You are on page 1of 4

Nama

: Fariz Rahmat Ramadhan
NIM
: I4A011051
Dosen Pembimbing : dr. Hj. Robiana M. Noor, Sp.KK, FINS. DV

KUSTA
1. Kriteria Lesi Kusta: Makula disertai 4A:
-

Anestesia
Anhidrosis
Atrof
Akromi

2. Pemeriksaan Pembesaran Saraf Tepi
i.

N. auricularis magnus:
Pasien disuruh menoleh maksimal ke samping , apabila terjadi
pembesaran saraf akan terlihat. Atau melalui palpasi, dua jari
pemeriksa diletakkan di atas persilangan saraf dengan otot, apabila
membesar akan teraba seperti kabel atau kawat. Kanan dan kiri harus
dibandingkan.

ii.

N. ulnaris
Satu tangan pemeriksa memegang pergelangan tangan pasien yang
dalam keadaan rileks dan sedikit fleksi, satu tangan lagi meraba sulcus
nervi ulnaris pasien untuk menilai apakah ada pembesaran atau tidak.
Kanan dan kiri harus dibandingkan.

iii.

N. peroneus lateralis
Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah
lateral dari capitulum fibulae.
Bila saraf yang dicari tersentuh oleh pemeriksa, seringkali pasien
merasa seperti disetrum di daerah yang dipersaraf saraf tersebut.

3. Pemeriksaan Fungsi Motorik Saraf
i.

N. ulnaris
Pasien diminta untuk menjepit selembar kartu di antara jari kelingking
dan jari manisnya. Pemeriksa menarik perlahan kartu untuk
mengetahui kekuatannya.
Kelainan: pitcher hand

ii.

N. medianus
Pasien diminta melipat jempolnya ke arah telapak dalam keadaan
lurus. Pemeriksa memberikan dorongan keluar untuk mengetahui
kekuatannya.
Kelainan: claw hand
N. radialis

iii.

luas. dengan terdapat lesi satelit Asimetris Lokal. mengangkat kaki sepenuhnya. plak. Kelainan: drop foot 4. lesi punched out Banyak. pemeriksa memberikan tahanan dari arah luar. skuama I -Lesi: Makula Satu atau beberpa Bervarias i Permuka an halus. 2. Pasien diminta memutar kakinya ke arah luar. asimetris Permukaan kering. Klasifkasi Morbus Hansen menurut Ridley-Jopling Klasifkasi Ridley-Jopling (1962) dilakukan berdasarkan: 1. Pemeriksa memberikan dorongan ke bawah untuk mengetahui kekuatannya. 4. kemudian diminta untuk menginjakkan kaki seperti menginjak gas mobil dengan melawan tahanan dari pemeriksa. Kelainan: drop hand iv.Pasien diminta untuk menngangkat maksimal pergelangan tangannya ke belakang. tidak ada kulit sehat Banyak. papul BB -Lesi: Plak. Gambaran klinis Bakteriologik Histopatologik Status imun penderita Gambar an klinis TT -Lesi: Makula atau makula dibatasi infltrat BT -Lesi: Makula dibatasi infltrat saja Satu atau beberapa Satu atau beberapa. lesi bentuk kubah. skuama Sense (-) Permukaa n kering. infltrat difus. 3. tapi masih ada kulit sehat Beberap a. papul Sense ↓ Permuka an sedikit kilap. b. Pasien diminta duduk dengan kaki menggantung. beberap a kering Sense ↓ . masih ada kulit sehat Cenderu ng simetris Asimetris Simetris Permukaa n halus berkilap Permuka an halus berkilap Sense (+) Sense ↓ BTA LL -Lesi: Makula . N. agak berkilat Sense (-) BL -Lesi: Makula. peroneus communis a.

PB : Minum di depan petugas : - Rifampisin 600 mg/bulan DDS 100 mg/bulan Minum di rumah : - DDS 100 mg/hari 1 glister (hijau) 1 dosis = 28 hari Jumlah pengobatan = 6 dosis Waktu pengobatan 6-9 bulan Terapi kusta MH : Minum di depan petugas : - Rifampisin 600 mg/bulan DDS 100 mg/bulan Clofazimin 50 mg/hari Minum di rumah : - DDS 100 mg/hari Clofazimin 50 mg/hari 1 glister (pink) 1 dosis = 28 hari Jumlah pengobatan = 12 dosis Jangka waktu pengobatan 12-18 bulan 6.Pada lesi Negatif Pada hembus an hidung Tes Lepromi n +3 Negatif atau +1 +2 Negatif +1 5. Terapi tiap tipe Kusta i. Indikasi Drop Out pada pengobatan Kusta Banyak Banyak Banyak Banyak - - Agak banyak Tidak ada ± .

Kalau tidak ada keaktivan baru secara klinis dan bakterioskopis tetap negative. MB : 12-18 bulan  RFT. Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan secara bakterioskopis minimal setiap 6 bulan. Pemeriksaan dilakukan minimal setiap tahun selama 2 tahun secara klinis dan bakterioskopis. Kalau tidak ada keaktivan baru secara klinis dan bakterioskopis tetap negatif. Kapan RFT dan kapan RFC PB : RFT 6-9 bulan . .- PB: bolos minum obat >3 bulan  Drop Out MB bolos minum obat >6 bulan  Drop Out 7. Pemeriksaan dilakukan minimal setiap tahun selama 5 tahun secara klinis dan bakterioskopis. maka dinyatakan RFC (release from control). maka dinyatakan RFC (release from control). Pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan secara bakterioskopis minimal setiap 3 bulan.