You are on page 1of 9

1. Trafo Sisipan!

2. Dimana biasanya terjadi ionisasi!


3. Pembangkit yang bagaimana yang dibutuhkan pada daerah pedesaan dan
saluran yang cocok diterapkan!
Jawaban :
1. Penyebab perlunya sebuah Trafo Sisipan adalah diawali dengan banyaknya
transformator distribusi yang mengalami ketidakseimbangan beban (over
phase) dan beban lebih (over load) menyebabkan ketidak-optimalan
batasan umur pakai (lifespan) dari transformator tersebut. Hal tesebut
mengakibatkan seringnya terjadinya pemadaman akibat transformator
yang rusak, padahal transformator tersebut belum sampai pada umur pakai
yang diperkirakan. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalah
tersebut yaitu dengan memasang trafo sisipan pada gradu distribusi yang
mengalami over load. Laporan ini membahas bagaimana menentukan
asumsi daya trafo sisipan yang dipakai serta penggunaan aplikasi
mapsource yang dapat memudahkan proses pemindahan beban ke trafo
sisipan nantinya.
Perencanaan pemasangan trafo sisipan ini akan mempunyai 2
jurusan, yaitu jurusan A yang diambil dari sebagian beban jurusan A gardu
distibusi M.222 dan jurusan C yang di ambil dari pemindahan seluruh
jurusan A gardu distribusi M.235. Pemindahan dilakukan pada jurusan
tersebut karena merupkan jurusan terdekat dengan lokasi pemasangan
trafo sisipan, hal ini tentunya akan lebih efektif dan efisien, disamping
penghematan material juga tentunya untuk menghindari drop tegangan
akibat terlau panjangnya JTR. Penentuan daya transformator sisipan yang
akan dipakai dapat kita tentukan berdasarkan besarnya arus yang ingin
dipindahkan dari masing-masing gardu distribusi M.222 dan gardu
distribusi M.235.

2. Ionisasi merupakan bagian dari Efek Corona Pada Saluran Transmisi

Ketika arus bolak balik (AC) mengaliri konduktor dari sebuah


saluran transmisi dengan jarak antara konduktor ke konduktor yang lain
lebih besar dibandingkan dengan diameter konduktor itu sendiri, maka
udara disekitar konduktor yang terdiri dari ion-ion mengalami stres
dielektrik.
Ketika tegangan pada saluran transmisi tersebut masih rendah,
stres dielektrik yang dialami oleh udara disekeliling konduktor tersebut
tidak cukup untuk mengionisasi udara disekitar konduktor. Tapi ketika
tegangan pada saluran transmisi ditingkatkan melebihi nilai ambang batas
sekitar 30 kV yang dikenal sebagai titik critical disruptive voltage, maka
udara disekitar konduktor mengalami stres cukup tinggi sehingga terjadi
ionisasi terhadap ion-ion yang dikandung didalam udara tersebut.
Terjadinya ionisasi pada ion-ion diudara disekitar konduktor akan
menimbulkan cahaya redup bersamaan dengan suara mendesis disertai
dengan pembebasan ozon, yan gmudah diidentifikasi karena baunya yang
khas.
Fenomena yang terjadi pada saluran transmisi tersebut dikenal
sebagai efek corona dalam sistem tenaga listrik. Jika tegangan pada
saluran transmisi terus dinaikkan, intensitas cahaya akibat timbulnya
corona menjadi lebih tinggi dan suara mendesisi semakin jelas terdengar.
Efek coran ini dapat mengurangi effisiensi pada saluran transmisi terutama
pada saluran EHV (Extra High Voltage).
Dari penjelasan diatas, terjadinya Efek Corona pada saluran
transmisi dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut, yaitu :
a) Kondisi Fisik Saluran Transmisi
Adanya kotoran atau kekasaran konduktor mengurangi tegangan
rusaknya kritis, membuat konduktor lebih rentan terhadap kerugian
korona . Oleh karena itu di sebagian besar kota dan daerah industri
yang memiliki polusi yang tinggi , faktor ini sangat penting wajar
untuk melawan efek buruk itu pada sistem.
b) Jarak antar konduktor , harus cukup besar dibandingkan dengan
diameter garis .
c) Keadaan Atsmosfir

Efek korona di saluran transmisi terjadi karena ionisasi udara


atmosfir yang mengelilingi kabel , hal ini terutama dipengaruhi
oleh kondisi kabel serta keadaan fisik atmosfer.
d) Tingginya tegangan pada saluran transmisi
Efek corona mulai timbul pada tegangan kritis 30 kV, dan terus
meningkat seiring dengan tegangan yang diterapkan pada saluran
transmisi tersebut.
Untuk mengurangi rugi-rugi (inefisiensi) pada saluran transmisi
akibat efek korona, maka suatu rancangan saluran transmisi harus
mempertimbangkan keempat faktor diatas.

3. Sudah umum dipahami bahwa listrik adalah kebutuhan pokok dalam


kehidupan saat ini. Sangat jauh perbedaan kehidupan mereka yang
mendapat pelayanan listrik dengan yang tidak, ibarat malam dengan siang.
Maka sudah menjadi keharusan bagi pemerintah untuk menyediakan
pelayanan listrik bagi seluruh penduduknya, jika masyarakat yang aman,
adil,

dan

sejahtera

menjadi

cita-cita

bersama.

Ketidakmampuan

menyediakan listrik kepada semua penduduk sama artinya dengan


membiarkan sebagian penduduk untuk hidup di masa lalu dan melupakan
masa depan. Oleh sebab itu, mestinya ada upaya besar untuk menyediakan
listrik bagi seluruh penduduk yang sampai saat ini belum terjangkau
pelayanannya.
Menurut data potensi desa BPS tahun 2003, ada sebanyak 5.758
desa di Indonesia yang belum terlistriki. Persentase desa yang tidak
berlistrik terbesar ada di propinsi Papua dan Irian Jaya Barat, di mana
lebih dari 60% dari desa-desa di sana tidak terlayani listrik. Desa-desa
tanpa listrik lainnya banyak terdapat di NTT, Maluku, Maluku Utara, dan
Kalimantan Tengah. Kecuali beberapa propinsi, seluruh propinsi lainnya
juga mempunyai desa-desa yang belum terlistriki. Di Jawa Timur,
misalnya, masih terdapat 36 desa yang gelap gulita jika malam tiba. Tidak

jauh dari ibukota negara, yaitu di propinsi Banten, masih ada 27 desa yang
belum mengenal lampu.
Di desa-desa yang sudah termasuki listrik, tidak semua rumah
tangga terlayani karena ketidaksanggupan bayar, kesulitan teknis, dll.
Diperkirakan ada sebanyak 18 juta rumah tangga yang belum mendapat
pelayanan listrik (BPPT, 2004). Jika dari jumlah ini, 60% diantaranya akan
dapat terlayani PLN melalui perluasan jaringannya, maka ada sejumlah 7,2
juta rumah tangga yang perlu mendapat layanan listrik non-jaringan.
Rumah tangga ini umumnya berada di pedalaman, pulau-pulau terpencil,
perbatasan negara, dll.
Mungkinkah menyediakan listrik bagi seluruh rumah tangga
tersebut dalam beberapa tahun saja? Dengan asumsi bahwa listrik yang
disediakan berupa sistem listrik rumah tenaga surya (solar home system)
maka diperlukan biaya sekitar Rp. 32 triliun. Jika 60% dari harga listrik
surya ini sanggup dicicil oleh penduduk yang belum terlayani listrik itu,
sebagaimana yang telah diujicobakan oleh BPPT di berbagai daerah
beberapa tahun yang lalu, maka diperlukan biaya dari anggaran
pemerintah sebanyak Rp. 12 triliun.
Selanjutnya jika pemerintah dapat mengupayakan dana hibah
untuk pengadaan listrik bersih ini dari lembaga-lembaga internasional,
misalnya dari Global Environmental Facilities (GEF), maka anggaran
pemerintah yang diperlukan menjadi lebih sedikit. Jika sebagian listrik
dapat diperoleh dari pembangkit listrik yang lebih murah, seperti tenaga
mikro hidro, tenaga bayu atau tenaga gelombang, yang potensinya tersebar
di berbagai daerah juga, maka biaya penyediaan listrik untuk penduduk di
desa-desa terpencil semakin sedikit. Umpamakan saja kebutuhan totalnya
akhirnya menjadi Rp. 10 triliun. Darimana dana sebesar ini berasal? Tanpa
perlu menambah pinjaman luar negeri, sebenarnya dana itu dapat
dialokasikan dari APBN. Pada pembahasan Rancangan APBN 2005 yang
lalu, setelah melalui pembahasan yang cermat antara Pemerintah dan DPR,
ditemukan ada kelebihan dana sebesar Rp. 7 triliun, jumlah ini merupakan
hasil dari pengurangan rancangan pengeluaran dan penambahan rancangan

penerimaan. Kalau saja sebagian dana penghematan tersebut tidak


dialokasikan kembali ke semua instansi pusat untuk menambah anggaran
instansi/komite/badan, dll; maka sebetulnya sebagian besar dana
penyediaan listrik untuk penduduk di daerah terpencil ini dapat dipenuhi
dalam waktu hanya 4-5 tahun saja. Artinya pada pembicaraan RAPBN
tahun 2006, basis alokasi anggaran belanja pusat adalah rancangan awal
sebagaimana

yang

diajukan

Pemerintah,

bukan

setelah

tercapai

kesepakatan dengan DPR. Dengan demikian terdapat anggaran untuk


pengadaan listrik tadi, bersamaan dengan kebutuhan dana untuk
rekonstruksi Aceh yang sebagian besar dapat dipenuhi dari dana-dana
bantuan luar negeri.
Sumber dana lain untuk penyediaan listrik ini adalah dari anggaran
sektoral (dana dekonsentrasi), dana bagi hasil dan dana dari daerah sendiri.
Dana alokasi yang khusus untuk pengadaan listrik dapat ditambahkan
disamping untuk beberapa sektor yang memang memerlukan tambahan
pendanaan tersendiri seperti jalan dan air bersih. Untuk propinsi NAD dan
Papua (dan Irian Jaya Barat) ada dana tambahan dari dana otonomi khusus
yang dapat dimanfaatkan untuk pengadaan listrik non-PLN tadi. Di
samping itu, dana-dana lain dapat dialokasikan dari hasil pengurangan
beberapa subsidi yang tidak efektif mencapai sasaran yang dituju.
Meski bukan wilayah yang kaya sinar matahari seperti di
Indonesia, banyak negara maju mulai berlomba-lomba memanfaatkan
energi matahari sebagai sumber pembangkit energi alternatif. Amerika
Serikat misalnya, sudah mengoperasikan pusat pembangkit listrik energi
matahari. Spanyol memiliki pembangkit listrik energi matahari yang
terbesar di benua Eropa. Sebuah proyek ambisius di bidang ini sedang
digarap oleh Australia yang berencana membangun pusat pembangkit
energi matahari terbesar di dunia. Proyek raksasa itu akan menelan
anggaran sedikitnya 375 juta dolar AS (Rp 3,4 triliun). Proyek itu
bertujuan untuk membangun pusat pembangkit energi matahari yang
terbesar di dunia. Panel-panel cermin digunakan untuk menangkap sinar
matahari yang kemudian diubah menjadi sumber energi. Pembangkit

energi ini tidak akan menimbulkan emisi gas CO2 dan suplai energinya
bisa memenuhi kebutuhan nasional.
Di Inggris, pembangkit energi alternatif bahkan sudah menjadi
perlengkapan rumah tangga. Banyak rumah di London selatan, misalnya,
sudah dilengkapi dengan sistem pembangkit listrik tenaga surya dan
tenaga angin. Rumah dengan pembangkit listrik domestik seperti itu kini
menjadi tren di Inggris dan di berbagai negara. Pemerintah Inggris sejauh
ini belum menunjukkan isyarat akan mewajibkan pemasangan pembangkit
listrik domestik seperti itu di setiap rumah. Namun, pemerintah sudah
meluncurkan program jangka tiga tahun dengan dana 60 juta poundsterling
Rp 135 miliar) untuk mengembangkan dan mendukung microgeneration
(pembangkit mikro, alat pembangkit listrik rumah tangga).
Sekitar 80.000 rumah di Inggris kini bisa menghasilkan listrik
sendiri dengan unit pembangkit energi mikro. Menurut perkiraan Energy
Saving Trust, penggunaan turbin domestik akan mensuplai empat persen
kebutuhan listrik di Inggris. Pembangkit listrik tenaga angin itu
mengurangi emisi karbondioksida sampai enam persen. Limbah karbon
dari penggunaan listrik di Uni Eropa mencapai 8,5 ton sementara alat
pembangkit listrik ini hanya menghasilkan limbah karbon kurang dari
setengah ton. Menurut Energy Saving Trust, generasi energi ramah
lingkungan itu bisa mensuplai lebih dari sepertiga kebutuhan energi dalam
kurun waktu beberapa puluh tahun.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam
mengatasi krisis listrik. Pemerintah Kota Balikpapan berencana akan
membentuk perusahaan daerah (perusda) kelistrikan. Pendirian perusda
tersebut dimaksudkan untuk mengatur pendistribusian pasokan listrik di
Kawasan Industri Kariangau KIK) Balikpapan, bersama-sama dengan
Gunung Bayan Group. Rencana pembentukan perusda itu sebagai tindak
lanjut pascapembangunan PLTU batu bara 2X25 MW dengan nilai
investasi mencapai US$ 60 juta yang pembangunannya ditargetkan
rampung awal 2009. Pembangkit listrik tenaga uap batu bara yang
merupakan konsorsium antara Gunung Bayan Group dan Pemkot

Balikpapan itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di KIK


Balikpapan. Perusda yang dibentuk akan ikut di dalam distribusi listrik.
Perusda memeroleh keuntungan dari penjualan listrik. Gunung Bayan
Group dan Pemkot Balikpapan telah menandatangani kontrak kerja sama
untuk memulai pembangunan PLTU batu bara tersebut.
Di Provinsi Kepulauan Riau, lima dari enam kabupaten/kota
kesulitan mengatasi keterbatasan infrastruktur kelistrikan. Kondisi ini
menyebabkan pertumbuhan ekonomi di daerah itu menjadi lamban. Hanya
Kota Batam yang memiliki pasokan listrik sebesar 300 MW yang dapat
memenuhi kebutuhan energi bagi pelanggan di pulau tersebut. Kelangkaan
listrik dan ketidakmampuan PLN di lima kabupaten/kota itu memasok
listrik bagi pelanggan memicu keterlibatan pemerintah kabupaten/kota
untuk memberikan subsidi melalui anggaran daerah. PLN Natuna
termasuk perusahaan listrik yang merugi bila melihat ketidakseimbangan
harga pokok produksi dengan harga jualnya kepada pelanggan.
PLN memproduksi satu kWh listrik berkisar antara Rp2.000Rp2.500, tetapi harus dijual Rp658 per kWh. Untuk menutupi kerugian itu,
Pemkab memberi subsidi sekitar Rp1.800 per kWh. Pemadaman bergilir
ataupun pemadaman total sudah sering terjadi di kota Pulau Ranai karena
pasokan listrik oleh PLN yang sangat terbatas. Di tengah keterbatasan itu,
Pemkab Natuna sudah berupaya membeli tambahan mesin generator listrik
di masing-masing kecamatan, tetapi mesin-mesin itu belum bisa
dioperasikan karena belum memperoleh izin dari PLN sebagai satusatunya pemasok daya di daerah itu.
Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan oleh pemerintah daerah lain,
karena pemerintah pusat tidak mungkin menyelesaikan permasalahan yang
terjadi di berbagai daerah secara serentak.
Listrik merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Pemerintah perlu
berusaha agar tidak ada wilayah yang tidak teraliri listrik. Jika PLN
terkendala untuk melistriki desa-desa terpencil maka pemerintah (pusat
dan daerah) perlu melakukannya. Salah satu sarana listrik yang dapat
menjangkau wilayah terpencil dan pedesaan adalah listrik energi surya.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengupayakan agar listrik energi


surya ini semakin mudah diperoleh masyarakat sambil menunggu pasokan
listrik dari PLN.

TUGAS PERENCANAAN SISTEM TENAGA LISTRIK

OLEH :

I PUTU GOVINDA RIAWAN


NIM. 1304405090

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DAN KOMPUTER


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2016