BAB I

PENDAHULUAN
Gizi merupakan faktor penting untuk mewujudkan manusia Indonesia. Berbagai
penelitian mengungkapkan bahwa kekurangan gizi, terutama pada usia dini akan berdampak
pada tumbuh kembang anak. Anak yang kurang gizi akan tumbuh kecil, kurus, dan pendek.
Gizi kurang pada anak usia dini juga berdampak pada rendahnya kemampuan kognitif dan
kecerdasan anak, serta berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas anak.
Pada tahun 2013, 17% atau 98 juta anak di bawah lima tahun di negara berkembang
mengalami kurang gizi (berat badan rendah menurut umur berdasarkan standar WHO).
Prevalensi tertinggi berada di wilayah Asia Selatan sebesar 30%, diikuti Afrika Barat 21%,
Osceania dan Afrika Timur 19%, Asia Tenggara dan Afrika Tengah 16%, dan Afrika Selatan
12%.
Sedangkan di Indonesia, 18 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk-kurang di
atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21,2 persen sampai dengan 33,1 persen.
Urutan ke 19 provinsi tersebut dari yang tertinggi sampai terendah adalah (1) Nusa Tenggara
Timur; (2) Papua Barat; (3) Sulawesi Barat; (4) Maluku; (5) Kalimantan Selatan; (6)
Kalimantan Barat; (7) Aceh; (8) Gorontalo; (9) Nusa Tenggara Barat; (10) Sulawesi Selatan;
(11) Maluku Utara; (12) Sulawesi Tengah; (13) Sulawesi Tenggara; (14) Kalimantan Tengah;
(15) Riau; (16) Sumatera Utara; (17) Papua, (18) Sumatera Barat dan (19) Jambi. Atas dasar
sasaran MDG 2015, terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi gizi buruk-kurang sudah
mencapai sasaran yaitu: (1) Bali, (2) DKI Jakarta, (3) Bangka Belitung.
Masalah kesehatan masyarakat dianggap serius bila prevalensi gizi buruk-kurang antara
20,0-29,0 persen, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila ≥30 persen. Pada tahun 2013,
secara nasional prevalensi gizi buruk-kurang pada anak balita sebesar 19,6 persen, yang
berarti masalah gizi berat-kurang di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat mendekati prevalensi tinggi. Diantara 33 provinsi, terdapat tiga provinsi termasuk
kategori prevalensi sangat tinggi, yaitu Sulawesi Barat, Papua Barat dan Nusa Tenggara
Timur
Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs)
yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa tahun 2015 setiap
negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Dua
dari lima indicator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs adalah menurunnya prevalensi
gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan menurunnya jumlah penduduk dengan
1

defisit energi (indikator kelima). Walaupun secara keseluruhan proporsi kurang gizi di Asia
sudah mendekati angka target MDG’s, namun rata-rata kejadian kurang gizi berlanjut dan
menjadi sangat tinggi di Asia Selatan sebesar 30%. Hal ini berhubungan dengan populasi
yang besar, yang artinya kurang gizi terbanyak ada pada balita yang tinggal di Asia Selatan
(53 juta jiwa pada 2013). Kenaikan harga pangan dan krisis ekonomi menjadi efek dari trend
yang terjadi di beberapa populasi, namun ini terlalu dini untuk disimpulkan.
Penyebab langsung kurang gizi yaitu asupan makanan tidak seimbang dan penyakit
infeksi. Sedangkan untuk penyebab tidak langsung diantaranya tidak cukup persediaan
pangan, pola asuh anak tidak memadai, sanitasi/pelayanan kesehatan dasar tidak memadai.
Hal ini disebabkan kemiskinan, pendapatan, kurang pendidikan, pengetahuan dan
keterampilan. Sedangkan akar masalah penyebab kurang gizi adalah krisis ekonomi, politik
dan social. Seiring dengan bertambahnya umur, asupan zat gizi yang lebih rendah
dibandingkan kebutuhan, serta tingginya beban penyakit infeksi pada awal kehidupan,
menyebabkan bayi-bayi di Indonesia terus mengalami penurunan status gizi dengan puncak
penurunan pada umur kurang lebih 18-24 bulan. Pada kelompok umur inilah prevalensi balita
kurus (wasting) dan balita pendek (stunting) mencapai titik tertinggi. Setelah melewati umur
24 bulan, status gizi balita umumnya mengalami perbaikan meskipun tidak sempurna.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu
pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Masalah gizi
muncul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah
tangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Berdasarkan pemaparan diatas dapat
disimpulkan bahwa kasus gizi kurang termasuk giri buruk harus diatasi secara total dan
komprehensif di tengah-tengah masyarakat, dalam artian diupayakan untuk menurunkan
kasus ini hingga mencapai nol. Namun, penulis menemukan masih terdapatnya kasus gizi
buruk di wilayah kerja Puskesmas Alai. Berdasarkan alasan itulah penulis mengangkat kasus
gizi buruk ini untuk dijadikan sebagai proyek program Keluarga Binaan Dokter Muda Rotasi
II Fakultas Kedokteran Universitas Andalas periode kerja Puskesmas Alai.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bawah garis merah
2.1.1. Definisi
Balita merupakan individu yang berumur 0-5 tahun, dengan tingkat plastisitas
otak yang masih sangat tinggi sehingga akan lebih terbuka untuk proses pembelajaran
dan pengayaan. Balita terbagi menjadi dua golongan yaitu balita dengan usia satu
sampai tiga tahun dan balita dengan usia tiga sampai lima tahun (Soekirman, 2006).
Balita BGM adalah balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada di bawah
garis merah pada KMS. Balita BGM tidak selalu berarti menderita gizi kurang atau
gizi buruk. Akan tetapi, itu dapat menjadi indikator awal bahwa balita tersebut
mengalami masalah gizi.1
Gizi di bawah garis merah adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang
disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan
terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara garis
besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor.1-3
Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat
kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu
lama. Itu ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan atau
hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau marasmik
kwashiorkor.
Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan
energi. Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel-variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture4.
2.1.2. Epidemiologi
Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar
27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan
1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan
prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang
(10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (=> 30%).
3

2.1.3. Etiologi
Pada tahun 1988, UNICEF, salah satu badan organisasi PBB yang khusus
bergerak dibidang kesejahteraan anak telah mengembangkan kerangka konsep
perbaikan gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang
dapat disebabkan sebagai berikut.5,6,7
a. Penyebab Langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang.
Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi
juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit,
pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak
memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan
mudah terserang penyakit.
b. Penyebab Tidak Langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu:

Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan
mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya
dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.

Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat
diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak

agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.
Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan
kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan
sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan.
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan

ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan,
makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka
akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
c. Pokok Masalah di Masyarakat
Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya
masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

d. Akar Masalah
4

Faktor yang menyebabkan kurang gizi9-11 5 . Pengetahuan dan Keterampilan Pokok Masalah di Masyarakat Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga. kurang pangan dan kemiskinan Akar Masalah (nasional) Krisis Ekonomi. Dampak Penyebab langsung Penyebab Tidak langsung KURANG GIZI Makan Tidak Seimbang Tidak Cukup Persediaan Pangan Penyakit Infeksi Pola Asuh Anak Tidak Memadai Sanitasi dan Air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak Memadai Kurang Pendidikan.4. Politik.1 Penyebab kurang gizi 2. dan Sosial Gambar 2. inflasi. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai. kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat Pengangguran.1. inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi. politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997.Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran.

2010)  Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia.  Sikap (Attitiude) Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu.6 Menurut Skiner (1938). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan. sehingga teori Skinner ini disebut teori ‘SOR”. dan untuk kepentingan pendidikan praktis. sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan anak kekurangan gizi. orang yang tahu 6 . Perilaku ibu Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkuatan (Notoatmojo. b. telinga dan sebagainya). yakni indra penglihatan. atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata. di antaranya adalah. 2010).2010). Dengan demikian perilaku manusia terjadi melalui proses : Stimulus Organisme Respon. Berdasarkan pembagian domain oleh Bloom. hidung. dikembangkan menjadi tingkat ranah perilaku sebagi berikut (Notoatmodjo. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. merumuskan bahwa perliku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulasi (rangsangan dari luar).  Tindakan atau Praktik (Practice) Seperti telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Menurut WHO pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. penciuman. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. Segala kegiatan yang dilakukan makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari disebut dengan perilaku. pendengaran. Selanjutnya menurut Poejawijatna (1991). a. rasa dan raba. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia. yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. seorang ahli psikologi yang dikutip dalam buku Notoatmodjo (2010).

Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu (Notoatmodjo. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. yakni orang tersebut mengetahui dan memahami akan adanya perubahan baru. Apabila penerima perubahan perilku baru atau adopsi perilku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan .  Decision (Keputusan). dan boleh merubah keputusannnya apabila perubahan tersebut berlawanan dengan hal yang diinginkannya. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. 2007).  Persuasion (Kepercayaan).  Comfirmation (Penegasan).2010). Penelitian Rogers (1983). kesadaran dan sikap yang positif. Jadi pengetahuan adalah hasil dari tahu. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Dengan demikian pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo. maka perkembangan anak juga akan baik. Dengan pola pengasuhan yang baik. 2003). dewasa ini menilai secara kritis 7 . Pola pengasuhan merupakan kejadian pendukung anmun secara tidak langsung. orang mulai menerapkan perubahan tersebut dalam dirinya. Ahli psikologi perkembangan. mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi tahapan pengetahuan dalam diri orang tersebut terjadi adalah sebagai berikut :  Knowledge (Pengetahuan). d. c. Pola pengasuhan Pola pengasuhan merupakan salah satu kejadian pendukung untuk mencapai status yang baik bagi anak.disebut mempunyai pengetahuan. orang tersebut mencari penegasan kembali terhadap perubahan yang telah diterapkan. yakni orang mulai membuat suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak perubahan tersebut  Implementation (Pelaksanaan). yakni orang mulai percaya dan membentuk sikap terhadap perubahan tersebut . maka perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo.

3.13 Tabel 1. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna kuning 2.1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Umur 0-60 Bulan Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur Kategori Status Gizi Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi Ambang Batas (Z-Score) < -3 SD -3 SD sampai dengan -2 SD -2 SD sampai dengan 2 SD >2 SD < -3 SD -3 SD sampai dengan -2 SD -2 SD sampai dengan 2 SD >2 SD Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk < -3 SD -3 SD sampai dengan -2 SD -2 SD sampai dengan 2 SD >2 SD Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Sangat Kurus Kurus < -3 SD -3 SD sampai dengan -2 SD -2 SD sampai dengan 2 SD >2 SD < -3 SD -3 SD sampai dengan <-2 (TB/U) Anak umur 0-60 Bulan Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Anak umur 0-60 Bulan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak Umur 0-60 Bulan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) SD Normal -2 SD sampai dengan 1 SD Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD Obesitas >2 SD Penentuan KEP dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur Anak Umur 5-18 Tahun dan menggunakan KMS dan Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS 1. kategori dan ambang batas status gizi anak adalah sebagai berikut. 8 .pentingnya pengasuhan anak oleh orang tuanya. Klasifikasi Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. 2.12. KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di Bawah Garis Merah (BGM).5. Proses pengasuhan ini erat hubungannya dengan kelekata antara anak dan orang tua dimana proses tersebut.

dan iga gambang.pada biopsi hati ditemukan perlemakan.3. Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/Gizi buruk dan KEP sedang.pembesaran hati. 9 .kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar.pada sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan maupun berat.sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit. Overnutrition yaitu kelebihan konsumsi zat gizi dalam priode tertentu. Marasmiks-Kwashiorkor Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.anemia ringan. rambut tipis dan jarang. 3. Bentuk kelainan digolongkan menjadi 4 macam yaitu : a. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. balita cengeng dan rewel meskipun setelah makan. Kwashiorkor Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang adekuat. gejala gastrointestinal. b. Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu. Undernutrition. sehingga untuk menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan Tabel BB/U Baku Median WHONCHS. bokong baggy pant. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus. Marasmus Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemukan pada balita.2 Bila dilihat berdasarkan gejala klinisnya gizi buruk dapat dibagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut: 1.kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang. c. Spesifik depesiensi yaitu kekurangan zat gizi tertentu. Hal ini seperti marasmus. perubahan mental. muka seperti orang tua (berkerut).rambut kepala mudah dicabut. kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U <60% baku median WHO-NCHS. yaitu kekurangan komsumsi pangan secara relatif dan absolute dalam bentuk tertentu. 2.

Kebutuhan zat gizi balita14. Kemampuan saluran pencernaan anak yang tidak sesuai dengan jumlah volume makanan yang mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan anak.d. b. 10 .1. Imbalance. Kebutuhan gizi anak per satuan berat badan lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. dkk. 1985): a.6. ketidak seimbangan karena disporsi zat gizi tertentu (Supriasa dkk. (Kardjati.15 Bila ditinjau dari segi umur. maka anak balita yang sedang tumbuh kembang adalah golongan yang awan terhadap kekurangan energi dan protein. karena disamping untuk pemeliharaan juga diperlukan untuk pertumbuhan. 2002) 2. kerawanan pada anak .anak disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

d. umur 12 . Anak kelompok balita di Indonesia menunjukkan prevalensi paling tinggi untuk penyakit kurang kalori protein dan defesiensi vitamin A serta anemia defesiensin Fe. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini. kesadaran sosial. kreatifitas. Segera anak dapat bergerak sendiri. Kelompok umur sulit dijangkau oleh berbagai upaya kegiatan pebaikan gizi dan kesehatan lainnya. pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabang . sehingga setiap kelainan/ penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik. (Seadiaoetama. Adapun kebutuhan nutrisi pada anak balita sebagai berikut : 1.59 bulan). emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. (Depkes RI. karena tidak dapat datang sendiri ke tempat berkumpul yang telah ditentukan tanpa diantar. mulai dari kemampuan belajar berjalan. dia akan mengikuti pergerakan disekitarnya sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya penularan penyakit. anggota keluarga yang mempunyai nilai produktif akan mendapatkan pilihan yang terbaik. Mereka membutuhkan setidaknya 1500 kalori setiap harinya. akan tetapi dalam hal penyajian makanan. mengenal huruf. Asupan Kalori. padahal yang mengantar sedang semua. kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi. Anak-anak usia balita membutuhkan kalori yang cukup banyak disebabkan bergeraknya cukup aktif pula. tanpa bantuan orang lain. akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.cabangnya. Jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan antar sel syaraf ini sangat mempengaruhi segala kinerja otak. 2006).c. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita. sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. 2000). Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan. sehingga bersosialisasi. baru selebihnya yang diberikan pada anggota keluarga yang lain. Dan balita bisa mendapatkan kalori 11 . Pada masa ini. Meskipun mempunyai nilai tertentu dalam keluarga. perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Pada masa balita.

Kebutuhan Protein Asupan gizi yang baik bagi balita juga terdapat pada makanan yang mengandung protein. telur 2 butir. Vitamin Vitamin merupakan nutrisi yang juga dibutuhkan. 7. 12 . tidak hanya balita. Zat besi Usia balita merupakan usia yang cenderung kekurangan zat besi sehingga balita harus diberikan asupan makanan yang mengandung zat besi. daging 2 ons dan sebagainya. Makanan atau minuman yang mengandung vitamin C seperti jeruk merupakan salah satu makanan yang mengandung gizi yang bermanfaat untuk penyerapan zat besi. Pasokan Lemak Roti. susu. 6. Karena protein sendiri bermanfaat sebagai prekursor untuk neurotransmitter demi perkembangan otak yang baik nantinya. Salah satu pemberi kalsium terbaik adalah susu yang diminum secara teratur. mentega merupakan makanan yang mengandung lemak dan baik diberikan pada anak balita sebab lemak sendiri mampu membentuk Selubung Mielin yang terdapat pada saraf otak. lemak dan gula. santan. 3. Kalsium Balita juga membutuhkan asupan kalsium secara teratur sebagai pertumbuhan tulang dan gigi balita. namun untuk semua umur membutuhkannya.yang dibutuhkan pada makanan-makanan yang mengandung protein. Vitamin E yang berperan untuk mencegah kerusakan struktur sel membrane dan antioksidan. Karbohidrat Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan karbohidrat sebagai energi utama serta bermanfaat untuk perkembangan otak saat belajar dikarnakan karbohidrat di otak berupa Sialic Acid. 4. 5. Protein bisa didapatkan pada makanan-makanan seperti ikan. 2. Banyak manfaat yang bisa didapat dari vitamin seperti misalnya vitamin A sebagai perkembangan kulit sehat. mereka juga membutuhkan gizi tersebut yang bisa diperoleh pada makanan seperti roti. nasi kentang dan lainnya. vitamin C yang berfungsi sebagai penyerapan zat besi. Begitu juga dengan balita.

dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan 13 . Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat. penurunan hemoglobin. Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi. infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik.1. Patofisiologi KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi. akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup. Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan.2. pendidikan serta rendahnya pengetahuan di bidang gizi. yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat. infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik. dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama. sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif. yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi.1. maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated malnutrition). 2. dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).8. penurunan kadar albumin serum. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama. Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan.7. Patofisiologi KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi. dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. atrofi otot. penurunan berbagai sintesa enzim. kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (2SD--3SD). Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi. seperti kelainan bawaan. Makanan yang tidak adekuat. pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi. maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut/decompensated malnutrition). penurunan sistem kekebalan tubuh. penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi. yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat. seperti kelainan bawaan. dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

penurunan berbagai sintesa enzim. akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup. prealbumin dengan waktu paruh 1. ketebalan yang berlebihan menunnjukkan kegemukan. maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Diagnosis Evaluasi status nutrisi yang tepat sukar. dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (2SD--3SD). pada evaluasi adanya deviasi berat badan. atrofi otot. penurunan hemoglobin. Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan.9. Kadar asam amino esensial serum mungkin lebih rendah daripada kadar serum asam amino 14 . Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisikronik/compensated malnutrition). Defisiensi beberapa nutrien dapat ditunjukkan dengan kadar nutrien atau produk-produknya secara klinik. maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut/decompensated malnutrition). tinggi badan. Untuk lingkaran otot lengan atas tengah anak dan orang dewasa (cm) = lingkaran lengan atas tengah (cm) – (ketebalan lipatan kulit [cm] x 3. walaupun sesudah pemeriksaan fisik dan laboratorium yang teliti. pada pengukuran komparatif lingkaran dan ketebalan kulit di tengah-tengah lengan atas. penurunan sistem kekebalan tubuh.14). atau dengan memberi penderita sejumlah besar nutrien yang sesuai dan memperhatikan angka yang diekskresikan. Massa otot dihitung dengan mengurangi lingkaran lengan atas dengan ukuran lipatan kulit. transthiretin dengan waktu paruh 12 jam. sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif. Gangguan berat dengan mudah tampak. Makanan yang tidak adekuat. menurun karena sintesis protein viseral tidak cukup atau karena pengosongan simpanan protein. tetapi gangguan ringan dapat terlewati. dan pada uji kimia dan lain-lain. Diagnosis malnutrisi berdasar pada riwayat diet yang tepat.nutrisi. Berat badan tanpa lemak dapat diperkirakan dari ekskresi kreatinin 24 jam.9 hari dan transferin dengan waktu paruh 8 hari. Kadar penggantian protein yang cepat.1. lingkaran kepala ratarata dan kecepatan pertumbuhan. 2. Penurunan ketebalan lipatan kulit memberi kesan malnutrisi protein kalori. Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Cadangan protein dinilai dari albumin serum dan kecepatan penggantian protein. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat. penurunan kadar albumin serum. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD.

parotitis. Ibu segera memberitahukan pada petugas kesehatan/kader bila balita mengalami sakit atau gangguan pertumbuhan g. Bagi balita dengan berat badan tidak naik (“T”) diberikan penyuluhan gizi seimbang dan PMT Penyuluhan f. Ibu membawa anak untuk ditimbang di posyandu secara teratur setiap bulan untuk mengetahui pertumbuhan berat badannya b. Kader melakukan penimbangan balita setiap bulan di posyandu serta mencatat hasil penimbangan pada KMS b. Kader memberikan PMT-Pemulihan bagi balita dengan berat badan tidak naik 3 kali (“3T”) dan berat badan di bawah garis merah (BGM) 15 . Tingkat Posyandu Pada tingkat posyandu.1. Ibu menerapkan nasehat yang dianjurkan petugas 2. mekanisme pelayanan adalah sebagai berikut. Mekanisme Pelayanan Gizi15 Mekanisme pelayanan gizi terhadap balita yang mengalami Kekurangan Energi Protein Berat atau gizi buruk terbagi atas beberapa tingkat seperti berikut. Kader menganjurkan makanan beraneka ragam untuk anggauta keluarga lainnya e. Tingkat Rumah Tangga Pada tingkat rumah tangga. atau tuberkulin pada orang yang terpajan. Insufisiensi imunologis sering ada pada malnutrisi dan ditunjukkan oleh angka limfosit total yang kurang dari 1.nonesensial. Kader memberikan penyuluhan pemberian MP-ASI sesuai dengan usia anak dan kondisi anak sesuai kartu nasehat ibu d. Ibu tetap memberikan ASI kepada anak sampai usia 2 tahun d. Candida. a. Gangguan nutrisi yang paling akut adalah gangguan yang melibatkan air dan elektrolit. 1. 2. Ibu memberikan makanan beraneka ragam bagi anggauta keluarga lainnya f. Malnutrisi kronik biasanya melibatkan defisit lebih daripada satu nutrien. Ekskresi hidroksiprolin menurun dan 3-metilhistidin naik. mekanisme pelayanan adalah sebagai berikut. dan rambut dengan mudah dicabut pada anak malnutrisi berat. kalium.10. Kader memberikan nasehat pada orang tua balita untuk memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan dan tetap memberikan ASI sampai usia 2 tahun c. Ibu memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-4 bulan c. terutama ion natrium.500/mm3 dan anergi terhadap uji antigen kulit. seperti streptokinase-streptodornase. klorida dan hidrogen. Ibu memberikan MP-ASI sesuai usia dan kondisi kesehatan anak sesuai anjuran pemberian makanan (lampiran 5) e. a.

Kader menimbang berat badan anak setiap 2 minggu sekali untuk memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya  Bila anak berat badan nya tidak naik atau tetap maka berikan penyuluhan gizi seimbang untuk dilaksanakan di rumah  Bila anak sakit dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke puskesmas d. kader memberikan PMT Pemulihan  Makanan tambahan diberikan dalam bentuk makanan jadi dan diberikan setiap hari. Pelayanan gizi di PPG difokuskan pada pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita KEP. Pusat Pemulihan Gizi (PPG) PPG merupakan suatu tempat pelayanan gizi kepada masyarakat yang ada di desa dan dapat dikembangkan dari posyandu. berat badan anak belum berada di pita warna hijau pada KMS kader merujuk anak ke puskesmas untuk mencari kemungkinan penyebab lain 16 . Penanganan PPG dilakukan oleh kelompok orang tua balita (5-9 balita) yang dibantu oleh kader untuk menyelenggarakan PMT Pemulihan anak balita. Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan balita 3. Balita KEP berat/gizi buruk yang tidak menderita penyakit penyerta lain dapat dilayani di PPG b. Kader memberikan penyuluhan gizi /kesehatan serta melakukan demonstrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP berat/gizi buruk c.  Bila makanan tidak memungkinkan untuk dimakan bersama. makanan tersebut diberikan satu hari dalam bentuk matang selebihnya diberikan dalam bentuk bahan makanan mentah  Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning pada KMS teruskan pemberian PMT pemulihan sampai 90 hari  Apabila setelah 90 hari. Layanan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut. a.g. Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning atau di bawah garis merah (BGM) pada KMS. Kader merujuk balita ke puskesmas bila ditemukan gizi buruk dan penyakit penyerta lain h.

Puskesmas menerima rujukan KEP Berat/Gizi buruk dari posyandu dalam wilayah kerjanya serta pasien pulang dari rawat inap di rumah sakit b. lakukan pemeriksaan untuk evaluasi mengenai asupan makanan dan kemungkinan penyakit penyerta. rujuk ke rumah sakit untuk mencari penyebab lain c. Apabila berat badan anak berada di pita warna hijau pada KMS. Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan dan gizi anak 4. Menyeleksi kasus dengan cara menimbang ulang dan dicek dengan Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS  Apabila ternyata berat badan anak berada di bawah garis merah (BGM) dianjurkan kembali ke PPG/posyandu untuk mendapatkan PMT pemulihan  Apabila anak dengan KEP berat/gizi buruk (BB < 60% Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS) tanpa disertai komplikasi. a.e.5 Kg selama 2 minggu dan mendapat PMT-P dari PPG  Apabila setelah 2 minggu berat badannya tidak naik. anak dapat dirawat jalan di puskesmas sampai berat badan nya mulai naik 0. Tindakan yang dapat dilakukan di puskesmas pada anak KEP berat/ gizi buruk tanpa komplikasi  Memberikan penyuluhan gizi dan konseling diet KEP berat/Gizi buruk (dilakukan di pojok gizi)  Melakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan minimal 1 kali per minggu  Melakukan evaluasi pertumbuhan berat badan balita gizi buruk setiap dua minggu sekali 17 . Anak KEP berat/Gizi Buruk dengan komplikasi serta ada tanda-tanda kegawatdaruratan segera dirujuk ke rumah sakit umum d. kader menganjurkan pada ibu untuk mengikuti pelayanan di posyandu setiap bulan dan tetap melaksanakan anjuran gizi dan kesehatan yang telah diberikan f. Kader menganjurkan pada ibu untuk tetap melaksanakan nasehat yang diberikan tentang gizi dan kesehatan h. Puskesmas Mekanisme pelayanan di tingkat puskesmas adalah sebagai berikut. Ibu memperoleh penyuluhan gizi/kesehatan serta demontrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP g.

fase transisi. posyandu.1. Apabila berat badan anak mulai naik. Melakukan peragaan cara menyiapkan makanan untuk KEP berat/Gizi buruk  Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan dan kemajuan asupan makanan  Untuk keperluan data pemantauan gizi buruk di lapangan. Koreksi defisiensi nutrien mikro 9. anak dapat dipulangkan dan dirujuk ke posyandu/PPG serta dianjurkan untuk pemantauan kesehatan setiap bulan sekali f. dan fase rehabilitasi. Atasi/cegah hipoglikemia 2. Obati/cegah infeksi 6. Petugas kesehatan memberikan bimbingan terhadap kader untuk melakukan pemantauan keadaan balita pada saat kunjungan rumah 2. dan puskesmas diperlukan laporan segera jumlah balita KEP berat/gizi buruk ke Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam 24 jam dengan menggunakan formulir W1 dan laporan mingguan dengan menggunakan formulir W2 e. Atasi/cegah dehidrasi 4. Mulai pemberian makanan 7. 18 . Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit 5. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth) 8. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental 10. Atasi/cegah hipotermia 3.11. Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi. Petugas kesehatan harus terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Penatalaksanaan pelayanan kurang gizi Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting yaitu: 1.

suhu tubuh rendah. berikan infus cairan glukosa dan segera rujuk ke RSU kabupaten. Jika anak mengalami gangguan kesadaran.Gambar 2. Pada hipoglikemia. Jika anak sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali.2 Sepuluh langkah utama tatalaksana kekurangan gizi Penatalaksanaan Kekurangan Energi Protein (KEP) Berat atau Gizi Buruk dikenal dengan sepuluh langkah utama yaitu sebagai berikut. Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan KEP berat/Gizi buruk. 19 . Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok.  Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah). anak terlihat lemah.

Jika suhu anak sudah normal dan stabil. Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk dapat menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. f. Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah) Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 36 0 C. 20 . lakukankan rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan perbandingan 1:1. e. a. Jika anak masih menyusui.  Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan dehidrasi adalah : a. lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok. Kelebihan natrium (Na) tubuh. d. c. Ada riwayat diare sebelumnya Anak sangat kehausan Mata cekung Nadi lemah Tangan dan kaki teraba dingin Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama. Jika anak masih dapat minum. a. b. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh anak. b. Perlu dijaga agar anak tetap dapat bernafas. Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur (bukan ketiak) setiap setengah jam sekali. teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali tanpa berhenti. Cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Pada keadaan ini anak harus dihangatkan.  Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya sebagai berikut. Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal. Jika anak tidak dapat minum. tetap dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali pada keadaan hipothermia. walaupun kadar Na rendah . dan meletakkan lampu didekatnya. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum. Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja. tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti demam seringkali tidak tampak. a. maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi lebih parah. oleh karena itu pada semua KEP berat/Gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas. yaitu Fase Stabilisasi. Makanan tanpa diberi garam/rendah garam b. b. karena keadaan faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. Fase Transisi dan Fase Rehabilitasi. Bila diare berlanjut segera rujuk ke rumah sakit  Pemberian makanan balita KEP berat/Gizi buruk Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase. Mangan. Untuk rehidrasi. berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral ( Zn. Fase Stabilisasi ( 1-2 hari) Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati. Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak  Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi Pada KEP berat/Gizi buruk. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut. a. Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit infeksi.b.5 mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. akan tetapi akan berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. a. untuk pemulihan keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu. Cuprum. Magnesium. Tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk. Berikan metronidasol 7. Formula khusus seperti Formula WHO 75/ modifikasi/ Modisco ½ yang dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus 21 . Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg) Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan.

Kemudian perlu dilakukan pemantauan dan pencatatan terhadap jumlah yang diberikan dan sisanya. perlu diperhatikan bahwa pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengan kandungan energi dan protein yang sama. mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik. rendah serat dan rendah laktosa  Energi : 100 kkal/kg/hari  Protein : 1-1. Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari. selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema. maka tahapan pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam).  Porsi kecil. b. Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam.5 gr/kg bb/hari  Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)  Bila anak mendapat ASI teruskan . frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja. banyaknya muntah.0 g per 100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2. Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1). Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam. dianjurkan memberi Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dengan menggunakan cangkir/gelas. yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak. Fase Transisi (minggu ke 2) Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk menghindari risiko gagal jantung. bila anak terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet  Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ atau pengganti dan jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak Selain itu. sering. berat badan (harian).disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut. 22 . Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco ½ dalam sehari. maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik ( dibutuhkan ketrampilan petugas ).

Selain itu juga dilakukan penimbangan anak setiap pagi sebelum diberi makan. kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan. b. secara perlahan anak diperkenalkan dengan makanan keluarga. ulangi menaikkan volume seperti di atas. Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan. anak diberi Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Setelah fase transisi dilampaui. Setelah normal kembali. Bila anak masih mendapat ASI. Pada fase transisi perlu dilakukan pemantauan frekwensi nafas dan frekwensi denyut nadi. TAHAPAN PEMBERIAN DIET FASE STABILISASI : FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI FASE TRANSISI : FORMULA WHO 75  FORMULA WHO 100 ATAU PENGGANTI 23 . Protein 4-6 gram/kg bb/hari.Setiap m inggu kenaikan bb dihitung.Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali. Bila anak masih mendapat ASI. Setelah itu. teruskan ASI. Energi berkisar 150-220 Kkal/kg bb/hari. tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1. Kemudian diberikan energy sebanyak 150-220 kkal/kgbb/hari dan protein 4-6 g/kgbb/hari. pemantauan perlu dilakukan. karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari). ditambah dengan makanan Formula (lampiran 2) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh-kejar. teruskan. kurangi volume pemberian formula. anak diberikan formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidak terbatas dan sering. Selama fase rehabilitasi. perlu re-evaluasi menyeluruh. Fase Rehabilitasi (minggu ke 3-7) Pada fase rehabilitasi. sampai hanya sedikit formula tersisa. Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan. Baik bila kenaikan bb  50 g/Kg bb/minggu.

mengalami kurang vitamin dan mineral. jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe). Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau sirup besi dengan dosis sebagai berikut : Tabel Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi UMUR TABLET BESI/FOLAT DAN Sulfas ferosus 200 mg + Sulfas ferosus 150 ml BERAT BADAN 0. Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya. Tunggu sampai anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada minggu ke 2).FASE REHABILITASI : FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)  MAKANAN KELUARGA  Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro Semua pasien KEP berat/Gizi buruk. berikan setiap hari tambahan multivitamin lain. Pada anak. Walaupun anemia biasa terjadi.< 10 Kg) 12 bulan sampai 5 ½ tablet SIRUP BESI  Berikan 3 kali sehari 2.25 mg Asam Folat 6 sampai 12 bulan  Berikan 3 kali sehari ¼ tablet (7 . UMUR ATAU BERAT BADAN PIRANTEL PAMOAT (125mg/tablet) 4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg) (DOSIS TUNGGAL) ½ tablet 24 .5 ml (1/2 sendok teh) 5 ml (1 sendok teh) tahun Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis tunggal sebagai berikut.

periksa secara teratur di Puskesmas Pelayanan di PPG (lihat bagian pelayanan PPG) untuk memperoleh PMT-Pemulihan selama 90 hari.   Melakukan kunjungan ulang setiap minggu. pemberian makan yang sering dengan kandungan energi dan nutrien yang padat penerapan terapi bermain dengan kelompok bermain atau Posyandu Pemberian suntikan imunisasi sesuai jadwal Anjurkan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah berikut ini.1.12.000 IU 1 kapsul Kapsul Vitamin A 100. Ikuti nasehat pemberian makanan (lihat lampiran 5) dan berat badan     anak selalu ditimbang setiap bulan secara teratur di posyandu/puskesmas. Tingkat Rumah Tangga 25 . Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah pasien dipulangkan dan ikuti pemberian makanan.000 SI ) sesuai umur anak setiap Bulan Februari dan Agustus. memandikan. Selain itu nasehatkan kepada orang tua untuk melakukan hal-hal berikut ini. Umur 6 bln sampai 12 bln 12 bln sampai 5 Thn  Kapsul Vitamin A 200. Tatalaksana Diet pada Kurang Gizi Tatalaksana diet pada KEP Berat/gizi buruk dibedakan berdasarkan tingkatan sebagai berikut. bermain dsb) Persiapan untuk tindak lanjut di rumah Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa.000 IU 1 kapsul - Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku.  - Kasih sayang - Ciptakan lingkungan yang menyenangkan - Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 – 30 menit/hari - Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh - Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan.000 SI atau 100. 2.9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg) 1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg) 3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg) ¾ tablet 1 tablet 1 ½ tablet Selain itu Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis sebagai berikut. a. dan aktifitas bermain.

 bahan makanan mentah berupa tepung beras. tatalaksana diet pada KEP Berat/Gizi Buruk adalah sebagai berikut. kacang-kacangan.Di tingkat rumah tangga. telur dan lauk pauk lainnya  Contoh paket bahan makanan tambahan pemulihan (PMT-P) yang dibawa pulang Contoh bahan makanan yang dibawa pulang : Alternative I Kebutuhan Paket Bahan Makanan/Anak/Hari Beras 60 g Telur 1 butir atau kacang. Lama PMT-P 26 .atau tepung lainnya. gula minyak. jenis makanan yang diberikan mengikuti anjuran makanan  Selain butir 1. yaitu :    Energi 350 – 400 kalori Protein 10 . maka dalam rangka pemulihan kesehatan anak.  Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada anak sesuai dengan kebutuhan  Teruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun b. sayuran.15 g Bentuk makanan PMT-P  Kudapan (makanan kecil) yang dibuat dari bahan makanan setempat/lokal. tepung susu. perlu mendapat makanan tambahan pemulihan (PMT-P) dengan komposisi gizi mencukupi minimal 1/3 dari kebutuhan 1 hari. Tingkat Posyandu/PPG Di tingkat rumah tangga.  Anjurkan ibu memberikan makanan kepada anak di rumah sesuai usia anak. tatalaksana diet pada KEP Berat/Gizi Buruk adalah sebagai berikut.gula 15 g II III kacangan 25 g Beras 70 g Ikan 30 g Ubi/singkong 150 Kacang-kacangan 40 g gula 20 g V g Tepung ubi 40 g gula 20 g Kacang-kacangan 40 g 1.

2. bila ada edema dikurangi menjadi 100 ml/Kg bb/hari f. Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan berdasarkan berat badan. masalah psikologis). Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar. I. yaitu : pemberian diet. Pemberian diet balita KEP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. defisiensi zat gizi.Pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-P) diberikan setiap hari kepada anak selama 3 bulan (90 hari). dan cukup vitamin mineral secara bertahap. serta tindak lanjut. bila tidak naik kaji penyebabnya (asupan gizi tidak adequat. fase transisi. Jumlah pemberian peroral atau lewat pipa nasogastrik g. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering h. dan membagikan makanan tersebut kepada anak balita KEP. dan fase rehabilitasi b. Kebutuhan energi mulai 100-200 kal/Kgbb/hari c. selanjutnya kader membagikan paket bahan makanan mentah untuk kebutuhan 6 hari. yaitu : bb < 7 kg diberikan kembali makanan bayi dan bb > 7 Kg dapat langsung diberikan makanan anak secara bertahap II. Ada 4 (empat) kegiatan penting dalam tata laksana diet. pemantauan. infeksi. dan evaluasi. dan rendah serat i. Kebutuhan protein mulai 1-6 g/Kgbb/hari d. c. Terus memberikan ASI j. tinggi protein. Evaluasi Dan Pemantauan Pemberian Diet a. Timbang berat badan sekali seminggu. Cara penyelenggaraan 1) Makanan kudapan diberikan setiap hari di Pusat Pemulihan Gizi (PPG) atau 2) Seminggu sekali kader melakukan demonstrasi pembuatan makanan pendamping ASI/makanan anak. Melalui 3 fase yaitu : fase stabilisasi. rendah laktosa. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral khusus. guna mencapai status gizi optimal. 27 . penyuluhan gizi. Tingkat Puskesmas Tata laksana diet pada balita KEP berat/gizi buruk ditujukan untuk memberikan makanan tinggi energi. Jumlah cairan 130-200 ml/kgbb/hari. bila tidak tersedia diberikan bahan makanan sumber mineral tertentu (lihat hal 12) e.

Bila ada gangguan saluran cerna (diare. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untk menilai status gizi masyarakat. Bila asupan zat gizi kurang. Mempertimbangkan sosial ekonomi keluarga f. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. misal: susu rendah laktosa. Kejadian hipoglikemia : beri minum air gula atau makan setiap 2 jam III.2. Memperhatikan riwayat gizi (lampiran 3 dan 4) e.16 2.muntah) menunjukkan bahwa formula tidak sesuai dengan kondisi anak. Menggunakan leaflet khusus yang berisi jumlah. dan frekwensi pemberian bahan makanan b. Ditinjau dari sudut pandang gizi. Tindak Lanjut a. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Cara Penilaian Status Gizi 10. dan jumlah air dalam tubuh. Hal ini dapat dilihat pada jaringan 28 . Selalu memberikan contoh menu (lampiran 6) c.b. Ketidakseimbangan itu terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak. b. Memberikan demonstrasi dan praktek memasak makanan balita untuk ibu IV. c. jenis.1. d.Merencanakan pemberdayaan keluarga 2. Penyuluhan Gizi Di Puskesmas a. Merencanakan kunjungan rumah a. otot. maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. kembung. Langsung a. Mempromosikan ASI bila anak kurang dari 2 tahun d. modifikasi diet sesuai selera.2. Antropometri Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. formula tempe yang ditambah tepung-tepungan. maka gunakan formula rendah atau bebas lactosa dan hipoosmolar.

d. Survei konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. tinja. Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit. rambut.epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. 2.2. mata. 1. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). 2. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. c. Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). urine. keluarga dan individu.2. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah. maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah. Statistik Vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angaka kematian berdasarkan umur. statistic vital dan factor ekologi. dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. angka kesakitan dan 29 . Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik. Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu survey komsumsi makanan.

Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980). e. Jenis Parameter Jenis-jenis parameter antropometri gizi adalah sebagai berikut. Anak balita yang ditimbang. Merupakan parameter terpenting. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam menimbang berat badan anak adalah sebagai berikut. 2) Berat Badan a. c. Anak balita yang ditimbang sebaiknya memakai pakaian yang seminim dan seringan mungkin. edema dan tumor b. Pengetahuan petugas 30 . Berat badan juga digunakan sebagai dasar pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat).   Pemeriksaan alat timbang Dacin yang baik adalah apabila bandul geser berada pada posisi 0. di hitung 4 bulan. namun terdapat hambatan pada keadaan adanya dehidrasi. Keamanan Perhatikan keamanan penggantungan dacin. Merupakan parameter terbaik karena mudah terlihat bila ada perubahan. Apabila tidak   memungkinkan maka hasil di koreksi dengan berat pakaian yang dikenakan. Sepatu baju dan topi sebaiknya di lepaskan. jarum penunjuk berada pada posisi seimbang.  0-2 tahun : Bulan Usia Penuh (completed month) Contoh : 4 bulan 5 hari. d. Kesalahan penentuan umur akan mempengaruhi hasil dan menyebabkan stautus gizi menjadi salah.0 kg. asites. lantai dan keadaan disekitarnya. Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. batasan umur digunakan adalah  2 thn : Tahun Usia Penuh (completed year) Contoh : 7tahun 2 bulan. 2.kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. 1) Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Apabila pengukuran dilakukan secara periodik dapat memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan.3. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. dihitung 7 tahun.2. Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan di anjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacin. Memberikan gambaran status gizi sekarang.

3. Indeks Antropometri110 Di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada. 31 . Table 2. Penggolongan Keadaan gizi menurut indeks Antropometri. b. 2. Merupakan ukuran kedua yang penting. maka untuk berat badan dan tinggi badan digunakan baku Harvard yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 presentile baku Harvard ) dan untuk LILA digunakan baku Wolansky. Kelebihan : 1. BB berfluktuasi sehinggga sangat sensitif dalam penilaian.4. Indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi saat ini (current nutritional status).2. sensitif terhadap perubahan mendadak → sangat labil. baik untuk akut atau kronis. Dapat mendeteksi obesitas/over weight. Tinggi Badan a. Status gizi Ambang batas baku untuk keadan gizi berdasarkan indeks Gizi baik BB/ U >80% TB/U >85% BB/TB >90% LLA/U >85% LLA/TB >85% Gizi kurang 61-80% 71-85% 81-90% 71-85% 76-85% Gizi buruk ≤60% ≤ 70% ≤ 80% ≤ 70% ≤ 75% a. Dapat mengetahui keadaan lalu & dan sekarang. Mudah. 2.Petugas dianjurkan untuk mengetahui berat badan anak secara umum pada umurumur tertentu. Berat Badan Menurut Umur (BB/U) Parameter gambaran massa tubuh. terutama bila umur tidak diketahui.3. Hal ini sangat penting diketahui untuk dapat memperkirakan posisi bandul geser yang mendekati skala berat pada dacin sesuai dengan umur anak 3) yang di timbang.

sehingga lebih menggambarkan status gizi masa lalu. independen terhadap umur. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk. 2. Pengukuran relatif sulit. Kelebihan : 1. 2. 32 . perlu 2 orang. 2. 4. TB/U juga erat kaitannya dg sosial-ekonomi. Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) BB berhubungan linier dengan TB. normal & kurus) Kelemahan : 1. Sulit untuk pengukuran pada balita. Kurang sensitif terhadap masalah waktu singkat dan pengaruhnya nampak dalam waktu lama. b. 3. Interpretasi bisa keliru bila edema / asites. c. Bisa terjadi salah pembacaan hasil ukur. Bisa terjadi salah pengukuran karena pakaian atau gerakan saat menimbang. tinggi / kelebihan TB terhadap umur. Tak dapat memberi gambaran pendek. Perlu data umur yang akurat . 2.Kelemahan : 1. 2. Kelebihan : 1. terutama kelompok non profesional . Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Keadaan Normal : TB tumbuh seiring BB. Perlu 2 macam alat ukur dan butuh waktu lebih lama. Menurut Beaton & Bengoa (1973). Alat ukur murah & mudah. 3. TB tidak cepat naik dan tidak mungkin turun. Kelemahan : 1. Baik untuk status gizi masa lampau. Indikator yang baik untuk nilai status gizi sekarang. Tidak perlu umur. Ketepatan umur sulit didapat. 3.

10. 2000. Waterlaw JC.I 3. 8. Jakarta: Departemen Kesehatan republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan RI. Azwar. Ilmu Gizi: Pengetahuan Dasar Ilmu Gizi. Karsin. 2008b. Pedoman Pelaksanaan Pojok Gizi (POZI) di Puskesmas. Diagnosis Gizi Buruk. 9. Retnaningsih. WHO. 2008a. 7. Modul Pelatihan Penilaian Pertumbuhan Anak: Konseling Pertumbuhan dan Pemberian Makan. Sibarani dan Baliwati. 4. Khomsan.I. Jakarta: Papas Sinar Sinanti. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Pedoman Penanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT pada Balita. 2002. 2. 11.I. 6. Jakarta: Dirjen Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Indonesia. Yuliati. Setiawan. Jakarta: Papas Sinar Sinanti. Jakarta 1997. 13. Irawan. 1992 33 . Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Departemen Kesehatan RI. WHO.I. Riyadi. Pemantauan Pertumbuhan Balita.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Departemen Kesehatan R.I. Guideline for the Inpatient Treatment of Severely Malnourished Children. 15. Rimbawan. Mudajinah. 2000. Pengantar Pangan dan Gizi. 2002. 2010. 5. R. F. Jakarta 1997. Pranadji. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Edward Arnold . Anwar. Penentuan Status Gizi Secara Langsung. 1998. 2003. Unicef. Ningtyias. Roosita. Surabaya: RSUD dr. Moehji. London. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Dietary Management of PEM (Not Published. Ditjen Binkesmas Depkes. 16. Moehji. 2004. Makanan Pendamping ASI. WHO Searo. Departemen Kesehatan R. Hardiansyah. 2004. Departemen Kesehatan R. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Indonesia. Departemen Kesehatan R. W. Soetomo. Jember: Jember University. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Protein Energy Malnutrition.S. Jakarta: Penebar Swadaya. 1998) 14. Ilmu Gizi: Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta 1997 12. Kusharto.

air minum: air galon Listrik ada Pasien memiliki WC 2 buah di dalam rumah dan digunakan secara bersama untuk 2 keluarga lainnya 34 . Tepat di depan pintu masuk.Penghasilan orang tua ± Rp 1. Beberapa barang ditumpuk dan tidak - tersusun dengan baik. Alamat : Jl. STATUS PASIEN 1. Di pekarangan depan rumah. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga a. Jenis Kelamin : Laki-laki c. Nama : MAH b. Khatib Sulaiman No. Status Ekonomi Keluarga : . Jumlah Saudara :c. KB :e. Identitas Pasien a. terdapat botol dan kaleng bekas yang menampung air - hujan. Umur : 6 bulan d. pekarangan cukup luas . 15 Belakang Kopertis RT 03/ RW 13 2. jumlah kamar 3 buah .Kamar kurang rapi dan bersih. Pekerjaan :e.Ventilasi cukup. Status Perkawinan : Belum Menikah b. terdapat 2 buah sangkar ayam jantan.Rumah pasien permanen. ada beberapa drum yang tidak tertutup. Sumber air : air PDAM. Di belakang rumah juga terdapat kandang ayam yang jaraknya 1 meter dari - rumah.500.Lantai rumah terbuat dari semen .000/bulan d. pencahayaan cukup.BAB III LAPORAN KASUS A. Kondisi Rumah : . Di dalam drum tersebut.

Hubungan pasien dengan keluarganya baik 4. 3.Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.M. . dan demam.8 kg. tidak menggigil. tidak berkeringat. 4 bulan d. Aspek Psikologis Keluarga . Dan juga sering muntah setelah menyusu. Riwayat Penyakit Sekarang . tidak tinggi. tetapi merupakan kehamilan kedua bagi ibu pasien. Sesak nafas ada Mencret tidak ada Berat badan anak tidak mengalami kenaikan sesuai dengan usianya. 3. Demam - hilang setelah beberapa hari. Anak pertama meninggal di dalam kandungan. 5. paling lama hanya sekitar 5-10 menit setiap kali - menyusui.Batuk sejak 1 minggu yang lalu 7. Riwayat kelahiran : lahir dengan sectio caesarea. 6. - Pasien sering sesak nafas.Pasien anak tunggal. 2.Pasien tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk. tidak mengkonsumsi obat-obatan. kontrol teratur ke bidan. Riwayat kehamilan : Selama hamil tidak pernah menderita penyakit berat. Kondisi Lingkungan Keluarga . Batuk disertai pilek. dan juga dua keluarga lainnya. Anak sering menangis ketika menyusu sehingga ibu hanya dapat menyusui anaknya sebentar-sebentar. dan baru diketahui memiliki penyakit kelainan katup jantung (ASD sekundum sedang) pada November 2016 setelah berobat ke RSUP Dr. berat badan lahir 2. 1 bulan b. Riwayat Penyakit Keluarga . Keluhan Utama . . langsung menangis . Polio : usia 0. 4 bulan e. pilek.- Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan diambil oleh petugas setiap hari Kesan: hygiene dan sanitasi kurang baik f. .Djamil Padang. cukup bulan. Tengkurap sendiri : 1 bulan : belum bisa 35 . Campak :Kesan : imunisasi lengkap - Riwayat tumbuh kembang : a.Batuk sejak 1 minggu yang lalu. Tangan dan kaki bergerak aktif b. Hepatitis B : 0.Pasien tinggal dengan orang tua. 3.Riwayat imunisasi : a.Demam 10 hari yang lalu. BCG : 1 bulan. DPT : usia 2. tidak - merokok. scar (+) c. batuk berdahak. Riwayat Penyakit Dahulu - Pasien sering mengalami batuk.

reflek cahaya +/+.31 IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus ) : hitam dan tidak mudah dicabut : cekung. sejak usia 4 bulan. Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Nadi Nafas Tekanan Darah Suhu Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi Rambut Mata : Tampak sakit sedang : Composmentis Cooperative : 100 kali/menit : 60 kali/menit :: 37. Menoleh ke suara : 5 bulan . 3 kali sehari dengan porsi setengah mangkuk kecil Kesan : Kuantintas dan kualitas makanan dan minuman kurang 8. Nyeri tekan (-). pupil isokor.6 kg : 52 cm : IMT = 13.c. faring tidak hiperemis Thorak Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis : Fremitus hemitorak kiri sama dengan kanan : Sonor : Suara nafas vesikuler. Ronkhi -/-. air mata ada. wheezing -/: iktus cordis tidak terlihat : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV : Batas jantung dalam batas normal : Bunyi jantung murni. sklera tidak ikterik. defans muskuler (-) : Timpani : Bising usus normal 36 . diameter 2 mm Telinga : tidak ditemukan kelainan Hidung : tidak ditemukan kelainan Mulut : mukosa mulut dan bibir basah Tenggorokan : tonsil T1 – T1 tidak hiperemis. sejak usia 4 bulan Bubur susu : ada. konjungtiva tidak anemis. bising tidak ada : Perut tidak tampak membuncit : Hepar dan lien tidak teraba.00 C : 3.Riwayat makanan dan minuman : ASI ekslusif : tidak Susu formula : ada.

Kehamilan berikutnya berisiko.Ekstremitas : jari-jari tangan dan kaki berwarna agak biru. MAH). pilek dan demam. dapat menjadi tempat peristirahatan nyamuk. Sering mengalami batuk. MENETAPKAN MASALAH KESEHATAN DALAM KELUARGA Masalah kesehatan dalam keluarga adalah sebagai berikut. An. Anggota keluarga yang tinggal satu rumah berjumlah 12 orang. c. Diagnosis Kerja .ISPA . Posisi ibu saat menyusui belum benar. Anak menyusu sebentar-sebentar.Pemeriksaan darah rutin 10. dan bagaimana memberikan ASI yang baik. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi. 2. susah makan. 3. a. S 1. 5. b. Tinggal bersama dalam satu rumah dengan 2 keluarga yang lain (keluarga kakak dan adik Ny. Kain yang menumpuk di dalam kamar. serta beberapa barang-barang lain yang tidak tersusun. Ibu menikah usia 38 tahun. 5. gizi kurang dan makanan yang bisa diberikan kepada anak untuk meningkatkan berat badannya. 3. akral hangat. C. hamil anak pertama saat usia 39 tahun (IUFD). refilling kapiler baik 9. genangan air di tanah. Ny. Berat badan bawah garis merah (BGM). Terdapat beberapa tempat peranakan nyamuk (ember penampung air hujan.S). 4. 6. Kesehatan Lingkungan 1. dan sering muntah. Diagnosis Banding : B. REKOMENDASI SOLUSI SESUAI DENGAN MASALAH KESEHATAN KELUARGA MELALUI PENDEKATAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK 1. 37 . hamil kedua usia 40 tahun (An. Sesak nafas. edema (-). 4. Diketahui menderita kelainan jantung bawaan yaitu ASD sekundum sedang. ASI. Tidak ASI Ekslusif. 2. 2. dan selokan di belakang rumah). Obesitas. 5. MAH 1. Kandang ayam hanya berjarak 1 meter dari rumah (berada di belakang rumah) dan 2 sangkar ayam jantan tepat di depan pintu masuk. Laboratorium Anjuran . 3. Hanya mempunyai 2 kamar mandi dan jamban. selain itu juga berisiko kanker payudara. Memberikan penyuluhan tentang gizi. 4.Gizi buruk ec low intake ec ASD sekundum sedang 11. Preventif a.

selada. tinggi serat. Melakukan skrining benjolan di payudara setiap bulannya. m. f. Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak. Menurunkan berat badan Ny. tahu.papaya. Sayuran : kangkung. menyimpan. daging sapi. 2. sereal halus. ikan. dan menyajikan ASI untuk bayi. kunjungan ke posyandu. Buah : jeruk. bubur saring dengan telur. dan lain-lain. Promotif a. Minum obat dan kontrol ke Rumah Sakit secara teratur. j. Rajin membawa anak ke posyandu. Menjelaskan kepada orang tua tentang masalah kesehatan anaknya. Mengkonsumsi makanan tambahan yang bisa di dapatkan di puskesmas atau setiap g. udang. wortel. toge. jambu air. e. kacang-kacangan (kacang ijo. b. kacang merah. telur puyuh. dagng ayam. Mengikuti program puskesmas untuk masalah gizi. timbang berat badan secara teratur minimal 1 kali sebulan. k. bubur susu. - kedele ) dan jamur. l. hati. c. ikan. Bawa segera ke puskesmas/ Rumah Sakit jika anak sakit. semangka. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena asupan yang kurang dan juga penyakit jantung bawaan yang didertanya. e. Menjelaskan bahwa ASI dan gizi seimbang perlu untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi. 38 . cara memerah. dan lain-lain. dan lain-lain.b. Susu formula dan ASI. Memberi makan dalam porsi kecil tetapi sering. dimana si anak mengalami gizi buruk karena berat badannya tidak sesuai dengan tinggi badan dan umurnya. bayam. sayur-sayuran. Bahan makanan yang bisa diberikan kepada bayi berupa : . Menyarankan kepada Ny. h. c. apel . cumi dan sumber laut - lain. kerang. d. Membuka usaha dirumah seperti membuat kue. Protein nabati : tempe. oncom. Mengajarkan bagaimana posisi menyusui yang benar. telur. juga penting untuk mencegah agar tidak tidak terkena penyakit seperti infeksi.melon. dan - gandum. sawi. SY. Protein hewani : daging ayam.SY untuk diet rendah kalori tinggi protein. d. i. kacang ijo. menjalankan program tersebut sampai selesai. Terus memberikan ASI dan makanan pendamping ASI yang bergizi seperti bubur susu. serta meningkatkan olahraga dan aktivitas fisik. tahu. berjualan atau berkebun untuk menambah pemasukan keluarga. roti dilunakkan.Karbohidrat : nasi tim saring. Menggunakan KB non hormonal jika ingin menggunakan KB.

karena imunisasi akan membentuk kekebalan tubuh sehingga anak akan terhindar dari penyakit-penyakit tertentu seperti campak. hepatitis B. Menjelaskan bagaimana dampak obesitas untk kesehatan. Sehingga setidaknya dalam - sebulan berat badan pasien lebih kurang naik 0. Target pencapaian berat badan untuk 1 tahun kedepan adalah : Berdasarkan rumus konvensional.5 kg. hipertensi dan penyakit metaboliklainnya.5x2) } + 8 =1+8 = 9 kg Jadi target pencapaian berat badan yang harus dicapai dalam 1 tahun adalah 9 kg.00 ASI 39 . Memberikan makanan tambahan seperti telur. Menjelaskan faktor risiko kanker payudara.00 ASI (sekehendak) 07. tetanus.00 Buah/ Sari Buah 11. Gizi buruk Rencana program perbaikan gizi : .6 kg.f. B.00 *F-75/F-100 12. dan mengenai kehamilan berisiko. Kuratif A. faktor risiko menjadi diabetes melitus. tablet besi (tablet besi hanya diberikan setelah minggu ke-2). Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (dosis sesuai umur). Mengajarkan ibu bagaimana menghitung berat badan ideal. Memberikan menu harian kepada pasien yang bisa diterapkan (untuk 1 bulan pertama telah disisipkan jadwal pemberian F-75/F-100. Contoh menu harian : a. Mengajarkan ibu mengasah perkembangan bayi. Penyakit Jantung Kongenital : Kontrol ke Rumah Sakit dan minum obat teratur.Membuat jadwal kunjungan rutin puskesmas ke rumah pasien untuk melakukan - penimbangan berat badan. MP-ASI. SY). h. i. g. dapat ditentukan berat badan yang seharusnya dimiliki anak sesuai umurnya : { Umur (tahun) x 2 } + 8 = { (0. asam folat. 3. polio. bulan berikutnya menyesuaikan pemberian F-100/4 jam).dll. dan susu formula. Menjelaskan pentingnya memantau berat badan dan tinggi badan secara berkala. Pemberian imunisasi dasar dan booster. karena berat badan pasien saat ini adalah 3. dan mengatur pola makan ibu (Ny. kebutuhan kalori. Usia 6-7 bulan Pukul : 06.00 *F-75/F-100 09. F-100 diberikan hingga minggu ke-26 (bulan ke-7) atau hingga tercapai BB/PB >-2 SD Standar WHO 2005 (kriteria sembuh tercapai)  Belum bisa dilakukan karena terkendala persediaan F-75/F- 100 yang tidak ada di puskesmas. TBC. j. k. Menjelaskan pentingya pemberian imunisasi secara lengkap bagi bayi.

b.00 10.00 21.00 15.00 13.00 18.00 15.0 ASI (sekehendak) Buah/ Sari buah Bubur susu Buah/ Sari buah ASI ASI dst ASI (sekehendak) Buah/ sari buah Bubur Susu Biskuit Tim Saring ASI dst ASI Bubur Susu Buah/ Sari buah Tim Saring Biskuit Tim Saring ASI dst e. Usia 7-8 bulan Pukul : 06.00 21.00 21. Jumlah sekali pemberian disesuaikan dengan berat badan.00 12. 4. Menjalankan program pemulihan gizi buruk secara konsisten dan terevaluasi.00 15.00 15.00 21.00 20.00 18. c.00 10. b.00 09. Menimbang berat badan tiap bulan hingga mencapai berat badan sesuai umur. Upayakan anak selalu menghabiskan makanannya dan mengkonsumsi susu bantu atau makanan tambahan dari puskesmas. Usia 11-12 bulan Pukul : 06.00 16. e.00 08.00 c.14.00 08.00 08.00 21. Usia 9-10 bulan Pukul : 06. d.00 d.00 15. Rehabilitatif a. Bulan I : 1x/minggu 40 .00 *F-75/F-100 Buah/ Sari Buah *F-75/F-100 ASI *F-75/F-100 ASI dst * F-75 diganti menjadi F-100 pada hari ke-4 dan seterusnya jika toleransi baik dengan F-75.00 ASI Nasi Tim Buah/ Sari Buah Nasi Tim Biskuit Nasi Tim ASI dst.00 18. Usia 8-9 bulan Pukul : 06. Kontrol ulang secara teratur : a.00 18.00 12.00 18.00 12. Mempertimbangkan bayi untuk dirawat inap agar dapat diberikan makanan per NGT.

diameter 2 mm Telinga : tidak ditemukan kelainan Hidung : tidak ditemukan kelainan Mulut : mukosa mulut dan bibir basah Tenggorokan : tonsil T1 – T1 tidak hiperemis. pupil isokor. Memberikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional D.6 kg Tinggi Badan : 52 cm Status Gizi : IMT = 13. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Composmentis Cooperative Nadi : 100 kali/menit Nafas : 60 kali/menit Tekanan Darah :Suhu : 37. kami lebih banyak melakukan anamnesis kepada ibu pasien. Batuk dan pilek sudah mulai berkurang. Refilling kapiler baik ISPA Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang Pada kunjungan pertama ke rumah pasien. faring tidak hiperemis Thorak Abdomen Ekstremitas Diagnosis : : Paru dan jantung dalam batas normal : Dalam batas normal : Edema (-). konjungtiva tidak anemis. air mata ada. Tanggal 19 November 2016 Riwayat penyakit sekarang : - Batuk sejak 9 hari yang lalu. Selain kami melakukan kembali pengukuran terhadap berat badan. .Sesak nafas ada . Bulan II : 1x/2 minggu c.31 IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus ) Rambut : hitam dan tidak mudah dicabut Mata : cekung. FOLLOW UP ( HOME VISITE ) 1.00 C Berat Badan : 3.Anak masih menyusu sebentar-sebentar. tinggi 41 . reflek cahaya +/+. . batuk berdahak disertai pilek. sklera tidak ikterik.b. keadaan lingkungan rumah. mengenai pasien dan saudaranya. kehidupan ekonomi keluarga. Bulan III-IV : 1x/bulan f.Mencret tidak ada .Berat badan anak tidak naik dari berat badan sebelumnya. akral hangat.

memandikan.Kasih sayang .badan. konjungtiva tidak anemis. Kami memberikan nasihat kepada ibu pasien untuk rutin mengobati penyakit jantung anaknya ini. sklera tidak ikterik. dsb) 2.Keterlibatan ibu (memberi makan. Menjelaskan penyebab yang mungkin menyebabkan berat badan anak tidak naik sesuai dengan usianya. diameter 2 mm Telinga : tidak ditemukan kelainan Hidung : tidak ditemukan kelainan Mulut : mukosa mulut dan bibir basah Tenggorokan : tonsil T1 – T1 tidak hiperemis.57 IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus ) Rambut : hitam dan tidak mudah dicabut Mata : cekung. d. jika berat badannya tidak sesuai dengan umur.90 C Berat Badan : 3. reflek cahaya +/+. karenanya harus diberikan : . Tanggal 26 November 2016 Riwayat penyakit sekarang : . Menjelaskan mengenai penyakit yang akan mungkin diderita pasien. bermain. pupil isokor.Sesak nafas sedikit berkurang .4 kg Tinggi Badan : 52 cm Status Gizi : IMT = 12. air mata ada. Dari hasil pemeriksaan ini kami menjelaskan beberapa hal kepada ibu pasien : a.Batuk berdahak dan pilek tidak ada . yaitu low intake akibat penyakit jantung bawaan yang diderita anak. c. faring tidak hiperemis 42 .Anak masih menyusu sebentar-sebentar Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Composmentis Cooperative Nadi : 110 kali/menit Nafas : 55 kali/menit Tekanan Darah :Suhu : 36.Mencret tidak ada .Berat badan anak turun dari berat badan sebelumnya .Lingkungan yang ceria . Berat badan si anak tidak sesuai dengan umur dan tinggi badannya b. lingkar lengan. Pada anak dengan gizi buruk biasanya akan terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku.

Thorak Abdomen Ekstremitas Diagnosis : : Paru dan jantung dalam batas normal : Dalam batas normal : Edema (-). Memberikan penyuluhan tentang gizi. kami melakukan penilaian bagaimana cara ibu menyusui bayinya. akral hangat. menjelaskan posisi bayi - terhadap ibu saat menyusui. timbang berat badan secara teratur minimal 1 - kali sebulan Memberi makan dalam porsi kecil tetapi sering Membuat sendiri cemilan untuk anak yang bergizi dan dijaga kebersihannya.5 kg : 52 cm : IMT = 12.20 C : 3. Memberi dukungan untuk ibu agar selalu bersemangat menyusui bayinya. Meskipun bayinya hanya dapat menyusu sebentar-sebentar. Refilling kapiler baik Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang Pada kali kedua kunjungan ke rumah pasien. Selain itu. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Nadi Nafas Tekanan Darah Suhu Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi : Tampak sakit sedang : Composmentis Cooperative : 105 kali/menit : 50 kali/menit :: 37. tetapi ibu tidak boleh lelah menyusui anaknya. Mengajarkan ibu tentang cara memompa ASI. tetapi anak sudah mulai lahap makan bubur susu. cara ibu memberikan bubur susu untuk bayinya. makanan yang bisa diberikan kepada anak Rajin membawa anak ke posyandu. Anak masih sebentar menyusu. Mengajarkan ibu tentang cara membuat bubur susu dari PMT. Tanggal 3 Desember 2016 Riwayat penyakit sekarang : - Batuk dan pilek tidak ada Sesak nafas berkurang Mencret tidak ada Berat badan anak sedikit naik dibandingkan berat badan sebelumnya. 3. kami juga memberikan PMT untuk si anak.94 IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus ) 43 . Kemudian kami memberikan beberapa edukasi : - Mengajarkan ibu tentang cara menyusui yang benar. Kami dapati bahwa cara ibu menyusui bayi belum benar.

air mata ada. pupil isokor. diameter 2 mm Telinga : tidak ditemukan kelainan Hidung : tidak ditemukan kelainan Mulut : mukosa mulut dan bibir basah Tenggorokan : tonsil T1 – T1 tidak hiperemis. sklera tidak ikterik. agar ibu dan anggota keluarga lainnya dapat menjaga kebersihan lingkungan rumah seperti dengan menutup drum-drum yang terbuka agar tidak lagi digenangi air sehingga tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. dilakukan evaluasi mengenai pertumbuhan anak.Berat badan anak sedikit naik dibandingkan berat badan sebelumnya. Anak sudah mulai lahap makan dan berat badan anak naik dibandingkan dengan berat badan sebelumnya. Tanggal 10 Desember 2016 Riwayat penyakit sekarang : . Kami juga memberikan beberapa edukasi tentang lingkungan rumah. 4. faring tidak hiperemis Thorak Abdomen Ekstremitas : Paru dan jantung dalam batas normal : Dalam batas normal : Edema (-).Sesak nafas berkurang .Batuk dan pilek tidak ada .00 C Berat Badan : 3. kami menerangkan contoh menu harian yang bisa diberikan untuk anak. Selain itu. Kami memberitahu ibu bahwa anak sudah bisa diberikan buah/sari buah.7 kg Tinggi Badan : 52 cm 44 . reflek cahaya +/+. . Juga memberikan saran untuk memindahkan sangkar ayam dan kandang ayam agar sedikit jauh dari rumah (> 1 meter). akral hangat. konjungtiva tidak anemis. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Composmentis Cooperative Nadi : 100 kali/menit Nafas : 50 kali/menit Tekanan Darah :Suhu : 37. Refilling kapiler baik Diagnosis : Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang Pada kunjungan ke 3.Anak masih sebentar menyusu.Rambut : hitam dan tidak mudah dicabut Mata : cekung. tetapi anak sudah mulai lahap makan bubur susu.Mencret tidak ada .

Status Gizi : IMT = 13. didapatkan bahwa keluarga belum dapat memberikan makanan kepada pasien sesuai menu yang kami sarankan. faring tidak hiperemis Thorak Abdomen Ekstremitas : Paru dan jantung dalam batas normal : Dalam batas normal : Edema (-). Refilling kapiler baik Diagnosis : Gizi buruk et causa low intake et causa ASD sekundum sedang Pada kunjungan ke empat. Pemberian imunisasi. Oleh sebab itu kami merasa perlu bekerja sama dengan puskesmas secara langsung agar puskesmas bisa membantu dalam hal sebagai berikut : - Membuat jadwal kunjungan rutin puskesmas ke rumah pasien untuk melakukan - penimbangan berat badan.68 IMT/ U = < -3 SD ( Sangat kurus ) Rambut : hitam dan tidak mudah dicabut Mata : cekung. termasuk imunisasi ulangan (booster) Pemberian vitamin A setiap 6 bulan (dosis sesuai umur) 45 . Kunjungan dilakukan 1x/bulan. air mata ada. sklera tidak ikterik. pupil isokor. akral hangat. Penyediaan makanan tambahan. konjungtiva tidak anemis. reflek cahaya +/+. diameter 2 mm Telinga : tidak ditemukan kelainan Hidung : tidak ditemukan kelainan Mulut : mukosa mulut dan bibir basah Tenggorokan : tonsil T1 – T1 tidak hiperemis.

LAMPIRAN Kamar pasien Sangkar ayam di dekat pintu masuk rumah 46 .

Saat menimbang berat badan pasien Memberikan PMT Leaflet yang diberikan 47 .

Related Interests