You are on page 1of 51

Layanan Komprehensif

HIV-IMS
Berkesinambungan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2013

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan

KATA PENGANTAR

Jakarta,

Juli 2012

Direktur Jenderal PP dan PL,

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama,
Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE
NIP. 195509031980121001

1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................I
DAFTAR ISI................................................................................II
DAFTAR SINGKATAN..................................................................IV
I

PENDAHULUAN......................................................................1

II

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR.......................................3
1. PILAR 1: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU
KEPENTINGAN DI SETIAP LINI............................................................................3
2. PILAR 2: PERAN AKTIF KOMUNITAS TERMASUK ODHA DAN KELUARGA.............11
3. PILAR 3: LAYANAN TERINTEGRASI DAN TERDESENTRALISASI SESUAI KONDISI
SETEMPAT.................................................................................................. 14
4. PILAR 4: PAKET LAYANAN HIV KOMPREHENSIF YANG BERKESINAMBUNGAN.......17
5. PILAR 5: SISTEM RUJUKAN DAN JEJARING KERJA..........................................28
6. PILAR 6: AKSES LAYANAN BAGI POPULASI KUNCI TERJAMIN.............................30

SOP PILAR 1/ 1: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU KEPENTINGAN DI
TINGKAT NASIONAL...............................................................................................4
SOP PILAR 1/ 2: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU KEPENTINGAN DI
TINGKAT PROVINSI................................................................................................ 5
SOP PILAR 1/ 3: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU KEPENTINGAN DI
KABUPATEN/ KOTA............................................................................................... 7
SOP PILAR 1/ 4: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU KEPENTINGAN DI
TINGKAT LAYANAN................................................................................................9
SOP PILAR 2/ 1: MENINGKATKAN PERAN AKTIF ODHA DALAM SISTEM LAYANAN LKB............11
SOP PILAR 2/ 2: MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESADARAN....................................13
SOP PILAR 2/ 3: MENINGKATKAN DAMPAK PENGOBATAN DAN PERAWATAN..........................13
SOP PILAR 2/ 4: MOBILISASI SUMBER DAYA..................................................................13
SOP PILAR 2/ 5: MENDUKUNG KELANGGENGAN LAYANAN YANG BERPUSAT PADA PASIEN.......14
SOP PILAR 2/ 6: MEMPERBAIKI KUALITAS LAYANAN DARI PERAWATAN AKUT KE PERAWATAN
KRONIK............................................................................................................ 14

Y
SOP PILAR 3/ 1: DESENTRALISASI LAYANAN HIV DARI RUMAH SAKIT KE FASILITAS LAYANAN
PRIMER
15
SOP PILAR 3/ 2: MENGITEGRASIKAN LAYANAN HIV KE LAYANAN YANG ADA
16

SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP

2

PILAR 4/ 1:
PILAR 4/ 2:
PILAR 4/ 3:
PILAR 4/ 4:
PILAR 4/ 5:
THERAPY)
PILAR 4/ 6:
PILAR 4/ 7:
PILAR 4/ 8:
PILAR 4/ 9:

PENEMUAN KASUS BARU
DIAGNOSIS HIV
TATALAKSANA PASIEN HIV YANG BARU TERDIAGNOSIS
PEMBERIAN TERAPI PROFILAKSIS KOTRIMOKSASOL
PENGOBATAN PENCEGAHAN DENGAN INH (IPT = ISONIAZID PREVENTIVE
PERAWATAN KRONIS YANG BAIK
PEMBERIAN ARV
PEMANTAUAN EFEK SAMPING OBAT
PENANGANAN KO-INFEKSI TB/HIV

18
19
22
23
23
23
24
24
24

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan

SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP
SOP

PILAR
PILAR
PILAR
PILAR
PILAR
PILAR
PILAR
PILAR

4/
4/
4/
4/
4/
4/
4/
4/

10:
11:
12:
13:
14:
15:
16:
17:

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA)
PENGENDALIAN DAN PENGOBATAN IMS
PENGENDALIAN DAMPAK BURUK BAGI PENASUN
TATAKELOLA LOGISTIK
MONITORING DAN SURVEILANCE
PAKET LAYANAN DI FASYANKES PRIMER
PAKET LAYANAN DI FASYANKES SEKUNDER
PAKET LAYANAN DI FASYANKES TERSIER

25
25
25
26
26
27
27
27

SOP PILAR 5/ 1: MERUJUK KLIEN DARI PENJANGKAU KE LAYANAN
SOP PILAR 5/ 2: MERUJUK KLIEN DARI FASYANKES KE KELOMPOK DUKUNGAN
SOP PILAR 5/ 3: PELAKSANAAN BIMBINGAN TEKNIS DI LAYANAN

28
29
29

SOP PILAR 6/ 1: PEMETAAN POPULASI KUNCI
SOP PILAR 6/ 2: ANALISIS KESENJANGAN

31
32

Daftar Tabel

Daftar Lampiran

3

DAFTAR SINGKATAN
3TC

Lamivudine = Dideoxy Thiacytidine, yaitu obat
antiretroviral yang termasuk golongan nucleoside
transcriptase inhibitor (NRTI)

ABC

Abacavir, yaitu obat antiretroviral yang termasuk
golongan NRTI

ART

Terapi Antiretroviral

ARV

Obat Antiretroviral

AZT

Azidothymidin = Zidovudin, yaitu obat antiretroviral
yang termasuk golongan nucleoside transcriptase
inhibitor

CD4

Cluster of Differentiation 4, yaitu glikoprotein yang
terdapat pada permukaan sel limfosit T, monosit,
makrofag dan dendritik

DBS

Dried Blood Spot = sample tetes darah kering

ddI

Didanosine = Dideoxy Inosin, yaitu obat antiretroviral
yang termasuk golongan NRTI

Dinkes

Dinas Kesehatan

DOTS

Directly Observed Treatment Shortcourse

EFV

Efavirenz, yaitu obat antiretroviral yang termasuk
golongan non-nucleoside transcriptase inhibitor
(NNRTI)

Fasyankes

Fasilitas Pelayanan Kesehatan

FDC

Fixed Drug Combination adalah 2 obat atau lebih yang
dijadikan dalam satu formula

FK

Forum Komunikasi

FTC

Emtricitabine= 2,3-dideoxy-5-fluoro-3-thiacytidine,
yaitu obat antiretroviral yang termasuk golongan NRTI

4

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan HIV Human Immunodeficiency Virus. Informasi dan Edukasi KPA Komisi Penanggulangan AIDS KTH Konseling dan Testing HIV KTIP Konseling dan Testing atas Inisiasi Petugas kesehatan KTS Konseling dan Testing Sukarela Labkesda Laboratorium Kesehatan Daerah LAPAS Lembaga Pemasyarakatan LASS Layanan Alat Suntik Steril LKB Layanan Komprehensif Berkesinambungan LPV/r Kombinasi obat antiretroviral golongan Protease Inhibitor (PI) Lopinavir dan ritonavir. yaitu virus yang menyebabkan penurunan kekebalan pada manusia IMS Infeksi Menular Seksual IO Infeksi Oportunistik Kab Kabupaten KB Keluarga Berencana Kemenkes Kementerian Kesehatan KIE Komunikasi. Organisasi bukan 5 . Anti Psikotik dan Zat Addiktif lainnya NGO Non-Government Organization. dan ritonavir dalam dosis rendah dapat meningkatkan potensi Lopinavir LSL Lelaki Seks dengan Lelaki LSM Lembaga Swadaya Masyarakat MDG Millennium Development Goal NAPZA Narkotika.

berasal dari pemerintah dan disebut juga LSM NVP Nevirapine. suatu jenis pemeriksaan biomolekuler PDP Perawatan. yaitu obat antiretroviral yang termasuk golongan NNRTI OAT Obat Anti Tuberkulosis ODHA Orang Dengan HIV dan AIDS Ormas Organisasi Masyarakat OVC Orphan and Vulnerable Children = Anak Yatim dan Rentan P2M Pengendalian Penyakit Menular PBK Perawatan Basis Komunitas PBKR Perawatan Basis Komunitas/Rumah PBR Perawatan Basis Rumah PCR Polymerase Chain Reaction. Dukungan dan Pengobatan Penasun Pengguna NAPZA Suntik PKK Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Pokja Kelompok Kerja PPIA Pencegahan Penularan Ibu ke Anak PPK Pengobatan Pencegahan Kotrimoksazol PPP Profilaksis Pasca Pajanan Prov Provinsi PS Pekerja Seks PSK Pekerja Seks Komersial PTRB Pelayanan Terapi Rumatan Buprenorphine 6 .

yaitu obat antiretroviral yang termasuk golongan NRTI TOGA Tokoh Agama TOMA Tokoh Masyarakat UNAIDS Joint United Nations Programme on HIV/AIDS Waria Trans gender WHO World Health Organization ZDV Zidovudin. lihat AZT 7 .Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan PTRM Pelayanan Terapi Rumatan Metadon RS Rumah Sakit RUTAN Rumah Tahanan SDM Sumber Daya Manusia SpA Spesialis Anak SpOG Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) TB Tuberkulosis TDF Tenofovir Disoproxyl Fumarat.

Dalam petunjuk teknis ini akan dibahas beberapa masalah yang perlu diketahui oleh para penggunanya. Oleh karenanya dipandang perlu untuk menerbitkan suatu petunjuk teknis yang dapat dipergunakan sebagai acuan oleh para pengelola program baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam penyelenggaraan maupun pengembangan lebih lanjut. Namun untuk selanjutnya diharapkan pengembangan akan merambah ke seluruh Kabupaten Kota yang ada di Indonesia dengan dukungan dana yang tersedia di tingkat daerah. para penyelenggara layanan. telah direncankan bahwa pengembangan awal dar LKB tersebut akan mencakup ke 75 Kabupaten Kota sesuai dengan ketersediaan dana dukungan yang ada. Adapun sasaran pengguna buku petunjuk adalah para pengelola program. Selain itu juga membahas kebutuhan akan layanan pencegahan dan caranya di dalam kerangka kerja LKB. . di antaranya adalah suatu pendahuluan dan latar belakang pendekatan layanan HIV dan IMS komprehensif berkesinambungan. menelaah dukungan nasional pada LKB. garis besar cara memantau dan mengevaluasi serta arah kedepan dari pengembangan LKB secara nasional. dan komunitas yang termasuk dalam populasi kunci bagi rantai penularan HIV dan IMS. saran khusus tentang cara pengembangan LKB di tingkat kabupaten/kota.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Layanan Komprehensif HIV&IMS Berkesinambungan I PENDAHULUAN Sebagai kelanjutan dari diterbitkannya Buku pedoman Layanan Komprehensif HIV&IMS Berkesinambungan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2012. Dalam penyenggaraan kerangka kerja LKB terdapat 6 pilar yang harus diselenggarakan sebagai satu kesatuan rangkain program yang tidak terpisahkan. anggota komunitas yang aktif terlibat dalam LKB termasuk di dalamnya komunitas odha. Adapun petunjuk teknis ini akan meliputi petunjuk teknis pengembangannya hingga petujuk teknis penyelenggaraannya. penasun.

dan akseptabilitas layanan. Pilar Utama Pilar 1: Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di setiap lini Pilar 2: Peran aktif komunitas termasuk ODHA dan Keluarga Pilar 3: Layanan terintegrasi dan terdesentralisasi sesuai kondisi setempat Pilar 4: Paket layanan HIV komprehensif yang berkesinambungan Maksud dan Tujuan Mendapatkan dukungan dan keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan Meningkatnya kemitraan. meningkatkan cakupan. Pilar Utama bagi Layanan Komprehensif HIV & IMS yang Berkesinambungan No. dan retensi. Tersedianya layanan berkualitas sesuai kebutuhan individu . Tersedianya layanan terintegrasi sesuai dengan kondisi setempat.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Gambar 1. Kerangka kerja Layanan Komprehensif HIV & IMS yang Berkesinambungan Tabel 1. serta mengurangi stigma dan diskriminasi.

Terjangkaunya layanan baik dari sisi geografis. layanan yang ada serta kesenjangannya. b. finansial dan sosial. Undangan untuk setiap pertemuan dikirimkan jauh hari sebelum waktunya dan usahakan untuk mengkorfirmasi kehadiran anggota. Agenda pertemuan pertama adalah: a. Menelaah kebutuhan. PILAR 1: KOORDINASI DAN KEMITRAAN DENGAN SEMUA PEMANGKU KEPENTINGAN DI SETIAP LINI Untuk mengembangkan jejaring dan melakukan koordinasi yang efektif maka diperlu langkah langkah kunci sbb: 1. Pemilihan ketua forum. 3. Dapatkan dukungan dari Kepala Dinas Kesehatan setempat untuk membentuk suatu kelompok atau forum koordinasi LKB 2. Menjaga keluwesan keanggotaan dengan membuka kemungkinan untuk masuknya anggota-anggota baru yang akan membantu meningkatkan layanan 7. Mengidentifikasi orang yang akan duduk dalam forum koordinasi LKB tersebut dan mengundang mereka dalam pertemuan pertama.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Pilar 5: Sistem rujukan dan jejaring kerja Pilar 6: Akses Layanan Terjamin Adanya jaminan kesinambungan danlinkage antara komunitas dan layanan kesehatan. Membahas cara meningkatkan sistem rujukan dan mengurangi hambatan mengakses layanan c. 4. . Penerbitan SK pembentukan forum LKB oleh pemerintah setempat berikut dengan keanggotaan dan uraian tugasnya 6. termasuk bagi kebutuhan populasi kunci II PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR 1. Menentukan mekanisme kerja forum koordinasi LKB tersebut agar forum tersebut berfungsi. Forum tersebut dapat diintegrasikan dengan pokja HIV yang ada namun perlu ditetapkan mekanismenya. sekretaris dan penggung jawab harian 5.

sumber daya untuk penyelenggaraan layanan yang komprehensif di tingkat kabupaten/ Kota. pedoman. mitra multi/bilateral. ahli HIV/IMS. strategi. KDS ODHA. perwakilan LSM yang bekerja dalam populasi kunci. Kemenhukam dsb). Tujuan Menjalin kerjasama antar pemangku kepentingan untuk saling melengkapi dalam pengembangan kebijakan. Mekanisme koordinasi:  Mekanisme koordinasi dan kemitraan di tingkat nasional diselenggarakan melalui Forum Dokumen terkait . Kemenhub. TB. Kebijakan Prosedur Keanggotaan:  FK-LKB diketuai oleh pengelola program nasional HIV dari Kementerian Kesehatan dan beranggotakan pemangku kepentingan yang meliputi: KPA Nasional. POLRI. sektor lain (seperti: Kemensos. Bina Kes-Ibu. sumber dana. Bina Kes Anak. TNI.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 1/ 1: Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkatNasional Judul StandarProsedurOperasional Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkatNasional Pengertia n Koordinasi di tingkat nasional adalah perihal mengatur organisasi atau kegiatan terkait dengan Layanan Komprehensif HIV dan IMS yang Berkeseinambungan di tingkat nasional sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. dsb. sarana. kemendagri. Subdit AIDS/PMS. perwakilan dari Direktorat Pemasyarakatan.

Ruang Lingkup  Ruang ligkup pembahasan dalam forum koordinasi meliputi penggalian potensi. pembagian peran dari setiap pemangku kepentingan dalam mendukung rencana pengembangan dareah LKB. yang bertugasmembahas layanan komprehensif yang berkesinambungan dengan mengadakan pertemuan secara berkala. Frekuwensi pertemuan  Unit Terkait Setidaknya setiap 6 bulan sekali atau lebih sering sesuai kebutuhan Unit kerja tersebut dalam keanggotaan SOP PILAR 1/ 2: Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkat Provinsi StandarProsedurOperasional Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkat Provinsi Pengertia n Yang dimaksud koordinasi di tingkat provinsi adalah perihal mengatur kegiatan terkait dengan LKB di tingkat provinsi sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan tidak saling . …….Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Judul StandarProsedurOperasional Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkatNasional Dokumen terkait Koordinasi layanan komprehensif HIV/IMS & IMS yang Berkesinambungan (FK-LKB). identifikasi sumberdaya.

sektor kesehatan berfungsi sebagai penggeraknya (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi selaku ketua FK-LKB Provinsi). Tujuan Menjalin kerjasama antar unit kerja terkait dengan pengembangan layanan di tingkat provinsi untuk saling melengkapi sehingga tersedia layanan yang komprehensif di tingkat kabupaten/ Kota dandapat diakses oleh Odha dan populasi kunci sesuai dengan kebutuhannya Kebijakan Peraturan presiden tentang KPA nasional. KIA. Mekanisme koordinasi:  Koordinasi dapat dilaksanakan melalui mekanisme koordinasi yang sudah ada di tingkat provinsi atau membentuk forum koordinasi baru dengan melibatkan para pemangku kepentingan yang meliputi: KPA provinsi. SKPD lain. perencanaan dan pelaksanaan. kepala rumah sakit rujukan regional di provinsi. Dinkes Provinsi. KDS ODHA. tokoh masyarakat. Kespro. sektor lain (pemerintah daerah. LSM layanan HIV. provinsi dan kab/ kota sebagai Prosedur Keanggotaan:  Agar mekanisme koordinasi dan kemitraan di tingkat provinsi dapat terselenggara maka perlu ditunjuk seorang focal point sebagai fasilitator koordinasi. (TB. Ruang Lingkup Forum koordinasi di tingkat provinsi berperan untuk: . LSM populasi kunci. penanggung jawab program terkait Dinkes Provinsi. Sementara itu.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan bertentangan atau simpang siur. dll). P2M).

Frekuwensi pertemuan Setidaknya setiap 3 bulan sekali atau lebih sering sesuai kebutuhan Unit Terkait Seperti tercantum dalam keanggotaan 1. mendorong kepemilikan dan akuntabilitas.  Memformulasikan mekanisme jejaring kerja dan alur rujukan layanan kesehatan/medis (vertikal dan horisontal).  Mengidentifikasi kebutuhan. serta kolaborasi dan koordinasi lintas bidang/sektor.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan  Menyusun perencanaan dan memastikan implementasi kegiatan  Memfasilitasi pengembangan LKB di tingkat kabupaten/kota di dalam wilayahnya.  Memastikan ketersediaan sumber dayadan penggunaan yang optimal. .  Memastikan semua pemangku kepentingan bekerja sama. kesenjangan.  Menyediakan forum diskusi berkala terkait penerapan LKB.

klinik layanan HIV. KDS ODHA. perencanaan dan pelaksanaan. Dinkes Kab/ Kota. kepala rumah sakit. dinas terkait lain dsb. Jalinan kerja sama dilaksanakan berdasarkan atas kedudukan yang setara Tujuan Menjalin kerjasama antar layanan untuk saling melengkapi sehingga tersedia layanan yang komprehensif di tingkat kabupaten/ Kota dandapat diakses oleh Odha dan populasi kunci sesuai dengan kebutuhannya Kebijakan Prosedur Keanggotaan:  Seperti halnya di tingkat provinsi maka perlu ditunjuk seorang pengelola program LKB sebagai focal pointyang bertugas sebagai fasilitator koordinasi. puskesmas. Kespro. LSM populasi kunci. LSM layanan HIV.  Pemangku kepentingan yang terlibat meliputi: KPA Kabupaten.  Sesuai konsensus nasional maka sebagai ketua forum koordinasi di tingkat kabupaten/kota 1. .Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 1/ 3: Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di Kabupaten/ Kota StandarProsedurOperasional Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di Kabupaten/ Kota Pengertia n Koordinasi di tingkat Kabupaten/ Kota adalah perihal mengatur organisasi atau kegiatan di tingkat kabupaten/kota sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. penanggung jawab program terkait Dinkes. (TB. KIA. tokoh masyarakat. P2M).

serta kolaborasi dan koordinasi lintas bidang/ sektor.  Memastikan ketersediaan sumber daya dan penggunaannya secara optimal.  Mengidentifikasi kebutuhan.  Menyediakan forum diskusi berkala terkait . Ruang Lingkup Forum koordinasi di tingkat kabupaten/ kota berperan untuk:  Menyusun rencana dan memastikan implementasi kegiatan.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.  Mekanisme koordinasi di tingkat kabupaten/kota dilakukan dengan jejaring kerjasama yang terjalin atas dasar saling menghormati dan menghargai baik antar layanan secara horisontal maupun vertikal melalui pertemuan berkala. kesenjangan.  Memastikan semua pemangku kepentingan bekerja sama. mendorong kepemilikan dan akuntabilitas.  Memformulasikan mekanisme jejaring kerja dan alur rujukan pelayanan kesehatan/medis (vertikal dan horisontal). Mekanisme koordinasi:  Koordinasi dan kemitraan di tingkat kabupaten/kota diselenggarakan melalui mekanisme koordinasi yang ada di tingkat kabupaten/kota atau membentuk forum koordinasi yang baru.

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan penerapan layanan yang berkesinambungan.  Menjadi forum untuk deseminasi informasi kepada semua pihak terkait Frekuwensi pertemuan  Unit Terkait Setidaknya setiap 3 bulan sekali atau lebih sering sesuai kebutuhan Seperti tercantum dalam keanggotaan 2. .

Mengidentifikasi orang yang akan duduk dalam forum koordinasi LKB tersebut dan mengundang mereka dalam pertemuan pertama. Forum tersebut dapat diintegrasikan dengan pokja HIV yang ada namun perlu ditetapkan mekanismenya. Menentukan mekanisme kerja forum koordinasi LKB tersebut agar forum tersebut berfungsi. Dapatkan dukungan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk membentuk suatu kelompok atau forum koordinasi LKB 2. b. Membahas cara meningkatkan sistem rujukan dan mengurangi hambatan mengakses layanan c. Pemilihan ketua forum. Menelaah kebutuhan. sekretaris dan penggung jawab harian 5. 3. 4. Penerbitan SK pembentukan forum LKB oleh pemerintah setempat .Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 1/ 4: Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkat Layanan StandarProsedurOperasional Koordinasi dan kemitraan dengan semua pemangku kepentingan di tingkat Layanan Pengertia n Adalah perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan layanan sehingga peraturan dan tindakan Koordinasi: yg akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur Jalinan kerja sama dengan hak dan Kemitraan: kewajiban yang setara Menjalin kerjasama antar layanan untuk saling melengkapi sehingga tersedia layanan yang Tujuan komprehensif di tingkat kabupaten/ Kota dandapat diakses oleh Odha dan populasi kunci sesuai dengan kebutuhannya Kebijakan 1. Agenda pertemuan pertama adalah: a. layanan yang ada serta kesenjangannya.

Mekanisme koordinasi:  Koordinasi dan kemitraan di tingkat kabupaten/kota diselenggarakan melalui mekanisme koordinasi yang ada di tingkat kabupaten/kota atau membentuk forum koordinasi yang baru. penanggung jawab program terkait Dinkes. dinas terkait lain dsb.  Sesuai konsensus nasional maka sebagai ketua forum koordinasi di tingkat kabupaten/kota adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. kepala rumah sakit.  Mekanisme koordinasi di tingkat kabupaten/kota dilakukan dengan jejaring kerjasama yang terjalin atas dasar saling menghormati dan menghargai baik antar layanan secara horisontal maupun vertikal melalui pertemuan berkala. LSM layanan HIV. perencanaan dan pelaksanaan.  Pemangku kepentingan yang terlibat meliputi: KPA Kabupaten. Keanggotaan:  Seperti halnya di tingkat provinsi maka perlu ditunjuk seorang pengelola program LKB sebagai focal pointyang bertugas sebagai fasilitator koordinasi. tokoh masyarakat. Ruang Lingkup Forum koordinasi di tingkat kabupaten/ . P2M). Menjaga keluwesan keanggotaan dengan membuka kemungkinan untuk masuknya anggota-anggota baru yang akan membantu meningkatkan layanan 7. Dinkes Kab/ Kota. (TB. Undangan untuk setiap pertemuan dikirimkan jauh hari sebelum waktunya dan usahakan untuk mengkorfirmasi kehadiran anggota. puskesmas. Kespro. klinik layanan HIV.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Prosedur berikut dengan keanggotaan dan uraian tugasnya 6. KIA. LSM populasi kunci. KDS ODHA.

Kemitraan ini penting dalam memperbaiki rujukan. Sistem kemitraan juga harus terus didorong. Frekuwensi pertemuan  Setidaknya setiap 3 bulan sekali atau lebih sering sesuai kebutuhan  Unit Terkait 2. misalnya kemitraan dalam perencanaan. Seperti tercantum dalam keanggotaan PILAR 2: PERAN AKTIF KOMUNITAS TERMASUK ODHA DAN KELUARGA Peningkatan peran serta ODHA dan kelompok dukungan sebaya secara efektif dalam berbagai aspek termasuk layanan kesehatan berbasis masyarakat/komunitas maupun fasyankes telah terbukti efektif dan dapat memperbaiki kualitas layanan bagi ODHA secara umum. mendorong kepemilikan dan akuntabilitas.  Memformulasikan mekanisme jejaring kerja dan alur rujukan pelayanan kesehatan/medis (vertikal dan horisontal).  Mengidentifikasi kebutuhan. kesenjangan. serta kolaborasi dan koordinasi lintas bidang/ sektor. Menyediakan forum diskusi berkala terkait penerapan layanan yang berkesinambungan.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan kota berperan untuk:  Menyusun rencana dan memastikan implementasi kegiatan.  Memastikan ketersediaan sumber daya dan penggunaannya secara optimal.  Memastikan semua pemangku kepentingan bekerja sama. . penyelenggaraan layanan dan evaluasi.

Adalah ikut sertanya ODHA atau keluarganya dalam memecahkan permasalahan-permasalahan ODHA sehubungan dengan layanan kesehatan. Seperti misalnya: komunitas ODHA. Fasilitas layanan kesehatan akan memotivasi. Dalam hal ini ODHA secara aktif akan Peran serta memikirkan. Adalah suatu strategi yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu Kemitraan: untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. sumber daya. komunitas LSL. kepercayaan. serta mengurangi stigma dan diskriminasi di antara pemangku kepentingan SOP PILAR 2/ 1: Meningkatkan Peran aktif ODHA dalam sistem layanan LKB StandarProsedurOperasional Judul Meningkatkan Peran aktif ODHA dalam sistem layanan LKB Pengertia n Yang dimaksud dengan komunitas adalah individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud. risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa Dalam hal pengendalian HIV maka komunitas yang dimaksud adalah kelompok individu yang Komunitas: memiliki karakteristik serupa dan yang memiliki peranan penting dalam rantai penularan infeksi HIV. merencanakan. preferensi. kelompok agam dan kelompok masyarakat lain yang seminat dalam engendalian HIV. komunitas penasun. komunitas pekerja seks. ODHA melaksanakan dan mengevaluasikan programprogram kesehatan masyarakatnya. komunitas LBT.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan dukungan kepatuhan. komuitas pendukung. komunitas waria. kebutuhan. mendukung dan membimbingnya. melaksanakan. Meningkatkan kualitas layanan layanan bagi Tujuan ODHA secara umum .

. . Fungsi pembimbing sebaya tersebut setidak dijalankan pada hari jadwal kunjungannya ODHA yang baru bergabung harus selalu ditawari untuk berkenalan dengan ODHA yang telah lama. Fasyankes harus memfasilitasi kelompok ODHA untuk melakukan pertemuan antar mereka. LSM pendukung sebaya. Dengan berfungsi sebagai Community Organizer Semua ODHA klien yang sudah lama di dorong dan dilatih untuk dapat berfungsi sebagai pembimbing sebaya. PKBI.. NU.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Kebijakan Prosedur Unit Terkait Peningkatan peran serta ODHA dan kelompok dukungan sebaya secara efektif dalam berbagai aspek termasuk layanan kesehatan berbasis masyarakat/ komunitas maupun fasyankes telah terbukti efektif dan dapat memperbaiki kualitas layanan bagi ODHA secara umum LSM kelompok dukungan yang terhubung dengan fasyankes harus membimbing ODHA klien fasyankes ybs. SOP PILAR 2/ 2: Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran StandarProsedurOperasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijakan Prosedur Unit Terkait Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 2/ 3: Meningkatkan Dampak Pengobatan dan Perawatan StandarProsedurOperasional Judul Meningkatkan Dampak Pengobatan dan Perawatan Pengertia n Tujuan Kebijakan Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 2/ 4: Mobilisasi sumber daya StandarProsedurOperasional Judul Mobilisasi Sumber Daya Pengertia n Tujuan Kebijakan Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 2/ 5: Mendukung Kelanggengan Layanan yang Berpusat pada Pasien StandarProsedurOperasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijakan Mendukung Kelanggengan Layanan yang Berpusat pada Pasien .

PTRM. kapasitas sistem layanan kesehatan. Banyak layanan PDP yang menuju layanan “satu atap dan satu hari” yang sebaiknya terus diupayakan secara bertahap. KIA.).Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 2/ 6: Memperbaiki Kualitas Layanan dari Perawatan Akut ke Perawatan Kronik Judul StandarProsedurOperasional Memperbaiki Kualitas Layanan dari Perawatan Akut ke Perawatan Kronik Pengertia n Tujuan Kebijakan Prosedur Unit Terkait 3. LSM pemberi layanan. dengan prioritas integrasi layanan HIV di layanan lainnya seperti di layanan TB. PILAR 3: LAYANAN TERINTEGRASI DAN TERDESENTRALISASI SESUAI KONDISI SETEMPAT Integrasi layanan dan desentralisasi pengelolaan sumber daya diadaptasi sesuai situasi epidemi HIV dan kondisi di kabupaten/kota (yaitu epidemi terkonsentrasi atau meluas. termasuk layanan bagi kelompok populasi kunci. LASS dan kesehatan reproduksi remaja. SOP PILAR 3/ 1: Desentralisasi Layanan HIV dari Rumah Sakit Ke Fasilitas Layanan Primer StandarProsedurOperasional . layanan IMS. dsb. KB.

dan ART dapat dilanjutkan oleh fasyankes primer dengan berkoordinasi dengan RS rujukan.  Tujuan  Mendekatkan dan mempermudah akses layanan kesehatan untuk ODHA Meningkatkan kepatuhan dan retensi di dalam terapi ART  Permenkes 21. Prosedur  Dinas kesehatan kota/kabupaten melakukan penilaian dan perencanaan pengembangan desentralisasi layanan HIV. inisiasi ART juga dapat dilakukan di fasyankes primer. Jika ditentukan oleh kepala dinas kesehatan. tugas pemerintah daerah yaitu menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer dan rujukan dalam melakukan penanggulangan HIV dan AIDS sesuai dengan kemampuan Kebijakan  Inisiasi ART dilakukan di Rumah Sakit rujukan ODHA.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Judul Pengertia n Desentralisasi Layanan HIV dari Rumah Sakit Ke Fasilitas Layanan Primer Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Penilaian dilakukan:  - Kebutuhan ODHA akan layanan yang dekat - Apakah RSUD sudah memiliki terlalu banyak pasien - Dimana fasyankes primer yang akan dijadikan satelit RS ART Setelah menentukan fasyankes .

Kebijakan Prosedur perpaduan .  Rencanakan pelatihan/on the job training untuk perawatan kronis HIV  Rencanakan sistem koordinasi dan mentoring dengan RS rujukan ART. LASS. dan mengapa penting integrasi HIV ke layanan masing-masing. misalnya layanan TB.     Unit Terkait Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten RS rujukan ART Fasyankes primer SOP PILAR 3/ 2: Mengitegrasikan Layanan HIV ke Layanan yang ada StandarProsedurOperasional Judul Mengitegrasikan Layanan HIV ke Layanan yangada Pengertia n Integrasi adalah menjadi kesatuan Tujuan hingga  Pelayanan satu atap yang memberikan kemudahan akses bagi pasien  Layanan HIV diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan yang terkait. PTRM. koordinasikan dengan RS rujukan ART.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan primer yang akan menjadi satelit RS ART. ANC. rawat inap  Pastikan semua layanan terkait memahami keterkaitan antara layanannya dengan infeksi HIV.

sumber daya.  Integrasikan pesan dan upaya-upaya pencegahan HIV di layanan kesehatan. Isi paket dapat diadaptasi sesuai keadaan. Pada dasarnya paket layanan di tingkat kabupaten/kota dalam lingkup LKB adalah sebagai berikut. dll. Misalnya pada layanan TB. berikan on the job training PMTCT. Layanan ANC. .  Untuk integrasi testing HIV dengan layanan. ANC.     Unit Terkait 4. tenaga). pertimbangkan integrasi pengobatan ART di layanan TB. PILAR 4: Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten RS rujukan ART Fasyankes primer PAKET LAYANAN HIV KOMPREHENSIF YANG BERKESINAMBUNGAN Paket LKB ini diterapkan sesuai strata dari layanan dengan peran dan tanggung jawab yang jelas. kapasitas dan prioritas kebutuhan. metadon. fasyankes primer (puskesmas. dan juga dapat berkembang sesuai kebutuhan. terutama terkait dengan TIPK.  Jika memungkinkan. dan situasi epidemi HIV. berikan on the job training TB-HIV. pastikan layanan tes HIV terhubung dengan layanan. klinik dll) dan layanan komunitas dapat dikembangkan bertahap sesuai kondisi sumber daya (keuangan. Implementasi keseluruhan paket di fasyankes sekunder dan tersier (rumah sakit kabupaten dan RS provinsi ataupun RS sekelas lainnya).Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan  Berikan pelatihan/on the job training sesuai dengan layanan masingmasing.

5.7.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan 1.Menghubungkan Pasien Dengan Sumber Daya Dan Dukungan Sebaya 6. Membantu. Pemantauan Efek Samping Obat 9.10. Bekerja Sebagai Tim PDP 6.8. Menyarankan.Menggunakan Pendekatan 5 M (Mengkaji. Penemuan Kasus Baru Diagnosis HIV Tatalaksana Klinis Pasien HIV yang baru terdiagnosis Pemberian Profilaksis Kotrimoksasol Pengobatan Pencegahan Dengan INH (Ipt = Isoniazid Preventive Therapy) 6.Melibatkan “Pasien Ahli” Sebagai Pelatih 6.Monitoring dan Surveilance SOP PILAR 4/ 1: Penemuan Kasus Baru Standar Prosedur Operasional Judul Penemuan Kasus Baru Pengertian Tujuan Kebijakan Untuk memberikan akses diagnosis dan pengobatan secara lebih dini termasuk pengobatan profilaksis kotrimoksasol dan paket layanan HIV lainya Semua pemeriksaan HIV harus mengikuti prinsip yang telah disepakati secara global yaitu 5prisip .Memperhatikan Prioritas Dan Kekuatiran Pasien 6.Membantu Dan Mendorong Kemandirian Pasien 6.Menjalin Kemitraan Dengan Pasien Anda 6. Penanganan Ko-Infeksi TB/HIV 10. 4. Menjadwalkan 6.9.6. Menerapkan “Perawatan Komprehensif Berkesinambungan” 7.2.1.Menggunakan Catatan Medis Yang Standar 6.Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Ke Anak (PPIA) 11.Tatakelola Logistik 14. Perawatan Kronis Yang Baik 6.Pengendalian dan Pengobatan IMS 12.5.3.4.11. 2.Pengantar Prinsip Dasar Perawatan Kronik Yang Baik 6. Pemberian ARV 8. 3.Pengendalian Dampak Buruk Bagi Penasun 13. Menyepakati.Menindaklanjuti Kunjungan Berikutnya Secara Proaktif 6.

 Pemberitahuan hasil laboratorium dilakukan sebaiknya oleh petugas kesehatan yang meminta pemeriksaan laboratorium  Penemuan kasus HIV dilakukan pada pasien TB. pasien IMS. waria.  Penemuan kasus dapat dilakukan di antara semua kalangan yang diperkirakan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih tinggi.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Prosedur dasar yang disebut 1) konfidensialitas. para pengunjung layanan kesehatan  Penemuan kasus menggunakan berbagai pendekatan baik KTS maupun TIPK  TIPK menjadi pendekatan utama dalam pemeriksaan HIV di fasilitas layanan kesehatan. seperti di rumah sakit. penasun. 4) pencatatan dan pelaporan dan 5) rujukan ke layanan pencegahan. 3) konseling.  Persetujuan untuk tes HIV dapat dilakukan secara lisan (verbal consent)mengikuti Permenkes no.Ke 5 prinsip tersebut harus diterapkan pada semua model layanan pemeriksaan dan konseling HIV.  Pemeriksaan HIV menjadi Standar Pelayanan Medis di Puskesmas & klinik  Penawaran tes HIV di Puskesmas & klinik dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Pustu. 2) persetujuan. seperti kalangan populasi kunci. pasien Hepatitis dan Ibu hamil serta populasi kunci seperti pekerja seks. Puskesmas. klinik. dukungan dan pegobatan. LSL dan warga binaan di rutan/lapas. perawatan. 21 tahun 2013 Unit Terkait SOP PILAR 4/ 2: Diagnosis HIV . Polindes dan Posyandu dengan tenaga yang sudah terlatih dan mendapat mentoring secara rutin oleh Puskesmas.

permintaan Dokumen terkait . KTS(kons eling dan Adalah suatu pendekatan pemeriksaan diagnosis HIV tes HIV dengan tes HIV atas inisiatif individu yang sukarela) bersangkutan Tes HIV pada KTS hanya dilakukan dalam hal pasien memberikan persetujuan secaratertulis Rahasia Kedokteran Menurut UU Praktik kedokteran no 29 tahun 2004. tes laboratorium. TIPK (tes dan konselig HIV atas inisiatif petugas kesehatan ) Adalah suatu pendekatan pemeriksaan diagnosis HIV dengan Tes HIV dan Konseling yang dilakukan kepada seseorang untuk kepentingan kesehatan dan pengobatan berdasarkan inisiatif petugas kesehatan Tes HIV pada TIPK tidak dilakukan dalam hal pasien menolak secaratertulis. Penilaian dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik. dan dapat dibantu oleh program komputer yang dirancang untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan. Pasal 48: Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien . atau sejenisnya.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Standar Prosedur Operasional Judul Diagnosis HIV Pengerti an Diagnosi s Diagnosis adalah suatu tindakan untuk mengidentifikasi sifat-sifat penyakit atau kondisi atau membedakan satu penyakit atau kondisi dari yang lainnya.memenuhi permintaan penegak hukum dalam rangka penegakan hukum.

Isi catatan medis adalah milik pasien. disimpan secara rahasia demi kepentingan pasien sesuai dengan ketentuan. Informasi hanya dibagi dengan petugas kesehatan medis dan non-medis yang terlibat langsung menangani dan hanya atas dasar kepentingan medis serta tidak untuk diperbincangkan secara luas.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Standar Prosedur Operasional Diagnosis HIV Judul pasien sendiri dan berdasarkan ketentuan perundangundangan. 4. Semua catatan medis disimpan dalam tempat yang aman sesuai ketentuan. 2. sekalipun berkasnya milik fasilitas layanan kesehatan. 3. Tahun 2008 tentang Rekam Medis: 1. Semua informasi pasien tercatat dalam rekam medis. sehingga konfidensialitas merupakan hak pasien Tujuan Kebijaka n Menegakkan diagnosis apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. guna memberikan perawatan dan pengobatan bagi yang terdiagnosis HIV positif   Gunakan tes cepat HIV (rapid test) sebagai sarana penegakan diagnosis Gunakan metode pemeriksaan serial dengan 3 Dokumen terkait . Konfidensia litas Menurut Permenkes 269.

2013) 2. Penawaran pemeriksaan HIV selalu disertai dengan informasi singkat tentang HIV. Pedoman Nasional KTHIV . Pemeriksaan HIV selalu ditawarkan kepada semua pasien yang datang ke fasilitas kesehatan terutama di layanan IMS. 3. ibu hamil. bidan terlatih.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Standar Prosedur Operasional Diagnosis HIV Judul   Dokumen terkait jenis reagen yang berbeda sesuai dengan pedoman nasional Perhatikan penyimpanan reagen HIV sesuai dengan instruksi yang tertera dilembar informasi dan tanggal kedaluwarsa Dalam hal tidak tersedianya petugas analis laboratorium maka tes HIV boleh dilakukan oleh petugas kesehatan lain seperti perawat. klinik remaja dan layanan bagi populasi kunci yang datang ataupun melalui penjangkauan 1. Bila klien/pasien tidak menolak maka segera dibuatkan formulir TIPK yang perlu diisi secara lengkap untuk keperlua pencatan Formulir TIPK 4. TB. Prosedur 1. Pedoman Nasional KTHIV (Kemenke s RI. Lembar ikhtisar perawatan Pemeriksaan laboratorium HIV dilaksanakan dengan menggunakan tes cepat dengan strategi 3 sesuai dengan pedoman nasional KTHIV yang berlaku. Segera lakukan pengambilan spesimen darah di tempat untuk kemudian tes di tempat dengan tes cepat atau dikirim ke laboratorium. Bagi yang menolak maka penolakan harus dicatat di dalam lembar catatan medisnya untuk dilakukan penawaran kembali pada saat kunjungan berikutnya. LASS. PTRM. Formulir hasil Lab 5.

disertai dengan pemberian konseling pasca tes sesuai pedoman nasional.  Bagi klien dengan hasil HIV non-reaktif maka pesan pada konseling pasca tes meliputi: o Penyampaian hasil HIV negatif o pesan pencegahan o Penjelasan tentang masa jendela o pesan untuk pemeriksaan ulang dan pemeriksaan pasangan bila ada perilaku berisiko atau bagi populasi kunci  Bagi klien dengan hasil HIV positif maka pesan pada konseling pasca tes meliputi: o Penyampaian hasil HIV positif o Berikan dukungan o Informasi pentingnya perawatan o Tentukan stadium klinis o Skrining TB .Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Standar Prosedur Operasional Diagnosis HIV Judul Dokumen terkait (Kemenkes RI. 2013) Hasil pemeriksaan harus disampaikan sesegera mungkin kepada klien oleh petugas yang menawarkan pemeriksaan tersebut.

Tujuan Memberikan akses layanan pencegahan. Dokumen terkait Lembar Laporan Tes HIV Anti Bodi . dukungan dan pengobatan HIV kepada ODHA secara dini.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Standar Prosedur Operasional Diagnosis HIV Judul Dokumen terkait o Rujuk untuk pemeriksaan CD4 o Penyiapan pengobatan ARV o Pesan pencegahan positif o Anjuran untuk tes pasangan o Beri Kartu Pasien bernomor Register Nasional o Isi Lembar Ikhtisar Perawatan Unit Terkait  Tawarkan dirujuk ke kelompok sebaya atau kelompok dukungan yang lain  Laboratorium Unit PDP HIV Kelompok sebaya dan Kelompok dukungan   SOP PILAR 4/ 3: Tatalaksana Pasien HIV yang baru terdiagnosis Standar Prosedur Operasional Judul Tatalaksana Pasien HIV Pasien adalah seorang individu yang telah terdeteksi Pengertia terinfeksi HIV dengan hasil tertulis tes laboratorium n HIV positif. perawatan.

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Kebijaka n Semua ODHA harus terhubung dengan layanan Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 4: Pemberian Terapi Profilaksis Kotrimoksasol Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait Pemberian Terapi Profilaksis Kotrimoksasol Dokumen terkait .

Menjalin Kemitraan Dengan Pasien Anda 14.5. Menyepakati. Menggunakan Pendekatan 5 M (Mengkaji. Menyarankan.7. Pengantar Prinsip Dasar Perawatan Kronik Yang Baik 14. Menerapkan “Perawatan Komprehensif Berkesinambungan” Standar Prosedur Operasional .8.6. Membantu.2.9. Memperhatikan Prioritas Dan Kekuatiran Pasien 14.3.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 4/ 5: Pengobatan Pencegahan Dengan INH (Ipt = Isoniazid Preventive Therapy) Standar Prosedur Operasional Dokumen terkait Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 6: Perawatan Kronis Yang Baik 14. Bekerja Sebagai Tim PDP 14. Menjadwalkan 14. Menindaklanjuti Kunjungan Berikutnya Secara Proaktif 14. Melibatkan “Pasien Ahli” Sebagai Pelatih 14.10.11.1. Menghubungkan Pasien Dengan Sumber Daya Dan Dukungan Sebaya 14.4. Membantu Dan Mendorong Kemandirian Pasien 14. Menggunakan Catatan Medis Yang Standar 14.

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Dokumen terkait Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 7: Pemberian ARV Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait Dokumen terkait .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 4/ 8: Pemantauan Efek Samping Obat Standar Prosedur Operasional Dokumen terkait Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 9: Penanganan Ko-Infeksi TB/HIV Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Dokumen terkait .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 10: Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Ke Anak (PPIA) Standar Prosedur Operasional Dokumen terkait Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 11: Pengendalian dan Pengobatan IMS Standar Prosedur Operasional .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Dokumen terkait Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 12: Pengendalian Dampak Buruk Bagi Penasun Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Dokumen terkait .

Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 14: Monitoring dan Surveilance Standar Prosedur Operasional . 2.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Terkait SOP PILAR 4/ 13: tatakelola Logistik Standar Prosedur Operasional Tatakelola Logistik Judul Dokumen terkait Yang dimaksud dengan logistik termasuk: Pengertia n 1.

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Judul Monitoring dan Surveilance Dokumen terkait Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 15: Paket Layanan di Fasyankes Primer Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait Dokumen terkait .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan SOP PILAR 4/ 16: Paket Layanan di Fasyankes Sekunder Standar Prosedur Operasional Judul Paket Layanan di Fasyankes Sekunder Dokumen terkait Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 4/ 17: Paket Layanan di Fasyankes Tersier Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Paket Layanan di Fasyankes Tersier Dokumen terkait .

SOP PILAR 5/ 1: Merujuk Klien dari Penjangkau ke Layanan Standar Prosedur Operasional Merujuk Klien dari Penjangkau ke Layanan Judul  Pengertia n  Tujuan Kebijaka n   Rujukan adalah satu hubungan di antara objekobjek yang dirangkai dengan mengaitkan dengan objek yang lain.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait 5. sumber daya dan sumber daya manusia yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut. Jejaring kerja juga harus meliputi jejaring dalam melaksanakn bimbingan teknis pada pelaksana layanan. dapat berarti rujukan antar layanan. Dokumen terkait . PILAR 5: SISTEM RUJUKAN DAN JEJARING KERJA Sistem kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota yang melayanan masyarakat dari suatu wilayah geografis tertentu dan terdiri atas berbagai organisasi. institusi. Sebagai acuan bagi petugas di layanan kesehatan di dalam menerima dan menindaklanjuti rujukan dari petugas yang bekerja di LSM/Organisasi Masyarakat Sipil LSM/Organisasi Masyarakat Sipil bermitra dengan Lembaga pemerintah termasuk layanan kesehatan. Dalam konteks rujukan di dalam LKB. Sebagai acuan bagi petugas yang bekerja di LSM/Organisasi Masyarakat Sipil di dalam melakukan rujukan ke layanan.

pastikan ada contact person dari setiap layanan Sepakati pola dan mekanisme rujukan. termasuk di dalamnya formulir/kartu rujukan. terapi rumatan methadone.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan   LSM/Organisasi Masyarakat sipil melakukan rujukan pada dampingannya sesuai dengan mekanisme rujukan yang disepakati. minta pasien untuk memberikan kartu rujukan pada petugas di layanan. Dampingi kelompok dampingan/ODHA ke layanan jika memungkinkan dan dibutuhkan Catat jumlah orang yang dirujuk   Petugas kesehatan menerima rujukan dan mencatat Dinas Kesehatan Provinsi  Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten  Fasyankes  LSM/KDS     Prosedur   Unit Terkait SOP PILAR 5/ 2: Merujuk Klien dari Fasyankes ke Kelompok Dukungan Standar Prosedur Operasional Pengertia n Tujuan Kebijaka n . Petakan layanan yang ada di kota/kabupaten masing-masing Tentukan pola rujukan (siapa merujuk ke mana). pencatatan rujukan. dan monitoring rujukan Rujukan kelompok dampingan ke layanan kesehatan oleh LSM dapat dilakukan untuk pemeriksaan/penapisan IMS. maupun untuk memulai/follow-up ART Berikan kartu rujukan pada kelompok dampingan/ODHA yang akan dirujuk. KT-HIV.

and supervision for all the facilities in the district are the responsibility of the district health management team. reporting. Functions such as supply chain management. and provides clinical. institutions. pharmaceutical. resources and people whose primary purpose is to improve health. TB and MCH) and oft en addresses other sectors in addition to health. and supplies support for health centres within that district. Th e district health system also functions as the organizing unit for planning and management. At the core of most district health systems is the district hospital which acts as the fi rst referral level for patients. laboratory. with substantial decentralization of services in many countries.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 5/ 3: Pelaksanaan Bimbingan Teknis di Layanan (pedoman mentoring Klinis) Standar Prosedur Operasional Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait Th e district health system or “district network” serves a population within a specifi c geographic area and consists of all the organizations. . District management includes administrative services and multiple programmes (including HIV. Th is role is increasingly important. which is commonly located at the district hospital.

Model layanan komprehensif berkesinambungan harus meliputi intervensi terarah. Paparkan masalah hambatan ini di dalam forum koordinasi . pengucilan dan penangkapan populasi kunci. PILAR 6: AKSES LAYANAN BAGI POPULASI KUNCI TERJAMIN Untuk menjamin bahwa layanan dapat diakses oleh masyarakat dan kelompok populasi kunci serta sesuai dengan kebutuhannya maka diperlukan suatu lingkungan yang mendukung baik yang berupa kebijakan maupun peraturan perundangan.Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan 6.  Memberikan edukasi dan informasi tentang berbagai perilaku berisiko ketika memberikan layanan klinis kepada klien (promosikan perilaku seks aman dan pengurangan dampak buruk pada penasun)  Dukung dan lakukan aktivitas penjangkauan kepada kelompok populasi kunci dalam rangka membangun hubungan kepercayaan antara pemberi layanan dan klien. Dapat pula . LSL. dan penasun  Sosialisasikan kepada pejabat rutan/lapas dan pusat rehabilitasi mengenai isu terkait HIV dan advokasi mereka untuk bergabung dalam LKB. menghormati hak klien dan tidak menghakimi. Dan pastikan LKB ini merupakan layanan ramah. Kembangkan rujukan antar tatanan tertutup dan layanan berbasis masyarakat di mana klien akan membutuhkan layanan di masyarakat setelah mereka bebas.  Libatkan ODHA dan kelompok populasi kunci dalam penyusunan rencana pengembangan LKB dan implementasi kegiatan  Latih petugas kesehatan untuk memberikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi dan peka terhadap isuisu PS. guna memenuhi kebutuhan spesifik dari kelompok populasi kunci dan kelompok rentan lainnya.  Bila perlu sediakan layanan yang mendekati lokasi tempat tinggal/aktivitas kelompok populasi kunci. Untuk mengurangi hambatan dalam mengakses layanan bagi populasi kunci diperlukan strategi dalam pengembangan LKB yaitu :  Sosialisasi kepada pemimpin/tokoh kunci setempat tentang kebutuhan populasi kunci dan bahaya dari pelecehan.

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan memanfaatkan fasilitas layanan berbasis masyarakat yang biasanya lebih diterima oleh populasi kunci.  Kegiatan pemantauan dan evaluasi juga mencakup layanan di atas untuk memastikan kebutuhan ODHA dan populasi kunci lainnya terlayani dengan memadai untuk mengubah epidemi HIV di Indonesia.  Bangun jejaring rujukan formal yang efisien antara layanan umum dan layanan populasi kunci tersebut. SOP PILAR 6/ 1:Pemetaan populasi kunci Standar Prosedur Operasional Judul Pemetaan populasi kunci Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Unit Terkait SOP PILAR 6/ 2:Analisis kesenjangan Standar Prosedur Operasional Judul Pengertia n Tujuan Kebijaka n Prosedur Analisis kesenjangan .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Unit Terkait .

Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan .