Interpretasi Temuan

Menurut skenario, terdapat bengkak dan memar pada wajah korban dan turut didapatkan
memar berbentuk dua garis sejajar pada punggung korban. Memar pada dua bagian ini
kemungkinan besar disebabkan oleh trauma tumpul. Disebabkan memar dideskripsikan terjadi
apabila adanya infiltrasi darah ke bagian subkutan atau subepitel dari pembuluh darah yang
ruptur, jadi boleh diintepretasi bahawa memar yang terjadi pada bagian wajah dan punggung
korban berlaku apabila terkena trauma tumpul sewaktu korban masih hidup.

Untuk

menghasilkan memar post mortem, daya yang diperlukan adalah jauh lebih kuat berbanding daya
yang diperlukan untuk menghasilkan memar pada orang yang hidup, dan memar post mortem
juga lebih kecil jika dibandingkan dengan memar ante mortem karena darah sudah terkoagulasi
ke jaringan subkutan.1
Luka bakar berbentuk bundar berukuran 1 cm yang ditemukan pada paha korban
mengindikasikan korban telah dipaparkan kekerasan dari suhu yang tinggi. Dari skenario hanya
diberikan penjelasan mengenai ukuran dan bentuk lukanya jadi tidak dapat ditentukan derajat
luka bakarnya namun sumber panas dari luka tersebut dapat kita simpulkan berbentuk bundar
dengan diameter 1 cm iaitu berkemungkinan bersar sekali daripada puntung rokok. Luka bakar
sesuai dengan jejas listrik turut ditemukan pada ujung penis korban. Gambaran makroskopis
jejas listrik pada daerah kontak berupa kerusakan lapisan tanduk kulit sebagai luka bakar dengan
tepi yang menonjol,disekitarnya terdapat daerah yang pucat dikelilingi oleh kulit yang hiperemi.
Bentuknya sering sesuai dengan benda penyebabnya. Metalisasi juga sering ditemukan pada jejas
listrik.
Pada korban turut ditemukan jejas jerat melingkari leher dengan simpul di daerah kiri
belakang membentuk sudut ke atas. Daripada penemuan ini yang dapat diintepretasikan adalah
jenis penggantungan yang berlaku. Pada ‘typical hanging’ simpul selalu berada tepat di sentral
pada tengkuk. Jika simpul ditemukan pada posisi lain, jenis gantung yang berlaku dipanggil
‘atypical hanging’. Untuk menentukan apakah korban digantung sewaktu masih hidup atau post
mortem dapat dilihat pada jejas jerat pada leher korban. Pada kasus ini, didapatkan jejas jerat
yang melingkar pada leher korban yang bertepatan dengan kesan yang sering ditemukan pada
korban yang digantung post mortem. Disebabkan tidak terdapat resapan darah di kulit leher
korban menguatkan lagi hipotesis bahawa korban telah digantung post mortem. Ditemukan juga

adanya patah ujung tulang rawan gondok sisi kiri yang sesuai dengan tanda trauma akibat
digantung.1,2
Ditemukan tanda asfiksia yang jelas pada pasien iaitu adanya sedikit busa halus pada
saluran napas dan bintik – bintik perdarahan di permukaan jantung dan paru. Tanda – tanda ini
membuktikan korban telah mengalami asfiksia namun etiologi dari asfiksianya tidak ditentukan
dari tanda – tanda ini sahaja.2
Resapan darah yang luas di kulit kepala dan perdarahan tipis di bawah selaput keras otak
menandakan berlakunya trauma pada bagian kepala. Trauma pada kepala dapat menyebabkan
dua jenis pendarahan pada otak iaitu pendarahan epidural, subdural atau subarachnoid. Kesan
dari jenis - jenis pendarahan ini akan menyebabkan darah memenuhi ruang intracranial dan akan
menyebabkan peningkatan tekanan intracranial. Trauma yang menyebabkan perdarahan
intracranial tanpa mengambil kira punca dari trauma akan mengakibatkan hasil yang sama iaitu
berlakunya edema cerebral. Mekanisme terjadinya edema cerebral belum sepenuhnya dipahami,
tetapi kemungkinan disebabkan cairan yang memenuhi ruang ekstraselular. Disebabkan cranium
tidak boleh mengembang, edema cerebral akan menyebabkan meningkatnya tekanan intracranial
lalu menekan otak untuk memenuhi ruang dalam cranium dan meninges. Apabila tekanan
intracranial semakin meningkat, aliran darah ke otak akan semakin menurun. Jika tekanan
intracranial mencapai suatu tahap di mana ia sama atau lebih tinggi dari tekanan darah arteri,
aliran darah ke otak akan berhenti.1,2
Kesimpulan tentang saat mati
Daripada interpretasi temuan pada korban, dapat disimpulkan bahawa korban mati
disebabkan asfiksia. Asfiksia tersebut berlaku akibat adanya trauma pada bagian kepala, yang
telah menyebabkan edema cerebral yang menyebabkan darah tidak dapat mengalir ke otak lalu
menyebabkan korban meninggal. Terdapat tanda – tanda kecederaan ante mortem yang
dikenakan pada korban iaitu memar pada punggung dan wajah, luka bakar pada paha dan luka
bakar listrik pada ujung penis. Penemuan kecederaan pada leher pasien mengarahkan kepada
kesimpulan bahawa pasien telah digantung post mortem.1
Daftar pustaka

1) Shepherd R. Simpson’s Forensic Medicine. Edisi ke – 12. London: Arnold, 2003. Hal 70
– 5, 99 – 113.
2) Vij K. Textbook of Forensic Medicine and Toxicology. Edisi ke – 5. India: Elsevier, 2011.
Hal 110 – 45.