You are on page 1of 14

BLOK 10 LBM 1

LBM 1 BLOK 10

A. LESI
Definisi
Zona jar yang fungsinya terganggu akibat penyakit dan trauma
-keadaan jaringan yang abnormal pada tubuh. Hal ini dapat terjadi karena proses beberapa
penyakit seperti trauma fisik, kimiawi, dan elektris; infeksi, masalah metabolisme, dan
autoimun(baiiu).
-Reaksi peradangan daerah sub.epitel yg akhirny mnimbulkan luka pd sub mukosa
-Keadaan jaringan yang abnormal pada tubuh karena proses trauma atau infeksi, masalah
metabolisme dan autoimun ( berkaitan erat dengan alergi. Faktor tertentu di dalam jaringan tubuh
mengembangkan sifat2 autogenik
Klasifikasi
- Lesi rongga mulut
Macam-macam lesi jaringan lunak rongga mulut
LESI PRIMER
1. Makula
Ukuran:
- Titik sampai bercak
- Diameter beberapa mm hingga cm
Warna:
Merah, coklat keputihan, dsb Tergantung penyebabnya:
a. Berasal dari vaskularisasi
- Warna: merah kecoklatan
- Bila ditekan berwarna pucat
- Misal: hiperemia
b. Berasal dari pigmen darah
- Warna: merah kebiruan
- Misal: petechiae, purpura, ecchymoses (hematom)
c. Berasal dari pigmen melanin
- Warna: biru kecoklatan
- Misal: hiperpigmentasi
Hal ini merupakan perubahan dalam warna kulit. Mereka bervariasi dalam ukuran dan bentuk,
dan tampak sebagai pewarnaan pada kulit. Makula dibentuk dari :
Deposit pigmen dalam kulit, misalnya frekles.
Keluarnya darah kedalam kulit, misalnya petekie.
Dilatasi permanen dari pembuluh kapiler, misalnya nevi.
Dilatasi sementara dari pembuluh darah kapiler, misalnya eritema.
2. Papula
Terdapat elevasi yang dapat diraba dari kulit yang bervariasi diameternya dari sekitar 1-5 mm.
Permukaan dapat tajam, bulat atau datar. Mereka terletak superficial dan dibentuk dari proliferasi
sel atau eksudasi cairan ke dalam kulit.
Suatu lesi padat menimbul superfisial, diameter >1cm

Contoh:
- Lichen planus (pada mukosa) adalah papula keputihan.
- Fordyces spot adalah anomali pertumbuhan dmana kelenjar lemak tumbuh ektopik.
Makula dan papula Terasa gatal, rasa terbakar, dan nyeri
Permukaan papula:Erosi atau deskuamasi
3. Plak
Contoh: Leukoplakia lesi praganas (ada kecenderungan menjadi ganas)
4. Nodula (dungkul)
Ini serupa dengan papula tetapi terletak lebih dalam. Mereka bervariasi dalam ukuran dan
biasanya lebih besar dibandingkan papula. Contoh daro nodul subkutan adalah nodul rematisme
akut.
Contoh: Iritasi fibroma
- Tumor jinak dari jaringan ikat yang terjadi karena iritasi kronis
(iritasi ringan yang terus menerus)
- Dapat hilang sendiri atau tidak, setelah iritasi kronis dihilangkan (misal eksisi)
5. Vesikula
Vesikel merupakan lepuh kecil yang dibentuk dengan akumulasi cairan dalam epidermis ;
mereka biasanya diisi dengan cairan serosa dan ditemukan pada anak-anak yang menderita
eksema
6. Bula (blister)
Vesikel yg berisi cairan
7. Pustula
merupakan vesikel besar yang mengandung serum, pus atau darah. Mereka ditemukan misalnya
pada pemfigus neonatorum.
8. Keratosis
Adalah penebalan yang tidak normal dari lapisan terluar epitel (stratum korneum).
Warna: putih sampai keabuan.
Contoh: linea alba bukalis, leukoplakia, lichen planus.
10. Tumor
Dapat berwarna apapun.
Lokasi: pada jaringan lunak RM manapun.
Klinis: Lesi bulat menimbul dan tumor menetap bertangkai/ulseri ditengahnya.
11. Gelegata
Gelegata merupakan elevasi sementara kulit yang disebabkan oleh edema dermis dan dilatasi
kapiler sekitarnya. Biasanya berkaitan dengan respon alergi terhadap bahan asing.

LESI SEKUNDER
Skuama
Skuama merupakan lapisan tanduk dari epidermis mati yang menumpuk pada kulit yang dapat
berkembang sebagai akibat perubahan inflamasi. Keadaan ini ditemukan pada psoariasis.
Krusta
Ini terbentuk dari serum, darah atau nanah yang mengering pada kulit. Masing-masing dapat
dikenal dengan warna berikut : merah kehitaman (krusta darah), kuning kehitaman (krusta
nanah), berwarna madu (krusta serum).
Fisura
Ini merupakan retakan kecil yang meluas melalui epidermis dan memaparkan dermis. Mereka
dapat terjadi pada kulit kering dan pada inflamasi kronik.
Ulkus
Ulkus merupakan lesi yang terbentuk oleh kerusakan lokal dari seluruh epidermis dan sebagian
atau seluruh korium di bawahnya.
1. EROSI
Dapat sembuh tanpa jaringan parut.
Contoh: Lichen Planus tipe erosif.
2. ULSER
Rasa nyeri bertambah dan bila ditekan menimbulkan perdarahan karena kerusakan sampai
lamina propia.
Contoh: ulkus traumatikus; stomatitis aftosa rekuren.
3. FISURA
4. SIKATRIKS
5. DESKUAMASI
6. PSEUDOMEMBRAN
Adalah membran palsu.
Contoh: Kandidiasis Pseudomembran Akut.
7. ESCHARS
Adalah cacat atau kerusakan pada kulit / mukosa akibat luka bakar.
8. KRUSTA
Adalah lapisan luar yang terbentuk dari pengeringan eksudat.
Contoh: Eritema Multiformis

Sumber
- Langlais,atlas berwarna kelainan rongga mulut
B. ULKUS
Definisi
hilangnya jar permukaan akibat mengelupasnya jar radang yang nekrotik sampai ke lamina
propria- Lesi yang terbentuk oleh kerusakan lokal- Lesi di mulut akibat pecahnya selaput lendir
atau eitel di bibir- Kerusakan jar yagng bisa di sebabkan oleh trauma infeksi inflamasi.
hilangnya kontinuitas epitel dan lamina propia dan membentuk kawah. Kadang secara
klinis tampak edema atau proliferasi sehingga terjadi pembengkakan pada jaringan sekitarnya.
Jika terdapat inflamasi, ulkus dikelilingi lingkaran merah yang mengelilingi ulkus yang berwarna
kuning ataupun abu-abu (Scully, 2004)
Ulkus adalah suatu luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang memperlihatkan
disintegrasi dan nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit. Ulkus meluas melewati lapisan basal
dari epitel dan ke dalam dermisnya; karenanya pembentukan jaringan parut dapat mengikuti
penyembuhannya.
klasifikasi ulkus rongga mulut
ulkus akut- ulkus kronik
Secara klinis, ulkus dapat dibedakan menjadi tipe akut dan kronis. Ulkus akut biasanya
nyeri karena adanya inflamasi akut, tertutup eksudat, kuning putih, dikelilingi halo eritematus
dan batasnya tidak lebih tinggi dari permukaan mukosa dan merupakan lesi yang dangkal. Ulkus
kronis biasanya tidak terlalu sakit, tertutup membran berwarna kuning, terjadi indurasi karena
jaringan parut dan dikelilingi tepi yang lebih tinggi dari permukaan mukosa (Sonis, 1995).
Macam-macam ulkus
ulkus traumatikus = betuknya cekung dan oval , tepi daerah lesi akan tampak lebih muda bagian
tengah ulkus berwarna kuning kelabu , biasanya karena trauma gosok gigi , jamur , biasanya
terdapat di mukosa bibir , tepi2 lidah , dan mukosa keras , tergigit , tepi gigi yang tajam , trauma
yg di karenakan gigi palsu di nama kan ulkus decubitus
Ulkus dekubitus adalah kerusakan atau kematian kulit sampai jaringan dari bawah kulit bahkan
menembus otot sampai mengenai tulang, akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus
menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.
Ulkus dekubitus adalah suatu keadaan kerusakan jaringan setempat yang disebabkan oleh iskemia
pada kulit (kutis dan subkutis) akibat tekanan dari luar yang berlebihan. Umumnya terjadi pada
penderita dengan penyakit kronik yang berbaring lama. Ulkus dekubitus sering disebut sebagai
ischemic ulce
Ulkus dekubitus adalah ulkus yang ditimbulkan karena tekanan yang kuat oleh berat badan pada
tempat tidur.
Luka dekubitus adalah nekrosis pada jaringan lunak antara tonjolan tulang dan permukaan padat,
paling umum akibat imobilisasi.

Penyebab

Cedera fisik- -kimia{ex karena alkohol}- Virus{ex Stomatitis aphtosa akibat virus herpes
simplex }- Bakteri{ex TBC}- Jamus- Alergi- stres
Penyebab ulkus di rongga mulut dapat bermacam-macam, misalnya trauma, agen infeksi
(bakteri, virus, jamur, mikrobakteria), penyakit sistemik (stomatitis herpetik, cacar air, HIV,
sifilis, tuberculosis, anemia, eritema multiforme, Behcets syndrome, lichen planus), druginduced (obat-obat sitotoksik, NSAID), kelainan darah (leukemia, neutropenia), kelainan
imunologis, neoplasma (SSC atau BCC), radioterapi, merokok, alkohol maupun kontak alergi
(Scully, 2004; Sonis, 1995).
Trauma = ulkus traumatikus , ulkus decubitus

Agen infeksi ( jamur = sterpcococcus , virus = herpes simpleks (hiv) , protozoa = entamoeba
histolica , mikrobakteria )

Psikolog = stress

alergi makanan

menstruasi

Pathogenesis

Chronic cheek / lip chewing (kebiasaan menggigit pipi)

Mengunyah pada alveolar, tidak pada gigi


Gejala - Terdapat benjolan- Bintik berisi cairan- Kulit melapuh Penatalaksanaan- terapi
topikal- terapi sistemik
- penatalaksanaan
farmaa. steroid topikal- nonfarmaa. penanganan psikologis
lesi ulceratiflesi yang di tandai oleh ulcer-ulcer(kerusakan lokal pada organ akibat jar
nekrotik terkelupas)ulkus traumatikussindrom behcetrecuren stomatitis aphtosaulkus pseudo
aphtosaaphtosa majorulcerasi herpetiformisulkus granulo matosuskarsinoma sel
squamosakemoterapi teraupetik
Pemeriksaan khusus mungkin diperlukan jika terdapat kecurigaan adanya keterlibatan
faktor sistemik ataupun malignansi. Tes darah diindikasikan untuk mengesampingkan defisiensi
atau kondisi sistemik lainnya. Pemeriksaan mikrobiologi dan serologis diindikasikan bila etiologi
mikroba dicurigai. Biopsi diindikasikan bila ulkus tungga bertahan lebih dari 3 minggu, terjadi
indurasi, terdapat lesi di kulit lainnya ataupun terkait dengan lesi sistemik (Scully, 2004).
Etiologi
a) Tekanan
b) Kelembaban
c) Gesekan
Patofisiologi
Tekanan imobilisasi yang lama akan mengakibatkan terjadinya dekubitus, kalau salah
satu bagian tubuh berada pada suatu gradient (titik perbedaan antara dua tekanan). Jaringan yang
lebih dalam dekat tulang, terutama jaringan otot dengan suplai darah yang baik akan bergeser
kearah gradient yang lebih rendah, sementara kulit dipertahankan pada permukaan kontak oleh
friksi yang semakin meningkat dengan terdapatnya kelembaban, keadaan ini menyebabkan
peregangan dan angggulasi pembuluh darah (mikro sirkulasi) darah yang dalam serta mengalami

gaya geser jaringan yang dalam, ini akan menjadi iskemia dan dapat mengalami nekrosis
sebelum berlanjut ke kulit.
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
a) Tanda cidera awal adalah kemerahan yang tidak menghilang apabila ditekan ibu jari.
b) Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus dikulit.
c) Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk demam dan
peningkatan hitung sel darah putih.
d) Dapat terjadi infeksi sebagai akibat dari kelemahan dan perawatan di Rumah Sakit yang
berkepanjangan bahkan pada ulkus kecil.

LESI ULSERATIF
MACAM-MACAM LESI ULSERATIF
A. ULKUS TRAUMATIKUS
Trauma mnggosok gigi, tindik lidah, penyebabnya jamur.Etiologi
Ulserasi oral kambuhan dapat disebabkan oleh beberapa hal, dimana trauma merupakan
penyebab yang paling umum
Gambaran Klinis
-Ulkus tersebut biasanya tampak cekung dan oval bentuknya.
-Tepi daerah lesi akan tampak erithematous yang kemudian akan tampak lebih muda secara
perlahan-lahan karena proses keratinisasi.
-Bagian tengah ulkus biasanya berwarna kuning-kelabu
mukosa bibirPredilesi tempat &pipi, tepi2 lidah, palatum keras
B. SINDROM BEHCET
Rx autoimunEtiologi
mengalami ulserasi pada 3 tempat, yaitu: mata, rongga mulut dan kelamin.
-Photofobia, konjungtivitis(radang pada bag.mata), dan iritis kambuhan kronis pada mata.
-Ulkus yang terjadi mirip dengan apthousa terdapat pada rongga mulut(bibir dan pipi).
-Pada kulit terdapat bercak-bercak makulopapula dan noduler yang melepuh.
C. STOMATITIS APTHOUSA KAMBUHAN (RECURRENT APTHOUS STOMATITIS).
Recurrent Apthous Stomatitis (RAS) merupakan suatu penyakit yang ditendai dengan
ulkus rekuren dan terbatas pada mukosa mulut padien yang tidak memiliki tanda-tanda penyakit
lainnya (Lynch dkk, 1994). Ulkus pada RAS biasanya berbentuk bulat atau ovoid, mempunyai
dasar nekrotik kekuningan dan dikelilingi oleh regio mukosa yang terinflamasi (Wood dan Gooz,
1997). Ulkus jenis ini dibagi menjadi 3 kelompok utama berdasarkan ukurannya, yaitu RAS
minor, RAS mayor dan RAS herpetiform (Langlais dan Miller, 2003). RAS merupakan penyakit

paling umum pada mukosa mulut sekitar 20% populasi (Sircus, 1984).
Gejala
gejala seperti terbakar (prodormal burning) pada 2-48 jam sebelum ulser muncul. Selama
periode initial akan terbentuk daerah kemerahan pada area lokasi. Setelah beberapa jam, timbul
papul, ulserasi, dan berkembang menjadi lebih besar setelah 48-72 jam.
Etiologi
terdapat beberapa penelitian yang mencoba menemukan etiologi lesi ini. Menurut Sircus
(1984), faktor etiologi dikategorikan ke dalam 2 kategori besar, yaitu faktor host dan faktor
lingkungan. Faktor host yang berpengaruh antara lain genetik, nutrisi, penyakit saluran
pencernaan, hormon dan psikologi. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah, infeksi, trauma,
alergi dan merokok.
Faktor herediter, misalnya kesamaan yang tinggi pada anak kembar, dan pada anak-anak yang
kedua orangtuanya menderita RAS
Hematologik defisiensi terutama zat besi, folat, vitamin B12
Alergi terhadap makanan seperti susu, keju, gandum dan terigu
Gangguan hormonal (seperti sebelum atau sesudah menstruasi). Terbentuknya RAS ini pada
fase luteal dari siklus haid pada beberapa penderita wanita
Abnormalitas immunologis atau hipersensitif terhadap organisme oral seperti
Streptococcus sanguis
Trauma lokal
Stress psikologis
Pada penderita yang sering merokok juga bisa menjadi penyebab dari RAS. Pembentukan ulser
pada perokok yang dahulunya bebas simtom, ketika kebiasaan merokok dihentikan
macam-macam :
1. Minor Apthous Ulcer
Ulkus tipe ini merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Ulkus kecil tunggal atau
multipel pada mukosa bukal, mukosa labial, dasar mulut atau lidah. Ulkus berukuran kurang dari
5 mm, sembuh dalam durasi 7 14 hari, sembuh tanpa diikuti pembentukan jaringan parut.
Tanda klinis berupa dasar ulkus berwarna abu-abu kuning, tepi kemerahan, berbentuk oval dan
terasa sakit
2. Major Apthous Ulcer
Ulkus tipe ini terjadi pada 10-15% kasus. Ulkus berukuran lebih besar dengan diameter
lebih dari 5 mm, durasi penyembuhan 2 minggu 3 bulan, sembuh dengan jaringan parut dan
berlokasi pada mukosa berkeratin dan non-keratin terutama pada palatum mole dan area tonsilar.
3. Herpetiform Apthous Ulcer
Ulkus ini terjadi pada 5-10% kasus, berukuran kecil dengan diameter 1-2 mm, multipel,
durasi 7-14 hari, sembuh tanpa jaringan parut, dapat terdiri dari 20-200 ulkus yang timbul
simultan lokasi pada mukosa non keratin, terutama pada dasar mulut dan ventral lidah. Dasar
ulkus berwarna abu-abu tanpa gambaran garis eritematus mirip dengan ulkus hasil infeksi Herpes
Simplex Virus (HSV).
Faktor etiologi RAS berpengaruh pada patogenesisnya. Sampai sekarang masih belum
ditemukan etiologi dan patogenesis yang meusakan mengenai RAS, namun terdapat beberapa

penelitian yang mencoba menemukan etiologi lesi ini. Menurut Sircus (1984), faktor etiologi
dikategorikan ke dalam 2 kategori besar, yaitu faktor host dan faktor lingkungan. Faktor host
yang berpengaruh antara lain genetik, nutrisi, penyakit saluran pencernaan, hormon dan
psikologi. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah, infeksi, trauma, alergi dan merokok.
Menurut Lynch (1994), tujuan utama terapi ulkus adalah untuk mengurangi inflamasi,
menghilangkan rasa sakit dan tidak nyaman serta mempercepat penyembuhan. Penentuan terapi
ulkus tudak dapat dipisahkan dari faktor penyebab ulkus itu sendiri. Penjagaan kebersihan
rongga mulut dapat membantu dalam penyembuhan ulkus, terutama untuk mencegah terjadinya
infeksi sekunder. Penggunaan chlorhexidine sebagai obat kumur dua kali sehari atau jangka
waktu yang pendek. Chlorhexidine tidak dapat digunakan pada semua pasien karena alkohol
yang terkandung di dalamnya dapat menimbulkan rasa pedih pada pasien.
Pengurangan rasa sakit pada ulkus dapat dilakukan melalui pengobatan secara
simptomatik. Rasa sakit pada rongga mulut dapat diobati secara topikal maupun sistemik. Cara
topikal lebih banyak dipilih dibandingkan dengan cara sistemik karena efek samping pengobatan
topikal lebih rendah jika dibandingkan dengan terapi sistemik. Apabila ulkus masih belum
sembuh juga, obat jenis kortikosteroid dapat dianjurkan (Lynch, 1994). Sediaan krin, gel dan
inhaler dapat berasa lebih pahit dan gel dapat mengiritasi. Pasien sebaiknya tidak makan atau
minum selama 30 menit setelah pengolesan steroid supaya memperpanjang waktu kontak. Agen
imunomodulator topikal lainnya juga dapat dianjurkan berbarengan dengan kortikosteroid
topikal (Scully, 2004).
Gambaran Klinis
-Karakteristik lesi ini adalah tampak ulkus berbentuk oval kekuningan, kecil dengan tepi merah
-Terletak pada daerah tanpa keratin yang dapat digerakkan.

letak : mukosa pipi, mukosa bibir, dasar mulut, palatum lunak dan lidah.
DD(deferential Diagnose)
-RAS adalah penyebab paling umum dari ulkus oral berulang dan pada dasarnya didiagnosis
dengan pengecualian penyakit lain
Detail sejarah dan pemeriksaan oleh pengetahuan klinis harus distuingish RAS dari lesi primer
akut seperti stomatitis virus atau dari beberapa lesi kronis seperti pemphigus atau pemphigoid,
serta dari kondisi lain yang terkait dengan bisul berulang seperti penyakit jaringan ikat, reaksi
obat dan kekacauan dermatologi
-Pseudo apthousa
Terapi
Perawatan RAS biasanya berupa perawatan suportif. Tujuan utama dari perawatan ini adalah
untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan. Obat-obat yang biasa digunakan
adalah kortikosteroid topikal, analgesik, dan antimikroba. Untuk kasus ringan dapat
diaplikasikan obat topikal seperti orabase. Sebagai pereda rasa sakit dapat diberikan topikal
anestesi.
Kasus berat dapat diaplikasikan preparat kortikosteroid topikal, seperti triamcinolon atau
fluorometholon (2-3 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur). Tetrasiklin obat kumur dan
gel dapat mempersingkat waktu penyembuhan ulser. Pada pasien ulser major atau multiple ulser
minor yang parah yang tidak responsif terhadap terapi topikal, diberikan terapi sistemik.

Untuk menghindari terjadinya RAS, diantaranya dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta
mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama pada makanan yang mengandung vitamin B12 dan
zat besi. Selain itu, dianjurkan juga untuk menghindari stres.
Aplikasi anestesi topikal atau pemberian obatkumur anestetik dapat digunakan untuk mengurangi
rasa nyeri pada lesi. dalam. Rasa nyeri pada lesi dapat dikurangi dengan pemberian obat kumur
anestetik. Pemberian antiseptik kumur seperti clorhexidine terbukti dapat mengurangi nyeri
walaupun tidak begitu nyata.
Antibiotik broad spectrum seperti penisilin dapat digunakan untuk mencegah infeksi sekunder
oleh bakteri terutama jika lesi ulkus parah dan dalam.
d. antibiotika, analgetika (bila diperlukan)

D. ULKUS PSEUDO-APTHOUSA
Defisiensi nutrisiEtiologi
Gambaran Klinis
-Ulkus blat-oval, kekuning-kuningan, cekung terletak pada mukosa tanpa keratin yang dapat
digerakkan.
Predilesi Daerah-daerah yang umum terserang meliputi mukosa bibir,Tempat mukosa pipi,
dasar mulut lidah, dan kadang-kadang palatum lunak. Lidah dapat menunjukkan paila-papila
yang atrofi.
E. APTHOUSA MAJOR
Belum diketahuiEtiologi
Gambaran Klinis
-Multipel
-Ulkus asimetris dan unilateral
-Lesi sering disertai dengan inflamasi, diameter besar dan bagian tengahnya nekrotik serta
cekung, sakit, tepi lesi kemerahan,
-Dapat sembuh dalam beberapa minggu atau bulan, recurrent
Predilesi Tempat : palatum lunak,mukosa bibir&pipi,lidah;dpt meluas ke gusi cekat
F. ULSERASI HERPETIFORMIS
virus herpes simplek (HSV), biasanya tipe 1Etiologi
Gambaran Klinis
-Ulkus timbul berkelompok dengan diameter 1 2 mm, multipel, bergabung dan batasnya tidak
jelas
-Mukosa di sekitar ulkus kemerahan dan sakit, periode inkubasi 3-7 hari.
ujung anterior lidah, mukosa bibir, dasar mulutPredilesi Tempat

G. ULKUS GRANULOMATOSUS
Gambaran Klinis
-Ulkus bulat, tanpa gejala, biasanya terjadi pada dorsum lidah atau sudut bibir.
-Seringkali bersama-sama dengan limfadenopati leher dan gangguan pernafasan primer.
-Penyakit mulut timbul setelah infeksi paru-paru yang lamanya berminggu-minggu sampai
berbulan-bulan. ulkus oral dapat menetap selama berbulan-bulan sampai bertahn-tahun jika
penyakit yang menjadi dasar tidak dirawat.
H. KARSINOMA SEL SQUAMOSA
Etiologi Lesi ini sering kali tampak sebagai ulkus, dalam tahap ini biasanya kecil, tidak sakit
dan tidak mengalami ulserasi. Teapi sifat menetap dari ulkus tersebut akan mengakibatkan
proliferasi neoplastik yang akan segera akan mempengaruhi pasokan darah sehingga akan
mnenjadi telengiektasia dan pembetukan ulkus yang lebih besar.
Gambaran Klinis
-Kebas, leokoplakia, eritroplakia, keras, lengket, berjamur dan limfodenopati.
-Keganasan lesi ini berjalan lambat dan seringkali baru Nampak setelah ukurannya meningkat.
-Ulkus kekuning2an,tanpa sakit dg tepi2 keras merah
I. KEMOTERAPI TERAUPETIK
Lesi ini dapat timbul akibat penggunaan obat-obatan imunosupresan untuk berbagai penyakit
seriusEtiologi
Gambaran Klinis
-Adanya ulserasi tidak teratur pada bibir, mukosa bibir, pipi, lidah dan palatum.
-Lesi ini sangat sakit dan mengganggu mastikasi dan penelanan.
bibir, mukosa pipi, lidah, dasar mulut, palatumPredilesi Tempat
LESI VESSIKOBULOSA
MACAM-MACAM LESI VESIKOBULOSA
1. Herpes Zoster
pengaktifan kembali virus VaricellaEtiologi
Gambaran Klinis :
-Lesi-lesinya adalah vaskuler, ulseratif
-Biasanya sangat sakit
-Umumnya mengenai bibir, lidah, dan mukosa pipi.
Tampak adanya Lesi Lepuh2 vesikuler dan pustuler(vesikel kecil yg tinfeksi dan berisi nanah)
unilateral yg tmbul stlah 1-3 hr.
Gejala Gejala dari herpes jenis ini adalah pada 3-4 hari sebelum timbulnya herpes
zoster, penderita merasa tidak enak badan, menggigil, demam, mual, diare atau sulit berkemih.

Terkadang penderita merasakan nyeri, kesemutan atau gatal di kulit yang terkena.
Gejala lain, muncul sekumpulan lepuhan kecil berisi cairan dikelilingi oleh daerah
kemerahan. Lepuhan ini hanya terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf yang
terkena. Lepuhan paling sering muncul di batang tubuh dan biasanya hanya mengenai satu sisi
(kanan saja atau kiri saja). Daerah yang terkena biasanya peka terhadap berbagai rangsangan
(termasuk sentuhan yang sangat ringan) dan bisa terasa sangat nyeri.
Patofisiologi Penyebab herpes zoster adalah virus varicella-zoster, virus yang juga
menyebabkan cacar air. Infeksi awal virus varicella-zoster (yang bisa berupa cacar air) berakhir
dengan masuknya virus ke dalam ganglia (badan saraf) pada saraf spinalis maupun saraf
kranialis dan virus menetap disana dalam keadaan tidak aktif. Herpes zoster tejadi jika virus
kembali aktif. Kadang pengaktivan kembali virus ini terjadi jika terdapat gangguan pada sistem
kekebalan akibat suatu penyakit (misalnya karena AIDS atau penyakit Hodgkin) atau obatobatan yang mempengaruhi sistem kekebalan. Biasanya, penyebab dari pengaktivan kembali
virus ini tidak diketahui.
2. GHP Gingivostomatitis Herpetika Primer
Gingivostomatitis herpetika primer adalah suatu penyakit yang ditandai dengan lesi
ulserasi pada lidah, bibir, mukosa gingiva, palatum durum dan molle.
Etiologi Gingivostomatitis herpetika primer merupakan bentuk tersering dari infeksi
HSV tipe 1 pada rongga mulut. Gingivostomatitis Herpetika Primer lebih banyak terjadi pada
anak dan remaja
Gambaran Klinis
-Tepi Gusi bwarna Merah Padam
-Pembengkakan pd Papila Interdental, multipel.
Gambaran klinis bersifat
akut, demam, anoreksia. Pada intraoral terdapat gingivitis, lesi vesikula kemudian pecah dan
terjadi ulserasi.pada mukosa oral, lidah dan bibir
tepi gusi yang berwarna merah padam dan edemaGejala
-pembengkakan pada papilla interdental
-mudah terjadi pendarahan.
-disertai simptom demam, anoreksia, limfadenopati dan sakit kepala.
Petofisiologi GHP memiliki Periode inkubasi hingga 2 minggu. Fase prodromal
ditandai malaise dan kelelahan, sakit otot dan kadang sakit tenggorokan. Pada tahap awal nodus
limfe submandibular sering membesar dan sakit. Fase prodromal ini berlangsung 1-2 hari dan
diikuti dengan timbulnya lesi oral dan kadang sirkumoral. Vesikula kecil berdinding tipis
dikelilingi dasar eritematous yang cenderung berkelompok timbul pada mukosa oral. Vesikula
kemudian pecah dengan cepat dan menimbulkan ulser bulat dangkal. Ulser dapat terjadi pada
semua bagian mukosa mulut.

3. Herpangina
herpangina) adalah penyakit akut yang sembuh sendiri tanpa pengobatan, penyakit virus
yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, berupa demam, sakit tenggorokan disertai lesi pada
faring berukuran 1 2 mm berbentuk papulovesikuler berwarna abu-abu dengan dasar eritematus
dan berkembang secara perlahan menjadi lesi yang sedikit lebih besar. Lesi ini yang biasanya
muncul pada dinding anterior faucium dari tonsil, palatum molle, uvula dan tonsilnya sendiri,
muncul sekitar 4 6 hari sesudah mulai sakit. Penyakit ini tidak fatal.
Gambaran Klinis
-Vesikel berpapil abu-abu muda yang pecah membentuk ulkus-ulkus yang dangkal, besar, dan
multipel.
-Lesi ini mempunyai tepi erithematous dan berbatas pada pilar-pilaranterior, palatum lunak,
uvula, dan tonsil.
gejala : faringitis,sakit kepala,demam,limfangitis

4. Varicella
Varisela adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus varisela-zoster (vvz).
Penyakit ini terutama mengenai anak-anak dan merupakan infeksi primer vvz pada individu yang
rentan (imunokompromais). Virus masuk kedalam tubuh manusia melalui mukosa saluran nafas
atas dan orofaring, menuju kelenjar getah bening regional, kemudian terjadi multiplikasi virus
masuk kedalam peredaran darah diikuti oleh viremia primer. Virus masuk ke sel sistem
retikuloendotelial yang merupakan tempat replikasi utama virus selama masa inkubasi. Dua
minggu setelah infeksi, terjadi viremia sekunder yang menyebabkan demam, malese dan timbul
lesi di kulit dan mukosa. Setelah sembuh, virus dalam keadaan dorman pada sel ganglion dorsalis
sistem saraf sensoris yang pada keadaan tertentu dapat mengalami reaktivasi bermanifestasi
sebagai herpes zoster.
Varicella ZosterEtiologi
Gambaran Klinis
-Vesikel pd kulit dan wajah yg mirip tetesan embun
-Scra intra oral ulkusnya tmpak pd palatum mole, mukosa pipi dan lipatan mukobukal
gejala : Menggigil,demam
Patofisiologi Infeksi virus ini akan menimbulkan ruam berwarna merah dan gatal.Ruam
tersebut bermula dengan bintik merah kecil yang terlihat seperti jerawat atau gigitan serangga.
Bintik-bintik ini kemudian berkembang menjadi kantong-kantong berdinding tipis dan berisi
cairan yang awalnya berwarna bening, namun berubah menjadi kelabu. Setelah dua hingga
empat hari, kantong-kantong itu pun pecah sehingga menjadi luka terbuka, mengering, lalu
mengering dan berubah ke warna coklat.

Satu atau dua hari sebelum ruam muncul, si anak akan mengalami demam, sakit perut, sakit
tenggorokan, sakit kepala, atau lemas.
5. Pemphigous Vulgaris
Rx AutoimunEtiologi
Gambaran Klinis
-Bula yg mdah pcah serta mninggal kan ulser yg tdk teratur(dimulut)
-Lepuh bsar tutama d daerah yyg teerkena trauma(dikulit)
Patofisiologi Pemphigus vulgaris adalah penyakit autoimmune berupa bula yang bersifat
kronik, dapat mengenai membran mukosa maupun kulit dan ditemukannya antibodi IgG yang
bersirkulasi dan terikat pada permukaan sel keratinosit, menyebabkan timbulnya suatu reaksi
pemisahan sel-sel epidermis diakibatkan karena tidak adanya kohesi antara sel-sel epidermis,
proses ini disebut akantolisis dan akhirnya terbentuknya bula di suprabasal.

6. Sindrom Sjogren
Rx AutoimunEtiologi
Gambaran Klinis
-Produksi keringat berkurang, pmbengkakan kelenjar, xerostomia(hiposaliva)
Gejala Gejala-gejala utama pada sindrom ini adalah kekeringan mulut dan mata.
Lainnya, sindrom Sjgren juga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit, hidung, dan vagina.
Sindrom ini juga dapat mempengaruhi organ lainnya seperti ginjal, pembuluh darah, paru-paru,
hati, pankreas, dan otak.
Sindroma Sjogren (SS) merupakan inflamasiPatofisiologi kronik dan penyakit
autoimun yang dikarakteristikkan dengan hipofungsi eksokrin dan kelainan serologis yang
menyebabkan kekeringan pada mulut, mata dan pembesaran kelenjar parotis. Etiologi dari
penyakit ini masih belum diketahui, namun banyak ilmuwan meyakini kondisi ini memiliki
keterkaitan dengan gangguan autoimunitas. Keluhan xerostomia merupakan keluhan utama yang
memicu terjadinya gangguan fungsi pada penderita seperti kesulitan berbicara, makan, dan
bahkan menelan. Penderita SS yang memakai gigitiruan juga akan mengeluhkan adanya
kesukaran dalam menggunakan protesa. Diagnosa penyakit ini dapat ditegakkan dengan
beberapa metode pemeriksaan seperti metode scintigraf, metode schirmer dan metode sialografi.
Sebagai tambahan dilakukan biopsi untuk memastikan diagnosa dari penyakit sindrom sjogren
ini Tujuan dari perawatan SS adalah untuk meredakan simtom dan mengurangi resiko kerusakan

dalam jangka waktu panjang. Perawatan ini dapat dilakukan dengan merangsang produksi saliva
baik secara lokal maupun sistemik hingga dengan menggunakan saliva pengganti