You are on page 1of 37

DENNISE AFIANTO [406148014

]

LAPORAN KASUS

LAPORAN KASUS
ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT

: RS Pelabuhan Jakarta

NAMA MAHASISWA

: Dennise Afianto

NOMER MAHASISWA

: 406148014

IDENTITAS

PASIEN :
Nama lengkap

: An. AB

Tanggal lahir (umur) : 2 Mei 2008 (7 tahun 6 bulan)
Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl Kampung Sawah Baru/25 , Jakarta Utara

Suku bangsa

: Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

AYAH

:

Nama lengkap

: Tn. AK

Tanggal lahir (umur) : 33 tahun
Suku bangsa

: Indonesia

Alamat

: Jl Kampung Sawah Baru/25 , Jakarta Utara

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak, RS
Pelabuhan Jakarta
Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015

1

DENNISE AFIANTO [406148014]

LAPORAN KASUS

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan

IBU

:

Nama lengkap

: Ny. M

Tanggal lahir (umur) : 31 tahun
Suku bangsa

: Indonesia

Alamat

: Jl Jl Kampung Sawah Baru/25 , Jakarta Utara

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak, RS
Pelabuhan Jakarta
Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015

2

DENNISE AFIANTO [406148014]

LAPORAN KASUS

RIWAYAT PENYAKIT

Keluhan utama

: Demam naik turun

Keluhan tambahan : Mual ,muntah , sulit makan dan kepala pusing
Riwayat Perjalanan penyakit

:

Pasien datang ke RSPJ pada dini hari pukul 01.00 dengan keluhan demam 2 hari SMRS. Ibu
pasien berkata demamnya naik turun, dan lebih panas pada sore ke malam hari. Ibu pasien sudah
memberikan obat penurun demam “Sanmol” tapi tidak ada perbaikan. Keluhan tambahan lainnya
yaitu mual dan muntah. Ibu pasien juga mengeluh anaknya jadi sulit makan. Ibu pasien juga
mengeluh anaknya sakit kepala . Batuk pilek disangkal. Nyeri saat berkemih disangkal. Tidak
ada keluarga yang mempunyai riwayat seperti ini. Pasien sedang tidak mengkonsumsi obatobatan apapun

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

KEHAMILAN
Perawatan antenatal : bidan
Penyakit kehamilan

: tidak ada

KELAHIRAN
Tempat kelahiran

: puskesmas

Penolong persalinan : bidan
Cara persalinan

: normal pervaginam

Masa gestasi

: 38 minggu

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak, RS
Pelabuhan Jakarta
Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015

3

DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS Keadaan bayi        : Berat badan lahir : 2600 gram Panjang badan lahir : 40 cm Lingkar kepala : 32 cm Menangis :+ Warna : merah Skor APGAR :Kelainan bawaan : Tidak ada RIWAYAT PERKEMBANGAN Pertumbuhan gigi pertama : Psikomotor       : Tengkurap : 4 bulan Duduk : 9 bulan Berdiri : 11 bulan Berjalan : 12 bulan Berbicara : 12 bulan Membaca dan menulis : - RIWAYAT IMUNISASI VAKSIN DASAR BCG 1x DPT/DT 3x Polio 3x Campak 1x Hepatitis B 2x ULANGAN RIWAYAT MAKANAN UMUR (bulan) ASI/PASI Buah/Biskuit Bubur Susu Nasi Tim Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 4 .

1 porsi Telur 1-2x / hari. 1 porsi Daging 1-2x / hari. 1 porsi Tahu 1-2x / hari. 2-3 iris Susu - RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA PENYAKIT UMUR PENYAKIT UMUR Diare - Morbili - Kejang - Parotitis - Otitis - Demam berdarah - Radang Paru - Demam tifoid - Tuberkulosis - Cacingan - Ginjal - Alergi - Jantung - Kecelakaan - Darah - Operasi - Difteri - Lain – lain - Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 5 . 1 porsi Sayur 1-2x / hari. 1-2 buah Tempe 1-2x / hari. 1 butir Ikan 1-2x / hari.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS 0–2 2–4 4–6 6–8 8 – 10 10 – 12 v v v - v v v v - v v UMUR LEBIH DARI 1 TAHUN JENIS MAKANAN FREKUENSI DAN JUMLAHNYA Nasi / Pengganti 3x / hari .

DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS RIWAYAT KELUARGA Corak reproduksi No. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 6 . Tanggal lahir (umur) Jenis kelamin Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) 1 10 tahun Perempuan v - - - 2 PASIEN Laki-laki v - - - 3 3 minggu Laki-laki v - - - DATA KELUARGA AYAH IBU Perkawinan ke 1 1 Umur saat menikah 23 21 Konsanguinitas - - Keadaan kesehatan / penyakit - - RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA : - DATA PERUMAHAN Kepemilikan rumah : Pribadi Keadaan rumah :- Keadaan lingkungan :- PEMERIKSAAN FISIS Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.

ubun-ubun normal  Rambut dan kulit kepala : Hitam. dan tidak mudah dicabut Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. distribusi merata.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS Tanggal : 19 November 2015 Jam : 03.00 PEMERIKSAAN UMUM Keadaan umum : tampak sakit sedang Kesadaran : CM Tanda vital Frekuensi nadi : 110 x/menit Tekanan darah :- Frekuensi napas : 24 x/menit Suhu tubuh : 37.5 C DATA ANTROPOMETRI Berat badan : 19 kg Tinggi badan :- Lingkar kepala :- Lingkar dada :- Lingkar lengan atas :- PEMERIKSAAN SISTEMATIS Kepala :  Bentuk dan ukuran : Normocephali. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 7 .

dan teraba sama keras di kedua lapang paru  Perkusi : Sonor pada paru kedua lapang paru  Auskultasi : Suara nafas vesikuler di kedua lapang paru. septum deviasi (-).  Hidung : Tidak ada deformitas. ronkhi -/-. wheezing -/-  Jantung  Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak  Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial garis midclavicularis sinistra. reflek cahaya tidak langsung +/+. tidak tampak serumen dan tidak tampak sekret. retraksi sela iga (-). konjungtiva tidak pucat. gigi Mulut geligi lengkap  Lidah : tidak kotor. sekret (-)  Bibir : Tidak kering.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS  Mata : palpebra tidak cekung. iga vertikal. tidak teraba thrill Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. simetris dalam keadaan statis dan dinamis  Paru  Inspeksi  : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis Palpasi : Vocal fremitus simetris.  Telinga : Normotia. sclera tidak ikterik. tidak sianosis  : Stomatitis (-). reflek cahaya langsung +/+. mukosa mulut tidak kering.  Faring : tidak hiperemis Leher : KGB tidak teraba Trakea lurus di tengah Toraks:  Dinding toraks : Bentuk normal. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 8 .

hepar dan lien tidak teraba. regular. sianosis (-). shifting dulnes (-)  Auskultasi : bising usus (+) normal Anus dan rectum : tidak ada kelainan Kelenjar getah bening : Tidak teraba Genitalia : perempuan Anggota gerak : atas : akral hangat. BJ II normal. turgor baik PEMERIKSAAN LABORATORIUM pukul Laboratorium 19-11-2015 Leukosit 5. deformitas (-).98 Hemoglobin 13. tidak ada splitting.45 Eritrosit 4. oedem (-) Tulang belakang : tidak ada kelainan Kulit : warna sawo matang. RS Pelabuhan Jakarta MCHC 35 Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 9 . oedem (-) bawah : akral hangat. lemas  Perkusi : Timpani . defans (+) . tidak ada gallop Abdomen:  Inspeksi : datar. sianosis (-). tidak ada murmur. deformitas (-).DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS  Auskultasi : BJ I normal.0 Hematokrit 37.1 (RENDAH) Trombosit 155 MCV 75 (RENDAH) MCH 26 (RENDAH) RDW-SD 35.9 LED 13 Darah rutin Tanggal: 19 November 2015 01. tidak tampak distensi.53 RINGKASAN Telah diperiksa seorang anak berusia 7 tahun 6 bulan dengan keluhan demam naik sejak 2 hari Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. ikterik (-). turgor kulit baik.BU + (N). tidak tampak vena collateral  Palpasi : ada nyeri tekan pada kuadran kanan dan kiri atas. sianosis (-).

RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 10 . DIAGNOSIS KERJA Susp. Pada pemeriksaan penunjang laboratorium didapatkan rendahnya nilai hematocrit. dan kepala pusing.Perbaiki kebutuhan cairan pasien . Pada pemeriksaan fisik didapatkan semua dalam batas normal.lebih panas pada sore dan malam hari. dan MCH. Demam dikatakan naik turun . Ibu pasien juga mengeluh anaknya sulit makan. muntah.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] SMRS .Rawat untuk menegakkan diagnosis . MCV . infeksi dengue DIAGNOSIS BANDING .Bacterial infection (leptospirosis & demam tifoid) ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah rutin berkala (tiap hari) Pemeriksaan Widal Pemeriksaan NS1 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam Ad fungsionam : ad bonam Ad sanationam : ad bonam PENATALAKSANAAN Hidrasi cukup : Asering 15tpm Analgesik Paracetamol syr 10-15mg/kgBB/x 10kgBB x 12mg = 240mg 1 sendok takar = 120mg/5cc 240mg/120mgcc = 2 sendok takar Dosis 3x2cth prn demam Ranitidine 2 x 20 mg TINDAK LANJUT .Perbaiki keadaan umum pasien Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Keluhan lain meliputi mual.

demam naik turun sejak 2 hari SMRS .45 Eritrosit 4.0 Hematokrit 37.mual dan muntah S: 37.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS FOLLOW UP 19 November 2015 Laboratorium 19-11-2015 Leukosit 5.kepala pusing .1 (RENDAH) Trombosit 155 MCV 75 (RENDAH) MCH 26 (RENDAH) MCHC 35 RDW-SD 35. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 11 .5c N: 110x/m RR: 24x/m observasi febris .98 Hemoglobin 13.monitor TTV Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.9 S: O: A: P: .

3 40.1 Trombosit 19 (RENDAH) MCV 75 (RENDAH) MCHC 35 RDW-SD 35.kepala pusing (+) O: S: 36.monitor TTV & keluhan subjektif Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.8 (RENDAH) Trombosit 95 RENDAH) MCV 75 (RENDAH) MCH 26 (RENDAH) 21-11-2015 35 .7 banyak minum November 2015 .monitor TTV & keluhan subjektif .38 35 14.anjurkan pasien banyak minum November 2015 .terdapat ruam di kulit O: S: 36.anjurkan pasien 21 S: MCHC A: P: 22 S: A: P: RDW-SD Laboratorium 35.1 36.monitor TTV & keluhan subjektif .monitor keluhan subjektif .4 Leukosit 2.demam (+) hari ke-6 .33 (RENDAH) 26 (RENDAH) 5.6 (RENDAH) Trombosit 63 (RENDAH) Laboratorium MCV Leukosit MCH Eritrosit MCHC Hemoglobin RDW-SD Hematokrit 22-11-2015 75 (RENDAH) 2.demam (+) hari ke-5 . RS Pelabuhan Jakarta MCH 26 (RENDAH) Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 12 .demam hari ke-4 mual dan muntah (+) S: 36.8c N: 112x/m RR: 24x/m observasi febris .5c N: 112x/m RR: 24x/m observasi febris .anjurkan pasien banyak minum 20 November 2015 S: Laboratorium O: A: P: 20-11-2015 Leukosit 3.5 Hematokrit 35.kepala pusing (+) .DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS .7c N: 112x/m RR: 24x/m observasi febris .16 Hemoglobin 13.43 (RENDAH) Eritrosit 4.33 (RENDAH) Eritrosit 5.5 Hematokrit 38.80 Hemoglobin 12.

8 Hematokrit 43.5 Hematokrit 42.0 Trombosit 62 (RENDAH) MCV 75 (RENDAH) MCH 26 (RENDAH) MCHC 35 RDW-SD 35.6 5.3 Trombosit 18 (RENDAH) MCV 76 (RENDAH) MCH 26 (RENDAH) Laboratorium MCHC Leukosit RDW-SD Eritrosit 24-11-2015 34 7.anjurkan pasien banyak minum November 2015 Pasien dibolehkan pulang DEMAM DENGUE Definisi Demam dengue (DD) merupakan sindrom benigna yang disebabkan oleh ”arthropod borne viruses” dengan ciri demam bifasik. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 13 . rash.ruam di kulit O: S: 36.60 (RENDAH) Eritrosit 5.7 .anjurkan pasien banyak minum 23 November 2015 S: Laboratorium A: P: 24 23-11-2015 Leukosit 4.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] . leukopeni dan Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.57 Hemoglobin 14.demam (+) hari ke-7 .02 37.monitor TTV & keluhan subjektif .2c N: 112x/m RR: 24x/m observasi febris .57 Hemoglobin 14. mialgia atau atralgia.

4. Dalam kurun waktu 40 tahun. Pada tahun yang sama. penyakit ini telah menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia. Pada tahun 1980 an penyakit ini merambah negara-negara di Benua Amerika yang beriklim tropis dan subtropis.5 Etiologi Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. 4 Virus DEN-1 pertama kali diisolasi Sabin dan Schlesinger di Honolulu tahun 1943. Penyakit ini terutama menyerang anak usia dibawah 15 tahun.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] limfadenopati.4. 6 Istilah haemorrhagic fever di Asia Tenggara pertama kali digunakan di Filipina tahun 1953 . Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akibat virus dengue yang berat dan sering kali fatal. Pasien dengan demam dengue (DD) dapat mengalami perdarahan berat walaupun tidak memenuhi kriteria WHO untuk DBD. pertama kali dilaporkan kasus DD oleh Bylon di Batavia tahun1779. 1 Sejarah infeksi dengue dan virus dengue DD klinis dilaporkan pertama kali oleh Banyamin Reesh pada bulan Agustus -Oktober 1780 (break bone fever) di Philadelphia. DBD pertama kali dilaporkan di Filipina yang kemudian menyebar ke negara-negara kawasan Asia Tenggara. Virus DEN-3 dan 4 diidentifikasi oleh Hammon dkk tahun 1960 4 dan dua tahun kemudian berhasil mengidentifikasi virus DEN. 3 DBD dibedakan dari DD berdasarkan adanya peningkatan permeabilitas vaskuler dan bukan dari adanya perdarahan.4 Kasus DBD pertama kali terdiagnosis di Surabaya pada tahun 1968. Kimura dan Hotta berhasil mengisolasi dan mempublikasikan virus DEN-1 selama terjadi epidemi di Nagasaki. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 14 .6 Pada tahun 1954.6 Di Indonesia.7 Hingga tahun 1956 baru dikenal virus dengue tipe 1 dan 2. kasusnya dilaporkan oleh Quintos dkk pada tahun 1954.5 Virus DEN-2 berhasil diisolasi oleh sejumlah ahli di New Guinea pada tahun 1944.5 dan 6.

Profil nyamuk Aedes dibandingkan nyamuk anopheles dan culex Patofisiologi Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.8 Gambar 2.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS Virus dengue termasuk genus Flavivirus dari keluarga flaviviridae dengan ukuran 50 nm dan mengandung RNA rantai tunggal. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 15 . 1-9 Virus dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes dari subgenus Stegomya.DEN-3 dan DEN-4. Aedes polynesiensis yang merupakan vektor sekunder dan epidemi yang ditimbulkannya tidak seberat yang diakibatkan Aedes aegypty. 8 Hingga saat ini dikenal empat serotipe yaitu DEN- 1.DEN-2. Aedes aegypty merupakan vektor epidemik yang paling penting disamping spesies lainnya seperti Aedes albopictus.

Teori mediator Sejak tahun 1950an. 3 Beberapa teori dan hipotesis yang dikenal untuk mempelajari patofisiologi infeksi dengue ialah : 1. teori antigen antibodi dan aktivasi komplemen. dari sini berkembang menjadi teori infection enhancing antibody kemudian muncul peran endotoksemia dan limfosit T. Teori infection enchancing antibody 9. Teori apoptosis. 9 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Adanya perembesan plasma ini membedakan demam dengue dan demam berdarah dengue.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Patofisiologi yang terpenting dan menentukan derajat penyakit ialah adanya perembesan plasma dan kelainan hemostasis yang akan bermanifestasi sebagai peningkatan hematokrit dan trombositopenia. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 16 . Teori imunopatologi 7. Teori antigen antibodi 8.10 Hingga saat ini patofisiologi DD/DBD masih belum jelas. 9. Teori trombosit endotel 4. Teori endotoksin 2. Teori virulensi virus 6. klinis dan laboratoris muncul teori infeksi sekunder oleh virus lain berturutan. 9 5. Teori limfosit 3. dari pengamatan epidemiologis.

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 17 . Teori secondary heterologous infection yang pertama kali dipublikasikan oleh Suvatte.1977 dan pernah dianut untuk menjelaskan patofisiologi DD/DBD Diantara teori-teori dan hipotesis patofisiologi infeksi dengue.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Gambar 2. teori enhancing antibody dan teori virulensi virus merupakan teori yang paling penting untuk dipahami.

- Demam : suhu tubuh biasanya mencapai 39 C sampai 40 C dan demam bersifat bifasik yang berlangsung sekitar 5-7 hari. - Ruam kulit : kemerahan atau bercak bercak merah yang menyebar dapat terlihat pada wajah. mialgia.12 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Demam Dengue Demam dengue ialah demam akut selama 2-7 hari dengan dua atau lebih manifestasi . nyeri retro-orbital. batuk. Beberapa bentuk perdarahan lain dapat menyertai. manifestasi perdarahan dan leukopenia.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Manifestasi Klinis Pada dasarnya ada empat sindrom klinis dengue yaitu : 1. nyeri pada anggota badan dan ruam. 8 Ruam timbul pada 6-12 jam sebelum suhu naik pertama kali (hari sakit ke 3-5) dan berlangsung 3-4 hari. Demam berdarah Dengue ( Dengue Hemorrhagic fever) 4. ruam kulit. nyeri kepala. 12 Anoreksi dan obstipasi sering dilaporkan. Demam dengue klasik 3. Gejala klinis lainnya meliputi fotofoi. epistaksis dan disuria. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 18 . berkeringat.4. Silent dengue atau Undifferentiated fever 2. Kelenjar limfa servikal dilaporkan membesar pada 67-77% kasus atau dikenal sebagai Castelani’s sign yang patognomonik. Awal penyakit biasanya mendadak dengan adanya trias yaitu demam tinggi. leher dan dada selama separuh pertama periode demam dan kemungkinan makulopapular maupun menyerupai demam skalartina yang muncul pada hari ke 3 atau ke 4. Dengue Shock Syndrome (DSS).

DBD menyerupai kasus DD. uji tornikuet positif. Demam Berdarah Dengue Pada awal perjalanan penyakit. memar dan perdarahan pada tempat pengambilan darah vena. Kasus DBD ditandai 4 manifestasi klinis yaitu : - Demam tinggi - Perdarahan terutama perdarahan kulit - Hepatomegali - Kegagalan peredaran darah (circulatory failure) Pada DBD terdapat perdarahan kulit. muka. demikian pula komponen lain dalam mekanisme pembekuaan darah. Pada beberapa epidemi biasanya terjadi trombositopeni - Serum biokimia/enzim biasanya normal. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 19 . Spektrum Klinis DD dan DBD Pada pemeriksaan laboratorium selama DD akut ialah sebagai berikut - Hitung sel darah putih biasanya normal saat permulaan demam kemudian leukopeni hingga periode demam berakhir - Hitung trombosit normal. Epistaksis dan perdarahan gusi jarang dijumpai Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. aksila sering kali ditemukan pada masa dini demam. Petekia halus tersebar di anggota gerak.kadar enzim hati mungkin meningkat.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS Gambar 6.

Gejala klinis demam dengue dan demam berdarah dengue (Dikutip dari kepustakaan no.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] sedangkan perdarahan saluran pencernaan hebat lebih jarang lagi dan biasanya timbul setelah renjatan tidak dapat diatasi. Nyeri tekan hati terasa tetapi biasanya tidak ikterik. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 20 . Pembesaran hati tidak berhubungan dengan keparahan penyakit tetapi hepatomegali sering ditemukan dalam kasus-kasus syok. Tabel 2. Hati biasanya teraba sejak awal fase demam. bervariasi mulai dari teraba 2-4 cm dibawah tepi rusuk kanan. 11dan 12) Demam Dengue Gejala Klinis Demam Berdarah Dengue ++ Nyeri Kepala + +++ Muntah ++ + Mual ++ Nyeri Otot ++ Ruam Kulit ++ Diare + Batuk + Pilek ++ ++ Limfadenopati + + Kejang 0 Kesadaran menurun 0 Obstipasi + + + + + + + + ++ +++ + Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.

Perubahan patofisiologis utama menentukan tingkat keparahan DBD dan membedakannya dengan DD ialah gangguan hemostasis dan kebocoran plasma yang bermanifestasi sebagai trombositopenia dan peningkatan jumlah trombosit.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] + Uji tornikuet positif +++ ++++ Petekie +++ 0 Perdarahan saluran cerna ++++ ++ Hepatomegali +++ + Nyeri perut ++ Trombositopenia 0 Syok Pada pemeriksaan laboratoriun dapat ditemukan adanya trombositopenia sedang hingga berat disertai hemokonsentrasi.8 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 21 .

hematemesis dan melena - Pembesaran hati - Syok ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi Kriteria laboratorium : - Trombositopenia (100. Kriteria WHO sangat membantu dalam membuat diagnosis pulang (bukan diagnosis masuk rumah sakit). mungkin DD atau infeksi virus lainnya. epistaksis. WHO membuat panduan diagnosis DBD karena DBD adalah masalah kesehatan masyarakat dengan angka kematian yang tinggi. sehingga catatan medis dapat dibuat lebih tepat. kulit dingin dan lembab dan pasien tampak gelisah. tekanan nadi menurun (<20mmHg). tidak untuk spektrum infeksi dengue yang lain. petekie.000/l atau kurang) - Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit lebih dari 20%. hipotensi. perdarahan gusi. Bila kriteria WHO tidak terpenuhi maka yang dihadapi memang bukan DBD.2 Kriteria diagnosis DBD (Case definition) berdasarkan WHO 1997 ialah : Kriteria klinis : - Demam tinggi mendadak tanpa sebab jelas terus menerus selama 2-7 hari - Terdapat manifestasi perdarahan termasuk uji tornikuet positif.2 Kriteria diagnosis DBD ialah dua atau lebih tanda klinis ditambah tanda laboratoris yaitu trombositopeni dan hemokonsentrasi (kedua hasil laboratorium tersebut harus ada) dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan serologi. 11 Diagnosis Kriteria diagnosis WHO hanya berlaku untuk DBD. ekimosis. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 22 .LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Dengue Shock Syndrome Pada DSS dijumpai adanya manifestasi kegagalan sirkulasi yaitu nadi lemah dan cepat. 8 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.

faktor XII. Jumlah leukosit bisa menurun (leukopenia) atau leukositosis. kulit lembab dan penderita gelisah. protrombin.12 Pemeriksaan Penunjang 1. Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma biasa ditemukan. Pemeriksaan laboratorium Trombositopeni dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu ditemukan pada DBD. Penurunan nilai trombosit yang disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokrit sangat unik untuk DBD. Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian cairan atau oleh perdarahan. Satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes torniquet yang positif atau mudah memar. Hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. Perdarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain. - Derajat III: Kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS Pembagian derajat DBD menurut WHO 1975 dan 1986 ialah : - Derajat I : Demam diikuti gejala tidak spesifik. suhu tubuh rendah. sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit. dan antitrombin III. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 23 . Penurunan jumlah trombosit < 100. PTT dan PT memanjang pada sepertiga sampai setengah kasus DBD. kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok terjadi.4 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. limfositosis relatif dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun atau syok. faktor VIII.8. 4.000/pl biasa ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit. - Derajat IV : Syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diperiksa. tekanan nadi menurun (<20mmHg) atau hipotensi.7. Adanya fibrinolisis dan ganggungan koagulasi tampak pada pengurangan fibrinogen. - Derajat II : Gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan.

Pencitraan Ultrasonografis Pencitraan USG pada anak lebih disukai dengan pertimbangan dan yang penting tidak menggunakan sistim pengion (sinar X) dan dapat diperiksa sekaligus berbagai organ dalam perut. Indeks efusi pleura akibat infeksi virus dengue 2.1 Pemeriksaan rontgen dada Pencitraan dengan foto paru dapat menunjukan adanya efusi pleura dan pengalaman menunjukkan bahwa posisi lateral dekubitus kanan lebih baik dalam mendeteksi cairan dibandingkan dengan posisi berdiri apalagi berbaring. 13 3. Adanya ascites dan cairan pleura pada pemeriksaan USG sangat membantu dalam penatalaksanaan DBD. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 24 . Pemeriksaan Serologi. Ada beberapa uji serologi yang dapat dilakukan yaitu : - Uji hambatan hemaglitinasi - Uji Netralisasi Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] 2. Pemeriksaan USG dapat pula dipakai sebagai alat diagnostik bantu untuk meramalkan kemungkinan penyakit yang lebih berat misalnya dengan melihat penebalan dinding kandung empedu dan penebalan pankreas dimana tebalnya dinding kedua organ tersebut berbeda bermakna pada DBD I-II dibanding DBD III-IV. Pencitraan pencitraan 2.2.13 Gambar 9.

RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 25 . 11 Penatalaksanaan Pengobatan DBD bersifat suportif simptomatik dengan tujuan memperbaiki sirkulasi dan mencegah timbulnya renjatan dan timbulnya Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID). Edema paru. 7 Pemeriksaan rapid sero diagnostic test Komplikasi 1. 2) Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Sistem triase dalam penatalaksanaan DBD di rumah sakit (dikutip dari kepustakaan no.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS - Uji fiksasi komplemen - Uji Hemadsorpsi Immunosorben - Uji Elisa Anti Dengue Ig M - Tes Dengue Blot.13 Gambar 12. Ensefalopati dengue dapat terjadi pada DBD dengan maupun tanpa syok 2. kelainan Ginjal akibat syok berkepanjangan 3. akibat over loading cairan.

sehingga dapat mencegah syok.2 Perembesan atau kebocoran plasma pada DBD terjadi mulai hari demam ketiga hingga ketujuh dan tidak lebih dari 48 jam sehingga fase kritis DBD ialah dari saat demam turun hingga 48 jam kemudian. Observasi tanda vital. kadar hematokrit. Masa kritis ialah pada atau setelah hari sakit yang ketiga yang memperlihatkan penurunan tajam hitung trombosit dan peningkatan tajam hematokrit yang menunjukkan adanya kehilangan cairan. Cairan kristaloid yang direkomendasikan WHO untuk resusitasi awal syok ialah Ringer laktat. 8 Penatalaksanaan Demam berdarah Dengue Berdasarkan ciri patofisiologis maka jelas perjalanan penyakit DBD lebih berat sehingga prognosis sangat tergantung pada pengenalan dini adanya kebocoran plasma. Ringer memiliki kelebihan karena mengandung natrium dan sebagai base corrector untuk mengatasi hiponatremia dan asidosis yang selalu dijumpai pada Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Penatalaksanaan Demam Dengue Penatalaksanaan kasus DD bersifat simptomatis dan suportif meliputi : - Tirah baring selama fase demam akut - Antipiretik atau sponging untuk menjaga suhu tbuh tetap dibawah 40 C.9%. sebaiknya diberikan parasetamol - Analgesik atau sedatif ringan mungkin perlu diberikan pada pasien yang mengalami nyeri yang parah - Terapi elektrolit dan cairan secara oral dianjurkan untuk pasien yang berkeringat lebih atau muntah. Pengalaman dirumah sakit mendapatkan sekitar 60% kasus DBD berhasil diatasi hanya dengan larutan kristaloid. Penatalaksanaan fase demam pada DBD dan DD tidak jauh berbeda. Ringer asetat atau NaCL 0. trombosit dan jumlah urin 6 jam sekali (minimal 12 jam sekali) perlu dilakukan. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 26 . 20% memerlukan cairan koloid dan 15% memerlukan transfusi darah. 8 Kunci keberhasilan pengobatan DBD ialah ketepatan volume replacement atau penggantian volume.

RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 27 . pemberian cairan hanyalah untuk rumatan bukan cairan pengganti karena kebocoran plasma belum terjadi. Jenis dan jumlah cairan harus disesuaikan. 2 Saat pasien berada dalam fase demam. Pada DD tidak diperlukan cairan pengganti karena tidak ada perembesan plasma.2 Tabel 3.2 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.2 Bila pada syok DBD tidak berhasil diatasi selama 30 menit dengan resusitasi kristaloid maka cairan koloid harus diberikan (ada 3 jenis . Jenis cairan kristaloid untuk resusitasi DBD Pada syok berat (lebih dari 60 menit) pasca resusitasi kristaloid (20ml/kgBB/30menit) dan diikuti pemberian cairan koloid tetapi belum ada perbaikan maka diperlukan pemberian transfusi darah minimal 100 ml dapat segera diberikan.dekstan. Obat inotropik diberikan apabila telah dilakukan pemberian cairan yang memadai tetapi syok belum dapat diatasi. Berat molekul cairan koloid lebih besar sehingga dapat bertahan dalam rongga vaskular lebih lama (3-8 jam) daripada cairan kristaloid dan memiliki kapasitas mempertahankan tekanan onkotik vaskular lebih baik. Untuk DBD stadium IV perlu ditambahkan base corrector disamping pemberian cairan Ringer akibat adanya asidosis berat. gelatin dan hydroxy ethyl starch)sebanyak 10-30ml/kgBB.DENNISE AFIANTO [406148014] LAPORAN KASUS DBD.

cairan ekstravaskular akan masuk kembali dalam intravaskular sehingga perlu dihentikan pemberian cairan intravena untuk mencegah terjadinya oedem paru. Pada fase penyembuhan (setelah hari ketujuh) bila terdapat penurunan kadar Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. gangguan vaskular dan homeostasis sehingga mudah terjadi perdarahan dan infeksi.2 Setelah fase krisis terlampau.2 Pemberian suspensi trombosit umumnya diperlukan dengan pertimbangan bila terjadi perdarahan secara klinis dan pada keadaan KID. Jenis cairan koloid untuk resusitasi DBD Pemasangan CVP pada DBD tidak dianjurkan karena prosedur CVP bersifat traumatis untuk anak dengan trombositopenia. Bila kadar hemoglobin rendah dapat pula diberikan packed red cell (PRC). RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 28 . disamping prosedur pengerjaannya juga tidak mudah dan manfaatnya juga tidak banyak. Bila diperlukan suspensi trombosit maka pemberiannya diikuti dengan pemberian fresh frozen plasma (FFP) yang masih menandung faktor-faktor pembekuan untuk mencegah agregasi trombosit yang lebih hebat.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Tabel 4.

Pada anak yang awalnya menderita anemia akan tampak kadar hemoglobin rendah. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 29 .LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] hemoglobin. 2 Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. hati-hati tidak perlu diberikan transfusi. bukan berarti perdarahan tetapi terjadi hemodilusi sehingga kadar hemoglobin akan kembali ke awal seperti saat anak masih sehat.

RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 30 .LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Bagan 1. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 31 . Tatalaksana infeksi virus Dengue pada kasus tersangka DBD.

LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 32 .

Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Tatalaksana DBD stadium I atau stadium II tanpa peningkatan Ht.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Bagan 2. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 33 .

LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Bagan 3. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 34 . Tatalaksana kasus DBD dengan peningkatan Ht > 20% Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.

RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 35 . Tatalaksana Kasus Sindrom Syok Dengue Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Bagan 4.

Hematokrit stabil 5. Obat yang dipakai : Malation 96EC atau Fendona 30EC dengan menggunakan Swing Fog DAFTAR PUSTAKA Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. Foging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m dengan selang waktu 1 minggu e. Jumlah trombosit diatas 50. 100% tempat penampungan air sukar dikuras diberi abate tiap 3 bulan c. Tampak perbaikan secara klinis 4. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 36 .LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] Kriteria memulangkan pasien : 1. Menutup dan Menyingkirkan tempat perindukan nyamuk) minimal 1 x seminggu bagi tiap keluarga b. Nafsu makan membaik 3. Tiga hari setelah syok teratasi 6. Tidak dijumpai adanya distress pernafasan (akibat efusi pleura atau asidosis) Pencegahan - Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) a.000/ml 7. Melakukan metode 3 M (menguras. ABJ (angka bebas jentik) diharapkan mencapai 95% - Foging Focus dan Foging Masal d. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik 2. Foging masal dilakukan 2 siklus diseluruh wilayah suspek KLB dalam jangka waktu 1 bulan f.

Soegengdkk. RS Pelabuhan Jakarta Periode 9 November 2015 – 16 Januari 2015 37 .2009. 2012.h.int/entity/mediacentre/factsheets/fs117/en/ Universitas Tarumanegara | Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak. The Changing Clinical Performance Of Dengue Virus Infection In The Year 2009.176-208 3.LAPORAN KASUS DENNISE AFIANTO [406148014] 1. 141-149 2.Infeksi Virus Dengue. WHO. . Edisi pertama. United States.who. 2009. 19 th Edition. et al. [Online] Tersedia di: www. Soegijanto. No. Infeksi Virus Dengue: h. Robert M. Pedoman Pelayanan Medis. Soedarmo SSP. 3. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease. Dengue and Severe Dengue. Kliegman. France: WHO Press. Dalam : Soedarmo SSP. Nelson Textbook of Pediatrics. Pudjiadi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi & Penyakit Tropis.Antonius H. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 5. 1 January–March 2012: 5−9 4. Vol. Garna H.et al. Hadinegoro SRS. penyunting. 2011.Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2015.