You are on page 1of 9

Menyikapi dinamika persaingan usaha di sektor telekomunikasi khususnya

seluler, saat ini KPPU tengah mengawasi perilaku beberapa operator seluler
dalam menjalankan strategi bisnisnya.
Salah satunya adalah strategi tarif promosi yang diduga dilakukan oleh Indosat
yang dikemas dalam bentuk kampanye yang berujung pada upaya membentuk
opini publik bahwa terdapat misleading advertising.
Lebih lanjut, di media massa berkembang informasi bahwa kampanye tersebut
dilatarbelakangi adanya dugaan aksi borong simcard Indosat oleh pihak yang
diduga terafiliasi dengan Telkomsel.
Menanggapi hal ini, KPPU memberikan 2 catatan :
1. Dugaan aksi borong simcard bilamana memang benar terjadi berpotensi
melanggar UU No 5 Tahun 1999 khususnya Pasal 19 huruf a dan b yang berbunyi
:
“Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri
maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat
mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa”:
menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan
usaha yang sama pada pasar bersangkutan; atau
menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak
melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya itu.
Perilaku yang melanggar pasal tersebut, akan menghambat operator masuk ke
dalam pasar yang terbuka. Hal ini akan bermuara pada berkurangnya pilihan
bagi konsumen di pasar karena ketersediaan produk menjadi terbatas.
Persainganpun berkurang intensitasnya.
2. Terhadap peristiwa yang terjadi tersebut di atas, KPPU akan melakukan
penyelidikan terhadap dugaan munculnya perilaku persaingan tidak sehat yang
saat ini dilakukan oleh operator telekomunikasi seluler.
Hal ini dilakukan untuk mendorong agar persaingan usaha dalam industri
telekomunikasi seluler berlangsung tetap sehat, dengan munculnya tarif
telekomunikasi yang terjangkau dan terjaganya ketersediaan produk.
Bilamana benar terbukti telah terjadi misleading advertising, maka hal ini
menjadi suatu bentuk pelanggaran serius terhadap ketentuan UU No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen yang KPPU akan kaji bersama Badan
Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia

http://www.kppu.go.id/id/blog/2016/06/kppu-awasi-persaingan-di-sektortelekomunikasi-seluler/

KPPU juga tengah memeriksa dugaan kartel SMS yang dilakukan oleh operator seluler. . misalnya. Peran Pemerintah di Sektor Telekomunikasi Kemunculan industri telekomunikasi semakin hari semakin menegaskan bahwa komunikasi bukan lagi sekedar aktifitas warga negara biasa. Tulisan berikut ini mencoba memberikan gambaran ringkas tentang perkembangan peran regulator di sektor telekomunikasi serta kesalingsinggungan antara hukum persaingan yang bersifat general dengan regulasi telekomunikasi yang lebih spesifik yang biasa diterapkan di berbagai negara. Sebagaimana di negaranegara yang memiliki lembaga pengawas persaingan dan pengawas khusus sektor (sector specific regulator). malah dapat saling mengkoreksi kebijakan yang pada akhirnya justru tidak memberikan efek manfaat yang optimal bagi masyarakat. Hampir berurutan. Network externalities muncul di sektor telekomunikasi karena nilai kegunaan jaringan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna. Dimana terdapat empat alasan yang melandasinya yaitu: besarnya investasi sehingga hanya satu pelaku usaha yang dapat menyediakan jasa telekomunikasi dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan bila disediakan oleh dua pelaku usaha atau lebih. diperlukan kesepahaman tentang pembagian peran yang saling menunjang antar keduanya. keamanan. sehingga jaringan dengan banyak pengguna lebih bernilai dibandingkan beberapa jaringan kecil yang tidak saling terhubung. Saat ini sektor telekomunikasi Indonesia memiliki dua institusi pengawas yang melakukan supervisi dan meregulasi kegiatan di sektor tersebut yaitu BRTI dan KPPU yang berwenang di bidang persaingan usaha. Alasan keempat adalah alasan kedaulatan. Diantaranya adalah putusan KPPU tanggal 19 November terkait tindakan anti persaingan yang difasilitasi oleh kepemilikan silang oleh Temasek di industri seluler. Sementara dalam layananan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) Telkom bersikukuh menolak pembukaan kode akses yang memungkinkan terjadinya persaingan yang lebih sengit di sektor telekomunikasi. alih-alih menjadikan suatu sinergi. Bentuk penyediaan tersebut pada awalnya dilakukan secara monopoli. namun menjadi suatu hak yang wajib difasilitasi oleh negara. Ketiadaan kerangka pengertian yang sama. Alasan kedua adalah adanya network externalities sehingga perlu disediakan secara monopoli.Akhir-akhir ini masyarakat disuguhi oleh banyaknya berita persaingan usaha di sektor telekomunikasi. Alasan ketiga adalah diperlukannya subsidi silang antar layanan yang disediakan. atau perlindungan terhadap bidang strategis bagi negara sehingga penyediaannya perlu dijaga oleh pemerintah. subsidi silang ini menjamin pengguna pada jasa telekomunikasi dasar tertentu dapat berkomunikasi dengan harga yang terjangkau. koneksi lokal lebih murah dibanding SLJJ dan SLI.

Pada bentuk ini. pemerintah menghilangkan seluruh kepemilikannya dan membiarkan swasta yang menjadi pelaku usaha di pasar telekomunikasi. pemerintah mengurangi kepemilikannya di perusahaan tersebut dan memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk bersama-sama memiliki saham. Misalnya. dengan demikian pemerintah berperan melalui dua kewenangan sekaligus yaitu sebagai pemilik dan regulator.Berdasarkan argumentasi-argumentasi tersebut. pemerintah tetap memiliki sebagian saham pada perusahaan. Hukum Persaingan Dan Regulasi Spesifik Telekomunikasi . Pada bentuk ketiga tersebut. Dengan berjalannya waktu. pemerintah membuka persaingan dengan mengurangi hak monopoli atau menghilangkannya sehingga terdapat lebih dari satu pelaku usaha di sektor telekomunikasi. bila pemegang hak tersebut dibiarkan secara bebas mengeksploitasi kekuatan pasarnya (market power) maka dampak negatif akan timbul. dan harga yang menjamin kesejahteraan masyarakat serta untuk mendorong efisiensi dan inovasi. Bentuk yang pertama adalah dengan menjadikan pemerintah sebagai penyedia jasa telekomunikasi secara langsung. Atas dasar upaya untuk mengendalikan volume. Namun demikian. Bentuk ketiga. namun dalam hal ini. pengalaman menunjukan bahwa tekanan persaingan dapat membantu mengimbangi tekanan politik yang kerap muncul dalam perusahaan pemegang hak ekslusif monopoli. Di sisi lain. volume terbatas serta hilangnya insentif pelaku usaha untuk melakukan inovasi dan beroperasi secara efisien. kualitas barang dan jasa yang buruk. pemerintah mulai memperkuat perannya sebagai regulator dan mengurangi peran sebagai operator. Dalam perkembangan selama dua dekade terakhir. beberapa negara menjustifikasi bahwa hanya pemegang hak monopoli ekslusif atas sektor telekomunikasi yang dapat beroperasi. pemerintah telah berfungsi sebagai regulator sejati. pemberian hak monopoli dalam penyediaan jasa telekomunikasi sebagaimana bentuk satu dan dua diatas mulai banyak dipertanyakan. Kontrol tersebut sering diwujudkan dalam bentuk kepemilikan pemerintah secara langsung pada perusahaan yang memiliki hak ekslusif atau dengan menunjuk kementerian bidang terkait menjadi perwakilannya. Bentuk kedua. kualitas. konsumen harus membayar harga yang tinggi. Bentuk keempat. dimana perusahaan tersebut masih menjadi pemegang hak monopoli. pemerintah di banyak negara mencoba mengimbangi hak ekslusif monopoli tersebut dengan melakukan kontrol atas sektor telekomunikasi. kontrol pemerintah di sektor telekomunikasi berevolusi menjadi empat bentuk kontrol. Seiring dengan semakin banyaknya bukti empiris yang menunjukkan bahwa perusahaan pemerintah dan perusahaan yang tidak memiliki tekanan persaingan sering tidak beroperasi secara efisien.

dimana pengaturan tersebut bertujuan mencegah penyalahgunaan kekuatan pasar atau posisi dominan pelaku usaha terhadap pesaing. 2. Misalnya.Upaya membuka persaingan usaha di bidang telekomunikasi tidak lantas menghilangkan peran pengaturan pemerintah serta peran pengaturan pasar. baik antar pemain dominan maupun dengan pelaku usaha baru. refusal to deal terhadap supplier atau buyer. Menjamin kompetisi diperkenalkan secara efektif dengan menghilangkan berbagai hambatan masuk pada berbagai segmen jasa telekomunikasi. selain pemerintah yang memegang fungsi kendali diperlukan juga pengawasan dari lembaga persaingan usaha. Isu ketiga adalah pengaturan untuk mencegah merger. Oleh karena itu pada bentuk kontrol ketiga dan keempat. Pada pasar yang telah berada pada kondisi kompetisi diperlukan jaminan agar persaingan sehat tetap terjaga. ataupun cross ownership secara horizontal. isu pertama adalah pengaturan untuk mencegah kolusi ataupun perjanjian anti persaingan antar operator. Sebagai industri yang bergeser dari kondisi monopoli. dengan kewajiban untuk pemisahan cross-ownership secara vertikal. diantaranya dengan mengatur agar tidak terjadi merger. misalnya. dan supplier. terdapat banyak hal yang memerlukan intervensi pemerintah agar kompetisi dapat berjalan di industri telekomunikasi. . dan menetapkan harga secara berlebihan (predatory pricing). yaitu hukum persaingan usaha dan regulasi spesifik telekomunikasi. Menjamin interkoneksi yang adil diantara operator. konsumen. Bentuk-bentuk pengaturan pada beberapa negara biasanya mengandalkan dua buah regulasi. terutama pada masalah penggunaan sumber daya terbatas misal spektrum. 4. Hukum persaingan lazimnya akan mengatur 3 tiga kelompok besar isu. Isu kedua adalah pengaturan kekuatan pasar yang dimiliki oleh pelaku usaha. akuisisi. 5. no telepon dll. diantaranya adalah : 1. 3. Menjamin kemudahan pelanggan untuk berganti operator. Menjamin prinsip anti diskriminatif. akuisisi dan kepemilikan silang yang berpotensi mengurangi persaingan usaha. sehingga menciptakan level playing field yang setara antar operator dan meminimalisasi switching cost yang timbul. Penciptaaan keterbukaan pasar hanya menjadi salah satu elemen penting dan tetap diperlukan pengaturan pasar sebagai elemen lainnya agar mekanisme transaksi dapat mewujudkan kesejahteraan konsumen.

2. penentuan tarif dan kualitas layanan bagi pengguna pada pasar yang belum kompetitif. Terakhir adalah pengaturan ketiga yang mencakup substansi yang mewajibkan pemenuhan layanan publik. Mengindetifikasi segmen jasa telekomunikasi yang dapat dimasuki oleh pelaku usaha baru. misalnya wilayah minimum pelayanan. Menentukan prosedur alokasi frekuensi. 5. Dari pembagian kelompok isu regulasi diatas. . 3. Misalnya. Mencegah terjadinya transfer sumber daya publik. Substansi pertama mencakup hal-hal yang mendorong dan menjaga kondisi kompetisi. 6. Menentukan persyaratan terkait dengan alokasi nomor telepon dan number portability. 4. Menetapkan proses bagaimana pelaku usaha dapat memasuki industri telekomunikasi. Upaya-upaya KPPU maupun BRTI dalam mengkomunikasikan kerjasama dan kewenangan keduanya telah berada pada jalur yang tepat untuk menciptakan arah kinerja yang sinergis. Menentukan prosedur. dan syarat penetapan tarif intekoneksi sehingga seluruh pencari interkoneksi dapat memperoleh akses secara adil. Pengaturan kedua berkaitan dengan pencegahan upaya penyalahgunaan market power yang dimiliki oleh pelaku usaha baik terhadap pesaing maupun terhadap konsumen.Pengaturan yang khusus di bidang telekomunikasi secara umum berisi tiga kelompok isu substansi. teknis. yaitu terdiri atas: 1. Kesalingsinggungan antar kedua regulasi tersebut pada hakekatnya bertujuan untuk mengarahkan industri telekomunikasi agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. terlihat beberapa isu yang menjadi domain utama hukum persaingan dan regulasi spesifik telekomunikasi. pengaturan tarif interkoneksi.

regulator dan/atau instansi yang berwenang. masyarakat bisnis (penyelenggara telekomunikasi) dan legal.id. Menjadi pedoman bagi penyelenggara telekomunikasi agar dalam menjalankan kegiatannya tidak melakukan praktek atau perilaku persaingan usaha tidak sehat. proses transisi ke arah pasar yang lebih kompetitif akan menjadi sulit. .go. sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.PEDOMAN PENGAWASAN PERSAINGAN USAHA DI SEKTOR TELEKOMUNIKASI BRTI selaku regulator di sektor telekomunikasi tengah menyusun pedoman pengawasan persaingan usaha di sektor telekomunikasi. Berikut adalah kutipan sebagian isi pedoman versi 14 Agustus 2007. regulator. dalam mengantisipasi dan memahami setiap kebijakan dan penegakan prinsip persaingan usaha di sektor telekomunikasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. atau jika mereka skeptis terhadap prospek dari keuntungan persaingan tersebut. sebagaimana yang dipublikasikan di website www. 2. Pedoman ini juga diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada penyelenggara telekomunikasi agar peduli dan mengerti aplikasi dari UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di sektor telekomunikasi.brti. Menjadi pedoman bagi Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dalam menjalankan fungsinya sebagai pengawas persaingan usaha terhadap penyelenggaraan telekomunikasi. maupun masyarakat pada umumnya. Maksud Pedoman Pedoman tersebut dimaksudkan untuk memberikan panduan yang dapat menjadi referensi atau rujukan bagi pemangku kepentingan (stakeholders) utama termasuk pemerintah. Bila salah satu dari stakeholder ini tidak memahami keuntungan yang terkait dengan persaingan di industri telekomunikasi. Tujuan Pedoman 1. Pedoman tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai sudut pandang regulator telekomunikasi Indonesia terhadap persaingan usaha.

Tanpa Perjanjian yang menghambat (Non restrictive agreement) 3. Kualitas layanan (Quality of Service) telekomunikasi yang lebih baik. 3. Taktik memperlambat (Delaying Tactics) 3. Tender yang kolusif (Collusive Tendering) B. Perjanjian Atau Praktek Usaha Yang Restriktif 1.3. Menjadi pedoman bagi pengguna layanan telekomunikasi dan pemangku kepentingan lainnya (stakeholders) dalam mengawasi persaingan usaha di industri telekomunikasi. Prinsip-Prinsip Dasar Penerapan Persaingan Di Sektor Telekomunikasi 1. Tujuan Penerapan Persaingan Usaha dalam Sektor Telekomunikasi 1. Peningkatan efisiensi dalam penyelenggaraan telekomunikasi. Jual Paket (Bundling) 7. Jual Rugi (Below Cost or Predatory Pricing) 4. Penolakan untuk memasok atau membeli (Concerted Refusals to Supply or Purchase) 5. Diskriminasi yang tidak wajar (Undue/Unjustified Discrimination) 5. Tanpa Diskriminasi (Non discriminative) 2. Pilihan produk atau layanan telekomunikasi yang lebih banyak pada tingkat harga yang lebih rendah. Pembatasan produksi dan atau penjualan (Quota) 4. Pembagian pasar atau konsumen (Market or Customer Allocation) 3. 2. Jual Ikat (Tying-in) 6. Penetapan harga (Price Fixing) 2. Menolak untuk bertransaksi (Refusal to Deal / Denial of Access) 2. Vertical Price (Margin) Squeezing . Tanpa praktek penyalahgunanan (Non abusive practice) Praktek Atau Perilaku Anti-Persaingan Yang Potensial Terjadi Di Sektor Telekomunikasi A. Penyalahgunaan Posisi Dominan 1.

Pelaporan Informasi Penting Penyelenggaraan Telekomunikasi kepada BRTI B. Usaha Patungan (Joint Venture) 4. Struktur Organisasi Perusahaan 1. Konglomerasi 5. Restrukturisasi Organisasi Perusahaan 1. Subsidi Silang (Cross Subsidization) 9. Notifikasi atas Rencana Tindakan Restrukturisasi Implementasi Fungsi Pengawasan Brti Terhadap Persaingan Usaha Di Sektor Telekomunikasi A. Wewenang dan Kewajiban BRTI dalam Menjalankan Fungsi Pengawasan terhadap Persaingan Usaha di Sektor Telekomunikasi Referensi: 1. Integrasi Vertikal (Vertical Integration) 2. Persyaratan perjanjian yang tidak wajar atau berlebihan (Onerous Contract Terms and Unreasonable Requirements) 11. Damien & Michel Kerf. Customer Lock-In 10. Controlling Market Power in Telecommunications: Antitrust vs Sector-Specific Regulation . Pengaturan harga jual kembali (Resale Price Maintenance) 13. Rangkap Jabatan (Interlocking Directorship) B. Kepemilikan Saham Silang (Cross Ownership) 3. Geradin. Tindakan Restrukturisasi 2.8. Penyalahgunaan informasi (Misuse of Information) 12. Perjanjian Tertutup (Exclusive Dealing) Struktur Organisasi Perusahaan dan Tindakan Restrukturisasi Organisasi Perusahaan di Sektor Telekomunikasi yang Berpotensi Menghasilkan Tindak AntiPersaingan A.

Pedoman Pengawasan Persaingan Usaha di Sektor Telekomunikasi (Draft 14 agustus 2007).www.or.php?mod=download&fid=104 .id/content.brti.2.