You are on page 1of 1

Laporan kasus : Sekuele cedera otak traumatik

dr. Ronald Sidharta

PENDAHULUAN
Trauma kepala atau cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab
kecacatan dan kematian yang cukup tinggi dalam neurologi dan menjadi masalah
kesehatan oleh karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan
produktif.1
Kasus cedera kepala terbanyak sekitar 80% akibat kecelakaan lalu lintas.
Dari data epidemiologis di Amerika Serikat, terdapat sekitar 17 sampai 25 orang
per 100.000 penduduk mengalami trauma kepala atau sekitar 1,5 juta orang per
tahun. Data epidemiologi di Indonesia belum ada, tapi data dari RSCM dari tahun
ke tahun untuk penderita rawat inap, ada 60-70% dengan cedera kepala ringan
(CKR), 15-20% cedera kepala sedang (CKS) dan 10% cedera kepala berat (CKB).
Kebanyakan penderita berusia kurang dari 35 tahun.1,2
Cedera kepala menyebabkan berbagai gangguan pada otak baik secara
struktur maupun fungsi otak. Menurut Giza (2016) sekuele cedera otak traumatik
mencakup kumpulan gejala dan tanda yang luas berupa nyeri kepala, kejang,
gangguan nervus-nervus kranialis, keluhan psikologis dan somatik, gangguan
kognitif, serta gejala lain yang jarang.3
Sekuele cedera otak traumatik menimbulkan keluaran yang kurang baik
karena mempengaruhi kualitas hidup dari penderitanya dan saat ini telah menjadi
perhatian publik karena konsekuensi ekonomi yang di timbulkannya. Dengan
demikian perlu mendapat perhatian mengenai deteksi dan penatalaksanaan
khususnya di bidang Neurologi.3
Berikut akan dibahas suatu laporan kasus sekuele cedera otak traumatik
dengan gejala yang ada adalah kejang, nyeri kepala, gangguan kognitif.