You are on page 1of 20

TUGAS

GENESA BAHAN GALIAN
KLASIFIKASI DAN PROSES ENDAPAN
BAHAN GALIAN

Apriadi Saputra
15 31 00 32
Program studi Teknik Pertambangan
Fakultas Sumberdaya Alam
Institut Teknologi Yogyakarta
2016

1

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN

Perkembangan konsep dan klasifikasi endapan
Pada kenyataannya

tidak mudah membuat pengelompokan

atau klasifikasi endapan

mineral. Terdapat klasifikasi yang didasarkan pada genesanya, ada juga klasifikasi secara diskriptif,
misal berdasarkan komoditi logamnya, atau berdasarkan batuan yang ditempatinya (host rocks-nya).
Sebenarnya klasifikasi secara diskriptif berdasarkan komoditi logamnya relatif mudah untuk dipahami.
Tetapi pada para ahli geologi tidak menggunakan klasifikasi tersebut, karena berbagai alasan,
diantaranya tersebarnya banyak unsure logam pada beragam tatanan geologinya dan pembagian ini
mungkin dirasa kurang ilmiah.
Pengelompokan yang sering digunakan oleh para ahli geologi, umumnya berdasarkan
bentuk

endapannya,

wall rocknya, atau control strukturnya. Sebagai contoh Bateman (1950)

dalam bukunya “ Economic Mineral Deposit” mengelompokkan
strukturnya,

pada

diantaranya

bijih

berdasarkan

control

bijih yang terbentuk pada sesar, pada lipatan, pada kontak batuan beku,

diseminasi dan lain sebagainya. Masalahnya terdapat juga bijih yang terbentuk pada lipatan yang
tersesarkan, atau diseminasi sepanjang kontak batuan beku. Sehubungan dengan munculnya teori
tektonik lempeng yang dapat menjelaskan proses magmatisme dan keberadaan endapan bijih, maka
klasifikasi secara genetic makin sering digunakan.
Tokoh penting yang memulai membangun konsep dan klasifikasi endapan mineral adalah
Waldemar Lindgren (1860-1939). Lindgren (1911) secara garis besar membagi endapan mineral
menjadi dua macam yaitu
a). endapan oleh proses mekanik dan
b). endapan oleh proses kimiawi.
Endapan yang disebabkan oleh proses kimiawi, karena naiknya air magmatik, dibagi menjadi
3, berturut-turut

dari bagian yang paling dalam adalah: Endapan hipotermal,

Endapan

Mesotermal, dan Endapan epitermal.
Endapan hipotermal terbentuk pada wilayah yang cukup dalam pada temperature yang
relative panas, endapan epitermal merupakan endapan yang terbentuk di dekat permukaan, dengan
kondisi temperature yang rendah. Sedangkan endapan Mesotermal terbentuk pada kedalaman dan
temperature diantara endapan
Mesitermal dan hipotermal. Dalam klasifikasi ini belum muncul istilah hidrotermal, tetapi hanya
disebut dengan istilah “ karena naiknya air, berhubungan dengan aktivitas batuan beku”.

2

Tabel 4.1. Klasifikasi Lindgren (1911)
I. ENDAPAN OLEH PROSES MEKANIK
I. ENDAPAN OLEH PROSES KIMIAWI
Oleh reaksi
A

0-70° C

P menengah-tinggi

Evaporasi
1. KONSENTRASI KOMPONEN YANG BERASAL DARI TUBUH BATUAN SENDIRI
a. Oleh pelapukan

0-100° C

P menengah

b. Oleh air tanah

0-100° C

P menengah

c. Oleh metamorfosa

0-400° C

P tinggi

0-100° C

p menengah

2. PENAMBAHAN KOMPONEN DARI LUAR
a. TANPA AKTIVITAS BATUAN BEKU
B

b. BERHUBUNGAN DENGAN AKTIVITAS BATUAN BEKU
1) KARENA NAIKNYA AIR
Hypothermal

500-600° C

P tinggi

Mesothermal

150-300° C

P tinggi

Epitermal

50-150° C

P menengah

2). OLEH EMANASI LANGSUNG BATUAN BEKU

C

Pyrometasomatic

500-800° C

P tinggi

Sublimates

100-600° C

P rendah-menengah

Endapan magmatik

700-1500° C

P tinggi

Pegmatik

575° C

P tinggi

A. Di dalam tubuh air

B. Di dalam tubuh batuan

C. Endapan magmatik

Tabel 4.2 Ciri-ciri umum endapan Hipotermal (Lingren 1933)
Kedalaman
Temperatur
Pembentukan
Zona bijih
Logam bijih
Mineral bijih
Mineral
penyerta
(gangue)
Ubahan batu samping
Tekstur dan struktur
Zonasi

3000- 15000 m
300-600
Pada atau dekat batuan plutonik asam.Pada umumnya pada batuan
prakambrium, jarang pada batuan muda.Sering ditemukan pada sesar
naik
Fracture-filling dan replacement, tubuh bijih umumnya tidak
beraturan, kadang tabular. Kadang terdapat ore disseminated
pada batuan samping
Au, Sn, Mo,W,Cu,Pb,Zn,As
Magnetit, spekularit, pirhotit, kasiterit, arsenopirit, molibdenit,
bornit, kalkopirit, wolframit, scheelite, pirit,galena, sfalerit-Fe.
Garnet, plagioklas,biotit, muskovit, topas, tormalin, epidot, kuarsa,
kloorit-fe, karbonat
Albitisasi, tourmalinisasi, kloritisasi, seritisasi pada batuan silikaan
Kristal kasar, kadang berlapis, inklusi fluida hadir pada kuarsa
Tekstur dan mineralogy makin kedalam berubah secara gradual, Au
telurida kadang hadir sebagai bonanza.

3

Tabel 4.3 Ciri-ciri umum endapan Mesotermal (Lingren 1933)
Kedalaman
Temperatur
Pembentukan
Zona bijih

Logam bijih
Mineral bijih
Mineral
penyerta
(gangue)
Ubahan batu samping
Tekstur dan struktur
Zonasi

1200-4500 m
200-300
Umumnya pada atau di dekat batuan beku intrusive. Mungkin
berasosiasi dengan rekahan tektonik regional. Umum pada sesar normal
maupun sesar naik
Sebagai endapan replacement yang luas dan fracture-infilling. Batas
tubuh bijih bergradasi dari massif ke diseminasi.Seing
membentuk bijih tabular, stockwork, pipa, saddle-reefs, beddingsurface. Strike dan dip Fissure agak teratur.
Au,Ag,Cu,As,Pb,Zn,Ni,Co,W,Mo,U, dll
Native Au, Ag, kalkopirit, bornit, pirit, sfalerit, galena enargit,
kalkosit, bournonite, argentite, pitchblende, niccolite,cobaltite,
tetrahedritesulphosalt,
Mineral temperature tinggi jarang (garnet, tourmaline, topas dll), albit,
kuarsa serisit, klorit, karbonat, siderite, epidot, monmorilonit.
Kloritisasi intens, karbonisasi atau seritisasi.
Kristal lebih halus dibamding hipotermal, pirit jika hadir sangat
halus, lensa yang besar bisanya massif.
Gradual, secara pasti terjadi perubahan mineralogy kearah
kedalaman

Tabel 4.4 Ciri-ciri umum endapan epitermal (Lingren 1933)
Kedalaman
Temperatur
Pembentukan

Permukaan hingga 1500 m
50-200
Pada batuan sedimen atau batuan beku, terutama yang berasosiasi dengan
batuan intrusiv dekat permukaan atau ekstrusiv, biasanya disertai oleh
sesar turun, kekar dsb.
urat-urat yang simpel, beberapa tidak beraturan dengan
pembentukan kantong-kantong bijih, juga seringkali terdapat pada
pipa dan stockwork.
Jarang terbentuk sepanjang permukaan lapisan, dan sedikit
kenampakan replacement (penggantian)

Zona bijih

Logam bijih
Mineral bijih

Mineral
(gangue)

Pb, Zn, Au, Ag, Hg, Sb, Cu, Se, Bi, U
Native Au, Ag, elektrum, Cu, Bi
Pirit, markasit, sfalerit, galena, kalkopirit, Cinnabar, jamesonite,
stibnite, realgar, orpiment, ruby silvers, argentite, selenides, tellurides
penyerta

Ubahan batu samping
Tekstur dan struktur
Zonasi

kuarsa, chert, kalsedon, ametis, serisit, klorit rendah-Fe, epidot, karbonat,
fluorit, barite, adularia, alunit, dickite, rhodochrosite, zeolit
sering sedikit, chertification (silisifikasi), kaolinisasi, piritisasi,
dolomitisasi, kloritisasi
Crustification (banding) sangat umum, sering sebagai fine banding,
cockade, vugs, urat terbreksikan. Ukuran butir(kristal) sangat bervariasi
Makin ke dalam akin tidak beraturan, seringkali kisaran vertikalnya
sangat kecil.

Niggli (1929) menyampaikan konsep pengelompokan mineral, menggabungkan konsep
stadia magmatisme dengan jenis-jenis komoditi logamnya. Kelompok pertama adalah endapan
endapan yang terkait dengan batuan plutonik,
4

yang kemudian dibagi menjadi
Pegmatik,

Kelompok Orthomagmatik, Kelompok Pneumatolitik-

dan kelompok Hidrotermal. Kelompok Othomagmatic dibagia Kelompok Intan-

Platinum-kromium

dan Kelompok Titanium-besi-nikel- tembaga.

dibagi menjadi Logam berat-alkanine earths- fosforus-titanium,

Kelompok
kelompok

fluorin-boron-tin-molibdenum-tungsten, dan Kelompok Tourmalin-kuarsa.

Pneumatolitik
Silikon-alkali-

Demikian halnya

dengan Kelompok lain seperti hidrotermal dan volkanik, akan dibagi lagi menjadi kelompok
komoditi logam (Tabel
2). Setelah banyak dilakukan eksplorasi dan eksploitasi endapan mineral di banyak tempat di dunia,
diketahui ada banyak jenis komoditi logam seperti emas yang didapatkan

pada beberapa

kelompok. Sehingga penggolongan ini menjadi kurang relevan lagi.

Tabel 4.5. Klasifikasi endapan bijih Niggli (1929)
I. PLUTONIK ATAU INTRUSIV
A. Orthomagmatic
1. Intan, platinum-kromium
2. Titanium-besi-nikel-tembaga
B. Pneumatolytic sampai pegmatitic
1. Logam berat, alkaline earths, fosforus-titanium
2.Silikon-alkali-fluorin-boron-tin-molibdenum-tungsten
3Tormalin-asosiasi kuarsa
C. Hydrothermal
1. Besi-tembaga-emas-arsenik
2. Lead-Zinc-silver
3. Nikel-kobal-arsenik-perak
4. Karbonat-oksida-sulfat-fluorida
I. VOLKANIK ATAU EKSTRUSIV
A. Tin-perak-bismut
B. Logam-logam berat
C. Emas-peral
D. Antimoni-merkuri
E. Tembaga murni (native)
F. Endapan subaquatic-volcanic and biochemical

Pengertian Pneumatolitik yang disampaikan Niggli (1929) adalah stadia magmatisme yang
didominasi oleh fase gas, sedangkan hidrotermal didominasi oleh fase cair. Pada klasifikasi ini
telah muncul istilah hidrotermal, yang dibagi menjadi empat golongan komoditi logam. Niggli
(1929) tidak membagi hidrotemla menjadi hipotermal,
kenyataannya

sulit

mesotermal,

dan

epitermal.

Pada

dibedakan kenampakan hasil ubahan atau endapan mineral yang disebabkan

oleh proses pneumatolitik

dengan

hidrotermal.

Belakangan,

para ahli geologi

banyak

menggunakan istilah fluida hidrotermal (hydrothermal fluid) untuk mewakili baik fase gas
pneumatolitik maupun fase cair hidrotermal.
Graton (1933) mengusulkan istilah teletermal, untuk endapan mineral pada daerah
dangkal, yang terbentuk jauh dari sumbernya (T dan P rendah). Sedangkan Buddington (1935),
mengenalkan istilah xenotermal, untuk endapan pada daerah dangkal tetapi terbentuk pada
temperatur tinggi (T tinggi P rendah). Hal ini disebabkan oleh adanya intrusi pluton didekat
permukaan.
5

6

Tabel 4.6. Klasifikasi Lindgren (1933) yang dimodifikasi oleh Graton (1933) dan Buddington
(1935)

I. ENDAPAN YANG DIHASILKAN OLEH PROSES KIMIAWI

A

Endapan magmatik (proper/komplit, segregasi ,
injeksi, )
Pegmatik

700-1500° C

P sangat tinggi

T sedang-tinggi

P sangat tinggi

Volkanogenik subaerial asosiasi dengan
volcanic piles
Dari tubuh efusif, sublimasi, fumarola

100-600° C

P atmosfer-menengah

100-600° C

P atmosfer

Dari tubuh intrusi; endapan metamorfik batuan
beku

500-800° C

P sangat tinggi

Hypothermal, sangat dalam

300-500° C

P sangat tinggi

Mesothermal, kedalaman sedang

200-300° C

P tinggi

Epitermal, dangkal

50-200° C

P menengah

Telethermal, dekat permukaan, saluran

T rendah

P rendah

Xenothermal, dangkal

T tinggi-rendah

P sedang-atmosfer

KOMPONEN EPIGENETIK
KARENA ERUPSI BATUAN BEKU

KARENA NAIKNYA AIR MAGMATIK

B

KARENA SIRKULASI AIR METEORIK DI ZONE DANGKAL-MENENGAH

T 100° C

P menengah

KOMPONEN TERKANDUNG DALAM BATUAN ITU SENDIRI, EPIGENETIK ATAU SINGENETIK

C

Metamorfosa regional dan dinamik

400° C

P tinggi

Sirkulasi air tanah bagian dalam

0-100° C

P menengah

Peluruhan batuan dan residu pelapukan dekat
permukaan
Volcanogenic berasoiasi volkanisme

0-100° C

P menengah-atmosfer

T tinggi

P rendah-menengah

Interaksi banyak larutan

0-70° C

P menengah

T rendah

P
rendah,
permukaan

a. Reaksi inorganik b.
Reaksi organik

Evaporasi zat terlarut

II. ENDAPAN YANG DIHASILKAN OLEH PROSES
MEKANIK
A. Di dalam magma, oleh proses diferensiasi
tubuh air

B. Di dalam tubuh batuan

di

C. Di dalam

7

Tabel 4.7 Ciri-ciri umum endapan teletermal (Graton, 1933 dari Evans , 1993)
Kedalaman
Temperatur
Pembentukan

Dekat permukaan
100
Pada batuan sedimen, lava. Sering terbentuk pada wilayah yang tidak
ditemukan batuan plutonik
Dalam rekahan terbuka, cavities, kekar, fissure. Tidak ditemukan
replacement.
Pb,Zn,Cd,Ge
Galena(miskin Ag), sfalerit (miskin Fe, mungkin kaya Cd),
markasit, pirit, Cinabar
Kalsir, dolomite miskin Fe, dll

Zona bijih
Logam bijih
Mineral bijih
Mineral
penyerta
(gangue)
Ubahan batu samping
Tekstur dan struktur
Zonasi

Dolomitisasi, chertification
Seperti epitermal
-

Stantan (1972) membuat klasifikasi endapan bijih didasrkan pada asosiasi batuan
sampingnya (host rock), baik pada batuan beku, sedimen hingga metamorf. Pengelompokkan
tersebut meliputi:
1. Bijih pada batuan beku

Bijih berasosiasi dengan mafik dan ultramafik

Bijih berasosiasi dengan felsik

2. Bijih yang berafiliasi batuan sedimen

Konsentrasi bijih besi

Konsentrasi bijih mangan

Strata-bound

3. Stratiform sulpide yang berasosiasi dengan volkanik laut
4. Bijih berasosiasi dengan urat
5. Bijih berasosiasi dengan batuan metamorf

Berapa

ahli

geologi

melakukan

pengelompokan

endapan

bijih

didasarkan pada

lingkungan tektoniknya, diantaranya yang telah dilakukan Mitchell dan Garson (1981), yang
membagi endapan bijih menjadi:
1. Endapan di Continental Hot Spots, Rifts dan Aulacogens
2. Endapan pada Passive Continental Margins dan Interior Basins
3. Endapan pada lingkungan Oceanic
4. Endapan pada lingkungan subduksi
5. Endapan pada lingkungan yang terkait dengan collision
6. Endapan pada Transform Faults dan lineamentnya pada Continental

8

9

Tabel 4.8. Klasifikasi endapan bijih Lindgren, di modifikasi tahun 1985

I. ENDAPAN YANG DIHASILKAN OLEH PROSES KIMIAWI
Segregasi magmatik, injeksi, intrusi mafik berlapis
Karbonatit, kimberlit

700-1500° C

P sangat tinggi

Endapan logam dasar porphyry in part

T sedang

P sedang

Pegmatik

T
sedangtinggi

P tinggi

100-1200° C

P atmosfer-menengah

100-600° C

P atmosfer

200-800° C

P menengah

Anortosit, gabro

KOMPONEN EPIGENETIK
KARENA ERUPSI BATUAN BEKU

Volkanogenik subaerial asosiasi dengan
volcanic piles
Sublimasi, fumarola
KARENA NAIKNYA LARUTAN HIDROTERMAL

Logam dasar porfir
Urat Cordilleran

dangkal-menengah

Batuan metamorfik

300-800° C

P rendah-menengah

Epitermal

50-300° C

P rendah,
dangkal-menengah

KARENA REMOBILISASI LARUTAN, SIRKULASI AIR METEORIK

Mississipi Valley

25-200° C

P rendah

Western state uranium

25-75° C

P rendah

25-350° C

P rendah

KARENA SIRKULASI AIR LAUT

Endapan-endapan
samodra,smokers, red Sea
Volcanic exhalites in part

kerak

KOMPONEN TERKANDUNG DALAM BATUAN ITU SENDIRI, EPIGENETIK ATAU SINGENETIK

Metamorfosa regional dan dinamik

25-600° C

P tinggi

Sirkulasi air tanah bagian dalam; contoh:
Athabasca uranium
Peluruhan batuan dan residu pelapukan dekat
permukaan
Volcanogenic asoiasi volkanisme, endapan kerak
samodra. a. Massive sulfide-Cyprus
b. Manganese-nickel-copper nodules
Volcanogenic asosiasi sedimen
a. Black shale hosted?
Interaksi banyak larutan
a. Reaksi inorganik b.
Reaksi organik
Evaporasi

0-150° C

P menengah

25-50° C

P atmosfer

25-350° C

P hydrospheric

25-75° C

P hydrospheric

0-70° C

P menengah

25-75° C

P atmosfir

Sedimentasi kimiawi , a. Logam dasar
b. Fosfat

25-75° C

P rendah

II. ENDAPAN YANG DIHASILKAN OLEH PROSES T rendah
MEKANIK
III. ENDAPAN YANG DIHASILKAN OLEH PENGARUH METEORIT

P rendah, di permukaan

10

Sejalan dengan berkembangnya

konsep tektonik lempeng pada dasa warsa 60-70an, beberapa

istilah yang dikemukakan oleh Lindgren, Graton, dan Buddington, Guilbert

dan Pak, jarang

digunakan. Variasi endapan magmatic makin bervariasi,. Istilah epitermal, sampai sekarang ini
masih digunakan, walaupun pengertiannya sudah mengalami modifikasi dari konsep aslinya, yang
disampaikan oleh Lindgren (1911). Istilah mesotermal, kadang masih digunakan, terutama untuk
kategori endapan epitermal, tetapi menunjukkan temperature pembentukan yang tinggi, sedangkan
istilah hipotermal, teletermal, maupun xenotermal, jarang digunakan lagi. stilah-istilah yang banyak
digunakan

dalam

pembentukan

eksplorasi

serta tatanan

endapan
geologinya,

mineral

adalah klasifikasi

yang

didasarkan

pada

seperti endapan logam dasar porifir, urat Cordilleran,

Mississipi Valey dan sebagainya.
Secara Genetik, endapan mineral dibagi menjadi endapan yang disebabkan
oleh

proses

magmatik,

proses

hidrotermal,

proses

metamorfisme,

serta

proses- proses

dipermukaan. Endapan magmatik , dibagi menjadi endapan yang disebabkan proses

gravitational

settling, liquid immisvibility, maupun pegmatik. Endapan hidrotemal meliputi endapan porfir
(porphyry deposit), endapan greisen, massive sulphide deposit, skarn, epitermal (low sulphidation
dan

high

sulphidation)

dll. Endapan skarn kadang juga digolongkan

sebagai endapan

metamorfik. Sedangkan endapan-endapan permukaan meliputi endapan palcer, endapan evaporasi,
endapan residual laterit, endapan supergen, maupun endapan volkanik-exhalative.

Proses

pembentukan bijih logam secara umum dapat di bagi menjadi empat kelompak, yaitu proses
magmatik,

proses

hidrotermal,

proses

metamorfik

dan proses

permukaasn (disarikan dari

Hutchison, 1983, Evans 1993)
a.Proses Magmatik
Mineral-mineral

bijih seperti magnetit, ilmenit, kromit terbentuk pada fase awal

diferensiasi magma, bersamaan dengan pembentukan mineral olivine, piroksen, Ca-Plagioklas.
Semua mineral bijih yang terbentuk pada fase ini disebut sebagai endapan

magmatik.

Beberapa proses pada fase magmatisme diantaranya
meliputi:
a. Proses kristalisasi (diseminasi), intan (C ) pada kimberlit
b. Proses segregasi (kumulat, gravity settling):

kromit (Cr), magnetit

(Fe), platinum (Pt)
c. Liquid immiscibility : : Cu-Ni sulfide, Fe-Ti Oksida d.
Pegmatik : Fe, Sn
Di Indonesia endapan-endapan bijih yang disebabkan oleh proses magmatik, sampai
sekarang belum menunjukksan nilai ekonomi yang signifikan. Konsentrasi bijih besi (Fe) atau
nikel (Ni) lebih disebabkasn oleh proses pelapukan, baik kimiawi maupun fisik, membentuk
endapan residusal atau placer.
11

b.Proses hidrotermal

Sistem hidrotermal dapat didifinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50° sampai
>500°C), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervarisasi, di bawah
permukaan bumi (Pirajno, 1992). Sistem ini mengandung dua komponen utama, yaitu sumber panas
dan fase fluida. Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding
menjadi tidak stabil, dan cenderung menyesuasikan

kesetimbangan

baru dengan membentuk

himpunan mineral yang sesuasi dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai alterasi (ubahan)
hidrotermal. Endapan bijih hidrotermal terbentuk karena sirkulasi fluida hidrotermal yang
melindi (leaching),
terhadap

perubahan

menstranport,
kondisi

fisik

dan mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon
maupun kimiawi (Pirajno, 1992). Interaksi antara fluida

hidrotermal dengan batuan yang dilewatinya (batuan dinding), akan menyebabkan terubahnya
mineral-mineral primer menjadi mineral ubahan (alteration minerals.
Semua mineral bijih yang terbentuk sebagai mineral ubahan pada fase ini
disebut sebagai endapan hidrotermal. Endapan hidrotermal dapat dibagai menjadi beberapa
kelompak, yaitu:
a. Berhubungan dengan batuan beku
1.

Porfiri : Cu, Au, Mo . Contoh di Grasberg, Batuhijau

2.

Skarn : Cu,Au,Fe. Contoh Ertzberg complex

3.

Greisen : Sn, W. Contoh di P.Bangka

4.

Epitermal (low and high sulphidation type, Carlyn type) : Au,
Cu, Ag, Pb. Contoh di Pongkor, M.Muro

5.

Massive Sulphide Volcanogenic : Au, Pb, Zn. Contoh Wetar

b. Tidak berhubungan dengan batuan beku
5.

Lateral secretion (Missisippi valley type) : Au,Pb,Zn

12

Gambar 4.1. Diagram proses magmatisme-hidrotermal-vulkanisme, kaitannya dengan
mineralisasi bijih logam

Greisen didefinisikan
lipidolit)

agregat granoblasti

dari kuarsa

dan muskovit

(atau

dengan sejumlah mineral asesori seperti topas, tourmalin, dan fluorit yang

dibentuk oleh ubahan metasomatik post-magmatik granit (Best 1982, Stemprok
1987 dalam Evans 1993). Greisen adalah tipe endapan penghasil utama logam timah
dan tungsten,

umumnya

salah satu unsur hadir lebih dominan.

Endapan

tersebut

umumnya di bentuk pada kontak bagian atas dari intrusi granit, yang kadang disertai oleh
pembentukan stockwork. Mineraliasi umumnya sebagai tubuh besar yang tak beraturan
atau sebagai lembaran di bawah kontak bagian atas dengan lebar sekitar
10-100

m,

yang

bergradasi

melalui

zona

ubahan

felspatik

(albitisasi

dan

mikroklinisasi) ke arah granit segar (Pollard dkk., 1988 dalam Evans,1993).
Endapan bijih epitermal adalah endapan yang terbentuk pada lingkungan hidrotermal
dekat permukaan, mempunyai temperatur dan tekanan yang relatif rendah, berasosiasi
dengan kegiatan magmatisme kalk-alkali sub-aerial, sebagian besar endapannya dijumpai
di dalam batuan

volkanik (beku dan klastik). Endapan epitermal berdasarkan karakter

fluidanya dibagai menjadi epitermal sulfidasi rendah
dan epitermal sulfidasi tinggi Pada kenyataannya tidak mudah untuk membatasi ciri- ciri endapan
yang termasuk bahagian epitermal dari sistem hidrotermal lainnya. Seringkali kita mendapati
kenampakan endapan, baik mineralogi maupun teksturnya merupakan gradasi dari endapan 13
epitermal dengan endapan hidrotermal lain.

Endapan sulfida masif sering berasosiasi dengan batuan-batuan pelite sampai semipelite
atau berasosiasi dengan endapan volkanik bawah laut . Endapan yang berasosiasi dengan
volkanik

sering

dikenal

sebagai

endapan

sulfida

vulkanogenik, yang terutama banyak

mengandung tembaga dan timah maupun emas dan perak sebagai by-product. Sawkind(l 976)
membagi endapan massive sulphide volcanogenic menjadi tipe Kuroko, tipe Cyprus, tipe Besshi,
dan tipe Sullivan.

C. Proses metamorfisme-hidrotermal
Suatu tubuh batuan yang diterobos magma (batuan beku) umumnya akan mengalami
rekristalisasi,

alterasi,

mineralisasi,

penggantian

(replacement), pada bagian

kontaknya.

Perubahan ini disebabkan oleh adanya panas dan fluida yang berasal dari aktifitas magma
tersebut. Istilah metamorfosa kontak dan metasomatosa kontak sangat terkait dengan prosesproses di atas.
Metamorfosa

dan metasomatosa

kontak

yang

melibatkan

batuan

samping terutama

batuan karbonat seringkali menghasilkan skarn dan endapan skarn. Dalam proses ini berbagai
macam fluida seperti magmatik, metamorfik, serta meteorik ikut terlibat. Fluida yang mengandung
bijih ini sering tercebak dan terakumulasi antara tubuh
pluton

dengan

batuan

pluton

dan

sesar-sesar

disekitar

disekitarnya. Walaupun sebagian besar skarn ditemukan pada batuan

karbonat, tetapi juga dapat terbentuk pada jenis batuan lainnya, seperti serpih, batupasir maupun
batuan beku.
a. Kontak pirometasomatik (skarn): Cu, Au, Fe
b. Metamorfosa menyebabkan bijih terkonsentrasi : Au
Kata "skarn" pertama kali digunakan di pertambangan

Swedia untuk sebuah material

gangue kalk-silikat yang kaya akan bijih-Fe dan endapan-endapan sulfida terutama yang telah
me-replace kalsit dan dolomit pada batuan karbonat.
Klasifikasi skarn pada umumnya banyak mempertimbangkan

tipe batuan dan asosiasi

mineral dari batuan yang di-replace.. Pengertian endo-skarn dan exo- skarn mengacu pada
skarnifikasi batuan beku dan batugamping yang terkait. Endo- skarn adalah proses skarnifikasi
yang

terjadi

batugampiong

pada

batuan

sekitar

beku,

batuan

sedangkan
beku.

exo- skarn

adalah

skarnifikasi

pada

Pada kenyataannya sebagian besar bijih skarn hadir

sebagai exo-skarn.

14

Tipe ubahan

ENDAPA
N
MAGMAT
MAGMATIK
BasaltikUltra basa
Basaltikultra basa
-

Mineral ubahan

-

Topas, kuarsa,
muskovit,turmal
in

Mineral
bijih utama

Kromit,
pendlandit
,
magnetit
Cr, Ni, Pt
Diseminas
i, berlapis
Kristalisasi
langsung
dari magma

Kasiterit,wolframit
,sc heelite

Intrusi
Host rocks

Komoditi logam
Tekstur utama
Keterangan lain

GREISEN
Pluton granitik
Pluton granitik
greisen

Sn,W
Diseminas
i,
stockwork

ENDAPAN
HIDROTERMAL
PORFIRI
SKARN
EPITERMAL H.S. EPITERMAL L.S
Andesitik
andesitik
Sub vulkanik
Sub vulkanik
granitikgranitik- andesitik
andesitik
Garanitik-andesitik karbonat
Vulkanik, sedimen Vulkanik, sedimen
Potasik, filik,
argillic,,profilitik
±an vanced
argillic
Biotit,
KF,kuarsa,serisit,p
ir
it,ilit,epidot,klorit,k
al
Bornit,
kalkosit
kalkopirit,
molibdenit
Cu, Mo, Au, Sn, W
Diseminasistockwork,
urat ubahan
Zona
umumnya
konsentris,
tonase besar dg
kadar rendah

Potasik,skarn,profi
liti k

advanced argillic
,Profilitik, argillic

Garnet,diopsit,mag
ne
tit,wolastonit,tremo
lit,
biotit,
Bornit,klorit
kalkosit
kalkopirit,
molibdenit
Cu, Mo, Au, Sn, W
Diseminasistockwork,
urat ubahan
Zona
umumnya
konsentris, tonase
besar dg
kadar rendah

Kaolinit,alunit,
diaspor.pirofilit,
ilit
Enargir,
luzonit,
tenantit
Au, Cu,Ag
Diseminasireplacement
masif
Equivalen
dg
sistem gunung api
aktif

M.S.V.
Dasitik/granitik
Vulkanik dasitik

Filik, argillic,
profilitik
±anvanced
argillic
Serisit,ilit,klo
rit, epidot,
kalsit,
adularia ± kaolinit
Sfalerit,
galena,
kalkopirit
Au, Ag
Urat, stockwork

Silisik,internedieta
rg illic

Equivalen
dengan
geotermal aktif

Berasosiasi
dengan
vulkanisme
bawah laut

Barit, gipsum,
anhidrit,ilit,kuar
sa
Sfalerit,galen
a, kalkopirit
Zn, Pb, Cu ± Au,
As
Masif,
berlapis

Tabel 4.9. Karakteristik berbagai tipe endapan bahan galian logam

d.Proses-proses
permukaan
Endapan

di

permukaan

merupakan

endapan-endapan

bijih

yang

terbentuk relatif di permukaan, yang dipengaruhi oleh pelapukan dan
pergerakan air tanah. Telah dikenal secara luas, bahwa endapan (sedimen}
permukaan dibagi menjadi endapan alohton (allochthonous) dan endapan
autohton (autochthonous). Endapan alohton merupakan endapan yang
ditransport dari tempat lain (dari luar lingkungan pengendapan), sedangkan
endapan autohton adalah endapan yang terbentuk secara insitu.
Endapan alohton yang terkait dengan bijih atau secara ekonomi sering
disebut sebagai endapan placer. Sedangkan endapan autohton yang terkait
dengan bijih biasa dikenal sebagai endapan residual dan endapan

presipitasi kimia atau evaporasi. Sedangkan pengkayaan supergen
(supergen enrichment) walaupun tidak terbentuk di dekat permukaan,
tetapi pembentukannnya terkait dengan proses-proses di permukaan.
Endapan
Placer
Endapan placer secara umum dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu
endapan placer eluvial, endapan placer colluvial, endapan placer

aluvial, dan endapan placer aeolian (Macdonald, 1983 dalam Evans ,
1993). Secara tradisional juga sering digunakan istilah endapan placer

residual, untuk

endapan

yang

terbentuk

dan berada di atas batuan

sumbernya. Endapan ini umumnya terbentuk pada daerah yang mempunyai
morfologi yang relatif datar. Penggunaan istilah endapan placer colluvial
tidak begitu populer, beberapa penulis menyebut endapan ini terbentuk di
dasar suatu tebing (cliff) dan sering diartikan sama dengan endapan talus.
Endapan placer eluvial umumnya terbentuk pada daerah yang memiliki
morfologi bergelombang. Mineral- mineral berat akan terkonsentrasi di
lereng-lereng

dekat

batuan

sumber.Komoditi penting yang terbentuk

sebagai endapan placer adalah emas (Au), platina (Pt) dan Timah (Sn).
Endapan
residual
Endapan-endapan placer, seperti yang telah dibahas di atas terbentuk
dari material yang terlepas dari batuan sumbernya baik secara mekanik
14

maupun kimiawi. Seringkali material
karena proses tersebut

atau

unsur

yang

tertinggal

oleh

mempunyai nilai

15

ekonomi yang tinggi. Endapan-endapan sisa tersebut dikenal sebagai

endapan residual. Untuk dapat terjadi endapan residual, pelapukan kimia
yang intensif terutama untuk daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi
sangat diperlukan. Dalam kondisi tersebut sebagian besar

batuan

akan

menghasilkan soil yang kehilangan material- material yang mudah larut.
Soil seperti ini dikenal sebagai laterit (laterites). Besi (Fe) dan aluminium
(Al) hidroksid adalah sebagaian dari material yang paling tidak mudah larut,
dan laterit umumnya mengandung material ini.
Laterit yang sebagian besar mengandung aluminium hidroksid disebut
sebagai bauxite dan merupakan bijih aluminium yang paling penting.
Beberapa endapan bauxite mengalami melapukan dan terendapkan kembali
membentuk bauxite sedimen (sedimentary bauxites).
Selama lateritisasi, nikel yang terkandung dalam batuan peridotit dan
serpentinit (0,25% Ni) pada awalnya terlarut, tetapi kemudian secara cepat
mengalami presipitasi kembali ke dalam mineral-mineral oksida besi pada

zona laterit atau zona limonit (12% Ni) atau dalam garnierit pada zona saprolit (2-3%, zona lapuk di
bawah zona
laterit
)
Pengkayaan
supergen
Selama berlangsung pengangkatan dan erosi, suatu endapan bijih
terekspos di dekat permukaan, kemudian mengalami proses pelapukan,
pelindian (leaching), maupun oksidasi pada mineral-mineral bijih. Proses
tersebut menyebabkan

2+

2+

banyak unsur logam (Cu , Pb , Zn

2+

dll.) akan

terlarut (umumnya sebagai senyawa sulfat) dalam air yang bergerak

ke

dalam air tanah atau bahkan sampai ke kedalaman dimana proses oksidasi
tidak berlangsung.
Daerah dimana terjadi proses oksidasi disebut sebagai zona oksidasi.
Sebagian larutan yang mengandung logam-logam yang terlarut bergerak
terus hingga di bawah muka air tanah, kemudian logam-logam tersebut
mengendap kembali membentuk sulfida sekunder. Zona ini dikenal sebagai
zona pengkayaan supergen. Di bawah zona pengkayaan supergen terdapat
daerah dimana mineralisasi primer tidak terpengaruh oleh proses oksidasi

maupun pelindian, yang disebut sebagai zona hipogen. Logam yang paling
banyak terbentuk karena proses ini adalah tembaga (Cu)

DAFTAR PUSTAKA

Hartoruwarno,Sutarto.Tanpa Tahun. panduan kuliah dan praktikum endapan
mineral. yogyakarta: upn”veteran”.