You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi jamur terbagi menjadi superfisial, subkutaneus, dan sistemik
tergantung kepada karakteristik organisme dan daya tahan tubuh dari
penderita itu sendiri. Dermatofita mempunyai kemampuan untuk membentuk
molekul yang dapat menempel pada keratin dan menjadikannya sebagai
sumber nutrisi untuk membentuk suatu koloni pada jaringan keratin, termasuk
strtum korneum epidermis, rambut, dan kuku. Infeksi superfisial yang
disebabkan oleh dermatofita disebut dengan dermatofitosis sedangkan
dermatomikosis disebabkan oleh jenis jamur apapun 1.
Tinea mengacu kepada suatu infeksi dermatofit yang umumnya
terbagi berdasarkan lokasi anatomi, yaitu: tinea kapitis yang terletak pada
kulit kepala, tinea pedis pada kaki, tinea korporis yang berlokasi pada tubuh,
tinea kruris pada pangkal paha, dan tinea unguium pada kuku. Tinea dapat
disebut juga dengan kurap, terutama apabila memiliki predileksi pada tubuh
seseorang dan disebabkan sekelompok jamur yang biasanya menginfeksi
hanya pada lapisan keratin di kulit, rambut, dan kuku. Jamur ini tidak dapat
menginfeksi bagian permukaan mukosa seperti mulut dan daerah vagina.
Infeksi tinea superfisial merupakan kasus yang paling sering terjadi pada anak
– anak 2.
Dermatofitosis cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Di
Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insidensi dermatofitosis
belum ada. Di Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua
setelah dermatitis. Angka insidensi tersebut diperkirakan kurang lebih sama
dengan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Diperkirakan insidensi penyakit

1

ini cukup tinggi menyerang masyarakat kita tanpa memandang golongan
umur tertentu. Di daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat
dengan variasi penyakit yang berbeda 3.
Faktor penting yang berperan dalam penyebaran tinea kruris adalah
kondisi kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pedesaan yang padat, dan
kebiasaan menggunakan pakaian yang ketat atau lembab. Obesitas dan
diabetes melitus juga merupakan faktor resiko tambahan oleh karena keadaan
tersebut menurunkan imunitas untuk melawan infeksi. Penyakit ini dapat
bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang
berlangsung seumur hidup 3.
1.2 Definisi
Infeksi tinea merupakan infeksi jamur pada kulit yang paling sering
terjadi di seluruh dunia. Infeksi ini dapat menjadi lebih parah dan sering
berulang. Penyakit ini disebabkan oleh kelompok dermatofita dan sering
terjadi pada negara tropis dimana memiliki kondisi udara yang lebih hangat 4.
Tinea kruris adalah infeksi dermatofita yang umumnya mengenai
daerah lipatan paha, area pubis, perianal, dan kulit perianal 1. Tinea Kruris ini
dapat bermanifestasi unilateral atau bilateral dengan

disertai tepi yang

kemerahan, meninggi, dan aktif. Selain itu, dapat kita jumpai adanya vesikel
serta papul 4.
1.3 Sinonim
Tinea kruris memiliki beberapa nama lain yaitu Eczema Marginatum,
Dhobie Itch, Jockey Itch, RingWorm Of The Groin 7.
1.4 Epidemiologi
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan tubuh yang mengandung
zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, serta kuku
yang

disebabkan

oleh

golongan

jamur

dermatofita,

yang

mampu

mencernakan keratin. Insiden dan prevalensi dermatofitosis cukup tinggi di

2

Cipto Mangunkusumo.Djamil Padang tinea kruris merupakan dermatofitosis terbanyak (72%). Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan 3 . 1. dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan tinea kruris dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. berdasarkan data rekam medis selama tahun 2010 ditemukan 288 orang penderita baru dematofitosis dengan 207 orang penderita baru tinea kuris 3. golongan mikosis superfisial berturut ditempati oleh golongan dermatofitosis. penetrasi melalui celah celah antar sel. Pada tahun 2011 di Rumah Sakit (RS) Dr.M.dalam masyarakat baik di dalam maupun diluar negeri. Dr. T. dr. sedangkan dari bagian jamur sendiri menduduki peringkat pertama atau kasus yang paling sering dijumpai. 1. Di Indonesia.5 Etiologi Kebanyakan tinea kruris disebabkan oleh Species Tricophyton rubrum dan Epidermophyton floccosum. floccosum merupakan spesies yang paling sering menyebabkan terjadinya epidemi. pitiriasis versikolor. Didapatkan data di Unit Penyakit Kulit dan Kelamin RS. dimana E. verrucosum jarang menyebabkan tinea kruris 1. Infeksi dermatofita terbagi menjadi 3 step yaitu: adhesi terhadap keratinosit. Dermatofit tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah terutama di negara berkembang 3. data 10 besar penyakit di Poli Kulit dan Kelamin menunjukkan bahwa dermatofitosis menduduki peringkat kedua. Mentagrophytes dan T. Pada tahun 2002-2004 di RS.6 Patofisiologi Dermatofita dapat bertahan hidup dengan cara menetap pada stratum korneum manusia dimana pada lapisan ini dermatofita akan menyerap sumber nutrisi guna untuk membentuk mycelia. dan respon imun penderita. Sardjito . dan kandidosis.

Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan 1. dan bagian abdomen bawah. 4 . pantat. Lesi pada tahap awal dapat berupa plak eritematosa dengan tepi melengkung dan tajam yang memanjang dari lipatan pangkal paha hingga ke paha bagian bawah.reaksi peradangan. perianal. efloresensi polimorfik. Sebaliknya. bentuk polisiklik / bulat berbatas tegas. Vesikula jarang terlihat. dan paling sering terbatas pada lipatan genitokrural dan bagian pertengahan paha atas. namun nodul yang membentuk manik manik di sepanjang tepi lesi selalu tampak pada lesi yang sudah lama menetap. biasanya squama muncul saat terjadinya suatu peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Terkadang. Lesi dapat terlihat simetris di lipat paha kanan dan kiri. Terdapat central healing yang ditutupi skuama halus pada bagian tengah lesi. Squama dapat muncul. dapat ditemukan pula satu atau dua pustula 2. gatal merupakan manifestasi yang tersering muncul pada penderita. Tidak terdapat keterlibatan pada daerah genitalia 3. seperti halnya nyeri yang disebabkan oleh maserasi ataupun infeksi sekunder. dan tepi lebih aktif. infeksi oleh T. dengan tepi yang meninggi dan memerah sering ditemukan. 1. Tinea kruris yang disebabkan oleh E. rubrum sering memberikan gambaran lesi yang bergabung dan meluas sampai ke pubis. Pruritus sering ditemukan. floccosum paling sering menunjukkan gambaran central healing.7 Gejala Klinis Apapun spesies penyebab dari tinea kruris ini.

1 Tinea kruris 1. untuk itu maka pemeriksaan penunjang kultur jamur sebaiknya dilakukan untuk menentukan dari jenis jamur itu sendiri 1. Walaupun dengan pemeriksaan mikroskopis dapat mendeteksi adanya infeksi jamur dalam waktu beberapa menit.Gbr 1. namun pemeriksaan ini tidak dapat menentukan spesifikasi ataupun identifikasi dari agen infeksius.8 Pemeriksaan Penunjang Diagnosis klinis dari infeksi dermatofita dapat dievaluasi secara mikroskopis maupun kultur. Pemeriksaan mikroskopis juga tak jarang dapat menimbulkan “false-negative”. Gbr 1.2 Tampak gambaran hifa bersepta pada pemeriksaan KOH 5 .

3 6 . harga yang lebih mahal dan biasanya digunakan hanya pada kasus yang berat dan tidak berespon pada pengobatan sistemik.Pada sediaan KOH tampak hifa bersepta dan bercabang tanpa penyempitan. dan dibuang bila tidak ada pertumbuhan 3 .8°F) maksimal selama 4 minggu. Media kultur diinkubasi pada suhu kamar 26°C (78. Gbr 1. Sangat penting bagi masingmasing laboratorium untuk menggunakan media standar yakni tersedia beberapa varian untuk kultur. Terdapatnya hifa pada sediaan mikroskopis dengan potasium hidroksida (KOH) 10-20% dapat memastikan diagnosis dermatofitosis. Kultur jamur merupakan metode diagnostik yang lebih spesifik namun membutuhkan waktu yang lebih lama dan memiliki sensitivitas yang rendah.

1.1 Indikasi: Lesi tidak luas pada tinea korporis. jamur akan tampak merah muda atau dengan menggunakan pengecatan methenamin silver.9 Tatalaksana 5 1. Obat topikal 2. Dengan lampu Wood.untuk mencegah kekambuhan pada obat fungistatik. 3. pigmen fluoresen dan perbedaan warna pigmentasi melanin yang subtle bisa divisualisasi.2 Obat: 2. Obat oral 3.Hasil kultur pada beberapa jamur dermatofita Punch biopsi dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. tinea kruris.2 Antibiotik 5-7 hari 2.3 Miconazole sehari 2 kali Pengobatan umumnya minimal selama 3 minggu (2 minggu sesudah KOH negatif/ klinis membaik).1 Salep Whitfield sehari 2 kali 2. Penggunaan lampu wood menghasilkan sinar ultraviolet 360 nm. tinea imbrikata.2. tinea manum.1 Tinea Kapitis. Lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata 3.9%3-5 hari 1. dan tinea pedis ringan 2. Pada pengecatan dengan Peridoc Acid– Schiff. Untuk lesi basah / infeksi sekunder: 1. 1.1 Indikasi 3. tinea unguium. (atau sinar “hitam”) yang dapat digunakan untuk membantu evaluasi penyakit kulit dan rambut. tinea barbae 7 .1 kompres sol sodium chlorida 0. jamur akan tampak coklat atau hitam.2.2 Salep 2-4/3-10 sehari 2 kali 2.2.

12 Pencegahan 8 . Selain itu.4 Terbinafine Anak: 3-6mg/kgBB/hari 10-20 kg: 62.2 Tinea korporis/ Tinea kruris/ pedis/ manuum yang berat/ luas/ sering kambuh/ tidak sembuh dengan obat topikal/ mengenai daerah berambut 3.2 Ketoconazole Anak: 3-6 mg/kgBB/hari Dewasa: 1 tablet (200mg)/ hari 3.1 1. kesalahan pada penatalaksanaan pada tinea kruris dengan steroid topikal dapat memicu adanya eksaserbasi penyakit.1 Griseofulvin Anak: 10 mg/kgBB/hari (microsize) 5. Walaupun penderita tidak menunjukkan adanya gejala.3.3. area yang terinfeksi dapat berubah menjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi pada infeksi jamur kronis.5mg (1/4 tablet)/hari 20-40 kg: 125 mg (1/2 tablet)/hari Dewasa : 1 tablet (250mg)/hari Komplikasi Tinea kruris dapat menjadi infeksi sekuder oleh adanya infeksi candida atau organisme bakteri lain. 1.3. dan penyebab 3.2. Sebagai tambahan.3 Itrakonazole Anak: 3-5 mg/kgBB/hari Dewasa: 1 kapsul (100mg)/hari 3.2 Cara 3.3.2 Lama : Obat fungistatik: 2-4 minggu Obat fungisidal : 1-3 minggu 3. tetapi infeksi ini dapat menular 6.11 Prognosis Prognosis dari tinea kruris sangat baik apabila ditunjang dengan diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang adekuat.3 Obat Oral 3.1.2. 1. Bagaimanapun kekambuhan dapat juga terjadi apabila daerah sekitar lipat paha tetap lembab 6. lokasi.10 Tergantung obat oral yang digunakan.3.5 mg/kgBB/hari (ultra microsize) Dewasa: 500 – 1000 mg/ hari 3.

Desinfeksi sepatu / ganti sepatu baru. 3. 7. 5. dikeringkan dan ditaburi bedak biasa/bedak anti 2. jamur (bagian lipatan.1 Identitas Penderita Nama : Tn. BAB II LAPORAN KASUS 2. 6. Sesudah mandi. Kaos kaki katun Pakaian dan handuk direndam dalam air mendidih selama 15 menit atau dry clean.1. tidak tertutup. MS Jenis kelamin : Laki . kaki) Pemakaian sepatu yang enak. Pakaian longgar dan katun.laki Umur : 65 Tahun Agama : Islam Alamat : Jogoroto . Pakai sendal karet / plastik di tempat umum/ hotel/ tempat olah raga. 4. Hewan peliharaan yang terinfeksi jamur harus diobati juga.Jombang Suku Bangsa : Jawa Pendidikan : SMP Pekerjaan : Pedagang Pasar Ruang Perawatan : Poli Kulit dan Kelamin Tanggal Pemeriksaan : 28 Desember 2015 9 . 8.

2 Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Jombang dengan mengeluh gatal gatal di sekitar selangkangan sejak 10 tahun yang lalu. Keluhan gatal yang sangat hebat sampai panas seperti terbakar disangkal. muncul bintil bintil tersebut di bagian selangkangan berbentuk uang koin kecil namun lama lama membesar dan meluas ke bagian belakang (bokong) dan bagian kaki kanan. Karena terlalu gatal.1 Keluhan Utama Gatal gatal di sekitar selangkangan disertai muncul bercak dan bintil merah 2. Rasa gatal terkadang membaik.2.2.bintil kemerahan disertai panas badan disangkal. Riwayat penggunaan jamu . pasien sering menggaruk daerah tersebut sehingga terkadang menimbulkan luka pada kulit. Pasien menceritakan awalnya. 10 . kulit di bagian selangkangan juga disertai warna kemerahan dengan adanya bintil bintil kecil. Setelah diberikan obat – obat tersebut.jamuan untuk pegal linu dalam jangka waktu yang lama disangkal. Sebelumnya pasien telah berobat ke puskesmas. keluhan pasien tidak kunjung berkurang. lalu diberikan obat minum dan salep namun pasien lupa nama obatnya.2 Anamnesis 2.2. keluhan bintil . Keluhan bintil – bintil merah disertai sisik yang tebal disangkal. Pasien juga mengeluh selain gatal. namun kambuh lagi dan terasa semakin gatal apabila pasien berkeringat.

5 Riwayat Sosial Ekonomi Pasien mengatakan bekerja sebagai pedagang ayam di pasar. Pasien sering berkeringat dikarenakan cuaca yang panas.3.Pasien mengatakan memiliki alergi seafood -Pasien mengatakan memiliki riwayat DM. dan mengaku mandi 2 kali sehari namun sering bergantian handuk dan baju dengan keluarganya (terutama anak lelakinya). namun hipertensi disangkal 2.Anak pasien mengeluh gatal gatal juga .1 Status Generalis Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Status hygienis : Cukup Kesan gizi : Cukup Kepala : OD/OS: a/i/c/d : -/-/-/- Leher : dalam batas normal Thoraks : dalam batas normal Aksila : pembesaran KGB (-) Abdomen : lihat status dermatologi 11 .2.3 Pemeriksaan Fisik 2.2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga . 2.

Ekstremitas 2. namun kambuh lagi dan terasa semakin gatal apabila pasien berkeringat.3. Pasien menceritakan awalnya. 2.3.2 2. dan meluas). abdomen. Pasien juga mengeluh sering berkeringat karena cuaca yang panas. tepi polisiklik aktif (meninggi. muncul bintil bintil tersebut di bagian selangkangan berbentuk uang koin kecil namun lama lama 12 . cruris D Efloresensi : Didapatkan makula eritematous batas jelas bilateral.3 : lihat status dermatologi Vital Sign Tekanan darah : Tidak dievaluasi Temperatur : Tidak dievaluasi Nadi : 90 x/menit RR : 20 x/menit Status Dermatologi Lokasi : Regio inguinal. Rasa gatal terkadang membaik.4 Resume Penderita datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Jombang pada tanggal 28 Desember 2015 dengan keluhan gatal gatal di sekitar selangkangan sejak 10 tahun yang lalu. kulit di bagian selangkangan juga disertai warna kemerahan dengan adanya bintil bintil kecil. tertutup skuama putih tipis halus dengan area yang sembuh di bagian tengah (central healing). papul. Selain gatal.

Pakaian dan handuk direndam dalam air mendidih selama 15 menit Medikamentosa: 2.3 1. atau gejala prodormal) yang lain.Pasien minum obat dan menggunakan salep dari puskesmas namun tidak membaik. gluteus.6 Diagnosis Banding Tinea Corporis. Menggunakan pakaian yang menyerap keringat.2 Terapi Non – medikamentosa: 1. 13 . 2. dan cruris dextra didapatkan makula eritematous batas jelas bilateral. Mengevaluasi hasil pengobatan. papul.7. tepi polisiklik aktif (meninggi. selain itu pasien juga memiliki riwayat Diabetes Melitus. 2. Formyco tab 0-0-1 2. tertutup skuama putih tipis halus dengan area yang sembuh di bagian tengah (central healing). Formyco cream (pagi – malam) Terapi dilakukan selama 2-4 minggu Monitoring Kontrol apabila muncul keluhan gatal dan keluhan sekunder (infeksi yang menyertai.7. erythrasma 2. 3.5 Diagnosis Tinea Kruris 2. anak pasien juga mengeluhkan hal yang sama.7 Planning 2. Status Dermatologi: Et regio inguinal.7. dan meluas). Mengeringkan badan setelah mandi ataupun berkeringat. Lorantadin 0-0-1 3. psoriasis.membesar dan meluas ke bagian belakang (bokong) dan bagian kaki kanan. Diet makanan 4.1 Diagnosis Anjuran : Pemeriksaan mikroskopik dan kultur 2. Pada riwayat penyakit keluarga.

.8 Prognosis Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanatorium : dubia ad bonam 2.9 Foto Kasus 14 .7. dan juga menjelaskan bahwa dapat terjadi kekambuhan apabila tidak menjaga kebersihan 2.4 Edukasi .Obat diminum sesuai dosis.2.Tidak memakai handuk secara bergantian karena dapat - menular ke orang lain Sprei. pakaian yang telah digunakan sebaiknya direndam air - panas selama 15 menit Menjelaskan prognosis dari penyakit ini.

15 .

16 .

17 .

18 .

papul. Dari data 19 . muncul bintil bintil tersebut di bagian selangkangan berbentuk uang koin kecil namun lama lama membesar dan meluas ke bagian belakang (bokong) dan bagian kaki kanan. Hal ini didukung oleh beberapa alasan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada regio inguinal. Selain gatal. tertutup skuama putih tipis halus dengan area yang sembuh di bagian tengah (central healing). berusia 65 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Jombang dengan keluhan gatal gatal di sekitar selangkangan sejak 10 tahun yang lalu. Atas dasar alasan – alasan di atas. gluteus dan kruris dekstra dextra didapatkan makula eritematous batas jelas bilateral. Rasa gatal terkadang membaik.BAB III PEMBAHASAN Dari anamnesis didapatkan Tn. Pasien juga mengatakan bahwa anaknya juga mengeluhkan hal yang sama. Awalnya. MS. namun kambuh lagi dan terasa semakin gatal apabila berkeringat. meskipun pasien lupa berapa nilai kadar gula terakhirnya. Laki laki. Pada riwayat penyakit sosial. Selain itu dari data riwayat penyakit dahulu diketahui bahwa penderita memiliki riwayat diabetes melitus. kulit di bagian selangkangan juga disertai warna kemerahan dengan adanya bintil bintil kecil. maka disimpulkan bahwa pasien ini terkena tinea kruris. dan meluas). tepi polisiklik aktif (meninggi. pasien mengaku sering berkeringat namun jarang mengganti bajunya.

20 . sehingga mendukung timbulnya penyakit ini pada seseorang. pada pasien diabetes melitus cenderung immunocompromised sehingga menyebabkan mudah sekali untuk terserang infeksi baik jamur. maupun bakteri. Pasien menyebutkan bahwa dirinya memiliki riwayat kencing manis yang merupakan salah satu faktor predisposisi dari terjadinya tinea kruris. insiden tinea lebih tinggi terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak kecil. Hal ini sesuai dengan tempat tinggal pasien yang masih berada pada daerah Jombang. Hal ini merupakan salah satu faktor predisposisi dari timbulnya keluhan. Pasien berumur 65 tahun. mengingat bahwa daerah Jombang memiliki iklim hangat cenderung panas. Selain itu.didapatkan bahwa pasien berjenis kelamin laki laki berumur 65 tahun. dimana dalam teori disebutkan bahwa pada geriarti terjadi perubahan fungsi sawar kulit yang menyebabkan salah satunya adalah penurunan respon imun sehingga sering terjadi penyakit penyakit kulit infeksi. Selain itu dikatakan pada Fitzpatrick bahwa tinea kruris juga sering terjadi pada iklim yang hangat. dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan tinea kruris dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak. virus. Seperti yang disebutkan dalam Rook bahwa laki laki memiliki angka kejadian 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Yossela menyebutkan bahwa Di Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam teori.

Hasil pemeriksaan fisik ini sangat cocok dengan teori yang dikemukakan di Fitzpatrick bahwa pada pemeriksaan ditemukan makula eritematosa dengan disertai adanya gambaran lesi koin dengan tepi aktif (central healing).Penggunaan handuk yang bergantian serta kebiasaan tidak segera mengganti pakaian saat keringat berlebih juga menjdi masalah pada pasien ini. tepi polisiklik aktif (meninggi. Tinea merupakan penyakit infeksi jamur yang sangat cepat menular terutama dengan kontak langsung. serta adanya rasa gatal yang mengganggu. begitu pula pada pasien ini yang mempunyai kebiasaan memakai handuk secara bergantian yang dapat memicu adanya kekambuhan. abdomen. papul. dan kruris dekstra didapatkan rasa gatal yang sangat mengganggu disertai adanya efloresensi makula eritematous batas jelas bilateral. Fitzpatrik menyebutkan bahwa penegakan diagnosa tinea kruris 21 . Rasa gatal yang terus terusan terjadi dan terasa mengganggu juga terjadi pada pasien ini yang menyebabkan timbulnya luka pada selangkangan karena selalu digaruk. tertutup skuama putih tipis halus dengan area yang sembuh di bagian tengah (central healing). Pemeriksaan penunjang pada kasus ini tidak dilakukan karena dari anamnesa dan pemeriksaan fisik sudah dapat ditegakkan diagnosa tinea cruris. Pada pemeriksaan fisik dapat kita temukan pada regio inguinal dekstra dan sinistra. dan meluas). Selain itu kebiasaan pasien yang tidak segera mengganti pakaian ketika berkeringat dapat meningkatkan kelembaban sehingga menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan jamur dermatophyta.

mengutamakan higienitas dan kondisi yang kering. Selain 22 . Terapi non medikamentosa pada pasien ini. pada pemeriksaan mikrobiologi. pasien mengeluh rasa gatal sehingga tak jarang pasien menggaruknya dan menyebabkan luka pada regio inguinal. Dalam kasus ini. pada penelitian yang dilakukan oleh Yossela. gambaran klinis memperlihatkan makula hipopigmentasi dan hiperpigmentasi.tidak harus dengan pemeriksaan penunjang. hal ini sering kali menyebabkan “false negative” sedangkan untuk kultur jamur digunakan apabila terjadi kondisi yang resisten. Lalu. Selama terapi 10 hari. bahwa dermatophyta tumbuh dalam kondisi yang lembab dan panas selain itu. terapi simptomatik untuk mengurangi rasa gatal juga diberikan. Terapi medikamentosa pada kasus ini menggunakan formyco tablet dimana formyco ini mengandung ketokonazole dimana dalam buku pedoman diagnosis dan terapi BAG/SMF ilmu penyakit kulit dan kelamin dimana dalam buku tersebut disebutkan ketokonazol merupakan salah satu pilihan terapi yang dianjurkan pada penderita tinea kruris. 2015 menyebutkan pada kasus resisten terhadap griseovulfin dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg perhari selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Pemeriksaan ulang KOH 10% dapat tidak ditemukan kembali. Selain untuk mengobati tinea. faktor kebersihan juga dapat mempengaruhi prognosis serta angka kekambuhan. Lorantadin merupakan obat yang dipilih karena dalam Fitzpatrick menyebutkan bahwa obat steroid atau antihistamin dapat memperngan rasa gatal yang timbul. dikarenakan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

23 . pasien ini juga mendapatkan ketokonazol topikal. dimana dalam Rook’s disebutkan bahwa penggunaan salep topikal ini lebih efektif dalam proses penyembuhan pada tinea kruris.ketokonazol oral.

Tinea Kruris ini dapat bermanifestasi unilateral atau bilateral dengan disertai tepi yang kemerahan. Diagnosis klinis dari infeksi dermatofita dapat dievaluasi secara mikroskopis maupun kultur. dapat kita jumpai adanya vesikel serta papul. efloresensi polimorfik. untuk itu maka pemeriksaan penunjang kultur jamur sebaiknya dilakukan untuk menentukan dari jenis jamur itu sendiri. Selain itu. dan aktif. dan tinea pedis ringan. Pemeriksaan mikroskopis juga tak jarang dapat menimbulkan “false-negative”. meninggi. area pubis. dan kulit perianal. tinea kruris. Sedangkan terapi oral digunakan untuk Tinea Kapitis. Pengobatan tinea kruris meliputi pengobatan oral dan topikal dimana pengobatan topikal diindikasikan untuk lesi tidak luas pada tinea korporis.BAB IV KESIMPULAN Tinea kruris adalah infeksi dermatofita yang umumnya mengenai daerah lipatan paha. dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan tinea kruris dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak. bentuk polisiklik / bulat berbatas tegas. tinea manum. tinea imbrikata. tinea barbae 24 . Lesi dapat terlihat simetris di lipat paha kanan dan kiri. perianal. Di Indonesia. dan tepi lebih aktif. Insiden dan prevalensi dermatofitosis cukup tinggi di dalam masyarakat baik di dalam maupun diluar negeri. Lesi pada tahap awal dapat berupa plak eritematosa dengan tepi melengkung dan tajam yang memanjang dari lipatan pangkal paha hingga ke paha bagian bawah. Gatal merupakan manifestasi yang tersering muncul pada penderita. tinea unguium.

25 .Tinea korporis/ Tinea kruris/ pedis/ manuum yang berat/ luas/ sering kambuh/ tidak sembuh dengan obat topikal/ mengenai daerah berambut. Klaus et al. Winston-Salem. DAFTAR PUSTAKA 1. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. Wolff. Common Tinea Infections In Children. New York: Mc-Graw_Hill Company: 2008. Burns M. Itrakonazole. Ketoconazole. 2. Pilihan terapi pada kasus tinea meliputi Griseofulvin . Andrews MD. American Family Physician. Bagaimanapun kekambuhan dapat juga terjadi apabila daerah sekitar lipat paha tetap lembab. 2008. North Carolina. Wake Forest University School of Medicine. Terbinafine Prognosis dari tinea kruris sangat baik apabila ditunjang dengan diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang adekuat.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Pohan SS. 2. El Gohary M. Yossela T. Article Review: Diagnosis and Treatment of Tinea Cruris. Topical antifungal treatments for tinea cruris and tinea corporis (Review). J Majority. Fedoworicz Z.M#ccessed> mei 2410 26 . Adhi D.3. Barakbah J. Lisa SL. Siti A. Faculty of Medicine: Lampung University. RSUD Soetomo. t e r n n e # .2016 7. Adhi D. Mochtar H.D  T e h & t a . 2010. The Cochrane Collaboration and published in The Cochrane Library 2014. Surabaya. 2015.google.co. et al. Vol. 6th ed. Viewed at 16th Jan . et al. 6. 4 No. 2005. 4.idFjhbsa)3 Ojb"D/#=w#gL)Ionepage. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Kulit dan Kelamin Ed. 2013. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Mikosis. 2014. #)aiblefrom>http>FFbooks. 3. Van Zuuren EJ. Updated March 20. John Wiley and Sons. Tinea Cruris. Russell WS. 2 e 4 a 1 l 0 t h  . Issue 8. 2. = 8 l  . 5.