You are on page 1of 65

LAPORAN KASUS

Dalam laporan kasus ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan
keluarga dengan masalah kesehatan TB Paru pada Tn. I dalam konteks keperawatan yang
dilaksanakan pada tanggal 2 s.d 13Mei 2011, dengan pendekatan proses asuhan keperawatan
pada keluarga.
A. KARAKTERISTIK
Tanggal 2 Mei 2011, penulis melakukan pengkajian pada keluarga Ny. S dan dari hasil
pengkajian telah diperoleh data sebagai berikut:
1. Kepala Keluarga
Nama kepala keluarga adalah Ny. S dengan jenis kelamin perempuan, berusia 68 tahun,
agama Islam. Pendidikan terakhir tidak sekolah. Pekerjaan sebagai terima pesanan kue.
Tempat tinggal di Jln. Cipinang Pulo Maja RT 06, RW 012, No 13, kelurahan Cipinang Besar
Utara, kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

2. Susunan Anggota Keluarga

NAMA

UMUR

SEX

1
2
3
4
5
6

HUBUNGAN DENGAN

PENDIDIKAN

PEKERJAAN

KET

Ka.KELUARGA

Tn. Iwan
Ny. Ade
An. Oman

35 Th
29 Th
7
Th
Ny. Norma 28 Th
Tn. Rosidin 41 Th
An. Taflan 2
Th

L
P
L

Anak ke-11
Istri Tn.Iwan
Anak Tn.Iwan

SD
SD
SD

BURUH
IRT
PELAJAR

P
L
L

Anak ke-12
Suami Ny.Norma
Anak Ny.Norma

SD
SD
-

BURUH
BURUH
-

3.

Genogram

1. Tipe Keluarga
Keluarga inti (Nuclear Family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak dalam satu rumah.
2. Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga

Ny. S usia 68 tahun, berat badan 46 kg, tinggi badan 147 cm, kesadaran compos
mentis, tekanan darah 120/70 mmHg, Nadi 80 x/menit, frekuensi pernafasan 20 x/menit,
Suhu 36.40C, warna kulit sawo matang, rambut putih beruban, konjungtiva an-anemis, sklera
an-ikterik, mulut tidak terdapat sariawan, gigi karies, telinga, hidung, dan tenggorokan tidak
ada kelainan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening. Hasil auskultasi
bunyi paru vesikuler, tidak ada bunyi gallop dan murmur pada jantung, pada palpasi perut
datar dan lemas, tidak ada benjolan di kepala.
Tn. I usia 35 tahun, jenis kelamin laki-laki, berat badan 45 kg, tinggi badan 175 cm,
kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 88x/menit, Suhu
36,80C,frekuensi pernafasan 25x/menit, irreguler. Pada inspeksi rambut pendek ikal, warna
hitam, rambut kusam. Tn. I tampak sekali-kali batuk dan sesak, dada sedikit kiposis, mata
simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, tidak menggunakan alat bantu penglihatan,
ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan, hasil pemeriksaan auskultasi, bunyi jantung tidak
terdengar gallop atau murmur, bunyi nafas vesikuler namun ronki terdengar halus. Bunyi
wheezing tidak ada. Pada palpasi abdomen datar dan lemas, tidak ada pembesaran kelenjar
getah bening dan tiroid.
Ny. Ade usia 29 tahun, jenis kelamin perempuan. Berat badan 45 kg, tinggi badan 152
cm. Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 80x/menit, suhu tubuh 35,9 0C, frekuensi pernafasan
20x/menit, reguler. Pada pemeriksaan inspeksi kepala: rambut panjang, hitam dan ikal, tidak
ada ketombe. Mata simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas dan
bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi, bunyi paru tidak terdengar wheezing
dan ronki. Palpasi abdomen teraba janin usia 5 bulan. Bunyi pernafasan vesikuler, tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid.
An. O usia 7 tahun, jenis kelamin laki-laki. Pekerjaan sebagai pelajar kelas 2
SD.tinggi badan 104 cm, berat badan 20 kg, denyut nadi 88x/menit, frekuensi pernafasan
18x/menit, reguler, suhu tubuh 35,90C. Tampak kurus, rambut pendek ikal, warna hitam, tidak
berketombe. Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis,
ekstremitas atas bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif
normal, bunyi jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas,
hepar dan spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid.
Pada pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.
Ny. N usia 28 tahun jenis kelamin perempuan, berat badan 51 kg, tinggi badan 152
cm, tekanan darah 120/90 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 360C, pernafasan 20x/menit, reguler.
Pada pemeriksaan inspeksi didapat data rambut pendek ikal, warna hitam, tidak berketombe.
Kulit sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas
bawah tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi
jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan
spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada
pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.

Tn. R usia 41 tahun jenis kelamin laki-laki, berat badan 50 kg, tinggi badan 155 cm,
tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 84x/menit, pernafasan 22x/menit, reguler, suhu 360C. Pada
pemeriksaan inspeksi didapat data rambut pendek ikal, warna hitam, tidak berketombe. Kulit
sawo matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah
tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi
jantungtidak terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan
spleen tidak teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada
pemeriksaan perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.
An. T usia 2 tahun jenis kelamin laki-laki, berat badan 13 kg, tinggi badan 88 cm.
Hasil inspeksi rambut lurus, berwarna hitam dan pendek. Tidak berketombe. Kulit sawo
matang. Mata simetris, sklera an-ikterik, konjungtiva an-anemis, ekstremitas atas bawah tidak
ada kelainan. Pada pemeriksaan auskultasi bising usus positif normal, bunyi jantungtidak
terdengar gallop dan murmur. Palpasi abdomen datar dan lemas, hepar dan spleen tidak
teraba. Tidak ada pembesaran pada kelenjar getah bening dan tiroid. Pada pemeriksaan
perkusi, abdomen terdengar bunyi tympani.
A. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga saat ini yaitu keluarga melepas anak usia dewasa. Tugas
perkembangan keluarga yaitu memperluas siklus keluarga dengan masuknya keluarga baru
dan perkawinan anak ke-2, melanjutkan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan,
membantu orang tua usia lanjut dan mulai menurun status kesehatannya.
(Perkembangan keluarga berada pada tahap IV yaitu keluarga melepas anak usia dewasa).
2. Tugas Keluarga Yang Belum Terpenuhi/Terlaksana Pada Tahap Perkembangan
Tidak ada tugas keluarga yang belum terpenuhi/terlaksana pada tahap perkembangan.
3. Riwayat Keluarga Inti
Keluarga inti yang terdiri dari Ny. S yang berperan sebagai kepala keluarga yang berusia 68
tahun dan 2 orang anak kandung yang terdiri dari 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, 2
cucu laki-laki, dan 2 menantu yaitu 1 laki-laki dan 1 perempuan.
B. STRUKTUR KELUARGA
1. Komunikasi Dalam Keluarga
1.1 Pola Interaksi
Pola interaksi paling sering terjadi dalam keluarga yaitu saat pagi hari dan malam hari,
biasanya interaksi terjadi saat menonton TV. Dalam komunikasi, yang paling dominan adalah
Tn. I dengan menggunakan bahasa Indonesia. Komunikasi dalam keluarga saling tertutup
satu sama lain. Interaksi yang berlangsung biasanya hanya sekedar. Tidak ada konflik dalam
keluarga tentang pola interaksi.
1.2 Cara Berkomunikasi Dalam Keluarga
Cara berkomunikasi yang sering diterapkan dalam keluarga yaitu secara langsung, sifat
komunikasi yang sering diterapkan dalam keluarga secara tertutup. Anggota keluarga yang
paling dominan berbicara adalah Tn. I, bahasa yang sering digunakan oleh anggota keluarga
yaitu bahasa Indonesia.

2. Struktur Keluarga
2.1 Pengambilan Keputusan
Cara atau metode pengambilan keputusan di keluarga yaitu secara musyawarah. Di dalam
keluarga ini yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah Tn. I. Didalam masalah
kesehatan dalam keluarga, diperlukan tenaga kesehatan seperti dokter/perawat untuk
memecahkan masalah kesehatan keluarga. Anggota keluarga yang paling dipercaya kepada
keluarga adalah ibu.
2.2 Hubungan Dalam Keluarga
Hubungan antara anggota keluarga adalah kurang harmonis dan tidak saling percaya.
3. Struktur Nilai-Nilai/Values
3.1 Sistem Nilai
Ny. S bersuku Betawi. Budaya yang dominan dalam keluarga adalah budaya betawi. Dalam
keluarga tidak ada nilai-nilai tertentu dan nilai agama yang bertentangan dengan kesehatan
karena menurut keluarga kesehatan merupakan hal yang penting. Ketaatan keluarga dalam
menjalankan kegiatan agama adalah kurang taat. Yang paling taat beribadah dan selalu
mengikuti pengajian adalah Ny. S.
4. Struktur Peran
4.1 Pembagian Peran Dalam Anggota Keluarga
Pembagian peran dalam anggota keluarga yaitu Ny. S sebagai kepala keluarga, sebagai ibu
untuk anak-anak,dan sebagai nenek dari cucu-cucunya. Sedangkan anak sebagai anggota
keluarga dan sebagaiistri/suami bagi pasangannya, serta menjadi orangtua dari anak-anaknya.
Ny. S berperan sebagai ibu dan nenek, Tn. I berperan sebagai pencari nafkah dan dibantu oleh
Ny. N dan Tn. R.
Tidak ada perubahan peran ataupun konflik ketidaksesuaian peran dalam keluarga.

C. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Semua anggota keluarga saling menyayangi dan keluarga merasa bangga apabila salah satu
anggota keluarga berhasil. Respon keluarga terhadap kehilangan yaitu berduka, namun
selama ini keluarga saling menguatkan dan menjaga satu sama lain.
2. Fungsi Sosial
Anggota keluarga tidak ada yang ikut dalam keanggotaan organisasi masyarakat dan tidak
ada yang cukup berpengaruh di masyarakat di keluarga Ny. S. Terdapat konflik di masyarakat
yaitu An. T nakal sehingga dijauhi oleh tetangga. Keluarga mengggunakan faktor-faktor
penunjang untuk memecahkan masalah kesehatannya yaitu dengan cara berobat ke
Puskesmas Cipinang Besar Utara atau ke Puskesmas Jatinegara. Anggota keluarga yang
mempunyai keterampilan khusus adalah Ny. S yaitu terampil membuat kue. Anggota keluarga
yang tidak bisa membaca dan menulis adalah Ny. S karena tidak pernah sekolah.
3. Fungsi Reproduksi

Keluarga Ny. S, khususnya Ny. M dahulu tidakmengikuti keluarga berencana (KB). Jumlah
anak dalam keluarga Ny. S berjumlah 13 orang. Anggota keluarga ada yang mengikuti
program KB yaitu Ny. N yaitu menggunakan suntik KB dalam 3 bulan sekali. Efek
sampingnya berat badan menjadi lebih gemuk.
4. Fungsi Ekonomi
Penghasilan keluarga didapat dari hasil Ny.S menerima pesanan kue dan anaknya dengan
pendapatan kurang lebih Rp1.000.000,- / bulan. Uang ini digunakan setiap bulannya untuk
kebutuhan harian, kebutuhan bulanan, kebutuhan makan, bayar pajak, bayar rekening listrik,
dan biaya transportasi. Penghasilan keluarga sudah cukup memenuhi kebutuhan karena
dibantu oleh anak perempuan yang ke-10 sebesar Rp200.000,- dan anak laki-laki ke-11
sebesar Rp200.000,-, dan anak perempuan ke-12 sebesar Rp200.000,-. Dalam keluarga Ny. S
tidak terdapat anggota keluarga yang mempunyai tabungan.
5. Fungsi Pemeliharaan Kesehatan
1.1 Pemenuhan Kebutuhan Makan
Menurut Ny. S pengadaan makanan sehari-hari dalam keluarga dengan membeli. Komposisi
jenis makanannya adalah nasi, lauk pauk, protein hewani, dan protein nabati, sayuran, dan
susu. Cara penyajian makanan yaitu tertutup. Dalam keluarga Ny. S tidak terdapat pantangan
terhadap makanan. Pengelolaan air minum dalam keluarga dengan cara membeli air aqua,
kebiasaan keluarga dalam mengelola makanan yaitu dipotong dahulu kemudian dicuci.
Kebiasaan makan dalam keluarga yaitu sendiri-sendiri.
1.2 Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Dalam keluarga Ny. S, anggota keluarga mempunyai kebiasaan tidur pada siang hari.
Keluarga Ny. S tidak memiliki kamar tidur masing-masing namun hanya memiliki dua kamar
tidur. Kamar yang ada di depan ditempati olehkeluarga Tn. I sedangkan kamar yang ada
ditengah ditempati oleh Ny.N, Ny. S, dan An. T. Selama ini tidak ada anggota keluarga yang
mengalami kesulitan tidur.
1.3 Pemenuhan Kebutuhan Rekreasi dan Eksercise
Keluarga tidak mempunyai kebiasaan rekreasi yang teratur karena tidak memiliki dana.
Dalam keluarga Ny. S memanfaatkan waktu luangnya denganmengikuti pengajian didaerah
rumahnya. Keluarga Ny. S tidak memiliki waktu khusu untuk berolahraga, biasanya olahraga
yang dilakukan dengan jalan-jalan kecil ke pasar setiap pagi.
1.4 Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan Diri
Pemeliharaan kebersihan diri dalam anggota keluarga yaitu mandi 2x/hari, sikat gigi 3x/hari,
cucui rambut1x/hari. Keluarga mandi dengan menggunakan sabun, sikat gigi menggunakan
pasta gigi, dan cuci rambut menggunakan shampo.
Jika terdapat anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga membawa ke fasilitas kesehatan
seperti puskesmas, dokter praktek, bidan/mantri praktek. Jika hanya sakit biasa, keluarga
membeli obat warung seperti bodrex, komix, dan paramex karena sudah mengetahui obatnya.
D. STRESSOR DAN KOPING
Stress yang dihadapi keluarga Tn. K adalah apabila keluarga tidak memiliki dana pemenuhan
kebutuhan sehari-hari dan terdapat anggota keluarga yang sakit.

Penanggulangan masalah kesehatan dalam keluarga diatasi secara bersama-sama. Jika


terdapat anggota keluarga yang mengalami masalah, keluarga berusaha mencari jalan keluar
dengan membicarakannya dengan anggota keluarga yang lain.
E. DERAJAT KESEHATAN
1. Kejadian Kesakitan Saat Ini
Tn. I menderita penyakit TB Paru 2 tahun yang lalu, kemudian sudah minum obat OAT
selama 6 bulan, namun Tn. I tidak pernah cek kesehatan lagi apakah kuman TB sudah benarbenar hilang atau tidak. Sedangkan An. O termasuk dalam gizi kurang karena sulit makan.
2. Kejadian Kecacatan
Tidak ada anggota keluarga yang menderita cacat fisik.
3. Kejadian Kematian Satu Tahun Terakhir
Terdapat anggota keluarga yang meninggal dunia pada satu tahun terakhir yaitu adik dari
bapak mertua Tn. I yang berusia 60 tahun meninggal dunia karena sakit stroek.
4. Kejadian Penyakit Kronis
Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit kronis.
5. Kejadian Sakit Satu Tahun Terakhir
Tn.I menderita penyakit TB Paru sejak 2 tahun yang lalu.

F. KESEHATAN LINGKUNGAN
1. Perumahan
Jenis rumah permanen denga luas bangunan 40 m2. Status rumah milik pribadi dengan atap
rumah menggunakan asbes. Ventilasi rumah dengan luas < 10% luas lantai dengan
pencahayaan kurang, yaitu cahaya tidak dapat masuk ke rumah pada siang hari. Penerangan
di rumah menggunakan listrik. Lantai di rumah menggunakan ubin. Kondisi kebersihan
rumah secara keseluruhan kotor. Bagian-bagian rumah terdapat ruang tamu, ruang tidur,
dapur, dan kamar mandi yang bergabung dengan WC tampak gelap, tidak ada ahaya yang
dapat masuk, lembab.
2. Denah Rumah

1. Pengelolaan Sampah
Keluarga mempunyai pembuangan sampah terbuka. Biasanya sampah-sampah rumah tangga
tersebut di ikat dengan kantong plastik hitam dan setiap pagi di buang ditempat pembuangan
sampah yang ada di daerah rumahnya.
2. Sumber Air
Keluarga mempunyai sumber air pompa tangan. Untuk keperluan air minum keluarga Ny. S
membeli air minum yang sudah matang diwarung. Keadaan air tidak berwarna, tidak berasa,
tidak ada endapan, dan tidak berbau.

3. Jamban Keluarga
Keluarga mempunyai WC sendiri dengan jenis leher angsa dan pembuangan tinja dengan
sumber air yaitu 10 meter.
4. Pembuangan Air Limbah
Keluarga mempunyai saluran pembuangan air limbah dengan kondisi mengalir melalui
selokan dan berakhir ke sungai/kali.
5. Fasilitas Sosial dan Fasilitas Kesehatan
Terdapat perkumpulan kegiatan masyarakat di lingkungan Ny. S seperti arisan RT, pengajian
RT, dan ibu-ibu PKK. Sedangkan fasilitas kesehatan di lingkungan rumah terdapat
puskesmas, posyandu, balai pengobatan mandiri, dokter praktek, dan bidan/mantri praktek.
Fasilitas kesehatan tersebut dapat terjangkau keluarga dengan berjalan kaki atau naik
kendaraan bermotor.
MASALAH KESEHATAN KHUSUS
1. Ibu Hamil
Dalam keluarga Ny. S terdapat anggota keluarga yang sedang hamil yaitu Ny. A usia 29
tahun. Status kehamilan G2P1AO, usia kehamilan 5 bulan. Kehamilan diinginkan, ibu selalu
memeriksakan kehamilan di bidan praktek sudah lebih dari 4x pemeriksaan, sudah
mendapatkan imunisasi TT, berat badan 45 kg, tekanan darah 110/80 mmHg. Pada
pemeriksaan inspeksi, didapat data konjungtiva an-anemis, sklera an-ikterik, muka tidak ada
edema, abdomen tampak striae dan membuncit, payudara puting menonjol, tungkai tidak
bengkak. Pada pemeriksaan auskultasi bunyi jantung normal, tidak terdengar bunyi gallop
dan murmur. Bunyi paru normal, vesikuler. Pada palpasi abdomen teraba janin.
A.

2. Balita
Balita bernama An. T berusia 2 tahun, jenis kelamin laki-laki, sudah diberi imunisasi dasar
lengkap kecuali imunisasi campak kerena keluarga takut akan efek sampingnya panas dan
akibatnya anak bisa meninggal dunia. Anggota keluarga mendapatkan imunisasi di
Puskesmas CBU. Berat badan 13 kg, tinggi badan 88 cm, balita mempunyai KMS (Kartu
Menuju Sehat) dan Ny. N tidak mengerti cara membacanya. Kesimpulan grafik BB dalam
KMS meningkat setiap bulannya dan berada dalam garis hijau. An. T tampak makan 2x
sehari. Pengadaan bahan makanan dengan cara membeli di warung. Makanan yang
dikonsumsi semua lengkap dan disertai susu. An. T mendapatkan vitamin A setiap bulannya.
3. Usila (Usia Lanjut usia diatas 60 tahun)
Ny. S berusia 68 tahun, keluahan yang dialami sekarang adalah penglihatan sudah kurang
tajam/menurun pada mata sebelah kiri. Ny. S tidak pernah mengikuti program pembinaan
usila di Puskesmas karena malas dan tidak mempunyai waktu.

PENJAJAKAN II

1. Pengkajian Terhadap Masalah: Resiko Terjadinya Penularan TB Paru Pada Anggota Keluarga
Lain
Dari hasil wawancara dengan Tn.I tentang TB Paru, Tn. I telah mengetahui penyakit
TBC setelah diberitahu oleh dokter Puskesmas sejak 2 tahun yang lalu. Kemudian Tn. I
minum obat OAT selama 6 bulan dengan teratur, namun Tn. I menganggap penyakitnya
sudah sembuh total berkat minum obat tanpa mengecek dahak lagi ke Puskesmas setelah obat
OAT habis. Pada saat ditanyakan apa itu TB, menurut Tn. I TB itu adalah penyakit paru-paru,
tanda gejalanya batuk-batuk, nyeri dada, dan sesak nafas. Penyebabnya karena mencium
aroma pentol korek api kayu. Akibat dari TB adalah dadanya terasa nyeri dan sesak nafas.
Untuk mengatasi masalahnya Tn. I selama ini berobat ke Puskesmas, namun dalam 2 minggu
ini Tn. I batuk-batuk dan tidak periksa ke Puskesmas, Tn. I hanya meminum obat yang di beli
di warung. Tn. I juga mengatakan selama ini tidak pernah membuka jendela dan jarang
merapikan kamar tidur. Sedangkan keluarga mensupport klien untuk segera berobat ke
Puskesmas. Hasil observasi penulis terhadap lingkungan keluarga kadang Tn. I batuk dan
tidak menutup mulutnya dan ruang tidur dikamar tampak tidak rapi, berdebu, lembab, kotor
dan gelap. Selama ini Tn. I tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan lagi yang ada di
Puskesmas karena tidak ada dana untuk berobat rontgen dada dan tidak ada waktu. Klien
mengatakan sudah sembuh dan mengatakan batuknya hanya masuk angin.
2. Pengkajian Terhadap Masalah Keluarga: Tidak Efektifnya Bersihan Jalan Nafas Pada
Keluarga Ny. S akibat TB Paru
Keluarga mengeluh Tn. I batuk-batuk sejak 2 minggu karena masuk angin. 2 tahun
yang lalu Tn. I terdiagnosa TB Paru dan sudah menjalani pengobatan OAT selama 6 bulan
namun tiak pernah cek kesehatan lagi setelah obat OAT 6 bulan itu habis. Pada saat
ditanyakan apa itu TB, menurut Tn. I TB itu adalah penyakit paru-paru, tanda gejalanya
batuk-batuk, nyeri dada, dan sesak nafas. Penyebabnya karena mencium aroma pentol korek
api kayu. Akibat dari TB adalah dadanya terasa nyeri dan sesak nafas. Untuk mengatasi
masalahnya Tn. I selama ini berobat ke Puskesmas, namun dalam 2 minggu ini Tn. I batukbatuk dan tidak periksa ke Puskesmas, Tn. I hanya meminum obat yang di beli di warung. Tn.
I juga mengatakan selama ini tidak pernah membuka jendela dan jarang merapikan kamar
tidur. Sedangkan keluarga mensupport klien untuk segera berobat ke Puskesmas. Hasil
observasi penulis terhadap lingkungan keluarga kadang Tn. I batuk dan tidak menutup
mulutnya dan ruang tidur dikamar tampak tidak rapi, berdebu, lembab, kotor dan gelap.
Selama ini Tn. I tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan lagi yang ada di Puskesmas karena
tidak ada dana untuk berobat rontgen dada dan tidak ada waktu. Klien mengatakan sudah
sembuh dan mengatakan batuknya hanya masuk angin.
3. Pengkajian Terhadap Masalah: Perubahan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Dari hasil wawancara dengan Ayah An. O (Tn. I) tentang masalah gizi kurang, Tn. I
belum mengetahui tentang penyakit gizi kurang dan belum pernah periksa ke pelayanan
kesehatan. Tn. I mengatakan tidak tahu mengenai kebutuhan nutrisi anaknya dan Tn. I juga
mengatakan tidak merasa perlu untuk memantau berat badan anaknya ke pelayanan
kesehatan. Pada saat ditanyakan penyebab gizi kurang pada Tn. I mengatakan penyebabnya
adalah tidak nafsu makan. Dan akibat dari gizi kurang Tn. I tidak mengetahuinya. Untuk
mengatasi masalah gizi kurang, Tn. I mengatakan harus banyak makan. Tn. I saat ditanyakan

masalah makanan, Tn. I mengatakan harus banyak makan. Tn. I saat ditanyakan masalah
makanan, Tn. I selalu membeli lauk yang sudah matang di warung. Hasil observasi penulis
terhadap penyediaan makanan dikeluarga bila sedang ada uang biasanya Tn. I membeli
makanan kesukaan An. O, tapi bila sedang tidak ada uang Tn. I hanya memberikan makanan
mie ataupun telur. Tn. I mengatakan An. O makan hanya 2x sehari, yaitu makan siang dan
sore, pada waktu pagi hari An. O jarang sarapan karena biasanya An. O bangun tidur sekitar
jam 09.00-10.00 pagi. Saat pemeriksaan fisik badan An. O tampak kurus, berat badan 20 kg,
tinggi badan 104 cm. Berdasarkan hasil penghitungan IMT (Indeks Masa Tubuh), An. O
berada dibawah standar gizi normal, yaitu 16,7. Yang artinya dalam batas standar gizi kurang
dan kulit terlihat kering. Tn. I mengatakan An. O terlalu banyak bermain hingga lari-larian
bersama temannya hingga lupa untuk makan. Selama ini Tn. I jarang memanfaatkan fasilitas
kesehatan/sarana kesehatan dengan alasan malasa antri dan merasa belum perlu berobat.

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan TB Paru pada Tn. I

NO

DATA FOKUS

Data Subjektif:
- Tn. I mengatakan sakit TB Paru sejak
2 tahu yang lalu
- Tn. I mengatakan obatnya diminum
secara teratur selama 6 bulan pada 2
tahun yang lalu, namun masih menjadi
perokok aktif
- Klien mengatakan dalam 1 hari
menghabiskan rokok 12 batang/hari
- Tn. I mengatakan tidak pernah periksa
ke Puskesmas lagi sejak obatnya habis

MASALAH

KEMUNGKINAN

KEPERAWATAN

ETIOLOGI

Resiko
terjadinya
penularan TB Paru
pada
anggota
keluarga yang lain

Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang sakit

6 bulan.
- Tn. I mengatakan saat ini sedang
masuk angin, flu, dan batuk-batuk
Data Objektif:
- Kesadaran compos mentis
- Tanda-tanda vital: TD 110/70 mmHg,
Nadi
8ox/menit,
Pernafasan
25x/menit, irreguler, bunyi nafas
sedikit ronki, Suhu 360C
- Berat Badan 45 kg, TB 175 cm
- Tn. I tampak kurus, kondisi rumah
sempit, pencahayaan redup, udara
lembab, gelap, dan kotor

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan TB Paru pada Tn. I

NO

DATA FOKUS

Data Subjektif:
- Tn. I mengatakan sudah lama batukbatuk sudah 2 minggu karena masuk
angin.
- Tn. I mengatakan batuknya sudah
sembuh dan kambuh lagi akibat masuk
angin.
- Tn. I mengatakan baru beli obat
warung kalau batuknya dirasa agak
parah.
- Tn. I mengatakan mengetahui tentang
penyakit TB Paru adalah penyakit
batuk-batuk yang disebabkan karena
mencium aroma pentol korek api
kayu.
- Tn. I mengatakan tidak pernah
membuka jendela karena sudah ada
kipas angin.
Data Objektif:
- Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi
86x/menit, Pernafasan 25x/menit,
bunyi paru terdengar sedikit bunyi
ronki, Suhu 360C

MASALAH

KEMUNGKINAN

KEPERAWATAN

ETIOLOGI

Tidak
efektifnya
bersihan jalan nafas
pada keluarga Ny. S
khususnya Tn. I

Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang sakit

- Berat Badan: 45 kg
- Tinggi Badan: 175 cm
- Kondisi rumah lembab, debu dan
kitor.
- Ventilasi rumah kurang dari10% luas
lantai sehingga sirkulasi udara tidak
bebas

ANALISA DATA & PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


Keluarga Ny. S Dengan Masalah Kesehatan Gizi Kurang pada An. O

NO
1

DATA FOKUS

Data Subjektif:
Tn. I mengatakan An. O makannya
2x/hari, sulit makan, dan mau makan
bila ada makanan kesukaannya dagig
ayam dan mie goreng.
- Tn.i mengatakan An. O kebanyakan
bermain sam temannya sebelum dan
sesudah pulang dari sekolah sampai
lupa makan.
- Tn. I mengatakan An. O terlalu
banyak main play station diluar dan
apabila tidak diberikan biasanya
nangis dan tidak mau makan.
- Tn. I mengatakan 2 tahun ini An. O
tidak nafsu makan dan berat badan
tidak bertambah.
-

Data Objektif:
- An. O tampak kurus
- Berat badan 20 kg
- Tinggi badan 104 cm
- Kulit terlihat kering, warna sawo
matang
- An. O tampak tidak bisa tenang di
rumah dan selalu bermain.
- Tanda-tanda vital:
Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi
86x/menit, Pernafasan 20x/menit,
Suhu 360C
- Berdasarkan perhitungan IMT, An. O

MASALAH
KEPERAWATAN

KEMUNGKINAN
ETIOLOGI

Perubahan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
tubuh
pada keluargaNy. S
khususnya An.O

Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
dengan
masalah
gizi kurang

termasuk dalam golongan anak dengan


gizi kurang.
IMT= BB (kg) : TB (m2)
= 20: 1,2
= 16,7
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA
1. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan Resiko terjadinya penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain
b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

Ditangani segera karena resiko


penularan TB Paru pada anggota
keluarga yang lain, Tn. I riwayat TB
Paru 2 tahun yang lalu minum obat
OAT selama 6 bulan, dan tidak pernah
berobat lagi.
Dapat dirubah dengan penyuluhan
penularan
TB
Paru
dengan
menganjurkan Tn. I tidak membuang
dahak
sembarangan
dan
rajin
membuka jendela pada pagi hari dan
siang hari.
Resiko penularan sulit dicegah karena
kondisi rumah yang sempit dan
interaksi antara anggota keluarga yang
lain kurang dari 1 meter dan Tn. I lupa
untuk menutup mulut jika batuk.
Masalah perlu ditangani segera karena
resiko penularan pada anggota
keluarga yang lain dengan melakukan
pemeriksaan pada anggota keluarga
yang lain (screening kesehatan) dan
anjurkan
keluarga
untuk
memanfaatkan fasilitas (puskesmas)
yang terdekat dan sesuai kemampuan.

Sifat masalah:
Resiko

2/3 x1

2/3

Kemungkinan
masalah
untuk
dirubah:
Mudah

2/2x 2

Potensi
pencegahan
masalah:
Sedang

2/3 x 1

2/3

Menonjolnya
masalah: Masalah
dirasakan dengan
ada upaya/segera
ditangani

2/2 x 1

TOTAL SKOR

3 1/3

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA

2. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada keluarga Ny. S khususnya Tn. Ib.d
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

Masalah ini bersifat aktual karena Tn.


I mengeluh batuk-batuk selama 2
minggu, sesak nafas dan mudah lelah.
Jika tidak ditangani segera dapat
mengakibatkan penyakit menjadi
semakin parah.
Pelayanan kesehatan dekat dari rumah
dan terjangkau, dana untuk berobat
tersedia karena murah. Dengan
informasi yang diberikan keluarga
dapat mngerti tentang TB Paru dan
mencegah penularan.
Tn. I adalah penderita TB Paru dengan
minum obat OAT selam 6 bulan pada
2 tahun yang lalu dan sudah minum
obat OAT selama 6 bulan. Saat ini Tn.I
belum pernah kontrol kesehatan lagi di
Puskesmas. Keluarga belum ada upaya
untuk mengatasi masalah/kondisi Tn. I
karena belum ada waktu sehingga
kemungkinan penularan cukup tinggi.
Keluarga merasa ada masalah dan
perlu segera ditangani karena sudah
merasakan gejala-gejala penyakit.

Sifat masalah:
Aktual

3/3 x1

Kemungkinan
masalah
untuk
dirubah:
Mudah

2/2x 2

Potensi
pencegahan
masalah:
Sedang

2/3 x 1

2/3

Menonjolnya
masalah: Masalah
dirasakan
berat,harus segera
ditangani

2/2 x 1

TOTAL SKOR

4 2/3

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA


3. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada keluargaNy. S khususnya
An.O b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah gizi kurang.

KRITERIA

PERHITUNGAN

SKOR

JUSTIFIKASI

Sifat masalah:
Aktual

3/3 x1

Hasil pemeriksaan fisik, An. O terlihat


badannya kurus, kulit kering, warna sawo
matang. Berat badan dibawah normal BB:
20 kg, TB: 104 cm. Perhitungan IMT: 16,7
(Artinya dalam batas kurang gizi). An. O
terlihat banyak bermain.
Disimpulkan: An. O mengalami gizi
kurang.

Kemungkinan
masalah
untuk
dirubah:
Sebagian

x2

Tn. I mengetahui anaknya mengalami gizi


kurang dan sudah mencoba memberikan
makanan yang banyak, namun An. O hanya
menghabiskan beberapa suap nasi saja, dan
lebih suka jajan diluar. Penghasilan
keluarga sebulan Rp1.000.000,- sangat
kurang bila dibandingkan untuk kehidupan
sehari-hari dan untuk biaya sekolahanakanaknya. Puskesmas ada dan jaraknya
cukup dekat dengan rumah keluarga Ny. S.
Keluarga selalu membawa An. O ke
puskesmas bila sakit.

Potensi
pencegahan
masalah:
Cukup

2/3 x 1

2/3

Menonjolnya
masalah:
Masalah
dirasakan berat,
harus
segera
ditangani

2/2 x 1

Tn. I mengetahui anaknya mengalami gizi


kurang An. O tidak nafsu makan. Tindakan
yang dilakukan Tn. I yaitu dengan
memberikan makanan kesukaan anaknya
bila ada uang. Tapi bila tidak ada uang
biasanya Tn. I memberikan makanan tempe
orek, telor, dan mie goreng. Saat ditanyakan
masalah mengolah makanan, Tn. I selalu
membeli lauk matang di warung.
Keluarga yaitu Tn. I mengatakan ada
masalah gizi kurang pada An. O, sudah
mencoba memberikan makanan yang
banyak namun An. O tidak selalu habis
makannya, dan An. O mau makan bila ada
makanan kesukaannya. Tn. I juga
mengatakan karena adanya faktor ekonomi
yang kurang. Menurut keluarga, masalah
harus ditangani dengan memberikan
makanan yang bergizi dan seimbang
kepada anaknya.

TOTAL SKOR

3 2/3

PERENCANAAN KEPERAWATAN
N
O
1

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

Resiko terjadinya
penularan TB
Paru pada
anggota keluarga
yang lain b.d
Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang sakit

UMUM

TUJUAN
KHUSUS

Setelah
a. Setelah kunjungan1.
dilakukan
selama 1x30 menit
tindakan
keluarga Ny.S dan
keperawatan Tn. I mampu
selama 2
mengenal masalah
minggu
dengan
2.
diharapkan
menyebutkan
pengetahuan pengertian, tanda
keluarga Ny. & gejala, serta
S
penyebab dari TB
bertambah/
Paru
teratasi
3.

INTERVENSI
KRITERIA

Menjelaskan
pengertian dan gejala
serta penyebab dari
penyakit TB Paru
Tanyakan kembali
tentang pengertian,
tanda dan gejala serta
penyebab dan akibat
dari penyakit TB Paru
Berikan pujian yang
positif/jawaban yang
tepat

1.Jelaskan pada
keluarga Ny. S akibat

EVALUASI
STANDART

Respon
1.
verbal dari
keluarga
dengan
menyebutkan
tentang
2.
pengertian,
penyakit TB
Paru, tanda
dan gejala
serta
penyebabnya

Keluarga mampu
menyebutkan TB
Paru adalah suatu
penyakit yang
menular.
Tanda dan gejalanya
adalah batuk terusmenerus dan
berdahak, sesak
nafas, keluar keringat
dingin pada malam
hari, berat badan
menurun.
3. Keluarga
menyebutkan
penyebab T B paru
adalah: kuman
mikrobakteri
tuberkulosa

1.Keluarga dapat

b. Setelah diberikan
penjelasan 1x30
keluarga:
mengambil
keputusan untuk
mengatasi
masalah TB Paru

dari penyakit TB Paru


2.Motivasi keluarga
untuk mengambil
keputusan
3.Tanyakan kembali
pada keluarga akibat
dari penyebab TB
Paru
4.Berikan kesempatan
keluarga untuk
bertanya

1.Menjelaskan cara
perawatan TB Paru
c. Setelah 1x30
diberikan
penjelasan,
keluarga mampu
melakukan
tindakan untuk
merawat anggota
keluarga yang
menderita
penyakit TB
Parudengan
menjelaskan cara
perawatan dan
melaksanakannya
pada penderita TB
Paru
d. Setelah 3x60
kunjungan
keluarga Ny. S
memodifikasi
lingkungan untuk
mencegah
terjadinya
penularan dengan
cara menyebutkan
lingkunganlingkungan yang
baik bagi
penderita TB Paru

2. Berikan contoh
menu makanan yang
bergizi
3.Tanyakan kembali
tentang cara merawat
TB Paru dan menu
yang bergizi

Respon
verbal
keluarga
mampu
menjelaskan
kembali
akibat TB
Paru dan
mengambil
keputusan
untuk
mengatasai
TB Paru

Respon
verbal
keluarga
mampu
menjelaskan
cara
perawatan
TB Paru

menyebutkan akibat
dari tidak minum
obat secara teratur
maka kuman-kuman
TB akan kebal
didalam tubuh, maka
penyakit akan sulit
disembuhkan

1.Keluarga mampu
menyebutkan cara
perawatan penyakit
TB Paru adalah:
Minum obat teratur,
makan-makanan
yang bergizi, istirahat
cukup, menjaga
kebersihan
lingkungan

4.Diskusikan tentang
pentingnya perawatan
di rumah

1.Mengidentifikasi
pengetahuan keluarga
tentang lingkungan
rumah yang baik
2. Memodifikasi
keluarga untuk
mengungkapkan
kembali lingkungan
3.Memotivasi
keluarga untuk
memanfaatkan
fasilitas sesuai
kemampuan

Respon
verbal
keluarga
dapat
menjelaskan
lingkungan
yang dapat
mendukung
penyembuha
n penyakit
TB Paru

1.Keluarga dapat
menyebutkan cara
memodifikasi
lingkungan yang
dapat mendukung
penyembuhan
penyakit TB Paru
adalah pencahayaan
ruangan yang cukup
2.Ventilasi rumah
yang cukup
3.Jendela rajin
dibuka agar sinar
matahari bisa masuk
kedalam rumah
4.Menjemur kasur,
bantal, minimal 1
minggu sekali

5.Tidak membuang
dahak sembarangan
tempat, tapi gunakan
kaleng yang
didalamnya di isi
cairan desinfektan
seperti tysol, air
sabun, bayclin, agar
kuman TB dapat mati

N
O

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

UMUM

TUJUAN
KHUSUS

INTERVENSI
KRITERIA

EVALUASI
STANDART

Tidak efektifnya
bersihan jalan
nafas pada
keluarga
Ny. Khususnya
Tn. I b.d
ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
dengan masalah
penyakit TB Paru

Setelah
a. Setelah dilakukan
dilakukan
pertemuan 1x45,
tindakan
keluarga mampu
keperawatan mengenal masalah
selama 2
TB Paru dengan
minggu
cara menyebutkan
diharapkan
pengertian,
jalan nafas
penyebab, tanda
Tn. I efektif dan gejala TB Paru

b. Setelah dilakukan
pertemuan 1x45
keluarga mampu
mengambil
keputusan yang
tepat untuk
mengatasi maslaah
TB Paru dengan
cara menyebutkan
akibat dari TB
Paru dan
memutuskan untuk
merawat Tn. I
dengan TB Paru

c. Setelah dilakukan
pertemuan 2x45
keluarga mampu
melakukan
perawatan pada
anggota keluarga
yang menderita
penyakit TB Paru
dengan cara
menjelaskan cara
perawatan dan
pencegahan
penularan TB Paru,
mendemonstrasika
n cara batuk efektif
dan pembuangan
dahak pada pasien
TB Paru

d. Setelah dilakukan
pertemuan 1x45
keluarga mampu
memodifikasi
lingkungan untuk
mencegah
terjadinya
penularan dengan

1.Jelaskan
pengertian, tanda dan
gejala, serta
penyebab dari
penyakit TB Paru
2.Tanyakan kembali
tentang pengertian,
tanda dan gejala,
serta penyebab dari
penyakit TB Paru
3.Berikan
reinforcement positif
atas kemampuan
keluarga
1.Jelaskan pada
keluarga Tn. I akibat
dari penyakit TB
Paru
2.Tanyakan kembali
pada keluarga akibat
TB Paru
3.Motivasi keliuarga
untuk mengambil
keputusan dalam
mengatasi TB Paru
Tn. I
4.Berikan
reinforcement positif
atas keputusan yang
diambil keluarga
dalam mengatasi TB
Paru
1.Jelaskan cara
perawatan,
pencegahan penyakit
TB Paru
2.Ajarkan klien cara
batuk efektif dan
membuang dahak
yang benar
3.Tanyakan kembali
cara perawatan,
pencegahan penyakit
TB Paru
4.Anjurkan keluarga
mempraktekkan
kembali cara batuk
efektif dan
membuang dahak ke
tempatnya
5.Berikan
reinforcement positif
atas hasil yang
dicapai

Respon
verbal dari
keluarga
terkait
pengertian,
penyebab,
tanda dan
gejala TB
Paru

Respon
verbal dan
sikap dari
keluarga
tentang
akibat TB
Paru dan
keputusan
keluarga
untuk
mengatasi TB
Paru

Respon
verbal, sikap,
dan
psikomotor
keluarga
tentang cara
perawatan
TB Paru dan
pencegahan
penularan TB
Paru

Respon
verbal, sikap
dan
psikomotor
keluarga
tentang
lingkungan
yang dapat

TB Paru adalah suatu


penyakit yang
menular yang dapat
menyerang siapa saja
yang disebabkan oleh
bakteri
mycobacterium
tuberculosae, tanda
dan gejalanya adalah
batuk-batuk terus
menerus selama
kurang lebih 3
minggu dan berdahak,
sesak nafas, keluar
keringat dingin pada
malam hari, dan berat
badan menurun.
Akibat dari TB Paru
adalah tuberkulosis
meningen, pnemonia
tuberkulosis, dan
kematian. Keluarga
memutuskan untuk
mengatasi dan
merawat TB Paru Tn.
I

Cara perawatan
penyakit TB Paru
adalah minum obat
secara teratur, makan
makanan yang
bergizi, istirahat
cukup, menjaga
kebersihan
lingkungan. Cara
pencegahan penularan
TB Paru dengan
memisahkan
perlengkapan makan
anggota keluarga
dengan pasien,
menutup mulut saat
bersin dan batuk,
serta membuang
dahak pada
tempatnya. Proses
batuk efektif: tarik
nafas dalam melalui
hidung dan
hembuskan seperti

cara menyebutkan
lingkunganlingkungan yang
baik bagi pasien
penyakit TB Paru

e. Setelah dilakukan
pertemuan 1x45
keluarga mampu
memanfaatkan
fasilitas kesehatan
yang tersedia
dengan cara
menyebutkan
manfaat kunjungan
ke pelayanan
kesehatan,
menyebutkan
jenis-jenis
pelayanan
kesehatan yang
tersedia dam
memanfaatkan
fasilitas kesehatan

1.Diskusikan hal-hal
yang dapat dilakukan
untuk memodifikasi
lingkungan
2.Motivasi keluarga
untuk
mengungkapkan
kembali cara
memodifikasi
lingkungan
3.Berikan
reinforcement positif
atas hasil yang telah
dicapai

1.Diskusikan dengan
keluarga tentang
manfaat kunjungan
ke pelayanan
kesehatan

mendukung
penyembuha
n penyakit
TB Paru

Respon
verbal, sikap,
dan
psikomotor
keluarga
tentang
manfaat
pelayanan
kesehatan
dan
penggunaan
pelayanan
kesehatan

meniup balon
sebanyak 3x dan
waktu yang ketiga
batukkan lalu buang
dahak ke tempat yang
berisi lysol lalu tutup.
Cara memodifikasi
lingkungan yang
dapat mendukung
penyembuhan
penyakit TB Paru
adalah pencahayaan
ruangan yang cukup,
ventilasi rumah yang
cukup, jendela dibuka
agar sinar matahari
bisa masuk kedalam
rumah, menjemur
kasur, bantal minimal
1minggu sekali
dijemur, tidak
membuang dahak
sembarangan tempat,
tapi gunakan kaleng
yang didalamnya
sudah diisi cairan
desinfektan seperti
lysol, air sabun,
bayclean, agar kuman
TB Paru dapat mati.
Manfaatkan
kunjungan ke
pelayanan kesehatan
adalah untuk
memperoleh
informasi dan
pengobatan, jenis
pelayanan kesehatan
adalah untuk
memperoleh
informasi dan
pengobatan, jenis
pelayanan kesehatan:
Puskesmas, bidan
praktek, klinik
swasta, posyandu,
keluarga berkunjung
ke pelayanan
kesehatan
(Puskesmas).

N
O
3

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

TUJUAN
UMUM
KHUSUS
Setelah
a. Setelah dilakukan
dilakukan
pertemuan 1x45,
tindakan
keluarga mampu

INTERVENSI
1.Menjelaskan
pengertian, tanda
dan gejala, serta

EVALUASI
KRITERIA
STANDART
Respon verbala. Gizi kurang adalah
dari keluarga
kurangnya energi/
Ny. S dengan
tenaga dan protein

pada keluargaNy. S
khususnya An.O
b.d
Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
dengan masalah
gizi kurang

keperawatan
keluarga
selama 2
minggu
kunjungan,
diharapkan
keluarga Ny.
S mampu
merawat
anggota
keluarga
dengan gizi
kurang

mengenal
masalah dan
mampu
mengambil
keputusan untuk
merawat An. O
denga gizi kurang
dengan
menyebutkan
pengertian,
penyebab, tanda
dan gejala, serta
akibat gizi kurang

penyebab dari gizi


kurang
2. Menanyakan
kembali tentang
pengertian, tanda
dan gejala, akibat
serta penyebab dari
gizi kurang
3.Motivasi keluarga
Ny. S agar
menyampaikan
apakah kondisi anak
dengan gizi kurang
berbahaya atau tidak
4.Berikan
reinforcement positif
atas usaha keluarga
dan berikan jawaban
yang tepat

menyebutkan
pengertian,
penyebab,
tanda dan
gejala, serta
akibat daro b.
gizi kurang
pada An. O

1.

2.

c.

b. Setelah diberikan
penjelasan 1x45
menit, keluarga
mampu merawat
An. O dengan
gizi kurang
dengan cara:
Menyebutkan
jenis sumber gizi,
menunjukkan
contoh sumber
gizi, menjelaskan
contoh menu, gizi
seimbang untuk
tumbuh kembang
anak, dan cara
mengolah

1.Menyebutkan jenis
sumber gizi
2.Menunjukkan
contoh sumber gizi
3.Menjelaskan
contoh menu gizi
seimbang untuk
tumbuh kembang
anak
4.Menjelaskan cara
mengolah makanan
dengan benar
5.Memberikan
kesempatan pada
keluarga untuk
bertanya

Respon verbal
dari keluarga
Ny. S tentang
d.
cara
perawatan
anak gizi
kurang

dikarenakan sehariharinya kurangnya


pemasukkan makan/
minum yang berisi
tenaga dan protein
Tanda dan gejalanya
adalah berat badan
kurang dari berat
badan yang
seharusnya normal.
Dan terdapat 2 jenis
gizi kurang yang
terdiri dari:
Marasmus
(Kurangnya energi,
protein cukup),
Cirinya: anaka
sangat kurus, wajah
sperti orang tua,
perut cekung, kulit
keriput, jaringan
lemak sangat sedikit,
cengeng, rewel.
Kwasiorkor
(Kurangnya protein
dan energi yang
cukup)
Cirinya: seluruh
tubuh bengkak
terutama di kaki,
wajah membuat
sembab, rambut
kusam, mudah
dicabut, dan mata
sayu.
Penyebab dari gizi
kurang adalah
makanan kurang
bergizi dalam waktu
lama, anak sering
sakit, kebiasaan
makan anak yang
salah
Akibat dari gizi
kurang adalah badan
kurus, tubuh kecil
dan pendek, anak
musah sakit,
perkembangan anak
lambat, kulit mudah
radang dan luka, hati
bengkak.
a) Sumber zat gizi
pada makanan yaitu:
- Sumber tenaga
untuk melakukan
kegiatan seperti
bermain, dll: Nasi,
kentang, ubi, roti,
tepung-tepungan.

makanan dengan
benar

c. Setelah 1x45
menit diberikan
penjelasan,
keluarga
mampu makan
memodifikasi
lingkungan yang
dapat
meningkatkan

6.Beri reinforcement
positif atas usaha
keluarga Ny. S

1.Diskusikan dengan
keluarga Ny.S cara
menciptakan
lingkungan yang
dapat meningkatkan
selera makan.
2.Motivasi keluarga
Ny.S untuk
mengulangi
penjelasan yang

- Sumber pembangun
tubuh untuk
membuat sel-sel
baru seperti kulit
baru, dll. Susu, ikan,
tahu, tempe, hati,dan
telur.
- Sumber pengatur
tubuh untuk
keseimbangan
vitamin dan mineral:
Sayuran berwarna
hijau (bayam),
sayuran berwarna
orange (wortel).
b) Contoh makanan
sumber zat gizi
terdiri dari:
1.Protein
- Protein lemak:
daging, ikan, telur
- Protein Nabati:
kedelai, kacang
hijau.
2.Lemak
Dapat diperoleh dari:
Nasi, mie, sereal,
singkong.
3.Karbohidrat
Susu, mentega,
minyak, keju.
4.Vitamin
Buah-buahan dan
sayur-sayuran
c) Menjelaskan contoh
menu gizi seimbang
untuk tumbuh
kembang
Makan Pagi:
Roti 1 lembar
dengan selai buah,
susu full cream,
selingan pagi biskuit
2 keping.
Makan
Siang:
Respon verbal
Nasi
100 gram (6
keluarga Ny.S
sendok
makan), sup
tentang cara
ayam,
perkedel
menyebutkan
kentang, air jeruk
apa yang
100 ml gelas.
harus
Selingan sore sari
diperhatikan
kacang hijau 1 gelas
dalam
atau puding, buskuit.
memberi
Makan
Malam:
makanan pada
Nasi
100 gram (6
anak dengan
sendok
makan), sup
gizi kurang
jagung
1
mangkuk
dan respon
sedang,
rolade
ayam,
psikomotor
kacang
polong
3
keluarga Ny.S
buah,
buah
pepaya
dalam

selera makan
An.O dengan cara
menyebutkan apa
yang harus
diperhatikan
dalam memberi
makanan pada
anak dengan gizi
kurang

d. Setelah 1x 45
kunjungan,
keluarga Ny.S
mampu
mengungkapkan
fasilitas
kesehatan dengan
cara
menyebutkan
kembali manfaat
kunjungan ke
fasilitas
kesehatan dan
dapat
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan dalam
merawat An.O
yang mengalami
gizi kurang

diberikan.
3.Observasi
lingkungan rumah
dan lingkungan yang
dapat meningkatkan
selera makan pada
kunjungan tidak
terencana.
4.Diskusikan dengan
keluarga Ny.S hal
yang positif yang
sudah dilakukan.
5.Beri reinforcement
positif atas usaha
keluarga Ny.S.
1.Diskusikan dengan
keluarga Ny.S
tentang jenis
pelayanan kesehatan
yang dapat
dipergunakan.
2.Diskusikan
bersama keluarga
Ny.S tentang
manfaat kunjungan
ke fasilitas
pelayanan
kesehatan.
3.Memotivasi
keluarga Ny.S untuk
membawa An.O ke
pelayanan
kesehatan.
4.Beri reinforcement
positif atas usaha
keluarga Ny.S.

memodifikasi
lingkungan
untuk
meningkatkand)
selera makan.

Respon verbal
keluarga Ny.S
tentang
manfaat dan
kunjungan ke
fasilitas
kesehatan dan
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan.

100 gram, sebelum


tidur susu full cream
200 ml.
Cara mengolah
makanan dengan
benar:
Sayuran: dicuci
dahulu baru
dipotong
Buah: Dicuci dahulu
baru dimakan.
1.Beri kesempatan
An.O untuk belajar
makan sendiri.
2.Berikan jenis
makanan yang
disukai oleh anak.
3.Berikan makanan
pada saat masih
hangat dengan porsi
kecil tapi sering.
4.Diskusikan tentang
pentingnya
perawatan di rumah.

a.Fasilitas kesehatan
yang dapat
digunakan keluarga
Ny.S yaitu
posyandu,
puskesmas, bidan,
atau dokter praktek.
b.Manfaat
kunjungan ke
fasilitas kesehatan
yaitu mendapatkan
pelayanan kesehatan
yang berhubungan
dengan gizi kurang.

IMPLEMENTASI
Sesuai dari hasil pengkajian tanggal 2 Mei 2011 dan di identifikasi adanya masalah
kesehatan yaitu TB Paru pada Tn.I dan penulis merumuskan masalah keperawatan serta
menyusun perencanaan bersama keluarga dengan menyepakati waktu untuk melakukan
tindakan keperawatan.
Implementasi yang penulis lakukan untuk mengatasi masalah kesehatan TB paru pada Tn.I
pada tanggal 10 Mei 2011 jam 09.15 WIB:
1. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang TB paru
Respon: Tn.I mengatakan TB paru adalah penyakit plek.
2. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang TB paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
3. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang penyebab TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan penyebabnya karena menghisap aroma pentol korek api kayu.
4. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang penyebab TB paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
5. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan tanda dan gejala TB paru adalah sesak nafas dan batuk-batuk.
6. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang tanda dan gejala TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
7. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara penularan TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara penularan TB paru yaitu jika kita minum pada gelas yang
sama.
8. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara penularan TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
9. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara mengetahui seseorang terkena TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara mengetahui seseorang terkena TB paru yaitu dengan cara
berobat ke Puskesmas.
10. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara mengetahui seseorang
terkena TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
11. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan agar tidak menular kepada
orang lain

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

Respon: Tn.I mengatakan cara mencegah agar tidak menular kepada orang lain yaitu jangan
minum pada gelas yang sama, nanti bisa menular penyakit TB paru.
Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara pencegahan agar tidak
menular kepada orang lain
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara mencegah dan mengobati TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara mencegahnya dengan cara minum jangan pada gelas yang
sama dan cara mengobatinya dengan berobat ke Puskesmas.
Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara mencegah dan mengobatiTB
Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang obat-obatan TB Paru dan efek sampingnya
Respon:Tn.I mengatakan tidak nafsu makan dan air kencingnya berwarna kuning saat minum
obat OAT.
Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang obat-obatan TB Paru dan efek
sampingnya
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang akibat bila minum obat tidak teratur atau
terputus
Respon: Tn.I mengatakan akibat bila tidak minum obat tidak teratur atau terputus yaitu nanti
bisa kambuh lagi dan makin parah penyakitnya.
Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang akibat bila minum obat tidak
teratur atau terputus
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.

EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, penulis melakukan evaluasi sesuai dengan
tujuan, kriteris waktu, dan standar yang ditetapkan pada perencanaan.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 10 Mei 2011, secara subjektif Tn. I mengatakan sudah
mengetahui masalah TB paru, dan akan periksa dahak ke Puskesmas. Secara objektif Tn. I
dapat menyimak penjelasan yang diberikan dengan penuh perhatian. Tn. I dapat menjelaskan
kembali tentang TB paru baik mengenai tanda dan gejala, penyebab, maupun akibat penyakit
TB paru, serta Tn. I akan memeriksakan dahak kembali untuk mengetahi apakah Tn. I terkena
TB paru lagi atau tidak. Tn. I mengatakan akan membuka jendela kamar setiap pagi dan akan
meningkatan penerangan di kamarnya agar matahari dapat masuk kedalam kamar.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.I


PADA Tn.I DENGAN TBC
Diposkan oleh Berti Pradana di 02.53

I. PENGKAJIAN
A. DATA UMUM
1. BIODATA
Nama Kepala Keluarga
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan
Alamat

: Tn.I
: Laki-laki
: 68 Tahun
: Islam
: SMA
: Wiraswasta
: Sumberporong, Lawang

2. KOMPOSISI KELUARGA
No

Nama

Umur

Sex

1
2
3
4
5
6
7
8

Tn. I
Ny. S
Tn. Awan
Ny. Budi
An.Tn. A
Ny.Norma
Tn.Rosidin
An. Taflan

68 Th
60 Th
35 Th
29 Th
7,5 Th
28 Th
41 Th
2,5 Th

L
P
L
P
L
P
L
L

GENOGRAM

Hubungan dengan
KK
KK
Istri Tn.I
Anak Tn.I
Menantu Tn. I
Cucu
Anak Tn. I
Menantu Tn. I
Cucu

Pendidikan

Pekerjaan

SMP
SMP
SMP
SD
SD
SMP
SMP
-

Wiraswasta
IRT
Buruh
IRT
Pelajar
IRT
Wiraswasta
-

3. TIPE KELUARGA
Tipe keluarga yaitu commune family (beberapa keluarga hidup bersama dalam satu rumah,
sumber sama pengalaman sama ) yang terdiri dari Tn.I yang berperan sebagai kepala keluarga
yang berusia 68 tahun dan 2 orang anak kandung yang terdiri dari 1 anak laki-laki dan 1 anak
perempuan, 2 cucu laki-laki, dan 2 menantu yaitu 1 laki-laki dan 1 perempuan.
4. SUKU BANGSA
Keluarga klien berasal dari Suku Jawa atau Indonesia, kebudayaan yang dianut tidak
bertentangan dengan masalah kesehatan sedangkan bahasa sehari-hari yang digunakan
adalah Bahasa Jawa.
5. AGAMA
Seluruh anggota keluarga Tn. I menganut agama Islam.
6. STATUS EKONOMI KELUARGA
Penghasilan keluarga didapat dari hasil Tn.I dengan pendapatan kurang lebih
Rp 1.000.000,- / bulan. Uang ini digunakan setiap bulannya untuk kebutuhan harian,
kebutuhan bulanan, kebutuhan makan, bayar pajak, bayar rekening listrik, dan biaya
transportasi. Penghasilan keluarga sudah cukup memenuhi kebutuhan.
B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
1. TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA SAAT INI
Tahap perkembangan keluarga saat ini pada tahap VI yaitu keluarga mulai melepas anak usia
dewasa. Tugas perkembangan keluarga yaitu :
Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar
Mempertahankan keintiman pasangan
Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat
Penataan kembali peran ortu dan kegiatan rumah
2. TAHAP PERKEMBANGAN SAAT INI
Tidak ada tugas keluarga yang belum terpenuhi/terlaksana pada tahap perkembangan.
3. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA

Kejadian Kesakitan Saat Ini


Tn. I menderita penyakit TB Paru 2 tahun yang lalu, kemudian sudah minum obat OAT
selama 6 bulan, namun Tn. I tidak pernah cek kesehatan lagi apakah kuman TB sudah benarbenar hilang atau tidak.

Kejadian Kecacatan
Tidak ada anggota keluarga yang menderita cacat fisik.

Kejadian Kematian Satu Tahun Terakhir


Terdapat anggota keluarga yang meninggal dunia pada satu tahun terakhir yaitu adik dari
bapak mertua Tn. I yang berusia 60 tahun meninggal dunia karena sakit stroke.

Kejadian Penyakit Kronis


Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit kronis.


Kejadian Sakit Satu Tahun Terakhir
Tn.I menderita penyakit TB Paru sejak 2 tahun yang lalu.
C. PENGKAJIAN LINGKUNGAN
1. KARAKTERISTIK RUMAH
Perumahan
Jenis rumah permanen dengan luas bangunan 40 m2. Status rumah milik pribadi
dengan atap rumah menggunakan asbes. Ventilasi rumah dengan luas < 10% luas lantai
dengan pencahayaan kurang, yaitu cahaya tidak dapat masuk ke rumah pada
siang hari sehingga tampak gelap dan lembab. Penerangan di rumah menggunakan listrik.
Lantai di rumah menggunakan ubin. Kondisi kebersihan rumah secara keseluruhan kotor.
Bagian-bagian rumahterdapat ruang tamu, ruang tidur, dapur, dan kamar mandi yang
bergabung dengan WC.
Pengelolaan Sampah
Keluarga mempunyai pembuangan sampah terbuka. Biasanya sampah-sampah
rumah tangga tersebut diikat dengan kantong plastik hitam dan setiap pagi dibuang
di tempat pembuangan sampah yang ada di dekat rumahnya.
Sumber Air
Keluarga mempunyai sumber air pompa tangan untuk keperluan MCK. Untuk keperluan
air minum keluarga Tn.I membeli air minum yang sudah matang di warung (air mineral).
Keadaan air tidak berwarna, tidak berasa, tidak ada endapan, dan tidak berbau.
Jamban Keluarga
Keluarga mempunyai WC sendiri dengan jenis leher angsa dan pembuangan tinja
dengan sumber air yaitu 10 meter.
Pembuangan Air Limbah
Keluarga mempunyai saluran pembuangan air limbah dengan kondisi mengalir
melalui selokan dan berakhir ke sungai/kali.
Fasilitas Sosial dan Fasilitas Kesehatan
Terdapat fasilitas kesehatan di lingkungan rumah yaitu puskesmas,posyandu, balai
pengobatan mandiri, dokter praktek, dan bidan/mantri praktek. Fasilitas kesehatan tersebut
dapat terjangkau keluarga dengan berjalan kaki atau naik kendaraan bermotor.
2. KARAKTERISTIK TETANGGA DAN KOMUNITAS
Hubungan antar tetangga Tn. I baik, saling menghomati, kerukunan terjaga, bila ada yang
memiliki kesulitan maka saling membantu dengan gotong royong.
3. MOBILITAS GEOGRAFIS KELUARGA
Keluarga Tn. I selama ini sebagai penduduk asli Ds. Sumberporong dan tidak pernah pindah
rumah.
4. PERKUMPULAN KELUARGA DAN INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT
Interaksi dengan keluarga paling sering terjadi yaitu saat pagi hari dan malam hari, biasanya
interaksi terjadi saat menonton TV.
Tn.I mengikuti kegiatan sosial di kampung serperti: pengajian setiap malam Jumat.
5. SISTEM PENDUKUNG KELUARGA

Jumlah anggota keluarga yaitu 8 orang yang terdiri dari KK, istri, 2 orang anak kandung yang
terdiri dari 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, 2 cucu laki-laki, dan 2 menantu yaitu 1
laki-laki dan 1 perempuan.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. POLA KOMUNIKASI
Pola komunikasi kurang efektif. Cara berkomunikasi yang sering diterapkan dalam
keluarga yaitu secara langsung Dalam komunikasi, yang paling dominan adalah Tn. I dengan
menggunakan bahasa Indonesia.Interaksi yang berlangsung biasanya hanya sekedar. Tidak
ada konflik dalam keluarga tentang pola interaksi.
2. STRUKTUR KESEHATAN KELUARGA
Menurut Tn I, hanya Tn. I yang sakit dan anggota keluarga lainnya dalam keadaan sehat.
3. STRUKTUR PERAN
Pembagian peran dalam anggota keluarga yaitu Tn. I sebagai kepala keluarga, sebagai
bapak untuk anak-anaknya, sebagai kakek dari cucu-cucunya, dan sebagai pencari nafkah.
Sedangkan anak sebagai anggota keluarga dan sebagai istri/suami bagi pasangannya, serta
menjadi orangtua dari anak-anaknya. Ny.S berperan sebagai ibu dan nenek. Tidak ada
perubahan peran ataupun konflik ketidaksesuaian peran dalam keluarga.
4. NILAI DAN NORMA DALAM KELUARGA
Tn.I bersuku Jawa. Dalam keluarga tidak ada nilai-nilai tertentu dan nilai agama
yang bertentangan dengan kesehatan karena menurut keluarga kesehatan merupakan hal yang
penting.

E. FUNGSI KELUARGA
1. FUNGSI AFEKTIF
Semua anggota keluarga saling menyayangi dan keluarga merasa bangga apabila
salah satu anggota keluarga berhasil. Respon keluarga terhadap kehilangan yaitu berduka,
namun selama ini keluarga saling menguatkan dan menjaga satu sama lain.
2. FUNGSI SOSIALISASI

Anggota keluarga tidak ada yang ikut dalam keanggotaan organisasi masyarakat dan tidak
ada yang mempunyai kedudukanberpengaruh di masyarakat dalam keluarga Tn.I.
3. FUNGSI EKONOMI
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan makan 3 kali sehari, pakaian untuk anak dan biaya
untuk berobat.
4. FUNGSI PERAWATAN KESEHATAN
Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Cara atau metode pengambilan keputusan di keluarga yaitu secara musyawarah. Di dalam
keluarga ini yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah Tn. I. Di dalam masalah
kesehatan dalam keluarga, diperlukan tenaga kesehatan seperti dokter/perawat untuk
memecahkan masalah kesehatan keluarga. Anggota keluarga yang paling dipercaya kepada
keluarga adalah ibu.

Kemampuan mengenal masalah kesehatan


Tn. I sudah mengerti tentang tanda dan gejala penyakit TB yang pernah dideritanya.
Merawat anggota keluarga yang sakit
Anggota keluarga kurang mengerti tentang perawatan pada Tn. I yang sedang sakit,
dimana Tn. I masih mempunyai kebiasaan merokok dan tidak ada yang melarangnya
walaupun sudah mengerti Tn I memiliki penyakit TB.

Kemampuan keluarga memelihara lingkungan yang sehat


Keluarga kurang mengerti tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dimana rumah
terlihat kotor dan kurang terawat kebersihannya.

Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di


masyarakat
Jika terdapat anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga membawa ke
fasilitas kesehatan seperti puskesmas, dokter praktek, bidan/mantri praktek.
Pola Pemenuhan Aktivitas Sehari - Hari
a. Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
Menurut Tn.I pengadaan makanan sehari-hari dalam keluarga dengan memasak.
Komposisi jenis makanannya adalah nasi, lauk pauk, protein hewani, dan protein nabati,
sayuran, dan air minum. Cara penyajian makanan yaitu tertutup. Dalam keluarga Tn.I tidak
terdapat pantangan terhadap makanan. Pengelolaan air minum dalam keluarga dengan cara
membeli air aqua, kebiasaan keluarga dalam mengelola makanan yaitu dipotong dahulu
kemudian dicuci. Kebiasaan makan dalam keluarga yaitu sendiri-sendiri.
b. Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Dalam keluarga Tn.I, anggota keluarga mempunyai kebiasaan tidur pada siang hari.
Selama ini tidak ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan tidur.
c. Pemenuhan Kebutuhan Rekreasi dan Exercise
Keluarga tidak mempunyai kebiasaan rekreasi yang teratur karena tidak memiliki dana.
Dalam keluarga Tn.I memanfaatkan waktu luangnya dengan menonton tv saja
di rumah. Keluarga Tn.I tidak memiliki waktu khusus untuk berolahraga biasanya olahraga
yang dilakukan dengan jalan-jalan kecil dekat rumah.
d. Pemenuhan Kebutuhan Kebersihan Diri
Pemeliharaan kebersihan diri dalam anggota keluarga yaitu mandi 2x/hari, sikat
gigi 3x/hari, cuci rambut1x/hari. Keluarga mandi dengan menggunakan sabun,
sikat gigi menggunakan pasta gigi, dan cuci rambut menggunakan shampo.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA


STRESS JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG
(1) Stressor jangka pendek
Klien mengeluh batuknya kambuh lagi.
(2) Stressor jangka panjang
Klien menderita pernyakit TB yang sudah lama dan berpotensi kambuh lagi jika
pengobatannya kurang teratur.

KEMAMPUAN KELUARGA BERRESPON TERHADAP STRESSOR


Keluarga selalu memeriksakan anggota keluarga yang sakit ke Puskesmas atau petugas
kesehatan

STRATEGI KOPING YANG DIGUNAKAN


Anggota keluarga selalu bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah yang ada.

STRATEGI ADAPTASI DISFUNGSIONAL


Jika sakit, Tn. I beristirarhat dan tidur.

G. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: cukup
Kesadaran
: composmentis
BB/TB
`
: 45 kg/ 175cm
: TD : 110/70 mmHg, N : 80 x/mnt, RR: 25 X/mnt, suhu:36C
Kepala : Rambut bersih, warna hitam beruban, rontok, wajah pucat.
Mata : Conjungtiva merah muda, sklera putih
Hidung : Pernafasan cuping hidung
Mulut : mukosa bibir kering, gigi norrmal
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan bendungan vena jugularis
Dada : ada tarikan intercostae, suara paru ronchi, tedrapat retraksi dinding dada, suara nafas irregular
Perut : bulat datar, bising usus 12 x/ menit, hepar dan lien tak teraba., suara perut timpani.
Ekstrimitas : tidak ada odema pada ekstrimitas baik ekstrimitas bagian atas maupun
ekstrimitas bagian bawah.
H. HARAPAN KELUARGA

Keluarga berharap mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dari petugas kesehatan
dan pengobatan secara maksimal untuk mengobati penyakitnya.

ANALISA DATA
No
1

2.

Data Fokus

Masalah
Keperawatan
Data Subjektif :
Resiko
terjadinya
- Tn. I mengatakan sakit TB Paru penularan TB Paru
sejak 2 tahun yang lalu.
pada
anggota
Tn. I mengatakan obatnya keluarga yang lain
diminum secara teratur selama 6
bulan pada 2 tahun yang lalu,
namun masih menjadi perokok aktif.
- Klien mengatakan dalam 1 hari
menghabiskan rokok 12 batang/hari.
- Tn. I mengatakan tidak
pernah periksa ke Puskesmas lagi
sejak obatnya habis 6 bulan.
- Tn. I mengatakan saat ini sedang
masuk angin, flu, dan batuk-batuk.
Data Objektif :
- Kesadaran compos mentis
- Tanda-tanda vital: TD 110/70
mmHg, Nadi 80 x/menit, Pernafasan
25x/menit, irreguler, bunyi nafas
sedikit ronchi, Suhu 360C
- Berat Badan 45 kg, TB 175 cm
- Tn. I tampak kurus, kondisi
rumah sempit, pencahayaan
redup, udara lembab, gelap,
dan kotor.
Data Subjektif:
- Tn. I mengatakan sudah lama Tidak efektifnya
batuk-batuk
sekitar
2 minggu bersihan jalan nafas
karena masuk angin.
pada Tn.I
- Tn. I mengatakan batuknya sudah
sembuh dan sekarang kambuh lagi
akibat masuk angin.
- Tn. I mengatakan barumembeli

Kemungkinan
Etiologi
Ketidakmampuan
keluarga
merawat
anggota
keluarga
yang sakit

Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang sakit

obat di warung kalau batuknya dirasa


agak parah.
- Tn. I mengatakan mengetahui
tentang penyakit TB Paru .
- Tn. I mengatakan tidak pernah
membuka jendela karena sudah ada
kipas angin.
Data Objektif:
- Tekanan Darah 110/70 mmHg,
Nadi 86 x/menit,
Pernafasan 25x/menit, bunyi paru
terdengar sedikit bunyi ronki, Suhu
360C
- Berat Badan: 45 kg
- Tinggi Badan: 175 cm

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA


1. Masalah keperawatan Resiko terjadinya penularan TB Paru pada anggota keluarga yang lain
b.d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
N
o
1

Kriteria
Sifat
Masalah
Resiko

Perhitung
an
2/31
:

2/22

Sko
Pembenaran
r
2/3 Ditangani segera karena resiko penularan TB Paru
pada anggota keluarga yang lain, Tn. I riwayat TB Paru
2 tahun yang lalu minum obat OAT selama 6 bulan,
dan tidak pernah berobat lagi.

Kemungkin
an masalah
untuk
dirubah:
Mudah
3

2/3 x 1

2/3

2/2 x 1

Potensi
pencegahan
masalah:
Sedang
4
Menonjolny

Dapat dirubah dengan penyuluhan penularan TB Paru


dengan menganjurkan Tn. I tidak membuang dahak
sembarangan dan rajin membuka jendela pada pagi
hari dan siang hari.

Resiko penularan sulit dicegah karena kondisi rumah


yang sempit dan interaksi antara anggota keluarga
yang lain kurang dari 1 meter dan Tn. I lupa untuk
menutup mulut jika batuk
Masalah perlu ditangani segera karena resiko
penularan pada anggota keluarga yang lain dengan
melakukan pemeriksaan pada anggota keluarga yang

a masalah:
Masalah
dirasakan
dengan ada
upaya/seger
a ditangani
Total Skor

lain (screening kesehatan) dan anjurkankeluarga untuk


memanfaatkan fasilitas (puskesmas) yang terdekatdan
sesuai kemampuan.

1/3

2. Masalah keperawatan Tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada Tn. I b.d Ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
No
1

Kriteria
Sifat Masalah :
Aktual

Perhitungan
3/3 x1

Skor
1

Kemungkinan
masalah untuk
dirubah: Mudah

2/22

Potensi
pencegahan
masalah: Sedang

2/3 x 1

Menonjolnya
masalah:
Masalah
Dirasakan
berat,harus
segera ditangani
Total Skor

2/2 x 1

Pembenaran
Masalah ini bersifat aktual karena Tn. I
mengeluh batuk-batuk selama 2 minggu, sesak
nafas dan mudah lelah. Jika tidak ditangani
segera dapat mengakibatkan penyakit menjadi
semakin parah.
Pelayanan kesehatan dekat dari rumah dan
terjangkau, dana untuk berobat tersedia
karena murah. Dengan informasi yang
diberikan keluarga dapat mngerti tentang TB
Paru dan mencegah penularan.
Tn. I adalah penderita TB Paru dengan
minum obat OAT selam 6 bulan pada 2
tahun yang lalu dan sudah minum obat OAT
selama 6 bulan. Saat ini Tn.I belum pernah
kontrol kesehatan lagi di Puskesmas.
Keluarga belum ada upaya untuk mengatasi
masalah/kondisi Tn. I karena belum ada
waktu sehingga kemungkinan penularan
cukup tinggi.
Keluarga merasa ada masalah dan perlu
segera ditangani karena sudah merasakan
gejala-gejalapenyakit.

4 2/3

INTERVENSI KEPERAWATAN
No
1

Diagnosa
Keperawatan
Resiko terjadinya
penularan TB Paru
pada
anggota keluarga

Tujuan
-Tujuan Umum :
Setelah dilakukan
Tindakan
keperawatan

Intervensi

Evaluasi

1. Menjelaskan
Respon
pengertian dan gejala serta verbal
dari
penyebab dari
keluarga
penyakit TB Paru.
dengan

yang lain b.d


Ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang
sakit.

selama 2 minggu
Diharapkan
pengetahuan
keluarga Tn.I
bertambah.

2. Tanyakan
kembali tentang pengertian,
tanda dan gejala serta
penyebab dan akibat dari
penyakit TB Paru
3. Berikan pujian
yang positif/jawaban
yang tepat

menyebutkan
tentang
pengertian
penyakit TB
Paru, tanda
dan
gejala
serta
penyebabnya

Tidak efektifnya
bersihan
jalan
nafas pada Tn.I
b.d
ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
dengan
masalah penyakit
TB Paru.

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 2
minggu
diharapkan
jalan nafas Tn. I
efektif.

1.Jelaskan pengertian,
tanda dan gejala, serta
penyebab dari penyakit TB
Paru
2.Tanyakan
kembali tentang
pengertian, tanda dan gejala,
serta
penyebab dari
penyakit TB Paru
3.Berikan reinforcement
positif atas
kemampuan keluarga

Respon
verbal
dari keluarga
terkait
pengertian,
penyebab,
tanda
dan
gejala
TB
Paru.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang TB paru
Respon: Tn.I mengatakan TB paru adalah penyakit batuk
2. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang TB paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
3. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang penyebab TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan penyebabnya karena merokok.
4. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang penyebab TB paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
5. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang tanda dan gejala TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan tanda dan gejala TB paru adalah sesak nafas dan batuk-batuk.
6. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang tanda dan gejala TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
7. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara penularan TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara penularan TB paru yaitu jika kita minum pada gelas yang
sama.
8. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara penularan TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
9. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara mengetahui seseorang terkena TB
Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara mengetahui seseorang terkena TB paru yaitu dengan cara
berobat ke Puskesmas.

10. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara mengetahui seseorang
terkena TB Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
11. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan agar tidak menular kepada
orang lain
Respon: Tn.I mengatakan cara mencegah agar tidak menular kepada orang lain yaitu jangan
minum pada gelas yang sama, nanti bisa menular penyakit TB paru.
12. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara pencegahan agar tidak
menular kepada orang lain
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
13. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang cara mencegah dan mengobati TB Paru
Respon: Tn.I mengatakan cara mencegahnya dengan cara minum jangan pada gelas yang
sama dan cara mengobatinya dengan berobat ke Puskesmas.
14. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang cara mencegah dan mengobati TB
Paru
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
15. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang obat-obatan TB Paru dan efek
sampingnya
Respon:Tn.I mengatakan tidak nafsu makan dan air kencingnya berwarna kuning saat minum
obat OAT.
16. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang obat-obatan TB Paru dan efek
sampingnya
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.
17. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang akibat bila minum obat tidak teratur atau
terputus
Respon: Tn.I mengatakan akibat bila tidak minum obat tidak teratur atau terputus yaitu nanti
bisa kambuh lagi dan makin parah penyakitnya.
18. Memberi penjelasan pada keluarga khususnya Tn.I tentang akibat bila minum obat tidak
teratur atau terputus
Respon: Tn.I mendengarkan penjelasan yang diberikan.

EVALUASI KEPERAWATAN
S
O
Tn.I
mengatakan Tn. I dapat menyimak penjelasan
sudah
mengetahui yang diberikan dengan penuh
masalah TB paru, dan perhatian.
akan periksa dahak ke Tn. I dapat menjelaskan kembali
Puskesmas
tentang TB paru baik mengenai
tanda dan gejala, penyebab, maupun
akibat penyakit TB paru, serta Tn. I
akan memeriksakan dahak kembali
untuk mengetahi apakah Tn. I
terkena TB paru lagi atau tidak.
Tn. I mengatakan akan membuka
jendela kamar setiap pagi dan akan
meningkatan
penerangan
di
kamarnya agar matahari dapat
masuk ke dalam kamar.

A
Masalah
teratasi
sebagian

P
Lanjutkan
intervensi

A. Konsep Dasar

1.

Pengertian

Tuberculosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobacterium
tuberculosis.

2.

Patofisiologi

Micobacterium TBC

Air borne (saluran napas)

Jaringan paru (alveoli)

Fokus primer (Ghon)

Kemungkinan penyebaran (bronchogen, limfogen, hematogen)

Terbentuk primer komplek (ranke)

TBC primer

Infeksi (belum mempunyai kekebalan)

Perlawanan

Infiltrasi sel-sel radang

Reaksi non spesifik


(tahap pra alergis)

Reaksi spesifik
(tahap alergis)
Sifat Basil Micobacterium TBC
-

Basil berbentuk batang , sifat aerob

Tipe bovines dan humanus

Mudah mati pada air mendidih (5 detik pada suhu 80 derajat, 20 detik pada suhu 60 derajat)

Mudah mati dengan sinar mata hari ( ultra violet )

Tahan berbulan-bulan pada suhu kamar dan lembab

Faktor faktor yang berhubungan dengan terjadinya infeksi basil TBC


a.

Harus ada sumber penularan


- Kasus terbuka ----- dahak ada basil TBC
- Binatang yang menderita TBC

b.

Jumlah basil cukup banyak dan terus menerus

c.

Virulensi basil

d.

Daya tahan tubuh menurun :


Nutrisi, perumahan, pekerjaan, faktor genetika, faktor usia, jenis kelamin

Klasifikasi :
a.

Pembagian secara patologis :


Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).

Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).


b.

Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :


Tuberkulosis Paru BTA positif.
Tuberkulosis Paru BTA negative

c.

Pembagian secara aktifitas radiologis :


Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.

Tuberkulosis non aktif .

Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).


d.

Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )


Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru
maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.

Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4
cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak
lebih dari satu pertiga bagian satu paru.

For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan
pada moderateli advanced tuberculosis.
e.
Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society
memberikan klasifikasi baru:
Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes
tuberculin negatif.

Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak
positif, tes tuberkulin negatif.

Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.

Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.


f.

Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :


Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan
batuk TB berat.
Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan
kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
3.
Manifestasi Klinis
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai
dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru,
sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Gejala sistemik/umum, antara lain sebagai berikut:

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai
keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.

Penurunan nafsu makan dan berat badan.

Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).

Perasaan tidak enak (malaise), lemah.


Gejala khusus, antara lain sebagai berikut:

Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang disertai sesak.

Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan
sakit dada.

Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat
dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan
nanah.

Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.
4.
Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis
paru stadium lanjut yaitu :
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.

Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi
bronchial.

Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada
proses pemulihan atau reaktif) pada paru.

Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
5. Pemeriksaan Diagnostik
a.

Pemeriksaan Laboratorium

Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit

Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif
untuk basil asam-cepat.

Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar,
terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya
antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang
secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh
mikobakterium yang berbeda.

Anemia bila penyakit berjalan menahun

Leukosit ringan dengan predominasi limfosit

LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap
penyembuhan.
GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.

Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa
menunjukkan nekrosis.

Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia
disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
b.
Radiologi
Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi sembuh primer
atau efusi cairan perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga akan fibrosa.
Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada
foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.

Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau


kerusakan paru karena TB.

Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC adalah penebalan pleura, efusi pleura
atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).

c.
Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total
dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan
paru dan penyakit pleural.

6. Pencegahan

Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil
agar terhindar dari penyakit tersebut.

Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar
tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.

Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.

Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.

Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara
dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama
rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.

Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di
sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang
dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
7. Penatalaksanaan
a.
Farmakologi
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis , yaitu sebagai berikut:

Aktivitas bakterisid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif).
Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan
kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan
pengobatan).
Aktivitas sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang
aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
Pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat saja. Kenyataan dengan
pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi
tuberculosis dilskukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang
bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat
diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi
yang terbanyak ditemukan ialah INH
Adapun jenis obat yang dipakai adalah sebagai berikut :
- Obat Primer

- Obat Sekunder

1. Isoniazid (H)

1. Ekonamid

2. Rifampisin (R)

2. Protionamid

3. Pirazinamid (Z)

3. Sikloserin

4. Streptomisin

4. Kanamisin

5. Etambutol (E)

5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)

6.

Tiasetazon

7.

Viomisin

8.

Kapreomisin

Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :


Tahap INTENSIF
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan
terhadap rifampisin. Bila saat tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular
menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif
menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif
sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit
untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
(dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Paduan obat kategori 1 :

Tahap

Lama

(H) / day

R day

Z day

F day

Jumlah Hari XMinum Obat

Intensif

2 bulan

60

Lanjutan 4 bulan

54

Paduan Obat kategori 2 :

Tahap Lama (H)@300m R@450m Z@500m E@ E@500m Strep.Injek JumlahHari X


g
g
g
250M
g
si
Minum Obat
g

Intensif

2
bulan
1
bulan

Lanjuta 5
n
bulan

11

11

33

33

0,5 %

6030

66

Paduan Obat kategori 3 :

Tahap

Lama

H @ 300 mg

R@450mg P@500mg Hari X Minum Obat

Intensif

2 bulan

60

Lanjutan3 x 4 bulan
week

54

OAT sisipan (HRZE)

Tahap

Lama

Intensif(do
sis harian)

1 bulan

H@300mg R@450m Z@500mg


E
Minum
g
day@250m obat XHari
g
1

30

Daftar Pustaka

Amin, M., (1999). Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :Airlangga Univerciti Press

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta : EGC
Doengoes, (1999). Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

1.
1.

Struktur dan sifat keluarga

Kepala Keluarga

a)

Jenis Kelamin

Laki - laki

Umur

35 tahun.

Agama

Islam.

Pendidikan

SLTP

Pekerjaan

Swasta

Suku / Bangsa

Banjar / Indonesia.

Alamat

2.

Nama

Desa Timbung RT. 2

Susunan Anggota Keluarga

Tn. A

3.

No

Nam
a

L/P

Umur

Pendidika
n

Pekerjaan

Hubunga
n

Sehat/sa
kit

Ny. W

27 Th

SLTP

Ibu rumah
tangga

Isteri

Sakit

An. N

3 Th

Anak

sehat

Ikut orang
tua

Ket
Tb
paru
-

Genogram Keluarga

b)

c)
Keterangan :
yang bermasalah.

4.

Laki-laki.

Perempuan

Laki-laki yang meninggal.

Perempuan yang meninggal

Serumah

Anggota keluarga

Tipe Keluarga
Keluarga Tn. A merupakan tipe keluarga inti (nuclear family)yang terdiri dari Ayah, Ibu dan satu anak
yang tinggal dalam satu rumah. Jenis perkawinan adalah monogami.

5.

Pengambilan Keputusan
Pola pengambilan keputusan di dalam keluarga Tn. A dilakukan secara musyawarah, anggota
keluarga yang mengambil keputusan adalah Tn. A sebagai kepala keluarga.

6.

Hubungan Dalam keluarga


Hubungan dalam keluarga harmonis dan tampak akrab, adanya interaksi sesama anggota keluarga.

7.

Kebiasaan Hidup Sehari-hari

a.

Kebiasaan Istirahat dan Tidur

Nama

b.

Tidur Siang

Tidur malam

Tn. A

2 jam

8 jam

Ny. W

2 jam

5 jam

An. N

1 jam

8 jam

Kebiasaan Makan
Dalam pengadaan makanan keluarga sehari-hari adalah dengan memasak sendiri dan komposisi
jenis makanannya bervariasi. Makanan pokok adalah nasi disertai lauk pauk dan sayur, frekuensi
makan 3 kali sehari. Makan buah-buahan kalau musim buah saja. Kebiasaan makan keluarga
bersama (pagi, siang dan malam hari).

c.

Kebiasaan Personal Hygiene


Mandi 2 kali sehari dengan menggunakan sabun, gosok gigi 2 kali sehari dengan menggunakan
pasta gigi, ganti pakaian 2 kali sehari / bila kotor, keramas 1 kali seminggu menggunakan shampo,
cuci tangan sebelum makan menggunakaqn sabun, menggunakan alas kaki bila keluar rumah.

d.

Penggunaan Waktu Senggang


Waktu senggang digunakan untuk ngobrol-ngobrol bersama istrinya. Kadang membersihkan
lingkungan rumah.

e.

Kebiasaan Tidak Sehat


Tn. A merokok Tetapi sekarang sudah berkurang yang biasanya 1 bungkus habis dalam satu hari
sekarang hanya 5-6 batang saja sehari. Tn A maupun keluarga tidak pernah minum minuman
beralkohol..

8.

Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya.

a.

Pendapatan dan Pengeluaran


Pendapatan setiap bulan kurang lebih Rp 500.000,- tidak ada penghasilan tambahan, pengeluaran
harian kurang lebih Rp 10.000,- dan sisanya untuk bayar listrik pada tetangga. Keluarga tidak punya
tabungan.

b.

Sosial dan Budaya


Keluarga Tn. A suku Banjar, Sedangkan Ny. W suku Sunda tetapi karena sdh lama tinggal di
kalimantan jadinya sehari hari keluarga menggunakan bahasa banjar. Semua anggota keluarga
beragama Islam. Hubungan dengan masyarakat sekitar baik. Setiap hari jumat sore Ny. W ikut
pengajian.

9.

Faktor Lingkungan

a.

Perumahan

Keterangan :

1. Teras rumah
2. Ruang tamu
3. Kamar tidur
4. Dapur
Tempat tinggal didaerah timbung, jenisnya bangunan non permanen, luas pakarangan 2x6 m2 ,

status kepemilikan adalah milik sendiri, pemanfaatan pekarangan tanaman bunga, lantai dari papan,
ventilasi ruang tidur jendela, sistem penerangan listrik. Kebersihan rumah cukup bersih,Tempat
pembuangan sampah tidak ada, pengelolaan sampah di bakar dan ditimbun.
Sumber air minum dari tong PDAM, sumber air untuk keperluan mandi cuci dari sungai. Tidak
mempunyai jamban keluarga, kalau mau BAB kesungai yang letaknya jauh dari rumah 300 meter.
Komposisi rumah terdiri dari 1 kamar tidur dan ruang makan / dapur. Keluarga menganggap bahwa
lingkungannya sudah bersih padahal kandang ayam menyatu dengan rumah itu berarti keluarga
kurang mengetahui tentang sanitasi lingkungan yang sehat.

b.

Macam Lingkungan Tempat Tinggal


Tempat tinggal keluarga terletak di belakang rumah tetangga antara satu rumah dengan rumah yang
lainnya cukup berdekatan.

c.

Fasilitas Sosial dan Fasilitas Kesehatan


Fasilitas sosial di masyarakat adalah pengajian. Fasilitas kesehatan (Polindes) terletak 100 m dari
rumah. Bila ada anggota keluarga yang sakit biasanya berobat ke mantri atau dibawa ke Puskesmas
atau ke polindes.

10. Psikologis
a.

Status emosi
Bila ada salah satu anggota keluarga yang berhasil maka seluruh keluarga akan merasa bangga
begitu pula sebaliknya bila ada anggota keluarga yang kehilangan(sedih)maka anggota yang lain
turut sedih.

b.

Konsep diri

1)

Konsep diri:
Setiap anggota keluarga merasa diperlukan oleh anggota keluarga yang lain. Tidak terdapat konflik
dalam keluarga yang berhubungan dengan harga diri.

2)

Peran
Setiap anggota keluarga berperan seperti fungsinya, tidak terdapat kesenjangan peran dalam
keluarga.

c.

Pola interaksi
Waktu yang paling sering terjadi interaksi antar keluarga biasanya pada sore hari, pada saat makan
bersama. Tidak ada masalah antar anggota keluarga dalam berinteraksi.

d.

Pola komunikasi
Sifat komunikasi dalam keluarga secara terbuka, anggota keluarga yang paling dominan berbicara
adalah ayah. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa banjar.

e.

Pola pertahanan

Masalah dalam keluarga selalu diatasi bersama-sama.

11. Keadaan Kesehatan


a.

Derajat kesehatan
Ny. W pernah menderita penyakit TB Paru, anggota keluarga yang lain tidak ada keluhan apapun.

b.

Perilaku keluarga dalam penanggulangan sakit


Bila sakit keluarga biasa membeli obat sendiri dulu, bila tidak dapat teratasi baru berobat ke mantri
atau ke puskesmas.

c.

Kejadian cacat
Tidak ada keluarga yang cacat fisik dan mental.

d.

Kejadaian kematian dalam 1 tahun terakhir


Tidak anggota keluarga yang meninggal dalam 1 tahun terakhir ini.

12. Sarana Kesehatan


Pemanfaatan Fasilitas.

Apabila ada anggota keluarga yang sakit, baru dibawa berobat ke Puskesmas pembantu
atau ke mantri yang praktek.
Jarak antara Puskesmas kecamatan dari rumah Tn. B lebih dari 8 km, Polindes +100 m, ke
mantri praktek + 150 m.
Alat transportasi keluarga adalah jalan kaki, kecuali ke Puskesmas baru naik taksi / angkutan
pedesaan atau naik ojek.
Tn. A tidak menggunakan sarana komunikasi seperti radio, telpon atau orari maupun televisi.

13. Imunisasi Balita


Anak dari Tn. A yaitu An. N umur 3 tahun, kata ibunya nya selalu di bawa ke Posyandu, dari
data KMS terlihat imunisasi tidak lengkap yaitu untuk vaksinasi DPT+HB, Campak dan polio 4.

14. Riwayat Kesehatan


a.

Tn. A

Tidak pernah sakit berat yang perlu dirawat di RS, hanya sering flu dan pilek tapi dapat sembuh
setelah berobat ke puskesmas.

Pemeriksaan fisik
TD

: 100/70 mmHg

Resp

: 24 x/mnt

Nadi

: 80 x/mnt

Temp : 36 0 C

1.

Kulit
Turgor kulit cepat kembali (< 2 detik), warna kulit keputih, kebersihan cukup.

2.

Kelapa dan Leher


Kebersihan rambut dan kulit kepala cukup. Pergerakan pada leher normal menoleh kanan, kiri, atas,
bawah)

3.

Mata/Penglihatan
Fungsi penglihatan normal dapat melihat tanpa bantuan kaca mata. Konjungtiva tidak anemis.

4.

Telinga/Pendengaran
Dapat mendengar dengan baik, tidak memakai alat bantu pendengaran, struktur normal, kebersihan
cukup.

5.

Hidung Penciuman
Struktur normal, tidak ada cairan yang keluar dari hidung, fungsi penciuman baik (dapat membedakan
bau-bauan seperti bau minyak kayu putih)

6.

Mulut dan Gigi


Kebersihan mulut dan gigi cukup mukosa mulut tidak kering, tidak ada caries pada gigi. Tidak
menggunakan protesa.

7.

Abdomen
Kulit perut kebersihan \ cukup, tidak ada nyeri

8.

Dada dan pernapasan


Bentuk dada normal, irama pernafasan teratur, frekuensi 24 kali/menit. Tidak ada nyeri tekan pada
dada, bunyi nafas vesikuler, tidak terdapat ronchi atau whezing.

9.

Estermitas atas dan bawah


Tidak ada kelainan gerak, struktur normal tidak ada nyeri pada extermitas.

b.

Ny. W
Pernah menderita TB paru 1 tahun yang lalu, klien menjalani pengobatan TB paru selama 6 bulan
tetapi sudah menyelesaikan pengobatannya.
Pemeriksaan fisik
TD

: 100/60 mmHg

Resp

: 24 x/mnt

Nadi

: 80 x/mnt

Temp : 36 0 C
1.

Kulit
Turgor kulit cepat kembali (< 2 detik), warna kulit kecoklatan, kebersihan cukup.

2.

Kelapa dan Leher


Kebersihan rambut dan kulit kepala cukup. Pergerakan pada leher normal menoleh kanan, kiri, atas,
bawah)

3.

Mata/Penglihatan
Fungsi penglihatan normal dapat melihat tanpa bantuan kaca mata. Konjungtiva tidak anemis.

4.

Telinga/Pendengaran
Dapat mendengar dengan baik, tidak memakai alat bantu pendengaran, struktur normal, kebersihan
cukup.

5.

Hidung Penciuman
Struktur normal, tidak ada cairan yang keluar dari hidung, fungsi penciuman baik (dapat membedakan
bau-bauan seperti bau minyak kayu putih)

6.

Mulut dan Gigi


Kebersihan mulut dan gigi cukup mukosa mulut tidak kering, tidak ada caries pada gigi.
Menggunakan protesa pada gigi seri atas 2 buah.

7.

Abdomen
Kulit perut kebersihan \ cukup, tidak ada nyeri

8.

Inspeksi
Palpasi

Dada dan pernapasan

: Bentuk dada normal ( AP : T = 1 : 2 ) , sifat pernafasan dada dan perut, ritme reguler
dengan frekuensi 24 kali/menit dan postur tubuh kurus, bentuk / postur tubuh kyposis.
: Nyeri tekan dan massa tidak ada , Fremitus vokal sama keras antara kiri dan kanan,
kesimetrisan ekspansi dada normal

Perkusi

: Bunyi perkusi resonan

Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler, terdapat ronchi pada intercosta ke 4 5 dekstra. tidak terdapat bunyi
wheezing.
9.

Estermitas atas dan bawah


Tidak ada kelainan gerak, struktur normal tidak ada nyeri pada extermitas.

c.

An. R
Tidak pernah sakit berat, tidak pernah dirawat di rumah sakit.
Pemeriksaan fisik
TD

:-

Resp

: 30 x/mnt

Nadi

: 96 x/mnt

Temp : 36 0 C
1.

Kulit
Turgor kulit cepat kembali (< 2 detik), warna kulit coklat, kebersihan cukup.

2.

Kelapa dan Leher


Kebersihan rambut dan kulit kepala cukup. Pergerakan pada leher normal menoleh kanan, kiri, atas,
bawah)

3.

Mata/Penglihatan
Fungsi penglihatan normal dapat melihat tanpa bantuan kaca mata. Konjungtiva tidak anemis.

4.

Telinga/Pendengaran
Dapat mendengar dengan baik, tidak memakai alat bantu pendengaran, struktur normal, kebersihan
cukup.

5.

Hidung Penciuman
Struktur normal, tidak ada cairan yang keluar dari hidung, fungsi penciuman baik (dapat membedakan
bau-bauan seperti bau minyak kayu putih)

6.

Mulut dan Gigi


Kebersihan mulut dan gigi cukup mukosa mulut tidak kering, terdapat caries pada gigi, giginya tidak
lengkap keropos pada gigi seri atas dan bawah.

7.

Abdomen
Kulit perut kebersihan \ cukup, tidak ada nyeri

8.

Dada dan pernapasan

Bentuk dada normal, irama pernafasan teratur, frekuensi 24 kali/menit. Tidak ada nyeri tekan
pada dada, bunyi nafas vesikuler, tidak terdapat ronchi atau whezing.
9.

Estermitas atas dan bawah


Tidak ada kelainan gerak, struktur normal tidak ada nyeri pada extermitas.

ANALISA DATA
1.

Tipologi Masalah Kesehatan


a. Ancaman Kesehatan
1). Resiko penularan penyakit TB Paru.
2). Sanitasi lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
b. Tidak / kurang Sehat
1). Ny. W pernah mendapatkan pengobatan 6 bulan (menderita penyakit TB Paru).
c. Krisis
-

2.

Mengidentifikasi Masalah

No

Data

1. - Keluarga kurang
mengetahui tentang
cara penularan dan
pencegahan penyakit
TB Paru.
- Ny. W tidur satu
kamar dengan
anggota keluarga
yang lain.

Masalah
Kesehatan
Resiko
penularan
penyakit TB
Paru.

Masalah
Keperawatan
1. KMK mengenal
masalah resiko
terjadinya penularan
TB Paru b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang cara
penularan dan
pencegahannya.

- Tidak ada
pengkhususan alat
tenun dan alat makan
.
2. - Pernah menderita TB
paru 1 tahun lalu
dan menjalani
pengobatan selama 6
bulan.

Ny. W
1. KMK mengenal
menderita TB
masalah TB paru b/d
Paru.
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang
pengertian TB Paru,

- Keluarga
mengatakan tidak
tahu akibat yang
ditimbulkan oleh
penyakit TB Paru bila
tidak diobati secara
teratur.

dampak yang di
timbulkan, cara
penularan dan
pengobatan, tanda
dan gejala yang
ditimbulkannya.
2.

- Keluarga
mengatakan kurang
mengetahui cara
perawatan yang
benar pada Ny.W.

KMK mengambil
keputusan untuk
berobat teratur b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang
akibat yang
ditimbulkan oleh
penyakit TB Paru bila
tidak diobati secara
teratur.

3. KMK merawat
anggota keluarga
yang sakit b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang cara
perawatan yang
benar pada penderita
TB Paru.
4. KMK memanfaatkan
fasilitas kesehatan
yang ada
berhubungan dengan
kurangnya
pengetahuan
keluarga cara
pengobatan TB paru.

3. - Kandang ayam
menyatu di bawah
rumah.
- Keluarga
menganggap
lingkungannya sudah
bersih.

Sanitasi
lingkungan
yang tidak
memenuhi
syarat
kesehatan.

1. KMK mengenal
masalah sanitasi
lingkungan b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang
sanitasi rumah dan
lingkungan yang

- Keluarga kurang
mengetahui syaratsyarat lingkungan
yang sehat.

sehat.
2. KMK memodifikasi
lingkungan b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga tentang cara
memodifikasi
lingkungan yang
sehat.

- Keluarga kurang
mengerti tentang
pentingnya
lingkungan yang
sehat.

3.
a.

Prioritas Masalah
Resiko penularan penyakit TB Paru.

No
1.

Kriteria
Sifat masalah :
Ancaman
kesehatan.

Perhitunga
n

Nilai

2/3 X 1

2/3

2.

Kemungkinan
masalah dapat
diatasi dengan
mudah.

2/2 X 1

3.

Potensial masalah
dapat dicegah
cukup.

2/3 X 1

2/3

Pembenaran
Penularan belum
terjadi tapi resiko
terjadinya
penularan cukup
besar.

Ny.W mau
memeriksakan
kesehatnnya
secara teratur dan
mengikuti
program P2TB
Paru sampai
tuntas.

Penularan dapat
dicegah dengan
tindakan
sederhana yang
dapat dilakukan
tanpa biaya.

Keluarga kurang
mengetahui kalau

penyakit TB Paru
sangat menular.
4.

Menonjolnya
masalah yang ada
dan perlu segera
ditangani

Score

b.

1 X1

4 1/3

Ny.W menderita penyakit TB Paru.

No
1.

Kriteria
Sifat masalah :

Perhitunga
n

Nilai

Pembenaran

3/3 X 1

3/3

Masalah sudah
terjadi, harus
segera diatasi
agar tidak
bertambah parah.

Tidak / kurang
sehat.

2.

1/2 X 2

Kemungkinan
masalah dapat
diubah sebagian.

Masalah telah
terjadi.

3.

Potensial masalah
dapat dicegah.

1/3 X 1

1/3

4.

Menonjolnya
masalah berat dan
harus ditangani.

2/2 X 1

2/2

Score

Keluarga mau
mengikuti saran
untuk berobat
teratur.

3 1/3

Keluarga
mengatakan
bahwa Tn. J harus
segera diobati.

c.

Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan.

No
1.

2.

Kriteria
Sifat masalah :
Ancaman
kesehatan.

Kemungkinan
masalah dapat
diubah hanya
sebagian.

Perhitung
an

Nilai

2/3 X 1

2/3

1/2 X 2

Pembenaran
Keluarga tinggal
dalam sanitasi
lingkungan yang
tidak sehat.
Keluarga
beranggapan
bahwa
lingkungannya
sudah bersih tapi
ada kemauan
untuk mengetahui
lingkungan yang
sehat.

Keluarga mau /
ingin tahu tentang
lingkungan yang
sehat.

3.

Potensial masalah
dapat dicegah
cukup.

2/3 X 1

2/3

4.

Masalah tidak
dirasakan
keluarga.

0/2 X 1

Score

4.

2 1/3

Urutan Masalah

1). Resiko penularan penyakit TB Paru. Dengan skore 4 1/3


2). Tn. J menderita penyakit TB Paru. Dengan skore 3 1/3

Keluarga
beranggapan
bahwa
lingkungannya
sudah bersih.

3). Sanitasi lingkungan yang kurang memenuhi syarat kesehatan. Dengan skore 2 1/3

RENCANA KEPERAWATAN
Nama
Alamat

N
o
1.

: Ny.W
: RT. 2 Desa Timbung Kecamatan Bungur

Masalah
kesehata
n
Resiko 1.
terjadiny
a
penulara
n
penyakit
TB Paru.

Masalah
Keperawatan
KMK
mengenal
masalah resiko
terjadinya
penularan
penyakit TB
Paru b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang cara
penularan dari
penyakit TB
Paru dan cara
pencegahanny
a.

Tujuan Jangka
Panjang
Keluarga
mampu
mengenal
masalah
resiko
terjadinya
penularan.

Pendek
Setelah
kunjungan 1 X
45 menit
keluarga
mampu :
Menjelas-kan
cara penularan
penyakit TB
Paru dan cara
pencegahannya.

Evaluasi
Kriteria

Standar

Respon
Cara penularan ada
verbal
keluarga Langsung
.
Percikan ludah / cai
hidungnya berpinda
berbicara berhadap
b. Tidak langsung

Bila kx meludah dit


sembarang kemudi
dan kuman diterban
angin bersama deb
dihirup oleh orang y
Cara pencegahan :

a. Imunisasi BCG pad

b. Meningkatkan day
tubuh dengan maka
bergizi.

c. Mengobati anggota
yang sakit sampai t

d. Menghindari konta
kuman TB, misalnya
menghidari percika

2.

Ny. W

1. KMK
mengenal
menderi masalah TB
ta TB
Paru b/d
Paru.
kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang tanda
dan gejala

Keluarga
mampu
mengenal
tanda dan
gejala
penyakit TB
Paru.

Setelah
kunjungan 1 X
45 menit
keluarga
mampu
menjelas-kan
tanda dan
gejala penyakit
TB paru.

Respon
Tanda dan gejala pe
verbal
Paru :
keluarga
a. Batuk tidak sembu
.
minggu.

b. Batuk berdahak da
darah.

yang
ditimbulkan.

c. Demam.

d. Berkeringat pada m
e. Nyeri dada.
f.

Sesak napas.

g. Nafsu makan men


h. Sakit kepala.
i.
2. KMK
mengambil
keputusan
untuk berobat
secara teratur
b/d kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang akibat
yang
ditimbulkan
oleh penyakit
TB Paru bila
tidak diobati
secara teratur.

Keluarga
yang bermasalah
mau
berobat
secara
teratur.

3. KMK merawat
anggota
keluarga yang
sakit b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang cara
perawatan
yang benar
pada
penderita TB
paru.

Keluarga
mampu
merawat
anggota
keluarga
yang sakit
secara
benar.

Keluarga
mengeta-hui
akibat yang
ditimbul-kan
bila pengobatan tidak teratur.

Respon
Akibat yang ditimbu
verbal
pengobatan tidak te
keluarga
a. Kuman jadi reseste
b. Lebih sulit untuk
mengobatinya.

c. Lebih lama pengob

d. Gejala mungkin hil


sementara waktu.

Setelah
kunjungan1 X
45 menit
keluarga
mampu
menjelaskan
cara perawatan
yang benar
pada Tn. MM

Respon
Cara perawatan yan
verbal
keluargaa. Makanan yang ber
.
b. Lingkungan rumah
bersih.

c. Sinar matahari ma
dalam rumah.

d. Menjemur kasur m
seminggu.

e. Alat-alat makan di
f.

3.

Sanitasi 1. KMK
lingkung- mengenal
an yang
masalah

Berat badan berku

Keluarga
mampu
mengenal

Setelah
kunjungan 1 X
45 menit

Bila sesak posisi se

Respon
Sanitasi lingkungan
verbal
:
keluarga
a. Pencahayaan 15

kurang
memenu
hi syarat
kesehata
n.

sanitasi
lingkungan
rumah yang
baik b/d
kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang
syarat-syarat
sanitasi
lingkungan
yang baik /
sehat.

masalah
sanitasi
lingkung-an
yang baik /
sehat.

2. KMK
memodifikasi
lingkungan
yang dapat
mempengaruh
i kesehatan
b/d kurangnya
pengetahuan
keluarga
tentang cara
menciptakan
lingkungan
yang sehat .

Keluarga
mampu
memodifikasi
lingkung-an
yang dapat
mempengar
uhi
kesehatan.

keluarga
mampu
menjelas-kan
ciri-ciri
lingkung-an
yang baik /
sehat.

lantai.

b. Ventilasi 10 15 %

c. Jarak jamban dan s


kurang dari 10 met

d. Mempunyai tempa
pembuangan samp

e. Kandang binatang
harus terpisah dari

Setelah
kunjungan 1 X
45 menit
keluarga
mampu
menjelas-kan
cara menciptakan lingkung-an
yang sehat.

Respon
Lingkungan rumah
verbal
sehat :
keluarga
a. Cukup udara yang
.
keluar.

b. Cukup sinar matah


masuk.

c. Bersih dan teratur.

d. Kasur dijemur mini


seminggu.

e. Mempunyai tempa
pembuangan samp
f.

Mempunyai jamban

CATATAN KEPERAWATAN
Nama
Alamat

N
o
1.

: Ny.W
: RT. 2 Desa Timbung Kecamatan Bungur

Tanggal
Senin
22 April
2013

Dx
Kep
I

Jam
11.00

Implementasi

1. Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang cara
penularan dan pencegahan
penyakit TB paru.
2. Memberikan leaflef tentang
TB Paru.

Evaluasi
Keluarga paham
dan mampu
menjelaskan
kembali tentang
cara penularan
dan pencegahan
penyakit TB Paru.

3. Mendiskusikan dengan
keluarga dengan
menggunakan leaflet tentang
proses penularan penyakit TB.
4. Mendiskusikan dengan
keluarga tentang cara
pencegahan penyakit TB.
5. Memotivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali tentang
proses penularan dan cara
pencegahannya.
6. Memberikan pujian kepada
keluarga atas kemampuannya
menjelaskan kembali.

2.

Senin
22 April
2013
Jam
11.00

II

1. Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang tanda dan
gejala penyakit TB Paru.
2. Mendiskusikan bersama
keluarga tentang tanda dan
gejala penyakit TB paru sesuai
standar.
3. Memotivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas
kemampuannya menjelaskan.

Keluarga paham
dan mampu
menjelaskan
kembali tentang
tandadan gejala
penyakit TB Paru.

3.

Senin
22 April
2013

II

Jam
11.00

1. Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang akibat yang
ditimbulkan bila pengobatan
tidak teratur.
2. Mendiskusikan akibat yang
ditimbulkan bersama keluarga
sesuai standar.
3. Memotivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali.

Keluarga paham
dan mampu
menjelaskan
kembali tentang
akibat yang
ditimbulkan bila
pengobatan tidak
teratur / tidak
tuntas.

4. Memberikan pujian atas


kemampuannya menjelaskan
kembali.

4.

Senin
22 April
2013

II

Jam
11.00

1. Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang cara
perawatan yang benar.
2. Mendiskusikan bersama
keluarga cara perawatan yang
benar sesuai standar.

Keluarga paham
dan mampu
menjelaskan
kembali tentang
cara perawatan
yang baik / benar.

3. Memotivasi keluarga untuk


menjelaskan kembali.
4. Memberikan pujian atas
kemampuannya menjelaskan
kembali.

5.

Senin
22 April
2013
Jam
11.00

III

1. Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang lingkungan
yang sehat.
2. Mendiskusikan bersama
keluarga tentang lingkungan
yang bersih / sehat sesuai
standar.
3. Memotivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali.

Keluarga paham
dan mampu
menjelaskan
kembali tentang
ciri lingkungan
yang sehat .

4. Memberikan pujian atas


kemampuannya menjelaskan
kembali.

CATATAN PERKEMBANGAN

HARI/TANGGAL

MASALAH KESEHATAN

Senin 22 April 2013

Resiko terjadinya
penularan penyakit TB
Paru.

Keluarga paham dan


mampu menjelaskan
kembali tentang cara
penularan dan
pencegahan penyakit
TB Paru.

Ny. W

Keluarga paham dan


mampu menjelaskan
kembali tentang tanda
dan gejala penyakit TB
Paru

Jam 12.00

Senin 22 April 2013


Jam 12.00

menderita TB Paru

PERKEMBANGAN

Keluarga paham dan


mampu menjelaskan
kembali tentang akibat
yang ditimbulkan bila
pengobatan tidak
teratur / tidak tuntas

Keluarga paham dan


mampu menjelaskan
kembali tentang cara
perawatan yang baik /
benar.