You are on page 1of 4

SAHABAT

Pagi itu diawal hari pertama masuk sekolah, saya bertemu dengan teman
-teman baru. Saling berkenalan dan akhirnya kami akrab. Singkat cerita, saya
mempunyai lima orang sahabat yang bisa dibilang saling kompak. Aris, Ary,
Rudy, Riky, Ujang dan Iwan itulah sahabat-sahabatku. Disini Iwan lah yang
paling pandai diantara kami, namun begitu dia lah yang paling sedih dalam
kehidupannya dan saya ingin menceritakannya.
Iwan laki-laki yang lahir dari keluarga yang broken home. Ayahnya yang
mempunyai banyak istri membuat ibunya memutuskan untuk hidup menjadi
single parent. Dengan tiga orang anak ibunya berusaha menghidupi dan
menyekolahkan anak-anaknya dengan layak. Beruntungnya Iwan anak pertama ini
bisa memperoleh beasiswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) kami. Semua
guru kagum dengan kepandaian dan kepiawaian Iwan. Hingga akhir masa sekolah
kami, tak terasa kami sudah mau lulus. Ujian sekolah hingga ujian akhir nasional
telah kami lewati. Syukurnya kami semua lulus dengan nilai yang memuaskan.
Suatu di ujian sekolah mata pelajaran bahasa indonesia guru kami
memberi tugas untuk mengarang cerita tentang cerita kehidupan yang istimewa.
Cerita Iwan lah yang paling membuat guru dan semua murid sekelas terharu. Iwan
menceritakan tentang ayahnya. Sejak lahir hingga kanak-kanak Iwan belum
sepenuhnya merasakan kasih sayang dari ayahnya. Karena saat itu ayahnya
bekerja diluar negeri hingga akhirnya ayahnya mempunyai istri lagi. Iwan yang
ingin tahu bagaimana sosok ayahnya selau menanyakan kepada ibu nya, ibunya

Suatu hari kelulusan telah tiba. kini mulai sembuh dan bekerja kembali. dia mendapat jabatan yang layak dan lingkungan kerja yang nyaman. Namun sangat disesalkan. Iwan lebih mudah menjangkau lokasi pekerjaannya. kondisi Iwan semakin menyedihkan badannya kurus dan sering batuk. Tidak disangka ternyata Iwan mengidap penyakit Tuberculosis yang membuat dia dijauhi teman kerjanya dan diusir teman kost nya. Iwan pun menangis kenapa ayahnya sampai melupakan anak-anaknya. namun tidak pernah dirasakannya dan tetap bekerja demi loyalitas. Saya dan teman-teman yang lain menjenguk Iwan dirumahnya. Karena sudah kost. Hingga dua bulan Iwan menjalani masa berobatnya. Iwan pun . dan dia tegar dengan semua sikap dan kelakuan ayahnya terhadap ibu dan adik-adiknya. Sebulan sebelum kost Iwan selalu pulang pergi mengendarai motor dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung karena saat itu musim hujan dan jam kerjanya pun selalu membuat Iwan merasakan dinginnya angin malam ketika perjalanan pulang. Sakitnya terasa lebih parah Iwan pun diberi ijin untuk mengambil cuti dan berobat. Lanjut cerita Iwan kini mulai mengenal dan paham tentang sosok ayahnya. dan semua telah menemukan pekerjaan masing-masing. Dan dia marah kepada ibunya kenapa apa yang diceritakan tidak sesuai dengan kenyataanya. Iwan yang direkomendasikan oleh sekolah untuk bekerja di suatu perusahaan bagian administrasi. ayahnya tidak mengenal yang namanya Iwan dan adik-adiknya. Tiga bulan bekerja Iwan sering sakit.yang selalu bercerita positif tentang ayahnya hingga membuat Iwan ingin menelfon ayahnya. Namun lokasi perusahaan dengan rumahnya cukup jauh hingga diputuskannya untuk mencari kost didekat tempat kerjanya.

Ditengah perjalanan ibunya memberikan berita Iwan sudah tiada. Kini kenangan Iwan pun telah menjadi kekuatan dan . kami pun berteriak tidak percaya dan kondisi didalam mobil itu pun menjadi penuh tangisan dan kesedihan. Namun Iwan ingin beralih berobat tradisional dan menghentikan pengobatan dari dokter. Dita pun kecewa karena tidak bisa menemani Iwan diakhir nafasnya. Kami dipersilahkan masuk dan ibunya bercerita tentang sakitnya Iwan sebelum meninggal. dengan perasaan sedih tak terbendung karena tidak sempat melihat jasad Iwan untuk terakhir kalinya. Didalam mobil perjalanan pulang kami pun merasa sedikit lega karena Iwan meninggal dengan kondisi yang dipermudah oleh Allah walau penyakitnya yang sudah menjadi parah. Namun tidak disangka. tiba-tiba Dita pacar Iwan mengabariku dan teman-teman bahwa Iwan kritis. Sampainya dirumah duka. kondisinya mulai melemah. Selama tiga bulan tanpa kabar. Diperjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam dua jam tertunda menjadi empat jam karena perjalanan yang macet total. Kami pun segera berangkat ke kampung ibunya dengan perasaan khawatir dan sedih. dan Iwan meminta ijin untuk berobat di kampung ibunya. Iwan pun sudah dimakamkan karena hari sudah malam. Tak terasa sudah larut malam kami pun ijin untuk beranjak pulang. Sungguh perasaan kami semakin tidak karuan berharap segera sampai ditujuan. Betapa terharunya aku dengan keteguhannya.menceritakan kondisinya saat itu denganku. Tetapi Iwan tetap ingin bangun dari tempat tidurnya untuk melaksanakan sholat dan mengerjakan tugas dari kantor. Ternyata Iwan menghilang tanpa kabar waktu itu Iwan sedang dalam kondisi yang lemah dan tidak berdaya. saya hampir menangis dan mencoba menguatkannya supaya Iwan tetap menjalani masa berobatnya.

Semangat kawan. walau tanpa Iwan kita tetap bersahabat. Karya : Defri Mazuanda NRP : 124010002 Kelas : 16 MJB .ketegaran hati kami untuk menjalani hidup yang penuh cobaan.