You are on page 1of 21

DISPLIN ILMU KESEHATAN THT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT
DESEMBER 2016

“ANGIOFIBROMA NASOFARING”

Disusun oleh :
APRILYANI
110 210 0072
Pembimbing :
dr. Amira T, Sp.THT-KL
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
DISIPLIN ILMU KESEHATAN THT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016

1

HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Aprilyani

NIM

: 1102100072

Judul

: Angiofibroma Nasofaring

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik di bagian Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim
Indonesia
Makassar,

Desember 2016

Pembimbing

dr. Amira T, Sp.THT-KL

2

........................................ 3 2................................................................. Definisi.............................................. iii BAB I PENDAHULUAN.............................................................. 6 5.................. Etiologi..... 5 4................................................................................................................................................................................................................................ 7 3 .......................................................................... Anatomi ................................................. Patogenesis...................................................................................................................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1....... 5 3......................... Gejala Klinis....................................................................... ii Daftar Isi......................................... i Halaman Pengesahan................................................................DAFTAR ISI Halaman Judul.................................

......................... 14 BAB III KESIMPULAN..................... 8 7..................... namun secara klinis bersifat seperti tumor ganas karena mempunyai kemampuan mendekstruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya..........6...................... 17 BAB I PENDAHULUAN Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak pembuluh darah di daerah nasofaring yang secara histologik jinak................ Diagnosis Banding.......................... 16 Daftar Pustaka............................................................ pipi.................................................................................................. Tumor ini dapat meluas ke daerah sinus paranasal........................................................ serta sangat mudah menimbulkan perdarahan dan susah untuk dihentikan....................................................................... Prognosis. Diagnosis........................................................ Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna..................... Histopatologi................. Setelah 4 ..... mata... Penatalaksanaan......................................................................................................... Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid...................... 12 8....................................... dan tengkorak......................... 14 10...... 12 9.........................

1. karena neoplasma ini kadang ditemukan juga pada pasien yang lebih tua.3 5 . palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif. Angiofibroma nasofaring sangat sulit untuk di palpasi.000 pada pasien THT. Diagnosis angiofibroma nasofaring ditegakkan berdasarkan anamnesis. pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak. merupakan gejala yang paling sering.2 Angiofibroma nasofaring paling sering ditemukan pada anak lak-laki prepubertas dan remaja. tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal. Angiofibroma nasofaring jarang terjadi pada usia diatas 25 tahun sehingga tumor ini disebut juga Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma.000-60. Gejala lain seperti anosmia. dan pemeriksaan radiologis. deafness. rhinolalia. sumbatan hidung dan massa di nasofaring sangat mendukung kecurigaan adanya angiofibroma nasofaring. pembengkakan wajah (1018%). nyeri kepala (25%) khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma jarang ditemukan dan diperkirakan hanya 0.1. pembengkakan palatum serta deformitas pipi juga dapat ditemukan pada penderita angiofibroma nasofaring. rahang atas. Insiden angiofirboma nasofaring diperkirakan antara 1 : 5.mengisi nasofaring. yang umumnya terdapat pada rentang usia 7 sampai 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun. Trias gejala dan tanda klinis dari tumor ini adalah epistaksis masif berulang.05% dari seluruh tumor kepala dan leher. diikuti epistaksis (45-60%) yang kebanyakan unilateral dan rekuren. pemeriksaan fisik.2 Gejala klinik yang dapat ditemukan pada juvenile angiofibroma nasofaring dapat berupa hidung tersumbat (80-90%). Istilah juvenile tidak sepenuhnya tepat. 2.

Nasofaring berhubungan dengan rongga hidung di anterior melalui koana. Sedangkan di bagian superior dan posterior. 6 . yang disebut sebagai torus tubarius. dan bagian superior dan posterior muara tuba ini ditutupi oleh kartilago. dan orofaring di bagian inferior melalui bagian terbawah dari palatum molle. nasofaring berhubungan dengan korpus vertebra. Tuba eustachius memasuki nasofaring di sebelah lateralnya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Anatomi Ruang nasofaring yang relatif kecil mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting.

Banyak terdapat foramen kranial yang membawa struktur syaraf dan pembuluh darah penting yang terletak di dekat nasofaring.4 Gambar 1. Nasofaring diliputi oleh mukosa yang terdiri atas epitel squamous kompleks atau epitel kolumner pseudokompleks. Letak Nasofaring5 7 .Fossa Rosenmuller (lateral dari resesus nasofaring) terletak di bagian superior dan posterior torus tubarius dan merupakan predileksi dari karsinoma nasofaring.

Pleksus faringeus terdiri atas serabut sensoris saraf glossofaringeus (IX). dan cabang faringeal arteri sfenopalatina. Pleksus vena terletak di bawah selaput lendir nasofaring dan berhubungan dengan pleksus pterigoid di atas dan vena jugularis interna di bawah. arteri palatina ascenden dan descenden.7.Gambar 2. yaitu arteri faringeal ascenden.8 Daerah nasofaring dipersarafi oleh pleksus faringeal di atas otot konstriktor faringeus media.8 8 .7. Sebagian besar saraf sensoris nasofaring berasal dari saraf glossofaringeus hanya daerah superior nasofaring dan anterior orifisium tuba yang mendapat persarafan sensoris dari cabang faringeal ganglion sfenopalatina yang berasal dari cabang maksila saraf trigeminus (V1). Anatomi nasofaring6 Perdarahan dan Persarafan Nasofaring Pendarahan nasofaring berasal dari cabang-cabang arteri karotis eksterna. serabut motoris saraf vagus (X) dan serabut saraf ganglion servikalis simpatikus.

karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya.4. Tumor ini tidak bermetastasis tetapi dapat tumbuh mendesak. Patogenesis Permukaan tumor dilapisi oleh mukosa yang dibawahnya terdapat anyaman pembuluh darah. salah satunya adalah teori jaringan asal. Innervasi nasofaring6 2. 1. Definisi Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak.9 4. nasopharyngeal tumor. yaitu pendapat bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap rongga hidung. Tumor pertama kali tumbuh di bawah mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atap 9 . juvenile nasopharyngeal angiofibroma (JNA). secara klinis bersifat ganas. nasal tumor. Etiologi Etiologi JNA masih belum jelas. Massa tumor terdiri dari jaringan ikat padat dan gumpalan sel serta terisi pembuluh vena lebar yang menumpuk di bagian pinggir. fossa pterigoid dan temporal atau ke ruang intrakranial. Berbagai teori banyak diajukan. nasal cavity tumor. Faktor ketidakseimbangan hormonal juga banyak dikemukakan sebagai penyebab dari tumor ini. pipi. tumor hidung (nose tumor). seperti ke sinus paranasal. sinus paranasal. mata dan tengkorak. atau angiofibroma nasofaring belia. serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan.5 Sebutan lain untuk angiofibroma di dalam literatur antara lain: juvenile angiofibroma. Pengaruh hormonal yang dikemukakan ini dapat menjelaskan mengapa beberapa JNA jarang terjadi (ber-involute) setelah masa remaja (puberty).7 3. bahwa JNA berasal dari sex steroid-stimulated hamartomatous tissue yang terletak di turbinate cartilage. dapat menginvasi orbita.7.Gambar 3.1. benign nasal tumor.

dan “rasa penuh” di wajah. akan masuk ke fossa intratemporal yang akan menimbulkan benjolan di pipi. yang akan disebut “muka kodok”. masuk ke fisura pterigomaksila dan akan mendesak dinding posterior sinus maksila. Dari sinus ethmoid masuk ke fossa serebri anterior atau dari sinus sfenoid ke sinus kavernosus dan fossa hipofise. Frog face pada penderita angiofibroma nasofaring 5. Perluasan ke mengisi hidung. Apabila tumor mendorong salah satu atau kedua bola mata maka akan tampak gejala yang khas pada wajah. mendorong septum rongga arah anterior hidung akan ke sisi kontralateral dan memipihkan konka.nasofaring. Gejala klinik 10 . Bila meluas terus.1. meluas Tumor dibawah akan tumbuh besar dan mukosa sepanjang nasofaring.10 Perluasan ke intrakranial dapat terjadi melalui fossa infratemporal dan pterigomaksila masuk ke fossa serebri media. Pada perluasan kearah lateral. tumor melebar kearah foramen sfenopalatina. mencapai septum dan meluas ke arah bawah membentuk tonjolan diatap massa tepi atap posterior rongga posterior.1 Gambar 4.

7 6. Timbul rinorea kronik diikuti gangguan penciuman. Gejala yang paling sering ditemukan (>80%) ialah hidung tersumbat yang progresif dan epistaksis yang berulang dan masif. Jika pertumbuhan tumor mencapai besar tertentu. infeksi sekunder dapat terjadi pada ruangan di belakang hidung akibat berkurangnya drainase di tempat tersebut. Suara menjadi datar atau “mati”.1. tulang maksila merenggang dan tampak eksopthalmus yang menonjol. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Perdarahan ini kadang-kadang merupakan komplikasi berat.Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. Pada keadaan ini nekrosis akibat penekanan tulang tidak terlalu besar. disfagi. Gejala-gejala dini adalah kongesti dari sumbatan hidung dengan disertai perdarahan. seperti misalnya ke rongga intrakranial. Pada stadium lanjut timbul rasa nyeri dan sekret muko purulen. 2 Gejala-gejala lain muncul tergantung dari luasnya tumor dan arah pembesarannya.7 Gejala lanjut meningkat lebih berat sesuai dengan makin besarnya tumor. Dapat pula menyebabkan deformitas pada muka. rinolalia. pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos.5. dan dapat terjadi otitis media. Sefalgia hebat terjadi bila tumor sudah meluas ke intrakranial. sampai penyerapan jaringan tulang meningkat. maka wajah seperti “muka kodok” jelas terlihat. CT scan. Sering disertai “aprosexsia” dan rasa ngantuk. proptosis dan gangguan visus. dan anosmia. Tuli atau otalgia akibat okulasi pada tuba eustachius. kecuali jika tumor meluas ke luar rongga hidung atau faring. angiografi atau MRI.2 11 . pernafasan dan proses menelan terhalang jika proses berlanjut.

arkus zigoma dan tulang disekitar nasofaring. Penampang koronal CT scan yang memperlihatkan adanya lesi angiofibroma yang mengisi cavum nasal kiri dan sinus ethmoid. Mukosanya mengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan adanya ulserasi. pada usia yang lebih tua warnanya kebiruan.Gambar 5. Pada pemeriksaan radiologik konvensional (foto kepala potongan anteroposterior.1 Karena tumor sangat mudah berdarah. Pada usia muda warnanya merah muda. Bagian tumor yang terlihat di nasofaring biasanya diliputi oleh selaput lendir berwarna keunguan. sedangkan bagian yang meluas ke luar nasofaring berwarna putih atau abu-abu. warnanya bervariasi dari abu-abu sampai merah muda. memenuhi sinus maksilaris dan menyebabkan deviasi septum nasi ke kanan Pada pemeriksaan fisik secara rinoskopi posterior akan terlihat massa tumor yang konsistensinya kenyal. sehingga fisura pterigopalatina melebar. lateral dan posisi waters) akan terlihat gambaran klasik yang disebut sebagai tanda “Holman Miller” yaitu pendorongan prosesus pterigoideus ke belakang. Akan terlihat juga adanya massa jaringan lunak di daerah nasofaring yang dapat mengerosi dinding orbita. sebagai pemeriksaan penunjang diagnosis dilakukan pemeriksaan radiologik konvensional CT scan serta pemeriksaan arteriografi. Pada pemeriksaan CT scan dengan zat kontras akan tampak secara tepat perluasan massa tumor serta destruksi tulang ke jaringan sekitarnya. karena lebih banyak komponen fibromanya.11 12 .

Gambaran nasofaring normal Gambar 7. Penampang koronal CT scan yang memperlihatkan lesi yang mengisi cavum nasi kiri Gambar 8. akan memperlihatkan vaskularisasi tumor yang biasanya berasal dari cabang a. maksila interna homolateral.Gambar 6. 13 . Holman-Miller sign Pada pemeriksaan arteriografi arteri karotis interna.

Gambaran angiogram yang memperlihatkan adanya angifibroma setelah embolisasi Untuk menentukan perluasan tumor.Stage IB :Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal. sehingga vaskularisasi berkurang dan akan mempermudah pengangkatan tumor.Kadang-kadang juga sekaligus dilakukan embolisasi agar terjadi trombosis intravaskular.1. Gambaran angiogram yang memperlihatkan adanya angifibroma sebelum embolisasi Gambar 10. sebab akan mengakibatkan perdarahan yang masif.2 Gambar 9. karena biopsi merupakan kontraindikasi. 14 . Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.3 Klasifikasi menurut Sessions sebagai berikut : .1 Pemeriksaan patologi anatomik tidak dapat dilakukan. dibuat sistem staging.Stage IA :Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring .

Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi.Stage IIB : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita. Klasifikasi menurut Fisch : .Stage IIA : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila. sinus paranasal dengan destruksi tulang. . ..   7. orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus. .Stage IIIA :Mengerosi dasar tengkorak. ditemukan jaringan fibrous yang matur yang terdiri dari berbagai ukuran pembuluh darah dengan dinding yang tipis. nasofaring tanpa destruksi tulang. . perluasan intrakranial yang minimal. 15 . Hal inilah yang menyebabkan angiofibroma nasofaring mudah berdarah. Histopatologi Pada pemeriksaan histopatologi angiofibroma nasofaring. .Stage II : Tumor menginvasi fossa pterygomaksila.Stage IIIB : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus.Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus. Pembuluh darah tersebut dibatasi endotelium tetapi pada dinding pembuluh darahnya sedikit mengandung elemen kontraktil otot yang normal.Stage III : Tumor menginvasi fossa infra temporal. . chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.

3 Perlu dicatat bahwa pengangkatan tumor seringkali sulit dilakukan karena tumor terbungkus dan menyusup ke dalam. karena resiko perdarahan yang hebat. Penatalaksanaan Tindakan operasi merupakan pilihan utama selain terapi hormonal atau radioterapi. sehingga setelah pengangkatan tumor seringkali terjadi kekambuhan. rinotomi sublabial atau kombinasi dengan kraniotomi bila sudah meluas ke intrakranial. Untuk tumor yang sudah meluas ke jaringan sekitarnya dan mendestruksi dasar tengkorak sebaiknya diberikan radioterapi prabedah yakni dengan penanaman radium dan sinar rontgen yang dilanjutkan dengan elektrokoagulasi atau dapat pula diberikan terapi hormonal meskipun hasilnya tidak sebaik radioterapi. seperti melalui transpalatal. Cara lain yang dapat digunakan yaitu embolisasi (penyumbatan arteri dengan suatu bahan) yang bisa menyebabkan terbentuknya 16 . rinotomi lateral. jadi operasi diindikasikan jika ada komplikasi akibat tumor ini seperti jika angiofibroma tumbuh membesar. menghalangi saluran udara atau menyebabkan epistaksis menahun. Berbagai pendekatan operasi dapat dilakukan sesuai dengan lokasi tumor dan perluasannya.4 Operasi tumor ini sendiri harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas cukup.Gambar 11. 3 Pada pemberian hormonal terapi menggunakan testosterone receptor blocker flutamide didapatkan penurunan staging pada staging I dan II sebesar 44%.1. Gambaran histopatologi angiofibroma nasofaring 8. namun ada buku yang menyebutkan bahwa tumor ini cenderung mengalami regresi ketika penderita tumor ini masuk ke masa pubertas.

tumor jenis ini dapat berkembang menjadi degenerasi yang ganas dan memiliki prognosis yang buruk. fibroma kecil yang tidak memenuhi rongga nasofaring lebih muda diangkat daripada yang telah memenuhi rongga tersebut sesudah umur 25 tahun pertumbuhan cenderung berkurang.1 17 .6 Pada kasus-kasus di mana pertumbuhan tumor dapat diatasi dengan pambedahan dapat dikatakan memiliki prognosis yang baik. Embolisasi efektif untuk mengatasi perdarahan hidung dan tindakan ini bisa diikuti dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. Angifibroma nasofaring yang sudah dioperasi 9. Dengan kata lain.7 Gambar 12. Biasanya ini terjadi pada pasien dengan usia yang lebih tua. Pada kasus yang lain. Embolisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan suatu zat ke dalam pembuluh darah untuk menyumbat aliran darah yang melaluinya. terutama pada pasien berusia lebih muda.jaringan parut pada tumor dan menghentikan perdarahan. Prognosis Prognosis lebih baik jika cepat diketahui dan segera di ekstirpasi juga lebih menguntungkan jika umur diatas 25 tahun.

Gejala yang paling sering muncul adalah hidung tersumbat dan sering mimisan. pendesakan struktur tulang di dekatnya. Pada angiografi polip angiomatosa mempunyai tampilan hipovaskuler atau avaskuler. Tumor primer di dalam nasofaring dapat meluas ke palatum. Polip tidak mempunyai predileksi jenis kelamin. dan merupakan tumor paling umum yang mengenai nasofaring. Secara histologi merupaka tumor jinak dan mirip dengan angiofibroma nasofaring. orofaring dan basis kranii. telinga berdenging dan tuli. Angiografi dan embolisasi tidak diperlukan pada polip. pada pasien dewasa dan perempuan. Polip dapat dieksisi dengan mudah dan jarang terjadi kekambuhan. Kemungkinan adanya polip angiomatosa harus selalu dipikirkan sebelum mempertimbangkan diagnosa angofibroma. Karsinoma nasofaring biasanya muncul dari fossa Rosenmuller dan dikenal sebagai neoplasma agresif lokal dengan tingginya kejadian metastase ke limfonodi leher. Pembesaran lesi secara perlahan dapat menyebabkan erosi tulang. sinus sphenoidalis. Pada CT scan polip tidak menyangat atau hanya menyangat minimal. otitis media. tidak meluas ke fossa pterigopalatina. pipi bengkak dan eksofthalmus. Gambaran radiologi karsinoma nasofaring adalah asimetri fossa Rosenmuller. maupun ke intra kranial. terutama di Asia Tenggara. Diagnosa Banding a. Keluhan lain dapat berupa epistaksis. 18 . Karsinoma nasofaring merupakan keganasan dengan karakteristik variasi distribusi geografis dan etnis. Karsinoma Nasofaring Karsinoma nasofaring merupakan neoplasma yang berasal dari lapisan epitel mukosa nasofaring. Gejala klinis yang paling sering dirasakan adalah adanya benjolan di leher. Polip angiomatosa Polip angiomatosa adalah polip inflamatorik hidung yang mempunyai komponen vaskuler dan fibrosa.10. rongga hidung.12 Polip angiomatosa terletak terutama di fossa nasalis dan bukan di nasofaring. hidung tersumbat.12 b.

angiografi atau MRI. 19 . ada dua teori yaitu teori asal jaringan asal dan teori ketidakseimbangan hormonal. pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos. Tumor pertama kali tumbuh di bawah mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atap nasofaring. Etiologi tumor ini masih belum jelas. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. pipi. mata dan tengkorak. seperti ke sinus paranasal. CT scan. Tumor akan tumbuh besar dan meluas dibawah mukosa sepanjang atap nasofaring. karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya. Angiofibroma nasofaring khusus menyerang jenis kelamin laki-laki prepubertas dan remaja. Gejala-gejala lain muncul tergantung dari luasnya tumor dan arah pembesarannya.13 BAB III KESIMPULAN Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak. mencapai tepi posterior septum dan meluas ke arah bawah membentuk tonjolan massa diatap rongga hidung posterior.hilangnya lapisan lemak di parapharyngeal space. serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan. Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. secara klinis bersifat ganas. destruksi tulang dan penebalan preoccipital space. Tindakan operasi merupakan pilihan utama selain terapi hormonal atau radioterapi.

editors: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.com/med/topic 2758. Anatomy and Physiology in health and illness. Edisi keenam. editors Boeis. Churchill Livingstone. Blackwell Publishing. Ellis H.htm.Eleventh edition. Dharmabaktio S. Dalam : EffendiH. Dalam: Soepardi AIN. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.usu.emedicine. Available from : http:/www. 3. June 26. ninth edition.id. diakses tanggal 20 April 2007. Clinical Anatomy. 6. Applied Anatomy For Student And Junior Doctor. 2007:188-190. Angiofibroma Nasofaring Belia. Jakarta: EGC. 4. Jakarta. Asroel HA. Waugh A. 2. Angiofibroma Nasofaring Belia. Mansfield E.1991:322-346 5. Adam G. Penyakit Nasofaring dan Orofaring. 2006 20 . Roezin A.Pada kasus-kasus di mana pertumbuhan tumor dapat diatasi dengan pambedahan dapat dikatakan memiliki prognosis yang baik. 2004. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma.ac. Santoso K. 2006. http://library. DAFTAR PUSTAKA 1. Grant A. Buku Ajar Penyakit THT.

Shih-Shun Chen (Ed. Diunduh dari http://www. Ballengger JJ.com 12. Chan S and Yu E.Penyakit Telinga.com 21 . Jakarta. 9. Jilid 1. Sahgal A. 2011.ulowawiki. Tenggorok.111 8. 2012.). Anonymous. and Molecular Targeted Treatment for Nasopharyngeal Carcinoma. Diagnosis. Jakarta. Updated Oct 16. Mansjoer A.com. Azad R. Wardhani IW. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Otorhinolaryngology Clinics: An International Journal. Angioamtous Polyp : A Condition Difficult to Diagnose. In: Carcinogenesis.7. 10.1999.brownmed. 2009. Juvenile Angifibroma Nasopharynx . Angiofibroma Nasofaring Belia. jilid 1. Triyanti K. Sharma N. 13. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. diakses tanggal 01 Desember 2016 11. Jakarta: Binarupa Aksara. InTech.intechopen. 3(2): 93-7 14. 1994.Savitri R. Chan M. Referat Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. http://www. Setiowulan W. Hidung. Bartlett E.2013 available from http:// www. Kepala Dan leher. Juvenile Angiofibroma – rads. Cagley. Jeffrey R. Verma N. Kumar N. Edisi 13. Pradhana D. Imaging of Nasopharyngeal Carcinoma.