You are on page 1of 19

LAPORAN PENDAHULUAN

APENDISITIS
DI RUANG BEDAH KECELAKAAN (RBK)
RUMAH SAKIT UMU DAERAH BLAMBANGAN BANYUWANGI

OLEH :
Nama : Biji Bintang Habibitasari, S.Kep
NIM : 2016.04.090

PROGRAM STUDY NERS

Mahasiswa (Biji Bintang Habibitasari.Kep) Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik (………………………………….SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI BANYUWANGI TAHUN 2016 LEMBAR PENGESAHAN Laporan pendahuluan tentang “Apendisitis” di Ruang Bedah Kecelakaan (RBK) rumah sakit umu daerah Blambangan Banyuwangi tahun 2016 ini telah diterima dan disetujui pada: ………………………………………………………. S.) Mengetahui. .) (………………………………….

dan cacing usus.Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari protuberans .Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica. 2007).Kepala Ruangan RBK RSUD Blambangan Banyuwangi (…………………………………. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan. hiperplasi jaringan limfoid. 2010) Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas. Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces). setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin.dkk.Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis.) KONSEP TEORI A. tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer. B. karena struktur yang terpuntir. Anatomi Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. appendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang. Anatomi dan Fisiologi 1. Definisi Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis. dan Enterobius vermikularis (Ovedolf. Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis. 2006). dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. 2009). Arief. Trichuris trichiura.

pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal. seperti terlihat pada gambar dibawah ini (Nuzulul.4%.Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. subcaecal (di bawah sekum) 2. pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh (Nuzulul.Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks.26%. dan postileal (di belakang usus halus) 0. 2009). 2009) 2. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya.Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri.Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Fisiologi Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. netralisasi virus.Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens Apendisitis pada usia tersebut. preileal (di depan usus halus) 1%.sekum.Namun.Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis Apendisitis. .01%. pelvic (panggul) 31. lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65. Pada saat antenatal dan postnatal.28%.

Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Adanya benda asing seperti biji-bijian d. Hiperplasia dari folikel limfoid. ini merupakan penyebab terbanyak. Etiologi Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu: 1. Adanya faekolit dalam lumen appendiks c. b. Coli dan Streptococcus .C. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena: a. 2.

Ditandai dengan sebuah rangsangan peritoneum lokal . Adanya suatu obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yg diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks. & di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. 2. Apendisitis akut pada umumnya ialah obstruksi lumen yg selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks. Benda asing c. 4. Apendisitis Purulenta Umumnya karena adanya tekanan dalam lumen yg terus bertambah disertaiadanya edema menyebabkan terbendungnya aliran pembuluh vena pada dinding appendiks & menimbulkan terjadinya trombosis. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks d.Selain obstruksi. Penyebab terjanya obstruksi bisa berupa : a. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja dewasa). b. Kondisi ini memperberat adanya iskemia & edema yang ada pada apendiks. Appendik yang terlalu panjang b.Mikroorganisme yg terdapat pada usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks dan menimbulkan adanya sebuah infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram lantaran dilapisi eksudat & fibrin. 2009) D. Tergantung pada bentuk apendiks: a. Laki-laki lebih banyak dari wanita.Pada appendiks & mesoappendiks terjadi sebuah edema. Massa appendiks yang pendek c. hiperemia.3. Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut. hal ini membuat semakin meningkatkan tekanan pada intra luminer sehingga membuat terjadinya tekanan intra mukosa juga semakin tinggi. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks. Klasifikasi 1. Tumor. Apendisitis akut Apendisitis akut ialah suatu: radang pada jaringan apendiks. Tekanan yg tinggi dapat menyebabkan terjadinya infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga dapat menyebabkan suatu peradangan supuratif yg menghasilkan adanya pus/nanah pada dinding apendiks. apendisitis juga bisa disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yg kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks. Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul.

defans muskuler. Penanganannya ialah dengan apendiktomi. Tumor Apendiks Penyakit tumor ini jarang sekali ditemukan. 6. Suatu saat apabila terjadi sebuah infeksi. adanya jaringan parut & ulkus lama dimukosa. Kelainan ini jarang didiagnosis pra bedah. Mukokel Apendiks Mukokel apendiks ialah sebuah dilatasi kistik dari apendiks yg berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks.seperti adanya nyeri tekan. 3.Resiko untuk terjadinya serangan kembali sekitar 50%. Karsinoid Apendiks Ini merupakan sebuah tumor sel argentafin apendiks.namun biasanya ditemukan dengan cara kebetulan pada . Apendissitis rekurens Diagnosis rekuren baru bisa dipikirkan jika adanya riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yg mendorong dilakukan apendektomi & hasil patologi menunjukan adanya peradangan akut. & adanya keluhan menghilang satelah apendektomi. Penderita sering datang dengan keluhan ringan dan adanya rasa tidak enak di perut kanan bawah. 4. apendisitis tidak bisa kembali ke bentuk aslinya lantaran terjadi fribosis & jaringan parut.lantaran bisa metastasis ke limfonodi regional. Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik ialah adanya fibrosis menyeluruh pada dinding apendiks. mukokel bisa disebabkan oleh suatu kistadenoma yg dicurigai bisa berubah menjadi ganas. akan timbul beberapa tanda apendisitis akut. sumbatan parsial/total lumen apendiks. nyeri lepas di titik Mc Burney. Kadang bisa teraba adanya massa memanjang di regio iliaka kanan. Apendisitis kronik Diagnosis apendisitis kronik ini baru bisa ditegakkan apabila memenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut sebelah kanan bawah dengan waktu lebih dari dua minggu. musin akan tertimbun tanpa adanya infeksi. 7. 5.Namun. namun biasanya ditemukan secara kebetulan sewaktu dilakukan apendektomi atas indikasi apendisitis akut. adanya radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik. & rasa nyeri pada saat melakukan gerak aktif dan pasif. Apabila isi lumen steril. Nyeri & defans muskuler dapat terjadi pada seluruh bagian perut disertai dengan adanya tanda peritonitis umum. yg umumnya berupa jaringan fibrosa. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 %.Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi yg diperiksa secara patologik.Kelainan ini terjadi apabila serangan apendisitis akut pertama kali dapat sembuh spontan. Meskipun jarang. dan adanya infiltrasi sel inflamasi kronik. dianjurkan hemikolektomi kanan yg dapat memberi suatu harapan hidup yg jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi.

atau neoplasma. 8. 7. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. diapedesis bakteri.Sel tumor memproduksi serotonin yg menyebabkan adanya gejala tersebut di atas. Sindrom karsinoid semacam rangsangan kemerahan (flushing) pada wajah. Nyeri kemih. namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. F. tekanan akan terus meningkat. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. dan bakteri akan menembus dinding. 9. fekalit. 3. Nyeri defekasi. dan ulserasi mukosa. Nyeri tekan lepas dijumpai. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. 4. sesak napas lantaran spasme bronkus. muntah dan hilangnya nafsu makan. Manifestasi Klinis 1. 5. Terdapat konstipasi atau diare. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. benda asing. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Nyeri lumbal. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan. 11. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Apabila appendiks sudah ruptur. bila appendiks berada dekat rektal. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik. 10. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. mual. & diare yg hanya ditemukan pada sekitar 6% dari kasus tumor karsinoid perut. Bila sekresi mukus terus berlanjut. akan terjadi apendisitis perforasi. 2.pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis pra bedah apendisitis akut. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah. bila appendiks melingkar di belakang sekum. Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid. 6. Makin lama mukus tersebut makin banyak. . edema bertambah. nyeri menjadi menyebar. E.

karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang.000-18. sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%. 3. dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%. Pada anak-anak. Penanggulangan konservatif .Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis. 2.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. 1. Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). 2007). dinding apendiks lebih tipis. Radiologi Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning (CT-scan). Pemeriksaan Penunjang 1. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. Pathway Terlampir H. I. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer.Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.Bila semua proses di atas berjalan lambat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi. 2007). (Mansjoer. sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%. G.

Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. Abses Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus.Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik.Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. (Mansjoer.Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen.Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah). sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum . Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Komplikasi Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis.Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya. 3.Kondisi merujuk ini ke rumah menyebabkan sakit. terlambat penanggulangan. Pada penderita Apendisitis perforasi. Adapun jenis komplikasi diantaranya: 1. CFR komplikasi 2-5%. dan peningkatan terlambat angka melakukan morbiditas dan mortalitas. sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa. paling sering pada anak kecil dan orang tua. serta pemberian antibiotik sistemik 2.Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Operasi Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi).Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%. menunda diagnosa. 2007) J.Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis.Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi.43 Anakanak memiliki dinding appendiks yang masih tipis. Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.

dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). demam. merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi. baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis. Peritononitis Peritonitis adalah peradangan peritoneum. Perforasi Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. 3. dan leukositosis.2. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit. usus meregang. (Mansjoer. gangguan sirkulasi. nyeri tekan seluruh perut. syok. nyeri abdomen. Perforasi.50C.Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat. muntah. 2007) KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN .Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit.Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. tampak toksik. dan oligouria. tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. panas lebih dari 38.

posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus. b. Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal. nyeri tekan/nyeri lepas. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. Sirkulasi : Takikardia. 2. panas. j. c. Respirasi : Takipnoe. atau napas dalam. penurunan atau tidak ada bising usus. Pemeriksaan Fisik a. kekakuan. Pengkajian 1. 3. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. pernapasan dangkal. nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah. Data psikologis klien nampak gelisah. Aktivitas/istirahat : Malaise. dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. . Distensi abdomen. batuk. Nyeri/kenyamanan. k. Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. i. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena h. g. Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. f. d. bersin. e. Burney. Demam lebih dari 38oC. diare kadang-kadang. l.A. kesehatan klien sekarang. meningkat karena berjalan.

Jelaskan pada pasien tingkat nyeri dan tentang penyebab nyeri merupakan 3. Untuk lokasi dan karasteristik mengetahui nyeri. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan tubuh akibat luka insisi C. Diagnosa 1. 3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada jaringan c. napas dalam dapat menghirup . Observasi tanda-tanda tingkat vital kecemasan 6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan e. Pre Operasi a. informasi yang dengan anggota tepat dapat keluarga) menurunkan 5. Kolaborasi dengan tim pasien dan medis dalam menambah pemberian analgetik pengetahuan pasien tentang nyeri. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peristaltic usus menurun dan kehilangan cairan aktif c. Berikan aktivitas selanjutnya hiburan (ngobrol 2. diharapkan nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil: . sejauh mana 2. Ajarkan tehnik untuk indiaktor secara pernafasan dini untuk dapat diafragmatik lambat / memberikan napas dalam tindakan 4. mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya jaringan bekas luka insisi b. Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi apendiks b. Pre Operasi Diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan spasme dinding apendiks NOC Setelah dilakukan asuhan keperawatan.Melaporkan bahwa nyeri berkurang NIC Rasional 1. 1.B. Intervensi 1.Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret berlebih d. Post Operasi a. mencari bantuan) . Ansietas berhubungan dengan indikasi tindakan operasi 2. Kaji tingkat nyeri.

dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan pembedahan. 2. -Melaporkan menghentikan tidur. mampu tidur/istirahat 4. HR(60100x/menit).dengan menggunakan manajemen nyeri . 6.Jadwalkan istirahat kriteria hasil: adekuat dan periode 2. menghemat energi dan meningkatkan kemampuan . penting pada prosedur diagnostik dan pembedahan. asuhan catat verbal dan non keperawatan.Jelaskan dan persiapkan diharapkan untuk tindakan prosedur kecemasab klien sebelum dilakukan berkurang dengan 3.Tanda vital dalam rentang normal TD (systole 100-120mmHg. 1.50 37.5 C) Klien tampak rileks. ansietas 4. Ansietas berhubungan dengan indikasi tindakan operasi Setelah dilakukan 1. ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. verbal pasien. sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri. diastole 7090mmHg).Anjurkan keluarga untuk menurun sampai menemani disamping tingkat teratasi klien -Tampak rileks 3. meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan kooping. 5.Evaluasi tingkat ansietas. deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. RR (16-24x/menit). O2 secara adequate sehingga otototot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. membatasi kelemahan. suhu (36.

Melaporkan nyeri 3. diastole 7090mmHg). Lakukan teknik tanda-tanda isolasi untuk infeksi Rasional 1.Tanda-tanda vital hiburan. 4. peritonitis 3. Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis. RR (1624x/menit). kemajuan penyembuhan. 2. Menghilangkan nyeri 1. Dugaan adanya infeksi 2. abses. 100-120mmHg. dan laporkan diharapkan nyeri perubahan nyeri berkurang dengan dengan tepat. rileks ambulasi .50 37. Dorong dini.Dapat tidur 4.perubaha n dan karakteristik nyeri. Kolborasi tim dokter normal dalam pemberian TD (systole analgetika. 2. 6. hasil: perubahan mental .Klien bebas dari 3.koping. Perhatikan dapat diatasi demam. dalam batas 6. Monitor tanda-tanda diharapkan infeksi vital. meningkatkan relaksasi. Post Operasi Diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya jaringan bekas luka insisi Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan tubuh akibat luka insisi NOC NIC Setelah dilakukan 1. Kaji adanya tandaasuhan tanda infeksi pada keperawatan area insisi 2.Klien tampak powler. HR(60100x/menit). karakteristik keperawatan. Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran . Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain. Berikan aktivitas . deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat. Kaji skala nyeri asuhan lokasi. Mengurangi kecemasan klien 2. Pertahankan istirahat berkurang dengan posisi semi . 4. dengan tepat 5. 4. Monitor tanda-tanda kriteria hasil: vital .5 C) Setelah dilakukan 1. dengan kriteria berkeringat. menggigil. 3. suhu (36. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ. 5.

RR . dengan kriteri hasil: . Menurunkan resiko terpajan. 2. 2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah intoleransi aktifitas dapat teratasi. enterik.Mampu melakukan aktifitas seharihari secara mandiri . Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan luka insisi / terbuka. 6. Kolaborasi tim medis dalam pemberian antibiotik Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan aktifitas Menentukan penyebab apa yang dirasakan pasien Anjurkan pasien untuk untuk meningkatkan istirahat Observasi TTV secara rutin Kolaborasi atau konsultasi dengan ti medis lain dalam pemberian makanan untuk meningkatkan kekuatan tubuh organisme infektif / kontaminasi silang. 3. 5. untuk mencegah timbulnya infeksi . Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil aerob gra negatif. 1. 5. 4.infeksi . bersihkan dengan betadine. Awasi / batasi pengunjung dan siap kebutuhan. Mengetahui apa yang dirasakan pasien Memudahkan pemberian terapi Membantu memulihkan keadaan tubuh agar bisa kembali seperti semula Mengatahui perkembangan kondisi umum pasien Kalori yang cukup menghasilkan energy yang baik .Tidak merasakan letih dan lemah 1.Menunjukkan kemampuan 4. nadi. 5.5-11ribu/ul) 5. 4. 3.Berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah.Nilai leukosit (4. 6. termasuk cuci tangan efektif.

html#. T.co. Yogyakarta : Mediaction Publishing. Diakses pada 04 Desember 2016 pada http://lpkeperawatan.id/2014/01/laporanpendahuluan-apendisitis.DAFTAR PUSTAKA Heardman. Heather dan Shigemi Kamitsur. Laporan Pendahuluan Apendisitis. 2013. Setiono. “ Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic – Noc.blogspot. 2015.WEOB2bmeaSo . Wiwing. 2015. Amin Huda & Hardhi Kusuma. Dagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC Nurarif.

LEMBAR KONSUL NO WAKTU REVISI TTD .