You are on page 1of 65

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab
dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu. Dokter keluarga
adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas
dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang penderita sebagai individu
yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif
tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya (IDI 1982).1
Penerapan Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK) yang berarti penerapan
ancangan (approach) kedokteran keluarga telah menjadi kebutuhan dunia. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) bersama Organisasi Dokter Keluarga Sedunia (WONCA) pada
tahun 1994 telah menyusun rekomendasi bersama untuk implementasi SPDK di setiap
Negara. Intinya rekomendasi tersebut antaralain menganjurkan agar SPDK diterapkan di
semua Negara dan system pendidikan kedokteran pun diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan ancangan kedokteran keluarga.2 Di banyak Negara SPDK
terbukti mampu meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pasien sekaligus menghemat
biaya kesehatan.3 Di Indonesia SPDK sudah tertuang dalam SKN 2004 yang menyatakan
pelayanan kesehatan primer diserahkan kepada sektor swasta dengan pendekatan
kedokteran keluarga. Demikian pula dengan keluaran pendidikan dokter yang sekarang
telah menggunakan kurukulum berbasis kompetensi, yang diberlakukan sejak tahun 2005,
adalah “dokter layanan primer yang mampu menerapkan pendekatan kedokteran
keluarga”. Berdasarkan itu pula IDI memfasilitasi pengembangan dan penerapan SPDK
yang antara lain didukung oleh proyek Health Workforce and Services (HWS) tahun
2004-2008. Meskipun banyak kendala yang harus diatasi secara hati-hati.4 .
Menurut Gordon dan Le Richt, konsep dasar terjadinya penyakit itu terdiri dari
host/pejamu,agen dan lingkungan. Lingkungan keluarga mempunyai peran yang cukup
besar dalam terjadinya suatu penyakit. Maka dari itu di perlukan adanya dokter yang
terlatih dan sanggup memberikan pelayanan di berbagai bidang ilmu kedokteran, dengan
penekanan utama pada kepada keluarga sebagai unit. Dokter tersebut merupakan
1

pertahanan pertama dalam menghadapi penyakit masyarakat ,memberikan

pelayanan

kesehatan pribadi,dan mengevaluasi kebutuhan penderitanya akan pelayanan kesehatan
secara menyeluruh, bila perlu ia akan merujukkan penderita ke ahli yang sesuai,sambil
menjaga kesinambungan perawatan yang dilakukan, bertanggung jawab terhadap
perawatan kesehatan penderita secara komprehensif dan berkelanjutan,dan bertindak
sebagai koordinator antara berbagai pusat-pusat pelayanan kesehatan yang diperlukan
penderita,

bertanggung

jawab

atas

perawatan

kesehatan

penderitanya

secara

menyeluruh,termasuk penggunaan konsultan,dalam konteks masyarakat dan keluarga.5
Penyakit tidak menular (PTM) sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat
secara global, regional,nasional dan lokal. Global status report on NCD World Health
Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua
umur di dunia adalah karena PTM. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan
menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60
tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13%
kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari 70
tahun. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada
tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak
Menular.6
Direktorat Jendral P2PL mengelompokkan prioritas PTM pada tahun 2009 dan
2010 al; Hipertensi, Jantung dan Diabetes. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007
menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini
terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan
prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2% penduduk yang
sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat
hipertensi. Menurut Khancit, pada 2011 WHO mencatat ada satu miliar orang yang
terkena hipertensi. Di Indonesia, angka penderita hipertensi mencapai 32 persen pada
2008 dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7 persen,
sedangkan 39,2 persen adalah wanita. Pada tahun 2005, secara global diestimasikan 17,5
juta penduduk meninggal karena Penyakit Jantung Pembuluh Darah (PJPD),dan 7,6 juta
disebabkan serangan jantung.6
Pengertian hipertensi menurut kesepakatan WHO adalah keadaan seseorang
apabila mempunyai tekanan sistolik sama dengan atau lebih tinggi dari 160 mmHg dan
tekanan diastolik sama dengan atau lebih tinggi dari 80 mmHg secara konsisten dalam
beberapa waktu.7 Angka Kejadian hipertensi pada masyarakat di atas usia 26 tahun adalah
2

26,4% dan penderita hipertensi lebih banyak pada kelompok umur 45 – 60 tahun yaitu
30,8%.8
Wacana tentang Pelayanan Dokter Berbasis Dokter Keluarga di Indonesia
bukanlah barang baru.Wacana ini semakin bergulir sejak WHO dan WONCA
mengintroduksi “Kerangka Perkembangan Dokter Keluarga/Dokter Umum” (hasil dari
konferensi di Ontario, Kanada tahun 1994).
Pendekatan kedokteran keluarga yang dilakukan oleh mahasiswa dilatarbelakangi
oleh hal tersebut, sehingga dapat berlatih menjadi dokter keluarga, dan memahami bahwa
keluarga berperan penting dalam mewujudkan kesehatan yang optimal.
1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan dan menerapkan konsep kedokteran keluarga pada seorang
pasien yang menderita penyakit hipertensi.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan keluarga, termasuk masalah lingkungan
dan sosial ekonomi keluarga
b. Usaha untuk meningkatkan kesehatan keluarga melalui edukasi masalah
kesehatan keluarga, diskusi alternatif penyelesaian masalah kesehatan
keluarga, melakukan intervensi, memberi materi penyuluhan.
c. Melakukan penilaian atau evaluasi hasil intervensi terhadap keluarga.
1.3 Manfaat
1.3.1. Manfaat bagi mahasiswa
a. Dapat mengaplikasikan dan menerapkan konsep kedokteran keluarga pada
pasien kedokteran keluarga.
b. Dapat menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga dalam praktik
kedokteran keluarga.
c. Melatih diri untuk berinteraksi secara sosial kepada paien dan keluarganya.

1.3.2. Manfaat bagi pasien dan keluarga
3

BAB II 4 . kuratif dan rehabilitative.a. Keluarga pasien dan pasien dapat memberikan edukasi kepada keluarga lain tentang informasi penyakit yang diderita oleh pasien. Mengetahui informasi mengenai penyakit yang dideritanya serta mengetahui cara mengatasi dengan baik melalui pendekatan preventif. b.

dan tingkatan social. 1991).1. dan apabila kebetulan berhadapan dengan suatu masalah kesehatan khusus yang tidak mampu ditanggulangi. Dikatakan pula bahwa dokter keluarga adalah dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut. dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar belakang budaya. 3) Dokter keluarga adalah dokter yang memiliki tanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatah tingkat pertama serta pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh semua anggota yang terdapat dalam satu keluarga. ataupun jenis penyakit. 2) Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga.1. Secara klinis. Tanpa membedakan ras.TINJAUAN PUSTAKA 2. budaya. meminta bantuan konsultasi dari dokter ahli yang sesuai (The American Board of Family Practice. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia. 4) Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai kontak pertama yang merupakan pintu masuk ke system pelayanan kesehatan. Dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan bersinambung bagi pasiennya (WONCA. tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya (Ikatan Dokter Indonesia. menilai kebutuhan kesehatan total pasien dan menyelenggarakan pelayanan kedokteran perseorangan dalam satu atau beberapa cabang ilmu kedokteran serta merujuk pasien ke tempat pelayanan lain yang tersedia. dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila di perlukan. 1969). gender. tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif.1. dan psikologis pasien. sosioekonomi. sementara tetap menjaga kesinambungan pelayanan. Kedokteran Keluarga 2. Batasan dan Ruang Lingkup9 1) Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran. 1982). mengembangkan tanggung jawab untuk pelayanan kesehatan menyeluruh dan 5 .

Karakteristik Dokter Keluarga10 a) Lynn P.3. yakni keluarga atau unit social yang sebanding serta masyarakat )The American Academic of General Practice. holistik. menimbang peran keluarga dan lingkungannya serta pekerjaannya.2. kontinu. Carmichael (1973)  Mencegah penyakit dan memelihara kesehatan  Pasien sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat  Pelayanan menyeluruh. usia serta faktor-faktor lainnya.berkesinambungan. Hymovic & Martha Underwood Barnards (1973)  Pelayanan responsif dan bertanggung jawab  Pelayanan primer dan lanjut  Diagnosis dini. Pengertian dan Ruang Lingkup Pelayanan Dokter Keluarga10 Pelayanan dokter keluarga melibatkan Dokter Keluarga sebagai penyaring di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai tempat pelayanan rawat inap.1. 2. menerima tanggung jawab untuk perawatan total pasien termasuk konsultasi sesuai dengan keadaan lingkungan pasien. mempertimbangkan pasien dan keluarganya  Andal mendiagnosis. capai taraf kesehatan tinggi  Memandang pasien dan keluarga  Melayani secara maksimal c) IDI (1982)  Memandang pasien sebagai individu. serta bertindak sebagai kordinator pelayanan kesehatan. dan mewaspadai kemiripan penyakit b) Debra P.1. koordinatif dengan mengutamakan pencegahan. diselenggarakan secara komprehensif. 1974) 2. tingkatan taraf kesehatan  Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya 6 . tanggap epidemiologi dan terampil menangani penyakit  Tanggap saling-aruh faktor biologik-emosi-sosial. bagian dari keluarga dan masyarakat  Pelayanan menyeluruh dan maksimal  Mengutamakan pencegahan. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memilah jenis kelamin. integratif.

Mempertimbangkan keluarga. Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga10 a) Skala kecil:  Mewujudkan keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga  Mewujudkan keluarga sehat sejahtera b) Skala besar:  Pemerataan pelayanan yang manusiawi. efisien. Prinsip Pelayanan Kedokteran Keluarga4 1. Menyelenggarakan pelayanan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan 2.1. Menyelenggarakan pelayanan yang bersifat kordinatif dan kolaboratif 5. Menyelenggarakan pelayanan personal (individual) sebagai bagian integral dari keluarganya 6. moral dan hokum 8.5. Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas kelanjutannya 2. Sekalipun organisasi ini sejak tahun 1988 telah menjadi anggota IDI. tapi pelayanan dokter keluarga di Indonesia belum secara resmi mendapat pengakuan baik dari profesi kedokteran ataupun dari pemerintah. dan lingkungan 7. bermutu. lingkungan kerja. Untuk lebih meningkatkan program kerja. dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia 2. Menjunjung tinggi etika.6. Dokter Keluarga di Indonesia10 Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1981 yakni dengan didirikannya Kelompok Studi Dokter Keluarga. efektif. nama organisasi dirubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI). Menyelenggarakan pelayanan komprehensif pendekatan holistic 2. Menyelenggarakan pelayanan yang bersinambung (kontinu) 3. Menyelenggarakan pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu 9. Pada Tahun 1990 melalui kongres yang kedua di Bogor. terutama pada tingkat internasional. Menyelenggarakan Pelayanan yang mengutamakan pencegahan 4.4. maka pada tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional dokter keluarga yang dikenal dengan 7 .1.1.

diagnosis kerja berdasarkan gejala dan tanda (3) Aspek risiko internal : seperti pengaruh genetik. usia. Diagnostik holistik melihat individu sebagai bagian dari komunitasnya (keluarga. psikis dan jiwa (body. tempat kerja.1. kepribadian. negara). tetangga. berdasarkan disabiltas dari pasien. Indonesia adalah anggota dari WONCA yang diwakili oleh Kolese Untuk Indonesia.7 Diagnosis holistik Merupakan salah satu standar dalam praktik pelayanan kedokteran keluarga. sertakan derajat keparahan 8 . Dalam diagnostik holistik perlu dipahami bahwa pasien merupakan seorang makhluk yang utuh yang terdiri dari fisik.nama World of National College and Academic Association of General Practitioners / Family Physicians (WONCA). nutrisi. manfaat pelayanan kedokteran keluarga tidak hanya untuk mengendalikan biaya dan atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. mind and spirit). gaya hidup. budaya. akan tetapi juga dalam rangka turut mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah pokok pelayanan kesehatan lain yakni:  Pendayagunaan dokter pasca PTT  Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat  Menghadapi era globalisasi 2. kekhawatiran dan persepsi pasien (2) Aspek Klinis : Masalah medis. Lima Aspek Dalam Diagnosis Holistik (1) Aspek Personal : alasan kedatangan. psikologis. harapan. budaya) (5) Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien. Aspek Personal Keluhan utama (reason of encounter) /simptom/ sindrom klinis yang  ditampilkan  Apa yang diharapkan pasien atau keluarganya  Apa yang dikhawatirkan pasien atau keluarganya Aspek Klinis  Diagnosis klinis biologis. intelektual. gender (4) Aspek risiko eksternal dan psikososial : berasal dari lingkungan (keluarga. tempat kerja. Penilaian dengan skor 1 – 5.

tak ada pengarahan pengembangan karier. dan ICPC-2 Aspek Risiko Internal  Perilaku individu dan gaya hidup (life style) pasien. atau beratnya penyakit  kebiasaan merokok  kebiasaan jajan. tinggi lemak. kebiasaan makan  kebiasaan individu mengisi waktu dengan perihal yang negatif  (dietary habits. menantu. anak. Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan diagnosis kerja/ diagnosis banding  Diagnosis berdasarkan ICD 10. asap rokok)  Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi penyakit/masalah kesehatan yang ada 9 . menu keluarga yang tak sesuai kebutuhan  Perilaku tidak menabung / perilaku konsumtif  Tidak adanya perencanaan keluarga (tak ada pendidikan anak. tak ada pembatasan jumlah anak )  Masalah perilaku keluarga yang tidak sehat  Masalah ekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap penyakit/masalah kesehatan yang ada  Akses pada pelayanan kesehatan yang mempengaruhi penyakit (jarak/transportasi/asuransi)  Pemicu dari lingkungan fisik (debu. cucu atau pelaku rawat lainnya  Perilaku makan keluarga (tak masak sendiri). tinggi kalori) Aspek Risiko Eksternal dan Psikososial  Pemicu biopsikososial keluarga dan lingkungan dalam kehidupan pasien hingga mengalami penyakit seperti yang ditemukan  Dukungan keluarga (family support)  Tidak ada bantuan/perhatian/ perawatan/ suami & istri. kebiasaan yang menunjang terjadinya penyakit.

Derajat Fungsional 10 .

2.1. Hipertensi 2. Definisi 11 . Derajat Fungsional Diagnostik Holistik 2.Tabel 1.2.

diet makanan. Klasifikasi Hipertensi menurut JNC VIII 12 . Klasifikasi Hipertensi Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention. yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder.2. penyakit hormonal. genetis.obesitas.14 Sedangkan hipertensi sekunder dapat timbul akibat kelainan fungsi ginjal. klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal. Tetapi umumnya disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah yang sama atau lebih besar dari 140/90 mmHg adalah khas untuk hipertensi. Hipertensi primer merupakan penyakit hipertensi yang sebabnya tidak diketahui.14 2.Merupakan suatu keadaan di mana tekanan arteri tinggi. and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII). Evaluation. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Sistolik (mmHg) < 120 120-139 140-159 ≥ 160 Diastolik (mmHg) < 80 80-89 90-99 ≥ 100 Normal Prehipertensi Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada berbagai individu. prehipertensi.13 Penyakit hipertensi dapat dibagi menjadi dua jenis. hipertensi derajat I dan derajat II Tabel 2. 12 Pada beberapa pasien hipertensi primer terdapat kecenderungan herediter yang kuat. dan asupan garam. merokok.7 Tabel 3. dan pemakaian obat-obatan. seperti stres. Hipertensi primer dapat timbul akibat interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu. Detection. berbagai kriteria sebagai batasannya telah diajukan berkisar dari tekanan sistolik 140 – 200 mmHg dan tekanan diastolik 90-110 mmHg.2.11 Hipertensi primer atau hipertensi essensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.

2.12 5) Asupan garam Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan sekresi hormon natriuretik. Faktor Resiko Hipertensi Faktor risiko yang relevan terhadap mekanisme terjadinya hipertensi adalah : 1) Genetik Hipertensi primer bersifat diturunkan atau bersifat genetik.3. Garam dapur merupakan faktor yang sangat dalam patogenesis hipertensi. Hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah.16 3) Usia Insidensi hipertensi primer meningkat seiring dengan pertambahan usia. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. 2) Jenis kelamin Hipertensi primer lebih jarang ditemukan pada perempuan pra menopause dibanding pria karena pengaruh hormon.Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Usia ≥ 60 tahun Usia < 60 tahun Usia < 60 tahun Usia ≥ 18 tahun dengan Sistolik (mmHg) ≥ 150 ≥ 140 ≥ 140 Diastolik (mmHg) ≥ 90 ≥ 90 ≥ 90 diabetes Usia ≥ 18 tahun dengan ≥ 140 ≥ 90 ginjal kronis 2. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi primer daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Hipertensi 13 . 50-60 % pasien dengan umur lebih dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg 4) Obesitas Obesitas dapat meningkatkan kejadian hipertensi primer. Hormon tersebut menghambat aktivitas sel pompa natrium dan mempunyai efek penekanan pada sistem pengeluaran natrium sehingga terjadi peningkatan volume plasma yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah.

karbon monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai melalui peningkatan volume plasma. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan.17 6) Hiperaktivitas simpatis Pada hipertensi primer. Patofisiologi Hipertensi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor. pada medula di otak.2. otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan member sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (Adrenalin).19 8) Stress Stress juga sangat erat merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu).hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam 14 . sekresi katekolamin yang meningkat akan memacu produksi renin menyebabkan konstriksi arteriol dan vena serta meningkatkan curah jantung. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%.4. Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Hal ini akan mengakibatkan tekanan darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam organ dan jaringan tubuh. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. curah jantung dan tekanan darah. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan hipertensi yang rendah jika asupan garam antara 5-15 gram perhari.20 2.18 7) Merokok Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat diubah.Selain itu. adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan peningkatan tekanan darah karena nikotin akan diserap pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis.

kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. gangguan penglihatan. dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup). Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer. Dada berdebar-debar 15 . sakit kepala. Selain itu adanya gejala pada orang tersebut juga dikarenakan sikap acuh tak acuh penderita. menyebabkan pelepasan renin. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Gejala Klinis Hipertensi Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka meninggi. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya. hilangnya elastisitas jaringan ikat.bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Sakit kepala bagian belakang dan kaku kuduk b. gangguan fungsi ginjal.2.5.23 Sedangkan gejala hipertensi menurut buku lain sebagai berikut24 : a. Sulit tidur dan gelisah atau cemas dan kepala pusing c. Konsekuensinya. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. suatu vasokonstriktor kuat.21 Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi. dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Gejala baru timbul sesudah terjadi komplikasi pada sasaran organ seperti ginjal. gangguan kesadaran bahkan sampai koma. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin.gangguan serebral atau gejala akibat peredaran pembuluh darah otak berupa kelumpuhan. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal.22 Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Pada titik ini. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah.21 2. mata.

mengurangi kelebihan berat badan. Perawatan Penderita Hipertensi di Rumah Perawatan penderita hipertensi pada umumnya dilakukan oleh keluarga dengan memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang menderita hipertensi. dan pusing 2. yang terakhir pilih tangga dibandingkan lift atau eskalator.6. satu hari dalam satu minggu. Lemas. olahraga.d.2. mulailah berlari setiap hari dimana melakukan latihan ringan pada awalnya dan tingkatkan secara perlahan-lahan. lakukan aktivitas baru misalnya bergabung dengan klub tenis atau bulu tangkis atau belajar dansa. modifikasi diet. Bahwa ada delapan cara untuk meningkatkan aktivitas fisik yaitu: dengan menyempatkan berjalan kaki misalnya mengantar anak kesekolah.25 Dengan berhenti merokok tekanan darah akan turun secara perlahan . pada sat istirahat makan siang tinggalkan meja kerja anda dan mulailah berjalan. menghindari alkohol. pergilah bermain ice-skating.26 Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien hipertensi.27 Bantuan dari Kelompok Pendukung Sertakan keluarga dan teman menjadi kelompok pendukung pola hidup sehat.19 Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30-45 menit per hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah .28 Sehingga keluarga dan teman-teman mengerti sepenuhnya tentang besarnya resiko jika tekanan darah kita tidak terkendali. tujuan utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan mengurangi penyakit kardiovaskuler. disamping itu jika masih merokok maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secar optimal dan dengan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat. sesak nafas. Adapun cakupan pola hidup antara lain berhenti merokok. Dengan demikian keluarga dan teman akan membantu dengan memperhatikan makanan kita atau mengingatkan saat tiba waktunya untuk minum obat atau untuk melakukan aktivitas berjalan-jalan setiap hari dan 16 . ada empat macam diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekanan darah . Secara garis besar. gunakan sepeda untuk pergi kerja selama 2 sampai 3 hari dalam satu minggu. Dan yang mencakup psikis antara lain mengurangi sres. lemak terbatas serta tinggi serat. yakni : diet rendah garam . dan istirahat. Pengaturan pola hidup sehat sangat penting pada klien hipertensi guna untuk mengurangai efek buruk dari pada hipertensi. roller-blade atau bersepeda bersama keluarga atau teman. berkeringat. sisihkan 30 menit sebelum erangkat bekerja untuk berenang di kolam renang terdekat. dan rendah kalori bila kelebihan berat badan. diet rendah kolestrol.

Perbandingan Patofisiologi Peningkatan Tekanan darah pada masing-masing pasien 30 Tabel 4. sedangkan untuk pasien diabetes atau dengan penyakit ginjal kronik (Chronic Kidney Disease.30 Pertimbangan Patofisiologis 30 Terdapat tiga system yang sangat berperan salam homeostasis tekanan darah.mungkin saja mereka bahkan akan menemani kita. target tekanan darah yang harus dicapai adalah 140/90 mmHg. Hal yang perlu di ingat dalam penatalaksanaan hipertensi adalah bahwa patofisiologi peningkatan tekanan darah pada tiap pasien berbeda-beda. et al (2008) menunjukkan dukungan kelompok terbukti berhasil dalam mengubah gaya hidup untuk mencegah hipertensi 2. dan keseimbangan natrium-cairan tubuh (ADH/aldosterone). Gambar 1. ketiga system tersebut adalah: Sistem saraf simpatis. system RAAS (Renin-AngiotensinAldosterone System). menurunkan kejadian kardiovaskular. serebrovaskular.2. 29 Penelitian yang ditulis dalam Dalimartha. ESC/ESH).7 Terapi Hipertensi Tujuan terapi hipertensi adalah mencegah komplikasi. Pilihan Jenis Obat Antihipertensi berdasarkan ada tidaknya penyakit komorbid 30 17 . Secara umum. CKD). dengan kata lain menurunkan efek tekanan darah tinggi terhadap kerusakan end-organ. target tekanan darah adalah 130/80 mmHg (JNC 7. dan renovaskular.

Terapi Antihipertensi Sesuai dengan Kerusakan Organ Target 30 18 . Rekomendasi Terapi Kombinasi 30 Tabel 5.Gambar 2.

Bagan 1. Algoritma Manajemen Hipertensi 2014 (JNC-8) 30 19 .

Obat-obatan Anti Hipertensi 32 20 .

1.5.5 mg (2x sehari)  Ramipril 5 mg/tablet (2x sehari) Kelebihan : Obat ini efektif pada penderita hipertensi yang lebih muda dan hipertensi dengan gagal jantung Kelemahan : bentuk kering. hiponatremia. angioedema. Golongan Diuretik  Thiazid (obat : hidroklortiazid 12. rash leukopenia. pengecapan kebas (disgusia). hyperkalemia 21 . 10 mg (2x sehari)  Perindopril 4 mg (2x sehari)  Sliazapril 2.5 mg)  Boros Kalium / Loop Diuretik / Diuretik kuat (obat : Furosemid 40 mg)  Hemat kalium (obat : spironolakton 25. 25 mg (2x sehari)  Lisinopril 5 . Golongan ACE Inhibitor (Angiotensin Converting enzyme)  Kaptopril 12. hiperurisemia dan kelemahan otot Gambar 3. Mekanisme Kerja Obat Diuretika pada Nefron Ginjal 8 2. 100 mg) Kelebihan : obat-obat ini menjadi pilihan utama untuk terapi anti hipertensi (terutama penderita usia lanjut) Kelemahan : obat ini dapat menyebabkan hypokalemia.

Mekanisme Obat yang Bekerja Pada Jantung 32 22 . 3. pusing dan mual 4. lemas. 1x sehari) Kelebihan : obat ini efektif untuk hipertensi. 80 mg (cardiover. 1x sehari)  Diltiazem 60 mg ( herbesser. pusing. Nifedipin menyebabkan meningkatnya infark jantung dalam dosis tinggi. 2-3x sehari)  Nifedipin 5. 2x sehari)  Amlodipin 5. Gambar 4. rasa panas di muka (flushing) dan edema perifer. 10 mg (Adalat. dapat dikombinasi (hati-hati) dengan beta bloker dan tidak ada efek samping metabolik pada lipid.Mekanisme kerja : menghambat Angiotensin Converting Enzyme. karbohidrat dan asam urat. sakit kepala. 10 mg (Amloten. Golongan Antagonis Kalsium (Calcium Channel Blocker<CCB>)  Verapamil 40. Kelemahan : obat ini menyebabkan konstipasi. Golongan ARB II (Angiotensin Reseptor Blocker II)  Losartan 50 mg (1x sehari)  Valsartan 80 mg (1x sehari)  Candesartan 8 mg (1x sehari)  Telmisartan 40 mg (1x sehari) Kelebihan : obat ini efektif untuk menurunkan tensi dan efek aditifnya ringan dari pada ACE Inhibitor Kelemahan : obat ini menyebabkan sakit kepala.

Golongan Agonis α2 23 . hati-hati penggunaan pada pasien diabetes mellitus dan pasien usia lanjut Mekanisme Kerja : Menghambat reseptor β1 pada jantung 6. ½-1 tablet) Kelebihan : efektif digunakan untuk penderita hipertensi usia muda yang disertai takikardia Kelemahan :obat ini tidak dianjurkan pada pasien asma bronkial.5. Golongan Beta Bloker  Propanolol 10 mg (2x sehari)  Atenolol 50 mg (2x sehari)  Bisoprolol 5 mg (1-2x sehari.

14 2. Pada hipertensi ringan dan sedang komplikasi yang sering terjadi adalah pada mata.3. Namun dalam beberapa kasus. doxazosin. sakit kepala dan pusing.2. kekhawatiran. Banyak pengertian/definisi yang dirumuskan oleh para ahli dalam merumuskan pengertian tentang kecemasan. Kecemasan berbeda dengan phobia (fobia). susah tidur.8 Komplikasi Pada umumnya komplikasi terjadi pada hipertensi berat yaitu jika tekanan darah (TD) diastolik ≥ 130 mmHg atau kenaikan tekanan darah (TD) yang terjadi mendadak dan tinggi. sedasi. gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan.1. pada otak sering terjadi pendarahan yang disebabkan pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibatkan kematian. ½ tablet) Kelebihan : obat hipertensi ini bekerja sentral dimana aman digunakan untuk pasien asma.33 24 . Mekanisme kerja : Agonis Reseptor α2 pada ujung saraf 7. Kelainan lain yang terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara. Kecemasan dapat menyerang siapa saja. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering dijumpai pada hipertensi berat disamping kelainan koroner dan miokard. Klonididn 0. Kecemasan 2. Penghambat reseptor α1 (pembuluh darah) : Prazosin. dan depresi. Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi. Pengertian dan Faktor Penyebabnya Kecemasan (Anxiety) merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan. digunakan untuk ibu hamil 8. 2. dan otak. setiap saat. dengan atau tanpa alasan apapun.15 mg (2x sehari. rasa tidak aman. jantung. karena tidak spesifik untuk situasi tertentu. yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan seseorang ketakutan yang tidak rasional terhadap sesuatu hal. gagal jantung serta dapat dikombinasi dengan golongan diuretik. Golongan senyawa penghambat enzim pembentuk NE metildopa. ginjal. Pada mata berupa pendarahan retina. Kelemahan : obat ini menyebabkan mulut kering. antara lain :  Kecemasan adalah suatu ketegangan.3.

rasa tidak aman dan ketakutan yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang mengecewakan tetapi sumbernya sebagian besar tidak disadari oleh yang bersangkutan. seperti kegelisahan. Kecemasan Moral (Anxiety of moral conscience/super ego) Yaitu rasa takut akan suara hati. karena itu disepanjang perjalanan hidup manusia. Kecemasan adalah reaksi individu terhadap hal yang akan dihadapi. yaitu : 37 a Kecemasan Neurotik (Neurotic Anxiety) Yaitu kecemasan yang berhubungan erat dengan mekanisme pembelaan diri. Kecemasan merupakan suatu perasaan yang menyakitkan.2. Faktor Penyebab Timbulnya Kecemasan Penyebab terjadinya kecemasan sukar untuk diperkiraan dengan tepat. Takut dan kecemasan di hasilkan dari harapan diri yang negatif karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat mengatasi dari situasi yang secara potensial mengancam bagi mereka. maka akan mendorong orang untuk melakukan suatu usaha untuk mengurangi kecemasan itu atau mencegah impuls-impuls yang berbahaya.34  Kecemasan atau anxietas adalah efek atau perasaan yang tidak menyenangkan berupa ketegangan. dan juga disebabkan oleh perasaan bersalah atau berdosa. rasa cemas sering kali ada. dan sebagainya. di masa lampau pribadi pernah melanggar norma moral dan bisa di hukum lagi. Hal ini disebabkan oleh adanya sifat subyekif dari kecemasan. yang berhubungan dengan aspek subyektif emosi. misalnya takut untuk melakukan perbuatan yang c melanggar ajaran agama. serta ketegangan-ketegangan batin.35 Apabila kecemasan timbul.36 2. Sedangkan berdasarkan sumber timbulnya. kebingungan. Kecemasan Realistik (Realistic Anxiety) 25 . frustasi. Kesalahan mental ini karena kesalahan menginterpetasikan suatu situasi yang bagi individu merupakan sesuatu yang mengancam.3. konflik-konflik emosional b yang serius. yaitu : Bahwa kejadian yang sama belum tentu dirasakan sama pula oleh setiap orang. Kecemasan merupakan gejala yang biasa pada saat ini. Teori kognitif menyatakan bahwa reaksi kecemasan timbul karena kesalahan mental. kecemasan dapat dibagi menjadi 3 macam. Dengan kata lain suatu rangsangan atau kejadian dengan kualitas dan kuantitas yang sama dapat diinterprestasikan secara berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. mulai lahir sampai menjelang kematian.

2. tekanan darah meningkat. dimana individu merasa bahwa dirinya tidak mampu mengatasi apa yang terjadi atau apa yang dapat dilakukan untuk menolong diri sendiri. atau cenderung menaksir secara berlebihan suatu peristiwa yang membahayakan. Fisiologi Kecemasan Reaksi takut dapat terjadi melalui perangsangan hipotalamus dan nuclei amigdaloid. Sistem saraf otonom yang mengendalikan berbagai otot dan kelenjar tubuh. Kecemasan juga dapat di sebabkan karena penilaian diri yang salah. namun jika tidak dihadapi secara tepat maka akan menimbulkan gangguan psikologis yang lebih jauh. Dan krisis adalah suatu keadaan yang mendadak yang menimpa individu dan dapat menimbulkan kecemasan yang hebat.33 Secara sederhana kecemasan dapat disebabkan karena individu mempunyai rasa takut yang tidak realistis. darah di alirkan ke seluruh tubuh sehingga menjadi tegang dan selanjunya mengakibatkan tidak bisa tidur. Faktor. terdapat banyak bukti bahwa nuclei amigdaloid bekerja menekan memori. proses pencernaan dan yang berhubungan dengan usus berhenti. Konfliknya terjadi bilamana individu tidak dapat memilih antara dua atau lebih kebutuhan atau tujuannya. Tekanan meskipun kecil tetapi bila bertumpuk-tumpuk dapat menjadi stress. sistem saraf otonom menyebabkan tubuh bereaksi secara mendalam. biji mata membesar. jantung berdetak lebih keras.3. karena mereka keliru dalam menilai suatu bahaya yang dihubungkan dengan situasi tertentu. Pada saat pikiran dijangkiti rasa takut. Secara umum. misalnya takut pada ular berbisa.3. kelenjar adrenal melepas adrenalin ke dalam darah.38 2.4. Frustasi akan timbul bila adanya hambatan atau halangan antara individu dengan tujuan dan maksudnya.memori yang memutuskan rasa takut masuknya sensorik aferent yang memicu respon takut terkondisi berjalan langsung dengan peningkatan aliran darah bilateral ke berbagai bagian ujung anterior kedua sisi lobus temporalis. Sebaliknya amigdala dirusak. reaksi takut beserta manisfestasi otonom dan endokrinnya tidak terjadi pada keadaan. nadi dan nafas bergerak meningkat. kecemasan merupakan suatu keadaan yang normal pada setiap individu.faktor yang mempengaruhi respon kecemasan 26 . Akhirnya. pembuluh darah mengerut.3.Yaitu rasa takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar.keadaan normalnya menimbulkan reaksi dan manisfestasi tersebut.

Ansietas merupakan konflik emosional antara id dan super ego yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi.39 3) Teori perilaku Kecemasan merupakan hasil frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku menganggap ansietas merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit.40 4) Teori keluarga Intensitas cemas yang dialami oleh individu kemungkinan memiliki dasar genetik. Pengalaman ansietas seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal. 2) Teori interpersonal Kecemasan terjadi dari ketakutan akan pola penolakan interpersonal. Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi : 27 . dan super ego.Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif. 2. ego. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa perkembangan atau pertumbuhan seperti kehilangan. sedangkan ego digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan super ego. 5) Kajian biologis Kajian biologi menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus benzodiazepines. Faktor predisposisi Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab kecemasan adalah : 1) Teori psikoanalitik Struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu id. super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang bisa ditemui dalam suatu keluarga. Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada kehidupan masa dewasanya. Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA) dan endorfin juga memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan. perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya.1.norma budaya seseorang. Faktor presipitasi Kecemasan adalah keadaan yang tidak dapat dielakkan pada kehidupan manusia dalam memelihara keseimbangan. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Orang tua yang memiliki gangguan cemas tampaknya memiliki resiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan cemas. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan berat.

trauma fisik.39 2) Faktor internal : Kemampuan individu dalam merespon terhadap penyebab kecemasan ditemukan oleh : 39 a Potensi stressor Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa b mengadakan adaptasi. mudah tersinggung. di samping itu orang yang mengalami kelelahan fisik mudah mengalami e kecemasan. Sedang orang dengan tipe kepribadian B mempunyai ciri. meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap terhadap kebutuhan dasar (penyakit. operasi akan mudah mengalami kelelahan fisik sehingga lebih mudah mengalami kecemasan. ambisius. Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap identitas diri. ingin serba sempurna.ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A.ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar. dan rutinitas.41 28 . harga diri. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir. karena individu yang matur mempunyai daya c adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan. teliti. Tipe kepribadian Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. dan hubungan interpersonal. otototot mudah tegang. jenis pembedahan b yang akan dilakukan). Karena tipe keribadian B adalah orang f yang penyabar. kompetitif. kehilangan serta perubahan status atau peran.1) Faktor eksternal a Ancaman integritas fisik. merasa diburu waktu.41 Pendidikan dan status ekonomi Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.40 Maturitas Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat kecemasan. mudah gelisah. Adapun ciri.39 Keadaan fisik Seseorang yang akan mengalami gangguan fisik seperti cidera. semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional dan menangkap informasi baru d termasuk dalam menguraikan masalah yang baru. tidak dapat tenang.39 Lingkungan dan situasi Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di lingkungan yang biasa dia tempati.

3. Freud menjelaskan bila terjadi kecemasan maka posisi ego sebagai pengembang id dan super ego berada pada kondisi bahaya. Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria. karena individu telah berada pada fase kelelahan. Frued melihat ada jenis kecemasan lain akibat konflik emosi diantara 2 elemen kepribadian yaitu id dan super ego. tetapi h ada juga yang berpendapat sebaliknya. semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh sehingga jika terjadi stressor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan. tergantung mekanisme koping seseorang.42 2. Jumlah stressor yang bersamaan Pada waktu yang sama terdapat sejumlah stressor yang harus dihadapi bersama. 2. individu sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi stressor tersebut. Lama stressor Memanjangnya stressor dapat menyebabkan menurunnya kemampuan individu mengatasi stres.tiba atau berangsur.g Umur Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua.angsur dan dapat mempengaruhi seseorang dalam menanggapi kecemasan. Sedangkan kemampuan individu dalam merespon kecemasan dipengaruhi oleh beberapa factor. 3. Pengalaman masa lalu Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena karena 29 . 2. Semakin banyak stressor yang dialami seseorang.tiba dan trauma pada saat kelahiran. Penyebab kecemasan primer adalah ketegangan atau dorongan yang diakibatkan oleh faktor internal. Terdapat 2 tipe kecemasan yaitu :39 1. kemudian berlanjut dengan kemungkinan tidak tercapainya rasa puas akibat kelaparan atau kehausan.42 Jenis kelamin Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh kecemasan yang spontan dan episodik.5. Sifat stressor dapat berubah secara tiba. Kecemasan primer Kejadian traumatik yang diawali saat bayi akibat adanya stimuli tiba. Kecemasan sub sekunder Sejalan dengan peningkatan ego dan usia. antara lain: 43 1. 4.

h. j. c. 5. Agama g. Kecamatan Grabag.1 Kunjungan I (28 Januari 2015) III. Partini : 60 Tahun : Wanita : Janda : Jalan Ponggol I RT 07/03 Desa Ponggol. Pendidikan terakhir : Ny. Pada tiap tingkat perkembangan terdapat sifat stressor yang berbeda sehingga resiko terjadi stres dan kecemasan akan berbeda pula.1 Identitas Keluarga 1. Identitas pasien a. b. g. 2.1. BAB III LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH III. Nama Umur Jenis Kelamin Status perkawinan Alamat f. Kecamatan Grabag. Tingkat perkembangan Tingkat perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stressor. m. d.individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik. Nama Umur Jenis Kelamin Status perkawinan Alamat : Ny. e. Suku Bangsa h. e. c. k. o. d. f. n.orang Identitas kepala keluarga a. Kabupaten Magelang : Islam : Jawa : Tamat SD 30 . Kabupaten Magelang Agama : Islam Suku Bangsa : Jawa Pendidikan terakhir : Tamat SD Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Kegiatan sekarang : tidak ada kegiatan khusus Nama orang terdekat : Poniastuti (anak ke lima) Orang yang tinggal serumah: Poniastuti Jumlah anak : laki-laki : 3 orang perempuan : 2 orang Jumlah cucu : laki-laki : 6 orang perempuan: 5 orang Jumlah cicit : laki-laki : 1 orang perempuan : . l. b. i. sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan. Partini : 60 Tahun : Wanita : Janda : Jalan Ponggol I RT 07/03 Desa Ponggol.

3 Karakteristik Demografis Keluarga Alamat penderita di Jalan Ponggol I RT 07/03 Desa Ponggol. Partini 2.2 Karakteristik Kedatangan Penderita ke Puskesmas Penderita datang ke Puskesmas pada tanggal 19 Januari 2015. Nama 1. dan kedua cucunya. Kecamatan Grabag. Daerah tersebut merupakan daerah perkampungan. 4. III. Kedudukan di Keluarga KK Sex L Umur Pendidikan (thn) Terakhir 60 Tamat SD Ibu Pekerjaan Ket. KK Sudahyono (menantu) 3. Pusing dirasakan pada seluruh kepala dan terus menerus. Penderita tinggal bersama anak. Penderita sebelumnya sudah rutin berobat ke Puskesmas Grabag I karena penyakit darah tinggi yang dideritanya sejak 6 bulan lalu. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga III. Sehat Rumah Sehat Sumber : data primer hasil wawancara dengan penderita 31 . dan ketika obat hampir habis. penderita kembali berobat ke Puskesmas Grabag I dengan keluhan sakit kepala dan batuk. penderita kembali berobat ke Puskesmas Grabag I. Penderita juga mengeluhkan bagian belakang lehernya tegang. Daftar anggota keluarga serumah No. Pada tanggal 19 Januari 2015. Rumah Sakit P 38 Tamat SD Tangga Swasta Anak L 34 Tamat SLTP Ibu Poniastuti Ayu Cucu P 13 SD Tangga Pelajar Sehat Ambarwati Whikan Cucu L 5 TK Pelajar Sehat Tn. menantu.1. Ny. Kemudian oleh dokter umum di Balai Pengobatan diberikan obat Amlodipin 1 x 10 mg.i. 5. Keluhan dirasakan pertama kali setelah adik kandung penderita meninggal karena sakit jantung.1. Penderita rutin minum obat Captopril. Tabel 6. Pertama kali penderita berobat ke bidan desa Ponggol 6 bulan yang lalu dengan keluhan sakit kepala. Kabupaten Magelang. Ny. Penderita datang dengan keluhan kepala pusing. Kemudian penderita berobat ke bidan desa Ponggol dan dirujuk ke Puskesmas Grabag I.

Genogram 32 .Ibu Ayah Suami Anak 1 Anak 2 Ayah Ibu Pasie n Anak 3 Anak 4 Anak 5 Gambar 5.

a. Riwayat kencing manis dan asma disangkal. Keluhan seperti ini sering dialami pasien terutama bila pasien kehabisan persediaan obat darah tinggi. Pasien tidak memiliki riwayat operasi.1. Kabupaten Magelang.4 Resume Penyakit dan Penatalaksanaan yang Telah Diberikan A. c.Keterangan : : riwayat hipertensi : meninggal : laki – laki : perempuan III. Kecamatan Grabag. b. Pasien 1. BAB lancar dan tidak ada keluhan. Pasien tidak merasakan nyeri dada. Keluhan tambahan Leher belakang tegang. Keluhan utama Pusing sejak 3 hari yang lalu. Selain itu. ataupun asma. Adik kandung pasien menderita penyakit jantung dan meninggal dunia 6 bulan yang lalu. BAK lancar. d. tidak ada keluhan. P Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 28 Januari 2015 pukul 10. di rumah pasien di Dusun Ponggol. e. tidak ada yang menderita baik kencing manis. terutama jika pasien melakukan banyak aktivitas. alergi. Riwayat penyakit keluarga Terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat darah tinggi.00 WIB dan dilanjutkan dengan pemeriksaan ulang serta pemberian edukasi pada pasien. Riwayat penyakit dahulu Riwayat darah tinggi sejak 6 bulan yang lalu. yaitu ibu kandung pasien. Desa Grabag. maupun sesak. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang ke Puskesmas Grabag I dengan keluhan pusing sejak 3 hari yang lalu. 33 . Selain itu pasien juga mengeluh leher belakang terasa tegang yang dirasakan sepanjang hari. Anamnesis Ny.

murmur (-). Konjungtiva Anemis (-/-). Mata : Visus : 6/6.f. pukul 12. Konka inferior hipremis (-/-). T Digitasi dbn. tidak ada pergerakan nafas yang 34 . gallop (-) : Simetris. 2. iris berwarna coklat. Distribusi o merata. mukosa bibir kering. Reflek cahaya pupil langsung (+) dan o o o o o Reflek cahaya pupil tak langsung (+). Riwayat Lingkungan Tidak ada. septum deviasi (-).70 C Pernapasan : 20x/menit  Status Generalis o Kepala : Normocephal. Gerakan bola mata ke segala arah. Sklera Ikterik (-/-). Hidung : Sekret (-). Mulut : warna merah kehitaman. Jejas (-)  Jantung Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak Palpasi : Iktus cordis teraba pada ICS V 2 cm medial LMC sinistra Perkusi : Batas kanan atas : ICS II LPS dextra Batas kanan bawah : ICS IV LPS dextra Batas kiri atas : ICS II LPS sinistra Batas kiri bawah : ICS VI LMC sinistra Auskultasi  Paru Inspeksi : S1>S2 regular. Leher : Pembesaran KGB (-). pupil bulat. datar. kornea arcus senilis (+/+). terlihat lemas  Kesadaran : Kompos mentis  Tanda vital : Tekanan darah : 150/90 mmHg Nadi : 90 x/menit Suhu : 36.00 WIB.  Keadaan umum : Baik. Sekret (-/-). 28 Januari 2015. Telinga : Serumen (-/-). tidak mudah dicabut. Deviasi Trakea (-) Toraks : Normochest. warna rambut hitam beruban. Hasil Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Rabu.

CRT < 2 Detik. tidak ada venektasi Palpasi : Supel. hepar/lien tidak teraba. sianosis (-). Status Neurologi  PEMERIKSAAN NERVUS CRANIALIS : Dalam Batas Normal  TANDA RANGSANG MENINGEAL o Test kaku kuduk :o Test Laseuque : -/o Test Brudzinsky I :o Test Brudzinsky II : -/o Test Kernig : -/-  REFLEX FISIOLOGIS o Reflex biceps o Reflex patella o Reflex trisep o Reflex Achilles  : +/+ : +/+ : +/+ : +/+ REFLEX PATOLOGIS o Reflex Hoffman-tromer: -/o Reflex Babinsky : -/o Reflex Schaeffer : -/o Reflex Chaddok : -/o Reflex Gordon : -/o Reflex Oppenheim : -/- 35 . tidak ada sikatrik. Ronkhi (-/-) Abdomen o Inspeksi : Datar. tidak ada nyeri tekan o o  Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen Auskultasi : Bising usus (+) normal.tertinggal Palpasi : Vokal fremitus kiri sama dengan kanan Perkusi : Sonor seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler Suara tambahan : Wheezing (-/-). Genitalia Ekstremitas : Tidak dilakukan : Akral Hangat.

Lab seperti tes fungsi ginjal. Edukasi  Disarankan untuk periksa funduskopi. profil lipid. Edukasi mengenai hipertensi. raba : tidak terdapat pengurangan sensasi nyeri. Terapi medikam entosa Amlodipin 1 x 10 mg b. Rencana Penatalaksanaan a. suhu. gula darah.  dan efek samping dari obat yang diberikan. tekan dan suhu pada keempat ekstremitas. getar: tidak ada gangguan o Eksteroseptif : nyeri. pusing berputar. EKG.  Motorik o Tonus : Normal o kekuatan otot 5555 5555 Trophy: Normal 5555 5555 Pemeriksaan Sensorik o Propioseptif : posisi.   SIKAP DAN KOORDINASI o Test Romberg o Test tenden gait o Dismetri telunjuk-hidung : normal : normal : normal FUNGSI VEGETATIF o Miksi : normal o Defekasi : normal 3. faktor resiko. Hasil Pemeriksaan Penunjang 4. 36 . kaku pada daerah tengkuk dan leher agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Diagnosis Kerja Hipertensi Esensial Grade 1 5.  fungsi hati. komplikasi yang dapat terjadi. Istirahat yang cukup dan pola makan yang sehat terutama diet rendah   garam Pasien dianjurkan minum obat teratur Apabila terdapat keluhan seperti ini atau keluhan lain seperti sesak napas.

Penderita tampak lebih segar. Pemeriksaan fisik pada anggota keluarga yang lain dilakukan pada hari Rabu. Serta saat dilakukan kunjungan rumah dan dilakukan pemeriksaan ulang tekanan darah menurun dibanding saat pemeriksaan sebelumnya.00 WIB. dan  istirahat cukup. dan  aktivitas harian berlangsung seperti biasa. Pasien telah mengurangi faktor resiko yang ada. (ayah) Nama : sudahyono Status pernikahan : menikah Pendidikan : tamat SMA Pekerjaan : supir Agama : islam Sukubangsa : jawa Riwayatpenyakitdahulu : Di rawat d RS :- Di operasi :- Riwayatpenyakitkeluarga :- Penyakittersering : batukpilek Data imunisasi : (lupa) Alergi :-  Keadaan umum : Baik 37 . dengan tidak mengkonsumsi MSG. Obat diminum setiap hari.  Hasil Penatalaksanaan Medis Pemeriksaan dilakukan saat kunjungan ke rumah penderita pada tanggal 2  Februari 2015. Keluhan pusing dan badan terasa lemas sudah mulai berkurang. Saat kunjungan rumah. serta makan makanan yang dapat menaikkan tekanan darah  Faktor penghambat: Pasien sering banyak pikiran sehingga terkadang sulit tidur.  Indikator keberhasilan: Keluhan pusing dan leher belakang tegang berkurang.1. pukul 12. mengurangi konsumsi garam. keadaan kesehatan pasien baik. 28 Januari 2015. Faktor pendukung:  Peran keluarga untuk memberi minum obat maupun hidup sehat. B.

70 C Pernapasan : 20x/menit  Status Generalis o Kepala : Normocephal. warna rambut hitam. pupil bulat. gallop (-) : Simetris. Distribusi merata. septum deviasi (-). T Digitasi dbn. Deviasi Trakea (-) Toraks : Normochest. Hidung : Sekret (-). Konjungtiva Anemis (-/-).n Perkusi : Sonor seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler Suara tambahan : Wheezing (-/-). tidak ada pergerakan nafas yang Palpasi : Vokal fremitus S. kornea arcus senilis (-/-). Reflek cahaya pupil langsung (+) dan Reflek cahaya o o o o o pupil tak langsung (+). Sekret (-/-). Sklera Ikterik (-/-). mukosa bibir kering. Mata : Visus : 6/6. Mulut : warna merah kehitaman. Leher : Pembesaran KGB (-). datar. Telinga : Serumen (-/-). murmur (-). Kesadaran : Kompos mentis  Tanda vital : Tekanan darah : 130/90 mmHg Nadi : 100 x/menit Suhu : 36. iris berwarna coklat. Konka inferior hipremis (-/-). Jejas (-)  Jantung Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak Palpasi : Iktus cordis teraba pada ICS V 2 cm medial LMC sinistra Perkusi : Batas kanan atas : ICS II LPS dextra Batas kanan bawah : ICS IV LPS dextra Batas kiri atas : ICS II LPS sinistra Batas kiri bawah : ICS VI LMC sinistra Auskultasi  Paru Inspeksi tertinggal : S1>S2 regular. tidak o mudah dicabut.d. Gerakan bola mata ke segala arah. Ronkhi (-/-) 38 .

CRT < 2 Detik. tidak ada nyeri tekan o o  Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen Auskultasi : Bising usus (+) normal. 39 . sianosis (-). tidak ada sikatrik. Status Neurologi  PEMERIKSAAN NERVUS CRANIALIS : Dalam Batas Normal  TANDA RANGSANG MENINGEAL o Test kaku kuduk :o Test Laseuque : -/o Test Brudzinsky I :o Test Brudzinsky II : -/o Test Kernig : -/-  REFLEX FISIOLOGIS o Reflex biceps o Reflex patella o Reflex trisep o Reflex Achilles : +/+ : +/+ : +/+ : +/+  REFLEX PATOLOGIS o Reflex Hoffman-tromer: -/o Reflex Babinsky : -/o Reflex Schaeffer : -/o Reflex Chaddok : -/o Reflex Gordon : -/o Reflex Oppenheim : -/-  Motorik o Tonus : Normal o kekuatan otot 5555 5555  Trophy: Normal 5555 5555 Pemeriksaan Sensorik o Propioseptif : posisi.Abdomen o Inspeksi : Datar. tekan dan suhu pada keempat ekstremitas. tidak ada venektasi Palpasi : Supel. raba : tidak terdapat pengurangan sensasi nyeri. suhu. hepar/lien tidak teraba. Genitalia Ekstremitas : Tidak dilakukan : Akral Hangat. getar: tidak ada gangguan o Eksteroseptif : nyeri.

(Ibu) Nama : poni astuti Status pernikahan : menikah Pendidikan : tamat SLTP Pekerjaan : ibu rumah tangga Agama : islam Suku bangsa : jawa Riwayat penyakit dahulu : Di rawat d RS :- Di operasi :- Riwayat penyakit keluarga : hipertensi (+) ibu Penyakittersering : pusing Data imunisasi : (lupa) Alergi :-  Keadaan umum : Baik  Kesadaran : Kompos mentis  Tanda vital : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 86 x/menit Suhu : 360 C Pernapasan : 18x/menit  Status Generalis o Kepala : Normocephal.d. SIKAP DAN KOORDINASI o Test Romberg o Test tenden gait o Dismetri telunjuk-hidung  : S. warna rambut hitam. 40 .n : S. Distribusi merata. tidak mudah dicabut.n : S.00 WIB.n FUNGSI VEGETATIF o Miksi : normal o Defekasi : normal C.d. pukul 12. 28 Januari 2015. Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Rabu.d.

Sekret (-/-). Jejas (-)  Jantung Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak Palpasi : Iktus cordis teraba pada ICS V 2 cm medial LMC sinistra Perkusi Batas kanan atas : ICS II LPS dextra Batas kanan bawah : ICS IV LPS dextra Batas kiri atas : ICS II LPS sinistra Batas kiri bawah : ICS VI LMC sinistra Auskultasi  Paru Inspeksi tertinggal o : : S1>S2 regular. gallop (-) : Simetris. Konjungtiva Anemis (-/-). 41 .n Perkusi : Sonor seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler Suara tambahan : Wheezing (-/-). kornea arcus senilis (-/-). Leher : Pembesaran KGB (-). Konka inferior hipremis (-/-). Sklera Ikterik (-/-). CRT < 2 Detik. datar.d. septum deviasi (-). tidak ada sikatrik. sianosis (-). Reflek cahaya pupil langsung (+) dan Reflek cahaya o o o o o pupil tak langsung (+). Telinga : Serumen (-/-). Deviasi Trakea (-) Toraks : Normochest. pupil bulat. T Digitasi dbn. murmur (-). tidak ada venektasi Palpasi : Supel. tidak ada pergerakan nafas yang Palpasi : Vokal fremitus S. Hidung : Sekret (-). iris berwarna coklat. tidak ada nyeri tekan o o Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen Auskultasi : Bising usus (+) normal. mukosa bibir kering.o Mata : Visus : 6/6. Mulut : warna merah kehitaman. hepar/lien tidak teraba. Ronkhi (-/-) Abdomen Inspeksi : Datar. Genitalia Ekstremitas : Tidak dilakukan : Akral Hangat. Gerakan bola mata ke segala arah.

d. getar: tidak ada gangguan o Eksteroseptif : nyeri.n : S. tekan dan suhu pada keempat ekstremitas.d.n FUNGSI VEGETATIF o Miksi : normal o Defekasi : normal D. raba : tidak terdapat pengurangan sensasi nyeri.n : S. Status Neurologi  PEMERIKSAAN NERVUS CRANIALIS : Dalam Batas Normal  TANDA RANGSANG MENINGEAL o Test kaku kuduk :o Test Laseuque : -/o Test Brudzinsky I :o Test Brudzinsky II : -/o Test Kernig : -/-  REFLEX FISIOLOGIS o Reflex biceps o Reflex patella o Reflex trisep o Reflex Achilles : +/+ : +/+ : +/+ : +/+  REFLEX PATOLOGIS o Reflex Hoffman-tromer: -/o Reflex Babinsky : -/o Reflex Schaeffer : -/o Reflex Chaddok : -/o Reflex Gordon : -/o Reflex Oppenheim : -/-  Motorik o Tonus : Normal o kekuatan otot 5555 5555  Trophy: Normal 5555 5555 Pemeriksaan Sensorik o Propioseptif : posisi. suhu. PEMERIKSAAN FISIK (ANAK I) 42 .d.   SIKAP DAN KOORDINASI o Test Romberg o Test tenden gait o Dismetri telunjuk-hidung : S.

rhinorea -/- o Telinga: Liang telinga lapang. kuat angkat. murmur -. gallop -. teratur. Erupsi gigi -. kedalaman cukup. tonsil T1-T1 tenang. perdarahan gusi -/-. distribusi merata. lidah kotor -. arcus faring hiperemis -. 43 . reguler. pupil isokor 2mm/2mm. Otorea -/o Bibir : Mukosa kering -. Refleks cahaya +/+. o Suhu Tubuh : 36. pernapasan cuping hidung-/-.Nama : Ayu Status pernikahan : belum menikah Pendidikan : SD Pekerjaan :- Agama : islam Sukubangsa : jawa Riwayat penyakit dahulu : Di rawat d RS :- Di operasi :- Riwayatpenyakitkeluarga :- Penyakittersering : batuk pilek Data imunisasi : lengkap Alergi :- o Kesan Umum : Baik o Kesadaran : Compos Mentis o Tekanan Darah : 120/70 mmHg o Frekensi Nadi : 130 kali/menit. o Thoraks : Simetris saat statis dan dinamis. Sklera ikterik -/-.4 ˚C o BB/TB : 30 kg / 125 cm o Kepala : Normocephal o Rambut : Hitam. sianosis – o Gigi dan mulut : Stomatitis -. tidak mudah dicabut o Mata : Konjungtiva anemis -/-. isi cukup o Frekensi Napas : 22 kali/menit. edema palpebra o Hidung : Sekret -/-. retraksi - o Jantung : Bunyi Janting I dan II split konstan.

o Status Neurologis : dalam batas normal.8 ˚C o BB/TB : 20 kg/92 cm o Kepala : Normocephal o Rambut : Hitam.o Paru : Vokal fremitus kanan = kiri. o Suhu Tubuh : 36. Timpani +. Bising Usus + Normal. sonor seluruh lapang paru +. tidak mudah dicabut 44 . PEMERIKSAAN FISIK(ANAK II) Nama : whikan Status pernikahan : belum menikah Pendidikan : TK besar Pekerjaan :- Agama : islam Suku bangsa : jawa Riwayat penyakit dahulu : Di rawat d RS :- Di operasi :- Riwayat penyakit keluarga : Penyakit tersering :- Data imunisasi : lengkap Alergi :- o Kesan Umum : Baik o Kesadaran : Compos Mentis o Tekanan Darah : 90/70 mmHg o Frekensi Nadi : 135 kali/menit. sianosis -. Turgor baik. distribusi merata. o Ekstremitas : Akral hangat. Arteri dorsalis pedis teraba o Kulit : Ptechiae -. VBS +/+. lien tidak teraba. Ronkhi -/-. edema -. E. Nyeri Tekan epigastrium (-). teratur. Wheezing -/o Abdomen : Datar. Ginjal Ballotmen -. Undulasi -. tepi tumpul. Hepar teraba 1 cm BAC konsistensi lunak. kedalaman cukup. isi cukup o Frekensi Napas : 30 kali/menit. CRT < 2 detik. shifting dullness -. distensi -. reguler. kuat angkat.

o Mata : Konjungtiva anemis -/-. tepi tumpul. Ginjal Ballotmen -.1. Refleks cahaya +/+. lien tidak teraba. gallop -. o Status Neurologis : dalam batas normal. distensi -. murmur -. o Paru : Vokal fremitus kanan = kiri. pupil isokor 2mm/2mm. Turgor baik. Undulasi -. o Ekstremitas : Akral hangat. Arteri dorsalis pedis teraba o Kulit : Ptechiae -.6 Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga Fungsi Biologis dan Reproduksi Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa saat ini hanya pasien yang sedang sakit. Otorea -/o Bibir : Mukosa kering -. Pasien memiliki riwayat hipertensi. Anak dan cucu pasien tidak memiliki riwayat penyakit khusus. o Thoraks : Simetris saat statis dan dinamis. rhinorea -/- o Telinga: Liang telinga lapang. Hepar teraba 1 cm BAC konsistensi lunak. shifting dullness -. III. CRT < 2 detik. Timpani +. Wheezing -/o Abdomen : Datar. Erupsi gigi -. sonor seluruh lapang paru +. perdarahan gusi -/-. III. arcus faring hiperemis -. edema -. sianosis -. pernapasan cuping hidung-/-. Nyeri Tekan epigastrium (-). Ronkhi -/-. Sklera ikterik -/-. tonsil T1-T1 tenang. lidah kotor -. anak dan dengan 45 . Fungsi Keluarga Penderita tinggal dengan anak Hubungan antara penderita dengan menantunya begitupula baik. sianosis – o Gigi dan mulut : Stomatitis -. VBS +/+. Bising Usus + Normal.5 Bentuk dan Siklus Keluarga Bentuk keluarga ini ialah keluarga besar (extended family). retraksi - o Jantung : Bunyi Janting I dan II split konstan. Catatan medis saat ini anak dan cucu pasien terlampir.1. yaitu keluarga inti disertai adanya sanak keluarga lainnya. terakhirnya. edema palpebra o Hidung : Sekret -/-.

Semua masalah yang berhubungan dengan keluarga diselesaikan dengan musyawarah. equal/sama yang sebagai Hubungan sangat erat keputusan pasien berperan pembuat akhir dan proses pengambilan keputusan dilakukan oleh anak pasien untuk mengajak pasien dan menantu pasien untuk membicarakan masalah tersebut. Family Map Keterangan : Fungsi Pendidikan Penderita hanya menempuh pendidikan sampai tamat Sekolah Dasar (SD). Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan 46 . Fungsi Sosial Penderita tinggal di kawasan perkampungan yang tidak padat penduduk. Simbol menantu Hubungan harmonis. Waktu luang digunakan untuk bermain bersama cucu dan bersosialisasi dengan tetangga. Keluarga di rumah berkumpul di rumah pada malam hari dilakukan setiap hari. Pergaulan umumnya berasal dari kalangan menengah kebawah. Gambar 6.cucu-cucunya. Di dalam keluarga ini jika terdapat suatu masalah eksternal dan internal.

Jika ada anggota keluarga yang sakit.8Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Faktor Perilaku Keluarga Dalam beraktivitas sehari-hari penderita lebih sering berjalan kaki. Jumlah penghasilan yang didapatkan ± Rp 1. serta buah..Sumber penghasilan dalam keluarga dari suami anak pasien (menantu) yang bekerja sebagai supir. Penghasilannya tidak menentu. Keluarga yang tinggal serumah dengannya. dll). Penghasilan tersebut digunakan untuk pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder keluarga. Untuk pengaturan penghasilan keluarga dilakukan oleh anak pasien. sayur asem.1. tempe.000. ayam. lauk (tahu. sayur kangkung. Faktor Non-Perilaku Sarana kesehatan di sekitar rumah berjarak 1-2 km. 47 . Pasien dapat mengkonsumsi sayuran dan tidak suka membeli jajanan diluar. III. Fungsi Religius Seluruh anggota keluarga melakukan ibadah di rumah. sering membuka jendela kamar dan jendela ruang tamu sehingga keadaan kamar dan ruangan di rumah tidak lembab. Variasi makanan yang dikonsumsi keluarga antara lain: nasi. Aktivitas sosial seperti pengajian dan pertemuan RT sering dilakukan. sayur (bayam. Keluarga ini tidak memiliki jaminan kesehatan tertentu. Ada ruangan khusus untuk ibadah di rumah.7 Pola Konsumsi Makan Penderita dan Keluarga Frekuensi makan penderita dan keluarga teratur. III. setiap hari 3 kali.per bulannya. telur). Pembiayaan pengobatan penderita maupun keluarga dengan menggunakan dana sendiri.1. Pasien sering mengikuti pengajian di luar rumah sebulan sekali.000. pasien dan keluarga langsung berobat ke bidan atau dokter di puskesmas melalui biaya sendiri. Puskesmas maupun tempat praktik dapat ditempuh dengan angkutan umum. Makanan diolah sendiri oleh anak pasien dengan makanan yang bervariasi setiap hari. Aktivitas perekonomian dalam hal pembayaran listrik dan air serta belanja harian dilakukan oleh suami anak pasien (menantu).

Sirkulasi udara kurang baik karena tidak terdapat ventilasi. sampah di sekitar lingkungan rumah penderita selalu dibersihkan setiap hari. dan dapur >25%.1. dan tata letak barang-barang di dalam rumah cukup rapi. Di rumah pasien tidak memiliki lubang ventilasi. 1 kamar mandi (ukuran 2x1. serta tempat sampah di luar rumah tidak ada. dinding sebagian dari tembok dan dari triplek. Secara umum rumah terdiri atas 1 ruang tamu dengan ruang keluarga (ukuran 3x5 m 2). Kebersihan di luar rumah bersih. dengan ukuran 1x1. Di sekeliling rumah penderita juga banyak rerumputan dan tanah. dengan ukuran luas 84 m2. Pepohonan merupakan pohon pisang. Penerangan di dalam rumah cukup terang. pohon kelapa. cuci. Sumber air minum. Kebersihan di dalam rumah bersih. ruang tidur ± 25%. 2 ruang tidur (ukuran 3x3 m2).5 m2. Pasien dan keluarga terbiasa membuang sampah ke sungai belakang rumangnya. dan masak dari sumur. Jarak septik tank dengan sumber air minum >10 m. Jumlah kamar mandi ada 1.5 m2) dengan WC berbentuk leher angsa. dapur (ukuran 4x3 m2). dengan bentuk jamban leher angsa. Rumah penderita dikelilingi dengan pepohonan dan kebun.9 Identifikasi Lingkungan Rumah Gambaran Lingkungan Rumah penderita terletak di pemukiman penduduk yang tidak terlalu padat dan termasuk pemukiman biasa.III. Atap rumah dari genteng. Limbah rumah tangga dialirkan ke septic tank. Denah Rumah 48 . Perbandingan luas lantai dan jendela di ruang tamu <25%. lantai belum di keramik (plester kedap air). Kamar pasien terasa lembab terdapat jendela yang mengarah ke luar rumah.

Peta Rumah dari Pelayanan Kesehatan III. Hubungan dengan keluarga baik. Penderita menderita Hipertensi esensial grade 1 yang terdiagnosis sejak 6 bulan yang lalu. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi a. b. Fungsi sosial dan budaya Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik. Terdapat anggota keluarga lain yang memiliki riwayat sakit hipertensi seperti pasien (ibu pasien) Fungsi Psikologis a. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan Perekonomian keluarga cukup sehingga kebutuhan juga dapat terpenuhi. b.10 Diagnosis Fungsi-Fungsi Keluarga Fungsi Biologis a.Gambar 7. selalu mengikuti acara pengajian yang dilakukan sebulan sekali.1. Hubungan dengan tetangga baik. Masalah yang berhubungan dengan keluarga dibicarakan dengan menantu dan anak pasien 49 . Denah Rumah Pasien Peta Rumah Dicapai dari Pelayanan Kesehatan Gambar 8.

b. Masalah yang berhubungan dengan keluarga diselesaikan secara musyawarah.
c. Pasien terkadang memendam masalah yang sedang dihadapi dan menjadi bahan
pikiran pasien.
Faktor perilaku
a. Keluarga penderita sering membuka jendela dan pintu.
b. Penderita memiliki kebiasaan berjalan kaki setiap pagi.
c. Penderita dan keluarga selalu membersihkan rumah dan lingkungannya setiap
hari.
d. Pasien mau memeriksakan diri ke puskesmas.
e. Pasien sering memakan makanan yang dapat mencetuskan penyakitnya seperti
makanan yang di goreng, bersantan dan tinggi garam
Faktor nonperilaku
Sarana pelayanan kesehatan terjangkau dari rumah

II.11

Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga

Lingkungan

Genetik

Ibu pasien

Derajat kesehatan
Ny. P

Pelayanan
Kesehatan

Penderita
Hipertensi

Perilaku
Pasien suka memendam masalah yang
dihadapi
Pasien biasa mengkonsumsi makanan yang
di goreng, bersantan dan tinggi garam
50

Bagan 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam keluarga
III.1.12

Diagnosis Holistik
1. Aspek Personal :
a. Pasien mengeluh nyeri kepala, leher terasa pegal dan sulit tidur.
b. Harapan berobat adalah untuk sembuh
c. Perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan guna kesembuhan
penyakit pasien, untuk itu diperlukan kerjasama dan komunikasi
yang baik antar anggota keluarga demi kesembuhan pasien
d. Yang diharapkan sebagai pasien adalah kesembuhan. Hal ini dapat
terwujud bila pola makan diatur sejak sekarang dan perlunya
manajemen stress bagi pasien dalam kesehariannya.
e. Pasien merasa khawatir terhadap penyakitnya karena belum
sembuh-sembuh juga
2. Aspek Klinik :
a. Diagnosis kerja : dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien
didiagnosis menderita hipertensi esensial grade I.
b. Diagnosis banding : 3. Aspek Risiko Internal :
a. Pasien berumur 60 tahun yang merupakan kelompok usia risiko
tinggi munculnya penyakit hipertensi.
b. Pasien memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi yaitu ibu
pasien yang menderita hipertensi.
c. Pasien adalah perempuan yang memiliki sifat mudah cemas.
d. Pola makan yang sering mengonsumsi makanan yang digoreng,
bersantan, dan tinggi garam mempengaruhi tekanan darah pasien.
e. Pasien memiliki beban pikiran yaitu kehilangan adiknya yang
meninggal karena penyakit jantung.
4. Aspek Psikososial Keluarga :
Peran keluarga dalam mendukung pasien seperti mengingatkan minum
obat, mengingatkan agar rutin berobat ke Puskesmas, mengingatkan untuk
menjaga pola makan diakui pasien sudah sering dilakukan.
5. Aspek Fungsional :
51

Pasien masih mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit.
Pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri di dalam maupun di luar
rumah.

III.1.13

Rencana Pelaksanaan
Tabel 7. Rencana Pelaksanaan

Aspek

Kegiatan

Sasaran

Waktu

Aspek

Menjelaskan

Pasien

diharapkan
Saat pasien Pasien

personal

kepada

pasien dan

Hasil yang Biaya
-

Keterangan
Pasien

berobat ke paham

menerima

mengenai penyakit keluarga

Puskesmas

saran

hipertensi

dan

yang

dengan

saat penyakit

dan

bersedia

diderita pasien dan

kunjungan

hipertensi

melakukan

manajemen stress

rumah.

dan paham

saran yang

faktor-

dianjurkan

untuk

mengatasi

penyakit pasien.

faktor
penyebab
hipertensi.
Pasien
dapat
mengurangi
stress

dan

beban
Aspek
klinik

- Memberikan obat Pasien
antihipertensi
(Amlodipin 1 x
10mg)

pikirannya.
Saat pasien Pasien

Rp.

berobat ke memiliki

2000,-

Puskesmas

untuk

kesadaran

52

53 . Saat pasien Kualitas Aspek fungsional pasien untuk tidak bosan aktifitasnya dengan Pasien Pasien Saat pasien Keluarga perhatian saat lebih kepada berobat ke hidup Puskesmas dan pasien saat meningkat kunjungan rumah. mengurang Aspek i beban pikiran Menganjurkan psiko- keluarga memberi dan berobat ke memberi sosial dukungan kepada keluarga Puskesmas keluarga pasien agar selalu dan menjaga kunjungan kesehatannya Menganjurkan rumah. pasien. pasien hidup sehat berubah dengan selalu menjadi memakan- lebih sehat makanan bergizi dan bergizi seimbang seimbang dan istirahat cukup.-Menganjurkan untuk rajin berob pasien minum obat at ke untuk berobat rutin dan dan Puske kontrol terjadwal smas apabila obat sudah hampir untuk habis mengontrol tekanan darah dan pembelian obat Aspek - Menganjur Pasien risiko kan untuk dan internal menerapkan pola keluarga ke saat puskesmas Menu kunjungan makanan rumah.

menggunakan rumus sebagai berikut : Interpretasi berdasarkan indeks massa tubuh di Indonesia : a. Jenis intervensi yang di lakukan : 1. >30 = obesitas Pada hasil pemeriksaan yang dilakukan pada pasien dan keluarganya.5 = kurus b. Memantau BMI Indeks Massa Tubuh (IMT) didapat dengan mengukur berat badan (kg) dan tinggi badan(m). Diskusi alternatif penyelesaian masalah. kelompok. b.5-25 = normal c.maupun komunitas. Pasien Berat Badan : 49 kg Tinggi Badan: 156 cm 54 . c. Melakukan intervensi terhadap pasien dan keluarganya. 18. Anak : 110/80 mmHg (Normal) c. Menjelaskan masalah kesehatan keluarga.2. maka didapatkan hasil sebagai berikut : a. Pasien : 150/90 mmHg (Hipertensi) b. Menantu : 120/90 mmHg (Normal) Pemantauan tekanan darah ini di tujukan untuk mengontrol tekanan darah pasien agar tekanan darah tetap stabil. Pre-Hipertensi (sedang) : Sistol 120-139 mmHg atau diastol 80-89 mmHg c. 2. P didapatkan hasil : a.III. 25-30 = gemuk d. Normal : Sistol <120 mmHg dan diastol <80 mmHg b. Interpretasi berdasarkan WHO : a. Hipertensi (Tinggi) : Sistol 140-159 mmHg atau 90-99 mmHg Pada Pasien Ny. <18. Kunjungan II (2 Februari 2015) Usaha Peningkatan kesehatan keluarga dengan cara : a. Memantau Tekanan Darah Tekanan darah diukur dengan menggunakan alat sphygmomanometer lapangan. Intervensi adalah upaya perubahan terencana terhadap individu.

Memberi materi penyuluhan kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit yang diderita ataupun masalah kesehatan di sekitar keluarga. Menerangkan penyebab timbulnya penyakit dan faktor – faktor yang menjadi pencetus memburuknya keadaan pasien seperti stress atau beban pikiran yang berat. termasuk masalah kesehatan lingkungan dan social ekonomi keluarga.6 (normal) Pemantauan BMI dilakukan untuk menilai keadaan gizi di keluarga tersebut. Menilai perubahan yang terjadi pada keluarga setelah dilakukan intervensi Adapun beberapa perubahan yang dapat terlihat pada pasien adalah sebagai berikut :  Perubahan tekanan darah menjadi 130/90 mmHg yang pada awalnya 150/90 mmHg 55 . Terutama diet rendah garam dan rendah lemak. Pengukuran dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. c. IMT Anak Berat badan Tinggi Badan IMT Menantu Berat badan Tinggi Badan IMT Cucu I Berat badan Tinggi Badan IMT Cucu II Berat badan Tinggi Badan IMT : 20. Pemberian Edukasi mengenai makanan Pemberian edukasi mengenai makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh di konsumsi oleh pasien. d.b.13 (normal) : 47 kg : 155 cm : 23. d.66 (normal) : 30 kg : 125 cm : 19. III.3 Kunjungan III ( 4 Februari 2015) a. Oleh karena itu status gizi pada keluarga ini termasuk dalam gizi baik.2 (normal) : 20 kg : 92 cm : 23.  Pemberian edukasi menggunakan media leaflet. e.01 (normal) : 70 kg : 172 cm : 23.  Pemberian Edukasi Mengenai Penyakit Hipertensi Memberikan gambaran kepada pasien penyakit yang sedang di alami pasien.

keluarga menolak. Masih tergantung pada upaya provider Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga Not applicable Tabel 8. penyelesaian masalah dilakukukan Skor 4 Skor 5 99 sebagaian besar oleh provider Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya. penyelesaian masalah dilakukan Skor 3 sepenuhnya oleh provider Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang belum dimanfaatkan. Perubahan gaya kesehatan yang ditandai dengan semakin seringnya intensitas kontrol rutin ke dokter  Perubahan gaya hidup. yaitu semakin patuhnya dalam menjaga pola makan yang sesuai gizi seimbang Indeks skor Skor 1 Skor 2 Kemampuan koping Tidak dilakukan.tidak ada partisipasi Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu. tidak ada sumber ( hanya kenginan ). Indeks Koping Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah Dalam Keluarga Tabel 9. Hasil Skoring Keluarga dalam Kemampuan Penyelesaian Masalah Skor Masalah Koping Upaya Penyelesaian Resume Hasil Akhir Perbaikan Awal Skor Koping Akhir Fungsi biologis  Sebuah keluarga yang terdiri dari 3  Edukasi mengenai penyakit dan  Terselenggara 4 penyuluhan 56 .

Kepala penyuluhan  Penurunan  tekanan darah Keluarga keluarga (Ny.P) memotivasi dan menderita tidak hipertensi memberikan makanan dengan tinggi garam Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan   Pendapatan 2  Memotivasi keluarga yang dengan membuat rendah Kepala keluarga warung kecil2 kecilan  Dibukanya 4 warung kecil kecilan Menantu (Ny. anak pencegahan .P) sudah tidak bekerja sebagai bekerja lagi supir truk 3 Faktor perilaku kesehatan keluarga  Lingkungan rumah 3  lembab Edukasi menjaga  Sirkulasi udara 3 belum optimal agar sirkulasi udara didalam rumah terjaga dengan baik  Berobat jika hanya  Kepala keluarga rajin ke klinik  ada keluhan 3 Edukasi dan ketika obat memotivasi untuk habis 4 memeriksakan kesehatan secara berkala untuk mencegah kekambuhan 57 .menantu dan melalui cucu .orang tua .

Menindaklanjuti masalah keluarga yang belum terselesaikan b. b. Tindakan lanjut terhadap pasien dan keluarga Untuk menindaklanjuti permasalahan klinis maka dilakukan rencana penatalaksanaan pasien dan keluarga. Pengobatan Farmakologis Dilakukan oleh pihak puskesmas atau klinik tempat pasien biasa kontrol. Masalah klinis pasien direncanakan dengan tatalaksana farmakologis dan non farmakologis dengan pembinaan terhadap keluarga. 2. Mengingatkan untuk segera kontrol ke puskesmas atau klinik terdekat untuk mengontrol hipertensi pasien jika obat sudah hampir habis.43 Mengucapkan terimakasih dan berpamitan dengan keluarga. Edukasi kepada pasien : a.Lingkungan rumah   Ventilasi kurang 2  Tempat pembuangan sampah yang kurang 2  Edukasi dengan  Pintu dan membuka jendela jendela rumah dan pintu sesering sudah rajin mungkin Edukasi tentang  dibuka Sampah belum sanitasi tertata dengan pembuangan baik dan rapi 4 2 sampah Total Skor Koping 17 Rata-rata Skor 2. Membantu mengawasi pasien minum obat c. Edukasi kepada pelaku rawat (Anak dan menantu pasien) a. Tindakan tehadap keluarga 58 . Mengingatkan dan mendorong pasien untuk minum obat secara teratur. 3. Pengobatan Non Farmakologis 1. Memberikan penyuluhan mengernai makanan dan minuman apa saja yang dapat di konsumsi dan tidak dapat di konsumsi oleh pasien. Memberikan penyuluhan mengenai penyakit hipertensi yang diderita pasien. 24 3.42 a. d.

b. 2. minum obat secara teratur dan tekanan darah terkontrol. 4. Tindakan awal pada keluarga Menjelaskan masalah yang di hadapi keluarga pasien. Faktor pendukung : a. Kuratif : a. dapat diterima dengan baik. Tindakan edukasi Pelaku rawat ( anak dan menantu pasien) di berikan edukasi tentang pentingnya menjaga pola makan pasien. b. Pelaku rawat dan keluarga diharapkan dapat membina komunikasi yang baik kepada pasien. Preventif : a.Penatalaksanaan pasien ini memerlukan partisipasi seluruh anggota keluarga dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Faktor penyulit : Tidak ada 4. a. Sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Sikap pasien yang kooperatif dan keinginan untuk hidup sehat. Melakukan penyuluhan mengenai penyakit penderita (hipertensi) b. sering mengajak berbicara atau berkumpul bersama keluarga dapat membuat kesehatan psikologi pasien baik. Pasien dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan tentang hipertensi dan pola hidup sehat. pelaku rawat harus mulai membiasakan memasak makanan rendah garam dan rendah lemak untuk pasien. mengurangi garam dan mengurangi makanan yang berkolesterol 3. Pengelolaaan secara komprehensif : 1. Rehabilitatif : KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA 1. 3. Indikator keberhasilan : Pasien dapat memperbaiki pola hidup sehat (mengurangi konsumsi makanan berlemak dan tinggi garam). Rutin meminum obat (amlodipine) 4. Berobat keklinik terdek atatau puskesmas jika sakit b. Masalah pada keluarga ini adalah kurangnya pengetahuan keluarga mengenai penyakit hipertensi yang di derita pasien. Tingkat pemahaman: Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan . Mengatur pola makan seperti mengurangi makanan yang besantan. 59 . Memberikan edukasi agar menjaga pola makan 2. Promotif : a.

serta penanganan penyakit tersebut. faktor resiko.BAB IV PENUTUP A. agar merubah pola hidup sehari-hari menjadi lebih sehat (menagtur pola makan). dengan pendekatan kedokteran keluarga adalah sebagai berikut : Dengan terapi medikamentosa berupa amlodopin 1 x 10 mg per oral. Terapi edukasi yang diberikan adalah edukasi mengenai penyakit darah tinggi (hipertensi). KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien penyakit Hipertensi. istirahat yang cukup dan minum obat teratur. Apabila terdapat keluhan segera memeriksakan diri ke puskesmas atau ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Pembinaan yang diberikan terhadap pasien meliputi melakukan pemeriksaan kepada pasien dan keluarga pasien serta mengamati keadaan kesehatan rumah dan 60 .

Di akses pada 07 Februari 2015 dari : < http://library. 1994. Pembinaan juga meliputi penyakit – penyakit yang dapat terjadi berhubungan dengan usia pasien. Wahyuni. disarankan untuk melakukan pemeriksaan EKG. 3. Heck JE. SARAN Untuk mencegah timbulnya gejala tekanan darah tinggi kembali.usu. The Milbank Quarterly. Majalah Kedokteran Indonesia. Contribution of Primary care to health.id/download/fk/fk-arlinda%20sari.p1.. A. Starfield B. Januari 2009. Serta mengatur aktivitas sehari-hari guna menghindari gejala penyakit kambuh kembali. editor. Sistem Pelayanan 61 . 2009. memberikan penjelasan kepada pasien mengenai penyakit hipertensi (darah tinggi) serta faktor-faktor resiko penyakitnya seperti gaya hidup tidak sehat serta mengedukasi pasien untuk menghindari faktor resiko dan cara penanggulangan apabila penyakitnya kambuh kembali. tes fungsi hepar. Boelen C. Volume 59. Untuk meningkatkan kepatuhan dan keteraturan minum obat. 2009. Lab seperti tes fungsi ginjal.lingkungan sekitar. Nomor 1. WHO-WONCA joint conference. Perpustakaan Online Universitas Sumatera Utara : FK USU. 2003. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar Kesejawatan dan Profesionalisme. Pelayanan Dokter Keluarga.pdf> 2. maka diharapkan pasien dapat menghindari faktor resiko timbulnya gejala.ac. Ontario Canada. Fabb WE. Sugito. Macinko J. DAFTAR PUSTAKA 1. maka diperlukan peran serta dari lingkungan sekitar misalnya tetangga terdekat untuk membantu mengingatkan pasien perihal meminum obat secara rutin. dan jika ada keluhan yang mengarah ke komplikasi bisa segera diatasi. Shi L. In : Wonodirekso. Sugito.S. A working paper of the World Health Organization od Family Doctors. Making medical practice and education more relevant to people’s need : “The contribution of the family doctor”. B. In: Rivo ML. profil lipid. Selain itu. dan gula darah. Selain itu menganjurkan pasien untuk memeriksakan diri ke praktek bidan atau puskesmas. 2005. In : Wonodirekso. 83(3):457-502.

. Wonodirekso. Interesting facts about ageing. 4.Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar Kesejawatan dan Profesionalisme.html> [Diakses : 07 Februari 2015]. Di unduh dari : <http://www. Gordon dan Le Richt (1950) : teori ekologi untuk menjelaskan peristiwa penyakit. dkk.ppjk.go.depkes.uns. Karakteristik Penderita Hipertensi Rawat Inap di Rumah Sakit Bhayangkara Medan Tahun 2008-2010. A.php?option=com_content&do_pdf=1&id=61> [diakses pada tanggal 07 Februari 2015] 62 . Rasmaliah.p1. Diunduh dari : <http://www.2004.org/content/kondisi-penyakittidak-menular-di-indonesia> 7. 9. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar Kesejawatan dan Profesionalisme.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.E. Majalah Kedokteran Indonesia. Prasetyawati. Diakses pada 07 Februari 2015 dari <http://www. Singapore International Foundation .pdf [diakses pada tanggal 07 Februari 2015] 10. Tersedia melalui: USURepository<http://repository.Association of Voluntary Health Services of Indonesia. [PERDHAKI] Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia . Nenny. Januari 2009. Diunduh dari http://fk.ac. Januari 2009. Wonodirekso S. In: Tripena. The world population is rapidly ageing. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya. Dalam Gan GL. Fakultas Kedokteran UNS.2013. A Primer on Family Medicine Practice. Majalah Kedokteran Indonesia. 2011. Kondisi Penyakit Tidak Menular di Indonesia.usu.id/index2. 6.ac. Nomor 1. Volume 59.perdhaki.p1 5. Gambaran Epidemiologi Penyakit Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan Propinsi Sumatera Utara. Azwar A. [DEPKES] Departemen Kesehatan. Nomor 1. 2004. Volume 59. 2012. [WHO] World Health Organization. Sugito. Medan: USU Repository.who.pdf> [Diakses pada tanggal 07 Februari 2015].id/bitstream/123456789/27462/4/Chapter %20II. Dokter Keluarga. Penang Road.int/ageing/about/facts/en/index. 2009. 8.

Astawan. Amir. Jakarta : EGC.(2004).com/books/ 22. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention.Diakses dari <http://www.> [diakses pada 07 Februari 2015] 20. Thomas M. dkk. Dekker.go. (2001). 2010..E. Faktor Penyebab Terjadinya Hipertensi pada Lansia.php? option=articles&task=viewarticle&artid=20&Itemid=3. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Erlangga.J. M. Cegah Hipertensi dengan Pola Makan. 11st ed. Dawkins K. Dorland.D. W. 14 : 111-14. 29th ed. Jakarta. Sylvia Anderson.Hidup dengan tekanan darah tinggi. Hall J. M.id/index. William F. Gray H.D. Jantung Koroner. Pengaruh Hipertensi Primer Terhadap Timbulnya Premenstrual Syndrome Pada Wanita Di Kelurahan Jati Kecamatan Jaten Karanganyar. 18.depkes.A.A.A.(1996). Corwin. Di dalam : Hapsari B. Fisiologi Kedokteran Edisi 14. 2002. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 25. Guyton A.11.ac. hal: 1051. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.com/2009/02/files-of-drsmedfaktoryangberhubungan-dengan-kejadian-hipertensi. and Treatment of High Blood Pressure.id/22/1/170302311201011291. 2147 12.pdf> [diakses pada 07 Februari 2015] 13.. Jakarta: EGC. Kamus Kedokteran Dorland.A. JNC-7. Basha. hal :951-76. Morgan J. p: 694. D. Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam FKUI : Jakarta 15. Hidup Bersama Penyakit Hipertensi Asam Urat.uns.N. 2002.H. (2009). Simpson I. 2007. Buku Saku Patofisiologi (Terjemahan) [monograph online]. Anggraini. 1995. Available from: http://books.wordpress. Ilmu penyakit dalam jilid IV edisi I. Hipertensi : Faktor Resiko dan Penatalaksanaan Hipertensi cv. Ganong. Widya Pratama. 63 . Dunitz.pdf > [diakses pada 07 Februari 2015]. Aru Sudoyo. 24. Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. JAMA 289:2560-2571 16. W. Lecture Notes Cardiologi.. hal : 58-62 19. 2001 [cited Februari 2015]. 2005. Hypertension : clinical features and investigations. Evaluation.M. 2008.google.C. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan 23. Hospital Pharmacist. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari Sampai Juni 2008. (2006). (2002). E.A. Penerbit Buku Kedokteran. 14. Di Unduh dari < http://eprints.E. Diunduh dari <http://yayanakhyar. 17.. Price. EGC.files. Detection.. Jakarta: 21.

Jakarta : Departemen Kardiologi. B. Maramis.J. Di unduh [07 Februari 2015] dari http://www.net/wp-content/uploads/2014/06/Farmakoterapi-Hipertensi-Prof. (2008). 38. Mengatasi tekanan darah tinggi..Ganong’s.F & Bare. Psychiatric Nursing Clinical Guide: Assessment Tools & Diagnosis. P. Tedjakusuma. Artikel faktor – faktor yang mendorong penderita hipertensi kepengobatan tradisional. W. Varcarolis. Review of Medical Physiology. E. D. Majalah Psikiatri Jiwa. Calvin S. 2000. CDK-192 / vol. 1995.4. Dharma. W.al.. Ganong..F. Sumadi. 39. Louis: Mosby Year Book. Peterson.S. Richard S. Dalimartha.iaisumbar.26.dcri. G.di unduh [07 Februari 2015] dari <http://skpa. 34. Santoso. Plume Publisher. JNC-8 New Guidelines. 1999. et. Rasa Bersalah sebagai Motif Mekanisme Difensi pada Gangguan Cemas secara Menyeluruh. Saunders Company.B. Sheps.G. Jakarta : Yayasan Kesehatan Jiwa Dharmawangsa. Philadelphia: W.duke. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. S. 1995. 37. th. (2005).2012. Jakarta : Puslitbang Ekologi Kesehatan 27. Jakarta : Intisari Mediatama 30..W.& Sundeen. Palmer. Jakarta : Erlangga 28. E.jsp 32. RS Premier Jatinegara dan RS Graha Kedoya 31.Finally Let The Controversion Begin. Keneth Hambly. 2000. 64 . Tata Laksana Hipertensi. Jakarta : Arcan. Care yourself hipertensi. A Primer of Freudian Psychology. 1991. Jakarta : CV Rajawali. Buku Ajar Keperawatan Psikiatrik.. 2014. Lazarus.F. Progress on a cognitive-motivational-relational theory of Emotion. 1987. New York: The McGraw-Hill Companies.M. Bagaimana Meningkatkan Rasa Percaya Diri.edu/research/coi. Suryabrata. Stuart. American Psychologist. 41. Jakarta : EGC.D.Prasoedjo. 40. 42. Principles and Practice of Psychiatric Nursing.. 2012.Inc. W. 39 no. St. (2007). Psikologi Kepribadian. 1986. Surabaya : Airlangga University Press. 1995.Surya-Dharma. Tjakrawerdaya. S.pdf> 33. & Zalbawi. 23rd edition. 36. 2014. Penatalaksanaan Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus 29. Smeltzer. Hall. 35. Tekanan Darah Tinggi.A. (2001). 2010. S.

43. Rasmun. Jakarta: CV Sagung Seto. Koping. 2004. dan Adaptasi Teori dan Pohon Masalah Keperawatan. Stress. 65 .