaku terbuka )
sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar.

teori Skinner ini disebut Teori S-O-R atau Stimulus-Organisme-Respons.

dapat

Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih

belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang

masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan

dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk perilaku tertutup

Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut

Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas pada manusia

itu sendiri. Baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

Perilaku manusia memiliki bentang yang sangat luas, berjalan, berbicara,

bereaksi, berolahraga, dan sebagainya (Ayubi, dkk, 2006).

2. Perilaku Kesehatan

Perilaku adalah faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang

mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat (Blum, 1974

dalam Maulana, 2009). Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau

kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat

diamati, yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan

(Notoatmodjo, 2005). Unsur – unsur dalam perilaku kesehatan terdiri dari (Maulana, 2009) : a. Perilaku
(Notoatmodjo, 2005).
Unsur – unsur dalam perilaku kesehatan terdiri dari (Maulana, 2009) :
a. Perilaku terhadap sakit dan penyakit
dapat
diklasifikasikan
menurut
tingkat
pencegahan
penyakit
berikut:
behavior)
yaitu
perilaku
seseorang
untuk
memelihara
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan
2) Perilaku
pencegahan
penyakit
(health
prevention
behavior)
penyakit.

Perilaku terhadap sakit dan penyakit merupakan respons internal dan

eksternal seseorang dalam menanggapi rasa sakit dan penyakit, baik

dalam bentuk respon tertutup (sikap, pengetahuan) maupun dalam bentuk

respons terbuka (tindakan nyata). Perilaku terhadap sakit dan penyakit

sebagai

1) Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion

dan

yaitu

segala tindakan yang dilakukan seseorang agar dirinya terhindar dari

3) Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini

menyangkut

upaya

atau

tindakan

seseorang

pada

saat

menderita

penyakit dan/atau kecelakaan, mulai dari mengobati sendiri (self-

treatment) sampai mencari bantuan ahli.

4) Perilaku pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior). Pada

proses ini, diusahakan agar sakit atau cacat yang diderita tidak menjadi

secara fisik, mental, dan sosial. b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan terhadap petugas, dan obat
secara fisik, mental, dan sosial.
b. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan
terhadap petugas, dan obat – obatan.
c. Perilaku terhadap makanan
Perilaku
ini
meliputi
pengetahuan,
sikap,
dan
praktek
makanan menjadi bagian dari kesehatan lingkungan.
d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan

hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal

Perilaku ini merupakan respons individu terhadap sistem pelayanan

kesehatan modern dan atau tradisional, meliputi respons terhadap fasilitas

pelayanan, cara pelayanan kesehatan, perilaku terhadap petugas, dan

respons terhadap pemberian obat obatan. Respon ini terwujud dalam

bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, dan penggunaan fasilitas, sikap

terhadap

makanan serta unsur unsur yang terkandung di dalamnya (gizi, vitamin)

dan pengolahan makanan. Dari beberapa literatur, perilaku terhadap

Perilaku

ini

merupakan

upaya

seseorang

merespons

lingkungan

sebagai

determinan

agar

tidak

memengaruhi

kesehatannya

bagaimana mengelola pembuangan tinja.

seperti

Seorang ahli lain (Becker, 1979 dalam Notoatmodjo, 2007) membuat

klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini.

a. Perilaku hidup sehat

Adalah perilaku perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan

seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain makan dengan
seseorang
untuk
mempertahankan
dan
meningkatkan
kesehatannya.
Perilaku
ini
mencakup
antara
lain
makan
dengan
menu
seimbang,
olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum – minuman keras dan
narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stress, dan perilaku atau
gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
b. Perilaku Sakit
Perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan
penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan
gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan sebagainya.
c. Perilaku peran sakit
Perilaku
ini
meliputi
tindakan
untuk
memperoleh
kesembuhan,
mengenal
atau
mengetahui
fasilitas
atau
sarana
pelayanan
atau
penyembuhan penyakit yang layak, serta mengetahui hak dan kewajiban
orang sakit.
3. Perubahan Perilaku dan Indikatornya

Perubahan atau adopsi perilaku baru adalah suatu proses yang kompleks

dan memerlukan waktu yang relatif lama. Secara teori perubahan perilaku

atau seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya

melalui tiga tahap (Notoatmodjo, 2007).

a. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni
melakukan
pengindraan
terhadap
suatu
objek
tertentu.
Penginderaan
terjadi
melalui
panca
indera
manusia,
yakni
indra
penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia
diperoleh
melalui
mata
dan
telinga.
Sebelum
seseorang
mengadopsi perilaku (berperilaku baru), ia harus tahu terlebih dahulu apa
arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya. Indikator
indikator
apa
yang
dapat
digunakan
untuk
mengetahui
tingkat
pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan
menjadi:
1)
Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2)
Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3)
Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan
b.
Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek.
Allport (1954) menjelaskan bahwa

sikap itu mempunyai 3 komponen pokok.

1)

Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap suatu objek

2)

Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3)

Kecenderungan untuk bertindak

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya

akan

menilai

atau

bersikap

terhadap

stimulus

atau

objek

kesehatan

dengan pengetahuan kesehatan seperti di atas, yakni: 1) Sikap terhadap sakit dan penyakit 2) Sikap
dengan pengetahuan kesehatan seperti di atas, yakni:
1)
Sikap terhadap sakit dan penyakit
2)
Sikap cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3)
Sikap terhadap kesehatan lingkungan
c. Praktik atau Tindakan
yakni:
1)
Tindakan atau praktik sehubungan dengan penyakit
2)
Tindakan atau praktik pemeliharaan dan peningkatan kesehatan

tersebut. Oleh sebab itu indikator untuk sikap kesehatan juga sejalan

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian

mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses

selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktikkan apa

yang diketahui atau disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktik

kesehatan atau dapat juga dikatakan perilaku kesehatan. Oleh sebab itu

indikator praktik kesehatan ini juga mencakup hal hal tersebut di atas,

3)

Tindakan atau praktik kesehatan lingkungan

Cara

mengukur

indikator

perilaku

atau

memperoleh

data

atau

informasi

tentang

indikator

indikator

perilaku

tersebut,

untuk

pengetahuan, sikap, dan praktik agak berbeda. Untuk memperoleh data

tentang pengetahuan dan sikap cukup dilakukan melalui wawancara, baik

wawancara terstruktur maupun wawancara mendalam, dan focus group

discussion (FGD) khusus untuk penelitian kualitatif. Sedangkan untuk

dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu. D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan
dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu.
D. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan
faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah perilaku, yaitu:
1.
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2.
misalnya
puskesmas,
obat-obatan,
alat-alat
kontrasepsi,
jamban,
sebagainya serta keterjangkauan sumber daya kesehatan.
3.

memperoleh data praktik atau perilaku yang paling akurat adalah melalui

pengamatan (observasi). Namun dapat juga dilakukan melalui wawancara

dengan pendekatan recall atau mengingat kembali perilaku yang telah

Berdasarkan teori Green (1991) yang diacu oleh Notoatmodjo (2007), ada 3

Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan,

Faktor pemungkin (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik,

tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan,

dan

Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku

petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari

perilaku masyarakat.

Dalam kajian psikologi, sesuatu yang melatarbelakangi terjadinya sebuah

perilaku adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah motivasi. Motivasi dapat

didefinisikan dengan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang

menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. Motivasi

memiliki tiga komponen pokok, yakni (Shaleh, 2004):

1. membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. 2. terhadap sesuatu. 3. Menopang. Artinya, motivasi
1.
membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2.
terhadap sesuatu.
3.
Menopang.
Artinya,
motivasi
digunakan
untuk
menjaga
dan
tingkah
laku,
lingkungan
sekitar
harus
menguatkan
intensitas
dan
dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.
Beberapa psikolog membagi motivasi menjadi dua (Shaleh, 2004) :
1.
tanpa dirangsang dari luar.
2.
dari luar.

Menggerakkan. Dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu,

Mengarahkan. Berarti motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian

ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu diarahkan

menopang

arah

Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang berasal dari diri seseorang itu sendiri

Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datang karena adanya rangsangan

E. Kerangka Teori

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Modifikasi teori asma dan teori perilaku kesehatan Laurence Green (1991)

Terpapar bahan allergen & iritan Stress Udara dingin Exercise Faktor lain Jalan napas hiperresponsif Sekresi
Terpapar bahan allergen & iritan
Stress
Udara dingin
Exercise
Faktor lain
Jalan napas hiperresponsif
Sekresi mukus
Inflamasi
Brokhospasme
Batuk
tidak produktif
Dada sesak, Napas pendek,
Wheezing, Peak flow variability
Penatalaksanaan
Jangka Pendek
Jangka Panjang
Penggunaan obat
reliever (pelega)
Edukasi
Perilaku Sehat
Pengetahuan dasar
Asma
Penggunaan obat
pengontrol
Obat Asma
Menjaga kebugaran:
Pelangi Asma
Olahraga
Efektif
Tidak efektif
Senam Asma
Indonesia
Faktor Predisposisi
Pengelolaan Asma
7 Langkah
Kualitas hidup
 Kualitas hidup
(Pekerjaan, pendidikan,
Pengetahuan, sikap, dll)
Pengendalian Asma
baik
buruk
 Kematian
Faktor Pemungkin
(Ketersediaan dan
keterjangkauan sumber
daya)
Sumber: Black & Hawk (2005); Depkes RI (2008); Notoatmodjo (2007).
Faktor Pendorong
(Perilaku dan sikap
petugas kesehatan dan
keluarga)

34

BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. KERANGKA KONSEP Variabel dalam penelitian ini terdari dari: 1. Variabel bebas (dependen) : Perilaku
A.
KERANGKA KONSEP
Variabel dalam penelitian ini terdari dari:
1.
Variabel bebas (dependen) : Perilaku pasien asma dalam melakukan Senam
Asma Indonesia
2.
Variabel terikat (independen) : Faktor pengetahuan, sikap, dukungan petugas
kesehatan, dan dukungan keluarga.
Sedangkan
variabel
lainnya
yang
terdapat
dalam
kerangka
teori
tidak
diikutsertakan dalam penelitian ini dikarenakan keterbatasan penelitian dan
belum ditemukannya penelitian yang mendukung.
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Variabel Independen
Faktor Predisposisi

Pengetahuan

Sikap

Faktor Pendorong

Dukungan petugas kesehatan

Dukungan keluarga

Variabel Dependen

Perilaku Kesehatan:

Senam Asma Indonesia

 Dukungan petugas kesehatan  Dukungan keluarga Variabel Dependen Perilaku Kesehatan: Senam Asma Indonesia 35

35

38

C.

HIPOTESIS

1. Ada hubungan

antara

pengetahuan

dengan

perilaku

pasien

asma dalam

melakukan Senam Asma Indonesia 2. Senam Asma Indonesia 3. asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia
melakukan Senam Asma Indonesia
2.
Senam Asma Indonesia
3.
asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia
4.
melakukan Senam Asma Indonesia

Ada hubungan antara sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan

Ada hubungan antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pasien

Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam

B. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur
B.
DEFINISI OPERASIONAL
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
Ukur
1.
Perilaku
Pengakuan responden terkait
melakukan atau tidak melakukan
Senam Asma Indonesia.
Wawancara
Kuesioner
F. No. 1-4
0. Tidak
melakukan
Ordinal
pasien
asma
senam, jika:
dalam
a.
Tidak
pernah
melakukan
melakukan senam,
Senam Asma
Indonesia
b.
atau
Pernah melakukan
senam tetapi sudah
≥ 6 bulan berhenti.
1. Melakukan
senam,
jika:
a.
Minimal
1
x
seminggu, dan
b.
Sudah
dilakukan
2 bulan
sampai
saat penelitian
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 2. Pengetahuan Pengetahuan
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
Ukur
2.
Pengetahuan
Pengetahuan yang dimaksud adalah
pasien asma mengetahui mengenai
Angket
Kuesioner
0.
Ordinal
B.
No. 1-13
Kurang
(skor < median)
penyakit asma
dan
1.
penatalaksanaannya, dalam hal ini
senam asma.
Baik
(skor ≥ median)
3.
Sikap
Tingkat kecenderungan pasien
tentang penyakit asma dan senam
asma yang bersifat positif atau
negatif
Angket
Kuesioner
2.
Ordinal
C.
No. 1-10
Negatif
(skor < median)
3.
Positif
(skor ≥ median)
4.
Dukungan
Petugas
kesehatan
Dorongan yang diberikan petugas
kesehatan pada pasien untuk
melakukan senam asma yang
dinilai/diamati oleh pasien.
Angket
Kuesioner
0.
Ordinal
D.
No. 1-4
Negatif
(skor < median)
1.
Positif
(skor ≥ median)
5.
Dukungan
Angket
Kuesioner
0.
Negatif
(skor < median)
Ordinal
Keluarga
Dorongan yang diberikan keluarga
pada pasien untuk melakukan senam
asma yang dinilai/diamati oleh
pasien.
E.
No. 1-5
1.
Positif
(skor ≥ median)
38

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian dependen dengan independen. B. Lokasi dan Waktu Penelitian asma. C. Populasi, Sampel
A. Rancangan Penelitian
dependen dengan independen.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
asma.
C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi

Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif. Rancangan penelitian

yang digunakan melalui pendekatan cross sectional yaitu dengan melakukan

pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) antara variabel

Penelitian ini dilakukan di RS Persahabatan pada bulan September tahun

2010. Alasan peneliti memilih tempat ini karena RSUP Persahabatan merupakan

rumah sakit rujukan nasional kesehatan paru dan masih banyak terdapat kasus

Populasi

adalah

keseluruhan

subyek

penelitian

yang

akan

diteliti

(Notoatmodjo, 1993 dalam Setiadi, 2007). Populasi dalam penelitian ini

adalah semua pasien asma yang berkunjung ke RS Persahabatan untuk

melakukan pengobatan pada bulan September tahun 2010.

39

40

2. Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 1993 dalam kunjungan ke RS Persahabatan untuk melakukan
dianggap
mewakili
seluruh
populasi
(Notoatmodjo,
1993
dalam
kunjungan
ke RS
Persahabatan
untuk
melakukan
pengobatan
pada
penelitian dengan kriteria,
a. Bersedia menjadi responden
b. Telah terdiagnosa asma ≥ 1 tahun
c. Mampu membaca dan menulis
d. Mampu berkomunikasi secara verbal
e. Kooperatif
Besarnya sampel menggunakan rumus uji beda dua proporsi yaitu:
Keterangan:
n = Jumlah sampel yang dibutuhkan
sebesar 5%)

Setiadi,

2007). Sampel penelitian ini adalah bagian dari populasi yang melakukan

saat

= 1,96 (Derajat kemaknaan 95% CI/Confidence Interval dengan (α)

(Derajat kemaknaan 95% CI/ Confidence Interval dengan ( α) = 0,84 (Kekuatan uji sebesar 80%) P

= 0,84 (Kekuatan uji sebesar 80%)

P

= 0,33 (Proporsi pasien asma dengan jenis kelamin laki-laki yang tidak

melakukan senam asma berdasarkan hasil studi pendahuluan)

P

= 0,62 (Proporsi pasien asma dengan jenis kelamin perempuan yang tidak

melakukan senam asma berdasarkan hasil studi pendahuluan)

41

P = (P₁ + P₂ ) / 2 = (0.43+0,6) / 2 = 0,51 n
P
= (P₁
+ P₂
) / 2 = (0.43+0,6) / 2 = 0,51
n
=
= [ 1,96 √2(0,47)(1-0,47) + 0,84 √0,33(1-0,33) + 0,62(1-0,62) ] 2
(0,33-0,62) 2
= [ 1,96 √0,94(0,53) + 0,84 √(0,2211) + (0,2356) ] 2
(-0,29) 2
= [ 1,96 √0,4982 + 0,84 √(0,4567 ] 2
0,0841
= [ 1,3834 + 0,5676 ] 2
0,0841
= 3,806401
0,0841
= 45,2605 = 45 responden
Karena dua proporsi, maka hasil perhitungan sampel dikali dua sehingga
jumlahnya menjadi 90 responden. Namun, dikarenakan jumlah pasien asma
yang memenuhi kriteria sampel penelitian di rumah sakit tempat penelitian
tidak mencukupi maka jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 68
pasien asma.
3. Teknik sampling

Teknik pengambilan sampel dipilih secara random sampling, yaitu melalui

systematic random sampling di mana sampel diambil sesuai dengan nomor

urut yang telah ditentukan, dengan rumus:

K =

Jumlah Populasi Jumlah sampel yang dibutuhkan

42

Berdasarkan data catatan kunjungan pasien asma di Klinik Asma pada

bulan Mei tahun 2010 jumlah populasi sebanyak 318, maka pengambilan

sampel dilakukan dengan kelipatan K = 318/ 68 = 4,68 dibulatkan 5. mula-mula peneliti mencatat
sampel dilakukan dengan kelipatan K = 318/ 68 = 4,68 dibulatkan 5.
mula-mula
peneliti
mencatat
setiap
nama
pasien
yang
mendaftar
melalui
kocokan.
Sehingga
pasien
yang
menjadi
sampel
adalah
mempunyai nomor urut n, n+5=n2, n2+5=n3, dan seterusnya.
D. Instrumen Penelitian

Adapun urutan prosedur yang dilakukan dalam pengambilan sampel adalah

untuk

berobat disertai dengan mencantumkan nomor urutnya sehingga tersusun

menjadi sebuah frame sample atau kerangka sampel. Setelah itu, dari frame

sample yang telah dibuat tersebut peneliti menentukan sampel yang akan

diambil yaitu sampel yang berada pada kelipatan 5. Adapun untuk menentuan

nomor urut sampel yang pertama diambil adalah nomor urut yang didapat

yang

Instrumen untuk pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data

primer yang diperoleh melalui kuesioner. Kuesioner yang telah dibuat mencakup

variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan, dan

dukungan keluarga. Sedangkan variabel dependen yaitu perilaku pasien asma

dalam melakukan Senam Asma Indonesia. Pada setiap pertanyaan variabel

independen perlu dilakukan proses scoring.

Skoring yaitu pemberian skor jawaban responden pada beberapa pertanyaan

di

kuesioner

sehingga

dapat

digabungkan

menjadi

variabel-variabel yang diskoring yaitu :

satu

variabel.

Adapun

43

1. Pengetahuan

Skala pengukuran pengetahuan yang digunakan adalah skala Guttman.

pernyataan yang masing-masing terdiri dari 5 pernyataan positif dan adalah 0. dengan menggunakan standar skor
pernyataan yang masing-masing terdiri dari 5 pernyataan positif dan
adalah 0.
dengan menggunakan standar skor dibawah ini :
Kurang: Jika total skor jawaban yang diperoleh < median
Baik
: Jika total skor jawaban yang diperoleh ≥ median
2.
Sikap

Pada kuesioner yang digunakan, untuk variabel pengetahuan terdiri dari 13

8

pernyataan negatif. Pertanyaan B1, B3, B8, B9, dan B13 untuk jawaban yang

benar diberi skor 1 dan diberi skor 0 untuk jawaban yang salah. Sedangkan

untuk pertanyaan B2, B4, B5, B6, B7, B10, B11, dan B12 untuk jawaban yang

benar diberi skor 0 dan untuk jawaban salah diberi skor 1. Sehingga skor

tertinggi untuk pernyataan pengetahuan adalah 13 sedangkan skor terendah

Adapun variabel pengetahuan ini akan dikelompokkan menjadi 2 kategori

Skala pengukuran sikap yang digunakan adalah skala Likert. Pada variabel

sikap terdiri dari 10 pertanyaan yang masing-masing terdiri dari 7 pernyataan

positif dan 3 pernyataan negatif, untuk pernyataan C1, C2, C4, C5, C6, C8,

dan C9, jawaban diberi skor 4 untuk jawaban sangat setuju, 3 = setuju, 2 =

tidak setuju, 1 = sangat tidak setuju. Sedangkan untuk pernyataan C3, C7, dan

C10, jawaban diberi skor 4 untuk jawaban sangat tidak setuju, 3 = tidak

setuju, 2 = setuju, 1 = sangat setuju. Sehingga skor tertinggi untuk pernyataan

sikap adalah 40, sedangkan skor terendahnya adalah 10.

44

Adapun variabel sikap pasien asma ini akan dikelompokkan menjadi 2

kategori dengan menggunakan standar skor dibawah ini :

median Positif terhadap senam asma : Jika total skor jawaban yang diperoleh ≥ median 3.
median
Positif terhadap senam asma
: Jika total skor jawaban yang diperoleh ≥
median
3. Dukungan Petugas Kesehatan
skala
Likert.
Pada
variabel
dukungan
petugas
kesehatan
terdiri
dari
petugas kesehatan adalah 16, sedangkan skor terendahnya adalah 4.
menjadi 2 kategori dengan menggunakan standar skor dibawah ini :
Negatif : Jika total skor jawaban yang diperoleh < median
Positif
: Jika total skor jawaban yang diperoleh ≥ median
4. Dukungan Keluarga

Negatif terhadap senam asma : Jika total skor jawaban yang diperoleh <

Skala pengukuran dukungan petugas kesehatan yang digunakan adalah

4

pernyataan. Jawaban diberi skor 4 untuk jawaban selalu, 3 = sering, 2 =

jarang, 1 = tidak pernah. Sehingga skor tertinggi untuk pernyataan dukungan

Adapun variabel dukungan petugas kesehatan ini akan dikelompokkan

Skala pengukuran dukungan keluarga yang digunakan adalah skala Likert.

Pada variabel dukungan keluarga terdiri dari 5 pernyataan positif. Jawaban

diberi skor 4 untuk jawaban selalu, 3 = sering, 2 = jarang, 1 = tidak pernah.

Sehingga skor tertinggi untuk pernyataan dukungan keluarga adalah 20,

sedangkan skor terendahnya adalah 5.

45

Adapun variabel dukungan keluarga ini akan dikelompokkan menjadi 2

kategori dengan menggunakan standar skor dibawah ini :

Negatif : Jika total skor jawaban yang diperoleh < median Positif : Jika total skor
Negatif : Jika total skor jawaban yang diperoleh < median
Positif
: Jika total skor jawaban yang diperoleh ≥ median
E. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen
dalam Ruswandi, 2009).
bahwa responden tersebut: bersedia menjadi responden, telah terdiagnosa asma ≥

Alat ukur atau instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah

alat ukur yang telah melalui uji validitas dan reabilitas data (Hidayat, 2008).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Uji validitas

menggunakan rumus Pearson Product Moment, sedangkan uji reliabilitas dengan

menggunakan metode Alpha Cronbach di mana dikatakan memiliki tingkat

reabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh ≥ 0,7 (Kaplan, 1993

Uji coba instrumen dilakukan pada tanggal 27-31 Agustus tahun 2010. Uji

coba dilakukan terhadap 20 pasien asma di RS Persahabatan, dengan kriteria

1 tahun, mampu membaca dan menulis, mampu berkomunikasi secara verbal,

dan kooperatif.

Pada saat dilakukan uji validitas didapat dari 20 pertanyaan pengetahuan

hanya 6 pertanyaan yang dinyatakan valid (nilai r tabel = 0,444). Kemudian

peneliti mencoba mengukur tingkat validitas isi dari kuesioner ini. Dalam hal ini

terjadi upaya pembenaran (justifikasi) dari materi yang kemungkinan besar

bersifat subyektif. Selain itu peneliti juga merubah redaksional pertanyaan dalam

46

instrumen yang sekiranya menurut pasien pertanyaan tersebut membingungkan

atau kurang memahami istilah kata yang digunakan. Sehingga pada kuesioner

pengetahuan diperbaiki menjadi 13 pertanyaan. Adapun kuesioner untuk pertanyaan sikap, dukungan petugas
pengetahuan
diperbaiki
menjadi
13
pertanyaan.
Adapun
kuesioner
untuk
pertanyaan
sikap,
dukungan
petugas
kesehatan
dan
dukungan
keluarga
dinyatakan semuanya valid.
Hasil
uji
reliabilitas
terhadap
masing-masing
pertanyaan
untuk
variabel
independen didapatkan nilai Alpha Cronbach ≥ 0,7. Dengan demikian kuesioner
ini dinyatakan reliabel.
Tabel 4.1 Validitas dan Reliabilitas
Pengetahuan
Corrected item-total
Alpha
B1
0.255
B3
0.413
B5
0.504*
B6
0.048
B8
0.375
B9
0.496*
0.729
B10
0.488*
B12
0.504*
B13
0.219
B14
0.363
B16
0.446*
B17
0.267
B20
0.495*
Sikap
Corrected item-total
Alpha
C1
0.596*
C2
0.499*
C3
0.544*
C4
0.666*
C5
0.544*
0.895
C6
0.755*
C7
0.661*
C8
0.755*
C9
0.803*
C10
0.643*

47

Duk.Petugas Kesehatan Corrected item-total Alpha D1 0.859* D2 0.859* 0.920 D3 0.649* D4 0.919* Dukungan
Duk.Petugas Kesehatan
Corrected item-total
Alpha
D1
0.859*
D2
0.859*
0.920
D3
0.649*
D4
0.919*
Dukungan Keluarga
Corrected item-total
Alpha
E1
0.703*
E2
0.673*
E3
0.740*
0.875
E4
0.682*
E5
0.743*
Ket:*
Valid
F.
Pengolahan Data
Dalam
proses
pengolahan
data
peneliti
mengunakan
langkah
-
langkah
pengolahan data diantaranya:
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data atau
formulir kuesioner yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing pada penelitian
ini dilakukan pada tahap pengumpulan data dan setelah data terkumpul.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap

data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting

karena dalam pengolahan dan analisis data peneliti menggunakan komputer.

3. Entry data

Pada tahap ini peneliti memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam

master

tabel

atau

data

base

frekuensi sederhana.

computer,

kemudian

membuat

distribusi

48

4. Cleaning data

Pada tahap ini peneliti memeriksa kembali data yang sudah di-entry,

apakah ada kesalahan atau tidak, sehingga data siap dianalisa. G. Analisa Statistik 1. Analisa Univariat
apakah ada kesalahan atau tidak, sehingga data siap dianalisa.
G. Analisa Statistik
1. Analisa Univariat
sikap,
dukungan
petugas
kesehatan,
dan
dukungan
keluarga.
Indonesia.
2. Analisa Bivariat
kesehatan,
dan
dukungan
keluarga
dengan
perilaku
pasien
asma

Analisa univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi variabel

dependen dan independen. Variabel tersebut diantaranya faktor pengetahuan,

Sedangkan

variabel dependen yaitu perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma

Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel

dependen dan independen yaitu faktor pengetahuan, sikap, dukungan petugas

dalam

melakukan Senam Asma Indonesia. Tehnik analisa menggunakan Chi-Square

untuk melihat hubungan pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan,

dan dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam

Asma Indonesia. Uji kemaknaan yang digunakan yaitu nilai p (p-value),

dengan menggunakan derajat kepercayaan 95 % dengan α 5%. Sehingga jika

nilai

P

(p

value)

0,05

berarti

hasil

perhitungan

statistik

bermakna

(signifikan) atau menunjukkan ada hubungan antara variabel dependen dengan

variabel independen, dan apabila nilai p value > 0,05 berarti hasil perhitungan

49

statistik tidak bermakna atau tidak ada hubungan antara variabel dependen

dengan variabel independen.

H. Etika penelitian melakukan penelitian menekankan masalah etika penelitian yang meliputi : 1. Lembar persetujuan
H. Etika penelitian
melakukan penelitian menekankan masalah etika penelitian yang meliputi :
1. Lembar persetujuan ( informed consent )
tujuan penelitian.
2. Tanpa nama ( anonymity )
Untuk
menjaga
kerahasiaan
identitas
responden,
peneliti

Masalah etika dalam penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian mengingat peneliti keperawatan akan berhubungan

langsung dengan manusia, maka segi etika peneliti harus diperhatikan karena

manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian (Hidayat, 2008). Dalam

Lembar persetujuan ini diberikan dan dijelaskan kepada responden yang

akan diteliti yang memenuhi kriteria sampel dan disertai judul penelitian serta

manfaat penelitian dengan tujuan responden dapat mengerti maksud dan

tidak

mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data yang diisi

responden, tetapi lembar tersebut hanya diberi kode tertentu dan nama inisial.

3. Kerahasiaan ( confidentially )

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Rumah Sakit Persahabatan 1. Sejarah Singkat Rumah Sakit Persahabatan adalah rumah sakit tipe
A.
Gambaran Rumah Sakit Persahabatan
1. Sejarah Singkat
Rumah Sakit Persahabatan adalah rumah sakit tipe B yang berlokasi di Jakarta
Timur, Indonesia, yang secara administratif merupakan rumah sakit vertikal di
bawah Departemen Kesehatan RI, cq. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Tahun
1961 Rumah Sakit Persahabatan mulai dibangun yang merupakan sumbangan
dari Pemerintah Rusia kepada pemerintah Indonesia. Penyerahan secara resmi
pada tanggal 7 Nopember 1963 yang kemudian dikenal sebagai hari jadi Rumah
Sakit Persahabatan.
Rumah Sakit Persahabatan merupakan Pusat Rujukan Nasional Kesehatan
Paru, serta Laboratorium
Kuman
Tuberkulosis
dan mendapat pengakuan
international
sebagai
“WHO
Collaborating
Centre”.
Saat
ini
Rumah
Sakit
Persahabatan
sedang
mempersiapkan
diri
untuk
menjadi
Pusat
Kesehatan
Respirasi Nasional yang nantinya dapat menanggulangi secara aktif masalah

kesehatan respirasi di Indonesia. Selain itu juga melaksanakan pelayanan prima

di bidang kesehatan respirasi baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

serta bersifat comprehensive and one stop service untuk berbagai disiplin terkait

dengan kesehatan respirasi. Pelayanan yang diberikan bertaraf international dan

mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan menjawab persaingan global.

50

51

Rumah Sakit Persahabatan merupakan rumah sakit pendidikan baik untuk

pendidikan dokter spesialis dan juga untuk tempat pendidikan dan pelatihan

dokter, perawat, petugas laboratorium, rekam medis dan petugas lain yang berasal dari berbagai daerah. 2.
dokter, perawat, petugas laboratorium, rekam medis dan petugas lain yang
berasal dari berbagai daerah.
2. Visi
Terwujudnya rumah sakit mandiri dan prima dalam pelayanan dengan
unggulan kesehatan respirasi.
3. Misi
a)
Pelayanan
kesehatan
profesional,
bermutu
dan
bersahabat
untuk
mewujudkan kepuasan pelanggan, dengan menjalankan fungsi sosial.
b)
Mengembangkan jiwa (sikap mental) wirausaha dalam menyelenggarakan
pelayanan prima yang bertumpu pada pemberdayaan seluruh potensi
rumah sakit dan penggolongan kemitraan seluas-luasnya.
c)
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan respirasi dalam kedudukannya
sebagai
pusat
rujukan
nasional,
pusat
pendidikan
dan
pusat
pengembangan keilmuan di bidang
kesehatan respirasi yang bertaraf
international.

d) Menyelenggarakan

kegiatan

pendidikan,

pelatihan,

penelitian

dan

pengembangan yang bermutu.

52

4. Fasilitas

a)

Laboratorium

b) Perpustakaan 1) Perpustakaan Rumah Sakit Melayani buku-buku kedokteran, keperawatan, manajemen sakit dan
b) Perpustakaan
1) Perpustakaan Rumah Sakit
Melayani
buku-buku
kedokteran,
keperawatan,
manajemen
sakit dan lain-lain.
2) Perpustakaan Bagian Pulmonologi FKUI/SMF Paru RS Persahabatan
(a) Melayani buku-buku texbook, majalah ilmiah, jurnal
bidang kedokteran respirasi
(b) Pelayanan
multi
media
(CD-ROM,
Internet)
dalam
kedokteran respirasi
c) Unit Komputer
5.
FKUI/RS Persahabatan Jakarta
a) Rawat Jalan
1) Poliklinik paru
2) Poliklinik asma

rumah

dll, dalam

bidang

Pelayanan di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi

b) Gawat darurat respirasi

c) Rawat inap

d) Rawat instalasi perawatan intensif (IPI)

53

6. Layanan

Respirasi

Unggulan

Departemen

Pulmonologi

dan

Ilmu

Kedokteran Respirasi FKUI/RS Persahabatan

a) Pusat Pelayanan Asma b) Laboratorium faal paru terpadu c) Bronkoskopi d) Sleep Laboratory e)
a)
Pusat Pelayanan Asma
b)
Laboratorium faal paru terpadu
c)
Bronkoskopi
d)
Sleep Laboratory
e)
Pusat diagnostik dan terapi keganasan torak
f)
TB DOTS
g)
Ruang rawat isolasi untuk emerging respiratory disease seperti Avian
Influenzae (AI) dan Severe Acute Respiratory Distress Syndrome (SARS)
B.
Analisa Univariat
1. Gambaran perilaku pasien asma dalam melakukan senam asma
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perilaku Pasein Asma dalam
Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010
Kategori
Frekuensi N= 68
Persentase (%)
Tidak melakukan senam
51
75
Melakukan senam
17
25

Perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia pada

penelitian ini dikategorikan menjadi 2 yaitu tidak melakukan senam dan

melakukan senam. Berdasarkan analisa dari 68 pasien asma didapatkan

sebagian besar pasien asma tidak melakukan senam asma yaitu sebanyak

75%.

54

2. Gambaran Pengetahuan

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan di RS Persahabatan Tahun 2010 Kategori Frekuensi N=
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan di RS
Persahabatan Tahun 2010
Kategori
Frekuensi N= 68
Persentase (%)
Kurang
24
35,3
Baik
44
64,7
Pengetahuan pasien asma diukur melalui pertanyaan – pertanyaan dalam
kuesioner yang berisi tentang pengetahuan dasar penyakit asma dan senam
asma sebanyak 13 pertanyaan. Peneliti mengelompokkan pengetahuan pasien
asma menjadi 2 kategori berdasarkan nilai tengah (median) yaitu 9.
Pada tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar pasien asma memiliki
pengetahuan baik mengenai pengetahuan dasar asma dan senam asma yaitu
sebanyak 64,7%.
3.
Gambaran Sikap
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap di RS
Persahabatan Tahun 2010
Kategori
Frekuensi N=68
Persentase (%)
Negatif
32
47,1
Positif
36
52,9

Pada penelitian ini, variabel sikap dikelompokkan menjadi 2 kategori

berdasarkan nilai tengah (median) yaitu 30. Berdasarkan kategori tersebut

didapat pasien asma yang memiliki sikap negatif terhadap penyakitnya dan

55

senam asma sebanyak 47,1%. Sedangkan pasien asma yang memiliki sikap

positif terhadap senam asma sebanyak 52,9%.

4. Gambaran Dukungan Petugas Kesehatan Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Dukungan Petugas Kesehatan di RS Persahabatan
4. Gambaran Dukungan Petugas Kesehatan
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Dukungan Petugas Kesehatan di RS
Persahabatan Tahun 2010
Kategori
Frekuensi N=68
Persentase (%)
Negatif
33
48,5
Positif
35
51,5
kesehatan
dikelompokkan
menjadi
2
kategori
berdasarkan
nilai
51,5%.

Variabel dukungan petugas kesehatan diukur dengan 4 pertanyaan yang

dinilai oleh responden. Nilai skor dukungan petugas kesehatan tertinggi

adalah 16 dan terendah 4. Untuk kepentingan analisa data, dukungan petugas

tengah

(median) yaitu 10. Berdasarkan kategori tersebut diketahui bahwa lebih

banyak petugas kesehatan yang memiliki dukungan positif yaitu sebanyak

5. Gambaran Dukungan Keluarga

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga di RS Persahabatan Tahun 2010

Kategori

Frekuensi N=68

Persentase (%)

Negatif

32

47,1

Positif

36

52,9

56

Pada penelitian ini, variabel dukungan keluarga dikelompokkan menjadi 2

kategori berdasarkan nilai tengah (median) yaitu 11. Berdasarkan kategori

tersebut didapat bahwa keluarga yang mempunyai dukungan negatif terhadap pasien asma dalam melakukan senam asma
tersebut didapat bahwa keluarga yang mempunyai dukungan negatif terhadap
pasien asma dalam melakukan senam asma sebanyak 47,1%. Sedangkan
keluarga yang mempunyai dukungan positif sebanyak 52,9%.
C.
Analisa Bivariat
1.
Hubungan pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan
Senam Asma Indonesia
Tabel 5.6 Analisis Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pasien Asma
dalam Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010
Senam Asma
Total
Pengetahuan
Tidak
OR
p-value
Melakukan
melakukan
(95% CI)
N
%
N
%
N
%
Kurang
21
41,2
3
17,6
24
35,3
3,267
0,143
(0,833-12,804)
Baik
30
58,8
14
82,4
44
64,7
Total
51
100
17
100
68
100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sebagian besar pasien asma yang

tidak

melakukan

senam

mempunyai pengetahuan

asma

(51

orang),

di

antaranya

lebih

banyak

yang baik (58,8%) daripada pengetahuan

yang

kurang (41,2%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan

yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pasien asma

57

2. Hubungan sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam

Asma Indonesia

Tabel 5.7 Analisis Hubungan Sikap dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia di
Tabel 5.7 Analisis Hubungan Sikap dengan Perilaku Pasien Asma dalam
Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun 2010
Senam Asma
Tidak
Total
OR
Sikap
Melakukan
p-value
melakukan
(95% CI)
N
%
N
%
N
%
Negatif
27
52,9
5
29,4
32
47,1
2,7
0,161
(0,830-8,781)
Positif
24
47,1
12
70,6
36
52,9
Total
51
100
17
100
68
100
Berdasarkan tabel 5.7 diketahui bahwa pasien asma yang tidak melakukan
senam asma di antaranya mempunyai sikap negatif sebanyak 52,9% dan sikap
positif sebanyak 47,1%. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan p-value =
0,161 yang berarti pada α = 0,05 tidak ada hubungan yang bermakna antara
sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma Indonesia.
3.
Hubungan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pasien asma
dalam melakukan Senam Asma Indonesia
Tabel 5.8 Analisis Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku
Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan

Tahun 2010

Dukungan

 

Senam Asma

       

Tidak

melakukan

 

Total

OR

Petugas

Kesehatan

Melakukan

(95% CI)

p-value

N

%

N

%

N

%

Negatif

30

58,8

3

17,6

33

48,5

6,667

0,008

Positif

21

41,2

14

82,4

35

51,5

(1,701-26,130)

Total

51

100

17

100

68

100

   

58

Pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa pasien asma yang tidak melakukan

senam

asma

lebih

banyak

mendapatkan

dukungan

negatif

dari

petugas

kesehatan (58,8%) daripada dukungan positif (41,2%). Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna
kesehatan (58,8%) daripada dukungan positif (41,2%). Hasil uji statistik
menunjukkan
ada
hubungan
yang
bermakna
antara
dukungan
petugas
kesehatan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam Asma
Indonesia (p-value = 0,008 pada α = 0,05). Adapun nilai OR = 6,667,
sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien asma yang mendapat dukungan
negatif
dari
petugas
kesehatan
beresiko
6,667
kali
lebih
tinggi
tidak
melakukan senam asma dibandingkan pasien asma yang mendapat dukungan
positif dari petugas kesehatan.
4. Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pasien asma dalam
melakukan Senam Asma Indonesia
Tabel 5.9 Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Pasien
Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia di RS Persahabatan Tahun
2010
Senam Asma
Dukungan
Tidak
Total
OR
p-value
Melakukan
Keluarga
Melakukan
(95% CI)
N
%
N N
%
%
Negatif
31
60,8
1 5,9
32
47,1
24,8
0.001
(3,046-201,921)
Positif
20
39,2
16
94,1
36
52,9
Total
51
100
17
100
68
100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien asma yang tidak melakukan

senam asma lebih banyak mendapatkan dukungan negatif dari keluarga

59

(60,8%) daripada dukungan positif (39,2%). Berdasarkan hasil uji statistik

dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara dukungan

keluarga dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam keluarga beresiko 24,8 kali lebih tinggi tidak
keluarga
dengan
perilaku
pasien
asma
dalam
melakukan
Senam
keluarga
beresiko
24,8
kali
lebih
tinggi
tidak
melakukan
senam
dibandingkan pasien asma yang mendapat dukungan positif dari keluarga.

Asma

Indonesia (p-value = 0,001 pada α = 0,05). Adapun nilai OR = 24,8, sehingga

dapat disimpulkan bahwa pasien asma yang mendapat dukungan negatif dari

asma

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil
A.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian
ini
mempunyai
keterbatasan-keterbatasan
yang
dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Keterbatasan-keterbatasan tersebut di antaranya:
1.
Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional
yang memiliki
beberapa
kelemahan
antara
lain
pengukuran
variabel
independen
dan
dependen dilakukan secara bersamaan (pada periode yang sama) sehingga
rawan terhadap bias dan tidak bisa melihat adanya hubungan sebab akibat
antara variabel dependen dan independen.
2.
Pengumpulan data dengan kuesioner memungkinkan responden menjawab
pertanyaan
dengan
tidak
jujur
atau
tidak
dimengerti
dengan
maksud
pertanyaan
sehingga
hasilnya
kurang
mewakili.
Namun,
peneliti
sudah
meminimalkan hal tersebut dengan terlebih dahulu sebelum mengisi kuesioner
menghimbau
agar
responden
mengisinya
dengan
sejujur-jujurnya
yang
disampaikan melalui lembar informed consent dan menjelaskan maksud dari

beberapa pertanyaan yang tidak dimengerti responden.

3. Instrumen penelitian dibuat sendiri oleh peneliti yang belum ahli dalam hal

ini. Sehingga kualitas dari instrumen belum cukup baik. Namun, peneliti

sudah

meminimalkan

hal

tersebut

dengan

melakukan

uji

validitas

dan

reliabilitas.

 
 

60

61

4. Sampel dalam penelitian ini kurang dari sampel minimum yang seharusnya

sehingga dapat mempengaruhi hasil analisa dan tidak dapat digeneralisasikan

hasilnya ke populasi. 5. bertujuan untuk terapi penyakit kronik. B. Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan
hasilnya ke populasi.
5.
bertujuan untuk terapi penyakit kronik.
B. Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam Asma Indonesia
berkurang.
Kemudian
penelitian
yang
dilakukan
oleh
Sahat
(2008)

Penelitian terkait senam asma belum banyak dilakukan, sehingga mengalami

keterbatasan dalam membuat pembahasan termasuk dalam membandingkan

hasil penelitian ini dengan hasil penelitian terkait. Namun, hal tersebut dapat

diatasi yaitu membandingkannya dengan penelitian terkait senam diabetes, di

mana keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama terkait latihan fisik dan

Senam Asma Indonesia merupakan salah satu jenis olahraga yang dianjurkan

bagi pasien asma sebagai bagian dari pengobatan asma secara menyeluruh atau

holistik. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Anwar (1998) dan

Rogayah (1999) menyimpulkan bahwa pasien asma yang mengikuti sanam asma

dapat memperbaiki gejala klinis yang dialami dan penggunaan obat obatan

di

perkumpulan senam asma RSU Tangerang menyimpulkan bahwa senam asma

berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru

setelah dikontrol variabel usia, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Budi (2008) diperoleh hubungan yang

bermakna antara kualitas senam asma dengan kualitas hidup pasien asma, dimana

62

pasien asma yang melakukan senam secara teratur dan melakukan sosialisasi

lebih banyak mempunyai kualitas hidup yang baik.

penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat ukur mendapatkan data terkait perilaku pasien asma
penelitian
ini,
peneliti
menggunakan
kuesioner
sebagai
alat
ukur
mendapatkan data terkait perilaku pasien asma dalam melakukan senam asma.
sudah dijalani lebih dari 1 tahun.

Menurut Notoatmodjo (2003), untuk memperoleh data terkait perilaku pasien

yang paling akurat adalah melalui pengamatan (observasi). Namun dapat juga

dilakukan melalui wawancara dengan pendekatan recall atau mengingat kembali

perilaku yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu. Pada

untuk

Pada hasil penelitian ini diketahui sebagian besar pasien asma tidak melakukan

senam asma. Adapun pasien asma yang dikategorikan tidak melakukan senam

pada penelitian ini sebagian besar tidak pernah melakukan senam asma semenjak

didiagnosa asma. Sedangkan pasien asma yang dikategorikan melakukan senam

pada penelitian ini sebagian besar melakukan senam asma 1 kali seminggu dan

Menurut Supriyantoro (2004), latihan dapat dilakukan satu kali seminggu

dengan durasi latihan 60 menit. Namun, menurut Yayasan Asma Indonesia (YAI)

(2008) senam asma yang efektif adalah apabila dilakukan secara rutin 3 4 kali

seminggu, setiap kali senam 45 60 menit, dan akan menunjukkan hasilnya

C.

setelah dilaksanakan 6 8 minggu.

Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan

Senam Asma Indonesia

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

63

indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan

raba. Namun, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2003). peran sakit. perilaku seseorang. Namun, peningkatan pengetahuan tidak
telinga (Notoatmodjo, 2003).
peran sakit.
perilaku
seseorang.
Namun,
peningkatan
pengetahuan
tidak

Pada penelitian ini, sebagian besar pasien asma memilik pengetahuan dasar

asma dan senam asma yang baik. Menurut peneliti, hal ini terjadi karena pasien

yang menjadi sampel penelitian adalah sebagian besar sudah menderita asma

sejak kecil sehingga informasi terkait penyakit yang diderita sudah banyak

didapat. Karena menurut Notoatmodjo (2007), pasien akan berusaha mencari

informasi terkait penyakit yang diderita dan itu merupakan bagian dari perilaku

Analisis lebih lanjut yaitu dengan menghubungkan antara pengetahuan dan

perilaku pasien, ternyata dari hasil analisis bivariat didapatkan proporsi pasien

asma yang tidak melakukan senam asma lebih banyak mempunyai pengetahuan

yang baik daripada pengetahuan yang kurang. Menurut Notoatmodjo (2003)

pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi

selalu

mengambarkan perubahan perilaku. Pembentukan perilaku tidak semata-semata

berdasarkan pengetahuan saja, tapi masih dipengaruhi oleh banyak faktor yang

sangat kompleks.

Pada hasil uji statistik pula didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna

antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan

Senam Asma Indonesia (p-value = 0,143). Hal ini sejalan dengan penelitian

Warsono (2000) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan

64

dengan kepatuhan melakukan olahraga yang dianjurkan pada pasien diabetes

melitus type 2.

menjalankan olahraga pada pasien diabetes mellitus type 2.
menjalankan olahraga pada pasien diabetes mellitus type 2.

Berbeda dengan penelitian Pratiwi (2003), hasil analisa menunjukkan ada

hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan latihan fisik pada pasien

diabetes mellitus type 2. Latihan fisik yang dimaksud adalah olahraga dan

aktivitas harian. Begitu pula dengan penelitian Hariyanti (2001) bahwa ada

hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku kepatuhan

Menurut analisa peneliti, tidak adanya hubungan yang bermakna antara

tingkat pengetahuan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan Senam

Asma Indonesia mungkin dikarenakan kurangnya motivasi atau dorongan dari

dalam diri pasien sendiri untuk melakukan senam asma. Walaupun pasien

mengetahui besarnya manfaat senam asma bagi perbaikan kondisinya, namun

jika tidak ada motivasi dari dalam diri untuk melakukan senam asma maka

pasien tidak akan melakukan senam asma. Karena menurut Maulana (2009)

motivasi terbaik datang dari dalam diri sendiri. Motivasi menjadi suatu kekuatan,

tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam

diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak

disadari (Makmun, 2009 dalam Nursalam, 2008).

Selain itu, dikarenakan ada faktor lain yang juga mempengaruhi seperti

dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Berdasarkan teori motivasi

bahwa dukungan petugas kesehatan dan dukungan keluarga merupakan faktor

motivasi eksternal yang juga menjadi pendorong sebuah perilaku seseorang

65

(Shaleh, 2004). Sehingga sebaiknya peran keluarga dan petugas kesehatan perlu

ditingkatkan agar dapat membantu merubah perilaku pasien agar melakukan

senam asma. D. Asma Indonesia 2009).
senam asma.
D.
Asma Indonesia
2009).

Hubungan Sikap dengan Perilaku Pasien Asma dalam Melakukan Senam

Sikap merupakan kecenderungan merespons (secara positif atau negatif)

orang, situasi, atau objek tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional

atau afektif (senang, benci, dan sedih), kognitif (pengetahuan tentang suatu

objek), dan konatif (kecenderungan bertindak) (Sarwono, 1997 dalam Maulana,

Berdasarkan hasil penelitian, sikap pasien asma terhadap penyakitnya dan

senam asma lebih banyak positif. Adapun dari hasil analisa bivariat diketahui

proporsi pasien asma yang tidak melakukan Senam Asma Indonesia lebih banyak

mempunyai sikap negatif daripada sikap positif namun tidak jauh berbeda.

Artinya pasien yang mempunyai sikap positif pun mempunyai kecenderungan

tidak melakukan Senam Asma Indonesia. Hasil uji statistik menunjukkan tidak

ada hubungan antara sikap dengan perilaku pasien asma dalam melakukan

Senam Asma Indonesia. Menurut analisa peneliti, hal ini mungkin disebabkan

karena

informasi

yang

diberikan

petugas

kesehatan

kepada

pasien

tentang

penyakit asma dan manfaat senam asma masih belum cukup merubah perilaku

pasien untuk melakukan senam asma. Sarwono (1997) yang dikutip Maulana

(2009)

menyatakan

bahwa

sikap

seseorang

dapat

berubah

selain

dengan

66

diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu melalui persuasi, juga

dapat dengan tekanan dari kelompok sosialnya.

melakukan senam asma akan mempengaruhi pengontrolan bersikap positif terhadap sesuatu akan lebih mudah
melakukan
senam
asma
akan
mempengaruhi
pengontrolan
bersikap
positif
terhadap
sesuatu
akan
lebih
mudah
dipengaruhi
menjalankan
hal
tersebut,
yang
dibutuhkan
adalah
seseorang
yang
2007).

Upaya yang dapat dilakukan kepada pasien untuk melakukan senam asma

antara lain dengan cara memberikan contoh kepada pasien bahwa dengan

penyakitnya.

Misalnya seorang perawat atau dokter yang sedang memberikan anjuran kepada

pasiennya, ia menggambarkan bagaimana senam asma tersebut mempengaruhi

pasien lainnya dalam memperbaiki gejala asmanya. Karena seorang yang telah

untuk

dapat

memberikan contoh (role model), dan akan lebih baik bila yang memberikan

contoh adalah orang yang berpengaruh atau dapat dipercaya (Notoatmodjo,

Sunaryo (2004) menyatakan bahwa sikap pada diri individu belum tentu

terwujud dalam suatu tindakan. Karena menurut Notoatmodjo (2007) walaupun

sikap merupakan faktor predisposisi terhadap perilaku seseorang namun masih

merupakan respon tertutup sehingga belum pasti meramalkan perilaku seseorang.

Individu seringkali memperlihatkan tindakan bertentangan dengan sikapnya.

Hasil

penelitian

ini

sejalan

dengan

penelitian

Hariyanti

(2001),

yang

menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sikap pasien terhadap penyakit

Diabetes

Mellitus

dan

penatalaksanaannya

dengan

perilaku

kepatuhan

menjalankan olahraga. Namun, berbeda dengan hasil penelitian Pratiwi (2003),

67

yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan

latihan fisik.

E. dalam Melakukan Senam Asma Indonesia hidup dan kehidupan masyarakat (Sudarma, 2008). Aktivitas petugas
E.
dalam Melakukan Senam Asma Indonesia
hidup
dan
kehidupan
masyarakat
(Sudarma,
2008).
Aktivitas
petugas kesehatan terhadap pengendalain penyakit asma amat besar.

Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Pasien Asma

Fungsi hadirnya tenaga kesehatan adalah memberikan pelayanan kepada

masyarakat dalam bidang kesehatan. Tujuan dasar dari pelayanan kesehatan ini

adalah memberikan layanan kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas

peningkatan

kesehatan merupakan bagian dari berbagai peran perawat seperti motivator,

pendidik atau penyuluh (Potter & Perry, 2005). Dukungan petugas kesehatan

termasuk perawat merupakan salah satu faktor yang diduga dapat mempengaruhi

perilaku pasien dalam melakukan Senam Asma Indonesia. Mengingat peran

Gambaran dukungan petugas kesehatan yang dinilai secara objektif oleh

pasien menunjukan lebih banyak positif. Menurut peneliti, dukungan positif yang

diberikan petugas kesehatan adalah lebih banyak berupa dukungan informasi.

Setelah dihubungkan dengan perilaku pasien diketahui proporsi pasien asma

yang tidak melakukan senam asma lebih banyak mendapatkan dukungan negatif

dari petugas kesehatan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara

dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pasien asma dalam melakukan

Senam Asma Indonesia (p-value = 0,008). Ini sesuai dengan teori Green (1991)

yang diacu Notoatmodjo (2007) bahwa dukungan petugas kesehatan merupakan

68

faktor

pendorong

yang

dapat

mempengaruhi

terjadinya

sebuah

perilaku

kesehatan.

hasil analisa menunjukkan ada hubungan petugas kesehatan dengan latihan fisik. perilaku pasien agar berperilaku
hasil analisa menunjukkan ada hubungan
petugas kesehatan dengan latihan fisik.
perilaku
pasien
agar
berperilaku
sehat.
Dukungan
dari
petugas
2000).
Jadi
peran
petugas
kesehatan
dalam
mempengaruhi
pasien
asma

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Warsono (2000) dan

Hariyanti (2001) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan

petugas kesehatan dengan perilaku kepatuhan menjalankan olahraga. Namun

berbeda dengan penelitian Pratiwi (2003) yang sejalan dengan penelitian ini,

yang bermakna antara dukungan

Sikap petugas merupakan salah satu faktor yang penting dalam merubah

kesehatan

merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan. Dukungan petugas