You are on page 1of 39

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki
angka prevalensi kasus TBC yang cukup tinggi, khususnya pada masyarakat
dengan golongan ekonomi menengah ke bawah. Penyakit TBC adalah suatu
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga
sebagai Batang Tahan Asam (BTA). (Depkes RI, 2009)
WHO memperkirakan TBC menyebabkan 6% dari semua kematian di
seluruh dunia, penyebab tersering kematian akibat infeksi bakteri tunggal dan
pada masyarakat dengan sosio ekonomi yang rendah. Pada negara
berkembang seperti halnya Indonesia, TBC masih menjadi masalah utama.
Indonesia menjadi negara ketiga yang mempunyai kasus TBC terbanyak di
dunia setelah India dan Cina dengan jumlah penderita sekitar 10% dari total
jumlah penderita TBC di dunia dan menempati urutan ke empat penyebab
kematian terbanyak di Indonesia. (WHO,2009)
Penderita TBC di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 231.370 orang.
Provinsi dengan peringkat 5 tertinggi penderita TBC adalah Jawa Barat, Jawa
Timur, Jawa Tengah, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan. Perkiraan Kasus
TBC Paru BTA positif di Jawa Barat sebanyak 44.407, Jawa Timur sebanyak
39.896, Jawa Tengah sebanyak 35.165, Sumatra Utara sebanyak 21.197, dan
Sulawesi Selatan sebanyak 16.608. (Depkes RI, 2009)

1

Pembuatan diagnosis tuberkulosis paru kadang-kadang sulit, sebab
penyakit tuberkulosis paru yang sudah berat dan progresif, sering tidak
menimbulkan gejala yang tidak spesifik. Gejala dan luasnya penyakit maupun
lamanya sakit, sering tidak mempunyai korelasi yang bermakna. Hal ini
disebabkan oleh karena penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit paru
yang dapat menyerupai banyak penyakit (great imitator), dan mempunyai
diagnosis banding hampir pada semua penyakit paru dan banyak penyakit lain
yang mempunyai gejala umum berupa panas dan batuk. (Aditama &
Yulherina, 2003)
Berdasarkan data sekunder tahun 2010 sampai dengan 2013
diperoleh dengan mencatat data yang ada di

yang

Puskesmas Kepadangan,

didapatkan bahwa Desa Kepatihan memiliki angka kejadian Tuberkulosis paru
yang tinggi jika dibandingkan dengan 9 Desa yang ada di wilayah puskesmas
Kepadangan. Di Desa Kepatihan ini 16 orang yang tercatat sebagai penderita
Tuberkulosis Paru. Dengan tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di
Desa Kepatihan dibandingkan 9 Desa lainnya di Kecamatan Tulangan
Kabupaten Sidoarjo ini membuat peneliti tertarik untuk menganalisis
bagaimana pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis
Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan
Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo.

B. Rumusan masalah

2

Bagaimana pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis
Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan
Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo?
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh

tingkat

pengetahuan

masyarakat

tentang

Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru
di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo
2.

Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden yang meliputi usia dan pekerjaan
b. Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang
Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis
Paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo.

D. Manfaat penelitian
1. Manfaat bagi masyarakat
a. Memberikan pengetahuan

tentang

penyakit

tuberkulosis

dalam

meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berobat ke Unit Pelayanan
Kesehatan terdekat.
2. Manfaat bagi peneliti
a. Untuk menerapkan ilmu yang telah diberikan selama pendidikan
khususnya dalam bidang penelitian dan menambah pengalaman serta
keterampilan dalam melihat penyakit yang ada di masyarakat
khususnya yang berhubungan dengan tuberkulosis.
Memberikan pengetahuan tentang penyakit tuberkulosis

dalam

meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berbahayanya penyakit
tuberkulosis.
3. Manfaat bagi instansi terkait

3

(Hariadi. Manfaat bagi pengembangan ilmu a. sehingga akan meningkatkan kualitas hidup penderita serta memberi masukan kepada petugas kesehatan tentang pentingnya penyuluhan tentang penyakit tuberkulosis.9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. 2010) B. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8. Sebagai masukan data dan sumbangan pemikiran perkembangan pengetahuan untuk peneliti selanjutnya terutama yang berhubungan dengan tuberkulosis II. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat khususnya penderita tuberkulosis.a. dimana 3.8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru. A. DEFINISI Tuberkulosis TINJAUAN PUSTAKA adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. EPIDEMOLOGI Tuberkulosis (TBC) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. 4. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TBC terjadi 4 .

Insiden Penyakit Tuberkulosis di Seluruh Dunia (WHO.1. namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100. 2006) Diperkirakan angka kematian akibat TBC adalah 8000 setiap hari dan 2 .3 juta setiap tahun. 2009) Gambar 2. Indonesia termasuk negara yang dikategorikan sebagai high. China.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia Tenggara yaitu 350 per 100.000 penduduk.di Asia Tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TBC di dunia. dimana prevalensi HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TBC yang muncul. (WHO. 2009) Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2009.000 penduduk. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TBC terdapat di Asia Tenggara yaitu 625. Angka krmatian tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100. (Sudoyo.000 pendduduk. Afrika Selatan dan 5 .000 orang atau angka kematian sebesar 39 orang per 100.burden countries terhadap TBC Paru yaitu menduduki peringkat kelima sebagai negara penyumbang penyakit TBC setelah India.

410 orang kasus baru dan 37.924 orang untuk kasus baru dan 33.Nigeria.007 orang pada kasus baru dan total kasus menjadi 41. kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2005 sebanyak 20. sedangkan untuk semua tipe menduduki peringkat ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Tengah. (Dinas Kesehatan Jawa Timur.404 orang. sehingga TBC paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibanding organ lainnya. CARA PENULARAN Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah poses penularan dan berperan sekali atas penularan kasus TBC. Proses terjadinya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis biasanya secara inhalasi.2011 menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada tahun 2005 dan 2011 pada jumlah kasus baru dan jumlah kasus secara keseluruhan.624 untuk semua jumlah kasus. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang 6 .511 orang untuk jumlah kasus kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2011 sebanyak 26. Provinsi Jawa Timur menempati urutan kedua di Indonesia dalam jumlah penderita TBC BTA positif kasus baru dibawah Provinsi Jawa Barat.344 orang untyk jumlah kasus.720 kasus baru dan 66. Pada tahun 2004 penderita TBC sebanyak 16.000 kematian akibat TBC (WHO. Diperkirakan setiap tahun ada 429. 2011) C. Penderita TBC di Jawa Timur pada tahun 2004.789 orang pada kasus baru dan 28. Hal serupa juga terjadi pada tahun 2010 sebanyak 23. 2009).

PATOGENESIS Menurut Werdhani dan Retno Asti (2002) dalam bukunya Patofisiologi. Akan tetapi. makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TBC dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Karena ukurannya yang sangat kecil.2006) D. (Sudoyo. Bambang. Jika fokus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah. pada sebagian kecil kasus. penularan bisa melalui inokulasi langsung. dapat mencapai alveolus. Dari fokus primer. kuman TBC menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe regional. Lokasi pertama koloni kuman TBC di jaringan paru disebut Fokus Primer (GOHN). Kuman TBC dalam makrofag yang terus berkembang biak. Dan Klafisikasi Tuberkulosis Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TBC. Setyohadi. yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TBC dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TBC. Diagnosis. kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe 7 . akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. Pada TBC kulit atau jaringan lunak..mengandung droplet nuclei khususnya yang didapat dari pasien TBC paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). kuman TBC dalam percik renik (droplet nuclei) yang terhirup. Masuknya kuman TBC ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik.

sedangkan jika fokus primer terletak di apeks paru. yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain. Selama masa inkubasi.parahilus. begitu sistem imun seluler berkembang. yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler. mengalami perkembangan sensitivitas. kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis). yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Setelah kompleks primer terbentuk. terjadi pertumbuhan logaritmik kuman TBC sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi terhadap tuberkulin. Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TBC hingga terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TBC. Pada sebagian besar individu dengan sistem imun yang berfungsi baik. yaitu timbulnya respons positif terhadap uji tuberkulin. proliferasi kuman 8 . Selama minggu-minggu awal proses infeksi. infeksi TBC primer dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. Masa inkubasi TBC biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. imunitas seluler tubuh terhadap TBC telah terbentuk. uji tuberkulin masih negatif. kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103-104. Kompleks primer merupakan gabungan antara fokus primer. Dalam masa inkubasi tersebut. Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah.

TBC terhenti. Bila imunitas seluler telah terbentuk. Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkan ateletaksis. Kuman TBC dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini. tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan paru. fokus primer di jaringan paru biasanya mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis pengejuan dan enkapsulasi. kuman TBC baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan. Setelah imunitas seluler terbentuk. sehingga menyebabkan TBC endobronkial atau membentuk fistula. Namun. Kelenjar limfe hilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi. sejumlah kecil kuman TBC dapat tetap hidup dalam granuloma. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus. Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Komplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh fokus paru atau di kelenjar limfe regional. akan membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu. Jika terjadi nekrosis pengejuan yang berat. Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus sehingga menyebabkan gabungan 9 .

Fokus potensial di apkes 10 . tulang. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik. Kuman TBC kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. misalnya otak. Di berbagai lokasi tersebut. kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya oleh imunitas seluler. Melalui cara ini. ginjal. kuman TBC menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. dan paru sendiri. Pada penyebaran limfogen. Selama masa inkubasi. sebelum terbentuknya imunitas seluler. dapat terjadi penyebaran limfogen dan hematogen. terutama apeks paru atau lobus atas paru. Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). kuman TBC akan bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya.pneumonitis dan ateletaksis. tetapi berpotensi untuk menjadi fokus reaktivasi. Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit. yang sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TBC disebut sebagai penyakit sistemik. kuman TBC masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Sedangkan pada penyebaran hematogen. kuman tetap hidup dalam bentuk dorman.

bila daya tahan tubuh pejamu menurun. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui cara ini akan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm. Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran hematogenik generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini. TBC tulang. Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted hematogenic spread. yang disebut TBC diseminata. misalnya meningitis. fokus TBC ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TBC di organ terkait.paru disebut sebagai Fokus SIMON. sejumlah besar kuman TBC masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh. yang secara histologi merupakan granuloma. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TBC secara akut. Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic spread dengan jumlah kuman yang besar. dan lain-lain. Istilih milier berasal dari gambaran lesi diseminata yang menyerupai butir padi (millet seed). misalnya pada balita. Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TBC yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.Tuberkulosis diseminata terjadi karena tidak adekuatnya sistem imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TBC. TBC diseminata ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi. Bertahun-tahun kemudian. Secara patologi anatomi. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu fokus pengejuan menyebar ke saluran vaskular di dekatnya. sehingga sejumlah 11 .

a. sakit TBC akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan dengan acute generalized hematogenic spread. Diagnosis. 2002) Gambar 2. Retno.2. 2002) E. Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru. Dan Klafisikasi Tuberkulosis 1. Secara klinis. 12 . (Retno Asti. tidak termasuk pleura.kuman TBC akan masuk dan beredar di dalam darah. yaitu: a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif. Hal ini dapat terjadi secara berulang. KLASIFIKASI Klasifikasi yang digunakan Menurut Werdhani dan Retno Asti (2002) dalam bukunya Patofisiologi.A. Patogenesis Tuberkulosis (Werdhani. TBC paru dibagi atas: 1) TBC dengan BTA positif (+). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA).

kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu antibiotik selama 2 minggu. c) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif. gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif. 2) TBC dengan BTA negatif (-) a) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif. 13 .b) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. kemudian dievaluasi. 2) Kasus kambuh (relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. b) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan Mycobacterium tuberculosis. Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan : a) Infeksi non TBC (pneumonia. b. Berdasarkan tipe pasien: Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu : 1) Kasus Baru Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.

tulang. ginjal. misalnya pleura. Tuberkulosis Ekstra Paru Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. 4) Kasus gagal a) Pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan). perikard. 6) Kasus bekas TBC a) Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TBC yang tidak aktif. 14 . persendian.b) Infeksi jamur c) TBC paru kambuh 3) Kasus defaulted atau drop out Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. usus. 5) Kasus kronik Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik. saluran kencing. kelenjar getah bening. kulit. alat kelamin dan lain-lain. 2. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung. b) Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan dan telah mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi. b) Pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan. selaput otak.

(Sudoyo. dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar. b. a. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit. DIAGNOSIS Menurut Djojodibroto (2005) dalam bukunya Respirologi dan Sudoyo. pemeriksaan bakteriologik. bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat). Bambang. Gejala Klinis Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan. maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. 2006) F. pemeriksaan fisik/jasmani. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TBC ekstra paru aktif. dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Bambang (2006) dalam bukunya Ilmu Penyakit Dalam jilid II Edisi IV Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik. 1.Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Setyohadi. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus. Gejala sistemik 1) Demam 15 . Setyohadi. yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. radiologik dan pemeriksaan penunjang lainnya. Gejala Respiratorik 1) Batuk lebih dari 2 minggu 2) Batuk darah 3) Sesak nafas 4) Nyeri dada Gejala respiratorik ini sangat bervariasi.

kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. Pada pleuritis tuberkulosa.Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.2) Gejala sistemik lain: malaise. terlihat pembesaran kelenjar getah bening. suara napas melemah. tandatanda penarikan paru. serta daerah apeks lobus inferior (S6). Gejala tuberkulosis ekstra paru Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat. kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ yang terlibat. Pada perkusi ditemukan pekak. Pada tuberkulosis paru. 2. ronki basah. amforik. misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening. pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan. berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial. pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis. anoreksia. diafragma & mediastinum. Pada limfadenitis tuberkulosa. tersering di daerah leher (harus dipikirkan kemungkinan metastasis 16 . kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 & S2). keringat malam. c. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik.

cairan pleura. bilasan bronkus. Cara pemeriksaan dahak dan bahan yang lain Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura. liquor cerebrospinal. faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH) b. Bahan pemeriksaan Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. c. 1 kali negatif : BTA positif 17 . Cara pengumpulan dan pengiriman bahan Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS): 1) Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan) 2) Pagi ( keesokan harinya ) 3) Sewaktu/spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturut-turut. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak. faeces dan jaringan biopsi. Pemeriksaan Bakteriologik a. urin. kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL).tumor). Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi “cold abscess”. 3. kurasan bronkoalveolar /BAL. liquorcerebrospinal. termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara : 1) Pemeriksaan mikroskopis Mikroskop biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen Mikroskop fluoresens: pewarnaan Auramin-Rhodamin (khususnya untuk screening) lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila : a) 3 kali positif atau 2 kali positif. bilasan lambung. bilasan bronkus. kadang-kadang di daerah ketiak. urin. bilasan lambung.

disebut +++ (+3). dan dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis. tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform). ditulis jumlah kuman yang ditemukan. top-lordotik. Skala IUATLD (International Union Against Tuberkulosis and Lung Disease) : Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang. d) Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang.b) 1 kali positif. b) Agar base media : Middle brook. Pada pemeriksaan foto thorax. disebut negatif: a) Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang. Kudoh. 2) Pemeriksaan biakan kuman: Pemeriksaan biakan Mycobacterium tuberculosis dengan metode konvensional ialah dengan cara : a) Egg base media: Lowenstein-Jensen. bila 1 kali positif. Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TBC aktif : 18 . Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. 2 kali negatif : BTA positif ii. b) Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+). oblik. CT-Scan. bila 3 kali negatif : BTA negatif Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi WHO). 4. kemudian i. Ogawa. disebut ++ (2+). c) Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang. 2 kali negatif maka pemeriksaan BTA dengan sputum diulang 3 kali kecuali bila ada fasilitas foto toraks. Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti.

Bila proses lebih luas dari lesi minimal. terutama lebih dari satu. c. Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah. dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular. d. biasanya secara klinis disebut luluh paru. bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5).a. Sulit untuk menilai aktivitas lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologi tersebut. Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang). Schwarte atau penebalan pleura Luluh paru (destroyed Lung ) : a. b. Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif) : a. Lesi minimal. Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktivitas proses penyakit. Lesi luas. Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TBC inaktif: a. ektasis/ multikavitas dan fibrosis parenkim paru. serta tidak dijumpai kavitas b. Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari atelektasis. 19 . Kalsifikasi c. Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat. Bayangan bercak milier. b. Kavitas. Fibrotik b.

Cope dan Veen Silverman) 3) Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBCLB) dengan bronkoskopi. Pemeriksaan darah Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Bahan jaringan dapat diperoleh melalui biopsi atau otopsi. b. biopsi paru terbuka. Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan eksudat. c. 4) Otopsi Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan. Pemeriksaan histopatologi jaringan Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TBC.5. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. Analisis cairan pleura Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histologi. Pemeriksaan Lain a. satu sediaan dimasukkan ke dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi. trans thoracal biopsy/TTB. serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa rendah. LED 20 . yaitu : 1) Biopsi aspirasi dengan jarum halus kelenjar getah bening 2) Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram.

Pada malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif. uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik penyakit kurang berarti pada orang dewasa. bula atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali. d. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosisyang tinggi. Uji tuberkulin Uji tuberkulin yang positif menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.sering meningkat pada proses aktif. 21 . Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi. tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis.

Bambang. yaitu tahap intensif dan lanjutan. 22 . b. Alur Diagnosis TBC Paru (Sudoyo.Gambar 2. dilakukan pengawasan langsung (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).3. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip . Pemakaian OATKombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. PENATALAKSANAAN Menurut Aditama dan Yuherina (2003) dalam bukunya Tuberkulosis: diagnosis. 2006) G. Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. 1. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap awal (intensif) a. c. Setyohadi. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan.prinsip sebagai berikut: a. terapi & masalahnya Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan.

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. c. 23 . Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persistent sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.b. namun dalam jangka waktu yang lebih lama b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Tahap Lanjutan a.

Kerangka Konsep FAKTOR PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG: Penyebab Gejala Penularan Pemeriksaan Cara pengobatan Lama pengobatan Tempat pengobatan FAKTOR PETUGAS KESEHATAN : Malas turun ke lapangan Metode SPS tidak tepat Salah memberian info FAKTOR SARANA DAN PRASARANA Akses yang sulit Jarak Puskesmas yang jauh FAKTOR SANITASI LINGKUNGAN Jarak rumah yang berdekatan Ventilasi yang kurang FAKTOR PERILAKU TIDAK HIDUP SEHAT Membuang ludah sembarangan 24 Batuk/bersin tidak menutup mulut Tingginya Angka Kejadian Tuberkulosis Paru Tuberkulo sis Paru .III. KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN A.

diantaranya : Faktor pengetahuan masyarakat tentang penyakit tuberkulosis paru. Dari semua faktor tersebut peneliti hanya melakukan penelitian tentang paengaruh pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tuberkulosis paru 25 . sulitnya akses menuju unit pelayanan kesehatan. lokasi geografis terpencil. petugas pelayanan kesehatan yang kurang proaktif melakukan screening kasus tuberkulosis paru.Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Keterangan : : variabel terikat yang diteliti : variabel bebas : variabel bebas yang diteliti : variabel bebas yang tidak diteliti Tingginya angka kejadian tuberculosis paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo dipengaruhi olah beberapa faktor. lokasi rumah yang terlalu dekat dengan ventilasi yang kurang dan perilaku hidup tidak sehat.

Sedangkan faktor lain yang tidak diteliti digambarkan dalam bentuk kotak berdinding garis putus – putus. Faktor-faktor lain tidak diteliti dikarenakan keterbatasan waktu.yang digambarkan dalam bentuk kotak berdinding garis tidak putus – putus pada skema diatas. 26 . B. Ada hubungan antara pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan Puskesmas Kepadangan. Kabupaten Sidoarjo. Hipotesis 1.

Sampel 27 . Subjek Penelitian 1. (Sudarso. Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini diadakan di Desa Kedung Sukodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian obeservasional Case Control Study yaitu penelitian yang dilakukan dengan pengamatan kelompok dengan faktor resiko atau penyakit dengan kelompok kontrol secara retrospektif. 2. 2007) Populasi dalam penelitian ini adalah semua kepala keluarga di Desa Kepatihan sebanyak 3245.IV. Populasi Populasi adalah sekelompok subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu. C. B. dilaksanakan pada tanggal Agustus 2013 sampai dengan 21 September 2013.

Sampel dalam penelitian ini adalah penderita Tuberkulosis Paru yang berjumlah 16 orang sebagai kelompok kasus dan berdasarkan analisa kesetaraan dipilih 16 orang tanpa dari 1350 Kepala Keluarga dengan metode Systematic Random Sampling.Sampel adalah bagian dengan sampling tertentu dari untuk subyek bisa penelitian memenuhi yang atau dipilih mewakili (representatif) (Sudarso. 2007) 1. Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai yang berarti menunjukkan variasi. meliputi: a) Penyebab b) Gejala c) Jenis pemeriksaan d) Penularan e) Cara pengobatan f) Lama pengobatan g) Tempat pengobatan 2. (Sudarso. Variabel bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah karakteristik responden yaitu usia dan pekerjaan. Variabel Secara umum variabel adalah operasionalisasi dari suatu konsep. 2007). D. dan pengetahuan masyarakat tentang tuberkulosis paru. Variabel terikat 28 .

2010) Kategori Tahu: menjawab Nominal Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis Tidak tahu: jawaban selain Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis 29 Skala .Variabel terikat dalam penelitian ini adalah angka kejadian Tuberkulosis paru yang tinggi E. dari tidak dapat menjadi dapat. (Slamet Hariadi.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional 1. 2005) Tabel 4. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep. dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman. Definisi operasional 1. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari proses mencari tahu. Tuberkulosis Paru Cara Pengukuran Penyakit radang Wawancara parenkim paru yang dengan acuan menular karena kuesioner infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. (Notoatmojo.

laboratorium. Gejala Utama Tuberkulosis paru Wawancara Tahu: menjawab Nominal Tuberkulosis memiliki gejala dengan acuan batuk lebih dari Paru utama berupa batuk kuesioner 3 minggu lebih dari 3 minggu Tidak tahu: jawaban selain batuk lebih dari 3 minggu 3. Laboratorium kuesioner (Darah Lengkap) c. dan foto dada 30 .2. Pemeriksaan untuk menegakkan Tuberkulosis Paru a. dan foto dada Tidak tahu: jawaban selain dahak. Foto thorax/dada Tahu: menjawab Nominal pemeriksaan dahak. Gejala lain Gejala lain yang Wawancara Tuberkulosis menyertai penyakit dengan acuan Paru tuberculosis paru kuesioner yaitu berkeringat malam dan nafsu makan menurun Tahu: menjawab Nominal berkeringat malam dan nafsu makan menurun Tidak tahu: jawaban selain berkeringat malam dan nafsu makan menurun 4. Dahak (sputum Wawancara BTA) dengan acuan b. laboratorium.

Tahu: menjawab Nominal enam bulan Fasilitas kesehatan Wawancara dimana penderita dengan acuan tuberkulosis paru kuesioner bisa mendapatkan obat anti tuberkulosis (OAT) secara gratis yaitu puskesmas atau Rumah Sakit Umum Daerah Tahu: menjawab Nominal Puskesmas atau Rumah Sakit Teknik pengumpulan data 31 Tidak tahu: jawaban selain minum obat anti tuberkulosis Tidak tahu: jawaban selain enam bulan Tidak tahu: jawaban selain Puskesmas atau Rumah sakit . 7. Pengobatan tuberkulosis paru Lama pengobatan Tempat pengobatan tahu: selain atau Apa yang yang harus Wawancara dilakukan penderita dengan acuan tuberkulosis paru kuesioner untuk dapat sembuh dari penyakitnya yaitu dengan minum obat anti tuberkulosis (OAT) Tahu: menjawab Nominal minum obat anti tuberkulosis Rentang waktu yang Wawancara diperlukan penderita dengan acuan tuberkulosis paru kuesioner untuk minum obat secara teratur hingga tuntas yaitu selama enam bulan (dua bulan fase intensif dan empat bulan fase lanjutan). 8. F.5. Penularan tuberkulosis paru Melalui batuk atau Wawancara Tahu: menjawab Nominal bersin dengan acuan batuk atau kuesioner bersin Tidak jawaban batuk bersin 6.

Describing Menggambarkan dan menerangkan data.1. Tabulating Pengelompokan data dalam bentuk tabel sesuai bentuk variabel yang akan dianalisis e. 2. Data sekunder diperoleh dari Studi dokumen dengan catatan lapangan data yang ada di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo. d. Pengolahan Data Pengolahan data yang dilakukan dapat dibagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut : a. Data primer diperoleh dengan wawancara dengan acuan kuesioner 2. G. f. Coding Pemberian nomer code pada jawaban yang bersifat kategori. Data entry Memasukkan data ke dalam computer. kesinambungan data dan keseragaman data sehingga menjamin validitas data. Analysis Melakukan uji statistik dengan menggunakan komputer. c. Pengolahan dan analisis data 1. b. Editing Melakukan pengecekan kelengkapan data. Analisis Data 32 .

Analisis data dengan mengukur Resiko Relatif/ Odds Ratio (OR) untuk mendapatkan hasil pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo. Lampiran 1 33 .

dan telah 34 . Informasi mengenai identitas saya tidak akan di tulis pada penelitian dan akan tersimpan secara terpisah di tempat yang aman.FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA PRAKTEK KERJA LAPANGAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS “Pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo” SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN ( Informed Concent ) Setelah mendapat penjelasan dengan baik tentang tujuan dan manfaat penelitian yang berjudul “Pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo”. saya mengerti bahwa saya diminta untuk mengisi kuesioner dan menjawab pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan sosial budaya di Desa kami. Saya mengerti bahwa catatan mengenai data penelitian akan dirahasiakan. Saya telah diberi kesempatan untuk bertanya mengenai penelitian ini atau mengenai keterlibatan saya dalam penelitian ini. Saya memahami bahwa penelitian ini tidak membawa resiko. Saya mengerti bahwa saya berhak menolak untuk berperan sebagai responden atau mengundurkan diri setiap saat tanpa adanya saksi atau kehilangan semua hak saya.

.) Lampiran 2 35 . September 2013 Responden (……………………. Sidoarjo.dijawab dengan memuaskan. Secara sukarela saya sadar dan bersedia berperan dalam penelitian ini dengan menandatangani surat persetujuan menjadi responden.

.................... Pekerjaan : ..... Penyakit yang disebabkan virus b......................Lingkari jawaban yang menurut anda benar Nama : ..........................FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA PRAKTEK KERJA LAPANGAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS “Pengaruh tingkat pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis Paru terhadap tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Kepatihan Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo” KUISIONER PENELITIAN Petunjuk pengisian : ....................... Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis c.. : Lingkari SALAH SATU jawaban yang menurut anda benar 1........................................................Pilihlah jawaban yang menurut anda benar sesuai dengan apa yang anda ketahui ..................... Menurut anda apa itu penyakit TBC Paru? a.................... Penyakit menular yang mirip ASMA 36 .............. Usia ................................................................ ..........................Jawablah dengan melingkari pilihan yang tersedia .Bacalah dengan teliti setiap pertanyaan dan pilihan jawaban.............

Jamu c. Sering sesak kalau beraktifitas b. Muntah c. 6 bulan c. kencing. Sering kencing di malam hari 4. d. Apa tanda lain yang anda ketahui tentang Tuberkulosis Paru? a. Batuk lebih dari tiga minggu b. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) d. Penyakit yang disebabkan virus HIV 2. Bagaimana cara penularan Tuberkulosis paru? a. 6 hari b. 6 tahun 37 . laboratorium. Bersentuhan c. Apa tanda-tanda utama penyakit Tuberkulosis yang anda ketahui? a. dan foto dada Pemeriksaan laboratorium. Amoksisilin 7.d. Berapa lama pengobatan Tuberkulosis paru? a. Sakit perut 3. b. dan kencing Pemeriksaan rekam jantung dan laboratorium Pemeriksaan dahak. Apa saja pemeriksaan yang diperlukan untuk penderita Tuberkulosis Paru? a. Berkeringat malam hari. dan foto dada 5. Paracetamol b. Sering pusing d. c. Bersin-bersin di malam hari c. Batuk atau bersin b. Hubungan seksual 6. dan nafsu makan menurun d. Pemeriksaan darah. Apa obat untuk Tuberkulosis paru? a.

8. Tabib c. Klinik b. Dukun d. Dimana tempat berobat untuk mendapatkan obat tuberculosis paru secara gratis? a. Puskesmas terdekat Terima Kasih DAFTAR PUSTAKA 38 .

(2006). Tersedia di http://www. Tjandra Yoga. Dinas Kesehatan Jawa Timur. Soetomo Notoatmodjo. Dan Keluarga FKUI. terapi & masalahnya. DUATUJUH Sudoyo. (2009). (2003). Yulherina. (2011). Jakarta: Rineka Cipta Sudarso.pdf diakses tanggal 9 September 2013 Dinas Kesehatan Republik Indonesia. (2010) Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam.who. Slamet. (2009).depkes. S. (2005). (2005). Jakarta: Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas. Tuberkulosis Masih Merupakan Masalah Kesehatan Penting di Indonesia. Werdhani. Profil Kesehatan Provinsi Jatim. Tersedia di http://www. Okupasi. Metodologi Penelitian Kesehatan. Global Tuberculosis Report 2009.php?vw=2&id=1923 diakses tanggal 15 September 2013. Ilmu Penyakit Dalam jilid II Edisi IV. (2007).id/userfile/dokumen/1111111111_1111111111_P rofil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_Tahun_2011. Bambang. Retno Asti.go. Tuberkulosis: diagnosis. Djojodibroto. (2002).Aditama.id/index. Dan Klafisikasi Tuberkulosis.int/TBC/publications/global_report/en/ diakses tanggal 15 September 2013 39 . Jakarta: EGC Hariadi.jatimprov. Patofisiologi. Diagnosis. Surabaya: Perc. Membuat karya Tulis Ilmiah Bidang Kesehatan Dengan Penjelasan Dasar Metodologi Penelitian dan Disain Penelitian Kesehatan. WHO. Setyohadi. Respirologi. Surabaya: Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair-RSUD Dr. Tersedia di http://dinkes. darmanto.go.