BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Era modern dan pesatnya perkembangan teknologi membuat manusia
memproduksi banyak peralatan yang digunakan sebagai fasilitas penunjang
kehidupan mereka. Diantara beberapa fasilitas yang perkembangannya cukup
pesat adalah fasilitas transfortasi. Alat transportasi membuat manusia dapat
menempuh jarak yang cukup jauh dengan waktu yang relatif singkat sehingga
dapat mengefisienkan waktu perjalanan. Meski demikian, pesatnya alat
transfortasi memberikan dampak negatif bagi lingkungan, terutama lingkungan
udara karena asap kendaraan yang juga akan mempengaruhi lingkungan perairan
dan tanah. Pencemaran udara ini dapat disebabkan oleh gas buang kendaraan
berupa CO2, CO, SOx, NOx, Pb dan sebagainya. Salah satu diantara pencemar
tersebut adalah logam berat yaitu Pb atau timah hitam yang dapat terakumulasi
didalam tubuh manusia, hewan dan tanaman.
Di Indonesia saat ini, Premium/bensin mengandung Pb sebesar 0,84 gr/I
yang melebihi kandungan maximum dari Negara-negara lain misalnya Amerika
Serikat sebesar 0,13 gr/I , Jerman Barat 0,15 gr/I , Jepang 0,31 gr/I. Maka dari itu,
apabila menghidupi mesin kendaraan sebaiknya jangan didalam garasi atau
ruangan tertutup, tetapi diluar ruangan yang udaranya terbuka.
Pb atau timah hitam adalah sejenis logam berat yang apabila terhisap
melalui pernafasan dan termakan akan berakibat sangat buruk terhadap kesehatan
manusia, akibatnya antara lain adalah menghambat pertumbuhan IQ anak,
menghambat metabolisme tubuh, menghambat mekanisme kerja enzim dalam
pembentukan sel darah merah, mengganggu fungsi ginjal dan sebagainya.
Sehingga diperlukan solusi untuk menangani masalah tersebut diantaranya adalah
memenfaatkan tanaman yang dapat menyerap Pb sebagai fitoremediasi dai
pencemar dan perlu penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas tanaman dalam
penyerapan pencemar.

1

1.2 Tujuan
Adapun beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian kali ini
adalah sebagai berikut:
1. Mengevaluasi efektivitas tanaman (Pohon Tanjung dan Mahoni) dalam
menjerap Pb.
2. Mengetahui kandungan Pb dalam tanah dan rumah tanaman yang
disebabkan oleh gas buang kendaraan.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman pohon
tanjung dan pohon mahoni dengan variasi waktu pemaparan.
2. Kendaraan yang digunakan sebagai sumber pencemar adalah motor Honda
Astrea grand tahun 1993 yang mengandung Pb sebesar 0.046 mg/m3

2

1.1 Pencemaran Udara Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1407 tahun 2002 tentang Pedoman Pengendalian Dampak Pencemaran Udara. energi. pencemaran udara dapat pula diartikan adanya bahan-bahan atau zat asing di dalam udara yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi udara dari susunan atau keadaan normalnya. Gambar 2. Timbal adalah logam yang lunak berwarna abu-abu kebiruan mengkilat dan memiliki bilangan oksidasi +2 (Sunarya. 2007). Logam Timbal (Pb) (Temple. 2. mudah dibentuk.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 2004). 2007) 3 . maupun tumbuhan (Wardhana. memiliki sifat kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk melapisi logam agar tidak timbul perkaratan. dan/atau komponen lain ke dalam udara oleh kegiatan manusia. sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan atau mempengaruhi kesehatan manusia. hewan. Timbal memiliki titik lebur yang rendah. Kehadiran bahan atau zat asing tersebut di dalam udara dalam jumlah dan jangka waktu tertentu akan dapat menimbulkan gangguan pada kehidupan manusia. Selain itu.2 Timbal Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga disebut dengan istilah timah hitam. pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat.

Timbal (Pb) menurut Lu (1995) dapat diserap dari usus dengan sistem transport aktif. timbal karbonat. Kandungan Pb dari beberapa batuan kerak bumi sangat beragam. Timbal (Pb) merupakan logam yang bersifat neurotoksin yang dapat masuk dan terakumulasi dalam tubuh manusia ataupun hewan. Batuan eruptif seperti granit dan riolit memiliki kandungan Pb kurang lebih 200 ppm. hewan. tumbuhan. 2006). Hal itu menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada ternak jika terdapat pada jumlah di atas batas ambang. Selain itu. sehingga bahayanya terhadap tubuh semakin meningkat (Kusnoputranto. 1981). timbal sulfat dan timbal klorofosfat (Faust & Aly. Timbal secara alami terdapat sebagai timbal sulfida. Logam ini masuk ke perairan melalui pengkristalan Pb di udara dengan bantuan air hujan. air. Logam Pb terdapat di perairan baik secara alamiah maupun sebagai dampak dari aktivitas manusia. Masuknya Pb ke tubuh manusia dapat melalui makanan dari tumbuhan yang biasa dikonsumsi manusia seperti padi.34 g/cm3 (Widowati. maka terjadi pengikatan dan membutuhkan energi untuk metabolisme (Rahde. Pb dapat mencemari udara. Titik leleh timbal adalah 1740 0C dan memiliki massa jenis 11. Pada saat terjadi perbedaan muatan transport. Pb biasanya dianggap sebagai racun yang bersifat akumulatif dan akumulasinya tergantung levelnya. Palar (1994) mengungkapkan bahwa logam Pb pada suhu 500-600 0C dapat menguap dan membentuk oksigen di udara dalam bentuk timbal oksida (PbO). 1991). teh dan sayur-sayuran. proses korofikasi dari batuan mineral juga merupakan salah satu jalur masuknya sumber Pb ke perairan (Palar. 1981). batas ambang tinggi sebesar 20 – 200 ppm dan batas ambang toksik sebesar lebih dari 200 ppm. yaitu: batas ambang normal sebesar 1 – 10 ppm. tanah.Timbal mempunyai nomor atom 82 dengan berat atom 207. Timbal merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup karena bersifat karsinogenik. 4 . 1994). dapat menyebabkan mutasi. Lebih lanjut Underwood dan Shuttle (1999) mencantumkan batas ambang untuk ternak unggas dalam pakannya. bahkan manusia. Transport aktif melibatkan carrier untuk memindahkan molekul melalui membran berdasarkan perbedaan kadar atau jika molekul tersebut merupakan ion.20. Menurut Underwood dan Shuttle (1999). 2008). terurai dalam jangka waktu lama dan toksisistasnya tidak berubah (Brass & Strauss.

Tanaman ini termasuk famili Sapotacea yang sudah banyak ditanam di pekarangan-pekarangan rumah. bertepi rata.3 Tanaman Tanjung dan Mahoni 2. Keistimewaan dari tanaman ini adalah bentuk tajuknya yang indah. bertulang menyirip. Pohon tanjung termasuk jenis tanaman pohon yang bergetah.2. daun tunggal bertangkai.1 Pohon Tanjung Nama latin : Mimusop Elengi. media tanam atau lahan yang akan ditanami harus subur. Tanjung dapat hidup dengan baik ditempat-tempat yang terbuka dan kena sinar matahari langsung. Untuk mendapatkan tanaman yang sehat. yakni pada ketinggian 1000 m diatas permukaan laut. perpaduan bentuk dan warna daunnya yang hijau mengkilat dan buahnya yang masak berwarna merah atau merah jingga sehingga jenis tanaman ini sangat bagus untuk komponen taman sekaligus untuk tanaman peneduh. gembur dan drainase diatur dengan baik. Pohon Tanjung 5 . bila sudah tua hijau. panjang 9 – 16 cm.2. Di Indonesia disebut Tanjung. halaman perkantoran. Daun-daun yang muda berwarna coklat. Gambar 2. ketinggiannya dapat mencapai 15 m.3. dan di pinggir-pinggir jalan sebagai tanaman peneduh. baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Helaian daun berbentuk bulat memanjang atau bulat telur memanjanag. Duduk daun tersebar.

Untuk mendapatkan tanaman yang tumbuh baik dan sehat. Gambar 2. tingginya dapat mencapai kira-kira 10 – 30 m. meski di tanah kritis pun tidak jadi masalah.2 Pohon Mahoni Tanaman ini memiliki nama latin Swietenia Mahagoni.2. yakni hingga ketinggian 1000 m diatas permukaan laut.3 Pohon Mahoni 6 . daun majemuk menyirip penap. Duduk daun tersebar. baik didataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman mahoni banyak ditanam dipinggir-pinggir jalan atau di lingkungan rumah tinggal dan halaman perkantoran sebagai tanaman peneduh. berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis. Di Indonesia sendiri disebut Mahoni. Mahoni ditanam besar-besaran di Dinas Kehutanan. Mahoni dapat tumbuh dengan baik ditempat-tempat yang terbuka dan kena sinar matahari langsung.3. tetapi sudah lama dibudidayakan di Indonesia. media tanam atau lahan yang akan ditanami ahrus subur. Kadang-kadang tanaman ini tumbuh secara liar di hutan-hutan datau diantara semak-semak belukar. Tanaman ini termasuk famili Meliaceae. dan sudah beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. percabangannya banyak. Nama asing dari tanaman ini adalah West Indian Mahogany. Tanaman mahoni termasuk jenis tanaman pohon tinggi. Yang menarik dari tanaman ini adalah buahnya yang terlihat muncul diujung-ujung ranting berwarna coklat. gembur dan drainase diatur dengan baik.

2. 2000). Tumbuhan melalui daunnya dapat menangkap partikel timbal yang diemisikan kandaraan bermotor (Djuangsih dalam Siringoringo.5 Kemampuan Tanaman Dalam Penyerapan Pencemaran Udara (khususnya Pb) Ada beberapa tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kemampuan sebagai media penyerap polutan atau mengurangi pencemaran udara yang dihasilkan oleh industri dan alat transportasi. Daun yang mempunyai bulu (pubescent) atau daun yang permukaannya kesat (berkerut) mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam menjerap timbal.4 Pola Penyebaran Pencemaran Udara Faktor utama penyebar polusi adalah angin.1 Tanaman yang dapat menyerap logam Pb. 7 . Menurut Koeppe dan Miller dalam Siringiringo. 2. Di bawah ini akan dicantumkan dalam tabel tanaman-tanaman yang mampu menyerap polutan. kemampuan tanaman dalam menjerap timbal sangat dipengaruhi keadaan permukaan daun tanaman. daripada daun yang mempunyai permukaan lebih licin dan rata. khususnya Pb. Turbulensi karena rintangan berupa bangunan-bangunan di perkotaan akan menjebak asap dan partikel lainnya pada bagian-bagian kota dan membuat konsentrasi zat pencemar tinggi pada wilayah tersebut. 2. Tabel 2. Skala angin baik dalam ukuran mikro sampai pada sirkulasi global mempunyai andil yang besar dalam penyebaran polusi udara.6 Mekanisme Penjerapan Pb Oleh Tanaman Tumbuhan mempunyai kemampuan menjerap dan mengakumulasi zat pencemar. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Strakman dalam Siringiringo bahwa kemampuan daun tanaman menjerap suatu polutan dipengaruhi oleh karakteristik morfologi daun.

Jumlah material yang hilang tergantung dari bahan pencuci dan tekstur daun. diantaranya adalah tipe tumbuhan. 2.7 Logam Berat Pada Tumbuhan Banyak factor yang mempengaruhi kadar unsur pada tumbuhan. Tumbuhan indikator adalah jenis tumbuhan yang pengambilan elemennya berhubungan dengan kadar metal pada lingkungan disekitarnya. Hal ini masih menjadi perdebatan dimana hasil analisa tergantung dari jumlah deposit pada daun dan efisiensi pencucian. karena sebagian kandungan elemen akan hilang waktu pencucian sebelum dianalisa. Efek toksisitas dapat ditandai dengan penampakan fisik akibat defisiensi beberapa elemen esensial. Perbandingan pengambilan logam berat antara dua jenis tumbuhan yang berbeda sangatlah berguna. Penggantian ini dapat terjadi karena kesamaan sifat kimia antara logam berat dengan elemen esensial pada tumbuhan. Mekanisme pengambilan ini belum diketahui secara pasti tetapi partikel Pb dapat menyumbat lobang stomata pada daun. Hal ini disebabkan adanya kandungan logam berat di udara. jenis jaringan tumbuhan. terutama di daerah perkotaan. Karena factor tersebut kandungan unsure logam berat sangat bervariasi. adanya rambut pada permukaan daun dan juga tekstur daun. kandungan elemen dalam tanah. keberadaan unsur. 8 . musim. dan absorbsi aerosol dari daun. Tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai akumulasi atau indikator unsur.seperti ukuran dan bentuk daun. Keduanya dapat digunakan sebagai indikator sumber pencemar dari intensitasnya. Logam berat dapat juga mempengaruhi reaksi biokimia dalam tumbuhan. jarak tumbuhan dari sumber pencemar. kondisi cuaca. reaksi dapat terjadi disertai dengan pengikatan unsur dan atau penggantian unsur esensial tumbuhan. Seperti disebutkan sebelumnya tumbuhan dapat menyerao logam berat dari daun dan terdapat deposit aerosol yang melekat pada daun. Tumbuhan akumulator mempunyai kemampuan untuk mengakumulasikan unsure tertentu dalam konsentrasi yang tinggi tanpa menimbulkan efek toksik pada tumbuhan. Pengambilan logam berat dari daun menjadi lebihsigniofikan disbanding dari akar. Hal ini berpengaruh pada penelitian.

bukaan stomata.Pengaruh logam timbal dengan konsentrasi yang berlebih dalam tumbuhan(Fergusson. Untuk timbal. fotosintesis. b) Penghambat pembentukan enzim. c) Pengaruh pada proses respirasi. dan transpirasi. 9 . d) Warna hijau gelap dan layu pada daun. studi terdahulu mengindikasikan adanya penurunan konsentrasi pada lokasi dengan kepadatan lalu lintas yang lebih rendah dan jarak yang lebih jauh dari jalan raya. Kadar logam berat pada tanaman berhubungan dengan jarak dari sumber pencemar. 1990). antara lain : a) Perubahan permeabilitas dalam membrane sel.

2. Menyiapkan tanaman pohon tanjung dan mahoni di masing masing rumah tanaman dan di masing .2 m. 3.masing waktu pemaparan yaitu pagi. Selanjutnya adalah proses pemaparan. pemaparan dilakukan selama 4 minggu dengan pemaparan setiap hari 5.046 mg/m3 4. sore dan sebagai control. 10 .5 x 1. 4. 3. Pohon Mahoni. Berikut adalah gambar rangkaian alat penelitian. Menyiapkan peralatan yang diperlukan terutama rumah tanaman yang dijadikan pembatas bagi udara sekitas agar konsentrasi paparan dapat disesuaikan dengan penelitian.046 mg/m3 2. Sepeda motor Honda Astrea grand tahun 1993 yang mengandung Pb sebesar 0. Adapun yang diamati adalah bagian daun dan batang. 6. 3.1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.2 Prosedur kerja Adapun tahapan kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menyiapkan kendaraan yang telah deketahui bahwa bahan bakarnya mengandung Pb dengan konsentrasi sebesar 0.BAB III METODOLOGI 3. Setelah waktu pemaparan tanaman di lakukan pengamatan setiap 1 dan 2 minggu selama 4 minggu. Pohon Tanjung. Rumah tanaman yang berukuran 1 x 0. siang.

1 Rangkaian alat BAB IV PEMBAHASAN 11 .Gambar 3.

0 0.2 dapat diketahui adanya selisih prosentase penjerapan pada pengasapan 2 minggu antara daun Tanjung I (pagi) .1 Hasil Daun Tanjung dan Mahoni Yang Rusak Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pemaparan emisi kendaraan memberikan efek negatif.50 14. Hasil pengamatan terhadap penjerapan Pb pada daun tanjung yang diberi pemaparan gas buang kendaraan bermotor adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Penjerapan Pb Pada Daun Tanjung dan Mahoni Dalam penelitian ini juga didapat data tentang daun yang rusak atau menguning. SOx.58 6.87 12.4.daun Tanjung II (siang) yaitu sebesar 2.22 4 minggu 0.0 0. Beberapa gajala efek akut akibat paparan polutan CO.94 12. Ditandai dengan jumlah daun yang rusak pada tanaman yang diberi pemaparan polutan lebih banyak daripada daun kontrol.43 20.82 24.0 2 minggu 0. NOx.00 Pengasapan Awal Dari tabel 4. dan timbal sangat mudah dijumpai pada daun. Contoh efek akut adalah klorosis dan nekrosis pada permukaan daun yang dapat menyebabkan jaringan daun menjadi rusak dan mati. Hasil pengamatannya sebagai berikut : Tabel 4.0 0.2 Hasil Analisa Prosentase Kadar Logam Berat Pb Pada Daun Tanjung % penjerapan pada daun Tanjung kontrol Tanjung I Tanjung II Tanjung III 0.32 % dan antara daun Tanjung II (siang) – daun Tanjung III (sore) yaitu 12 .

11 15.4 %.86 21. Hasil pengasapan pada minggu ke 4 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengaruh angin yang bisa 13 .49 % dan antara daun Tanjung II (siang) – daun Tanjung III (sore) yaitu sebesar 7.31 % hal ini hal ini disebabkan karena perbedaan lamanya pemaparan dan pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun. sedangkan pada pengasapan 4 minggu juga diketahui adanya perbedaan prosentase penjerapan antara daun Tanjung I (pagi) – daun Tanjung II (siang) yaitu sebesar 5.3 Hasil Analisa Prosentase Kadar Logam Berat Pb Pada Daun Mahoni % penjerapan pada daun Mahoni kontrol Mahoni I Mahoni II Mahoni III 0 0 0 0 2 minggu 0.17 Pengasapan Awal Dari tabel diatas dapat diketahui adanya selisih prosentase penjerapan pada pengasapan 2 minggu antara daun Mahoni I (pagi) . Hasil pengasapan pada minggu ke 4 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun atau terkena air hujan.68 24.45 13.51 18. sedangkan pada pengasapan 4 minggu juga diketahui adanya perbedaan prosentase penjerapan antara daun Mahoni I (pagi) – daun Mahoni II (siang) yaitu sebesar 2. Dalam daun Tanjung III (sore) ditemukan adanya kandungan Pb paling besar.. hal ini disebabkan karena dalam udara bebas masih ada kandungan Pb-nya. didapat hasil analisa sebagai berikut : Tabel 4.12 %. Waktu penjerapan yang tertinggi adalah pada waktu pemaparan yang paling lama. Sedangkan pada daun Tanjung kontrol masih ditemukan adanya kandungan Pb dalam daunnya. hal ini disebabkan karena lamanya waktu pemaparan.81 14.17 % dan antara daun Mahoni II (siang) – daun Mahoni III (sore) yaitu sebesar 6. Dalam daun Mahoni III (sore) ditemukan adanya kandungan Pb paling besar. . Sedangkan pada daun Mahoni.daun Mahoni II (siang) yaitu sebesar 4.sebesar 9.75 % dan antara dun Mahoni II (siang) – daun Mahoni III (sore) yaitu sebesar 5.22 4 minggu 0.57 % hal ini disebabkan karena perbedaan lamanya pemaparan dan pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun atau terkena air hujan . hal ini disebabkan karena lamanya waktu pemaparan.

2 Penjerapan Pb Pada Batang Tanjung dan Mahoni Hasil pengamatan terhadap penyerapan Pb pada batang Tanjung yang diberi pemaparan gas buang kendaraan bermotor adalah sebagai berikut : Tabel 4. Luas daun Mahoni lebih besar daripada luas daun Tanjung. Dilihat dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kandungan Pb terbesar ada pada daun Mahoni. Selain itu juga dipengaruhi oleh permukaan daunnya. dapat dibuat grafik perbandingan antara daun Tanjung dan Mahoni dalam menjerap Pb. Setelah diketahui dari data-data diatas. Sedangkan pada daun Mahoni kontrol masih ditemukan adanya kandungan Pb dalam daunnya. sedangkan daun Tanjung menjerap Pb lebih sedikit karena daunnya licin dan gundul (glabrous). Adanya perbedaan pada penjerapan daun Mahoni dan Tanjung ini disebabkan karena luas daun antara daun Mahoni dan Tanjung berbeda.menyapu Pb pada permukaan daun dan terkena air hujan. 4. Rendahnya kandungan Pb dalam daun yang permukaannya licin.4 Hasil Analisa Prosentase Kadar Logam Berat Pb Pada Batang Tanjung Pengasapan % penjerapan pada batang Tanjung kontrol Tanjung I Tanjung II Tanjung III 14 . Grafik 4. hal ini disebabkan karena dalam udara bebas masih ada kandungan Pb-nya. Daun Mahoni lebih banyak menyerap Pb karena daunnya kasat atau berbulu halus (pubescens) dan rapat.. disebabkan karena lebih mudah tercuci air hujan atau disapu oleh angin.1 Perbandingan Antara Daun Tanjung dan Mahoni Dalam Menjerap Pb. Ini berarti bahwa kemampuan daun Mahoni dalam mejerap Pb lebih baik daripada daun Tanjung.

55 17. hal ini disebabkan karena lamanya waktu pemaparan.46 % hal ini disebabkan karena disebabkan karena perbedaan lamanya pemaparan dan pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun.19 % dan antara batang Tanjung II (siang) – batang Tanjung III (sore) yaitu sebesar 1. sedangkan pada pengasapan 4 minggu juga diketahui 15 .19 23. Sedangkan pada batang Mahoni.09 15.29 23.4 7.6 13.41 Pengasapan Awal Dari grafik diatas dapat diketahui adanya selisih prosentase penyerapan pada pengasapan 2 minggu antara batang Mahoni I (pagi) – batang Mahoni II (siang) yaitu sebesar 7.71 4 minggu 0.56 %. didapat hasil sebagai berikut : Tabel 4. hal ini disebabkan karena dalam udara bebas masih ada kandungan Pb-nya.74 20.85 9.5 Hasil Analisa Prosentase Kadar Logam Berat Pb Pada Batang Mahoni % penjerapan pada batang Mahoni kontrol Mahoni I Mahoni II Mahoni III 0 0 0 0 2 minggu 0.20 Dari tabel diatas dapat diketahui adnya selisih prosentase penjerapan pada pengasapan 2 minggu antara batang Tanjung I (pagi) – batang Tanjung II (siang) yaitu sebesar 14. Dalam batang tanjung III (sore) ditemukan adanya kandungan Pb paling besar.82 17. sedangkan pada pengasapan 4 minggu juga diketahui adanya perbedaan prosentase penjerapan antara batang Tanjung I (pagi) – batang Tanjung II (siang) yaitu sebesar 10.37 %.1 % dan antara batang Tanjung II (siang) – batang Tanjung III (sore) yaitu sebesar 0.85 4 minggu 0. Sedangkan pada batang mahoni kontrol masih ditemukan adanya kandungan Pb dalam daunnya.34 19.25 % dan antara batang Mahoni II (siang) – batang Mahoni III (sore) yaitu sebesar 4.Awal 0 0 0 0 2 minggu 0.21 8. Hasil pengasapan pada minggu ke 4 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun dan terkena air hujan.8 8.

batang Tanjung II – batang Mahoni II sebesar 7. Sedangkan pada batang Mahoni kontrol masih ditemukan adanya kandungan Pb dalam daunnya. dapat dibuat grafik perbandingan antara batang Tanjung dan Mahoni dalam menjerap Pb. batang Tanjung III – batang Mahoni III 16 . Hasil pengasapan pada minggu ke 4 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun dan terkena air hujan.95 %. Setelah diketahui dari data-data diatas. Dalam batang Mahoni III (sore) ditemukan adanya kandungan Pb paling besar.. Dilihat dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kandungan logam berat Pb yang terbesar ada pada batang Tanjung.10 %.22 % dan antara batang Mahoni II (siang) – batang Mahoni III (sore) yaitu sebesar 3. Selisih prosentase penyerapan pada 2 minggu pertama antara batang Tanjung I . Grafik 4.95 %.92 %. batang Tanjung II – batang Tanjung II sebesar 4.batang Mahoni I sebesar 1.2 Perbandingan Antara Batang Tanjung dan Mahoni Dalam Menjerap Logam Pb. Dan selisih prosentase penyerapan pada 2 minggu kedua antara batang Tanjung I – batang Mahoni I sebesar 0. hal ini disebabkan karena dalam udara bebas masih ada kandungan Pb-nya.59 % hal ini disebabkan karena karena perbedaan lamanya pemaparan dan pengaruh angin yang bisa menyapu Pb pada permukaan daun.adanya perbedaan prosentase penyerapan antara batang Mahoni I (pagi) – batang Mahoni II (siang) yaitu sebesar 6. Hasil pengasapan pada minggu ke 4 mengalami penurunan. hal ini disebabkan karena lamanya waktu pemaparan.14%. batang Tanjung III – batang Mahoni III sebesar 4.

25 % Mahoni I (Pagi) : 43.sebesar 2. 4.31 % Mahoni II (Siang) : 63. Ini berarti bahwa kemampuan batang Tanjung memiliki kemampuan menjerap Pb lebih baik dari pada batang mahoni.37 % Mahoni III (Sore) : 83. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka didapat hasil prosentase penyerapan keseluruhan. yaitu : Tanjung I (Pagi) : 37.3 Potensi Tanaman Tanjung dan Mahoni dalam Menjerap Pb.09 % Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa prosentase penjerapan yang terbesar ada pada tanaman Tanjung III (Sore) yaitu sebesar 88.28 % Tanjung III (Sore) : 88.1 Kesimpulan Dari penelitian ini didapat : 17 . Batang Tanjung lebih banyak kandungan Pb nya karena batang tanjung permukaan batangnya lebih kasar dari pada batang mahoni.79 %.25 %. BAB V PENUTUP 5.18 % Tanjung II (Siang) : 69. Selain itu batang tanjung tekstur Mahoni.

74 %.1. batang Mahoni II (Siang) sebesar 29.44 %.62 %. 18 . daun Mahoni II (Siang) 34. Sedangkan dalam daun Mahoni I (Pagi) sebesar 27.16 % dan batang Mahoni III (Sore) sebesar 37.25 %.97 %. Sedangkan dalam batang Mahoni I (Pagi) sebesar 15. Dari total prosentase penjerapan secara keseluruhan didapat hasil prosentase penjerapan yang terbesar ada pada tumbuhan Tanjung III (sore) sebesar 88. daun Tanjung II (Siang) sebesar 27.03 % dan Tanjung III (Sore) sebesar 44. 3.25 % dan daun Tanjung III (Sore) sebesar 44. 2. Selain itu perlu mengkaji mengenai penyebab konsentrasi minggu ke 4 lebih rendah dari minggu ke 2. 5.22 %.54 % dan daun Mahoni sebesar 45.12 %.05 %.69 %. Dalam batang Tanjung I (Pagi) total prosentase penjerapan selama 1 bulan sebesar 17.2 Saran Adapun saran yang dapat kami berikan untuk penelitian kali ini adalah sebaiknya lama pemaparan setiap harinya lebih di spesifikkan karena tidak diketahui lama pengasapan perhari. Tanjung II (Siang) sebesar 42. Dalam daun Tanjung I (Pagi) total prosentase penjerapan selama 1 bulan sebesar 19.

19 .

DAFTAR PUSTAKA 20 .

Related Interests