You are on page 1of 5

MAKNA ZAHIR DAN BATIN AL-QURAN | HARKAMAN

1 of 5

https://harkaman01.wordpress.com/2013/12/09/makna-zahir-dan-batin-...

HARKAMAN
Milik Saya Untuk Semua

TAPI KAMU, TAPI AKU TERLAHIR KEMBALI DI TAHUN BARU

December
9, 2013

Harkaman

Pendidikan, Qawaid at-Tafsir

Leave a comment

MAKNA ZAHIR DAN BATIN


AL-QURAN
Oleh: Harkaman, M. Hazir Rahim,
Nenden Pupu
A.

Abstraksi

Al-Quran
mengandung
kemungkinan makna yang tak
terbatas. Ia menghadirkan berbagai
pemikiran dan penjelasan pada tingkat dasar dan eksistensi yang absolut. Dengan
demikian, ia selalu terbuka, tak pernah tetap dan tertutup hanya pada satu
penafsiran makna. Itulah kalimat dari pemikir keturunan Al-Jazair, Muhammad
Arkoun, yang dapat memberi gambaran keluasan makna yang terkandung dalam
al-Quran, sebagaimana yang dikutip Quraish Shihab (Membumikan Al-Quran,
2011).
Untuk memulai pembahasan kali ini, perlu diketahui bahwa dalam pembahasan
semantik (makna bahasa), karakteristik teks yang paling penting dalam kajiankajian kritis kontemporer ialah perbedaan antara teks yang berwatak murni
informatif dengan teks berwatak sastra. Pada teks yang berwatak murni
informatif, teks hanya mengandalkan aspek kejelasan sebagai tolak ukur rendah
dan tingginya makna ayat. Akan tetapi, pada yang berwatak sastra, tidak hanya
berbeda dengan teks-teks lainnya (kejelasan makna), teks juga mampu berbeda
dengan dirinya sendiri (Nasr Abu Zaid, 2002).
Sebagai contoh bagaimana teks membedakan dan menjelaskan dirinya dapat kita
lihat pada ayat-ayat makki dan madani atau nasikh dan mansukh. Bila kita
mengambil dan meneliti contoh ayat-ayat semacam itu, akan kita dapati bahwa
selain maknanya yang informatif, al-Quran memiliki keluwesan tersendiri yang
memungkinkan lahirnya pemahaman yang berbeda. Dengan kata lain, pada
hakikatnya, yang menyebabkan perbedaan pemahaman terhadap ayat al-Quran
tidaklah satu arah (di pihak pembaca), melainkan juga berada di pihak teks itu
sendiri, karena teks memiliki semacam mekanisme tersendiri untuk mebedakan
dirinya sendiri.
Berangkat dari sana, al-Quran sebagai pedoman seharusnya tidak dimaknai
sebagai benda mati di hadapan umat muslim, karena sebagaimana ia menjelaskan
dirinya sendiri (yufassiru baduhu badhan), al-Quran nyata-nyata bukanlah teks
statis, sebaliknya justru mewujudkan dirinya sebagai teks yang sangat hidup dan
dinamis. Namun, kedinamisan al-Quran tidaklah berimplikasi pada inkonsistensi,
melainkan variasi makna sesuai realitas.
Dalam perkembangan dan interaksi yang dinamis serta mekanisme yang
dibangun untuk dirinya sendiri tersebutlah, dapat kita benarkan bahwa al-Quran
di samping melingkupi aspek zahir, ia juga melingkupi aspek batin. Maka, pada

28/12/2016 20:43

MAKNA ZAHIR DAN BATIN AL-QURAN | HARKAMAN

2 of 5

B.

https://harkaman01.wordpress.com/2013/12/09/makna-zahir-dan-batin-...

Kata Kunci

Zahir, Batin, Takwil, Tafsir, Nash, Muawwal, Mujmal, Muhkam, Mutasyabih.


C.

Seputar Definisi

Blog at WordPress.com.

Umumnya, makna zahir adalah makna yang ditunjukkan lafadz dan dipahami dari
wacana Arab. Dalam kitab tafsir wa mufassiruun karya az-Zahabi, disebutkan
bahwa lafadz al-Quran adalah dimensi zahir, sedangkan dimensi yang disebut
sebagai batin adalah takwilnya.[1] Dalam pendekatan semantik mengenai ayat
zahir dan batin, Nasr Abu Zaid (2002) menyebutkan empat pembagian makna teks
dimana zahir tidak langsung tergolong dalam yang terjelas. Di antara pembagian
itu ialah nash, dzahir, takwil atau muawwal, dan mujmal.
Yang dimaksud dengan makna teks Nash adalah ia sangat jelas dan tidak
mengandung kemungkinan makna lain kecuali satu makna, seperti dalam ayat,
Maka, puasa tiga hari pada saat haji dan tujuh hari setelah kamu pulang,
jumlah harinya sepulu hari penuh
Kemudian, yang disebut Zahir adalah makna teks yang jelas, namun memiliki
kemungkinan makna lain, maka makna yang dipilih adalah yang diunggulkan,
seperti pada ayat, Maka, barangsiapa yang terpaksa secara tidak aniaya dan
tidak melampaui batas Padahal, kata baghi dalam pengertian melampaui
batas dapat juga bermakna tidak mengetahui.
Sementara itu, takwil atau muawwal adalah teks yang mengandung lebih dari
satu makna, namun yang dipilih adalah makna yang jauh disebabkan adanya dalil,
seperti pada ayat, Dan, Dia bersamamu di mana pun kamu berada. Kata
bersama (Maa) di sini tidak mungkin dimaknai sebagai kedekatan zat, maka harus
dialihkan menjadi seperti kekuasaan atau ilmu.
Kemudian, makna mujmal adalah makna yang kadang bisa tersurat dan bisa juga
tersirat, ia memerlukan sesuatu yang tersembunyi. Dalam hal ini, maknanya
bersifat indikatif (dhimniyyah).
Dalam bukunya, Husain ad-Dzahabi mengutip pandangan para ulama terdahulu
mengenai makna zahir dan batin, di antaranya adalah pendapat Abu Ubaidah dan
Ibn Nuqaib. Menurut Abu Ubaidah, Makna zahir adalah kabar dari kisah-kisah
al-Quran tentang umat terdahulu dan cobaan yang ditimpakan bagi mereka,
sementara aspek batinnya adalah nasihat dan peringatan al-Quran dari kabar dan
kisah tersebut. Sementara itu, menurut Ibn Nuqaib, makna zahir adalah sesuatu
yang maknanya jelas bagi ahli ilmu, sementara makna batin adalah makna yang
terkandung dari rahasia-rahasia yang diangkat (disingkap) Allah bagi ahli hakikat.
Berangkat dari sana, tingkatan makna tersebut memengaruhi munculnya corak
penafsiran tertentu yang biasa kita nisbahkan sebagai Tafsir Isyariy dan Tafsir
Bathiniy. Kedua corak penafsiran ini memiliki orientasi yang sama, yaitu
menyingkap makna terdalam (hakiki) dari al-Quran. Kendati demkian, Quraish
Shihab membedakan keduanya. Menurutnya, perbedaan terletak pada pandangan
terhadap lafadz/kalimat ayat. Dalam tafsir isyari diakui lafadz dan maknanya,
namun ditambahkan makna baru dari isyarat yang diperolehnya. Berbeda dengan
itu, pada penafsiran batini, yang diakui bukanlah makna kalimat yang digunakan,
melainkan makna isyarat yang dimaksud ayat. Dengan kata lain, makna lahiriah
lafadz untuk orang-orang awam, sedangkan makna batinnya untuk orang-orang
khusus.
D.

Pembuktian

Untuk mengawali pembicaraan mengenai makna ayat al-Quran yang sifatnya zahir
dan batin, penulis terlebih dulu mengutip firman Allah Swt. yang berbunyi
sebagaimana berikut:
Demi kitab (Al Quran) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al
Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan Sesungguhnya Al
Quran itu dalam Induk Al kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar
Tinggi (nilainya) dan Amat banyak mengandung hikmah. (QS. Az-Zukhruf: 2-4).
Ayat di atas menjadi landasan bagi para sufi, bahwa sesungguhnya al-Quran itu
memiliki tingkatan, yaitu al-Quran yang berada di alam materi dan al-Quran yang
tidak berada di alam materi. Selain ayat tersebut di atas, ada beberapa ayat lainnya
yang juga menjelaskan adanya tingkatan makna di dalam al-Quran:
Katakanlah: Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang
itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
(QS. An-Nisa : 78).
Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran
itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak
di dalamnya. (QS An-Nisa: 82).

28/12/2016 20:43

MAKNA ZAHIR DAN BATIN AL-QURAN | HARKAMAN

3 of 5

https://harkaman01.wordpress.com/2013/12/09/makna-zahir-dan-batin-...

Dan beberapa riwayat juga menyebutkan secara gambling tentang makna yang
terkandung di dalam al-Quran.
:

Alfuryabi meriwayatkan hadits hasan mursal dari Rasulullah Saw.
Sesungguhnya Nabi bersabda, Setiap ayat itu mempunyai makna zahir dan
bathin, setiap huruf terdapat batasan, dan setiap batasan terangkat.
:
[2].
Ad-Dailami meriwayatkan hadits marfu dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah
Saw. Bersabda, Al-Quran itu di bawah arsy, terdapat makna zahir dan batin
yang menjadi hujjah bagi para hamba.
Ayat Zahir
Berdasarkan contoh-contoh dan pemaparan di atas, untuk kambali memperjelas
pamahaman kita terkait makna zahir dan batin ayat, berikut penulis
menyampaikan beberapa contoh di antaranya:
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
(QS. Ar-Rahman).
Pada ayat tersebut di atas kata wajhu berarti wajah. Akan tetapi bertentangan
dengan ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak menyerupai sesuatu. Oleh karena
itu, makna yang paling kuat adalah dzat. Jadi yang dimaksudkan ayat tersebut di
atas adalah Dzat Tuhan yang kekal.
Ayat Batin
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153).
Kata maa yang berarti bersama tidak bisa diartikan secara zahiriah, karena
mustahil keberadaan Tuhan bersama dengan hamba-Nya dalam makna lahir. Oleh
karena itu, katamaa harus diartikan secara batin agar dapat dipahami
maksudnya. Hal semacam inilah yang akan menggiring kita kepada penafsiran
bathiniah.
Pendalaman Akal
Untuk melakukan pendalaman argumentasi rasional terkait makna zahir dan batin,
penulis membatasi diri untuk meninjaunya dari pandangan seorang filosof dan
mufassir besar, yaitu Sadr al-Din Muhammad Shirazi (979-1050/1571-1642). Ia
dikenal dengan sebutan Sadr al-Mutaallihin atau Mulla Sadra. Ia juga adalah salah
seorang filosof terbaik Iran, selain Ibn Sina, yang hidup di era dinasti Safawi.
Sebenarnya Sadra memang merupakan pemikir yang mendalami irfan, karena itu
corak penafsirannya pun lebih mengarah ke sana. Namun, sejak ia tinggal di
Shiraz, di akhir hayatnya, ia memutuskan untuk membuat tafsir yang lebih
komprehensif, yang tidak berat sebelah pada hanya satu metode. Oleh karena itu,
kita bisa mendapati pada tafsiran Mulla Sadra beberapa corak lain, termasuk
riwayat dan linguistik.
Dalam metodologi penafsiran Mulla Sadra, hal yang harus dipahami lebih awal
untuk mengurai keniscayaan makna zahir dan batin adalah bahwa dunia tempat
kita tinggal ini berada di tingkatan terendah dari tingkatan seluruh realitas. Dalam
teorinya, ia menggagas gradasi (tasykik) yang menjelaskan keseragaman realitas
sekaligus keberagaman realitas itu sendiri berdasarkan tingkatan alamnya.
Biasanya konsep ini dapat kita pahami melalui konsep wujud yang hakikatnya satu
(sama), namun berdasarkan tingkatannya memiliki perbedaan derajat dari yang
paling sederhana hingga yang paling berangkap. Setali dengan itulah, ia membagi
realitas ke dalam alam materi atau fisik, immateri atau imajinal, dan intelektual
atau supra-imajinal.[3]
Berpijak dari pemaparan di atas, Mulla Sadra juga menerapkan hal yang sama pada
teks suci al-Quran yang diyakininya mewakili realitas hakiki. Lantaran itu, teks
al-Quran selain yang kita lihat dan baca di dunia ini, juga memiliki realitasnya di
tingkatan yang lebih tinggi, mulai dari imajinal, hingga supra-imajinal.
Mulla Sadra menentukan sarat tertentu untuk seseorang dapat dikatakan pantas
disebut penafsir esoteris al-Quran. Menurutnya, di samping seseorang memiliki
penglihatan batin dan kemampuan menyingkap dan menangkap makna, ia juga
harus menguasai ilmu-ilmu lahir, seperti Linguistik dan Syariat agar satu ayat
dengan ayat lainnya tidak saling bertentangan.
Sebagai contoh, kala menafsirkan makna cahaya pada surat an-Nur. Menurut
Sadra, cahaya di sana tidak bermakna cahaya sebagaimana yang kita pahami
sehari-hari atau dari sebatas penjelasan bahasa dan Teologi yang terhijab dari
makna hakiki cahaya itu sendiri. Lebih jauh dari itu, cahaya adalah salah satu
asma Allah Yang Agung; Dia-lah yang dengan nama tersebut memancarkan
cahaya-Nya (iluminasi) dan mengaktualisasikan realitas serta mewujudkan

28/12/2016 20:43

MAKNA ZAHIR DAN BATIN AL-QURAN | HARKAMAN

4 of 5

https://harkaman01.wordpress.com/2013/12/09/makna-zahir-dan-batin-...

mahiyahnya.
Lebih lanjut, menurut Sadra, cahaya bisa termasuk dalam makna ekuivokal
(musytarak lafdzhi), makna literal, dan makna metafora. Sebagai contoh, cahaya
dapat dimaknai cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya intelek, cahaya iman, bahkan
cahaya takwa. Maknanya tetap satu dan tidak bertentangan, hanya saja
bahasanya berbeda sesuai tingkat realitas dari nasut hingga malakut.
Makna cahaya tidak bisa didefinisikan melalui demonstrasi (burhan). Ia adalah
realitas non-komposit (basith) yang tidak memiliki genus dan diferensia. Alih-alih
dijelaskan, justru ialah yang menjelaskan segala seuatu (brings to manifestation),
karena ia jelas dengan sendirinya (self-manifesting). Oleh karena itu, dari sana
Mulla Shadra menguraikan cahaya dalam gradasi, dari yang rendah hingga paling
tinggi; realitas cahaya tetaplah satu, namun intensitasnya berbeda. Terakhir,
sebagaimana mata kita tidak dapat melihat cahaya yang telalu terang, begitupun
Cahaya Hakiki (nuur ala nuur) tidak dapat dilihat bukan karena tidak jelas
sebagaimana zhulmah, namun karena cahaya pada diri-Nya terlau terang. Mulla
Shadra berkata, cahaya di dunia ini saja bisa kabur karena intensitasnya yang
sangat terang, lalu bagaimana denga cahaya intelek yang berada pada puncak
intensitas? Pikirkan!
Sampai di sini, pendekatan rasional terhadap makna zahir dan batin Sadra dapat
kita simpulkan ke dalam dua metodologinya, yaitu (1) bahwa satu ayat dengan ayat
lainnya dalam al-Quran tidak bertentangan. Karena itu, dengan logika, kala
seseorang mengaitkan satu ayat dengan ayat lainnya, ia niscaya memperoleh
makna baru yang logis. Saat itu, seseorang telah menelusur masuk dari dimensi
zahir ke dimensi batin. Hal ini sesuai dengan argumentasi bahwa zahir adalah batin
yang turun (tanzil) dan batin adalah zahir yang naik (takwil). Kemudian, (2) bahwa
untuk memperoleh makna batin, seseorang melakukan penyucian diri, yaitu
menyingkap melalui hatinya yang bersih dan melakukan perjalanan spiritual.
E.

Kesimpulan

Setelah penjelasan di atas, dapat kita simpulkan beberapa hal penting terkait
makna zahir dan batin ayat. Yang pertama, bahwa adanya zahir dan batin dalam
al-Quran adalah keniscayaan sebagai teks yang dinamis, bahwa al-Quran lebih
memiliki pengaruh bagi timbulnya beragam penafsiran ketimbang penafsir itu
sendiri. Kedua, bahwa pengertian yang tergolong makna zahir adalah yang
bermakna jelas (nash) dan memiliki kecenderungan lebih kuat (dzhahir),
sementara yang tergolong makna batin adalah yang bermakna lemah, namun
dipilih karena adanya dalil (takwil) dan yang bermakna tidak jelas, kecuali ada
yang mejelaskan (qarinah). Ketiga, sangat jelas kita lihat bahwa baik dalil teks
maupun akal, keduanya membenarkan adanya makna zahir dan batin.
Demikianlah makalah singkat kami, semoga dapat mencerahkan kita semua. Bila
didapati kesalahan di berbagai aspek, mohon saran dan kritiknya. Salam.
Referensi
Husain Az-Zahabi, Muhammad. 2000. Al-Tafsir wa al-Mufassiruun. Jilid II.
Kairo: Maktabah Wahbah.
Shirazi, Mulla Sadra. 2004. On the Hermeneutics of the Light Verse of the Quran.
London: ICAS.
Khamanei, S.M. 2006. The Quranic Hermeneutics of Mulla Sadra. Tehran: Sadra
Islamic Philosophy Research Institute.
Abu Zaid, Nasr Hamid. 2002. Tekstualitas Al-Quran: Kritik terhadap Ulumul
Quran. Yogyakarta: LKiS.
Salim, Fahmi. 2010. Kritik terhadap Studi Al-Quran Kaum Liberal. Jakarta:
Perspektif.

[1] At-tafsiir wa al-Mufassiruun, hal.262.


[2]Muhammad Husain Az-Zahabi. Al-Tafsir wa al-Mufassiruun. Jilid II. (Kairo:
2000). Hal. 262.
[3] S.M. Khamanei. 2006. The Quranic Hermeneutics of Mulla Sadra. Tehran:
Sadra Islamic Philosophy Research Institute.

28/12/2016 20:43

MAKNA ZAHIR DAN BATIN AL-QURAN | HARKAMAN

5 of 5

https://harkaman01.wordpress.com/2013/12/09/makna-zahir-dan-batin-...

Share this:

Be the first to like this.

Related

STUDI AL-QUR'AN

SAINS DALAM DUNIA


ISLAM

ILMU AKHLAK
"Pengertian, Dasar dan
Tujuaanya"

Leave a Reply

TAPI KAMU, TAPI AKU TERLAHIR KEMBALI DI TAHUN BARU

28/12/2016 20:43