You are on page 1of 36

Tugas Makalah

ANALISIS FARMASI
“Titrasi Bebas Air”

Nama

: Hamzah Azali

NIM

: F1F1 13 098

Kelas

: Farmasi Sains

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Titrasi bebas air adalah titrasi yang tidak menggunakan air sebagai pelarut
tetapi digunakan pelarut organik. Seperti yang telah diketahui asam dan basa yang
bersifat lemah seperti halnya asam-asam organik atau diklorida. Cara titrasi dalam
lingkungan berair tidak dapat dilakukan karena disamping sukar larut dalam air.
Cara penetapan titran bebas air seringkali menimbulkan kesalahankesalahan dan dengan cara ini dapat dihindari dengan cara membuat zat dapar dan
reaktif dalam air. Metode ini memiliki beberapa kentungan misalnya basa-basa
organik dapat dalam pelarut dimana zat-zat itu dapat segera larut. Titrasi berguna
terutama untuk penetapan kadar obat-obatan yang bersifat asam atau basa yang
sangat lemah hingga titik akhir tidak akan terionisasi.
Pelarut yang digunakan dalam titrasi bebas air yaitu dibagi atas dua
golongan yaitu golongan protolisis mislanya benzene, nitrobenzene. Sedangkan
golongan amfiprotolisis misalnya asam asetat glasial. Adapun indikatornya yaitu
berupa senyawa organik.
Adapun hubungan dengan dunia farmasi yaitu dalam hal penentuan kadar
suatu sediaan obat yang sukar larut di dalam air, misalnya obat sulfa- SO 2-NH(Asam) dengan alkali metoksida (basa) dalam pelarut benzen-metanol atau difenil
fermamida.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan titrasi bebas air ?
2. Apa pelarut dan standarisasi yang terdapat dalam titrasi bebas air ?
3. Apa saja indikator yang digunakan dalam titrasi bebas air ?
4. Apa saja keuntungan yang diambil dari metode titrasi bebas air setelah
mereview jurnal ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian titrasi bebas air.
2. Untuk mengetahui pelarut dan standarisasi yang terdapat dalam titrasi bebas
air.

3. Untuk mengetahui indikator yang digunakan dalam titrasi bebas air.
4. Untuk mengetahui keuntungan dari titrasi bebas air setelah mereview jurnal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses
penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap disebut titrasi dan zat akan
ditetapkan, dititrasi. Titik (saat) pada masa reaksi itu tepat lengkap disebut titik
ekuivalen (setara) atau titik akhir teoritis (atau titik akhir titrasi stoikiometri).
Lengkapnya titrasi, lazim harus terdeteksi oleh suatu perubahan yang dapat disalah
lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar itu sendiri (misalnya KMnO 4)
atau lebih lazim lagi oleh penambahan suatu reagensia penambahan pembantu yang
dikenal sebagai indikator. Setelah reaksi antara zat dan larutan standar praktis
lengkap,indikator harus memberi perubahan visual yang jelas (entah suatu perubahan
warna dan pembentukan endapan) dalam larutan yang sedang dititrasi. Titik (saat)
pada mana ini terjadi disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal,titik akhir yang
terlihat akan terjadi berbarengan dengan titik akhir stoikiometri akan teoritis. Namun
dalam praktik biasanya akan terjadi perbedaan yang sangat sedikit ini merupakan
kesalahan (errot) titrasi. Indikator dan kondisi-kondisi eksperimen harus dipilih
sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir terlihat dan titik ekivalen hanyalah
sekecil mungkin. (Besset, 1994).
Asam dan basa telah lama didefinisikan sebagai zat yang, ketika dilarutkan
dalam air, memberikan ion hidrogen dan hidroksil, masing-masing. definisi ini,
diperkenalkan oleh Arrhenius, gagal untuk mengakui kenyataan bahwa sifat
karakteristik dari asam atau basa juga dapat dikembangkan dalam pelarut lainnya.
Definisi yang lebih umum adalah bahwa dari Bronsted, yang didefinisikan asam
sebagai donor proton, dan basis sebagai akseptor proton. Bahkan yang lebih luas
adalah definisi Lewis, yang didefinisikan asam sebagai materi yang akan menerima
pasangan elektron, dasar seperti materi yang akan menyumbangkan pasangan
elektron, dan netralisasi sebagai pembentukan ikatan koordinasi antara asam dan
basa. Kekuatan yang jelas dari asam atau basa ditentukan oleh sejauh mana reaksi
mereka dengan pelarut. Dalam larutan air semua asam kuat muncul sama kuat karena
mereka bereaksi dengan pelarut untuk menjalani konversi hampir lengkap untuk ion
hidronium (H3O+) dan anion asam. Dalam perlarut lemah protophilic seperti asam

asetat, tingkat pembentukan ion acetonium (CH 3COOH2+) terjadi penambahan proton
memberikan diferensiasi lebih sensitif dari kekuatan asam dan menunjukkan bahwa
rangka penurunan kekuatan untuk asam adalah perklorat , bromida, sulfat, klorida,
dan nitrat. (Anonim, 2015).
Asam asetat bereaksi tidak lengkap dengan air untuk membentuk ion
hidronium dan, karena itu, adalah asam lemah. Sebaliknya, larut dalam basa seperti
etilendiamin, dan bereaksi sehingga pelarut benar-benar berperilaku sebagai asam
kuat. efek perataan ini disebut diamati juga untuk basa. Dalam asam sulfat hampir
semua permukaan tampak dari kekuatan yang sama. Sebagai sifat asam dari
penurunan pelarut dalam asam sulfat seri, asam asetat, fenol, air, piridin dan
butylamine, basa terlarut di dalamnya menjadi semakin lemah dan perbedaan antara
dasar yang ditekankan. Dalam rangka penurunan kekuatan, basa kuat nilai untuk
titrasi bebas air adalah metoksida kalium, natrium metoksida, lithium metoksida, dan
tetrabutilamonium hidroksida (Anonim, 2015)
Reagensia dengan konsetrasi yang diketahui disebut titran dan zat yang
sedang dititrasi disebut titer. Untuk digunakan dalam analisis titrimetri. Suatu rekasi
harus memenuhi kondisi-kondisi berikut; 1) Harus ada suatu reaksi yang
sederhana,yang dapat dinyatakan dalam suatu penamaan kimia, zat yang akan
ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan reagensia dalam proporsi yang stoikiometri
atau ekuivalen, 2) Reaksi harus berlangsung dengan sekejap atau berjalan dengan
sangat cepat sekali (kebanyakan reaksi ionic memenuhi kondisi ini). Dalam beberapa
keadaan,penambahan suatu katalis akan menaikkan kecepatan reaksi itu, 3) Harus ada
perubahan yang mencolok dalam energi bebas, yang dapat menimbulkan perubahan
dalam beberapa sifat fisika atau kimia larutan pada titik ekuivalen, 4) Harus tersedia
suatu indikator, yang oleh perubahan sifat-sifat fisika (warna atau pembentukan
endapan), harus dengan tajam menetapkan titik akhir titrasi. Jika tak tersedia
indikator yang dapat dilihat mata untuk mendeteksi titik ekuivalen (Jenkins, 1967).
Titrasi bebas air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum
digunakan untuk uji-uji dalam farmkape. Metode ini mempunyai dua keuntungan

yaitu; 1) Metode ini cocok untuk titrasi asam atau basa yang sangat lemah, 2)
Pelarutyang digunakan adalah pelarut organik yang juga mampu melarutkan analitanalit organik. Prosedur-prosedur yang paling digunakan untuk titrasi basa organik
adalah dengan menggunakan titrasi asam perklorat dalam asam asetat. Titrasi bebas
air ada dua yaitu titrasi bebas air basa-basa lemah dan titrasi bebas air asam-asam
lemah (Gandjar, 2007).
Titrasi bebas air relatif sederhana dan dapat dilakukan secara tepat dan teliti.
Asam hidroksi benzoate dan turunannya dapat ditetapkan secara titrasi bebas air.
Dalam pelarut basa, gugus hidroksil fenol dapat dititrasi sebagai asam sebaik gugus
karboksilat. Asam salisislat setelah dilarutkan dalam dimetil formamid dapat dititrasi
dengan dengan natrium metoksida dengan indicator ozo violet atau secara
potensiometri. Pada titrasi potensiometri, asam salisilat menunjukkan dua buah titik
akhir karena baik gugus hidroksil maupumn karboksil keduanya tertitrasi. Untuk
asam P hidroksil benzoat tidak dapat dititrasi dengan metode ini sebab membentuk
endapan yang menyebabkan titik akhir pucat. Asam salisilat dapat dititrasi sebagai
asam karboksilat dalam benzene-metanol dan dalam asetoniril dengan titran natrium
metilat dalam benzen methanol dengan indicator biru timol. Amonium, litium, dan
natrium salisilat dapat dititrasi dalam asam asetat glasial dengan asam perklorat. Titik
akhir dapat ditetapkan dengan indikator Kristal violet atau secara potensiometri.
(Sudjaji.2008; 17)
Penentuan dalam pelarut bebas air penting bagi zat yang dapat memberikan
titik akhir rendah di titrasi air normal dan untuk zat-zat yang tidak larut dalam air.
Mereka sangat penting untuk menentukan sifat-sifat komponen individu dalam
campuran asam atau campuran basa. titrasi diferensial ini dilakukan dalam pelarut,
yang tidak mengerahkan efek meratakan. Meskipun indikator dapat digunakan untuk
menetapkan titik akhir individu, seperti dalam titrasi asam-basa tradisional, metode
potensiometri deteksi titik akhir juga digunakan secara luas, terutama untuk solusi
yang sangat berwarna. titrasi non berair telah digunakan untuk mengukur campuran
dari amina primer, sekunder dan tersier, untuk mempelajari sulfonamid, campuran

purin dan bagi banyak senyawa amino organik lainnya dan garam asam organik (Yar,
2007).
Selain dalam air, reaksi asam basa juga dapat berlangsung dalam pelarut non
air. Sebenarnya pemeriksaan ini agak baru dalam pemeriksaan kimia, tetapi untuk
pemakaiannya kini digunakan untuk senyawa organik maupun anorganik,
sesungguhnya dalam titrasi bebas air ini juga berlangsung reaksi netralisasi.
Walaupun cara ini terhitung baru namun para analis telah merasakan betapa cara ini
memiliki beberapa keuntungan diantaranya untuk senyawa yang tidak dapat larut
dalam air,dapat larut dalam air, dapat larut dalam pereaksi yang mudah didapat dan
dikenal. Sehingga untuk menentukan kadarnya tidak kesulitan dalam mencari pelarut
yang lain untuk melarutkannya. Keuntungan lain dengan pemakaian metode ini
adalah karena dalam percobaan digunakan pelarut non air seperti asam asetat glacial,
pelarut ini memiliki kekuatan asam basa yang sangat kuat (Yurida, 2013).
Metode titrasi bebas air dikembangkan untuk assay yang sensitivitas ledak
tinggi. Metode ini sederhana, cepat dan memiliki akurasi dan presisi yang baik
(Nandi, 2012). Titrasi bebas air adalah prosedur yang sering titrimetri digunakan
dalam prosedur farmakope dan membantu menggandakan tujuan, karena cocok untuk
titrasi asam lemah dan basa dan menyediakan pelarut di mana senyawa organik yang
larut. Sederhana, hemat biaya, cepat, dan metode tepat untuk penentuan loratadine
(LOR) dalam bentuk sediaan murni dan perkembengan farmasi (Hamd, 2016).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Titrasi Bebas Air

Asam-asam dan basa-basa lemah seperti alkaloid dan asam-asam organik
sukar larut dalam air dan kurang reaktif tidak dapat ditetapkan kadarnya secara
titrasi dengan asam atau basa (asidimetri atau alkalimetri) dalam pelarut air.
Kesulitan ini dapat diatasi dengan melaksanakan titrasi dalam lingkungan yang
bebas air atau menggunakan pelarut yang bukan air.
Pada dasarnya titrasi bebas air termasuk reaksi netralisasi juga, tetapi
berbeda dengan konsep netralisasi dari Arhenius yang menyatakan bahwa reaksi
netralisasi adalah reaksi antara ion-ion hydrogen dengan ion-ion hidroksida dalam
larutan asam-basa berair; titrasi suatu senyawa asam dengan larutan baku basa;
titrasi suatu senyawa basa dengan larutan baku asam. Dalam larutan berair
netralisasi juga dapat diinterpretasikan sebagai reaksi antara pemberi proton
(proton donor) dan penerima proton (proton akseptor).
Teori TBA sangat singkat, sebagai berikut : air dapat bersifat asam lemah
dan basa lemah. Oleh karena itu, dalam lingkungan air, air dapat berkompetisi
dengan asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah dalam hal menerima atau
memberi proton, sebagaimana ditunjukkan pada reaksi:
H2O + H+
H3O+
Akan berkompetisi dengan RNH2 + H+
H2O + B
OH + BH+
Akan berkompetisi dengan ROH + B

RNH3+
RO- + BH+

Reaksi kompetisi air dengan asam lemah dengan basa lemah untuk
memberi atau menerima proton. Adanya pengaruh kompetisi ini berakibat pada
kecilnya titik infleksi pada kurva titrasi asam sangat lemah dan basa sangat lemah
sehingga mendekati batas pH 0 dan 14. Oleh karena itu deteksi titik akhir titrasi
sangat sulit. Sebagai aturan umum : basa-basa dengan pKa < 7 atau asam-asam
dengan pKa > 7 tidak dapat ditentukan kadarnya secara tepat pada media air.
Berbagai macam pelarut organic dapat digunakan untuk menggantikan air, karena
pelarut-pelarut ini kurang berkompetisi secara efektif dengan analit dalam hal
menerima atau memberi proton.
1. Asidimetri Dalam Pelarut Bebas Air

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantatif terhadap
senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam.
Analisis titrimetri dari sejumlah senyawa-senyawa basa lemah dalam
asam asetat glacial memungkinkan untuk menggunakan larutan baku asam
perklorat sebagai titran. Senyawa-senyawa tersebut adalah senyawa-senyawa
amina, garam-garam amina, garam-garam alkali dari asam-asam organik,
garam-garam dari asam-asam anorganik lemah, dan asam-asam amino.
2. Alkalimetri Dalam Pelarut Bebas Air
Alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat
asam dengan menggunakan baku basa.
Beberapa senyawa yang bersifat asam lemah dapat ditetapkan
kadarnya secara kuantitatif dalam pelarut bebas air yang sesuai dengan titik
akhir yang tajam.Senyawa-senyawa tersebut adalah asam-asam halide, asamasam anhidrida, asam-asam amino, fenol, sulfonamide, dan garam-garam
organic dari asam-asam organic.
Asam borat yang merupakan asam anoganik lemah dapat dengan
mudah dititrasi dengan menggunakan etilendiamin sebagai titran. Ketiga H +
dari H3BO3 dapat dideteksi dengan menggunakan potensiometer untuk
mengamati terjadinya titik akhir titrasi.

3. Pelarut
Titrasi bebas air (TBA) merupakan produser titrimetri yang paling
umum yang digunakan untuk uji-uji dalam farmakope. Metode ini mempunyai
2 keuntungan, yaitu (i) Metode ini cocok untuk titrasi asam-asam dan basabasa yang sangat lemah, dan (ii) pelarut yang digunakan adalah pelarut
organik yang juga mampu melarutkan analit-analit organik. Prosedur yang
paling umum digunakan untuk titrasi basa-basa organik adalah dengan
menggunakan titran asam perklorat dalam asam asetat.

Adanya air harus dihindari pada titrasi bebas air, karna adanya H 2O
yang merupakan basa lemah akan berkompetisi dengan basa-basa nitrogen
lemah untuk bereaksi dengan asam perklorat (HClO4) yang digunakan sebagai
titran menurut reaksi:
H2O + HClO4

H3O+ + ClO4-

RNH2 + HClO4

RNH3 + ClO4-

Disamping itu dengan adanya air maka ketajaman titik akhir juga akan
berkurang. Secara eksperimen, adanya air tidak boleh lebih dari 0,05%
sehingga tidak mengakibatkan pengaruh yang nyata pada pengamatan titik
akhir titrasi. Untuk lebih memahami tentang titrasi bebas air, berikut adalah
definisi istilah pelarut yang digunakan :
a. Pelarut Aprotik
Adalah pelarut yang dapat menurunkan ionisasi asam-asam danbasabasa. Termasuk dalam kelompok pelarut ini adalah pelarut-pelarut non polar
seperti benzene, karbon tetraklorida serta hidrokarbon alifatik.
b. Pelarut protofilik (proto = proton, filik = suka)
Adalah pelarut yang dapat menaikkan ionisasi asam lemah dengan
menggabungkan proton yang dimilikinya. Dengan demikian senyawasenyawa yang bersifat basa seperti n-butil amin, piridin, dimetil formamid,
trimetil amin termasuk dalam kelompok ini. Pelarut ini biasa digunakan dalam
analisis senyawa-senyawa yang bersifat asam lemah seperti fenol.
c. Pelarut protogenik
Adalah pelarut yang menghasilkan proton. Yang termasuk dalam
kelompok ini adalah asam-asam kuat seperti asam klorida dan asam sulfat.
Pelarut kelompok ini kurang bermanfaat dalam titrasi bebas air.
d. Pelarut amfiprotik

Adalah pelarut yang mempunyai sifat gabungan dari protofilik dan
protogenik sehingga pelarut ini dapat menghasilkan atau menerima proton.
Yang termasuk pelarut kelompok ini adalah air, alcohol, dan asam asetat
glacial. Sebagai contoh asam asetat dapat menghasilkan ion asetat dan proton.
4. Kemampuan Pelarut Untuk Mendiferensiasi
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa air meratakan mineral – mineral
yang terdapat di dalam asam-asam perklorat, klorida, dan nitrat. Artinya,
dalam larutan berair, asam ini nampak sama kuat. Namun dalam pelarut asam
seperti asam asetat, kekuatan asam perklorat yang lebih besar atas, misalnya
asam klorida, memungkinkan asam perklorat untuk dititrasi dalam satu tahap
terpisah dari asam klorida tersebut. Dari kedua kesetimbangan:
HClO4 + HOAc

H2OAc+ + ClO-4

HCl + HOAc

H2OAc+ + Cl-

Yang pertama berjalan lebih banyak kekanan dari pada yang kedua.
Sehingga dalam titrasi suatu campuran dua asam dalam pelarut asam asetat,
terhadap dua patahan dalam kurva titrasi, dan asam tersebut dikatakan
terdiferensiasi.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih pelarut :
1.
2.
3.
4.

Kelarutan dari senyawa=senyawa yang akan dianalisis dalam pelarut.
Kekuatan elatif kebasaan dari pelarut.
Ketajaman titik akhir.
Ketidakreaktifan pelarut.

B. Larutan Baku
Semua perhitungan dalam titrimetri didasarkan pada konsentrasi titrasi
titran sehingga titran harus dibuat secara teliti. Titran semacam ini disebut dengan

larutan baku (standar). Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan normalitas,
molaritas, atau bobot per volume.
Suatu larutan standar dapat dibuat dengan cara melarutkan sejumlah
senyawa baku tertentu yang sebelumnya senyawa tersebut ditimbang secara tepat
dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Larutan standar ada dua macam
yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer
mempunyai kemurnia yang tinggi. Larutan baku sekunder harus dibakukan
dengan larutan baku primer. Suatu proses dimana larutan baku sekunder
dibakukan dengan larutan baku primer disebut dengan standarisasi.
Suatu senyawa dapat digunakan sebagai baku primer jika memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
a) Mudah didapat, dimurnikan, dikeringkan dan disimpan dalam keadaan
murni
b) Mempunyai kemurnia yang sangat tinggi atau dapat dimurnikan dengan
penghabluran kembali
c) Tidak berubah selama penimbangan (zat yang higroskopis bukan
merupakan baku primer)
d) Tidak teroksidasi oleh O2 dari udara dan tidak berubah oleh CO2 dari
udara
e) Susunan kimianya tepat sesuai jumlahnya
f) Mempunyai berat ekivalen yang tinggi, sehingga kesalahn penimbangan
akan menjadi lebih kecil
g) Mudah larut
h) Reaksi dengan zat yang ditetapkan harus stoikiometri, cepat dan terukur
1. Larutan Baku pada Asidimetri Pelarut Bebas Air
Titran yang paling sering digunakan adalah asam perklorat, dalam
pelarut asam asetat glacial atau pelarut yang relative netral seperti dioksan.
Titran ini berfungsi sebagai larutan baku. Asam Perklorat merupakan asam
terkuat yang sudah umum yang bereaksi sempurna dengan basa-basa lemah.
2. Larutan Baku pada Alkalimetri Pelarut Bebas Air

Titran yang sering digunakan pada TBA senyawa-senyawa yang
bersifat asam lemah adalah natrium metoksida, litium metoksdia dalam
methanol, atau tetrabutil ammonium hidroksida dalam dimetilformamid.
Kalium metoksida yang merupakan basa yang lebih kuat, tidak digunakan
karena dapat membentuk endaan gelatinus. Dalam beberapa keadaan yang mana
natrium metoksida juga membentuk endapan gelatinus maka litium metoksida
merupakan pilihan. Titran-tiran basa lainnya adalah natrium aminometoksida
(merupakan basa yang paling kuat), dan natrium trifenilmetan yang digunakan
untuk senyawa-senyawa yang bersifat asamm lemah seperti fenol dan pirol.
C. Standarisasi
1. Larutan baku primer
Larutan baku primer tidak diharuskan untuk distandarisasi karena
larutan baku primer memiliki kemurnian yang tinggi dan stabil sehingga
konsentrasinya sudah diketahui secara pasti.
2. Larutan baku sekunder
Larutan baku sekunder harus dilakukan pembakuan (standarisai)
karena sifatnya tidak stabil dan kemurniannya rendah. Pembakuan larutan
baku sekunder dilakukan dengan larutan baku primer yang sudah diketahui
konsentrasinya. Berikut adalah tabel larutan baku sekunder beserta baku
primernya untuk standarisasi:
No
.

Larutan Baku

Baku Primer
H2C2O4 (as. oksalat), C6H5COOH (as.

1.

NaOH

benzoat), KHP
Na2B4O7 (nat. tetraborat), Na2CO3 (nat.

2.

HCl

karbonat)

3.
4.

KMnO4
Iodium

H2C2O4, As2O3 (arsen trioksida)
As2O3, Na2S2O3.5H2O baku (nat. tio

sulfat)
5.

Serium (IV) Sulfat

As2O3, serbuk Fe pa.

6.

AgNO3

NaCl, NH4CNS

7.

Na2S2O3

K2Cr2O7, KBrO3, KIO3

8.

EDTA

CaCO3 pa, Mg pa

3. Perhitungan standarisasi
Standarisasi larutan baku sekunder dilakukan dengan larutan baku primer
yang sudah diketahui normalitasnya. Standarisasi larutan baku sekunder
dilakukan dengan cara titrasi, sehingga besar normalitas larutan baku
sekunder dapat dihitung dengan persamaan berikut:
m.ek titran = m.ek titrat
N1. V1

= N2. V2

Dimana persamaan diatas didasarkan pada titik ekivalen. Saat titik
ekivalen terjadi, sejumlah mol titran bereaksi dengan sejumlah mol titrat secara
kuantitatif (m.ek titran= m.ek titrat).
a. Contoh pembakuan asam perklorat 0,1 N
Prosedur
Timbang kurang lebih 700 mg kalium biftalat secara saksama (sebelumnya
dipanaskan pada suhu 105o C selama 3 jam, larutan dalam asam asetat glacial
dalam erlenmeyer 250 ml. Tambahkan 2 tets indikator Kristal Violet dan
titrasi dengan asam perklorat hingga warna violet menjadi biru kehijauan.
Tiap ml asam perklorat 0,1N setara dengan 20,42 mg kalium biftalat.
b. Contoh pembakuan Natrium metoksida
Prosedur
Larutkan kurang lebih 400 mg asam benzoate yang ditimbang saksama dalam
80 ml dimetil formamida, tambahkan 3 tetes indikator timol blue dan titrasi
dengan Natrium metoksida sampai terbentuk warna biru. Lakukan koreksi

banyaknya volume Natrium Metoksida yang diperlukan untuk mentitrasi 80
ml dimetil formamida.
Tiap ml Natrium metoksida 0,1 N setara dengan 12,21 mg asam benzoate
D. Indikator
Netralisasi adalah reaksi anatar ion H+ dari asam dan ion OH- dan
membentuk molekul air. Reaksi netralisasi harus sesempurna mungkin. Untuk
mencapai maksud tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti tersebut
dibawah ini:
1. Dengan terbentuknya hasil reaksi yang mengalami disosiasi lemah
2. Dengan terjadinya hasil reaksi sebagai gas atau sebagai endapan
3. Dengan memisahkan ion sebagai ion kompleks
Untuk menentukan titik akhir titrasi (titik ekivalen) pada proses
netralisasi ini digunakan indikator.
Menurut W.Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik komplek
dalam bentuk asam (Hln) atau dalam bentuk basa (InOH) yang mampu dalam
berada dalam keadaan dua macam warna yang berbeda dan dapat saling
berubah warna dari bentuk yang lain pada konsentrasi H+ atau pada pH
tertentu.
Indikator yang berupa asam Hln

H+ + In-…………..(1)

Indikator yang berupa basa InOH

In+ + H-…………..(2)

Warna
bentuk molekul

warna
bentuk ion

Suatu indikator yang berupa asam organik menurut persamaan
keseimbangan (1), apabila dalam larutan banyak ion H+ atau dalam suasana
asam maka keseimbangan akan kekiri, yaitu kearah betuk molekul yang tidak
terion. Sebaliknya, dalam suasana basa keseimbangan akan bergeser kekanan

sehingga indikator akan lebih banyak terion, dan warna yang ditunjukkan
merupakan warna dalam bentuk ionnya.
a. Indikator untuk Titrasi bebas air
Bentuk resonansi yang berbeda dari indikator berlaku baik untuk
titrasi bebas air tapi perubahan warna pada titik akhir titrasi untuk bervariasi
dari titrasi, karena mereka bergantung pada sifat titran. Warna sesuai dengan
titik akhir yang benar dapat didirikan dengan melakukan titrasi potensiometri
sambil mengamati perubahan warna indikator.
Mayoritas titrasi bebas air dilakukan dengan menggunakan berbagai
indikator yang cukup terbatas disini adalah beberapa contoh yang khas.
a) Kristal Violet : Digunakan sebagai 0,5% b/v larutan dalam asam asetat glasial.
Berubah warna dari ungu adalah melalui biru diikuti oleh hijau, kemudian
menjadi kuning kehijauan, dalam reaksi dimana basa seperti piridin yang
dititrasi dengan asam perklorat.
b) Red : Digunakan sebagai solusi b/v 0,2% dalam dioksan dengan kuning
untuk mengubah warna merah.
c) Naftol Benzein : Bila dipekerjakan sebagai solusi b / v 0,2 % dalam asam
etanoat memberikan kuning untuk mengubah warna hijau. Ini memberi poin
akhir tajam di nitro merana yang mengandung anhidrida etanoat untuk titrasi
basa lemah terhadap asam perklorat.
d) Quenaldine Merah : Digunakan sebagai indiktor untuk penentuan obat dalam
larutan dimetilformamida. Sebuah solusi b / v 0,1 % dalam etanol
memberikan perubahan warna dari merah ungu ke hijau pucat.
e) Biru Timol : Digunkan secara luas sebagai indikatoruntuk tritasi zat bertindak
sebagai asam dalam larutan dimentil formamida. Sebuah solusi b / v 0,2 %
dalam metanol memberikan perubahan warna yang tajam dari kuning ke biru
pada titik akhir.

b. Indikator untuk Asidimetri dalam Pelarut Bebas Air
Untuk titrasi basa lemah dan garam-garamnya:
1.
2.
3.
4.
5.

Kristal Violet
Metilrosanilin klorida
Merah kuinaldin
Alfa – naftol benzein
Hijau malakit

Untuk senyawa basa yang relative lebih kuat:
1. Metal merah
2. Metal orange
3. Timol blue
c. Indikator untuk Alkalimetri dalam Pelarut Bebas Air
Pengamatan titk akhir dapat menggunakan potensiometer atau secara
visual. Penggunakan potensiometer merupakan pemilihan utama untuk
menentukan titik akhir titrasi bebas air. Pemilihan indikator secara visual
berdasarkan

pengalaman

empiric

dan

dilakukan

secara

trial

and

error.Pengalaman menunjukan bahwa azo violet merupakan indikator pilihan
untuk titrasi asam-asam yang keasamanya lemah atau medium dalam pelarut
dimetil formamid.
Dalam tritasi dengan logam alkoholat, azo violet akan berubah warna
sebelum timol blue. Warna biru cerah merupakan warna titik akhir titrasi
untuk indikator azo violet dan timol blue.
d. Tetapan Dielektrik
Suatu asam-basa dalam pelarut SH akan mengalami keseimbangan
sebagai berikut :
HB + SH

H2S + B-

Dalam pelarut yang memiliki konstanta dielektrik yang tinggi
pasangan ion tersebut akan terdisosiasi sempurna membentuk ion bebas.
H2S + B-

H2S+ + B-

Sehingga reaksi keseluruhan yang terjadi adalah :
HB + SH

H2S+ + B-

Disimpulkan bahwa keasaman dan kebasahan suatu senyawa
bergantung pada tetapan ionisasi (Ki) dan tetapan disosiasi (Kd) dari pelarut
yang digunakan untuk senyawa asam kuat dapat diasumsikan bahwa Ki >>> 1
maka Ka=Kd dan Kb=Kd. Sedangan untuk asam atau basa lemah diasumsikan
bahwa Ki<<HNO3>HOAc dan menyetarakan keasaman asam mineral HClO 4,
H2SO4, HCl dan HNO3. Dari kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa
asam dan basa dalam pelarut amfiprotik kesempurnaan reaksinya bergantung
pada karakter keasaman dan kebasaan pelarut, tetapan dielektrik pelarut,
keasaman dan kebasaan senyawa, tetapan autoprotolis pelarut.
E. Penetapan Kadar
1. Titrasi Bebas Air Cara I ( FI III:823)
Untuk basa dan garamnya kecuali dinyatakan lain, larutkan sejumlah
zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi dalam sejumlah
volume asam asetat glacial P yang sebelumnya telah dinetralkan dengan asam
perklorat 0,1N menggunakan indicator Krital Violet P, bila perlu dihangatkan
kemudian didinginkan. Titrasi dengan asam perklorat 0,1N hinga perubahan
warna indikator sampai sesuai dengan harga maksimum dF/dV. Jika titrasi
dilakukan secara potensiometri, E adalah daya elektrotik dalam mV dan V
adalah volume dalam ml.
2. Penetapan Kadar Natrium Siklamat
Lakukan penetapan menurut Cara I yang tertera pada Titrasi bebas air,
menggunakan lebih kurang 400mg yang ditimbang saksama dan dilarutkan
dalam 100 ml asam asetat glasial P dengan pemanasan.
1 ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 20,12 mg C6H12NNaO3S

CONTOH DATA
Sampel
Natrium Siklamat (BM
201,22)
1
2
3

% Kadar
=

V . N . BE
ml sampel

Berat Sampel

Volume Titran

(m)

(ml)

260
260
260

8,75
9,00
9,50

x
100%

% Kadar
1=

7,75 x 0,1470 x
201,2
260

x
100%

=
88,1604
%

% Kadar
2

7,70 x 0,1470 x
201,2
260

x
100%

=
87,5916%

% Kadar
3

7,75 x 0,1470 x
201,2
260

x
100%

=
88,1604%

F. Review Jurnal
Non-Aqueous Titrimetric Assay for Determination of Loratadine in
Pharmaceutical Preparations
1. Pendahuluan
Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, untuk mengetahui metode cepat
yang bisa dengan mudah digunakan untuk penentuan persentase kemurnian dari
basa lemah dan obat tidak larut seperti LOR (pKa = 5.0) di bahan baku dan juga
dalam sediaan farmasi . Kedua, untuk menemukan lagi lama-fashion, teknik yang
kuat, akurat dan tepat dari titrasi bebas air, khususnya penentuan kuantitatif dalam
kisaran konsentrasi prosedur dikembangkan. tinjauan diuraikan sebelumnya
dilaporkan kuantitatif volumetrik dan instrumentasi metode untuk penentuan LOR
dan antagonis antihistaminic lainnya analog disiapkan oleh El-Kommos et al.
Reaksi kimia dan variabel titrimetri dipelajari dan dioptimalkan atas dasar
konsentrasi determinan lebih rendah, suhu, dan konsumsi reagen, dan hasil yang
diperoleh dengan metode yang diusulkan titrimetri sebanding dengan yang
diperoleh dengan metode yang dilaporkan dalam instrumental.

2. Percobaan
a. Bahan
Tablet LOR, suspensi (yang diklaim mengandung 5 dan 10 mg masingmasing untuk tablet dan suspensi) dan obat standar LOR murni yang ramah
disediakan oleh Medical Union Farmasi (MUP, Kairo, Mesir). Gliserin
dimasukkan-LOR nanopartikel disiapkan di laboratorium departemen farmasi,
Fakultas Farmasi, Universitas Al Azhar (Assuit, Mesir). asam asetat glasial
(CH3COOH), asam perklorat (HClO4 , 70% w / v) dan bubuk kristal violet
diperoleh dari El Nasr Chemical Co, (Abu Zaabal, Mesir). Semua bahan kimia
yang digunakan melalui studi yang analitis reagen kelas.
3. Metode
a. Persiapan asam dan kristal violet perklorat solusi
HClO4 (0,1 M) disiapkan di CH3COOH dan standar dengan kalium hidrogen
ftalat. Crystal violet (0,1% w / v) indikator dibuat dengan melarutkan jumlah
yang tepat dari bubuk di CH3COOH.
b. Prepartion larutan LOR standar
Sebuah akurat ditimbang 2,0 g obat dengan hati-hati dipindahkan ke dalam
labu ukur 100 mL. bubuk dilarutkan dalam CH 3COOH dan kemudian
diencerkan tanda dengan asam yang sama.
c. Persiapan LOR dalam bentuk sediaan farmasi
Dua puluh tablet yang akurat ditimbang dan halus bubuk dan dicampur secara
menyeluruh. Suspensi dan gliserin dimasukkan-LOR nanopartikel isinya
diuapkan lembut di piring panas sampai kekeringan. Jumlah akurat ditimbang
isi setara dengan 0,5 g dipindahkan ke 25 mL labu volumetrik dan dilarutkan
dalam volume yang sesuai CH3COOH. volume terdilusi menjadi tanda dengan
asam yang sama, dicampur dengan baik dan disaring menggunakan Whatman
No. 45 um kertas filter. pengenceran lebih lanjut dengan CH3COOH dilakukan
untuk mendapatkan solusi sampel 2,0-20,0 mg / mL, dan kemudian prosedur
analitis umum diikuti.
4. Prosedur analitis umum

Salah satu mililiter larutan standar yang mengandung 2,0-20,0 mg / mL
LOR dipindahkan ke 50 mL kerucut labu kering dan volume dibuat sampai
dengan 10 mL dengan CH3COOH. Dua tetes indikator kristal violet ditambahkan
dan larutan dititrasi dengan larutan standar HClO4. Titik akhir tercapai bila warna
indikator dikonversi dari ungu pingsan biru. titrasi blanko dilakukan dengan cara
yang sama dan faktor koreksi yang diperlukan dilakukan.
Jumlah LOR di aliquot diukur dihitung dari rumus berikut:

Jumlah LOR (mg)

¿

V x MW x M
n

Dimana, V = mL HClO4 dikonsumsi, MW = massa molekul relatif LOR, M =
Molaritas dari HClO4 dan n = Jumlah mol HClO4 bereaksi dengan masingmasing mol LOR.
5. Hasil dan Pembahasan
Titrasi bebas air banyak digunakan dalam Farmakope untuk pemeriksaan
banyak zat obat berdasarkan sifat-sifat obat yang baik basa lemah bersifat asam
atau lemah. Di sini dalam metode titrimetri yang dikembangkan, kami mencapai
penentuan cepat LOR, tidak hanya dalam formulasi yang strategis (tablet dan
emulsi), tetapi juga dalam gliserin dimasukkan-LOR nanopartikel baru; yang
diformulasikan untuk meningkatkan kelarutan LOR dalam formulasi baru, tanpa
pra-ekstraksi. Gliserin baru disiapkan dimasukkan-LOR nanopartikel yang
diperiksa oleh sinar laser dengan sinar insiden 633 nm pada sudut hamburan dari
90° menggunakan alat Malvern Zetasizer nano 6.01 (Malvern Instrumen GmbH,
Herrenberg, Jerman). Nanopartikel dengan seragam Z rata diameter 334 ± 76 nm
(Gambar 2) dan indeks polidispersitas 0,253, yang menunjukkan stabilitas
nanopartikel siap, apalagi homogenitas ukuran partikel dalam suspensi sebagai
akibat dari distribusi ukuran partikel jatuh dalam kisaran sempit ukuran [10/08].

Metode yang diusulkan didasarkan pada reaksi netralisasi antara LOR
(basa lemah) dan HClO4 acetous (asam kuat dalam CH3COOH). Properti
amphiprotic dari CH3COOH menjadikannya pelarut ideal untuk titrasi bebas air;
properti amphiprotic ini terkait dengan kemampuannya untuk menyumbangkan
dan menerima proton menurut persamaan ini:

Ketika HClO4 dilarutkan dalam CH3COOH, CH3COOH dipaksa untuk bertindak
sebagai dasar dan menerima proton dari HClO4 membentuk ion onium. ion onium
terbentuk (CH3COOH2 +) bisa sangat mudah menyerah proton untuk bereaksi
dengan LOR, properti sehingga dasar obat ditingkatkan. Titik akhir dideteksi
dengan mudah dengan kristal violet sebagai perubahan warna dari warna ungu
pingsan warna biru.

Figure 2: Particle size distribution of glycerin incorporated-LOR nanoparticles
measured using dynamic light scattering.
6. Validasi metode
Semua hasil dinyatakan sebagai persentase, dengan mewakili jumlah nilai.
a. Presisi dan akurasi:

Ketepatan metode ini dihitung dari segi presisi menengah (intra-day dan interday). Tiga konsentrasi yang berbeda dari LOR dianalisis dalam tujuh ulangan
pada hari yang sama (presisi intra-day) dan lima hari berturut-turut (presisi
inter-day). Persentase relatif standar deviasi (RSD,%) nilai-nilai yang ≤ 2,3%
(intra-day) dan ≤ 4,1% (inter-day) menunjukkan presisi tinggi dari metode ini.
Juga, akurasi metode dievaluasi sebagai persentase kesalahan relatif (RE,%)
dan dari hasil yang ditunjukkan pada Tabel 1, jelas bahwa akurasi memuaskan
(RE ≤ 15%).
b. Penerapan metode yang diusulkan:
Keberhasilan metode ini diterapkan untuk mengukur LOR di tablet-nya,
suspensi, dan gliserin nanopartikel (Tabel 2)-LOR dimasukkan. Hasil yang
diperoleh secara statistik dibandingkan dengan orang-orang dari metode
dilaporkan dengan menerapkan t-test pelajar untuk akurasi dan F-test untuk
presisi. perbedaan tidak ada signifikansi yang diperoleh antara metode yang
diusulkan dan dilaporkan pada tingkat kepercayaan 95% sehubungan dengan
presisi dan akurasi. Untuk mengkonfirmasi keabsahan metode yang diusulkan,
percobaan recovery dilakukan melalui prosedur penambahan standar. Untuk
jumlah konstan dan diketahui LOR dalam bubuk, tablet (isi 20 mg LOR) dan /
atau suspensi (sebelum langkah penguapan), obat murni ditambahkan pada
tiga tingkat, 50, 100 dan 150% dari tingkat hadir dalam bentuk sediaan, dan
total diukur lima penentuan dipisahkan tanpa gangguan dalam tes dari
eksipien lain yang hadir dalam formulasi seperti yang ditunjukkan pada Tabel
2.
Tabel 1. Akurasi dan Presisi Intra dan Inter-day
LOR
taken, mg
2.0
5.0

Intra-day, n=5
LOR
founda, mg
1.8
4.8

Inter-day, n=5

RSDb%

REc%

2.3
1.5

-10.0
-4.0

LOR
founda, mg
1.7
4.6

RSDb%

REc%

4.1
2.0

-15.0
-8.0

10.0
10.3
0.9
3.0
10.4
1.3
Ket ; aMean value of n determinations; bRelative Standard deviation; cRE: ((FoundTaken)/Taken) × 100)

4.0

Tabel 2. Recovery Study Mengguanakan Metode Penambahan Standar.
Dosage
Forms

LOR
Tablets
LOR
Syrups
Glycerin
incorporated- LOR
nanoparticles

Proposed titrimetric method
Analyze
Pure
Total Pure LOR Analyz
d LOR
LOR
found,
± SD%
ed
content added,
mg
LOR
s, mg
mg
content
s, mg
9.8
4.9
13.6
92.7 ± 0.4
9.9
9.8
9.8
18.9
96.7 ± 0.2
9.9
9.8
14.7
23.3
95 ± 0.5
9.9
4.9
2.5
7.9
93.1 ± 0.8
4.9
4.9
4.9
8.8
89.7 ± 0.2
4.9
4.9
7.4
12.1
98.1 ± 0.4
4.9
19.8
10.0
28.5
98.4 ± 0.7
19.8
19.7
39.3
99.4 ± 0.5
19.8
30.0
49.3
99.1 ± 0.1

Reported method
Pure
Total Pure LOR ±
LOR found,
SD%
added,
mg
mg
5.0
19.9
15.0
2.5
4.8
7.0

13.9
19.5
24.3
7.5
8.8
12.6

Ket ; No published method for determinations of glycerin incorporated-LOR
nanoparticles, without extraction
7. Kesimpulan
Metode titrasi bebas air yang diusulkan sederhana dan biaya yang efektif
untuk penentuan LOR (atau analog struktural lainnya) dalam persiapan murni dan
komersial. Rentang langsung dan berbagai penerapan metode yang dikembangkan
untuk pengendalian kualitas rutin menggunakan mapan oleh assay dari LOR
dalam formulasi farmasi murni dan berbeda. Kelalaian LOR tidak ada atau
langkah ekstraksi dengan pelarut organik merupakan prestasi tambahan untuk
metode kami yang diusulkan.

96.2 ± 0.1
100.9 ± 0.1
99.7 ± 0.0
84.7 ± 0.1
98.7 ± 0.0
97.2 ± 0.1

Assay of the Insensitive High Explosive FOX-7 by Non-Aqueous Titration
1. Pendahuluan
1,1-Diamino-2,2-dinitroethene (FOX-7) telah diterima meningkatkan
minat sebagai peledak tinggi karena sensitivitas yang lebih rendah dan kinerja
yang sebanding dengan RDX. Sejak itu dikembangkan pada akhir 1990-an,
penelitian dan pengembangan di FOX-7 telah dilanjutkan dengan minat yang
besar dalam proses pengembangan dan skala hingga pilot plant, serta evaluasi
sifat-sifatnya dan kinerja. Laboratorium ini juga telah mendirikan teknologi
manufaktur untuk FOX-7 di skala pilot plant. Hal ini menuntut metode analisis
yang baik untuk pengujian produk.
Meskipun metode berperan HPLC telah dilaporkan menggunakan kolom
grafit berpori khusus, metode ini diterapkan menggunakan sampel yang
merupakan campuran sintetis dari FOX-7 dan kotoran yang mungkin dan bukan
sampel batch yang sebenarnya diperoleh dari operasi batch yang berbeda .
Metode HPLC juga dikembangkan oleh para ilmuwan Polandia (B. Buszewski et
al.) Untuk analisis kemurnian FOX-7 (diperoleh di bawah kondisi rekristalisasi
yang berbeda menggunakan pelarut seperti DMF, aseton, air dll), serta beberapa
produk antara dihasilkan selama sintesis FOX-7.
Sebuah metode lapisan tipis kromatografi (TLC) juga dikembangkan oleh
S. Cudziło et al. yang ditemukan efektif untuk memantau sintesis FOX-7 dari
bahan awal 2-methylpyrimidine-4,6-dion (MPD). Tulisan ini menjelaskan,
metode titrasi bebas air sederhana dan cepat untuk uji sampel batch FOX-7
diperoleh dari pabrik percontohan laboratorium ini. senyawa organik yang
memiliki sifat asam lemah atau basa, seperti alkil / aril tersubstitusi fenol, dan
amina, umumnya diuji oleh titrasi bebas air. FOX-7 juga merupakan asam lemah
(pKa 10,6) karena labil N-H ikatan. Sifat asam lemah senyawa ditingkatkan
dengan melarutkannya dalam pelarut protophilic seperti N, N-dimetilformamida

(DMF), etilendiamin (ED) dan dititrasi terhadap basis natrium metoksida yang
kuat, disiapkan dalam benzena / metanol.
2. Bahan dan metode
a. Kimia dan Reagen
Reagen DMF, ED, benzena, metanol khusus kering, 30% natrium
Solusi metoksida dalam metanol, azo violet (p-nitrobenzene-azo-resorsinol),
timol biru, dan asam benzoat yang analitis reagen grade dari M / s Merck Ltd,
Mumbai, India.
b. FOX-7 Sampel
FOX-7 sampel diperoleh di rumah dari pilot plant (5 kg / tingkat
batch) dari laboratorium ini. Hal itu disintesis oleh nitrasi dari prekursor 2methylpyrimidine-4,6-dion (MPD) diikuti oleh hidrolisis tetranitro menengah
(2-dinitromethylene-5,5-dinitropyrimidine-4,6-dione) dalam air (Skema 1) .
Lima sampel bets dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kemurnian
rekristalisasi FOX-7 (dianggap sebagai sampel standar). Yang dilaporkan
pendinginan metode kristalisasi menggunakan DMF sebagai pelarut diadopsi
untuk rekristalisasi.

Persiapan dan standarisasi titran [0,1 M larutan natrium metoksida dalam
benzena / metanol (9: 1) 30% larutan natrium metoksida dalam metanol (18
ml) dipindahkan ke 1000 ml standar labu volumetrik. Metanol (138 ml)
ditambahkan untuk itu dan volume yang tersisa dibuat dengan benzena.
Larutan ini distandarisasi oleh titrasi terhadap asam benzoat standar primer.

asam benzoat (120 hingga 150 mg) ditimbang secara akurat ke terdekat 0,02
mg dan ditransfer ke 250 ml labu berbentuk kerucut kering. DMF (50 ml)
ditambahkan diikuti dengan 2-3 tetes indikator azo-violet (larutan jenuh dalam
benzena). labu diaduk untuk melarutkan asam benzoat dan larutan menjadi
berwarna merah. Larutan ini dititrasi terhadap 0,1 solusi M NaOCH3
(disiapkan di benzenemethanol). Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan
warna yang tajam dari merah ke biru. Buret membaca (Vs) tercatat. Sebuah
kosong (Vb) ditentukan dengan melakukan seluruh titrasi tanpa asam benzoat.
kosong biasanya dikonsumsi 0,25-0,35 ml 0,1 solusi M NaOCH3 untuk
menetralisir HCl hadir gratis di DMF pelarut.
Kalkulasi :

Dimana W = Berat Sampel (g)
c. metode analisis untuk pemeriksaan FOX-7
FOX-7 (300 hingga 400 mg) ditimbang secara akurat dan ditransfer ke
kering 250 ml dirancang khusus labu (mirip dengan filtrat menerima termos
digunakan untuk bubur filtrasi menggunakan corong Buckner). DMF (50 ml)
ditambahkan bersama dengan 2-3 tetes larutan indikator azo-violet. labu
diaduk untuk membubarkan FOX-7 dan larutan menjadi berwarna coklat.
Sebuah bar magnet ditempatkan dalam labu dan labu ditempatkan pada
pengaduk magnetik. Buret dan nitrogen gas pipa ke tabung yang dipasang
seperti yang ditunjukkan pada Gambar1.

Gambar 1. setup eksperimental untuk estimasi kemurnian: FOX-7.
Larutan ini dititrasi terhadap 0,1 solusi M NaOCH3 di benzena / metanol.
Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna yang tajam dari coklat ke biru.
Buret membaca (Vs) tercatat. Buret membaca itu umumnya antara 18-25 ml. Sebuah
kosong (Vb) ditentukan dengan melakukan seluruh titrasi tanpa FOX-7. kosong
umumnya mengkonsumsi 0.1 sampai 0.3 ml titer.
Kalkulasi

Dimana : V = Volume Pembaca Buret (ml), M = Molaritas dari pelarut sodium
metoksi, W = berat sampel (g)
3. Hasil dan Diskusi
FOX-7 dapat digambarkan sebagai molekul etilen push-pull dengan dua
kelompok amino donor dan dua menarik kelompok nitro dalam kerangka
molekulnya. Umumnya amina organik menunjukkan karakteristik dasar karena
pasangan elektron bebas pada nitrogen amina. Namun, tidak seperti amina lainnya
organik (alkil atau aril), FOX-7 berperilaku sebagai asam lemah karena labil

ikatan N-H. Basa konjugat dari FOX-7 distabilkan oleh efek penarik elektron
yang kuat dari dua kelompok nitro seperti yang ditunjukkan pada Skema 2.
Karakteristik asam lemah dari FOX-7 telah dimanfaatkan di sini dalam metode uji
titrasi non-berair.

Ketika FOX-7 dilarutkan dalam pelarut non-air DMF, proton labil dari
kelompok amino diterima oleh pelarut dan basa konjugat dari FOX-7 dirilis
(Skema 3), di mana kesetimbangan reaksi terletak di sebelah kanan. Pelarut DMF
protophilic memberikan efek meratakan dan meningkatkan kekuatan asam dari
FOX-7 cukup untuk memungkinkan titrasi dengan natrium metoksida dalam
benzena-metanol menggunakan indikator visual.

FOX-7 sampel diuji dengan metode yang dijelaskan di atas dan hasilnya
disajikan pada Tabel 1. sampel bets normal menunjukkan kemurnian ~ 99,5%
sedangkan sampel yang sama setelah kristalisasi menunjukkan kemurnian ~
99,6%. Sebagai standar FOX-7 tidak tersedia secara komersial, sampel
direkristalisasi

dianggap

sebagai

standar

(diasumsikan

100%

murni).

Perbandingan nilai-nilai eksperimental dan teoritis kemurnian menunjukkan
bahwa kesalahan yang terlibat adalah <1%.
Tabel 1. Assay results of FOX-7 samples

Sample
1
2
3
4
5
Recrystallised FOX-7

No. of replicates
3
4
3
2
4
3

Avg. purity (%)
99.33
98.80
99.43
99.40
99.60
99.63

STDEV (σ)
0.21
0.10
0.12
0.27
0.10
0.06

Untuk titrasi bebas air dari asam organik lemah, dimetilformamida adalah
pelarut direkomendasikan dan hasil cukup memuaskan diperoleh dengan DMF atau
etilen diamin (ED). Kedua pelarut sangat sensitif terhadap hadir karbon dioksida di
udara. Dengan demikian, nitrogen [kelas: nitrogen murni ultra-tinggi, bebas dari
kelembaban dan CO2] pembilasan selama titrasi adalah penting untuk menghilangkan
gangguan positif disebabkan oleh CO2 di atmosfer. Sampel yang sama, ketika diuji
tanpa fasilitas nitrogen pembilasan menunjukkan nilai kemurnian lebih besar dari
100% karena fakta di atas. gangguan positif diilustrasikan pada Tabel 2. titrasi dengan
ED sebagai pelarut menunjukkan gangguan positif yang lebih tinggi dibandingkan
dengan DMF.
Table 2. Comparison of results without & with nitrogen atmosphere (in DMF
solvent)
Sample
1
2
3
4
5
Recrystallised FOX-7

% Purity without N2 % Purity without N2
(a)
(b)
101.5
99.33
100.11
98.80
100.92
99.43
101.52
99.40
101.86
99.60
100.68
99.63

Difference (a-b)
2.71
1.31
1.49
2.12
2.26
1.05

Kedua azo violet dan timol biru indikator yang cocok untuk titrasi ini. Warna
merah dari indikator azo violet dicampur dengan warna kuning FOX-7
mengakibatkan warna coklat gelap. Indikator ini memberikan perubahan warna yang

tajam untuk biru pada titik akhir. Warna biru muncul dari struktur quinoid dari
indikator azo violet seperti yang ditunjukkan dalam Skema 4.

Produk FOX-7 dibentuk oleh nitrasi dari 2-methylpyrimidine-4,6-dion (MPD)
diikuti oleh hidrolisis menengah tetranitro dalam air (Skema 1). Mungkin olehproduk dari FOX-7 yang dilaporkan dalam literatur. Ini adalah 2-metil-5-nitro-1Hpirimidin-4,6-dion (MNPD), nitroform [CH(NO2)3] dan dinitromethane [CH2 (NO2)
]. Dinitromethane dan nitroform sangat larut dalam air dan diharapkan akan dihapus

2

sepenuhnya dari FOX-7 selama mencuci air. Namun, baik MNPD dan MPD yang
kemungkinan kotoran di FOX-7 karena mereka tidak larut air. Metode ini divalidasi
dengan melakukan titrasi dengan MPD murni, MNPD dan FOX-7 sampel yang
mengandung persentase dikenal dari dua kotoran tersebut. Kedua MPD dan MNPD
tidak menanggapi titrasi dan dengan demikian mereka tidak menyebabkan gangguan
dalam metode titrasi.
Mengingat efek toksik dari benzena, kelayakan melakukan titrasi ini dengan
toluena sebagai pelarut (analitis reagen grade) bukan benzena dieksplorasi. Toluene

juga ditemukan yang cocok untuk metode titrasi ini dan karenanya dapat digunakan
untuk analisis ini.
Di atas FOX-7 sampel juga dianalisis dengan metode HPLC (Ultimate 3000
sistem HPLC; Column: C-18 fase terbalik; Kolom dimensi: 250 × 4.6 mm; fase
Ponsel: air / metanol (60:40 v / v); flow rate: 1 ml / menit; Volume Injeksi: 10 ml;
Suhu: 25 ºC; Deteksi panjang gelombang: 254 nm) yang dikembangkan di
laboratorium ini. Metode HPLC memberikan puncak tunggal untuk FOX-7 di
kromatogram. Hal ini menunjukkan tidak adanya kotoran aktif UV (terdeteksi oleh
detektor HPLC) di FOX-7 sampel. Kemurnian FOX-7 dihitung dari daerah puncak
diwujudkan dengan sampel batch dengan hormat ke daerah puncak dikalibrasi
(diperoleh dari standar FOX-7 sampel). Nilai-nilai kemurnian diperoleh dari metode
HPLC yang ditemukan sedikit (<1%) lebih rendah dari nilai tes yang diperoleh dari
non-berair metode titrasi (Tabel 3). Titrasi non-berair memberikan nilai kemurnian
lebih tinggi karena gangguan positif dari kotoran jejak seperti kelembaban,
dinitromethane dan mineral asam hadir dalam FOX-7 sampel.
Table 3. Comparison of assay results between HPLC and Non-aqueous titration
method (with N2 flushing)
Assay values of FOX-7 (%)
Sample
1
2
3
4
5

Difference (a-b)
Non-aqueous titration (a)
99.33
98.80
99.43
99.40
99.60

HPLC (b)
98.73
98.14
98.78
98.60
98.94

0.60
0.66
0.65
0.80
0.66

4. Kesimpulan
Sebuah metode titrasi bebas air dikembangkan untuk assay yang peka,
ledak tinggi 1,1-diamino-2,2-dinitroethene (FOX-7). Sifat asam lemah dari FOX7

ditingkatkan

dengan

melarutkannya

dalam

pelarut

protophilic,

N,

Ndimethylformamide dan dititrasi terhadap solusi metoksida natrium dalam

benzena / metanol menggunakan azo indikator violet. Metode ini sederhana, cepat
dan ekonomi. Akurasi dan presisi metode analisis ini ditemukan sebanding
dengan metode HPLC yang ada. Metode ini mungkin berguna untuk pengendalian
kualitas proses.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ;

1. Titrasi bebas air adalah titrasi yang tidak menggunakan air sebagai pelarut
tetapi digunakan pelarut organik. Seperti yang telah diketahui asam dan basa
yang bersifat lemah seperti halnya asam-asam organik atau diklorida. Cara
titrasi dalam lingkungan berair tidak dapat dilakukan karena disamping sukar
larut dalam air. Pada dasarnya titrasi bebas air termasuk reaksi netralisasi juga,
tetapi berbeda dengan konsep netralisasi dari Arhenius yang menyatakan
bahwa reaksi netralisasi adalah reaksi antara ion-ion hydrogen dengan ion-ion
hidroksida dalam larutan asam-basa berair.
2. Pelarut yang digunakan dalam titrasi bebas air yaitu pelarut aprotik, pelarut
protofilik, pelarut protogenik, dan pelarut amfiprotik. Standarisasi yang biasa
digunakan yaitu standarisasi larutan baku primer dan standarisasi larutan
sekunder.
3. Indikator yang biasa digunakan dalam titrasi bebas air yaitu Kristal violet,
Red, Naftol Benzein, Quenaldin Merah, dan Biru Timol.
4. Berdasarkan review jurnal dapat disimpulkan bahwa keuntungan metode
titrasi bebas air yaitu metode yang sederhana, cepat, ekonomis, dan
mempunyai presisi dan akurasi yang baik. Dibidang farmasi dapat bermanfaat
dalam

pengefektifan

biaya,

mencegah

kelalaian

proses,

dan

dapat

mengendalikan kualitas produk farmasi secara rutin dan seksama.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2015, The International Pharmacopeia-Fifth Edition, Non-Aqueous
Titration.
Basset, J. R. C Denney, G. H. Jefferey. J. Menclham., 1994, Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Dijen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Gholib gandjar, Ibnu dan Rohman, Abdul, 2007, Kimia Farmasi Kuantitatif, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Hamd, M.A.E., Ali, R., Abdellatif, A.A.H., 2016, Non-Aqueous Titrimetric Assay for
Determination of Loratadine in Pharmaceutical Preparations, Journal Anal
Bional Tech, Vol. 7 (1).
Nandi, A.K., dan Perumal, P.T., 2012, Assay of The Insensitive High Explosive FOX7 by Non-Aqueous Titration, Central European Journal of Energetic
Materials, Vol. 9 (4).
Sudjaji dan Roman, Abduh, 2008, Analisis Kuantitatif Obat, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Yar, Dr. M. Shahar, 2007, Pharmaceutical Analysis, Pharmaceutical Chemistry, New
Delhi.
Yurida M., Afriani E., Arita R.S., 2013, Asidi-Alkalimetri, Jurnal Teknik Kimia, Vol
19 (2).