You are on page 1of 11

Analisis Biaya Transaksi Kelembagaan Kelompok Tani di Indonesia

Axellina Muara Setyanti


Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
Email: axellinamuara@gmail.com
Abstrak
Pembentukan kelompok tani banyak disebutkan sebagai solusi atas
permasalahan-permasalahan dasar pertanian di Indonesia: lemahnya posisi
daya tawar; ketidakberdayaan menegosiasikan harga; serta keterbatasan modal,
di tengah realita bahwa 90 persen petani Indonesia masih berskala kecil.
Kelompok tani berperan sebagai sarana kolektivikasi dan wadah untuk
menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian. Idealnya, kerjasama
di dalam kelompok akan mengurangi ongkos waktu dan pemasaran. Maka
melalui pendekatan teori biaya transaksi dalam studi literatur, akan digambarkan
bahwa kelembagaan kelompok tani dalam kondisi idealnya, akan mengurangi
biaya transaksi dan menguntungkan petani. Di sisi yang lain, ia justru
meningkatkan biaya transaksi dan merugikan petani dan sekaligus menjadi
sinyal adanya inefisiensi dalam kelembagaan yang bersangkutan.
Kata kunci: Kelompok tani, Biaya transaksi, Kelembagaan
PENDAHULUAN
Struktur masyarakat Indonesia hingga saat ini adalah bercorak agraris,
yang ditunjukkan oleh sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya
dari sektor pertanian, baik dalam bentuk sawah, ladang, kebun, atau yang lebih
luas lagi dengan beternak, mencari hasil hutan, serta sektor perikanan baik laut
maupun air tawar. Selama periode 2011-triwulan I 2016, BPS mencatat bahwa
sektor pertanian masih merupakan sektor dengan pangsa penyerapan tenaga
kerja terbesar, walaupun ada kecenderungan menurun. Penyerapan tenaga kerja
di sektor pertanian pada tahun 2011 adalah sekitar 39 juta tenaga kerja atau
sekitar 39,45 persen dari total penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2015
penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan menjadi 37,7 juta tenaga kerja
atau 33,99 persen dari total penyerapan tenaga kerja namun kembali meningkat
pada triwulan I 2016 sebanyak 38,2 juta tenaga kerja. Berikut tabel penyerapan
tenaga kerja sektor pertanian pada tahun 2011-triwulan I 2016:

Tabel 1: Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan


Utama Sektor Pertanian Tahun 2011-Triwulan I 2016

Lapangan Pekerjaan
Utama

2011

Pertanian,
Perkebunan,
Kehutanan, Perburuan
dan Perikanan

39.088.271

Total Penyerapan
Tenaga Kerja

107.416.309

2012

39.590.054

2013

2014

2015

TW I 2016

39.220.261

38.973.033

37.748 .228

38.291.111

112.504.868 112.761.072

114.628.026

114.819.199

120.647.697

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2016.

Dalam sudut pandang ekonomi, salah satu hal yang menjadi permasalahan
adalah sampai saat ini pula sistem pertanian Indonesia mayoritas berada dalam
sistem pertanian subsisten skala mikro dengan luas lahan hanya beberapa meter
persegi dan atau penguasaan ternak beberapa ekor saja, atau bahkan tenaga
kerja yang terserap dalam sektor pertanian hanya berperan sebagai petani
penggarap yang tidak memiliki lahannya sendiri.
Sebaran petani menurut luas penguasaan menunjukkan bahwa bagian
terbesar adalahpetani dengan luas penguasaan antara 0.10.49 hektar. Kondisi
pertanian gurem ini paling banyak ditemui di Pulau Jawa, lokasi dimana 58
persen petani Indonesia berada. Dengan batas atas 1 hektar saja, sekitar 90
persen diantara seluruh petani termasuk dalam kategori petani kecil, dan
selanjutnya jika batas atas yang digunakan adalah 0.5 hektar maka persentase
petani yang tercakup dalam kelompok tersebut juga masih lebih dari dua pertiga
(sekitar 69 persen) (Sumaryanto, 2009)
Memang sampai saat ini belum ada suatu definisi yang secara ringkas dan
tegas menjelaskan ukuran petani kecil (pertanian berskala kecil). Lazimnya
definisi petani kecil yang selama ini banyak diacu adalah terkait dengan
smallness dari size lahan usahatani dan atau jumlah ternak yang dimiliki atau
dikelolanya. Misalnya untuk luas usahatani yang sama, petani tanamanpangan
pada sebagaimana umumnya tentulah tidak sebanding dengan petani yang
memproduksi komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi dengan akses pasar
modern yang telah mapan. Namun tetap saja impilkasinya adalah, kecilnya skala
pertanian berimplikasi pada ketidakberdayaan petani.

Petani dihadapkan pada pasar masukan usahatani yang oligopolistik dan


pasar keluaran usahatani yang oligopsonistik. Secara terpisah ataupun
bersamaan, struktur pasar tersebut menciptakan perilaku pasar yang kurang
menguntungkan petani yang performanya tercermin dari tingkat harga dimana
petani harus membayar masukan yang lebih tinggi dan menerima harga
penjualan hasil panen yang lebih rendah dari level normatifnya (Sumaryanto,
2009).
Hal-hal yang harus ditempuh untuk mengatasi hal tersebut yaitu melalui
pendekatan kerja sama kelompok (Adiwilaga,1982). Upaya yang dapat dilakukan
petani untuk menaikkan posisi daya tawarnya adalah dengan melakukan
konsolidasi dengan petani lain dalam satu wadah untuk menyatukan gerak
ekonominya dalam setiap rantai pertanian, dimulai dari pra produksi hingga
pemasaran. Konsolidasi tersebut pertama dilakukan dengan kolektivikasi
aktivitas, meliputi kolektivikasi modal -mengingat minimnya modal juga
merupakan permasalahan yang akut bagi pertanian berskala kecil, kolektivikasi
produksi, dan kolektivikasi pemasaran. Begitu pula dalam Yustika (2013),
tindakan kolektif merupakan suatu jalan yang bisa diambil sebagai cara
mengatasi posisi tawar yang rendah (lower bargaining position). Kerjasama di
antara petani dapat berupa negosiasi harga dengan pedagang yang akan
meningkatkan posisi daya tawar tersebut dalam mengontrol penentuan harga. Di
luar itu, kerjasama idealnya juga akan mengurangi ongkos waktu dan
pemasaran.
Kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) banyak digunakan
sebagai wadah kolektivikasi tersebut. Pembentukan kelompok tani di Indonesia
telah diatur secara formal dalam Peraturan Menteri dan diarahkan untuk
memberdayakan petani agar memiliki kekuatan mandiri, memanfaatkan azas
skala ekonomi, menerapkan inovasi, sehingga memperoleh tingkat pendapatan
dan kesejahteraan yang layak. Namun yang terjadi adalah kondisi organisasi
kelompok tani masih banyak bersifat non formal dan sebagian besar hanya
berorientasi sebagai sarana menerima bantuan pemerintah, belum sepenuhnya
diarahkan

untuk

memanfaatkan

peluang

ekonomi

melalui

peningkatan

aksesibilitas terhadap informasi teknologi, permodalan, dan pasar yang


diperlukan bagi pengembangan usaha pertanian.
Ekonomi biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang banyak
digunakan dalam ilmu ekonomi kelembagaan untuk mengukur efisien tidaknya

desain suatu kelembagaan, dalam hal ini kelompok tani. Tulisan ini melalui studi
literatur, ingin mengetahui apakah kolektivikasi aktivitas ekonomi sebagaimana
yang telah dijabarkan sebelumnya, telah mengurangi biaya transaksi bagi petani
(yang mana merupakan sinyal positif untuk meningkatkan daya tawar dan
keberdayaannya),

ataukah

justru

meningkatkan

biaya

transaksi

karena

memperpanjang rantai pemasaran hasil pertanian.


TINJAUAN PUSTAKA
Teori Biaya Transaksi
Pandangan neoklasik menganggap pasar berjalan secara sempurna tanpa
biaya, karena pembeli (atau konsumen) memiliki informasi yang sempurna dan
penjual (atau produsen) saling berkompetisi sehingga menghasilkan harga yang
rendah (Stone et al dalam Yustika 2013). Namun pada kondisi nyata, informasi,
kompetisi, sistem kontrak, dan proses jual beli bisa sangat asimetris. Satu pihak
sangat mungkin memiliki informasi yang lebih, dibandingkan pihak lain.
Kemudian inilah yang menimbulkan adanya biaya transaksi.
Furubotn dan Richter (dalam Yustika, 2013) menunjukkan bahwa biaya
transaksi adalah ongkos untuk menggunakan pasar (market transaction costs)
dan biaya melakukan hak untuk memberikan pesanan di dalam perusahaan
(managerial transaction costs). Di samping itu, ada juga rangkaian biaya yang
diasosiasikan untuk menggerakkan dan menyesuaikan dengan kerangka politik
kelembagaan (political transaction costs). Untuk masing-masing tiga jenis biaya
transaksi tersebut bisa dibedakan menurut dua tipe: (1) biaya transaksi tetap
(fixed transaction costs), yaitu investasi spesifik yang dibuat di dalam menyusun
kesepakatan kelembagaan (institutional arrangements); dan (2) biaya transaksi
variabel (variable transaction costs), yakni biaya yang tergantung pada jumlah
dan volume transaksi. Pada poin ini, sifat dari biaya transaksi sama dengan
ongkos produksi, di mana keduanya mengenal konsep biaya tetap dan biaya
variabel. Namun dalam identifikasi yang mendalam, tentu membedakan antara
biaya tetap dan variabel dalam biaya transaksi tidak semudah apabila
membandingkannya dalam biaya produksi.
Dalam pembahasan teori biaya transaksi dikenal dua konsep rasionalitas
terbatas (yang bertolak dari asumsi rasionalitas sempurna (perfect rationality)
yang diyakini oleh kaum neoklasik) dan perilaku oportunistik yang muncul akibat
ketidaksimetrisan informasi. Manusia memiliki rasionalitas yang terbatas

didasarkan pada dua prinsip: pertama, bahwa individu atau kelompok yang terdiri
dari individu-individu memiliki batas-batas kemampuan untuk memproses dan
menggunakan informasi yang tersedia, sedangkan informasi yang tersedia
sangatlah banyak dan kompleks. Kedua, setiap pelaku ekonomi akan
menghadapi informasi yang tidak lengkap atau ketidakpastian informasi.
Sedangkan perilaku oportunistik merujuk pada upaya untuk mendapatkan
keuntungan melalui praktik yang curang di dalam transaksi, misalnya dengan
memanfaatkan kekuasaan.
Pembentukan Kelompok Tani di Indonesia
Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007,
kelompok tani adalah kelembagaan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas
dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi,
dan sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan
usaha anggotanya. Kelompok tani ditumbuhkembangkan dari, oleh dan untuk
petani yang saling mengenal, akrab, saling percaya, mempunyai kepentingan
dalam berusahatani, kesamaan dalam tradisi, pemukiman, jenis usahatani, dan
sebagainya.
Dalam Nasrul (2012), berdirinya kelompok tani dapat menjadi konsolidasi
petani dalam satu wadah untuk menyatukan gerak ekonomi dari pra produksi
hingga pemasaran. Hal ini dapat dilakukan dengan kolektifikasi semua proses
dalam rantai pertanian meliputi koletivitas modal, kolektivitas produksi hingga
pemasaran sebagai berikut :
1. Kolektivikasi modal yaitu upaya membangun modal secara kolektif dan
swadaya. Misalnya adanya jasa simpan pinjam produktif yang wajib bagi anggota
untuk menabung dan meminjamkan sebagai modal produksi bukan untuk
konsumtif.
2. Kolektivikasi produksi yaitu suatu perencanan produksi secara kolektif
untuk menentukan pola, jenis, kuantitas serta siklus produki secara kolektif.
Kolektivitas produksi perlu untuk mencapai efisiensi produksi dengan skala
produksi besar dari banyak produsen, sehingga dapat dilakukan penghematan
biaya faktor produksi dan kemudahan dalam pengelolaan produksi seperti daam
penanganan hama.
3. Koletivikasi pemasaran yaitu upaya mendistribusikan komoditas pertanian
secara kolektif dimana bertujuan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran

dengan skala kuantitas yang besar dan menaikkan prosisi tawar produsen dalam
penjualan komoditasnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dominasi tengkulak
yang menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga secara individual,
merubah pola relasi yang merugikan petani produsen, serta membuat pola
distribusi yang lebih efisien dengan pemangkasan rantai pemasaran yang kurang
menguntungkan.
Fungsi dan Tujuan Kelompok Tani
Dalam pengembangannya kelompok tani memiliki tiga fungsi yaitu sebagai
kelas belajar, wadah kerjasama dan unit produksi. Sebagai unit produksi,
usahatani yang dilaksanakan oleh masing masing anggota kelompok tani, secara
keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat
dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi
kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.
Untuk

dapat

dikembangkan

secata

tepat,

kelompok

tani

sangat

membutuhkan sumber-sumber informasi yang tersedia dalam bidang teknologi,


sosial, permodalan, sarana produksi dan sumber daya alam lainnya secara
lengkap dan akurat. Di samping harus lengkap, sumber-sumber informasi itu juga
harus dapat dipercaya. Apabila sumber-sumber informasi itu datanya kurang
lengkap, maka di dalam pengambilan keputusan dan kesimpulan, serta saransaran yang akan dikemukakan kemungkinan kurang sempurna. Informasi
merupakan

landasan

menguntungkan.

untuk

Sebagai

unit

mengembangkan
produksi

produksi

kelompok

tani

yang
harus

lebih
mampu

memperkuat, memperlancar dan sekaligus mendorong pengembangan produksi


yang menguntungkan, baik pengembangan produksi anggota kelompok tani
tersebut maupun produksi dari usaha bersama yang dikelola oleh kelompok. Hal
ini sesuai dengan tujuan yang sudah disebutkan, bahwa pembentukan kelompok
yaitu untuk memberikan pelayanan, manfaat ekonomi dan sosial secara
berkelanjutan bagi anggotanya (Permentan Nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007).
PEMBAHASAN
Beberapa hal yang perlu disampaikan di awal pembahasan tulisan ini adalah
Pertama, kelompok tani yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kelompok tani
secara umum yang ada di Indonesia (namun contoh spesifik akan disampaikan
pula sebagai ilustrasi). Kedua, biaya transaksi dalam pembahasan ini

disimplifikasi ke dalam dua bentuk, yakni biaya transaksi anggota kepada


kelompok itu sendiri, serta biaya transaksi kelompok tani dengan pihak lain di
luar kelompok, misalnya tengkulak atau pedagang. Ketiga, penyebab biaya
transaksi dapat begitu beragam sehingga faktor-faktor yang dianggap sebagai
penyebab dalam pembahasan adalah inefisiensi kelembagaan kelompok tani,
yang mana ia justru memperpanjang rantai distribusi hasil pertanian. Untuk itu,
pendekatan yang dianggap sesuai adalah ex-ante dan ex-post (sebelum dan
sesudah terbentuknya kelompok tani), di mana ingin ditunjukkan dua hasil yang
berbeda bahwa di suatu kondisi, kelompok tani dapat mengurangi biaya transaki,
dan bersamaan di kondisi yang lain justru menambah biaya transaksi.
Penelitian yang dilakukan Lowisada (2014) dengan studi pada pertanian
Kelompok Tani Bawang Merah Mardi Rahayu di Kecamatan Sukomoro,
Kabupaten Nganjuk dihasilkan kesimpulan bahwa pemberdayaan kelompok tani
disana mampu memberikan kontribusi pada pendapatan usahatani anggota
kelompok termasuk harga pupuk yang lebih terjangkau bagi anggota kelompok,
bantuan permodalan dari Gapoktan, mempermudah untuk mendapat sawah
lelang dengan harga lebih rendah, serta menciptakan kemudahan informasi
tentang bantuan pemerintah baik berupa permodalan dan sarana produksi.
Analisisnya adalah, dalam hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, kelompok
tani Mardi Rahayu menunjukkan fungsi mengurangi biaya transaksi. Yang paling
terlihat adalah dalam hal pelelangan sawah. Dengan posisi daya tawar yang
lebih tinggi melalui gapoktan, petani tidak hanya berperan sebagai penerima
harga, namun dapat menegosiasikannya.
Namun di sisi lain, pemberdayaan kelompok tani belum optimal dalam hal
penyediaan permodalan secara mandiri bagi anggotanya, permodalan dari
Gapoktan masih rendah dan bergiliran, partisipasi anggota yang rendah, pola
tanam yang belum sesuai aturan pertanian, serta belum ada upaya dari
Gapoktan, dan KUD untuk menyimpan, mengolah, dan memasarkan bawang
merah khususnya ketika harga mengalami penurunan yang tajam.
Hasil penelitian lain oleh Saputra (2012) yang mengambil studi pada
pertanian kedelai di Desa Bade, Boyolali, Jawa Tengah, berkesimpulan bahwa
pemberdayaan petani melalui pengorganisasian formal secara umum belum
menunjukkan keberhasilannya. Eksistensi kelompok tani dipengaruhi oleh
negara melalui aturan formal dan pasar. Negara menginginkan petani untuk
diorganisasikan secara formal, namun pasar menginginkan petai (baik secara

kelompok maupun individu) berperilaku efisien dan menguntungkan. Dari empat


kelompk tani yang ada, satu bahkan telah lama berhenti beroperasi karena pada
awalnya, pembentukan kelembagaannya dipaksakan hanya untuk menerima
bantuan pertanian. Setelah proyek selesai dijalankan, maka usai pula kegiatan
yang dilakukan dalam kelompok. Dalam hal ini, meskipun kelompok tani tidak
menambah biaya transaksi, tetapi ia juga tidak menguntungkan dengan
mengurangi biaya transaksi secara berkelanjutan. Yang ada yakni hilangnya
tujuan kelompok tani untuk menciptakan kemandirian kelompok dan anggotanya.
Secara umum, hingga saat ini potret kelompok tani tani di Indonesia diakui
masih belum optimal dalam menjalankan fungsi kelembagaan yang diharapkan.
Atau dengan kata lain kelopok tani kita saat ini belum melembaga secara formal.
Beberapa aspek yang masih melekat pada kondisi lembaga tani kita saat ini
diantaranya minimnya wawasan dan pengetahuan petani terhadap aspek
manajemen produksi maupun manajemen pemasaran belum terlibatnya petani
secara utuh dalam kegiatan agribisnis. Saat ini petani masih konsern pada
aspek lahan (on farm) serta peran lembaga atau organisasi tani belum berjalan
secara optimal.
Dalam Syahyuti (2004), beberapa aspek yang semestinya diperhatikan untuk
mengembangkan kelembagaan, khususnya kelembagaan di sektor pertanian
seperti kelompok tani adalah pertama, dibutuhkan iklim mikro yang sadar
kelembagaan. Masyarakat bukan jumlah dari individu-individu yang saling bebas,
namun mereka semua terikat pada kelembagaan-kelembagaan. Tidak hanya
satu, tetapi bisa lebih. Kelembagaan merupakan wadah beraktivitas setiap
manusia, dan tak ada satu manusia pun yang tidak terikat ke dalam setidaknya
satu kelembagaan. Karena itu, salah satu jalan untuk memperbaiki individu
adalah dengan menekanny melalui kelembagaan-kelembagaan di tempat mana
ia berada.
Kedua, objeknya adalah kelembagaan, bukan individu. Individu-individu
secara sosial akan memilih satu kelembagaan sebagai wadah aktivitasnya. Tak
ada satu aktivitas yang dapat dilakukan secara bebas sama sekali. Kelembagaan
secara fungsional menghidupkan sistem sosial. Karena itu, membentuk
kelembagaan jelas lebih rasional, lebih efisien, dan ekonomis; daripada membina
individu satu per satu. Eksistensi kelembagaan sejatinya tidak tergantung kepada
satu individu, tapi kepada sejumlah orang. Artinya, aktivitas yang dilakukan
melalui kelembagaan akan lebih ekonomis daripada kepada individu per individu.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk memperkuat kinerja


suatu kelompok sosial adalah melalui pendekatan social learning process. Dalam
pendekatan ini, seluruh anggota kelompok belajar bersama, mengalami
bersama, dan menyelesaikan segala persoalan secara bersama-sama. Tidak
hanya sekedar solusi yang baik, tapi yang lebih penting adalah bagaimana
prosesnya sehingga suatu solusi dapat dicapai. Dengan jalan ini, selain mampu
meningkatkan kapasitas individualnya, juga meningkatkan interaksi antar
sesamanya. Diharapkan diperoleh perbaikan dari sisi kerjasamanya, peningkatan
komitmen terhadap tujuan, atau mungkin perubahan struktur yang dipandang
lebih baik.
Ketiga, membangun kelembagaan baru yang dapat berupa penggantian atau
tambahan. Perubahan sosial akan cenderung berbentuk proses penggantian,
karena

pada

masyarakat

yang

sudah

hidup

sekian

lama,

sudah

mengembangkan dan menjaga struktur sosial dan kompleks nilai yang stabil.
Pada masyarakat dimaksud, sudah ada organisasi, pelaku yang jelas, kompleks
peran, nilai, norma, dan hukum yang diterima dan dijalankan dengan harmonis.
Keempat, menggunakan dan memperkuat modal sosial. Modal sosial
berisikan tiga hal pokok, yaitu kepercayaan (trust), norma yang dijalankan, serta
jaringan sosial. Kepercayaan merupakan elemen esensial pembentuk sistem
sosial menjadi lebih sehat dan kokoh, merupakan ruh kehidupan sosial, dan
mengurangi biaya transaksi.
Kelima, memperbaiki kelembagaan yang rusak. Suatu yang pernah ada dan
rusak, akan memperoleh kesan yang berbeda bagi masyarakat dibandingkan
dengan sesuatu yang baru. Apa yang dapat dilakukan dengan kelembagaan
rusak adalah misalnya dengan melakukan rekonstruksi sosial dan mengelola
konflik dengan menghindari paksaan (coercion). Memperbaiki kembali hubungan
horizontal dapat dilakukan dengan mengubah struktur kelembagaan yang
mengatur alokasi sumberdaya untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki.
KESIMPULAN
Kelembagaan diperlukan dalam menjawab permasalahan-permasalahan
dasar sektor pertanian seperti lemahnya posisi daya tawar; ketidakberdayaan
menegosiasikan harga; serta keterbatasan modal. Kelembagaan pertanian
seperti kelompok tani dalam seharusnya mampu memberikan jawaban atas
permasalahan di atas. Namun, kenyataannya kelembagaan petani cenderung

hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek dan


perantara penerimaan bantuan dari pemerintah, belum sebagai upaya untuk
pemberdayaan yang lebih mendasar. Terlihat dari banyaknya program ataupun
kegiatan hanya sekedar berjalan dan tidak menunjukkan keberlanjutan.
Ke depan, agar dapat berperan sebagai aset komunitas masyarakat desa
yang partisipatif, maka pengembangan kelembagaan harus dirancang sebagai
upaya untuk peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri sehingga menjadi
mandiri.

Dengan

revitalisasi

dan

reorientasi

lembaga

kelompok

tani,

kelembagaan ini diharapkan dapat kembali ke tujuan awal pembentukannya


yakni menciptakan kolektivitas yang memperkuat posisi daya tawar anggota,
memperkuat permodalan, memperluas cakupan pemasaran, yang bermuara
pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, Anwas. 1982. Ilmu Usahatani. Bandung : Penerbit Alumni.
Lowisada,

Shita

Anggun.

2014.

Pemberdayaan

kelompok

Tani

dalam

Meningkatkan Pendapatan Usahatani Bawang Merah. Malang: Jurnal


Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Nasrul,

Wedy.

2012.

Pengembangan

Kelembagaan

Pertanian

Untuk

Peningkatan Kapasitas Petani terhadap Pembangunan Pertanian.


Menara Ilmu Vol. 3, (No 29): 166-174
Saputra, Tangkas. 2012. Kelompok Tani sebagai Basis Ekonomi. Depok: Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Indonesia
Sumaryanto. 2009. Eksistensi Pertanian Skala Kecil dalam Persaingan Global.
Dipresentasikan dalam Seminar Nasional Peningkatan Daya Saing
Agribisnis Beorientasi Kesejahteraan Petani di Bogor, 14 Oktober 2009
Syahyuti. 2004. Model Kelembagaan Penunjang Kelembagaan Pertanian di
Lahan Lebak dalam Aspek Kelembagaan dan Aplikasinya dalam
Pembangunan Pertanian. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sosial Ekonomi Pertanian
Yustika, Ahmad Erani. 2013. Ekonomi Kelembagaan: Definisi, Teori, dan Strategi,
Jakarta: Penerbit Erlangga