You are on page 1of 69

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI
A. Pengertian

Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca
indera (Isaacs, 2002).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan
panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami
suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren/ persepsi palsu
(Maramis, 2005).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah
(Stuart, 2007).
Menurut Varcarolis (2006: 393), halusinasi dapat didefenisikan sebagai
terganggunya proses sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus.
B. Penyebab
1. Faktor Predisposisi

Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
a. Biologis

Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini
ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
1) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak

yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah
frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku
psikotik.

2) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang

berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
3) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan

terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi
otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil
(cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung
oleh otopsi (post-mortem).
b. Psikologis

Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan
yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah
penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
c. Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
2. Faktor Presipitas

Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
a. Biologis

Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk
dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara
selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk
diinterpretasikan.

b. Stress lingkungan

Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber koping

Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.
C. Manifestasi Klinis
1. Bicara, senyum dan tertawa sendiri
2. Menarik diri dan menghindar dari orang lain
3. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata
4. Tidak dapat memusatkan perhatian
5. Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya),
takut
6. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
(Budi Anna Keliat, 2005)
D. Tahapan dan tingkatan halusinasi
1. Comporting → cemas sedang, halusinasi merupakan kesenangan
Karakteristik
Non psikotik, merasa cemas, kesepian, bersalah, takut sehingga mencoba
berpikir hal-hal menyenangkan, halusinasi masih dapat dikontrol
Observable patient behaviors
Tersenyum/tertawa sendiri, bicara tanpa bersuara, rapid eyes movement,
bicara pelan, diam dan preoccupied
2. Condemnine → cemas berat, halusinasi menjadi refulsif
Karakteristik

3. menarik diri dari orang lain Observable patient behaviors Peningkatan aktivitas sistem saraf otonom. berkeringat. gelisah. Dengan kata lain yang berada disekitar klien tidak mendengar bunyi atau suara yang didengar klien tersebut. Halusinasi pendengaran Klien mendengar suara/bunyi yang tidak ada hubungannya dengan stimulkus yang nyata/lingkungan. Conquering → panik. 4. tidak dapat mengikuti perintah dari perawat.m aktivitas menggambarkan isi halusinasi seperti perilaku kekerasan. sulit berhubungan dengan orang lain. klien merasa hilang kontrol dan merasa dilecehkan oleh pengalaan sensori tersebut.Nonspesifik pengalaman sensori menjadi menakuitkan. Halusinasi penglihatan . Klasifikasi 1. Controlling → cemas berat. isolasi sosial/katatonia. tremor. 2. peningkatan denyut jantung. halusinasi menjadi lebih mengancam Observable patient behavior Mengikuti perintah halusinasinya. resiko tinggi mencederai diri sendiri/orang lain.m. E. respirasi dan tekanan darah. halusinasi tidak dapat ditolak Karakteristik Klien menyerah terhadap halusinasinya. klien dikuasai oleh halusinasinya Karakteristik Pengalaman sensori menjadi menakutkan dan mengancam jika tidak mengikuti perintahnya Observable patient behavior Pelaku panik.

Mondar-mandir c. B. Mengungkapkan mendengar atau melihat objek yang mengancam b. Halusinasi pengecapan Klien merasakan sesuatu yang tidak nyata biasanya merasakan rasa makanan yang tidak enak 5. Data objektif : a. Akibat Adanya gangguang persepsi sensori halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri. Halusinasi penciuman Klien mencium sesuatu yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata 4. Tangan mengepal . Menurut Townsend. Mengungkapkan perasaan takut. Seseorang yang dapat beresiko melakukan tindakan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukkan perilaku : 1. Wajah tegang. Halusinasi perabaan Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata F. merah b. 2006). cemas dan khawatir 2. Mata melotot rahang mengatup d. orang lain dan lingkungan (Keliat.Klien melihat gambaran yang jelas atau samar tanpa adanya stimulus yang nyata dari lingkungan\ 3.C suatu keadaan dimana seseorang melakukan sesuatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri maupuan orang lain.A. M. Data subjektif : a.

serta reaksi obat yang di berikan. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas. Mata merah G. Melaksanakan program terapi dokter Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif. Pengumpulan data ini juga dapat . Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien. Keluar keringat banyak f. 3. kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. gambar atau hiasan dinding. bicaralah dengan pasien. majalah dan permainan 2.e. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya. sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : 1. kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. misalnya jam dinding. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Menciptakan lingkungan yang terapeutik Untuk mengurangi tingkat kecemasan. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.

misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. halusinasi Isolasi sosial : menarik diri . bermain atau melakukan kegiatan. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. 4. H. misalnya berolah raga. orang lain dan lingkungan Perubahan sensori perceptual . Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. Pohon Masalah Resiko menciderai diri sendiri. 5. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan. Memberi aktivitas pada pasien Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik.melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan.

jenis kelamin.I. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan. status perkawinan. Asuhan Keperawatan 1. Pernafasan. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah. BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien. tanggal MRS (masuk rumah sakit). Aspek fisik/biologis Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD. 4. Spiritual. pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik. yang diikuti dalam masyarakat d. penolakan dari lingkungan. umur. 3. Genogram yang menggambarkan tiga generasi b. agama. mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah . dan social budaya. 5. dan perkembangan yang dicapai. Suhu. informan. tanggal pengkajian. Aspek psikososial a. Faktor predisposisi Tanyakan pada klien/keluarga. biologis. Keluhan utama Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah sakit. 2. kekerasan dalam keluarga dan tindakan criminal. kelompok. No Rumah Sakit dan alamat klien. Identitas klien Meliputi nama klien. seksual. Konsep diri c. apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu. Dan pengkajiannya meliputi psikologis. TB. Nadi.

TAK dan rehabilitas. Daftar masalah keperawatan a. tingkat konsentrasi. 12. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan alat makan kembali. menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan pakaian. memori. persepsi. 11. Status mental Nilai klien rapi atau tidak. lingkungan. 9. b.6. 10. aktivitas didalam dan diluar rumah. therapy farmakologi. pendidikan. Istirahat tidur kilien. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum. Mekanisme koping Malas beraktivitas. interaksi selama wawancara. orang lain dan lingkungan b. pekerjaan. Kebutuhan persiapan pulang a. 7. 8. menjelaskan suatu perubahan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. proses pikir. e. sulit percaya dengan orang lain dan asyik dengan stimulus internal. perumahan. amati pembicaraan klien. dan berhitung. Masalah psikososial dan lingkungan Masalah berkenaan dengan ekonomi. okopasional. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi. aktivitas motorik klien. Perubahan sensori perseptual : halusinasi . Risiko mencederai diri. tingkat kesadaran. Pengetahuan Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah. d. c. BAK. afek klien. Aspek medic Diagnose medis yang telah dirumuskan dokter. psikomotor. Kemampuan BAB. isi pikir. dan pelayanan kesehatan. dukungan kelompok.

Klien mengatakan merasa kesepian. merah. Tidak komunikatif. Klien mengungkapkan apa yang dilihat dan didengar mengancam dan membuatnya takut. 2. Data Obyektif K. Klien mengatakan melihat atau mendengar sesuatu. Isolasi sosial: Menarik Diri 3. Mondar mandir.c. sedih. Gerakan mata yang cepat. orang. Mulut seperti bicara tapi tidak keluar suara. Tidak ada kontak mata. Tampak bicara dan ketawa sendiri. Gangguan sensori perceptual : Halusinasi 2. Diagnosa Diagnosa keperawatan yang dapat ditarik dari pohon masalah tersebut adalah 1. Klien mengungkapkan takut. Tidak tahan terhadap kontak yang lama. Ekspresi wajah murung. 3. Analisa data No Data Subyekstif 1. Resiko mencederai diri sendiri. Wajah klien tampak tegang. Tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri. Klien tidak mampu mengenal tempat. orang lain dan lingkungan . Berhenti bicara seolah mendengar atau melihat sesuatu. Klien mengatakan tidak dapat berhubungan sosial. Isolasi sosial : menarik diri J. Mata merah dan melotot. Tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara. waktu. Kurang aktivitas. Rahang mengatup. Tangan mengepal.

. situasi pencetus.x pertemuan SP 1 dapat  Bantu pasien mengenal . pencetus.Mengenali halusinasi pasien yang dialaminya halusinasinya . halusinasi Tahapan tindakannya meliputi : - Jelaskan cara menghardik halusinasinya .. frekuensi. Intervensi Tujuan Pasien mampu : Kriteria Evaluasi Setelah .Latih berbicara dengan . situasi halusinasinya frekuensi.Mengontrol program Intervensi waktu. SP 2 pasien mampu :  Menyebutkan .L. perasaan)  Latih perasaan Mampu (Isi.Peragakan cara menghardik .. .Evaluasi kegiatan yang kegiatan yang sudah dilakukan lalu (SP 1) .Mengikuti pengobatan menyebutkan : Isi. waktu..x pertemuan. memperagakan mengontrol halusinasinya dengan cara dalam mengontrol cara menghardik.Minta pasien memperagakan ulang  Pantau peberapan cara ini beri penguatan perilaku pasien  Masukan dalam jadwal kegiatan pasien Setelah ..

berikan penguatan terhdap perilaku .Evaluasi kegiatan yang kegiatan yang sudah dilakukan lalu (SP 1 dan SP 2) . sehari-hari dan mampu memperagakannya kegiatan Tahapannya :  Jelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi  Diskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien  Latih pasien melakukan aktivitas  Susun aktivitas sesuai jadwal sehari-hari dengan aktivitas yang telah dilatih (dari bangun pagi sampai malam hari)  Pantau pelaksanaan jadwal kegiatan..Masukan dalam jadwal kegiatan pasien Setelah .x pertemuan.Latih  Membuat jadwal kegiatan agar halusinasitidak muncul. Memperagakan cara bercakap-cakap dengan orang lain orang lain saat halusinasi muncul .. SP 3 pasien mampu :  Menyebutkan .

Latih pasien minum obat .Masukan dalam jadwal harian pasien Keluarga mampu : .pasien yang positif Setelah .Identifikasi tentang masalah keluarga dalam merawat pasien . pertemuan SP 1 mampu .Jelaskan akibat bila tidak digunakan sesuai program ..Jelaskan akibat putus obat .Jelaskan pengobatan (5B) . SP 4 pasien mampu :  Menyebutkan . 2.Jelaskan pengobatan program pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa .Merawat pasien Setelah..Evaluasi kegiatan yang kegiatan yang sudah dilakukan  Menyebutkan dari manfaat lalu (SP 1.Tanyakan pengobatan program ..x pertemuan.Jelaskan tentang halusinasi :  Pengertian hakusinas  Jenis halusinasi dalam pasien  Tanda dan gejala’ .x di keluarga rumah dan menjadi menjelaskan sistem pendukung halusinasi yang efektif untuk pasien.Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat . 3) ..

pemberian obat..Rencana tindak keluarga. Cara merawat pasien (cara komunikasi..x pertemuan.. lanjut jadwal keluarga untuk merawat pasien. dan pembetrian aktivitas kepada pasien)  Sumber sumber pelayanan kesehatan yang bisa di jangkau  Bermain peran cara merawat .Evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan Memperagakan cara merawat pasien kemampuan keluarga (SP 1) ..RTL mampu membuat RTL kemampuan keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien . SP 3 keluarga mampu :  Menyebutkan .x pertemuan. Setelah . SP 2 keluarga mampu : Menyelesaikan .Evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan  Memperagakan cara keluarga (SP 2) .Latih keluarga merawat pasien .Latih keluarga merawat pasien merawat pasien serta .RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien Setelah .

Yogyakarta : Nuha Medika. Jakarta: CV. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. W.Evaluasi  Melaksanakan follow up rujukan kemampuan kemampuan pasien . Jakarta : Salemba Medika Keliat. S.J.. Jakarta: EGC. S. 2012.x pertemuan SP 4 keluarga mampu :  Menyebutkan . Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa.Evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan keluarga . Maramis. G. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatrik Terintegrasi Dengan Keluarga.Setelah . Stuart. 2009. A. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. B. Bandung : PT Refika Aditama Direja. 2011. Jiwa (Terjemahan). 9 Surabaya: Airlangga University Press. Nita.D. Sagung Seto. 2001. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). M.. Damaiyanti. Asuhan Keperawatan Jiwa. Buku LAPORAN PENDAHULUAN Saku Keperawatan .W & Sundeen. Rasmun.. 2011. Yogyakarta : Nuha Fitria.A. 2006. 2005. Ed. Edisi I. 2007. Iskandar.Jakarta: EGC. Herman.f. Asuhan Keperawatan Jiwa.RTL keluarga :  Follow up  Rujukan Daftar Pustaka Ade Herman.

terdapat dorongan untuk menuntut tertapi masih terkontol. Kekerasan : perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol . Frustasi : individu gagal mencapai kepuasaan saat marah dan tidak menemukan alternatif 3. 2007). Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk.PERILAKU KEKERASAN A. B. Pasif : individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya. Rentang respon marah Adaptif Asertif maladaptif Frustasi Pasif Agresif Marah/Amuk Keterangan : 1. Asertif : individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan 2. baik kepada diri sendiri maupun orang lain. 2008). 4. 5. Agresif : perilaku yang menyertai marah. 2005). Sering di sebut juga gaduh gelisah atau amuk di mana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep. Perilaku kekerasan merupakan suau bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Budi Ana Keliat.

Faktor Presipitasi Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan (Yosep. Perilaku Kekerasan didapat pada saat setiap melakukan sesuatu maka kekerasan yang diterima sehingga secara tidak langsung hal tersebut akan diadopsi dan dijadikan perilaku yang wajar c. dan ketidakseimbangan neurotransmitter ikut menyumbang terjadi perilaku kekerasan 2. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi. lobus frontal. . Bioneurologis Beberapa berpendapat bahwa kerusaka pada sistem limbik. perkelahian masal dan sebagainya. Faktor Predisposisi a. penonton sepak bola. Psikologis Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau perilaku kekerasan. geng sekolah. Ekspresi diri. b. lobus temporal. 2009): a.C. Penyebab 1. ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser. Sosial Budaya Budaya yang pasif – agresif dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah kekerasan adalah hal yang wajar d.contohnya : pada masa anak-anak yang mendapat perilaku kekerasan cenderung saat dewasa menjadi pelaku perilaku kekerasan b.

Verbal a. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa. f. Mengumpat dengan kata-kata kotor e. d. e. membentak atau berteriak c. Rahang mengatup e. Mata melotot/ pandangan tajam c. Suara keras . kehilangan pekerjaan. Mengancam secara verbal atau fisik d. Suara tinggi. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi. Kematian anggota keluarga yang terpenting. atau perubahan tahap perkembangan keluarga. perubahan tahap perkembangan. Postur tubuh kaku 2. Tangan mengepal d. Muka merah dan tegang b. D. Fisik a.c. Bicara kasar b. Manifestasi Klinis Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut: 1. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

sindiran. dendam dan jengkel d. Tidak adekuat b. penyimpangan seksual. Sosial Menarik diri.3. Amuk/agresif 4. pengasingan. melarikan diri. mengkritik pendapat orang lain. E. penolakan. Melempar atau memukul benda/orang lain b. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. Perilaku a. Menyerang orang lain c. merasa diri benar. kasar. menyinggung perasaan orang lain. mencuri. Akibat Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. orang lain dan lingkungan. ejekan. Merusak lingkungan e. cerewet. berdebat. Bermusuhan 5. 8. Melukai diri sendiri/orang lain d. Tidak aman dan nyaman c. sarkasme. kekerasan. Emosi a. Spiritual Merasa diri berkuasa. Intelektual Mendominasi. . 7. Rasa terganggu. orang lain dan lingkungan. 6. tidak perduli dan kasar. meremehkan. Tidak berdaya e. Perhatian Bolos.

Bromozepam. c. rilek dan bermain untuk mengembalikan kesadaran klien. keterampilan social atau aktivitas lain dengan berdiskusi dan bermain untuk mengembalikan kesadaran klien karena masalah sebagian orang merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain. Terapi keluarga Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalah klien dengan memberikan perhatian : 1) BHSP 2) Jangan memancing emosi klien 3) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga 4) Beri kesempatan pasien mengemukakan pendapat 5) Dengarkan. Obat anti depresi : Amitriptyline c. Penatalaksanaan 1. Terapi music Dengan music klien terhibur. dan anjurkan pasien untuk mengemukakan masalah yang dialami b. Terapi kelompok Berfokus pada dukungan dan perkembangan. Clobozam Obat anti ansietas d. . Obat anti psikosis : Phenotizin b. bantu. Farmakologi a. Terapi modalitas a. : Diazepam.F. Obat anti insomnia : Phneobarbital 2.

3. lain. Askep 1. Aspek fisik/biologis Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD. Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah sakit. Keluhan utama 2. apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu. Faktor predisposisi Tanyakan pada klien/keluarga. No Rumah Sakit dan alamat klien. kekerasan dalam keluarga dan tindakan criminal. penolakan dari lingkungan. Nadi. biologis. Pernafasan. tanggal pengkajian. status perkawinan. dan perkembangan yang dicapai. 4. seksual.G. informan. Dan pengkajiannya meliputi psikologis. dan social budaya.orang oranglain. tanggal MRS (masuk rumah sakit). Identitas klien Meliputi nama klien.dan danlingkungan lingkungan Perilaku Kekerasan Perubahan sensori perseptusl: halusinasi H. jenis kelamin. Suhu. diri. pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik. agama. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah. . umur. TB. Pohon Masalah Resiko Resikotinggi tinggimencederai mencederaidiri. BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.

c. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat makan kembali. b. tingkat kesadaran. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah. Misalnya seseorang wanita muda yang . BAK. aktivitas motorik klien. Istirahat tidur kilien. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. dan berhitung. interaksi selama wawancara. isi pikir. Konsep diri c. e. amati pembicaraan klien. Spiritual. kelompok. memori. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi. persepsi. Genogram yang menggambarkan tiga generasi b. Kemampuan BAB. tingkat konsentrasi. Kebutuhan persiapan pulang a. 7. b. Mekanisme koping a. aktivitas didalam dan diluar rumah.5. Status mental Nilai klien rapi atau tidak. yang diikuti dalam masyarakat d. Aspek psikososial a. meninju tembok dan sebagainya. mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah 6. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum. 8. proses pikir. afek klien. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan. d. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. menggunakan dan membersihkan WC serta membersihkan dan merapikan pakaian.

Pengetahuan Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah. . akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. dan pelayanan kesehatan. perumahan. sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. c. mencumbunya. lingkungan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya. 10. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya.menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya. pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan. pendidikan. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan. 9. dukungan kelompok. dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. d. pekerjaan. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya. berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Masalah psikososial dan lingkungan Masalah berkenaan dengan ekonomi. e.

orang lain. dan lingkungan c. Isolasi social f. Berduka disfungsional g. Aspek medic Diagnose medis yang telah dirumuskan dokter. Perubahan sensori persepsi: halusinasi d. TAK dan rehabilitas. okopasional. 12. Harga diri rendah kronis e. Penatalaksanaan regimen teurapeutik inefektif h. Risiko mencederai diri sendiri. Koping keluarga inefektif I. therapy farmakologi. psikomotor. Perilaku kekerasan b. Daftar masalah keperawatan a.11. Intervensi Tujuan Pasien mampu : Mengidentifikasi penyebab dan tanda perilaku kekerasan Menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan Menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan Mengontrol perilaku kekerasannya dengan cara : Fisik Sosial / verbal Spiritual Terapi psikofarmaka (patah obat) Keluarga mampu : Merawat pasien di rumah .

SP 2 pasien mampu : .x pertemuan SP 3 pasien mampu : .Latih cara fisik 1 : Tarik nafas dalam tanda.Mengungkapkan dengan baik mengontrol kekerasan perilaku .Menyebutkan .Memperagakan cara .Memperagakan fisik cara 1 untuk mengontrol perilaku kekerasan Setelah ….Meminta dengan baik sosial / verbal untuk .Menyebutkan .Masukkan dalam jadwal harian pasien perilaku kekerasan . tanda dan gejala serta akibat mampu : perilaku kekerasan . pasien .x SP I pertemuan.Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1) kegiatan .Masukkan dalam jadwal harian pasien .Menyebutkan penyebab.Identifikasi penyebab.Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2) kegiatan . gejala akibat dan .Memperagakan cara fisik untuk mengontrol perilaku kekerasan Setelah ….Kriteria Evaluasi Setelah Intervensi ….Latih cara fisik 2 : Pukul kasur / bantal yang sudah dilakukan .Latih secara sosial / verbal yang sudah dilakukan . .x pertemuan.Masukkan dalam jadwal harian pasien .Menolak dengan baik .

tanda dan merawat pasien gejala.x pertemuan.Menyebutkan .menyebutkan .Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1.Latih secara spiritual: yang sudah dilakukan  cara  .2&3) kegiatan .Memperagakan  patuh obat Minum obat secara teratur dengan prinsip 5 B Susun jadwal minum obat secara teratur Masukkan dalam jadwal harian pasien Setelah ….Memperagakan spiritual Berdoa Sholat . SP 4 pasien mampu : .Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1.2.Latih (simulasi) 2 cara lain untuk merawat pasien yang sudah dilakukan .3&4) kegiatan .Identifikasi masalah yang dirasakan keluarga dalam .Menyebutkan . .Setelah ….Jelaskan tentang Perilaku Kekerasan : akibat serta mampu .x pertemuan SP 2 keluarga mampu: .x pertemuan SP 1 keluarga mampu: .Menjelaskan penyebab.Latih langsung ke pasien dan mampu merawat .Masukkan dalam jadwal harian pasien Setelah ….RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat serta dapat membuat RTL pasien .x pertemuan SP 5 pasien mampu : .Latih patuh obat : yang sudah dilakukan  cara  . Penyebab Akibat Cara merawat Latih 2 cara merawat RTL keluarga / jadwal untuk merawat pasien Setelah ….Memperagakan cara merawat.Evaluasi SP 1 kegiatan .

J. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.Evaluasi SP 1.RTL Keluarga : mampu menyebutkan Follow Up kegiatan yang sudah Rujukan dilakukan Daftar Pustaka Aziz R. Edisi 2.Latih langsung ke pasien yang sudah dilakukan . EGC. Buku Saku Keperawatan Jiwa : Jakarta. Jakarta. 2005.x pertemuan SP 4 keluarga mampu : .Melaksanakan . Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat (terjemahan). 9 Surabaya: Airlangga University Press.Evaluasi SP 1 dan 2 kegiatan .RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat dan mampu merawat pasien serta dapat membuat RTL Setelah …. Ed. Sadock.Menyebutkan .2003. Stuart dan sundeen. B. 2005. H.. W.x pertemuan SP 3 keluarga mampu : . . 2004. Amino Gonohutomo.2 &3 Follow .. 2005. Jakarta Keliat. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Widya Medika.. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.A.I.Setelah ….f. dkk. Kaplan.Latih langsung ke pasien Up dan rujukan serta . EGC Maramis. B.

Ekspresi emosi yang tinggi. Orang tua atau anggota keluarga sering berteriak. kasih sayang. hlm. atau kegagalan (Yosep. B. b. (Keliat dan Kemat. Faktor Predis Posisi Beberapa faktor pendukung yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah: a. Sikap bermusuhan / hostilitas. Isolasi social adalah suatu sikap individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. perhatian dan kehangatan dari ibu / pengasuh kepada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya. Sikap mengancam dan menjelek – jelekkan anak. 93). 2008). Isolasi social adalah keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pengertian Isolasi social adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito. prestasi. Individu merasa bahwa ia kehilanngan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan.LAPORAN PENDAHULUAN ISOLASI SOSIAL A. 2009. hlm. Faktor komunikasi dalam keluarga Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk mengembangkan gangguan tingkah laku. 2009. pikiran. . Penyebab 1. Faktor Perkembangan Kurangnya stimulasi.229).

dirawat dirumah sakit atau dipenjara. b. d. berpisah dengan orang yang dicintai kehilangan pasangan pada usia tua. Demikianlah kebudayaan yang mengizinkan seseorang untuk tidak keluar ruman (pingit) dapat menyebabkan isolasi sosial. 2. Stressor biologic dan lingkungan sosial . Faktor biologi Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Contoh : Individu yang berpenyakit kronis. menyandang cacat atau lanjut usia. terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti : perceraian. Faktor sosial budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri lingkungan merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan berhubungan. anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tidak memberi pujian atas keberhasilan anak . c. mengkhayalkan. sering menggunakan kekerasan fisik untuk mengatasi masalah. selalu mengkritik. Faktor Presipitasi Stresor presipitas terjadi isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor Internal maupun eksternal meliputi. Stressor Giokimic Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik serta traktus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia c. a. kesepian karena ditinggal jauh. insiden tertinggi skizofrenia di temukan pada keluarganya yang anggota keluarga menderita skizofrenia.marah untuk persoalan kecil / spele. Stressor sosial budaya Stressor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan. terminal.

karena belum dapat mengklasifikasikan dan mengartikan pasien tersebut. Manifestasi Klinis 1. d. afek tumpul. Hal ini berkaitan dengan adanya masalah serius antara hubungan ibu dan anak pada fase sinibiotik sehingga perkembangan psikologis individu terhambat. Apatis. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri. lingkungan. 1) Hubungan ibu dan anak Ibu dengan kecemasan tinggi akan mengkomunikasikan kecemasannya pada anak. 7. C. ekspresi sedih. Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien tampak memisahkan diri dari orang lain misalnya pada saat makan. hal ini membuat anak bingung. 2) Dependen versus Interdependen Ibu yang sering membatasi kemandirian anak. klien kurang dalam mobilitas. maupun biologis. 4. 9. misalnya dengan tekanan suara yang tinggi. 6. Mengurung diri di kamar / tempat terpisah.Beberapa penelitian membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi akibat interaksi antara individu. Stressor psikologis Kecemasan yang tertinggi akan menyebabkan menurunya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Tidak ada kontak mata : klienlebih sering menunduk. Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat. Ego pada klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi stres. 5. dapat menimbulkan konflik. di satu sisi anak ingin mengembangkan kemandiriannya. 2. . Menghidar dari orang lain (menyendiri) 3. 8.

maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori : halusinasi dan resiko tinggi mencederai diri. orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas yang dapat berpengaruh terhadap kemempuan untuk melakukan perawatan secara mandiri E. Pohon Masalah Gangguan sensori persepsi :Halusinasi Isolasi sosial . D.10. artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain.Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata . Akibat Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah. Bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut. menarik diri Gangguan konsep diri : HDR F.Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata . Masalah Keperawatan dan Fokus Pengkajian No Masalah Keperawatan 1 Resiko perubahan sensori persepsi : halusinasi Data yang perlu dikaji Data Subjektif : .

Data Objektif : . Terkadang hanya berupa jawaban singkat ya atau tidak.Klien terlihat apatis.Klien merasa makan sesuatu . . 3.Klien mengatakan: saya tidak mampu.Sukar didapat jika klien menolak komunikasi. menyendiri. berdiam diri di kamar dan banyak diam. ekspresi sedih. tidak bisa. afek tumpul..Disorientasi 2. tidak tahu apa-apa. bodoh.Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya .Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus .Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar .Klien berbicara dan tertawa sendiri .Klien bersikap seperti mendengar/ melihat sesuatu . Gangguan konsep diri : harga diri rendah Data subyektif: .Klien ingin memukul/ melempar barang-barang Data Objektif : .Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu . Isolasi Sosial : menarik diri Data Subjektif : .

Klien tampak bingung lebih bila suka disuruh sendiri. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah 3. G. memilih alternatif tindakan. ingin mencederai diri/ ingin mengakhiri hidup.mengkritik diri mengungkapkan sendiri. perasaan malu terhadap diri sendiri.Membina . Perubahan persepsi sensori : Halusinasi H.Identifikasi penyebab hubungan saling percaya .Menyadari penyebab Siapa yang satu rumah dengan pasien Siapa yang dekat dengan pasien Siapa yang tidak dekat dengan pasien . Intervensi Tujuan Pasien mampu : Menyadari penyebab isolasi sosial Berinteraksi dengan orang lain Keluarga mampu : Merawat pasien isolasi sosial di rumah Kriteria Evaluasi Intervensi Setelah ….x pertemuan SP I klien mampu: . Data obyektif: . Diagnosa Keperawatan 1. Isolasi sosial : Menarik diri 2.

mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya.3.Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain.Diskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain .Tanyakan dengan orang lain . .isolasi sosial.4 orang dan seterusnya . tingkatkan jumlah interaksi dengan 2.Latih berkenalan .Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien .Beri kesempatan pasien mempraktekkan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan di hadapan perawat .Melakukan dengan keuntungan dan kerugian berinteraksi pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain interaksi .Bila pasien sudah menunjukkan kemajuan.Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin orang secara bertahap lain berinteraksi dengan orang lain .Diskusikan keuntungan bila pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka .Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain .Berikan contoh cara berinteraksi dengan orang lain .Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu orang teman / anggota keluarga . beri dorongan terus menerus agar .Tanyakan keuntungan dan dengan orang lain kerugian berinteraksi .Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien .

RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat berkelanjutan dan mencegah putus obat .Latih (langsung ke pasien) .Penyebab isolasi sosial .RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien .Latih (langsung ke pasien) tersedia bagi .Sikap keluarga untuk pasien membantu pasien SP 2 mengatasi isolasi .Evaluasi SP 1 sosialnya .Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih . .Latih berhubungan sosial secara bertahap .Cara merawat pasien isolasi sosial pasien .x pertemuan SP 1 keluarga mampu .Evaluasi SP1 .Masukkan jadwal kegiatan pasien SP 2 .Masalah isolasi sosial .Penjelasan isolasi sosial dan dampaknya pada .RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat .Identifikasi masalah yang dihadapi keluarga dalam menjelaskan tentang : merawat pasien .Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien SP 3 .Evaluasi SP1 dan 2 .Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien Setelah ….Tempat rujukan fasilitas yang pasien pasien SP 3 dan .Pengobatan yang .Latih (simulasi) .Evaluasi SP 1 dan SP 2 kesehatan .pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya.

Edisi 5. 2010 . Jakarta : CV Sagung Seto Stuart. Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah Psikososial dengan gangguan jiwa Perry. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika . Jeney.SP 4  Evaluasi kemampuan keluarga  Evaluasi kemampuan pasien  Rencana tindak lanjut keluarga  Follow Up  Rujukan Daftar Pustaka Marlindawani. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC. GW. Potter. Kep. M 2004. 2005 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Kusumawati dan Hartono . Jakarta : EGC Rasmun S. 2002.

Deficit perawatan diri pada pasien dengan gagguan jiwa merupakan deficit peraatan diri yang terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun (Keliat dan akemat 2007). Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. Faktor prediposisi a. Pengertian Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya. Perry (2005). Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. toileting) (Nurjannah. Menurut Poter. kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya.LAPORAN PENDAHULUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI A. Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi. Penyebab 1. klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). . berhias. B. 2004). makan. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu. b.

maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. c. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: a. Kemampuan realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. Praktik Sosial Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri. kerusakan kognisi atau perceptual. sikat gigi.c. 2. pasta gigi. . b. d. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. cemas. shampo. Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun. alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi. lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

g. e. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun. Social  Interaksi kurang  Kegiatan kurang .d.lain. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. isolasi diri  Merasa tak berdaya. dan merasa hina 3. pakaian kotor  Rambut dan kulit kotor  Kuku panjang dan kotor  Gigi kotor disertai mulut yang bau  Penampilan tidak rapi 2. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya C. Psikologis  Malas. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Fisik:  Badan bau. Manifestasi Klinis 1. sampo dan lain. rendah diri. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya. tidak ada inisiatif  Menarik diri.

dan tidak tahu cara eliminasi yang baik . Pohon Masalah Deficit perawatan diri Gangguan konsep diri : HDR F. BAB dan BAK disembarang tempat . Tidak mampu berprilaku sesuai norma  Cara makan tidak teratur. D. tidak tahu cara makan yang baik. Akibat Dampak yang ditimbulkan dengan keadaan defisit perawatan diri seperti pasien dikucilkan di dalam keluarga atau masyarkat sehingga terjadi isolasi sosial dan bahkan kehilangan kemampuan dan motivasi dalam melakukan perawatan terhadap tubuhnya. Masalah Keperawatan Defisit perawatan diri Data yang perlu dikaji  Data mayor :  DS : Menyatakan malas mandi. Masalah Keperawatan Dan Data yang perlu dikaji No 1. gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri. tidak tahu cara dandan. E.

dandan tidak rapih. makan berantakan. tidak memiliki kelebihan apapun. merasa tidak ada yang peduli  DO : Tidak tersedia alat kebersihan. putus as. tidak tersedia alat toileting 2. produktivitas menurun .  DO : Kontak berinisiatif mata kurang. BAB/BAK sembarangan.  Data minor :  DS : Merasa tidak berguna. ingin mati. merasa jelek. merasa tidak perlu merubah penampilan. tidak tersedia alat makan.  DO : Klien malas-malasan. Gangguan konsep diri : HDR  Data mayor  DS : Klien hidup tak bermakna. DO : Badan kotor. berinteraksi tidak denbgan orang lain. .Data minor  DS : Klien mengatakan malas.

berhubunganb dengan orang lain. mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya. merasa tidak berguna  DO: Mematung. merasa orang lain tidak selevel.  DO : Menyendiri. mengurung diri. G. Gangguan konsep diri : HDR .Data mayor menarik diri  DS : Klien mengatakan malas berinteraksi. Resiko tinggi isolasi sosial : . suara/melihat bayangan. .Data minor  DS : Curiga dengan mendengar orang lain. tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain. Diagnose Keperawatan 1. Deficit Perawatan Diri 2. Isolasi Sosial : MD 3.3. tidak berinisiatif. mondar-mandir. tanpa arah.

.Identifikasi kebersihan diri. makan dan menjelaskan pentingnya : BAB / BAK .H.Jelaskan pentingnya kebersihan diri  Kebersihan diri . mampu: Intervensi pasien .Jelaskan pentingnya berdandan cara merawat diri . Intervensi Tujuan Pasien mampu : - Melakukan kebersihan diri secara mandiri - Melakukan berhias / berdandan secara baik - Melakukan makan dengan baik - Melakukan BAB / BAK secara mandiri Keluarga mampu : - Merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan diri Kriteria Evaluasi Setelah .Jelaskan alat dan cara kebersihan diri  Berdandan . berdandan.Evaluasi SP 1 melakukan ..Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien  Makan  BAB / BAK .mampu SP 2 .x SP 1 pertemuan.Masukan dalam jadwal kegiatan pasien .Latih cara berdandan  Untuk laki – laki meliputi cara : Berpakaian Menyisir rambut Bercukur  Untuk perempuan meliputi cara : Berpakaian Menyisir rambut Berhias .

Menjelsakan tempat BAB/BAK yang sesuai . BAB/BAK - Bermain peran cara merawat - Rencana tindak lanjut keluarga/jadwal keluarga untuk merawat pasien SP 2 .Latih cara BAB dan BAK yang baik .Jelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan . dan 3) .SP 3 .Evaluasi kemampuan pasien yang lalu (SP1. makan. makan.Masukan dalam jadwal kegiatan pasien SP 4 .Menjelskan cara membersihkan diri setelah BAB/BAK Setelah ...Latih kegiatan makan .Jelaskan cara dan alat makan yang benar . Jelaskan cara merawat kebersihan diri. BAB/BAK mendukung agar - Jelaskan defisit perawatan diri kemampuan pasien - dalam pasien Identifikasi masalah keluarga dalam merawat perawatan dirinya meningkat kebersihan diri. 2. berdandan.Jelaskan cara mempersiapkan makan .x SP 1 pertemuan.Evaluasi kegiatan SP 1 dan SP 2 .Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik . mampu melatih keluarga - meneruskan pasien dengan masalah dan berdandan.

2006.Latih keluarga merawat langsung ke pasien cara makan .Evaluasi kemampuan keluarga .RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien SP 4 . Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.. LAPORAN PENDAHULUAN HARGA DIRI RENDAH . M 2004. kebersihan diri dan berdandan . Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Kep. Budi. Amino Gonohutomo.RTL keluarga Follow up Rujukan Daftar Pustaka Aziz R. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 5. 2002. Jakarta : EGC Perry. Jakarta : EGC Rasmun S. Jakarta : CV Sagung Seto Santosa. Jakarta: EGC.Evaluasi kemampuan pasien . dkk. 2003 Keliat.Evaluasi kemampuan SP 2 .RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien SP 3 . Proses Keperawatan Jiwa. 2005.Evaluasi SP 1 . 2005 – 2006.Latih keluarga merawat langsung ke pasien. Jakarta : Prima Medika. 2005 . GW. Potter. B.A. Stuart. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan.

ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai frustasi c. 2. perubahan dalam stuktural sosial. Pengertian Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dengan ideal diri (Stuart. Penyebab 1. 2005) Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri (Yoeddhas. b. Faktor yang mempengaruhi identitas personal. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah peran seks. tuntutan peran kerja. c. kegagalan yang berulang kali. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupannya. Transisi Peran situasi adalah terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran dan kematian . meliputi ketidak percayaan orang tua tekanan dari kelompok sebaya. 2005) Harga diri rendah adalah cenderung untuk memilih dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain (Hamid Achir Yani. Faktor Predisposisi a. Faktor Presipitasi a. harapan peran kultural. kurang mempunyai tanggung jawab personal. b.A. harapan orang tua yang tidak realistis. 2010) B. Faktor yang memiliki harga diri meliputi pendataan orang lain.

mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI. Isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive. perubahan ukuran bentuk. fungsi tubuh. E. 2005 tanda dan gejala harga diri rendah yaitu : 1 Merasa dirinya lebih rendah dari orang lain 2 Mengkritik diri sendiri dan orang lain 3 Gangguan dalam berhubungan 4 Rasa diri penting yang berlebihan 5 Perasaan tidak mampu 6 Rasa bersalah 7 Pandangan hidup yang pesimis 8 Penolakan terhadap kemampuan personal 9 Menarik diri secara social 10 Khawatir dan menarik diri dari realitas D. 1998 : 336). Transisi peran sehat sakit akibat pergeseran dari keadaan sehat ke sakit dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh. Akibat Harga diri rendah dapat membuat klien menjdai tidak mau maupun tidak mampu bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial : menarik diri. Pohon Masalah Isolasi sosial : menarik diri . perubahan fisik berhubungan dengan tumbang normal moral dan prosedur medis keperawatan C. Manifestasi Klinis Menurut Suliswati.d. penampilan.

putus asa. merasa jelek  DO : Kontak mata kurang. ingin mati  DO : Klien malas-malasan.Gangguan konsep diri : HDR Berduka disfungsional F. tidak berinisiatif untuk berinteraksi dengan orang lain. Masalah Keperawatan Data yang perlu dikaji Gangguan konsep diri : . Produktivitas menurun 2. Isolasi Sosial : Menarik diri .Data Mayor  DS : : . . Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji No 1.Data Minor :  DS : Klien mengatakan malas. tidak memiliki kelebihan apapun.Data Mayor :  DS : HDR Klien hidup tidak bermakna.

mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya. mengurung diri. merasa tidak berguna  DO : Mematung.  DO : Menyendiri .Data Minor  DS : : Ekspresi Wajah sedih  DO : Tidak ada kontak mata ketika diajak . mendengar suara/melihat bayangan.Klien mengatakan malas berinteraksi. tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain .Data Mayor  DS : : Mengungkapkan tak berdaya dan tak ingin hidup lagi  DO : Mengungkapkan sedih karena tidak naik kelas/ kehilangan seseorang . 3. tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain. Berduka disfungsional . mondar-mandir tanpa arah. merasa orang lain tidak selevel.Data Minor  : DS : Curiga dengan orang lain.

Diagnosa Keperawatan 1. Berduka disfungsional H. Keluarga mampu : - Merawat pasien dengan harga diri rendah di rumah dan menjadi sistem pendukung yang efektif Kriteria Evaluasi bagi pasien Intervensi Setelah ….x SP I pertemuan klien . kemampuan .Diskusikan bahwa pasien masih memiliki sejumlah . sesuai kemampuan - Merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya.bicara G.Mengidentifikasi kemampuan kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan aspek positif yang dimiliki . Gangguan konsep diri : HDR 2.Memiliki pasien di rumah adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien. mampu: . Isolasi sosial : menarik diri 3.Identifikasi kemampuan positif yang dimiliki. Intervensi Tujuan Pasien mampu : - Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki - Menilai kemampuan yang dapat digunakan - Menetapkan / memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan - Melatih kegiatan yang sudah dipilih. .Beri pujian yang realistis dan hindarkan setiap kali yang dapat digunakan bertemu dengan pasien penilaian yang negatif.

. . . .Susun bersama pasien aktivitas atau kegiatan seharihari pasien .Bersama pasien dan keluarga memperagakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan pasien.Berikan dukungan atau pujian yang nyata sesuai kemajuan yang diperlihatkan pasien ..Aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga .Aktivitas apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau lingkungan terdekat pasien.Diskusikan dengan pasien kemampuan yang masih kegiatan yang sudah dipilih .Bantu pasien menetapkan aktivitas mana yang dapat pasien lakukan secara mandiri.Diskusikan dengan pasien beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-hari.Merencanakan kegiatan yang sudah dilatih digunakan saat ini .Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif .Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini kemampuan .Beri contoh cara pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan pasien .Memilih kegiatan sesuai .Nilai kemampuan pertama yang telah dipilih .Diskusikan dengan pasien untuk menetapkan urutan kegiatan (yang sudah dipilih pasien) yang akan dilatihkan. .Melakukan .Pilih kemampuan yang akan dilatih .Bantu pasien penguatan menyebutkannya terhadap dan kemampuan memberi diri yang diungkapkan pasien .

Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama pasien dan keluarga.Pilih kemampuan kedua yang dapat dilakukan .Jelaskan tentang cara merawat pasien dimiliki pasien .Memilih kemampuan ketiga yang dapat dilakukan . .Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien .Mengidentifikasi .Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien Setelah pertemuan …..Beri kesempatan pada pasien untuk mencoba kegiatan.Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan pasien SP 2 .Menyediakan untuk .Susun RTL keluarga / jadwal keluarga untuk pasien merawat pasien .Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2) .Berikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan.Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1) .Identifikasi masalah yang dirasakan dalam merawat mampu : pasien .Jelaskan proses terjadinya HDR kemampuan yang .Main peran dalam merawat pasien HDR fasilitas . . .Beri pujian atas aktivitas / kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari .Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi dan perubahan sikap .Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien SP 3 .Latih kemampuan yang dipilih .x SP 1 keluarga .

Evaluasi kemampuan keluarga pasien . Ina. Jakarta : Salemba Medika Stuart.RTL keluarga : kegiatan pasien Follow Up Rujukan .Menyusun RTL keluarga / jadwal keluarga untuk melakukan kegiatan . Asuhan Keperawatan Jiwa.Evaluasi kemampuan pasien menyusun .melakukan kegiatan .Membantu SP 2 .Membantu perkembangan pasien Daftar Pustaka Keliat. Fitria. Wahyu. 2009. 2005. Gail W.Budi A. Jakarta: EGC. 2009. Purwaningsih. Prinsip Dasar & Aplikasi Laporan Pendahuluan & Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP & SP) untuk 7 Diagnosa.Evaluasi kemampuan SP 1 melakukan kegiatan . Buku Saku Keperawatan Jiwa.Mendorong pasien .Membantu .Memuji pasien pasien dapat jadwal merawat pasien SP 3 melatih . Jogjakarta: Nuha Medika Press. Karlina. N. Jakarta: EGC .Latih keluarga langsung ke pasien saat . Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. 2006.

terlalu melindungi. dan glutamat. Mekanisme penghantaran listrik abnormal c. Virus : paparan virus influensa pada trimester III e. Adanya gejala pemicu . (Stuart dan sundeen. Faktor Presipitasi a. ayah tidak peduli. Genetis : diturunkan. Neurotransmitter : abnormalitas pada dopamine. Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal dan korteks limbic. (Budi Anna Keliat. Pengertian Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terusmenerus. d. 2006) Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal. (Harold K. 2. Penyebab 1. 2004) B. Psikologis : ibu pencemas. 2004) Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan. Proses pengolahan informasi yang berlebihan b. c. adanya abnormalitas perkembangan sistem syaraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif. tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.LAPORAN PENDAHULUAN (LP) WAHAM A. b. Faktor Predisposisi a. serotonin.

Waham Curiga Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai kenyataan 5. Waham Agama Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkjan secra berulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan 2.C. Waham Nihilistik Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak didunia/meninngal yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai kenyataan 7. Waham Sisip Fikir Klien yakin bahwa ada fikiran orang lain yang disisipkan/dimasukkan kedalam fikiran yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai kenyataan 6. Waham Somatik Klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai kenyataan 4. Klasifikasi Waham 1. Waham Siar Fikir Klien yakin bahwa ada orang lain mengetahui apa yang dia butuhkan walaupun dia tidak menyatakan pada orang tersebut apa yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai kenyataan. Waham Kebesaran Keyakinan klien yang berlebihan terhadap kemampuan yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai kenyataan 3. .

kebesaran. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama. Merusak (diri. Takut. keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan 2. orang lain dan lingkungan. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas 8. . lingkungan) 6.D. kecurigaan. orang lain dan lingkungan. Bermusuhan 5. orang lain. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. Manifestasi Klinis Menurut Azis (2003). sangat waspada 7. tanda dan gejala yang dihasilkan atas penggolongan waham. Curiga 4. Mudah tersinggung E. Klien tampak tidak mempunyai orang lain 3. yaitu: 1. Akibat Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri. Ekspresi wajah tegang 9.

2. ingin membvunuh. merusak. ingin membakar dan mengacak – ngacak lingkungan DO : Klien mengamuk. kecurigaan. dan melempar barang. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji No 1.F. kebesaran. melakukan tindakan kekerasan kepada orang disekitarnya. keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan kenyataan tetap tidak sesuai dengan . Peruibahan proses pikir : DS : waham Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (agama.orang lain dan lingkungan Perubahan prose pikir : waham Isolasi sosial : menarik diri G. Masalah Keperawatan Data yang perlu dikaji Resiko mencederai diri. DS : orang lingkungan lain dan Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain. Pohon Masalah Resiko mencederai diri sendiri.

DO :
Klien tampak tidak memiliki orang lain,
curiga,

bermusuhan,

merusak,

takut,

waspada, paniki, sangat waspada, mudah
tersinggung, ekspresi wajah klien tegang

3.

H. Diagnose Keperawatan
1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubunganb dengan
perubahan proses pikir : waham
2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.

I. Intervensi

Tujuan

Kriteria Evaluasi

Paien mampu :

Setelah ...x pertemuan, pasien dapat memenuhi SP

- Berorientasi kepada realitas secara bertahap

In

kebutuhannya

- Id

- Mampu berinteraksi dengan orang lain dan

- Bi

lingkungan

m

- Menggunakan obat dengan prinsip 6 benar

- La

- M
Setelah ...x pertemuan, pasien mampu :

SP

- Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan
- Mampu

menyebuitkan

serta

-

memilik -

kemampuan yang dimiliki
-

Setelah ...x pertemuan, pasien mampu :

SP

- Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memilih kemampuan lain yang dimiliki

-

Keluarga mampu :

Setelah

- Mengidentifikasi waham pasien
- Memfasilitasi

pasien

untuk

...x

pertemuan

keluarga

mampu SP

mengidentifikasi masalah dan menjelaskan cara - Id
memenuhi merawat pasien

kebutuhannya
- Mempertahankan

- Je
program

pengobatan

- Je

pasien secara optimal

- La

- RT
Setelah ...x pertemuan keluarga mampu :

SP

-Menyebutkan kegiatan yang sesuai dilakukan

- Ev

-Mampu memperagakan cara merawat pasien

- La

k

- R
Setelah

...x

pertemuan

keluarga

mampu SP

mengidentifikasi masalah dan cara merawat -Ev
pasien

-Ev

-RT

Daftar Pustaka
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.
Amino Gonohutomo, 2003

Santoso, Budi. 2005 – 2006. Panduan Diagnosa Nanda. Jakarta : Prima
Medika.
Stuart, G.W. dan Sundden, S.J. ( 2006). Buku Saku Keperawatan
Jiwa. Jakarta : EGC
Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC.
2006
Yosep Iyus, 2009, Keperawatan Jiwa, Edisi Revisi, Bandung : Refika Aditama

LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI

A. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan di mana individu mengalami risiko untuk
menyakiti diri sendiri atau tindakan yang dapat mengancam jiwa (Stuart dan
Sundeen, 1995 dalam Fitria, 2009).
Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk
mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan berupaya untuk
mewujudkan hasratnya untuk mati. Perilaku bbunuh diri ini meliputi isyaratisyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian,
luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton, 1995 dalam Yosep, 2010).
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian (Gail w. Stuart, 2007. Dikutip Dez, Delicious, 2009.
Bunuh diri adalah suatu tindakan agresif yang langsung terhadap diri
sendiri untuk mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir
dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi. (Jenny., dkk.
(2010). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan
Gangguan Jiwa ).

c. adrenalin. atau bahkan perceraian. Faktor meniru. impulsive. Faktor predisposisi Lima factor predisposisi yang penunjang pemahaman perilaku destruktif diri sepanjang siklus kehidupan (Fitria. . penyakit kronis. terdapat beberapa factor yang berpengaruh dalam bunuh diri. Menurut Iyus Yosep (2010). kehilangan dukungan social. dan depresi. d. b. Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko bunuh diri terdapat peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonin.B. dan dopamine yang dapat dilihat dengan EEG. kejadian-kkejadian negative dalam hidup. Diagnosa Psikiatrik. e. d. penyalagunaan zat. b. Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri mempunyai ganggguan jiwa (ganggan afektif. Faktor riwayat gangguan mental. Lingkungan Psikososial. Faktor mood dan biokimia otak. perpisahan. anatara lain: a. c. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan risiko bunuh diri adalah antipasti. Faktor Biokimia. Diantaranya adalah pengalaman kehilangan. Sifat Kepribadian. f. dan factor pembelajaran. e. dan skizofrenia). imitasi. Faktor isolasi sosial dan human relations. Riwayat Keluarga. 2009): a. Faktor hilangnya rasa aman dan ancaman kebutuhan dasar. Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor penting yang dpaat menyebabkan seseorang melakukan tinfdakan bunuh diri. Faktor religiusitas. Penyebab 1.

penolakan. klien terlihat sebagai orang yang depresi. kehilangan pekerjaan. 5. melihat atau membaca melalui media tentang orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri (Fitria. 6. Pengangguaran (tidak bekerja. Pencetusnya seringkali kejadian hidup yang memalukan. 9. psikosis dan menyalahgunakan alcohol). 11. Mempunyai ide untuk bunuh diri. Kesehatan mental (secara klinis. cemas meningkat. Mengungkapkan keinginan untuk mati. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian. 2. Faktor Presipitasi Perilaku destruktif dapat ditimbulkan oleh stress yang berlebihan yang dialami oleh individu.2. . Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun. panic. C. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal). Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan. menanyakan tentang obat dosis mematikan). 3. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri. 2009). Manifestasi Klinis Tanda dan Gejala menurut Fitria. Impulsif. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh). atau mengalami kegagalan dalam karier). Status emosional (harapan. 12. 8. marah dan mengasingkan diri). 4. 10. 7. Nita (2009) : 1.

Pohon Masalah Bunuh diri Resiko Bunuh diri Isolasi sosial : menarik diri Harga diri rendah kronis (Fitria. Perilaku yang muncul meliputi isyarat. Akibat Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dan lingkungan dengan tujuan mengakhiri hidup. 16. Konflik interpersonal. Latar belakang keluarga. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil. percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri. E. Pekerjaan.13. 18. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan). 14. D. 2009) . Sumber-sumber personal. Orientasi seksual. 20. 19. Sumber-sumber social. 15. 17.

Pengangguran .Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun . psikois.Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan .Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil Objektif : .Berbicara tentang kematian.Menunjuukan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh) .Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga .Impulsif . Diagnosa Keperawatan . dan penyalahgunaan alkohol) . Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji Masalah Keperawatan Resiko bunuh diri Data yang perlu dikaji Subjektif : .Mengungkapkan adanya konflik interpersonal .Mengungkapkan keinginan untuk mati .F.Adanya riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal).Status perkawinan yang tidak harmonis G. menanyakan tentang dosis obat yang mematikan .Mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri .Ada riwayat penyakit mental (depresi. .

Amankan benda – benda yang dapat membahayakan benda – benda yang pasien dapat .Ajarkan cara mengendalikan dorongan bunuih diri pasien ..x . pasien .Mengidentifikasi aspek positif dan mampu menghargai SP 3 diri sebagai individu .Mengendalikan SP 2 dorongan bunuh diri ...1.Identifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien yang berharga .Identifikasi aspek positif pasien Setelah .x SP 1 pertemuan pasien .Dorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri pertemuan. Resiko bunuh diri berhubungan dengan isolasi sosial : menarik diri 2... Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah kronis H.Lakukan kontrak treatment membahayakan .Identifikasi mampu : benda – benda yang dapat membahayakan pasien .Dorong pasien untuk menghargai diri sebagai mampu : individu yang berharga .Nilai pola koping yang biasa dilakukan .Latih cara mengendalikan dorongan bunuih diri . Intervensi Tujuan Pasien tetap aman dan selamat Keluarga mampu : - Merawat pasien dengan resiko bunuh diri Kriteria Evaluasi Setelah Intervensi ...Mengidentifikasi .

Dorong pasien memilih pola koping yang konstruktif .Latih keluarga melakukan cara merawat langsung mampu melakukan kepada pasien resiko .Mengidentifikasi pola koping yang konsruktif Setelah ...x pertemuan SP 1 keluarga mampu : ..Jelaskan pengertian tanda dan gejala resiko bunuh pengertian.Jelaskan cara-cara merawat pasien resiko bunuh diri .. tanda dan dan jenis perilaku bunuh diri yang dialami pasien gejala beserta proses terjadinya serta jenis perilaku bunuh diri Setelah pertemuan ....x pertemuan..Latih keluarga mempraktekan cara merawat pasien mampu: dengan resiko bunuh diri .Anjurkan pasien menerapkan pola koping yang konsruktif dalam kegiatan Setelah .Beri dorongan pasien melakukan kegiatan dalam rangka meraih masa depan Setelah ..Merawat pasien dan . pasien mampu : .Merawat pasien dan merawat pasien mampu menjelaskan ..Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam . SP 4 pasien mampu : ..x SP 2 keluarga .x pertemuan.Identifikasi pola koping yang konstruktif ...Buat rencana masa depan yang realistis bersama pola pasien yang.Identifikasi cara mencapai rencana masa depan yang konstruktif dan mampu menerapkannya realistis .Mengudentifikasi koping .

(2010). Nita.Jelaskan follow up pasien setelah pulang Setelah . Sujono & Teguh. Yosep. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jogjakarta: Graha Ilmu.. Prinsip Dasar Dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) Untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat Bagi Program S1 Keperawatan. Medan: USU Press. Iyus. 2010. Jakarta: EGC.Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah langsung cara merawat pasien termasuk minum obat ... Akemat. dkk. Keperawatan Jiwa. Fitria. 2009. Salemba Medika.SP 3 . KUMPULAN LAPORAN PENDAHULUAN . (2009).x pertemuan keluarga mampu : Daftar Pustaka Keliat A. Budi. Jakarta. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa.. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Bandung: Refika Aditama Jenny.

KEPERAWATAN JIWA DISUSUN OLEH : ANDI JUMAENA NIM : P.1504199 PROGRAM PROFESI NERS STIKES WIYATA HUSADA SAMARINDA TAHUN AKADEMIK 2015/2016 KUMPULAN LAPORAN PENDAHULUAN .

1504212 PROGRAM PROFESI NERS STIKES WIYATA HUSADA SAMARINDA TAHUN AKADEMIK 2015/2016 .KEPERAWATAN JIWA DISUSUN OLEH : Retno Eko Sayekti Arief Saputri NIM : P.