BAB 1

PERJODOHAN YANG BAIK WANITA CANTIK DAN PENDEKAR
TERJADI HAL TIDAK TERDUGA LILIN MERAH MENJADI BUTIRAN
ES
BURUNG WAN-YO BERSUKA RIA SIA SIA BERBAGI RASA

PERJODOHAN SEPERTI ALIS DAN BULU MATA BIJI TERATAI
DAN DAUN EMAS BEREBUT LUMUT DI MUSIM GUGUR
SEPATU HUJAN BERAPA KALI DIPAKAI
BAYANGAN DINDING DAN SINAR BULAN YANG PUTIH
SEPERTI BUNGA YANG BERTUMPUK
KATA LEMBUT MEMBUAT TAKUT DAN TERKEJUT

DUPA DAN TULISAN DI KAIN MEMENUHI KERANJANG
HUJAN MEMBUAT UDARA DINGIN MALAM BERMIMPI DI
JEMPUT ROH
Su Ta Cu
Secangkir Mutiara
A. Pernikahan Yang Mewah
Semua orang persilatan sedang berkumpul di Tiong-ciu.
Hari ini adalah hari yang meriah, di kota Lok-yang di depan rumah
Hie Tiong-gwee, Hie Tayhiap sudah penuh sesak oleh kereta kuda.
Mereka datang untuk memberi ucapan selamat kepada Hie
Tiong-gwee karena hari ini dia sedang merayakan pernikahannya
yang kedua.
Walaupun ini adalah pernikahannya yang kedua tapi pernikahannya
tidak kalah hebat dengan pernikahannya yang pertama, malah
mungkin lebih meriah.
Pengantin perempuannya adalah si Cantik dari Lok-yang, sedang
pengantin prianya pun sudah tidak asing lagi
Delapan belas tahun yang lalu, sewaktu Hie Tiong-gwee dengan
istri pertamanya menikah, dia adalah 'orang kecil' yang tidak
mempunyai nama, walaupun tidak miskin dia hanya mempunyai
beberapa petak sawah, itu pun adalah warisan dari nenek
moyangnya.
Tapi sekarang... siapa yang tidak kenal dengan Hie Tiong-gwee?
Sekarang dia adalah Bengcu 5 propinsi, orang-orang menjuluki dia
sebagai 'Tiong-ciu Tayhiap', dia mempunyai sawah beribu hektar
dan kekayaan yang tidak terhitung.
Orang yang mempunyai kekayaan dan nama di dunia persilatan,
pasti banyak orang yang ingin datang untuk menghormat sampai
menjilat. Setelah mendengar kabar pernikahan Hie, merekapun
segera juga datang untuk memberikan selamat.

Lilin merah dipasang di dalam rumah yang sudah penuh sesak oleh
tamu-tamu. Untungnya di dalam rumah ada sebuah taman bunga,
bila tidak bagaimana bisa menampung begitu banyak tamu yang
tidak diundang tapi datang berduyun-duyun.
Tamu yang tidak bisa masuk ke ruang tamu, semua dipersilahkan
masuk ke taman bunga, mereka ini adalah orang yang diangap
kedudukannya rendah.
Tapi ada sebagian tamu dengan status sosial tinggi juga berjalan
ke arah taman bunga. Taman bunga keluarga Hie di Lok-yang juga
mempunyai nama. Katanya ada orang yang terkenal memberi
nama taman bunga ini adalah 'Kim-kok-hwan'.( lembah taman
emas )
Di taman Kim-kok, bunga yang paling banyak ditanam adalah
bunga Bo-tan, sekarang adalah saatnya bunga Botan mekar.
Di taman itu tamu-tamu melakukan hal yang mereka senangi dan
mereka pilih sendiri. Yang senang minum sedang minum, yang
senang bunga tampak sedang melihat bunga. Mereka bebas
melakukan apa saja, karena itu tamu-tamu lebih senang berada di
taman bunga daripada di ruang tamu yang sumpek.
Suasana di ruang tamu pun tidak sama, tamu-tamu yang berada di
ruang tamu kebanyakan orang-orang yang terkenal. Mereka
tertawa-tawa dan suasana sangat ramai, tamu-tamu itu memuji
tuan rumah. Tapi di taman bunga sebaliknya terdengar
pembicaraan yang sedikit mengejek tuan rumah.
Kim-kok-hwan terkenal dengan bunga Bo-tan karena itu mereka
juga banyak bercerita tentang Bo-tan, setelah itu baru memuji
kecantikan pengantin perempuan dan royalnya pengantin pria.
Di antara mereka ada seorang pelajar, dia hanya datang seorang
diri. Sambil melihat-lihat bunga dia menggelengkan kepala.
Ada seorang tamu yang menyapanya dan berkata:
"Coh Toako, ada apa denganmu? Bunga Bo-tan di taman bunga ini
mekar begitu indah, bukankah kau menyukai bunga? Tapi mengapa
kau tidak terlihat begitu gembira?"
Si pelajar ini datang dari Yang-ciu bernama Coh Thian-su, dijuluki

Thiat-pit-su-seng (Sastrawan pena besi). Tapi jangan salah menilai,
sepasang pena nya selain berguna untuk menulis sajak juga bisa di
pakai untuk menotok urat nadi orang, namanya di dunia persilatan
pun lumayan terkenal. Sebenarnya Hie Tiong-gwee sendiri tidak
mengenal Coh Thian-su, dia hanya kenal dengan namanya, dia
menitipkan undangan untuknya. Orang yang mengantar
undangannya adalah orang yang baru menyapanya. Dia bernama
Sin Kong-ta, yang pergaulannya sangat luas, dan paling suka
mengurusi masalah orang lain. Dia pun berasal dari dunia
persilatan, dia dijuluki 'Sun-hong-ji' (Telinga segala penjuru), sebab
bila ada orang bertanya kepadanya tentang semua hal yang terjadi
di dunia persilatan, dia pasti akan tahu, kadang-kadang bila dia
bercerita ludahnya bercipratan kemana-mana. Tapi orang-orang
sangat percaya kepada ceritanya.
Dengan ringan Coh Thian-su berkata:
"Aku melihat ada yang tidak pantas."
"Apa yang tidak pantas?" Tanya Sin Kong-ta bengong.
"Bunga Bo-tan ini."
Dengan terkejut Sin Kong-ta berkata lagi:
"Bunga Bo-tan yang paling terkenal di Lok-yang adalah bunga
Bo-tan yang berada di Kim-kok-hwan. Bo-tan yang berwarna Manao (berwarna seperti getah pohon pinus) dan Bo-tan yang
berwarna putih sangat bagus dan indah. Dan Bo-tan hitam ini di
tempat lain tidak ada, hanya ada di Lok-yang, apakah semua ini
tidak cukup baik?"
"Semua sangat baik, jujur bicara, di tempat lain aku belum pernah
melihatnya." Kata Coh Thian-su.
"Kalau begitu, mengapa kau masih menganggap semua ini tidak
pantas?"
"Karena di taman ini hanya ada bunga Bo-tan."
Sin Kong-ta mengerutkan dahi dan berkata:
"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu, memangnya kalau semua
bunga Bo-tan, tidak baik?"

"Bukan bunganya yang tidak baik, tapi bunga itu tidak cocok
dengan status tuan rumah." Kata Coh Thian-su.
"Kau semakin aneh, apa hubungan antara bunga dan tuan rumah?"
"Hubungannya sangat erat, seumpama Tho Hoan-beng senang
dengan bunga Chrysan, Souw Toan-sian senang dengan bunga
teratai..."
"Mereka dari aliran mana?" Kata Sin Kong-ta.Coh Thian-su tertawa,
jawabnya: "Mereka bukan orang persilatan, mereka adalah
sastrawan dari
jaman dulu."
"Pantas saja aku tidak tahu, sekarang katakanlah bunga Bo-tan
sebenarnya cocok dengan orang yang bagaimana?"
"Bo-tan adalah bunga yang melambangkan kekayaan, orang yang
senang dengan bunga Bo-tan status sosialnya pun bermacammacam, apalagi untuk orang kaya dan pedagang-pedagang besar."
"Bo-tan adalah bunga perlambang kekayaan, itupun aku tahu, tapi
mengapa Bo-tan tidak cocok dengan Hie Tayhiap?" Kata Sin
Kong-ta.
"Karena Hie Tiong-gwee adalah 'Hie Tayhiap'." Jawab Coh Thiansu.
Sin Kong-ta seperti mengerti maksud kata-kata Coh Thian-su: "Aku
mengerti maksudmu, Hie Tayhiap senang bunga, seorang
pesilat tidak seharusnya menyerupai orang-orang biasa."
Kata Coh Thian-su:
"Mungkin aku salah menilai, bukannya aku menghina orang yang
senang bunga Bo-tan, tapi aku merasa bila Hie Tayhiap menyukai
bunga Bo-tan, itu agak sedikit kampungan."
Sin Kong-ta tertawa dan bertanya lagi:
"Kau masih melihat ada hal lain yang tidak pantas?"
"Kim-kok-hwan, 3 huruf ini." Kata Coh Thian-su.
"Yang memberi nama ini adalah seorang yang terkenal, apakah dia
tidak cukup berpengetahuan?" Tanya Sin Kong-ta.

Coh Thian-su tertawa dan menjawab:
"Ujian pelajar pun aku tidak lulus, mana berani menandingi orang
itu, tapi.....apakah kau tahu mengapa dia memakai huruf-huruf
itu?"
"Aku tidak begitu mengerti huruf-huruf itu, seharusnya kau yang
memberitahu aku."
"Memang aku tidak pintar seperti orang lain tapi aku tahu orang itu
mengambil nama dari nama taman orang lain, orang yang pertama
menggunakan nama Kim-kok-hwan adalah Su Cong."
"Siapa Su Cong itu?"
"Su Cong adalah orang yang paling kaya jaman dinasti Kim."
"Kalau begitu nama taman itu sangat cocok untuk Hie Tayhiap,
karena dia adalah orang paling kaya di Lok-yang."
"Benar, kau memang benar, aku mengatakan tidak pantas,
mungkin aku salah menilai."
Sin Kong-ta tampak senang dan berkata:
"Kau pun mengakui kesalahanmu."
Coh Thian-su menarik nafas:
"Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan Hie Tionggwee, mungkin aku salah menilainya."
"Apa artinya?" Tanya Sin Kong-ta bingung.
"Tidak
guntur
bahwa
adalah

berarti apa-apa, Hie Tayhiap namanya terkenal seperti
di siang hari bolong, memang aku tahu sekilas tentang dia
dia adalah seorang pendekar, tapi tidak tahu bahwa dia
orang terkaya di Lok-yang."

Sin Kong-ta bukan orang bodoh, dengan tertawa dia berkata: "Aku
sudah mengerti maksudmu, kalian para pelajar bila bicara selalu
berputar-putar, jadi kira-kira kau menganggap Hie Tayhiap tidak
pantas menjadi orang terkaya? Adik Coh, aku nasihati dirimu,
pendapatmu tidak cocok."
Karena Coh Thian-su adalah tamu yang dibawa olehnya maka dia
tidak sungkan mengubah panggilan "kakak" menjadi "adik.

"Aku selalu tidak benar dalam menilai orang, harap kau banyak
mengajarku."
"Menjadi pendekar harus memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi uang
pun tidak boleh kekurangan. Bila tidak, bagaimana bisa berbuat
amal?"
"Mungkin ayah Hie Tayhiap adalah orang kaya?"
"Salah, sewaktu ayahnya masih hidup, aku lebih kaya darinya, jadi
kembali kau salah menduga?"
"Sebab seorang pendekar selalu beramal maka harus memakai
uang yang banyak."
Tentu, aku sendiripun melihat dalam waktu sehari dia memberi
3000 tail perak untuk teman-temannya, uangnya mengalir seperti
air."
"Melihat dia setiap tahun memakai begitu banyak uang, sekarang
masih menjadi orang terkaya di Lok-yang, seharusnya ayahnya
lebih kaya lagi dari dia. Kalau aku mengatakan ayahnya adalah
orang terkaya di propinsi Holam sepertinya malah merendahkan,
apakah tebakanku dengan kenyataan yang ada tidak cocok? Ini
sungguh aneh?"
"Orang menjadi kaya belum tentu mendapat dari warisan, untuk
dia memang dia bisa mencari uang sendiri." Kata Sin Kong-ta.
"Setahun penuh dia beramal dan menolong orang, dia bukan
perampok juga bukan pedagang, dari mana dia mendapat uang
begitu banyak?"
Sin Kong-ta tertawa:
"Aku bilang kau tidak kenal dengan keadaan di sini, tapi katakatamu sedikit pun tidak salah, ada pepatah yang mengatakan
'orang baik pasti ada pahalanya, dia beramal walaupun tidak ingin
orang membalas budinya, tapi yang ingin membalas budinya juga
pasti banyak"."
"Oh, jadi begitu." Coh Thian-su mengangguk.
Sin Kong-ta takut Coh Thian-su salah paham kepada Hie Tionggwee dan dia berkata lagi:

"Aku akan menceritakan beberapa cerita untukmu, dalam beramal
dia tidak menharapkan balasan, baik menerima 1 tail pun, dari sini
saja kau sudah bisa tahu bahwa pribudinya sangat tinggi."
Saat ingin melanjutkan ceritanya, Coh Thian-su sudah memotong
kata-katanya.
"Cerita-cerita lain mengenai Hie Tiong-gwee, aku sudah tahu, dia
pernah mengalahkan Huang-ho-sam-sat (3 penjahat Huang-ho),
pernah melukai penjahat yang berada di jalan San-kan, dengan
satu kelingking dia bisa mengalahkan tombak yang beratnya 72
kati milik Souw Ta, pendekar-pendekar Kun-lun, Bu Tong dan
Siauw-lim pun kalah di tangannya. Aku sampai bosan
mendengarnya, apakah kau bisa menceritakan hal yang lain?"
"Memang hal itu sudah diketahui oleh orang-orang, tapi ada satu
hal yang aku kira kau pun belum tahu." Kata Sin Kong-ta.
"Apa?"
"Apakah kau tahu beberapa tahun belakangan ini ada seseorang
yang berjuluk Hui-thian-sin-liong (Naga sakti terbang ke langit), dia
adalah seorang gembong penjahat yang baru muncul."
Kata Coh Thian-su:
"Kau sungguh mengetahui cerita-cerita yang terbaru, memang aku
pernah mendengar ada seorang penjahat yang sangat
menggegerkan dunia persilatan."
Coh Thian-su melanjutkan bertanya: "Lalu apa yang kau ketahui?"
"Katanya penjahat ini datang dan perginya seperti seekor ular naga
terbang, terlihat kepala tidak terlihat ekor. Banyak orang persilatan
yang pernah menjadi sasarannya tapi tidak ada yang tahu
bagaimana wajahnya."
Kata Sin Kong-ta lagi:
"Bukan hanya menjadi sasarannya, banyak orang terkenal yang
dipotong menjadi beberapa bagian, ada juga yang ditusuk hingga
matanya menjadi buta, ada juga yang kepalanya dipenggal, tapi
semua tidak berani membicarakannya, mereka segera pindah ke
tempat lain. Setiap kali bila sudah melakukan kejahatan dia selalu

memakai darah korban melukis seekor naga. Karena terlihat kepala
dan tidak terlihat ekor, maka dia selalu memakai naga sebagai
lambangnya, hingga dia dijuluki 'Hui-thian-sin-liong'. Dalam 2 tahun
belakangan ini dia sudah melukai banyak pendekar ternama.
Orang-orang sangat benci dan takut kepadanya, tapi tidak mampu
berbuat apa-apa dan tidak berani melakukan apa-apa, bila ada
yang tahu dia berada di mana, orang akan langsung bersembunyi
dan menghindar ke tempat jauh."
"Memang dunia persilatan sudah diaduk-aduk olehnya, tapi dalam
keadaan bergolak itu tiba-tiba dia menghilang." Kata Coh Thian-su.
"O-mie-to-hud, mengapa kau mengatakan seperti itu? Dia sudah
membuat orang ketakutan selama 2 tahun, bila diteruskan lagi
tidak terbayang bagaimana akibatnya. Apakah kau tahu kapan dan
mengapa dia tiba-tiba menghilang?"
"Tidak tahu." Dengan jujur Coh Thian-su menjawab.
"Kau tidak tahu, tapi aku tahu."
"Bila kau tahu, coba ceritakan!"
"Kau tidak percaya bahwa aku tahu jawabannya bukan? Kau sudah
berteman denganku sekian lama, seharusnya mengenal bagaimana
diriku, bila aku sudah tahu semuanya, baru aku akan bercerita."
Coh Thian-su menahan tawa, dia memang ingin tahu dan dalam
hatinya dia berkata, 'Baiklah, coba kupancing dia akan cerita apa?'
Maka cepat Coh Thian-su berkata,
"Baiklah, baiklah, aku memang salah, hayo cepat katakan!"
Sin Kong-ta baru berkata,
"Adik, aku hanya bercerita kepadamu, jangan sampai kau ceritakan
pada orang lain. Hui-thian-sin-liong sudah dikalahkan oleh Hie
Taybiap, dia dipaksa oleh Hie Tayhiap untuk mengundurkan diri
dari dunia persilatan."
"Mengapa kau bisa tahu?"
"Hie Tayhiap yang memberitahuku, bila tidak selamanya aku
sendiri tidak akan tahu."

"Sungguh aneh?"
"Apa anehnya?"
"Hui-thian-sin-liong sudah menghilang selama 3 tahun, apakah Hie
Tiong-gwee hanya memberitahu kepadamu? Karena Hui-thiansin-liong sudah membuat banyak kekacauan, seharusnya banyak
yang tahu kabar ini."
Kata Sin Kong-ta:
"Benar, Hie Tiong-gwee hanya memberitahuku, dia bilang seperti
ini, 'Sin Toako, aku berteman baik denganmu, maka aku beritahu
kepadamu, rahasia ini jangan sampai bocor'."
Coh Thian-su tidak tahan dan tertawa:
"Sin Toako, kata-kata ini pun tadi kau ucapkan kepadaku."
Sin Kong-ta masih tidak tahu malu, berkata lagi:
"Karena kita adalah teman baik, tidak apa aku membocorkan
rahasia ini kepadamu."
Coh Thian-su makin ingin tertawa, dia berkata:
"Terima kasih. Aku ingin tanya apakah Hui-thian-sin-liong itu laki
laki atau perempuan? Gemuk atau kurus?"
"Dia laki-laki, perempuan tidak akan begitu berani. Kurus atau
gemuk aku tidak tahu, karena Hie Tiong-gwee tidak
mengatakannya, mungkin kurus karena orang gemuk ilmu
meringankan tubuhnya tidak akan hebat seperti itu."
"Apakah dia tua
mengatakannya."

atau

muda?

Hie

Tiong-gwee

pasti

"Benar, dia kira-kira berumur 50 tahun, bila masih muda tidak akan
cocok dengan predikat Hui-thian-sin-liong, lagi pula kalau masih
muda, mana bisa mengalahkan begitu banyak orang terkenal."
Kata Sin Kong-ta lagi,
"Kepandaiannya sangat lihai, dia bisa menggunakan daun menjadi
senjata rahasianya, kepandaian jarinya juga sangat hebat, dia

sangat hebat, Hie Tiong-gwee sudah memberitahuku tapi aku lupa
apakah dia bisa..."
Coh Thian-su sudah tidak tahan lagi dan dia tertawa terbahakbahak. Sin Kong-ta sangat marah dan bertanya:
"Kau menertawakan apa?"
"Mengapa tidak sekalian kau katakan pada saat mereka bertarung
kau pun ada di sana."
Sin Kong-ta tampak marah dan berkata: "Apakah kau mengira aku
berbohong?"
"Tidak, aku hanya bergurau. Kau benar-benar pintar bicara, aku
kagum kepadamu."
"Kejelekanmu adalah kau orang terpelajar tapi sering bergurau
tidak melihat orang dan tempat."
"Apa boleh buat, gunung saja bisa dipindahkan, tapi sifat orang
tidak dapat diubah. Aku minta maaf." Kata Coh Thian-su.
"Kau pasti masih curiga, mengapa Hie Tiong-gwee hanya
memberi-tahuku, sebab Hie Tiong-gwee menganggap aku adalah
temannya."
"Tadi kau mengatakan bahwa teman Hie Tiong-gwee sangat
banyak tapi mengapa hanya dirimu yang menjadi sahabatnya?" Sin
Kong-ta tertawa dan berkata:
"Hie Tiong-gwee benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya,
dia tidak memberitahu orang lain karena 2 hal, pertama dia sangat
menyukai ilmu silat dan dia sangat kagum pada kehebatan
Hui-thian-sin-liong, dia hanya memaksa Hui-thian-sinhong
mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak mau
membunuhnya. Bila hal ini diketahui oleh orang lain, pasti mereka
akan marah. Kedua, Hie Tiong-gwee adalah orang yang rendah
hati, dia tidak mau orang lain tahu bahwa dia berjasa besar kepada
dunia persilatan."
"Kalau begitu, Hie Tiong-gwee adalah orang yang sangat sempurna
dan sangat dikagumi, tapi aku tidak tertarik kepada Hie Tayhiap."
Sin Kong-ta menjadi bengong: "Laku kau tertarik dengan apa?"

"Aku tertarik dengan pengantin perempuannya." Sin Kong-ta lebih
bengong lagi dan dia bertanya: "Apa maksudmu? Kau tertarik
kepada pengantin perempuannya?" Jawab Coh Thian-su dengan
tertawa:
"Pikiranmu jangan ngawur lagi, kata orang dia adalah si Cantik dari
Lok-yang, aku adalah orang biasa, pasti lebih tertarik kepada
perempuan, aku hanya ingin tahu lebih banyak saja."
Jawab Sin Kong-ta,
"Aku tidak ngawur. Aku malah takut kau yang ngawur. Si Cantik
she Kang, bernama Hiat-kun, dia cantik tapi dingin. Perempuannya
cantik, laki-lakinya gagah, mereka adalah jodoh yang serasi."
"Dia anak siapa?" Tanya Coh-thian-su.
"Pepatah mengatakan 'jangan tanya riwayat pahlawan', aku kira
perempuan pun seperti itu, asalkan cantik dia tidak akan susah
terbang tinggi untuk menjadi burung Hong."
"Ayahnya bekerja sebagai apa?" Tanya Coh Thian-su
"Katanya dia juga orang persilatan."
"Apa artinya *katanya dia juga orang persilatan'?"
"Ayahnya, Kang Guan-yang, dia membuka perguruan silat di kota
Lok-yang, Kang kausu hanya bisa beberapa jurus silat pasaran
karena itu muridnya pun hanya ada beberapa orang. Untung saja
dia mempunyai putri yang cantik, kalau tidak mungkin satu murid
pun dia tidak akan punya."
Coh Thian-su tampak terkejut, ternyata kabar itu benar, Kang
Guan-yang bersembunyi di Lok-yang menjadi kausu, tapi kabar
yang satu lagi entah benar atau bohong.
Coh Thian-su berkata,
"Aku ingin bertemu dengan Kang kausu, aku pikir kau pasti
mengenal nya, bisakah kau mengusahakan aku bertemu
dengannya?" Sin Kong-ta tertawa dan berkata:
"Bila kau mau bertemu dengannya, harus menunggu beberapa
puluh tahun lagi."

"Mengapa?"
"Kau belum berusia 30 tahun, aku harap kau bisa panjang umur,
kalau panjang umur kau harus menunggu 70 tahun lagi baru bisa
bertemu dengannya."
Coh Thian-su sangat terkejut dan bertanya:
"Kang Guan-yang sudah meninggal?
Sungguh sangat disayangkan?

Kapan

meninggalnya,

Sin Kong-ta merasa aneh dan berkata:
"Walaupun Kang Guan-yang memiliki putri yang cantik tapi dia
sendiri orang biasa-biasa saja. Kau begitu perhatian kepadanya,
apakah kau kenal dengannya?"
"Aku pernah mendengarnya, tapi bukan temannya."
Dalam hati Sin Kong-ta berpikir, 'Kalau tidak mendengar nama
Kang Hiat-kun dia tidak akan tahu bahwa ayahnya bernama Kang
Guan-yang, kemudian dia bertanya:
"Mengapa kau bisa kenal dengan orang yang tidak ternama?"
"Aku juga tadinya tidak ingat, entah teman mana yang
memberitahuku. Temanku dengan temanmu tidak sama, temanmu
orang-orang terkenal dan teman-temanku hanya orang biasa."
Sin Kong-ta menggelengkan kepala dan berkata,
"Kau jangan bergurau."
"Aku tidak bergurau, aku selalu tidak ingin berteman dengan orang
terkenal, apakah kau tidak tahu? Sebenarnya kali ini pun aku
enggan ke sini, hanya karena undangannya dititipkan kepadamu,
demi dirimu aku berusaha datang."
Walaupun Sin Kong-ta masih belum mengerti tapi dia berpikir
walaupun Coh Thian-su telah membohonginya, bahwa dia tidak
kenal dengan Kang Guan-yang, tapi tidak apa-apalah, dia tetap
tertawa dan berkata,
"Terima kasih kau sudah menyelamatkan mukaku." "Seharusnya
aku yang berterima kasih, bila kau tidak mengantarkan undangan,
aku juga malu datang kemari." Sin Kong-ta tampak senang, dia

berkata,
"Tadi aku melihatmu seperti menyesali sesuatu, mengapa sekarang
sudah tidak lagi?"
"Karena tadi aku belum tahu bahwa pengantin perempuannya
adalah si Cantik Lok-yang dan juga belum tahu bahwa dia adalah
putri Kang Guan-yang. Kang Guan-yang adalah teman dari
temanku."
Ini tidak jadi masalah, yang penting dia bisa melihat si Cantik dari
Lok-yang. Padahal sebenarnya keadaan ini terbalik. Yang utama
adalah dia harus mencari tahu keadaan Kang Guan-yang baru
melihat si Cantik.
Sebenarnya pada saat dia menerima undangan dari tangan Sin
Kong-ta, dia ingin tidak pergi bersama-sama Sin Kong-ta, dia hanya
berjanji bertemu di Lok-yang. Setelah sampai di Lok-yang, Sin
Kongta terlihat sangat 'sibuk' berteman, tidak ada waktu bercerita
mengenai pengantin perempuan, sampai sekarang karena
statusnya tidak diperbolehkan mengobrol di ruang tamu. Karena itu
dia pindah ke taman bunga. Coh Thian-su adalah tamu yang
memiliki status sosial tinggi, otomatis Coh Thian-su mengajak dia
mengobrol dahulu.
Sin Kong-ta berkata:
"Sebentar lagi pengantin akan bersembahyang, kau harus menjaga
sikap, jangan bergurau."
"Aku mengatakan bahwa pengantin perempuannya sangat cantik,
tentu bukan gurauan. Kau belum memberitahu kapan Kang Guanyang meninggal?"
"Tahun lalu, kira-kira pertengahan Oktober."
"Itu baru 3 bulan yang lalu."
"Benar, sudah 4 bulan."
"Ya, bisa dihitung 4 bulan, sebenarnya saat mi masih berkabung,
mengapa..."
Sin Kong-ta tertawa dan berkata:

"Kalian orang sekolah sangat aneh, bila masih berkabung tidak
boleh menikah, ini hanya aturan kalian saja. Kalau orang persilatan
tidak ada aturan seperti itu, masih ada 1 hal yang kau tidak tahu."
"Apa?"
"Sebelum Kang Guan-yang meninggal, dia selalu menerima
bantuan Hie Tayhiap, dia berpesan kepada keluarganya bila dia
sudah meninggal, putrinya harus menikah dengan Hie Tayhiap.
Setelah 3 bulan Hie Tiong-gwee baru boleh memiliki putrinya. Ini
merupakan penghormatan bagi keluarga Kang."
"Berapa umur Kang Guan-yang?" Tanya Coh Thian-su
"Kurang lebih berumur 40 tahun lebih. Sebelum meninggal, dia dan
Hie Tiong-gwee seperti saudara angkat, sehingga dia menjadi
sederajat dengan Hie Tiong-gwee."
"Kalau begitu, paman menikahi keponakan angkatnya."
"Demi membalas budi Hie Tiong-gwee, Kang Guan-yang ingin
putrinya mempunyai sebuah keluarga yang bahagia, terpaksa dia
melanggar peraturan dan sebelum dia meningggal dia menitipkan
putrinya kepada Hie Tiong-gwee. Lagipula Hie Tiong-gwee belum
begitu tua."
"Dia sudah lama terkenal dan sederajat dengan Hie Tiong-gwee,
berarti umurnya juga sudah 40 tahun lebih."
"Mungkin tidak ada, biar aku yang menghitung. Pertama kali Hie
Tiong-gwee menikah adalah 20 tahun yang lalu, tiga tahun
kemudian mendapat anak perempuan, pada saat itu dia mulai
terkenal. Tahun ini putrinya berumur 15 tahun, artinya umur Hie
Tiong-gwee sudah berumur 38 tahun."
Sebenarnya dengan satu kalimat saja sudah bisa menjelaskan
semuanya, tapi Sin Kong-ta malah berputar-putar menjelaskannya.
Itu semua dia lakukan hanya ingin menunjukkan bahwa dia
mempunyai hubungan yang dekat dengan Hie Tiong-gwee.
"Apakah kau tahu berapa tahun usia mempelai perempuan?"
"Tentu saja aku tahu, tahun lalu pada saat dia berumur 18 tahun,
aku mengirim kado untuknya, umurnya setengah dari umur Hie

Tiong-gwee."
"Pengantin pria berumur 38 tahun, pengantin perempuan berumur
19 tahun, umurnya setengah dari umur Hie Tiong-gwee."
Sin Kong-ta mengerutkan dahi dan berkata,
"Itu tidak menjadi masalah. Umur 38 tahun adalah umur yang
masih produktif, orang kaya yang lain meski sudah berumur 70
tahun masih menikahi gadis berumur 16 tahun."
Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak dan berkata:
"Benar, Hie Tayhiap adalah orang terkaya di Lok-yang,
Cantik dari Lok-yang. Dia adalah laki-laki kaya yang
perempuannya adalah perempuan cantik. Benar-benar
serasi." Di sudut taman ada pula yang membicarakan
ini.

menikahi si
gagah dan
jodoh yang
pernikahan

Mereka adalah murid-murid Hie Tiong-gwee yang bernama Kwee
Goan-cay, yang satu lagi adalah anak laki-laki orang persilatan
yang bernama Po Tiong-ie, nama anak laki-lakinya adalah Po
Leng-hoi.
Mereka berusia sekitar 20 tahun.
Keluarga Po dulu adalah keluarga pesilat yang terkenal, karena Po
Tiong-ie tidak pandai mengurus perkumpulan, pada saat dia mulai
tua hidupnya menjadi susah. Namanya tersisih oleh nama Hie
Tiong-gwee. Sekarang hanya ada beberapa orang saja yang masih
mengenalnya, yang lain hanya tahu bahwa di Lok-yang hanya ada
Hie Tiong-gwee.
Tapi Hie Tiong-gwee sangat menghormati orang yang lebih tua.
Setiap Imlek dia pasti akan mengantar hadiah besar untuk Po
Tiongie, tapi anehnya Po selalu tampak angkuh, tidak pernah
berkunjung ke rumah Hie Tiong-gwee. Kadang-kadang bila Hie
Tiong-gwee berkunjung ke rumahnya pun, Po Tiong-ie selalu
menolak untuk bertemu. Setelah beberapa kali diperlakukan seperti
itu, Hie Tionggwee tidak berani datang lagi.
Pada pernikahan Hie Tiong-gwee yang kedua, Po Tiong-ie pun
tidak datang untuk memberi selamat. Tapi hanya putranya yang

datang untuk mewakili dia, tampaknya itu pun sudah membuat Hie
senang.
Tapi ada satu orang yang tahu bahwa Po Leng-hoi datang ke pesta
bukan untuk mewakili ayahnya melainkan karena keinginan dia
sendiri. Orang ini adalah Kwee Goan-cay.
Mereka berdua adalah teman baik, mereka pernah berpura-pura
bahwa mereka adalah musuh.
Sekarang mereka berdua sedang tertawa kecut.
"Siau Kwo, mengapa kau tidak membantu gurumu melayani
tamu-tamu? Bukankah kau murid kesayangannya?" tanya Po Lenghoi.
"Orang-orang di sana pasti sudah dilayani dengan baik, tidak perlu
aku yang turun tangan lagi, aku tahu kau pasti akan datang karena
itu aku harus menemanimu," kata Kwee Goan-cay.
"Mengapa kau tahu aku pasti akan datang?"
"Apakah kau tidak ingin bertemu Hiat-kun untuk terakhir kalinya?"
tanya Kwee Goan-cay.
Pengantin perempuan yang bernama Kang Hiat-kun adalah bakal
istri gurunya, tapi dia sudah terbiasa memanggil langsung
namanya, apalagi di depan teman baiknya.
Hie Tayhiap walaupun bukan keluarga raja, tapi kekayaannya bisa
menandingi keluarga raja. Bagi Po Leng-hoi bila Hiat-kun sudah
masuk dalam keluarga Hie, dia akan kesepian, walaupun Hiat-kun
tidak tahu dia akan merasa kesepian.
Kata-kata Kwee Goan-cay sangat tepat mengena pikirannya,
kecuali hanya tertawa kecut, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia balas berkata,
"Siau Kwo, apakah kita ini teman?"
"Dulu teman, nantinya pun masih akan tetap menjadi teman,"
jawab Kwee Goan-cay.
"Kalau begitu, mengapa kau tidak jujur dengan teman baikmu
sendiri?"

"Kapan aku pernah berbohong?"
"Yang baru kau katakan adalah kata-kata bohong, kau keluar dari
ruang tamu bukan karena tamu, apa betul?"
"Kalau begitu, menurutmu aku keluar dari sana karena apa?"
"Kau iri kepada gurumu, kau terus mendengar tamu-tamu memuji
mereka adalah pasangan serasi, kau sakit hati kemudian keluar dari
ruang tamu supaya telingamu tidak terasa panas."
Kwee Goan-cay pun ternyata menyukai Hiat-kun.
Dengan wajah merah Kwee Goan-cay berkata,
"Sembarangan! Kau berani mengatakan bahwa kaupun tidak
pernah merindukannya?"
"Tapi aku tidak iri kepada guruku." Jawab Kwee Goan-cay.
"Kau tidak berani untuk iri, tapi kau harus jujur bila Hiat-kun
menikah dengan gurumu, apakah kau setuju? Jujur bicara, kiraku
bila Hiat-kun tidak menikah denganmu tentu menikah denganku."
"Jangan katakan lagi!" Kwee Goan-cay tertawa kecut.
"Baiklah, aku janji. Setelah ini aku tidak akan mengatakan lagi, tapi
bila hari ini tidak mengatakannya, seperti sebuah tulang yang
masih menyangkut di tenggorokan, sungguh tidak enak."
"Baiklah, baiklah, tapi tidak usah bicara keras-keras."
"Siau Kwo, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, mengapa
Hiat-kun bisa menikah dengan gurumu? Apakah kau setuju?" Po
Leng-hoi merasa sangat jengkel, dia ingin mencari orang untuk
bicara tentang masalah ini.
"Jujur saja, bila Hiat-kun menikah dengan orang lain, mungkin aku
akan marah, tapi bila menikah dengan guruku, aku setuju. Karena
guruku adalah seorang pendekar, jadi aku setuju, dia cocok untuk
Hiat-kun."
Entah Kwee Goan-cay sengaja menyiram air dingin kepada Po
Leng-hoi atau benar-benar tulus mengatakannya, sengaja dia tidak
mau sependapat dengan Po Leng-hoi.
"Sepadan, sepadan! Tapi aku tidak setuju!" kata Po Leng-hoi.

dia kaya dan mempunyai kedudukan." "Guruku bukan orang yang suka menggunakan uang dan kekuasaan memaksa Hiat-kun menikah dengannya. orang tuanya pun tidak setuju dengan pernikahan ini. Tiba-tiba ada yang memanggil." Kwee Goan-cay juga marah. "Siau Po. Siau Kwo. Sin Kong-ta dan 'Pelajar pena besi' Coh Thian-su sedang berjalan ke arah mereka." Karena marah Po Leng-hoi bicara semakin keras. bukan karena dia rela menikah dengan gurumu. Dengan tertawa Coh Thian-su menjawab: ." Kata Kwee Goan-cay. sebab kemarin aku secara sembunyi-sembunyi telah menengoknya. "Kau anggap Hiat-kun mau karena uang. angin apa yang membawa Anda kemari?" dia tidak menyapa Sin Kong-ta." Po Leng-hoi berkata lagi: "Aku mengatakan. Po Lenghoi dengan senang berkata: "Coh Tayhiap. aku bisa memaafkan. Hiat-kun tidak akan mau menikah dengan orang yang pantas menjadi ayahnya. Tapi katakatamu yang lain aku tidak setuju. air matanya pun belum habis. dia berkata: "Bila kau iri kepada guruku. kalau tidak seperti itu. mengapa kalian bersembunyi di sini?" Orang itu adalah wartawan berjalan Sin Kong-ta."Mengapa tidak setuju? Kalau tidak setuju berarti kau menghina guruku!" "Siapa yang berani memandang enteng kepada Hie Tayhiap. "Apakah kau tahu Hiat-kun sebenarnya tidak mau menikah?" "Aku tahu. tidak seperti kita-kita ini. dia bukan orang seperti itu." "Yang mana kau tidak setuju?" tanya Po Leng-hoi dengan dingin. dia terpaksa menikah karena kekayaan dan kekuasaan gurumu.

Po pun sangat menghormati Coh Thian-su. bila sudah selesai memberi selamat." Kata Po Leng-hoi." Sin Kong-ta merasa tidak enak hati karena Po Leng-hoi tidak menyapa dan tidak mengajaknya bicara. aku dengar kalian sedang membicarakan pengantin perempuan. Pada saat Coh Thian-su baru terjun ke dunia persilatan dia sudah bertemu dengan Po Tiong-ie." Kata Coh Thian-su. "Tadi kau mengatakan orang tua pengantin perempuan tidak setuju dengan pernikahan ini. Coh pun pernah membantu Po Tiong-ie sehingga Po Tiong-ie sangat menghormatinya. aku masih ada keperluan lain. tapi dia sudah lama kenal dengan ayah dan anak keluarga Po. "Kita lihat saja nanti." Walaupun Coh Thian-su belum pernah datang ke kota Lok-yang. aku ke sini pun sekalian untuk mengunjungi teman lama. aku datang untuk memberi ucapan selamat kepada Hie Tayhiap. dia sendiri yang menjodohkan . sebenarnya dia pun ingin tahu keadaan Kang Guan-yang. Sin Kong-ta sangat terkejut dan bertanya: "Kalian sudah saling kenal?" "Seharusnya kau sudah tahu. Tahun lalu Po Leng-hoi pun pernah berkunjung ke tempat Coh Thian-su karena disuruh oleh ayahnya."Seperti dirimu." Jawab Po Leng-hoi. desas desus ini dari mana?" "Siapa yang mengatakan desas desus itu ?" "Sebelum ayahnya meninggal. Dia belum menjelaskan alasan lain datang ke Lok-yang selain mengu-capkan selamat. "Baiklah. sebab kau adalah orang yang paling tahu segala hal. tapi aku akan berusaha mengunjungi ayahmu. kuundang ke rumahku untuk menginap beberapa hari. tiba-tiba dia berkata: "Siau Po. "Aku sudah lama kenal dengan mereka. sebenarnya ada apa?" "Apa aku salah bicara?" Kata Po Leng-hoi.

" "Kalau begitu. apa dia hanya memberitahu kepadamu saja?" "Mungkin ya. aku tidak melihatmu." ." Belum habis kata-katanya. maka aku memberi kesempatan kepada dia untuk menjadi comblangnya. dia tahu dia akan meninggal maka dia menitipkan putrinya kepadaku.. seharian aku berada di sana." Dengan tawa dingin Sin Kongta berkata: "Kau anak kecil tahu apa? Bila dia punya penyakit mematikan dia tidak akan memberi tahu kepada keluarganya. dua bulan sebelumnya.putrinya" Kwee Goan-cay yang diam sejak tadi akhirnya tertawa. mengajar ilmu silat pada murid-muridnya. dengan marah dia berkata: "Kau menertawakan apa?" "Pada saat Kang Guan-yang meninggal. Hari itu dia mendadak mendapat penyakit aneh dan tiba-tiba meninggal." "Bila dia mendapat penyakit yang mematikan." Wajah Sin Kong-ta memerah dan berkata: "Kau tahu apa? Kang Guan-yang punya penyakit yang mematikan." Kala Kwee Goan-cay: "Salah! Tuan Kang belum pernah sakit. pernikahan ini ditentukan oleh paman dari istri baru guru yang bernama Kiam-ta. terserah mau percaya atau tidak." Dengan marah Sin Kong-ta berkata: "Semua yang kukatakan benar. Sin Kongta merasa tidak senang. sehari sebelum meninggal dia masih seperti biasa. Soal yang menjodohkan adalah karena Tuan Kian lebih tua. Coh Thian-su sudah melanjutkan: "Pasti karena Hie Tiong-gwee dan Sin Toako mempunyai hubungan erat. bila dari 2 bulan yang lalu dia sudah sakit. apakah keluarganya tidak tahu?" "Mengapa kau tahu? Keluarganya saja tidak tahu.. keluarganya pasti akan merasa sedih. mungkin. Yang menjodohkan guruku juga bukan Tuan. tapi mereka sebelumnya tidak seperti itu.

dari kecil sudah tinggal di rumah gurunya. siapa lagi yang akan percaya kepadamu? Tidak perlu meributkan soal kematian Kang Guan-yang lagi." "Apa maksud Coh Tayhiap?" Tanya Po Leng-hoi. wajahnya menjadi merah." Walaupun Sin Kong-ta sangat pandai bicara tapi sekarang dia tidak dapat berbuat apa-apa." Sin Kong-ta tidak bisa berkata apa-apa lagi. hanya aku saja yang orang luar." "Mengapa kau tahu dia belum sempat cerita?" Dengan tergagap-gagap dia menjawab: "Dia.. Untung saja temannya banyak.. ini juga karena kau pernah berkata Hie Tayhiap tidak ingin orang luar tahu. dengan cepat dia berkata: "Mungkin mengenai hal itu Hie Tiong-gwee belum cerita kepada murid-muridnya." Sin Kong-ta tampak malu. itu tidak baik? Eh siapa adik ini?" Sekarang Po Leng-hoi baru bisa mengenalkan mereka: "Dia adalah murid Hie Tiong-gwee yang paling disayang." Dia berhenti sebentar kemudian melanjutkan: "Sampai sekarang aku belum mengenal Hie Tiong-gwee. dia berkelit dengan menghampiri . tidak ingin.. "Tadi Sin Toako mengatakan dia ingin bercerita mengenai Hie Tiong-gwee tapi dia bilang tidak boleh ada orang lain yang mendengar. aku percaya." Sengaja Coh Thian-su berkata: "Kalau begitu Kwee Goan-cay juga bukan orang lain. sekarang mari kita tanya kepada Kwee Goan-cay karena dia adalah murid Hie Tiong-gwee. "Percaya. "Lebih baik aku mewakilimu mengatakannya..Coh Thian-su tertawa dan berkata. Bila tidak percaya. maka dia hanya bercerita kepadamu dan dia berpesan agar jangan cerita kepada orang lain.

Begitu Sin Kong-ta pergi." Kata Po Leng-hoi." "Lalu apa hubungannya dengan guruku?" Tanya Kwee Goan-cay." "Baiklah. 3 tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong menghilang." Kata Kwee Goan-cay.mereka dan mengobrol. berarti ini adalah cerita bohong." Tanya Po Leng-hoi. . "Belum tentu." Tanya Kwee Goan-cay. semua teman-temannya bertanya: "Kemarilah. Hie Tiong-gwee mengalahkan Hui-thian-sinliong. disana ada Bo-tan yang indah. tapi sampai sekarang masih menjadi teka-teki. "Apakah Coh Tayhiap mendengar cerita mengenai guruku?" "Sebaliknya aku mendengar cerita-cerita yang membuat nama gurumu lebih terkenal lagi. "Apakah hal ini mengenai menghilangnya Hui-thian-sin-liong?" "Benar. Po Leng-hoi berkata. ada kejadian apapun orang dengan sembarangan akan menghubungkannya." "Cerita apa?" "Hal yang menggegerkan dunia persilatan. kau sudah membuat dia pergi dari sini. tapi tidak semua. baiklah! Mari kita pergi ke sebelah sana. tidak ada yang tahu apa sebabnya." Mungkin hal ini yang membuat Kwee Goan-cay ragu. mereka bertiga langsung tertawa. "Memang ada orang seperti itu. "Aku pun pernah mendengar ceritanya. dan memaksa dia mengundurkan diri dari dunia persilatan. sebab aku juga pernah mendengar cerita ini di luaran. lebih enak mengobrolnya" Kata Sin Kong-ta. kami semua sedang menunggu berita mengenai dunia persilatan. tapi yang membuat gosip seperti ini pasti orang-orang seperti Sin Kong-ta." "Aku belum pernah dengar guru bercerita tentang itu." Kata Kwee Goan-cay. "Kata Sin Kong-ta. bila bukan karena guruku punya nama di dunia persilatan. "Terima kasih.

." "Ayahmu mengatakan apa?" Tanya Coh Thian-su. "Bila menurutmu benar.Po Leng-hoi tidak suka dengan gurunya Kwee Goan-cay. dan Kwee Goan-cay juga tahu. ini benar. kata-kataku belum selesai. Waktu itu ada 3 orang yang menjadi saksi." Tiba-tiba Po Leng-hoi tertawa dan melanjutkan: "Kau kenal dengannya." "Semenjak pulang dari Siong-san. "Apakah It Piau cinjin. juga jauh-jauh datang hanya untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee?" Kata Coh Thian-su bengong. mengapa kau bisa tahu?" Tanya Kwo. "Aku hanya dengar dia pernah bertarung dengan Hui-thian-sinliong. yang satu lagi." "Apakah ada yang mengenal 3 orang saksi itu?" "Yang satu dari Siauw-lim. mengapa dia tidak terlihat gembira?" Kata Kwee Goan-cay. aku hanya ingin bertanya kepadamu. "Ayah mengatakan bahwa 3 tahun yang lalu Hie Tayhiap pernah bertarung dengan Hui-thian-sin-liong di Siong-san. tidak ada yang tahu. aku tidak tahu. dia pun menolak untuk bertemu. yang satunya lagi adalah orang yang menjodohkan Hie Tiong-gwee bernama Tuan Kiam-ta. kau tanya sendiri saja. dia dengar dari mana aku pun tidak tahu.." "Bila guruku sudah mengalahkan Hui-thian-sin-liong." "Siapa dia?" Tanya Coh Thiansu tidak Sabar. tapi apakah kalah atau menang." Kata Po Leng-hoi. "Dia adalah It Piau cinjin. bila ada tamu yang berkunjung." "Kalau begitu. apakah dia berbeda dengan hari-hari biasanya?" "Waktu itu dia berdiam diri saja selama beberapa hari. "Siapa yang memberitahumu?" Tanya Kwee Goan-cay. "Coh Tayhiap. berakhirnya bagaimana. dia pun tidak ingin membela gurunya." Jawab Po leng-hoi. "Beberapa hari lalu ayah memberitahuku. yang aku maksud bukan . Tay-suhu Ko Tan. "Aku tidak bilang itu benar atau salah. apakah 3 tahun yang lalu gurumu pernah pergi ke Siong-san?" "Benar.

Wajah Po Leng-hoi mebjadi merah dan berkata: "Kau pernah mendengar. Tapi sekarang ibunya pun tidak ada. apakah kau lupa pepatah ini?" "Mengapa kau juga tahu bila ibunya juga tidak setuju?" "Bila dia menyetujui pernikahan ini. "Jangan sungkan." Jawab Po Leng-hoi. melainkan muridnya. walau tidak sering bertemu tapi kami adalah sahabat karib. Bila ayahnya masih hidup." Kwee Goan-cay sudah dapat menebaknya." Coh Thian-su sangat gembira: "Bila Yu Yong yang datang itu bagus. apa yang ingin Anda ketahui?" "Tadi kau mengatakan bahwa orang tua pengantin perempuan tidak menyetujui pernikahan ini. kelak dia harus mencari seorang pemuda yang baik untuk menikahkan putrinya dan pemuda itu harus masuk ke dalam keluarganya. dia pasti tidak akan setuju. ini adalah cerita bohong." ." Coh Thian-su tampak berpikir kemudian berkata lagi. sebab perjodohan ini terjadi setelah ayahnya meninggal. itu pun dia hanya mengatakannya satu kali. "Orang bila sudah mabuk kata-kata yang diucapkan adalah katakata yang sebenarnya. Kang Guan-yang mengatakan bahwa dia hanya mempunyai seorang putri. dia tertawa dan berkata." "Aku juga ingat tapi waktu itu dia sedang mabuk. kau tahu dari mana?" "Sin Kong-ta mengatakan bahwa sebelum ayahnya meninggal dia menitipkan putrinya kepada Hie Tiong-gwee." Kata Kwee Goan-cay." Kata Kwee Goan-cay. "Masih ada satu hal lagi yang tidak boleh ditanyakan tapi aku merasa aneh tapi bila kau tidak ingin membicarakannya juga tidak apa-apa bagiku. "Itu hanya pemikiranmu saja. ibunya pasti akan hadir.It Piau cinjin. Dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya.

kampung halamannya." "Kalau begitu." Kata Kwee Goan-cay. siapa yang mewakili pihak perempuan?" Tanya Coh Thian-su." Kata Po Leng-hoi. bila ibunya menyetujui pernikahan ini. "Mungkin ibunya juga tidak tahu bahwa Hie Tayhiap dengan terburu-buru akan menikahi putrinya. Walau bagaimana pun bila sudah lama tidak pulang akan tertinggal banyak hal."Sebenarnya ibu mertua Hie Tiong-gwee yang baru ini tidak ada di Lok-yang atau memang tidak mau hadir?" Tanya Coh Thian-su. "Aku juga baru tahu sebulan yang lalu. tapi Tayhiap lebih banyak pengalaman. istrinya mem-bawa abu suaminya pulang ke Soa-tang. hanya saudara sepupu saja. sebelum dia pulang kampung. dia berkata. Dari Lok-yang ke Soa-tang tidak begitu jauh juga tidak dekat. di desa ayahnya sudah tidak punya keluarga lagi. "Artinya Kang Guan-yang bukan asli orang Lok-yang? Apakah mereka pindah ke sini sudah lama?" "Hiat-kun mengatakan waktu dia berumur 3 tahun sudah pindah ke Lok-yang. mungkin juga harus menyelesaikan banyak masalah" "Hiat-kun mengatakan. sebab sudah lama meninggalkan kampung halaman. pulang pergi tidak perlu setengah bulan. "Pamannya yang mewakili tapi dia juga bukan adik kandung dari ibunya. apalagi dia harus membereskan abu suaminya dulu." Coh Thian-su pura-pura tidak tahu keadaan keluarga Kang Guanyang. seharusnya dia sudah ada di sini. hari TT pernikahan putrinya belum ditentukan. sekarang tinggal di Lok-yang sudah 16 tahun tapi tidak pernah pulang kampung. Begitu pulang pasti banyak teman dan sanak saudara yang berkunjung." ." "Kalau begitu Kang hujin membawa abu suaminya pulang memang sudah sepantasnya. "Setelah Kang Guan-yang meninggal setengah bulan.

Maka dia bertanya pada Kwee Goan-cay.Walaupun orang yang dicintai oleh Kwee Goan-cay sudah menjadi istri gurunya. juga tidak mau orang lain menyangka Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee karena harta dan kekuasaan. Kwo Toako apakah kau tidak mau ikut melihat gurumu dan istrinya mengikat janji?" Kwee Goan-cay juga tertawa kecut dan berkata: "Bila kau ingin pergi. kita ramai-ramai ke sana. Coh Thian-su mengerutkan dahi. mengapa kau bisa tahu Yu Yong akan datang hari ini?" "Gurumu sudah menitipkan 4 undangan untuk It Piau cinjin. dia sangat dihormati dan disegani oleh orang-orang persilatan. Apalagi murid tertuanya yang bernama Yu Yong. sekarang mungkin dia belum sampai. Pada saat mereka sedang mengobrol. sedang ketiga muridnya sangat terkenal di dunia persilatan. bila sudah datang pasti aku langsung tahu. Mamanya hanya berada di . aku akan menemanimu." Hal yang lebih diperlihatkan oleh Coh Thian-su adalah apakah Yu Yong sudah datang atau belum. tiba-tiba terdengar suara alunan musik dan tandu pengantin perempuan ternyata sudah datang. "Pengantin perempuan adalah si Cantik dari Lok-yang. Tamu-tamu di taman bunga tampak sangat ribut karena ingin melihat pengantin." It Piau cinjin sudah hampir berusia 70 tahun. Po Leng-hoi tertawa kecut dan berkata: "Kalau begitu. "Sudah waktunya pengantin bersembahyang. "Coh Tayhiap. tapi dia tetap hormat kepada gurunya. aku harus melihatnya." Kata Coh Thian-su tertawa." Kata Kwee Goan-cay. tapi dia belum sampai juga" Tanya Kwee Goan-cay: "Po Toako. apakah kau ingin melihat pengantinnya?" Tanya Po Leng-hoi. "Orang seperti dia.

dia pun akan mengunjungi ayahku. dia sudah menitipkan kabar kepada ayah. apakah mereka akan datang. dia akan mewakili gurunya untuk memberi selamat kepada Hie fiong-gwee. sedangkan Hie Tiong-gwee dan It Piau cinjin memiliki status dan derajat yang sama. yang satu lagi adalah seorang perempuan bernama Leng Giok-yan." -ooo0dw0oooB Gadis Penunggang Kuda Satu jam yang lalu. kita pun tidak tahu. kita pun tidak ada waktu untuk mendengar ceritanya. . dia pasti akan datang. mari kita melihat pengantin bersembahyang. Kita terlambat sedikit mendengar cerita Hui-thian-sin-liong pun tidak apa. Walaupun hanya datang seorang murid saja." "Bila sekarang dia sudah datang. sewaktu Sin Kong-ta bercerita tentang Huithian-sin-liong. Mereka pun seperti Yu Yong mewakili perguruan mereka untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. Yu Yong sedang dalam perjalanan ke Lok-yang. Kata Coh Thian-su. yang datang bersama dia masih ada 2 orang lagi. Orangnya sangat kalem jarang berbuat tidak sopan. semua undangan ditujukan kepada It Piau cinjin. "Kata-kata Yu Yong biasanya bisa dipegang. tapi bila ingin memberi selamat. bila dia mengatakan hari ini datang. dia pasti akan tiba hari ini. Demi menghormati It Piau cinjin." Kata Kwee Goan-cay. "Gurumu tidak tahu tapi ayahku tahu. Yang satu bernama Bong Cong-kian. Hie Tiong-gwee tantu akan merasa senang. mengapa sekarang datang terlambat?" "Kau tidak perlu khawatir kepada Yu Yong." Kata Po Leng-hoi." "Benar. oleh karena itu undangannya ada 4 buah. apalagi bila Yu Yong yang datang. Dia mewakili gurunya datang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. bila dia mengatakan datang.bawah nama Hie Tiong-gwee. "Empat buah undangan sudah diantar kesana oleh orang.

apakah kau sudah lupa?" Bong Cong-kian tertawa: "Giok-yan. salah satunya adalah gurumu. Dia dan Giok-yan masih ada ikatan saudara karena Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian menganggap Yu Yong sebagai Toako mereka sehingga mereka terlihat akrab. "Yu Toako. bila kau menghadapi musuh harus menggunakan segala cara. tapi Yu Yong senang berteman dengan anak muda. mana aku bisa tahu?" "Aku tidak percaya. jadi orang harus jujur. bagaimana kau bisa tidak tahu?" "Bila guru tidak memberitahu aku. Yu Yong sendiri sudah berumur 40 tahun. Yu Toako pernah mengatakan." "Benar. bila bertemu orang yang bukan terpelajar. bila berteman harus jujur. Leng Giok-yan meminta agar Yu Yong menceritakan sebuah dongeng. kau jangan berbohong. ingatlah." kata Giok-yan.Bong Cong-kian dan Leng Giok-yan usianya hampir sama sekitar 20 tahun." "Kau bohong. kita memakai senjata. kau pasti tahu. . Yu Toako. ini juga kata-katamu. kau telah menceritakan mengenai pendekar-pendekar yang ada di Tiong-ciu." "Kenapa kau yakin bahwa aku pasti tahu hal ini?" "Karena yang menjadi saksinya. bila bertemu orang terpelajar kita memakai musik. apakah itu benar?" "Maaf. Ini yang dinamakan. aku tidak tahu. tapi hal yang kami ingin tahu kau malah tidak menceritakannya" "Kalian ingin tahu apa lagi?" "Katanya Hui-thian-sin-liong dipaksa oleh Hie Tiong-gwee untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan. kami sudah tahu.

" "Kau tahu dari mana?" "Kau sendiri yang mengatakannya. dalam hatimu. bila tidak mengapa bisa merusak namanya?" Yu Yong tertawa: "Kau sok pintar." "Apakah Hui-thian-sin-liong yang kalah? Mengapa kau harus . aku tidak tahu mengapa Hui-thian-sin-liong bisa mengundurkan diri dari dunia persilatan. ini pemaksaan namanya." Mereka berdua seperti menyanyi. bila pertarungan itu merusak nama seseorang. tapi lebih baik kau jangan tanya." "Mengapa?" "Aku takut kalian tidak bisa menjaga rahasia. bila tentang pertarungan dengan Hie Tayhiap. kata-kata tadi sudah membuktikan kepada kami bahwa yang kalah adalah Hie Tayhiap. pasti bukan nama dia yang rusak." "Kapan aku pernah mengatakannya?" "Baru saja. Yu Toako. guru pernah menceritakannya. bila sudah tiba di rumah Hie Tiong-gwee. kau menganggap kami adalah orang jahat." Yu Yong sangat terkejut dan berkata: "Jangan sok pintar! Kau tahu apa!" "Aku tahu bagaimana akhir dari pertarungan itu. terpaksa dia berkata: "Aku tidak bohong. teman pun bukan. Kau bilang hasil akhir dari pertarungan itu bila diketahui oleh orang lain akan merusak nama seseorang. Tiba-tiba Giok-yan tepuk tangan dan berkata: "Kau tidak perlu memberitahu pun aku sudah tahu. Yu Yong tidak bisa 'bersembunyi' lagi. Hui-thiansin-liong adalah orang jahat dan namanya juga tidak baik. aku akan mengatakan pada semua orang." Giok-yan dan Bong Cong-kian dengan berbarengan berkata: "Kami akan menjaga rahasia. yang kalah adalah Hie Tiong-gwee." Tapi Yu Yong tetap menggelengkan kepalanya."Katanya Yu Toako selalu menganggap kita adalah adik-adiknya. ternyata semua bohong belaka.

Ini adalah pesan Yu Yong dia harus mengakuinya. Yu Yong . sebentar lagi kita akan riba. aku tidak mempunyai cara lagi. berlari ke arah mereka. Pengantin perempuannya adalah si Cantik dari Lok-yang. akhirnya dia berkata: "Lebih baik aku bercerita pada waktu pulang saja. kecuali di tanggalan tercatat bahwa siang hari tidak baik untuk sembahyang. aku akan bilang bahwa aku yang mengatakannya." "Apakah kita harus tiba di sana sebelum siang?" Tanya Giok-yan. kebetulan di sini tidak ada orang. "Masih ada l jam lagi. tapi kau harus menjaga rahasia ini. cepat katakan." Yu Yong terlihat ragu-ragu. apakah benar?" "Benar. mari kita segera ke sana memberi selamat." "Kalau begitu. lalu bercerita: "Sebenarnya pertarungan di Siong-san. Ini adalah tempat yang datar dan jalan yang sering aku lewati menuju rumah keluarga Hie. apakah kau takut tidak dapat melihat pengantin bersembahyang?" Yu Yong tidak dapat berkata apa-apa lagi.menjaga nama baiknya?" "Aku pun tidak bilang bahwa Hui-thian-sin-liong yang kalah. bila kau tidak mau memberitahu." Yu Yong menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata: "Gadis nakal." Yu Yong hanya mengatakan 2 kalimat." Giok-yan tertawa dan berkata: "Baiklah. aku ingin tahu apakah orang lain juga sependapat denganku." "Biasanya waktu sembahyang adalah siang. mereka hanya bertarung setengah saja. baiklah aku akan memberitahumu yang aku tahu.. walaupun nanti ada pedang di leherku. tiba-tiba terdengar suara kuda berlari dengan cepat. kita harus melihat mereka bersembahyang. siapa yang kalah? Baiklah.. aku tidak akan mengatakannya kepada orang lain.

mereka masih terbengong-bengong. tapi bisa mencegah kuda terus berlari. tapi Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian tidak sempat menghindar. kuda dan orang akan terjatuh Yu Yong cepat-cepat kepinggir menghindar. malah dia sendiri yang terjatuh dari kudanya. mengalah. bersiap-siap kalau memang dia terpaksa harus menusuk mati kuda itu. Si baju hitam berlari lebih kencang lagi. tapi Yu Yong sudah melihat pedang Giok-yan . Kepandaian Giok-yan tidak sehebat Bong Congkian. bila tidak hati-hati. dia mencabut pedang. gerakannya tidak memukul. Tapi yang membuat Yu Yong terkejut adalah bukan cara berkudanya melainkan ketingggian ilmu silatnya. hanya terlihat sepasanga matanya yang bersorot tajam. mereka jadi marah. Dua hal ini terjadi dalam sekejap mata. Bong Cong-kian berteriak dan telapak tangannya mendorong kuda. Melihat orang yang tidak sopan. Dalam keadaan kritis seperti ini. Lebih-lebih Bong Cong-kian. ternyata dia bisa membawa kudanya berlari melewati kepala mereka. Penunggang kuda itu berbaju hitam memakai topi hitam yang lebar. Mereka masih sangat muda. Karena pada saat dia melewati kepala mereka. jurus yang dipakainya adalah ilmu silat Kun-lun. kuda si baju hitam ternyata dapat meloncat sangat tinggi melewati kepala mereka.berhenti berbicara. hanya mendorong kuda itu. ketrampilannya sangat tinggi. pedang Giok-yan sudah melayang ke atas. telapak tangannya ternyata tidak bisa menghentikan larinya kuda. kepalanya ditutup oleh kain tipis berwarna hitam hingga tidak terlihat wajahnya. walau tadi mereka bisa menghindar mereka pun tidak akan mau. Jalan di gunung sangat sempit dan terjal. apalagi saat ini mereka tidak sempat menghindar.

"Kau pengecut. dia segera turun dari kudanya dan menolong Bong Cong-Kiam-tapi sudah terlambat. sangat aneh. hati Yu Yong menjadi tenang." Yu Yong memegang nadinya Bong Cong-kian untuk memeriksa.. Yu Toako. kau benarbenar.terlepas karena ayunan pecut dari si baju hitam dan pada saat yang sama pecutnya juga menggetarkan tubuh Bong Cong-kian sehingga terjatuh dari kudanya. aku seperti diangkat kemudian diturunkan lagi. untung ternyata tidak terluka." Yu Yong tertawa: "Aku benar-benar apa?" Dengan marah Giok-yan berkata. apakah hal itu masih dibilang tidak menghina?" Bong Cong-kian berkata: "Apakah kau ingin meminta Cianpwee dari keluarga Hie atau Cianpwee lainnya untuk bertarung dengan orang itu? Aku pikir lebih baik kau jangan cari gara-gara. kau tidak mau membantu kami.." Yu Yong tertawa kecut: "Jangankan membantu kalian dengan kemampuan yang kumiliki sekarang apa bisa mengalahkan dia. melihat adik-adikmu dihina oleh orang lain." Giok-yan masih marah: "Dia menjatuhkan pedangku. apalagi dia tidak menghina kalian. Bong-ko juga terjatuh dari kuda. Yu Yong sangat terkejut. kak) Bong Congkian sudah berada di atas tanah tapi dia tidak jatuh "Bagaimana keadaanmu? Tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa. aku juga belum pernah melihat orang semacam itu. kemarahan membuat wajahnya menjadi merah dan berkata: "Aku tidak pernah menderita kerugian sebesar ini." Giok-yan lebih marah lagi: . Giok-yan mengambil kembali pedangnya yang terjatuh.

Bong Cong-kian dan Leng Giok-yan walau belum menikah tapi mereka adalah sepasang kekasih. begitu pula dengan Giok-yan. Pada saat Bong Cong-kian sedang membujuk. kau tidak berani membalas malah balik memarahiku. 'Pemuda yang baru lewat tadi. Si gadis berteriak: "Wie Toako. ternyata penunggang kudanya adalah seorang gadis yang lebih muda dari dia. benar-benar sangat aneh. pasti orang yang dicari oleh gadis itu. Orangnya begitu kasar mengapa mempunyai kekasih yang begitu cantik dan dia tidak mau mendengar kata-kata si gadis. tunggu." Giok-yan tidak tahu bahwa Yu Yong dan Bong Cong-kian mencurigai orang itu.' Tenaga dalam gadis itu lumayan tinggi sebab suara teriakannya tidak besar tapi sudah menggetarkan gunung-gunung di sekelilingnya Mereka adalah orang dunia persilatan... dia berteriak lagi: "Walaupun kau akan ke rumah Hie.!" Pikir Giok-yan. kau pengecut. dengarkan kata-kataku!" Orang itu ternyata akan pergi ke rumah Hie juga. Si gadis itu tampak tergesa-gesa."Kau dan aku sama-sama sudah dirugikan. pasti dia bisa mendengar tapi dia tidak menjawab.. dalam jarak 2 hingga 3 lie orang akan mendengar suara ini dengan jelas. Kali ini mereka bertiga sudah membuat persiapan. orang yang menunggang kuda sudah terlihat wajahnya. berhentilah dulu. Walaupun dari jauh masih terlihat sosok si baju hitam tapi dia tidak menjawab. tiba-tiba terdengar lagi suara derap kaki kuda yang lebih kencang dari derap kuda tadi. aku tidak mau bicara lagi denganmu. . Yu Yong dan Bong Cong-kian sudah berada di pinggir jalan. rupanya si baju hitam adalah kekasih si gadis. dengan kepandaiannya yang begitu tinggi. Pada saat Giok-yan sudah berada di pinggir jalan. mereka tahu bahwa ini adalah 'ilmu pengantar suara'.

Kuda yang ditunggangi oleh gadis itu sudah terguling mati tapi si gadis terbang seperti burung. Mengapa kuda itu bisa mati? Yu Yong tidak melihat tapi dia sudah dapat menduga. apa yang sudah terjadi di sana. Giok-yan paling depan dan Yu Yong paling belakang. Mereka bertiga segera turun dari gunung. bila jalan itu lurus. Dalam jarak ratusan langkah dengan batu kecil bisa membuat kuda mati dan harus tepat pada sasaran. Itu bukan karena kudanya sakit atau kelelahan melainkan karena senjata rahasia dari si baju hitam. Yu Yong tidak tahu apakah gadis itu terluka atau tidak. paling membutuhkan beberapa ratus langkah lagi. Kudanya pun ikut terguling ke bawah gunung dan tidak bergerak lagi. dia tidak membunuh Giok-yan dan Bong Congkian. Giok-yan berteriak. Tapi dia yakin si baju hitam bukan orang jahat. dia berpikir. Ini adalah dugaan Yu Yong. mungkin batu kecil atau koin. Bong Cong-kian melihat si gadis terjatuh dari kudanya. "Mari kita tolong gadis itu. Giok-yan tidak melihat jelas dia pun tidak bisa melihat si baju hitam dengan jelas. Walaupun jalan gunung berliku-liku tapi si gadis tetap berlari dengan cepat. Yu Yong sudah melihat dengan jelas. 10 tahun lagi pun belum tentu dia bisa mencapai kepandaian setinggi itu. Dia menggunakan batu untuk membunuh kudanya mungkin dia . dia terkena perangkap orang jahat itu!" Dia berlari kemudian disusul oleh Bong Cong-kian. apalagi gadis itu adalah temannya. karena Yu Yong berjalan paling belakang dia tidak bisa melihat dengan jelas. Senjata rahasianya bukan pisau atau panah. Dia melihat si gadis makin dekat dengan si baju hitam. tentu membutuhkan tenaga dalam yang tinggi.Tiba-tiba terdengar suara kuda yang meringkik.

gadis itu tidak bergerak hanya tampak bengong.. batu kecil itu mengenai kepala kudaku. ualaupun kepandaianmu tidak sehebat dia. dengan cepat dia mengejar Bong Cong-kian. "Apakah dia. tiba-tiba dia teringat kepada seseorang. dan langsung mati. Giok-yan sudah tiba di tempat gadis itu." Kata Giok-yan. apakah kau terluka?" tanya Giok-yan. kau terlalu baik. "Mengapa kau tahu kepandaianku tinggi?" Tanya gadis itu." "Mengapa kau tahu dia orang jahat? Dan mengapa kau tahu dia tidak akan melukaiku?" "Dia tidak tahu aturan. Apa lagi yang ingin kau tanyakan?" Sepertinya dia tidak suka Giok-yan banyak bertanya Karena Giokyan tidak bisa melihat wajahnya. "Cici.apakah dia?" Hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee. yang aku tanya pasti dirimu. Giok-yan tertawa: "Di sini hanya ada aku dan dirimu." Giok-yan sudah melihat bahwa gadis itu tidak terluka. Tidak kusangka kepandaianmu begitu tinggi. kau tidak terluka. "Aku bisa menebak pada saat kudamu terkena oleh senjata rahasia" "Benar. kudamu pun kuda yang bagus. "Apakah kau bertanya kepadaku?" Gadis itu balik bertanya. itu sudah membuatku kagum.tidak mau dikejar oleh gadis itu. ilmu sentilan jari orang jahat itu begitu hebat dan bisa mengenai kudamu. "Terluka? Mengapa aku bisa terluka?" Si gadis malah bertanya seperti itu. Cici. walaupun dia .. "Syukurlah. dia masih bertanya: "Apakah ini adalah ilmu sentilan jari? Aku pernah mendengarnya tapi belum pernah melihat. umurmu dan umurku hampir sama. Tapi kuda itu sangat bagus walau dia bukan orang jahat tapi tindakannya juga tidak benar. orang seperti itu apakah bukan orang jahat? Cici. Dia langsung gemetar. dia tidak berani berpikir lagi.

Dia pun seperti Yu Yong bisa menebak bahwa si baju hitam adalah kekasih gadis itu. kau harus membencinya. tapi dia sering mengasihani orang. aku tidak tahu apakah dia itu temanmu? Lebih baik jangan berteman lagi dengan orang seperti itu. dia selalu senang dengan kata-kata pujian. tapi sekarang dia dibentak oleh gadis itu. siapa dia sebenarnya tidak ada yang . mengapa kau tahu dia itu orang jahat?" Giok-yan selalu dipuji orang." "Aku tidak mau dengar lagi kata-katamu yang tidak pantas." Tadinya dia ingin mengatakan kekasih tapi takut melukai hati gadis itu maka dia mengubah kata "kekasih' menjadi 'barang kesayangan'. dengan tertawa dingin Giok-yan berkata: "Kalau bukan orang jahat memangnya kenapa? Aku hanya menasehati mu. Pada saat itu Bong Cong-kian dan Yu Yong sudah tiba di tempat itu." Giok-yan sebenarnya bukan gadis yang cerewet. Giok-yan juga bukan gadis bodoh. Dengan dingin gadis itu bertanya: "Dia siapa? Apa kalian tahu?" dia menunjuk Bong Cong-kian dan berkata: "Walaupun tidak begitu jelas. Karena itu Giok-yan menasehati gadis itu dan berkata. Tapi di mata Giok-yan si baju hitam adalah orang jahat. Aku lunya mau tanya.tidak sengaja melukaimu dan membunuh kudamu. tapi mereka tidak bicara. kau masih membohongiku tidak kenal dengannya?" Bong Cong-kian menjawab: "Kami hanya menebaknya. tapi aku sudah dengar kalian seperti sedang membicarakan Hie Tiong-gwee. "Cici. Wajahnya langsung menjadi merah. bila kau menganggap dia barang kesayanganmu. terserah. Bong Cong-kian dengan isyarat mata memberitahu kepada Giok-yan agar jangan banyak bertanya.

terima kasih untuk kebaikanmu." Giok-yan tampak marah. aku malu mendorong laki-laki jatuh dari kuda. apalagi dengan orang yang tidak kau kenal." Angin mengantar suara tawa gadis itu. kau harus memanggilku koko. Mereka tidak tahu apakah Giok-yan terluka. kelak bila bertemu orang jangan cerewet dan jangan sepenuh hati memberi pertolongan. bila nanti bertemu orang lagi aku tidak akan bicara yang jujur. dia sudah lupa bahwa tadi dia dan Bong Cong-kian sedang mengobrol apa. "Aku dirugikan kau malah menertawakan. baiklah aku akan selalu mengingatnya." . tapi dia malah curang. Giok-yan meloncat dan marah. mereka menghampiri tempat Giok-yan jatuh. Sekarang Giok-yan lebih rugi lagi karena gadis itu sudah mendorongnya hingga terjatuh dari kuda. Giok-yan berasal dari perkumpulan Ceng-seng. Bong Cong-kian tertawa dan berkata: "Aku kan bukan orang lain. sudah lepas dari tangannya. mereka tahu dia tidak terluka "Ini adalah pelajaran buatmu. pedang Cengseng sangat cepat dan ganas. karena itu mereka tidak bisa mengejar gadis itu. kebetulan aku membutukan seekor kuda. benar-benar siluman. "Aku kasihan padanya. Yu Yong dan Bong Cong-kian sangat terkejut. tapi gadis itu sudah merebut dan menunggang kuda Giok-yan pergi. termasuk dirimu!" Giok-yan berkata dengan marah." Tawanya belum habis tapi dia sudah pergi jauh. " kata Bong Cong-kian. Yu Yong dan Bong Cong-kian melihat Giok-yan memakai jurus Le-hi-ta-ting (ikan lehi melentik).tahu. Jangan terlalu banyak mengurusi masalah orang. dia berkata: "Nona. segera pedangnya dikeluarkan dari sarungnya tapi belum sempat digerakan. Di antara kalian bertiga hanya kau yang perempuan. Dia memberhentikan kuda berhenti di sisi gadis itu dan mendekatinya.

kau boleh pakai kudaku. jangan sepenuh hati. "Aku sepenuh hati berbuat baik kepada gadis itu. "Kalian jangan bertengkar lagi. pandangannya juga tidak snma." Kata Yu Yong. aku merasa ada 2 kalimat yang masuk akal." "Dari kalimat ini. Bong Cong-Kiam-tahu bahwa (iiok-yan tidak akan mau menunggang kuda berdua dengannya." "Kalimat yang mana?" "Bila bertemu dengan orang lain." Karena kuda hanya tinggal 2 ekor. menasehati agar jangan berteman dengan orang jahat." "Kau jangan memuji diri sendiri. kau mengerti apa? Aku ingin tahu." Bong Cong-kian tertawa dan berkata: "Kata-kataku memang masuk akal. "Siluman itu berkata kita sudah tahu siapa si jahat itu. tiba-tiba dia membalikkan kepala dan bertanya kepada Bong Cong-kian. biarpun menghadapi orang atau masalah apapun."Aku tidak akan memanggilmu koko. kita harus mengejar waktu menuju rumah Hie Tayhiap. setiap orang pasti tidak sama. jadi dia harus memberi kudanya kepada Giok-yan. apa maksudnya? Karena sebelum dia datang yang sedang kita obrolkan adalah tentang Hie Tiong-gwee bertarung dengan Hui-thian-sin- ." Kaya Yu Yong." "Akhirnya kau mengerti juga." Giok-yan berpikir. kata-katamu tadi masuk akal juga. Giok-yan sudah tidak marah lagi dan berkata: "Bong koko. Sebaliknya dia merebut kudaku penyebabnya adalah aku sudah menghina kekasihnya. jadi jangan marah lagi." Bong Cong-kian seperti merayu anak kecil dan berkata: "Kau sudah kehilangan kuda.

" Karena dia dirugikan oleh si baju hitam maka dia berharap Hie Tayhiap bisa mengalahkan dia Tapi mereka bertiga sudah tidak sempat melihat pengantin sembahyang karena mereka bertiga hanya mempunyai 2 ekor kuda. Kwee Goan-cay. . kita ukan segera mengetahuinya. Biarpun dia mempunyai 3 kepala 6 tangan. Marilah kita ke rumah Hie Tiong-gwee bila terlambat tidak bisa melihat mereka bersembahyang lagi. kalau sudah sampai di rumah Hie Tiong-gwee dia pasti akan kalah. kau belum menceritakan bagaimana akhir pertarungan mereka?" "Tidak perlu cerita lagi. --ooo0dw0oo-C. aku menebak si baju hitam itu adalah Hui-thian-sin-liong. Yu Toako." Giok-yan sangat terkejut: "Kalau begitu si baju hitam itu Hui-thian-sin-liong?" "Aku juga belum pernah bertemu dengan Hui-thian-sin-liong. Biarpun mereka tidak sempat melihat pengantin sembahyang tapi mereka masih bisa menonton sebuah sandiwara." "Aku berharap dia adalah Hui-thian-sin-liong. Coh Thian-su. maka dengan suka rela dia menjaga keamanan di sana. Po Leng-hoi. Dia menganggap dia adalah pengawal keluarga Hie. Lebih-lebih Sin Kong-ta. mari kita ke rumah Hie Tiong-gwee. apakah untuk memberi selamat atau membuat keributan. apa pendapatmu?" Kata Bong Cong-kian.liong?" "Betul. Hui-thian-sin-liong Suara musik sangat ramai. mereka bertiga berada di dalam bergabung dengan orang-orang melihat pengantin. Tandu sudah tiba. dia sudah berada paling depan. Giok-yan terkejut dan berkata: "Apakah betul si jahat itu Hui-thian-sin-liong atau bukan? Yang jelas dia pergi ke rumah Hie Tiong-gwee.

Apalagi Kwee Goan-cay. walaupun wajahnya ditutup oleh kain merah tapi tubuhnya yang indah menarik perhatian para tamu. Tamu laki-laki merasa iri kepada Hie Tiong-gwee. berilah secangkir teh untuk ibu barumu. Tadinya dia ingin putrinya bertemu dengan ibu barunya setelah selesai bersembahyang. terpaksa aku hanya berlutut pada papan sembahyang saja!" Pengantin laki-laki Hie Tiong-gwee sangat marah. mereka merasa tidak enak. Begitu suara ribut berhenti. karena dalam pernikahannya yang kedua masih bisa mendapatkan si Cantik dari Lok-yang." Walaupun keluarga Hie bukan termasuk keluarga terpelajar tapi semenjak menjadi orang terkaya di Lok-yang. pengantin masuk ke dalam aula Tibatiba di belakang ada suara seorang gadis berteriak. sedang perempuan tua itu adalah pengasuh putrinya. dia nanti akan menjadi canggung bertemu dengan orang yang sangat dia cintai. Tamu-tamu perempuan pun iri kepada pengantin perempuan karena istilah nya dia bisa terbang ke atas pohon untuk menjadi seekor burung Hong. Hie Kim-giauw tidak mau berlutut bahkan memberi teh pun dia tidak sudi. mempunyai kekuasaan juga orang terkenal di dunia persilatan. Semua tamu saling pandang. yang sekarang akan menjadi istri gurunya. bila tidak mau berlutut. wajahnya sangat merah. "Mengapa aku harus memberi teh untuknya? Aku selalu . kalian menyuruhku berlutut kepada ibu baruku. Dia bisa menikah dengan orang yang kaya. Dalam hati Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay.Pengantin perempuan dituntun oleh pamannya keluar dari tandu. tidak ada yang berani bicara. dia pun belajar aturan-aturan orang terpelajar. "Ibuku sudah meninggal. karena yang berteriak tadi adalah putrinya Hie Kimgiauw yang berumur 16 tahun. Tamu yang berada di dalam juga jelas mendengar suaranya Kemudian terdengar seorang perempuan tua berkata: "Nona. harap menurut.

Pengantin laki-laki menjadi terkesima. memakai jubah hitam.." Pembawa acara berteriak lagi: "Satu Pai." Hie Tiong-gwee sangat marah. Dia memakai topi yang berpinggiran lebar. Thiat Leng-hu penampilannya seperti namanya. Orang yang menyerang pertama bernama Thiat Leng-hu.. Hiat-kun dituntun oleh pamannya menghampiri pengantin lakilaki. "Nanti dulu!" Suaranya menutupi suara musik. berjalan mendekati pengantin laki-laki dan perempuan. tampak dia sangat marah tapi begitu dia melihat sepasang mata si baju hitam. dia tidak bisa berbuat apa-apa. suara itu juga membuat telinga tamu-tamu mendenging.memanggil-nya cici Hiat-kun. aku serahkan Hiat-kun. Kepala Hiat-kun menunduk lebih dalam lagi. dia langsung merasa gentar. dan yang lainnya bernama Ong Tian-eng. kepada bumi dan langit." Dua huruf terakhir belum sempat diucapkan sudah terdengar suara orang yang berteriak seperti guntur.. Tamu-tamu yang berada di dalam dan di luar aula seperti merasakan ada gelombang yang mendorong mereka ke pinggir. Seseorang telah masuk ke dalam aula. tapi karena di sana banyak tamu. Untung saja pembawa acara langsung berteriak: "Musik! Musik!" suara musik segera menutupi suara ribut para tamu.. kemudian pamannya berkata: "Hie Tayhiap. keponakanku kepadamu. hanya terlihat sepasang matanya yang menyorot tajam. bukan ibu. Wajahnya ditutupi oleh sehelai kain. membuat Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay sangat sedih. bertubuh kuat dan . Tangan yang sudah dikeluarkan langsung menarik pengantin perempuan ke belakangnya Tiba-tiba ada 2 orang langsung menyerang.

" Suara yang keluar cepat. tapi begitu dia bersuara sepasang telapak tangannya sudah mendorong si baju hitam. Ong Tian-eng bertubuh kurus kering dan terlihat orangnya ramah dan mempunyai tenaga dalam yang kuat. Thiat Leng-hu sama sekali tidak bicara. Yang menjadi mak comblang adalah Tuan Kiam-ta. Akhir dari semua ini akan segera terlihat! Tenaga telapak tangan Thiat Leng-hu sangat kuat. bila dia dibanting oleh Thiat Leng-hu akan menjadi daging cincang. dan dia pun orang yang terkenal di dunia persilatan. . dia mampu memecahkan sebuah batu yang kokoh. tapi alis dan matanya sudah bergetar. ataukah di dalam hatinya dia merasa sedikit takut? Tapi tidak ada yang memperhatikan perubahan wajahnya. begitu mereka mulai bergerak semua sudah tahu dan punya pikiran seperti itu. Si baju hitam yang tidak tahu diri. Sambil menyerang Ong Tian-eng dengan suara kecil dan lembut berkata: "Hari ini adalah hari pernikahan Hie Tayhiap. padahal dia memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara tamutamu yang hadir. apakah karena dia menganggap Thiat Leng-hu dan Ong Tian-eng sudah cukup kuat untuk menghadapi si baju hitam. sedang otot dan tulangnya akan terlepas dari tubuhnya oleh Ong Tian-eng. sepintas terlihat sangat tenang. serangannya pun sangat kejam. dia masih duduk di kursinya kemudian dia berdiri seperti ingin membantu tapi entah mengapa dia mengurungkan niatnya.bertenaga besi. Tuan jangan membuat keonaran di sini. Bila dilihat dengan teliti. tapi gerakannya ternyata lebih cepat. Semua orang memperhatikan si baju hitam. Ilmunya bisa membuat tubuh musuh tulang dan ototnya terlepas. Dia cukup terkenal di dunia persilatan. sedang telapak tangan Ong Tian-eng menggunakan Pat-kwa-kun. mereka ingin melihat dengan cara bagaimana si baju hitam mengatasi serangan dari kedua pesilat tangguh itu.

hal itu membuat para tamu sangat terkejut dan sangat menyayangkan. Walau Thiat Leng-hu terluka parah. Ong Tian-eng adalah pesilat terkenal. Dia hanya bisa mengandalkan tangan kanannya. dengan sempoyongan berjalan ke kiri dan ke kanan. Lain lagi dengan Ong Tian-eng Sepertinya Ong Tian-eng lebih bernasib baik. tapi tidak bisa melihat gerakan lawannya. tubuhnya penuh dengan darah. tapi dia hanya luka di luar. dia adalah wartawan berjalan Sin Kong-ta. Sekejap terlihat tubuh Thiat Leng-hu seperti pagoda besi sudah melayang keluar dari aula. sekarang jari tangannya sudah putus tiga. dia hanya putus sebanyak 3 Kecuali terkejut semua tamu menjadi terdiam. dia hanya memiliki kepandaian yang tersisa separuh. Sebenarnya luka yang diderita Ong Tian-eng lebih parah dari Thiat Leng-hu. Dia bersembunyi di balik punggung orang yang tinggi besar dan kerkata: "Siapa itu? Berani membuat keributan disini? Mengapa tidak herani memperlihatkan wajahmu?" . tapi mereka tidak bisa menduga siapa yang akan menang. Orang-orang merasa kasihan kepadanya tapi di dalam hatinya berkata: "Untung saja. bergerak lagi. tahu-tahu dia sudah terluka parah. lalu terguling dari anak tangga ke 24 hingga ke anak tangga paling bawah. Akhirnya ada orang yang berani berbicara. dia hanya seperti orang mabuk. tapi kepalanya sudah terluka. terbanting ke bawah dan jatuh tepat di tangga. berarti mulai sekarang telapak tangan kirinya sudah tidak bisa digunakan lagi. menabrak beberapa orang kemudian berdiri lagi. dia biasa menggunakan tangan kosong." Sebab bukan tangannya yang hancur. Walaupun tidak menjadi daging cincang.Mereka berpikir dan berpendapat secara singkat pertarungan akan selesai. tergeletak di bawah tidak bisa .

Mereka tergeser kedua arah hingga Sin Kong-ta terlihat. Bila di tempat lain mungkin Sin Kong-ta tidak akan berbuat seperti itu. hanya dua gigi depan terlepas dan kepalanya lecet-lecet. Kepandaiannya benar-benar sangat mengagumkan. walau hanya meminta dua buah gigi depan. tapi di sini ada Hie Tayhiap dan Tuan Kiam-ta. tapi juga tidak akan bisa menandingi mereka berdua. Pertanyaan ini memang tidak keterlaluan. setelah menghajar Sin Kong-ta. Orang yang berada di depan Sin Kong-ta merasa ada tenaga yang mendorong mereka. Dengan tertawa dingin si baju hitam berkata: "Aku paling benci dengan orang yang suka menjilat. Karena tubuhnya sudah terpental melewati kepala para tamu. Dengan tertawa si baju hitam bertepuk tangan ke arah Sin Kongta "Kau siapa? Apa kau pantas menanyakan diriku?" sekali lagi si baju hitam bertepuk tangan. menjadi orang jangan terlalu banyak bicara !" Di luar aula masih banyak orang. Pikirnya meskipun si baju hitam sangat lihai. dia tidak bisa bersembunyi lagi. memperlihatkan wajah aslinya Kali ini orang-orang terkejut bukan karena ilmunya melainkan karena usianya. terpental ke luar pintu. dia langsung membuka topi dan tutup wajahnya. Walaupun di sudut . karena kau ndak begitu jahat.Sebetulnya semua orang juga ingin tahu tapi tidak ada seorang pun yang berani berbicara. Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan. aku hanya meminta 2 buah gigimu tapi kau harus ingat. Dia tidak terluka parah. Dia menghukum orang dengan sangat tepat. hingga mereka tidak tahan tergeser. tentu saja mereka bisa melihat dengan jelas keadaan Sin Kong-ta. Sin Kong-ta hanya ingin mencari muka saja. mereka pun belum mengeluarkan serangan. tapi Sin Kong-ta malah bersembunyi di balik punggung orang lain. Orang berbaju hitam itu bisa langsung menghajar orang yang memang harus dihajar.

Sekarang setelah melihat. semua tamu menjadi terpaku. Walaupun mereka takut terhadap ilmu silat Hui-thian-sin-liong tapi begitu tahu bahwa dia pernah dikalahkan oleh Hie Tiong-gwee. mereka tahu bahwa yang dikatakan siluman besar itu ternyata adalah seorang pemuda yang begitu tampan. dia sudah tidak begitu terkejut lagi. dia pun sudah tidak begitu terkejut lagi.dahinya ada luka bekas pisau tapi itu tidak penampilannya. dia berkata: "Tuan Kiam-ta pasti tahu. Sedang pemuda ini begitu muda usianya. umurnya tidak lebih dari 25 tahun. pasti usianya sekitar 40 tahun keatas." jawabnya Hui-thian-sin-liong. Hui-thian-sin-liong berhadapan dengan Tuan Kiam-ta. "Wie Thian-hoan hari ini datang untuk menepati janji. Biasanya orang yang memiliki keahlian silat yang begitu tinggi. Yang sudah tahu kabar ini mengira bahwa Hui-thian-sin-liong datang untuk membalas dendam. menganggu Dalam hati para tamu timbul pikiran. Apakah semenjak dalam kandungan ibunya dia sudah berlatih silat? Bila tidak mana mungkin dia bisa memiliki tenaga dalam yang begitu hebat? "Kau benar-benar sudah datang. 4 buah kata yang keluar dari mulut Kiam-ta." kata Hie Tiong-gwee. Tuan Kiam-ta nama . membuat para tamu menjadi terkejut. maka mereka pun menjadi lebih tenang. "Hui-thian-sin-Hong. kau datang kemari ada urusan apa?" yang bicara adalah Tuan Kiam-ta. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang melihat dirinya. Apalagi di sana masih ada Tuan Kiam-ta. Keluarga Kiam adalah keluarga ahli silat. mengapa aku datang kemari?" Tiga tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong dikalahkan oleh Hie Tiong-gwee dan memaksanya mengundurkan diri dari dunia perseliatan. kabar ini sudah tersebar ke mana-mana.

menggelengkan kepala. saat itu aku sudah berjanji dengan Hie Tionggwee kau yang menjadi saksi. dia hanya tertawa kecut. Keluarga Hie mengira karena di sana ada Tuan Kiam-ta dan dia yang menjadi comblang Hie Tiong-gwee maka mereka yakin Tuan Kiam-ta akan memihak kepada Hie Tiong-gwee. Sang kakak terjun ke dunia persilatan tapi adiknya lebih senang berada di rumah dan jarang berkelana di dunia persilatan. tapi orang-orang lebih hormat pada Tuan Kiam-ta. "Hie Tayhiap. tapi orang-orang hanya tahu kehebatan ilmu Kian-yan dan belum pernah melihat ilmu silat Ih-san. Ada seseorang yang bertanya: "Hei. Sedang Ih-san mempunyai tenaga dalam yang sangat hebat. apakah tuan sudah berjanji sesuatu padanya pada hari ini?" Hie Tiong-gwee tidak menjawab. kau tidak menganggap aku omong kosong bukan?" Tuan Kiam-ta terlihat sangat bingung. dia tetap berkata kepada Tuan Kiam-ta: "Tuan Kiam-ta. Kemudian mereka bertanya kepada Hie Tiong-gwee. Ilmu yang dilatih oleh Kian-yan adalah ilmu telapak tangan kanan yang bersifat keras (Yang) dan telapak tangan kiri bersifat lembut (Ini). Mereka berlatih ilmu silat yang berbeda dan sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Karena kakak beradik ini terkenal di dunia persilatan maka orang-orang menyebutnya mereka Tuan Kiam-ta (Kiam pertama) dan Tuan Kiam-ji (Kiam kedua). sifat mereka tidak sama. dia menggaruk-garuk kepalanya dan berkata: . kau mempunyai janji dengan siapa?" Mereka sengaja bertanya demikian hanya karena ingin melihat Hui-thian-sin-liong bertarung dengan Hie Tiong-gwee. Orang she Wie.aslinya adalah Kian-yan Adiknya bernama Ih San. Tapi Hui-thian-sin-liong tidak menghiraukan mereka.

tapi demi para tamu. Yang pertama adalah Bwee Ceng-hong. biar ada masalah apapun harus menunggu hingga Hie Tiong-gwee habis sembahyang. kapan pun kau bisa datang untuk menagihnya tapi mengapa harus hari ini?" Masih banyak yang ingin dia tanyakan tapi dia tidak bisa berkata lagi. Kau memaksa Hie Tiong-gwee menepati janji."Benar. dan yang satu lagi adalah murid Bu-tong bernama Yap Jin-tong. walau pun Hie Tiong-gwee mengijinkan tapi keluarga Hie tidak akan membiarkanmu membuat keributan. perjanjiannya tidak ada jangka waktu. hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee. yang satu lagi adalah murid Siauw-lim bernama Hun Sim-boh. "Benar." "Benar. Walaupun dia tidak suka ada yang membuat keribuatan tapi dia masih bisa menahan diri." Walaupun Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim tapi dia adalah seorang yang bertemperamen tinggi. Hun Sim-boh sudah merasa . Walaupun mereka bertiga mengatakan dengan cara yang berbeda. tapi Hui-thian-sin-liong tidak meladeni mereka Hui-thian-sin-liong bertanya kepada Tuan Kiam-ta: "Apakah Ko Tan taysu dan It Piau cinjin sudah datang?" Jawab Kiam-ta. orangnya ramah seperti namanya." Tuan Kiam-ta tampak sangat tenang. kau sengaja memilih hari ini. "Aku tidak tahu kalian mempunyai perjanjian apa. Ada 3 orang yang tiba-tiba keluar mewakili dia bicara. Mereka bertiga adalah teman baik Hie Tiong-gwee. "Benar. aku harus hadir." "Kalau begitu hanya ada seorang saksi/juri. "Mereka tidak akan datang. aku adalah comblang mereka. kau benar-benar keterlaluan!" seru Bwee Ceng-hong. pikirlah sekali lagi apakah bisa mengganti waktunya?" tanya Yap Jin-tong.

" Dia begitu sopan." Kata Kiam-ta: "Aku hanya meminta kau jangan datang hari ini." 'Pertarungan' kata ini yang keluar dari mulut Kiam-ta. bila kau tidak mau. membuat para tamu kembali terkejut. tapi tidak ada yang berani bicara. kau menepati janji datang hari ini. Yang tidak disangka oleh Hun Sim-boh adalah Tuan Kiam-ta juga takut kepada Hui-thian-sin-liong. aku hanya ingin bertanya kepadamu. apakah aku mempunyai hak kemari?" Tuan Kiam-ta dengan terpaksa menjawab: "Ya. berarti 3 tahun yang lalu memang sudah terjadi pertarungan.. aku menghormati tuan seperti aku menghormati Ko Tan taysu dan It Piau cinjin. Tuan Kiam-ta tertawa kecut dan berkata: "Terima kasih. karena itu aku setuju kalian menjadi saksi/juri. karena It Piau cinjin dan Ko Tan taysu tidak berada di sini. dia seperti disiram oleh seember air dingin." kata Hui-thian-sin-liong." "Kalau begitu aku beritahu kepadamu bahwa aku memang sengaja datang hari ini. apakah aku boleh bertanya. tidak berani mengubar amarah dan hanya diam saja. Kata Hui-thian-sin-liong: "Yang menjadi saksi/juri tidak boleh memihak kepada siapapun. . walaupun kau menjadi comblang bagi mereka." "Kau tidak perlu bertanya apa-apa lagi.. aku percaya kau tidak akan seperti itu. di dunia persilatan namamu sangat terkenal. Tuan Kiam-ta sungguh keterlaluan. "Tuan Kiam-ta." Tanya Kiam-ta: "Kalau begitu. baiklah aku akan kembali menjadi saksi lagi pada pertarungan kali ini.bahwa Tuan Kiam-ta sangat takut dan tidak dapat mencegah hal buruk yang bisa terjadi.

Alasan tamu-tamu itu senang karena mereka bisa menyaksikan kembali pertarungan 3 tahun yang lalu dan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas.Dalam hati para tamu berpikir. tapi Hie . Tapi tamu-tamu juga ada yang khawatir dan takut apakah Hie Tayhiap masih bisa mengalahkan Hui-thian-sinliong? Mereka merasa ragu dan curiga dengan kabar yang didengar selama ini. Dan yang menjadi saksi pertarungan itu yakni Tuan Kiam-ta pun tentu akan marah. maka aku akan mengikuti keinginan mereka tapi walau bagaimanapun perjanjian antara aku dan Hie Tiong-gwee tidak akan terhapus begitu saja. dia baru "Sebenarnya perjanjian ini adalah antara aku dan Hie Tionggwee. 'Hui-thian-sin-liong datang untuk balas dendam. apakah kabar itu benar atau hanya isapan jempol belaka. tapi jika keluarganya tidak suka dan ingin membalas dendam." Ini artinya bahwa bila ada orang yang membantu Hie Tiong-gwee dalam pertarungan ini maka dia akan dinyatakan kalah. Setelah mendapat jawaban dari Tuan membalikkan kepalanya dan berkata: Kiam-ta.' Mereka merasa senang sekaligus khawatir. Bila dalam pertarungan kali itu yang kalah adalah benar Huithian-sin-liong dan dia sudah bersumpah akan mengundurkan diri dari dunia persilatan. Para tamu merasa bahwa pertarungan 3 tahun lalu yang kalah belum tentu Hui-thian-sin-liong. akhirnya berhenti di tubuh Hun Sim-boh. dia tidak akan berani datang pada hari pernikahan Hie Tayhiap dengan begitu terang-terangan. Sorot mata Hui-thian-sin-liong dengan pelan melihat Bwee Ceng hong dan Yap Jin-tong. Tapi Tuan Kiam-ta mengakui bahwa Hui-thian-sin-liong mempunyai hak memilih hari untuk menepati janjinya. Hun Sim-boh hanya berkata: "Aku tidak tahu perjanjian yang terjadi di antara kalian.

" Tuan Kiam-ta mengangguk.' Semua orang jadi terdiam.. "Perjanjian apakah itu? Bagaimana akhir dari pertarungan 3 tahun lalu? Mengapa sekarang mereka harus bertarung lagi?" Mereka juga berharap bisa tahu lebih banyak lagi. supaya para tamu tahu bahwa aku bukan datang ke tempat ini bukan tanpa sebab. tapi setelah mendengar ucapan Hie Tiong-gwee sepertinya masalah yang terjadi sangat berat. maka Tuan Kiamta mulai menjelaskan. 'Bila sekarang tidak menjelaskan dengan baik." Hui-thian-sin-liong bertanya: "Bila dia tidak mau diganggu." Di dalam hatinya dia berkata. Banyak orang yang berbisik-bisik. mereka pun tampak khawatir. seolah-olah seperti lupa bernafas. dengan pelan Hui-thian-sin liong berkata: "Tuan Kiam-ta. Demi menghindari gangguan dari keluarga Hie. tidak perlu Adik Wei yang memberitahu. silahkan tuan jelaskan isi dari perjanjian yang kita sepakati ini. Hie Tiong-gwee akan mendapat serangan dari Wie Thian-hoan. . aku tidak mau dia diganggu.. Suara tepuk tangan segera berhenti. kebaikan teman-teman dan handai laulan.Tiong-gwee adalah pengantin laki-laki. "Ini memang tugasku. lalu apa maumu?" Terpaksa Hun Sim-boh berkata: "Apakah perjanjian itu bisa diwakili olehku?" Hie Tiong-gwee langsung bicara: "Perjanjian ini hanya antara aku dan Wie Thian-hoan. hidup atau mati aku yang akan menanggungnya. aku terima di dalam hati saja." Para pendekar Tiong-ciu dan para tamu setelah mendengar ucapan Hie Tiong-gwee segera tepuk tangan.

mereka adalah It Piau cinjin. dan yang ketiga adalah bertanding pedang. 'Pasti Hie Tiong-gwee yang menang. para tamu malah merasa kebingungan."Tiga tahun yang lalu. beradu tangan kosong dan pedang. Tapi mereka mempunyai aturan yang berbeda. Dalam hati para tamu berkata." Kata Tuan Kiam-ta.' Begitu dijelaskan aturan pertandingan. pertarungan ini tidak akan diteruskan. yang diserang tidak boleh membalas. Bila pada pertandingan pertama yang diserang mati atau terluka oleh senjata rahasia. Ko Tan taysu dan aku. 3 ilmu ini merupakan kepandaian unggulan dari Hie Tiong-gwee. Pertandingan pertama bila penyerang melancarkan serangan. kedua adalah tangan kosong." Kiam-ta benar-benar menjelaskan dengan terperinci. . "Lalu bagaimana dengan pertarungan mereka?" Para tamu mulai penasaran. Pertarungannya bukan seperti 'kau menyerang aku menangkis'. "Pertarungan ini terbagi menjadi dua bagian." Senjata rahasia. dalam satu ronde pun bisa langsung berhenti. pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan terjadi di gunung Siong-san. Mereka berjanji untuk bertarung sebanyak 3 ronde untuk menentukan siapa yang kalah dan yang menang. mereka berdua setuju yang menjadi saksi/juri adalah 3 orang. berarti orang yang menyerang yang menang. "Yang pertama adalah menguji senjata rahasia. Bwee Ceng-hong berkata: "Mengapa aturannya begitu aneh? Apakah Tuan Kiam-ta bisa menjelaskannya. dia seperti mengingat-ingat kejadian 3 tahun lalu. Kiam-ta berhenti sebantar. Walaupun sudah terbagi menjadi 3 ronde pertandingan. tapi mungkin juga bisa terjadi 6 ronde kalau belum ketahuan siapa yang menang atau kalah. yang satu menyerang yang satu lagi bertahan.

" Ini benar-benar pertarungan yang aneh tapi setiap babak pasti mengadu jiwa. para saksi mengundi siapa yang menjadi penyerang tapi Wie Thian-hoan dengan rela mengalah. bila dia tidak dapat membunuh lawan.Kedua adalah pedang." Tuan Kiam-ta mengatakan yang sebenarnya. Setelah mendengar cerita ini para tamu sangat terkejut dan takut. Ini hanya pertarungan pertama. Kata Hun Sim-boh: "Dalam pertandingan pertama yang jadi penyerang pasti Huithian-sin-liong. ini membuat keluarga Hie sangat terkejut dan wajah Hie Tiong-gwee langsung menjadi merah. akan ditentukan oleh saksi." Kata Hun Sim-boh Kata Tuan Kiam-ta: "Sebaliknya. yang menyerang menunggu saksi menghitung dari angka satu hingga sepuluh. semua tamu tahu bahwa dia sedang . tapi tempat dan waktu ditentukan oleh dia. Dalam bertanding tangan kosong kedua belah pihak hanya boleh satu kali menyerang. dia hanya boleh menyerang 3 jurus. semua akan berakhir. pada pertarungan bagian kedua. bila yang diserang bisa mengelak. akan dilanjutkan ke babak berikutnya yaitu bertanding tangan kosong. Dengan sengaja Coh Thian-su bertanya: "Jadi Wie Thian-hoan rela memberi kesempatan pada Hie Tionggwee? Dan Hie Tiong-gwee pun dengan senang hati menerimanya?" Begitu selesai bicara. dia memberi kesempatan pada Hie Tiong-gwee untuk menjadi penyerang dulu. yang tadi diserang sekarang menjadi penyerang. yang mendapat luka yang paling berat dia yang kalah. Bila dalam 3 kali pertarungan adalah seri. bila tidak bisa langsung menentukan siapa yang kalah atau menang. artinya pertarungan ini sudah selesai. Dalam pertarungan itu bila kedua belah pihak terluka. aturan masih seperti tadi.

kau boleh menggunakan tangan untuk menahan serangan senjata rahasia tapi tidak boleh balas menyerang balik. tapi tidak melarang berapa banyak senjata rahasia yang boleh digunakan.mentertawakan Hie Tiong-gwee. "Tuan Kiam-ta. Kali ini Hun Sim-boh tidak berani bicara lagi. kau pun boleh menggunakan tenaga telapak tangan untuk memukul serangan senjata rahasia tapi hanya dalam jarak 3 meter. masih ada yang tertinggal." Coh Thian-su tertawa kemudian berkata: "Apakah Wie Thian-hoan adalah orang jahat di dunia persilatan? Ini hanya omongan dari orang yang tidak bisa dipercaya. Lawan hanya boleh menerima tidak boleh membalas. aturannya hanya menyerang satu kali. apa bedanya?" "Bila membalas artinya menyerang balik. hanya ada 2 hingga 3 orang yang berkata: "Untuk memusnahkan orang jahat. tapi mereka hanya bisa menekan amarahnya. apakah benar Tuan Kiam-ta?" Kata-kata Coh Thian-su seperti membela Hui-thian-sin-liong. yang menjadi pemenang adalah yang tidak menggunakan tenaga telapak tangan untuk menahan senjata . "Yang mana?" "Bila dalam pertandingan senjata rahasia tapi kedua belah pihak tidak ada yang terluka. kau tidak boleh melukai lawan menggunakan tenaga dalam." Tanya Yap Jin-tong: "Menyerang dan membalas. menyerang untuk bertahan artinya." "Masuk akal juga. tidak perlu sungkansungkan. Tuan Kiam-ta mulai bercerita: "Pertarungan pertama adalah pertandingan senjata rahasia. Kebanyakan dari para tamu hanya ingin tahu hasil akhirnya. Mungkin Hie Tiong-gwee adalah pendekar tapi dia juga belum tentu begitu." Kata Hun Sim-boh sambil mengangguk. tidak berani bertindak. keluarga Hie jadi sangat tidak senang mendengarnya." Kata Hui-thian-sinliong.

Keluarga Hie mendengar ada 3 senjata rahasia yang mengenai tubuh lawan. Tuan Kiam-ta terus berkata: "Pertama-tama." "Benar. mengapa baju Hui-thian-sin-liong tidak sobek? Apakah dia memiliki ilmu hitam?" Guru mereka tidak bisa menjawab hanya berkata: "Itu bukan ilmu hitam. dengan ." Biasanya senjata rahasia Hie Tiong-gwee sangat tepat pada sasaran dan lawan bisa langsung mati." Kata Tuan Kiamta. yang tiga lagi mengenai tubuhnya. artinya dia pun tidak menggunakan tenaga telapak tangan. Hui-thian-sin-liong pun setuju dengan hal ini. tapi Wie Thian-hoan tidak menggunakan telapak tangannya untuk melencengkan arah senjata rahasia. mereka merasa bersyukur. senjata rahasia yang dilepaskan oleh Hie Tionggwee ada 13 buah. tapi entah ilmu silat apa. Tapi segera terpikir lagi. Tokoh di dunia persilatan yang bisa melepaskan senjata rahasia sebanyak 7 buah sudah sangat jarang. kita pun tidak tahu ” Coh Thian-su kebetulan berada di dekat mereka. belum pernah ada orang yang mendengarnya. apalagi dia bisa melepaskan sekaligus sebanyak 13 buah. karena dia yang menjadi penyerang.rahasia. dia sangat beruntung jika bisa mengelak dari senjata rahasia. ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya: "Biasanya senjata rahasia Hie Tiong-gwee bisa menembus mengenai tulang." Setelah habis bicara. Benar juga. Tidak dapat dipungkiri lagi semua tamu sudah tahu maksud Hie Tiong-gwee. Dia bisa menangkap dengan tangannya sebanyak 7 buah dan mengelak dari senjata itu sebanyak 3 buah. Tapi Kiam-ta berkata lagi: "Walaupun ada 3 senjata rahasia yang mengenai tubuh Wie Thian-hoan. hal ini diusulkan oleh Hie Tiong-gwee. para tamu menjadi ribut. tapi bajunya tidak sobek.

tapi kepandaian semacam ini ada yang lebih tinggi lagi tingkatnya. yang bisa melatih ilmu hingga seperti itu sudah sangat jarang. Orang persilatan pasti sudah tahu apa penyebabnya. hanya saja lubangnya tidak lebih kecil dari ujung lanun. "Begitu aku terkena 3 buah senjata rahasianya. Dengan tersenyum Kiam-ta: Hui-thian-sin-liong berkata kepada Tuan "Tuan Kiam-ta.tersenyum dia berkata: "Ilmu seperti ini dinamakan Cap-ie-cap-pwee-tiap (Menyentuh baju terjatuhkan 18 kali) Orang yang mengusai ilmu ini. oleh karena itu dinamakan 'Cap-ie-cap-pwee"Seharusnya yang jatuh adalah dia bukan?" Kata orang itu. tidak ada yang tahu. bila baju Hui-thian-sin-liong berlubang pasti bukan sebesar jarum. maka yang memukulnya yang akan jatuh terpental." Senjata rahasia Hie Tiong-gwee lebih besar dari jarum. "Demi pertarungan yang adil. "Benar." Apakah Hui-thian-sin-liong mendengar perkataan Coh Thian-su. salah satunya telah membuat bolong bajuku. kalau ada orang yang menyentuh baju orang juga berlatih ilmu itu." Dia menggulung lengan bajunya memperlihatkan kepada Tuan Kiam-ta. aku tidak tahu. sebenarnya bajuku ada juga yang sobek. Sebenarnya senjata rahasia Hie Tiong-gwee tidak mengenai tangan Hui-thian-sin-liong hanya karena tenaga dalam Hie Tionggwee sangat besar. aku sengaja mengenakan bajuku . bila tubuhnya dipukul oleh lawan. Ini membuktikan bahwa ilmu Huithian-sin-liong belum sempurna betul. Salah satu senjata rahasia pasti mengenai bajunya dengan ringan sehingga kain bajunya ada sedikit rusak dan berlubang sebesar lubang jarum. Jatuhnya pun ada 18 cara. pasti dia yang akan langsung jatuh Tapi apakah bisa membuat senjata rahasia sampai jatuh. Belakangan aku baru mengetahuinya. kau jangan memujiku terus. Kata Hui-thian-sin-liong.

Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 3 jurus serangan. Bila nantinya senjata rahasiamu tidak mengenai baju Hie Tayhiap dan tidak membuat bolong bajunya. apakah benar?" "Ilmu pedang Hie Tiong-gwee sangat tinggi. harap saksi bisa memeriksanya dulu. bila tenagamu dikurangi sedikit lagi maka jurus pedangmu akan lebih cepat dan akan membuatku terluka parah. tapi bajumu sama sekali tidak terkena sabetan pedangnya. mengapa sampai baju Hui-thian-sin-liong pun tidak bisa kena? Pasti ilmu silat Hui-thian-sin-liong sangat tinggi. itu pun sudah sangat beruntung." Kata Hie Tiong-gwee: "Caramu mengelak lebih cepat dari pedangku." Kata Hui-thian-sin-liong. kau tidak perlu memuji diri sendiri. tapi ." Para pesilat tahu bahwa Hie Tiong-gwee sebagai penyerang jadi dia berusaha membunuh Hui-thian-sin-liong dalam satu kali serangan sehingga tenaga dalam yang dikeluarkan sangat besar. aku pasti akan terluka." Keluarga Hie sangat terkejut. Pedang yang ringan berubah menjadi senjata yang berat. aku masih bisa mengelak. aku akan mengingatnya." Kata Tuan Kiamta: "Terima kasih sudah mengingatkanku pada kesalahan yang telah kubuat." Dengan sungguh-sungguh Hui-thian-sin-liong berkata: "Aku benar-benar kagum terhadap ilmu pedangmu. waktu itu bila kau mau langsung menusuk ke tubuhku. dia terlihat lebih jujur. "Apakah berita yang beredar tidak benar? sebab dia dengan Hie layhiap. sekarang banyak orang jadi bertanya-tanya. kau yang akan kalah. Dalam bayangan orang-orang Hui-thian-sin-liong adalah penjahat kelas kakap. sebab ilmu pedang Hie Tiong-gwee sangat tinggi. Tapi sayang kau agak sedikit kurang baik memegang pedangnya." "Ini memang seperti yang kumaksud.yang lama." Kata Tuan Kiam-ta: "Sekarang kita beralih kepada cerita pertarungan pedang.

ini merupakan keberuntungan untukmu. ujung pedang sudah menusuk ke dalam pohon." Kata Hui-thian-sin-liong: "Hie Tayhiap mengira aku mengejeknya. Bila ada yang ingin tahu kejadian sebenarnya. Kalau Wie Niian-hoan ." Coh Thian-su tahu saat ini pasti mereka akan saling menyalahkan.kecepatannya pun berkurang. biarkan saja dia terus bicara" Kata Tuan Kiam-ta: "Hari ini bila terjadi pertarungan hanya ada seorang saksi. aku akan bicara yang sebenarnya. I lui-thian-sin-liong meloncat mundur dengan cepat. Benar. bahwa aku sangat mengagumi jurus pedang Hie Tiong-gwee." Wajah Hie Tiong-gwee sudah sangat merah. Hie Tiong-gwee mengeluarkan 3 jurus untuk menyerang tapi pada saat masuk jurus ketiga. Hie Tiong-gwee pasti tidak mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan pedang. Peraturan harus diperketat dan adil. Keluarga Hie mulai berpikir. katanya dia hanya menerima dua setengah dari 3 jurusmu." Ada yang berkata: "Semua orang sebenarnya ingin tahu cara Hie Tiong-gwee memainkan pedangnya. Hie Tiong-gwee tidak dapat menghentikan tubuhnya sehingga saat jurus yang ketiga baru Jillancarkan setengah. walaupun keadaan sudah seperti itu tapi Wie Thian-hoan tidak melanggar peraturan. maka dengan tertawa Coh Thian-su bertanya: "Hie Tayhiap. karena itu aku harus menambah beberapa kata dari Tuan Kiam-ta. Karena Wie Thian-hoan berada di balik pohon. 'Sekarang kau baru menunjukkan kesalahannya? Padahal pertarungan kali itu bila kau menjadi penyerang." "Ada yang tertinggal?" Tanya Tuan Kiam-ta "Aku hanya menerima 2 setengah dari 3 jurus Hie Tiong-gwee. sebenarnya aku sudah mengeluarkan 3 jurus. dia berkata: "Kau tidak perlu menutupi kekuranganku. hal yang lain tidak perlu diberi komentar.

" Kata Hie Tiong-gwee.mengatakan dua setengah jurus dan aku pun menyetujuinya. "Kau bukan saksi mata." Kata Wie Thianhoan." Kata Tuan Kiam-ta. tapi dia juga berpikir Coh Thian-su tidak akan memihak kepada Hie Tiong-gwee." Sebenarnya itu merupakan keberuntungan bagi Hie Tiong-gwee. sehingga aku sulit untuk menutuskan. mengapa tahu Tuan Kiam-ta sudah selesai l>ercerita?" Kata Coh Thian-su. tapi dia tidak berhasil melukai lawannya. menurutku lebih baik kau menceritakan keadaan pertarungan itu. Hie Tiong-gwee adalah seorang pendekar. "Tidak bisa. sekarang mereka sama-sama tidak mau mengambil keuntungan.benar. dia berkata: "Betul." Kata Hun Sim-boh. Dia tahu akhir pertarungan seperti ini akan dimenangkan oleh Hui-iliian-sin-liong." "Kedua belah pihak saling mempertahankan pendapatnya. Kata Coh Thian-su: "Tuan Kiam-ta." "Aku yang menentukan 3 jurus. aku harus menceritakan semuanya agar tidak merugikan pihak mana pun. karcna aku hanya menerima dua setengah jurus. Walaupun mereka rela membiarkan jurus yang ketiga. "Benar." "Bukankah cerita mengenai pertarungan pedang sudah habis? Hie liong-gwee menganggap dia sudah mengeluarkan 3 jurus. tidak perlu meributkan lagi dua setengah jurus atau 3 jurus. Ada yang berpikir. Bila nantinya dia mengeluarkan 3 jurus artinya dia yang kalah." Sengaja Coh Thian-su bertanya: "Lalu Hie Tiong-gwee sendiri bagaimana?" . IYdang Hie Tiong-gwee memang masuk kedalam pohon karena dia terlalu kuat mengeluarkan tenaga. "Tidak bisa harus tetap dihitung 3 jurus. aku tidak boleh mengambil keuntungan dari mu. Benar saja wajah Tuan Kiam-ta tampak malu.

" Yang berbicara tidak lain adalah Leng Giok-yan. apalagi yang belakang. tapi sempat muntah darah sebanyak 1 kali. dan tenaga telapak tangan." "Apakah mengeluarkan darah?" "Sedikit. Sekarang semua orang tahu mengapa dia mengatakan sudah melancarkan 3 jurus. tidak disangka malah terluka sendiri. pedang."Kepalanya terbentur pohon. Hie Tiong-gwee memukul Wie Thian-hoan dan mengenai punggung Wie Thian-hoan. tapi yang terluka malahan Hie Tiong-gwee. kali ini ceritanya sangat singkat. malah kepalanya sendiri mengeluarkan darah. Tiba-tiba ada suara perempuan berkata: "Tiga tahun lalu pertarungan begitu rumit. Dengan suara kecil Yu Yong berkata: . karena Hie Tiong-gwee adalah ahli senjata rahasia. Setelah mendengar cerita Tuan Kiam-ta dia tahu harapannya sia-sia belaka. dan dia sudah kalah." Dia menjelaskan dengan ringan tapi sudah menghebohkan para tamu. "Sekarang sudah jelas. bahwa Hie Tiong-gwee mengeluarkan 3 jurus tapi tidak mengenai Wei Tian Shu. Karena Giok-yan sudah dirugikan oleh Hui-thian-sin-liong maka dia ingin Hie Tiong-gwee yang menang. "Tidak begitu berat. walaupun datang terlambat tapi mereka akhirnya tiba juga di rumah keluarga Hie." "Pertarungan yang ketiga adalah beradu tenaga telapak tangan." Hie Tiong-gwee tampak sangat malu. wajahnya menjadi merah hingga ke telinga. dan langsung benjol." "Bagaimana terlukanya?" Tanya Coh Thian-su. pantas saja Yu Toako tidak bisa menceritakan akhir dari pertarungan itu. apakah benar Tuan Kiam-ta?" "Benar. dia takut saksi mata mengatakan bahwa setengah jurus lagi adalah jurus yang memalukan. Yang pertama saja sudah sedemikian parah.

" Kata Tuan Kiam-ta: "Aku sudah menceritakan pertarungan 3 tahun lalu. karena itu aku tidak mengajukan syarat apapun tapi aku ingat Hie Tiong-gwee pernah berkata. aku kira aku tidak akan bisa lolos. bagaimana bila dia kalah juga sebaliknya bagaimana bila dia menang. itu pun sudah lumayan. aku tidak dapat mendengar dengan jelas. Ada yang bertanya: " Hie Tiong-gwee meminta persyaratan apa?" "Bila Wie Thian-hoan kalah."Hie Tiong-gwee hanya salah langkah. bila tidak pada ronde yang ketiga dia tidak akan terluka." Dia tahu bahwa Hie Tiong-gwee kalah tapi bila dapat menutupi sedikit saja hal yang memalukan. "Guruku berkata. pertarungan ini akan dilanjutkan lagi nanti. kedua belah pihak harus berjanji. Bagitu Tuan Kiam-ta berkata seperti itu." "Waktu itu mengapa Wie Thian-hoan tidak mengajukan syarat?" Hui-thian-sin-liong menjawab: "Karena pada waktu itu aku ada di pihak yang diserang dan harus melewati 3 babak pertarungan. aku boleh meminta syarat apapun. Bila kedua belah pihak setuju. apakah benar Tuan Hie?" "Benar. karena takut salah omong. orang-orang baru tahu bahwa pertarungan 3 tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong belum meminta persyaratan apa pun. bila aku tidak mati. ronde pertama dan kedua Hie Tiong-gwee mengeluarkan tenaga terlalu besar. pendekar lain bisa membantuku menjadi saksi. Wie Thian-hoan. maka pertarungan akan dimulai." Kata Hie Tiong- . Sekarang pertarungan segera akan dimulai. dia akan menyetujui apa yang diminta oleh Hie Tiong-gwee. dan dia setuju. kau boleh mengajukan syarat apapun. termasuk bila harus bunuh diri." "Salah langkah bagaimana? Bicaralah dengan suara agak keras. apa syarat darimu?" Menurut aturan pertarungan.

" "Pertama adalah pertandingan senjata rahasia. melainkan Yu Tayhiap." Kata Tuan Kiam-ta." "Celaka! Mengapa melibatkanku?" Kata Yu Yong dalam hati." "Baiklah. guruku yang berkata seperti itu. aku tidak akan mengajukannya. Dia segera berdiri dan berkata: "Benar. bila bukan karena Tuan Hie kehabisan tenaganya di ronde kedua. tapi pertarungan kedua ." "Mengapa harus ditukar?" "Pertarungan 3 tahun lalu. kalian bisa membantuku membetulkannya. pada ronde ketiga pada saat beradu tangan. "Kau jangan main-main."Tidak perlu tergesa-gesa. aku akan bertindak adil. aku cuma minta 2 syarat dulu." "Diganti seperti apa?" "Pertama. apakah kau yakin bisa membuat keadaanku bertambah sulit?" Bila kali ini Wie Thian-hoan yang kebagian menyerang. maka nyawa Hie Tiong-gwee sudah berada dalam genggaman Wie Thianhoan. orang she Wie. paling sedikit dia tidak akan terluka.dan ketiga ditukar." "Aku adalah juri. wulaupun dia tidak bisa melukaiku. dan ketiga baru bertanding pedang. aku minta susunan pertarungan diganti. pertarungan masih tetap sama." "Pertama. kau jangan keterlaluan. kedua adalah beradu tenaga telapak tangan." Hie Tiong-gwee tampak marah." "Karena gurumu adalah saksi/juri di antara ketiga orang itu maka permintaanku menurutmu masuk akal bukan?" . apa maumu? Bila aku salah mengambil keputusan. "Bila tidak adil. "Mengapa kau tahu ini merugikanmu? Aku kira Tuan Kiam-ta yang menentukan semuanya. ini bukan aku yang mengatakannya.

hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee. dia tidak boleh menerima kado seperti ini. tidak perlu diundi. Sebenarnya Hie Tiong-gwee adalah seorang pendekar. kau sengaja memilih hari ini untuk membuat keributan dan menghina Hie Tayhiap. tidak boleh secara pribadi menentukan.Orang-orang di sana berpikir dalam hati. Tiong-gwee sendiri sulit menjawabnya. diibaratkan satu pihak ingin memberi di lain pihak menerimanya." Hun Sim-boh dengan dingin berkata: "Ketika Hie Tayhiap kebagian yang menyerang. hal ini harus diputuskan oleh juri. apakah karena gengsi dia menolak dan demi nyawa dia menerima? Hie." . maka aku membiarkan dia yang menjadi penyerang. juga menghina keluarga Hie. Si wartawan berjalan Sin Kong-ta sudah ribut-ribut di luar. Kau dan dia tentu sudah memetik pelajaran dari sana. jadi aku harus memberinya kesempatan sekali. seharusnya aku membawa kado. bukan?" Berarti dia harus membuat Hie Tiong-gwee kalah dengan pantas. kado ini hanya dianggap sebagai kado permintaan maafmu. Apalagi 3 tahun yang lalu taktik serangannya salah dan dia menderita kerugian. Hie Tayhiap tetap bagian yang menyerang. tapi dia malah kalah." "Siapa yang berkata hari ini aku sebagai penyerang?" Tuan Kiam-ta tampak terkejut dan berkata: "Apa arti dari katakatamu?" "Aku harap pertarungan ini dimulai dari awal lagi. "Hei orang she Wie." "Apakah ini permintaanmu yang kedua?" "Benar." Kata Coh Thian-su: "Kado ini. kau sangat pintar. anggap saja ini adalah kado dariku. tapi ini adalah cara satu-satunya supaya dia bisa selamat. 'Tenaga telapak tangan Wie Thian-hoan pasti lebih hebat dari pedangnya. Dia berkata.

menarik bajunya memberi isyarat agar Yu Yong bisa membantu Hie Tayhiap. asal kalian setuju. beliau berpesan agar Wie Thian-hoan bisa mengganti waktu." Segera Tuan Kiam-ta melihat Yu Yong. sewaktu mereka bertarung di Siong-san. kali ini kau mewakili gurumu untuk mengucapkan selamat kepada Hie Tiong-gwee. kejadian pertarungan di Siong-san gurumu pasti sudah menceritakannya. karena itu permintaan Wie Thian-hoan untuk menukar pertandingan aku bisa menerimanya. aku belum selesai bicara. Bwee Ceng-hong dan teman baik Hie Tiong-gwee yang lain bertanya: "Beliau berpesan apa?" Giok-yan berdiri di belakang Yu Yong." Kata Wie Thian-hoan: "Untung murid It Piau cinjin sudah datang. sebagai saksi kita ketiga pernah ada perjanjian seperti ini." Hun Sim-boh. dia berpesan. "Coh Tayhiap jangan salah paham. tapi yang kedua yaitu mulai dari awal lagi aku tidak berani mengambil keputusan. aku tidak bisa berkata apa-apa.. tapi dia tetap memihak kepada Hie Tiong-gwee. tapi masih ada hal-hal kecil yang terlewatkan..Walaupun Tuan Kiam-ta selalu mengatakan harus adil. jadi dia bisa mewakili gurunya menjadi juri. aku sebagai saksi mengatakan tidak boleh merugikan pihak mana pun. dengan pelan dia berkata: "Yu Tayhiap." Tanya Coh Thian-su: "Bila tidak menurut bagaimana?" . "Sepertinya guru sudah tahu akan terjadi hal seperti sekarang. apakah gurumu ada pesan lainnya?" "Ada. bila Wie Thian-hoan tidak menurut. semua prasyarat sudah dibicarakan.. dia berkata demikian: "Betul.. bila ada salah satu pihak yang bertarung merasa syaratnya tidak cocok atau telah terjadi perubahan paling sedikit harus disetujui oleh 2 saksi/juri lainnya." "Mulai dari awal bukan berarti harus berubah tanpa batas.

Karena Coh Thian-su tahu bahwa Hui-thian-sin-liong pasti menang. lebih baik lepas tangan. tapi itu juga bukan suatu kebohongan."Wie Thian-hoan mempunyai hak untuk menentukan waktu dan tempat. lebih cepat selesai lebih baik. asalkan aku masih hisa bernafas. aku bisa menerima permintaannya jangan mengulur-ulur waktu lagi. bila dia tidak mau. "Yu tayhiap. hari ini memang hari yang istimewa. menurutmu bagaimana dengan permintaan Wie Thian-hoan?" Kata Tuan Kiam-ta. bagaimana?" "Bila aku terluka pada pertarungan pertama. dia ingin menyaksikan pertarungan ini. maka hari ini boleh melanjutkan pertarungan lagi. aku yang memilih waktu dan tempat. biarlah dia bertarung dengan keluarga Hie." Perkataan Yu Yong adalah karangan sendiri. maka pertarungan itu ditunda. Bila Wie Thian-hoan sebagai penyerang dia memiliki harapan untuk menyelamatkan nyawanya. Aku harap kali ini jangan terulang lagi." Wie Thian-hoan segera berkata: "Ini memang keinginanku. karena kedua belah pihak tidak ada yang terluka. "Seperti yang dikatakan oleh Wie Thian-hoan. Dia sengaja bicara tidak jelas. . Jadi dia diam saja. keluarga Hie pun tidak banyak komentar. pada NU Hie Tiong-gwee menyerang. padahal sebenarnya It Piau cinjin berkata: "Bila tidak bisa dinasehati." "Tapi harus disetujui oleh Wie Thian-hoan. boleh dilanjutkan." Dari tadi dia berkata terus 'mewakili guruku' padahal itu hanya pendapatnya. bila terjadi keributan aku akan mewakili guruku membantu Tuan Kiam-ta menjadi juri. dia bisa terluka lagi atau sebaliknya." "Bila terulang lagi. aku menyetujui permintaan juri. Tiga tahun yang lalu karena Hie Tiong-gwee terluka." Persyaratan ini tentu saja menguntungkan Hie Tiong-gwee. maka orang-orang menyangka dia memang benar mewakili gurunya.

bila kalian percaya kepadaku dan Yu Tayhiap. kami berdualah yang menutuskannya. Ini . soal status pendekar yang disandangnya tidak butuh persetujuan darimu. membuat para tamu memuji sikapnya. silahkan Wie Thian-hoan katakan persyaratanmu. "Hie Tayhiap selalu membantu orang dan menolong yang lemah." Semua orang setuju dengan kata-kata Tuan Kiam-ta." Begitu kata-kata ini dikeluarkan. aku akan menyerahkan kepalaku. Hie Tayhiap tidak boleh menikah dengan Nona Kang hari ini." "Bila aku menang." "Hie Tayhiap. Kata Tuan Kiam-ta: "Menurut aturan." Keluarga Hie sangat marah." Kata Tuan Kiam-ta. aku hanya ingin tahu apa yang disebut dengan ksatria. aku hanya minta Hie Tayhiap menyetujui satu hal. aku rela bunuh diri ” Dia begitu tegas. para tamu menjadi marah. setelah disetujui oleh saksi/ juri. kedua belah pihak harus patuh kepada juri. mereka tahu Tuan Kiam-ta akan membela Hie Tiong-gwee." "Apa?" "Nanti kujelaskan. "Bila aku kalah. "Banyak hal sulit untuk memutuskan. ada yang berkata : "Walau dia kalah tapi dia benar-benar seorang ksatria. kecuali bila dia ingin bunuh diri. bila aku menang."Semua sudah setuju." Kata Wie Thian-hoan: "Bicaramu sangat indah. apa ada yang ingin ditanyakan?" Hie Tiong-gwee bertanya: "Bila ada hubungannya dengan dunia persilatan." Wie Thian-hoan tertawa dingin membuat wajah Hie Tiong-gwee berubah.

" Kata Tuan Kiam-ta. bila bicara seperti itu. "Dia takut kehilangan suami yang kaya dan berkuasa. kau adalah seorang Tayhiap. tapi pamor Hie Tiong-gwee akan hilang bila kalah di tangan Wie Thian-hoan dan tidak bisa menikah hari ini. Kang Hiat-kun belum mengeluarkan sepatah katapun. bukan selamanya. kau keluarga dari pihak mana?" Po Leng-hoi ingin bergerak tapi karena banyak orang dia . mana mau dia mengangguk. ini harus disetujui oleh Nyonya Hie. Dia tidak menjawab. tapi Hie Tiong-gwee malu untuk menanyakannya. tidak ada kaitan dengan dunia persilatan. bila aku kalah aku akan memenggal kepalaku sendiri. Giok-yan yang berada di dalam kumpulan orang-orang jadi marah: "Tidak tahu malu! Pantas dia memilih hari ini.adalah hal pribadi. "Benar. Hie Tiong-gwee merasa ragu dan malu. apakah kau tidak takut ditertawakan orang-orang. menurut aturan. Sejak Wie Thian-hoan masuk." Kata-kata Wie Thian-hoan membuat keluarga Hie terdiam. entah dia harus berbuat bagaimana? Tapi 'hilang kepala' dan 'hilang istri tercinta' yang lebih berat adalah yang pertama." Entah siapa yang berkata. kau sungguh keterlaluan!" "Hie Tiong-gwee. Belum juga bertarung kau sudah takut kehilangan istri. dia ingin merusak hubungan baik antara suami istri. sekarang pun dia masih diam. bila tidak disetujui akan membuat musuh merasa menang. biasanya istri ditanya oleh suaminya. "Pertarungan ini menyangkut pihak ketiga dan harus disetujui oleh pihak ketiga." Kata Yu Yong. tapi dia hanya mengatakan hari ini. Syarat Wie Thian-hoan hanya hari ini tidak boleh menikah." Dengan marah Hie Tiong-gwee berkata: "Wie Thian-hoan. keluarlah!" "Apa hubungannya denganmu. Po Leng-hoi dengan marah berkata: "Siapa yang berkata seperti itu.

dia pun tidak tahu yang bicara itu siapa." Kata Wie Thian-hoan. jadi masalah ini hanya antara aku dan Wie Thian-hoan." Kata Hie Tiong gwee. jangan berlaku tidak sopan. Belum habis bicaranya." Kata Yu Yong. di mata orang-orang dia mengajar silat sekedar mencari makan Sebenarnya Tuan Kiam-ta bukan lupa kepada aturan ini. tapi. "Bila Nyonya Hie setuju. . pihak ini akan memilih berdiri dipihak yang mana?" "Benar. hanya juri yang boleh bertanya." "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Tapi Yu Yong sudah berpendapat seperti itu. tapi sangat terbatas. karena itu Nyonya Hie pun mempunyai hak untuk bertarung. aku lupa. pertarungan boleh dimulai. dia tahu bahwa pengantin perempuan bisa sedikit silat." "Syarat yang diajukan Wie Thian-hoan ada hubungannya dengan Nyonya Hie.. karena pihak ketiga ini adalah calon istrinya.mengurungkan niatnya. artinya Wie Thian-hoan mengajak mereka berdua bertarung dengannya. pihak ketiga ini akan memilih yang mana?" "Melihat keadaan saat ini. apakah kau takut suamimu kalah? Sebenarnya dia orang terkenal. karena itu Tuan Kiam-ta harus menjelaskannya." "Bila syarat Wie Thian-hoan tidak disetujui oleh Nyonya Hie. atau suami istri bergantian bertarung. jadi dia tidak ingin Nyonya Hie ikut bertarung.. Dengan marah Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong berkata: "Wie Thian-hoan. Semua orang tahu bila ayah Nyonya Hie adalah seorang guru silat biasa." "Karena menyangkut pihak ketiga (calon istri Hie)." "Istriku tidak bisa silat. kau tidak perlu khawatir." Kata Tuan Kiam-ta. pihak ketiga harusnya masuk ke dalam pihak Hie Tiong-gwee. tiba-tiba pengantin perempuan mengangguk. harus diganti dengan syarat lain. "Nyonya Hie. "Silahkan. Nyonya Hie setuju atau tidak.

" "Walaupun suami istri adalah suatu keluarga tapi menurut aturan harus Nyonya Hie sendiri yang menetukan baru diangap sah. 'Apakah Yu Yong sudah tahu siapa Kang Guan-yang?' Karena aturan ini ditentukan oleh pihak pengantin perempuan.Tapi pihak ketiga pun bisa memilih. dia itu sedang memberontak!" kata Po leng-hoi. maksud Yu Yong sebenarnya ingin suami istri ini bergabung. apakah dia tidak tahu bahwa pengantin perempuan tidak bisa silat? Hie Tiong-gwee merasa aneh dalam hati berkata. dia ikut bertarung berarti dia setuju dengan pernikahan ini." . "Aku sendiri yang akan bertanding dengan Wie Thian-hoan. "Pengantin perempuan masih malu berbicara. Hiat-kun bukan terpaksa menikah dengan guru. mau ikut atau tidak dalam pertarungan ini. Hie Tiong-gwee terpaksa diam." Kata Yu Yong. Begitu dia mengangguk. bila tidak setuju kau gelengkan kepatamu.' Kwee Goan-cay dan Po Leng-hoi berdiri dipinggir melihat pengantin mengangguk. 'Dia tidak bisa silat tapi berani ikut bertarung. Semua perhatian tertuju kepada pengantin perempuan. Kwee Goan-cay berkata: "Kau lihat. dia mengangkat kepala dengan pelan dia mengangguk. bila pihak laki-laki setuju ikut bertarung. Pengantin perempuan pun tetap terdiam. Yang membuat orang-orang aneh." "Menurutmu." Kata Tuan Kiam-ta. "Apa maksudmu?" "Kau tidak mengerti bahwa dia membenci gurumu. semua tamu berpikir. membuat para tamu menjadi geger. pasti ingin sehidup semati dengan suaminya. Menurutku. kau anggukkan kepala. dia mengambil keputusan ini tanpa bertanya dulu kepada gurumu.

dia tidak boleh bertarung bersama suaminya. dia boleh memilih untuk ikut bertanding atau tidak. mengapa kau tahu jalan pikirannya seperti itu?" Pada saat yang sama Tuan Kiam-ta mulai bicara lagi. Apakah yang akan terjadi? BAB 2 --ooo0dw0ooo-- Kekasih membalas dendam Telapak tangan melukai pendekar Pengantin wanita bertarung Darah berceceran di aula mewah A. tapi pengantin perempuan masih . darah bisa bercucuran di pesta pernikahan hanya untuk mencegah terjadinya pernikahan ini. Dengan tertawa Wie Thian-hoan berkata: "Baiklah."Kau bukan dia. itu adalah haknya Apakah kalian mengerti?" Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan berbarengan menjawab: "Ya. Dan kalian juga pikir. Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay terpaksa diam. mengerti. aku sudah menjelaskan bila Nyonya Hie ikut bertanding. Hie Tiong-gwee sebagai penyerang. silahkan suami istri Hie bergabung." Di dunia persilatan memang selalu terjadi gelombang perselisihan. Pertama adalah bertanding senjata rahasia. kau tidak boleh seperti itu." Tawanya terlihat marah sekaligus sedih. Kata Tuan Kiam-ta: "Wie Thian-hoan." "Pertarungan boleh dimulai. Tiga Pertandingan Hie Tiong-gwee sudah berdiri.

kemudian tubuhnya dibungkukkan." Tuan Kiam-ta tidak bertanya lagi. masalahnya harus diselesaikan hari ini. Nyonya Hie." Segera orang orang ribut mengeluarkan kata aneh.tetap menundukkan kepalanya.. segera terdengar suara . harus berganti nama. Tuan Kiam-ta bertanya kepada Wie Thian-hoan: "Wie Thian-hoan." "Hie Tiong-gwee. "Baiklah. sekarang Wie Thian-hoan dan Hie Tiong-gwee bertanding sendiri-sendiri. "Di aula saja sudah cukup. " tanya Tuan Kiam-ta." "Yang ingin kutanyakan adalah kau mau bertarung di taman atau. sebab dia akan kehilangan wibawa. Hie Tiong-gwee segera meloncat menjauh. aula Hie. tapi mereka keluar tidak jauh. apakah untuk babak ini kau mau ikut bertanding?" Kang Hiat-kun menggelengkan kepalanya. apakah kau tahu aula ini memiliki panjang dan lebarr berapa? Apakah harus diukur lagi?" Kata Yu Yong. tapi sekarang aula sudah berganti fungsi." "Sudah kukatakan. sekarang di dalam aula hanya tertinggal 2 orang saja. Tuan Kiam-ta bertanya: "Nyonya Hie. "Tidak perlu. bergerak pun tidak. Lilin merah masih menyala." Belum sempat perkataan itu mendapat jawaban terdengar suara Tuan Kiam-ta berkata: "Karena pertarungan akan terjadi di aula ini. harap para tamu keluar dulu untuk sementara." Segera para tamu keluar. seperti memberi hormat. Tidlak ada tanda tanda keramaian pernikahan lagi. terus bicara: "Aku rasa. kau mempunyai hak untuk memilih tempat. "Pertarungan dimulai!" Teriak Tuan Kiam-ta. mereka mengelilingi aula untuk menonton.. aku tidak akan bertanya lagi babak mmia yang kau pilih untuk bertanding.

tapi ada 2 buah senjata yang lolos melewati kepalanya yang tidak tertangkap olehnya. Urat nadi pada kepala bagian belakang adalah urat nadi yang paling lemah walaupun Hui-thian-sin-liong mempunyai ilmu kebal sekalipun. Hun Sim-boh berteriak: . Hie Tiong-gwee sudah melemparkan 7 senjata rahasia dari tangan kiri dan 8 senjata rahasia dari tangan kanannya. Wie Thian-hoan melihat serangan di balik gerakan itu tapi dia sudah waspada dan dengan tenang dia berkata: "Hie Tayhiap. Untuk senjata rahasia dia jarang sekali menggunakannya. kepalanya akan pecah. aku tidak bisa menerimanya. ada yang terbang miring. Sedikit sekali orang yang bisa menguasai tenaga berputar apalagi bisa sangat cepat dan tepat. begitu memberi hormat panah langsung menjepret meluncur dengan deras. Cara senjata itu menyerang sungguh aneh. Kedua senjata itu sesudah berada di belakang tubuhnya tiba-tiba berbalik menyerang ke arah belakang kepalanya. kau tidak perlu begitu hormat kepadaku.senjata rahasia melesat. semua sejata itu meluncur kepada Wie Thian-hoan. karena itu sangat jarang orang pernah melihat ilmu melempar senjata rahasianya." Hie Tiong-gwee sangat terkenal dengan ilmu pedang dan pukulan tangan kosongnya. ada yang saling beradu sesudah beradu tiba-tiba arah terbangnya berubah. Ketika Hui-thian-sin-liong sedang menyambut senjata rahasia. hampir semua senjata rahasia itu tertangkap oleh telapak tangannya. dia tidak tahu ada dua buah senjata yang lolos dan kembali menyerang kepadanya. Hui-thian-sin-liong sambil tertawa dengan tangannya dia menjulur mencoba menangkap beberapa senjata rahasia. ada yang miring ada juga yang terbang lurus. Hie Tiong-gwee ternyata melemparkan senjata rahasia itu dengan tenaga berputar. bila terkena. ditambah 2 buah panah pendek. Panah ini disembunyikan di kerah bagian belakang kepala.

lebih cepat dan lebih kuat dari serangan tadi. Tiba-tiba Hie Tiong-gwee mendengar suara teriakan terkejut dan ada pula teriakan memuji. lengan bajunya diangkat ke atas bahu. tapi upacara sembahyang sudah tidak dapat dilanjutkan lagi. Hui-thian-sin-liong dengan ringan segera mengebutkan tangannya. dia berpikir. Dia menjadi ingin tahu dan membuka matanya. . Hie Tiong-gwee mencoba mengelak tapi sudah tidak sempat Dua buah panah pendek masih meluncur dari kiri dan kanan menuju bagian urat nadi Tay-yang-hiat nya. Hie Tiong-gwee memejamkan mata. 'Apakah aku akan mati hari ini?' Di dalam bayangannya kematian akan segera menjemput. Begitu melihat panahnya balik menyerang. Para tamu menahan nafas melihatnya. dua buah senjata yang di belakang terjatuh dan dua panah yang menyerang di depan terbang kembali. Tai-yang-hiat mempunyai nadi yang penting bila terkena bisa membuat orang bisa langsung mati." Senjata rahasia Hie Tiong-gwee membuat semua terkagumkagum. Hie Tiong-gwee merasa dua panah itu melewati dahinya dengan selisih jarak yang sangat tipis. tapi dia sama sekali tidak merasa terluka." Kata yang lainnya: "Bila memaksa dilanjutkan maka hal ini akan membawa sial. kemudian ada dengar ada yang berkata: "Lelucon Hui-thian-sin-liong sungguh mengejutkan."Jurus Sin-liong-tiauw-wie (Naga sakti mengibas ekor) yang sangat indah sekali!" Pada saat bersamaan dua panah pendek dari kerah Hie juga sekaligus dikeluarkan dan menyambar ke arah Hui-thian-sin-liong. Dua senjata rahasia dan dua panah melesat dengan sangat tepat. untung Hie tayhiap tidak terluka. Hie Tiong-gwee sangat terkejut. dia sudah membelokkan arah dua macam senjata rahasia.

tapi dia tetap telah kalah. dan mengenai dinding. Yang terjatuh pun bisa dihitung. mengapa yang masuk ke telingamu menjadi suatu Keputusan tentang siapa yang kalah atau yang menang? Bukankah yang menentukan adalah juri. Bila kedua belah pihak tidak terluka. artinya belum ada yang kalah atau menang. nama ini memang cocok untuknya " Kata Hun Sim-boh: "Kedua belah pihak tidak terluka. dia telah mematikan api lilin merah." "Kapan ada jurus 'Hui-liong-cai-thian'?" Kata Hun Sim-boh "Ini hanya istilah dariku saja. Yang menempel di dinding bisa dihitung oleh tamu-tamu. mengapa Coh Tayhiap sudah menentukan sendiri?" Coh Thian-su tertawa: "Rupanya telingamu ada sedikit masalah. Coh Thian-su yang berdiri di sisi Hun Sim-boh berkata: "Jurus 'Hui-liong-cai-thian' (Naga terbang dilangit) yang sungguh mengagumkan. Lawannya tidak membalas menyerang hanya dengan senjata rahasia Hie Tiong-gwee. Tapi karena dia tahu Coh Thian-su adalah pesilat tangguh." Tidak ada orang yang berani menggoda Hun Sim-boh karena dia memiliki sifat berangasan. Hun Sim-boh terlihat lebih senang Ada 5 senjata rahasia yang tidak mengenai Wie Thian-hoan. Tapi berapakah senjata rahasia yang dikeluarkan oleh Hie Tiong-gwee? Tidak ada yang tahu karena itu . Tuan Kiam-ta hanya mengumumkan bahwa kedua belah pihak tidak terluka. Ada 2 buah yang mengenainya tapi Wie Thianhoan tidak terluka. jika ada jurus 'Sin-long-tiaw-wie' boleh juga ada jurus 'Hui-liong-cai-thian' sebab Wie Thian-hoan dijuluki Hui-thian-sin-liong'. dia hanya bisa menahan diri. artinya keadaan lebih menguntungkan bagi Hie Tiong-gwee. bila sudah naik darah pasti dia akan menyerang jidat orang yang menggodanya. aku hanya memuji jurus-jurus Hui-thian-sin-liong.

" Kata Coh Thian-su." Kata Tuan Kiam-ta. ini adalah pukulan keras dan lembut yang digabungkan." Tuan Kiam-ta bertanya kepada Wie Thian-hoan: "Apakah benar?" "Mungkin benar. bila dia berkata sebanyak itu. Melihat ini orang-orang terkejut.Tuan Kiam-ta harus menanyakannya. Kata-kata Coh Thian-su tadi membuat Hie Tiong-gwee menjadi malu. hal ini sungguh memalukan. dalam 3 tahun . tapi tidak berani bertindak apapun. 3 tahun yang lalu dia hanya bisa mengeluarkan 13 buah senjata rahasia. "Sungguh hebat. "Berapa buah senjata rahasia yang kau tangkap?" "Aku juga tidak tahu ada berapa?" Dia membuka tangannya dan yang terlihat hanya serpihan dan kepingan senjata rahasia yang sudah tidak berbentuk." "Lima belas senjata rahasia dikeluarkan oleh Hie Tiong-gwee ditambah 2 buah panah pendek. kemudian dia mendorong telapak tangannya dengan ringan ke arah Hui-thian-sinliong. Sekarang pertandingan menggunakan tangan kosong dimulai. Karena digenggam oleh telapak tangannya maka semua senjata rahasia menjadi berbentuk logam-logam yang tidak beraturan. Hie Tiong-gwee benar-benar hebat. Terpaksa Hie Tiong-gwee berkata: "Aku mengeluarkan 15 buah senjata rahasia berbentuk paku. sekarang menjadi 17 buah. dan Hie Tiong-gwee juga sebagai penyerang. semua orang tahu tenaga telapak tangan Hie Tiong-gwee sangat dahsyat. tapi keluarga Hie hanya bisa menahan amarah. tapi Tuan Kiam-ta tahu. Dalam pertandingan senjata rahasia Hie Tiong-gwee sudah mengunakan senjata paku begitu banyak tapi lawan sama sekali tidak terluka. Hie Tiong-gwee menarik nafas mengumpulkan tenaga dalamnya. mengapa sekarang malah terlihat tidak bertenaga? Semua orang memang tidak tahu akan kehebatan pukulan ini. anggaplah sejumlah itu. Hie Tayhiap ilmu silatmu benar-benar telah maju pesat.

Tadi ketika bertanding senjata rahasia dengan tenaga dalamnya Wie Thian-hoan telah merusak senjata rahasia yang berbentuk paku. Begitu mengenai tubuh Wie Thian-hoan. dia pasti akan menghabiskan tenaga dalam untuk menarik tangannya. Tangannya tidak bisa ditarik kembali. Hie Tiong-gwee merasa seperti memukul segumpal kapas. Dan dia pasti mati. 'Bila aku tidak melepaskan tangannya. tangan Hie Tiong-gwee yang menempel di dadanya tiba-tiba bergeser turun ke perutnya." . tidak ada tenaga tolakan. Rencananya adalah. Jadi tenaga yang di kembalikan tidak akan melukai dirinya. tapi dia tetap berhati-hati dan karena dia mempunyai rencana lain. 'Bila dia menyerang dengan tenaga yang enteng. Terlihat Hie Tiong-gwee dengan enteng memukul dan dengan tidak menimbulkan suara telah mengenai bagian dada Wie Thianhoan. Wie Thian-hoan berpikir. yang diserang hanya boleh menerima tidak boleh mengelak. Hie Tiong-gwee tidak menyangka Wie Thian-hoan bisa berbuat seperti itu. terpaksa dia mengeluarkan tenaga dalam untuk menariknya. tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi. Wie Thian-hoan pun tidak membalas dia telah menggunakan tenaga mennyedot untuk menarik tangan Hie.dia sudah bisa menguasai ilmu ini. seperti gelombang samudra yang mendampar tenaga dalamnya telah dikerahkan sepenuhnya. atau apakah ada hal lain yang lebih dahsyat lagi yang akan dilakukannya? Tangannya sudah tidak bisa ditarik. Wie Thian-hoan seperti sudah tahu cara berpikir Hie Tiong-gwee. Walaupun Hie Tiong-gwee beruntung karena menjadi penyerang. sekarang Wie Thian-hoan berada di atas angin. Menurut peraturan. buatku paling-paling aku hanya terluka sedikit. tapi sekarang belum waktunya aku mengambil nyawanya. dia merasa seperti memukul gumpalan kapas. Wie Thian-hoan pun akan membalikkan dengan enteng. tapi apakah dia masih bisa menaruh kasihan.

Di depannya adalah sebuah tembok dinding. terdengar suara dinding roboh. kau masih mengenalku bukan? Wajahku tidak berubah selama 3 tahun ini. Hie Tiong-gwee akan bergabung dengan istrinya. Tenaga Hie Tiong-gwee menjadi tergeser memukul ke depan. Wie Thian-hoan segera mengempiskan perutnya dan mengeser ke samping. Kali ini adalah beradu ilmu pedang. Kang Hiat-kun masih tidak memberikan reaksi. dengan dingin dia menatap Hui-thian-sinliong. sehingga tetap saja Hie Tiong-gwee bertanding seorang diri. Tapi Hie Tiong-gwee masih tetap tenang. Apakah Hie Tiong-gwee bisa mengalahkan Hui-thian-sin-liong dalam 3 jurus? Jika bisa melewati 3 jurus maka giliran Hui-thian-sin-liong yang akan berganti menjadi penyerang. akhirnya Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan terpisahkan. Rupanya begitu Hie Tiong-gwee menambah tenaga dalamnya. Keluarga Hie sudah tidak bisa tenang. Hui-thian-sin-liong pun melihat kearah ujung pedang Hie Tionggwee. dindingnya sudah berlubang.Coh Thian-su berkata: "Mengapa tangan Hie Tiong-gwee terus menempel di tubuhnya? Apakah dia sedang menggaruk tubuhnya yang gatal?" Belum habis perkataannya. mereka sangat khawatir." . tembok dinding menjadi jebol berlubang. Terdengar ucapan orang yang suka berkata besar: "Seharusnya tenaga dalam Hie Tiong-gwee jangan dikatakan bisa menghancurkan batu." Kata Tuan Kiam-ta. untung tidak mengenai orang yang sedang menonton di luar. dari pihak Hie Tiong-gwee. katanya: "Hie Tayhiap. tapi harus diganti dengan perkataan bisa membelah batu bata. dan tetap seri maka sekarang menginjak ke babak ketiga." "Karena kali inipun tidak ada yang terluka. dia mengeluarkan pedang dari sarungnya.

dia juga seorang ahli pedang. sehingga pedang terlepas dari tangannya. memang dia sedang menunggu kesempatan Wie Thian-hoan bicara supaya Wie Thian-hoan hilang konsentrasinya. orang lain tidak dapat melihatnya dengan jelas. Hie Tiong-gwee seperti ayam jantan yang kalah bertarung. bagi yang ilmunya masih rendah sama sekali tidak terlihat Hie Tiong-gwee memakai jurus apa dan sudah mengeluarkan berapa jurus. nafsu ingin membunuh tampak sekali? Sekarang dia sudah mengeluarkan 4 jurus. lihat ke kiri. Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berteriak: "Berhenti!" Tapi Hie Tiong-gwee terus menyerang." Ilmu pedang Hie Tiong-gwee benar-benar sangat tinggi. dia seperti baru tersadar. tapi dia sangat jelas melihatnya. wajahnya menjadi merah karena malu. dia terlihat lesu dan lemas. lupa bagian belakang. dia sudah lupa pada aturan "harus berhenti dalam 3 jurus'. "Lihat bagian depan. dan terlihat sinar kilat berwarna putih naik ke atas.Pedang Hie Tiong-gwee berkilauan seperti kilat. karena Yu Yong sangat kagum sehingga lupa bahwa dia juga adalah salah satu juri. dia merasa sangat kagum. begitu Wie Thian-hoan berbicara dia langsung menyerang. Tamu-tamu yang berada di pinggir kalangan hanya bisa melihat bunga-bunga pedang yang naik dan turun. dalam serangan terakhir dia telah dikalahkan oleh ilmu sentilan jari Hui-thian-sin-liong. bayangan orang yang berkelebatan berubah-ubah arah. Tiba-tiba terdengar suara 'TING'. gagang pedang masih bergetar bergoyang-goyang. Sinar yang ke atas adalah pedang Hie Tiong-gwee. lupa bagian kanan. . pedangnya sudah menancap di atas tiang pengari. karena dia adalah seorang ahli pedang Ketika mendengar teriakan Tuan Kiam-ta. Yu Yong sebagai salah seorang juri. Seharusnya Yu Yong dari awal sudah tahu.

Tujuannya hanya ingin menjaga nama baik Hie Tiong-gwee. pasti tidak . bagaimana cara memutuskan hasil akhir dari pertarungan ini?" "Menurutku. "Yu Tayhiap. Hie Tiong-gwee berdiri di bawahnya. dengan hanya cukup mengeluarkan 2 jurus. dia merasa sangat malu. Coh Thian-su dengan tertawa bertanya: "Hie Tayhiap. tapi yang belum dikembalikan adalah pedang Hie Tiong-gwee. kita harus menunggu Hui-thian-sin-liong menyerang. tidak perlu melukai Hie Tiong-gwee dia sudah menang.Tuan Kiam-ta tampak ragu-ragu. tapi Wie Thian-hoan sama sekali tidak terluka." "Kali ini apakah bajumu berlubang?" Wie Thian-hoan membalikkan tubuhnya: "Silahkan lihat. tapi siapa yang bisa berpikir lain." Tiang rumah sebenarnya tidak begitu tinggi. apakah kau setuju dengan usul Yu Yong?" "Bila Yu Tayhiap mempunyai alasan ini. agar dia tidak kehilangan muka. dengan ilmu meringankan tubuh Hie Tiong-gwee yang sangat lihai. Terlihat Yu Yong memihak sekali pada Hie Tiong-gwee. "Wie Thian-hoan. Buat apa mengeluarkan 5 jurus? Kecuali Kalau dia memang sudah gila. jika Wie Thian-hoan sebagai penyerang. bajunya pun tidak berlubang." Kesempatan Hie Tiong-gwee sebagai penyerang sudah selesai. Sekarang Hie Tiong-gwee sudah memakai 4 jurus bila Hui-thian-sinliong nanti sampai 5 jurus maka Hui-thian-sin-liong dianggap kalah. aku setuju saja. silahkan jadi tuan di atas tiang." Tuan Kiam-ta mengumumkan: "Dalam pertarungan ini Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 4 jurus. Pedang itu masih tertancap di tiang pengari." Kata-kata Yu Yong terdengar sangat memihak kepada Hie Tionggwee. dia bertanya kepada Yu Yong.

di dalam hati dia berpikir. Di antara mereka ada juga yang berpikir seperti Hie Tiong-gwee. "Berikan pedangmu itu. dia akan merasa bahagia. Walaupun ilmu mencengkram pedangnya disebut sebagai ilmu 'Liong-jiauw' (Cakar naga) tapi bila dibandingkan dengan ilmu menghancurkan senjata rahasia Wie Thian-hoan. Hie Tiong-gwee mengambil pedangnya. 'Bila Hiat-kun mau bergabung denganku menghadapi Wie Thian-hoan. masih sangat jauh. Wie Thian-hoan memuji. kuambilkan pedangmu!" Kata-katanya belum habis. Dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya dan menyerahkan kepada Hiat-kun. pedang sudah diturunkan. . 'Apakah Hiat-kun sudah tahu keinginanku? dan tidak rela meninggalkanku? Apakah dia mau bergabung denganku melawan musuh?" Dalam pandangannya bila benar-benar pandangannya sama berada dalam benak Hiat-kun. Hie Tiong-gwee mendekatinya." Wie Thian-hoan memuji apalagi keluarga Hie. Tiba-tiba Tuan Kiam-ta meloncat dan berkata: "Hie Tiong-gwee. dia sangat malu." Hie Tiong-gwee sangat terkejut dan senang.susah mengambilnya. dalam hati Hie Tiong-gwee berpikir. Dia terlihat ingin bunuh diri. Dia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. tapi sekarang dia berada di depan banyak orang dan diberi milikan sebagai TUAN TIANG. hal ini membuatnya sangat malu. kami belum tentu kalah. Tuan Kiam-ta tahu bahwa pujian Wie Thian-hoan hanya merupakan rasa hormat kepadanya." Keluarga Hie tidak ada yang tahu bahwa Hiat-kun bisa silat. terdengar suara Hiat-kun seperti dengungan nyamuk. "Benar-benar ilmu yang hebat. tiba-tiba pengantin perempuan melambaikan tangan ke arah Hie Tiong-gwee.

Yu Yong sudah melihat perubahan yang terjadi antara Hie Tionggwee dan Wie Thian-hoan. karena mata penonton pun sudah lelah. semua peraturan seperti peraturan tadi. ini bukan hal yang tidak baik' Tuan Kiam-ta melihat pengantin perempuan mengambil pedang. dalam hati berpikir. tidak enak dilihat. yang diserang tidak mempunyai hak meminta pergantian waktu. apakah pengantin perempuan ini ingin sehidup semati bersama suaminya? Karena dia adalah salah seorang juri. apakah boleh mengganti waktu?" Orang aneh yang sering mengatakan hal aneh berkata: "Bila matamu lelah jangan menonton. sebaliknya muka Wie Thianhoan tampak sedih. dia terpaksa berkata: "Keadaan tidak sama. hatinya berpikir bila Wie Thian-hoan dikalahkan olehnya dia akan senang." Kata Hun Sim-boh: "Pertarungan sebanyak 3 babak antara Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan dalam sehari pasti melelahkan. Yu Yong tahu ayah Hiat-kun adalah Kang Guan-yang. tapi karena Wie Thian-hoan membuat keributan mungkin pasangan yang tidak cocok akan menjadi pasangan yang cocok." Walaupun Tuan Kiam-ta berpihak kepada Hie Tiong-gwee tapi karena alasan Hun Sim-boh tidak masuk akal. Wie Thian-hoan mempunyai hak untuk menentukan waktu dan tempat." Hun Sim-bohpun tahu alasannya tidak tepat tapi dia masih berkata: "Karena hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee. bila darah bercipratan di aula." .berpikir bahwa dia akan bergabung dengan suaminya melawan musuh. 'Sebenarnya pernikahan ini tidak serasi. Hie Tiong-gwee dan juri sudah setuju. terpaksa dia mengumumkan: "Sekarang Wie Thian-hoan adalah penyerang. dia tampak khawatir.

dia berkata: "Kau mencari apa?" Ternyata yang dicari oleh Wie Thian-hoan adalah lelehan lilin vang . apakah benda-benda itu bisa dijadikan senjata rahasia? Paling-paling tempat lilin. hidup atau mati aku tidak peduli. dan aku sudah mendapat barang yang cocok. Hie Tiong-gwee terkejut dan dia menyesali kata-katanya terlalu sombong." Di meja sembahyang ada sebuah babi panggang dan 4 dus buahbuahan. seperti kuda lari dicambuk tidak dapat di hentikan. juga tidak ada benda yang dapat dijadikan senjata. terpaksa dia berkata: "Baiklah." Pengantin perempuan masih diam. Tuan Kiam-ta berharap Yu Yong bisa mengatakan hal ini kepada Wie Thian-hoan tapi Yu Yong pura-pura tidak tahu. Keadaan sudah tidak dapat diubah. jadi terpaksa dia harus menerima serangan senjata rahasia Wie Thian-hoan. sepasang lilin merah yang apinya sudah padam. melihat Hie Tiong-gwee dan berkata: "Tuan berkata satu kali.Dalam keadaan seperti itu yang berhak berkata adalah Wie Thian-hoan. itu pun hanya ada sepasang dan sangat berat.. jika digunakan dapat dengan mudah ditangkis musuh." "Apakah kau mau mencari di meja sembahyang?" "Benar. Tuan Kiam-ta pun merasa aneh. kebaikan sanak keluarga aku terima. Tuan Kiam-ta tampak terkejut: "Kau mau apa?" "Aku tidak membawa senjata rahasia di tubuhku. malah berjalan menghampiri Kang Hiat-kun. Tuan Kiam-ta terlihat ragu. Hie Tiong-gwee apakah kau. pertarungan akan dimulai.. Para tamu merasa aneh." Tuan Kiam-ta melihat Hie Tiong-gwee yang penuh tekad. Tapi Wie Thian-hoan tidak mengeluarkan senjata rahasianya. terpaksa aku harus mencarinya.

Hie Tiong-gwee masih bengong. "Pihak Hie tidak keberatan. "Baiklah!" kata Wie Thian-hoan. Bila Wie Thian-hoan tidak membawa senjata rahasia paling sedikit dia membawa uang logam. katakanlah. Aturan pertandingan ini kau harus berdiri dengan jarak 5 meter dari Hie Tiong-gwee. Wie Thian-hoan mengambilnya dan membentuknya menjadi 2 bulatan kecil." Kata Yu Yong. Kata Tuan Kiam-ta: "Memakai senjata apapun. orang-orang melihat Wie Thian-hoan . bila ingin minta harus kepada suami istri Hie baru kau bisa memakainya. Aula ini cukup besar sebagai tempat untuk bertanding Di dalam dan di luar aula.menempel di batang lilin dan masih tampak lembek. Hie Tiong-gwee tidak menjawab. dia menganggap remeh kepada Hie Tiong-gwee." Hie Tiong-gwee menjadi bengong. aku tidak akan melarang." Kata Yu Yong. dia menyadarinya "Bila dia setuju memakai lelehan lilin sebagai senjata rahasia. dia pun tidak menjawab. karena itu terjadi keriibutan di dalam dan di luar ruangan. bila kau keberatan. Mengapa Wie Thian-hoan memakai bulatan lilin menjad senjata rahasia? Jawabannya hanya satu. tapi bila Wie Thian-hoan memakai senjata rahasia lain. Dia berkata." "Hie Tayhiap. "Apakah aku boleh memakai lelehan lilin ini menjadi senjata rahasia?" Peristiwa ini belum terpikir oleh siapapun. itu membuat nama 'pendekar' nya tercemar. keadaan ini akan membahayakan dia. baiklah kau boleh memakai lelehan lilin jadi senjata rahasia. kemudian Yu Yong bertanya kepada Hiat-kun. Tapi itu adalah benda milik keluarga Hie. Uang logam lebih baik dari bulatan lilin.

memakai bulatan lilin menjadi senjata rahasia. mukanya akan ditaruh di mana? Dengan sinis Hie Tiong-gwee berkata: "Hui-thian. "Permainan apa ini?" Sebenarnya bulatan kecil ini yang begitu ringan dan lembek. kau menghinaku!" . Begitu melemparkan bulatan lilin itu. sudah tahu rahasia di balik semua ini. jalannya tidak mendatar melainkan melesat ke atas udara. bulatan lilin sudah disambitkan. Cara melemparkan senjata rahasia memang bermacam-macam. secepat kilat Hie Tiong-gvvce mengambil 2 keputusan. Untuk mengelak. Yu Yong dan Coh Thian-su. Segera terlihat Wie Thian-hoan mengayunkan tangannya. Dia adalah seorang pendekar. Tuan Kiam-ta. hal ini benar-benar di luar dugaan Hie Tionggwee. Kedua bulatan itu meluncur hampir mengenai atap rumah/ Orang-orang yang melihat merasa aneh. menyerang kearah dada Hie Tiong-gwee. ini adalah gabungan tenaga dalam dan senjata rahasia. tapi apakah lilin tidak akan menempel di bajunya. tidak pernah dilihat sebelumnya Ada yang bicara: "Ini bukan ilmu senjata rahasia. bisa melayang begitu tinggi. Hie Tiong-gwee tidak yakin. mungkin masih bisa. tapi cara yang dilakukan oleh Wie Thian-hoan. kalau dia tidak beiani menyambut 2 bulatan lilin itu. sudah merupakan hal yang benar benar sulit Waktu itu 2 bulatan lilin melesat seperti bintang jatuh. Bulatan lilin pertama-tama naik dan kemudian meluncur dengan pesat turun dari udara. Dalam keadaan ini. Wie Thianhoan sudah mengerahkan tenaga dalamnya dengan sangat kuat.

Dua bulatan lilin itu membelok menyerang dari arah yang tidak disangkanya. tangannya di ulurkan ke depan menyambut datangnya lilin itu." Kata-kata Tuan Kiam-ta terdengar seperti adil. Tapi ternyata lilin itu sudah berubah arah. Hie Tiong-gwee merasa kelopak matanya menjadi panas seperti ditempel oleh tepung ketan. tapi dia tidak terluka artinya pertarungan ini seri. buru-buru dia menyeka wajahnya memakai lengan baju. sengaja dia berkata: "Siapa yang menang? Siapa yang kalah?" "Seri. Tuan Kiam-ta mengumumkan: "Dua senjata rahasia mengenai Hie Tiong-gwee. tidak ada yang kalah. Mata Hie Tiong-gwee tidak buta tapi wajahnya sudah berlepotan lilin. Pertarungan seperti ini belum pernah kulihat!" Hie Tiong-gwee tahu dia tidak terluka. Orang yang suka berkomentar berkata: "Lucu. Masingmasing terkena senjata rahasia lawan dan masing-masing tidak terluka karena itu babak ini hasilnya adalah seri. semula mengarah dada kemudian bergeser ke arah muka langsung mengenai mata lawannya. tidak ada yang menang. basah dan licin yang membuatnya ingin muntah. tangannya hanya mengenai udara kosong.Dia segera menyambut lilin itu. Wie Thian-hoan pun tidak protes. sangat lucu." Coh Thian-su tahu Tuan Kiam-ta memihak Hie Tiong-gwee. keluarga Hie pun memuji dia. Kata Coh Thian-su: . Dua bulatan lilin yang telah menempel di kelopak matanya langsung meleleh. Karena dia takut matanya menjadi buta dan dia segera memejamkan mata." Tuan Kiam-ta menjelaskan lagi: "Bulatan lilin dan senjata paku memang tidak sama tapi keduanya adalah senjata rahasia bukan tenaga dalam. seorang pendekar berlepotan lilin.

Ilmu tangan kosong Wie Thian-hoan sangat lihai. mengapa kau mencelakai ayahku? Apakah setelah dia terluka kau baru merasa senang?" Hie Tiong-gwee tampak marah dan berkata: "Kim-giauw. Tenaga tangan Hie Tiong-gwee tidak sekuat Wie Thian-hoan. Hui-thian-sin-liong tidak ingin kau menikah hari ini. Keluarga Hie mulai gelisah. Sambil menangis Hie Kim-giauw berteriak: "Kang Hiat-kun. jangan sembarangan bicara."Aku jarang melihat pertarungan yang begini seru. Mungkin Hui-thian suka kepadanya. Dia adalah putri Hie Tiong-gwee dari istri pertama." Wajah Hie Tiong-gwee menjadi merah. mengapa tidak?" Segera Tuan Kiam-ta mengumumkan babak kedua dimulai. Wie Thian-hoan tetap menjadi penyerang. mungkin mereka adalah sepasang kekasih. masuklah! Kau jangan ikut campur urusan ayah!" "Aku harus bicara. Hie Tiong-gwee harus menahan pukulan tangan kosong sebanyak satu kali dari Wie Thian-hoan. kau sudah gila!" . dia berkata: "Kim-giauw. bila ayah tidak menikahi siluman rubah ini. Bila mengenai tubuh Hie Tiong-gwee. tidak boleh membalasnya. dan dia tidak boleh membalas. bila masih ada kelanjutannya. tidak akan terjadi hal seperti ini. Kali ini adalah adu tenaga dalam. namanya Hie Kim-giauw. apa yang akan terjadi? Mungkin saja nyawa Hie Tiong-gwee akan terancam. tadi mereka sudah melihatnya sendiri. Hiat-kun tetap tidak bicara Tiba-tiba ada yang menangis sambil berteriak keluar dari dalam rumah.

mohon laksanakan tugasmu sebagai juri!" Dalam aturan dunia persilatan. kau sendiri sudah pikun. walaupun mereka bukan sepasang kekasih paling sedikit Huithian-sin-liong tentu suka dengan kecantikan Hiat-kun. artinya menyuruhnya mengusir Hie Kim-giauw dari aula. berlutut pun tidak masalah. keluarlah untuk menerima serangan Hui-thian-sin-liong dan aku akan mengakui kau sebagai ibu tiriku. yang menjadi juri mempunyai hak yang sangat kuat. Tuan Kiam-ta. bawalah adik seperguruanmu masuk bila dia tidak . terpaksa dia berkata: "Hie Tiong-gwee tolong cegah tingkah laku putrimu!" Artinya bila Hie Tiong-gwee tidak sanggup. Dari awal Tuan Kiam-ta sudah memerintahkan agar orang-orang keluar dari aula. hanya saja mereka tidak berani bicara terang-terangan seperti Hie Kimgiauw. dia yang akan bertindak. Bila tidak jangan salahkan aku mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Sekarang Hie Kim-giauw masuk ke dalam aula.Sebenarnya banyak orang sudah memperkirakan hal ini. kali ini kau yang harus bertarung. Hie Kim-giauw masih berteriak: "Ayah. Wie Thian-hoan ingin dia melaksanakan tugasnya sebagai juri." Dengan marah Hui-thian berkata: "Aku tidak sependapat dengan nona kecil ini. bila kau mengatakan aku gila. bila dia benar-benar mau menikah denganmu. mengapa dari tadi dia diam saja?" Tiba-tiba dia seperti orang gila sekuat tenaga mendorong Hiatkun dan berteriak: "Kau setuju berada di pihak ayah." Kata Hie Tiong-gwee. Tuan Kiam-ta menjadi serba salah. ayahku sudah 4 ronde bertarung. Tugasnya bukan hanya sebagai wasit. karena itu terjadilah keributan ini. ini sudah melanggar ketentuannya. "Aku akan memanggil muridku. "Kwee Goan-cay. Coba pikir. tapi mempunyai hak untuk menghukum orang yang membuat keonaran.

itu bisa mengantarkan kematian." Hie Kim-giauw sangat marah dan berkata: "Kau dan Kwee Goan-cay sama-sama brengsek. Dan putrinya pun paling menurut kepada Kwee Goan-cay. lebih baik kita sama-sama mati di sini. kemudian dia menangis: "Kau tidak mau membela ayahku.." Kata-katanya belum habis." Po Leng-hoi yang berada di luar juga dengan dingin berkata: "Nona Hie. karena dia paling sayang kepada muridnya ini. Walaupun putrinya baru berusia 16 tahun. dialah yang paling kuat. Orang lain merasa tidak aneh tapi Hie Tiong-gwee merasa sangat terkejut. Karena Kim-giauw tidak bisa menjatuhkan Hiat-kun. kau peduli dengan nyawa ayahmu tapi tidak peduli dengan nyawa orang lain. Subo tidak bisa ilmu silat. Pada saat mereka bicara. dia merasa tubuhnya kaku. Kim-giauw masih mendorong Hiat-kun." Kwee Goan-cay segera masuk ke dalam aula dan berkata: "Adik. Walaupun baru menguasai 50% tapi di antara murid-muridnya kecuali Kwee Goan-cay.mau menurut. Tapi walaupun Hiat-kun duduk di kursi tubuhnya tetap tidak bergerak. tapi dari kecil Hie Tiong-gwee sudah mengajarkan tenaga dalam kepadanya. paling sedikit tubuhku akan bergoyang. Ayahmu adalah seorang pendekar. orang lain akan menertawakan ayahmu.. Kwee Goan-cay melihat tangan Kim-giauw yang bergeser dari . Bila Kim-giauw mendorongku seperti itu kepadaku. Dalam hati Hie Tiong-gwee heran bahwa ilmu silat Hiat-kun lebih hebat dari putrinya. patahkan saja kakinya!" Hie Tiong-gwee menyerahkan tugas ini kepada Kwee Goan-cay. dia tampak lebih marah lagi. tapi ibu barumu sama sekali tidak bisa bertarung. kau jangan memaksanya bertarung dengan Wie Thian-hoan.

'Bila aku bergabung dengan Hie Tiong-gwee. Orang yang senang berkomentar itu berkata lagi: "Nyawa seorang pendekar lebih berharga dari perempuan. Bila dia menggantikan suaminya bertarung. Terpaksa Tuan Kiam-ta berkata: "Kali ini bagaimana cara kalian akan bertarung?" Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata. "Apakah Nyonya Hie mau bergabung atau tidak. Aku harap permusuhan kalian berakhir di sini. siapapun tidak boleh memaksa!" Kata Tuan Kiam-ta. Wie Thian-hoan bermaksud agar aku tidak menikah dengan Hie Tiong-gwee. "Nyonya Hie." . dengan lembut Kwee Goan-cay berkata: "Mari kita masuk. apakah di antara kau dan Hie Tiong-gwee punya dendam? Pepatah mengatakan 'lebih baik berteman daripada bermusuhan'. Sekarang Tuan Kiam-ta sudah tahu bahwa kepandaian Hiat-kun sangat tinggi tapi tetap bukan tandingan Wie Thian-hoan." Dalam hati Hiat-kun berpikir. di sini banyak keluarga guru. bukankah tubuhnya akan tersentuh oleh Wie Thian-hoan? Ini tidak boleh terjadi." Hiat-kun tetap diam tidak berkata apa-apa. orang-orang akan menyangka aku rela menikah dengan Hie Tiong-gwee. kemudian melihat Kim-giauw yang berdiri mematung. dia tidak akan dicelakai oleh orang laia" Dia mengatakan ini sebenarnya ditujukan pada Wie Thian-hoan. Dia malah mengira adik seperguruannya sudah sadar dia salah dan malu. silahkan bergabung dengan suamimu. Tuan Kiam-ta berkata kepada Wie Thian-hoan: "Sekarang aku sebagai seorang pesilat akan bertanya.' Tapi harapannya hanya sampai sini. bila terjadi apa-apa akan banyak yang menolong. bila kau ingin putri Hie Tiong-gwee memanggilmu ibu. dia sendiri yang menentukan.tubuh Hiat-kun.

"Kata-kata Wie Thian-hoan salah!" "Apa yang salah?" tanya Wie Thian-hoan." Tiba-tiba Coh Thian-su berkata: "Tuan Kiam-ta. Hie Tiong-gwee pernah mengatakan bahwa golongan hitam dan golongan putih tidak dapat berdiri bersama-sama. berhati-hatilah!" Walaupun kakinya tidak bergeser dan terlihat asal-asalan. bila kau ingin mengambil nyawaku. "Kalian tidak mendengarkan kata-kataku. Nama lebih penting dari pada nyawa. tapi Hie Tayhiap pernah berkata bahwa golongan putih dan hitam tidak dapat berjalan beriringan. "Sampai matipun orang persilatan tidak akan mau dicoreng nama baiknya. hal yang menjadi hak juri. Apakah kami boleh ikut bicara?" "Silahkan!" Kata Tuan Kiam-ta terpaksa. dulu di Siong-san. . kepalaku akan kupenggal sendiri. Hie Tiong-gwee pun tidak bisa membantah. seperti kuda lari dicambuk tidak dapat ditarik lagi. Bila kau kalah hanya kepalamu yang hilang. Tapi terasa ada suatu tenaga menghimpit dada Hie Tiong-gwee. baiklah Wie Thian-hoan.Jawab Wie Thian-hoan: "Tuan Kiam-ta cepat lupa. kali ini aku akan menotok dadamu. Di dalam benaknya aku adalah golongan hitam. keluarkanlah jurusmu!" "Baik. mengapa kau masih menyuruh Tuan Kiam-ta menasehati Hie Tayhiap? Mengapa mengatakan seolah-olah Hie Tayhiap mempunyai jiwa kerdil? Sungguh kurang ajar!" Hie Tiong-gwee tidak kuat disindir. kami tidak bisa ikut campur. tapi ini adalah hal umum. aku sudah mengatakan bila aku kalah. apakah kata-kata seorang pendekar dapat dirobah-robah?" Kata-kata Wie Thian-hoan sangat tepat. lebih baik kau nasehati Hie Tayhiap. terserah kalian!" "Bukan aku tidak mau mendengar kata-kata Tuan Kiam-ta. karena itu dia harus bertarung denganku. segera dia berteriak: "Bila Tuan sudah berkata seperti itu.

dia diperbolehkan menolong Hie Tiong-gwee. nyawanya tidak akan hilang. Semua masalah ada awal pasti akan ada akhir karena itu Tuan Kiam-ta harus mengumumkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Karena Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim. Karena Hie Tiong-gwee terluka begitu parah. tapi karena ini sudah menyangkut nyawanya. Terlihat Hie Tiong-gwee roboh dengan kepala di bawah kaki di atas dan dia telah muntah darah. dia membalas. karena Hie Tiong-gwee . Segera dia mendekati Hie Tiong-gwee dan memasukkan obat ke dalam mulurnya." Semua orang tahu yang dikatakan Wie Thian-hoan bukan katakata bohong. Wie Thian-hoan berkata: "Tuan Kiam-ta. Menurut aturan harus disambut tidak boleh membalas. Hie Tiong-gwee melanggar aturan. Hie Tiong-gwee sudah lupa pada aturan ini. dia tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. aku tidak perlu menggunakan tenaga dalam besar untuk mengambil nyawanya. Tuan Kiam-ta berkata: "Bagian pertarungan adu tenaga dalam. Waktu itu keluarga Hie merasa terkejut. sekarang dia terluka tidak ringan juga tidak berat. Bila ada yang punya obat. Tuan Kiam-ta pun sudah menyelesaikan tugasnya menjadi juri. Hun Sim-boh baru ingat bahwa dia adalah tamu. akhirnya malah membuat orang-orang itu menjadi bengong.Hie Tiong-gwee mendorong telapak tangan dan membalas. Tenaga dalam Wie Thian-hoan membuat orang-orang terkejut. dia pasti mempunyai obat. bila dia mau mengambil nyawa Hie Tiong-gwee sekali mengeluarkan tenaganya. dia bisa mencabut 10 nyawa Hie Tionggwee sekaligus. Begitu Wie Thian-hoan habis berkata-kata. dia hanya perlu beristirahat 10 hari hingga setengah bulan dan akan sembuh.

sekarang Kwee Goan-cay sudah berkata seperti itu. Baiklah! Syarat apa yang ingin kau ajukan?" . Dia hanya malu kepada keluarga Hie jadi dia memejamkan mata. mengapa aku harus terus di sini? Jujur bicara aku adalah seorang penakut." Orang persilatan selalu menganggap perguruan mereka tidak boleh dihina. dengan cepat dia berkata: "Gurumu tidak apa-apa. tiba-tiba Kwee Goan-cay keluar dan berkata: "Wie Thian-hoan. bila tidak aku harus tetap akan pergi sekarang. baru bisa bicara. maka Hie Tiong-gwee yang kalah" Dan dia harus bertanya kepada Hie Tiong-gwee lagi. kecuali bila kau mempunyai cara supaya aku tidak pergi. matanya tidak terbuka tapi Tuan Kiam-ta tahu luka Hie Tiong-gwee tidak seberat itu. Guru seperti ayah. Tuan Kiam-ta tidak bisa berkata apa-apa lagi. aku harus membela nama baik perguruan kami. "Apakah kau mengaku kalah?" Hie Tiong-gwee baru menelan satu butir obat." Belum selesai berpikir. anaknya harus membela sampai mati. lebih baik aku mengumumkan pertarungan sudah selesai. aku harus membalas dendam guruku!" Tuan Kiam-ta sangat terkejut. kalau berani kau jangan pergi!" Kata Wie Thian-hoan dengan tertawa: "Pertarungan antara aku dan gurumu sudah selesai. Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata: "Kau ingin membela gurumu. Pikir Kiam-ta." "Pertarungan belum selesai. pura-pura tidak sadar. tapi mulutnya masih keluar sedikit darah. Hie Tiong-gwee sudah menelan sebutir obat. 'Hia Tiong-gwee sangat malu. jangan berlebihan!" "Bila ada yang menghina ayah.melanggar peraturan dan terluka. harus menunggu dia pulih. sangat takut melihat wajah yang sedih.

sebab bila dia tidak keluar. terpaksa dia keluar. Golongan hitam atau putih bisa berdiri bersama atau tidak sudah tidak ada aturannya lagi. silahkan keluar!" Hie Tiong-gwee mempunyai 8 orang muridd. bicaranya pun sangat dingin." Dia lebih pintar dari Kwee Goan-cay. Toa-suheng yang bernama Leng Cong-goan dalam hati sangat marah kepada Kwee Goan-cay karena tidak tahu diri. tidak perlu aku membereskannya satu per satu. untuk membalas dendam dia seolah-olah meminta bantuan kepada orang lain. dia adalah musuh kami. Wie Thian-hoan sudah melukai guruku. dia adalah murid keenam. Hanya dia yang berteriak-teriak sedangkan yang lain hanya diam. Kami tidak perlu bertarung satu lawan satu. dia akan di cemooh kan orang." Matanya bersinar kejam. Sekali melihat sudah tahu. guru Hie Tiong-gwee sebenarnya ada 2 orang tapi entah di mana mengasingkan diri. Bila ada Suheng atau Sute ingin membalas dendam. Hun Sim-boh pun sudah ikut berdiri ditambah masih ada beberapa orang.Kwee Goan-cay memberi hormat terlebih dahulu kepada juri dan berkata: "Aku harus membalas dendam guru." pernah menolongku. Dia berkata: "Sekarang guru mati atau hidup kami belum tahu. Wie Thian-hoan hanya melihat tingkah mereka. sekarang aku akan Yap Jin-tong juga ikut berdiri. nafsu membunuhnya mulai timbul Tamu-tamu di luar sudah banyak yang bubar. lain waktu bila dia berkelana di dunia persilatan. sebab bila ingin mendapat nama baik harus membantu dia membalas dendam Pertama-tama Bwee Ceng-hong berdiri dan beikala "Hie Tiong-gwee menolongnya. lalu berkata: "Masih ada lagi yang mau membantu membalas dendam? Aula ini masih bisa memuat 20 hingga 30 orang lagi. Harap keluarga Hie bisa membantu. boleh maju sekaligus. mereka tidak ingin .

Wie Thian-hoan bertepuk tangan dan berkata: "Apakah masih ada orang lagi? Aku tidak punya banyak waktu lagi. aku tidak akan membunuhnya. pasti akan banyak orang yang terluka atau mati. Bila mereka benar-benar bertarung. walaupun mereka bisa melukai Wie Thianhoan." Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hie Tiong-gwee hanya pura-pura tidak sadar. Delapan orang yang berada di aula jadi merasa tidak tenang. Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata: . dan Hie Tiong-gwee berteriak. "Mereka akan membalas dendam demi dirimu. Bwee Ceng-hong. Tiba-tiba terpikir olehnya suatu cara yang licik. bagaimana?" "Benar. Mereka berasal dari perguruan yang besar dan ternama di dunia persilatan. bila mereka terluka atau mati di tangan Hui-thian-sinliong. hampir saja nyawanya tidak tertolong.melihat lagi. Hie Tiong-gwee sudak tahu kelihaian Hui-thian-sin-liong. segera dia menekan ketiaknya. apakah kau setuju?" Tuan Kiam-ta berharap Hie Tiong-gwee bisa menghentikan niat mereka. Tuan Kiam-ta tidak dapat berbuat apa-apa lagi. mulailah!" Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berseru: "Tunggu!" "Apakah Tuan Kiam-ta juga ingin ikut?" "Tulang tuaku sudah tidak kuat. dan Yap Jin-tong. bila Hui-thian-sin-liong bertarung. nyawa mereka pun tidak bisa dijamin. dia mengerti keadaan ini. dengan terpaksa dia membuka matanya. Tamu-tamunya pun masih banyak yang punya hubungan dengannya. Hie Tiong-gwee pura-pura terluka parah dan tidak dapat bicara. termasuk Hun Sim-boh. tapi aku ingin bertanya dulu kepada Hie Tiong-gwee baru bisa memulai pertarungan ini. akan membuat orang persilatan menjadi marah. walau dia tidak bisa bicara tapi persilahkan dia masuk dulu. Dan Huithian-sin-liong tidak akan bisa melawan orang-orang dunia persilatan yang begitu banyak. ke delapan orang ini akan teriempar ke luar.

yang tidak berkepentingan harap ke luar dari ruangan ini.. tidak boleh lagi ada yang mengganggu pertarungan kali ini. Babak kedua adalah duel tangan kosong hasil akhir Hie ."Suruh pengantin perempuan membawanya masuk." Walaupun Tuan Kiam-ta sudah tahu maksud Hiat-kun. kelihatannya pertarungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi. bicara di hadapan -ooo0dw0oooB. jalankan tugasmu sebagai juri.. harap suruh orang yang tidak ada hubungan dengan kejadian ini untuk keluar. pertarungan boleh dilanjutkan. kau pernah berkata." "Aku ingat masih ada satu babak yang tersisa." "Kalau begitu. Lalu Tuan Kiam-ta mengumumkan: "Baiklah. maksudmu adalah. hasil akhir adalah seri. pertarungan belum selesai." Pertama kalinya pengantin perempuan orang-orang." "Dia tidak bisa tapi aku bisa. siapa yang kalah atau menang masih belum bisa ditentukan. Pengantin Wanita Bertarung Tuan Kiam-ta tampak terkejut dan berkata: "Nyonya Hie. yaitu bertarung pedang. tapi katakata yang dikeluarkan dari mulut Hiat-kun membuatnya terkejut. di sini sudah tidak diperlukan lagi kehadirannya." "Suamimu sudah terluka parah." Kata-katanya belum selesai." Babak pertama adalah pertarungan senjata rahasia. Mereka merasa terkejut. aku punya hak untuk bertarung di babak manapun. apakah benar?" "Benar. pengantin perempuan tiba-tiba berdiri dan berkata: "Tuan Kiam-ta. Aku minta penegasanmu sekali lagi.

Hiat-kun membuka tutup wajahnya. "Keluarkanlah jurusmu!" Kata Hiat-kun dingin. kau hanya boleh mengeluarkan 3 jurus menghadapi dia. Nyonya Hie yang bertahan dan Wie Thian-hoan sebagai penyerang. Kulit pengantin perempuan ini sangat putih dan dia sangat cantik tapi dia juga sangat dingin. apakah kau benar-benar ingin menikah dengannya?" "Kau tidak boleh bertanya seperti itu. hal ini benarbenar tidak salah. dia berdiri di tengah aula dan berkata: "Wie Thian-hoan. Apa yang ada di dalam pikirannya? Apakah Hui-thian tega membunuh orang yang begitu cantik dan lemah lembut? . matanya terus memandang pengantin perempuan ini. karena itu banyak orang yang kembali lagi untuk melihat si pengantin perempuan. Ada pepatah yang berkata 'perempuan cantik selalu membuat keributan'." Kata Tuan Kiam-ta "Wie Thian-hoan." Begitu dia memantapkan hati. Sekarang dia sudah membuka tutup wajahnya.Tiong-gwee yang kalah. bila tidak aku yang akan membunuhmu!" Hati Wie Thian-hoan sangat sedih. lebih baik kau sekaligus membunuhku. keluarkanlah jurusmu!" Hiat-kun adalah si Cantik dari Lok-yang. membuat hati orang ikut menjadi dingin. "Mengapa kau menjual nyawamu demi Hie Tiong-gwee. dia mengeluarkan pedang dengan pelan dan kemudian mengangkatnya. Hiat-kun melihat ujung pedang. gerakan tubuhnya sangat luwes. dia meloncat. dia menjadi terpaku. dia berkata: "Mengapa kau jadi begini? Aku tidak percaya kau mau menikah dengan Hie Tiong-gwee. Babak ketiga adalah pertarungan pedang. banyak tamu yang sengaja datang hanya ingin memberi selamat dan sekaligus ingin melihat kecantikan pengantin perempuan. Wajah Hui-thian menjadi pucat.

Mata Hui- . Begitu pedang mengenainya. dia tetap mengangkat pedangnya dengan tinggi. dia bisa membalikkan pedang. tapi dia kelihatan tidak mengerti. mengapa dalam keadaan seperti ini Yu Yong mengatakannya? Apa maksudnya? Apakah dia takut Wie Thian-hoan lupa? Atau sengaja mengingatkan? Semua orang sudah mengerti maksudnya. Wie Thian-hoan tidak terluka walaupun Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 4 jurus. Dan juga memberitahu Wie Thian-hoan agar jangan keterlaluan dalam pertarungan ini. dalam 3 jurus itu tidak mengenai lawan tapi dia sendiri yang terluka. Sepertinya Wie Thianhoan tidak melihat juga tidak mendengar. tidak mungkin dia terluka kecuali Hiat-kun memiliki ilmu yang tinggi. tidak lain adalah jangan melukai pengantin perempuan. Apakah dia pura-pura tidak mendengar? Tuan Kiam-ta mengira Wie Thian-hoan tidak akan melukai pengantin perempuan tapi sekarang dia rada terkejut. semua menunggu. Semua mengerti maksud Yu Yong.Wie Thian-hoan tidak berani menatap mata Hiat-kun tapi pedang sudah diangkat melalui kepalanya Tiba-tiba Yu Yong berkata: "Dulu pada saat bertarung pedang. Kedua." Sebenarnya hasil pertarungan sudah diumumkan oleh Tuan Kiam-ta. Tapi dia adalah penyerang. Setelah Yu Yong bicara. diapun tidak akan bisa memakai ilmunya. Wie Thian-hoan mengeluarkan 5 jurus atau lebih tapi tidak melukai lawan. asal tidak melanggar peraturan. Hie Tiong-gwee sudah melanggar aturan dan Wie riiian-hoan bisa dengan mudah memenangkan pertarungan ini. dia pasti menang. dia maju selangkah. Pertama. Dia hanya perlu memainkan pedang tidak perlu melukai lawan. Tapi walau dia mempunyai ilmu silat setinggi itu bila Wie Thian-hoan tidak menyerangnya. Hanya ada 2 kemungkinan Hiat-kun bisa menang.

Perubahan yang berturut-turut membuat semua orang terkejut. jurusnya pun dilancarkan. Karena dia memiliki ilmu silat yang tinggi. aku akan membantumu. Orang-orang di luar mengira yang terluka adalah pengantin perempuan. kau tidak rela meninggalkan suamimu. bila Hui-thian-sin-liong melakukan hal yang tidak pantas. Tuan Kiamta juga berteriak. Pedang diangkat tinggi dan jatuh. "Siapa kau?" Seseorang secepat kilat sudah masuk melalui jendela. Tuan Kiam-ta melihatnya. malah tubuh Yu Yong terdorong mundur beberapa langkah. Tapi Wie Thian-hoan bukan terluka karena ditusuk oleh Hiat-kun. Yu Yong belum tahu apa yang telah terjadi. pedang diangkat lebih tinggi. Terdengar Hiat-kun berteriak. Dia hanya melihat gadis berbaju hitam mengayunkan lengan bajunya. apakah dia akan menjadi gila? Kiam-ta mengambil keputusan. begitu ada angin lewat. tapi sebaliknya malah yang terluka adalah Hui-thiansin-liong. peristiwa yang tidak terpikirkan oleh siapapun terjadi. dia bersiap-siap untuk menjaga serangan mendadak. Dia tidak menusuk ke depan tapi menusuk ke dadanya sendiri. Sebenarnya Yu Yong sedang bersiap-siap menolong pengantin perempuan. Teriakan Hiat-kun juga membuat orang-orang terkejut.thian-sin-liong penuh dengan kemarahan. hanya mendengar Wie Thianhoan berkata: "Baiklah Kang Hiat-kun. Tiap orang tampak tidak tenang. tiba-tiba terjatuh. . dia adalah seorang gadis berbaju hitam dan dia sedang berjalan ke arah Wie Thian-hoan. tapi perubahan ini membuat dia terkejut dan bengong. dia akan membantu bertarung." Begitu dia bicara. tenaga yang dikeluarkan oleh Yu Yong jadi tertahan.

"Seperti tidak cinta tapi ada cinta. Sehingga pedangnya tidak terlalu dalam menusuk ke dalam dadanya. . bagaimana keadaanmu?" Dada Yu Yong masih sedikit sakit. mereka takut Yu Yong terluka." Wie Thian-hoan sekarang baru tahu bahwa Hiat-kun tidak seperti yang disangkanya. Walaupun tidak begitu dalam tapi dadanya sudah terluka. Dia tidak melihat sekelilingnya juga tidak mendengar.Gadis itu pun tergetar juga oleh getaran tenaga yang dikeluarkan Yu Yong. Keadaan menjadi kacau. Tapi teriakan Hiat-kun sudah menggetarkan hatinya. dia hanya berkata: "Tidak apa-apa." Giok-yan masuk ke dalam aula. Hal yang tidak terduga berdatangan. "Toako. tapi masih tidak bisa menahan tenaga dalam gadis yang masih begitu belia Kelihatannya aku harus lebih awal mengundurkan dari dunia persilatan. Orang lain tidak merasakan teriakan itu tapi dia benar-benar sangat merasakan. Wie Thian-hoan sepenuh hati memperhatikan Hiat-kun. Hati bergetar. jari pun ikut bergetar. dia sangat terkejut. Waktu itu Wie Thian-hoan telah menusuk dirinya sendiri. dia melototi gadis baju hitam itu. pada waktu gadis baju hitam itu datang dia sama sekali tidak melihatnya. Hiat-kun ternyata memperhatikannya. Bong Cong-kian bertanya kepada Yu Yong." Tapi dia malu mengatakannya kepada mereka. demi perempuan ini kau ingin mati!" Dia merebut pedangnya. "Aku sudah berlatih ilmu silat selama puluhan tahun. Gadis baju hitam itu berkata: "Kau bodoh Wie Thian-hoan. Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian lari mendekati Yu Yong. darah merembes membasahi bajunya.

aku bisa menghalangi dia melukai dirinya sendiri. Gadis itu kesal mendengar omelan Giok-yan. mengapa kami yang disalahkan?" "Bila bukan karena Yu Yong yang menghalangiku. Toakoku jadi begini." Gadis itu adalah gadis yang merebut kuda Giok-yan.. tapi ditolak oleh Wie Thian-hoan. apakah kau belum puas mengejar Wie? Padahal dalam hatinya sama sekali tidak ada dirimu. mari kita pergi!" "Baiklah. orang yang tidak sempat menyingkir ditabraknya hingga jatuh. Begitu Wie Thian-hoan selesai berkata. si gadis ingin mengobatinya. Tiba-tiba Wie Thian-hoan berkata: "Jangan buat keributan. tahu bahwa lukanya tidak berat. . Aku ingin kalian menggantinya dengan nyawa kalian. dia sudah pergi secepat angin topan. dia menjadi marah dan berkata "Jangan mengurusi masalah orang lain. ini semua karena kalian!" Giok-yan juga marah: "Dia melukai dirinya sendiri. selamat kau sudah menang." Dia sudah marah dia tidak peduli siapa itu Yu Yong. kau tunggu dulu sebentar!" dia membalikkan tubuh dan berkata: "Nyonya Hie. tidak akan mati. dia masih bengong. dengan lembut dia berkata: "Kakak Wie.Gadis itu seperti sebuah misteri. membuat dia susah mengerti. Giokyan lalu berkata kepadanya: "Kau bilang dia orang bodoh tapi kau juga bodoh. aku hanya terluka sedikit." Hiat-kun masih dalam keadaan terkejut.." Gadis itu masih mendengar suara Wie Thian-hoan yang masih kuat. Dada Wie Thian-hoan masih mengeluarkan darah.

Kwee Goan-cay hanya bisa memanggil pengasuh Kim-giauw untuk membawa Hiat-kun masuk ke kamar pengantin. kau tenanglah!" Wie Thian-hoan memuntahkan darah dan pingsan. upacara sembahyang tidak dapat dilanjutkan. serta satu kali seri. tapi karena peraturan dunia persilatan adalah begitu jadi yang terluka tetap dinyatakan kalah. Wie Thian-hoan keluar dari aula. jadi kesimpulannya adalah pertarungan antara Hui-thian-sin-liong dan Hie Tiong-gwee adalah seri. Kwee Goan-cay sangat sedih. Nona Hie tidak menghiraukan dia. sebab dia belum sembahyang kepada ayahku. dia terluka bukan di tubuhnya saja tapi di hatinya juga. Karena Hie Tiong-gwee terluka. gadis itu berkata: "Kakak Wie. Hie Kim-giauw keluar untuk memapah ayahnya masuk. tapi dia seperti orang luar. kedua kata ini terlalu dini kau sebut padaku. Si gadis melihat keadaan Wie Thian-hoan jadi ikut merasa sedih dan membantunya naik ke atas kuda. Tuan Kiam-ta baru mengumumkan hasil pertarungan adalah satu kali menang dan satu kali kalah. Di atas kertas dia adalah istri Hie Tiong-gwee. pendamping pengantin pun tidak berani membawa dia masuk ke kamar pengantin. dengan dingin dia memandang Kwee Goan-cay. . dia menoleh pun tidak ke arah 'ibu tirinya' yaitu Hiat-kun yang masih duduk di kursi pengantin diam terpaku. Murid tertuanya mewakili dia meminta maaf kepada semua orang.Setelah lama gadis baju hitam itu baru bisa mengikuti Wie Thianhoan. perkawinan yang meriah akhirnya menjadi pemandangan yang menakutkan. Semua orang pun tahu dalam pertarungan pedang. Wie Thianhoan sendiri yang melukai dirinya." Hie Kim-giauw masuk ke dalam. beristirahatlah!" Hiat-kun dengan dingin berkata: "Kwee Toako. dia mendekati Hiat-kun dan berkata: "Subo.

tanyakanlah pada Kwee Goan-cay. Walau dia ingin tertawa. dia menarik lengan baju Coh Thian-su dan berkata: "Coh Tayhiap." "Apakah kau mau pergi?" "Bila tidak pergi. dia mengira orang lain pun akan seperti itu. silahkan mampir ke rumahku.Pengasuh itu tahu bahwa Nona Hie paling akrab dengan Kwee Goan-cay jadi dia menuruti kemauan Kwee Goan-cay. tiba-tiba ada yang mengetuk jendela. dia sendiri juga terpikat oleh kecantikan Hiat-kun." "Aku juga tidak tahu apakah tebakanku benar atau salah? Bila di sini tidak ada orang. kita harus pergi. Bila ayahku bertemu denganmu." Jawab Po Leng-hoi. dan aku bukan. kita bisa memberitahu kepada Kwee Goan-cay. Semua keluarga Hie sudah pulang. dia pasti akan senang." "Tidak perlu banyak aturan. tapi dia tidak merasa aneh." "Mengenai apa?" Coh Thian-su berbisik di telinga Po Leng-hoi." Kwee Goan-cay sedang merayu adik seperguruannya. aku juga tidak tahu dia bisa ilmu silat. tidak disangka Thiatpit-su-seng juga terpikat oleh kecantikan Hiat-kun. kita tidak permisi kepada Hie Tiong-gwee. Dalam hatinya Po-Leng-hoi ingin tertawa. hanya Coh Thian-su yang masih tertinggal di aula melihat Hiat-kun yang dibawa meninggalkan aula." "Kau adalah tamu yang dikenal." "Aku akan menanyakannya sekarang. mau menunggu apa lagi?' "Apakah kau tidak mau memberitahu temanmu dulu?" "Yang kau maksud Kwee Goan-cay?" "Dia adalah murid Hie Tiong-gwee. Kwee Goan-cay bertanya: "Siapa?" "Aku. . kelihatannya Po Leng-hoi sangat terkejut dan berkata: "Apakah benar? Aku sudah mengenalnya selama 8 tahun. Aku ingin menanyakan dia satu hal.

" Kwee Goan-cay tampak terkejut dan berkata: . Po Leng-hoi lalu bertanya: "Sepertinya adik seperguruanmu sangat marah?" "Benar. apakah dia harus memberitahu atau tidak. Apakah dia sudah memberitahumu?" Kwee Goan-cay merasa aneh dan berkata. karena dia dirugikan. di sini hanya ada Kim-giauw dan aku."Silahkan masuk.. jangan pura-pura di sini. ada yang mau aku tanyakan. dia dirugikan oleh Hiat-kun. "Kalau tidak salah. seperti ada yang menotok nadinya. "Aku tidak akan masuk. apakah cocok dengan kata-kata Kim-giauw?" "Dia telah mendorong Hiat-kun dan dia merasa tubuh bagian atasnya kaku." "Mengapa kau bisa tahu?" "Aku tahu dia sudah dirugikan apa.ini. Mereka berdua sudah tiba di tempat yang tidak ada orang." Kata Kim-giauw dengan dingin: "Sobatmu sudah datang.. dia sekarang sangat marah. Kwee Goan-cay tidak mau banyak mulut dia buru-buru keluar.." Mereka bertiga adalah teman dari kecil." Maksud dari kata 'sobat' adalah mereka sama-sama menyukai Hiat-kun." "Dia sudah mengatakannya.. coba kau beritahu sekali lagi." "Dia dirugikan apa?" "Ini." dia tampak sedang berpikir. kau keluarlah sebentar. cepatlah pergi menghibur Hiat-kun.

mengapa kau bisa tahu?" Tanya Kwee Goan-cay." "Nanti dulu!" Kata Kwee Goan-cay. aku sungguh tidak pantas berteman dengannya." "Kita berteman dengannya sudah 8 tahun. dia pun sudah hampir berumur 30 tahun. "Ada apa lagi?" "Yu Yong mencarimu." Po Leng-hoi merasa aneh lagi. untuk mencari tahu tentang seseorang." "Lalu. bisa tahu?" "Aku juga tidak tahu. dia berkata: "Teman ayahku yang paling muda adalah Coh Thian-su. Coh Thian-su sedang menungguku di luar. mengapa kau bisa tahu? Apakah Hiat-kun yang memberitahu." "Aku pun tidak tahu." "Kau jangan cemburu.. dia hanya tahu bahwa kau dan aku adalah . Umur gadis berbaju hitam itu hampir sama dengan Hiat-kun. "Coh Thian-su yang memberitahu. walaupun aku mengenalnya. dia ingin tahu apakah semua ini benar? Karena itu dia menyuruhku membuktikannya. aku akan memberitahu padamu. entah mengapa Chu yang tinggal di Yang-ciu dan belum pernah bertemu dengan Hiatkun. ada apa dia mencariku?" "Sepertinya dia ingin bertamu ke rumahmu."Benar. Bila nanti aku sudah menanyakan kepadanya." "Siapa?" "Gadis berbaju hitam itu.. aku hanya dengar dia berbicara kepada Tuan Kiam-ta." "Dia adalah orang terkenal di dunia persilatan. ayahku pasti tidak mengenalnya. besok kau ke rumahku. dia juga tidak memberitahu bahwa dia ternyata bisa ilmu silat. dia tidak memberitahu kepadaku.

gjni pemah berlatih ilmu silat ini. terpaksa dia mengurungkan niatnya. dan aku tidak berani memastikannya. Coh Thian-su tampak sedang menunggu. Dia berpesan untuk mencarimu dan meminta agar dia diundang ke rumahmu. 'Kang Guan-yang adalah Kang Ci-ki. tolong beritahu kepadanya. mengapa kau bisa tahu?" "Itulah yang dinamakan ilmu tenaga dalam menggetarkan nadi.teman. karena tadi aku berada di luar jadi tidak begitu jelas melihatnya. Hiat-kun masih begitu muda sudah punya ilmu yang begitu tinggi." Sebenarnya 'Tenaga dalam menggetarkan nadi' dan 'Pena besi nienotok nadi' adalah satu aliran. Ilmu itu adalah ilmu rahasia yang hanya dimiliki oleh perguruan Coh Thian-su. mungkin ini ada hubungan ." "Baiklah. dia adalah Supeknya. Kang Hiat-kun dan Coh Thian-su sebenarnya adalah saudara seperguruan yang belum pernah bertemu. Kali ini Coh Thian-su sengaja datang dari Yang-ciu bukan hanya ingin memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee dan juga bukan hanya untuk melihat bunga Bo-tan. dia hanya ingin mencari Supek dan Sumoinya. dalam hati dia berpikir. begitu dia melihat Po Leng-hoi keluar dia langsung bertanya: "Bagaimana?" "Semua seperti dugaanmu. Dia ke Lok-yang menyamar menjadi guru silat biasa bernaung di bawah lindungan Hie Tiong-gwee. aku menunggu di pintu luar. Dia sudah curiga bahwa Hiat-kun adalah Sumoinya yang belum pernah dia kenal. ilmu ini pun jarang ada yang bisa menguasainya." Sebenarnya Po Leng-hoi ingin mencarinya tapi karena Coh Thiansu sedang menunggu." Po Leng-hoi tampak terkejut dan berkata: "Tidak kusangka. sekarang dia sudah yakin. Hati Coh Thian-su gembira sekaligus terkejut. Sudah mengenal begitu lama tapi bisa tidak tahu bahwa dia mempunyai ilmu yang begitu tinggi. Coh Tayhiap. kami menjadi malu dibuatnya.

kau sedang memikirkan apa?" "Aku sedang berpikir mengenai kejadian hari ini. Dia bisa memakai lengan baju menjadi telapak tangan. Tapi anehnya. mereka masih begitu muda tapi dapat melakukan semua itu. kemudian gadis baju hitam.dengan kejadian 10 tahun yang lalu. sayang aku terlambat datang 3 bulan. Aku mendengar kabar dari orang lain. aku tidak berani "Sekali mengayunkan lengan baju." "Orang aneh ini siapakah namanya?" "Dia she Kie. "Coh Tayhiap. Apakah dia percaya bahwa Hie Tiong-gwee adalah seorang 'pendekar'? Mengapa dia meninggal dengan tiba-tiba? Po Leng-hoi mengatakan bahwa dia mati secara aneh. ada seorang yang aneh di dunia persilatan. orang-orang curiga bahwa Kie Yan-gan adalah orang Mongolia karena di selatan tidak ada yang kenal dengannya. terlihat lembut tapi sangat bertenaga. bernama Yan-gan. Gunung Yan-gan berada di daerah Mongolia. karena itu dinamakan 'Liu-in-hui-siu' (Awan mengalir lengan baju beterbangan). pergaulanmu luas." "Benar. dia mempunyai ilmu 'lengan baju besi'. pertama tentang Hui-thian-sin-liong. mengapa Kang Supek menikahkan putrinya dengan Hie Tiong-gwee. apakah kau tahu gadis berbaju hitam itu berasal dari perguruan mana?" "Dia hanya mengeluarkan mengatakannya." Po Leng-hoi kembali bertanya kepada Coh Thian-su: "Coh Tayhiap.. dan lembut seperti air mengalir. orang persilatan memang berkata seperti itu." satu jurus.." Po Leng-hoi jadi teringat sesuatu: . Hui-thian-sin-liong kelihatannya adalah salah satu korban dari kejadian 10 tahun yang lalu. dia dapat mengatasi tenaga dalam Yu Yong." Po Leng-hoi melihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu kemudian dia bertanya. Ilmu lengan baju besi hanya ada di Siauw-lim dan perguruan Swat San.

" Sifat Yu Yong sangat polos. Yu Yong melihat Po Leng-hoi bersama-sama Coh Thian-su."Aku mengerti. tapi ilmu silatku jauh denganmu. mari kita pergi bersama-sama. yang paling penting yang paling berhasil adalah menjadi guru. tidak perlu sungkan. Coh Thian-su tidak seperti orang itu. aku dipesan oleh ayah agar mengundang dia datang ke rumah. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan. apa yang dia maksudkan sudah mengerti. kau sudah kenal dengan Coh Tayhiap?" Jawab Po Leng-hoi: "Coh Tayhiap adalah teman ayahku. dia jarang ke Lok-yang. dan satu lagi adalah Coh Thiansu. hampir semua orang berpihak kepada Hie Tiong-gwee kecuali kedua orang ini." "Belajar silat jangan membeda-bedakan lebih awal atau lebih akhir. "Yu Tayhiap. hatinya merasa sedikit tidak enak dan dia berkata: "Adik Po. hari ini aku bisa bertemu dengan Coh Toako. Yu Yong tahu bahwa dia adalah tamu dari keluarga Po. Walaupun dia tidak menyukai Coh Thian-su tapi pembicaraannya tidak menyinggung perasaan Coh Thian-su. dia sopan. aku sudah merasa senang." Kata Yu Yong. dia tampak sedikit ragu. bila tidak aku akan merasa malu. kau dan ayahku sederajat. "Ayahmu terkenal di Kanglam tapi sayang aku belum pernah bertemu. Walaupun akn lebih tua beberapa tahun darimu. Dia lebih memihak kepada Huithian-sin-liong. tapi dia tetap tidak menghormati Hie Tiong-gwee. Karena itu dengan agak terpaksa dia berkata: "Baiklah! Coh Tayhiap. Yang satu bersembunyi di dalam kerumulan orang-orang tapi sering mengejek Hie Tiong-gwee." Coh Thian-su ingin bertanya lagi." Pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan Hui-thian-sin-liong." Kata Yu . tapi Yu Yong sudah datang.

' Yu Yong melihat Coh Thian-su yang terdiam. "Ayahmu adalah Kanglam Tayhiap. apa yang dikatakan oleh orang-orang itu?" "Ada 2 versi. Maka dengan santai Coh Thian-su menjawab: "Yang aku tahu. yang kedua adalah yang tadi aku katakan kepadamu. beliau dapat menotok urat nadi dengan sebuah pena. dia hanya mengajarkan ayahku bagaimana cara menulis. apakah benar?" Dalam hati Coh Thian-su berpikir." "Aku tidak paham. kemudian dia menjelaskan lagi: "Aku hanya mendengar orang-orang persilatan berkata seperti itu karena merasa aneh aku jadi ingin tahu dan bertanya kepadamu. sepertinya tidak ada yang bisa ilmu ini. ayahku memang pernah belajar kepada seorang aneh yang berasal dari utara. menurut orang-orang. aku tidak tahu. aku juga tidak tahu!" . karena itu semua orang menjadi curiga. juga tidak memberitahu identitasnya. Menurut kabar Ilmu silat ini berasal dari daerah utara. dia merasa sedikit malu. ilmu 'pena besi menotok nadi' adalah ilmu turun temurun dari keluarga Coh." "Coba anda ceritakan. dari sungai Huang-ho hingga ke utara. "Silahkan katakan!" Kata Coh Thian-su. apakah ayahmu masih mempunyai saudara seperguruan?" Benar saja. jangan salah paham. perkiraan Coh Thian-su tidak meleset. tapi ayah bukan murid yang dia akui. orang aneh ini tidak ingin orang lain tahu namanya.Yong. Apakah dia mempunyai murid yang lain. Bukan ingin bertanya tentang rahasia perguruanmu." "Yang pertama. 'Rubah tua ini sepertinya bukan bertanya tentang 'pena menotok urat nadi' melainkan ingin tahu identitas keluarga Hiat-kun. Yu Yong sudah tahu ilmu Hiat-kun dan ilmu 'pena besi menotok nadi' berasal dari satu perguruan. Apakah dia pernah memberitahu kepada ayahku.

tapi dari kata-kata yang dikeluarkan kelihatan bahwa dia lebih dekat dengan Coh Thian-su. dia juga tidak berani memaksa. Mata Po Tiong-ie membesar. dia hanya hormat kepada Yu Yong saja. Dari kata-katanya juga ada sedikit mengandung ejekan. dulu aku tidak percaya. bila tidak aku akan terus salah sangka' "Aku pun datang untuk memberi selamat kepada Hie Tionggwee. sehingga semua orang sudah tidak berniat menghadiri pesta pernikahan. aku sungguh rindu padamu. Chu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya." Kata Coh Thian-su tertawa. mendengar itu dalam hatinya berpikir. sayang pernikahannya batal. "Biasanya Hie Tiong-gwee bisa mengambil hati orang-orang. mengapa sekarang tidak ada yang mau menghadirinya?" . sekarang aku sudah melihatnya Untung hari ini aku sudah bertemu dengannya.jawaban Coh Thian-su setengah benar setengahnya lagi tidak benar. apakah pesta dengan cepat sudah selesai? Apakah kau tidak tinggal dulu di rumah Hie Tionggwee? kau ke sini apa juga untuk menengokku? Aku sungguh jadi terkejut?" Walau dia menyambut Coh Thian-su dan Yu Yong dengan sama ramah. "Bukan begitu. dia bertanya: "Apakah dia tidak menyambut dengan baik karena kau adalah pelajar miskin? Tidak apa-apa walaupun keluarga kita miskin tapi aku masih sanggup mentraktirmu minum arak. dia berkata: "Adik Coh. katanya kau mewakili perguruan memberi selamat kepada Hie Tayhiap. dia terkejut juga sekaligus gembira. Yu Yong adalah orang yang agak pengertian. 'Pak tua ini ternyata tidak menyukai Hie Tiong-gwee. mereka pun mengganti topik pembicaraan. Po Tiong-ie melihat anaknya pulang dengan Coh Thian-su dan Yu Yong." Po Tiong-ie merasa aneh. Yu Yong tahu. pernikahannya terlalu meriah. Mereka sudah tiba di rumah Po Leng-hoi. angin apa yang membawamu kemari? Yu Tayhiap.

" "Baiklah! Coba kau ceritakan pelan-pelan. dia mengira Po Tiong-ie tidak kasihan kepada Hie Tiong-gwee. Yu Yong cepatlah ceritakan kepadaku. sungguh keterlaluan. tamu belum dipersilahkan masuk untuk minum teh. Tapi Hui-thian-sin-liong sampai mengacau di hari pernikahannya. Hie Tiong-gwee selalu ingin mendapat nama baik tapi sebenarnya dia lebih mementingkan uang dan kekuasaan. aku tidak suka kepadanya." Po Tiong-ie semakin heran dan berkata: "Ada apa ini?" "Yu Tayhiap adalah salah satu saksinya." Yu Yong menceritakan kejadian semuanya dari awal. tapi karena Hie Tiong-gwee tidak bisa melakukan upacara sembahyang dengan pengantin perempuannya. tapi dia akan malu berkelana di dunia persilatan lagi." Kata Po Leng-hoi: "Ayah. 'Kecuali haus akan uang dan kekuasaan. Tanya Po Tiong-ie: ." Kata Po Tiong-ie Dalam hati Coh Thian-su berpikir. C. sebenarnya dia itu siapa dan berasal dari mana? aku harus pelan-pelan menyelidikinya supaya semuanya jelas.' Kata-kata Po Tiong-ie membuat Yu Yong sangat senang. terakhir Yu Yong berkata: "Hie Tiong-gwee terluka dan diputuskan hasil akhirnya adalah seri. lebih baik dia yang menceritakan hal ini." "Mengapa ada saksi? Aku semakin tidak mengerti." kata Yu Yong." Po Tiong-ie tersipu segera mempersilahkan Coh Thian-su dan Yu Yang masuk. bagaimana pendapatmu?" "Jujur bicara. aku akan menceritakan semuanya. itu pun keterlaluan. Toako. Kie Yan-gan ---ooo0dw0ooo--- "Benar. dia datang merusak hubungan pasangan suami istri. Setelah masuk baru Yu Yang berkata: "Jangan tergesa-gesa."Bukan tidak mau.

ada seorang aneh yang dinamakan 'Manusia aneh dunia persilatan'. dia pun sudah pergi entah ke mana. tapi bila dia berada di Lok-yang membuat keonaran." "Siapa?" "Seorang Cianpwee persilatan. aku dan dia adalah teman biasa. bila tidak cepat dibasmi akan lebih berbahaya lagi. Yu Yong adalah murid It Piau cinjin karena itu aku harus sedikit memberinya muka. "Yu Toako. aku tidak pantas menjadi teman Kie Yan-gan.' Lalu dia berkata.' Po Tiong-ie dalam hatinya juga berpikir. masih muda tapi ilmu silatnya sudah tinggi." ." Yu Yong berkata: "Pertarungan sudah selesai dan hasilnya adalah seri."Yu Toako. apakah kau jauh-jauh ke sini hanya untuk menengok dan bercerita kepadaku?" Yu Yong tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya dan dia berkata: "Aku hanya ingin bertanya tentang seseorang. 'Benar saja. apakah kau ingin mengajakku ikut membalas dendam demi Hie Tiong-gwee? Terus terang aku tidak akur dengan Hie Tiong-gwee. tapi 20 hingga 30 tahun yang lalu. aku akan ikut Yu Toako untuk menghukumnya. pertarungan mereka terbuka dan tidak licik. kau jangan terlalu tinggi menilaiku." "Kalau begitu aku sudah salah tafsir. dia sudah jarang berkelana di dunia persilatan. tapi juga tidak ingin membela Hui-thian-sin-liong Kali ini Hie Tiong-gwee kalah karena ilmu silatnya jelek. Hui-thiansin-liong pun terluka. 'Apakah mereka ingin mengundang Kie Yan-gan untuk menghadapi Hui-thian-sin-liong? Hui-thian-sin-liong sangat jahat." "Apakah yang kau maksud itu adalah Kie Yan-gan?" "Apakah Po Toako dan dia adalah teman baik?" Dalam hati Coh Thian-su berpikir. Sekarang ini hanya Kie Yan-gan yang bisa melawan dia. dia ingin mencari tahu tentang orang ini.

Han Pa. dan bisa mengenal sedikit ilmu silatnya. Wajahnya biasa. hingga perlu obat-obatan. Di jalan aku bertemu dengan segerombolan penjahat. Waktu itu aku sudah mempunyai sedikit nama tapi Han Pa sangat sombong. "Benar. jangan sungkan." Lalu Po Tiong-ie bercerita sambil minum teh. semua orang pasti akan menyangka bahwa dia adalah orang desa . ketua yang kedua adalah Thio Ang. dengan Po Tiong-ie mengangguk. aku sudah tidak kuat. dia adalah seorang pemanah jitu. aku adalah orang terakhir yang melihat mereka. dan melanjutkan: "Orang-orang yang kubawa hampir semuanya terluka karena terpanah oleh Thio Ang. aku sendiri harus bertarung dengan Han Pa. tapi belakangan ini sudah tidak. Suatu kali aku mengantar obat dari Pak-kia ke kota Pau-to. karena pada waktu itu di Pau-to terjadi wabah besar. Ketika aku hampir kalah. "Waktu masih muda aku pernah menjadi Piausu." Kata Yu Yong. bajunya terbuat dari kain kasar. apakah kau pernah mendengar nama mereka?" "Saat aku baru mulai berkelana. dia bilang bila aku bisa menerima 30 jurus ilmu goloknya dia akan melepaskanku dan barang-barangku. karena Toako pernah bertemu dengan Kie Yan-gan. memakai sepatu yang dipakai oleh orang desa. aku sering mendengarnya." Aku berusaha menahan serangannya. Tenaganya juga sangat besar. ini adalah kejadian 30 tahun yang lalu. mengantar barang ke tempat-tempat lain. Goloknya sangat besar dan beratnya kurang lebih 24 kati. apakah ilmu silatnya memang seperti yang diceritakan oleh orang-orang? Begitu lihai?" "Aku akan menceritakan bagaimana aku bisa mengenalnya. ketuanya adalah Golok Besar. tiba-tiba datanglah seseorang menghentikan pertarungan. tapi belum sampai 20 jurus." "Mereka menghilang? Apakah ada hubungannya perampokan barang Po Toako?" tanya Yu Yong."Po Toako. sebelum mereka menghilang.

semua perampok sangat terkejut. aku menurut saja. aku bukan siapa-siapa tapi aku ingin ikut campur mengurus masalah ini. "Peraturan golongan hitam. kalian tidak boleh mengambilnya!" menolong Perampok itu tertawa dan berkata: "Siapa kau? Harap beritahu she dan namamu!" Orang desa itu dengan sungguh-sungguh berkata: "Benar juga. Tapi begitu mengatakan namanya. tapi bila kalian ada peraturan seperti itu." Kata Coh Thian-su: "Orang desa itu pastilah jago persilatan. Kemudian dia membalikkan kepalanya menghadapi mereka dan bertanya kepadaku: "Apakah tadi Han Pa menyatakan harus menahan serangannya dalam 30 jurus? Kau sendiri sudah mengeluarkan berapa jurus?" "Tadi karena aku kalang kabut." . tapi perampok-perampok itu tidak begitu saja mempercayai bahwa orang desa itu adalah Kie Yan-gan." Perampok itu mengira nama orang desa itu biasa. mari kita coba bertarung. kurang lebih mungkin ada 18 jurus. kau sendiri mengatakan bahwa kau adalah Kie Yan-gan. seperti si kucing. dan lain-lain. jadi aku tidak ingat sudah mengeluarkan berapa jurus. si anjing. Kie Yan-gan. "Obat-obatan ini akan dikirim ke Pau-to untuk orang-orang. paling sedikit harus bertarung. Aku ingin membantunya. maka aku harus memberitahu namaku." Kata Kie Yan-gan.yang sangat biasa. Orang desa itu berkata kepada Han Pa." Kata HanPa. Pertama-tama Han Pa mengajaknya bertarung." "Benar. "Ilmu silatku tidak seberapa. adalah tidak boleh pulang dengan tangan kosong bila tidak mendapat uang.

dengan marah dia berkata: "Bila aku kalah dalam 3 jurus. Kie Yan-gan pun mengelak dan berkata: "Benar-benar sangat kuat." Sekarang masalahnya apakah kau bisa mengalahkanku?" Selesai berkata seperti itu. tidak perlu memakai senjata." Kata Kie Yan-gan. dalam dunia persilatan tidak pernah akan ada Han Pa lagi. keluarkan senjatamu. kalau berlatih hingga 10 tahun lagi. Han Pa juga tidak akan percaya bahwa Kie Yan-gan akan mengalahkannya dalam 3 jurus. jurus golokmu lumayan juga. begini saja asal kau bisa menahan 3 jurusku. Han Pa merasa takut serangan tersembuyi dari Kie Yan-gan karena itu dia menyuruh Kie Yan-gan memakai senjata agar dia bisa melihat jenis senjatanya." . "Apakah Tuan ingin meneruskan 10 jurus lagi?" Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Han Pa sudah kehilangan banyak tenaga. Han Pa pun dengan sama cepat mengayunkan goloknya." Kata Han Pa. tapi baju Kie Yan-gan secuil pun tidak tersentuh. kau akan menjadi pesilat tangguh." Han Pa lebih marah lagi dan berkata: "Kalau berani. tapi bila dalam 3 jurus aku bisa menang dari mu. golok besar Han Pa sudah menyabet mengarah kepada Kie Yan-gan. aku tidak mau kau dirugikan. aku mempunyai satu permintaan yaitu aku minta kau melepaskan Po Tiong-ie. aku akan memberikan kepalaku. Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Untuk menyambut golok yang terbuat dari besi jelek ini. jangan disembunyikan!" Gerakan tubuh Kie Yan-gan sangat cepat." Han Pa sudah curiga bahwa orang itu adalah Kie Yan-gan yang palsu. Agar keras bisa dilawan keras lagi. sudah 20 jurus kukeluarkan. "Kalau begitu tinggal 10 jurus lagi. bila dia memang benar-benar Kie Yan-gan."Tidak benar.

golok sudah berpindah tangan. perampok-perampok itu mulai memanah. kemudian dia mundur ke pinggir." Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Tuan Po. dan dia berkata: "Ilmu silat apa yang begitu hebat itu!" "Yang lebih hebat lagi ada di cerita bagian belakang. Hanya melihat suatu benda yang berkilau putih mendekati dan ternyata goloknya sudah berpindah tangan. tapi dia tetap tidak bisa melihat Kic Yan-gan memakai jurus apa. golok seberat 24 kati sudah hancur berkeping-keping dan jatuh. kemudian dia berkata ini jurus kedua. kemudian dia berkata lagi ini jurus ketiga. terdengar suara ? yang menusuk telinga. dia memukul bagian belakang golok. sekaligus bengong. tapi begitu kereta mulai berjalan. aku melihat dengan terkejut. juga tidak ada yang bisa . kau harus pergi. puluhan anak panah dilepaskan oleh anak buah Thio Ang." Aku mengira sudah tidak ada masalah. Tapi Kie Yan-gan berkata: "Mari kuantar hingga jalan besar." Kemudian dia meneruskan ceritanya: "Wajah Han Pa pucat seperti kertas. dia mengira Kie Yan-gan tidak mempunyai ilmu untuk melindungi dirinya. Yang dijadikan sasaran adalah bagian belakang kepala Kie Yan-gan. kemudian aku segera membereskan anak buahku dan pergi." "Benar. itulah panah yang dilepaskan oleh Thio Ang. aku seperti baru terbangun dari sebuah mimpi. kau sudah diganggu begitu lama." Po Leng-hoi ternyata juga pertama kalinya mendengar cerita ini. tapi yang paling dahsyat adalah 3 panah yang dilepas berturut-turut.Dia berdiri disebelah Han Pa." Yu Yong terkejut dan berkata: "Hanya dalam 3 jurus. Han Pa membuka matanya yang besar dan dengan konsentrasi melihatnya. senang." Di sana sudah tidak ada tontonan yang menarik lagi.

Yang paling parah adalah Thio Ang. Padahal jika dia memanah. panahnya berbalik lagi kepadanya." Tanya Po Leng-hoi: "Tidak tahu malu! Apakah Kie Yan-gan terkena panah itu?" "Tidak. sambil mengibaskan lengan bajunya.melatih kepala menjadi sekeras batu. aku akan menyelesaikan ceritaku. Dan Ceritanya selesai .siapa yang memanah. panah datang dari mana. "Ayah. Hanya terdengar teriakan Thio Ang dan anak buahnya yang sudah roboh. sejak itu Golok Besar Han Pa menghilang dari dunia persilatan. dan anehnya panah-panah yang datang tidak teratur.. semua berbalik arah Ini belum dikatakan sakti. dia membereskan panah juga membereskan perampok-perampok itu. siap memakai golok menangkis panah-panah itu. akan berbalik lagi ke sana'. Aku membalikkan kepala dan hanya melihat dia sedang mengibaskan lengan bajunya. apa lagi kepala." Tanya Po Leng-hoi. termasuk panah yang mengarah padaku. yang satu mati mengenaskan yang satu lagi senjatanya hancur berkeping-keping. yang sakti adalah panah-panah itu bisa mengenali orang. panah bukan 'membereskan'?" manusia. tapi Kie Yan-gan dengan ringan membantuku membereskannya. Aku mendengar suara panah dan membalikkan tubuh. batu pun bisa hancur. mengapa memakai bahasa Po Tiong-ie tertawa dan berkata: "Aku tidak salah memakai kata ini. tapi yang tidak memanah tidak terluka. memanah kepalanya dan tembus hingga ke otak. Kie Yan-gan berkata ’benda kembali lagi kepada pemiliknya." Po Leng-hoi tertawa dan berkata: "Kalau begitu panahnya memiliki sepasang mata" "Benar." Kata Po Tiong-ie lagi: "Dua orang kepala perampok. panah itu balik lagi mencari pemiliknya.

" Yu Yong adalah orang yang terkenal di dunia persilatan. tapi Po Tiong-ie tidak tahu. Yu Yong berkata: "Mengayunkan lengan baju membalikkan panah itu." Dua dari rahasia ilmu silat Kie Yan-gan sudah dia ceritakan satu. "Bukankah kau sudah mengatakan bahwa ilmu itu adalah ilmu rahasia dari perguruan itu?" "Orang yang dicurigai itu berapa usianya?" Tanya Po Yiong-ie.sampai di sini. Tanya Po Tiong-ie: "Apakah kau curiga bahwa dia adalah murid Kie Yan-gan?" Yu Yong mengangguk. . Ilmu silat ini hampir sama dengan ilmu silat Siauw-lim dan Swat-san. tapi tenaga dalamnya tidak sama." Kata Yu Yong: "Sepertinya aku pernah mendengar ilmu Liu-in-hui-siu?" Coh Thian-su dan Po Leng-hoi sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Yu Yong. yang kedua pasti akan diceritakannya lagi. setelah mendengar cerita ini dia berkata: "Bila bukan Po Toako yang mengalaminya sendiri aku tidak akan percaya di dunia ini ada ilmu silat yang begitu hebat. hanya dimiliki oleh perguruan mereka. seperti apa ilmu silatnya?" "Ilmu silat itu dinamakan Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan baju beterbangan). kau belum menceritakan ilmu silat apa yang dipakai oleh Kie Yan-gan?" "Aku hanya kagum. Ilmu silatnya adalah ilmu rahasia." Kata Po Leng-hoi: "Ayah. tidak tahu dia memakai ilmu silat apa. Dia memakai tenaga telapak tangan menghancurkan senjata Han Pa yang dinamakan 'ilmu Hun-hoan' Aku merasa ilmu silat ini lebih dahsyat daripada ilmu silat Hoa-san yaitu 'Hun-thian'.

" Sepertinya Coh Thian-su masih ingin mengatakan sesuatu. tapi tidak permusuhan denganku. aku tidak dapat membantu. tapi katanya 10 tahun yang lalu sudah meninggal. tidak harus membalas dendam demi Hie Tiong-gwee. aku juga tahu dari orang lain. itu 13 tahun yang lalu."Tidak sampai 20 tahun." . Apakah dia masih hidup atau sudah mati. Orang itu pun tidak tahu nama murid Kie Yan-gan." "Bagaimana dengan muridnya?" "Aku tidak pernah bertemu dengan muridnya. "Aku tidak tahu banyak tentang Kie Yan-gan karena dia tidak menetap di satu tempat. bila kalian mencari dia untuk menghadapi Hui-thian-sin-liong. dia hanya satu kali ke rumahku. anaknya mati muda. aku pun tidak tahu. Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi. yang aku tahu dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang murid. tibatiba Po Tiong-ie menatapnya dan dia mengurungkan niatnya. apalagi orang lain. kecuali secara kebetulan bertemu." Tanya Coh Thian-su: "Apakah Po Toako tahu she dan nama murid itu?" "Anehnya. Kie Yan-gan belum pernah menceritakan tentang muridnya. sudah meninggal 20 tahun yang lalu. pada saat dia datang ke rumahku. "Apakah Po Toako masih berhubungan dengannya?" Tanya Yu Yong. "Sudah lama tidak." "Walaupun Hui-thian-sin-liong mempunyai nama buruk di dunia persilatan. itu pun sudah lama." Kata Po Tiong-ie. Aku hanya bersahabat dengan Hie Tiong-gwee." "Apakah dia tiba-tiba menghilang?" "Aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan sedikit kabar dari dia pun tidak ada. Kie Yan-gan tidak mempunyai cucu murid." "Kalau begitu dia bukan murid Kie Yan-gan. aku baru mengenalnya selama beberapa tahun.

" ." "Coba katakan!" "Dia tidak mempunyai cucu laki-laki. apa dia mempunyai cucu perempuan?" "Kau bertanya apakah dia mempunyai cucu perempuan?" Sekarang Po Tiong-ie baru mengerti dan berkata: "Apakah gadis berbaju hitam itu yang datang tiba-tiba dan menyuruh Hui-thian-sin-liong meninggalkan rumah keluarga Hie? Dia pernah bertarung denganmu satu jurus dan kau tahu bahwa ilmu silatnya lebih tinggi darimu. setelah kuperiksa ternyata bukan." Kata Po Tiong-ie: "Sekarang kau tidak perlu curiga lagi yang dia gunakan adalah ilmu silat Kie Yan-gan. hanya saja dia belum setinggi Kie Yan-gan. aku belum melihat dengan jelas. Tadinya aku mengira terkena senjata rahasia. Aku jadi malu kecuali tenagaku terasa lenyap. Walaupun ilmu silatnya tidak sekuat Kie Yan-gan tapi aku juga belum pernah melihatnya. nadinadiku juga seperti ditotok. sudah bisa menahan telapak tanganku. aku mengerahkan tenaga dalam dan di balik telapak tanganku terasa ada sesuatu yang tidak enak. kau terkena totokannya atau tidak. Gerakannya terlalu cepat. apa yang ingin kau ketahui?" "Mengenai Kie Yan-gan." Yu Yong tampak berpikir kemudian berkata: "Dia datang seperti setan gentayangan." "Dia menggunakan ilmu silat apa?" "Dia hanya mengibaskan tangannya." Po Tiong-ie menjadi terkejut: "Ini adalah ilmu Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan beterbangan) dan ilmu ini pun bisa menotok urat nadi." "Benar."Baiklah. kau ternyata juga masih tidak tahu.

dia ."Kalau begitu. hanya saja semua masalah ini datang secara tiba-tiba. membuatku terkejut dan tidak mengerti. "Kita berdua jarang bertemu. Tanya Po Leng-hoi: "Ayah belum menceritakan. dia mempunyai cucu perempuan. apa dia adalah cucu Kie Yan-gan?" "Aku tidak tahu. Hujan darah dan bau darah." Melihat keadaan Po Tiong-ie. terima kasih. apakah Kie Yan-gan punya cucu perempuan?" "Benar. istirahatlah! Aku pulang dulu. Seperti Adik Kakak Seperti Sepasang Kekasih Yu Yong permisi pulang dan berkata: "Po Toako. seperti seorang murid tidak bisa menjawab soal ulangan. tidak mengerti dan tidak bisa menebaknya. Duduklah!" Dia minum teh. sepertinya masih ada yang ingin dia katakan. Apakah yang akan terjadi? ---ooo0dw0ooo--Bab 3 Pulang pada malam tahun baruTidak berdosa tapi mengalami musibah Malam-malam menepati janji Kesucian tertutup oleh prasangka A." Po Leng-hoi melihat ayahnya dan bertanya: "Ayah." Kata Coh Thian-su. Pada saat dia ke rumahku. ayahnya sudah meninggal sebelum dia dilahirkan. angin kembali lagi. kenapa denganmu?" "Tidak apa-apa. paling sedikit kau harus tinggal 3 sampai 5 hari di sini. kau sudah memberitahuku banyak." "Po Toako. Dengan terkejut dia mengenang masa lalu.

" "Menurut perkiraanku. gadis berbaju hitam tadi adalah gadis kecil itu. mungkin dia adalah buronan istana. kalau begitu sekarang dia sudah berumur kurang lebih 20 tahun. Mengapa bisa berteman dengan Hui-thian-sin-liong? Adik Coh. Rambutnya dikepang dua. dia pun berjiwa pendekar. "Kira-kira berusia 6 hingga 7 tahun." "Apa yang aneh?" Tanya Po Leng-hoi. dia seperti perempuan yang sedang jatuh hati kepada si pemuda. "Sifat Kie Yan-gan sangat aneh. kau melihat hubungan mereka seperti apa?" "Seperti adik kakak yang tumbuh bersama. mereka pernah bertemu dengannya di tengah perjalanan. mengapa pengawal istana sampai menangkapnya. karena itu aku merasa aneh. itu lebih aneh lagi." ingin . apakah kau tahu mengapa niiiiid Kie Yan-gan bisa meninggal?" Kata Coh Thian-su. tapi dia adalah seorang Tayhiap. "Sebenarnya ini rahasia. cucu Kie Yan-gan dari kecil sudah mengikutinya. tapi pemuda itu tidak mempedulikannya." Coh Thian-su tampak terkejut dan bertanya: "Sebenarnya siapa murid Kie Yan-gan itu?" "Aku tidak tahu." Kata Po Leng-hoi: "Menurut Giok-yan dan Bong Cong-kian. 7 orang diantaranya sudah mati dan satu lagi Icrluka parah." "Berapa usianya waktu itu?" Tanya Coh Thian-su. dia adalah gadis kecil yang pintar." "Itu adalah kejadian 10 tahun yang lalu." "Bila mereka adalah adik kakak yang tumbuh bersama." Kata Po Tiong-ie. sepasang matanya seperti bisa bicara. tidak seperti Hie Tiong-gwee.membawa cucunya. "Po Toako. dia dibunuh oleh K orang pengawal istana.

pengawal islana pernah menyerang dengan senjata rahasia. dia membocorkan rahasia ini kepada Tong Hwieyan. juga tidak memberitahu dia sudah melanggar hukum apa Yang dia jelaskan hanya ilmu silat yang digunakannya. bersamaan dengan itu dia menanyakan keadaan Kie Yan-gan padaku. maka aku tidak bisa meneruskan pekerjaanku. Ilmu ini disebut 'Hunhoan' dan 'Liu-in-hui-siu'. Walaupun buronan sudah mati lapi identitasnya tetap harus dicari. cerita ini berasal dari pengawal yang masih hidup. Pengawal berpangkat itu sudah curiga bahwa buronan adalah murid Kie Yan-gan." Kata Po Tiong-ie lagi: "Yang memberitahu adalah temanku yang bernama Tong Hwieyan. bila dia adalah penjahat kelas kakap. maksudnya ingin Tong Hwie-yan membantunya mencari tahu tentang buronan itu dari perguruan mana. Yang satu masih hidup tapi matanya buta sebelah. satu lagi leikena panah yang membalik." Coh Thian-su sudah tahu jawabannya. teman Tong Hwie-yan ada sedikit pangkat di kalangan pengawal istana. tiga di antaranya terkena tenaga telapak tangan hingga kepalanya pecah. "Karena aku tidak suka berteman dengan orang pemerintahan. Sebelum bertarung. Tulang hidungnya patah dan dia terluka parah. 2 orang terkena tusukan pedang. "Peristiwa itu terjadi 10 tahun yang lalu. saudara-saudara seperguruannya akan ikut terancam. bila ini sangat rahasia. Tong Hwie-yan ingin membuktikannya. Tong Hwie-yan tahu aku . Dia tidak memberitahu nama tersangka. tapi semua ditahan oleh lengan bajunya dan dikembalikan ke asalnya." Kata Po Tiong-ie lagi. satu terkena totokan nadi yang berai. Di antara 7 pengawal yang mati itu.Tanya Po Leng-hoi: "Ayah. mengapa ayah bisa tahu?" "Aku diberitahu seseorang.

" . Hie Tiong-gwee juga datang. maka dia sengaja dalang ke liok-yang mencariku.mengenal Kie Yan-gan. dia sangat biasa hanya seorang guru silat kampungan. Adik. Coh Thian-su merasa geli. dia adalah guru silat yang biasa dan baru pindah ke Lok-yang Mengapa Hie Tayhiap bisa mencarinya? Dan malah bersahabat dengannya?" Po Tiong-ie belum pernah memikirkan hal ini. 'Supek memang tidak sehebat Kie Yan-gan. apa pun sama." Kata Po Leng-hoi." Kata Po Leng-hoi. bisa berkunjung ke Lok-yang. Yang penting dia memang tidak punya keahlian apa pun. "Pantas saja. Mereka sedang membicarakan tentang hal itu. Tanya Coh Thian-su: "Waktu itu apakah Kang Guan-yang sudah ada di Lok-yang?" "Benar. dia menjawab: "Mungkin dia senang dengan putrinya Kang Guan-yang." Dan Coh Thian-su berkata: "Aku merasa aneh. sekalian mengunjungiku. Hie Tionggwee merasa aneh mengapa Tong Hwie-yan yang begitu terkenal di ibukota.' Kata Po Tiong-ie." "Dia hanya bertanya keadaan Kie Yan-gan dan muridnya. Kwee Goan-cay bersembunyi karena dia tidak ingin gurunya tahu dia ada di sana. Dalam hati." "Sekolahku tidak setinggi dirimu. tapi bila bertarung denganmu. pada hari kedua waktu itu aku dan Kwee Goan-cay bersembunyi di kamar belakang. mengapa kau menanyakan hal ini? Kang Guan-yang seperti namanya. hanya sebagai guru silat kampungan." Kata Po Tiong-ie. dia baru pindah dari kota lain ke Lok-yang. "Apanya yang pantas?" "Waktu Tong Hwie-yan datang ke Liok-yang. Kami hanya mendengar ayah Hiat-kun bicara kepada Hie Tionggwee. ilmu silatnya jauh lebih lebih hebat darimu. dalam hati berkata.

" Coh Thian-su tidak puas dengan penjelasan Po Leng-hoi. karena adik sepupu guru Kang ada di Lok-yang. Dia pernah . "Tadi ayah berkata bahwa Tong Hwie-yan datang ke Lok-yang untuk mencari ayah. kau pasti tahu. wajah Po Leng-hoi menjadi merah dan dia berkata: "Perkataan ayah terlalu jauh!" Kata-kata Po Tiong-ie memang sudah melantur terlalu jauh. Dulu kau boleh berkunjung ke rumah Kang. dia sering ke rumah keluarga Hie. kau mulai pikun waktu itu Hiat-kun baru berumur 10 tahun. bisa dikatakan dia adalah tamu Hie Tiong-gwee. tapi bagaimana cara mereka bisa kenal itu aku tahu. dan untuk mengetahui keadaan Kie Yan-gan dan muridnya. walaupun Tong Hwie-yan adalah temanku.Po Leng-hoi tertawa dan berkata: "Ayah." "Mungkin mereka cocok dan Kang Guan-yang yang pintar menjilat Hie Tiong-gwee." Po Leng-hoi tidak senang dengan penjelasan ayahnya dan dia berkata: "Ayah." "Mengapa Hie Tiong-gwee harus menjilat dia?" "Aku juga tidak mengerti. Aku sering pergi ke rumah Kang. anaknya pasti mengerti karena Hiat-kun sudah menjadi istri Hie Tiong-gwee. Po Tiong-ie tampak tidak senang dan dia berkata: "Hal mengenai keluarga Kang. tapi dia tidak ingin Po Tiong-ie tahu bahwa Kang Guan-yang adalah Supeknya. kau salah lagi. sekarang jangan berkunjung lagi ke rumah keluarga Hie!" Maksud ayahnya itu. aku sendiri melihat bagaimana sikap guru Kang menghadapi Hie Tionggwee. Po Leng-hoi tidak boleh mencari Hiat-kun lagi. lebih pantas dikatakan Hie Tiong-gwee yang menjilat guru Kang. dia seperti sikap ayah menghadapinya. karena itu dia tidak mengatakan apa-apa lagi. apakah ayah menceritakan semuanya?" "Kau kira ayahmu ini sudah pikun. tapi aku tidak akan menceritakannya.

hanya memberitahu bahwa aku kenal dengan Kie Yan-gan dan itu sudah 30 tahun yang lalu. matanya buta dan dadanya terluka . karena pekerjaanlah maka dia harus berurusan dengan orang pemerintahan. Dan dia memang sudah tahu.bertanya kepadaku. dia dapat menebak pun tidak apa-apa. sebelum pengawal itu pingsan. apakah dia cepat lupa? Atau dia menganggap Po Tiong-ie adalah tamunya sehingga dia merasa tidak enak untuk bertanya? Kata Po Tiong-ie lagi: "Untuk jiwa Tong Hwie-yan aku bisa mempercayainya." Kata Po Leng-hoi: "Dia belum pernah melihat ilmu silat Hwie-yan dan ilmu 'Awan mengalir lengan baju beterbangan'. aku memastikan buronan itu adalah murid Kie Yan-gan tapi aku tidak memberitahu kepada Tong Hwie-yan." Coh Thian-su merasa terkejut karena Tong Hwie-yan adalah orang yang sangat pintar. Waktu itu Aku sedang berada di ruang kerja dan Kie Yan-gan pun masuk ke dalam ruangan. sebenarnya aku ingin sekali tertawa karena Kie Yan-gan pemah datang ke tempatnya sambil membawa cucunya. Apabila tempat kerjanya kedatangan tamu asing. walaupun dia merasa curiga pun tidak apa-apa karena murid Kie Yan-gan sudah meninggal dan Kie Yan-gan pun menghilang." "Tapi walaupun begitu aku harus tetap hati-hati. tapi dia tidak akan menganggap mereka sebagai teman baik Dia hanya ingin tahu dan bertanya kepadaku karena merasa aneh. buronan itu sudah terluka di tujuh hingga delapan tempat. hanya saja waktu itu dia tidak tahu bahwa dia adalah Kie Yan-gan. apakah dia tidak bertanya? Dua masalah yang terjadi dalam waktu 3 tahun." Tanya Coh Thian-su: "Apakah murid Kie Yan-gan langsung mati? Apakah itu dilihat oleh pengawal istana?" "Tidak.

Siapa pun tahu. apakah dia benar-benar sudah mati?" Tanya Coh Thian-su. lukanya cukup parah. melihat cara bicaranya. apakah tenaga telapaknya seperti kepandaian 'Hun-hoan'?" "Ini sulit ditebak karena 'telapak Kim-kong' dari Siauw-lim dan 'tangan Liu-yang' dari keluarga Yang hampir mirip. "Benar. Coh Thian-su adalah orang yang sangat pintar. dan juga dalam jarak 5 meter dengan ringan mengibaskan tangannya dan melukai Hie Tiong-gwee." Coh Thian-su menambah cerita yang tidak dikatakan oleh Yu Yong "Berapa usia Hui-thian-sin-liong?" "Kurang lebih 24 hingga 25 tahun." "Ilmu silatnya begitu tinggi." "Ini hanya mirip saja. tapi hari ini aku melihat sendiri ilmu silat Hui-thian-sin-liong dan ada sedikit aneh. Kata Po Leng-hoi: ." Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Pepatah mengatakan 'tidak perlu menggambar ular yang ditambah kakinya'. "Apakah kau curiga dia "belum mati?" "Aku tidak berani bicara." "Dia pasti bukan murid Kie Yan-gan karena murid-muridnya 10 tahun yang lalu sudah menjadi buronan istana. mayat pun tidak diketemukan. karena dia masih takut pada satu hal. hanya cara memakai tenaga dalamnya tidak sama. walaupun dia bisa lari. anak berumur 14 hingga 15 tahun tidak akan jadi buronan istana." Kata Coh Thian-su. Coh Thian-su sudah mengerti. "Menurut Po Toako. dia tidak dapat bertahan dalam waktu 3 hari." "Apa yang aneh?" "Dia bisa menghancurkan 7 hingga 8 senjata rahasia berupa paku.oleh telapak tangan Siauw-um yang digunakan oleh salah satu pengawal. sebenarnya dia sudah tahu ini adalah ilmu 'Hun-hoan' hanya dia sendiri tidak ingin mempercayainya.

Bila dia masih hidup dia tidak akan tega membunuh cucu muridnya yang disukai oleh cucu perempuannya." "Apakah kau pernah bertemu dengannya?" "Benar. atau dia sendiri juga sudah mati?" Po Tiong-ie berkata sendiri: "Dia diserang oleh pengawal istana. Yang . Kedua." Dengan pelan Coh Thian-su berkata: "Kata orang-orang nama Hui-thian-sin-liong sudah tercemar." "Mengapa?" Tanya Coh Thian-su. dia menarik nafas dan berkata "Bila Hui-thian-sin-liong dan Kie Yan-gan mempunyai hubungan yang erat. apakah dia murid yang tidak terdaftar? Atau malah terdaftar semua akan membuat keadaan lebih kacau lagi. apakah dia bisa melindungi anaknya?" Tiba-tiba Po Tiong-ie seperti bola yang sudah kempes. mengapa tidak mengerti?" "Coba Toako jelaskan!" "Pertama."Ayah. siapa lagi yang sanggup? Kie Yan-gan paling sayang kepada cucu perempuannya tapi apakah dia masih hidup. apakah muridnya mempunyai anak laki-laki. tapi belum tentu dia seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa dia adalah penjahat yang sadis. kau dan Kie Yan-gan sudah puluhan tahun tidak ada hubungan. nama baiknya akan tercemar oleh Hui-thian-sin-liong. walaupun mempunyai anak laki-laki. bila dia mendapat ilmu langsung dari Kie Yan-gan. aku tidak tahu." "Mengapa kau tahu bahwa dia bukan orang seperti itu?" "Aku pernah mendengar kejahatannya dari orang lain tapi belum pernah mendengar dia membunuh orang dari golongan putih. kecuali Kie Yan-gan yang bisa mengalahkannya. bagaimana kau tahu bahwa Hui-thian-sin-liong bukan muridnya. "Kau adalah orang yang pintar. dia sendiri sudah tcrluka parah.

dia memanggil Hui-thian 'adik'. dan lainnya." "Aku pun demikian." . Ho Cing-kim adalah seorang Lo-hiap di dunia persilatan dan sangat terkenal. menusuk hingga buta ketua Li." "Kau bilang dia tidak pernah membunuh orang dari golongan putih? Belum tentu." "Kalau begitu Tuan Kiam-ta yang ayah hormati juga hormat kepada Hui-thian." Kata Coh Thian-su: "Hie Tiong-gwee juga adalah seorang pendekar dari Tiong-ciu. sebab mereka adalah orang-orang tidak lurus.dia lakukan adalah memotong telinga ketua Lui. Ho Cing-kim dipotong telinganya. nama Hie lebih besar dari Ho Cing-kim di dunia persilatan. dia mempunyai hati seorang pendekar." Kata Po Leng-hoi "Kau mempunyai bukti apa?" "Ayah. ada sedikit celah itu tidak aneh. paling sedikit tidak menganggap dia musuhnya. Walaupun tidak mengacaukan dunia persilatan tapi mereka lebih banyak melakukan kejahatan dari pada kebaikan." "Mengapa kau bisa tahu?" "Sebelum jadi saksi." Po Tiong-ie tampak terkejut dan bertanya: "Maksudmu Ho cing-kim dan Hie Tiong-gwee mirip? Hanya ingin nama baik? Mengapa kau bisa tahu?" "Aku tidak kenal dengan Ho Cing-kim. menurutmu apakah Tuan Kiam-ta mempunyai hati seorang pendekar?" "Aku kenal dengan dia. paling sedikit dia tidak menganggapnya sebagai seorang penjahat yang sadis." "Kalau begitu kau lebih percaya kepada Hui-thian bahwa dia adalah pesilat yang bersih?" "Paling sedikit aku tidak percaya bahwa dia adalah penjahat yang sadis. bahkan tidak tahu orangnya seperti apa dan kelakuannya seperti apa Tapi aku percaya bila dia memang pantas dijuluki sebagai Lo-hiap dari dunia persilatan. Hui-thian tidak akan memotong telingannya.

tidak mungkin ke Lok-yang hanya ingin melihat Bo-tan dan memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. sepertinya dia mempunyai hubungan yang erat dengan Hui-thian." Po Leng-hoi dengan terkejut bertanya: "Kau mau mencari siapa?" Dengan ringan Coh Thian-su berkata: ." Po Tiong-ie adalah orang yang berpengalaman. Coh Thian-su adalah seorang pendekar yang masih muda. malam ini aku akan mencari teman dan tidak akan pulang ke tempatmu. apakah anakmu bisa menemaniku?" "Silahkan." "Apakah kau akan ke rumah Hie lagi?" Coh Thian-su mengangguk: "Benar. karena itu walaupun Po Tiong-ie curiga tapi dia tidak bertanya lagi." "Apa yang ayah pikirkan?" "Aku ingin Hui-thian adalah orang yang seperti kalian duga. kau mau mencari siapa?" "Dia teman yang masih muda. anakmu pun mengenalnya." Dalam hati Po Tiong-ie berpikir." Kata Coh Thian-su: "Toako. dia sangat memperhatikan Hui-thian juga masalah Kie Yan-gan. Po Leng-hoi bertanya: "Di mana tempat tinggal temanmu?" "Ke rumah keluarga Hie." "Apakah kau mau mencari Kwee Goan-cay?" Coh Thian-su menggelengkan kepala: "Bukan. 'Teman baik Leng-hoi adalah Kwee Goan-cay. keluarga Coh adalah keluarga pesilat. Tuan Kiam-ta tidak akan memanggil seorang penjahat dengan sebutan 'adik'. orang itu adalah murid kesayangan Hie Tionggwee.Dalam hati Po Tiong-ie berpikir: "Benar juga. apakah Coh ingin mencari tahu rahasia antara Hie dan Huithian. tapi menyelidiki rahasia orang lain adalah hal yang pantang di dunia persilatan. Po Leng-hoi dan Coh Thian-su segera pergi. lebih baik Kwee Goan-cay tidak tahu kita akan ke sana.

" "Benar. dia tertawa dan berkata: "Apakah kau mengira aku tertarik dengan kecantikan Hiat-kun?" Wajah Po Leng-hoi menjadi merah: "Coh Tayhiap." Po Leng-hoi teringat pada saat Hie Tiong-gwee terluka. Kata Coh Thian-su lagi "Tadi kau pun sudah melihat bahwa keluarga Hie tidak menganggap dia adalah istri Hie Tiong-gwee.. Nona Hie malah memarahi dan menghinanya." Coh Thian-su langsung menyambung. Hiat-kun mana bisa tahan hidup seperti itu. karena itu Po Leng-hoi marah dan berkata: "Benar."Mencari teman baikmu yang satu lagi" "Yang kau maksud adalah. Kang Hiat-kun. kau jangan bercanda terus. mengapa malam-malam begini harus secara sembunyi-sembunyi bertemu dengan Hiat-kun? Sepertinya Coh Thian-su tahu pikiran Po Leng-hoi. tapi dia belum bersembahyang bukan? Apa kau takut dicurigai oleh orang-orang?" Po Leng-hoi tidak menjawab. paling tidak aku harus menengoknya. tapi Coh Thian-su bukan saudara Hiat-kun juga bukan temannya. "Mencari pengantin perempuan. aku akan membantumu . aku tidak mau dia dihina oleh orang lain lebih baik tinggalkan saja keluarga Hie. keluarga Hie tidak ada yang mempedulikan Hiat-kun.." "Apa? Kau mau mencari Hiat-kun?" Po 1 xng-hoi melotot seperti tidak percaya dengan pendengaran telinganya Coh Thian-su tertawa: "Apakah tidak boleh?" "Sekarang dia adalah istri Hie Tiong-gwee." Po Leng-hoi baru ingat bila dia memperhatikan Hiat-kun sepertinya masih pantas.

baru kau akan mengerti. 'Mengapa Coh Thian-su begitu misterius?" Coh Thian-su berkata: "Tadinya aku ingin meminta bantuan kepada gadis berbaju hitam. tapi sekarang dia dan Hui-thian sudah meninggalkan Lokyang. apakah kau kenal dengannya?" "Tidak. ini" "Kau akan segera mengerti separuhnya. apakah menurutmu seperti itu?" "Sepertinya benar.." "Kau ingin bantu mencarinya." Dan dia menambahkan lagi..mengajak Hiat-kun keluar." "Hanya separuh?" "Benar." "Mereka saling bermusuhan." Po Leng-hoi bertanya lagi: "Hari ini Hui-thian membuat kekacauan di keluarga Hie dan bertarung dengan Hiat-kun. kau tidak kenal dengannya. tapi dia sangat membenci Hiat-kun. "Dia benci kepada Hiat-kun. Gadis berbaju hitam tidak bertarung dengan Hiatkun. apakah kau bisa mencarinya untuk membantu mencari Hiat-kun?" "Asal aku bertemu dengannya. tapi yakin bisa membuatnya tidak membenci Hiatkun." "Makin dibicarakan aku semakin bingung. begitu pun sebaliknya. dia tidak akan bermusuhan dengan Hiat-kun. sekarang bila kita bertemu dengan Hiat-kun. Begitu juga dengan gadis berbaju hitam" ." "Apakah gadis itu adalah cucu Kie Yan-gan?" "Sepertinya begitu. semua tahu bahwa Hui-thian cinta kepada Hiat-kun." Di mulut tidak curiga tapi hatinya bertanya-tanya.. paling sedikit separahnya. aku hanya bisa meminta bantuanmu.ini.

pengalaman hidupnya masih sedikit tapi banyak hal yang dia kenang.. harus seperti itu. kakeknya.. malah kadang-kadang juga . Gadis berbaju hitam itu bernama Kie Su-giok. Paman Ting berumur hampir sama dengan kakeknya. pikirannya pun berlari lebih cepat lagi. Karena dia memikirkan masa lalu. dia adalah cucu perempuan dari Kie Yan-gan. Dan kudanya masih berlari dengan cepat Kuda berlari dengan cepat. yaitu 19 tahun. Darah Hui-thian sudah berhenti mengalir. (tahun baru) Keluarganya yang hanya ada 4 orang. semua yang diperkirakan oleh Coh Thian-su adalah benar. Sekarang mereka sedang berada di luar kota Lok-yang. Seperti hal ini. umurnya hampir sama dengan Hiat-kun. mereka sering sama-sama minum arak Tapi dia tidak menyukai Paman Ting." Benar. Cara Kie Su-giok menunggang kuda sangat ahli." Coh Thian-su tertawa: "Benar. entah lelah atau hatinya sedih dia tertidur di atas kuda. yang satu lagi mundur ke belakang. Tapi yang satu berlari ke arah depan. tapi kakeknya tidak pernah menganggapnya sebagai pelayan. Paman Ting dan Ong Toanio. satu tangan memegang pinggang Hui-thian agar tidak terjatuh dari kuda. dia adalah pelayan di rumah mereka. Tahun Baru Membawa Petaka Sepuluh tahun yang lalu malam sebelum Imlek. semua tidak salah. Walaupun dia masih muda.Po Leng-hoi tertawa kecut "Kalau begitu aku harus cepat-cepat menculik pengantin perempuan orang lain keluar dari rumahnya. B.

juga pengasuhnya. Dia hanya mengatakan bahwa ibunya sangat cantik. hanya entah ke mana dan ada di mana. Kakek mengatakan bahwa ibunya tidak pantas menjadi ibu. Paman Ting jarang bicara. kakek menjadi marah. wajahnya pun menyeramkan. Mengapa ibunya meninggalkannya? Dimana sekarang dia berada? Kakeknya pun tidak mau memberitahu. tapi dia tahu bahwa ibunya dijuluki 'Perempuan Berbakat'. Dia menyukai Ong Toanio. Anggota keluarganya memang sedikit tapi pada saat tahun baru suasananya tetap ramai. Rumah sudah dicat. Dia tidak ingat lagi kepada ibunya. Sekarang ternyata Kie Su-giok tidak bisa membuat puisi. Ong Toanio sudah mengurusnya. Semenjak dia lahir. hanya satu yang tidak disukai dari dia yaitu bila ditanya mengenai ibunya. Kakek sangat sayang kepadanya. Ong Toanio adalah inang pengasuh ibunya. dan mendongengkan cerita-cerita. begitu pula dengan Ong Toanio. tapi kalau ditanya mengenai ibunya. Apakah puisinyanya bagus? Ong Toanio tidak tahu. serta membuatkan dia baju sulaman. dia juga tidak tahu apakah puisi ibunya bagus? Dia hanya ingin tahu ibunya di mana? Tapi sayang tidak ada yang mau memberitahu. karena itu dia tidak berani bertanya lagi Ong Toanio tidak marah bila ditanya. Ong Toanio tidak pernah mau memjawab dan menceritakannya. tapi dia tidak mau memberitahu hal yang menyangkut ibunya. memasak. kakek menyuruh menganggap ibunya sudah meninggal. dia tahu ibunya masih ada. pandai menyulam.takut kepadanya. di atas meja kakek . pandai membuat puisi. Karena pada saat ibunya pergi dia baru berumur 3 tahun. Ayahnya sudah meninggal sebelum dia dilahirkan. Apa artinya 'Perempuan berbakat'? Ong Toanio tidak tahu.

hal itu yang membuat dia tidak mengerti. Siapa yang ditunggu kakeknya? Dia tahu kakek sedang menunggu muridnya. "Malam menjelang tabiin baru Imlek menunggu keluarga yang datang dari jauh. seperti tahun-tahun sebelumnya. yang belum dikenalnya. . orang yang ditunggu pasti bukan ibunya. Tahun itu dia berumur 9 tahun. Malam menjelang tahun baru. "Setahun penuh sudah akan berlalu Tapi orang yang ditunggu." Mungkin maksud kakek seperti itu. pada umur 7 tahun dia mulai sekolah. orang yang sudah meninggal tidak akan pulang. tahun ini akan lebih dimengerti olehnya. dia boleh memasang petasan. dan kakeknya mengijinkan dia tidur lebih malam. Dia mengerti arti 2 baris puisi itu. tapi bukan menemani kakek 'jaga tahun' sampai pagi. umur 8 tahun kakeknya mengajarkan 300 puisi dinasti Tang. Tapi mengapa kakeknya selalu niembacakan puisi itu. Wajah Paman Ting pun berseri-seri. setelah malam menjelang tahun baru ini dia akan berumur 10 tahun. Halhal yang tidak dia mengerti tahun lalu. Su-giok lebih senang lagi karena pada saat tahun baru. Supek Wie. teman-teman kakeknya datang untuk 'jaga tahun'. Ketika dia bertanya apakah yang dimaksud oleh kakek adalah ibunya? Kakek tampak marah." Pada umur 6 tahun dia sudah mulai mengenal huruf. Tapi siapa yang ditunggu olehnya? Ayah sudah meninggal sebelum dia lahir.ditambah 2 pot bunga Sui-cian di ruang tamu masih ada pot besar dan di dalamnya ada bunga Bwe. dia benar-benar bisa "begadang" sampai pagi-Kakek minum arak terus seperti malam menjelang tahun baru di tahun-tahun lalu. Teringat ada sebuah puisi yang terbaca. belum pulang juga. Tapi tahun ini.

Kakek sering bercerita mengenai Supeknya. dan juga senang mendengar kakeknya mendongeng tentang 7 orang dewi. Apalagi ada banyak istilah dunia persilatan yang tidak dimengerti olehnya. . Dia tidak ingin tahu mengenai dendam dan saling bunuh di dunia persilatan. sebenarnya dia tidak ingin mendengar percakapan mereka. dia hanya mendengar kata 'tuan muda'. mengapa kakeknya sangat sayang kepada muridnya? Sedangkan kepada anaknya sama sekali tidak rindu Kakek tidak pernah bercerita tentang ibunya juga tentang ayahnya karena itu dia lebih kenal dengan Supek yang belum pernah ditemui. tapi dia tidak suka mendengar hal tentang dunia persilatan. tapi pada saat belajar ilmu silat dia sangat serius dan gesit. kakek sedang minum-minum dengan Paman Ting. Tapi dia senang mendengar cerita tentang Supek pada saat masih kecil. senang melihat Ong Toanio menyulam. tapi tetap saja terdengar. dia sedang bermain di halaman rumah. Supek sudah belajar ilmu silat kepada kakeknya. Dia tahu yang dimaksud 'tuan muda' oleh Paman Ting adalah ayahnya. dia mengetahuinya dari cerita antara kakek dan Paman Ting. Tahun ini kakek bercerita lebih banyak lagi. Yang membuatnya tidak mengerti. hanya dua kata itu. Kakek tetap bercerita walau dia belum pernah bertemu dengan Supeknya. Kakek bercerita kepada Paman Ting dan dia. dia pun langsung bersembunyi di halaman. Apakah karena ayahnya sudah meninggal dan kakek tidak ingin terus bersedih hingga tidak mau bercerita? Ada suatu kali. Paman Ting terkejut. Cerita awal tidak terdengar olehnya. Pada umur 7 tahun. Supek sangat nakal. Setelah mendengar dua kata ini. Paman Wie adalah pahlawan terkenal di dunia persilatan. Umur yang lebih kecil dari dia sekarang. disusul oleh suara cangkir yang dibanting oleh kakeknya hingga pecah. Dia menyukai ketenangan.

mana mungkin kakek marah kepada Paman Ting. pada saat makan malam mata kakek masih merah. "Orang yang disayang oleh kakek adalah Supek atau aku?" Dia sudah sering mendengar Supek belajar ilmu silat. Waktu itu kakek sedang bercerita tentang murid tersayangnya kepada Paman Ting. . selama ini kakeknya sangat baik kepada Paman Ting dan menganggapnya sebagai teman lama. Tapi dia tahu. Akhirnya dia tahu juga bahwa kakeknya marah kepada ayahnya. Malam menjelang tahun baru. Selama 19 tahun belum pernah dia mendengar cerita tentang ayahnya. itu memang pantas dan aku tidak akan sedih Lebih-lebih tidak akan membalaskan dendamnya.Mula-mula dia menyangka kakek marah kepada Paman Ting." Kakek membanting cangkirnya dan sangat marah. membuat dia cemburu kepada Supeknya yang belum pernah dia kenal. Waktu itu dia masih kecil. dia menjadi bosan dan mengantuk kemudian tertidur. dia merasa aneh. Suara kakek sudah serak. Kata-kata kakek pada saat itu 'kalau benar-benar mati'. Apakah ayahnya benar-benar sudah meninggal? Dia kembali berpikir pada malam menjelang tahun baru Imlek. "Anak durhaka! Kalau dia benar-benar mati. Paman Ting tidak berani bicara lagi Dia pun langsung ke kamar. mnegapa masih ada orang yang berada di jalan? Tapi suara tongkat terdengar sangat cepat dan tergesa-gesa menuju pintu rumahnya. tidak bisa berpikir mengapa kakek bisa seperti itu. tapi sebenarnya kakek sangat sedih. Tiba-tiba terdengar ada suara tongkat. hatinya timbul satu pertanyaan lagi. sekarang sudah hampir dini hari. walaupun kakek bicara seperti itu. Sekarang bila dipikir-pikir lagi. apakah ayahnya belum meninggal? Sekarang dia sudah berumur 19 tahun.

Tidak perlu diberitahu oleh kakek.Terdengar suara pintu diketuk. Dia menuntun Supeknya masuk. jalannya pincang dan menggunakan tongkat. dia sudah tahu siapa yang sudah datang. dalam mimpi pun dia tidak menyangka. Kong-ji. bajunya compang camping. ini aku Seng-kong sudah pulang. Pada malam menjelang tahun baru Imlek. Dia terkejut. yang berada di depan paman gurunya adalah seorang remaja berusia antara 14 hingga 15 tahun. Terdengar suara cangkir arak milik kakek terjatuh dan pecah persis seperti yang dilihatnya saat itu. Tapi." Suaranya serak membuat hati orang bergetar. wajahnya penuh dengan darah.. "Siapa?" "Guru. pahlawan yang sering diceritakan kakek adalah orang seperti ini? Dengan seksama dia mencoba melihat. tahun ini dia ternyata pulang. Yang pertama masuk bukan dia seorang saja. tapi dia langsung berteriak. akhirnya kaupulangi" Kakek berdiri dan keluar ke halaman rumah. seperti orang yang terbangun dari tidur. Kakek sebelum membuka pintu. Paman guru tampak kurus. . Dia tahu orang itu adalah orang yang tiap tahun ditunggu oleh kakeknya selama ini. sudah masuk sendiri. "Oh. tapi tangan kakek gemetar dan cangkirnya terjatuh. Kali ini bukan karena dilempar. Supek yang tidak pernah dikenalnya. di wajah paman gurunya ada 2 lubang.. Mereka ternyata berdua. halaman tampak terang seperti siang karena lampu digantung di atas genting. di kelopak matanya ternyata tidak ada biji matanya.

bila diajak bermain terus Wie Thian-hoan akan marah. seperti tidak bisa diangkat lagi." "Bicaralah. Tapi Wie Thian-hoan tidak senang bermain." "Aku berharap Guru mau melatih anak ini menjadi orang yang berguna. dia mendengar percakapan antara kakek dan Supek. budimu belum kubalas. pemuda beralis tebal dan bermata besar pun ikut berlutut. kakek dan kakaknya sangat senang. Tapi entah sejak kapan. kepala Supek ditundukkan." "Anakmu adalah cucuku. aku menjadi tidak enak hati." Setelah itu Supek meninggal.Dengan gemetar kakek bertanya: "Kong-ji. dan dia senang bermain dengannya. dia hanya suka dengan ilmu silat. nanti anakku akan menceritakannya. rasa cemburunya semakin lama semakin berkurang. Bila dia rajin latihan. aku pasti mengabulkannya. dia sekarang mau bersama-sama berlatih silat. sekarang harus merepotkanmu lagi.. budi Anda belum terbalas. bila dia .. "Kong-ji. Anehnya dulu bila kata-kata dari kakeknya dia tidak pernah mau mendengar tapi kata-kata dari kakak Wie selalu diturutinya." Kakek memeluk Supek. walau hanya sepotong-potong. Awalnya dia cemburu kepada anak itu. tapi sekarang aku ada permohonan... kau mengapa?" Supeknya berlutut. mengenai masalahku. Sifatnya sangat keras dia tidak ingin hidup dengan tubuh cacat dan dengan ilmu silat yang sudah punah. aku minta maaf tentang satu hal. dia memakai tenaga terakhirnya yang tersisa memutuskan nadi-nadinya.. Semenjak itu dia mempunyai seorang kakak yang mempunyai she berbeda. apa yang telah terjadi?" "Guru. tapi kau. Guru.kau. nama anak dari Supek adalah Wie Thian-hoan. karena kakek lebih sayang kepadanya. tidak perlu sungkan. "Guru..

Kie Su-giok bertanya: "Kakak Wie. Saat itu dia baru berumur 16 tahun. Dia tahu Wie Thian-hoan mencari orang yang membunuh ayahnya. dia mulai diberitahu mengenai masalah orang dewasa." "Waktu aku melihatmu muntah darah. menangkap burung dan memetik bunga yang dia sukai. wajahnya menjadi merah. Wie Thian-hoan akan diam sambil melihat awan putih. bersiap memapah Wie Thian-hoan tapi Wie Thian-hoan sudah turun sendiri.berlatih dengan bagus. Sekarang dia baru tahu. Bila tidak Wie Thian-hoan dengan segera akan membunuh Hie Tiong-gwee dengan segala keahliannya. hanya takut bila Wie Thian-hoan tidak mau bicara dengannya. Dia juga tahu bahwa Hie Tiong-gwee bukan orang yang membunuh ayah Wie Thian-hoan. Dia mendengar dari tempat persembunyiannya. kemudian dia pergi lagi. Lima tahun yang lalu Wie Thian-hoan meninggalkan rumahnya. Sebelum pergi kakek sempat bicara 4 mata dengannya. mereka beristirahat di hutan. lebih tahu dari 3 tahun yang lalu. matanya terlihat sangat sedih. Tapi Wie Thian-hoan sangat ingin tahu mengenai Hie Tiong-gwee. 2 tahun kemudian baru pulang. tidak apa-apa. aku sangat terkejut. Kakak Wie akan menemaninya bermain. Dia menghentikan pikirannya karena malu. Dia menghentikan kuda. Dia tidak takut dimarahi oleh Wie Thian-hoan. benarkah kau tidak terluka dalam?" . bagaimana dengan lukamu?" Wie Thian-hoan tertawa: "Hanya luka luar. Pernah dia menanyakan alasannya tapi dia tidak menjawab. dia pun tahu pertarungan antara Wie Thian-hoan dan Hie Tiong-gwee. Karena itu dia pulang hanya untuk bertanya mengenai Hie Tiong-gwee kepada kakeknya. Dia melihat bila sedang asyik bermain. Bila teringat kepada perbuatannya. Wie Thian-hoan sudah siuman dari pingsannya. Wie Thian-hoan tinggal hanya 10 hari.

mungkin dia hanya membohongi dirinya sendiri." Setelah mendengar kata-kata Wie Thian-hoan. Begitu Wie Thian-hoan memandangnya.". Terima kasih kau mau memberitahuku. kalau ada keluarga Hie yang datang. dia adalah teman baikku. aku tidak akan khawatir lagi." Kata Wie Thian-hoan: "Adik. dengan senang Kie Su-giok berkata: "Kalau memang bukan demi dirinya kau mau bunuh diri. setelah muntah darah keadaanku lebih enak. demi seorang perempuan yang mengingkari janji. Kie Su-giok tidak berani bicara apa-apa lagi. Tapi mengapa aku melakukannya. walaupun aku bukan mau bunuh diri." "Tenanglah. aku tidak ingin dia menikah dengan Hie Tiong-gwee. 'Aku bersalah kepadamu." Wie Thian-hoan merasa tidak enak. kau sangat baik kepadaku. tapi hatiku sudah kuserahkan pada Hiat-kun. jangan tanya alasannya. tolong berjaga-jaga. dia hanya memandangi Wie Thian-hoan dengan khawatir. waktu itu aku menusuk dadaku sendiri. aku akan memberitahu sesuatu padamu. dengan pelan dia mendekati Kie Su-giok dan berkata: "Adik. kau merusak tubuh sendiri. kecuali Tuan Kiam-ta. dalam hati dia berpikir."Waktu itu hatiku tidak enak." Kie Su-giok menarik nafas: "Kakak. yang lain tidak jadi masalah bagiku." . apakah itu pantas?" "Dia bukan perempuan yang mengingkari janji. Wie Thian-hoan merasa bersalah." "Itu malah membuatku lebih khawatir lagi. mengapa kau begitu mencintai dia?" "Adik. bukan ingin bunuh diri. karena dia tidak pernah berjanji apa pun. Apakah benar demikian? Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. kau tidak mengerti. usirlah mereka Aku ingin menenangkan diri sebentar.

Wie Thian-hoan duduk bersila dan memejamkan mata.. aku tidak perlu khawatir lagi." Melihat persahabatan mereka. aku juga percaya demi dia kau akan mempertaruhkan nyawamu. dari percakapan mereka. seharusnya masalah sudah berakhir sampai di sini. tidak lama kemudian terlihat di atas kepalanya keluar asap putih seperti uap panas. aku tidak berani. Dia hanya mendengar kakek menarik nafas dan berkata: "Aku tahu kau pasti ingin melindungi adikmu." Kata Wie Thian-hoan. dia baru tahu nama Kang Hiat-kun." dia tidak melanjutkan kata-katanya. dia mendengar percakapan antara kakek dan Kakak Wienya. lapi balas dendamku belum selesai. Melihat itu dengan gembira Kie Su-giok berkata: "Toako sekarang sudah bisa Tay-ceng-khi-kang. kali ini mereka bertemu kembali dan tidak disengaja. dia segera mengatur nafasnya. Pada malam dia akan pergi." Meski dia sudah tidak khawatir tapi malah beban dalam pikiran Kie Su-giok malah bertambah berat. Kakek terdiam dan tiba-tiba bertanya: "Kau sudah pergi selama 2 tahun. apakah sudah menemukan .. Nona Kang adalah 'teman baik' dari kecil. sekarang keinginannya sudah tercapai hutang budi atau balas budi. aku mengerti maksudmu. tapi kakek juga tahu ini hanya cara Wie Thian-hoan menolak 'kebaikan' kakek. lapi yang aku maksud bukan seperti itu. tapi apakah setelah sembuh dia akan pulang? Dia berkata hanya ingin bertemu satu kali lagi dengan Nona Kang. Apakah Kakak Wie bisa mengatasi beban pikirannya?" Ingatan 3 tahun lalu yang terputus sekarang sudah menyambung kembali. Wie Thian-hoan hanya tinggal setengah bulan kemudian pergi lagi. tidak seperti persahabatan 'biasa'. "Lukanya memang sudah tidak apa-apa. "Kakek.

dia seumur dengan adik. tahun itu kau sudah berumur 14 hingga 15 tahun.paman Kang?" "Tidak ada berita mengenai Paman Kang. dalam waktu 10 hari itu ayah telah memberitahu aku semua yang terjadi dalam hidup ayah. karena sudah dibalas. semua diberitahu oleh ayah. bukan tidak harus dibalas." Kata kakek lagi meneruskan: "Ayahmu dan Kang Ci-hoan adalah sahabat dan tetangga dekat. kau harus jujur. Mengenai Paman Kang. begitu terjadi musibah. keluarga Kang pasti akan terkait. apalagi bila Paman Kang berhutang budi kepada ayahmu. Terdengar kakek berkata lagi: ." Wie Thian-hoan berkata: "Aku mengerti. karena kau adalah cucuku. Apakah kalian sudah dijodohkan sejak kecil?" "Tidak." "Ada satu hal yang ingin kutanyakan." "Katanya dia mempunyai seorang putri. ayah tidak membicarakan hal lainnya. mengapa kau tidak tahu?" "Karena terjadi peristiwa itu. siapa namanya dan berapa usianya?" "Dia bernama Kang Hiat-kun. pada saat ayah dan aku dalam perjalanan kemari. kau adalah anak yang tahu balas budi. budi siapa yang belum dibalas. tapi tidak menyuruhku membalasnya." Kakek tersenyum: "Tidak perlu tegang." Su-giok sebenarnya tidak mengerti maksud kakek. ayah menyuruhku mengingat budinya. Ayahmu juga pasti tahu." Kata kakek: "Benar. Waktu itu bila kau sudah dijodohkan kau pasti akan tahu. Ayahmu tidak menyuruh membalas budi kepada Kang.

"Hie Tiong-gwee terluka parah dan dihina oleh orang-orang. kau tidak perlu khawatir. apakah dia masih bisa menikah dengan Hiat-kun?" Belum habis berpikir. "Adik. bawalah kabar baik tentang Nona Kang yang sudah bersuamikan orang baik. Tapi jujur bicara. apakah kau menyukai putri Paman Kang? Walaupun kalian tidak dijodohkan tapi bila kau suka kepadanya aku akan berusaha mencari mereka. pergilah! Aku harap bila lain kali kau nulang. aku sudah katakan aku hanya terluka sedikit. ." Mulut masih bicara. dia tertawa kecut. "Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee tapi belum sempat sembahyang sudah dibuat kacau oleh Kakak Wie. tapi tenaganya sudah mendorong pohon di depannya." Kata kakek." "Kau harus pulang lebih awal. juga berharap dia bisa mendapat suami yang baik. perasaanku kepadanya seperti kepada seorang adik saja. pernikahan tidak boleh dipaksakan. Kakek tidak tahu aku keluar. bila bisa pulang lebih awal itu lebih baik. "Kau lihat. "Urusanmu di sini sudah selesai. dengan begitu aku akan merasa tenang. supaya cita-citamu tercapai. Aku tidak boleh mementingkan kepentingan cucuku saja." "Kakek jangan lupa."Hoan-ji. waktu itu putri Paman Kang belum berusia 10 tahun. dan patah." "Aku mengerti maksudmu. ilmu silatku sudah pulih kembali. Kie Su-giok teringat kepada percakapan kakek dan Kakak Wie." Kie Su-giok sangat senang dan berkata: "Mari kita pulang. kau tidak perlu malu. aku memang ingin bertemu dengannya. kakek juga khawatir padamu." Kata Wie Thian-hoan. Wie Thian-hoan sudah berdiri dan membuka mata. Apakah ini yang disebut keluarga yang baik?" Dia kasihan kepada Hiat-kun.

" "Adik." "Bukankah dia sudah terluka?" "Masih ada satu hal yang belum aku cari tahu dengan jelas. tapi mungkin aku bisa bertemu dengannya. kau mau ke mana?" "Aku akan ke rumah Hie. karena itu kakek berkata bahwa Hie Tiong-gwee bukan orang yang membunuh ayahmu. Jarak antara Huang-ho dan rumahmu sangat jauh. kau ingin tahu pada saat keluargamu diserang oleh kuku garuda (pasukan pemerintah). dia tidak percaya dengari kata-katanya. aku tidak bohong. jangan pedulikan diriku." "Bila kau tidak pulang." "Kau harus percaya kepadaku. dia berkata: "Kau tidak tega meninggalkan Nona Kang bukan?" "Kali ini aku ke sana bukan demi dia. apakah kau ingat sewaktu aku pulang. Kie Su-giok terdiam. aku betul-betul ada keperluan penting di sana." "Kau jangan lupa. kau pulang dulu. "Ada perlu apa kau ke sana? Apa aku boleh tahu?" "Ini ada hubungannya dengan Hie Tiong-gwee. Wie Thian-hoan merasa bersalah dan berkata: "Adik." Kata Wie Thian-hoan. aku pernah bertanya kepada kakek mengenai Hie Tiong-gwee?" "Aku ingat.jadi kau juga harus pulang. "Bahwa Kau juga cemburu kepada memukulnya hingga terluka parah." Hie Tiong-gwee dan . Nona Kang sudah berumur 19 tahun bukan adik kecilmu lagi. Hie Tiong-gwee berada di mana? Kakek memberitahumu bahwa waktu itu Hie Tiong-gwee berada di dekat Huang-ho." Wajah Kie Su-giok seperti tertutup awan hitam." Sebenarnya masih ada lagi yang ingin dia katakan.

" Kata Wie Thian-hoan. Di dunia persilatan jarang ada orang yang mau mengakui dirinya kalah. "Kau salah. membasmi Huang-ho-sam-kui juga peristiwa besar. kau jangan lupa. orang pintar seperti kakekmu pun bisa kena tipu dayanya." Kie Su-giok baru tahu dan berkata: "Pantas saja sejak pertarungan di Siong-san. "Mengapa Wie Thian-hoan bisa tahu apa yang aku sedang pikirkan?" "Hie Tiong-gwee adalah orang yang licik. orang-orang pasti akan percaya. mengapa hari ini kau tidak membunuhnya?" . 3 penjahat itu mengatakan seperti itu. Dalam waktu 3 tahun ini kau berusaha mencari tahu hal yang sebenarnya. karena mereka kalah jadi mereka harus tunduk kepada Hie Tiong-gwee. 3 tahun kemudian kau baru meneruskan pertarungan ini. dia menyuruh Huang-ho-sam-kui mengeluarkan kabar bahwa dia sendiri yang bertarung melawan mereka. sebenarnya pada waktu itu Hie Tionggwee berada di mana?" "Waktu keluargaku mendapat musibah." "Benar. aku pun baru tahu peristiwa yang sebenarnya " "Kau tahu Hie Tiong-gwee adalah musuhmu. apalagi waktu itu nama Hie Tiong-gwee sedang naik daun." "Tapi kakek sudah mencari tahu. dia dan Huang-ho-sam-kui adalah teman baik. Waktu itu tidak ada saksi.Tapi hal itu tidak dia katakan. mana mungkin dipalsukan?" Kata Wie Thian-hoan: "Sebenarnya sangat mudah. dia tidak sedang membasmi Tluang-ho-sam-kui' (3 penjahat sungai Huang Hc)." "Maksudmu?" "Mengapa sepertinya kau tidak berkonsentrasi?" "Kau bilang aku salah. Kie Su-giok terkejut dan berpikir.

kau harus percaya bahwa aku tidak berbohong kepadamu. Hal ini hanya bisa dilakukan olehku sendiri. tapi apakah dia mau membantu? Tiba-tiba dia baru tahu bahwa dia bukan hanya menylidiki Hie Tiong-gwee ke rumahnya. Bila bukan karena Kwee Goan-cay.iin ia dan yang lainnya ada di sini. mungkin dia tidak bisa masuk ke kamar pengantin ini. apakah dia sudah menjadi Nyonya Hie? Hiat-kun pun tidak mengerti hukumnya juga tidak tahu aturan-aturan yang berlaku. Hanya ada pengantin perempuan yang belum bersembahyang. Hiat-kun tidak tahu. Harus melihat kesempatan yang tepat. Hari ini Tuan Ki. Wie Thian-hoan segera mendatangi rumah Hie. dikatakan susah juga tidak. aku akan jadi orang jahat dan dibenci 0l6h dunia persilatan. tapi dalam hati dia mempunyai pemikiran lain. Karena itu aku ingin mencari tahu." Terpaksa Kie Su-giok mengiyakan. bila aku membunuhnya. hatinya sangat gundah. apakah dia takut dicurigai atau sedang mengurus gurunya. Tapi Kwee Goan-cay juga tidak menengoknya."Aku hanya tahu dia tidak ada di dekat Huang-ho waktu itu. Dia hanya merasa keadaan ini sangat lucu. Ada seorang pelayan yang memapahnya masuk ke kamar pengantin. masalahnya ini kelihatannya harus meminta bantuan Hiatkun. hanya ada sepasang lilin yang sedang menyala. Aku sudah memberitahumu. maka dari itu kau pulang saja dulu. Di kamar pengantin tidak ada orang." "Apakah sangat sulit untuk mencari bukti?" "Dikatakan mudah juga tidak. dia adalah orang yang memakai topeng. Apakah dia musuhku? Aku belum tahu pasti tapi aku merasa pada saat keluargaku mendapat musibah. dia takut melukai perasaan Nona Hie. Di kamar pengantin. tidak ada pengantin laki-laki. . Bagaimana dengan luka pengantin laki-laki? Tidak ada yang memberitahu dan dia sendiri pun tidak ingin tahu.

masih terbayang di matanya. tapi mimpi buruk ini bukan untuk pertama kalinya. Wie Thian-hoan tumbuh besar di dalam keluarga Kang. dia sudah menganggap rumah Kang seperti rumahnya sendiri. Wie Thian-hoan paling senang bila melihatnya tertawa. Darah bercipratan di aula." Dia tidak menyalahkan nasib. Bayangan Wie Thian-hoan berada di pelupuk matanya bergoyang-goyang kemudian berubah menjadi anak berusia antara. tangannya masih berbau darah Wie Thian-hoan. selama 4 tahun 11 bulan. Hati yang ringan tiba-tiba menjadi berat. Mereka dari kecil seperti adik kakak. Bila Wie Thian-hoan terluka demi Hiat-kun. dia tidak bisa tertawa. Sekarang karena Wie Thian-hoan. 1 tahun pun tidak ada 1 bulan. lebih dahsyat dari sekarang. Wie Thian-hoan lebih tua 5 tahun darinya. Wie Thian-hoan tinggal di rumahnya. Walaupun sekarang tangannya sudah bersih tapi Hiat-kun merasa Wie Thian-hoan pada saat melukai dirinya sendiri seperti dia yang melukainya. dia berada di rumah Kang. anaknya dititipkan kepada ayah Hiat-kun. mengapa aku tidak memikirkan pada Hie Tiong-gwee yang terluka parah. dia hanya merasa lucu.? Ini adalah mimpi buruk. Mimpi buruk 10 tahun yang lalu. berapa lama dia tinggal di rumah bisa dihitung dengan jari. dia ingin tertawa tapi tawanya tidak bisa keluar. hubungan mereka sangat dekat. Bila ayahnya pulang dia baru pulang ke rumahnya sendiri. dia senang tertawa. . "Aneh. 14 atau 15 tahun. Mereka telah tumbuh bersama. apakah demikian juga dengan Hie Tiong-gwee. Sewaktu dia masih kecil. Ayah Wie sering pergi."Mungkin hanya aku yang menjadi pengantin seperti ini." Sekarang dia baru ingat 'pengantin laki-laki yang malang' itu.

sayangnya dia punya banyak uang.Setelah umur Hiat-kun agak besar. Dia ingat waktu itu untuk pertama kalinya dia mendengar nama Hie Tiong-gwee. dia baru menjemput Thian-hoan untuk pulang. karena Wie Thian-hoan pun seperti dirinya tidak jelas. yang bernama Hie Tiong-gwee. Paman memberi tahu bahwa dia sekarang berteman baik dengan Pendekar Tiong-ciu. percakapan antara Paman Wie maksud paman Wie. "Biasanya kau paling tidak suka berteman dengan yang kau katakan 'pendekar' karena mereka hanya ingin menjaga nama baik saja. karena itu dia sering pergi untuk mencari teman. dia benar-benar pendekar yang tidak mementingkan uang." Dia pun pernah bertanya kepada Thian-hoan. tidak mengerti kata-kata ini. juga tidak berani bertanya. Dia lebih miskin daripada orang kaya. . Ayah pernah bercanda dengan Paman Wie. katanya ayahnya mempunyai banyak teman di luar. Sesudah Paman Wie makan malam bersama. Paman Wie sesudah minum banyak arak baru bercerita tentang Pendekar Tiong-ciu itu. "Paman Wie itu apa pekerjannya?" Ayahnya selalu berkata: "Anak kecil jangan banyak tanya masalah orang dewasa. Mengapa sekarang berbalik?" Kata paman Wie: "Karena Pendekar Tiong-ciu tidak sama dengan pendekar lainnya. Dia merasa aneh tapi Wie Thian-hoan juga tidak bisa menjelaskannya. tapi dan ayahnya dia bisa mengerti senang berteman dengan orang berteman dengan orang kaya Sebenarnya paman Wie takut apa? Dia tidak tahu. terakhir kali Paman Wie pulang adalah menjelang malam tahun baru Imlek." Waktu itu umurnya masih kecil. membuatnya takut. Dia ingat. dia pernah bertanya kepada ayahnya.

" Dia bosan mendengar pembicaraan orang dewasa. Sekarang dia akan menerima hadiah dariku.Setelah ayahnya mendengar penjelasan paman Wie. kau ceroboh dan cepat percaya kepada teman bila kau bisa berhati-hati." Terpaksa Thian-hoan berkata: "Aku menyukainya. Kali ini Paman Wie pulang dan akan segera pergi." "Aku takut. kau dan Thian-hoan harus banyak belajar kepada Paman Wie." boneka tanah dan membuatkan baju Mereka sering bicara di sudut tapi ibunya sering mendengar dan tertawa: "Kau jangan mengira Thian-hoan masih kecil." "Memangnya mengapa bila dia sudah tinggi?" "Dia sudah tidak pantas bermain boneka. maka aku akan membuatkan boneka tanah liat untuk Kakak Thian-hoan. aku juga akan tenang." Paman Wie tertawa dan berkata: "Aku tahu. kemudian dia menarik Thian-hoan dan berkata: "Ayo kita membuat untuknya. Ayahnya berkata: "Bila baru berteman dengan seseorang. dan dia juga banyak mengajari aku. belum tentu dia sepaham dengan kita. tapi kau baru mengenalnya. aku setiap hari berlatih ilmu silat. baru merasa tenang. sekarang dia sudah setinggi ayahnya. jangan terlalu percaya semuanya walaupun nama Hie Tiong-gwee terkenal di dunia persilatan." ." "Karena Kakak Thian-hoan. aku harus memberi hadiah kepadanya. Kakak Thian-hoan tidak ingin hadiah yang dibeli dengan uangku. Paman Wie sekarang ada di rumah. Menurutku apa yang kau kerjakan jangan beritahu dulu semua kepadanya. Aku tidak akan membuka rahasiaku.

" Paman Wie tertawa dan menjawab: "Sekarang kita sudah satu keluarga." "Tidak. Paman Wie dan ayah bisa mengatasi penjahatpenjahat itu." Ibunya tertawa dan berkata: "Kau tidak bisa meninggalkan Kakak Thian-hoan. nanti pun akan seperti itu." Hiat-kun tidak tahu saat Thian-hoan pulang. tapi tidak terdengar suara Kakak Wie. dia dibangunkan oleh ibunya. tidak akan membiarkan penjahat-penjahat itu melukaimu. Aku dan Thian-hoan harus pulang. dan kau akan ingat harus lebih pagi mencariku. ibu akan menjagamu. matanya dibuka lebar-lebar melihat ibunya. dia masih mendengar suara Paman Wie." Paman Wie bertanya: "Kakak ipar. Dia terkejut dan meloncat. Malam itu dia terbangun dari mimpi. Di luar terdengar suara senjata saling beradu. taruhlah di pinggir bantal." . aku baru akan mengambilnya. nanti begitu matamu terbuka kau bisa langsung melihatnya."Besok setelah kau beri baju baru untuknya. itu adalah terakhir kali dia bisa melihat Thian-hoan lagi karena pada malam itu juga mereka menghilang tidak tahu kabar beritanya. kau mau bicara apa?" Kata ibunya dengan tertawa: "Hiat-kun tidak mau ditinggalkan oleh Thian-hoan bagaimana bila dua keluarga dijadikan satu saja. "Jangan takut. mereka masih kecil nanti kita bicarakan lagi. Dia seperti mendengar suara Thian-hoan berteriak. Di rumah masih berantakan. begitu terbangun dia melihat kamarnya sudah terang. Ibunya sudah rapi dan duduk di sisinya. kau harus membawanya sekarang. aku harus lebih awal bicara dengan Paman Wie.

. dia mengambil obat dan mengoleskan ke luka ayahnya. aku ingin. "Aku ingin lihat Kakak Thian-hoan. tidak apa-apa. "Luka ayah adalah luka ringan. Tapi hanya ada ayah.. apakah kau terluka?" "Jangan terkejut. dia terkejut dan tidak bertanya lagi. aku melihat luka ayah mengeluarkan darah. "Kau mau apa?" ibunya bertanya." "Kau jangan ribut. suara orang bertarung sudah tidak terdengar. dia berontak. tapi hatinya sangat cemas." "Ayah bohong." Benar saja. mana Kakak Thian-hoan. Hiat kun bertanya: "Bukankah penjahat-penjahat itu sudah mati semua?" . Kakak Thian-hoan tidak ada "Ayah." Baru bicara separuh. ayah sudah kembali ke rumah. "Jangan menghabiskan waktu untuk mengobatiku. Sebentar lagi mereka akan datang untuk melihatmu. bila kau keluar tidak akan bisa membantu mereka." "Ayah." ibunya juga berkata. darah di bajuku adalah darah penjahat itu. penjahat-penjahat itu sudah mati dibunuh oleh Paman Wie. Ayah tidak terluka. tinggalkan tempat ini!" Ayah bercerita kepada ibunya. cepatlah lari." Tiba-tiba dia jadi dewasa. malah menambah beban mereka. Dengan tersenyum ayah berkata: "Kakak Thian-hoan tidak apa-apa.Ibu memeluknya dengan erat. Ibu tidak tahu dia bukannya takut. dia melihat baju ayahnya sudah penuh dengan darah.

buku gambar dan benda kesayangan yang dia sayangi. Tidak ada cara lain kecuali membakar rumah. kita tetap tidak bisa melepaskan diri." Dalam kobaran api terlihat mereka meninggalkan rumah. hanya terdengar dia berkata: "Penjahat tidak membakar rumah. Maka kita harus membakar rumah sendiri." Dia ingin menangis pun tidak bisa. kita tetap harus ganti nama dan pergi ke tempat jauh. "Cepatlah. tapi kita sendiri yang membakarnya! Kau juga tidak ingin aku menyisakan barang. sekarang dengar kata-kata ayah dan ibu. semua habis terbakar. ada pepatah berkata 'bila tinggal di gunung yang hijau. Walaupun mereka menyangka kita sudah mati terbakar. kita sudah terlibat dalam masalah ini. penjahat ini bukan penjahat biasa. dalam hati Hiat-kun berkata: "Bila nanti kita mempunyai rumah lagi. "Paman Wie dan Kakak Thian-hoan sudah pergi. mengapa Kakak Thian-hoan tidak juga datang?" Tapi ayahnya sudah memotong kata-katanya. apakah Kakak Thian-hoan masih mau menjadi tetangga?" . "Penjahat sudah mati.Tadinya dia ingin berkata." Ibunya menjawab: "Aku mengerti. kelak kau akan bisa bertemu dengan mereka lagi. walaupun penjahat itu sudah mati. kau jangan ribut. cahaya api menyinari wajahnya yang pucat. tidak perlu takut tidak punya kayu bakar'. Tapi Hiat-kun tidak ingin meninggalkan rumah ini. bakar ini semua! Hiat-kun bantu ayah membakarnya!" Ayah seperti sudah gila. kau lihat keluarga Wie. Sepertinya ibunya juga terkejut. mereka pun seperti kita mengganti nama. mungkin kita bisa lolos dari perangkap ini. kelak hidup kita bagaimana?" Ayah menarik nafas dan berkata: "Dewasalah sedikit. tempat dia tumbuh besar bersama Thian-hoan.

Apakah Kakak Thian hoan kembali lagi? Dengan suara gemetar dia bertanya: "Siapa?" Suara yang dikenalnya menjawab: "Po Leng-hoi. Sekarang dia mempunyai 'rumah' lagi. Mata merah Wie Thian-hoan seperti memelototinya. "Kakak Po. tapi setelah bertemu dengannya. tapi kenangan tidak bisa hilang. apakah dia masih mau menengokku?" Dia mendekati jendela akan membukanya. Dia semakin rindu dengan rumahnya yang dulu. Sudah lama dia ingin bertemu dengan Kakak Thian-hoan. dia tidak akan tahu di mana letak rumahnya karena rumahnya sudah menjadi reruntuhan. walaupun dia pulang ke kampung halamannya. Dia tahu. apakah kau masih mau tinggal di sini?" Hiat-kun menarik nafas dan berkata: . dia membuka jendela dan bertanya." Hiat-kun merasa kecewa. Tiba-tiba ada yang mengetuk jendelanya.Sejak itu dia tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Rumahnya sudah hilang. Benar-benar keadaan mempermainkan orang. dia harus menangis atau tertawa? "Kakak Thian-hoan pasti marah kepadaku. Tapi setelah dia tinggal di rumah baru ini. tapi apakah ini adalah rumahnya? Dia tidak bisa bertemu dengan Kakak Thian-hoan semenjak itu. 10 tahun kemudian dia baru bisa bertemu dengan Kakak Thian-hoan lagi. tapi kenangan masa lalu masih menempel dalam ingatannya. ingin memandang ke arah kampung halamannya. tempat dan suasananya tidak menyenangkan. ada apa datang kemari?" "Mereka memperlakukanmu seperti ini.

aku hanya bisa menerima saja." "Kalau begitu." Begitu Hiat-kun tiba di kolam teratai. dia ingin bertemu denganmu sendirian. dia tidak bisa berpangku tangan. kau pulang saja. Kau dalam keadaan bahaya."Nasibku tidak baik. dia sangat ingin bertemu denganmu." "Siapa dia?" "Dia blang bila kau sudah bertemu dengannya. dia melihat bayangan seorang . dia ada di mana?" Dalam hati dia berpikir." Setelah mendengar penjelasan Po Lcng-lioi. tapi kau harus menemaniku " "Tidak. cepatlah bicara!""Aku disuruh teman datang ke sini." Hati Hiat-kun menjadi kacau. pasti akan tahu. Dia bilang hal ini menyangkut nasibmu seumur hidup. Hiat-kun jadi terkejut Po Leng-hoi berkata lagi: "Dia takut keluarga Hie akan menengokmu jadi aku harus ada di sini untuk menghadapi mereka. 'Kecuali Thian-hoan. aku harap orang lain tidak mencurigaimu. aku ada perlu. apalagi aku harus ada di kamarmu. percayalah padaku. aku tidak berniat jahat. terpaksa dia berkata: "Baiklah! Jika sampai lilin terbakar habis dan aku belum kembali. masih ada siapa lagi?' "Dia menunggumu di dekat kolam teratai " Tempat itu adalah tempat yang paling sepi. aku akan mendengar. dia tidak menjelaskan alasannya. Kakak Po. pergilah! Nanti orang lain akan curiga. tapi aku percaya kepada temanku ini. dia berkata: "Aku percaya kepada temanmu." "Hiat-kun." "Kau keluarlah sebentar." Hiat-kun terkejut dan dia tidak bertanya lagi." "Bicaralah. "Baiklah.

tapi dia bersembunyi di belakang orang-orang. mungkin dia menggunakan "bahasa perut'. 'Orang ini pasti teman Kakak Tian-hoan. terima kasih kau percaya kepada orang yang tidak kau kenal sebelumnya.. Hiat-kun lebih terkejut. tapi dari mula hingga akhir tidak ada yang tahu siapa dia. orang itu berkata: "Nona Kang. tapi dia kenal dengan suaranya. dia tidak bisa melihat Coh Thian-su.' pikir Hiat-kun." Setelah mendengar jawaban dari Coh Thian-su. nadanya juga sangat aneh. kau adalah. dia mengenal suara itu. "Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya Hiat-kun langsung. apakah ayahmu pernah bicara tentang keluarga Coh dari Yang-ciu? Kalau aku tidak salah tebak. Dia juga tidak berdiri terus di satu tempat. banyak orang mengenal Coh Thian-su. "Kau adalah keluarga Coh dari Yang-ciu?" Jawab Coh Thian-su senang: "Benar. Salah seorang adalah Coh Thian-su. Tapi suaranya terasa tidak asing." Tiba-tiba Hiat-kun mematahkan sebuah ranting pohon dan .." C Berjumpa dengan seperguruan Ternyata dia bukan Kakak Thian-hoan. mungkin Kakak Thianhoan terluka." Hiat-kun terkejut dan bertanya: "Siapa kau?" "Aku Coh Thian-su dari Yang-ciu. Waktu itu wajah Hiat-kun ditutup oleh kain merah.Pada waktu pertarungan antara Hui-thian-sin-liong dan Hie Tiong-gwee di antara tamu-tamu ada ada seorang yang berpihak kepada Hui-thian. "Aku sendiri. Seseorang yang berkata aneh dan sering mengejek Hie Tionggwee. dan menyuruhnya ke mari.laki-laki.

Ketika terjadi musibah rumahmu dan rumah keluarga Wie habis terbakar. dan waktu kalian pindah ke Lok-yang." Segera dia menggambar 3 bulatan: "Bila aku tidak salah tebak. setelah itu baru tahu bahwa 10 tahun yang lalu. siapamu?" "Dia adalah ayahku. Ranting pohon ditusuk dengan lurus. mengapa Suheng bisa tahu?" "Ayahku pernah mencari kalian." Kata Hiat-kun: . tapi Coh Thian-su tahu itu adalah salah satu jurus menotok urat nadi. Hiat-kun pun memuji: "Jurus Sam-cuan-hoat-lun (Tiga roda berputar) yang bagus." Hiat-kun segera memberi hormat kepada Coh. tapi jari tengah Coh Thian-su ternyata sudah ada bekas sobekan. Orang ini seperti orang yang ayah cari. Apakah kalian sekeluarga pindah ke Lokyang setelah terjadi musibah itu?" "Benar. kalian tinggal di sebuah desa bertetangga dengan keluarga she Wie. karena itu aku dari Yang-ciu datang ke Lok-yang untuk memberi selamat kepadamu. Hingga satu bulan yang lalu aku dengar dari Sin Kong-ta mengenai Kang Goan-yang aku mencocokan umur. Terlihat sangat sederhana. ayah mengira kalian semua sudah meninggal.langsung menyerang Coh Thian-su." Dia melemparkan ranting dan bertanya: "Coh Kim-sung dari Yang-ciu. Coh Thian-su memuji: "Jurus yang sangat indah. "Coh Tayhiap adalah Susiok yang belum pernah kukenal." "Tidak perlu sungkan. kau adalah Sumoiku" Ranting yang dipegang oleh Hiat-kun jadi terjatuh. tapi perubahannya tidak dapat ditebak dan mengarah di 4 titik urat nadi. bentuk wajah. maafkan aku karena sudah tidak sopan.

malam itu tetanggaku diserang oleh kuku garuda. kita bisa berteduh di bawah pohon besar. paling sedikit dia bukan orang jahat. adik sepupu ibuku sering keluar masuk rumah keluarga Hie. tapi melihat keadaan tadi dan mengambil kesimpulan. sedangkan rumah."Benar." "Adik.. ayah juga pernah mendengar nama baik Hie Tiong-gwee. tidak kusangka. aku harus memberitahumu. Jauh-jauh kalian pindah ke Lok-yang.. kami sengaja membakarnya." Tapi dalam hati Hiat-kun ingin memberitahu kepada Chu. dia belum tahu keadaan supek. perasaanku menjadi khawatir. kemungkinan Hie Tiong-gwee adalah orang jahat. apakah paman Coh baik-baik saja?" "Ayahku dalam keadaan baik.." Kata Coh Thian-su. Keluargaku juga ikut terlibat." "Benar. bahwa . maafkan aku tidak sopan. mengapa harus berhubungan dengan keluarga Hie?" "Ayahku tidak mau merepotkan kalian." "Apakah kalian tidak setuju. tapi tidak tahunya malah peristiwa seperti sekarang. kalau kita pindah ke Yang-ciu akan menarik kalian ke dalam masalah ini. dia berpesan harus mencari tahu keadaan kalian. ada apa?" "Apakah kau pernah memberitahu kepada Hie Tiong-gwee tentang musibah yang terjadi 10 tahun yang lalu yang telah melibatkan dua keluarga kalian?" "Tidak." "Tempat ini tidak cocok untuk kita mengobrol.. Hiat-kun terkejut dan berkata: "Mengapa kau bisa tahu dia orang jahat?" "Tadinya aku hanya menebak saja." Hiat-kun merasa aneh dan bertanya: "Kau melihat apa? Sehingga membuatmu khawatir terhadapku?" "Kau bilang tetanggamu adalah Hui-thian." "Mengapa kalian tidak ke Yang-ciu?" "Waktu itu aku masih kecil hanya mendengar perkataan ayah.

" "Baiklah." Hiat-kun terkejut dan bertanya: "Kau tahu dari siapa?" "Di sini walaupun sepi tapi masih rumah Hie. ini aku. Po Leng-hoi tidak tahu apakah benar seperti itu? Dia tetap mendengkur dan lebih keras lagi. apakah kita harus membangunkan dia?" Terdengar suara perempuan setengah baya berkata: "Aku ingin dia tertidur nyenyak. dia sudah tidur. shenya Tio." Dia adalah putri Hie Tiong-gwee. tidak pernah memberi ampun kepada orang lain. Coh Thian-su berkata lagi. . "Nona Kang. nasib Hiat-kun benar-benar tidak beruntung. tapi kita harus benar-benar memastikannya dulu. aku akan lihat permainan mereka. ikuti aku meninggalkan tempat ini. "Musibah itu erat hubungannya dengan Hie Tiong-gwee. Kim-giauw. banyak hal yang ingin aku katakan. dia mendengar ada yang mengetuk pintu. ayah terluka parah dan ingin bertemu denganmu. apalagi Tio Ang-bi. Terdengar suara Kim-giauw: "Bibi. sengaja dia mengeluarkan suara dengkuran. Tio bersaudara ini bisa ilmu silat." Po Leng-hoi menghadapi kejadian yang tidak disangkanya. Ada suara yang berkata." Perempuan itu adalah kakak dari istri Hie Tiong-gwee yang sudah meninggal. Dia sangat terkejut apakah perempuan ini datang karena disuruh oleh Hie Tiong-gwee? Dari pembicaraan mereka. istri pertama Hie Tiong-gwee bernama Ceng-bi dan kakaknya bernama Ang-bi.Hie Tiong-gwee sudah tahu tentang musibah itu. hatinya kejam. di dunia persilatan dia dijuluki 'pembunuh berwajah cantik'. Belum sempat bicara. takutnya dia hanya pura-pura." Po Leng-hoi tahu siapa perempuan itu. Dia tidur di ranjang pengantin dan selimut menutupi kepalanya. bila kau percaya kepadaku. jangan terburu-buru masuk.

Po Leng-hoi sudah meniup lilin. Tio Ang-bi sekarang sudah berusia 36 tahun tapi belum menikah karena dia terlalu pilih-pilih. dia menunggu di dalam kegelapan. dia bertanya: "Bibi. "Luka Hui-thian tidak berat. kau mau apa?" "Aku akan membuat dia pingsan. dari sini kita tahu dia adalah kekasih lama Huithian-sin-liong. Pada saat mereka bicara pasti suaranya tidak keras. tapi aku tidak mengerti apa maksudmu memalsukan dia. Tiba-tiba dia mencium wewangian. dalam hati dia berpikir. mereka sudah 10 tahun tidak bertemu. Sejak adiknya meninggal. aku akan biarkan wajah Hiat-kun tidak tertutup dan aku akan meniru suaranya supaya Hui-thian mendekat dan terpancing." Kata Kim-giauw.Hie Tiong-gwee bisa terkenal juga karena bantuan dari mereka berdua. membuat orang seperti ingin tidur. Hui-thian akan sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengannya. Hui-thian memilih hari ini untuk membuat keonaran. dia sering keluar masuk keluarga Hie. "Rencana . Begitu mendengar langkah mereka." Po Leng-hoi terkejut dan marah." "Aku mengerti apa tujuanmu memalsukan Hiat-kun." "Aku juga marah. supaya Huithian tidak waspada. kita dapat menyerang dia dari tempat yang tidak diduga. "Mengapa?" "Aku bisa memalsukan dia. Dalam kegelapan dia melihat ada asap putih masuk dari jendela." "Kau masih sedikit pintar. aku mengira malam ini dia akan kembali. Hie Kim-giauw di luar juga merasa terkejut." "Mengapa bibi ingin memalsukan dia?" "Anak ini sangat bodoh.

Segera pintu didobrak. Obat yang dipakai oleh Ang-bi adalah Ngo-kok-hoan-hun-hiang (5 asap pembalik roh). terdengar ada orang yang terjatuh karena Kim-giauw tidak mau melepas tangannya. Hie Kimgiauw berteriak. begitu Ang-bi akan memotong selimut itu seperti perisai yang menutupi pisau tajam Tenaga Ang-bi tidak sebesar Po Leng-hoi maka Ang-bi terjatuh. bila tidak dibunuh apakah ayahmu akan berhenti menyukainya?" Pikir Po Leng-hoi. tapi ayahmu suka. tenaga dalamnya tidak begitu dalam. Kepalanya ditutup oleh selimut dan hidungnya disumbat oleh kapas. Setelah itu tidak terdengar lagi suara mereka. Dalam kegelapan hanya terlihat kilauan pisau putih. tapi dia sudah mempunyai dasar. Pada saat Po Leng-hoi ingin keluar dari jendela. "Nona Hie walaupun tabiatnya jelek tapi hatinya tidak jahat. "Bibi.yang busuk!" Segera dia mengambil kapas untuk menutup hidungnya dan dengan pelan bernafas. bagaimana cara aku melarikan diri dari sini?" Belum habis dia berpikir. Ang-bi terpaksa menotok nadinya. Mereka mengira Hiat-kun sudah pingsan. mengapa kau mau membunuhnya?" Kim-giauw menarik tangan Ang-bi. Tapi sekarang bagaimana dia bisa keluar dari kamar? Sampai sekarang belum terpikir olehnya. Dengan ini dia tidak akan cepat pingsan. "Kau marah terhadap ayahmu yang bisa tertarik kepada perempuan yang tidak berharga ini? Mengapa sekarang jadi berbaik hati?" "Aku hanya tidak suka dia menjadi ibu tiriku. siapa sangka ." Ang-bi tertawa dingin dan berkata: "Kau tidak menyukainya. dia pasti bisa menghentikan perbuatan perempuan jahat ini. tapi bila dia sampai dibunuh itu keterlaluan. Po Leng-hoi secepat kilat menutup kepala Ang-bi dengan selimut.

Ang-bi mengait kaki Po Leng-hoi dengan kakinya yang kecil. Po
Leng-hoi pun terjatuh.
Mereka berdua jadi saling bergumul seru, Po Leng-hoi ingin
menotok nadinya, tapi tidak berhasil, jadi dia tidak bisa membuat
perempuan itu pingsan.
Tiba-tiba Ang-bi mencium bau laki-laki, dia berteriak, "Siapa kau?
Mengapa tidak sopan?"
Po Leng-hoi yang terpaksa mengadakan perlawanan dengan dia.
ketika dia dimarahi, wajahnya menjadi merah, dia pun
mengendorkan pelukannya, mendapat kesempatan ini Ang-bi
menyikut tempat ke arah jantung karena kesakitan Po Leng-hoi
melepaskan Ang-bi.
Ang-bi mengambil pisau yang terjatuh dan berteriak,
"Kau adalah selingkuhan Hiat-kun..."
Belum habis teriakannya, dia tiba-tiba pingsan, sebenarnya Po
Leng-hoi sedang bersiap menunggu serangan dari Ang-bi, tapi
setelah lama menunggu dia tidak melihat Ang-bi bergerak, dia
mulai merasa aneh. Dia melihat di dalam kegelapan Ang-bi masih
memegang pisau dan pisaunya masih berkilau tapi Ang-bi masih
berada dalam posisi seperti tadi. Bergerak pun tidak.
Po Leng-hoi menjadi bengong dia berpikir, 'Aku tidak merasa
menotok nadinya, apakah tadi ada yang membantuku?'
Dia tidak berpikir hal lain lagi, langsung kabur meninggalkan Kimgiauw yang belum terbuka totokannya.
Hati Hiat-kun merasa sangat risau, dia mengikuti Coh Thian-su
meninggalkan kolam teratai. Tiba-tiba Coh Thian-su menarik dia
dan berbisik:
"Tiarap!"
Tapi sudah terlambat.
Hiat-kun masih berdiri bengong di sana, terdengar suara seperti
gong pecah yang berkata:
"Coh Thian-su, kau mau sembunyi di mana?"

Tiba-tiba di depan mereka ada 3 orang. Mereka adalah Bwee
Ceng-hong, Hun Sim-boh, dan Yap Jin-tong. Mereka bertiga adalah
teman baik Hie Tiong-gwee, yang bersuara seperti gong pecah
adalah Yap Jin-tong.
Kata Yap Jin-tong:
"Coh Thian-su, kau adalah seorang pendekar, seharusnya kau tahu,
istri teman tidak boleh dihina, apakah kau tidak tahu?" Kata Yap
Jin-tong lagi, "Mungkin kau tidak menganggap teman terhadap Hie
Tiong-gwee, tapi kami adalah teman-temannya, kau sudah
melihatnya terluka malah masih ingin membawa istrinya. Kami
tidak akan berdiam diri."
Hiat-kun marah dan gemetar dia berkata:
"Kalian jangan sembarangan bicara, aku dan kakak Coh terangterangan..."
Hun Sim-boh berkata:
"Kakak ipar, kita memandang nama baik Hie Tiong-gwee tidak
mencari masalah denganmu, tapi bila kau terus melindunginya,
kami akan berbuat tidak sopan."
Kata Coh Thian-su:
"Aku tidak perlu banyak bicara kepada kalian!"
Mereka bertiga mengurung Coh Thian-su, selangkah demi
selangkah mereka mendekat, tiba-tiba pena besi Coh berkelebat
menotok ke arah dada Hun Sim-boh.
Teriak Hun Sim-boh:
"Kau mau membunuh orang untuk menutup mulut!"
Dia memakai tongkat besi dan menggunakan jurus Siauw-limhong-ciang-hoat (tongkat gila) dan satu jurus Thiat-suo-heng-ciu
(Besi menyerang datar perahu kecil) melintangkan tongkatnya di
depan dadanya.
Siapa sangka ternyata pena besi Coh Thian-su sangat sakti, Hun
Sim-boh bisa melindungi dadanya tapi tidak bisa melindungi
pundak bagian belakang yang terbuka terkena pena sakti. Tiba-tiba
dia merasa pundaknya kaku dan tongkat besinya terjatuh ke

bawah. Bwee Ceng-hong merasa di belakangnya ada angin
berkesiur, tanpa membalikkan kepala , dia sudah mendorongkan
telapak tangannya ke belakang.
Ilmu silatnya memang lebih tinggi dari Hun Sim-boh, begitu telapak
tangan didorong ke belakang tepat pada pena besi Coh Thian-su
yang sedang mencoba menotok di belakangnya sehingga penanya
tergeser kesamping oleh tenaga telapak tangan.
Dengan cepat Coh Thian-su membalikkan tubuh, sepasang
penanya sudah kembali menusuk secara bersilang. Dalam sekejap
mata 3 pesilat tangguh sudah diserang oleh Coh Thian-su dengan
kecepatan yang sulit ditukiskan.
Pedang Yap Jin-tong berputar seperti lingkaran,
sepasang pena besi dan dia berteriak: "Lepas!"
"Tidak bisa"

mengunci

Coh Thian-su yang merasa penanya tidak bisa digerakkan.
Sepasang penanya terbawa oleh tenaga pedang. Coh Thian-su
terkejut, dalam hati dia berpikir, 'sungguh hebat kepandaian Butong-pay."
Segera dia ikut memutar ujung penanya, dengan jurus Ya-ciatan-0ai (malam membagi mencari tahu laut) segera di keluarkan.
Sepasang pena Coh makin masuk ke dalam lingkaran pedangnya.
Terlihat cahaya pedang menjadi pecah, lingkaran pedang yang
bulat sudah berubah menjadi seperti bulan sabit.
Tapi Yap Jin-tong juga merubah jurusnya dengan cepat, lingkaran
pedang berubah menjadi lurus, kecepatannya sangat tinggi.
Dengan dingin Coh Thian-su berkata:
"Kau adalah murid Bu-tong, aku beri nasihat, jangan tertipu oleh
Hie Tiong-gwee."
Mulutnya masih bicara tapi sepasang penanya sudah menotok
kearah dadanya. Memaksa Yap Jin-tong terus mundur.
Waktu itu pun Bwee Ceng-hong datang untuk membantu Yap
Jin-tong menyerang Coh Thian-su.
Bwee Ceng-hong adalah seorang angkatan tua. Ilmu silatnya tidak

kalah dengan Coh Thian-su, melihat Yap Jin-tong yang hampir
kalah, dalam 7 langkah dia sudah menggerakan kepalan tangannya
tapi Coh Thian-su sudah berpindah tempat, mengelak tenaga
kepalan itu. Yap Jin-tong langsung menyerang 13 kali tanpa
berhenti, semua gerakan pedangnya mengarah pada bagian yang
berbahaya.
Perguruan Bu-tong mempunyai dua jurus pedang yang hebat. Yang
satu bernama Ru-in-kiam-hoat (jurus roh pedang seperti awan).
Jurus ini berinti tenaga dalam dan memakai tenaga lembut untuk
mengalahkan tenaga keras. Yang satu lagi bernama Lianhoan-tui-beng-kiam-hoat (pedang berantai merengut nyawa) ilmu
pedang ini jurus-jurusnya sangat cepat dan tepat. Dua ilmu pedang
ini yang satu lembut yang satu keras. Bila ilmu ini sudah dilatih
hingga tingkat tertinggi, lembut dan keras ini bisa di gabungkan
dan akan menjadi ilmu pedang yang sangat hebat.
Yap Jin-tong adalah salah satu diantara 4 murid yang ilmunya
belum mencapai tingkat tertinggi. Dia tahu ilmu silatnya tidak dapat
menandingi lawannya tapi karena ada Bwee Ceng-hong yang
membantu, dia hanya bisa membantu menyerang dari samping,
jurus Ru-in-kiam-hoat sama sekali tidak dikeluarkan.
Coh Thian-su agak tenang, dalam hati dia berpikir, 'Untung ilmu
pedangnya belum mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga pena
ku bisa dengan tepat mengatasi jurus Lian-hoan-tui-beng-kiamhoat."
Tapi Coh Thian-su lupa satu hal, benar kalau dia bertarung satu
lawan satu, dia pasti menang tapi Yap Jin-tong masih dibantu oleh
pesilat tangguh lainnya.
Dalam waktu singkat, Coh Thian-su sudah menemukan kelemahan
Yap Jin-tong memainkan pedang tapi karena ada Bwee Ceng-hong
yang membantu, maka tiap ada celah yang kosong selalu dapat
ditutupi oleh Bwee Ceng-hong. Kalau Coh Thian-su memaksa
menyerang malah bisa membahayakan dirinya.
Yap Jin-tong sekarang agak tenang, dengan dingin dia berkata,
"Kau adalah pendekar palsu dan cabul, kami belum menasihatimu,
kau malah sudah mengadu domba. Hie Tayhiap adalah seorang

pendekar sejati, aku tidak akan membiarkanmu menghinanya!"
Hiat-kun berada di sisi Coh Thian-su, melihat ini dia sangat takut,
dengan tidak sengaja dia mendekati Coh Thian-su.
Dengan dingin Yap Jin-tong berkata,
"Nyonya Hie, apakah kau mau melarikan diri bersama laki-laki cabul
ini? Demi nama baikmu, kembalilah kepada suamimu, dan kami
akan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa."
Mereka takut Hiat-kun akan mengikuti laki-laki yang dia cintai dan
bermusuhan dengan mereka. Hal ini membuat mereka serba salah,
karena itu mereka memaksa Hiat-kun jangan ikut campur, tapi
mereka malah mendapat hal yang sebaliknya.
Hiat-kun sangat marah hingga tubuhnya gemetar dan berteriak:
"Kalian jangan sembarangan bicara! Jangan salahkan aku! Tutup
mulut kalian!"
Dalam kemarahannya dia membuka ikat pinggang sutranya. Kata
Yap Jin-tong:
"Menyuruhku tutup mulut? Kecuali kau membunuhku untuk tutup
mulut, kau..."
Kata-kata Yap Jin-tong belum habis, di depannya tiba-tiba ada sinar
pelangi yang berwarna warni, tali pinggang sutra itu tiba-tiba
berubah seperti pedang tajam yang bercahaya darah.
Yap Jin-tong segera memutar pedangnya untuk melindungi dirinya
tapi dia merasa tangannya kesemutan, terdengar suara sobekan,
tali pinggang sutra Hiat-kun sudah terbelah separuh. Tapi pedang
panjang Yap Jin-tong pun terlepas, Hiat-kun seperti sedang
memakai ilmu sihir saja membuat tali pinggang sutranya menjadi
Poan-koan-pit (hakim pena), dia sudah berhasil menotok nadi
pelemas tubuh Yap Jin-tong tapi jurus pedang Yap Jin-tong juga
bukan sembarangan ilmu pedang, ketika tenaga dalam hampir
habis, dia masih bisa memotong ikat pinggang sutra milik Hiat-kun.
Yap Jin-tong berteriak:
"Nyonya Hie, kau... kau..." tubuhnya sudah jatuh ke bawah.

Bwee Ceng-hong terkejut
"Ingin melarikan diri?" teriak Coh Thian-su,
"Kau mau lari ke mana?"
Bayangan Coh Thian-su sudah mendekat, Bwee Ceng-hong segera
membalikkan tubuh, mendorong tenaga telapak tangannya tapi dia
tidak bisa menahan ujung pena Coh Thian-su, dia merasa
pinggangnya kaku, kemudian dia pun terjatuh ke tanah.
Kata Coh Thian-su:
"Adik, demi diriku kau dihina orang, maafkan aku. Tapi sekarang
karena sudah terjadi hal ini, kita harus cepat-cepat meninggalkan
rumah Hie, apakah kita harus membunuh mereka yang sudah
menghinamu?"
"Suheng, sebenarnya akulah yang merepotkanmu, Hie Tionggwee
sudah curiga kepada kita, membunuh mereka pun sudah tidak
berguna."
Tiba-tiba ada suara rendah yang bicara:
"Tunggu!"
Di depan mereka keluar seseorang.
Orang ini adalah Tuan Kiam-ta yang terkenal di dunia persilatan.
Ilmu silat Tuan Kiam-ta tidak seperti Bwee Ceng-hong dan kawankawan. Coh Thian-su terpaksa berhenti. Kata Coh Thian-su:
"Tuan Kiam-ta, apakah kau percaya kepada berita burung itu?"
"Aku tidak percaya berita burung, aku percaya pada kepala dan
mataku sendiri," jawab Tuan Kiam-ta.
"Kadang-kadang
sebenarnya.

yang

dilihat

mata

juga

bukan

kejadian

"Baiklah, tolong jelaskan, larut malam begini, kau bersama istri
orang lain sedang berbuat apa?"
"Tuan, dia adalah Sumoiku."
"Kalau kalian Suheng Sumoi, mengapa kau harus bertemu
dengannya malam-malam begini?"

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, "Kalau Hie Tiong-gwee adalah
orang yang berpura-pura, pasti dia sangat jahat, dia pasti tidak
akan mau percaya, apalagi aku tidak punya bukti, aku tidak boleh
membocorkannya."
Dia tidak bisa menjelaskan hanya berkata:
"Nanti kau pasti akan tahu, sekarang aku mohon Cianpwee percaya
kepadaku, biarkanlah kami pergi!"
Dengan dingin Tuan Kiam-ta berkata:
"Coh Thian-su, mukamu sungguh tebal, masih berani minta aku
melepaskan kalian kawin lari."
Hiat-kun yang dari tadi diam berbarengan dengan Coh Thian-su
menjawab:
"Kami bukan kawin lari."
Tuan Kiam-ta tidak melihat kepada Coh Thian-su, tapi bicara
kepada Hiat-kun,
"Nyonya Hie, walaupun kau belum sembahyang, tapi sudah masuk
ke rumah Hie, bagi perempuan paling penting adalah menjaga
nama bila kau tidak setuju dengan pernikahan ini, tetap harus
meminta ijin kepada Hie Tiong-gwee, baru boleh keluar dari
keluarga Hie, sekarang sudah larut kembalilah ke kamarmu." Lalu
Dengan dingin dia berkata kepada Coh Thian-su:
"Ikut aku!"
"Kemana?"
"Bertemu dengan Hie Tiong-gwee, meskipun kau tidak mengajak
kawin lari istrinya, tetap kau harus menjelaskan kepada Hie."
"Aku tidak akan pergi, karena tidak ada yang harus aku jelaskan
kepada dia."
"Bila kau tidak mempunyai salah, mengapa harus takut bertemu
dengannya? Baiklah, bila kau tidak mau pergi, aku akan
memaksamu pergi"
'Memaksakan' disini berarti bukan mengundang.

Coh Thian-su tertawa kecil dan berkata: "Bila Cianpwee tidak mau
mengerti, aku pergi sendiri." 'Pergi' juga bukan berarti permisi
pergi, melainkah harus
bertarung dulu dan baru bisa pergi dari sana.
Tuan Kiam-ta sangat marah:
"Selama aku masih di sini, aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
Tuan Kiam-ta menggerakan telapak tangannya yang membawa
angin keras dan mencengkram. Coh Thian-su juga sudah siap
sedia, pena yang kiri melindungi dada, pena yang sebelah kanan
menyambut dan mencoba menotok telapak tangan lawannya.
Dicurigai terus menerus, gosip terus menerus
mengalir tapi tidak bisa berbuat apa-apa....
---ooo0dw0ooo--Bab 4
Mimpi lama seperti debu
Teman kecil hatinya tenang seperti air
Kapas terbang seperti teratai yang tidak berakar
A. Pengantin Diculik
Tuan Kiam-ta menjadi marah:
"Baiklah, kau berani bertarung denganku? Aku ingin melihat
kehebatan sepasang pena besi menotok nadimu itu seperti apa „
Mulutnya masih bicara tapi tangannya sudah mencoba
mencengkram pena Chu.
Coh Thian-su tahu bahwa tenaga dalam Tuan Kiam-ta sangat
tinggi, di dalam hati berpikir, 'Tadi aku belum bertarung, aku masih
bisa melayani dia, sekarang aku terpaksa harus menggunakan
siasat.'

Dia tidak berani membiarkan sepasang penanya dicengkram oleh
Tuan Kiam-ta, sekarang dia mengerakan penanya dengan sangat
enteng dan lincah. Dia mencoba menotok Tuan Kiam-ta. Lengan
baju Tuan Kiam-ta diayunkan menyambut totokan pena, ternyata
sepasang pena bisa dihalau tapi lengan bajunya juga bolong.
"Sungguh hebat!" Kata Tuan Kiam-ta.
Selesai berkata dia membungkukkan tubuh mengelak totokan ke
arah pundaknya, kemudian 5 jari dikembangkan, siap
mencengkram sasarannya, dia sudah mengeluarkan jurus cakar
naga. Coh Thiansu tahu jurus ini sangat hebat, diapun segera
mengubah jurusnya, telapak tangan kiri Tuan Kiam-ta
mengeluarkan serangan iagi. Ujung pena Coh Thian-su terkena
getaran tenaga dalam tuan Kiamta hingga bengkok, penanya
hampir saja terampas.
Kata Tuan Kiam-ta:
"Mana jurus pena penotok nadimu, mengapa tidak dikeluarkan?"
Coh Thian-Su merasa ilmu silatnya bukan tandingan Tuan Kiamta,
kalau sepasang penanya segera menyerang secara bersamaan,
mungkin malah akan memberikan lowongan kepada lawan, karena
itu dia menjalankan siasat satu pena melindungi tubuh dan pena
lain menyerang lawan. Dia berharap bisa memperlambat waktu,
membiarkan Hiat-kun melarikan diri
Tapi Hiat-kun seperti tidak mengerti maksudnya, dia hanya
bengong di sana, tidak membantu Coh Thian-su juga tidak
melarikan diri. Terpaksa Coh Thian-su berkata, "Sumoi, pergilah!
Jangan menungguku!" Kata Tuan Kiam-ta:
"Nyonya Hie, jangan dengarkan dia, kalau kau keluar dari rumah
Hie, hidupmu akan lebih hancur, kembalilah pada suamimu!"
Hati Hiat-kun sangat kacau, dia tidak bisa mengambil keputusan.
Tuan Kiam-ta adalah Cianpwee yang dia hormati, kalau harus
bertarung dengannya sangat tidak sopan dan masih harus
merepotkan Coh Thian-su. Karena Tuan Kiam-ta sudah curiga
kepada mereka mempunyai hubungan khusus. Bila bergabung
dengan Coh Thian-su nantinya malah akan menyusahkan dia, bila

melarikan diri Tuan Kiam-ta juga tidak akan bisa berdamai dengan
Coh Thian-su. Kecuali membunuh Tuan Kiam-ta bila tidak namanya
dan nama Coh Thian-su akah hancur, tapi dia tidak bisa membunuh
Cianpwee yang dia hormati, apalagi Tuan Kiam-ta mempunyai
kepandaian yang tinggi. Bila mereka bergabungpun belum tentu
bisa menang.
Karena dia tidak bisa memutuskan. Keadaaan Coh Thian-su
sekarang juga sudah berbahaya. Kiam-ta sudah mengeluarkan
jurus Ta-sik-pek-jiu (Telapak tangan penghancur batu). Dia tahu
bila terus bertarung Coh Thian-su akan mati di tangan Tuan
Kiam-ta. Coh Thian-su sudah berkali-kali berada dalam keadaan
berbahaya, dia berteriak, 'cepat pergi!' tapi Hiat-kun tidak lari,
malah melangkah ke depan.
Kiam-ta mengayunkan lengan bajunya dan berkata:
"Nyonya Hie, harap kau bisa jaga diri!"
Hiat-kun hanya merasa ada tenaga lembut yang mendekatinya
sehingga dia mundur beberapa langkah Lututnya terasa
kesemutan, dia pun terjatuh.
Coh Thian-su tidak tahu mengapa Hiat-kun bisa seperti itu, dia
sangat terkejut dan berteriak:
"Aku akan adu jiwa denganmu!"
Sepasang pena besinya berbarengan menyerang, dalam satu jurus
dia sudah mencoba menotok 4 jalan darah Kiam-ta, dia ingin
segera menyelesaikan pertarungan. Setelah itu dia baru akan
menolong Hiat-kun untuk keluar dari tempat berbahaya.
Sebenarnya Kiam-ta juga khawatir Hiat-kun akan bergabung
dengan Coh Thian-su bila Hiat-kun sudah sadar dari lemasnya,
maka dia sekarang lebih dahsyat lagi menyerang Coh Thian-su.
Telapak tangan kiri berputar menggambar satu lingkaran telapak
tangan kanan bergerak dituar dari lingkaran yang digambarnya.
Angin dahsyat terasa berhembus keras seperti guntur. Jurus ini
dinamakan Kai-san-pi-sik (Membuka gunung membelah batu). Ini
adalah salah satu jurusnya yang paling dashyat.
Terdengar suara 'TING' sepasang pena besi Coh Thian-su sudah

terlepas dari tangan nya dan melayang ke udara
Tuan Kiam-ta tertawa terbahak-bahak,
"Sepasang pena penotok nadi memang hebat, tapi tetap tidak bisa
mengalahkanku!"
Bila Coh Thian-su tadi tidak bertarung dulu, kemudian dia
bertarung dengan Kiam-ta paling sedikit dia bisa menotok di satu
bagian jari tubuh Kiam-ta, kedua-duanya akan kalah atau mungkin
terluka. Atau mungkin Coh Thian-su akan terluka lebih parah.
Tapi dia masih beruntung sebab sebelum menyerang Coh Thiansu
sudah kalah, sebelum Kiam-ta mengeluarkan seluruh tenaga, Coh
Thian-su sudah kelelahan.
Coh Thian-su tahu dia tidak akan bisa lolos dari Kiam-ta dan dia
berkata:
”Lebih baik aku mati daripada dihina bila kau mau menghinaku di
depan Hie Tiong-gwee, lebih baik nyawa ini kuserahkan padamu!"
Hiat-kun berteriak:
"Toako, jangan...!" dia ingin berdiri tapi tidak ada tenaga.
Kiam-ta tertawa dingin:
"Coh Thian-su, kau jangan mengancamku!"
Dia pikir sekarang Coh Thian-su belum bisa memakai tenaga dalam
untuk memutuskan nadinya, maka segera dia mencengkram
tangan Coh.
Tapi begitu dia melangkah, dia merasa lututnya kaku hampir tidak
dapat berdiri.
Kiam-ta berkata: "Siapa yang berani..."
Sebelum mengeluarkan kata-kata "Menyerang secara sembunyisembunyi", di depan mata sudah ada seseorang.
"Siapa? Kau?" Kata Tuan Kiam-ta terkejut. Orang itu berkata:
"Benar, ini aku. Aku hanya mengikuti apa yang dilakukan olehmu
dan membalaskan ini kepadamu, biar kau pun merasakan ilmu
Thiat-siu."

Kiam-ta pun sekarang rugi karena dia barusan sudah bertarung
dengan Coh Thian-su, lututnya juga terkena lemparan batu kecil
dari orang itu. Sekarang begitu orang itu mengayunkan lengan
bajunya, dia mengeluarkan sedikit gerakan, tapi Kiam-ta juga tidak
bisa menahannya.
Orang itu mengibaskan lengan bajunya, Tuan Kiam-ta berputar 3
kali dan terjatuh, seperti Hiat-kun yang sudah roboh.
Sepasang pena penotok sudah terjatuh ke bawah. Coh Thian-su
menjadi bengong, tapi dia tidak memungut senjatanya dan
langsung memuji jurus Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan baju
beterbangan) yang hebat. Tapi orang itu sedikitpun tidak
meliriknya, dia langsung menghampiri Kang Hiat-kun.
Hiat-kun yang tergeletak di tanah, dia sedang berusaha bangun,
orang itu dengan pelan menghampirinya Hiat-kun belum dapat,
melihat, dengan jelas, dia hanya mendengar Coh Thian-su
mengatakan Liu-in-hui-siu, hatinya langsung bergetar dan
berteriak:
"Apakah Hoan Toako?"
Benar, yang datang memang Hoan Toakonya.
"Toako, kau sudah datang!"
Saking senang dia meloncat, entah tenaganya datang dari mana,
dia sendiri pun tidak tahu.
Wie Thian-hoan tertawa,
"Benar, lihat inilah aku, aku pasti kembali
bagaimana dengan keadaanmu? Hati-hati!"

menengokmu,

Karena totokan nadi di lututnya belum terbuka secara seluruhnya
maka dengan sempoyongan Hiat-kun terjatuh ke dalam pelukan
Wie Thian-hoan
Wie Thian-hoan membantunya menggosok-gosok lututnya, tidak
lama kemudian jalan darahnya sudah terbuka sempurna.
Kesemutannya pun sudah hilang.
Wajah Hiat-kun memerah, dia berkata:

"Hoan Toako, lepaskan aku!"
Coh Thian-su sudah ingin mendekati mereka, tapi karena Huithian-sin-liong tidak menghiraukannya, membuat Coh Thian-su
serba salah. Kata Hiat-kun:
"Dia adalah Coh Tayhiap dari Yang-ciu. Dia juga adalah..."
'Suheng', kata itu belum keluar dari mulut Hiat-kun, Wie Thianhoan, sudah berkata,
"Aku tahu siapa dia."
Coh Thian-su membalas:
"Aku juga tahu siapa dirimu, walaupun kita belum pernah
bertemu."
Hati Coh Thian-su tidak enak, selagi dia berkata seperti itu, dia
berpikir, 'Kita sama-sama terkenal di dunia persilatan, mengapa
kau begitu sombong?'
Hui-thian sangat sombong, dia tertawa dingin dan berkata: "Kau
tahu siapa aku, tidak apa-apa tapi aku juga tahu kau juga bukan
orang baik-baik, kau berbaring saja di sini."
Hiat-kun terkejut dan berteriak: "Hoan Toako, kau tidak boleh
memukul dia!" Hiat-kun menarik tangan Wie Thian-hoan, "Dia
adalah Suhengku!"
Hiat-kun baru habis bicara, Coh Thian-su sudah roboh di tanah
karena dia sudah ditotok oleh Wie Thian-hoan di 3 tempat.
"Karena dia adalah Suhengmu, aku tidak akan membunuhnya, mari
kita pergi!" kata Wie Thian-hoan.
"Tidak, aku tidak mau pergi, kau harus membuka totokannya,
mengapa kau begitu tidak sopan kepadanya?"
"Aku tahu dia Suhengmu, tapi aku tidak mau kehilangan dirimu!
Baiklah katakan, kau lebih suka dia atau aku?"
Hiat-kun menjadi bengong dengan marah dia berkata,
"Hoan Toako, ada apa dengan dirimu? Begitu bertemu sudah
cemburu. Apakah kau juga mengira aku akan kawin lari dengan
Coh Toako?"

Pada waktu itu ada yang berteriak, "Tuan Kiam-ta! Tuan Kiamta!"
Hiat-kun tahu itu adalah Kwee Goan-cay, kecuali dia masih ada
yang lainHiat-kun tidak ingin Kwee Goan-cay tahu peristiwa yang terjadi, dia
juga ingin menjelaskan masalahnya kepada Wie Thian-hoan, tapi
dia terpaksa berhenti bicara.
Tiba-tiba Wie Thian-hoan mengendong dia sambil berkata :
"Aku malas meladeni mereka satu persatu, mari kita pergi!"
Tenaga Hiat-kun belum pulih seluruhnya dan orang
mengajaknya adalah Hoan Toakonya, dia jadi tidak
memberontak.

yang
ingin

Tapi Wie Thian-hoan tetap tidak tenang, dia menotok Hiat-kun
supaya tidak bisa bicara.
Wie Thian-hoan bukan takut Hiat-kun akan berteriak tapi takut dia
cerewet, meminta dia mengajak pergi bersama Coh Thian-su.
Wie Thian-hoan ingin bercerita banyak kepada Hiat-kun, dia tidak
ingin ada orang ketiga yang mendengar.
Benar, Coh Thian-su memang terkenal di dunia persilatan tapi
sekarang kecuali kakek guru dan Sumoinya, Wie Thian-hoan tidak
punya siapa-siapa lagi, termasuk Hiat-kun tentunya.
"Hiat-kun mau menikah dengan Hie Tiong-gwee, apa yang telah
terjadi?" pikir Wie Thian-hoan.
Dia segera menggendong Hiat-kun dan berlari. Walaupun dia
menggendong Hiat-kun tapi langkahnya tetap tidak bersuara. Ilmu
meringankan tubuhnya benar-benar sudah mencapai tingkat
kesempurnaan.
Dia menotok Hiat-kun supaya dia tidak bisa bicara, kemudian dia
berbisik ke telinga Hiat-kun,
"Coh Thian-su dan Hie Tiong-gwee bersahabat, Tuan Kiam-ta pun
melihat sendiri bahwa yang menculikmu adalah aku, mereka pasti
tidak akan membuat susah Coh Thian-su walau mereka pernah
mencurigainya. Kalau kali ini aku salah paham kepada Coh

Thian-su, aku minta maaf. Sekarang kau tidak
mengkhawatirkan dia, kau tenang saja dan ikut denganku!"

perlu

Dia bicara dengan pelan kepada Hiat-kun tapi langkahnya tidak
pelan, sambil menggendong Hiat-kun, mereka 'terbang' melewati
pagar dan keluar dari kediaman Hie.
Hiat-kun tahu bahwa Coh Thian-su bukan teman Hie Tiong-gwee,
tapi dia tidak bisa bicara hanya bisa berharap bahwa Coh Thian-su
tidak akan disalahkan karena yang menculik dia bukan Coh
Thian-su melainkan Wie Thian-hoan.
Coh Thian-su ingin bicara pun tidak bisa, dia ditotok oleh Wie
Thian-hoan di 3 tempat, untung Hiat-kun menarik tangan Wie
Thian-hoan sehingga tenaga dalamnya hanya digunakan 30% saja.
Tenaga dalam Coh Thian-su juga lumayan, maka dia tidak pingsan
hanya tidak dapat bergerak.
Tuan Kiam-ta yang berada di sisinya masih pingsan terkena
pukulanThiat-siu yang dikeluarkan oleh Wie Thian-hoan, walaupun
ilmu silatnya lebih tinggi dari dia, tapi Tuan Kiam-ta tetap pingsan.
Tiga orang yang pingsan adalah Hun Sim-boh, Yap Jin-tong, dan
Bwee Ceng-hong. Coh Thian-su mencoba mengatur nafasnya
berharap sebelum Tuan Kiam-ta dan yang lainnya siuman, dia
sudah bisa membuka totokannya bila tidak mereka akan menuduh
macammacam.
Tubuhnya sudah mulai bergerak tapi dia belum bisa berdiri, pada
saat itu dia mendengar Kwee Goan-cay memanggil-manggil Tuan
Kiam-ta.
Yang pasti Tuan Kiam-ta tidak akan bisa menjawab, tapi langkah
Kwee Goan-cay dan teman-temannya sudah berjalan ke arah
mereka.
Karena Coh Thian-su terburu-buru, tubuhnya malah tidak bisa
bergerak lagi.
Po Leng-hoi melarikan diri dari kamar pengantin, baru berjalan
beberapa puluh langkah, tiba-tiba melihat ada seseorang yang
ingin bunuh diri di bawah pohon. Matanya segera membesar dan
mulutnya terbuka lebar melihat Po Leng-hoi, bentuk wajahnya aneh

dan membuat dia terkejut sekaligus takut.
Orang itu adalah murid Hie Tiong-gwee yang tertua bernama Leng
Cong-goan.
Pikirannya bergerak yang pertama ingin dilakukan adalah: harus
menyerang dulu kemudian baru menotoknya.
Kedua adalah: mengapa dia tidak bergerak juga tidak bicara?
Apakah takut keburukan keluarga Hie akan ketahuan oleh orang
lain? Atau ada alasan lain?
Po Leng-hoi tahu bahwa ilmu silat Leng Cong-goan lebih tinggi dari
dia, bila bertarung dengannya tidak akan terbayang akibatnya.
Pikiran yang kedua menutupi pikirannya yang pertama-lebih baik
lihat keadaan dulu.
Dia memanggil.
"Kakak Leng."
Seruannya tidak dijawab, kemudian Bao mendorong pelan-pelan
tubuh Leng , dia malah jatuh ke tanah.
Benar, ternyata ada yang menotok dia. Sekarang baru terpikir
olehnya, Leng Cong-goan pasti disuruh oleh Hie Tiong-gwee untuk
menjaga Hiat-kun. Yang menotok dia, pasti juga orang yang
membantu dia sewaktu berada di kamar pengantin.
"Satu kecurigaan sudah terbuka! Pantas aku dengan mudah
mendekati kamar pengantin dan sepanjang jalan ke tempat ini
tidak pernah bertemu dengan murid-murid Hie Tiong-gwee dan
para tamu, mungkin mereka ditotok oleh orang misterius itu."
Pemikiran Po Leng-hoi memang tidak salah...
Dia berjalan ke tempat yang dijanjikan oleh Coh Thian-su dan
Hiat-kun, ada 4 orang yang terbaring di bawah, mereka adalah
murid-murid Hie Tiong-gwee dan para tamu, mereka tidak mati tapi
hanya ditotok oleh orang lain
Fo Leng-hoi sangat terkejut.
"Orang ini dengan mudah keluar masuk, sepertinya Coh Tayhiap
pun tidak sehebat dia, siapakah dia? Mengapa dia masuk ke kamar

Hiat-kun'"
Dengan tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah bisa menebak.
Tiba-tiba ada yang berteriak. suara ini datang darii arah kolam.
Ya Ini adalah kakak ketiga. Dan ini adalah Pendekar Yap.
Kemudian terdengar suara ribut-ribut dan suara langkah kaki, yang
datang adalah murid-murid Hie Tiong-gwee di antara mereka ada
juga Kwee Goan-cay.
Salah satu murid berkata:
"Adik Kwee, hayo kita langsung melapor kepada guru!" Dia terlihat
sangat ingin langsung lari dari tempat itu. Kata Kwee Goan-cay,
"Mengapa kalian takut? Sesudah sampai di sini, kita coba periksa
mereka dulu."
Jawab salah satu dari mereka:
"Tuan Muda Kwee, kau pikir saja bila terjadi sesuatu pada Tuan
Kiam-ta, apakah kita bisa mengatasi semua masalah, bila tidak
terjadi sesuatu padanya mungkin dia bisa menangkap penjahatnya
dan akan kembali ke sini, kita tidak butuh mencarinya kemanamana."
Mereka sangat menghormati Kwee Goan-cay, karena mungkin
Kwee Goan-cay akan menjadi menantu Hie Tiong-gwee. Bila
mereka ingin kembali harus dengan persetujuan Kwee Goan-cay.
Kolam teratai tanahnya datar, tidak ada tempat untuk
bersembunyi. Po Leng-hoi sangat berharap mereka segera
meninggalkan tempat ini
"Disebelah sana belum diperiksa, baiklah bila kalian takut aku
sendiri yang akan ke sana." Kata Kwee Goan-cay.
Untung Kwee Goan-cay seorang diri ke sana, dia melihat Po
Leng-hoi dan sangat terkejut. Po Leng-hoi memberi isyarat supaya
Kwee Goan-cay tidak bicara. Dan Po Leng-hoi menunjuk ke arah
sana.
Walaupun Kwee Goan-cay masih ragu tapi dia sudah mengerti
maksud Po Leng-hoi.

Segera Kwee Goan-cay berlari ke arah kolam teratai.
Kwee Ooan-cay kembali lagi kepada mereka, mereka sengaja
bertanya:
"Di mana Tuan Kiam-ta?"
"Bayangannnya pun tidak terlihat."
Ada yang berkata:
"Ilmu silat Tuan Kiam-ta sangat tinggi, tidak perlu mencari dia,
apakah kami boleh pulang?"
Kata Kwee Goan-cay:
"Benar, dia pasti sedang pergi untuk menangkap pengkhianat itu,
mari kita laporkan hal ini kepada guru."
Po Leng-hoi mengeluarkan keringat dingin, dia akan ke kolam
teratai untuk mencari seseorang, tiba-tiba terdengar suara orang.
Po Leng-hoi terkejut dalam hati dia berpikir, 'Apakah Coh Tayhiap
juga ditotok?'
Dia mengikuti suara itu untuk mencari, di dalam semak-semak
orang yang pertama dilihatnya adalah Tuan Kiam-ta, tenggorokan
Tuan Kiam-ta mengeluarkan suara,
"Kru...kru..."
Tuan Kiam-ta sudah siuman dan sedang mengatur nafas, tapi
totoknya belum terbuka, bicara pun belum bisa.
Kemudian Po Leng-hoi melihat Coh Thian-su yang sudah bisa
duduk, dia berada di sisi Kiam-ta, Coh melambaikan tangan ke
arahnya.
Po Leng-hoi melihat masih ada Yap Jin-tong, Bwee Ceng-hong dan
Hun Sim-boh. Ilmu silat mereka lebih rendah daripada Tuan
Kiam-ta, karena itu mereka belum siuman. Hal ini membuat Po
Leng-hoi terkejut, jantungnya terasa copot.
Mereka adalah pesilat tangguh apalagi Tuan Kiam-ta, bila bukan
melihat dengan mata kepala sendiri, dia tidak akan percaya bahwa
Tuan Kiam-ta bisa dibuat tidak berdaya dan begitu memalukan.

Bila dipaksa melakukannya. Dia berlari ke arah Coh Thian-su dan bertanya: "Coh Tayhiap." Yang dikatakan Coh Thian-su memang benar karena Tuan Kiamta sudah ditotok oleh Hui-thian dengan totok yang berat. apakah kau tidak membantu Tuan Kiam-ta membuka totoknya?" Dengan tertawa Coh Thian-su menjawab: "Tuan Kiam-ta bukan orang jahat.. Setelah keluar dari kediaman Xu. Po Leng-hoi belum sampai taraf seperti itu. ada apa yang terjadi?" Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata: "Terima kasih. tapi dia terlalu mengurusi masalah orang lain. menuruti cara yang akan kuberitahu. tapi dia tetap mengikuti Coh Thian-su meninggalkan kediaman Xu. hasilnya malah sebaliknya Walaupun Po Leng-hoi masih tidak mengerti. karena Hui-thian tidak membunuhku. dia hanya menotok di 3 tempat karena aku salah mengatur nafas sekarang totokanku belum terbuka dengan sempurna. lagi pula kita tidak akan sanggup membantunya. Po Leng-hoi mulai tenang karena dia melihat sepertinya Coh Thian-su tidak terluka. Po Leng-hoi bertanya: "Dimana Hiat-kun?" "Sudah dibawa oleh Hui-thian-sin-liong. Adik bantu aku membuka totoknya." ." Po Leng-hoi bertanya: "Coh Tayhiap. Bila ingin membantu dia membuka totoknya harus mempunyai cukup tenaga dalam dan tenaga dalam Coh Thian-su belum pulih.." Meskipun totokan Coh Thian-su belum terbuka secara sempurna." "Dia adalah Hiat-kun punya.Dalam keterkejutannya. aku pergi dulu. tapi dengan cepat dia sudah bisa berdiri dan loncat. Dengan tertawa Coh Thian-su berkata: "Tuan Kiam-ta.

Dalam hati Coh Thian-su berpikir. tolong sampaikan salamku untuk ayahmu. dia hanya ingin berdua bersama Hiat-kun.Po Leng-hoi ingin bertanya tapi dia tidak bisa mengeluarkan katakatanya. ---oo0dw0ooo--B. Cinta Lama bersemi Lagi Hiat-kun dan Hui-thian sudah berada di pegunungan di luar kota . dia menotokku." Bintang-bintang sudah hampir menghilang. tapi aku harus segera meninggalkan Lok-yang. dia sudah tahu bahwa Hui-thian tidak akan melukai Hiat-kun. Dan dia tidak dapat berbuat apa-apa." Dia tidak mencari masalah tapi masalah yang dibuatnya tidak akan berhenti sampai di sini. 'Mungkin Hiat-kun dan Hui-thian sudah ada di luar Lok-yang. Tapi Hiat-kun Huithian?" Po Leng-hoi tertawa kecut dan menjawab. aku hanya mengkhawatirkan dia." Coh Thian-su menarik nafas dan berkata: "Aku juga tidak tahu harus pergi ke mana. yang harus aku sampaikan kepada Hiat-kun kerewelan lagi di sini. "Coh Tayhiap. mana mungkin dia melukai Hiat-kun?" "Kalau begitu. kau bercanda lagi." Sebenarnya setelah dia menyaksikan keributan di aula tadi. dia tidak mau bila Hiat-kun bersamaku meninggalkan keluarga Hie. takut Hui-thian akan melukai Hiat-kun. dengan hati yang tidak enak dia meninggalkan Lok-yang. kita tidak perlu mencarinya lagi! Mari kita pulang saja ke rumahku. hari sudah mulai terang. "Aku tidak tahu dia adalah siapanya Hiat-kun. Coh Thian-su masih marah dan berkata: "Dia memukul dan menotok Tuan Kiam-ta serta yang lainnya karena mereka tidak ingin Hiat-kun meninggalkan keluarga Hie.

dia adalah seorang kakak yang membawa adik kecilnya. tapi begitu bertemu denganmu. harap jangan marah!" kata Wie Thianhoan. "Hiat-kun. tidak kusangka. dia menurunkan Hiat-kun dan membuka totokannya. dan suara air mengalir. Begitu tiba di hutan. keadaan ini memabukkan orang. Kadang-kadang bila Hiat-kun kelelahan dia akan menggendongnya seperti sekarang ini. nafas Hiat-kun begitu harum dan tenang. ada apa denganmu? Kau tidak suka bersamaku lagi?" Wie Thian-hoan merasa sedih tapi dia ingin tahu. Wie Thian-hoan merasa hatinya menciut. begitu indah. Wie Thian-hoan seperti kembali ke masa kecil. Burung-burung berkieau di atas pohon membuat paduan suara yang pas. aku terpaksa memakai cara ini supaya kau bisa meninggalkan keluarga Hie. Hiat-kun duduk di bawah pohon tidak mau memandangnya. akan seperti daun yang berguguran dari pohon? Daun yang berguguran tidak akan bisa kembali lagi ke pohonnya. berlarian di pegunungan. Wie Thian-hoan membungkukkan tubuh dan berkata: . Sinar matahari pagi menyinari hutan. kau malah menghinaku!" "Hiat-kun. kita bisa bersama lagi. apakah masa lalu yang indah. angin pagi mengantarkan wanginya bunga gunung. Hiat-kun masih digendong oleh Hui-thian di belakang punggungnya. Hiat-kun tampak marah dan berkata: "Aku sudah menunggu selama 10 tahun. Hiat-kun mcmctikkan bunga untuknya dan dia menangkap burung untuk Hiat-kun. Tapi Hiat-kun tetap tidak bicara. apakah masa kecil tidak dapat terulang kembali? "Hiat-kun.Lok-yang. apakah kau merasa senang?" tanya Wie Thian-hoan. membuat Wie Thian-hoan merasa mabuk.

Hiat-kun menjadi terkejut dan berdiri: "Wie Thian-hoan."Maaf bila aku sudah melakukan banyak kesalahan. aku bersalah kepadamu. Baiklah aku tidak akan memaksamu. kau jangan pergi!” Air mata masih bercucuran." Dengan dingin Hiat-kun berkata: "Tuan Wei. kau tidak mau memaafkan aku. terserah!" dia mulai melangkah. aku juga tidak bisa berbuat apaapa lagi. apakah kau mau memaafkan aku?" Mereka saling memandang. darah yang menempel di baju Wie Thian-hoan membuat Hiat-kun menjadi tidak tahan. kau masih mau membuatku marah! Kembali!" Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata: "Aku bersalah padamu. aku pun mempunyai banyak hal yang ingin diceritakan. tolonglah jangan marah lagi. Apakah aku masih bisa bicara?" Wie Thian-hoan menarik nafas dan berkata: "Kau tidak mau memaafkanku. dia membalikkan tubuh dan berteriak: . bila aku tidak pergi. Wie Thian-hoan dengan senang berkata: "Kalau kau sudah memaafkan aku. Wie Thian-hoan sangat senang. sekali lagi aku bertanya kepadamu. wajahnya menjadi merah. banyak hal yang ingin aku ceritakan. pelan-pelan dia melepaskan pelukannya dan tertawa. sekarang kau sudah menjadi Hui-thian-sin-liong yang terkenal. kalau kau mau kembali lagi ke rumah Hie atau kau mau mencari Suhengmu. kemarin malam kau tidak sopan telah menotok Suhengku. mana aku berani marah padamu. tiba-tiba dia menangis sekeras-kerasnya dan memeluk Wie Thian-hoan "Hoan Toako. sekarang tertawalah!" Hiat-kun mulai tenang. aku harus bagaimana lagi? Adik Hiat. sekarang sudah terjadi seperti ini. aku tidak berani marah. Di hadapan banyak tamu kau menghinaku.

" "Apa yang kau ingin tahu?" Hiat-kun agak malu tapi dia tetap bertanya: "Apakah Hie Tiong-gwee orang jahat?" "Sekarang aku belum begitu yakin. dia juga seperti dirimu. pantas bila kau mencurigaiku. Baiklah tidak usah bengong." Wie Thian-hoan menjadi bengong dan berkata: "Dia datang untuk menolongmu? Apakah dia tahu kau berada dalam bahaya? Bagaimana dia bercerita kepadamu?" "Dia bilang aku dalam bahaya bila terus diam dalam keluarga Hie. Hie tidak akan berani membunuhnya. kau ingin menceritakan apa? Duduklah!" Wie Thian-hoan duduk dan berkata: "Kau dulu yang bercerita." "Baiklah. dia curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang berbahaya." "Apakah kau mengira aku sudah berubah?" "Tadinya aku tidak curiga tapi ketika aku mendengar kau memangilku 'Hoan Toako' aku baru bisa tenang." "Kalau bagitu aku salah menilainya." ”Mengapa dia bisa curiga ?” "Dia belum sempat mengatakannya."Aku tahu. menyuruhku keluar dari kediaman Hie baru akan bicara. aku akan memberitahukanmu bahwa Coh Thian-su datang untuk menolongku." Hiat-kun menghapus air matanya dan berkata: "Semua yang sudah terjadi susah diduga. Pertama. aku punya pertanyaan. harap kau menjawabnya. bila . aku yang akan bercerita dulu. aku jadi merasa tenang. aku juga baru tahu dia adalah Suhengku. kau masih adikku Hiat-kun. tapi bila dia jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee. nanti aku akan mencarinya " "Hoan Toako.

aku kira kau mau membohongiku lagi.. aku sudah tidak sabar. itu bukan." "Kau mengerti apa?" "Kau sendiri yang ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee.kau ingin tahu apakah itu benar. Hiat-kun sudah tertawa dan berkata: "Memang aku tidak mau membohongimu. apakah itu artinya aku mau menikah dengan Hie?" "Kalau begitu. apakah kau sendiri yang ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee?" "Apakah aku harus jujur menjawabnya?" Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata: "Kalau begitu." "Apa maksudmu?" "Aku sudah mengerti." "Bagaimana cara membantumu?" "Kau jawab dulu. mengapa kau menduga sendiri?" Wie Thian-hoan sangat senang dan berkata: "Kau bertanya apakah aku harus jujur menjawabnya. kau dipaksa oleh Hie. bila aku tidak membohongimu." Belum habis bicara. sebenarnya bagaimana?" "Karena itu. kau minta aku mengatakan yang sebenarnya?" "Cepat katakan. tapi aku tidak tahu ke mana arah pikiranmu. Tanyanya: "Apakah kau tidak mau membantah perintah ayah dan ibumu lagi?" "Tidak juga. aku tidak akan tanya lagi." .." Dua kata ini membuat Wie Thian-hoan bengong. kau harus membantuku." "Tidak juga." "Aku tidak berkata seperti itu.” "Ini bukan.

Kang Guan-yang di mata Hie Tiong-gwee adalah guru silat yang sangat biasa. waktu keluargamu mendapat musibah. Sebenarnya Kang Cu-si sudah lama tidak pernah bertemu dengan sepupunya. semakin lama semakin sering."Jujur saja aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya." "Mengapa kalian yang sudah sampai ke Lok-yang tidak mengunjungi dia?" Hiat-kun balik bertanya. ayahnya berganti nama dari Kang Cu-goan menjadi Kang Goan-yang." "Banyak peristiwa yang sampai sekarang aku tidak mengerti. Apakah kau mengira gara-gara ini jadi kami ke Lok-yang dan mencarinya?" Kata Hiat-kun." . Mereka membuka tempat kursus ilmu silat. dia baru berkenalan dengan seorang teman baru bernama Hie Tiong-gwee. "Mengapa kami harus mengunjungi dia?" "Apakah kau ingat. Hie Tiong-gwee juga tidak pernah terlalu memperhatikan Kang Guan-yang. dan Kang Guan-yang baru mulai berhubungan dengan Hie Tiong-gwee." Di bawah ini adalah cerita Hiat-kun. ayahku pernah mengatakan. Begitu keluarganya tiba di Lok-yang. aku ingat. hanya Kang Cu-si tahu bahwa sepupunya bisa ilmu silat tapi dia tidak tahu bahwa Kang Cu-goan adalah seorang pesilat tangguh." "Ya. mereka mencari paman sepupu. Wie Thian-hoan bertanya: "Hie Tiong-gwee yang datang berkunjung dulu atau kalian dulu yang mengunjunginya?” "Dia datang ke tempat ayah mengajar silat. Pamannya Kang Cu-si sering pergi ke rumah Hie Tiong-gwee. tapi ayah jarang ke rumahnya." "Kalau begitu kau pelan-pelan saja bercerita. "Memang aku pernah berpikir seperti itu. Sesudah beberapa tahun pamannya semakin sering keluar masuk keluarga Hie.

dia sudah dipercaya menjadi penanggung jawab rumah makan Hie Tiong-gwee." "Paling sedikit dia tidak tahu identitas asli ayah. hanya pura-pura ridak tahu." Hiat-kun berpikir sebentar dan berkata: "Mungkin dia sudah tahu identitas ayah." "Kalau begitu. rahasia dua keluarga ini sudah beberapa tahun tidak pernah dibicarakan dengan siapa pun." Wie Thian-hoan bertanya: "Tadi kau mengatakan. sepertinya dia belum tahu identitas asli dari ayahmu." Tiba-tiba Wie Thian-hoan bertanya: "Pamanmu adalah orang yang sering keluar masuk rumah Hie?" "Katanya memang seperti itu. begitu juga dengan beberapa tokonya diurus oleh paman. tapi karena ayahku tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah teman dari ayahmu."Kau tidak salah. kadang-kadang dia bersikap longgar kadang-kadang juga minta dilindungi olehnya. dia mau saja menjilat seorang guru silat biasa. apakah kejadian ini setelah kalian sudah tiba di Lok-yang?" "Benar. semua ini belum tentu untuk dirimu “ Wajah Hiat-kun agak menjadi merah dan berkata: "Pada waktu pertama kali dia datang ke rumahku aku baru berusia 13 tahun." "Apakah kau tidak merasa aneh. "Mengapa kau yakin dia sudah tahu?" Hiat-kun menarik nafas dan berkata: . Hie Tiong-gwee adalah Pendekar Tiong-ciu dan orang terkaya di Lok-yang. bagaimana dengan sekarang?" "Sudah tahu. pertama kali kau mengira dia tidak tahu. Ayahku adalah orang yang sangat berhati-hati." Jawab Hiat-kun." "Kemudian dia dipercaya oleh Hie Tiong-gwee. Apalagi terhadap Hie Tiong-gwee. begitu kami tiba di Lok-yang.

pandangan mata seperti ini sudah sering dia lihat. Hingga pada suatu hari. Tapi terhadap Hie Tiong-gwee. Pemuda-pemuda yang mengelilinginya semakin hari semakin banyak. Karena hal ini ada hubungannya dengan pernikahannya. tapi dia tidak tahu mengapa Hiat-kun menarik nafas. paling sedikit tidak membuat Hiatkun membenci mereka. mereka sengaja membeli obat itu."Aku mendengar pamanku mengatakannya kepada ayah." Wie Thian-hoan tahu yang dimaksud oleh Hiat-kun adalah Kang Cu-si. dia melihat Hie Tiong-gwee memandanginya seperti pemuda-pemuda lain memandangnya. malah menganggap mereka sebagai . dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Pemuda-pemuda yang hanya ingin dekat dengan Hiat-kun. Hie Tiong-gwee pun lebih rajin datang ke rumahnya. bahkan dijuluki si Cantik dan Lok-yang. Karena 'sama'. dia baru merasa ’berbeda' setelah dia tahu pandangan Hie Tiong-gwee kepadanya sekarang berbeda. Tahun bertambah. hari itu pamannya datang mencari ayahnya untuk membicarakan pernikahannya. juga Cianpwee di dalam hatinya. hingga benarbenar tidak ada lagi yang datang. Karena Wie Thian-hoan ingin tahu hal sebenarnya walaupun dia merasa aneh tapi dia juga tidak ingin bertanya mengapa Hiat-kun menarik nafas. tempat ayah mengajar silat pun menjadi sepi. Hal lain yang bersamaan terjadi adalah biasanya pemuda-pemuda yang membeli obat. Terhadap pemuda semacam itu dia tidak pernah meladeni mereka. semakin berkurang dari hari ke hari. Ditempat ayahnya juga ada menjual obat untuk patah tulang dan obat gosok untuk bagian yang terkilir. dia sama sekali tidak ada persiapan karena Hie Tiong-gwee adalah teman ayahnya. Temannya adalah Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay walau mereka termasuk pemuda yang mendekatinya tapi mereka berdua tidak seperti pemuda-pemuda lainnya.

dari kata-kata Po Leng-hoi yang penuh rasa cemburu. yang datang adalah oarnannya. Dia bertanya semua yang terjadi kepada Po Leng-hoi. Tidak seperti biasanya hari itu dia membawa banyak hadiah. Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu. siapa yang dimaksud dengan dewa kematian. Dia hanya mendengar kata-kata.. dan hari itu pun datang dengan cepat. Dari pandangan Hie Tiong-gwee yang aneh. masalah itu." ini adalah perkataan pamannya..." Dia bertanya lagi: "Apa yang dimaksud dengan dewa kematian?" Tapi Kwee Goan-cay tidak memberitahu. Walaupun Po Leng-hoi tidak bicara.teman. dari kata-kata Kwee Goan-cay dan tertawa kecutnya. Po Lenghoi tertawa kecil. tidak perlu diberitahu pun dia sudah dapat ditebak. dia hanya disuruh keluar untuk membeli sesuatu dan baru boleh pulang satu jam kemudian. wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu. semenjak pamannya menjadi pengurus toko-toko dan rumah Jnakan Hie Tiong-gwee. Tapi entah karena tidak mempunyai waktu untuk memarahi Hiatkun atau memang ayahnya tidak mau marah. membuat mereka merasa terkejut. tapi Kwee Goan-cay berkata: "Mungkin orang-orang kecil takut kepada dewa kematian.. suara yang keluar juga kecil. Begitu masuk dia sudah bicara serius dengan ayahnya. Bila paman mencari ayahnya itu tidak aneh tapi kali ini lain. Pintu kamar ditutup. "Di ibukota ada yang datang. Dewa kematian yang bisa membuat orang kecil di Lok-yang hanya ada berapa orang. Begitu ayahnya keluar dia sudah sembunyi di kamarnya tapi ayahnva sudah tahu bahwa Hiat-kun sedang mendengar. Hari itu Hie liong-gwee tidak datang. .. Hiat-kun hanya mendengar beberapa kata sudah diusir oleh ayahnya. dia jarang ke rumah Hiat-kun. tapi Hiat-kun sudah tabu.

" Sebenarnya kata-kata ini hanya untuk menghibur dirinya sendiri. tapi dengan jujur ia berkata : "Aku tetap berharap bisa bertemu dengan mereka. apakah paman menyuruh ayah membalas budi? Tapi kepada siapa? Bagaimana cara membalasnya? Sampai hari kedua. tapi kita juga jangan . Sudah 10 tahun tidak ada kabar berita dari mereka.. "Kalau kau membalas budi kepadanya." Kata Hiat-kun: "Pepatah mengatakan 'orang baik pasti dilindungi Tuhan'. tidak ada kabar berita dari mereka Malam itu ketika Paman Wie melarikan diri dia sudah terluka sangat parah. Apakah ayah dan ibu tidak ingin bertemu dengan mereka?" Ibu menghela nafas katanya: "Kita merindukan mereka tapi 10 tahun sudah berlalu. ibunya baru memberitahu: "Kau tahu paman datang bermaksud apa?" "Aku ingin tahu.. dia sudah beberapa kali mengalami mimpi buruk. Dia mengira ibu bertanya kepadanya dan akan memberitahu jawabannya." Ini adalah kata-kata pamannya. Apakah mereka masih.. Aku percaya mereka tidak akan mengalami hal-hal buruk. dia tidak tahu apa yang dimaksud paman. tapi ibunya malah bertanya: "Apakah kau masih merindukan Hoan Toakomu?" Wajah Hiat-kun menjadi merah."Berterima kasih karena dia sudah membantuku menutupi. pasti ada caranya. aku mengkhawatirkan mereka. mengapa begitu misterius?" kata Hiat-kun. Masalah itu dia sudah tahu apa yang dimaksud dengan 'membalas budi'." ini adalah kata-kata ayahnya. Ibu menghela nafas lagi dan berkata: "Kita berharap semuanya akan baik-baik saja. tapi ayah melarangku mendengarkan pembicaraan mereka..

tapi dunia begitu luas. bila pemuda yang bernama Po Leng-hoi. dia bagaimana?" "Apa bagaimana? Aku tidak mengerti maksud ibu?" "Bukankah kau akrab dengannya? Maksud ibu." "Bila sudah 19 tahun memangnya kenapa?" Jawab ibunya. tapi Hoan Toako pasti masih hidup. apakah kau menganggapnya seperti Hoan Toako?" "Hoan Toako tidak dapat digantikan oleh siapa pun. bila Hoan Toako tidak pernah pulang lagi." "Ayah pernah mengatakan bahwa Hoan Toako hanya luka ringan. keluarganya akan sangat khawatir. "Gadis-gadis lain sudah menikah. walaupun terjadi sesuatu pada paman. di manakah dia sekarang? Kita sudah menunggu selama 10 tahun.." "Memang paman ingin mencomblangimu tapi bukan dari keluarga Po.terlalu berpikir yang baik-baik saja. aku mau menemani ibu. bila sudah berumur 18 tahun belum menikah. kau juga sudah dewasa. Wajah Hiat-kun memerah dan berkata: "Apakah ibu mau mengusirku? Aku tidak ingin menikah. tahun ini kau sudah berumur 19 tahun. paman selalu tidak pernah menganggap mereka. apakah kau mau menikah dengannya?" Hiat-kun merasa aneh dan berkata: "Apakah paman datang untuk menjadi mak comblang? Dia tahu bahwa keluarga Po sangat miskin." Waktu itu kebanyakan gadis-gadis menikah di usia muda." "Kita juga berharap mereka masih hidup. Ibu bertanya kepadamu.. kebaikan Hoan Toako juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. perempuan harus menikah." Ibunya tertawa dan berkata: "Anak bodoh." "Maksud ibu. aku hanya ingin tahu apakah kau sudah mempunyai seseorang .

ibu harus menanyakan mereka satu per satu? Kwee Goan-cay adalah calon menantu Hie Tiong-gwee. kita harus segera meninggalkan Lok-yang dan mencari tempat lain ." "Ibu dan ayah ingin mendapat perlindungan. Umurnya pun belum 40 tahun. aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Walaupun umur Hie Tiong-gwee agak tua tapi orangnya bisa dipercaya." Ibunya tersenyum dan berkata: "Siau Po sangat baik hanya dia cepat marah orangnya." Paman mewakili Hie Tiong-gwee melamar Hiat-kun. aku senang bila dia jadi menantuku tapi bila kau tidak suka tidak apaapa. kau sudah tahu bagaimana keadaan kita.yang kau sukai? Jangan malu untuk mengatakannya. tapi Hie Tiong-gwee bukan orang biasa. bila kau tidak mau menikah dengannya. dia berkata kepada ibunya: "Bu. dia menyuruh ibu meminta persetujuanmu. dia adalah Pendekar Tiong-ciu. kau boleh memikirkan keinginan pamanmu." Ibunya menarik nafas dan berkata: "Karena itulah ayah tidak mau memaksamu. bila kau belum mempunyai seseorang yang kau sukai. bila kami sudah tahu keinginanmu kami bisa mengambil keputusan untuk pernikahanmu. Ini tidak aneh. memang terlalu berat untukmu." "Baiklah." "Memang aku akrab dengan Po Leng-hoi. bagaimana dengan Kwee Goan-cay?" Hiat-kun mengerutkan dahi dan berkata: "Apakah semua yang menjadi temanku." Ibunya tersenyum dan berkata: "Kau harus menjadi ibu tiri orang lain. putrinya pun sebaya dengan diriku. aku selalu memanggil Hie Tiong-gwee dengan sebutan paman.. tapi sedikit pun aku tidak berpikir akan menikah dengannya. Aku tidak mau berurusan dengan Nona Hie.. tapi dia melamar begitu tiba-tiba membuat Hiat-kun menjadi bengong.

Ayah dan ibu siap berkorban untukmu. Dia menyuruh paman memberitahu hal ini kepada ayah. apalagi membangun dan menghidupi sebuah keluarga di sini pun tidak mudah. pengawal istana pun sudah tahu keberadaan ayah." Hiat-kun tahu ibunya masih menyembunyikan sesuatu.untuk bersembunyi. "Bila paman melamarku bukan karena disuruh oleh Hie Tionggwee dan ayah menolaknya mungkin tidak akan merusak persahabatan antara Hie Tiong-gwee dan ayah. dia juga tahu bahwa ayah terlibat. Untung saja Hie Tionggwee berhasil menyembunyikan identitas ayah. Karena dia . ayah akan merasa serba salah. Mungkin Hie Tionggwee tidak tahu bahwa paman sudah mewakili dia melamarku. musibah malam itu pun dia sudah tahu." Terakhir dia memikirkan sebuah cara untuk menolak pernikahan ini." "Apakah ibu bisa menjelaskan lebih rinci lagi?" "Paman datang untuk melamarmu. tapi bila ayah tidak menyetujui pernikahan ini. dia tidak mungkin mari. dengan terkejut dia bertanya. apakah aku bisa tenang?' Dia tidak bisa langsung memberi jawaban. hatinya kacau dan gelisah. tapi yang paling penting dia memberitahu ayah suatu hal. bahwa dia juga teman Paman Wie." "Tentang apa?" ”Hie-Tiong-gwee sudah tahu indentitas ayahmu. walaupun paman bilang seperti itu tapi ibu sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee sangat menyukaimu. bila dia datang ke Lok-yang. Melamarmu ini semua adalah ide paman " Hiat-kun tahu luka dalam ayahnya belum sembuh total. Bila demi diriku harus pindah ke tempat lain. "Bukankan Hie Tiong-gwee adalah Pendekar Tiong-ciu? Apakah dia berani mengancam ayah?" "Dia tidak mengancam. bila dia memikirkan dirinya sendiri dia akan merasa bersalah kepada ayahnya. "Anak bodoh. 'Tenaga dan semangat ayah sudah tidak seperti dulu.

lebih baik ayah yang mengambil keputusan. bagaimana dengan perasaan ayah? Kecuali 'lari' tidak ada cara lain untuk 'membayar hutang’. Kita mengulur waktu saja agar tidak melukai hati Hie Tiong-gwee. aku sudah memberitahu pamanmu. ayahnya masuk dengan menarik nafas. tapi aku juga tidak bisa langsung meninggalkan Lok-yang. Suatu kali saat dia mengantarkan teh masuk ke kamar ayahnya. pamanmu sudah tahu pikiran Hie Tiong-gwee. dia berkata: "Aku tahu kau pasti bisa mengambil keputusan yang tepat." Hati Hiat-kun sangat kacau: "Aku tidak punya gagasan lain. tapi tabib itu tetap tidak mau datang. terdengar ibunya berkata: "Mengapa kau selalu tidak suka kepada Hie Tiong-gwee?" Bisa ditebak sebelum Hiat-kun masuk. Ayah sakit sudah hampir 10 hari. mungkin karena ayah sedang sakit dia tidak tahu Hiat-kun masuk." Setelah dia selesai bicara dengan ibunya.adalah seorang Cianpwee jadi dia tidak enak menyampaikan kepadamu. Tiap kali paman datang untuk menengok ayah. paman juga datang beberapa kali untuk menengoknya. Memang dia tidak memaksa tapi selama ini kita sudah dilindungi olehnya. Hie Tiong-gwee menyuruh tabib yang terkenal di Lok-yang untuk mengobati ayah." Kata ibunya lagi: "Ayah sangat menyayangimu." Beberapa hari kemudian dia baru tahu bahwa ayahnya tidak bisa meninggalkan Lok-yang karena penyakit lamanya kambuh lagi. pintu pasti ditutup. mereka sudah berbeda . dia ingin kau yang mengambil keputusan. aku tidak mau memaksamu. bila kita menolak pernikahan ini. begitu dia pergi. ayah dan ibu pasti ribut tapi suara mereka sangat kecil. aku harus benar-benar memikirkan nya baru bisa mengambil keputusan.

Dia seperti mendengar ayah dan ibunya berbarengan berkata "Tidak bisa!" Sepertinya mereka sedang ribut. kalau dia memang bermaksud seperti itu. "Yang dimaksud 70% itu apa? Apa yang dimaksud oleh ayah?" Dia ingin menunggu hingga ayahnya sembuh baru akan menanyakannya. begitu mendengar 'tidak bisa'. Pada malam kedua." "Apa yang tidak pantas?" "Bukan aku mengukurnya karena mempunyai lapang dada yang sempit. suara mereka tercampur aduk tidak jelas mendengarnya. tidak perlu menyuruh adik untuk menyampaikan kepadaku. kau . tapi Hiat-kun sudah tidak mempunyai kesempatan lagi.. bila dia tidak mengancam dengan pernikahan ini. juga tidak bilang bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang jahat Tapi bila dia dipanggil pendekar. Ibunya seperti berkata: "Tidak bisa.” Hanya sampai di sana pembicaraan antara ayah dan ibunya." "Kau terlalu berpikir sempurna." Dengan dingin ayah berkata: ”Terlalu berfikir demikian Aku hanya berkata 70%. Dia sudah tahu rahasiaku. dan dia Pernan melindungiku. aku tidak bisa membiarkan kau melakukannya. sudah berbuat baik. tiba-tiba dia dikejutkan oleh tangisan ibunya. aku tidak bisa mengganggu pernikahan Hiat-kun lagi!" Ayah seperti berkata: "Tidak bisa.pandangan terhadap Hie Tiong-gwee. karena ayahnya sudah melihat Hiat-kun masuk. Kata ayahnya: "Aku tidak punya bukti. sepertinya tidak pantas. dia hanya suka kepada putri kita. berusaha memberitahu Kepada orangnya ini disebut sudah melakukan kebaikan berharap orang lain harus membalas budinya..

Dia datang pada saat ayah sudah meninggal sepertinya sengaja datang untuk mengantar kematian ayahnya." Setelah mendengar teriakan ibunya. Padahal masih banyak yang ingin dia bicarakan tapi ayah sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Maafkan ayah. tapi dia tahu karena urusan pernikahan ini." Dia memegang erat tangan ayahnya. Aku tahu ini sangat berat untukmu." hanya terdengar sepatah-sepatah kata.harus mengantar aku pulang.. "Kau harus mendengar kata-kata ibumu. sambil mengeluh ayahnya berteriak. aku sudah menyetujui pernikahanmu dengan Hie Tiong-gwee. Hiat-kun tergesa-gesa masuk. Hie Tiong-gwee selama ini tidak pernah datang menjenguk ayahnya. Suara ayah seperti semut. tapi ini pun terpaksa harus kau lakukan. Ibu selalu baik kepada Hie Tiong-gwee. kau harus tinggal di sini.. aku tahu hidupku tidak akan lama lagi.. tapi sekarang dia sudah sangat terkejut karena penyakit ayahnya. biar Hiat-kun." Begitu ayah meninggal. kemudian mendengar ibunya menangis dan berkata: "Koko. tapi hari itu sikapnya ..tidak ada cara lain. tapi.." Tapi apa? Ayahnya tidak bicara lagi.. Tiba-tiba suara mereka berhenti.. ayah dan ibunya ribut terus. dia merasa tubuh ayahnya semakin dingin dan membeku. Ayah membuka mata dan berkata: ”kemarilah ada yang harus kukatakan kepadamu. Hiat-kun lebih sedih dari ibunya. aku akan mendengar kata-katamu. paman dan Hie Tiong-gwee segera datang. Hati Hiat-kun pun dingin seperti es. aku yang salah. tapi. karena sudah tiba waktunya ayah pergi.. Biasanya dia pasti akan mendengar... berbisik di telinganya "Penyakit jantungku tiba-tiba kambuh. ibu akan mengantarkanku pulang. mungkin masih bisa diubah.

aku tidak akan melepaskanmu!" Paman tertawa kecil dan berkata: "Enso terlihat sangat khawatir." Dengan dingin ibu berkata: "Aku tidak berharap Hie Tiong-gwee bisa baik kepada Hiat-kun. aku mengerti. masalah 10 tahun yang lalu belum beres." Tapi Hiat-kun tidak mengerti tapi paman juga tidak menjelaskannya lagi. tidak boleh merugikannya. alasannya karena sekarang ini Hiat-kun hanya tinggal sendiri jadi harus segera mempunyai keluarga. Dia tidak meladeni Hie Tiong-gwee bahkan seperti tidak kenal dengannya. pada saat baju duka belum ditanggalkan. aku akan kembali. Kau harus mengurus Hiat-kun dengan baik. ibu menyerahkan Hiat-kun kepada pamannya. . Hiat-kun adalah keponakanku. tapi ibu malah terlihat tenang. Hiat-kun tidak akan dirugikan. Enso. dia akan hidup tenang. aku pasti akan mengurusnya dengan baik. juga bukan dalam arti sebenarnya. Ayahnya sudah meninggal.berubah. Paman hanya menyuruhnya menikah. bila dia cepat menikah. semua diatur oleh pamannya menjadi pengantin Hie Tiong-gwee. Begitulah. kau jangan khawatir. Bila tidak aku tidak akan memaafkanmu. Hiat-kun menangis terus. dia sudah seperti boneka. Pada hari saat dia membawa mayat Kang Cu-goan ke kampung halamannya. Dia masih ingat ibu berpesan kepada paman: "Bila aku sudah beres mengubur kakakmu. aku menyuruhmu mengurus Hiat-kun. Tapi ibu tetap memberitahu paman bahwa ayah memutuskan menerima Hie Tiong-gwee sebagai mantunya. apalagi Hie Tiong-gwee adalah menantumu. kau harus mengerti!" Dengan cepat paman berkata: "Benar.

tapi di sudut mata Wie Thian-hoan sudah ada air mata. perasaan pun sudah mati. Aku tidak mendapat kabar darimu dan ayah sudah meninggal. Wie Thian-hoan menghapus air matanya kemudian memeluknya Dia tertawa dan berkata." ---ooo0dw0ooo--C. Dia hanya menikah dengan ragaku saja. Paman menyuruhku menikah. Wie Thianhoan berkata: "Sekarang kau sudah mengerti. kakek gurumu tidak akan mengijinkanmu berkelana di dunia persilatan. itu pun sudah cukup. Orang Yang Membunuh Ayah "Sekarang apa yang lebih penting?" Tanya Hiat-kun. Aku tidak mau juga tidak bisa. aku seperti pohon yang terkena salju. hati kosong. "Untung saja kau belum menjalankan upacara sembahyang dengannya." "Aku tidak menyalahkanmu. Tapi hari ini kau bisa menemukanku. Aku hanya sendiri di Lok-yang. ” Wie Thian-hoan merasa hatinya sangat pedih.Hiat-kun bercerita sambil menangis. semua masalah yang terjadi aku terima dengan pasrah. "Aku yang salah! Sampai sekarang aku baru mencarimu. sekarang Hiat-kun sudah tidak menangis. aku menikah dengan Hie Tionggwee bukan karena aku setuju juga bukan aku tidak menyetujuinya. Bagaimana dengan masa depanku? Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Karena hatiku sudah mati. aku ingin kau memberitahu . Nama "Nyonya Hie' juga belum disetujui oleh keluarganya. ibu pergi meninggalkanku. Ya aku menurutinya. Dia memeluk Hiat-kun dengsn erat dan berkata." Sambil meneteskan air mata Wie Thian-hoan berkata: "Apakah hatimu yang sekarang sudah hidup kembali?" Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata: "Aku tidak mau memberitahu. bila ilmu silatmu belum tinggi.

" "Memberitahu apa?" "Kau yang bilang. dan ayah segera pulang. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.. aku curiga bahwa Hie Tiong-gwee bila bukan dalang. banyak hal yang ingin ditanyakan. Sekarang ini aku sedang mengumpulkan bukti. setidaknya dia ikut membantu kejahatan. 8 pengawal istana segera menyusulnya. tapi ini belum seberapa. kita tidak akan bisa hidup di langit yang sama.. sekarang bercerita lebih penting untuk kita. aku harap kau bisa membantuku memecahkan masalah-masalah ini. dia memalsukan banyak hal." "Dengan orang yang membunuh ayah.kepadaku. Dia juga satu-satunya orang yang tahu pekerjaan ayah. selama beberapa tahun mencari kabar di dunia persilatan. mungkin Hie Tiong-gwee adalah orang yang sengaja melakukan kebaikan untuk dipuji oleh orang-orang. aku akan menceritakannya padamu." ”Menurutku. Apakah semua ini bukan suatu hal yang terlalu kebetulan?" . Ayah belum sempat mengatakan apaapa kepadaku dan tiba-tiba ibu berubah sikap kepada dia." Hiat-kun tampak terkejut dan bertanya: "Apakah kau curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang membunuh ayahmu?" "Benar." "Mengapa kau bisa curiga kepadanya?" "Dia adalah teman ayah yang terakhir dan ayah mengenalnya sebelum meninggal. Waktu ayah dan dia berpisah. Pada saat ayah pulang pada malam itu. aku akan memberitahu mengenai Hie Tiong-gwee. Coh Toako pun mencurigainya. mengapa bisa lupa?" Wie Thian-hoan tampak berpikir dan berkata: "Benar. bukankah begitu?" Hiat-kun sedikit malu dan berkata: "Aku sudah memutuskan tidak akan menjadi istrinya. kau juga ingin tahu apakah dia orang jahat atau baik.

8 pengawal istana semua menyerang ayah. walaupun ayah tidak mengenal Hie Tiong-gwee tapi setelah tiba di Lok-yang. dia pasti akan langsung tahu. Dalam kegelapan ayahmu tidak jelas melihat mayatmayat itu." "Apa? Kau bicara apa? Malam itu ayah pernah bertarung dengan Hie Tiong-gwee?" Tanya Hiat-kun." "Malam itu. Orang itu kurang kuat menangkapmu kemudian ayah menyerangnya dan kau bisa meloloskan diri dari cengkraman orang itu tapi ayah mengira orang yang ditutup wajahnya itu adalah pengawal istana. Belakangan dia tahu 8 pengawal itu datang dari ibukota. bila ayahmu pernah bertarung dengan Hie saat itu." Kata Wie Thian-hoan: "Tidak. dia tidak akan setuju kau menikah dengan Hie. ada yang ditutup wajahnya?" "Ayah pernah mengatakannya. pada waktu dia keluar dia melihat kau ditangkap oleh orang yang ditutup wajahnya. waktu ayahmu keluar sudah ada beberapa orang yang mati karena pukulan ayah. "Apakah ayahmu pernah berkata ada seseorang di antara mereka." "Kalau begitu kau sudah tahu bahwa pada malam itu dia berada disana?" "Aku belum bisa memastikannya. pada saat melihat Hie dia pasti akan tahu." "Apakah kau curiga bahwa dia adalah salah satu di antara pembunuh-pembunuh itu?" "Kedelapan orang pengawal istana dia yang membawanya."Karena itu kau curiga bahwa dia yang melaporkan?" "Mungkin bukan hanya melapor saja. Dia mengira orang yang wajahnya ditutup itu adalah pengawal istana." . Menuduh dia sebagai pembunuh juga tidak salah. mana mau ayah tinggal di Lokyang. bila ayahmu tahu. ayahku juga ada di sana tapi aku belum pernah mendengar ayah pernah melihat Hie Tiong-gwee. tapi aku sudah yakin 90%." "Benar.

tapi . di dunia persilatan menyebar berita bahwa yang tidak beruntung adalah aku. Benar saja." Kata Wie Thian-hoan. dia bilang dia harus ke Huang-ho untuk bertarung dengan Huang-ho-sam-kui." "Dia membuat kepalsuan. tapi orang yang paling kucurigai adalah dia." "Ini bisa membuktikan bahwa pada malam itu dia tidak berada di rumah kita." "Tapi aku sendiri yang mencari tahu semua yang dikatakan olehnya bahwa dia telah mengalahkan Huang-ho-sam-kui. mengapa takut orang lain akan mengenali wajahnya karena dia takut ayah akan mengenalinya. ini sangat mencurigakan tapi belum bisa membuktikan bahwa dia adalah orang yang ditutup wajahnya."Apakah orang yang ditutup wajahnya itu adalah Hie Tionggwee?" "Sekarang aku hanya mengatakan yang aku tahu. dia berkata bahwa aku adalah seorang penjahat kelas kakap. dan dia adalah seorang pendekar keadilan. Pertama. Semua dia sendiri yang mengarang-ngarang berita ini." Wie Thian-hoan berkata: "Musuh yang menyerang pada malam itu hanya dia sendiri yang ditutup wajahnya." "Dari mana kau tahu?" "Sewaktu dia berpisah dengan ayah. Jadi aku sering disalah sangka oleh orang-orang. "Ada 2 sebab mengapa kau mencurigainya. hatinya takut maka dia sering membuat pernyataan bahwa dia tidak berada di tempat itu. kau tahu bahwa dia adalah orang yang senang dipuji" Wie Thian-hoan melanjutkan: "Ketiga. Kata Hiat-kun. sebenarnya Huangho-sam-kui adalah teman-temannya. dia adalah teman terakhir ayahmu yang dikenalnya juga orang yang paling tahu pekerjaan ayahmu. tiga tahun yang lalu dia mengajakku bertarung di Siong-san. Kedua. belakangan ini ada kabar yang mengatakan bahwa dia sudah bertarung dengan mereka dan dialah yang menang. ini adaiah alasan ke 4. alasan ke 5.

Walaupun dia tidak bicara. tapi begitu dia akan meninggal. aku bilang 'kita'.." "Ayahmu sebenarnya tidak menyetujui pernikahan ini. dia mengira karena umurku masih muda. hanya 5 alasan ini cukup mencurigakan. tadinya setuju kau menikah dengan Hie . Kata Wie Thian-hoan: "Sebelum sampai ke Lok-yang.mengapa dia berbuat begitu. mengapa dia begitu gesit membasmi penjahat kelas kakap? Mungkin ini bukan hanya menjaga nama baiknya. apakah kau menemukan bukti baru?""Benar!" "Apa itu?" "Keadaan keluargamu. tiba-tiba dia berubah pikiran dan mengharuskan kau menikah dengannya. aku mengira dia sudah tahu siapa diriku. "Setelah tiba di Lok-yang. seperti pepatah yang mengatakan: 'mencabut rumput harus sampai keakarnya' " "Apakah hanya 5 alasan ini?" Tanya Hiat-kun. tapi Wie Thian-hoan tahu 5 alasan ini bukan bukti yang kuat. masih ada satu lagi. tiba-tiba dia terpikir sesuatu dan berkata:"Hal yang paling penting adalah tidak bisa hidup bersama pembunuh ayah dalam satu langit yang sama. apakah kau tidak merasa aneh?" "Tapi pada saat itu aku tidak mempunyai kesempatan bertanya kepada ayah." Dengan gemetar Hiat-kun berkata: "Kau bilang ayahku." "Ibumu juga begitu. sepertinya tadi kau mengatakan kita'?" Dengan pelan Wie Thian-hoan berkata: "Benar." Hiat-kun bengong.." Tanya Hiat-kun. ilmu silatku belum tinggi dia ingin membunuhku hingga tidak ada lagi keluargaku yang tersisa.

aku harus membalas dendam!" "Memang." Kata Wie Thian-hoan. maka ayahmu memutuskan tidak memberitahumu." "Aku masih tidak mengerti. "Aku menebak ayahmu diracuni oleh Hie Tiong-gwee hingga mati. aku menebak dari ceritamu. Teriak Hiat-kun: "Mengapa ayah menyuruhku menikah dengan musuh?" "Karena dia ingin melindungi ibumu dan dirimu." Hiat-kun masih gemetar dan dia berkata: "Hoan Toako. dengan demikian baru bisa mempunyai kesempatan untuk membalas dendam. bila kau tidak menikah dengannya. terakhir dia sudah mengetahui bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang sangat jahat kemudian dia sadar Hie Tiong-gwee lambat laun akan membunuhnya juga. hanya tidak mau Hie Tiong-gwee tahu bahwa dia sudah tahu penyebab kematian ayahmu tapi tebenciaannya kepada Hie Tiong-gwee tidak dapat dipendam. sikap ayah dan ibu jadi berbalik.Tiong-gwee. kau tahu apa lagi? Cepat kau beritahu aku!" "Aku tidak tahu apa-apa lagi. kalau dugaan kita benar. aku menebak dia sudah membicarakan syarat-syarat ini dengan ayahmu.. Ayahmu adalah orang yang bisa menahan diri.. Ibumu juga menahan penghinaan ini." "Coba ungkapkan pikiranmu!" Sebenarnya dia bukan tidak bisa berpikir melainkan tidak berani berpikir. aku juga tidak mengerti. tapi penjelasanmu sungguh masuk akal dan aku harus mempercayainya. aku juga curiga kepadanya tapi aku belum mempunyai . ibumu tidak akan bisa meninggalkan Lok-yang. dia takut kau tidak bisa menahan diri. apakah kau bisa menjelaskannya?" "Lok-yang adalah daerah kekuasaannya. juga membiarkan ibumu meninggalkan Lok-yang. belakangan malah berubah sikap. karena inilah sikapnya yang baik tiba-tiba berubah" Hiat-kun berkata: "Tadinya aku tidak berani menyangka bahwa Hie Tiong-gwee begini jahat." "Benar.

" Kata-kata ini juga ingin disampaikan oleh Hiat-kun." Wie Thian-hoan memeluk Hiat-kun dan berkata: "Aku tahu bagaimana hatimu. apakah benar dia adalah Hie Tiong-gwee?" "Bagaimana caranya?" "Malam itu ketika orang itu menangkapku. aku sempat menggigit pundaknya walaupun tidak meremukkan tulangnya tapi paling sedikit ada belas luka di pundaknya. Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata: "Apakah aku masih bisa membantumu? Bila aku pulang lagi ke rumah Hie untuk menipunya. kau mencari bukti kuat seperti apa?" "Adik.bukti yang kuat. dia pun tidak akan menganggapku sebagai istrinya lagi. apalagi rumah Hie sangat besar. karena itu. kau kembaii ke sana untuk menipunya aku juga tidak mau kau menyandang nama Nyonya Hie..’ "Karena itu kau hanya melukai dia tapi tidak mengambil nyawanya. apakah kau bisa membantuku? Membantuku mencari orang yang ditutup wajahnya saat itu. Hie Tiong-gwee harus membuka bajunya baru bisa terlihat. walaupun kita menggunakan cara keras supaya Hie Tiong-gwee keluar dari . Hiat-kun sudah tahu untuk melihat bekas luka ini." "Dia boleh mengatakan bahwa aku adalah penjahat kelas kakap. kita tidak tahu dia bersembunyi di kamar mana ” Wie Thian-hoan tertawa kecut: "Aku juga tidak mau merusak nama baikmu." Wie Thian-hoan tidak perlu menjelaskan." "Bila kita tidak bisa menipunya kita pakai cara keras saja tapi banyak orang yang melindunginya walaupun ilmu silatmu tinggi juga tidak akan tahan terhadap serangan mereka. dia bertanya: "Hoan Toako. tapi aku tidak pernah salah membunuh orang.

mati pun aku tidak akan menyesal. aku hanya khawatir gara-gara aku namamu yang tercemar. dia tidak mau mendengar bahwa orang yang dia cintai menikah dengan perempuan lain. dan menganggapmu sebagai perempuan genit Bila dia bukan orang yang ditutup wajahnya." "Dulu waktu aku kecil aku juga menganggapmu sebagai kakak.. nama baikmu akan tercemar. tapi artinya sangat mudah ditebak Waktu kecil dia menganggap Wie Thian-hoan sebagai kakaknya tapi sekarang dia bukan kakaknya.." Hiat-kun menutupi mulut Wie Thian-hoan dan kata "kau' tidak . aku tidak mau dia salah paham" "Aku selalu menganggap dia adalah adik kecilku. mengapa kau tidak mau memikirkan dia?" Kata Wie Thian-hoan: "Siapa bilang aku akan menikah dengannya? Aku akan menikah dengan. aku sudah siap dicemooh orang-orang.rumahnya tapi orang-orang akan memandangku sebagai selingkuhanmu. malam ini aku bisa bertemu denganmu." Walaupun bicaranya berputar-putar." Kata Wie Thian-hoan: "Apakah kita akan melepaskan Hie Tiong-gwee begitu saja? Aku tidak mau memikirkan dia lagi. Kata Wie Thian-hoan: "Dia tahu aku mencarimu. begitu pula dengan perasaan Kie Su-giok.” "Kelak kalian akan menjadi suami istri. Hoan Toako." Wie Thian-hoan melotot dan bertanya: "Apa maksudmu?" "Aku harus memikirkan perasaan Sumoimu." "Aku juga perempuan karena itu aku mengerti perasaan Sumoimu." "Begitu aku keluar dari rumah Hie. dan tahu kau masih baik seperti dulu. Aku tidak bisa merusak kebahagiaanmu lagi.

" Tiba-tiba Hiat-kun berkata: "Bila kita mencari pamanku bagaimana?" Mata Wie Thian-hoan menjadi bercahaya dan berkata: "Benar. kau harus menikah dengan gadis lain. kita bisa menangkap Hie Tionggwee. ke mana Sumoimu?" "Dia sudah pulang. aku sudah memberitahumu bahwa setelah bertemu denganmu. "Dendam ayah harus dibalas tapi harus memikirkan siasat yang lebih baik." Wie Thian-hoan mengganguk dan berkata: "Aku tidak akan ceroboh. aku tidak bisa menjadi istrimu. paling sedikit dia tahu penyebab kematian ayahmu." Kata Wie Thian-hoan: "Kalau begitu lebih baik kita kembali ke kota Lok-yang. dia sudah tahu untuk merubah pikiran Hiat-kun tidak mudah." "Dia adalah orang yang sangat setia kepada Hie Tiong-gwee." Teriak Wie Thian-hoan: "Mengapa tidak bisa?" "Aku tidak mau berdebat denganmu. mati pun aku tidak menyesal. kita berdua masuk ke dalam kediaman Hie kemudian membunuhnya. masing-masing tidak akan bisa berubah" Wie Thian-hoan terdiam. kau mempunyai prinsip sendiri begitu pun dengan diriku. aku minta kita hanya sebagai adik dan kakak yang berbeda she saja. Hoan Toako.dapat keluar dari mulutnya "Hoan Toako. berdebat tidak akan berguna. mungkin dengan bantuan pamanku." Tiba-tiba Hiat-kun bertanya: "Aku lupa bertanya." “Mengapa dia tidak bersamamu ? apakah dia tidak khawatir kau .

dia ingat dia sudah menyuruh orang menyediakan kuah . tapi dia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh lagi. yang paling penting adalah membalas dendam. ---ooo0dw0ooo--- D." Apakah benar Kie Su-giok sudah pulang? Walaupun Wie Thianhoan mengatakan demikian tapi hatinya tetap khawatir. Di jalan terdengar bunyi gong subuh. Kemarin terjadi cipratan darah di aula. Bila terjadi apa-apa dengan Hie Tionggwee. musibah yang menimpa dua keluarga membuat mereka bersatu lebih erat lagi. Dia merasa semua tidak sejalan dengan pikirannya Sudah hampir dini hari. Dia ingin pernikahan keponakannya membuatnya naik status sosialnya Tapi apakah bebek yang sudah matang bisa terbang lagi? Tiong-gwee terluka.hanya sendiri berada di sini?" "Aku menyuruhnya pulang. keluarga Hie tidak mengijinkannya menengok Hie Tiong-gwee. bila tidak dia juga akan terlibat. Siapakah Pembunuhnya? Kang Cu-si tampak bengong. Tapi bila ada Hiat-kun di sisinya. apakah sekarang juga demikian? Dia sendiri juga tidak terlalu percaya. membuat hatinya tidak tenang. walaupun dia mengkhawatirkan Sumoinya. Memang benar biasanya dia menurut kepada kata-kata Wie Thian-hoan. dan dia selalu mendengarkan katakataku" "Lebih baik begitu. peristiwa itu membuat dia sangat terkejut. Keponakannya belum menjalankan upacara sembahyang dengan Hie Tiong-gwee. kehilangan dukungan masih tidak apa-apa tapi nyawanya mungkin akan melayang. tapi dia masih belum mengantuk sama sekali.

bila tidak mau menjadi orang bisu. jawablah pertanyaanku.. Dia sangat terkejut. tidak dapat keluar sepatah kata pun. "Aku ingat!" jawab Kang Cu-si. Kang Cu-si menggelengkan kepalanya. Mengapa begitu sunyi? Pelayan-pelayan berada di manakah semua? Kalau bos belum tidur. "Kau tidak menyangka aku akan cepat kembali bukan?" Benar. dia bukan Cun-lan. "Coba kau ulangi!" kata si baju hitam. "Apakah kau senang menjadi orang bisu?" Mata perempuan itu sangat tajam seperti sebuah pedang.." "Bila tidak bagaimana?" "Bila tidak.ginseng Sebelum tidur dia akan meminumnya dulu. Kang Cu-si tidak menyangka. "Kau menyuruhku mengurus keponakanku. biasanya terdengar orang yang berjalan di luar. mulutnya melongo. sebelum pergi. kau tidak akan melepaskanku. apakah kau mengerti . kau ingat aku sudah berpesan apa kepadamu?" tanya si baju hitam itu. "Baiklah. bila tidak. pelayannya. mengapa hari ini sangat sepi seperti di kuburan? "Cun-lan. Perempuan itu mengenakan baju duka. kau ada di mana? Cepat ambilkan kuah ginseng untukku!" Saat itu walaupun tidak ada angin tapi jendela bisa terbuka dengan sendirinya." "Waktu itu aku bertanya kepadamu. Di hadapannya sudah berdiri seorang perempuan. tidak boleh merugikan dia. perempuan berbaju hitam itu dengan dingin berkata. Kang Cu-si seperti melihat hantu. Dia tidak bisa bicara tapi perempuan berbaju hitam itu memaksanya bicara.

Mayatnya masih hangat. karena itu jebih baik jangan mengeluarkan suara.maksudku. Melihat situasi ini. Dalam kegelapan penuh dengan bahaya. Hiat-kun terkejut dan hampir berteriak. Mereka tidak mau masuk dari arah pintu depan. Hari hampir subuh. dalam hati dia berpikir." Kang Cu-si seperti seorang tersangka menjawab pertanyaan hakim. orang itu pasti masih ada di dalam rumah Pesilat tangguh ini pastilah musuh Kang Cu-si. Walaupun sinar bulan sudah tidak terlalu terang. Siapakah dia?" . dengan ilmu meringankan tubuh mereka memanjat dinding dan masuk dari samping. Begitu masuk mereka menemukan penjaga pintu yang sudah mati. Kang Cu-si. pasti ada seorang pesilat tangguh yang datang dan membalas dendam kepada Kang Cu-si. Hiat-kun dan Wie Thian-hoan sudah hampir tiba di rumah paman Hiat-kun. tapi dia harus mengaku. "Tenaga telapak tangan ini adalah campuran dari Bian-ciang (telapak kapas) dan Ta-sik-pek-jiu (Telapak Tangan Penghancur Batu) ini adalah campuran tenaga dalam keras dan lembut. Kali ini Wie Thian-hoan bisa melihat lebih jelas lagi. Pengalaman Wie Thian-hoan lebih banyak. seperti Wie Thian-hoan dia juga sudah tahu bahwa penjaga pintu mati oleh pukulan oleh tenaga telapak tangan. orang terkenal di dunia persilatan yang menggunakan tenaga telapak tangan bisa dihitung dengan jari. Kepalanya tidak pecah tapi melengkung ke arah dalam. tapi dia juga belum tentu teman mereka. dapat diketahui bahwa tenaga dalam orang ini sangat kuat. dia melambaikan tangan menyuruh Hiat-kun jangan berteriak. apakah benar?" "Benar. Perempuan berbaju hitam itu tertawa dingin. kau bilang kau sudah mengerti. tubuhnya sudah gemetar.

bagaimana pun Wie Thianhoan tidak percaya dia adalah seorang pembunuh. kedua adalah Ketua Bu-tong. . Gadis berumur 16 tahun yang bernama Cun-lan pun telah dibunuh.Dalam waktu dekat ini hanya ada 5 orang yang bisa. orang ini jarang keluar di dunia persilatan. Hiat-kun sangat senang pamannya belum tidur. dia tidak mungkin datang ke Lokyang. pembunuh itu terlalu kejam sudah membunuh penjaga pintu dan pelayan lakilaki. Cun-lan mati seperti 2 pelayan lainnya. Di bawah loteng ada sebuah gunung buatan. orang ini mungkin sudah dibunuh. Hiat-kun tahu itu adalah pelayan pamannya yang bernama Cunlan. Kamar Kang Cu-si ada di sana. ternyata ada sebuah cangkir yang diisi kuah ginseng sudah pecah dan kuahnya sudah tumpah. Benar di sana ada sesosok mayat perempuan. dia mendekati gunung buatan itu. Hiat-kun segera berjalan ke depan melewati barang-barang yang bisa menutupi bayangan mereka menuju loteng. Hiat-kun merasa kakinya basah. Yang pertama adalah Cianpwee Siauw-lim. dia memberi isyarat kepada Wie Thian-hoan. Wie Thian-hoan dengan ilmunya. Kepalanya tidak pecah tapi melengkung ke dalam. Yang ketiga adalah pemilik pulau Li-ho. Hiat-kun hampir muntah mulutnya terasa mual-mual. mari kita cari. Wie Thian-hoan segera menggosok bagian dada Hiat-kun supaya dia bisa bernafas lehih lancar Kemudian Hiat-kun memberi isyarat kepada Wie Thian-hoan supaya naik ke loteng." Hiat-kun tahu keadaan dan situasi rumah pamannya. Kelima adalah orang ini berada di Lok-yang. orang ini sangat dijunjung tinggi oleh sesama pesilat. Yang keempat. Cairan otak keluar dari luka itu. Di lantai atas di sudut terlihat masih ada lampu yang masih menyala. mengantar suara ke telinga Hiat-kun dan berkata: "Orang yang mengantar kuah ginseng untuk pamanmu. kedua orang ini masih bisa dipercaya oleh Wie Thian-hoan. Wie Thian-hoan mengangguk.

" Wie Thian-hoan seperti mengetahui pikirannya. "Pasti bukan ibu. Perasaan dingin menusuk hingga ke jantungnya. Kang Cu-si masih terkejut dan berkata: "Aku." Sebenarnya Wie Thian-hoan bukan hanya menenangkan Hiatkun. dengarkan baik-baik. aku.Begitu mereka akan naik. kau tenang saja. tiba-tiba terdengar di dalam kamar ada yang tertawa dingin." . dia tidak menghakimimu. ilmu silat ibu memang baik tapi hanya bisa memotong ayam saja. tidak perlu disangsikan lagi oleh Wie Thian-hoan pun dia sudah terkejut hingga bengong. dalam hati Hiatkun berpikir. "Mengapa ibu tidak memberitahuku bahwa ibu pemah berpesan kepada paman?" Kecurigaannya segera terjawab. Hiat-kun tidak tahu apakah kematian Cun-lan karena gabungan ilmu ini? Perempuan berbaju hitam itu berkata: "Bila kau ingat pesanku sebelum aku pergi.. dia tahu ibu Hiat-kun pernah berlatih Bian-ciang tapi tidak pernah berlatih Ta-sik-pek-jiu (Telapak tangan penghancur batu)... Hiatkun tahu ibunya bisa ilmu Bian-ciang." Tangan Hiat-kun gemetar. Suara ini adalah suara seorang perempuan. "Ibu mana mungkin bisa begitu kejam membunuh seorang gadis baik seperti Cun-lan. Ini adalah suara ibu Hiat-kun. Wie Thian-hoan menarik Hiat-kun dan menutup mulutnya. dan lebih terkejut lagi karena dia mengenali suara ini.. "Bibi bukan pembunuh. Suara ini membuat mereka terkejut. dia berbisik kepada Hiat-kun. mengapa kau tidak menungguku kembali? Malah segera memaksa Hiat-kun menikah?" Sekarang jelas itu adalah ibu Hiat-kun.

bila dia sudah curiga.. paling cepat setengah tahun dan aku akan kembali." Ibu Hiat-kun lebih marah lagi: "Aku sudah berpesan. dia adalah seorang tabib. apakah kau tahu mengapa aku cepat kembali?" Kang Cu-si tidak bisa menjawab juga tidak berani menjawab. kedua aku sudah tahu hal yang sebenarnya. bagaimana pun kau harus menunggu paUng lama 1 tahun. tapi kau tidak menungguku untuk mencari tahu hal sebenarnya. aku.. tapi Hie Tiong-gwee yang tidak bisa menunggu. Sekarang apakah kau masih mau menipuku lagi?" "Enso." . Ibu Hiat-kun tertawa dingin dan berkata: "Mungkin tidak perlu kuberitahu. Mereka terus mendengarkan. Apakah kau tidak bisa menunggu?" "Bukan aku tidak bisa menunggu. aku tidak tahu kapan kau bisa mencari penjelasan mengenai kematian Cu-goan. apakah kau ingin tahu bagaimana dia bisa mati ?” Hati Hiat-kun hampir meloncat keluar. sikapnya pasti akan terlihat oleh Hie Tiong-gwee. mereka tidak jadi menikah. mungkin kau belum tahu bahwa putrimu belum sembahyang dengan Hie Tiong-gwee. "Pertama." "Bagaimana pun kau bersalah kepadaku juga Hiat-kun dan juga Toakomu.Ibu Hiat-kun marah: "Aku. Kau merugikan dia seumur hidup. karena itu aku tidak diberitahu.. apa? Karena kau takut Hiat-kun akan curiga. dia memaksaku menikahkan Hiat-kun untuknya. Dengan suara gemetar Kang'Cu-si bertanya: "Tentang apa?" Dengan dingin ibu Hiat-kun berkata: "Aku mencari teman baik Toakomu. Tabib itu membuka peti mati kemudian memeriksa mayat Toakomu." Kata Ibu Hiat-kun..." Kang Cu-si tertawa kecut dan berkata: "Enso. kau sudah memaksa Hiat-kun menikah. aku melarangnya menikah. kau pun sudah tahu.. Wie Thian-hoan memegang tangannya dengan erat.

. Segera ibu Hiat-kun bertanya: "Mengapa?" "Karena Hui-thian-sin-liong tiba-tiba membuat keonaran di aula." Pada waktu itu tiba-tiba terdengar suara Kang Cu-si berteriak." "Baiklah kalau begitu kau.. terlihat sesosok bayangan keluar dari kamar. ampun. bernama Thian-hoan. meloncat ke atap dan lari. dan melukai pengantin pria. Tiga buah koin telah mengarah di 3 tempat di tubuh Hiat-kun." Tidak perlu melihat lagi.. aku belum bertemu dengan Hie Tionggwee lagi. lampu di loteng tiba-tiba mati." Ibu Hiat-kun terdiam lama. "Enso. Orang itu mendengar suara Hiat-kun. kemudian dia dengan senang berteriak: "Apakah benar dia Thian-hoan? Dia sudah kembali! Apakah dia yang melukai Hie Tiong-gwee?" "Setelah peristiwa itu..Dia sengaja mengalihkan topik supaya ibu Hiat-kun bisa reda amarahnya." "Cepat katakan yang sebenarnya kepadaku!" "Katanya dia terluka parah tapi tidak mati. Hiat-kun yang masih di bawah loteng. Dalam kegelapan ternyata dia masih bisa melihat jalan darah Hiat- . Mereka tidak tahu apakah bayangan itu perempuan atau lakilaki. melihat dia melemparkan senjata rahasia yang cepat seperti petir. dia melambaikan tangan dan sudah meloncati 2 rumah. Wie Thian-hoan dan Hiat-kun tahu bahwa Cu-si akan meminta maaf kepada ibu Hiat-kun tapi ibu Hiatkun sudah membunuhnya Tapi Wie Thian-hoan curiga mengapa ibu Hiat-kun begitu cepat membunuh paman Hiat-kun? Baru saja dia berpikir seperti itu. Hanya tahu ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi dari ibu Hiat-kun." "Siapa Hui-thian-sin-liong itu?" "Dia she Wie.

'Bila Hoan Toako tidak membantuku. berarti orang itu bukan ibu Hiat-kun. walau bisa mengejar dia tidak punya waktu. dengan cepat dia mendekati Hiat-kun. "Ilmu silat orang itu berada di atasku apakah di antara keluarga Hie ada orang seperti itu? Siapakah dia?" Dia tidak tahu siapa orang itu tapi ketika mendengar suara Hiatkun orang itu masih melemparkan senjata rahasianya. Wie Thian-hoan berkata: "Mari kita masuk untuk memeriksa. Hiat-kun merasa sangat kacau. di dalam lampu cahaya api belum begitu terang. dalam hati dia berpikir. mereka melihat Kang Cu-si sudah mati tergeletak di depan pintu. Wie Thian-hoan begitu mendengar suara senjata rahasia. dia berlari ke atas loteng dan berteriak: "Ibu.ibu. . aku tidak akan bisa lolos dari serangan itu!" Dia seperti mengenali bayangan itu. dia tidak bisa mengejar orang itu. Wie Thian-hoan mengikuti dari belakang. Lampu sudah dinyalakan.. dia menendang pintu kamar. lampu segera dinyalakan. koin ketiga melewati rambut Hiat-kun sehingga membuat Hiat-kun keluar keringat dingin. Dia menggerakan jarinya ke kiri dan kanan Hiat-kun.. Dia terkejut dan dalam hati dia berpikir. melainkan orang yang berpihak kepada Hie Tiong-gwee. Mengingat hal ini.kun dengan jelas.. siapakah dia? Wie Thian-hoan memungut dua koin itu. dia merasa tangannya sedikit kesemutan. biarkan saja orang itu pergi!" Ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi dan orang itu sudah menghilang Hiat-kun teringat kepada ibunya. dia sudah tahu bahwa Hiat-kun tidak akan sanggup menyambutnya.!" Tapi ibunya tidak menjawab. terdengar suara dua buah koin yang jatuh.

ilmu silat Hiat-kun tidak begitu tinggi tidak sanggup membantu mengalirkan tenaga dalam. kita juga tidak kenal dengan keluarga Tong." kata ibunya. Hiat-kun dengarkan dengan jelas. yang membuatnya terkejut adalah bahwa racun ini ternyata datang dari keluarga Tong. Baik." Wie Thian-hoan memegang tangan kirinya. aku mati pun sudah bisa menutup mata. bagaimana perasaanmu? Jangan banyak bicara dulu. "Ibu. Terlihat ibu sedang duduk bersila. dia berkata. Hiat-kun menarik nafas walaupun dia tidak tahu siapa pembunuhnya tapi dia tahu yang membunuh Cun-lan dan pamannya bukan ibunya. Tenaga bantuan seperti ini dengan tenaga dalam Wie Thian-hoan sama. Hiat-kun sangat terkejut. ini tidak membuatnya terkejut. Ayahmu. dengan gemetar dia bertanya. dia memegang tangan ibunya. terdengar suara rintihan. Wie Thianhoan mengalirkan tenaga ke dalam tubuh ibu Hiat-kun. Hiat-kun memegang jangan kanannya." Ibu Hiat-kun menjawab: "Aku harus bicara. Begitu nafas ibu Hiat-kun mulai tenang. sangat baik.. mengapa ayah bisa terkena . "Hiat-ji. Tapi anak perempuan itu selalu dekat di hati ibunya. ayahmu mati karena racun. aku tidak punya waktu lagi. kalian sudah datang berbarengan.Kematian Kang Cu-si seperti mayat-mayat di bawah. membuat hati ibunya yang hampir berhenti kemudian hidup lagi. "Nak. "Katanya racun keluarga Tong tidak beredar di luaran. membuat ibunya terlihat agak tenang.. Dari mulut ibunya sudah meleleh keluar darah dengan perlahan." Ayahnya mati karena diracun. Hiat-kun berteriak: "Ibu. kau kenapa?" Wie Thian-hoan membawa lampu untuk melibat keadaan ibu Hiat-kun. racun itu didatangkan dari propinsi Suchuan dari keluarga Tong.

Dia adalah teman ayah Hiat-kun. aku percaya. Begitu penyakitnya kambuh sudah tidak akan bisa tertolong lagi." Kata Wie Thian-hoan. Bila ayahmu tidak selalu curiga kepada Hie Tiong-gwee." kata-katanya semakin mengecil.. Tapi Wie Thian-hoan sudah tahu apa yang dikatakan oleh ibu . karena inilah yang dikatakan oleh Yap-sin-ih (Tabib Sakti Yap). secara turun temurun dia adalah dari keluarga tabib. Kata Wie Thian-hoan: "Bila Yap-sin-ih sudah menentukan seperti itu.. "Apa buk.." Kata Hiat-kun: "Aku dan Hoan Toako datang ke rumah paman juga ingin tahu penyebab kematian ayah.racun itu?" Tanya Hiat-kun.pembunuh. Ayahmu terkena racun keluarga Tong itu sudah pasti.. tapi aku masih mencari satu bukti yang kuat. ayahmu juga tidak akan menyuruhku mencari Yap-sin-ih untuk memeriksa mayatnya." Kemudian ibu melanjutkan lagi: "Kata tabib itu.." "Apakah dia adalah orang yang wajahnya ditutup?" "Banyak bukti yang mengarah kepadanya." Wie Thian-hoan pun tahu bahwa Yap In-nong adalah tabib yang terkenal. tapi aku tahu tabib itu dicari oleh Hie Tiong-gwee. Hoaan Toako juga curiga bahwa Hie Tiong-gwee pun adalah pembunuh keluarganya. mengapa racun keluarga Tong bisa berada di luaran. Tabib yang dipanggil oleh Hie Tiong-gwee setiap hari mencampuri racun ini ke dalam obat ayah. Untuk meracuni pesilat tangguh. racun ini jarang terlihat. racun itu tidak berwarna juga tidak berbau. "Karena itulah harus kita cari tahu.buk. dan dia masih menguasai ilmu silat yang tinggi. Yap In-nong memiliki ilmu lebih tinggi dibandingkan dengan nenek moyangnya. Nama asli Yap-sin-ih adalah Yap In-nong.. obat inilah yang paling cocok. Menjadi hantu pun masih jadi hantu yang linglung. tiba-tiba pembunuh 2 huruf itu dia teriakan. sampai mati pun dia tidak akan tahu.

Seperti minyak lampu sudah habis. Hiat-kun tidak percaya dengan telinganya sendiri.. Seperti mendengar guntur di siang hari bolong.." "Pembunuhnya adalah Kiam. mana mungkin dia membantu Hie Tiong-gwee menjadi seorang pembunuh dan caracaranya yang begitu kejam.. Lampu tidak dapat menyala lagi. Wie Thian-hoan terus memberikan tanaganya kepada ibu Hiat-kun tapi sekarang tangan ibu Hiat-kun sudah dingin. walaupun dia adalah teman baik Hie Tiong-gwee tapi persahabatan mereka dilandaskan karena mereka adalah sama-sama pendekar." suara ibunya seperti suara nyamuk. dia sudah tidak dapat menerima tenaga lagi. "Hiat-kun. tapi dapat didengar oleh Hiat-kun. biar dia bisa mendengar lebih jelas. Minyak sudah habis dan lampu sudah mati. Dia harus mengatakan orang yang membunuhnya. Tiba-tiba Hiat-kun berteriak: . Bila Hie ingin membunuh ayah dan ibu Hiat-kun pasti dia akan melarangnya. Dia tidak dapat mengatakan hal lain lagi. daya hidup untuk ibunya sudah habis. Hal ini menjelaskan satu hal lagi. Kiam-kin. Tenaga luar pun sudah tidak dapat membantunya. Hiat-kun berharap ibunya bisa berkata sekali lagi. Ibunya sudah meninggal. tapi selamanya dia tidak bisa mendengar suara ibunya lagi. Hiat-kun memegang tangan ibunya dengan erat dan bertanya: "Pembunuh itu adalah. dia terdiam dan berteriak: "Apa! Pembunuhnya Tuan Kiam-ta!" Nama Tuan Kiam-ta di dunia persilatan sangat terkenal dan dia sangat disegani oleh orang-orang.Hiat-kun. Hiat-kun menangis tapi air matanya tidak bisa keluar. menangislah!" Kata Wie Thian-hoan..

" "Musuhmu adalah musuhku juga. aku juga tahu Tong Loji dengan Kiam-ta adalah saudara angkat. Karena Kiam-ta pernah menolong Tong Le-ji." "Aku sudah tidak ingin apa-apa lagi." "Tadi kau sudah dengar dengan jelas. dia adalah dewa penolong bagi Tong Loji. tapi dia beium tahu siapa Hie Tiong-gwee sebenarnya.. antara Kiam-ta dan keluarga Tong bukan teman biasa. bila bukan karena Kiam-ta yang menjadi perantaranya."Aku tidak mau menangis." Dua puluh tahun yang lalu. tapi aku tidak dapat mengalahkan Tuan Kiam-ta. dia bisa . apakah kau curiga bahwa kematian ayahmu ada hubungannya dengan Kiam-ta?" "Benar. kau harus membantuku membalas dendam." "Apa masih ada lagi yang kau curigai?" "Menurutku. Tiba-tiba Wie Thian-hoan bertanya: "Hiat-kun. Tuan Kiam-ta bukan orang seperti itu walaupun dia dan Hie Tiong-gwee adalah teman lama. apakah dia. kau harus tenang dulu. yang ibumu katakan adalah Kiam-ta. Tang Lo-ji hampir mati di bawah serangan pisau LoWan." "Aku juga berpikir seperti itu. aku akan balas dendam!" "Kalau kau mau membalas dendam." "Aku juga pernah mendengarnya dari kakek guru." "Apa?" Apakah kau tahu. aku pasti akan membantumu membalas dendam." "Benar. aku pernah mendengar dari ayah. Tong Lo-ji pernah salah melukai orang di kota Lok-yang dia adalah anak ketua Wan. aku bisa menghadapi Hie Tiong-gwee. pembunuhnya adalah Tuan Kiam-yan.. anak kedua dari keluarga Tong yaitu Tong Keng-souw dan Kiam-ta adalah sahabat karib. tapi tiba-tiba aku teringat kepada satu hal. tapi Tuan Kiam-ta.

" "Bayangan orang itu seperti Kiam-ta. kepercayaannya kepada Kiam-ta mulai goyah. hatinya sangat kacau Dia disuruh pulang oleh Wie Thian-hoan. tapi dia tidak berjalan . Yang benar atau yang salah. atau pembunuh. Kie Su-giok turun dari gunung. sulit ditebak Apa yang akan terjadi ? ---ooo0dw0ooo--Bab 5 Tidak ada jejak Seperti benar seperti tidak tahu isi hati Bukan teman bukan musuh A. kemudian berkata: "Itu tidak benar.memberikan racun keluarga Tong kepada Kiam-ta. tapi dia masih berpikir." "Kemarin maiam pun Tuan Kiam-ta sudah bertarung dengan Coh Toako saat itu kau baru tiba." Kata Hiat-kun. sampai sekarang yang mana yang palsu dan yang mana yang asli. Kecurigaan di dalam hati Hari sudah terang. dia pasti masih bisa menerima 3 jurusku. itu tidak aneh. Benar-benar dia penjahat. bila si baju hitam sudah bertarung dengan Coh Thian su." Wie Thian-hoan terdiam. kita kuburkan dulu ibu. ilmu silatnya berada di bawah si baju hitam. baru mencari tabib itu.""Apa yang tidak benar?" "Kemarin aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta." "Untuk membuka rahasia tidak sulit. aku pun tidak tahu." "Aku tahu." Benar.

tiba-tiba dia melihat ada seseorang di jalan.menuju rumahnya. apakah ini bukan disebut bertepuk sebelah tangan?" Apakah benar bertepuk sebelah tangan? Hanya Hiat-kun yang bisa menjawab. siapa yang bisa membantunya? Aku akan secara sembunyi-sembunyi kembali ke Lok-yang. dia ingat orang itu adalah salah seorang di antara para tamu Hie. entah dengan cara bagaimana baru bisa membantu Wie Thian-hoan. tapi sekarang dia sudah menjadi Nyonya Hie. Aku merasa tidak tenang. bila tidak dia tidak akan tega melukai hati Wie Toako. Wie Toako masih berharap dia dapat mencari bukti-bukti bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang jahat. Bila aku tidak membantunya. sebenarnya Kie Su-giok juga bertepuk sebelah tangan." Akhirnya dia kembali ke Lok-yang. Dalam hati dia berpikir. Dia sedang kebingungan." Kie Su-giok merasa kenal dengan orang ini. Kemarin Hie Tiong-gwee terluka dan dia bertarung mewakili suaminya. Memang benar dia tidak tega melukai Wie Toako dan kelihatannya Wie Toako masih mencintai dia. Benar-benar aku mencari kesulitan sendiri. walaupun Nona Kang adalah teman kecilnya. orang itu menarik nafas dan berkata: "Sebenarnya aku memberikan hati kepada sinar bulan. 'Wie Toako pergi untuk mencari kekasih lamanya. dia berjalan sendiri. 'Apa arti dari . Tapi cintanya tidak dapat menandingi cinta antara suami istri. dia tidak punya rencana apaapa. 'Mungkin Wie Toako hanya bertepuk sebelah tangan. mengapa aku harus mengikutinya ke Lok-yang?' Tapi segera dia berpikir lagi. "Walau bagaimana pun perlakuan Nona Kang terhadap Wie Toako tapi kalau datang ke Lok-yang sendirian sungguh berbahaya. Wie Toako terluka oleh pedangnya sendiri. tapi sinar bulan menyinari sungai kecil. Keadaan menjadi begitu rumit. dilihatnya dengan seksama. tapi dia memihak kepada Wie Thian-hoan. Tibatiba dia baru sadar dia berjalan ke arah Lok-yang lagi. Kie Su-giok sangat senang dalam hati dia berpikir. hatinya sangat kacau.

juga sudah melihat Kie Su-giok berjalan Kemarin bila dia bertemu dengan Kie Su-giok pasti akan senang seperti keadaan Kie Su-giok sekarang. 'Meskipun kau cucu Kie Yan-gan. aku datang bukan untuk mencari gara-gara hanya ingin berbincang denganmu." Coh Thian-su sedang tidak enak hati. juga tahu keadaan Hiat-kun dan Wie Thian-hoan. 'Ayah dan keluarga Kie sepertinya mempunyai suatu hubungan yang khusus. lebih baik aku mendengarkan dulu katakatanya. karena dia sudah tahu bahwa Hiat-kun adalah Sumoinya." Mendengar kata-katanya Coh Thian-su menjadi terkejut dan dalam hati dia berpikir. Benarbenar merugikan dia. Wie Thian-hoan sangat sombong kejengkelannya masih terpendam di hati belum bisa dikeluarkan. Jalan di gunung berliku-liku.' Segera dia mempercepat langkahnya mendekati orang itu. dia pasti teman Wie Toako.' Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau tidak kenal denganku tapi aku mengenalmu.puisi yang dibacanya? Dia memihak kepada Wie Toako. Tapi hari ini sudah tidak sama. tapi aku tidak tahu hubungan seperti apa. Orang itu ternyata adalah Coh Thian-su. Coh Thian-su mendekatinya. jadi tidak perlu bertanya lagi kepadanya Kemarin malam dia mendapat perlakuan 'air susu dibalas dengan air tuba'. apakah kau mempunyai pesan?" Dalam hati dia berpikir. Kie Su-giok tidak mengerti aturan dunia persilatan. sebenarnya semenjak kemarin dia ingin mencari Kie Su-giok. dengan dingin dia berkata: "Aku tidak kenal denganmu.' Coh Thian-su sengaja bertanya: . langsung berkata: "Jangan takut. dia dihina oleh Wie Thian-hoan dan ditotok pula. aku Coh Thian-su tidak takut kepadamu. Kie Su-giok meloncat dan menghalangi Coh Thian-su.

. aku membantu orang itu bukan berarti aku harus kenal dengan orang itu. 'Apakah dia itu pikun atau pura-pura pikun? Nama Wie Thian-hoan saja dia tidak kenal." "Bukankah kau baru dari Lok-yang?" . tapi dia tetap menahan diri. aku tidak bisa berkata apaapa.' "Wie Toako dijuluki Hrn-thian-sin-liong. kau tidak akan tanpa alasan membuat orang menjadi marah karena telah berpihak kepada Wie Toako." "Kau salah mencari orang." "Kalau begitu apakah kau bisa memberitahuku kabar mengenai Wie Toako. bila kau bukan teman Wie Toako." "Aku selalu melihat masalah bukan melihat orang." "Mengapa kau tahu bahwa aku adalah teman Hui-thian-sin-liong? Apakah dia yang memberitahumu?" Tanya Coh Thian-su. sedang "Karena semua tamu keluarga Hie mendukung Hie Tiong-gwee." Sengaja Coh Thian-su bertanya: "Siapa itu Wie Toako?" Kie Su-giok menjadi terkejut. kalau begitu coba jawab apa she ku dan siapa namaku?" "Aku tidak tahu she dan namamu.. tapi karena aku mempunyai kepentingan dengannya aku harus bersabar."Kau mengenalku. dia adalah orang yang membuat Hie Tiong-gwee batal menikah. tapi membantu yang benar. hanya ada 2 orang yang tidak sependapat dengan Hie Tiong-gwee dan salah satunya adalah dirimu." Kata Coh Thian-su." Dia sudah mulai jengkel. Kie Su-giok sudah merasa bahwa Coh Thian-su mempermainkannya. Coh Thian-su ingat bahwa Wie Thian-hoan pernah menghina dia. "Paling sedikit kau kenal dengan Wie Thian-hoan. langsung dia tertawa dan berkata: "Bila kau berpendapat seperti itu. tapi aku tahu kau adalah teman Wie Toako.

" "Aku tahu hubunganmu dengan Hui-thian-sin-liong. aku bukan temannya. mungkin bisa tahu keadaannya. aku mana bisa menandinginya. karena itu aku bertanya. bila kau tidak tahu. paling sedikit bersikap sopanlah. Terpaksa dia berkata: "Baiklah! Kau bukan teman Wie Toako." "Dimana salahku?" Dengan dingin Coh Thian-su menjawab: "Hui-thian-sin-liong adalah orang terkenal. . Dia adalah orang yang sangat lincah. Bila kau ingin mencari teman Hui-thian kau salah mencari orang. dengan temannya pun aku tidak berani berkenalan. kau tidak mau memberitahu keberadaan Wie Toako. apakah kau tidak tahu. begitu melihat Coh Thian-su marah dia sudah tahu kejadian sebenarnya. Nona."Memangnya kenapa?" "Aku kira kau adalah temannya.." Kie Su-giok dari kecil disayang oleh kakeknya. aku tidak suka bicara denganmu. tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku!" Kata Coh Thian-su: "Aku harus bagaimana terhadapmu? Apakah harus menjilatmu?" Kie Su-giok dengan marah berkata: "Mengapa kau begitu tidak sopan? Siapa yang mau kau jilat? Kau berteman dengan Wie Thian-hoan. apakah dia pernah menyinggung perasaanmu?" "Tidak perlu mengurusi masalah orang lain!" Kie Su-giok sudah tidak tahan lagi akhirnya dia marah: "Dia bersalah kepadamu. tapi aku tidak!" "Memang kau tidak bersalah kepadaku. dia sangat manja dan senang berbuat sesuka hati. tapi aku pun tidak berhutang kepadamu. belum pernah dia dipermainkan oleh orang lain. tapi bukan aku yang bersalah..

dengan tubuh miring. dia menusuk. terdengar suara 'Bek'. Kie Su-giok memutar-mutar lengan baju tangan kirinya ke arah belakang pundak Coh. seperti seekor ular ingin mencekik leher Coh Thian-su. Coh Thian-su pun tidak dapat mengelak dari serangan Kie Su-giok. aku tidak akan melepaskanmu.apakah itu tidak boleh?" Wajah Kie Su-giok menjadi pucat dan berkata: "Tidak boleh! Bila kau tidak menjelaskannya. Tenaga dalam telapak tangannya beradu dengan kibasan lengan baju Kie Su-giok. ilmu meringankan Kie Su-giok mengibaskan lengan baju dan menggulung kakinya. di tengah-tengah udara dia membalikkan tubuh. Sekarang kau minggirlah!" "Tidak bisa!" "Baiklah! Aku tidak akan sungkan lagi!" segera dia mengeluarkan ilmu dari keluarganya yaitu ilmu pena menotok urat nadi. Lengan baju tidak dapat menggulung dia. Tapi lengan baju kanan Ki juga membantu gerakan. menotok titik nadi di . Coh Thian-su mengerakan tangannya mencoba menangkap lengan baju Ki dan mengbalikkannya. begitu Coh Thian-su turun Kie Su-giok sudah menghalangi jalannya lagi. Coh Thian-su membungkukan tubuh." Coh Thian-su tertawa dingin: "Aku ingin tahu kau akan memakai cara apa menyuruhku untuk tetap tinggal?" Sambil tertawa dia sudah mengerahkan tubuhnya melewati kepala Kie Su-giok. Coh Thian-su sudah tahu Kie Su-giok akan mengeluarkan jurus ini. dua telapak tangan beradu. Coh Thian-su marah dan berkata: "Belum pernah aku melihat orang sepertimu begitu tidak tahu aturan dari tadi sudah kukatakan aku tidak pernah tahu mengenai Hui-thian. dia mengeluarkan ilmu silat turun temurun dari keluarganya yaitu 'Lo-ie-tiat-siu'. lengan baju kanannya digerakan mengarah ke belakang lehernya.

"Pena saktimu memang hebat. sudah dikeluarkan bisa terasa desiran anginnya kira-kira 15 meter. angin sangat kencang seperti sebuah pisau baja. Coh Thian-su berteriak: "Apakah kau masih belum mengaku.. Tapi jari Coh Thian-su juga seperti pena." kata Kie Su-giok dengan tertawa. dalam jurus Poan-koan-pit sebenarnya terdapat istilah bila senjata lebih pendek 1 inchi maka lebih bahaya 1 inchi lagi. lengan baju Kie Su-giok sudah berlubang ditotok oleh Coh Thian-su. Dua belah pihak masing-masing mengeluarkan jurus andalan keluarga masing-masing.". Coh Thian-su saat itu sedang menggunakan jurus Si-siung-tiauw-hoan-in (Dada kecil membalik awan).ketiak. lehernya juga akan dijerat oleh jurus Ting-coa-can-su' ( ular rotan melilit pohon). jurus menotok jalan darah ini di dunia persilatan sangat jarang dan sudah dianggap sebagai ilmu gaib. ujung penanya pasti sudah melubangi lengan bajunya dan bisa menotok nadinya. Pertarungan sangat sengit. Kali ini dia memakai lengan baju sebagai pecut tetap menyerang ke bagian leher Coh Thian-su. Sebenarnya bila Coh Thian-su memegang Poan-koan-pit. Lengan baju itu masih bisa dipakai seperti pisau begitu dikibaskan. dia meneruskan gerakannya dengan lengan bajunya yang panjang. Coh Thian-su tetap tidak mengganti jurus. dan jan pendek di gerakan. mana mungkin dapat dikibaskan dengan lengan baju Kie Su-giok? . Lengan baju Kie Su-giok bisa dijadikan pecut juga bisa untuk menyapu debu dan menotok jalan darah. jurusnya sangat aneh. Kie Su-giok menggulung lengan baju sebelah kanan. tapi jurus Liu-in-hui-siu (awan mengalir lengan baju beterbangan) ku pun tidak kalah hebatnya. sebentar saja mereka sudah mengeluarkan 30 hingga 50 jurus. lengan baju Kie Su-giok sudah dikebutkan ke tangan kiri Coh Thian-su. 'Kalah' kata ini belum dikeluarkan. bila jari berhasil menotok nadinya.

sepertinya dia kenal dengan kakekmu tapi dia sadar tingkatan dia lebih rendah maka dia tidak berani mengatakan bahwa dia adalah teman kakekmu. Dia mengatakan bahwa ilmu silat kakekmu adalah nomor satu di dunia persilatan. tidak perlu bertarung lagi!" "Aku tidak mengerti maksudmu?" "Pendekar Yang-ciu." Dia sudah menyebut nama kakeknya. apakah benar?" "Tebakanmu benar. dia hanya heran Kie Su-giok dapat mengenali serangan penanya Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kita masing-masing sudah dirugikan. Coh Thian-su tidak enak berkata macam-macam lagi Coh Thian-su hanya berkata: "Ki Cianpwee sudah terkenal lama. memangnya mengapa?" "Bila benar. tapi belum pernah mengatakan apa hubungannya dengan kakekmu?" Kie Su-giok mengerutkan dahi dan berkata: "Apakah hanya itu?" Coh Thian-su berpikir sebentar dan berkata: "Mendengar kata-kata ayahku. kau adalah putranya. seharusnya kau tahu hubungan keluarga kita seperti apa kakekku adalah Kie Yan-gan. Coh Kim-sung itu siapamu? Kalau tidak salah dia adalah ayahmu. kita hitung seri saja." ." Kie Su-giok sepertinya tidak percaya: "Apa benar ayahmu belum pernah cerita? Mengapa kau bisa tahu nama kakekku?" "Ayahku pemah memberitahu nama besar kakekmu. Coh Thian-su malas meributkan menang atau kalah. tapi aku tidak tahu ada hubungan apa di antara keluarga kita. seharusnya kita menjadi teman." "Apakah ayahmu tidak pernah bercerita mengenai ini?" "Tidak pernah.Tapi.

tapi dia menutupi apa yang dia tahu. hanya mendengar ayahnya juga ikut menarik nafas dan berkata: "Masalah hari itu aku dan kau tidak menyangka bakal terjadi. ayah membawa nyonya barunya dan bersembahyang kepada istrinya yang sudah meninggal. tapi dia pun mendengar berita mengenai ibu tirinya. ayahnya menikah lagi pada saat dia berumur 7 tahun. Saat itu adalah saat Ceng-beng ( waktu ziarah ke kuburan ).. 'Ayah sangat sayang kepadanya. artinya kau berkorban sedemikian besar untukku. dia sembahyang kemudian pergi mencari jangkrik. waktu itu dia berusia 7 tahun terhadap ibu barunya ini dia sangat iri." Kata ayahnya: "Apakah karena hari ini kau sembahyang kepada istriku jadi teringat kepadanya (bekas kekasihnya)?" Ibu tirinya mengatakan sesuatu tapi dia tidak dapat mendengar. Ibu kandungnya sudah meninggal. Coh Thian-su pun ikut pada waktu itu. Dia mencari jangkrik di balik semak-semak. dia merasa aneh. aku tahu di antara kita tidak . ibu tirinya baru masuk ke dalam keluarganya sekitar 1 bulan.. ayah ibunya tidak tahu dia menguping. terdengar ibu tirinya menarik nafas. Kata ibu tirinya: "Dengar-dengar katanya dia (lelaki) sudah mati. Dia iri karena ayahnya lebih sayang kepada ibu barunya." Ibu tirinya seperti marah dan berkata: "Aku tidak menyesal menikah denganmu!" Dengan lembut ayahnya berkata: "Bila mengenal seseorang yang penting hatinya. walau dia tidak baik. Ibu tirinya sangat baik terhadapnya. Mendengar ibu tirinya menarik nafas. Mengenai Kie Yan-gan dia hanya tahu sebanyak itu.Coh Thian-su tidak bohong. mengapa dia masih belum puas?' Dia terus mendengar. Setiba di kuburan ibunya. tapi dia tetap.

orang yang memiliki ilmu silat paling tinggi. kalau begitu walaupun pak tua itu bukan nomor satu. tapi 3 jurus ini sudah dua kali menolong diriku." "Karena itu jangankan sudah meninggal walaupun dia masih hidup bila kau merindukannya.." "Aku pun bukan orang yang tidak punya perasaan. kepandaian pak tua itu nomor satu di dunia persilatan. "Apakah benar? Apa .perlu merasa sungkan lagi." Kata ibu tirinya: "Song Koko. walaupun mengalami banyak rintangan. siapa dia? Mengapa berkata seperti itu di depan kuburan ibuku?" Setelah lama baru terdengar suara ayahnya: "Menurut orang-orang. hanya Coh Thian-su yang bertanyatanya." "Aku tahu." Ibu tirinya tertawa dan berkata: "Apakah kau takut pak tua itu mencarimu?" "Kita bisa menjadi suami istri. tapi perasaan ini kepadanya dengan perasaanku kepadamu tidak sama." Ibu tirinya tertawa dan berkata: "Song Koko. dia terhadapmu juga pernah memujimu. aku tidak menyesal. Apakah ilmu silat pak tua itu paling tinggi. aku mengerti. jangan khawatir." Ayah sepertinya sangat senang dan dia berkata. kejadian itu tentu kau sudah tahu." Mereka berdua terdiam. "Ibu baruku mengatakan tentang seseorang. aku tidak tahu. "Adik. hanya takut kau." mempunyai kesan baik Ayahnya seperti terkejut dan berkata. aku tidak akan menyalahkanmu. Aku hanya belajar 3 jurus silat dari keluarganya. terima kasih sudah mempercayaiku.. pasti masih ada yang lebih tinggi lagi. tapi dapat dikatakan ilmu silatnya sangat tinggi hingga tidak dapat diukur. apakah benar?" "Pepatah mengatakan 'di luar langit masih ada langit'. Tapi menurutku memang dia tidak terkalahkan.

Yang dimaksud ibu tirinya itu entah laki-laki atau perempuan. dia tidak tahu. semua ada kelebihan dan kekurangan.katanya?" "Dia mengatakan ilmu silatmu sangat baik. waktu itu dia belum tahu. katanya pak tua itu adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan. orangnya pun baik. tua atau muda. pada saat dia berkata seperti itu. sekarang aku adalah istrimu. dia hanya tahu orang itu sudah meninggal dan ibu tirinya masih merindukan orang itu. bila dia punya anak sepertimu.." "Benar. Dia tidak berani bertanya kepada ayahnya. dia menyayangiku seperti putrinya sendiri. dia akan sangat senang. aku percaya dia tidak akan menyusahkan ku." Coh Thian-su kecil sangat marah dan berkala: "Ayah bohong!" "Aku bohong apa?" "Kemarin aku mendengar ayah bicara dengan ibu baru mengenai pak tua itu. dia belum tahu. waktu itu ibu tinnya tidak berada di sisi ayahnya. aku percaya dia juga sayang kepadamu. Pada hari kedua dia mendapat kesempatan. lapi dia ingin tahu. Ayahnya hanya bengong dan menjawab: "Kita belajar ilmu silat." Ayahnya tertawa kecut: "Sayang aku tidak bisa menjadi putranya. Coh Thian-su adalah anak yang cepat dewasa walaupun dia tidak mengerti urusan pria dan wanita." . Dia ingin tahu siapa yang dianggap sebagai pesilat nomor satu di dunia persilatan. pembicaraan ayah dan ibunya sudah berhenti." "Apakah dia sekarang sudah tahu?" Ibu tirinya tertawa dan berkata: "Kau juga tidak perlu takut. tapi dia sudah tahu mana yang boleh dan tidak boleh ditanyakan. dia segera bertanya kepada ayahnya." Coh Thian-su keluar dari semak-semak. sulit dikatakan siapa yang disebut nomor satu..

Tidak kurang tidak lebih. kau tidak boleh memberitahu kepada orang lain. hanya berkata: "Baiklah. satu-satunya yang diperoleh Coh Thian-su adalah nama 'Kie Yan-gan'." Ayahnya tertawa kecut dan berkata: "Dasar anak nakal." Sebenarnya ayahnya tidak berbohong. aku hanya ingin berkenalan dengannya. orang itu di dalam hatinya adalah dianggap pesilat nomor satu. keluar dari mulut ayahnya Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Kie Yan-gan itu siapa?" Ilmu silat Kie Yan-gan yang diceritakan ayah hampir sama dengan cerita yang dibicarakan oleh ibu tirinya. Coh Thian-su ingin tahu lebih banyak maka dia bertanya lagi. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar nama Kie Yan-gan. tapi apakah dia benar-benar pesilat nomor satu di mata orang lain." Setelah ayahnya mendengar kata-kata Coh Thian-su. "Ayah. Kie Yan-gan itu tinggal di mana?" Ayahnya marah dan berkata: "Aku tidak tahu! Mengapa kau menanyakan hal ini?" "Ayah." Ayahnya tahu dia berbohong. Ilmu silatnya nomor satu. walaupun nanti kau bisa bertemu dengannya di dunia persilatan. aku tidak akan sembarang bicara kepada orang lain. tapi dia tidak dapat berbuat apaapa. walaupun kemarin kau sudah mendengar."Kau masih mendengar apa lagi?" "Aku hanya mendengar itu saja. aku tidak punya cara menghadapimu. dia sangat pdak senang "Kau tidak boleh mencari dia. aku akan memberitahumu. kau tidak boleh bilang bahwa kau . dia tidak tahu. bila dia tidak mau mengajarkanku tidak apa-apa yang penting aku bisa berkenalan dengannya." "Asalkan ayah tidak berbohong.

kau harus menurut. jangan tanya-tanya lagi!" Ayahnya menarik nafas dan berkata: "Anak ini seperti aku waktu kecil. Kata ayahnya: "Sekarang kau tidak mengerti kata-kata ayah. tidak perlu khawatir bila Thian-su bertemu dengannya. Ayahnya merasa bersalah dan berkata: "Main sana. walaupun pak tua itu masih hidup dia tidak akan berkelana lagi. Kata ibu tirinya: "Kau tidak perlu khawatir." Ibu tirinya sangat baik terhadapnya. Pada saat Thian-su berkelana di dunia persilatan. sangat berpegang teguh pada pendapatnya sendiri.adalah anakku. apakah itu tidak baik? Jangan galak terhadapnya!" Ayah terdiam. "Anakmu mirip denganmu. tetapi dua pertanyaan itu tetap tersimpan di dalam hatinya Pada saat dia . Coh Thian-su semakin hari semakin berkurang rasa permusuhan kepada ibu tirinya." Mata Coh Thian-su kecil sudah berkaca-kaca." Coh Thian-su mendengar ibu tirinya marah kepada ayahnya. pak tua itu hampir berusia 70 tahun." Ayahnya sangat marah. dia bertanya: "Mengapa?" "Aku tidak mau kau naik status sosial karena kenal dengan pesilat nomor satu di dunia persilatan. Coh Thian-su sangat kesal dan hampir menangis." Hati Coh Thian-su penuh dengan pertanyaan. dia tidak mau bicara juga tidak pergi bermain. kelak kau akan mengerti. apakah itu juga disebut naik status sosialnya?" Ayahnya marah dan berkata: "Tidak boleh kau katakan. jangan banyak tanya lagi." "Bila dia yang bertanya dulu mengenai keadaan keluargaku dan aku menyebut namaku.

mengapa ayah harus mengelak dia kenal dengan kakek Kie Su-giok? Hingga takut bila aku bertemu dengan kakeknya bahkan tidak mengijinkan aku mengakui sebagai anak ayah.sudah semakin dewasa dia lebih-lebih tidak berani bertanya lagi kepada ayahnya Tidak disangka. . kau harus percaya aku tidak membuat berita burung. 3 kali tapi kakek sering berkata bahwa orang yang terkenal di dunia persilatan bila mempunyai teman seperti ayahmu sungguh membanggakan." Kata Kie Su-giok. kemudian dia berkata: "Pepatah ini sangat cocok untuk kakek dan ayahmu. orangnya baik. kakek pun sering memuji bahwa ilmu silat ayahmu bagus. Pada waktu dia mendengar nama Coh Kim-sung pertama kali adalah pada saat berumur 7 tahun." "Apakah mereka begitu bersahabat?" "Baru pertama kali berjumpa tapi sudah seperti teman lama. "Lalu bagaimana dia akan bicara?" "Ayahmu selalu menganggap dia hebat. dia tidak membuat berita burung. tapi sayang dia tidak mempunyai anak sebaik ayahmu!" Kie Su-giok tertawa dan berkata lagi: "Anak kakek adalah ayahku. Sebenarnya dia tidak tahu apakah kakeknya pernah bertemu dengan ayah Coh Thian-su. hanya bertemu sebanyak 2. kakekku menganggap bahwa ayahmu adalah teman baiknya. merendahkan ayahku sendiri dan mengangkat tinggi ayahmu. ini hanya ungkapan pikirannya. 'Bila benar seperti yang dia katakan.' Sepertinya Kie Su-giok tahu pikiran Coh Thian-su." "Apakah mereka sangat akrab?" Tapi hatinya masih ragu. dia tidak bertemu dengan Kie Yan-gan malah bertemu dengan cucunya "Kakekku tidak akan bicara seperti itu." Sebenarnya.

Yang tidak sama pada tahun itu adalah kakeknya mengatakan beberapa kalimat." Kata Paman Ting: . baiklah." "Apakah keluarga Coh di Yang-ciu yang terkenal dengan ilmu totok nadinya?" "Katanya mereka dalam 3 generasi hanya mempunyai anak tunggak 4 pena totok dan titik.. "Apakah kau sudah lupa dengan pesanku? Tidak boleh bicara tentang ayah Su-giok di depanku!" Paman Ting menundukkan kepalanya dan berkata: "Aku bukan berkata 'Siauya'. sepertinya Coh saja yang bisa ilmu totok ini.. Paman Ting berbincang-bincang dengan kakeknya. wajah kakeknya selalu gelap dan selalu diam." Kakek terdiam. sepertinya hanya nama saja " "Bila ada satu orang yang bisa menggunakan dengan dua pena menotok 4 nadi pasti dia adalah jago silat penotok nadi nomor satu.. Kakek berkata: "Yang kau katakan adalah. kadang-kadang dalam sehari tidak mengatakan sepatah kata pun Ceng-beng tahun itu kakeknya pun seperti tahun-tahun biasanya. Kampung halamannya sangat jauh. Pada hari Ceng-beng. makam nenek moyangnya semua berada di sana. pada saat berkata 'tuan muda'. Di sini tidak ada yang bisa disembahyangkan. tiba-tiba dia mengerti maksud Paman Ting. kakek sudah berteriak. yang aku katakan tadi adalah orang yang ada hubungannya dengan Siauya.. apakah kau tahu kabarnya?" "Ada yang mengatakan dia berada di Yang-ciu di keluarga Coh.. minum arak sendirian.Hari Ceng-beng bagi keluarganya tidak mempunyai arti khusus. aku juga ingin tahu di mana dia berada sekarang. tapi aku tidak pernah melihatnya. Walaupun tidak sembahyang tapi hari itu tidak seperti hari-hari biasanya.

sangat baik. tiba-tiba dia mendengar kata-kata kakeknya yang aneh: "Baik. kau juga tidak boleh mencarinya!" Ini membuat Kie Su-giok bertambah aneh terhadap kakeknya. aku tidak mau mencari dia. dia membanting gelas araknya dan berkata. aku pernah melihat beberapa jurus bila ada waktu aku akan memperlihatkannya kepada tuan. hanya mendengar kakeknya menarik nafas dan berkata: . mengapa bertanya lagi dia adalah siapanya keluarga Coh. dia benar-benar punya pandangan yang baik!" "Apakah kita harus mencari Coh Kim-sung?" Tiba-tiba kakek melotot. Kakek sudah pikun." Kie Su-giok menjadi aneh dalam hatinya dia berpikir. tidak ada hubungannya dengan pembicaraan sebelumnya. dia baru senang dengan ilmu silat setelah Thian-hoan datang. "Dia adalah Coh Kim-sung."Kehebatan pena Coh Kim-sung. tadi baru bercerita tentang Coh Kim-sung bahwa dia adalah satu-satunya keluarga Coh yang bisa menggunakan pena sakti. dia orang baik. "Untuk apa mencari Coh Kim-sung? Dia unggul dalam ilmu silat." Sepertinya Paman Ting ingin bercerita tentang ilmu silat tapi kakek tampaknya tidak tertarik. "Coh Kim-sung adalah orang yang unggul dalam segala hal. menurutku dia unggul dalam segala hal. mengapa tidak boleh mencarinya?" Kata-kata kakeknya bertambah aneh. kakek mengerutkan dahi dan berpikir lama lalu bertanya. "Dia itu siapanya keluarga Coh?" Pertanyaan ini sangat tiba-tiba.' Waktu itu dia baru berumur 7 tahun dan Wie Thian-hoan belum datang ke rumahnya. Tapi Paman Ting sepertinya mengerti karena dia segera menjawab. Pada waktu dia ingin bermain di tempat lain.

Su-giok pernah bertanya kepada kakeknya apa yang tidak dimengerti olehnya tapi kakek tidak menjawabnya malah melarang dia berbicara hal-hal yang menyangkut keluarga Coh. Hingga tahun kemarin pada saat dia ingin keluar jalan-jalan." Dengan manja dia berkata: "Kakek. kau tahu aku akan melakukannya. paling lambat tahun depan dia akan pulang. jangan salahkan dia. tapi bila kau . "Apakah kau keluar untuk mencari Thian-hoan?" tanya kakek sambil tertawa. jangan salahkan dia!" Kakek menghela nafas panjang. dia tidak menjawab hanya tertawa. kemudian kakek tertawa dan berkata. tapi kau sudah mengatakannya dulu. kakek baru bercerita Tapi kakek tidak menghapus larangannya. aku tidak mempunyai putra seperti Coh Kim-sung. dia menundukkan kepala dan minum arak lagi. malah mengingatkan larangannya." Segera Su-giok menjawab: "Belum tentu. "Aku tidak melarangmu mencari Thian-hoan tapi karena umurmu masih kecil dan Thian-hoan pernah berkata." "Aku tahu kau akan menjawab seperti itu. "Kau jangan melarikan diri. Kau tidak boleh tawar menawar. itu lebih baik." Kakek sengaja memasang wajah seram dan berkata: "Tidak boleh."Sayang. bila dia tidak pulang baru kau boleh mencarinya. lebih baik kakek ljmkan aku pergi. Dia setuju tapi dengan terpaksa. Wajah Kie Su-giok memerah. kakeknya tahu tentang itu." kata kakek.

" "Benar. dia berkata: "Kakek. tanyakanlah kepada Paman Ting. Anak muda selalu melakukan hal yang dilarang oleh orang tua." Segera dia teringat kepada pembicaraan kakek waktu dia masih kecil. dia bisa meminta menolongnya. Sekarang dia sudah bertemu dengan salah satu keluarga Coh. ada sebuah syarat yang harus kau tahu. ilmu silatnya pun baik. walaupun keluarga Coh sangat baik tapi aku tidak ingin kau berteman dengan mereka. dengan tertawa dia berkata. dia ingin tahu antara dia dan keluarga Coh ada hubungan apa. Walau ilmu silat kakeknya nomor satu tapi dia tidak mengerti perasaan anak muda. bila aku sudah meninggal. Kedua. tapi tetap merasa sangat eneh." "Apa?" "Tidak boleh berteman dengan keluarga Coh di Yang-ciu. Pertama. dia malah sengaja berteman dengan Coh Thian-su." Dia setuju. apalagi bila orang tua tidak bisa menjelaskan alasannya. dia ingin mencari Wie Toako dan orang yang berada di hadapannya adalah Siauya keluarga Coh. Setelah Kie Su-giok menceritakan hubungan antara dua keluarga mereka yang sudah ditambah bumbu-bumbu. Walaupun Su-giok bukan anak-anak tapi rasa ingin tahunya masih seperti pada saat dia masih kecil. orang itu adalah Siauya keluarga Coh. kau berkata keluarga Coh di Yang-ciu adalah keluarga pesilat. . Kakek tidak mengijinkan' berteman dengan keluarga Coh. dan orang yang bernama Coh Kim-sung adalah orang yang berkualitas baik.melarikan diri.

" Coh Thian-su menatapnya dan berkata: "Lebih baik kau jangan tahu. dia akan sangat senang. dia juga ingin tahu kata-kata dari ibu tirinya bahwa kakek Su-giok menganggap dia seperti anak perempuannya." . Kemarahan Coh Thian-su sudah mulai berkurang.. "Terima kasih Nona sudah menghargaiku. apakah aku pantas menjadi temanmu?" Hati Coh Thian-su masih banyak pertanyaan." "Kalau begitu kau harus memberitahu kabar mengenai Wie Thian-hoan? Aku menanyakan ini karena aku sekarang adalah temanmu. kita berteman. bila dia tidak kenal dengan Su-giok tak pantas untuk bertanya kepada Su-giok. aku berkata bahwa kakek menganggap ayahmu adalah teman akrabnya. apakah kau seperti ayahmu selalu bicara tidak sama derajat sosialnya."Kakekku belum pernah memuji orang lain kecuali ayahmu. Segera dia tertawa dan berkata: "Baiklah. Terimalah rasa hormatku!" Orang tua kedua belah pihak sudah saling mengenal. aku ndak salah bukan?" Kata Coh Thian-su: "Pahlawan dunia persilatan sangat bangga bila dipuji oleh kakekmu. Coh Thiansu harus menuruti aturan dunia persilatan. kau mewakili ayahmu. Su-giok tertawa dan berkata: "Mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Baiklah.. tapi dia tidak mengatakan hubungan antara ayah dan kakeknya. dia juga merasa tidak boleh melampiaskan kekesalannya kepada Su-giok. bila ayahku tahu dia dipuji oleh kakekmu. Aku hanya ingin bertanya. tapi." Su-giok tertawa dan berkata: "Kau mulai lagi. mengaku dia berada di bawah kakek. artinya kita satu derajat bukan?" Terpaksa Coh Thian-su menjawab: "Benar!" Kata Coh Thian-su lagi.

Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau tidak mau bicara." "Apa arti dari kata-katamu?" "Apakah kau benar ingin tahu?" "Aku ingin tahu." "Kau tahu apa?" "Kau ke sana untuk mencari Hiat-kun. tapi kau harus menceritakannya dengan jelas. kau tidak perlu tahu!' Tapi Coh Thian-su tahu Kie Su-giok mempunyai sifat seperti itu. karena itu Coh Thiansu hanya diam. bila aku yang menceritakannya. tapi Kie Su-giok tetap memaksa bertanya. Kau sudah menganggapku teman." "Apakah dia Hiat-kun?" Coh Thian-su mengangguk." Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata: "Baiklah. tapi aku sudah tahu lebih baik kau katakan saja." "Jangan bicara sembarangan!" Kata Coh Thian-su."Mengapa?" "Karena kau memang tidak perlu mencarinya lagi. aku saja senang melihatnya. bila dijawab. "Kau tahu dari mana?" "Kemarin malam aku melihat mereka pergi dari kediaman Hie. masalah akan ditanyakan terus. Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Pengantin perempuan sangat cantik. apakah benar? Aku sudah tahu di aula tadi kau begitu perhatian kepada pengantin orang lain. apa lagi kau!" . Coh Thian-su hanya diam. tadinya dia ingin berkata. Wie Toako mu sudah pergi dengan perempuan lain. 'Ini adalah masalahku." "Kau ada perlu apa pergi ke rumah Hie?" Coh Thian-su tidak suka Su-giok banyak tanya. kau akan malu. aku akan jujur menceritakan semuanya. kau tidak bisa mungkir lagi.

apakah di sana ada Wie Toako?" "Tidak. dia sudah tidak memerlukan aku lagi. hanya tertebak sebagian.. aku juga baru tahu setelah tiba di Lok-yang. bila tidak kau sudah ditangkap oleh teman-teman Hie Tiong-gwee dan kau meminta kepada Hie Tiong-gwee agar dia melepaskanmu. tapi aku tahu" "Kau tahu apa?" "Kau pingsan karena ditotok oleh Wie Toako. aku bertemu dengan Sumoi dulu." Sengaja Kie Su-giok bertanya: "Lalu bagaimana?" "Maksudmu?" "Apakah mereka berhasil lari dari keluarga Hie? Bila mereka berhasil keluar dari sana. agar tidak keliru Coh Thian-su . aku akan memberitahumu. Hiat-kun adalah Sumoiku." Coh Thian-su mengerutkan dahi dan berkata: "Akhirnya terjadi apa. supaya kau tidak salah sangka. dia tidak suka. waktu ada di kamar pengantin. apakah begitu?" Dengan marah Coh Thian-su berkata: "Tidak benar." Coh Thian-su jadi ingin tertawa." "Kalau begitu kau ke sana untuk bertemu dengan Sumoimu. kalau tidak. aku tidak tahu" "Kau tidak tahu. aku dan Hiat-kun dihalangi oleh teman-teman Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan membantu Hiat-kun lari dari keluarga Hie" "Apakah Wie Toako bisa mengalahkan mereka?" "Ya!" "Apakah kau bersama-sama dengan mereka melarikan diri?" "Hiat-kun sudah ditolong oleh orang terkenal yaitu Hui-thian-sin liong. tentu ada sarnbungan ceritanya. karena Wie Thian-hoan melihatmu dengan Hiat-kun.Coh Thian-su menarik nafas dan berkata: "Baiklah.” "Aku sudah tahu.. kemudian dia mengusirmu dan dia yang membawa Hiat-kun pergi.

itu bohong. Bila dibilang tidak sedih. mengapa aku harus sedih?" Dia tidak berpura-pura demi Wie Thian-hoan. membalaskan dendammu!" "Apa hubungannya denganku?" "Kita sekarang adalah teman baik.menjelaskan: "Kau jangan membuat-buat cerita aku tidak tahu akhirnya terjadi apa." Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Keluarga Coh dari Yang-ciu terkenal dengan pena sakti penotok nadi. Wie Thian-hoan menotokku. aku benar-benar kagum kepadamu. dia rela berkorban. membuat Coh Thian-su bertambah marah. ." "Apakah aku harus menangis?" "Kakakmu pergi dengan perempuan lain. pantas kau begitu marah. dia hanya tidak mau diketahui oleh orang yang baru dia kenal." Dua kata ini tepat mengenai perasaan Coh Thian-su. Jadi kau harus membantuku mencari mereka!" "Aku sudah memberitahumu bahwa mereka sudah melarikan diri. kemudian aku akan memarahinya kan ini cara balas dendam kepadanya. malah kau yang ditotok. Nanti bila bertemu dengan Wie Thian-hoan. karena ketika aku tidak siaga. kau tidak sedih?" "Aku tahu mereka tidak kawin lari. Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau jangan marah. aku pun harus memberi selamat kepada mereka. aku menotok dia sama juga dengan bila kau yang menotoknya. masih bisa tertawa. walaupun dia mencintai adikmu. tadi aku sudah sembunyi-sembunyi memperhatikan caramu menotok orang. aku akan balas dendam untukmu. aku akan balas menotoknya." "Kau jangan bercanda!" "Aku tidak bercanda.

sikap Wie Thian-hoan penuh dengan rasa cemburu." "Karena apa?" "Karena Wie Toako masih ingin membalas dendam ayahnya. dia pikir lagi. mengapa dia berharap Sumoinya bukan kekasih lama Hui-thian-sin-liong? Kie Su-giok tertawa kecut dan berkata: "Aku tidak tahu. mereka hanya pergi bersama." "Mengapa kau bisa mempunyai pikiran seperti itu?"." Coh Thian-su baru mengerti dan berkata: "Pantas! Hui-thian-sin-liong tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah musuhnya. apakah Hiat-kun adalah kekasih lamanya. dia ingin Hiat-kun membantunya mencari bukti yang kuat. Hiat-kun pun tidak akan mau mengikutinya untuk keluar dari kediaman Hie Tionggwee. tapi belum mendapat bukti yang kuat. aku ingin membantumu tapi harus mencari mereka ke mana?" "Aku percaya dan yakin bahwa mereka masih di kota Lok-yang. aku hanya tahu bahwa Wie Toako sekarang bisa memastikan bahwa Hie Tiong-gwee adalah musuhnya. Pantas dia membuat aula bercipratan darah tapi mengapa dia tidak langsung membunuhnya?" "Sudah lama Wie Toako curiga kepada Hie Tiong-gwee. "Bila tidak." Sebenarnya dia hanya menghibur dirinya sendiri." "Kukira Hiat-kun adalah kekasih lamanya. "Membalaskan dendam ayahnya dan bertemu kekasih lama memang tidak sama. tapi tentu saja bisa bersama-sama menjalankannya. dia percaya bahwa Wie Toako ingin membalas dendam untuk ayahnya dulu."Apakah mereka kawin lari? Aku tidak tahu." Tiba-tiba dia teringat pada saat mereka bertemu." Dia merasa aneh kepada dirinya sendiri. dia tidak akan membawa Hiat-kun lari. .

tidak apa-apa." "Sebenarnya aku juga tidak mau kau membantu Wie Toako membalaskan dendam." "Apakah kau ingin aku menemanimu kembali ke Lok-yang?" "Keluarga Hie terkenal dan mempunyai kekuasaan." Coh Thian-su sengaja berkata: . ini adalah masalahnya. Ilmu silat Wie Toako walaupun sangat tinggi belum tentu dengan mudah dapat membalas dendam. Aku tahu kau tidak menyukainya." Coh Thian-su ingin berkata: "Mereka berdua sekarang!" Tapi dia tidak tega melukai hati Kie Su-giok. tidak mungkin dia dibantu oleh orang lain. apalagi aku adalah orang kecil. juga aku hanya bisa membantu dia dari sisinya. Aku tidak tahu jalan aku hanya berharap kau bisa membantuku mencari tahu keberadaan Wie Toako. pasti penjagaan akan lebih kuat." Dengan ringan Coh Thian-su berkata: "Orang terkenal seperti Hui-thian-sin-liong. aku khawatir bila dia hanya seorang diri di Lok-yang. tapi aku dan dia tumbuh bersama. Lok-yang akan gempar.baru lari dengan Hiat-kun. Kata Kie Su-giok lagi: "Karena mereka sudah keluar dari rumah Hie Tiong-gwee tapi dendam belum dibalas Wie Toako tidak akan lepas tangan." "Karena itu kau memperkirakan mereka belum meninggalkan Lok-yang?" "Hie Tiong-gwee adalah orang terkenal di Lok-yang bila dia dibunuh oleh Wie Toako. keluarga Hie pun harus menjaga rahasia ini dan paling hanya bisa bertahan selama dua hingga tiga hari. bila kau masih tidak enak hati. dia berkata: "Apakah kau ingin demi dirimu aku membantu Wie Thian-hoan?” "Aku tidak mau memaksamu untuk melakukannya. setelah terjadi peristiwa kemarin. itu sangat berbahaya. aku dan Wie Toako adalah adik kakak.

istrimu tidak akan bisa menerima." Dengan dingin Kie Su-giok berkata: "Kau tidak takut orang lain akan bilang bahwa kau sedang menjilatku?" "Apakah kau lupa dengan kata-katamu tadi?" "Apa yang sudah kukatakan?" "Kau bilang kita adalah teman." "Kau sangat banyak aturan." "Pertama. aku tidak kerdil. kalau kau masih berpikiran kerdil. di dunia persilatan ini ada pepatah yang mengatakan: Demi teman tulang rusuk di tikam pun tidak masalah. tapi Hui-thian-sin-liong menganggapku orang kecil. berarti tidak perlu mengejek bukan?" Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Benar. Kakekmu bisa menganggap teman kepada ayahku. aku tidak suka menjilat. bila kau membutuhkan bantuan. Kedua. tapi bila pikiranmu kerdil. aku akan membantumu." Kie Su-giok marah dan berkata. mereka merasa dekat seperti . aku bukan orang yang sangat jelek. memang benar nama kakekmu lebih terkenal dari Hui-thian-sin-liong. aku tidak butuh bantuanmu. "Aku sudah beritahu kepadamu. Apalagi itu hanya kata-kata orang. jika ingin tahu keberadaan Hui-thian-sin-liong tidak sulit tapi bila aku mencarinya. Tapi memang benar kau tidak jelek. benar tidak?" Mereka sekarang saling mengejek. gadis yang menikah denganmu pasti sial. dan kau pun sangat kerdil. mengapa masih cerewet seperti itu?" Coh Thian-su tertawa dan berkata."Bukan aku tidak enak hati. dia mengira aku sedang menjilatnya. memang benar di kota Lok-yang aku mempunyai teman. berarti aku juga tidak lebih rendah darimu. malah sangat tampan. aku akan membantumu mencari tahu. "Aku hanya bilang tidak ingin menjilat Hui-thian-sin-hong tapi bukan tidak mau membantumu.

hanya kadang-kadang menyuruh dia agar cepat-cepat berkeluarga. dia sudah bertahun-tahun . walaupun sedang marah. Dia nakal dan masih polos. Orang biasa-biasa saja akan dipandang sebelah mata olehnya Ayahnya membebaskan dia untuk memilih calon istri. Tapi dia sangat cantik. ilmu silatnya pun sangat tinggi. masih jauh untuk mengatakan 'cinta'. Dia sudah menolak banyak orang yang ingin berbesan dengan ayahnya. Nama ayahnya yang terkenal di dunia persilatan. tapi membuat orang di depannya seperti dihembus oleh angin musim semi. tapi senang mempermainkan orang. walaupun tidak sekaya Hie Tiong-gwee tapi mereka adalah keluarga menengah ke atas. Kie Su-giok adalah gadis yang jarang bergaul dengan masyarakat. Coh Thian-su baru berkenalan dengan mereka. Setelah 2 tahun ini yang melamarnya semakin berkurang. bisa dikatakan keluarganya terkenal di mana-mana. berwajah cantik. Dia seperti bunga. Hiat-kun lebih banyak mengalami gelombang kehidupan. mungkin persyaratan yang dia ajukan terlalu tinggi. pasti banyak ingin menikahkan putrinya dengannya dan orang yang datang untuk melamarnya juga sangat banyak. dia lebih dewasa dan itu membuatnya terlihat dingin seperti es. begitu tiba di Lok-yang dia bertemu dengan 2 perempuan yang begitu menarik dan cantik. sifatnya jujur. Umur mereka sebaya. tapi mereka tetap sangat cantik.sudah kenal lama. tapi kehidupan mereka tidak sama. Tapi candaan Kie Su-giok membuat Coh Thian-su menjadi banyak pikiran. Tidak disangka. Kang Hiat-kun dan Kie Su-giok adalah 2 tipe perempuan yang berbeda. keluarganya adalah keluarga pesilat. Coh Thian-su sudah berusia 28 tahun. Keluarga seperti dia dan orang seperti Coh Thian-su. Masih banyak hal yang dia pikirkan. Di dalam es yang paling dalam tersembunyi sebuah bola api. tapi sampai sekarang belum mempunyai tunangan.

' Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Mengapa kau jadi diam? Kau sedang memikirkan apa?" "Aku sedang berpikir. 'Pantas saja aku dikatakan kerdil oleh Kie Su-giok." Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau tidak menjawab dengan jujur. Tapi kedua gadis ini sama-sama mencintai Hui-thian-sin-liong." ." "Jangan bercanda. Dia tertawa kecut dan dalam hati berkata. dia mau membantu Kie Su-giok. Sekarang dia sudah menemukan dua orang gadis yang begitu cantik dan baik. Sumoimu. contoh seperti sekarang." "Aku sudah mengakui apa?" "Kau bukan takut orang lain salah paham padamu. di satu sisi memang jngin berteman dengannya untuk menjawab pertanyaanpertanyaan di hatinya tapi di sisi lain dia ingin tahu keadaan Hiatkun. Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Sepertinya kau sudah mengakuinya. sebenarnya dalam hati aku iri kepada Hui-thian-sin-liong.mencari untuk mendapatkan seorang perempuan yang cocok dengannya. kadang-kadang perubahan di dunia ini sungguh tidak terduga." Sebenarnya Kie Su-giok tidak salah." "Yang mana?" "Banyak hal. bila tidak ada orang lain tidak masalah. tapi kalau terdengar oleh orang lain. dia memang sedang memikirkan Hiat-kun. tapi walaupun kau tidak mengatakannya aku tahu kau sedang memikirkan apa?" "Kau tahu aku sedang memikirkan apa?" "Kau sedang memikirkan Hiat-kun. akan terjadi salah paham. Pada saat itu aku ingin segera keluar dari Lok-yang dan sekarang ternyata harus kembali lagi ke sana.

sebelum aku lahir. Topeng kulit ini dia yang buat. dia yang ajarkan. aku akan menyamar menjadi aclikmu" "Topeng ini buatannya sangat halus dan bagus. ketrampilan mengubah wajah orang." "Siapa namanya?" "Aku tidak tahu." Coh Thian-su merasa terkejut dan bertanya: "Apakah Paman Ting adalah pelayan keluargamu?" "Benar. dia sudah mengikuti kakek. hal lain aku tidak akan peduli." "Orang yang bertangan terampil bukan aku tapi pelayanku yang bernama Paman Ting. aku hanya berkata bahwa kau merindukan dia. mengapa kau merasa aneh?" "Memang aku merasa aneh. Apakah kau kembali ke Lok-yang tidak takut diketahui oleh keluarga Hie Tiong-gwee?" "Benar ini adalah hal yang harus dibereskan. Tapi kau pernah membuat keributan di kediaman Hie." Kemudian dia mengeluarkan sebuah topeng. kau juga harus berhatihati.. dari kecil aku sudah memanggilnya dengan sebutan Paman Ting."Aku tidak berpikir seperti itu. bila aku sudah berjanji akan membantumu. apakah kau selalu membawa topeng-topeng ini? Tanganmu sungguh terampil.. aku akan mengubah wajahmu. "Tidak perlu diberilahu pun aku sudah siap-siap." kata Coh Thian-su." . dia bertangan terampil dan berbakat. "Bila kau sudah memakai topeng ini. mengapa dia hanya menjadi pelayan?" "Katanya dia berhutang budi kepada kakek. dengan tertawa Kie Su-giok berkata." Kie Su-giok tertawa lagi dan berkata: "Aku tidak mengatakan bahwa kau mempunyai pikiran yang tidak baik terhadapnya. Kakek juga tidak menganggapnya pelayan. pasti tidak akan ada yang mengenalimu aku masih memiliki sebuah topeng kulit yang hampir sama.

karena itu dia belum memberitahu kepada Coh Thian-su semua yang dia tahu. sebab aku pernah mendengar Paman Ting mengatakan bahwa dia pernah melihat pena sakti milik ayahmu. masih bertanya apakah perlu mencarinya ke sana? Kemudian kakek menjawab dengan aneh. Yang membuatnya ingat terus adalah kakek melarang Paman Ting ke sana mencari ribut dengan orang itu." "Dia masih mengatakan apa lagi?" "Tidak ada. pernah mengatakan juga tentang seseorang. dia pernah membuat geger dunia persilatan. batu itu hancur." "Tidak salah lagi. dia pernah menaruh sebuah tahu di atas batu."Apakah ilmu silat Paman Ting didapat dari kakekmu?" "Tidak. kau belum menjawab pertanyaanku. apakah kau sudah tahu identitas Paman Ting melalui ayahmu?" Sebenarnya masih ada yang belum dikatakan oleh Kie Su-giok. waktu itu pada saat Paman Ting mengatakan tentang pena sakti. tetapi tahunya tidak hancur. dia adalah Ting Po. "Ilmu silat yang paling dikuasainya apakah Telapak tangan penghancur batu?" "Benar. ilmu silatnya bervariasi." "Ting Po itu siapa?" "Dia adalah penjahat kelas kakap sekitar 20-30 tahun yang lalu. walaupun tidak setinggi kakek tapi ilmu silatnya bisa menandingi kakek. mengapa kau begitu tertarik dengan pelayanku?" Tiba-tiba dia teringat sesuatu." . Kie Su-giok berpikir orang ini pasti ada hubungan erat dengan keluarga Coh. kau bertanya begitu mendetil. kau jangan bertanya terus. dia ada di keluarga Coh di Yang-ciu. dia bertanya dan dia pula yang menjawab: "Sepertinya ayahmu pernah mengatakan tentang Paman Ting?" "Mengapa kau bisa menebak seperti itu?" "Mungkin Paman Ting adalah teman ayahmu.

" Kie Su-giok terdiam. sikapnya pun tidak sombong dan sangat penurut. Coh Thian-su pun ingat sewaktu Ting Po datang ke rumahnya. dia hanya seperti terang kecil dibanding dengan terang matahari dan bulan." "Apakah dia mengatakan tentang kakek?" "Sepertinya tidak. Dia sangat menghormati kakek. waktu itu dia sudah berumur 16 tahun." "Aku mewakili kakek berterima kasih kepadamu atas pujianoiijian ini. tapi kau belum menjawab pertanyaanku. ibu tirinya melahirkan adik perempuan. Walaupun nama Ting Po cukup terkenal tapi bila dibanding kakekmu. dan adiknya sudah berumur 5 tahun waktu itu. karena kakekmu adalah orang nomor satu di dunia persilatan. kira-kira itu adalah 12 tahun yang lalu." "Tebakanmu benar. tapi mereka tidak begitu akrab. Bila kabar ini menyebar." Setelah Kie Su-giok tahu identitas Paman Ting sepertinya dia tidak begitu terkejut. akan jadi berita yang paling menghebohkan dunia persilatan tapi bila dia menjadi pelayan kakekmu itu tidak aneh. Ting Po dan ayahku adalah teman. Hanya pada waktu minum arak dia akan lebih banyak bercerita bila yang tidak tahu identitas aslinya. bertemu . ibu tirinya pun ada di samping mereka. Ting Po datang berkunjung ke rumah. pasti akan disangka pak tua biasa dari sebuah desa."Pantas saja dia hafal semua jurus silat dan benar-benar menguasainya. itu pun hanya setengah jam. Walaupun dia adalah penjahat kelas kakap tapi dia tidak banyak bicara. tapi dalam hati dia sedang menghitung waktu saat Paman Ting bicara dengan kakek tentang keluarga Coh di Yang-ciu. seingatku sewaktu dia datang ke rumahku. kemudian dia pergi lagi." "Kapan kejadiannya?" "Mungkin sudah ada 13 tahun lalu. Hari itu dia sedang bermain bersama adiknya. sekarang aku baru tahu hubungannya dengan keluargamu. "Orang seperti Ting Po menjadi seorang pelayan.

tapi pembicaraan kami masih pas dan dia bilang ingin bertemu dengan Enso. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Kau temuilah dia. Terlihat wajah ibu pucat seperti benar-benar sakit dan adiknya memapah ibu masuk ke kamar. dia pasti tahu pasti ada alasan lain. "Apakah kau menyebut namaku?" Kata Ibu "Belum. mengapa sekarang sakit?" "Ibu bukan sakit. Ayah memberitahu kepada ibu bahwa Ting Po adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Katakan saja aku sedang tidak enak badan. Mendengar dia sudah menikah lagi dia datang berkunjung.. biasanya orang dewasa selalu berkata seperti itu. mengapa kau menanyakan ini." Adik mengira ibu membohonginya." Kata adik lagi. hanya tidak enak badan.. "Tidak enak badan sama dengan sakit. jangan beritahu dia. sakit besar menjadi sakit kecil.dengan ayahnya." Ibu menarik nafas dan berkata: "Kalau begitu. tapi dia juga ingin tahu dan dia bertanya kepada ibu. Tapi Coh Thian-su mengerti." Begitu ibu tirinya mendengar nama Ting Po. . "Tidak enak badan itu sakit ringan. tapi tidak tidak bertanya." Waktu itu dia sudah berumur 16 tahun. Ayah menemaninya kemudian ayah masuk. Ayah tertawa dan berkata: "Walaupun sudah lama tidak bertemu dengannya. Walaupun adiknya baru berumur 5 tahun. wajahnya langsung berubah. "Ibu. menyuruh dia dan ibu tirinya bertemu dengan tamu itu. tadi ibu baru menangkap kupu-kupu." Jawab ibu.

Kembali Kerumah Hie Ketika Po Tiong-ie melihat Coh Thian-su datang dengan seorang gadis. 'Tidak boleh berteman dengan keluarga Kie. Dan siapa gadis ini?" "Dia adalah cucu Kie Yan-gan. dia sangat gembira sekaligus terkejut. "Hai. "Ibu sudah tahu bahwa Ting Po adalah pelayan Kie Yan-gan. hanya mendengar nama Ting Po saja sudah membuat dia tidak enak tubuh. harap kau jangan marah. Mengapa ibu tidak mau bertemu dengan Ting Po? Pertanyaan ini sudah lama tersimpan di hatinya. di sisi lain dia juga berharap ada kesempatan untuk membalas kebaikan ibu tirinya. . Karena ibu tirinya sangat baik kepadanya. Dari kecil dia sudah kehilangan ibu kandungnya dia sudah bisa menganggap ibu tirinya seperti ibu kandungnya sendiri. "Aku berteman dengan Kie Su-giok." Waktu kecil dia iri kepada ibu tirinya sekarang sudah tidak lagi. Paman Po. sekarang pun hanya tahu sedikit. mengapa harus marah?" Kata Po Tiong-ie "Untuk apa kau berterima kasih?" Tanya Coh Thian-su. kalau begitu ibu pasti bermusuhan dengan keluarga Kie. Di satu sisi dia merasa aneh. "Adik. ---ooo0dw0ooo--B." kata Coh Thian-su. Dia teringat kepada pesan ayahnya. karena itu aku membawa dia mengujungimu. bila dia memang mempunyai urusan dengan keluarga Qi " Sekarang Coh Thian-su rela menemani Kie Su-giok kembali ke Lok-yang. aku tahu kau berteman dengan kakeknya.' Dalam hati dia berpikir. aku sangat berterima kasih kepadamu bisa membawanya ke sini. mungkin bisa membuka teka-teki ibu tiri. mengapa wajahmu tidak sama? Aku hampir tidak mengenalimu.Coh Thian-su tahu ibunya tidak sakit.

mengapa kalian kembali ke Lokyang?" Sewaktu Kie Su-giok membantu Hui-thian-sin-liong membuat keributan di kediaman Hie." Malam itu karena takut ayahnya khawatir. Adik Coh. tidak perlu kau beritahu kepadaku. yang membuatnya aneh adalah mengapa mereka bisa datang bersamasama? Kata Coh Thian-su: "Apakah Po Leng-hoi belum memberitahumu?" Po Tiong-ie terkejut dan bertanya: "Mengenai apa?" Kebetulan saat itu Po Leng-hoi baru keluar. dengan serius dia berkata: "Kalau kita sudah berjanji kepada teman." Po Tiong-ie tidak marah. tidak ada kecuali juga kepadaku." Kata Kie Su-giok. berharap dia datang pun sungguh sulit. Po Tiong-ie baru mengerti dan berkata: "Aku tahu Po Leng-hoi menyembunyikan kejadian malam itu." Kata Coh Thian-su dengan tertawa: ."Seumur hidup aku sangat kagum kepada Pendekar Kie dan ini adalah cucunya. bila ini adalah rahasianya. aku tidak menyalahkannya. "Sifatnu cocok dengan sifatku. Po Leng-hoi hanya mengatakan bahwa dia mengantar Coh Thian-su keluar dari Lokyang. Po Tiong-ie sudah tahu. aku adalah gadis pengelana di dunia persilatan." Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Aku menyuruhmu menjaga rahasia kepada orang lain bukan kepada ayahmu. "Ayah. aku bukan nona yang anggun. jangan marah! Karena aku sudah berjanji kepada Coh Toako untuk menjaga rahasia ini. kau tidak perlu sungkan." "Kakek. tamu agung seperti ini tidak tiap hari bisa datang.

karena itu . Memang benar. "Menurut perkiraanku." Dia menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu. kau tidak menyalahkan ku. Saat itu aku tidak memberitahumu karena khawatir kau tidak setuju karena mengajak putramu melakukan hal yang tidak pantas."Toako. Wie Thian-hoan dan I hal kun masih ada di Lok-yang. aku yang menjadi Sumoi yang akan membantunya. tidak berani merepotkan Cianpwee. artinya kau belum mengenal sifatku. "Kalian ingin kembali lagi ke kediaman Hie dan pengantin perempuan adalah Sumoimu yang belum pernah bertemu. sekarang kejadian itu sudah lewat. kalian jangan sungkan. aku akan membantu kalian membuka kedok Hie Tiong-gwee. Po Cianpwee. aku tetap harus minta maaf. Orang seperti dia tidak akan berani mencari gara-gara denganku tapi sedikit banyak aku bisa menyentil dia. Hie Tiong-gwee adalah orang yang munafik. kau tidak melakukan hal yang tidak pantas." "Aku hanya ingin tahu di mana Wie Toako sekarang? Apakah dia masih ada di Lok-yang?" Jawab Po Tiong-ie. Tapi Hie Tiong-gwee adalah musuh Wie Toako. dan dengan singkat bercerita bagaimana dia dan Kie Su-giok bisa bertemu. Teman-teman dunia persilatan tidak kenal dengannya." "Aku tahu kalian tidak membutuhkan ban tuanku. Bila tahu dari dulu. tapi kakakmu dijuluki Hui-thian-sin-liong benar-benar seperti naga sakti yang terlihat kepala tapi tidak terlihat ekor." Kata Kie Su-giok: "Terima kasih. aku sudah menduga sebelumnya." Po Tiong-ie tertawa lagi dan berkata: "Adik. kau takut aku menjadi terkejut jadi kau tidak memberitahuku. keluarga Hie kaya dan berkuasa. walaupun aku miskin dan sudah tua tapi masih memiliki tulang yang keras. Adik. orang she Po tidak berani mencari gara-gara dengannya. aku harus memberitahumu. lapi bila perlu pertolonganku. Po Tiong-ie tertawa dan berkata.

Ini adalah perkiraan mereka. dia belum yakin bahwa Hie Tionggwee adalah pembunuh ayahnya. apalagi pengantin perempuan adalah si Cantik dari Lok-yang. Dia pingsan saat itu. Kata Po Tiong-ie: "Aku mendengar suatu berita yang aneh. Di dunia persilatan dia sangat dijunjung tinggi." Tanya Coh Thian-su: "Sudah terjadi hal apa? Dan terjadi pada siapa?" "Dia adalah Kiam-ta. tidak akan bisa ditutup-tutupi lagi. apakah ada berita dari keluarga Hie?" Jawab Po Tiong-ie: "Aku tidak mendengar berita apa pun. tapi aku akan bantu sebisa mungkin. tapi bila Hie Tiong-gwee mati. walaupun kepandaiannya bukan yang tertinggi tapi sudah setara dengan Ketua Siauw-lim. lukanya semakin sembuh. memang tidak ada hubungannya dengan Hie Tiong-gwee." Kata Coh Thian-su. tapi semenjak tadi jawaban yang mereka inginkan belum terjawab." "Aku dengar. tapi ini terjadi di rumahnya. Karena itu dia tidak mau membunuh Hie Tiong-gwee dulu." Tanya Coh Thian-su: "Dalam waktu 2 hari ini. Itu pun hanya pura-pura seban dia merasa malu dan dia tidak ingin membuka mulut" "Kalau begitu dapat dipastikan dendam Hui-thian-sin-liong belum tercapai. hanya membuatnya terluka saja. bila ada tentunya akan menggegerkan dunia persilatan. Wie Thian-hoan sudah bertarung 2 kali dan dia adalah jurinya. Bu-tong Go-bi dan Kong-tong." Kata Coh Thian-su. Kata Kie Su-giok: "Lukanya memang tidak begitu berat. "Mungkin keluarga Hie ingin menutupi keborokan ini." Kata Po Leng-hoi. perguruan . Wie Toako berkata pada saat dia bertarung dengannya.sulit mencari keberadaannya.

" Kie Su-giok tertawa dan berkata: . walaupun jja dibohongi oleh Hie dan pernah bertarung denganku. Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong masih tinggal di sana. Bwee Ceng-hong.yang terkenal. karena tamu-tamu takut kepada Toakomu." Kie Su-giok tertawa dan berkata." Po Tiong-ie terus berkata: "Kemarin pagi Tuan Kiam-ta pamit pulang." Kata Po Tiong-ie: "Bukan Tuan Kiam-ta yang mengalami sesuatu tapi dia melakukan sesuatu yang aneh." Kata Coh Thian-su. mereka menghalangi Hiat-kun keluar dari kediaman Hie. aku tetap menghormatinya. "Kemarin aku terpaksa bertarung dengannya. "Sejak Toakomu membuat keributan di kediaman Hie." Kata Kie Su-giok. Tapi tidak perlu memuji Tuan Kiam-ta di depanku. "Itu aku sudah tahu. Kepergian tuan Kiam-ta membuat keluarga Hie kecewa. mereka semua meninggalkan rumah Hie. sebab dia belum tahu siapa sebenarnya Hie Tiong-gwee itu." Coh Thian-su terkejut dan bertanya: "Apa yang telah terjadi pada Tuan Kiam-ta?" "Sepertinya kau sangat perhatian kepadanya. "Aku tahu kau bukan orang yang mengingat terus kesalahan orang lain. Tapi dia dan Hie tidak sepaham. Mari kita dengar cerita Po Cianpwee. tapi teman-teman baik Hie seperti Tuan Kiam-ta." "Apa yang dia melakukan?" Tanya Kie Su-giok. memang benar d» sekuat tenaga membantu Hie Tiong-gwee. Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong masih tinggal di sana.

Dia mengira matanya mulai rabun. baru keluar kata 'Kian' dia segera ditotok oleh Tuan Kiam-ta" Kata Kie Su-giok: "Ini sangat komplotan." Tanya Kie Su-giok: "Paman." aneh. dengarkan ceritaku dulu."Ini tidak aneh karena dia kalah terus dari Wie Toako. melewati tembok dan masuk masuk ke rumah Hie." "Tidak. pakaiannya pun seperti yang dipakai pada saat keluar malam.." Tanya Kie Su-giok: "Apa yang dia sembunyikan? Paman Po. mengapa bisa tahu begitu detil?" "Jangan terburu-buru. tapi malam-malam dia kembali lagi secara sembunyisembunyi. dia kembali dengan sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Hie Tiong-gwee. mengapa harus sembunyi-sembunyi? Apakah dia sudah curiga kepada Hie Tionggwee? Dan dia kembali lagi untuk mencari tahu?" "Sebaliknya. hal itu diketahui oleh seseorang dan orang itu adalah Bwee Ceng-hong yang sedang berjaga malam dengan suka rela di rumah Hie. sebenarnya mereka boleh dibilang satu Coh Thian-su pun mengerutkan dahi. dia malu untuk terus tinggal di rumah Hie." Kata Coh Thian-su: "Ini sangat aneh. begitu Tuan Kiam-ta masuk ke rumah Hie. dia mulai curiga kemudian . Kemarin dia pamit pulang. dia tidak ingin diketahui oleh orang lain. dia kembali ke rumah Hie..'. dia langsung mengejarnya dan sempat bertanya 'Kian. apakah paman bisa menceritakannya lebih detil lagi?" "Dia kembali setelah larut malam. ada hal yang aneh di belakang cerita ini.

berkata: "Ilmu silat Bwee Ceng-hong hanya sedikit di bawah Tuan Kiam-ta mengapa dalam 1 jurus bisa ditotok oleh Tuan Kiam-ta?" Kata Po Tiong-ie: "Dia tidak berhadapan muka dengan Tuan Kiam-ta jaraknya dengan Tuan Kiam-ta ada kira-kira 15 meter. jangan tanya-tanya . kau tidak perlu tahu juga tidak perlu bertanya siapa orang itu. tahu-tahu jalan darahnya sudah dapat ditotok" Coh Thian-su merasa lebih aneh lagi dan berkata. dan dia hanya seorang diri. dia merasa ada di sebuah ruang rahasia. tapi hanya menunjuk ke arah Bwee Ceng-hong. "Kau mencurigai apa?" "Aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta." Begitu Hie Tiong-gwee melihat Bwee Ceng-hong sudah sadar langsung berkata: "Tidak usah memberitahuku apa yang sudah terjadi padamu." "Benar. "Mungkin dia tidak mau menggunakan jurus ini untuk bertarung denganmu. pada saat membuka mata sudah melihat Hie Tiong-gwee. Kata Po Tiong-ie lagi: "Setelah lama Bwee Ceng-hong baru sadar. dia merasa curiga tapi dia tetap mendengar cerita Po Tiong-ie." Kata Po Tiong-ie. aku hanya minta agar kau memandang wajahku. orang yang memiliki ilmu tinggi biasanya tidak akan memperlihatkan jurus yang mematikan. "Itulah ilmu menotok jalan darah dari jauh. walaupun ilmunya di atasku. Kemarin malam karena dia takut Bwee Ceng-hong menyebarkan berita ini. tapi sepertinya belum mencapai tahap itu." kata Po Tiong-ie." Penjelasan ini sepertinya masuk akal tapi Coh Thian-su tidak mempercayainya. maka dalam 1 jurus dia sudah membuat Bwee Ceng-hong kaku.

tapi bila sudah bertemu malah bertengkar karena sering berbeda pendapat.dan jangan sebarkan berita ini keluar. ibunya sakit berat di rumah. pernah satu kali dia pergi ke tempat jauh. orang-orang persilatan lebih mementingkan persahabatan. tidak mempunyai uang untuk berobat. Walaupun jarang bertemu. . dia berbuat baik kepada orang lain supaya orang-orang dekat dengannya. yang membuatku tidak mengerti mengapa Bwee Ceng-liong begitu mempercayaimu?" "AKo Tan dia sudah bersahabat selama 20 tahun lebih. bila dia tidak pernah berbuat baik." Kata Kie Su-giok: "Mengapa dia bisa menjadi teman baik Hie? Mengapa paman tidak menasehatinya?" Kata Po Tiong-ie: "Walaupun Hie adalah orang yang haus akan nama baik tapi dia juga memberikan persahabatan dan kebaikan. Tapi kami mengerti sifat-sifat masingmasing." "Benar." Po Tiong-ie tertawa dan berkata: "Walaupun Hie Tiong-gwee berpesan seperti itu tapi Bwee Cenghong tetap memberitahuku. mereka akan sangat berterima kasih dan membalas budi." Po Tiong-ie terus berkata: "Bwee Ceng-hong adalah anak yang berbakti. dia tidak akan bisa menolak pendekatan Hie Tiong-gwee. dia selalu menganggapku orang yang lebih tua. julukan Pendekar Tiong-ciu akan sulit didapatnya. apalagi Bwee Ceng-hong. Tuan Kiam-ta yang disegani oleh orang-orang pun bisa bersahabat dengan Hie Tiong-gwee. Hie Tiong-gwee mencarikan tabib dan mengobati ibunya hingga sembuh." Kata Kie Su-giok: "Aku mengerti." Kie Su-giok seperti baru sadar dan berkata: "Bwee Ceng-hong yang memberitahumu? Pantas paman bisa cerita begitu detil.

Kata Kie Su-giok: "Waktu itu Tuan Kiam-ta juga menerima sebuah jurus Hui-thiansin-liong kelihatannya ilmu silatnya tidak begitu tinggi." Tebakan Kie Su-giok tidak meleset. aku curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang sering memalsukan bukti tapi caranya sangat sempurna. "Karena Bwee Ceng-hong menemukan hal yang begitu aneh. apakah Wie Toako dapat mengalahkannya? Bila Wie Toako belum membalas dendam. sekarang dia mengikuti seorang laki-laki masuk ke rumah orang dan takut ketahuan orang-orang. dia pasti akan ke rumah Hie Tiong-gwee. malam itu Hui thian-sin-liong untuk ketiga kalinya masuk ke dalam kediaman Hie Tiong-gwee. dia adalah seorang pengantin yang ingin dilihat banyak orang. kita harus mencarinya di sana. apakah Tuan Kiam-ta masih bisa dikatakan orang yang terhormat?" Kata Kie Su-giok. Hal ini sangat lucu jadinya. bagaimana Bwee Ceng-hong bisa mempercayai kata-kataku?" "Sekarang sudah terjadi hal seperti ini. . bila benar dia bisa dari jarak jauh menotok." Kata Po Tiong-ie. sekarang dia mau mendengar kata-kataku. Hal yang terjadi pada Tuan Kiam-ta hanya membuat Coh Thiansu dan Kie Su-giok bertambah hati-hati tapi tidak membantu apa pun. membuat semuanya menjadi lucu dan ingin tertawa. Tapi sekarang yang mempunyai rumah harus secara sembunyi-sembunyi 'pulang'. Beberapa hari yang lalu. dia menjadi ragu. Tidak disangka dia mempunyai ilmu hebat yang lain. tidak akan mengurusi hal-hal yang menyangkut Hie Tiong-gwee.Betul. Hiat-kun masih istri Hie Tiong-gwee dan dia adalah nyonya rumah ini. Dia memberitahuku. Dia sudah kembali ke desanya. sekarang di sisinya ada pembantu yang cantik Walaupun dia belum sembahyang dengan Hie Tiong-gwee tapi mereka juga belum benar-benar bercerai. di atas nama. Perubahan yang drastis. kedua kali dia datang sendiri. Aku tidak dapat mencari buktinya.

Kemarin dia masuk ke rumah Hie Tiong-gwee. seperti sebuah boneka yang diatur oleh orang lain. tapi hatinya bertambah berat. membuat mereka tidak percaya tapi mau tidak mau harus percaya. Dia dibunuh dengan kekuatan telapak tangan yang kuat. tapi hasilnya nihil. hanya terdengar Hie Tiong-gwee berkata: "Aku pernah menyelamatkan Bwee Ceng-hong pasti dia tidak akan berani tidak mendengar pesan-pesanku. lampunya masih menyala dari luar jendela terlihat ada 2 bayangan orang. Dia juga yang merencanakan menaruh racun keluarga Tong ke dalam obat ayah Hiat-kun. Pembunuh itu membunuh paman dan juga ibunya. Siang hari. inilah ilmu andalan Tuan Kiam-ta. Apakah Hie Tiong-gwee adalah pembunuh ayah Hiat-kun? Mereka masih belum bisa memastikan. pernah menyebut nama si pembunuh. Sebelum ibunya meninggal." . tapi bila kau masih khawatir juga kau ingin membunuhnya juga tidak apa-apa. Kali ini dia masuk ke rumah Hie sesuai dengan keinginannya. dia pernah mencari tabib yang mengobati ayahnya. Sekarang bukti-bukti itu sudah kuat. Kepala tidak pecah tapi sudah melengkung ke dalam. Nama yang disebut adalah orang yang terkenal di dunia persilatan. Yang mereka temui hanyalah mayat tabib itu. dan dia adalah Tuan Kiam-ta. Bukti mengarah pada Tuan Kiam-ta dan mereka tidak ragu lagi. mereka sudah terlambat datang. Mereka adalah Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta. tapi yang pasti Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibunya. tapi dalangnya ada satu atau dua (ditambah Hie Tiong-gwee) masih harus diselidiki lagi. ada sebuah bangunan. Kematiannya seperti kematian pamannya. Tenaga telapak tangannya adalah campuran antara Bian-ciang dengan tenaga Ta-sik-pek-jiu. Akhirnya mereka bisa tahu siapa pembunuhnya karena mereka sudah menemukan orangnya Di taman bunga.

'Dulu aku mengira Tuan Kiam-ta dibohongi oleh Hie Tiong-gwee.. masih berguna untukku. akan merepotkanmu " Kata Hie Tiong-gwee: "Aku tidak takut direpotkan. bila dia tidak mendengar pesanku. apakah itu yang hendak kau .' Begitu juga dengan penularan Hiat-kun. Mungkin ini akan berguna untuk kita. tidak tahu siapa Hie Tiong-gwee sebenarnya. Sekarang aku baru tahu mereka ternyata bersekongkol. Sekarang sudah pasti bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibu.. kau selalu memperhatikan aku. aku tidak akan menyalahkanmu." Kata Tuan Kiam-ta: "Aku tidak takut dia bicara kepada orang lain karena yang mereka katakan itu bukan diriku. hanya saja dia adalah seorang ketua... Tapi dari percakapan mereka membuktikan bahwa Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee adalah sahabat karib. 'Tuan Kiam-ta lebih licik dari Hie Tiong-gwee semua sikap sopannya adalah pura-pura untuk menipu orang-orang. bila dia mati di rumah ini. tapi sayang. kau tidak merasa aku terlalu jujur bukan?" Kata Tuan Kiam-ta: "Kau dan aku sama-sama punya hubungan.Kata Tuan Kiam-ta: "Aku tahu dia adalah satu komplotan denganmu dan dia juga adalah ketua satu perguruan. tapi kalau kau. Dalam hati Wie Thian-hoan berpikir." Tuan Kiam-ta tertawa dan berkata: "Tapi sayang istrimu yang cantik itu. Kita tidak perlu membunuh dia untuk tutup mulut." Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata: "Benar." Percakapan mereka membuat Wie Thian-hoan dan Hiat-kun menjadi bingung. aku akan menjalankan cangkokan.' Terdengar Hie Tiong-gwee berkata lagi: "Biarkan Bwee Cenghong pergi.

begitu Wie Thian-hoan datang segera bisa menotok jalan darahnya. Malam itu dia tidak menggunakannya tapi bagaimana pun Hiat-kun tidak percaya dia bisa melawan Hoan Toako. tapi orang yang bisa mengalahkannya belum tentu . Orang yang memliki ilmu silat yang lebih tinggi dari Hoan Toako pasti ada. 'Apakah silatmu sama tinggi dengan Hoan Toako? Benar-benar tidak tahu malu. di luar langit masih ada langit lagi. kalian sudah tidak ada waktu untuk mengundang pesilat tangguh. di luar orang masih ada orang lain lagi. ilmuku dengan ilmunya sama tinggi. tapi air yang jauh tidak bisa memadamkan api yang dekat Malam ini aku akan mengambil nyawamu. bukan berarti tidak ada orang yang bisa menyingkirkan dia. siapa yang bisa mengalahkan dia?" "Benar. masih ada cara apa lagi?" "Asal kita bisa menyingkirkan Hui-thian-sin-liong. meskipun aku tidak bisa menyingkirkan dia." hati Hiat-kun sudah tidak sabar lagi. ilmu silat Tuan Kiam-ta hanya sedikit lebih tinggi dari Hiat-kun. aku percaya pasti ada orang yang bisa mengalahkan Huithian-sin-liong." Wie Thian-hoan ingin tahu dari percakapan mereka bisa mendapat banyak rahasia lagi. sekarang dia sudah tahu bahwa Tuan Kiam-ta menguasai Bian-ciang. mau menyingkirkan dia tidak mudah." "Dia sudah ikut Hui-thian-sin-liong melarikan diri. waktu itu aku menjadi orang jahat dan kau jadi orang baik. pasti ada cara untuk menipunya. semua kesalahan kau bebankan kepadaku." Dalam hati Hiat-kun tertawa geli.katakan? Jangan khawatir kita pikirkan cara lain. Wie Thian-hoan berbisik kepadanya: "Tunggu sebentar lagi. "Benar.' Dua hari yang lalu dia baru bertarung dengan Kiam-ta." Kata Hie Tiong-gwee: "Ilmu silat Hui-thian-sin-liong begitu tinggi. mereka tidak akan bisa lolos. Terdengar Hie Tiong-gwee berkata: "Benar.

" Hiat-kun bertanya kepada Wie Thian-hoan dengan suara kecil: "Hoan Toako. siapa itu Jenderal Bok?" "Dia adalah pemimpin pasukan kerajaan yang bernama Jenderal Bok Ci-giauw." Mereka tahu sebuah rahasia lagi.ingin membantuku.’ Tebakan Wie Thian-hoan tidak meleset. mempunyai hubungan yang erat dengan pemimpin pasukan kerajaan. mimpi pun tidak akan menyangka bahwa dia adalah orang semacam itu. Tuan Kiam-ta yang terkenal di dunia persilatan dan disegani oleh orang-orang persilatan. terdengar Hie Tionggwee berkata lagi: "Memang hubunganku cukup dekat dengan Jenderal Bok tapi belum bisa untuk tinggal selamanya di rumahnya. tapi aku pernah bicara dengannya dan dia pun berjanji akan membantu kita membasmi Hui-thian." Kata Hie Tiong-gwee: "Apakah aku harus mencari Jenderal Bok?" "Benar. yang mau membantuku tidak bisa mengalahkan dia. Bila kau ." Kata Tuan Kiam-ta: "Sebenarnya tidak perlu merasa begitu takut kepada Hui-thiansin-liong. dalam waktu singkat ini sepertinya kita akan susah mencari orang itu. bila tidak mendengar sendiri. Bila dia tidak mempunyai hubungan erat dia tidak akan menyuruh Hie Tiong-gwee pergi mencari Bok Ci-giauw." Tuan Kiam-ta tertawa: "Aku tidak bisa berkata bahwa hubunganku dengan Jenderal Bok lebih dekat dari dirimu. kalau kau merasa seperti itu. lebih baik kau tinggalkan Lokyang untuk sementara. 'Kian-yan ternyata lebih menakutkan dari Hie Tiong-gwee. Wie Thian-hoan mendengar percakapan mereka juga sangat terkejut dan berpikir. kita hanya harus hati-hati.

"Hoan Toako. hanya menyebut 'kau' dan 'aku'. dia berpikir mungkin mereka adalah sahabat karib. Hie Tiong-gwee belum terbukti bersalah. sekarang dia melihat Tuan Kiam-ta. Tapi semenjak tadi dia tidak mendengar Hie Tiong-gwee memanggil dia dengan sebutan Tuan Kiam-ta. 'Benar-benar Tuan Kiam-ta bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee. Tapi karena Wie Thian-hoan ada di depannya terpaksa dia berjalan ke arah Hie Tiong-gwee. Wie Thian-hoan berteriak: "Kau tangkap Hie Tiong-gwee. Yang dia curigai sebab Tuan Kiam-ta terkenal di dunia persilatan maka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee sangat menghormatinya. Hiat-kun lebih benci kepada Tuan Kiam-ta. bahwa dia memang Wie Thian-hoan menarik nafas dan berpikir. Tapi kecurigaan ini tidak dapat mengubah pandangan Wie Thian-hoan terhadap Tuan Kiam-ta." Kata-kata Tuan Kiam-ta membuktikan bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee." terlihat ada cahaya perak. Cara bicara Hie Tiong-gwee pun tidak begitu hormat kepadanya. Kiam-ta bagianku!" Karena ilmu silatnya lebih tinggi dari Hiat-kun dan dia pernah bertarung 2 kali dengan Tuan Kiam-ta. Hiat-kun takut keadaan akan berubah dan dia berkata. Tidak seperti yang dikatakan oleh Hiat-kun.' Tapi Wie Thian-hoan lebih teliti dari Hiat-kun. Hiat-kun memegang pedang masuk melalui jendela. . mari kita bergerak. Terakhir dia hanya melihat punggung Tuan Kiam-ta. tapi dia merasa curiga. pura-pura menjadi orang baik dan ilmu silatnya pun tidak di tunjukkan.masih ragu kita bisa pergi ke ibu kota mencarinya. walaupun dia mendengar percakapan antara Hie Tiong-gwee dan Kiam-ta. jadi dalam bercakap-cakap Hie Tiong-gwee tidak perlu sangat menghormatinya. Pada saat Wie Thian-hoan sedang berpikir tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan ke arahnya.

Hie Tiong-gwee terkejut dan meloncat kemudian mundur beberapa langkah Tapi Tuan Kiam-ta malah sebaliknya. "Penjahat tua ini ilmu silatnya lebih tinggi dari perkiraanku. "Hiat-kun. dua pasang telapak telah saling beradu. kau pun boleh menyaksikan ilmu totok ku. Terdengar suara TENG'. membalikkan jari dan menunjuk tapi yang dia tunjuk adalah Hiat-kun. pedang Hiat-kun sudah ada di jantung bagian belakang. Tuan Kiam-ta mundur beberapa langkah. tapi sepertinya dia juga pernah berlatih 'Lui-sin-ciang' (Pukulan guntur sakti) dari Tibet. tapi begitu dikibaskan oleh Hui-thian seperti sebuah pisau yang membelah angin. walau kita belum sembahyang tapi kita adalah suami istri. dengan tertawa dingin Kiam-ta berkata: "Bila sudah diberi aku tidak membalasnya. Dua langkah lagi Hie Tiong-gwee hampir mendekati dinding. ilmu silatnya sangat aneh.Karena gerakan mereka sangat cepat. dia berjalan menghampiri mereka. lengan baju itu sebenarnya adalah benda yang lembek. Hie Tiong-gwee berteriak. ini adalah suara Hui-thian-sin-liong dan Tuan Kiam-ta beradu tenaga telapak tangan. namanya tidak sopan. Hui-thian merasa seperti terkena besi yang panas terbakar. Tapi sudah tidak sempat karena sebelum tangan Hie Tiong-gwee menekan tombol itu. ampuni aku!" . Tenaga telapak tangan Tuan Kiam-ta adalah gabungan tenaga Bian-ciang dan tenaga Ta-sik-pek-jiu." Dia juga melambaikan lengan bajunya. Di dinding sudah dipasang tombol rahasia." Lengan baju Hui-thian dikibaskan. menutupi pandangan Huithian. dia menggunakan ilmu silat yang diturunkan dari Kie Yan-gan—yaitu ilmu Tiat-siu-hui-thian Tapi Tuan Kiam-ta bisa menghadapinya dengan tenaga telapak tangan. Tubuh Hui-thian bergoyang. membuat Hui-thian merasa aneh. sekali tekan akan keluar pintu rahasia.

Pertama. orang pun terjatuh. Hie Tiong-gwee sangat gembira. Dia mengayunkan pukulan tangan kosong menggetarkan Tuan Kiam-ta dan dia pun tergetar mundur. untung dasar tenaga dalam Hiat-kun sudah kuat. Hie Tiong-gwee tidak dapat menangkap Hiat-kun. walau sudah ditotok di dua titik tapi Hiat-kun masih bisa bergerak sedikit.Pedang Hiat-kun menusuk sedikit. Hiat-kun juga bisa menotoknya dengan pedang tapi dia jarang menotok jalan darah di belakang tubuh. tiba-tiba kesemutan dan pedangnya terjatuh. kedua dan jarak jauh menotok jalan darah di lutut. walaupun tidak mengambil nyawanya tapi bisa membuat Hie Tiong-gwee terluka parah dan tertangkap. segera membalikkan tangan menangkap Hiat-kun. tapi karena silat Hui-thian sudah kuat hanya membuat Hui-thian sedikit kesemutan. jari Tuan Kiam-ta seperti angin. Hie Tiong-gwee akan mati di bawah pedangnya. Ilmu totok jarak jauh milik Tuan Kiam-ta'pun belum begitu tinggi. menghindari cengkeraman Hie Tiong-gwee. malah ditangkap oleh Hui-thian. Dia tidak yakin bisa menotok jalan darah menggunakan pedang karena itu Hiat-kun mencari jalan darah lain untuk ditusuk dan membuat dia menjadi kaku. telah terjadi sesuatu yang tidak diduga oleh kedua pihak. Pertama. Hie Tiong-gwee belum terbukti dosa-dosanya harus dipertanyakan lagi tentang hal yang terjadi. dia menotok tangan. Dia menggulingkan tubuh di bawah. tapi tidak tertutup jalan darahnya. dia merasa tangannya Ternyata Hiat-kun telah ditotok oleh Tuan Kiam-ta dari jarak jauh. dia bukan orang sekejam itu. Kedua. Hui-thian pun tertotok di satu tempat oleh Tuan Kiam-ta dari jarak jauh. . Pedang terlepas. Hiat-kun masih ragu-ragu. Jalan darah itu terletak antara sebuah jalan darah kematian bila tenaga Hiat-kun tidak tepat.

Baiklah." . Dia harus mencari tahu teka teki ini. apakah aku bisa meninggalkan dia begitu saja?" Dia tampak ragu. tiba-tiba dia merobek baju atas Hie Tionggwee. kau mau istri orang ini. maka akan lebih sulit untuk menangkapnya. dia berkata: "Jangan sembarangan bertindak." "Kalau begitu.Waktu Hui-thian merasa senang. "Hui-thian-sin-liong. yang kau mau bukan suaminya melainkan istrinya. 'Bila aku membiarkan Hie Tiong-gwee pergi ke ibu kota untuk mencari Jenderal Bok. Waktu itu hatinya sangat kacau. kalau kau tidak melukai Hie aku juga tidak akan melukai Nona Kang. tapi dia takut bila teka teki ini terbongkar. Tuan Kiam-ta pun menangkap Hiat-kun. kau lepaskan Hie Tiong-gwee dan aku akan melepaskan Nona Kang. tiba-tiba mendengar tawa dingin Tuan Kiam-ta. mari kita berunding. bila dia bisa membuktikan bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang ditutup wajahnya dan dia yang membawa pengawal istana untuk membunuh ayahnya. atau mau orang itu?" Sewaktu Hui-thian menangkap Hie Tiong-gwee. dalam hati dia berpikir. masih ada sandera di tanganku. Tuan Kiam-ta marah dan berkata: "Kau mau apa!?" Hie Tiong-gwee pun terkejut karena perbuatan Wie Thian-hoan. Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hie Tiong-gwee tidak terluka. Dari teriakan Hie Tiong-gwee. apakah dia akan melepaskan Hie Tiong-gwee atau tidak. bekas luka pun tidak ada." Wie Thian-hoan sudah tahu kemauan mereka. Tapi Hiat-kun ada di tangan Kiam-ta. Tapi pundak Hie Tiong-gwee tidak ada bekas gigitan. Kata Wie Thian-hoan: "Bila kau berani menyentuk satu helai rambutnya saja aku akan mengambil nyawa Hie Tiong-gwee.

Sekarang dia punya alasan untuk melepaskan Hie Tiong-gwee. Dia tidak merasa malu kepada ayahnya yang sudah meninggal. "Bagaimana ini? Jadi atau tidak?" Tanya Tuan Kiam-ta. biksu ini adalah saksi juri pertama. Setelah terjadi insiden itu. Tiba-tiba ada yang berkata: "O-mi-to-hud. "Tidak perlu terburu-buru." Wie Thian-hoan terkejut dan membalikkan tubuh. . harus ada persyaratannya. dia merasa agak sedikit terburu-buru. Hie Tiong-gwee mengundang dia untuk datang ke Lok-yang tapi masih dalam batas wajar. aku di sini memberi hormat. Tapi dia bisa datang pada waktu sekarang ini. kedua belah pihak saling tidak percaya bila mau menukar sandera. Wie Thian-hoan menjadi curiga. Pertama kali dia bertarung dengan Hie Tiong-gwee di Siong-san." Wie Thian-hoan sedang memikirkan syarat-syaratnya. dia adalah Ko Tan Taysu dari Siauw-lim. Walaupun Hie bukan orang yang dimaksud tapi masih banyak yang dicurigai dari dirinya. Tuan Kiam-ta melihat dia tampak ragu. dia masih tidak percaya bahwa Hie tidak ada hubungan dengan kematian ayahnya. dia melihat ada seorang hweesio yang kurus sudah berada di hadapannya. Tapi bukti yang kuat tidak ada di tubuh Hie Tiong-gwee." Kemudian ada yang berkata: "Apa kabar Tuan Wei.Walaupun Wie Thian-hoan sudah mendapat jawaban dari teka teki ini tapi hatinya tetap kosong. Hweesio itu lebih terkenal lagi dibanding Tuan Kiam-ta. Dia mengira bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang ditutup wajahnya ternyata bukan. Di dunia persilatan namanya terkenal dan dia juga tahu identitas asli dari Wie Thian-hoan karena Ko Tan Taysu dan kakek gurunya adalah teman baik.

" Kata Wie Thian-hoan. kau mau mencari bukti.. aku tidak berani campur tangan" Wajah Tuan Kiam-ta seperti terkejut setelah mendengar katakata ini apakah dia memang pura-pura atau memang tidak tahu? Dengan marah dia berkata: "Mengapa Hie Tayhiap dicurigai sebagai pembunuh?" "Ini adalah urusan keluarga mereka. apakah Hie Tayhiap adalah orang yang kau curigai?" Wie Thian-hoan tampak terkejut dan berkata: "Apakah Anda sudah tahu semua?" "Benar." . apakah benar? Kau dan Hie Tiong-gwee sudah salah paham." Kata Ko Tan. apakah orang lain akan percaya? Dengan pelan Ko Tan berkata: "Kecurigaanmu belum terhapus. aku mengatakannya dengan adil." pikir Wie Thian-hoaa Wie Thian-hoan pun memberi hormat kepada Ko Tan Taysu: "Apakah Cianpwee datang untuk diriku? Cayhe sangat berterirna kasih. sekarang tidak ada bukti."Dia dan kakek bukan teman biasa. tapi. Tuan Kiam. Dia bertanya lagi: "Kelihatannya kau tidak mendapat bukti itu di tubuh Hie Tionggwee. Bila tidak ada bukti.. walaupun dia datang karena diundang oleh Hie Tiong-gwee. jangan membuat susah Hie Tayhiap. tapi aku berharap dia tidak hanya mendengar dari satu pihak. maaf aku tidak bisa memberitahumu. kakek gurumu sudah memberitahu bila benar orang itu adalah Hie Tayhiap. apakah benar?" "Bukti tidak kudapatkan. apakah ada petunjuk untukku?" Kata Ko Tan: "Wie Sicu. apakah kau sudah melihat dengan jelas? Jujur katakan kepadaku. "Tapi apa?" Wie Thian-hoan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

berterima kasih karena Wie Thian-hoan sangat sayang kepadanya. Hiat-kun pingsan dalam pelukan Hie Tiong-gwee. Dia tahu demi balas dendam Wie Thian-hoan telah banyak menghabiskan tenaga dan pikiran. Hie Tiong-gwee langsung mencengkram dan menotoknya hingga Hiat-kun pingsan. malu karena disalah sangka oleh Ko Tan Taysu. Satu. "Baiklah!" kata Wie Thian-hoan. Hiat-kun menjadi terharu. pura-pura Hie . "Aku punya mulut pun susah untuk menjelaskannya. dua. mereka bertemu di tengah-tengah. dia sudah jatuh di pelukan Hie Tionggwee.Di dalam kata-kata Ko Tan terkandung makna bahwa dia memarahi Wie Thian-hoan agar jangan mencurigai Hie Tiong-gwee. lepas!" Hiat-kun sangat malu tapi juga berterima kasih. orang-orang menganggap dia perempuan murahan tapi dia tetap berlari ke arah Wie Thian-hoan. Tuan Kiam-ta pun tidak berani berlaku licik." Dengan ada Ko Tan Taysu. "Tuan Kiam-ta. kita berbarengan melepaskan sandera. Hie Tiong-gwee dan Hiat-kun berlari ke teman masing-masing. tapi ada hal aneh yang terjadi. "Baiklah!" Tuan Kiam-ta berkata: "Kita hitung sampai 3 kemudian berbarengan melepaskan sandera. Demi dia. tiga." pikir Wie Thian-hoan. Wie Thian-hoan harus melepaskan musuhnya. dan juga marah karena Wie Thian-hoan masih tertarik kepada Hiatkun. di sisi mereka ada gunung buatan. dia membuka totokannya. dia memanggil: "Hoan Toako!" Begitu dia memanggil. Hiat-kun merasa ada angin yang berhembus dari gunung itu dan dia merasa lututnya kaku. kau buka totok Hiat-kun. Wie Thian-hoan tidak takut Tuan Kiam-ta akan main licik.

Mereka tahu kemampuan ilmu silat masing-masing. malah masih sempat memarahiku! Walaupun ilmu silatmu tinggi.Tiong-gwee berkata: "Istriku. karena tidak bisa melewati hadangan Kiam-ta hanya bisa melibat Hiat-kun digotong oleh Hie Tiong-gwee. kau ingin kembali ke dalam pelukanku. kau tidak perlu banyak cerita lagi. ada Tuan Kiam-ta dan Ko Tan Taysu. pada saat Wie Thian-hoan tidak berkonsentrasi jari Kiam-ta sudah melewati pundak kirinya dan Wie Thian-hoan merasa sangat kesakitan Untung dia segera mengibaskan ilmu Tiat-siu. Dari luar Wie Thian-hoan hanya mendengar suara dinding yang terbuka. Tuan Kiam-ta yang licik segera meloncat keluar dan mundur ke sisi Ko Tan Taysu. tubuhnya seperti disengat api dan dia berteriak: "Orang tidak tahu malu! Lepaskan dia!" Waktu itu Tuan Kiam-ta sudah menghampiri Hie Tiong-gwee dan melindunginya. tapi tetap harus tahu aturan. aku tidak pantas bicara dengan orang sepertimu!" Dia pura-pura takut Wie Thian-hoan akan merebut Hiat-kun lagi." Wie Thian-hoan sangat terkejut. maka dia segera kembali ke ruang rahasia dan menekan tombol kemudian masuk. aku akan memaafkan kesalahanmu yang dulu. segera menyerang dengan 3 jurus. bisa menahan tulang pundaknya tidak sampai patah. mereka akan memberikan keadilan. Hie Tiong-gwee tertawa dingin: "Kurang ajar! Kau merebut istriku. setidaknya bisa menghalangi dia. aku sangat senang. . Wie Thian-hoan sangat marah. kemudian masuk dan menghilang di depan matanya. dan terjadi lagi adu tenaga telapak tangan. Seorang pesilat bila sedang bertarung harus berkonsentrasi dan tenang. walau Tuan Kiam-ta tidak bisa memukul mundur Wie Thian-hoan.

"Kau tidak tahu malu! Orang yang kau inginkan sudah kembali. tapi Hie Tiong-gwee ingin istrinya kembali. aku nasihati dirimu. kau tidak menepati janji. aku Kiam-ta harus menepati janjiku. bersama-sama melepaskan sandera.. kemudian berkata: "Tuan Kiam-ta. mana orang yang aku inginkan!" Kiam-ta tertawa dingin: "Apakah kau meninginkan Nona Kang? Sungguh tidak tahu malu! gila kau tidak tahu malu itu urusanmu. jangan memikirkan istri orang lain.." Dengan tergesa-gesa dan marah Wie Thian-hoan berkata lagi. hal ini ada hubungannya denganmu!" Wie Thian-hoan segera bersemangat. apa artinya?" Ko Tan Taysu membalikkan tubuh dan berkata kepada Tuan . Wie Thian-hoan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya." Ko Tan Taysu mengatupkan telapak tangan dan berkata: "O-mi-to-hud!" Dengan pelan dia berkata lagi: "Wie sicu. itu urusan Hie Tiong-gwee. buanglah pikiran yang tidak benar. tiba-tiba mendapat sebuah kayu. Wie Thianhoan berkata: "Benar. kembalilah ke tempat asal. Ko Tan Taysu yang sudah lama terdiam. seperti orang yang sudah hampir tenggelam." "Yang mana yang tidak kutepati?" Wie Thian-hoan masih marah: "Kita sudah membuat perjanjian. Coba Anda jelaskan dengan adil. Ko Tan Taysu. tidak ada hubungannya denganku!" Walaupun dia licik tapi kata-katanya masuk akal.Wie Thian-hoan sangat marah: "Kian-yan. sudah melepaskan Nona Kang." Wie Thian-hoan terkejut dan bertanya: "Taysu mengatakan itu. dalam waktu yang sangat tergesa-gesa.

Bila kau tidak sadar." Kata Ko Tan Taysu: "Wie Sicu. pandanglah kakek gurumu. mari bantu aku menjelaskan kepadanya. Ko Tan Taysu berkata lagi: "Ini adalah perintah ayah dan ibunya agar dia menikah dengan Hie Tiong-gwee. Terpaksa Wie Thian-hoan berkata: "Silahkan beri petunjuk!" "Aku tidak berani memberikan petunjuk. tidak boleh merebut istri orang.Kiam-ta: "Tuan Kiam-ta. kau melihat lebih jelas dari diriku. Aku tidak ingin marah kepadamu. kau akan dihukum oleh masyarakat. bila dia tidak mau mengapa dia datang untuk menjalankan adat pernikahan? Wie Sicu. apalagi. kau selalu berada di tempat kejadian.. aku nasihati dirimu. Waktu itu yang marah mungkin bukan aku saja.. semua hal belum terbuka dan aku sulit untuk menjelaskannya. Tuan Kiam-ta malah tersenyum dan berkata: "Wie Thian-hoan baru saja bertarung denganku. Wie Sicu minta keadilan. kembalilah ke tempatmu." Wie Thian-hoan sangat marah hampir tidak bisa bicara. aku tidak merebut istri orang lain. lebih baik aku pergi dulu. Wie Thian-hoan pun semakin mendengarnya semakin marah "Kau belum mengetahui kejadian sebenarnya. aku harus menyampaikan ini . hanya saja aKo Tan kakek gurumu adalah teman baik. tolong dengan tenang dengarkan kata-kataku!" Ko Tan Taysu sudah menerima usul Kiam-ta. kelakuanmu sudah merusak norma-norma. tapi Tuan Kiam-ta semalam sudah melakukan suatu hal. tapi tubuhnya sudah menjadi milik Hie Tiong-gwee." "Nona Kang tidak ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee." Kata Wie Thian-hoan. Nona Kang adalah istri sah dari Hie Tiong-gwee. walaupun dia tidak mau. Anda adalah Cianpwee di dunia persilatan." Ko Tan Taysu makin bicara kata-katanya semakin memberatkan. kali ini perselisihan antara Hie Tiong-gwee dan Wie Sicu. Anda saja yang mengurusnya. kau tidak boleh pura-pura tidak tahu. tidak akan ada yang berani membantah.

pertama. coba ceritakan!" Kata Ko Tan. aku tidak pernah melakukan hal yang merugikan orang lain. Ibu Hiat-kun pun tidak dapat disebut sebagai orang jahat. Aku bertanya kepadamu. cepat katakan saja yang sebenarnya!" Kata Ko Tan Taysu." Dengan marah Wie Thian-hoan berkata: "Apakah itu benar?" "Wie Sicu. karena mereka adalah teman yang saling menghormati. membiarkan orang lain menjelekkan Tuan Kiam-ta. minta ijin kepada Tuan Kiam-ta. Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata: "Apa benar. Walau kau bilang seperti itu tidak menjadi masalah bagiku. kau tidak melakukan kejahatan? Benar-benar bermuka tebal." "Kapan?" "Menjelang subuh." "Aku membunuh orang yang jahat. kau masih tampak tenang seperti itu. kemarin malam kau katakan dia membunuh orang?" "Benar. Kata Kiam-ta: "Seumur hidupku. Ada 2 arti dari pandangannya." "Baiklah. tidak ada masalah yang tidak bisa kukatakan. Karena itu dia mengerutkan dahi dan memandang Kiam-ta. walaupun pamannya adalah orang yang berpikiran sempit tapi tidak harus dibunuh." "Kita tidak bicara tentang baik atau jahat." kata Wie Thian-hoan. bila belum mendapat persetujuan dari teman. Ko Tan mengerutkan dahi dan menatap Tuan Kiam-ta. sepasang tanganmu penuh dengan darah.kepada Taysu. Dengan suara besar Wie Thian-hoan berkata: "Kemarin malam dia membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya. jangan menyerang orang terus. dia tidak percaya kepada Wie Thian-hoan. Kedua." . itu adalah tindakan tidak sopan.

dan Ko Tan berkata: "Aku tidak percaya. karena kau sendiri yang dengar tapi aku sendiri yang melihat. setelah itu dia kembali ke kamar tidur. Apakah Ko Tan Taysu juga berbohong? Dan itu juga tidak mungkin. Malam itu walaupun dia tidak jelas melihat wajah pembunuhnya tapi dari bayangan belakang punggungnya dapat dipastikan bahwa itu adalah Tuan Kiam-ta. aku berharap kau jangan berbohong. ." Wie Thian-hoan yang mendengar perkataan ini menjadi bengong. apakah ibu Hiatkun tidak salah melihat orang?" Wie Thian-hoan sangat sedih sekaligus marah. dia berkata: "Apakah Anda tidak percaya?" Ko Tan melambaikan tangan. Tidak mungkin Tuan Kiam-ta dalam waktu yang bersamaan menemani Ko Tan Taysu main catur dan pada waktu itu juga di rumah paman Hiat-kun membunuh orang. "Wie Sicu."Apakah kau sendiri yang melihatnya?" "Sebelum meninggal ibu Hiat-kun mengatakan nama pembunuhnya." Ko Tan membaca lagi: "O-mi-to-hud!" dengan pelan dia berkata. Apakah Tuan Kiam-ta bisa terbagi dua? Dan itu sama sekali tidak mungkin." Wie Thian-hoan menjadi bengong dengan suara besar dia bertanya: "Anda melihat apa?" Wie Thian-hoan sudah tidak sabar lagi. Dengan pelan Ko Tan Taysu berkata: "Kemarin malam aku dan Tuan Kiam-ta main catur hingga dini hari. aku mendengar dengan jelas. dia bilang Kiam-ta dan dia menggunakan ilmu Bian-ciang. apalagi dia sendiri yang mendengar ibu Hiat-kun menyebut nama pembunuhnya. melarangnya bicara terus.

sebenarnya aku sangat berharap kepadamu tapi kali ini sikapmu sungguh mengecewakanku." "Aku tidak berani. Dan tamu yang belum pulang seperti Hun Sim-boh. ada murid Hie Tiong-gwee yang bernama Leng Tiang-goan. kejahatan tumbuh dari hatimu sendiri. aku berharap ini hanya untuk sementara kau seperti mi. Yap Jin-tong. dia hanya bengong menatap Ko Tan Taysu. aku baru dengar Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee sedang berunding akan pergi ke ibukota untuk mencari Jenderal Bok!" Kata Ko Tan Taysu: "Aku berteman dengan Tuan Kiam-ta sudah puluhan tahun selalu tahu sikapnya." Sepertinya Ko Tan Taysu tidak senang dan dia berkata: "Wie Sicu. bila kau tidak percaya kepadaku. dia sudah tidak percaya kepada Wie Thian-hoan dan katakatanya bertambah tajam. Kata Wie Thian-hoan: "Bila Anda bisa membuktikan Tuan Kiam-ta kemarin malam bermain catur dengan Anda.." "Dosa adalah kau sendiri yang membuatnya. berhentilah sampai di sini! O-mi-to-hud. dan .Dia seperti tidak percaya kepada telinganya sendiri. walaupun aku mempunyai banyak pertanyaan tapi aku tetap menyimpannya karena sulit untuk menjelaskannya. Sekarang keluarga Hie sudah banyak yang datang. terserah pada Anda. aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. kau pulang saja!" "Masih ada satu hal lagi yang belum Anda ketahui. sepertinya dia takut Wie Thian-hoan berubah pikiran lagi. dan lain-lain. Wie Sicu." Dengan dingin Ko Tan Taysu berkata: "Ada apa lagi?" Sikapnya dingin. "Anda mau percaya atau tidak. bila tidak berani. kelak kau jangan asal bicara!" Benar.. aku ingin kau mengingat kata-kata ini.

. artinya: Budha selalu sayang kepada manusia. dia berkata kepada Ko Tan Taysu: "Supek. Setelah membaca ayat kitab suci. Malam itu dia sudah dirugikan oleh Wie Thian-hoan sekarang kebetulan Ko Tan Taysu sudah datang. Dia terkejut karena tenaga dalam Ko Tan Taysu begitu hebat. Ko Tan Taysu menyuruh Wie Thian-hoan meninggalkan tempat itu.lain lain. Siauw-lim mana bisa memimpin dunia persilatan lagi?" Ko Tan Taysu membaca ayat-ayat yang berada di dalam kitab suci. orang ini merebut istri orang lain. termasuk orang jahat. apalagi kepada manusia Dua kata terakhir jelas ditujukan kepada Hun Sim-boh agar dia tidak memikirkan balas dendam. tapi dia tahu bagaimana pun Supeknya pasti perada di pihaknya. Wie Thian-hoan merasa ada tenaga lembut yang mendorong dia hingga mundur beberapa langkah. Yang membuat Wie Thian-hoan marah adalah bahwa dia ditipu oleh Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee. bila tidak menghukumnya. Yang galak seperti elang dan harimau. tapi kau tidak mau menerimanya." Hun Sim-boh tahu bahwa tadi Ko Tan Taysu membaca ayat kitab suci untuk menasihati dia. tidak tahu malu dan sangat sombong. Dalam keadaan seperti ini. walau dia sudah berlatih ilmu silat yang begitu tinggi. dia merasa terkejut dan marah. dia tidak ada cara lain. Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim. mana yang salah dan mana yang benar. Budha tetap memotong dagingnya sendiri untuk memberi makan kepada mereka. Wie Thian-hoan memberi hormat kepada Ko Tan Taysu dan berkata: "Terima kasih anda sudah menasehati aku. dia pura-pura tidak mengerti dan berkata: "Supek sangat welas kasih. satu-satunya adalah dia harus pergi dari sini. tetapi tetap tidak bisa menahan dorongan tenaga dalam dari Ko Tan Taysu.

" Karena pertarungan di Siong-san Ko Tan Taysu pernah beberapa kali memuji Wie Thian-hoan. tongkat yang dipegang oleh Hun Sim-boh jadi terlepas dari tangannya. lebih baik aku melindungi Hie Tayhiap. Ko Tan Taysu marah: "Hun Sim-boh. aku sudah menyuruhmu jangan ikut campur. Kata Tuan Kiam-ta: "Orang ini tidak bisa mendengar perkataan orang lain. Aku menyesal. Hun Sim-boh terkejut sampai bengong. menurut aturan aku harus membantu Hie Tiong-gwee tapi aku adalah pengawas Siauw-lim. Supek bisa menerima sikapmu. Hanya Ko Tan Taysu yang tidak mempercayainya dan selalu membantu dia. karena itu Tuan Kiam-ta dan It Piau berjanji akan adil menjadi juri karena itu sekarang Ko Tan Taysu agak . Waktu itu dua orang menganggap saksi lain karena terlalu percaya kepada kata-kata orang-orang persilatan. siapa tahu pada malam itu dia sudah kalah dalam satu jurus dan Wie Thian-hoan tidak membunuhnya. mengapa kau tidak dengar?" Hun Sim-boh mengira bila dia bertarung. dengan tertawa lepas dia meninggalkan tempat itu. meninggalkan Lok-yang untuk bersembunyi sementara waktu. sekarang Kiam Toako bisa menanganinya. dan jatuh ke dalam gunung buatan. Itu lebih baik. Ujung tongkat masih bergoyang. tidak dapat meninggalkan Siauw-lim lama-lama. guru sudah menasihati juga tidak akan berhasil. mereka menganggap Wie Thian-hoan adalah penjahat kelas kakap. Supeknya pasti akan membantunya." Ko Tan Taysu menarik nafas dan berkata: "Wie Thian-hoan tidak tahu aturan. tapi aku tidak bisa!" Sehabis berkata itu Hun Sim-boh menyerang Wie Thian-hoan dengan tongkatnya Wie Thian-hoan segera mengeluarkan jurus Liu-in-hui-siu. aku tidak menyangkanya. tongkatnya ditancapkan ke dalam batu.masih berani melawan.

asal Ko Tan tidak mencurigainya. Main Gila dengan Kakak Ipar Dia tidak tahu bahwa Hie Tiong-gwee pun mempunyai kesulitan. Dia tidak tahu yang dikatakan oleh Tuan Kiam-ta adalah alasan untuk meninggalkan Lok-yang dengan Hie Tiong-gwee untuk pergi ke ibukota. Untung Hie Tiong-gwee dan perempuan itu membelakangi Hiat-kun dan mereka tidak melihat Hiat-kun yang sudah sadar. dia merasa aneh mengapa dia ada di sini? Biasanya dia dingin seperti es. perempuan itu adalah kakak ipar dari istri Hie Tiong-gwee yang sudah meninggal. langsung pergi dengan Hun Sim-boh. "Hie Tiong-gwee sudah mendapatkan kembali istrinya. besok tentu tidak mau meninggalkan Lok-yang. tapi dia juga agak khawatir. mungkin Hie Tiong-gwee akan berbulan madu beberapa hari di sini. Hiat-kun tidak salah mendengar. Walaupun dia dapat ditemui di ibukota. aku sudah merebut kembali istrimu. orang-orang tidak akan percaya Hui-thian dan mencurigainya melakukan kejahatan di ibukota." ---ooo0dw0ooo--C.menyesal. Hiat-kun perlahan mulai agak sadar. Tuan Kiam-ta yang sudah berhasil menipu hatinya sangat senang. pelan-pelan dia membuka matanya dan mencuri-curi pandang melihat keadaan sekitarnya. bagaimana caramu berterima kasih kepadaku?" Hiat-kun mengenali suara ini. mendengar kata-katanya tadi. di dunia persilatan . Karena Ko Tan Taysu merasa malu. tapi dia tidak bisa menikmatinya. si cantik tidur di sisinya. apa maksudnya? Hiat-kun curiga dia salah dengar. Tapi Hiat-kun dapat dengan jelas melihat mereka. samara-samar dia mendengar ada suara genit yang sedang tertawa dan berkata: "Hie Tiong-gwee. dia tidak pamitan kepada Hie Tiong-gwee.

" "Mengapa kau malah menikahi Hiat-kun?" "Aku hanya pura-pura kepadanya. asal kau dapat menunggu dengan sabar.dia dijuluki 'Yu-bin-lo-sat' (Pembunuh berwajah giok). mengapa harus memberi dia obat penawarnya?" Kata Hie Tiong-gwee: . pasti mengaku tidak sepenuh hati. tapi kau tetap menginginkan dia menjadi istrimu." Tio Ang-bi marah: "Pada suatu hari. kau ingin aku sebagai adik ipar menjadi suamimu. Hiat-kun kabur dari sini dan dia pun mempunyai laki-laki lain. pada suatu hari. berbeda denganmu. tenanglah pada suatu hari aku akan menjadikanmu sebagai Nyonya Hie yang sah!" Dengan tertawa dingin Tio Ang-bi berkata: "Aku sudah bosan mendengarnya!" "Kali ini aku tidak akan berbohong lagi kepadamu. paling lama setengah tahun paling cepat 3 bulan. cita-citamu akan tercapai. "Bila kau tidak mau kalah. "Aku tahu. perkosa saja kemudian bunuh dia! Dendammu akan selesai. bagaimana caraku berterima kasih kepadamu?" "Kau harus tahu sendiri!" Kata Tio Ang-bi." "Karena itulah aku tidak mau kalah dari Wie Thian-hoan. dia bernama Tio Ang-bi. kau menyuruhku menunggu sampai kapan?" Dengan tertawa Hie Tiong-gwee menjawab: "Kali ini tidak perlu lama-lama. cici Tio. sekarang dia masih pingsan. Dengan tertawa Hie Tiong-gwee berkata: "Cici. Dia adalah seorang perawan tua berumur 36 tahun dan selalu tinggal di rumah Hie Tiong-gwee. berilah obat penawarnya!" pinta Hie Tiong-gwee. kau harus percaya kepadaku!" "Aku tidak percaya.

dalam hati dia sangat marah tapi dia berusaha menahan diri. bila kau tidak percaya. Dia berpikir." "Apa yang bisa diperalat darinya? Dia hanya seorang gadis biasa. paling sedikit harus pingsan selama 12 jam. Walau Hiat-kun sudah terkena jarum Su-kut-ciam tapi dalam waktu 6 jam dia sudah sadar. nafasnya pun bisa mengatur sendiri. Kau berteriak di depan telinganya pun dia tidak dapat mendengar." "Ayahnya dan ayah Hui-thian-sin-liong adalah sahabat karib. aku ingin dia dengan senang hati menjadi istriku. Hiat-kun juga ingin tahu. dan ingin membangun rumah tangga yang harmonis. dia bisa membuka totokan jalan darahnya." Mereka tidak tahu Hiat-kun menguasai ilmu tenaga dalam turun temurun dari keluarganya. aku akan jujur kepadamu. walau dalam keadaan tidur. ."Tidak. apakah kau tahu itu?" "Aku tahu. tidak perlu khawatir didengar oleh orang." Hiat-kun masih pura-pura pingsan." Hie Tiong-gwee menarik nafas dan berkata: "Baiklah. apalagi ini adalah ruang rahasia. aku menikahinya karena aku ingin memperalatnya. suaramu jangan terlalu keras!" Kata Hie Tiong-gwee. jangan bunuh dia sekarang. "Kau takut apa? Dia sudah terkena jarum Su-kut-ciam (jarum pelemas tulang). 'Benar. karena itulah istrimu tidak dapat melupakan kekasih lamanya. tapi ayahnya dan ayah Hui-thian bukankah sudah mati? Dan itu juga akibat perbuatanmu bukan? Apalagi yang kau mau dari dia?" "Ssstt. Terdengar Tio Ang-bi tertawa dingin: "Kau mau membohongi dia atau aku? Katakan saja kau suka dengan kecantikannya. juga tidak perlu memakai kekerasan. Walau Hiat-kun sudah sadar tapi tenaga dalamnya belum pulih. mengapa dia bersusah payah mau menikah denganku?' Ini adalah pertanyaan Tio Ang-bi kepada Hie Tiong-gwee tapi tidak dijawab oleh Hie Tiong-gwee.

" "Walaupun sewaktu mereka masih hidup adalah sahabat." "Tapi Hiat-kun masih hidup." Tio Ang-bi dengan dingin berkata: "Apakah kau mengira Hiat-kun akan memberitahumu?" "Dia tidak tahu aku yang membunuh ayahnya. mengabdi kepada kerajaan. segera tahu bahwa dia adalah pembunuh ayahnya. aku ingin memberitahumu saja. aku juga ingin memperalat Hiat-kun. Jari kelingkingnya pun belum bisa digerakan. aku tidak menyalahkanmu. tapi mungkin mereka satu komplotan. tapi sekarang mereka sudah mati. bila tidak mereka tidak akan menjadi sahabat karib. teruskan ceritamu!" Hie Tiong-gwee membela diri dan berkata: "Aku tidak menganggap aku berbuat jahat. aku hanya ingin berbakti kepada kerajaan. Ayah Hiat-kun adalah teman baik ayah Hui-thian. walaupun belum mendapat bukti yang kuat. dan yang paling penting pada saat Hui-thian-sin-liong merobek bajuku dia tidak bisa membuktikan bahwa aku adalah musuh mereka. dia pasti tahu bahwa ayahnya sebelum mati telah bertemu dengan siapa? Kali ini dia ditipu oleh Hui-thian. hatinya pasti akan ketakutan. Dalam beberapa hari dia akan tahu rahasia Hui-thian.Hiat-kun sudah mendegar pengakuan dari Hie Tiong-gwee. "Aku tidak takut dia mendengar tapi rahasiamu aku tidak ingin orang lain tahu." Tio Ang-bi tertawa dan berkata: "Seseorang bila sudah berbuat jahat. Aku akan membuktikan bahwa aku adalah teman baik Hui-thian dan akan membuat dia percaya bahwa ini adalah salah paham karena Hui- ." "Bagimana caranya?" "Ayah Hui-thian adalah salah satu ketua dari Perkumpulan Thiante (langit bumi) dan dia berhubungan dengan penjahat yang pernah memberontak kepada kerajaan. dia ingin membunuh Hie Tiong-gwee tapi tenaganya belum pilih. Terdengar Hie Tiong-gwee tertawa kecut.

kau sudah membantuku satu kali. dia hanya merasa keadaannya lebih baik sedikit dari pada tadi. pasti bisa membantuku untuk kedua kalinya.thian cemburu kepadaku maka dia curiga aku adalah musuhnya. kau juga tidak perlu tergesa gesa ingin tahu. seperti luka di pundakmu." Ang-bi sangat marah: "Memang rencana yang sempurna. karena kita adalah orang bertipe yang sama." Setelah bicaranya habis. tapi Hoan Toako juga sudah ditipu oleh Hie Tionggwee. kau memindahkan kulit untuk menutupi luka ini.. aku ingin bertanya kepadamu. benar-benar ada di tubuh Hie Tiong-gwee. Hiat-kun sangat marah tapi tidak dapat berbuat apa-apa. "Bukti yang dicari Hoan Toako. kau licik sekali dan aku harus mencari tali untuk mengikat kera tua ini. benar-benar sangat sempurna." Ang-bi tertawa: "Aku tidak akan memberitahumu. Sekarang dimana Hoan Toako berada? Apakah masih ada . tapi kenyataan tidak bisa selalu ditutup." Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata: "Aku akan menurut kepadamu.." Hie Tiong-gwee baru sadar dan berkata: "Benar. kau baik kepadaku. aku juga baik kepadamu. "Aku harus lihat bagaimana caramu untuk membalas budi." "Sekarang aku akan membalas budimu. terdengar suara tawa yang cabul." Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata: "Aku bisa membohongi orang lain tidak akan bisa membohongi dirimu. bila dia sudah tinggal di rumahku dia akan rela menjadi istriku. tapi sampai kapan dapat bertahan? Jangan hanya 3 bulan saja. Sifat Hiat-kun jujur dan baik. mata Hiat-kun tidak perlu dibuka pun sudah tahu mereka sedang melakukan apa.

orang yang dapat menolongku kali ini?" Memikirkan keadaan sekarang membuat hatinya marah sekaligus takut. tapi sekarang dia seperti tidak bisa menerima keadaan ini. Kau merasa apa ada yang aneh?" Jawab Hie Kim-giauw: "Luka yang disebabkan oleh Hui-thian tidak begitu berat. dia juga ahli membuat obat penawar. ayah juga tidak perlu obat penawar. Hiat-kun marah karena sudah tahu pembunuh ayahnya. Hie Kim-giauw secara sembunyi-sembunyi memberitahunya. Hal ini terjadi kemarin malam. Dia paling mengagumi gurunya." "Bibimu selain mempunyai obat penawar dia juga bisa mengobati penyakit biasa. Kwee Goan-cay bingung dan bimbang karena dia mulai curiga kepada gurunya." Kwee Goan-cay jadi bingung: . Mengapa dia bisa merasa curiga kepada gurunya? Kecurigaannya dia dengar dari Sumoinya." Kata Kwee Goan-cay: "Bibimu selalu menggunakan senjata rahasia yang sudah direndam dalam racun. Walaupun dia marah tidak seperti Hiat-kun tapi rasa bimbangnya sama seperti Hiat-kun. Dia curiga kepada Hie Tiong-gwee. Orang ini adalah murid kesayangan Hie Tiong-gwee yaitu Kwee Goan-cay. ini membuatku curiga. Di rumah Hie masih ada orang yang hatinya kacau. "Kemarin malam ayah menyuruh bibi mengobati lukanya. Mungkin ayanmu menyuruhnya mengobati lukanya. aku lihat kemarin ayah sudah sembuh. tapi luka di pundak ayah. luka bekas digigit orang. Apa anehnya?" "Yang bibi obati bukan luka biasa.

kemarin Hui-thian juga tidak menggigitnya. bibi berkata seperti ini. setelah mendengarnya dia juga tidak mengerti. "Setelah bibi mengobati luka ayah. aku ingin tahu. kalau memang benar juga tidak apaapa." "Dia bicara apa?" Tanya Kwee Goan-cay. Luka ayah dipindahkan. Karena kemarin malam Hui-thian menangkap gurunya dan Tuan Kiam-ta menangkap Hiat-kun. aku selalu hormat kepada guru.. 'Aku tidak bilang sempurna. aku mendengar bibi berkata yang aneh-aneh." Kwee Goan-cay tertawa: "Mungkin ayahmu dalam mengobati lukanya harus bertelanjang dada. Huithian menyobek baju gurunya. apa hubungannya dengan Hui-thian? Apakah ini tidak aneh?" Kemarin malam Kim-giauw memberitahukan ini kepada Kwee Goan-cay. mengapa kau bisa tahu?" "Aku mencuri dengar pembicaraan mereka. ayah tidak mengijinkan aku ada di sisinya." "Adik. luka ayah ini sudah lama. tapi karena gurunya mempunyai hubungan dengan perempuan lain. dia jadi tidak enak hati."Apa? Bekas gigitan? Apakah ayahmu pernah digigit hingga terluka?" "Benar. Walaupun belum semua. aku curiga dengan percakapan mereka.. di depan anaknya dia merasa malu. ." "Ayah dan bibi tidak ada hubungan apa-apa. hanya ingin bibi saja yang mengurus lukanya.'. daripada Hiat-kun." "Guru tidak ingin kau ada di sisinya. "Aku lebih memilih bibi menjadi ibu tiriku." Sebenarnya Kwee Goan-cay menyukai Hiat-kun. Sekarang dalam kebingungan ini dia sudah mendapat sedikit jawaban. tapi bila Hui-thian tidak teliti. kau jangan curiga. Hie Kim-giauw terus berkata: "Masih ada lagi. pada saat menukar sandera." Kwee Goan-cay merasa aneh. apakah kau sedikit. dia pasti tidak bisa membedakannya.

tapi wajahnya kaku walau dia sangat tampan.Kemudian Ko Tan Taysu datang. Benar saja. "Coh Tayhiap.. Tapi Coh Thian-su tidak sendirian. Coh Tayhiap!" dia terkejut dan senang. Dari percakapan Hui-thian dan Ko Tan Taysu." "Oh. aku belum berterima kasih kepadamu. Pada waktu dia sedang bingung. Hui-thian ingin membalas dendam. Ko Tan menanyakan apakah Hui-thian mendapat bukti? Akhirnya Hiat-kun tetap jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee." "Kakak ini adalah. karena dia kami jadi kemari. segera dia membuka pintu.. dia lebih muda dari Coh Thian-su. di luar ada Coh Tayhiap. terdengar ada yang mengetuk jendela kamarnya. ada seseorang yang tidak dia kenal. "Guru menutupi lukanya pasti dia sudah berbuat suatu kejahatan. Orang ini belum dikenal olehnya.” Walaupun Kwee Goan-cay sangat kagum kepada gurunya. dia tahu Hui-thian ke sini untuk membalas dendam. "Siapa?" dia terkejut dan bertanya. asal memang ada buktinya." "Aku tahu. "Aku adalah orang yang pernah kau bantu. Ko Tan Taysu tidak melarangnya. Tapi dia tetap tidak percaya bahwa gurunya adalah orang jahat. Huithian baru saja ada di sini. bukti yang dicari oleh Hui-thian tentunya luka bekas gigitan di pundak Hie Tiong-gwee. Orang di luar tertawa." Pemuda itu tertawa dan berkata: "Kau tidak mengenaliku lagi? Aku pun pernah datang ke sini untuk . tapi dia sekarang mulai curiga kepada gurunya. tapi Kwee Goan-cay merasa dia seperti sudah pernah melihatnya Kwee Goan-cay menutup pintu dan berkata.

" Kwee Goan-cay baru tahu dia adalah gadis yang membawa Huithian keluar dari aula. sekarang dia tambah tidak tenang. bila aku membantu mereka aku pasti bermusuhan dengan guru." Hui-thian baru pergi. entah akan terjadi apa lagi." Kata Kwee Goan-cay: "Bila kau ke sini untuk mencari Hui-thian. Tanya Coh Thian-su: "Apakah Po Leng-hoi sudah memberitahu identitasku?" "Aku tahu kau adalah Suheng Hiat-kun." "Aku juga tahu kau adalah teman baik Po Leng-hoi karena itu aku berani datang ke sini untuk meminta bantuanmu." " Suhengku sudah pergi." Karena itu dia menjawab: "Ini.. aku bernama Kie Su-giok. menganggapku adalah musuh." Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau memanggil istri gurumu dengan Hiat-kun. aku adalah Sumoi Hui-thian. aku mengira kau pasti mau membantu kami." Hati Kwee Goan-cay lebih kacau lagi: "Mereka datang pasti untuk mencari guru. Hari itu Hui-thian membuat Hie Tiong gwee tidak dapat menikah. nyawa guru hampir melayang." Kemudian dia membuka topeng kulitnya dan berkata: "Coh Toako pun memakai topeng karena takut kau tidak mau membuka pintu. tapi Hiat-kun belum! Aku tahu Hiat-kun dipaksa untuk tinggal di sini. aku adalah pembantu Hui-thian. dia sudah pergi." Kwee Goan-cay merasa malu dan berkata: . Tadi Kwee Goan-cay sudah bingung. "Benar. sekarang datang lagi Sumoi Hui-thian. Aku berharap kau jangan seperti gurumu... ini.membuat keributan..

" "Nona Kie. juga pada saat Hie Tiong-gwee menarik Hiat-kun masuk ke dalam ruang rahasia." "Kau juga tahu dia tidak ingin menikah dengan gurumu. Bila mengerti sifat Kie Su-giok. Mereka benar-benar tidak dapat menolong Hiat-kun. Hiat-kun disuruh tinggal di sini oleh guru. tapi Hiat-kun adalah Sumoiku. anggap saja kau tidak tahu apa-apa." Kwee Goan-cay tidak menyangka Kie Su-giok akan menjawab dengan begitu jujur. dia hanya bisa tertawa kecut. Aku hanya minta agar kau menunjukkan tempatnya dan kami sendiri yang akan menolong Hiat-kun. Kwee Goan-cay tahu Kie Su-giok mencintai Suhengnya. aku tidak mau menyusahkanmu. tapi nona Kang sudah digotong oleh tandu masuk ke dalam keluarga Hie. Kata Coh Thian-su: "Kakak Kwee. dia ingat ada Tuan Kiam-ta dan Ko Tan Taysu. aku kasihan kepada Hiat-kun. dan dia tetap istri guru yang sah.." Coh Thian-su dan Kie Su-giok tiba di rumah Hie tepat pada saat Hui-thian meninggalkan rumah Hie." "Kau tidak mengerti apa?" "Mengapa kau begitu bersemangat membantu kakakmu mencari Kang Hiat-kun?" Kemarin dia datang dan menarik Hui-thian. Kedua. dia sudah ditipu oleh gurumu. Dan sekarang Kwee Goan-cay tampak ragu. sepertinya kata-kata ini terlalu." "Apakah salah bila dikatakan dipaksa?" "Aku tidak berani bilang salah. aku sedikit tidak mengerti."Benar. tapi kalian jangan bilang dipaksa. aku tahu dia dikurung di ruang rahasia oleh gurumu.. sekarang Coh Thian-su meminta bantuan kepada Kwee Goan-cay. ini membuat Kie Su- . Kata Kie Su-giok: "Pertama. dia pasti akan menolong Hiat-kun tapi Coh Thian-su melarangnya. karena dia adalah orang yang disukai oleh Suhengku. aku harus menolongnya.

Kata Kwee Goan-cay: "Nona Kie." "Aku tidak akan memaksa. dia seperti lilin di dalam hembusan angin." Kata Kie Su-giok: "Kau tidak menyangka bahwa gurumu adalah orang seperti itu ." Segera Kie Su-giok menceritakan secara ringkas peristiwa mengenai asal mula gigitan itu. aku masih bisa bertahan. aku akan memberitahumu. apakah kau tahu luka itu datang dari mana?" "Dua hari yang lalu aku dengar dari kakakku tapi dia berkata aku harus menjaga rahasia ini. sesudah selesai mendengar cerita ini hati Kwee Goan-cay semakin risau. bila teka teki ini belum terjawab aku tidak bisa menentang guru. Luka itu dampaknya lebih berat dari yang dia bayangkan. kenapa kau?" "Aku tidak apa-apa. Gurunya ternyata mengkhianati pemberontak kerajaan Ceng dan mendapat luka gigitan di pundaknya." Kata Kie Su-giok: "Baiklah. Coh Thian-su memapah dia dan berkata: "Kakak Kwee. bergoyang-goyang hampir jatuh. Idola yang dia telah lama kagumi tiba-tiba sirna dalam hatinya. ada satu hal yang ingin kutanyakan. apakah kau bisa menjelaskan?" " Hal apa?" "Bekas gigitan di pundak guru.giok marah. Dia baru tahu gigitan di pundak gurunya adalah bekas gigitan Hui-thian-sin-liong. Wie Toako tentunya tidak akan menyalahkanku. wajah Kwee Goan-cay menjadi pucat seperti kertas. demi menolong Hiat-kun.

'Ada Ko Tan Taysu.bukan?" Kwee Goan-cay tidak menjawab karena banyak hal yang tidak disangkanya semua tampak timbul dan tenggelam. itu tidak sama. tapi dia sudah berdiri.' Kie Su-giok berkata lagi: "Apakah Wie Toako yang berbohong?" Coh Thian-su pun ikut ragu. Tanya Kie Su-giok: "Apakah baju gurumu disobek oleh Wie Toako?" "Benar. kau masih meragukan apa?" Kedatangan Kie Su-giok bertepatan pada saat Hui-thian pergi. dia tidak melihat Hui-thian merobek baju Hie Tiong-gwee. Tapi jawaban yang ditunggu Kie Su-giok malah sebaliknya. Kata Coh Thian-su: "Guru adalah guru. teratai tumbuh di rawa-rawa." Kwee Goan-cay tidak menjawab." Dalam hatinya dia berpikir. bila Hui-thian sudah mendapat bukti. murid adalah murid. kata Kwee Goan-cay." "Kalau begitu kau harus percaya kami tidak berbohong. aku tidak berbohong tapi guru yang membuat semua kebohongan ini. 'Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya." Kie Su-giok bengong dan berkata: "Mengapa kau masih membantu gurumu menutupi kejahatannya?" "Aku tidak berbohong. dia berpikir. Kami percaya kepadamu. Dia harus berpikir lambat-lambat. Ko Tan Taysu tidak akan mau membela Hie Tiong-gwee dan dia memaksa Hui-thian keluar dari . "Tapi di pundak guru tidak ada bekas gigitan. tapi bunganya tidak kotor.

rumah Hie. juga sampah dunia persilatan. Kata Kie Su-giok: "Baiklah. aku harus menganggap kalian adalah teman. Kwee Goan-cay berkata dengan pelan. tapi dari kecil aku sudah diterima murid oleh guruku. bila kalian bertemu dengan Hiat-kun maka akan lebih jelas lagi. jadi aku harus menghormatinya" Coh Thian-su sudah mengerti maksudnya. Kwee Goan-cay mengajukan syaratnya untuk membalas budi kepada gurunya Sehingga di kemudian hari dia akan tenang meninggalkan perguruan atau melepaskan hubungan antara guru dan murid. kalian tidak boleh memarahi guruku di depanku." "Silahkan katakan!" Kata Coh Thian-su. coba kau tunjukkan kepada kami cara menolong Hiat kun. "Aku pun tidak tahu." Sebenarnya Kwee Goan-cay bukan tidak tahu tapi dia tidak mau membuka kedok gurunya. Aku harap kalian mengerti. "Kalian hanya boleh menolong orang tapi jangan melukai orang!" "Maksudmu?" "Bagaimana pun kalian tidak boleh melukai guruku!" Kie Su-giok mengerutkan dahi dan berkata: "Guru yang kurang ajar. apalah Hui-thian tidak menemukan bekas luka?' Belum habis berpikir. walaupun perilakunya seperti apa. karena Hie Tiong-gwee adalah musuh Hui-thian Yuan. orang seperti itu bila terlepas dari . tapi Kie Su-giok belum mengerti. "Kakakmu juga tidak berbohong" "Sebenarnya apa yang terjadi?" Kata Coh Thian-su." "Kalian harus berjanji dulu baru kuberitahu. kau masih begitu baik kepadanya?" Kata Kwee Goan-cay: "Bila aku masih ada di perguruan ini dan masih menjadi murid Hie Tiong-gwee.

dia membawa mereka ke dalam terowongan dan memberitahu cara menggunakan tombol rahasia kepada Coh Thian-su dan Kie Su-giok Hiat-kun sedang mengumpulkan tenaga. baru akan kuberikan kepadanya. bertahanlah sedikit!" . apakah kau tidak suka kepadanya? Dia sudah menjadi istrimu. kalian harus menepatinya. kami akan menuruti permintaanmu. Nona Kang cantik seperti bunga lebih muda dariku. "Aku hanya meminta kalian jangan mengambil nyawa guruku!' "Baiklah. mari kita bersumpah." Jawab Hie Tiong-gwee dengan tertawa: "Apakah kau ingin lebih lama bersamaku?" "Kau hanya menganggapku seperti perempuan genit saja. kau sangat senang membohongiku." "Bila gurumu bertarung dengan kami.hukuman terlalu bagus untuknya. aku mengerti maksudmu. Kie Su-giok masih ragu." Setelah bersumpah." Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata: "Kau jangan cemburu. sedangkan Hie Tiong-gwee dan Ang-bi sedang bermain cinta Hanya mendengar Ang-bi berkata: "Obat penawar akan keberikan kepadamu tapi harus menunggu hari sudah terang. aku berjanji!" Kwee Goan-cay masih sangsi dan berkata: "Kalian sudah berjanji." Ang-bi sangat senang dengan manja dia berkata: "Mulutmu seperti sudah dioles oleh madu. untuk membuka totokannya. kami tidak yakin tidak akan melukainya" Kata Kie Su-giok. sudah kukatakan hanya kaulah yang kucintai. tapi Coh Thian-su sudah berjanji dan berkata: "Kakak Kwee. aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya.

adat dan sifat kita cocok. walaupun Hiat-kun cantik. mengapa berkali-kali kau mencari gara-gara? Sepertinya aku harus menghajarmu. "Hei orang she Coh. walaupun dia malu dan marah tapi dia tetap mengucapkan rasa syukur karena dia belum sembahyang. tapi tenaganya terasa belum pulih. Ada yang membuka pintu rahasia Hie Tiong-gwee dan Ang-bi berbarengan meloncat duduk. kau sembunyi di sini untuk melakukan hal ? yang memalukan!" Hie Tiong-gwee tidak sempat memakai baju dan dia sudah marah. si genit!" Kemudian hanya terdengar suara tawa mereka yang cabul. meloncat ke sungai pun tidak akan bisa mencuci bersih penghinaan ini. Hiatkun ingin membunuh mereka." Seraya berkata itu Hie Tiong-gwee melancarkan serangan kepada Chu Tian Su Coh Thian-su mengerakan jari-jarinya balas menyerang Hie . Karena yang datang adalah Suhengnya. Kami tidak bisa menjadi suami istri dalam waktu lama. Coh Thian-su dan Kie Su-giok. Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata: "Pendekar Tiong-ciu. aku tidak ada dendam permusuhan denganmu." Tanya Ang-bi: "Tolong beritahu aku. siapa yang bisa menjadi istrimu dalam waktu yang lama?" Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata: "Yang pasti kau. Waktu kemarahannya akan meledak. tawa mereka tibat-tiba berhenti. Bila tidak. belum tentu dia akan cocok sekelompok denganku.Hie Tiong-gwee bersumpah: "Ang-bi. kau jangan curiga dan menuduh aku berbohong kepadamu. Hiat-kun membuka matanya dalam sekejap dia tidak percaya dengan matanya sendiri.

Ilmu silat Ang-bi lumayan tinggi dan dia selalu memakai racun tapi bila dibandingkan dengan Kie Su-giok. menjadikan Hiat-kun yang masih lemah menjadi sasarannya. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran jahat. Ilmu silatnya tidak setinggi Coh Thian-su. dengan dingin dia berkata: "Orang sepertimu adalah sampah dunia persilatan. Dalam 5 jurus dia sudah ditotok oleh Coh Thian-su. Begitu dia melihat Hie Tiong-gwee sudah roboh tertotok. dia memiringkan tubuhnya dan mencakar Hiat-kun. Walaupun dia telanjang dan tidak ada senjata rahasia tapi . semua senjata rahasianya tidak sempat diambil. ---ooo0dw0ooo--Bab 6 Bertemu di jalan kecil Sulit membedakan yang baik dan yang jahat Jodoh yang putus menyambung kembali Jangan tanya asal usulnya A. sekarang aku belum membuat perhitungan sudah terlalu bagus untukmu. berteriaklah supaya murid-muridmu dan semua keluargamu datang untuk melihat keadaanmu sekarang!" Hie Tiong-gwee terdiam dan menunduk. dia masih kalah jauh. Dia ingin mati berbarengan. dia tampak lebih gugup lagi. Pendekar Tiong-ciu. apalagi dia tidak mengenakan baju membuat dia tidak leluasa bergerak.Tiong-gwee dan menghindari ilmu Ta-sik-pek-jiu. Apalagi dia bertarung dengan tubuh telanjang. Bekas Gigitan di Pundak Kie Su-giok dan Ang-bi masih bertarung. Dia hanya bisa bertahan tapi tidak bisa menyerang.

Kesepuluh jarinya seperti 10 jarum yang beracun. yang berwarna biru kehitaman adalah kulitnya yang terluka. Waktu itu pun Kie Su-giok sudah mengeluarkan jurus Liu-in-tiatsiu. Kie Su-giok mau menolong Hiat-kun tapi sudah tidak sempat. ada yang berwarna hijau yang keluar dari ingusnya. Ilmu Tit-siu (Lengan baju besi) adalah ilmu dari keluarganya. kau tidak apa-apa?" "Toako." Coh Thian-su bingung mencari obat penawarnya. warna itu adalah warna darah. Dalam keadaan terancam. maka dia akan mati. walaupun tenaga dalamnya kurang kuat tapi ilmu itu ada unsur ilmu gaib. tolong ambilkan obat penawarnya. walaupun tenaga Hiat-kun belum pulih bukan berarti tidak dapat bergerak sama sekali. Jaraknya sangat dekat dan dia sudah bertekad untuk mati bersama-sama. maksud Ang-bi juga tidak tercapai. dia bertanya. Hiat-kun menjatuhkan dirinya ke bawah tempat tidur. Seketika wajah Ang-bi seperti dicelup warna merah. Ang-bi sudah pingsan. Coh Thian-su memapah Hiat-kun dan bertanya: "Sumoi. . begitu mendengar Hiat-kun tahu di mana obat penawarnya dia sangat senang. Ang-bi pun langsung pingsan. Di luar dugaan.kesepuluh kuku jarinya sangat panjang dan sudah direndam racun. terpaksa dia harus menunggu dia siuman. Tapi bagi Hiat-kun yang masih tertidur di ranjang sama sekali tidak bisa bergerak. Tapi Coh Thian-su tetap tidak tenang. Ilmu silat Kie Su-giok lebih tinggi dari dia. lengan baju Kie Su-giok bisa berubah seperti papan besi mengebut tepat mengenai bagian dari muka Ang-bi. asalkan kulit Hiat-kun tergores dan mengeluarkan darah. dan bisa menghindari cakaran Tio Ang-bi. jadi dia tidak punya kesempatan untuk menggunakannya. menghadang Ang-bi yang hendak menyerang Hiat-kun kembali.

segera dia tertawa dan berkata: . aku." "Apakah jarumnya sudah dikeluarkan?" "Sepertinya belum. inilah obat penawarnya. bukan racun yang mematikan tapi membuat tulang dan otot menjadi lemas. Tiba-tiba Coh Thian-su mengambil Su-kut-ciam."Kau terkena racun apa?" "Katanya aku terkena Su-kut-ciam (Jarum Pelemas Tulang).." Dan dia mencoba sebutir obat kemudian benar juga. sangat berbahaya mencoba obat penawar ini. aku. jarum ini harus diambil dengan batu magnet." Kie Su-giok membantu Hiat-kun mengeluarkan jarum. Hiat-kun sangat terharu dan berkata: "Toako. rasa lemas dan mati rasa semakin menghilang.. Kie Su-giok terkejut dan bertanya. kenapa kau?" "Aku sedang mencoba obat penawarnya." Hiat-kun merasa aneh. "Dia mau memberiku obat penawar." Dia baru memberikannya kepada Hiat-kun. dalam hati dia berpikir. kau jangan berbuat bodoh. Coh Thiansu juga sudah mengumpulkan sejata rahasia Ang-bi. dengan tertawa Coh Thian-su berkata: "Benar. mengapa bertanya begitu banyak?" Belum habis berpikir. "Nona Kie. tolong bantu aku.. "Coh Toako." Coh Thian-su tidak memberi kesempatan untuknya bicara." "Di mana lukamu?" "Ada dijalan darah kaki sebelah kanan. menusukkan ke kakinya sendiri.. terdengar Coh Thian-su berkata.

Maafkan dia sekali lagi!" Hiat-kun sudah tahu ada yang ingin diceritakan oleh Coh Thiansu. lebih baik kita harus berhati-hati. dia tidak bisa bergerak tapi dia masih sadar. lihatlah wajahku. Coh Thian-su merasa di belakangnya ada angin. racun akan bertambah ganas. jangan sungkan. jangan bicara dulu. sebab sampai sekarang dia belum sadar. Walaupun berwajah tebal. cepat atur nafasmu untuk mendorong racunnya keluar. "Toako. dengan marah dia berkata: "Pendekar Tiong-ciu apa. apakah hanya mengampuninya sekali ini saja?" . kau kenapa?" "Kau tidak boleh membunuhnya!" "Penjahat ini terlalu banyak dosa. Coh Thian-su juga membantu Hie Tiong-gwee memakai baju. sekarang dia juga merasa malu hingga wajahnya merah. karena Hie Tiong-gwee sudah ditotok oleh Coh Thian-su. semua adalah munafik. "Adik. racunmu sudah dalam. bila obat itu palsu. kalian tidak tahu malu! Aku sendiripun jadi merasa malu!" Dia membantu Tio Ang-bi memakai baju. pada saat dia bertarung dia belum merasa ada yang aneh. Hiat-kun marah dan berkata: "Toako. lalu Hiat-kun berkata."Karena kita adalah Sheng Sumoi. Baiklah. Lengan baju Coh Thian-su dikibaskan dan pedang Hiat-kun terjatuh. Begitu Coh Thian-su membantu Hie Tiong-gwee mengenakan baju." Kie Su-giok menghadapi 2 orang yang telanjang bulat. setelah pertarungan berhenti. Wajah Kie Su-giok menjadi merah. mengapa kau menghalangiku?" Coh Thian-su sulit menjelaskannya terpaksa di balik tubuh Hie Tiong-gwee memberi isyarat kepada Hiat-kun dan berkata. Dia mengambil pedangnya dan langsung menusuk Hie Tiong-gwee. sekarang Hiat-kun sudah memulihkan tenaga dalamnya. apa yang dinamakan Yu-bin-lo-sat yang dingin seperti es.

kemudian Coh Thian-su berkata: "Bila adik tidak melukainya. "Nona Kie. Lalu Hiatkun berkata: "Karena nyawaku ditolong oleh Coh Toako."Benar. apakah kau tahu asal usul gigitan ini?" Kie Su-giok menjawab: . apakah dia masih bisa hidup?" "Hanya mengupas sedikit. Hiat-kun mendekatkan lampu ke pundak Hie Tiong-gwee dan benar ada sebaris bekas gigitan. aku akan menuruti kemauan Toako." Karena itu adalah kulit yang ditempel maka dengan mudah Coh Thian-su merobeknya. aku akan membantu." "Tapi apa?" "Sementara nyawanya tidak kuambil tapi aku harus mengupas kulitnya.. aku jamin dia tidak akan terluka parah. Coh Thian-su juga takut bila Hiat-kun melukai Hie Tiong-gwee. hanya untuk kali ini!" Hiat-kun tidak begitu mengerti mengapa Coh Thian-su melarangnya membunuh Hie Tiong-gwee. tolong bantu aku." "Bila kulitnya dikupas.. tapi isyarat dari Coh Thian-su dia tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan." "Tolong sobek kulit yang berada di pundak Hie. apakah kau bisa?" Syarat dari Kwee Goan-cay untuk Coh Thian-su adalah bisa membuat Hie Tiong-gwee terluka ringan." Dia mencoba tenaganya tapi dia tidak sanggup mengupas kulit Hie Tiong-gwee lalu dia berteriak: "Toako. Demi Toako aku akan mengampuni dia kali ini saja. tapi.

"Aku dengar dari Wie Toako. Yang dikhawatirkannya adalah musuhnya belum pergi. memang dia adalah orang yang dimaksud dan yang dicari oleh Wie Toako. Bila tidak dihalangi oleh Coh Toako aku juga ingin membunuhnya. 'Apakah mereka belum selesai memakai baju sehingga ayah malu untuk menyahutku?' Tiba-tiba dia merasa angin berhembus. Sumoi. demi menghindari rasa malu. Apakah dia masih memiliki muka lagi di depan putrinya? Suara langkah semakin mendekat." Pada saat mereka siap-siap akan pergi terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah mereka. mereka akan melakukan sesuatu terhadap putrinya.. kau tetap di sini!" Karena Kim-giauw tidak mendengar jawaban ayahnya. sengaja dia memberatkan langkahnya agar ayahnya tahu dia datang." Tanya Coh Thian-su: "Sumoi. juga malu bila putrinya melihat keadaan dia sekarang. ada suara seorang gadis yang memanggil: "Ayah." "Baiklah.. dengan pelan dia berkata kepada Kie Su-giok dan Hiat-kun. "Ayah!" Dalam hati dia berpikir. dia tidak ingin tiba-tiba masuk. apakah kau bisa jalan?" "Sedikit ilmu meringankan tubuh masih bisa. dia tahu ayah dan bibinya sedang berada di ruang rahasia. dia jadi khawatir dan malu.. dia berhenti melangkah kemudian memanggil lagi. begitu memasuki terowongan. Coh Thian-su segera mempunyai pikiran. Kim-giauw dipesan oleh Kiam-ta untuk memberitahu suatu hal kepada Hie Tiong-gwee.. "Dia datang tepat pada waktunya." Ini adalah suara Hie Kim-giauw. Nona Kie. kalau begitu kita pergi. kau dan aku pergi dulu. Hie Tiong-gwee mendengar putrinya datang. Kim-giauw belum lagi . dan bisa bersiap-siap dulu. ayah.

kami sudah melepaskanmu dan kau langsung kemari dan ternyata kami belum pergi dari sini!" Walaupun Coh Thian-su adalah orang yang agak sombong tapi dia bukan tipe orang yang ceroboh. "Kami tidak melukai ayahmu. apakah dia ingin membunuh Kwee Toako?' Kie Su-giok seperti tahu pikirannya. hanya kaulah yang bisa membantunya menghindari bencana ini. "Nona Hie. kami adalah teman Kwee Toakomu!" Kim-giauw hafal dengan suara Coh Thian-su. apakah kau percaya kepadaku? Bila percaya kau jangan bertanya apa-apa kepada kami. Coh Thian-su sudah menotok jalan darahnya." Kim-giauw mengangguk. kau terpaksa memberitahu tempat ini kepada kami karena kau takut ayahmu terluka. bila dia berkata seperti itu. hatinya agak tenangKie Su-giok berkata: "Nona Hie.berteriak lagi. bila kau mau menolong nyawanya. dia sudah mendapat petunjuk dari Kwee Goan-cay dan bisa menolong Hiat-kun. membiarkan tubuhnya bisa sedikit bergerak dan berkata. Kata Coh Thian-su lagi. kau harus menuruti perintah kami. Dia adalah adik seperguruan Hui-thian-sin-liong. aku tahu kau menyukai Kwee Toakomu. jangan takut. dia sangat berterima kasih tapi dia juga memikirkan cara supaya dia tidak dicurigai. dia berkata lagi di telinga Kim-giauw." Kim-giauw terkejut dalam hati dia berpikir." Coh Thian-su sudah membuka totokannya. walau hanya separuh. asal kau mendengar katakata kami. "Kau beritahu ayahmu. Yang tahu tempat rahasia ini di dalam keluarga Hie tidak terlalu . Coh Thian-su berbisik kepadanya: "Nona Hie. Tian Kiam-ta pun tidak bisa mengalahkan dia. lebih-lebih tidak mau membunuh Kwee Toakomu. tapi Kwee Toakomu mungkin bisa dibunuh oleh orang lain. yang membuat keributan di aula. Dia sangat kejam lebih-lebih dari Hui-thian-sin-liong. itu juga sudah cukup.

banyak. Hie Tayhiap! Aku sudah menotok putrimu." Jawan Coh Thian-su. maka tidak akan bertemu dengannya. "Kali ini aku mengampunimu. Berbaringlah selama 2 jam. pasti dia akan mencari tahu siapa yang telah membocorkan letak ruang rahasianya. bila kalian keluar dari sebelah barat. Coh Thian-su sudah membersihkan nama Kwee Goan-cay." "Sekarang menotok pun tidak apa-apa." Sekarang Kie Su-giok berperan lebih meyakinkan lagi: "Aku mengira dia adalah gadis biasa-biasa saja. sekarang baru tahu dia adalah Nona Hie. "Tuan Kiam-ta sedang menunggu ayahku. bagaimana kau bisa mengangkat wajahmu di depan putrimu? Totokanmu akan terbuka setengah jam lagi dan kau nanti bantu putrimu membuka totokannya. keluar dari terowongan di sebelah selatan. dia ingin bekerja sama dengan mereka. dia mendekat ke arah Kie Su-giok dan berkata. dia tinggal di sebelah selatan taman bunga. Dan yang paling dicurigai tentunya adalah Kwee Goan-cay. mari kita pergi!" Hiat-kun membuang ludah ke muka Hie Tiong-gwee dan berkata. tapi kami juga tidak mau kau segera bertemu dengan ayahmu. Sekali lagi dia menotok Kim-giauw. Adik Kang. Mereka kembali lagi ke ruang rahasia itu." Dia berperan dengan begitu sungguh-sungguh. Dengan lancar mereka keluar dari rumah Hie. "Hai. ini sangat tepat untukmu. Dengan cara inilah. Apakah kau mengerti? Bila dia melihatmu seperti ini. lain kali bila aku bertemu denganmu. Sekarang Kim-giauw sudah bisa bicara. Baiklah. Bila tahu dari tadi kita harus menotok jalan darahnya. Coh Thian-su membantu Hie Tiong-gwee berpakaian lagi. kau akan kubunuh!" Mereka menuruti petunjuk jalan Kim-giauw. pendekar yang membohongi dunia persilatan. Hie Tiong-gwee sudah dirugikan begitu besar. . Dengan nada dingin Coh Thian-su berkata: "Kami tidak mau melukai seorang gadis.

Sumoi. mana boleh bicara seperti itu?" "Kata-kataku belum habis. "Sumoi. waktu untuk membalas dendam masih belum tentu. tapi aku pun tidak akan mengulur waktu lagi. aku juga akan melakukan hal seperti itu." Coh Thian-su mengerutkan dahi dan berkata: "Kita adalah Suheng. membuat langit menjadi cerah.Hari baru terang. "Aku harus membalas dendam ibu dan ayahku. murid-muridnya dan para tamu yang berjaga rumah. sekarang kau mau ke mana?" Tanya Coh Thian-su." Setelah lama dia baru berkata lagi." Tanya Coh Thian-su: "Sumoi. maafkan aku sudah melarangmu membunuh Hie Tionggwee. tidak akan bisa terus menjamin keselamatannya!" Kata Kie Su-giok. mereka sudah berada di luar Lok-yang. aku menerimanya dengan senang hati. . Tapi bila Suheng ingin membantuku balas dendam. "Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta sudah mengambil keputusan akan berangkat ke ibukota mencari Jenderal Bok. hanya untuk kali ini saja. Ko Tan Taysu sudah pergi. Demi diriku dia mengkhianati gurunya. tapi hati Hiat-kun tetap gelap dan bingung." Kata Hiat-kun. Aku sudah berjanji kepada Kwee Goan-cay." "Ingin membunuh orang itu tidak mudah tapi juga tidak sulit sebab ilmu silatnya biasa-biasa saja. "Sumoi. bila kedudukan kita dibalikkan." "Suheng. ini bukan salahmu. Hari ini adalah hari yang baik. tapi sekarang aku tidak sanggup membalasnya. Matahari baru terbit. tidak ada alasan bagi kita untuk menolak permintaannya. "Aku tidak tahu. Coh Thian-su berkata." Sekarang dia baru tahu penyebab Hiat-kun ingin membunuh Hie Tiong-gwee. Kelak aku akan membantumu membalas dendam untuk mengganti kesalahanku tadi. mungkin mereka sekarang sudah berangkat. apakah harus kau sendiri yang membalas dendam?" "Aku tidak ingin menyusahkan Toako.

Sepertinya ilmu silat Wie Toako masih berada di bawahnya."Apakah mereka hanya berdua?" Tanya Coh Thian-su. Ilmu silat Tuan Kiam-ta sangat dahsyat. hweesio tua itu membaca 'O-mi-to-hud' tapi tidak tahu hati orang licik. ikutlah pulang . Menyuruh kakek berbicara kepada hweesio tua itu. Tapi hweesio tua itu dan kakekku bersahabat. Sekarang yang dia pikirkan. musuhmu adalah musuh Wie Toako juga. Kie Su-giok adalah gadis periang. dia sengaja tidak memperlihatkan kepandaian yang sebenarnya." Ilmu silat Wie Thian-hoan berada di atas Coh Thian-su. aku tidak akan iri bila Wie Toako lebih baik kepadamu. aku mengira Wie Toako tidak jadi membalas dendam pasti akan pulang ke rumah. "Kali ini Wie Toako tidak bisa membalas dendam karena bertemu Kiam-ta yang kuat. pada waktu di aula dia beradu satu jurus dengan Nona Kie. Walaupun terdengar tidak enak. sehingga juga mudah ditipu oleh Hie Tiong-gwee dan memihak kepada Hie Tiong-gwee. dia hanya diam saja. tapi dia juga dihalangi oleh Ko Tan Taysu. Bila Wie Toako membalas dendam menjadi sulit. Cici Hiat. bila kau mau mencari dia. Sebenarnya kemarin malam Hiat-kun dan Thian-hoan sudah bergabung untuk balas dendam. "Cici Hiat. aku bicara serius!" Tanya Coh Thian-su: "Apakah kau akan mengundang dia ke ramahmu?" "Aku mengundangnya juga mengundangmu. dia tidak ingin mengemukakan di depan Kie Su-giok. bila kalian bergabung apakah kau setuju?" Kata Kie Su-giok. melihat cara berpikir Hiat-kun segera dia tertawa dan berkata: "Aku tahu kau dan Wie Toako tumbuh bersama. Hiat-kun mengerti maksud Coh Thian-su dan berkata: "Bukan aku menganggap remeh kalian." Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata: "Kau bergurau saja!" "Aku tidak bergurau. Wie Toako sudah bertarung dengannya." Kata Kie Su-giok lagi. bila kau ingin bergabung dengan kami. Tapi sebelum kalian datang.

tolong jangan beritahu identitasku. "Nona Kie. dia jadi berpikir untuk mengerjakan tanpa dihalangi-halangi oleh urusan tetek bengek yang merepotkan. Begitu ditanya Kie Su-giok." Dia melihat Hiat-kun ragu-ragu. aku takut cinta Hoan Toako kembali bersemi. Tapi dendam orang tuaku harus dibalas. dalam hati dia berpikir." Dalam hati Hiat-kun berpikir. aku bakal merepotkanmu. bila tidak bertemu dengan Hoan Toako. aku bisa tinggal di mana?" Memikirkan urusan membalas dendam orang tuanya. aku tidak akan sungkan lagi. aku harus bergabung dengan Hoan Toako. kalau aku berada di tengah-tengah mereka. bagaimana denganmu?" Coh Thian-su masih ragu." Kata Kie Su-giok dengan tertawa. langsung dia menjawab. Bila aku ke rumah Kie Yan-gan." Dia tidak menutupi hatinya yang ingin jelas persoalannya. Hiat-kun menjawab dengan tegas: "Baiklah. "Ayah tidak menginginkan aku berteman dengan keluarga Kie dan aku sudah melanggarnya. apalagi aku sudah tidak punya saudara dan keluarga. aku tidak mau merepotkan Coh Toako. Hiat-kun sudah mau. dia menambah lagi: "Bila aku tidak salah tebak itu lebih baik daripada kau yang tidak mempunyai keputusan. walaupun mereka bukan teman tapi pasti bukan musuh." . aku punya satu permintaan. "Coh Toako. 'Hoan Toako dan Nona Kie adalah sepasang kekasih. Tapi mendengar perkataan ibu tiri dan Nona Kie sepertinya pak tua itu menyukai ayah. apakah boleh?" Kie Su-giok tertawa: "Katakanlah!" "Bila bertemu dengan kakekmu.denganku. ini akan tambah kerepotan. dengan begitu aku akan merusak hubungan mereka. Nona Kie.

aku akan menurut saja." Kie Su-giok masih kekanak-kanakan dan berkata: "Baiklah." Dia menyelesaikan kata sumpah dunia persilatan. tapi cara ini keterlaluan dan sangat lucu. Malam itu Wie Thian-hoan tidak jadi membalas dendam."Mengapa?" "Aku tidak ingin hidup di bawah bayangan nama ayah.." Coh Thian-su mengulurkan tangannya dan berkata: "Bila Tuan sudah keluar kata-kata. Sementara ini persoalan . itu sudah cukup." "Kau sangat aneh. malah kehilangan orang yang dia cintai. apakah kau mau?" "Kalau begitu kau harus memakai nama palsu. tapi dia adalah orang yang kuat. walau aku bukan 'tuan'. 'Untuk keluarga Kang dan Wie. aku juga bisa bersumpah. yang terpenting adalah membalas dendam. dia menahan rasa sedih dan berpikir. ---ooo0dw0ooo--B. dendam dua keluarga ini harus aku yang membalas. Dia merasa sakit hati dan sulit untuk melukiskannya. aku ingin menemui kakekmu tapi tidak ingin dia tahu hubunganku dengan keluargaku. Bertemu tapi Tidak Dikenal Kie Su-giok mengira Wie Thian-hoan sudah kembali ke rumah tapi ternyata dugaannya meleset. apakah harus memakai cara seperti ini?" "Benar.." Dia mengeluarkan tangannya yang lembut dan berkata: "Kami berjanji." "Tidak perlu. asal kau jangan mengatakan bahwa aku adalah siapa." Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kau masih tidak percaya kepadaku? Baiklah.

dia tidak akan bisa membalas dendam. bila dia menyerang mendadak. It Piau cinjin menjadi saksi/juri. dia sudah tiba di suatu kota. dia mencari kudanya. Pada pertarungan pertama dengan Hie Tiong-gwee. Ada juga Giok-yan. Ko Tan Apakah itu benar? Tidak ada yang tahu.' Wie Thian-hoan tahu bila ada Ko Tan Taysu. siang hari. tapi dia adalah Tuan Kiam-ta. Yang lebih mengagetkan lagi musuhnya ternyata juga ada di sana! Musuhnya bukan Hie Tiong-gwee. It Piau cinjin. dia masih ada kesempatan. jadi harus mencegah mereka di tengah jalan. Yu Yong berada di sebelah kiri dan Bong Cong-kian berada berada di sebelah kanan. Dia tahu bahwa silat Kiam-ta dengan dirinya tidak berbeda jauh. yang membuat Wie Thianhoan terkejut adalah guru Yu Yong. tapi bila hanya ada Hie Tiong-gwee dan Kiamta. membunuh Hie Tiong-gwee juga bukan hal yang sulit.' Kemudian dia berpikir lagi. It Piau cinjin adalah orang yang berbakat di dunia persilatan dan dalam ratusan tahun ini dia dikatakan memiliki ilmu silat yang hampir sama tinggi dengan Hweesio Siauw-lim. Siapa sangka begitu dia masuk ke rumah makan itu. asal dia siap untuk mati. Kiam-ta duduk di tengah. baru ada kesempatan untuk menang. dia bertemu dengan 5 orang yang dia kenal. Pada hari kedua. mengikuti rencananya menuju ibukota. Mereka bertiga tidak berbuat apa-apa. tapi semenjak dia menjadi Ketua Kong-tong-pay 40 tahun yang lalu. Dia mencari rumah makan yang agak lumayan dan kemudian masuk. wajahnya menghadap ke arah pintu. bila perlu aku akan bertarung. 'Bila Hie Tiong-gwee dan Kiam-ta pergi ke ibukota mencari kepala pasukan. kesempatanku lebih sempit lagi. dia sudah banyak melatih . Setelah keluar dari kota Lok-yang.Hiat-kun harus aku kesampingkankan dulu. karena sudah merasa lapar dia ke kota tersebut sekalian beristirahat. Tapi bila tidak bisa melukai Kiamta. dia harus melukai Kiam-ta dulu.

Dia sudah siap mati bersama musuhnya. Tamu-tamu di rumah makan itu semua tampak terkejut bahkan ada yang bersembunyi di bawah meja. Yang hanya tergantung pada nama It Piau berteriak: "Kau!" Telapak tangannya dimiringkan. Wie Thian-hoan tahu pertarungan tidak dapat dihindari lagi karena itu dia menyerang terlebih dulu. Perkumpulan Kong-tong juga semakin lama semakin terkenal. siap dilepaskan ke sasaran. Wie Thian-hoan sudah tahu ilmu silat Tuan Kiam-ta. membuat Hui-thian-sinliong terkejut. dan keping gelas begitu banyak. serangannya dengan gampang ditahan oleh It Piau.pesilatpesilat tangguh. Walaupun tidak setara dengan Siauw-lim dan Butong. tenaganya yang begitu kuat. lebih tua dari Ko Tan Taysu. Tapi Guru It Piau hanya mengangkat tangannya membantu Kiam-ta menghadang. Ketika tangan It Piau masih sibuk Wie Thianhoan sudah mengeluarkan jurus Ceng-liong-jiu (Cengkeraman . Pecahan kaca seperti digulung oleh tenaga yang tidak terlihat hanya terdengar bunyi pecahan kaca. tapi sejajar dengan Go-bi-pay dan Hoa-san. sebenarnya dalam beberapa tahun ini semua urusan sudah ditangani oleh muridnya Yu Yong. It Piau cinjin sekarang sudah hampir berusia 70 tahun. Sekarang dia sudah siap untuk mati demi memenangkan pertarungan ini. dengan jurus Burung gereja menarik ekor melawan jurus Tiat-siu. It Piau cinjin memiliki pandangan yang lurus. Tuan Kiam-ta sama sekali tidak terluka. serangan tadi tidak tepat pada sasaran. Meskipun Jaraknya begitu dekat. orang persilatan menghormatinya. semua sudah menancap di langit-langit. bila satu lawan satu dia sedikit kalah. dia merasa hatinya jadi dingin. tidak disangka ilmu silat It Piau di luar perkiraannya. karena itu juga Wie Thian-hoan bisa menerimanya menjadi saksi/juri sewaktu dia bertarung dengan Hie Tiong-gwee. Dia seperti panah yang sudah siap dipasang di busur.

Dalam waktu bersamaan pedang Yu Yong dan Giok-yan sudah menyerang Wie Thian-hoan dari dua samping. "Aneh. tapi dalam 2 hingga 3 jurus sudah bisa mengalahkan Kiam-ta. ilmu Liu-in-huishi sudah bisa mengalahkannya dan masih bisa menotoknya. Ilmu silat Wie Thian-hoan dan Tuan Kiam-ta seharusnya setaraf yang berbeda hanya tenaga dalamnya saja. artinya ilmu silat Wie Thian-hoan berada di atas Kiam-ta. Pada pertarungan kedua karena Tuan Kiam-ta sudah diketahui . Pertarungan kedua tidak sama. Tuan Kiam-ta tidak menggunakan ilmu sebenarnya. Karena itu Hui-thian menganggap pada saat pertama bertarung.Naga). ilmu yang dipakai adalah ilmu gjan-ciang bercampur dengan Ta-sik-pek-jiu. Dia mencengkram pundak Kiam-ta. karena tahu nyawanya tidak marasa terancam sehingga dia membiarkan Huithian menotoknya. tidak mungkin Tuan Kiam-ta bisa begitu gampang terluka. Tuan Kiam-ta membalikkan tubuhnya tapi dapat ditangkap oleh Wie Thian-hoan terdengar suara Kiam-ta berteriak dan tangannya sudah dicakar oleh Wie Thian-hoan. Mungkin tenaga dalam Tuan Kiam-ta lebih kuat dari dia. mengapa Tuan Kiam-ta kondisinya kembali lagi pada saat pertama kali bertarung? Setelah dua kali bertarung dengan Tuan Kiam-ta. Begitu Wie Thian-hoan melukai Kiam-ta malah dia sendiri yang bengong karena dia tidak menyangka akan terjadi hal ini. Dia adalah orang persilatan. Pada pertarungan pertama dia belum tahu bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibu Hiat-jam. mengapa penjahat tua ini ilmu silatnya tiba-tiba menjadi tidak berguna?" Dan yang lebih aneh. walau sebelumnya dia sudah bertarung sengit dengan Coh Thian-su. Hui-thian sama sekali tidak dapat mengambil keuntungan saat itu. sehingga tidak punya perasaan harus melawan Tuan Kiam-ta.

dia seperti sebuah bola terlempar keluar. dia sangat marah. It Piau cinjin belum tahu bagaimana luka Tuan Kiam-ta. seharusnya Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hui-thian ingin membunuhnya. Sekarang sedang menyerang Wie Thian-hoan dengan telapak tangannya. keadaannya sangat berbahaya. Sekarang bukan waktunya untuk berpikir karena telapak tangan Y/u Yong dan pedang Giok-yan sudah menyerang dari dua sisi. Untung hanya kulitnya saja yang terluka.sebagai pembunuh oleh Hui-thian. dia segera berdiri dan segera meloncat keluar seperti seekor burung. . bagian belakang telapak tangannya dicakar hingga terluka. Sekarang adalah pertarungan untuk ketiga kalinya. Hari ini kau tidak bisa kabur lagi!" Dalam teriakannya. harganya tidak sama'. tenaga dalamnya sudah sepenuhnya. karena itu dia mengeluarkan semua ilmu silatnya. Dengan marah It Piau berkata: "Dasar penjahat tidak tahu malu. Karena tergetar oleh tenaga telapak tangan Hui-thian. Dia sangat bernafsu membunuh. Kelihatannya Tuan Kiam-ta tidak berpura-pura. Benar-benar sudah tidak ada jalan keluar. Yang terluka adalah Tuan Kiam-ta. berani membunuh orang di depanku. Hui-thian diserang dari 3 sisi. bagaimana menjelaskannya? Mengapa ilmu silat Tuan Kiam-ta kadang kuat kadang lemah? Seperti pepatah mengatakan 'pagi dan malam. Walaupun Hui-thian sangat pintar tapi setelah terjadi hal yang aneh. dikerahkan Di depan ada serangan tenaga dalam It Piau. dia pun tidak dapat menjelaskannya. dari dua sisi Yu Yong dan Giok-yan berbarengan menyerang. mengapa dia masih seperti pada pertarungan pertama? Ilmu silatnya begitu lemah. Yang membuatnya repot adalah serangan Guru It Piau yang telah "menyapu' senjata rahasianya. dia ingin mencabut nyawa Hui-thian.

dia segera menarik tenaga pukulan Yu Yong ke depan. tiba-tiba dia merasa ujung pedang meleset ke pinggir. apalagi Hui-thian memiliki ilmu silat dan kepintaran.Kelihatannya Hui-thian-sin-liong akan mati dalam pertarungan ini. Tenaga yang dipinjam bukan untuk memukul Giok-yan. jangan marah. Yu Yong terbawa ke depan. Cara Hui-thian menghadapinya adalah meminjam tenaga mengembalikan tenaga lagi. sudah bisa mengatasinya. dia membalikkan tangan. Hui-thian sama sekali tidak melihat pedang Giok-yan. baru bisa menghentikan langkahnya. Dua tenaga dijadikan satu. dan tangannya terasa kesemutan. aku tidak membohongimu. It Piau dengan ringan membawa Yu Yong maju beberapa langkah. kau menyuruhku . cukup untuk melawan It Piau cinjin. Hui-thian pun tidak perlu mengeluarkan semua tenaga. Hui-thian sudah meloncat keluar dari jendela. di antara mereka bertiga yang paling lemah adalah Giok-yan. pedangnya pun sudah terlepas dari genggamannya. setelah menabrak ke meja depan. dia merasa tenaganya malah tersedot dan terus keluar. Hui-thian hanya mengeluarkan tenaga dalam Cap-ie-cap-pwee-tiap (menempel dan menjatuhkan 18 kali ). It Piau cinjin karena takut melukai muridnya. tidak mendapat perlawanan. Tenaga Yu Yong berada di atas Kiam-ta tapi tetap tidak setinggi Hui-thian. Ujung pedang Giok-yan yang hampir mengenai tubuh Hui-thian. terpaksa dia menarik kembali tenaga telapak tangannya. Ini adalah suatu cara Hui-thian-sin-liong menghadapi 3 orang lawan secara bersamaan. tapi jalan terakhir yang dipaksa keluar biasanya membuat orang yang bodoh pun akan menjadi pintar. Bila pedang tidak dilepas tubuh lawannya akan jatuh terguling. Yu Yong merasa pukulan yang dikeluarkan. tapi untuk menghadapi serangan It Piau cinjin. "Guru.

lebih dahsyat. Tapi karena Hui-thian teringat pada balas dendam." Hui-thian lebih marah lagi.. satu demi satu semakin dasyat. baru pertama kalinya disebut penjahat tua'. Tapi aku tidak berjanji akan melepaskan penjahat tua itu!" Dengan cepat dia mengejar Tuan Kiam-ta. menerima serangan Hui-thian. dia tidak mau jagi memikirkan keanehan-keanehan yang terjadi. benarbenar sudah tidak tahu aturan lagi!" Waktu itu juga Hui-thian sudah mengeluarkan telapak tangannya ke dada Tuan Kiam-ta. Kiam-ta sangat marah dan berkata: "Benar-benar seperti anjing gila. sudah aku lakukan. dia mendekati Kiam-ta. Jurus kedua sudah dikeluarkan lagi. aku lah yang mati!" Tuan Kiam-ta yang berwibawa dan disegani oleh orang-orang. 'Aneh. mengapa ilmu silat yang sebenarnya tidak dikeluarkan?' Tuan Kiam-ta sudah berusaha sekuat tenaga menerima serangan itu tapi tetap tidak seperti malam itu pada saat berada di rumah Hie Tiong-gwee. Dengan dua telapaknya Kiam-ta menggambar bulatan dan mengambil posisi bertahan. mau mengigit orang.meminta maaf. Untung dia sudah mempunyai pengalaman selama puluhan tahun dan karena hanya bertahan tjdak menyerang maka tenaga dalamnya masih bisa menahan serangan Hui-thian Dalam hati Hui-thian berpikir. serangannya seperti gelombang. hatinya sudah dingin. apakah kau sudah gila? Aku tidak ada dendam denganmu. mengapa kau.. tubuhnya pun ikut bergoyang. suara seperti guntur berkata: "Penjahat tua! Kalau bukan kau yang mati. . Tuan Kiam-ta tergetar oleh pukulan tangannya. Tuan Kiam-ta marah dan berkata: "Hui-thian.

tangan kanan seperti pisau. dia tahu dia tidak sanggup menerima serangan yang ketiga. Hui-thian merasa ada angin kencang menyerang dari belakang. It Piau cinjin sudah meloncat. Huithian sudah bertekad akan membunuh Tuan Kiam-ta. mengapa memihak kepada si keparat ini?" It Piau cinjin juga marah dan berkata: "Kau yang salah! Sekarang kau ingin minta ampun juga susah!" Dalam kemarahannya. benar-benar penasaran. menyabet wajah dan mata Hui-thian. kau ke sana. Serangan ketiga lebih dasyat lagi. Hui-thian dengan cara Burung walet membuka sayap. dan mendorongnya ke samping. Tadinya dada Tuan Kiam-ta terasa berat seperti ditekan oleh batu. dia sudah bisa menegakkan kembali tubuhnya Kata It Piau: "Yu Yong. karena itulah Tuan Kiam-ta bisa lolos dari kematian. tubuhnya sudah melayang mencegah Hui-thian. begitu Hui-thian miring. Dengan tertawa sinis Hui-thian berkata: "Keparat! Bayar dengan nyawamu!" Telapak tangan kanan dengan miring dan telapak kiri lurus. karena It Piau cinjin sudah datang. orangnya belum tiba tapi tenaganya sudah datang terlebih dahulu. lihat keadaan Tuan Kiam-ta!" Begitu habis bicara. maka masih ingin dia terus hidup. Hui-thian sangat marah dan berkata: "Guru."Aku akan mati di tangan Hui-thian tapi tanpa sebab mengapa dia mau membunuhku. dia terbang miring. menebas lutut Hui-thian. anda selalu berpikiran lurus." Walaupun ilmu silat Kiam-ta berada di bawah Hui-thian tapi dia tahu diri. dia sekarang sudah mengeluarkan ilmunya. Dalam ketegangan ini. Mungkin dewa masih memihak kepada Kiam-ta. dan diam-diam memakai ilmu . tangan kiri seperti kaitan.

menghembus bajunya. tapi serangan It Piau dapat dia hindari. Kaki Hui-thian baru saja menginjak tanah. serangan ini lebih dahsyat dari yang pertama. dan dia masih muda tapi sudah begitu berbakat. "Baiklah. dia merasa sulit menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengelak terpaksa dia menyambut telapak tangan It Piau cinjin. dalam 30 tahun ini dia adalah orang yang paling berbakat. bila tidak tubuhnya akan tertusuk oleh jarinya It Piau. arah telapak tangannya pun ikut berputar. itu adalah ilmu silat yang diajarkan oleh kakek gurunya. Kie Yan-gan. Uap panas sudah memenuhi tubuhnya. seperti petir berputar-putar hingga beberapa kali putaran. Cara ini hanya bisa menahan sebagian dari serangan It Piau. itulah ilmu Jit-cap-ji-lian-hoan-tuo-beng (72 jurus pukulan berantai perengut nyawa) dari perkumpulan Kong-tong . sayang bakatnya tidak dipakai semestinya" Pikiran menyayangi bakat seseorang tertutup oleh keinginan untuk memusnahkan kejahatan. walau dalamnya tidak sehebat It Piau. untung dia cepat menghindar. jari menusuk. sudah angin tenaga sangat Terdengar suara seperti sebuah balon ditusuk dengan benda tajam. bajunya seperti layar perahu. It Piau cinjin pun belum pernah melihatnya. aku akan melihat kau bisa menerima berapa banyak jurusku!" kata It Piau.mujijad. Hanya terlihat tubuhnya berputar. tapi tenaga serangannya kuat. 'Pantas bocah tengik ini begitu sombong. benar-benar tidak ada yang dapat menandinginya. Caranya sangat aneh. kau masih mau kabur!" Dia lebih tua tidak mungkin main licik menyerang dari belakang maka dia bersuara setelah itu baru mengeluarkan serangannya. telapak tangan seperti golok membacok. baju Hui-thian sudah berlubang. Walaupun baju Hui-thian sudah sobek. It Piau Toau mengerutkan dahi dan berpikir. It Piau cinjin seperti bayangan mengikuti kemana Hui-thian pergi dan berteriak: "Keparat. dia melambungkan tubuhnya di tengah-tengah udara.

Lengan bajunya tiba-tiba melewati pundaknya. karena Hui-thian tergetar oleh tenaga dalam. Terdengar suara robekan lengan baju Hui-jjjian yang sudah hancur berjatuhan seperti kupu-kupu Untung tangan Hui-thian sedang dikepalkan. kali ini It Piau sangat terkejut. Tapi Liu-in-hui-siu tetap tidak dapat membungkus pundak It Piau. Hui-thian makin merasa terdesak. tidak digunakan pada tempatnya!" . Walaupun ilmu Tiat-siu tidak bisa menahan tenaga dalam It Piau dan lengan baju Hui-thian sudah hancur tapi Hui-thian tidak terluka parah. It Piau berkata: "Bocah tengik! robohlah!" Dia mengubah telapak tangannya membentuk kepalan. Karena It Piau segera memakai tenaga dalam yang kuat dengan kepalan angannya sangat dahsyat menyambut lengan baju lawannya. Lengan bajunya bisa membungkus lengan It Piau tapi tidak bisa mengatasi tenaga dalam It Piau. hendak pembungkus pundak It Piau. bila tidak jari-jarinya bisa patah. Sepertinya Hui-thian sudah tidak dapat bertahan lagi. dari sudut mulutnya sudah keluar darah. pia hanya menderita luka ringan saja.sebagai ilmu andalannya. It Piau cinjin sudah tahu bahwa Hui-thian sudah tidak dapat menyambut jurusnya lagi. hanya ingin mematahkan beberapa tulang rusuknya dan memusnahkan setengah ilmu silatnya. dia juga mundur beberapa meter. kali ini dia tidak akan mengambil nyawa Hui-thian. dengan jurus Heng-sin-ta-houw (Tubuh mendatar memukul harimau). memukul Hui-thian yang sudah berada dalam kurungan It Piau. Kata It Piau cinjin: "Sayangkan ilmu silat begitu bagus. Pada saat nyawanya terancam dia mengeluarkan ilmu Liu-in-huisiu. Hui-thian tidak mempunyai tenaga untuk membalas tapi masih ada sedikit tenaga untuk mengeluarkan jurus'Tiat-siu'.

lain waktu aku akan membunuhmu!" Dia berkata seperti itu supaya Kiam-ta marah dan bertarung dengannya. dia berkata: "Tuan Kiam-ta. Hari ini kau tidak membunuhku. tiba-tiba Tuan Kiam-ta berteriak: "Berhenti dulu!" It Piau menjadi bingung dan berkata: "Kakak Kiam." Kata Tuan Kiam-ta Sikapnya tampak sungguh-sungguh. orang ini benar-benar sudah gila! Kau bisa memaafkannya tapi aku tidak bisa! Kau jangan ikut campur lagi. tapi aku tidak mau membunuhnya. It Piau mengetahui pikiran Kiam-ta. aku tidak ingin membunuhnya. tapi kau masih memaafkannya. mengapa dia begitu benci kepadaku? Memang aku tidak ada dendam dengannya. tapi Tuan Kiam-ta tetap tidak dapat mengalahkan Huithian. apakah kau sendiri yang akan membunuhnya?" It Piau tidak tahu kemampuan silat mereka berdua. biar aku yang menyelesaikannya!" "Tidak. bila Tuan Kiam-ta mengeluarkan serangan." Hui-thian marah dan berkata: "Keparat. mengapa dia ingin membunuhku?" Kata-kata Tuan Kiam-ta membuat Hui-thian menjadi aneh. "Dia ingin membunuhmu. 'Si keparat ini mau main sandiwara apa lagi?' Dengan tertawa dingin dia berkata: . dia bisa langsung membunuhnya walaupun dia tahu dia akan mati di tangan It Piau.Dia mulai akan menyerang Hui-thian lagi. ini adalah kesempatan yang baik untukmu. Dalam hati dia berpikir. aku harap kau juga jangan membunuhnya. aku tidak mau kau berpura-pura baik! Lebih baik bunuh saja aku! Ada It Piau yang menjadi pendukungmu. Kata Tuan Kiam-ta: "Dia ingin membunuhku. walaupun Huithian terluka. apa sebabnya?" "Aku ingin tahu.

kau memarahiku keparat'. segera dia maju dan berkata: "Maafkan kami." Kata Yu Yong Kemudian dia memecahkan uang itu dan memberikannya kepada kedua prajurit itu. maka aku akan bertanya apa sebabnya? Bila aku memang salah." Kedua perjurit itu melihat ada uang.. Yu Yong adalah orang persilatan yang berpengalaman."Keparat! Apa kau benar-benar tidak tahu mengapa aku ingin membunuhmu?" "Benar. salah satu prajurit berkata: "Bila belum selesai bertarung. malah berkelahi di jalan. uang uu untuk mengganti piring-gelas yang pecah. "Apakah masih kurang? Menurutku ini sudah cukup. maka keamanan kota pun datang. Tapi karena kedua belah pihak yang berkelahi tidak tampak seperti orang biasa maka 2 prajurit itu hanya bisa bicara tapi tidak berani bertindak." Mereka bemaksud meminta lebih banyak lagi. "Berkelahi dijalan. ini ada sedikit uang. Kedua prajurit itu bertanya: "Siapa kalian? Hari masih terang.. kami tidak ada waktu untuk pergi ke kantor keamanan. Dan sisanya untuk kalian minum-minum. kau boleh marah atau bahkan membunuhku." Tiba-tiba ada 2 orang prajurit yang datang ke arah mereka.. karena takut semua toko di jalan itu tutup.. Setelah menerima uang itu. hayo semua ikut ke kantor keamanan!" Dia mengeluarkan rantai dan digoyang-goyang. orang yang sedang berada di jalan berlarian karena ketakutan. Mereka bertarung di jalan umum. seumur hidup aku tidak pernah berbuat jahat. pergi saja ke tempat lain!" Yu Yong mengeluarkan uang perak lagi dan berkata: "Tolong berikan uang ini kepada bos rumah makan itu. wajahnya langsung berseriseri. Urusan di sini biar kami yang menyelesaikannya!" . hukumannya berat.

mereka berhenti: "Kita berhenti di sini dulu. Kedua belah pihak menjelaskan sebab-sebabnya dan biasa yang lebih tua mempunyai hak untuk bicara dulu. dia menyebut nama tidak menyebut "keparat'. dia berpikir." Hati Hui-thian masih ragii. dan meja yang rusak Apakah 10 tail perak sudah cukup?" Bos itu menjulurkan kepalanya dan berkata: "Cukup. Dan itu sebabnya Hui-thian tidak terima. sudah lebih dari cukup!" Kata It Piau. . karena umurnya lebih tua. tapi It Piau cinjin sudah membuat Hui-thian menjadi tersangka. ikut aku. aku akan lihat mereka mempunyai permainan apa lagi?' Yu Yong lebih tahu jalan di sana. gelas. kami sudah mengganti piring. siapa yang benar siapa yang salah mari kita bicarakan baik-baik. karena takut dia akan melukai Tuan Kiam-ta lagiMereka keluar dari kota itu. karena tidak ada orang. kedua belah pihak harus berada di dalam posisi yang sama.Yu Yong berteriak kepada bos rumah makan itu. dia ingin mengikuti aturan dunia persilatan. sampai di pinggir sungai. mengapa kau harus membunuh Tuan Kiam-ta?" It Piau cinjin tetap dingin bertanya kepada Hui-thiaa "Baiklah!" Hui-thian pun membalas dengan nada yang dingin. Walaupun Hui-thian tidak sungkan berkata kepada It Piau tapi terhadap Tuan Kiam-ta. It Piau dan flui-thian jalan bersamaan. 'Aku tidak peduli lagi dengan nyawaku. "Seharusnya Tuan Kiam-ta bicara dulu. Hui-thian kau jelaskan. dia mulai kembali menghormatinya.: "Baiklah. "Bos. dia berjalan di depan." Sebenarnya bila mencari keadilan.

karena aku percaya' kepadamu. Peristiwa ini membuatku bingung. "Tiga tahun lalu yang lalu." It Piau cinjin mengerutkan dahi dan berkata: "Aku harus menjelaskan permasalahan di antara kalian. "Baiklah." Dengan marah Hui-thian berkata: "Jangan sebut 'menculik'!" . dia menyelesaikan pertarungan dengan Hie Tionggwee dan melukai Hie Tiong-gwee. dia pernah bertemu dengan Huithian." Kiam-ta berkata lagi: "Kedua kali aku bertemu dengannya di aula pernikahan Hie Tiong-gwee." Kata Hui-thian: "Hari itu aku belum tahu siapa sebenarnya dirimu. aku menjadi saksi pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan dia. walaupun aku merasa dia keterlauan. tidak ada hubungannya denganmu. langsung saja pada topik pembicaraan. aku tidak memihak kepada siapa pun." Kata Tuan Kiam-ta: "Itu juga bukan alasanmu membenciku. maka rasa benci tersimpan di hatimu sampai sekarang?" Dengan tertawa dingin Hui-thian berkata: "Waktu itu aku sengaja membuat Hie Tiong-gwee berada di pihak yang beruntung.. Maka aku membiarkanmu tetap menjadi juri pertarunganku. adil tidak adil. Apakah Wie-heng menganggap aku tidak adil.. aku akan mulai bertanya. Karena diundang oleh Ko Tan Taysu. tapi juga tidak melarangnya. aku tidak tahu mengapa dia begitu membenciku?" Dia ingat beberapa tahun lalu. Bila aku mendengar penjelasan kalian seperti tidak ada hubunganya. jangan bicara yang lain lagi. Aku dan Yu Yong menjadi saksi. malam itu kau menculik Nyonya Hie. Ketiga kalinya adalah 5 hari yang lalu. aku akan melarangnya bila tidak perlu. aku merasa sudah adil kepadanya.Kata Tuan Kiam-ta.

tapi karena ilmu silatku tidak tinggi. aku tidak mengijinkan dia melakukan hal itu. malah ditotok olehmu!" Kata It Piau cinjin: "Wie Thian-hoan. Mengapa kau sekarang menganggap dia adalah orang jahat?" . karena waktu itu aku belum tahu siapa dia sebenarnya!" Kata Tuan Kiam-ta: "Di matamu. tapi Tuan Kiam-ta tidak mengeluarkan jurus silat yang sebenarnya." Kata Hui-thian dengan dingin: "Tidak perlu kau jelaskan lagi! Sebenarnya kau ingin membunuhku!" Dia mengeluarkan kata-kata ini. apakah benar?" "Bila kau bicara seperti itu." "Malam itu aku berada di rumah Hie. aku hanya melarangmu tapi tidak berniat untuk membunuhmu. Kiam-ta menggelengkan kepala dan berkata: "Karena aku menganggap kelakuanmu tidak benar. tapi jujur bicara. apakah karena Tuan Kiam-ta melarangmu berbuat itu. tapi bagaimana pun juga kau membuat orang-orang dunia persilatan yang segan padamu malah menghinamu dan kau memang tidak pantas! Tadi kau bilang malam itu kau tidak menganggap dia adalah orang jahat. sementara kita tidak perlu membicarakan kejadian malam itu. malam itu aku tidak membunuhnya. jadi kau harus membunuhnya?" "Bila aku mau membunuhnya."Kalau begitu aku akan mengatakan bahwa kau dan Nyonya Hie melarikan diri. sebenarnya aku ini siapa?" "Aku akan mengatakannya setelah kau selesai bicara!" Kata It Piau cinjin: "Karena kau belum menjelaskan alasannya. tidak masalah untukku. Kau dan Nyonya Hie akan kawin lari. malam itu aku sudah membunuhnya. tapi dia sendiri merasa bersalah karena malam itu dia bertarung dengan Tuan Kiam-ta.

"Malam itu. Tanya It Piau: "Wie Thian-hoan." Dengan dingin Hui-thian berkata lagi: "Sama-sama." Tuan Kiam-ta mengira kata-kata Hui-thian adalah sebaliknya. mengapa kau curiga bahwa Tuan Kiam-ta belum mengeluarkan semua jurusnya?" "Karena kepandaian yang digunakan barusan dengan silat yang terdahulu tidak sama. itu pun tidak perlu ditutup-tutupi!" Hui thian jadi terkejut dan berkata: "Jujur bicara." It Piau terkejut dan berkata: "Terdahulu? Maksudmu apa?" ." Tuan Kiam-ta tertawa kecut dan berkata: "Kalau begitu. kami tidak perlu berterima kasih kepada siapa pun. kau tidak perlu membantuku menutupi keadaan sebenarnya aku kalah darimu." Hui-thian melihat dia marah. kemudian dia menjawab: "Terima kasih. dalam hati dia juga merasa aneh. dia hanya menotokmu itu artinya tidak mau membunuhku."Benar.. seperti bukan yang sedang berpurapura. bila tidak. dia hanya bisa bengong. karena waktu itu aku masih menghormatinya. tapi kau juga tidak mengeluarkan ilmu silatmu yang sebenarnya.. apakah aku sendiri yang harus bicara bahwa aku sudah berusaha tapi tetap tidak bisa menahan jurusmu sebanyak 3 kali. aku tidak membunuhmu." "Apa artinya ini?" Tuan Kiam-ta bengong. malam itu apakah kau sudah mengeluarkan semua ilmu silatmu?" Tuan Kiam-ta marah dan berkata: "Seumur hidupku aku tidak pernah bohong.

ayo teruskan!" ." "Tuan Kiam-ta tidak perlu melakukan hal seperti itu karena orang persilatan tidak akan pernah curiga karena dia memang pendekar sejati. Tuan Kiamta menggelengkan kepala kemudian mengangguk. ya terdahulu. kau belum selesai bicara. sebenarnya ada apa?" Dengan dingin Hui-thian berkata: "Kiam-ta. tapi It Piau cinjin sudah bisa menebak apa yang terjadi. apakah dengan begitu dia tidak takut kau akan membunuhnya?" "Aku juga curiga dia berpura-pura. Hui-thian malah makin merasa aneh." Setelah saling membuktikan bahwa alasan Hui-thian tidak dapat dijadikan bukti. Kata It Piau cinjin: "Bila kau menganggap Tuan Kiam-ta adalah orang yang jahat. sekarang kembali ke asal. mengapa harus menyembunyikan ilmu silatnya? Mengapa dia tidak mau dengan sekuat tenaga bertarung denganmu." "Mengapa dia harus berpura-pura?" "Karena dia masih ingin berpura-pura menjadi pendekar yang disegani.."Terdahulu. kemudian dia melihat Kiam-ta. "Setelah kejadian malam itu. Kata It Piau cinjin: "Baiklah. terpaksa Hui-thian berkata." Kata Wie Thian-hoan. tadi kau mengatakan bahwa silat Tuan Kiam-ta yang dulu dan sekarang tidak sama.." It Piau merasa aneh. Dalam hati dia berpikir. 'Apa ini juga harus dijelaskan?' It Piau cinjin terus melihatnya dengan aneh.

"Mendengar kata-katamu. coba kau ceritakan malam itu dia sudah melakukan kejahatan apa?" "Dia membunuh orang!" teriak Hui-thian." Kata Hui-thian. Kiam-ta. tidak perlu lapor kepadamu!" Hui-thian tertawa dingin: "Apakah kau tidak berani mengatakannya?" Tuan Kiam-ta marah dan berkata: "Apa pun boleh diketahui oleh orang lain. . kau sudah melakukan kejahatan apa?" Jawab Tuan Kiam-ta: "Sampai hari ini. sepertinya kau curiga malam itu dia sudah melakukan suatu kejahatan?" tanya It Piau. setelah malam itu. Tuan Kiam-ta sudah menyelesaikan ceritanya sekarang giliran Hui-thian yang bicara!" Mata Hui-thian melotot dan berkata: "Bila dia tidak berani mengatakannya. kau sudah melakukan hal apa?" "Tadi kau yang mengatakan akan mewakiliku untuk bicara. sudah melewati 4 hari. tadi sudah kuceritakan dalam beberapa hari aku sudah melakukan apa. mengapa aku tidak berani mengatakannya? Tapi aku kira semua ini tidak ada hubungannya denganmu! Tidak perlu aku membuang-buang waktu!" Kata It Piau cinjin: "Menurut aturan. pada malam kedua." Kata Tuan Kiam-ta "Apakah kau tidak terlalu jauh loncat dari cerita aslinya? Dari kejadian malam itu hingga sekarang. "Baiklah. kami baru bertemu 3 kali. "Benar. mengapa sekarang bertanya lagi kepadaku?" jawab Tuan Kiam-ta."Sudah habis ceritanya. aku bantu dia untuk bicara.

tapi ibu Hiat-kun. kau ceritakan saja kejadian yang hubungannya dengan kejadian hari ini. maka dia pun ikut dibunuh. Tapi Kiam-ta malah membunuhnya pada malam dia baru tiba di Lok-yang supaya dia tetap bungkam. "Apakah Hie Tiong-gwee sudah membunuh dia?" "Bukan Hie yang harus menceraikan Hiat-kun."Dia membunuh siapa?" Tanya It Piau merasa aneh. Mengapa ibu Hiat-kun bisa dibunuh oleh Tuan Kiam-ta di Lok-yang?" "Karena ibu Hiat-kun tahu bahwa suaminya mati dengan tidak wajar. karena ibu Hiatkun ada di rumah pamannya." "Mengapa Hie Tiong-gwee menjadi musuh istrinya?" "Ceritanya sangat panjang. pasti bukan Tuan Kiam-ta yang membunuhnya!" kata It Piau." Kata It Piau: "Bila ceritanya panjang. paman Hiat-kun adalah anjing peliharaan Hie Tiong-gwee. "Sekarang Hiat-kun bukan Nyonya Hie lagi. tapi Hiat-kun tidak mau menikah dengan musuhnya. harap kalian jangan menyebut seperti itu!" Kata Hui-thian. "Dia membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya. mengapa kau harus membunuhnya?" Tuan Kiam-ta jadi bingung dan berkata: "Mengapa aku harus membunuh ibunya? bagaimana ceritanya?" "Bukankah ibu Hiat-kuh setengah tahun lalu membawa mayat suaminya pulang ke kampung halamannya? Mengapa Tuan Kiam-ta harus pembunuh dia di Lok-yang? Apalagi kau bilang Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee bersekongkol? Mengapa dia membunuh ibu mertuanya dan paman Hiat-kun?" Kata It Piau. dan satu lagi mereka belum sembahyang. dibunuh pun tidak apaapa." "Apakah kau berbohong mengenai ibu Hiat-kun? bila dia dibunuh. "Mengapa kau bisa tahu?" Tanya Hui-thian dengan dingin. orang yang dia curigai adalah Hie Tiong-gwee maka dia kembali lagi ke Lok-yang. . melarang Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee.

" "Aku memakai ilmu silat apa?" Tanya Tuan Kiam-ta. mengapa kau bilang dia adalah pembunuh? Apakah kau juga curiga Hweesio Siauw-lim membantunya berbohong?" "Aku tidak berani." jawab Hui-thian.. It Piau tidak menunggu Hui-thian habis kata-katanya. "Ta-sik-pek-jiu dan Bian-ciang yang digabung menjadi satu. jaraknya 70 kilometer dari kota Lokyang. siang hari. "Dan itu kemarin malam. aku baru tidur. aku bertemu dengan Tuan Kiam-ta. kemarin malam aKo . ilmu silatnya itu yang membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya. kali ini dia memakai ilmu silat yang sebenarnya. Ko Tan. Salah paham "Kira-kira jam 3 dini hari. sudah marah: "Jam 4 dia masih main catur." "Aku beritahu kepadamu. apakah itu dihitung waktu dari hari kau menotoknya?" kata It Piau. Pukul 4 dini hari." Tanya It Piau: "Pukul berapa Nyonya Kang dibunuh pada malam hari itu?" ---oo0dw0oo--C. Dalam waktu 3 hari ini aku selalu bersamanya." kata It Piau. aku yakin dia orangnya. 3 hari yang lalu. di rumah Hie bermain catur."Beritahu Tuan Kiam-ta." "Apa arti dari kata-katamu?" Tanya It Piau. melihat ilmu silatnya Tuan Kiam-ta. "Setelah 2 hari dari kejadian itu. kembali dia bertarung denganku.. aku bersama dengan hweesio Siauw-lim. bila aku salah. aku hanya melihat sosoknya dari belakang. "Benar. malam itu kau dengan siapa?" "Malam itu. "Benar." "Kau bilang 2 hari kemudian." Jawab Hui-thian.

karena Tuan Kiam-ta sudah dihina olehmu. Yu Yong marah dan berkata: "Dia keluar dari Lok-yang pun karena dipaksa olehmu. aku bertemu dengan Tuan Kiamta dan tahu bahwa Ko Tan Taysu sudah ada di rumah Hie. "Kau bilang kemarin malam kau bertarung denganku. apakah kau mengira kami juga bersekongkol untuk menipumu?" Sekarang Tuan Kiam-ta mengangkat kepadanya dengan pelan berkata.Tan dia minum arak di rumah teman. maka aku segera datang untuk menolong Hie Tiong-gwee. Hui-thian jadi bengong. aku memakai ilmu Ta-sik-pek-jiu dan Bian-ciang yang digabung menjadi satu." Hui-thian seperti masuk ke dalam kabut yang tebal. Kami bertiga menemaninya pergi. kepalanya tidak diangkat. banyak orang bisa menjadi saksi. karena kau membuat kekacauan di Lok-yang dan melukai Hie Tiong-gwee. tidak disangka hari ini kita bisa bertemu. "Apakah benar 3 hari yang lalu kau sudah meninggalkan rumah Hie?" Tuan Kiam-ta juga seperti sedang berpikir." Setelah mendengar kata It Piau cinjin. Aku mengira kau sudah dapat diatasi oleh Ko Tan Taysu. kata-kata It Piau seperti tidak terdengar. "Aku beritahu kepadamu. "Pastinya di rumah Hie dan Ko Tan Taysu ada di sana!" It Piau terkejut dan bertanya: "Benarkah Ko Tan Taysu ada di sana?""Apakah aku bisa sembarangan bicara? Bila guru tidak percaya . Di mana dan siapa yang bisa menjadi saksi?" Dengan dingin Hui-thian berkata. dan dia bertanya kepada Tuan Kiam-ta. dia menjadi tidak enak hati dan tidak ingin kembali ke Lok-yang lagi karena itu aku menemaninya bermain.

kemarin malam yang bertarung dengan Hui-thian di rumah Hie pun bukan aku. Anda adalah seorang saksi." Kelihatannya dia sudah tahu siapa pelakunya.. Berharap bisa lolos dari hukuman Anda." Dengan tegas Hui-thian berkata: "Aku mengatakan sebenarnya. dia juga tidak salah. Guru. apakah Anda tidak percaya dirinya? Malah harus ke kuil Siauw-lim untuk bertanya kepada Ko Tan Taysu. menurutku ada yang menyamar menjadi Tuan Kiam-ta. karena belum ingin . Hui-thian bertanya lagi: "Siapa dia?" Tuan Kiam-ta tetap tidak menjawab. terserah!" Walaupun Giok-yan terus protes tapi It Piau seperti sedang berpikir." Giok-yan terus menerus kalah di tangan Wie Thian-hoan. kau harus tahu!" "Kau tidak salah." Dia sengaja meninggikan suara dan berkata: "Guru. "Aku bukan pembunuh seperti yang dituduhkan oleh Huithian.." "Ada apa ini?" Kata Hui-thian terkejut. Anda sudah tahu dia terus berbohong. tapi aku percaya dengan kata-katanya. sudah 3 hari kami terus bersama Tuan Kiam-ta. Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berkata: "Sekarang aku sudah mengerti. siapa benar siapa yang salah. mau percaya atau tidak." Tuan Kiam-ta melanjutkan katakatanya. Tuan Kiam-ta tidak menjawab. dia masih marah.kita bisa ke Siauw-lim dan bertanya kepada Ko Tan Taysu. Dengan suara besar Huithian bertanya: "It Piau cinjin. kau terus berbohong. dengan dingin dia berkata: "Hui-thian. kau ada bukti kuat. bisa membuktikan bahwa Tuan Kiam-ta sudah diancam. mengapa masih terus mendengar kata-katanya? Dia hanya mencari kesempatan untuk kabur.

Kata Tuan Kiam-ta: "Baiklah." . karena itu kami harus kembali ke Lok-yang untuk mencari tahu. sopanlah sedikit!" "Bila ada yang memalsukan Tuan Kiam-ta. kau sedang bicara dengan Cianpwee. tapi dia tidak boleh merebut istri Hie. tapi semua ini belum dapat dibuktikan. Giok-yan merasa dirinya berhak bicara. Maaf. sambil bicara dia terus menatap Tuan Kiam-ta." It Piau cinjin juga mengangguk dan berkata: "Adik Wie. siapa pembunuhnya saja. Silahkan kau pergi!" Habis kata-katanya dia langsung pergi dengan Tuan Kiam-ta. Hui-thian." Bong Cong-kian marah dan berkata: "Adik. kau sudah menganggap dia orang baik dan Hie Tiong-gwee adalah orang jahat. aku tidak dapat menerangkan lebih detil lagi. itu juga tidak bisa jadi bukti bahwa Hui-thian tidak bohong. aku minta maaf karena aku sudah menyalahkanmu walaupun aku sudah mengira-ngira siapa pelakunya.diungkapkan oleh Tuan Kiam-ta maka dia tidak berani mengemukakannya. aku berjanji siapa pun dia aku tidak akan memihak kepadanya." "Aku juga tidak memihak kepada Hui-thian" Kata It Piau. aku janji akan mencari tahu siapa pelakunya. Apa benar?" "Benar. kemudian dia berkata: "Tidak dapat membuktikan bahwa Hui-thian adalah penjahat." Kata It Piau. kita belum tahu. Giok-yan mengejar dan berkata: "Guru. aku masih ada yang ingin aku bicarakan!" "Bicaralah!" "Kau jadi saksi/juri seperti kurang berpikiran jauh. "Tadi Anda mengatakan bahwa ini adalah salah paham.

Tapi bila dia menyukai kecantikan Hiat-kun. Bila dibandingkan dengan orang yang memalsukan diriku. terdengar It Piau cinjin berkata: "Kakak Kiam. "Ke rumah Hie." Walaupun mereka sudah meninggalkan tempat itu sejauh satu li. 'Walaupun Kiam-ta belum menjelaskan semua ini. Pikir Hui-thian. walaupun belum tahu apakah benar dia adalah pembunuhnya. tapi dia berpendapat seperti itu. itu urusan moralnya. apakah dia mempunyai alasan yang tidak kita ketahui." Mendengar sampai sana. bila memang fatal tidak dapat diampuni lagi. bila orang itu benarbenar dia.' "Guru. kalian mau ke mana?" Tanya Yu Yong. aku kagum kau begitu lurus."Aku tidak bermaksud seperti itu.." "Nyonya Hie sudah keluar dengan Hui-thian.. dia akan meninggalkan Lok-yang. demi menghindari kejaran Huithian." Kata Tuan Kiam-ta: "Hui-thian merebut istri orang lain." ." "Dia meninggalkan Lok-yang tapi nyonya barunya masih ada di rumahnya." "Bagaimana caranya?" "Bantu aku memusnahkan ilmu silatnya dan bantu aku untuk meminta kepada Ko Tan Taysu mencukur rambutnya dan menjadi seorang hweesio. 'Sepertinya ada orang yang memalsukan dia dan masih keluarganya. Hui-thian berpikir. sepertinya aku salah melihat orang. kami hanya ingin membuktikan masalah. tapi percakapan mereka masih bisa didengar oleh Hui-thian. dosanya lebih besar dari Hui-thian." "Hie Tayhiap pernah berkata. Biar dia tinggal di Kao-san selama 10 tahun untuk merenungi kesalahannya. ini membuktikan bahwa seorang Kiam-ta benar-benar adil. aku harus bagaimana?" "Melihat kejahatan yang dia lakukan.' Belum habis berpikir.

walaupun dia bukan pendekar yang mempunyai hati untuk menolong orang. bila Nyonya Hie tidak ada di rumah Hie." Tanya Giok-yan: "Apakah Anda tidak ingin kami ikut menyaksikannya?" It Piau tertawa dan berkata: "Anak kecil jangan ikut campur terlalu banyak!" "Kami dan Hui-thian ada masalah."Menurut Hui-thian." "Kata-kata Hui-thian belum tentu benar. misalkan. "Yu Yong. kata-katanya tidak dapat dipercaya. Hui-thian pasti bersamanya." Giok-yan terdiam tidak bicara lagi." Tanya Giok-yan: "Bila Hiat-kun ada di rumah Hie. kemarin malam dia direbut kembali oleh Hie Tiong-gwee. asal kalian tidak mencari gara-gara." Giok-yan agak marah dan berkata: "Guru. dia tidak akan membuat kalian susah. apakah dia terpaksa menikah dengan Hie Tiong-gwee? Apakah Hie adalah musuhnya? Dan lain lain." "Perempuan itu tidak setia kepada suaminya." It Piau tertawa dan berkata: "Kau takut bila tidak ikut denganku. kau antar mereka pulang saja." Tuan Kiam-ta berkata: "Aku percaya kepada kata-katanya. sebelum jelas masalahnya. memangnya mengapa?" Kata It Piau: "Aku bisa bertanya lebih banyak kepadanya. lebih baik kau jangan banyak komentar. kau juga tidak perlu ikut aku ke Lok-yang. Hui-thian akan mencari ribut denganmu." Dengan tegas Tuan Kiam-ta berkata: "Nona Giok-yan. mengapa kau begitu percaya kepadanya?" . tapi dia tidak sejahat seperti yang kalian sangka. Menurutku.

ilmu silatnya termasuk tangguh. mungkin mereka lewat jalan yang lain. Kata-kata orang biasanya sering dibesar-besarkan. Kiam-ta adalah kakak dan Ih-san adalah adiknya. dia tidak tahu harus melakukan apa. dia juga tidak melihat Yu Yong dan Giok-yan kembali lagi. artinya orang yang memalsukan Kiam-ta dan Jian Ih-san hampir sama. karena ilmu silat mereka perbandingannya sangat jauh.' Sebenarnya mereka sedang berlatih ilmu silat dan Ko Tan Taysu memberitahu kelemahan ilmu silat Tuan Kiam-ta. 'Tuan Kiam-ta bertarung dengan Ko Tan. "Apakah yang memalsukan Tuan Kiam-ta adalah Ih-san?" pikir Hui-thian. Setinggi apa. Bila berita mengenai Kiam-ta tidak seperti Ih-san. adik berada di rumah jarang keluar. Sang kakak berkelana di dunia persilatan. Hui-thian masih berdiri di pinggir sungai. membantu orang-orang membereskan masalah. . akhirnya adalah seri. seperti ada yang berkata. Walaupun ilmu silat Kiam-ta tidak setinggi Ko Tan. Kiam-ta sangat berwibawa dan disegani oleh orang-orang dunia persilatan. orang-orang mengatakan 'tidak terukur' dalam melukiskan ilmu silatnya. tapi ilmu silat Ih-san katanya lebih tinggi."Paling sedikit dia tidak akan membuat ribut dengan gadis kecil sepertimu. tapi Kiam-ta termasuk pesilat tangguh. berlatih seperti ini tidak ada yang menang atau kalah. Adik kakak ini sifatnya tidak sama. Tapi berita mengenai Kiam-ta tidak seperti Ih-san. tidak ada yang tahu. seperti apa orang yang memalsukan Kiam-ta? Tiba-tiba dia teringat pada cerita tentang 'Kiam-ta' dan 'Ih-san'. apalagi dalam waktu 10 tahun ini tidak ada yang pernah bertemu dengannya. Masalah ini di luar dugaannya." Hui-thian sudah tidak dapat mendengar suara mereka.

Kie Yan-gan pernah bercerita kepadanya mengenai jalan hidup Ihsan walaupun Kie Yan-gan bukan sahabat karibnya. Kakek gurunya juga tidak bisa menjawab. bila tidak Kie Yan-gan tidak akan mau mengobatinya." . "Bila Kiam Ih-san bisa bertemu dengan tabib yang baik dan sembuh tapi sifatnya tidak akan berubah drastis seperti itu. Tapi menurut kata-kata kakek gurunya. karena Kiam Ih-san sakit maka Kie Yan-gan yang menolongnya. dia tergesa-gesa ingin menguasai ilmu Han-goan hingga membuatnya lumpuh/tersesat. ilmu silatnya tinggi dan juga sangat ahli mengobati orang. Kiam Ih-san selama puluhan tahun tidak keluar. Kalau tenaga dalamnya semakin dalam kemungkinan untuk sernbuhpun semakin tipis. Ih-san mempunyai tenaga dalamnya susah diukur. Tapi dari kata-kata yang didengar dari Kiam-ta. melainkan karena berlatih ilmu Han-goan. Ih-san seumur hidupnya akan lumpuh. tapi mereka pernah bertemu selama 3 hingga 4 kali.Adik kakak pasti ada miripnya. Karena tenaga dalam yang kuat. kakek gurunya Kie Yan-gan pasti tahu juga. mereka merasa cocok. tapi menurut sepengetahuan Kie Yan-gan. Hui-thian curiga bahwa adiknya memalsukan dia. Tapi Kie Yan-gan tidak dapat menyembunyikan berita tentang Ih-san. bukan karena sifatnya yang penyendiri. Kie Yan-gan juga tidak menyebarkan rahasia ini kepada orang lain. karena Kie Yan-gan hanya mengobati penyakitnya tidak bisa melihat ilmu silatnya. Kenyataan ini kecuali keluarga Kiam yang tahu. Tapi karena terlalu terburu-buru hampir membuatnya lumpuh/tersesat. Hui-thian pernah bertanya kepada kakek gurunya mengenai ketidakmiripan antara Kian-yan dan Ih-san. Hui-thian berpikir seperti itu satu lagi kenyataan yang membuatnya curiga. dia tidak mungkin Kiam Ih-san. kecuali kepada cucu muridnya. Kie Yan-gan. menurut Kie Yan-gan.

Bila Hiat-kun masih berada di rumah Hie. Hujan . suatu hari semuanya akan jelas. keadaan Hiat-kun yang sekarang menjadi pikirannya. asal Tuan Kiam-ta yang berlaku adil. dan langsung ke ibukota. Hujan deras memaksanya harus meninggalkan tempat itu. hujan semakin deras. melambaikan tangan kepada seorang laki-laki. Karena di antaranya ada seseorang yang dia rindukan. tapi sudah mengurangi bebannya. pada saat dia memperhatikan lebih teliti lagi. Hui-thian ingin melihat lebih jelas lagi tapi perempuan itu sudah membalikkan tubuh dan masuk ke dalam perahu. kembali lagi ke kota mengambil kuda. Pada saat dia sedang berpikir. membuatnya menjadi bengong. cuaca udara tiba-tiba berubah. pasti mereka cocok satu sama lain. dia mendaki gunung itu untuk menghindari hujan yang semakin besar. Mungkin sembuh dari penyakit tapi sifatnya tidak akan berubah. jaraknya juga jauh. Siapa pun yang memalsukan Tuan Kiam-ta. Perempuan yang satu lagi. perahu berjalan seperti ditarik seekor kuda. Perempuan yang melambaikan tangan adalah Sumoinya. Dia mengambil keputusan semula. Dalam hati Hui-thian berpikir lagi. perahu berada di tengah-tengah sungai.Ada pepatah yang mengatakan. Dia melihat ada 2 orang sedang menurunkan layar. tapi begitu dia melihat bayangan itu dia kenal dengan bayangan itu. Angin berhembus sangat kencang. Dalam sekejap perahu sudah tidak tampak dan hilang dalam rintik hujan. gunung bisa diubah tapi sifat orang tidak dapat diubah. Tidak sengaja dia melihat sebuah perahu di tengah sungai. Tidak jauh dari sungai ada sebuah gunung. suara petir membangunkan dia dari pikiran yang ruwet.' Hui-thian sangat menghormati kakek gurunya dan dia tidak boleh mencurigai teman kakek gurunya. 'Dapat berteman dengan kakek guru. Walaupun masih belum selesai urusannya. Hujan telah turun sangat deras. Dia adalah Kang Hiat-kun.

laki-laki ini sedang bersama Hiat-kun. "Benar. Laki-laki itu adalah Coh Thiansu.. tubuhnya terasa dingin. artinya dia sudah selamat. Adik Hiat!" Suara guntur terus berbunyi. Hui-thian basah kuyup. tapi dia bukan Tuan Kiam-ta yang palsu. ah. Perahu sudah menjauh. begitu melihat Kie Su-giok dia menjadi yakin bahwa itu memang mereka. Dia menenangkan diri. dalam hati dia berpikir. tidak mungkin dua-duanya begitu mirip. 'Apakah aku salah lihat. aneh. wajahnya menjadi panas. walaupun dia bergabung dengan Kie Su-giok juga tidak mungkin." Hui-thian masih ragu. yang satu mirip Kie Su-giok' Pertama kali melihat sosok Hiat-kun dia masih tidak percaya." Dia teringat malam itu dia tidak sopan kepada Coh Thian-su.. tapi ini malah membuatnya sadar. "Bila dia benar-benar Hiat-kun. hatinya pun tidak enak Hiat-kun bisa . 'Walaupun orang yang she Coh ilmu silatnya lumayan. bagaimana dia bisa menolong Hiat-kun. Tapi mengapa mereka bisa bersamaan? Dia lupa hujan masih deras. "Apakah aku salah melihat orang? tapi kalau salah lihat pasti satu orang saja. aku tidak perlu khawatir lagi!" Kemudian dia berpikir lagi. seperti orang gila dia memanggilmanggil. dalam hati berpikir. gelombang air pun semakin tinggi. pertama kali masuk ke rumah Hie. dia adalah Suheng Hiat-kun.lebat angin berhembus kencang. "Adik Hiat. tidak mungkin sampai ketiga-tiganya. perahu tidak meninggalkan jejak. dalam hati dia berpikir. 'Laki-laki itu siapa? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya?' Sekarang baru terpikir olehnya. panggilannya tertiup oleh suara angin dan hujan. aku pernah menotoknya." Tapi di depan mata yang dia lihat adalah benar mereka bertiga. yang satu mirip Hiat-kun.

perahu kecil itu pun sudah melewati tempat yang berbahaya. Kedua. dan hujan pun berhenti. Dalam hati dia iri kepada Coh Thian-su yang bisa bersama-sama dengan Hiat-kun. Hiat-kun dan Kie Su-giok. Tapi dia masih mempunyai tugas yang lebih penting. dia juga berpikir ke mana Hiat-kun akan pergi? Dia mempunyai 2 jawaban. Hui-thian tidak salah lihat. kabut mulai menghilang.lolos dan bahaya. dia harus senang. dia ikut Coh Thian-su pulang ke Yang-ciu bertemu dengan paman guru Hiat-kun. aku harus lebih tenang pergi ke ibukota. Hui-thian seperti terbangun dari mimpi. Dengan tertawa Kie Su-giok berkata: . Hujan dan angin sudah berlalu. Dia ingin tahu jelasnya baru bisa menyusul. hatinya pun seperti cuaca sehabis hujan. dalam hati dia berpikir. dia ikut Kie Su-giok pulang. mengapa dia merasa tidak tenang? Dia sendiri pun merasa aneh. tapi bagaimana pun keadaan ini lebih baik daripada Hiat-kun jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee. dia harus mengejar musuh. Hui-thian terus memandang ke arah sungai. tiba-tiba di depan mata cuaca menjadi terang. Hujan deras terus mengguyur. karena dia sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee sudah pergi ke ibukota mencari Jenderal Bok Apakah dia akan membiarkan musuh mencapai keinginannya? Tapi dia juga takut setelah bertemu dengan Kie Su-giok. "Laki-laki harus berpikir panjang. bila Hiat-kun sudah lepas dari bahaya. orang yang berada di dalam perahu adalah Coh Thian-su. apa lagi yang kutunggu?" Dia melepaskan keinginan untuk mengejar Hiat-kun dan melangkah dengan mantap ke jalan besar. waktu tidak mengijinkannya tidak berpikir. pertama. Kie Sugiok akan membuatnya tidak dapat bekerja dan dia juga tahu mungkin orang-orang yang tadi dilihatnya bukan mereka dan itu akan membuat pekerjaannya tertunda.

" Coh Thian-su melihat Hiat-kun. artinya dia sangat mahir dengan keterampilan di air." "Siapa?" "Dia adalah Wie Thian-hoan Toako." Kie Su-giok teringat pada ibunya yang menghilang." "Kau mengira dia orangnya?" "Dia dijuluki Hui-thian-sin-liong. tadi aku benar-benar sangat takut." Kie Su-giok juga tahu dia sudah salah dan berkata: "Aku tidak marah. aku tidak akan memberitahumu. wajahnya juga berubah. tidak disangka kau pandai mengemudikan perahu. teknikku menunggang kuda sangat pas-pasan. seperti kalian orang-orang utara kemana pun pergi selalu menunggang kuda. aku pun sudah tahu. tidak perlu marah." Kie Su-giok mengangguk dan berkata: "Benar juga. tapi ada juga pengecualian. orang selatan pandai mengemudikan perahu. kemana-mana kami selalu menggunakan perahu." "Kau juga pandai menunggang kuda." "Siapa?" "Kau pasti sudah tahu." Coh Thian-su merasa aneh dan berkata: "Aku hanya bertanya. hanya sedang tidak ingin bergurau. sejak kecil dia ."Kata Coh Thian-su: "Orang utara pandai menunggang kuda. Coh Thian-su berkata: "Kau tidak mau memberi tahu." Kata Coh Thian-su: "Aku adalah orang selatan. di daerah selatan banyak air."Coh Toako." "Apakah di antara orang-orang yang kau kenal ada yang mahir mengemudikan perahu?" "Ada.

Ibu asuhnya menjawab: "Kepintaran ibumu di air lebih hebat daripada di darat. ibu asuhnya marah dan berkata: "Mengapa kau seperti ibumu?" "Apakah ibu juga senang bermain air?" Tanyanya." Dia sangat senang dan bertanya: "Bagaimana kepintarannya? Ceritakan kepadaku?" Waktu itu Paman Ting datang dan memarahi ibu asuhnya. hampir terendam air hingga mati. Apakah kau benar-benar mendengar bahwa itu suara Wie Toako?" Kata Coh Thian-su dengan tertawa: . Tapi sekarang mengapa tiba-tiba dia teringat kepada masa lalu dan juga ibunya? Dia hanya tahu sedikit tentang ibunya. pernah suatu kali dia bermain di sungai kecil. aku akan bertanya kepada ibu asuhku." Kie Su-giok juga meloncat dan berkata: "Aku pun mendengar ada yang memanggil. untung ibu asuhnya menolong dengan segera. dan melupakannya. kejadian aneh seperti tadi.juga suka bermain air. akhirnya dia tidak berani bertanya lagi. dia pun demikian. "Sekarang aku sudah dewasa." Karena ibu asuhnya takut kepada Paman Ting. aku akan memberitahu kepada kalian. "Tuan Besar sudah berpesan tidak boleh membicarakan ibunya kepada anak ini." Hiat-kun langsung bertanya: "Memangnya tadi mengapa?" "Sepertinya tadi aku mendengar teriakan Hui-thian. tapi aku tidak yakin itu suara gelombang atau suara angin. apakah ibuku orang utara atau selatan?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Cerita mengenai Hui-thian.

" Kie Su-giok sangat senang dan berkata: "Apakah benar?" "Benar.' Hatinya kacau seperti perahu ini yang berada di sebuah sungai besar. Bila tidak bergabung dengan Hoan Toako dendam orang tua tidak akan bisa dibalas. karena tadi aku tidak berada di bagian depan perahu. apakah tadi itu benar suara Wie Toako? Dia bilang apa?" "Dia memanggil namamu. Yang paling penting dia tidak mau bertemu dengan Wie Thian-hoan untuk sekarang ini. gukan tidak mau bertemu tapi dia takut Wie Thian-hoan masih memiliki perasaan yang masih dalam kepadanya dan itu akan membuat Kie Su-giok iri. dia tidak percaya bahwa di dalam hujan yang begitu deras dan langit yang . aku harus mempunyai rencana lain. maafkan aku." Tiba-tiba Hiat-kun tertawa kecil dan berkata: "Adik Giok. Walau Coh Toako adalah Sumoi ku. mengapa aku tidak mendengar?" Sebenarnya Hiat-kun juga mendengar hanya dia takut Coh Thiansu akan memberitahu kepada Kie Su-giok bahwa yang dipanggil oleh Hoan Toako bukan dia. dia memanggil 'Adik Giok' dalam perahu ini siapa yang bernama Adik Giok. bila benar ada yang memanggil. Hiat-kun berpikir. nanti kau akan marah lagi kepadaku. bila dia melihat ada orang di perahu."Aku curiga itu suaranya." Kie Su-giok malu dan berkata: "Coh Toako. 'Berdiam ditempai Kie Su-giok juga tidak bisa lama-lama. Entah akan berhenti di mana? Kie Su-giok tidak tahu pikiran Hiat-kun begitu ruwet. dia pasti melihat Hiat-kun." Kie Su-giok hanya percaya sedikit dan berkata: "Mungkin tidak benar. dan ini akan membuat Kie Su-giok iri. yang dipanggilnya pasti bukan aku. tapi kami belum kenal lama. Coh Toako hanya bergurau denganmu. Dia tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka berdua.

sungai sangat lebar. tenaga dalamnya pun begitu. aku berharap dia menyusul kita pulang. dia memukul Coh Thian-su dan berkata: "Kau jahat. tapi kau malah main-main denganku!" Sambil tertawa Coh Thian-su menghindari pukulan itu: "Kau marah-marah terus jadi aku sengaja bergurau denganmu. dia langsung menutupi dengan kata-kata tadi. Perahu kecil mengikuti arus air. Perahu kecil mereka mengikuti aliran air tapi perahu besar itu berjalan melawan arus. kau juga tidak rugi apa-apa.begitu gelap. "Orang yang membawa perahu itu bukan sembarang orang. yang satu mendayung dan yang satu lagi memegang kemudi. dia percaya kepada kata-kata Hiat-kun. ada perahu layar mendatangi mereka Perahu itu lebih besar dari perahu mereka. Kata Kie Su-giok: "Baiklah. begitu melihat Hiat-kun tidak mengaku. Daerah ini adalah daerah Huang-ho. cara mengemudinya sangat baik. hatinya semakin sedih. Dan Coh Thian-su malah bisa mendengar suara orang berteriak. kecepatan perahu besar itu sama dengan perahu kecil mereka. aku menganggapmu sebagai Toako. bila kita sudah sampai di rumah. tapi Hiat-kun dan Kie Su-giok tidak tahu bahwa Wie Thian-hoan sudah masuk ke ibukota. Coh Thian-su melihat perahu itu. tenang seperti kaca. Wie Toako pasti sudah pulang." Coh Thian-su adalah orang yang sangat pintar. dalam hati dia berpikir. belum sore sudah tiba di luar kota Lok-yang. Kedua orang itu pun tahu bahwa Coh Thian-su sedang ." Dua orang itu. Tubuh mereka sangat tegap." Hiat-kun melihat Kie Su-giok begitu mencintai Hoan Toako. sekitar 50 hingga 60 kilometer. umur mereka kurang lebih 50 tahun. Wie Toako yang jauh di tepi sungai bisa melihat mereka.

Pada saat perahu itu sudah lewat. tapi . bukankah kau juga tadi hampir marah?" "Kita adalah 'Huang-ho-sam-ciaf. aku masih ingat sosoknya. terdengar dalam suara angin. Mereka pun melihat Coh Thian-su pada saat perahu mereka berpapasan. "Coh Toako.memperhatikan mereka. "Aku merasa mereka lebih banyak melihat aku dan sorot mata yang galak seperti itu sepertinya dia ada permusuhan denganku. Aku merasa mereka sedang melihat aku. Mereka bisa mendengar dengan jelas. walaupun sudah lewat 20 tahun. dulu pernah kalah di tangan perempuan itu. Kie Su-giok berkata. apakah perempuan itu sudah pulang?" Jawab yang sarunya sambil tertawa: "Lo-ji pantas dari tadi kau marah-marah." "Mereka juga sedang melihatku. Coh Thian-su dan Kie Su-giok memiliki pendengaran lebih tajam dari orang lain. Kie Su-giok dan Coh Thian-su sedang melihat pemandangan di bagian depan perahu. Kata Kie Su-giok." Lo-sam tertawa: "Apakah setelah 20 tahun perempuan itu masih tetap muda? Aku lihat gadis tadi belum berusia 20 tahun. kau salah melihat orang. Dalam hati dia ingin tertawa. Coh Thian-su mengira Kie Su-giok juga seperti itu. Kata salah satu orang dari mereka: "Lo-sam kau lihat tadi. Perahu layar yang ada di belakang mereka. karena tahu aku memperhatikan mereka." Kata yang satu: "Aku tidak akan salah melihat orang. tadi kau perhatikan tidak sorot mata mereka begitu galak. kakak tertua dipotong lututnya hingga cacat." Gadis cantik biasanya senang orang lain memperhatikan dia. kira-kira beberapa puluh meter dari mereka. mereka sedang bercakapcakap dan kali ini dugaan Kie Su-giok benar." Lo-ji jadi tertawa: "Tapi mereka sangat mirip." Kata Coh Thian-su.

. di dunia ini mana ada orang yang begitu mirip? Pasti gadis tadi adalah anaknya." "Kita tidak tahu dia ada di keluarga mana." "Memangnya seperti apa?" "Bila perempuan itu masih ada di keluarga Kie." "Kau pikir apa?" Jawab Lo-ji dengan pelan: "Aku pikir ada satu cara untuk balas dendam. tapi walaupun keluarga mana pun tidak akan sesulit pak tua Kie. tapi siapakah kekasih lamanya? Sudah lama aku tidak keluar tapi kau lebih sering berkelana di dunia persilatan. kita tidak dapat berbuat apa-apa. bila dia ada di keluarga pesilat yang lain kita bisa coba-coba mengganggunya. apakah kau mempunyai keberanian?" "Coba ceritakan!" "Tiap keluarga pesilat pasti mempunyai ilmu silat keluarga mereka." "Katanya dia menghilang." "Kalau begitu kita balik lagi untuk mengejarnya!" "Tidak perlu terburu-buru. hutang ini tidak perlu dibayar lagi. bagaimana bisa mencari dia?" "Kita cari gadis kecil yang tadi.pikir." "Keluarga pesilat Kang-lam tidak begitu banyak. tapi aku pikir. apakah kau tahu?" "Aku tidak tahu. dalam perahu itu ada 3 orang." "Apakah kita akan mencari tahu satu per satu? Sepertinya bukan „al yang mudah. .katanya perempuan itu sudah mendapat karma. "Aku tahu tentang hilangnya perempuan itu. mengikuti kekasih lamanya kawin lari... apakah dia sudah menjadi janda? Tapi bila dia masih hidup kita tetap harus balas. belum . katanya dia keluarga pesilat dari Kang-lam." "Aku juga tidak tahu kekasih lamanya." "Yang kau sebut karma. paling-paling hanya ada 10 keluarga.

Kata Kie Su-giok: . Coh Thian-su dan Kie Su-giok pun sudah tidak dapat mendengar percakapan mereka lagi. wajahnya menjadi merah. Tapi kakak tertua mereka sudah cacat dilukai orang. mereka menjuluki mereka sendiri 'Huang-ho-sam-ciat' (3 jago Huang-ho).tentu kita bisa mengalahkan mereka." Tanya Kie Su-giok: "Kau masih mendengar apa lagi?" "Aku hanya mendengar sepatah-sepatah." Dia berharap mereka hanya bergosip. hatinya pun menjadi bergelombang "Yang mereka sebut 'perempuan itu'." Sebenarnya Coh Thian-su mendengar semua percakapan mereka bila dia mengatakan tidak terdengar. karena itu dia berkata hanya mendengar beberapa patah kata saja. tadi kau mendengar apa?" "Aku hanya mendengar beberapa kata. siapakah sebenarnya Huang-hosam-ciat itu? Bila Lo-toanya sudah cacat. dia tidak akan bisa menipu Kie Su-giok. Hati Coh Thian-su juga sangat kacau tapi dari wajahnya tidak terlihat. dia sengaja bertanya: "Apakah kau tahu kedua orang itu sedang membicarakan apa?" Wajah Kie Su-giok memerah dan berkata: "Aku tidak jelas mendengarnya. Kie Su-giok sedang berpikir. apakah dia ibuku? Ibu menghilang karena ikut dengan laki-laki lain. tepat dia mengangkat kepala tepat dia melihat sorot mata Coh Thian-su. mereka pasti bukan orang baik-baik. tidak tahu apa maksud mereka. pantas kakek tidak mengijinkan orang di rumah membicarakan ibu. lebih baik kita lapor dulu kepada kakak tertua." Perahu besar dan perahu kecil sudah berjarak setengah kilometer. Kie Su-giok dan Coh Thian-su mendengar kata-kata mereka... karena itulah aku bertanya kepadamu.

" "Mengapa bukan Huang-ho-sam-ciat?" Kie Su-giok tertawa: "Mereka menjuluki sendiri Huang-ho-sam-ciat. maka Kie Su-giok sering meminta agar Paman Ting menceritakannya. Paman Ting pernah datang ke rumah Coh. Tapi nama pendekar perempuan itu tidak disebutkan olehnya. Ada suatu hari dia meminta Paman Ting menceritakan tentang Huang-ho-sam-kui tapi Paman Ting seperti tidak ingin menceritakannya."Aku juga tidak mendengar begitu jelas tapi aku pernah mendengar Paman Ting bercerita tentang Huang-ho-sam-kui. Paman Ting bernama Ting Po. dalam hati dia punya banyak pertanyaan. tapi silat mereka di air jangan dianggap biasa." Gabungan kedua cerita ini membuat hari Kie Su-giok bergetar. hanya dia menutupi nama yang mengalahkan Huang-ho-sam-kui. Paman Ting sangat hafal dengan cerita itu. "Apakah pendekar perempuan itu adalah ibuku? Karena ibu asuh penah mengatakan bahwa ibuku sangat mahir di atas air. Dia sudah lupa cerita tentang Huang-ho-sam-kui. tidak disangka hari ini dia bertemu dengan dua orang diantara Huang-ho-sam-kui. Sekarang dia teringat kembali cerita Paman Ting sewaktu dia masih kecil. semua sudah diceritakannya. Karena mereka selalu melakukan kejahatan maka semua pun menjuluki mereka Huang-ho-sam-kui. Sebenarnya orang itu adalah pahlawan perempuan. Coh Thian-su pun seperti Kie Su-giok." Ini adalah cerita tentang Huang-ho-sam-kui yang didengar Kie Su-giok dari Paman Ting. Mereka paling ahli melubangi perahu dagang yang lewat kemudian mereka dikalahkan oleh seorang pendekar yang lebih hebat. kata Paman Ting walaupun ilmu silat mereka biasa-biasa saja. . akhirnya Paman Ting hanya bercerita sedikit. dia adalah penjahat kelas kakap dan bersahabat dengan ayahnya. segera Coh Thian-su teringat ke masa lalu. dia adalah pelayan keluarga Kie. tapi semua itu masih sedikit.

dia bisa mengemudikan perahu itu juga belajar dari ibunya. karena dia mendengar suara siulan itu tapi suaranya lebih kecil dari yang tadi.. Ayahnya tidak jjgngijinkan dia berhubungan dengan keluarga Kie. tapi.Dari pembicaraan antara ayahnya dan ibu tirinya. Hiat-kun juga penuh dengan pikiran karena itu dia tidak merasa tiba-tiba semua menjadi terdiam. Katanya pak tua Kie sifatnya aneh. apakah cara berpikirku dengan dia sama?" Mereka berdua banyak pertanyaan tapi tidak berani saling membuktikan. Yang hendak dia katakan adalah: mengapa itu seperti siulan Hui-thian? Dia takut Kie Su-giok bertanya terus." Yang lain belum sempat dia katakan. Sekarang dia tahu satu hal." Dia sangat senang sekaligus terkejut. "Mengapa semua begitu tepat? Tapi setelah dipikir-pikir orang tua laini juga tidak salah. Dia menghubungkan beberapa hal. suaranya terpotong. Hubungan seperti apa? Coh Thian-su tidak tahu.. Kie Su-giok langsung meloncat dan berkata: "Kali ini apakah aku salah dengar lagi? Ini adalah. ibu tirinya sangat mahir di air.. ibu Kie Su-giok karena suaminya meninggal kawin lari dengan kekasih lamanya. suara itu mengejutkan mereka. dia tahu antara ibu tirinya dengan keluarga Kie mempunyai suatu hubungan. Kang Hiat-kun juga keluar mendengar siulan itu.. mereka beradu pandang. Hiat-kun . Tapi dia tidak berani terus berpikir. Coh Thian-su juga terkejut dan berkata: "Aku dengar. untung dia tidak meneruskan pertanyaannya. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara siulan yang panjang. Coh Thian-su melihat dia seperti kebingungan. dia hanya tahu ibu tirinya tidak ingin bertemu dengan Ting Po. Waktu kecil ayah sering bercerita tentang orang-orang persilatan tapi jarang bercerita tentang Kie yan-gan.

" Kata Kie Su-giok. ilmu silatmu lebih tinggi. "Coh Toako. aku dengar sepertinya bukan. apakah benar?" Kata Kie Su-giok. Kalau tidak bertemu dengan musuh yang kuat.. orang yang bersiul umurnya pasti lebih tua dari Hui-thian. . kali ini aku tidak akan salah. mungkin kau merindukan seseorang dan menyangka siara ini adalah suara dia. "Siapa bilang itu siulan dia?" Coh Thian-su terkejut dan bertanya: "Dia itu siapa?" "Itu adalah siulan Paman Ting. aku harus mencari Paman Ting!" Benar benar.menggelengkan kepalanya." "Tapi siulan itu semakin lemah kita bisa mendengar lagi. mengapa siulan Paman Ting begitu lemah. "Di dunia persilatan banyak orang aneh. apakah Paman Ting bertemu dengan musuh yang kuat?" "Tapi siulan itu tidak terdengar lagi tapi. Hiat-kun tahu Coh Thian-su ingin bertanya siapa yang bersiul." Jawab Coh Thian-su. Kata Hiat-kun tertawa: "Adik Giok. pasti dia sedang bertarung dan tenaganya sudah habis." "Apakah benar?" tanya Coh Thian-su. cepat ke pinggir.. Aku sudah tahu siapa yang bersiul. pengalamanmu di dunia persilatan lebih banyak. Tapi ini bukan siulan Hui-thian karena tenaga dalam Hui-thian lebih kuat. Coh Thian-su sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Kie Su-giok. "Aku harus lihat siapa yang bersiul. bila kita punya waktu kita bisa berkenalan dengan mereka." Tanya Kie Su-giok: "Kau mengira aku menyangka itu siapa?" "Kau menyangka itu Hoan Toako. Kie Su-giok langsung berkata: "Cepat. Dan Coh Thian-su tahu bahwa Hiat-kun juga tidak tahu siapa orangnya. tapi kita harus segera pulang. jangan hiraukan suara ini!" Kata Coh Thian-su.

Coh Thian-su memiliki ilmu silat paling tinggi dan pengalamannya sudah banyak. walaupun jurang sangat dalam tapi tidak menjadi masalah untuk mereka. Di dekat jurang adalah pohon-pohon cemara. dia menggunakan ilmunya untuk melindungi diri . merambat ke arah pepohonan. Dari siulannya jelas dapat diketahui tenaga dalamnya sangat kuat. dekat dinding jurang ada sebuah cemara tua. Coh Thian-su sangat terkejut dalam hati dia berpikir. kita harus menolongnya!" Suara siulan datang dari gunung sebelah selatan. 'Ting Po adalah penjahat kelas kakap. sampai di depan ada jurang menghalangi jalan mereka. bulan sabit sudah muncul. Coh Thian-su melihat pohon-pohon bergoyang tapi tidak ada angin.Dalam hati penuh pertanyaan. Segera dua telapaknya berputar. "Hati-hati!" Kata Coh Thian-su. Bertemu dengan orang yang sudah mati Kata Coh Thian-su: "Bila dia adalah Paman Ting. Jarak antara gunung dan sungai sekitar 1 hingga 2 kilometer lagi. hari sudah mulai gelap. sudah tidak terdengar siulan lagi. Kalau begitu lawannya pasti orang kuat? Siapakah dia?' Mereka berlarian di tengah gunung. bila rotan yang merambat bergoyang itu tidak aneh tapi bila pohon tidak ada angin bergoyang itu baru aneh. terlihat di bawah cahaya bulan yang tidak begitu terang. Ingin tahu apa yang terjadi? ---ooo0w0ooo-Bab 7 Kecelakaan Hidup atau mati Kembali lagi ke semula Kebencian dan kebaikan bagai asap A. Dia berlari ke depan melihat sekelilingnya dan mendengarkan suara. apakah dia sudah mengalahkan musuh? Atau malah terluka berat? Sehingga tidak bisa membuatnya bersiul. Tiba-tiba mendengar siulan aneh yang membuat orang was-was. Sekarang tidak terdengar lagi suara siulannya. Dia mendengar ada suara dari hutan. di dalamnya banyak rotan liar.

Jurus mereka kadang seperti elang yang sedang berputar-putar di langit. dia berteriak: "Betul. walaupun hanya bertemu satu kali pada waktu kecil. mereka mengikuti Coh Thian-su masuk ke dalam hutan. Kelihatan Ting Po berada di bawah tekanan mereka. Coh Thian-su mempercepat langkah kakinya. Mungkin bila aku yang bertarung. 'Benar. kadang seperti seekor harimau sedang tiarap. Ting Po yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Di dalam hutan tidak ada apa-apa hanya ada beberapa ekor burung yang terkejut dan mereka terbang dari sarang mereka. Dalam hati Coh Thian-su berpikir. Batu pun ada yang beterbangan. tapi Coh Thian-su tahu bahwa dia adalah Ting Po. dia terkejut.dan berlari masuk ke dalam hutan. bila dia manusia ilmu meringankan tubuhnya tentu sangat tinggi sekali' Belum habis berpikir mereka sudah keluar dari hutan pohon cemara. suaranya seperti angin ribut. Berdiri di tempat tinggi dan berteriak: "Di sana ada orang bertarung! Nona Kie. dalam lingkaran puluhan meter angin berhembus sangat kencang. Tiap jurus sangat ganas. 'Pohon bergoyang tapi tidak ada angin. kami akan segera membantumu!" Di bawah gunung ada seorang pak tua yang sedang bertarung dengan 2 orang yang tinggi dan besar. Coh Thian-su sudah melihat beberapa jurus. Yang bertarung dengan Ting Po seperti dua orang kakak beradik. Tapi karena mereka ingin menolong Paman Ting. karena dia diserang terus oleh musuh maka dia tidak mempunyai waktu untuk bersiul. paman kau jangan takut. Di depan terbentang tanah datar dan luas. apa aku salah lihat atau apakah ada tupai yang melompat membuat pohon bergoyang? Aku berharap tadi adalah tupai. Di dunia persilatan ada pantangan: bertemu hutan jangan masuk.' . Hiat-kun dan Kie Su-giok sudah mencabut pedang untuk melindungi diri. mengapa tidak ada bayangan seorang pun?" Coh Thian-su juga terkejut dalam hati dia berpikir. cepat!" Kie Su-giok ikut naik ke atas batu dan dia melihat sesuatu. dia adalah penjahat kelas berat yang menggemparkan dunia persilatan. dalam 10 jurus pasti sudah kalah. Mereka mendengar ada suara lagi tapi seperti suara angin. Kata Kie Su-giok: "Coh Toako. itu Paman Ting. Sekarang Coh Thian-su baru tahu mengapa tidak terdengar suara siulannya lagi. mereka melupakan pantangan ini.

mengapa menjadi menyimpang?" Sebenarnya Ting Po ingin mengelak dari pukulan orang iiu walaupun tubuhnya miring ke pinggir. Ini pun di luar dugaan Ting Po. Mereka berdua adalah saudara kembar. hatinya berdebar-debar.Walaupun mereka bertiga sama-sama turun tangan belum tentu bisa membantu Ting Po tapi dalam keadaan seperti itu. tapi kali ini perkiraan mereka meleset. Karena mereka kembar. Padahal tenaga Ting Po sudah terkuras habis. orang itu terguncang hingga mundui beberapa langkah dan hampir jatuh. Dua pasang tangan beradu. cepat lari! Jangan hiraukan aku!" Kata-katanya belum selesai. pikiran mereka sama. Di antara mereka ada yang berkata "Ting Po. tapi pukulan itu ternyata meleset. walaupun yang satu menggeleng yang satu mengangguk . Sang kakak mengangguk sang adik menggelengkan kepala. kau adalah teman kami meski tidak dekat. Hal ini tidak disangka oleh Ting Po juga dua bersaudara kembar ini. dia takut tidak sempat menolong Paman Ting. walaupun satu lawan satu Ting Po tetap berada di atas angin. Kepalan tangan orang itu mengenai pohon cemara dan pohon itu patah menjadi dua. Mereka dengan cepat berlari ke arah Ting Po. di antara mereka ada salah satu yang sudah melompat tinggi dan menyerang Ting Po. Ting Po merendahkan tubuhnya dan memiringkannya. tapi dia tetap harus menyambut pukulan satu orang lagi. Mari ke sini untuk sekalian menjemput kematian kalian!" Yang berlari terdepan adalah Coh Thian-su. Kie Su-giok masih tidak bisa melihat dengan jelas. cara berpikir mereka samn dan mereka sangat kompak. matanya bersorot aneh. Kie Su-giok juga ikut di belakangnya. Apakah dia kuat menyambut pukulan itu? Dia tidak begitu yakin. tapi Ting Po sangat terkejut dan berkata' "Aneh. Ting Po lebih takut lagi dan berkata: "Nona. Mereka saling pandang. tapi tidak mungkin tergetar sampai mundur bagitu jauh. pukulan Sang kakak pun meleset ini membuat Ting Po mempunyai kesempatan untuk membalas. sekarang yang datang menolongmu hanyalah 3 orang anak kecil. tidak ada orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. dia mengira paman Ting yang menghindar. Kie Su-giok tidak jelas melihat hanya mendengar ada suara. Ting Po membalikkan tangan tepat menyambut serangan adik dari belakang.

mungkin sang kakek juga akan ke sini. Tapi Mao-eng ini lain daripada yang lain.tapi pikiran mereka sama. Si kembar ini sering memperhatikan gerakan burung itu menangkap ular. kau punya musuh yang begitu kuat dari mana?" "Mereka adalah Ji-pak-siang-eng (sepasang elang dari utara). mereka terkena serangan diam-diam." Setelah mengatakan ini mereka kabur. mereka lebih besar dari burung hantu biasa dan sifatnya pun lebih ganas. tapi dia sudah menebak. sang adik bernama Sa Touw-la. mereka harus mengaku kalah dan memutuskan tidak akan bertarung lagi. tiba-tiba kakinya seperti ditusuk jarum. secara bersamaan mereka berkata. dan tahu mereka mereka bisa menebak siapa pelakunya. kami mengaku kalah. dia merasa jalan darahnya seperti digigit oleh semut. "Orang she Ting. tapi bila dipikir lagi Kie Su-giok adalah cucu dari Kie Yan-gan. Kejadian sebenarnya adalah ketika sang kakak mengayunkan tangannya. Kie Su-giok terkejut dan berlari ke arah Ting Po. Sedangkan yang menjadi adik begitu mengerahkan tenaga dalam memukul. Saudara kembar ini berpikir Kie Yan-gan sudah datang. burung hantu itu senang sekali makan daging ular. sang kakak bernama Sa Touw-tie. kau punya andalan di belakangmu. pulau itu dekat dengan sebuah pulau yang bernama Coa-to (pulau ular). karena burung ini langka dan hanya ada di pulau itu. katanya mereka lahir di pulau Maoeng (burung hantu). Tidak kusangka hari ini aku bertemu kembali dengan mereka. Semoga andalanmu panjang umur dan kau bisa menjadi pelayannya seumur hidup. . Mereka ternyata telah terkena Bwee-hoa-ciam dan mungkin terkena lemparan senjata rahasia. dan akhirnya pukulan tangannya nyelonong mengenai pohon cemara. 20 tahun lalu sewaktu aku masih menjadi penjahat. kemudian berkata. Kie Su-giok dan Hiat-kun. Sebenarnya Ting Po dapat membuat mereka betambah marah tapi dia tidak berani bertindak berlebihan. bila ada cucunya di sini." Ji-pak-siang-eng. tubuhnya tidak seimbang dan dia terdorong ke depan. Di pulau itu banyak ular beracun. "Paman Ting. Tenaganya langsung menjadi berkurang setengah. Ting Po tidak tahu mereka sedang memikirkan apa. Tapi mereka masih belum tahu. Tadinya mereka memandang sebelah mata kepada Coh Thian-su. she Sa. Lama-lama mereka berlatih silat mencangkok sendiri gerakan menyerang seperti burung hantu itu. Kecuali Kie Yan-gan tidak ada yang sanggup menyerang mereka dengan diam-diam dan membuat mereka tidak merasakan kehadirannya. Kie Su-giok pernah mendengar kakeknya menceritakan tentang mereka. pernah berselisih dengan mereka.

Kie Su-gie berkata: "Cici Hiat-kun adalah orang yang sering diceritakan oleh Wie Toako. waktu itu kau masih ingusan." Bila dalam keadaan biasa Ting Po bertemu dengan Coh Thian-su dan Hiat-kun dia pasti senang dan sekaligus terkejut." "Aku ingat. Kie Yan-gan ingin membasmi mereka tapi tidak ada kesempatan. Hati Ting Po bertanya-tanya. dia kemudian berkata: "Siapa orang ini?" "Ting Cianpwee. Apakah aku harus aku menjelaskan bagaimana bisa bertemu dengan mereka?" . tapi ayahku sudah meninggal setengah tahun yang lalu. dia tidak mempunyai waktu untuk bertanya. aku ingin mengajak mereka ke rumah. 'Putra Coh Kim-sung dan putri Kang Cu-goan memang ilmu silatnya lumayan." Ting Po masih heran dan bertanya-tanya. jadi kita ada tamu. aku adalah orang yang suka kebersihan. apakah mereka yang menyerang si kembar dengan sembunyi-sembunyi?' Dia melihat Coh Thian-su kemudian Hiat-kun." "Kau salah." Mereka sedang bergurau dan ketika Hiat-kun datang. Kata Kie Su-giok: "Ji-pak-siang-eng begitu lihai. apakah kau tidak ingat?" Kata Coh Thian-su. umurku sudah tua dan tidak ingat lagi." Kata Ting Po: "Apakah ayahmu adalah Kang Cu-goan? Kemudian berubah nama menjadi Kang Guan-yang?" "Benar. dimana kita pernah bertemu?" Kata Kie Su-giok: "Dia adalah putra Coh Kim-sung dari Yang-ciu. kau kan pernah berkata kepadaku bahwa kau pernah ke rumahnya. tidak mungkin aku beringus pada saat bertemu dengan tamu. "Kecuali kalian. masih banyak yang ingin dia tanyakan. tapi karena sekarang ada urusan yang lebih penting lagi. kita pernah sekali bertemu. dia penasaran kemudian bertanya. siapa lagi yang datang bersama kalian?" Jawab Kie Su-giok: "Hanya ada mereka berdua tidak ada orang lain lagi. Ting Po bengong dan berkata: "Maaf.Selama 20 tahun ini si kembar mempunyai predikat yang buruk. tapi mereka takut dan kabur oleh kedatangan kami.

Dan Kie Su-giok bertanya kembali: "Memangnya kau berharap aku bertemu dengan siapa?" Ting Po ingin menjawab. tapi. Jawab Ting Po: "Aku tidak tahu." "Tapi apa?" "Tidak apa-apa. Tuan Besar jadi khawatir. apakah kau mengira kakek mengikutiku? Dan penjahat itu kabur karena nama besar kakek?" Kata Ting Po: "Aku kira kakekmu tidak akan kemari." "Mengenai apa?" Tanya Kie Su-giok.. yang sedang dipikirkan oleh Ting Po bukan kakeknya tapi orang lain.." Kata Kie Su-giok.Kata Ting Po. kita tidak perlu mencari tahu siapa orang itu." Tapi dia tidak tahu. hanya merasa mereka kabur setelah merasakan ada sesuatu yang aneh. Nona!" "Mengapa kau bisa berada di sini?" "Karena Nona sudah lama tidak pulang. sehingga dia tidak menjawab pertanyaan Kie Su-giok. "Ya." "Mereka sudah kabur. seperti sedang memikirkan sesuatu. "Tidak ada. aku ingin bertanya satu persoalan. maka . segera dia tertawa dan berkata: "Paman Ting. mengapa kau bertanya seperti itu?" Kie Su-giok melihat Paman Ting dengan aneh. Kie Su-giok sangat pintar. "Apakah sewaktu kalian naik gunung apa bertemu dengan seseorang?" Tanya Ting-po. orang itu pasti kakek." Tapi Ting Po merasa saatnya belum tiba jadi sulit untuk menerangkan kepada Kie Su-giok." Kata Kie Su-giok: "Kalau begitu ada seseorang dengan ilmu yang tinggi telah membantu kita? Kalau benar. "Orang ini paling dekat denganmu tapi kau tidak kenal dengannya. "Silahkan. aku ingin mendengar ceritamu tapi ada urusan lain yang lebih penting yang ingin aku tanyakan kepadamu. sepertinya 2 penjahat itu berlalu bukan karena ketakutan.

" "Di dunia. aku sedang dalam perjalanan ke Lok-yang." Kie Su-giok sangat senang dan menjawab: "Kau kira aku tidak akan bertambah dewasa?" "Benar-benar sudah menjadi gadis dewasa." Kata Kie Su-giok." Kata Kie Su-giok: "Aku tidak akan membalas dendam sendiri. kali ini aku pulang untuk berkumpul kembali dengan Wie Toako dan bersama-sama dengan Cici Hiat untuk pergi mencari kedua penjahat itu. ternyata sudah terjadi. tidak mungkin dia bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee. aku sendiri melihat dia membantu Hie Tiong-gwee untuk berhadapan dengan Wie Toako." Kie Su-giok menceritakan kejadian yang dia alami di Lokyang secara singkat kepada Ting Po." "Benar. kau tidak bertemu dengannya?" Ting Po tertawa dan berkata: "Bila bertemu dengannya. yang kita perkirakan tidak akan terjadi. aku tidak percaya. sekarang kau sudah bertambah dewasa. ini sudah menjadi bukti nyata. aku lebih kenal orangnya." Kie Su-giok tertawa: "Aku juga tahu kakek mengkhawatirkan Toako. dan dia adalah pembunuh ibu Hiat-kun." Kata Kie Sugiok: "Nama Kiam-ta lebih terkenal daripada Hie Tiong-gwee." Kata Ting Po: "Aku tidak mengatakan tidak mungkin tapi mengenai Tuan Kiamta. mengenai Kiam-ta kau harus bertanya dulu kepada kakek. di perjalanan aku mendengar dia membuat keributan di rumah Hie. tapi bila Tuan Kiam-ta bersekongkol dengannya. aku tidak akan bertanya kepadamu " Kata Kie Su-giok dengan tertawa: "Aku mengira dia sudah berada di rumah. bila Wie Toako sudah pulang ke . Ting Po sangat terkejut dan berkata: "Tidak kusangka Hie Tiong-gwee orang macam itu. Ting Po tertawa dan berkata: "Nona. kakekmu lebih tahu. jangan sembarangan membalas dendam kepadanya. Masalah Kiam bersaudara.menyuruhku ke Lok-yang untuk mencarimu. apakah benar?" "Benar.

tapi memang aku harus memulihkan tenaga dulu baru bisa turun gunung dan mencarinya. "Mari kita pulang." Ting Po terdiam. cepatlah pulang! Kakek sedang menunggumu." "Apakah temanmu yang dulu termasuk dalam golongan hitam?" "Nona.. "Benar. Tolong bantu aku untuk meminta ijin kepada Tuan Besar. dalam hati dia berpikir. Tapi Aku masih mempunyai urusan pribadi." Kata Kie Su-giok. tapi kau pun harus turun gunung. Tolong beritahu Tuan Besar." "Aku bukan penakut." "Masalah apa?" Tanya Kie Su-giok." "Maaf Nona. bila sudah selesai. 2 penjahat itu tidak akan rembali Nona. 'Mungkin Siauya Hoan tidak pulang ke rumah. sekarang kau yang jadi banyak bertanya kepadaku.. "Hanya bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak bertemu. paling-paling 2 hingga 3 hari. bila tidak ingin memberitahu. kau pulang saja dulu!" Kata Ting Po. aku akan segera pulang. apakah kau perlu jatuan kami untuk menjagamu?" "Tidak perlu harus sampai seperti itu. Kami ingin minum-minum beberapa gelas arak. . aku tidak bisa mengantarmu pulang. hari ini aku baru mengetahui kau sudah akan pulang. "Paman Ting. apakah kalian memang sudah berjanji?" "Aku tidak punya teman segila itu. kami akan segera pergi." Kie Su-giok bertanya: "Kau akan ke Lok-yang untuk menjemputku. mungkin Wie Toako sudah menunggu kita pulang. kau sudah besar. pasti sudah bicara dengan kakek." Kata Ting Po." "Baiklah. mengapa masih ada utusan lain? "Benar.' Tapi kecurigaan ini tidak dia kemukakan. kau tidak ingin pulang?" "Aku masih ada urusan.rumah." Kie Su-giok terkejut dan berkata: "Aku lupa kau sudah bertarung dan sudah lelah.

Jawab Coh Thiansu: "Aku sedang memikirkan Paman Ting. menurutku Paman Ting tidak lelah seperti yang kau kira." Sesudah berpikir seperti itu." "Katakan saja!" Kata Kie Su-giok." "Dia sendiri yang mengatakannya. apakah kau menyangka dia berbohong?" "Mungkin dia sengaja merendah. dia langsung turun gunung. "Coh Toako. untuk minum arak di gunung itu?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Mungkin tidak minum arak. nanti kau anggap aku terlalu banyak curiga. mengapa tidak melalui jalan besar melainkan lewat pegunungan?" "Karena dia sudah berjanji dengan Ji-pak-siang-eng (sepasang elang dari utara ). menurutmu apakah Paman Ting membohongiku?" Kata Coh Thian-su: "Mungkin Paman Ting tidak ingin kau tahu keadaannya saat itu." "Aku tidak memperhatikannya. tanya Kie Sugiok. "Asalkan tenaga dalam Paman Ting kembali separahnya. kau sedang memikirkan apa? Kau tidak bertarung dengan 2 penjahat itu tentunya kau tidak lelah seperti Paman Ting bukan?" Kie Su-giok mencari teman mengobrol.. mereka tidak lenginap lagi di penginapan. Dua hari kemudian mereka akan tiba di rumah Setelah naik perahu. apakah sudah berjanji dengan teman minum arak di gunung. tapi tawanya menyimpan sesuatu.Sehabis bicara dia langsung duduk bersila. walaupun dia mengatakan tidak. Tapi aku segan mengatakannya." "Apakah menurutmu dia sudah berjanji dengan temannya. Perahu mereka masih berada di pinggir sungai. mereka membiarkan perahu itu berjalan lengikuti aliran sungai. "Apakah kau tidak memperhatikan? Begitu kau bertanya kepada dia. tidak ada eorang pun yang dapat melukainya. tapi ada satu hal yang janggal. bukankah kita tidak salah lihat?" Kata Coh Thian-su. Kie Su-giok pun ingin cepat-cepat pulang. . sebenarnya dia harus menjemputmu di Lok-yang. tapi berjanji dengan teman mungkin saja.. Coh Thian-su masih terdiam.

"Karena pada saat bertarung. bersiul itu harus memakai banyak tenaga. dia langsung sadar dan berkata: "Kau curiga siulan itu adalah siulan minta tolong?" "Benar." Kie Su-giok masih ragu dan berkata: "Apakah benar-benar kaburnya Ji-pak-siang-eng." Kie Su-giok pun berpikir seperti itu dan berkata: . dia masih bisa beberapa kali bersiul dengan panjang." "Mengapa kau bisa menduga seperti itu?" Tanya Kie Su-giok."Kita tadi hanya melihat mereka bertarung. begitu diingatkan oleh Coh Thian-su. dia tahu satu lawan dua. tapi yang datang malah musuh? "Aku kira. apakah kau merasa tidak aneh?" Walaupun pengalaman Kie Su-giok di dunia persilatan masih sedikit. Apakah dia Hui-thian?" Tapi walaupun Hui-thian ilmu silatnya lebih tinggi dari Ting Po tetap dia tidak akan mampu mengejutkan mereka hingga kabur. kecuali kakek siapa yang mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi?" "Aku tidak dapat menebak. apakah hanya dia sendiri yang akan bertarung untuk menepati janji?" "Kalau kau mengira dia sebenarnya berjanji dengan teman. tapi dia sangat cerdik dan cekatan." Dalam hati Coh Thian-su berpikir. mengapa dia harus menghabiskan banyak tenaga? Pegunungan itu jauh ke mana-mana. bila bukan minta tolong. bila kau kembali pun tidak akan bisa bertemu dengan mereka. tapi tidak tahu apakah mereka sudah berjanji bertarung di sini? Paman Ting pengalamannya sangat banyak dan pintar." Kata Coh Thian-su: "Sudahlah tidak perlu memikirkan hal ini terus. karena orang itu adalah teman bukan musuh. sepertinya mereka diserang secara sembunyi-sembunyi oleh seorang pesilat tangguh. Kata Kie Su-giok: "Mari kita kembali lagi untuk melihat siapa orangnya. dia tidak akan bisa menang. mengapa dia tahu akan ada yang bisa menolongnya?" Tidak dipungkiri lagi. temannya sudah datang. Ting Po sudah berjanji dengan seseorang yang iln>u silatnya lebih tinggi dari dia." "Mereka tidak ingin bertemu dengan kita.

Tebakan Coh Thian-su sedikitpun tidak meleset. sekarang dia sudah pulih kembali kondisinya. dia sudah tiba di kota kecil itu. dan karena sudah tahu mereka baik-baik saja maka dia mencari penginapan untuk bermalam. tadi tidak selelah seperti yang dia katakan. Dia tidak dapat menikmati keindahan alam sekitarnya. "Dia adalah seorang pengemis kecil. Mereka tidak mengalami bahaya. tapi sekarang sudah pukul 3 subuh. sebenarnya aku tidak mengijinkan dia masuk. Dia berjanji dengan orang itu pukul 2 subuh. terlihat begitu sedih." Perahu terus berjalan mengikuti arus air. Dia melihat bulan yang sudah berada di sebelah timur." . tapi memancarkan keadaan yang berbeda. Bagaimana dengan janji ini? Hari itu sebelum matahari terbenam. bulan menyinari pegunungan. Sinar bulan menyinari hutan pohon cemara. Begitu dia masuk ke kamar dan ingin mencuci muka. pelayan penginapan bertanya: "Apakah tuan yang she ting?" Dia terdiam kemudian berkata: "Benar. dia masih duduk bersila. dan orang itu belum sampai. dalam perjalanan dia sudah tahu keadaan Wie Thian-hoan dan Kie Su-giok dan sudah tahu mereka telah membuat keributan di rumah Hie dan mereka lari bersama-sama keluar dari rumah Hie. apakah kau mau menerima suratnya?" "Siapa yang mengantarkan surat ini?" Tanya Ting Po."Di dunia ini yang mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi dapat dihitung dengan jari. menandakan malam sudah mendekati pukul 3 subuh. Kata pelayan penginapan itu: "Ada yang mengirim surat kepadamu. mengapa kau bisa tahu?" Karena ini adalah kota kecil. tapi pikirannya terombang-ambing." Ting Po baru mengerti mengapa dia tidak diijinkan masuk "Tolong panggilkan pengemis kecil itu masuk. setelah bertarung dengan Ji-pak-siang-eng. nanti akan kutanyakan kepada kakek. tapi karena dia menjelaskan wajah tuan dengan tepat karena itu akau masuk dulu untuk menanyakannya. Ting Po memang merasa lelah. tamu-tamu biasanya tidak perlu mendaftar di depan. air mengalir.

karena semua penginapan hanya ada di jalan ini. Surat itu dibukanya.Pengemis itu masuk. dia hanya melihat sebentar. Ting Po hafal dengan tulisan ini. Ting Po bertanya lagi: "Kau tidak bisa melihat wajahnya.” Dengan senang pengemis itu meninggalkan penginapan. aku tidak marah kepadamu. aku juga belum pernah melihat orang ini. Jantung Ting Po berdetak lebih kencang. tangannya pun gemetaran. wajahnya tidak terlihat. ayahku yang mengajarkan hal ini. setelah mendapat uang aku harus melakukan pekerjaan itu. ambil uang ini untuk membeli makanan. dia berkata bila nanti bertemu dengan orang dengan ciri-ciri sepertimu yang akan menginap. apakah orang ini jahat atau tidak. "Tidak mungkin dia! Tidak mungkin!" "Aku akan bicara berdua dengan pengemis ini." "Kalau begitu mengapa kau mau mengantarkan surat ini?" "Karena dia memberiku uang. Sebenarnya dia tidak perlu bertanya lagi karena dia sudah tahu siapa yang menulis surat itu Hanya dia sedikit ragu-ragu karena orang ini sudah dianggap 'mati'. "Orang yang memberikan surat ini seperti apa?" "Dia memakai topi kulit yang lebar dan memakai jubah. dengan tangan kotor dia memberikan sepucuk surat untuk Ting Po. kau tidak apa-apa?" Tanya pengemis itu. Di dunia persilatan siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan Paman Ting kecuali dia. Apakah orang ini jahat?" dengan gemetar pengemis itu bertanya. Di atas amplop tertulis 'Harus diterima oleh Paman Ting". dia berumur 12-13 tahun. Surat ini hanya menuliskan tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Ting Po pada . kalau begitu dia adalah temanmu?" "Dia adalah kenalanku. aku disuruh masuk ke penginapan tersebut dan langsung memberikan surat ini kepadamu. "Paman Ting. silahkan tinggalkan kami. tidak ada hubungannya denganmu. Aku terus menunggu di jalan ini. "Kau jangan takut." Kata pengemis kecil itu. aku hanya ingin tahu kapan dia memberikannya kepadamu? Dan apa pesannya?" "Kira-kira 1 jam yang lalu. kemudian wajahnya menjadi pucat. apakah kau bisa melihat ada bekas luka di belakang telapak tangannya?" "Benar." Kata Ting Po kepada pelayan itu.

Kie Yan-gan sangat gelisah. ternama Kie Lek-beng. kemudian mayatnya diambil dan wajahnya sudah hancur karena limakan oleh ikan tapi luka di tubuhnya masih bisa terlihat. Ada juga yang datang ke rumah Kie Yan-gan menanyakan pembunuhan yang dilakukan oleh putranya. Gadis itu cantik jan sangat pintar. waktu itu Siauyanya baru menikah. Dulu dia sering menemani Siauyanya menulis walaupun sudah 10 tahun lebih dia masih bisa mengenali tulisan Siauyanya. berita ini membuat Kie Yan-gan marah sekaligus sedih. Tapi Kie Lek-beng sudah lama meninggal. Kelakuan Kie Lek-beng semakin menggila. dan itu hanya ada 1 orang. Kabar kematian Kie Lek-beng yang didapat oleh Ting Po. Siauya tiba-tiba menghilang. 'ertarungan mereka di gunung di dekat sebuah sungai. pengantin perempuannya juga berasal dari keluarga pesilat. dia sudah mencari putranya kemana-mana tapi tetap tidak ada kabar berita. Luka Siauya paling sedikit ada di 20-30 tempat. Dia dipaksa meloncat £ sungai. Putranya menghilang dan sang ayah. karena teman Ting Po sendiri yang menyaksikan Siauya diserang ileh 5 Bu-tong Ciampwee. Berita ini mengatakan bahwa Kie Lek-beng berteman dengan orang jahat dan sudah banyak pendekar yang terluka di tangannya. «ataupun dia tidak melihat mayat Siauyanya tapi Ting Po percaya kepada cabar itu. Keadaan Kie Lek-beng tidak menentu. beberapa kali ada yang memberitahu kepada Kie Yan-gan bahwa putranya berada di suatu tempat. Pendekar See-ouw yang bernama Coh Liang Ji juga dibunuh. dia adalah putra Kie Yan-gan. Luka itu karena 'iserang oleh senjata Bu-tong. Begitu Bu-tong Cianpwee . Tadinya dia tidak percaya.pukul 2 dini hari. dan ada juga yang kehilangan anak perempuannya. Semua orang memuji mereka adalah pasangan yang serasiTapi pada saat masih bulan madu. Walaupun tidak ada yang melihat tapi semua orang tahu bahwa pelakunya adalah Kie Lek-beng. ilmunya memang nomor satu di dunia persilatan tapi dia mempunyai sifat yang aneh. terpaksa dia menyuruh Ting Po mencarinya sebab Ting Po lebih banyak kenalan di dunia persilatan. lapi begitu Kie Yan-gan ke sana. Dia sendiri yang mencari tahu kebenaran berita itu 20 tahun sudah berlalu. Setelah 1 tahun lewat baru ada yang memberitahu. Huruf ini adalah ditulis oleh orang yang dia panggil dengan sebutan 'Siauya'. Temannya di dunia persilatan tidak begitu banyak. Kie Yan-gan sangat marah hingga dia jatuh sakit. bayangannya pun tidak tampak.

tetap dia pasti tidak akan mencclakakanku. dalam waktu 20 tahun ini dia benar belum pernah keluar ke dunia persilatan. Begitu melihat Ji-pak-siang-eng muncul di hadapannya dia masih ragu. Tapi bentuk wajahnya tidak berubah. yang muncul malah Ji-pak-siang-eng. setelah 20 tahun ini dia menerima surat dari 'orang mati' ini. "Aku tidak boleh mencurigai Siauya. Apakah kau tidak apa apa?" Orang yang berada di hadapannya. apakah ini adalah Siauyanya? . dia ingin tahu apakah Siauya akan keluar? Dan dia akan berpihak kepada siapa? Walaupun Ting Po tahu resiko dari taruhan ini. Bekas luka di telapak tangan yang ditusuk oleh pedang. Tiba-tiba dia merasa ada angin yang lewat. ini sudah diketahui dari mulai si pengemis kecil itu. tadinya dia tidak percaya tapi sekarang harus percaya. Ting Po adalah orang yang melihat Kie Lek-beng tumbuh besar walau bagaimana pun dia sangat menyayangi Kie Lek-beng. matanya sudah penuh dengan air mata. tapi Ting Po belum bertemu dengan Siauya nya.melihat mayat itu aro mereka meninggalkan tempat itu. apakah benar Siauya yang membantunya mengalahkan Ji-pak-siang-eng? Apakah Siauya memiliki ilmu silat yang begitu hebat? Sekarang sudah jam 3 subuh." Tapi dia masih ada sedikit keraguan. Dia sudah banyak mendengar kabar tentang Kie Lek-beng. bila dia jahat seperti yang disangka oleh orang lain. "Apakah Siauya belum mati? Apakah yang dilihat oleh temanku itu benar atau tidak? Tapi huruf di surat ini tidak palsu. Sekarang dia sudah melihat tulisan Siauyanya. Tidak disangka. Semenjak kematian Kie Lek-beng. dia tiba lebih awal di tempat itu. maaf kau menunggu lama. katanya dia berteman baik dengan orang-orang jahat yang namanya busuk di dunia persilatan termasuk Ji-pak-siang-eng. Dia menarik nafas dan sedang memakai ilmu tenaga dalam untuk mengeluarkan suara." Masih dengan perasaan aneh. wajahnya ada bekas luka. apakah Siauya diperalat untuk menipu Ting Po datang ke tempat itu? Begitu dia bersiul untuk minta tolong. Ini membuktikan bahwa Siauya memang sudah meninggal. membuat dia tidak dapat berpikir tapi dia masih beruntung. suara yang dikenalnya berkata: "Paman Ting. Siauya belum muncul. Pertarungan sangat seru.

dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. . tapi dia mempunyai waktu dan tidak perlu terburu-buru bertanya kepada Siauyanya. Siauya percaya kepadaku.Kie Lek-beng takut Ting Po akan terganggu karena sedang mengatur nafas. Paman Ting masih mau bertemu denganku.. setelah lama dia baru keluar dari semak-semak." "Kalau aku tahu Siauya masih hidup.. Hidup Kembali Karena senang Ting Po meloncat dan berteriak: "Siauya." Sekarang Siauya berdiri di hadapannya.. aku akan mencari ke mana pan." Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata: "Aku tahu. apakah benar kau Siauya? Kau belum. benar aku memang terpukul oleh Bu-tong Canpwee tapi mayat yang mereka temukan di sungai bukan mayatku. aku percaya tuan besar pasti akan memaafkanmu. Terima kasih kau masih tertolong. "Siauya.." Ting Po terkejut. hanya ada sedikit yang salah tapi hampir semua adalah kenyataan yang sebenarnya." "Tuan besar percaya kepada isu isu itu. mengapa aku tidak mau bertemu dengan Siauya. kau sudah pulang. ---ooo0dw0ooo--B." Kata Ting Po." Kata Kie Lek-beng: "Menjelaskan apa? Di dunia persilatan sudah banyak berita jelek tentang diriku." Belum habis kata-katanya. ayah sudah tidak menganggapku sebagai anaknya.. aku adalah orang yang sudah mati tidak pantas lagi menjadi Siauyamu. Kie Lek-beng sudah memotong dan berkata: "Terima kasih. asal Siauya bisa menjelaskannya. walaupun dia mempunyai banyak pertanyaam. setelah aku pergi. waktu itu tuan besar menyuruhku mencari. kau boleh menganggapku sudah mati." Dengan tersenyum Kie Lek-beng berkata: "Aku belum mati.. Nanti kalau bertemu dengan ayah pun tidak perlu mengatakan apa-apa. "Paman Ting.

dia pasti akan berubah." Kata Kie Lek-beng: "Aku sudah bukan Siauyamu yang penurut. sebelum meninggalkan rumah juga sudah bukan. Yang salah adalah aku. Siauya!" Kie Lek-beng berkata: "Sekarang menyesal pun sudah terlambat apalagi aku tidak menyesalinya. begitu ada kesempatan dia pasti akan berbuat sesuka hati dan itu tidak aneh. dalam hati dia berpikir. dari kecil sudah dikekang. Paman Ting. di depan tuan besar. di belakangnya kau minum-minum hingga mabuk dan mencuri uang orang lain untuk berfoya-foya dengan pelacur. aku terlalu sayang kepadamu takut kau akan dipukul oleh tuan besar. di dunia ini siapa yang tidak punya kesalahan. jangan nasihati lagi aku!" Ting Po tidak berbicara apa-apa lagi. hanya bisa berdiam beberapa bulan. selalu menutupnutupi kelakuanmu. ikutlah aku pulang. Ting Po yang hanya melihat saja sudah merasa sakit makanya walaupun dia melihat Siauyanya melakukan kesalahan. kau pura-pura menjadi penurut. Waktu aku masih muda juga seperti itu." Ting Po berpikir lagi." Tapi begitu Siauyanya berkeluarga. seharusnya duludulu aku memberi tahu kepada tuan besar. Ting Po menganggap remeh karena dia sendiri dulu adalah penjahat besar." Peraturan di rumah Kie Yan-gan sangat ketat bila putranya melakuan sedikit kesalahan selalu dihukum berat oleh Kie Yan-gan. walaupun kau telah melakukan kesalahan apa pun. Bila tahu kau akan sejahat ini. kelakuannya malah lebih gila lagi. dia tidak ingin memberitahukan ini kepada tuan besar. . Pada waktu Kie Lek-beng masih muda dia sudah melakukan hal yang jahat. Akhirnya dia meninggalkan rumah dan menjadi penjahat yang dibcnci dan disegani oleh orang-orang."Tidak. bila sudah tahu salah. 'Mengapa Siauya jadi begini?' Tanya Kie Lek-beng: "Apakah kau merasa aku telah berubah drastis?" "Tidak. Kadang dia juga kasihan kepada Siauyanya. bagiku kau adalah Siauyaku Dulu aku adalah penjahat yang sudah banyak melakukan kejahatan. dia sudah banyak melakukan kesalahan besar. "Siauya yang malang. bisa sadar itulah sangat bagus. Bila Siauya sudah berkeluarga. 'Kau mengira aku tidak tahu hal sebenarnya? Aku selalu menutupinya. walaupun kau terus mempersalahkan dirimu sendiri tapi iku tetap tidak percaya. Mabuk dan main pelacur adalah hal kecil.

Ji-pak-siang-eng juga kalah olehmu. bagaimana caramu berlatih?" Dengan dingin Kie Lek-beng berkata: "Sudah 20 tahun ini kecuali berlatih silat aku tidak pernah nielakukan hal lain.Walau bagaimana pun sampai sekarang dia tetap tidak percaya kelakuan Siauyanya seperti itu. Memang 5 Cianpwee itu masih hidup. Sepuluh tahun lebih aku diam di rumah batu untuk bermeditasi. baru akan merasa puas. lapi yang paling muda pun sekarang sudah berumur 70 tahun lebih. tapi aku harus memberi selamat kepadamu. 20 tahun ini kau dian di mana?" Dengan dingin Kie Lek-beng berkata: "Di gunung yang lebat dan berteman dengan binatang. Siauya. lebih tepatnya di rumah batu yang tidak ada matahari. saat itu biar bagaimanapun Siauya tidak akan bisa mengalahkan begitu banyak orang. dari kecil dia sering berbohong dan tidak teguh dalam mengerjakan sesuatu. aku pun tidak dapat melihatnya Dmu silatmu sudah lebih hebat dari tuan besar sekarang. buatku sangat senang. dia menatap wajah Siauyanya yang banyak bekas luka. sepertinya dia ingin mengalahkan 5 orang Bu-tong ' flanpwee. tuan besar pun akan terbawa-bawa dalam masalah ini." "Untuk apa?" Tanya Kie Lek-beng. Mereka sebenarnya adalah majikan dan pelayan tapi kenyataannya tidak seperti itu malah seperti ayah berhadapan dengan orang yang sudah tahu kesalahannya (sebenarnya tidak)." Kata Kie Lek-beng: . kelihatannya ilmu silat Siauya kalau hanya untuk membunuh 5 Bu-tong Tianglo yang sudah tua bukan hal yang sulit. 10 tahun bermeditasi baru aku bisa jalan lagi." Ting Po sangat terkejut. Aku juga tidak tahu aku sudah berlatih silat sampai di mana. "Siauya. dia tahu kekurangan Siauyanya. Tapi untuk mengalahkan Ji-pak-siang-eng masih terlalu mudah untukku." Ting Po sangat sedih dan berkata: "Siauya. melihatmu masih hidup. bila dia berbuat seperti itu dunia persilatan akan geger lagi. dalam hati dia berpikir. "Ilmu silatmu maju pesat. Di depan ayahnya dia akan menjadi anak penurut tapi dia tahu Siauyanya sangat baik kadang-kadang bila dia marah dia tidak bisa menguasai diri. kau sangat menderita. 'Melihat cara Siauya bercerita. dia tetap tidak percaya karena dia sendiri yang melihat Siauya tumbuh besar. hatinya menjadi sedih. Murid-murid Butong generasi kedua akan bergabung dengan perkumpulan lain. Walaupun dirinya sendiri yang mengakui. caramu memukul mereka begitu hebat.

namanya Su-giok." "Benar."Aku sendiri menganggap aku sudah mati. sewaktu ia masih di rumah sama sekali tidak pernah membuat kesalahan." Ting Po menarik nafas dan berkata: ." Masih dengan dingin Kie Lek-beng berkata: "Benarkah dia perempuan baik-baik? Mengapa ketika aku sudah mati dia tidak ada di rumah untuk menjaga diri?" "Waktu itu semua orang mengira kau sudah mati.." "Hal apa?" "Siapa perempuan yang memanggilmu Paman Ting?" "Dia adalah putrimu. dia tidak pernah melakukan kesalahan." Dia menertawai kata-katanya.. dia tidak boleh disalahkan. dia lahir setelah kau ninggalkan rumah 3 bulan kemudian. nyonya sangat baik. mana tahu dia adalah anakku?" "Siauya jangan berkata sembarangan. "Apakah nyonya kembali ke rumah orang tuanya. juga bukan mendengarkan nasihatmu. tapi aku tidak akan menceritakannya kepadamu. sebelum menikah aku sering mencari pelacur. tapi aku tidak mau menjadi hweesio. dia tidak tahu harus berkata palagi. aku bersalah kepadanya. Apakah kau tidak mendengar dia gin cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan kakeknya?" Dengan dingin Kie Lek-beng berkata: "Aku tahu dia adalah cucu dari ayahku. Kata Kie Lek-beng: "Paman Ting. aku datang bukan untuk mencari tahu tentang masa laluku. bisa mencari majikan yang Kgitu baik. kau. tapi dia juga bersalah kepadaku. aku hanya ingin tahu satu hal. Ting Po tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya tapi Ting Po nerasa dendam Siauyanya masih begitu dalam. yang aku tahu dalam waktu setengah tahun nyonya diam di rumah kita. aku tidak tahu." Dengan dingin Kie Lek-beng bertanya: "Apakah dia benar-benar pulang ke rumah orang tuanya? Kau jangan mengira selama 20 tahun ini aku bertapa di gunung jadi tidak tahu apa-apa?" Kata Ting Po. aku pun tidak seperamu. nyonya ingin kembali ke rumah orang tuanya. tapi Siauya.

" Ting Po tertawa dan berkata: "Siauya. tapi Siauya juga jangan terlalu curiga. siapa pun yang salah. juga tidak ada laki-laki asing yang bertemu dengannya dan tiba-tiba dia menghilang. nyonya tiba-tiba menghilang tapi bukan kawin lari dengan laki-laki lain.. Tuan besar mengkhawatirkan dia dibawa kabur oleh musuh.. sekarang 20 tahun sudah berlalu. nyonya tidak keluar dari kamar. Paman Ting aku sudah membunuhmu." Ting Po sangat terkejut dalam hati dia berpikir. dia sangat mirip denganmu." jelas Ting Po. 'Kelihatannya dia tahu lebih banyak mengenai nyonya daripada aku' "Aku tidak berani menutup-nutupinya."Siauya. dari mana dia bisa punya musuh?" "Kata tuan besar. apakah kau tidak bisa melihatnya?" Kie Lek-beng tersenyum dan berkata: "Aku kira dia lebih mirip ibunya. tapi yang salah pertama kali adalah Siauya. paling sedikit kau sudah mengakui dia adalah putrimu karena dia mirip denganmu. kau terlalu banyak musuh di luar dan mereka ingin membalas dendam kepada istrimu. ada pepatah yang mengatakan: pejabat yang baik pun tidak dapat membereskan masalah keluarga. mengapa kau masih curiga bahwa dia bukan putri kandungmu?" Jawab Kie Lek-beng: "Bila aku tidak melihat bocah ini tidak mirip denganku." ." "Aku adalah anak durhaka. aku tidak marah. ayah pasti berpihak kepadanya." Tanya Ting Po: "Sebenarnya ada apa di balik bilangnya nyonya? Sampai sekarang aku belum tahu sebab-sebabnya. Kata Kie Lek-beng: "Kau bercerita bahwa dia adalah orang baik. aku bertanya bila dia tidak keluar rumah. Aku berada di rumahmu melihat dia pada saat kau meninggalkan rumah. kemungkinan kaulah yang mempersulit dia. tapi dia tidak boleh meninggalkan putrinya dan menikah dengan laki-laki lain. Su-giok adalah putri kandungmu." "Apa kata ayah? Mengapa kau tidak cerita?" "Kata tuan besar. selalu membuat hal yang memalukannya." "Bila aku sudah mati kemudian dia menikah lagi.

" Kie Lek-beng memotong kata-katanya dan berkata: "Jangan mengatakan pulang lagi kepadaku. apakah kau tahu aku sedang memikirkan apa?" Tanya Ting Po sambil tertawa. Kelihaian Ji-pak-siang-eng dari kecil aku sudah tahu dari ayah. istri tidak menganggap aku suaminya. aku pulang juga untuk apa? Paman Ting. bila kau tahu salah. waktu kecil bila aku melakukan kesalahan kau juga yang membelaku. aku jamin 100%. aku sudah jujur kepadamu." Dalam hati dia berpikir." "Karena kau terlalu sayang kepadaku." Kie Lek-beng sedang marah kepada dirinya sendiri. sebenarnya dia bukan orang jahat. Tadi aku bersembunyi tidak berani mengeluarkan serangan.. kemudian Ting Po malah menjawabnya sendiri. syukurlah! Pulanglah. dia langsung menolongmu. dia adalah . bila benar dia adalah putriku. kau tidak takut degan omongan orang-orang dan mau bertemu lenganku. aku tidak peduli apakah kau dalam bahaya atau tidak. aku tidak tahu. aku tidak mengerti maksudmu. apakah dia tinggal di Yang-ciu?" "Benar." "Memang dia adalah putrimu. aku minta jangan beritahu ayah bahwa kau sudah bertemu denganku!" "Kau tidak ingin bertemu dengan tuan besar. aku tidak akan membiarkan dia terluka. 'Bila putrimu tidak mirip denganmu. Dari kejadian ini kau bisa melihat aku sangat ahat." "Paman Ting. ayah tidak leoganggapku anaknya. aku akan jamin dengan nyawaku. aku tidak akan membiarkan dia mati di tangan Jipak-siang-eng.. di gunung selama 20 tahun aku berlatih silat berlatih hingga di mana." "She nya Coh. "Siauya. "Siauya. begitu gadis itu datang.Ting Po merasa aneh dan berkata: "Siauya. "Jujur saja." kata Kie Lekbeng. "Bila seseorang tahu bahwa dia jahat. apakah tidak ingin bertemu dengan putrimu?" Tanya Kie Lek-beng: "Siapa laki-laki yang bersama Su-giok?" "Dia adalah pendekar muda yang bernama Coh Thian-su. tapi mata Ting Po semakin bercahaya. aku bukan mau nenolongmu tapi aku mau menolong putriku karena itu kau jangan jerterima kasih kepadaku. apa hubungannya denganku?" Kata Kie Lek-beng.

Sepuluh tahun yang lalu Wie Toako dibunuh oleh seseorang." "Dia putra Coh Kim-sung?" Suara bergetar.. aku adalah penjahat kelas berat.." "Apakah kau pernah ke rumahnya?" "Pernah satu kali. kau ingin tahu tentang apa?" "Paman Ting. . apakah benar?" Ting Po berusaha menutupi kegelisahannya dan berkata: "Ini terlalu baik untukku. Ting Po merasa jantungnya berdetak lebih cepat.. ada yang bilang kau bersaudara angkat dengannya. aku akan bertanya satu hal." Tanya Kie Lek-beng. dibilang teman pun boleh. Nyonya Coh sedang sakit. dia itu adalah putrinya. siapa Wie Toako. ayahnya bernama Kang Cu-ki. dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang." Dia dapat merasakan kegelisahan Kie Lek-beng." Kie Lek-beng tidak ingin mendengar kelanjutannya dan bertanya: "Aku tidak kenal dengan yang she Kang. dia adalah Pendekar Yang-ciu. dia teman baik Suheng Wie mu. dia bertanya: "Siauya." Dalam hati Kie Lek-beng tertawa dingin: "Dia bukan sakit. itu pun sudah 10 tahun yang lalu. bagaimana bisa menjadi saudara angkat? Aku hanya bertemu beberapa kali dengannya. melainkan tidak ingin bertemu denganmu. aku tidak kenal.apakah kau pernah bertemu dengan istri barunya?" "Hari itu. pada saat kau ke sana.putra Coh Kim-sung. tapi kau bilang Coh Kim-sung. "Perempuan yang satu lagi bernama Kang Hiat-kun." . ada yang mengatakan bahwa kau dan Coh Kim-sung adalah sahabat. Karena aku bukan putra Kie Yan-gan. jadi aku tidak bertemu dengannya. "Katanya istri Coh Kim-sung yang sekarang adalah istri kedua.

" dia mengejar Kie Lek-beng. Paman Ting. Kie Lek-beng. paling sedikit kau harus tahu putrimu.meninggalkan Ting Po. Ting Po berteriak. kau kenapa?" Kie Lek-beng sedang mengepalkan tangan dan wajahnya pucat. Kie Lek-beng sudah hilang entah ke mana. sebaliknya malah seperti dibungkus dengan api amarah. dia dan nona baru berkenalan di kota Lok-yang. Dia tidak bicara. dalam hati dia berpikir. Sebab Kie Lek-beng telah nenotok jalan darah di lututnya dengan gumpalan tanah. Siauya. maafkan aku. karena dia merasa akan terjadi sesuatu. Siauya. Hal u karena sungai ini menentang kepada batu besar itu. batu-batu yang erada di pinggirnya juga didorong oleh air hingga bergerak gerak. seperti dia sendiri. Kie Lek-beng mempunyai pikiran aneh. Ja melakukan latihan . tapi begitu dia lerusaha bangun.' "Coh Kim-sung masih muda tapi jarang berkelana di dunia persilatan dihitung-hitung mungkin ada 10 tahun lebih. tapi kadang-kadang dia juga tidak rjaga ketat yaitu pada saat ayahnya berlatih tenaga dalam tingkat tinggi. Tenaga dalam Ting Po sangat kuat. berbaringlah di sini!" Ting Po merasa lututnya mati rasa. kau jangan ikut campur!" "Pulanglah. seperti menggulung dia lengenang masa lalu. Kata nona. Tiba-tiba dia mendengar ada suara air mengalir. tapi permukaannya sudah kasar dan berlubang-lubang. arus yang mengalir dengan tenang akan lembuat air sungai mengalir dengan kencang dan kotor karena tanah. ba-tiba menjadi anak durhaka. Ayahnya sangat ketat mendidik. Air sungai mengalir dengan kencang. Begitu Kie Lekang mengatakan "berbaringlah'. Coh Thian-su pernah membantunya. 'Apalagi yang Siauya ingin ketahui? Dari katakatanya sepertinya dia tahu lebih banyak dariku. Ting Po sudah roboh di tanah.Mengenai hal ini Ting Po pun sudah curiga sejak semula. tapi kegelisahan hatinya lelum hilang. kau mau ke mana?" "Ini masalahku. dia merasa dirinya seperti ir sungai ini. bila dia tidak dikekang dia akan tenang seperti air mengalir ipi karena dihambat oleh batu. batu besar yang berada di tengah masih dengan kokoh bercokol di ana. "Siauya. dia berkata: "Aku menyuruhmu jangan ikut campur. air yang mengalir li gunung terhambat oleh sebongkah batu dan air sungai mengalir makin sncang. dia membalikkan tubuh dan pergi. tapi putranya Coh Thian-su sangat terkenal di dunia persilatan. Kie Lek-beng membalikkan tangan dan dihentakkan. gumpalan tanah kecil itu tidak lapat membuatnya sama sekali tidak dapat bergerak. Kau dan putrimu belum pernah bertemu muka.

Pada waktu melakukan Pi-koan dia mempunyai mata tapi tidak melihat. Dia mulai belajar mencuri uang. mereka berkenalan karena di kenalkan temannya yang dari golongan hitam. semua dibawa oleh teman-teman dari golongan hitam. main pelacur. sisa waktu yang lainnya dihabiskan untuk bermain. Rumahnya alah sebuah sekolah. Kie Lek-ng takut ayahnya tahu dia ke kota kecil dan sering membuat keributan ika dia sering ke rumah sepupunya. mereka mengajar untuk mencari makan. harus berlatih hingga selesai dan dia baru akan keluar dari ruangan i. Dia seperti sedang tertawa genit kepadanya. kemudian mereka hidup bersama. dia melihat anyang mengalir. dia juga berteman dengan orang-orang dari golongan hitam.dia harus melakukan Pi-koan selama 3 hingga 5 hari. m mempunyai telinga tapi tidak mendengar. di kota itu ada bermacam-macam orang. ada saudara sepupunya. sebelum ayannya selesai melakukan Pikoan dia sudah berada di rumah dan Paman Ting akan membantunya menutupi kesalahan yang dia lakukan." Perempuan ini adalah perampok yang bermain sirkus untuk menutupi identitasnya. Umur sepupunya lebih tua dari dia. bila dia tahu sebelum berusia 20 tahun ada seorang perempuan jahat dan sadis dan terkenal karena kegenitannya kemudian menjadi kekasihku dia akan bertambah terkejut. dia akan mgatakan bahwa dia ke sana untuk belajar. Mereka makan. Bila ayahnya bertanya kakak sepupunya akan membuktikan bahwa dia memang sedang belajar. Dia semakin tersesat dari hari ke hari lebih jahat dari pada bermain pelacur. . 'Paman Ting hanya tahu aku main pelacur. Paman Ting harus menjaga ayahnya alaupun bukan sama sekali tidak boleh meninggalkan dia tapi harus lebih ring mengurusnya. Awalnya dia hanya ke kota kecil dekat dengan rumahnya untuk rmain dan mencari makan. minum. setelah berusia 20 tahun. tcrakhir-akhir dia baru berani pergi ke bupaten lain untuk membuat keributan. mg disebut Pi-koan adalah duduk di ruangan yang sepi dan melakukan editasi. pada saat itu dia juga tidak ipat mengawasi putranya. Bayangan seorang perempuan genit seperti timbul di atas gelombang air. karenanya uang bisa didapat dengan mudah maka dia semakin terjerumus. Di kota Ki-goan. Dalam hati dia berpikir. ayah Kie Lek-beng alah pesilat nomor satu di dunia persilatan tapi ibu dari sepupunya dan luarganya tidak bisa silat. Itu adalah kejadian sebelum dia berusia 20 tahun. Pada waktu Pi-koan. karena Kie Lek-beng sering ke kota itu dia jadi berteman dengan orang yang tidak benar. Kota Ki-goan adalah sebuah kabupaten besar. tapi bila dia sudah tiba di Kigoan dia hanya belajar satu hingga dua hari. bila ayahnya bertanya. dia selalu menurut dan ayahnya percaya kepadanya hingga dia bisa lebih bebas lagi.

"Apakah kau pernah mencintai Bok Koan-koan?" Dia akan sulit untuk menjawabnya. Kim-ho sudah menikah dengan perampok sedangkan adiknya Gin-ho belum menikah. Istri yang dia idam-idamkan. Tapi bila ada yang bertanya. karena itu dia pergi ke Yang-ciu untuk bekerja di 'perusahaan pengawalan barang'. begitu berkenalan dengan Kie Lek-beng. dia akan jawab. Dalam hatinya sosok Bok Koan-koan bukan seperti pelacur biasa. begitu juga dengan Kie Lck-beogDia bisa bergaul dengan orang-orang yang berada di golongan hitam hingga gila-gilaan tapi di lubuk hatinya yang paling dalam. putri kecilnya ikut dengannya. Istri yang dia idamkan adalah seorang gadis cantik dan berbakat juga serasi dengannya.Setelah lama kenal dia baru tahu identitas aslinya. bila pada saat itu ada yang bertanya seperti itu. Hingga tiba pada generasi Cong Song-kwang kondisi ekonomi mereka menurun drastis. mereka pun seperti keluarga Kie. tidak disangka akhirnya dia tidak dapat melepaskan diri. Waktu itu dia hanya senang dengan kecantikannya. paling sedikit dia tahu bahwa Bok Koan-koan bukan perempuan baik-baik. Sebagian anak bersifat pemberontak dan ingin tahu kalau dilarang oleh orang tuanya malah dengan sengaja mencoba. dia hanya senang kepada Koan-koan. akhirnya ditemukan juga oleh ayahnya. si adik bernama Bok Koan-koan dijuluki Gin-ho (Rase perak). Bok Koan-koan sangat genit dan cantik. dia tetap penjaga jarak. Teman baik ayahnya bernama Cong Song-kwang. di kota Ki-goan yang menjadi kekasihnya Kie Lek-beng adalah Gin-ho. Bok Koan-koan. Setelah terbakar dia baru menyesal. tapi dia tidak pernah punya keinginan menikah dengan Koan-koan. Walaupun kadang-kadang dia bertindak gila-gilaan dia seperti anak kecil yang sedang bermain api. "Mana mungkin aku bisa mencintai seorang perempuan jalang?' Walau dia tidak tahu latar belakang Bok Koan-koan. kadang-kadang malah menganggap dia adalah sahabatnya. walaupun dia tidak suka dengan kekangan ayahnya tapi dia tidak lupa bahwa dia adalah putra seorang pesilat nomor satu di dunia persilatan dan orang-orang itu tidak pantas berteman dengannya. Mereka dua bersaudara. Awalnya dia hanya iseng. yaitu keluarga pesilat. dia sudah membuat Kie Lek-beng mabuk kepayang. Itu kejadian sepuluh tahun yang lalu. si kakak bernama Bok Hoo-hoo dijuluki Kim-ho (Rase emas). . terhadap Koan-koan dia tidak memiliki rasa cinta.

Cong Song-kwang sudah pensiun dan pulang kembali ke kampung halaman." Begitu dia bertunangan. tapi larus tahu batas-batasnya. sengaja dia mampir ke rumah Kie dan bertemu dengan dengan teman baiknya. Kalau suaminya membantu dia berdandan istrinya mengatakan dia genit. tidak disangka 10 tahun kemudian si anak kecil berubah menjadi gadis yang sangat cantik Ayahnya sangat suka sekali kepada Eng-lam. Eng-lam masih sangat kecil. Sebelum dia bertunangan. Tapi istrinya seperti tidak -melihat juga tidak mendengar. tapi dia pun setuju lengan pernikahan ini. bila istrinya marah atau . Putri Cong Song-kwang bernama Eng-lam. Walaupun mereka dijodohkan oleh orang tua. selalu cemberut dan mengerutkan dahi. begitu dia sudah menikah ia baru tahu kehidupan rumah tangganya tidak seperti yang dia harapkan. Cong Song-kwang baru akan pulang ke kampung halamannya. istrinya memang sangat cantik tapi dia adalah "boneka cantik dari kayu'. Bulan madu yang ditunggu-tunggu hanya lewat begitu saja. walaupun dia tidak dapat melupakan kegenitan Koan-can. dia juga berlaku dingin kepada suaminya. mereka dengan cepat menentukan hari pernikahan putra dan putri mereka. Dia mengatakan kata-kata yang indah untuk memuji istrinya. Paman Ting sudah menasihatinya: "Anak muda bila sekali-kali tidak dikekang tidak apa-apa.Waktu itu dia sedang panas-panasnya bermain api dengan Koankoan. Kie Yan-gan. Dia sangat marah kemudian keluar mencari Bok Koan-koan. Belakangan dia sengaja membiarkan istrinya tahu tentang tingkah lakunya. dia pernah bersumpah dia akan setia nencintai istrinya. segera ayahnya melamar Eng-lam dan Cong Song-kwang pun setuju. Dia sengaja masih memakai baju yang masih penuh dengan gincu pulang ke rumah. ada yang lebih parah lagi. waktu kecil mereka juga sudah kenal. dari sana letaknya masih sangat jauh demi mempersingkat waktu. tapi istrinya hanya diam. dia tidak menikmati kesenangan bulan madu. kadang-kadang dia pura-pura bermimpi dan memanggil-manggil nama perempuan lain. akhirnya dia sudah tidak tahan karena istrinya semakin dingin terhadapnya. awalnya masih secara sembunyi-sembunyi. tidak hanya nama Bok Koan-koan. dia juga sengaja membawa saputangan Koan-koan pulang. kalau Eng-lam indah menikah. Keluarga Cong bertempat tinggal di propinsi Soasay. Tapi hal yang terjadi malah sebaliknya. Benar.

putri kandungnya pun tidak tahu siapa ayahnya. atau suara lain yang tidak enak didengar. Kie Lek-beng jngin berpisah dengan Koankoan. kehilangan kasih sayang orang tua. dia menjadi kehilangan latar belakang hidupnya (karena dari putra pesilat nomor satu menjadi seorang penjahat). Kemudian dia kehilangan keluarga. tapi demi dia. tapi Koan-koan juga pernah menolong nyawanya. yang penting tidak mendengar suara Bok Koan-koan. Kata Koan-koan: "Tidak kusangka. Ayah tidak menganggapnya anak lagi. kecuali membencinya). perhitungannya sudah kacau. dalam hati dia berpikir. "Dia memperlakukanku seperti itu. "Aku sangat bodoh!" dia memukul kepalanya sendiri. Kie Lek-beng tidak menghitung lagi. tidak perlu diberitahu oleh Koan-koan. itu lebih baik tapi ternyata istrinya tetap tidak peduli. semua ini memang bukan salah Bok Koankoan. begitu mengenalnya. Sekarang sudah 20 tahun berlalu. Bagi Koan-koan. Bok Koan-koan sudah ada di hadapannya. Dia pernah tergoda oleh suara ini. aku bisa mencarimu." Waktu itu dia mendengar suara tawa yang penuh godaan. dia bersedia mengorbankan segala-galanya untuk Kie Lek-beng. sebenarnya dia adalah orang yang senang keramaian. suara itu sangat dikenalnya. yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara berpisah dengan Koan-koan dan membuatnya tidak merasa sakit hati karena Koan-koan baru membuat kesalahan dia merasa tidak enak di hati.bahkan memukul. juga kehilangan kehormatan (tidak ada yang menghormatinya. Koan-koan rela menemani dia selama beberapa tahun. seharusnya aku harus langsung tahu dia sudah mencintai orang lain. semua adalah salahnya! Tapi Bok Koan-koan tetap bersikap baik kepadanya. Ini membuatnya hampir gila." "Mengapa kau mencariku?" Kie Lek-beng sama sekali tidak mau . bila memikirkan kembali dia masih sangat marah. itu adalah suara Bok Koan-koan. Sudah 20 tahun ini dia terus dihina dan disiksa. apakah kelakuannya itu tidak baik? Apakah ini disebut cinta jtau kasihan? Dia sendiri sudah tidak bisa membedakan. di pegunungan walaupun Koan-koan sudah menghancurkan masa depannya. Suara tawa sudah berhenti. tapi saat ini dia lebih suka dengan suara srigala yang lapar. istrinya tidak menganggap dia sebagai suami lagi. dia bolak balik memikirkan masalah itu. Perempuan ini telah mengubah nasibnya seumur hidup.

Mengapa kau memperlakukanku seperti itu?" tawa genit berubah mejadi tawa dingin." Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.melihatnya. dia menyuruh Koan-koan meninggalkan dia. dia sendiri yang akan turun. kau mengatakan mereka adalah temannya!" Bok Koan-koan malah balik marah. tapi kau yang bilang dulu. "Kau telah melakukan pekerjaan apa sehingga tidak memberitahu kepadaku. waktu itu sebenarnya Kie Lek-beng bukan ingin lepas dari Koankoan. Walaupun sering pergi dia pasti akan kembali. "Aku belum mengatakannya. membuatku tidak bisa memberitahu temanku. sikap dingin Kie Lek-beng membuatnya marah. dia juga berlatih silat selama bertahun-tahun. akhirnya dia sering turun gunung. Kie Lek-beng menyembuhkan lukanya di gunung ini. pergi pukul 3. setiba di sana ku hanya membereskan mayat Paman Ting!" Kali ini pertemuan Kie Lek-beng dan Paman Ting memang diatur oleh Koan-koan. Kie Lek-beng lebih marah lagi kepadanya. Sebenarnya kali ini Kie Lek-beng ke situ hanya seorang diri tidak bersama Koan-koan. mula-mula Koankoan tidak mau meninggalkan dia. "Kau jangan berbohong kepadaku. Lima tahun lalu walau lukanya belum sembuh tapi dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. kali ini dia ingin sebelum Koankoan kembali ke gunung. seperti batu api yang ligesekkan dan tiba-tiba meledak. mengapa kau menipuku?" "Kapan aku pernah menipumu?" "Kau menipuku membantu Ji-pak-siang-eng untuk mencelakakan paman Ting! Kau tahu Ji-pak-siang-eng adalah musuh Paman Ting. Dia tidak berani bertemu dengan ayahnya juga tidak berani . Kie Lek-beng hanya merasa tidak enak karena Koan-koan harus menemaninya di pegunungan yang sepi. "Bila aku mendengar kata-katamu. kau bilang mau menemaniku hingga pukul 3 tapi baru pukul 2 kau sudah pergi dan menotokku. tapi tidak bermaksud untuk berpisah degan Kie Lek-beng.

dia masih senang dengan tertawa dia bertanya." Kata Koan-koan: "Bila kau ingin bertemu dengannya. dia hanya ingin secara sembunyi-sembunyi pulang ke kampung halamannya. Entah sengaja atau tidak. bila dia tidak ingin bertemu denganmu. siapa yang akan mengantarkan suratnya?" "Tugasmu hanya menulis surat. Koan-koan berkata lagi. aku pun tidak ingin bertemu dengannya di tempat ramai. lainnya aku yang atur tapi aku mempunyai sebuah permintaan. sepertinya bukan suatu kebetulan?" Koan-koan tidak menutupi bahwa dia sengaja mencari Kie Lekbeng. walaupun dia mau. aku mempunyai cara yang tepat." "Aku adalah orang yang baru hidup kembali." "Aku sudah berhutang banyak kepadamu. kau mau menyuruhku melakukan apa? . "Kabar sampai dengan begitu cepat hingga kita bisa bertemu. Walaupun dia tidak ingin hidup bersama dengan Koan-koan tapi pada saat bertemu dengan Koan-koan. setidaknya kau sudah berusaha. dia sudah hafal dengan tulisanmu dan kalian akan bisa bertemu di suatu tempat. tidak mungkin ada kabar gembira untukku." Kata Kie Lek-beng: "Cara ini sangat baik.bertemu dengan orang yang ada di kampung halamannya. kemarin mereka malah bertemu di kota kecil ini." Kie Lek-beng mengangguk. biar dia sendiri yang memutuskan. Koan-koan berkata: "Aku masih mempunyai kabar gembira. aku yang merasa malu. suruh seseorang mengantar surat kepadanya. melihat ayah dan Paman Ting. "Apakah dia mau menemuiku atau tidak." "Aku sudah mencari tahu bahwa 2 jam lagi Ting Po akan lewat dan menginap di sini!" Kie Lek-beng sangat senang hingga meloncat dia berkata: "Apakah Paman Ting akan ke sini? Aku takut dia tidak mau menemuiku.

" Kata-kata Koan-koan sangat masuk akal. pasti mereka adalah musuh paman Ting dan mereka sudah menunggu . kau ajak Ting Po bertemu jam 2 tapi kau pergi jam 3. Sebenarnya Kie Lek-beng sudah berjanji. bila teman dulu yang bertemu dia pasti akan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat. bila mereka adalah teman yang jahat. tapi Kie Lek-beng masih curiga. Tapi Kie Lek-beng juga bukan orang bodoh. Kie Lek-beng percaya suratnya dititipi kepada orang lain." Kie Lek-beng tertawa dan berkata: "Mereka menyuruhku datang jam 3 juga takut mendengar pembicaraan mereka." Kata Koan-koan lagi. dia jun tidak memberi tahu. ayahmu sudah melarang keras orang-orang garis hitam mencari dia. mereka juga teman Ting Po dulu mereka juga golongan hitam. jangan takut mereka tidak akan mendengar percakapan kau dengan Ting Po. "Paman Ting sudah 20 tahun tidak melakukan kejahatan. mereka harus tahu hubungan antara Paman Ting dan ayah. Koan-koan mempunyai hak untuk tidak memberitahu nama temannya. Koan-koan ingin Kie Lek-beng menemaninya minum-minum. Mereka berdua begitu misterius. mereka seperti dirimu ingin bertemu dengan Ting Po. aku kira mereka tidak akan berani karena orang-orang dunia persilatan sudah tahu semenjak dia jadi pelayan keluarga kalian. setelah selesai mengobrol baru kau yang menemui Ting Po. mereka juga takut Ting Po tidak mau bertemu dengan mereka.Bicaralah!" Koan-koan setengah bercanda dan berkata: "Mari kita bertoast tangan dengan lawan." Kata Kie Lek-beng: "Jadi membiarkan mereka mengobrol selama 1 jam?" "Benar. dia tahu Kie Lek-beng tidak suka dengan arak keras. Paman Ting dulu punya banyak musuh di garis hitam. sampai malam tiba dia mulai curiga. tapi Koan-koan sengaja memilih arak keras dan memaksanya minum dan terlihat dia sangat cemas ditanya oleh Kie Lek-beng siapa yang mengajak Ting Po untuk bertemu. "Aku mempunyai 2 orang teman baik. Karena itu tolong bantulah mereka. mereka berjanji sebelum jam 3. Karena itu mereka meminjam nama Bo-tan mengajak Ting Po untuk bertemu. tahu bahwa Paman Ting tidak akan kembali lagi ke dunia hitam. apakah mereka akan mengajak Paman Ting menjadi perampok lagi?" "Aku tidak tahu.

kau tidak perlu begitu tegang. mereka benar-benar teman-teman Ting Po di golongan hitam" Dengan marah Kie Lek-beng berkata. biar aku saja yang pergi!" Kie Lek-beng sudah tahu kejahatan Koan-koan. Dia tahu Koan-koan sering membohonginya." Ada pepatah yang mengatakan: orang mabuk masih 30 % tetap alam keadaan sadar. "Kau berjanji mau membantuku dan tidak ingin tahu apa yang kulakukan. aku juga tidak membohongimu.di sana!" Berpikir sampai di sini. dia pun tidak berani bicara apa-apa lagi. tapi dia juga mengintip bahwa tawa senang dan licik dari Koan-koan begitu jelas terdengar. kemudian berkata. bila dia salah tebak dia akan ditertawakan Koan-koan tapi yang penting Paman Ting tidak berada dalam bahaya." Dengan berat Kie Lek-beng berkata. tapi kali ini kelakuan Koan-koan membuatnya marah besar. Dia mengatur nafas. tapi dia dapat menebak bahwa kedua orang itu sangat berbahaya. dengan tawa dingin dia berkata. Untung dia cepat tanggap dan tidak masuk ke dalam perangkap Koan-koan dan masih sempat menolong Paman Ting bahkan bertemu dengan putrinya. apalagi dalam keadaan waspada dia hanya pura-pura mabuk. "Aku sudah mabuk. tak perlu khawatir. kemudian Koan-koan berkata: "Kau tidak mau pergi itu lebih baik. Koan-koan tidak menyangka Kie Lek-beng marah sebesar itu. tapi dia berpura-pura mabuk dan berbaring di tempat tidur. setelah pukul 3 aku akan membangunkanmu. dengan tawa manja dia berkata: "Kau berbaring saja. aku tidak akan pergi. langsung dia meloncat bangun dan Koankoan ditotoknya. arak keras yang tadi diminum diuapkan lenjadi keringat. walaupun tidak tahu persis seperti apa." dia tetap tidak tenang kemudian Koan-koan menyanyikan lagu nina bobo. "Ting Po tidak mati. . Kie Lek-beng memejamkan mata. Dengan ringan Koan-koan menciumnya. "Teman apa? Mereka datang untuk membunuh Ting Po. kau pergilah." Koan-koan melihat Kie Lek-beng benar-benar marah. dia berkata.

Kie Lek-beng tidak dapat berkata apa-apa lagi. Hutangku kepada Paman Dung memang tidak sebesar hutangku kepadamu.' Kie Lek-beng bertekad untuk berpisah dengan Koan-koan. kebaikanmu selamanya tidak akan kulupakan. apakah kau masih bisa hidup sampai sekarang? Bila tidak menuruti rencanaku. tapi aku menganggap dia adalah keluargaku."Apakah kau tahu Paman Ting itu siapanya aku? Di matamu dia adalah seorang pelayan. mana bisa kau lolos dari kejaran 5 Bu-tong Tianglo? Setelah kau terluka beberapa tahun tidak bisa bergerak. kau berhutang budi lebih banyak kepadaku atau kepada Paman Ting?" Semua yang dikatakan Koan-koan adalah benar. di dunia ini dialah yang paling sayang kepadaku. Dia berkata dalam hati. siapa yang mengurusmu? Jujur katakan saja. mengapa aku tidak bisa sejajar dengan pelayanmu? Katakanlah. walaupun Koankoan sering merugikannya tapi budinya membuatnya selalu ingat. begitu juga dengan kebaikan Paman Ting. Walaupun Kie Lek-beng bukan seorang tuan tapi dia tidak akan lupa diri. 'Memang benar kau pernah menolongku sekaligus sudah mencelakaiku. kau mau Paman Tingmu atau aku? Bila kau menginginkan aku. pepatah mengatakan: tuan memutuskan hubungan tidak akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. tapi bila kau sendiri yang hilang sama . apakah kau tidak merasa berhutang budi kepadaku? Waktu itu bila tidak ada aku. Pada saat perpisahan dia tidak akan menyakiti batinya jadi dia hanya diam saja. aku berhutang budi kepadanya!" Kata Koan-koan: "Dia adalah orang yang paling kau sayang lalu aku berada di posisi mana? Kau berhutang budi kepadanya. kau tidak boleh membantu Paman Ting lagi!" "Koan-koan. Koan-koan mengira Kie Lek-beng sudah tahu kesalahannya. tapi Paman Ting tidak pernah mencelakaiku. "Walaupun kau dan aku belum menjalankan adat pernikahan tapi lata adalah suami istri." Koan-koan jadi bengong kemudian dengan marah dia berkata: "Dari tadi kau selalu menganggapku sejajar dengan Ting Po!" "Sebenarnya tidak sama. dia terus mencecar dan berkata. kau sudah tenggelam ke dasar sungai.

tapi perjodohan kita pun sudah selesai!" Koan-koan sangat terkejut dan marah: " Kie Lek-beng." "Yang mana?" "Sampai sekarang Paman Ting tetap menganggap aku adalah Siauyanya. dalam hatimu aku tidak sepenting pelayanmu. kau mau meninggalkanku?" "Koan-koan kau jangan begitu. apakah kau tidak tahu?" Mata Kie Lek-beng menjadi merah. sekarang kau mau ke mana?" "Ini urusanku. aku tidak akan membiarkanmu terluka!" Cara keras sudah tidak mempan maka Koan-koan memakai cara yang lembut. seperti perlakuanku terhadap Paman Ting. walaupun kau meninggalkan aku tapi aku tetap akan memperhatikanmu. walau perjodohan kita sudah selesai tapi bila ada yang melukaimu bila aku tahu aku akan segera melindungimu." "Bagaimana denganku?" Dengan pelan Kie Lek-beng berkata: "Budimu akan selalu kuingat dan aku selalu merasa berterima kasih.juga tidak apa-apa karena memang ada kesamaannya. dia menarik nafas dan berkata: "Aku tahu aku tidak sepadan denganmu. kau tidak usah peduli lagi kepadaku!" "Kau ingin pulang bukan? Kau jangan bohong!" Kie Lek-beng terdiam berarti dia memang ingin pulang. hatinya masih teringat . walaupun nyawaku terancam. Dengan dingin Koan-koan berkata:"Kau kira kau bisa mencari istrimu lagi? Istrimu sekarang sudah menjadi istri Coh Kim-sung. dengan galak dia berkata: "Tidak perlu kau beritahu aku!" Koan-koan tertawa terbahak-bahak: "Benar. 20 tahun yang lalu kau tahu istrimu lahir dari keluarga terhormat tidak pernah menganggapmu sebagai suaminya. pada saat menjalankan upacara pernikahan. Walau perjodohanku dengan keluarga Kie sudah putus.

. Aku memungutmu dari tempat sampah dan aku menganggapmu sebagai benda kesayangan. tapi aku masih bisa membedakan mana yang bau dan mana yang tidak.kepada laki-laki lain. kau sama sekali tidak serasi dengannya." Kie Lek-beng berteriak: "Aku tidak mau mendengar. tapi dia tidak bisa apa-apa. "Apakah kau mau menginap di rumahku? Sudah beberapa hari kau tidak pulang. aku dan kau tidak sama. aku akan pergi!" Dia berkata dengan sangat tenang tapi hatinya tidak tenang. hari pertama saja sudah menghinamu. tapi kau malah menganggap bau itu adalah wangi!" Mata Koan-koan menjadi merah seperti api. Dia lewat jalan di sisi Koan-koan. dia malah sengaja membiarkan istrinya tahu. kata-kata Bok Koan-koan tadi seperti panah beracun masuk ke dalam hatinya. Baju penuh dengan gincu dan wangi. dia sudah mabuk. hal ini sudah bukan hubungan gelap lagi melainkan sengaja diperlihatkan. tapi istrinya tidak marah. perjodohan kita sudah selesai tapi aku selalu menganggapmu sebagai teman baik. Kau berbaring saja. Aku benci dengan bau busuk itu. dia tidak takut istrinya tahu. istrimu menghinamu. untung aku adalah tukang pungut. Hanya kita berdua yang ditakdirkan jadi pasangan. masa lalu kembali dalam ingatannya. aku akan melindungimu walau nyawaku terancam. kau salah. tutup mulutmu!" Dengan dingin Koan-koan berkata: "Kau tidak mau dengar. Dia tidak tahan dengan sikap dingin istrinya. Jalan darahmu dalam 2 jam akan terbuka. tapi istrinya tetap tidak marah. Demi gengsi dia tidak memberitahu kepada Bok Koan-koaa Pada suatu malam di rumah Bok Koan-koan. Kie Lek-beng berkata lagi: "Koan-koan sekali lagi kukatakan. Sekarang sedang saatnya bulan madu tapi kau malah meninggalkan istrimu. Koan-koan tertawa dan berkata." "Apakah sudah cukup bicaramu?" Langsung dia menotok jalan darah Koan-koan Dengan pelan Kie Lek-beng berkata: "Koan-koan. mungkin kita ada miripnya. apa bisa menjadi jodoh serasi? Di depan istrimu. dia semakin sering mencari Bok Koan-koan. tapi aku ingin mengatakannya.

Kau tahu mengapa? Karena dia sendiri juga punya kekasih gelap. dia tidak akan mengekangku. dia selalu tidak mau tahu suaminya melakukan apa di luar. Bila dia tidak punya laki-laki lain mengapa dia begitu dingin kepada suami? Istrimu adalah perempuan baik-baik dan merupakan pengecualian. Dia hanya minum arak. Tiba-tiba Koan-koan berkata: "Mertuamu itu apakah dia jadi kepala pengiriman di Yang-ciu?" "Apa hubungannya?" Tanya Kie Lek-beng." Kie Lek-beng membanting cangkir dan marah: "Kau bilang istriku punya kekasih gelap? Istriku tidak seperti dirimu. Aku adalah perempuan. Curiga Dia menahan goncangan'hatinya. dia adalah perempuan baik-baik. "Kau tidak perlu khawatir." "Siapa dia?" Karena dia mempunyai ayah yang terkenal di matanya semua orang terkenal tidak perlu diketahui. kau jangan jadi curiga.apakah kau tidak takut istrimu marah?" ---ooo0dw0ooo--C. tadi sudah kukatakan ini bukan tentang dirimu. sebenarnya katakata Koan-koan seperti panah beracun dia tidak mengakui bahwa istrinya mempunyai kekasih gelap. "Tidak." Koan-koan tertawa. aku hanya ingat di Yang-ciu ada pendekar terkenal. jadi kau tidak perlu curiga. tapi aku bukan membicarakanmu. istriku sangat baik. aku beri selamat kepadamu karena kau mendapat istri yang baik" Dia tidak mau mengakui di depan Koan-koan." "Apa yang sedang kau pikirkan? Ayo katakan!" "Bila aku mengatakannya. dengan tertawa dia berkata. biasanya perempuan lebih mengerti hati perempuan lain. Semua perempuan pasti iri bila suami boleh nyeleweng tapi dia tidak boleh." Koan-koan tertawa dingin dan berkata: "Perempuan baik-baik juga bisa nyeleweng. aku mempunyai teman perempuan. . "Kau menertawakan apa?" "Aku sedang berpikir.

malah terlihat tidak biasa." "Apa anehnya?" "Kata orang-orang mereka sangat akrab.Dengan ringan Koan-koan berkata: "Orang ini tidak setara dengan ayahmu. Koan-koan tertawa dan berkata lagi: "Aku dengar Coh Kim-sung sangat tampan dan luwes. catur. kecapi." "Apanya yang tidak biasa?" Tanya Kie Lek-beng. karena kau tidak kenal dengan Coh Kim-sung. apakah mertuamu. tapi kau tidak tahu dengan Coh Kim-sung. mereka sangat akrab. dia hampir mengalami kecelakaan. puisi semua dapat dia kuasai. mertuamu adalah ketua pengiriman barang di Yang-ciu." "Sebenarnya kau mau bilang apa?" "Tidak ada apa-apa. ilmu silatnya juga tinggi. "Katanya mertuamu pernah membawa barang ke tempat lain." "Sepertinya aku pernah mendengar. Menurutku pasti mereka sering berhubungan.. semenjak itu dalam waktu 1 bulan. selama setengah bulan." "Siapa dia?" "Pendekar Yang-ciu bernama Coh Kim-sung. aku hanya bercerita saja." "Mertuaku tidak pernah menyebut nama orang ini?" "Ini sangat aneh. tapi dia masih muda. dia sudah bekerja selama 10 tahun lebih. Apakah benar? Karena mereka adalah orang terkenal di Yang-ciu maka aku menghubung-hubungkannya. Coh Kim-sung berada di rumah mertuamu. untung dia dibantu oleh Coh Kim-sung baru tertolong. belum berumur 30 tahun dan sudah terkenal di mana-mana." Tiba-tiba Kie Lek-beng membanting cangkir dan berkata: . Mengapa mertuamu tidak pernah menyebut nama ini?" Kie Lek-beng menunduk dan minum arak." "Alasan apa?" "Coh Kim-sung adalah putra keluarga pesilat di Yang-ciu.. mengapa kau membicarakan dia? Ada apa?" Tawa Koan-koan seperti penuh dengan rahasia dan berkata: "Aku membicarakan dia bukan tanpa alasan.

aku lupa namanya." Dia marah dan menggebrak meja. tapi kau hanya tahu sebagian saja. kenapa dengamu? Tiba-tiba marah seperti itu. "Apa yang ingin kau katakan? Tidak perlu basa basi lagi!" Koan-koan tertawa manja dan berkata: "Kie Siauya." Tubuh Kie Lek-beng gemetar. "Aku tidak punya waktu bermain-main dengamu. dia minum arak lagi. bukankah kau juga menyukai perempuan seperti aku ini?" Kata Kie Lek-beng. mari kita minum arak saja!" Dengan marah Kie Lek-beng berkata: "Aku tidak mau lihat kegeiutanmu. Tiba-tiba Koan-koan bertanya: "Berapa umur istrimu?" Kie Lek-beng balik bertanya: "Mengapa kau tanyakan ini? Dia berumur 19 tahun!" "Tidak ada apa-apa. dijukuli Tio-hui yang cantik. hanya sekedar bertanya." "Sebagian lagi apa?" Tanya Kie Lek-beng. aku hanya ingin tahu sebenarnya kau ingin menyampaikan apa?" Koan-koan tidak marah hanya tertawa: "Benar aku adalah perempuan jalang tidak seperti istrimu begitu anggun dan baik tapi kau harus ingat kau juga seorang buaya."Aku juga bukan sama sekali tidak tahu dengannya. "Tiga tahun yang lalu Lung Kwee-eng meninggal. katakan saja apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Koan-koan tertawa dan berkata: . dia adalah perempuan yang besar cemburunya dan sangat galak!" Bok Koan-koan berkata: "Istrinya bernama Lung Kwee-eng. dia sudah punya istri dijuluki Tio-hui yang cantik.

"Kau tidak punya waktu. lama baru mengangguk Koan-koan tertawa dan berkata: "Kemarin aku mendengar suatu hal menyangkut Coh Kim-sung. 3 tahun lalu istri Coh Kim-sung sudah meninggal. apakah benar?" Hati Kie Lek-beng bergetar. Kapan kau mulai suka dengan lawan jenis?" "Aku sudah beritahu kepadamu. Ayahnya tahu Ong Toanio tidak tega meninggalkan Eng-lam seorang diri dia juga membutuhkan Ong Toanio. "Apakah mengenai Coh Kim-sung?" tanya Koan-koan sengaja tidak menyebut nama istrinya. apakah benar?" Kie Lek-beng seperti orang mabuk. maka dia segera berlari pulang." Maksud dari kata-kata ini dia sudah mengerti. anak gadis senang dengan laki-laki yang lebih tua dari mereka ini yang disebut lubang cinta mulai terbuka'. aku tidak ada waktu bermainmain denganmu!" "Aku sedang mengatakan yang sebenarnya. Setiba di rumah hampir pukul 3. dia pasti berkunjung ke rumahmu. Begitu Kie Lek-beng mendengar suara istrinya. tapi aku ada. tapi katanya kemarin ayahmu sudah pergi. Ong Toanio adalah ibu asuh Eng-lam. Maka setelah dia menikah dia ikut masuk ke dalam keluarga Kie." Terpaksa Kie Lek-beng menjawab: "Aku tidak tahu!" Koan-koan tertawa kemudian berkata: "Kau jangan menertawakan kegenitanku. Kie Lek-beng terdiam. Semua gadis berumur 15-16 tahun sudah mulai menyukai lawan jenis. dia selalu menganggap Ong Toanio adalah ibu kandungnya. waktu itu istrinya baru berumur 16 tahun. dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh Koan-koan. mendengar Coh Kim-sung datang ke rumahnya. ayahmu adalah pesilat nomor satu. dalam . benar Coh Kim-sung adalah orang yang 'lubang cintanya baru mulai terbuka'. "Kau tahu tentang apa lagi?" Tanya Kie Lek-beng. Ong Toanio tetap menemaninya dan berada di rumah Kie Lek-beng. "Eng-lam berumur 19 tahun. istrinya belum tidur dia sedang mengobrol dengan Ong Toanio. dari kecil Eng-lam sudah kehilangan ibunya dan dia diasuh oleh Ong Toanio. hatinya pun lega. aku ingat waktu itu aku berusia antara 15 dan 16 tahun sudah mulai senang dengan lakilaki. tapi menurutku itu bukan karena genit. dalam hati dia berpikir. ada orang yang melihatnya di sekitar sini.

kau tidak boleh bicara seperti itu. yaitu mengapa Eng-lam harus menikah dengannya. aku harus menurut pada kemauan ayah. dia adalah seorang perampok perempuan dan dia berteman dengan penjahat-penjahat. Mengenai kelakuanku sehari-hari dia pun tahu. .' Tapi dia segera berpikir lagi. 'Sebaiknya aku jangan masuk dulu. suamimu masih muda mungkin dia salah jalan. aku tidak berani mengatakan kalau suamimu tidak pulang karena main perempuan di luar. kau membiarkan dia main gila di luar. mengapa kau. atau laporkan saja kepada Paman Ting. semua ini sudah kuketahui!" Dalam hati Kie Lek-beng berpikir. tapi kalian baru menikah bila dibiarkan. 'Aku kira dia sedang menemui Coh Kim-sung. Lebih baik kau nasihati suamimu!" Eng-lam tertawa dingin dan berkata: "Dia main dengan perempuan di luar. aku ingin tahu mereka sedang membicarakan apa?' Kata Ong Toanio: "Apakah suamimu sudah 2 hari tidak pulang?" "Aku tidak mau tahu. aku melihatmu tumbuh besar. karena aku adalah anak tunggal maka bila aku menikah..hati dia berpikir. juga punya istri simpanan. nanti bisa terjadi sesuatu.. kau sebagai istri jangan membiarkan suamimu begitu bebas. aku tidak akan membiarkanmu menderita. "Hatiku sudah mati." Ong Toanio tidak menyelesaikan perkataannya. 'Aku mengira dia adalah patung atau boneka kayu. aku lebih senang!" "Nona. Eng-lam sudah berkata: "Ong Toanio." Belum habis kata-kata Ong Toanio. kau tidak perlu mengurusi dia.. mengapa kau. Ayah menyuruhku menikah dengan siapa pun. nasihati dia. tapi aku kira Coh Kim-sung tidak akan seberani itu. ternyata semua ini dia simpan di dalam hatinya. Nona. Nona. mengapa kau tanyakan hal ini?" Ong Toanio menggelengkan kepalanya dan berkata: "Bagaimana pun kalian sudah menjadi suami istri. bila dia tidak pulang. kau harus mencegahnya. tapi Kie Lek-beng sudah tahu apa maksud Ong Toanio. siapa yang memberitahu?' Ong Toanio berkata: "Bagi seorang perempuan yang paling penting adalah mendapat suami yang baik.. dia pasti akan semakin berani.

" "Kau tidak ingin mendengar tapi aku akan tetap mengatakannya. aku hanya pikir. Kau dan Coh Siauya tidak berjodoh. bila menikah dengan anjing kita juga harus ikut menjadi anjing. dalam hati dia berpikir.' Eng-lam juga seperti ditusuk oleh jarum dan berkata: "Ong Toanio. istriku yang anggun dan baik. apakah kau mengerti maksudku?" "Aku mengerti.aku harus menurut. ada pepatah yang mengatakan: bila menikah dengan ayam harus kita ikut menjadi ayam. 5 huruf ini seperti panah. sudah menjadi suami istri yang sah. katakanlah!" "Lupakanlah Siauya Coh Kim-sung!" Kie Lek-beng berada di balik jendela mendengarkan percakapan mereka. Dia lebih rendah dari Koankoan. ada pepatah yang mengatakan: perjodohan sudah ditentukan oleh Tuhan tidak dapat dipaksa. aku tidak rela melihatmu menderita. dia merasa sakit. bicarakan dia lagi! Aku sudah melupakannya!" jangan Ong Toanio menggeleng-gelengkan kepala dan berkata: "Jangan membohongiku. aku bisa membantumu menutup-nutupinya tapi aku harus mengatakannya. Tapi bila kau mengerti. kau sudah tahu aku tidak sudi berebut suami dengan perempuan jalang.. dan jendelanya tertutup. Nona. Tapi 'Siauya Coh Kim-sung'. bila kau berlaku lembut kepada suamimu. hatimu masih ada di sana." "Kau memikirkan apa?" Eng-lam tampak sedang berpikir dan dia tidak mendengar Ong Toanio mengatakan apa. memanah ke arah hati dan jantungnya.. walaupun suamimu tidak baik. kalian sudah melakukan upacara adat. jangan dipendam dalam hati. kau harus benarbenar melupakannya. Tiba-tiba dengan gemetar Ong Toanio berkata: . ada yang kutanyakan. antara ibu dan anak apa yang tidak dapat diceritakan?" Ong Toanio menarik nafas dan berkata: "Terima kasih kau sudah menganggapku sebagai ibumu. 'Koan-koan tidak berbohong. katakan saja walau sebenarnya aku tidak mau mendengar. dari kecil aku sudah menganggapmu sebagai ibu kandungku." "Baiklah." "Nona. kau pasti bisa mengalahkan si jalang itu!" "Ong Toanio. apakah boleh?" "Kau adalah ibu asuhku. benar-benar mempunyai kekasih gelap. kau juga menganggapku sebagai putrimu.

baiklah aku akan membuat perhitungan dengan perempuan murahan itu!" Dengan sangat marah dia mencoba membuka totokannya sendiri dengan agak . suara sulingnya langsung berhenti dan segera lari masuk ke dalam hutan. orang itu melihat ada yang datang.' Api cemburu membakarnya. dari hutan cemara. mengapa kau tidak jujur kepadaku?" "Aku lebih apal suara sulingnya dari dirimu. memang dia suka meniup lagu ini. kau jangan salah jalan! Aku akan menyuruh dia pergi!" Eng-lam seperti terbangun dari mimpi. tiba-tiba dia menarik nafas dan berkata: "Kau salah. Ong Toanio belum keluar dia sudah keluar dulu dan berlari ke arah suling berbunyi. aku sudah tahu itu adalah kau! Mau lari ke mana lagi?" Orang itu menggerakan tanganmya menotok dan Kie Lek-beng merasa lututnya kaku kesemutan dan tidak dapat mengejar lagi."Nona. Nona. bila dia meniup suling pasti di dekat sungai Yangciu. aku harus melihatnya. suara ini datang dari belakang rumah. tapi ini bukan suara suling dia. "Laki-lakinya sudah lari. Eng-lam masih terpaku. dalam hati dia berpikir." Kata Ong Toanio. Ong Toanio tidak percaya. pasti mereka berjanji lewat suling." "Siapakah dia. Keluarga Coh di Yang-ciu memang sangat terkenal dengan ilmu menotok jalan darah. apakah kau mengajaknya ke sini? Kau tidak boleh seperti itu!" Sekarang Kie Lek-beng sudah mendengar suara suling. bila bukan berjanji dulu. dia sangat marah dan menyesal. Kie Lek-beng lebih yakin dia adalah Coh Kim-sung. 'Perempuan murahan! Kau begitu mencintai Coh Kim-sung. aku bilang bukan pasti bukan dia. Benar saja. apakah dia mendengar kata-kata Ong Toanio? Ong Toanio mendorongnya dan berkata: "Nona. Menyesal karena selama ini dia tidak benar-benar berlatih ilmu silat. di hutan cemara ada seseorang yang sedang berdiri. orang itu memakai gumpalan tanah untuk menotok. Kie Lek-beng lebih tidak percaya lagi. aku tidak berjanji dengannya dan orang itu bukan dia!" Ong Toanio tidak percaya dan berkata: "Aku kenal dengan suara sulingnya. tapi perempuannya belum. Kie Lek-beng berteriak: "Hei orang she Coh.

" Dengan dingin Kie Lek-beng berkata: "Menurutmu mereka terpaksa menjadi sepasang adik kakak. jadi mereka hanya menganggap sebagai adik dan kakak. bukan seperti itu. di antara mereka entah sudah membicarakan apa? Dia tidak tahu dengan terkejut Ong Toanio berkata: "Benar. kau terlambat datang.. berjanji dengan kekasih gelapnya tapi kau terlambat menyangka. mimpi pun tidak menyangka Ong Toanio bisa bertemu dengannya. Baru saja keluar dari hutan cemara terdengar ada suara teriakan orang. mereka tidak pernah melakukan hal terlarang." Kie Lek-beng tertawa dingin: "Kau kira aku tidak tahu apa-apa? Adik kakak? Adik kakak? Ha. dia mengira Kie Lek-beng sudah bertemu dengan Coh Kim-sung. Ong Toanio terpaku dan berkata: "Siauya.. Menurutku. ternyata itu adalah kau!" Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata: "Kau kira siapa?" Kata-kata ini membuat Ong Toanio tidak dapat menjawab.. Coh Kim-sung sudah lari!" Ong Toanio tidak tahu apa yang sudah terjadi. tapi mereka tahu mereka tidak pantas untuk menikah.ha. tuan Coh dan nona seperti adik kakak. kau membantu nonamu. tapi hatinya sudah diberikan kepada Coh Kim-sung!" Ong Toanio berkata lagi: "Tuan.ha." "Bukan.terpincang-pincang dia kembali ke rumah. bagaimana dengan dirimu? Semenjak menikah nona tidak pernah melakukan kesalahan.aku tahu pikiranmu nona. suami istri itu harus ... memang nona menyukainya... "Aku tidak bohong kepadamu. tapi dia juga tidak tahu bagaimana perasaan nona kepadanya.. baiklah aku akan membantumu bicara. lupakanlah dia!" Kie Lek-beng menirukan suara Ong Toanio. tapi kau sudah bermain-main dengan si jalang itu dan hidup serumah tanpa ikatan. kau jangan salahkan nona!" Kie Lek-beng tertawa dingin: "Apa? Jangan menyalahkan nonamu? Aku sudah lihat dengan mata kepala sendiri.. Yang berteriak adalah Ong Toanio.. kata Kie Lek-beng lagi: "Kau tidak berani bicara. waktu di Yang-ciu mereka seperti adik kakak. tiap malam tidak pulang.

si kucing ingin menyiksa tikus dulu setelah itu baru dimakan. wajahnya sudah ditampar oleh Kie Lek-beng. dengan langkah berat dia pulang. Tubuh Ong Toanio terluka. kau kenapa?" Eng-lam mendengar suara yang berat itu. Dengan dingin Eng-lam berkata: "Kau minum terlalu banyak. Kie Lek-beng membuka pintu dengan menendangnya. dia sangat marah. Eng-lam sudah tidak tahan kemudian dia berdiri dan berkata: . kemudian dengan dingin dia berkata: "Kau sedang menunggu Ong Toanio atau sedang menunggu kekasih gelapmu? Tidak disangka bukan bahwa yang datang adalah aku? Apakah kau kecewa?" Arak sudah disiram ke wajah istrinya." Kata-kata Ong Toanio belum selesai.. "Ong Toanio. sangat benci Mengapa tidak tahu istri sudah punya kekasih lain. dia tidak tahu suaminya sudah pulang. sedangkan Kie Lek-beng sudah berlari pulang. Kemarahan membuatnya seperti seekor banteng gila. sangat takut Takut istri tercinta kesepian di kamar Benci. tapi hati Kie Lek-beng juga terluka. Caranya bernyanyi sungguh sangat tidak sopan. Ong Toanio terjatuh darah menetes ke atas rumput. dia malah menyanyikan lagu: Sibuk.saling mengalah." Kie Lek-beng mengerakan tangan. pukulannya sangat keras. Kie Lek-beng sangat marah dan berkata: "Nenek tua. berani kau memarahiku! Akan kubunuh dulu nonamu setelah itu aku membuat perhitungan denganmu. walaupun aku terlambat mengetahuinya tapi kau tidak akan bisa membohongiku lagi. jangan sembarangan bicara.." Mata Kie Lek-beng merah.. seperti seekor kucing sedang mempermainkan tikus. aku tidak mau berkelahi denganmu!" Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak lalu berkata: "Kau kira aku sudah mabuk? Aku sangat sadar. sangat sibuk Malam-malam baru pulang ke rumah Takut.. Belum habis berkata. dia tidak dapat bangun lagi.

" Eng-lam marah dan berkata: "Keluar kau! Aku tidak mau dengar lagi!" Karena marah Eng-lam sudah tidak dapat berkata-kata lagi." Teriak Kie Lek-beng: "Perempuan murahan. dimana kekasih gelapku? Ayo katakan!" "Kekasih gelapmu baru kuusir. kembali saja kepada kekasihmu!" Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak. tapi hatimu sudah pergi mengikutinya. tapi suka kepada seseorang bukan berarti aku adalah perempuan murahan. tapi hatimu masih ada pada . aku sudah memanggilnya dengan sebutan Coh Toako."Kau anggap aku ini apa? Kau sudah main gila dengan kekasih gelapmu. aku bukan perempuan murahan. pulang-pulang malah membuat keributan.. tapi sayang kau sudah memperlihatkan sosok aslimu. bila kau masih mau ribut. dia memandang istrinya dengan sebelah mata dan berkata: "Benar-benar perempuan terhormat. Aku mengaku bahwa aku memang suka dengannya. aku mengatakan yang sebenarnya. Lek-beng pikirkan dengan tenang dan dengar kata-kataku hingga habis. akhirnya kau mengaku juga!" "Waktu aku masih kecil.. Kie Lek-beng tertawa sinis dan berkata: "Ini adalah rumahku. bila disuruh memilih aku pasti akan memilih Coh Kim-sung. Dengan tertawa dingin dia berkata: "Kau adalah perempuan yang sudah bersuami. seharusnya kau yang keluar. kekasih gelapku adalah perempuan murahan. Paling sedikit Koan-koan tidak mencari kekasih lain di belakangku!" Eng-lam marah dan berkata: "Jangan sembarangan bicara. baru mau menikah denganmu. Jawab dengan jujur Coh Kim-sung adalah kekasih lamamu bukan? Kau kira aku tidak tahu?" Eng-lam dengan tenang menjawab: "Memang benar aku hanya menuruti permintaan ayahku." Kie Lek-beng hanpir meledak. bukan aku! Aku tidak berkata kotor. tapi kau lebih murahan lagi daripada dia. kau adalah perempuan genit. Waktu itu aku belum mengenal dengan orang yang bernama Kie Lek-beng. kau gagal bertemu dengannya. tapi kita tidak berjodoh.

tiba-tiba dia teringat . demi menjaga nama baikmu dalam waktu setengah tahun lagi aku akan pulang ke kampung halamanku dan meninggalkan rumahmu. Kemudian kau akan mendapat kabar kematianku.. air yang tadinya panas sudah menjadi dingin. Air ini disediakan oleh Ong Toanio agar Kie Lek-beng bisa mencuci muka. Tapi dia masih marah. Ong Toanio mengurus Kie Lek-beng begitu telaten karena tidak tahu Kie Lek-beng kapan akan pulang maka sebaskom air ini tiap jam selalu digantinya." Kie Lek-beng seperti balon yang sudah penuh dengan udara. mengapa harus menunggu setengah tahun. dia mulai agak sadar. sekarang aku ingin kau mati!" Eng-lam terkejut dan berteriak: "Kau jangan sembarangan bicara!" Dia mengerakan tangan dan menotok pada Kie Lek-beng. kau berani memarahiku binatang. Tiba-tiba Kie Lek-beng merasa disiram oleh sebaskom air dingin.. sudah tidak bisa menjadi suami istri lagi. dengan begitu kau akan dengan mudah memperistri Koan-koan. secara reflek dia mundur ke belakang dan menabrak Ong Toanio. "Ada pepatah mengatakan: harimau yang galak pun tidak akan memakan anaknya Ternyata kau lebih kejam dari binatang!" Kie Lek-beng marah: "Kurang ajar. Ong Toanio terjatuh dan muntah darah. Dia seperti seekor binatang buas. Karena kepala Kie Lek-beng sudah basah kuyup. mula-mula dia hanya ingin menghukum istrinya karena sudah sangat marah akhirnya dia ingin membunuhnya. sebaliknya Kie Lek-beng sudah mencekik lehernya! Eng-lam memberontak. Karena setelah lewat 2 jam.laki-laki lain. tapi tenaganya tidak cukup. Apakah ini tidak disebut rendah? Kau sendiri sudah mengakui. kita tidak perlu bicara lagi!" Kata Eng-lam: "Kau juga kumpul kebo dengan si jalang. dia tidak bisa menutup jalan darah Kie Lekbeng. demi suami nonanya. mencakar Eng-lam dan berkata: "Kau ingin pulang dengan Coh Kim-sung? Kemudian menikah dengannya? Malah mengatakan semua ini demi diriku." Kie Lek-beng berteriak dan marah: "Kau mau bicara apa lagi?!" "Kita sudah seperti ini. Dia berteriak seperti seekor binatang. siap untuk meledak. ternyata Ong Toanio sudah kembali. membuat Kie Lek-beng lebih marah lagi. itu apa namanya? Hanya saja aku tidak mau ribut denganmu. sekalian saja kau kubunuh!" Tapi begitu dia disiram air dingin.

dia mengatakannya. dengan bingung dia berkata. dia menjadi kebingungan. Hari ini dia sudah kembali lagi. tidak perlu memberitahu kepadanya!" Tapi suara Eng-lam terlalu kecil. Umur 19 tahun yang sangat panjang. tidak ada cara lain kecuali bersembunyi. bila ayah melihatnya. ternyata istrinya sudah hamil 3 bulan. selama 19 tahun ini sudah mengubah banyak jalan kehidupannya. perempuan jalang ini memang sangat kubenci." Eng-lam berteriak dan pingsan. bila kau membunuh nona kau membunuh 2 nyawa. dia kabur dari rumah. Bila tahu dia sudah hamil begitu aku tidak akan menyiksanya. "Pantas meminta setengah tahun lagi baru berpisah denganku. Ong Toanio juga menahan sakit. atau Ong Toanio tidak mendengar ucapannya. tapi anak yang berada dalam kandungannya adalah anakku. "Apakah kau tidak tahu? Dalam perut nona sudah ada bayimu sekarang sudah berumur 3 bulan. dia seperti sudah meninggal. yang menjadi biang keladi dan orang yang paling kubenci adalah Coh Kim-sung. Dia mendekatkan tangannya ke hidung Eng-lam. dia seperti berada di dunia lain. Terdengar Paman Ting memanggilnya. tapi jarinya tidak dapat teratur. "Siapa yang membuatku menjadi seperti ini? Koan-koan memang harus menanggung sebagian. kau sedang apa?" Kie Lek-beng terkejut dan berpikir." Walaupun dia sedikit menyesal. Dia memegang luka di wajahnya dan berkata pada diri sendiri. dia tidak berani bertemu dengan ayahnya. Melihat seperti itu Kie Lek-beng malah tidak dapat melakukan apa-apa. sekarang aku bukan orang yang dimaki-maki lagi di dunia persilatan.kepada kata-kata Ong Toanio. 'Kie Siauya sudah mati." Eng-lam pingsan tergeletak di bawah. Pertama kali kabur dia berumur 19 tahun. dia tidak akan memaafkanku!' Dia seperti seorang anak kecil yang nakal. Sekarang Kie Lek-beng sudah sadar dan mengerti. aku tidak menyalahkan dia sepenuhnya. tapi kemarahan lebih banyak menguasai pikirannya. 'Aku sudah melakukan semua ini. "Apa arti dari harimau tidak memakan anaknya?" Teriak Eng-lam: "Ong Toanio. "Siauya. bergerak pun tidak. ingin tahu masih bernafas atau tidak. dia telah . setelah berkata begitu dia pun pingsan.

dia malah disebut Pendekar Yang-ciu. aku tidak akan membiarkan putranya mengambil anakku." Dia ingin cepat-cepat membunuh Coh Thian-su. Dan Coh Thian-su segera menyuruh mereka tidur dulu." Hatinya yang gelisah sekarang sudah tenang. tiba-tiba dia mendengar ada suara air. Dia memakai ilmu meringankan tubuh. . aku pun kehilangan keluarga. Kedua. dengan begitu kemarahanku baru bisa hilang!" Yang membuatnya sedikit bahagia adalah dia sudah mempunyai seorang anak perempuan.. sungguh tidak adil. walaupun melihat secara sembunyisembunyi tidak apa. menikah dengan Coh Kim-sung. Dia benci kepada ibu anaknya tapi dia harus melindungi putrinya. dari Ting Po dia tahu bahwa laki-laki itu bernama Coh Thian-su dan dia adalah putra Coh Kim-sung! Kembali dia marah: "Coh Kim-sung sudah mengambil istriku. Ha. putriku bisa mati rasa kepadanya. Hiat-kun dan Su-giok pun terlihat lebih lelah dari Coh Thian-su.. Dia tahu sungai itu sangat dalam. dia berpikir. 'Coh adalah orang selatan.. aku lewat jalan darat saja sebelum pukul 3.membuatku seperti ini! Sekarang Eng-lam sudah mencapai keinginannya. Coh Thiansu sudah merasa lelah. aku pasti sudah bisa menyusul perahu mereka. tidak adil! Aku harus mencari cara yang paling kejam untuk membalas dendam. Perahu Coh Thian-su pun sudah tiba di Huang-lung." Sekarang harus bagaimana lagi? Dia berniat untuk membunuh lagi. juga ingin melihat wajah putrinya. kelihatannya Su-giok menyukai pemuda itu. dan aku. gelombang air pun sangat tenang.. Tempat-tempat yang berbahaya sudah mereka lewati.ha. Putrinya yang hampir mati di dalam perut ibunya. Dia hampir berbuat salah dan dia ingin menebus kesalahannya kepada putrinya. di tempat itu tidak ada angin. dan sebelum pukul 3 sudah tiba di Huang Long. Dia teringat kepada pemuda yang datang bersama dengan putrinya. dia sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik..ha. bisa membuat Coh Kim-sung sedih karena kehilangan putranya. dia bisa menjalankan perahu dan melewati bahaya di air. tidak berani bertemu dengan putriku sendiri. Coh Kim-sung sudah merampas istriku mencelakaiku seumur hidup. ini adalah cara yang paling ideal. "Hanya ada satu cara yaitu diam-diam membunuhnya! Kesatu. mereka sedang menepikan perahu. Tidak terasa dia sudah tiba di pinggir sungai Huang-ho.

Memang dia merasa sangat lelah. tapi dari sana Hiat-kun sudah tahu mengapa Kie Su-giok marah. mohon jangan rebut Wie Toako! Jangan!" Walaupun itu hanya mimpi. dalam hati dia berpikir. sebaiknya kau juga beristirahat!" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Kita harus sedikit waspada. bila aku sudah lelah aku akan membangunkan kalian. bila semua tertidur. orang yang dia suka juga dicintai oleh teman yang baru dikenalnya. "Wie Toako." Kata Kie Su-giok: "Baiklah.Kie Su-giok berkata: "Kau terlalu hati-hati. tidurlah dulu!" Jawab Coh Thian-su: "Kalian tidak perlu sungkan. Dia sendiri harus kembali ke rumah kakeknya. tapi sebenarnya yang ingin membunuh dia adalah ayah Kie Su-giok. dia pasti mimpi bahwa Hiat-kun akan merebut Wie Toako nya. 'Su-giok begitu mencintai Hoan Toako. tapi Hiat-kun masih bolak balik tidak dapat tidur. kau tampak lelah. kita bergantian jaga malam. terdengar dia marah lagi. Tiba-tiba Kie Su-giok berkata marah: "Kurang ajar kau." Begitu masuk ke dalam perahu. mengapa kau tidak meninggalkan aku saja?" "Cici Kang. Su-giok berhenti mengigau tapi Hiat-kun masih berpikir. Hiat-kun!" Hiat-kun terpaku. nasib mempermainkannya. Kie Su-giok langsung tertidur. Walaupun lelah dia tidak dapat tidur. bukan hanya Jipak-siang-eng melainkan Huang-ho-sam-kui juga bisa merepotkan. tapi dia masih banyak pikiran." Siapa yang menyangka yang akan datang bukan Ji-pak-siang-eng dan Huang-ho-sam-kui. dengan cara apa aku bisa menghentikan prasangkanya kepadaku?" . apakah masih takut kedatangan Ji-paksiang-eng? Sudahlah tidak perlu berjaga-jaga. kau tidak punya hati nurani. aku akan tidur dulu. Kata Hiat-kun: "Toako. 'Mengapa dia marah kepadaku?' Ternyata Kie Su-giok sedang bermimpi.

Ternyata Coh Thian-su juga banyak pikiran.. setelah bangun menghadapi kebingungan seorang diri." Kali ini dia tidak mimpi. Dia mempunyai kebiasaan bicara bila sedang bermimpi. sepertinya tadi dia marahmarah kepada Hiat-kun. kau juga harus tidur. Kie Sugiok mengira Hiat-kun benar-benar sudah tertidur. bila ada apa-apa besok saja ceritanya.Tiba-tiba Su-giok duduk dan memanggil: "Cici Hiat-kun." Kata Kie Su-giok: "Tadi aku bermimpi. Tiba-tiba terdengar Coh Thian-su bernyanyi.. untung saja Hiat-kun tidak mendengar. Hiat-kun pura-pura tertidur tidak menyahut. bila tidak hal ini sungguh memalukan. dia menyanyikan lagu 'Ho-sin-Iong' (memberi selamat kepada pengantin laki-laki). kemudian Su-giok memanggilnya lagi: "Cici Hiat-kun. Akan terjadi apa? ---ooo0dw0ooo--BAB 8 Jodoh yang diimpikan Seumur hidup membuat kesalahan Seorang diri menghadapi kesukaran ." Hiat-kun pura-pura baru terbangun dan berkata: "Aku sudah lelah." Di dalam mimpi cinta akan terlihat. dia bernyanyi untuk menghilangkan kekesalan di dalam dada. 'Mengapa aku tidak memakai nama Coh Toako untuk menghilangkan prasangka Kie Su-giok?' Dia membalikkan tubuh pura-pura bangun karena dibangunkan oleh nyanyian Coh Thian-su dan dia berkata: "Sekarang aku sudah tidak bisa tidur lagi." Dia melihat Hiat-kun membalikkan tubuh dan tidur lagi. dia sedikit lega ternyata Hiat-kun tidak mendengar igauannya. lebih baik aku mencari Coh Toako dan mengobrol. Hiat-kun segera berpikir.

Pura-pura Akhirnya Benar-benar Melakukan Hiat-kun memanggil-manggil: "Adik Giok." Kata Coh Thian-su: "Kau juga tidak salah memang aku sedang merindukan kampung halaman.Dua generasi bermusuhan A. yang tadi aku nyanyikan adalah Ho-sin-long.' Akhirnya Kie Su-giok pun berpura-pura tidur. dia menjadi terpaku. begitu kau menyanyikan 'Yang-ciu'. tiba-! iba melihat Hiat-kun berjalan ke arahnya." Hiat-kun tertawa dan berkata: "Aku tidak mengerti tentang puisi. Bagi Coh Thian-su. Hiat-kun scpeili dewi suci yang datang dengan cara menginjak permukaan air. dalam puisi itu ada kata-kata: Sepuluh tahun satu bulan merasakan jalan di Yang-ciu dengan: Sepuluh tahun satu bulan bermimpi di Yang-ciu tidak sama. coba Coh Toako jelaskan kepadaku. baju dihembus oleh angin berkibaran di bawah cahaya bulan. aku hanya dengar bahwa Yang-ciu adalah suatu kota dengan pemandangan yang sangat indah. 'Bila dia tahu aku belum tidur. Baju Hiat-kun putih seperti salju. aku mengira kau sedang merindukan kampung halaman. Coh Thian-su terpaku dan berkata: "Sumoi. . dia jadi ingin tertawa. tapi Hiat-kun sudah tahu bahwa Kie Su-giok sedang berpura-pura. kakak tadi aku sempal mendengar kau sedang membaca puisi atau sedang bernyanyi? Apakah kau teringat pada kampung halamanmu. Adik. Yang-ciu?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Aku tidak dapat membuat puisi. Adik Giok!" Dalam hati Kie Su-giok berpikir. yang satu lagi menceritakan tentang kerinduan pada kampung halaman. Coh Thian-su sedang melihat bulan dan termenung. dia terlihat sangat cantik dan memberikan kesan sedikit misterius. sebenarnya Hiat-kun ingin agar Kie Su-giok mengetahui bahwa dia keluar untuk bertemu dengan Coh Thian-su. yang satu menceritakan tentang percintaan antara muda mudi. dia akan malu keluar menemani Coh Toako. kau belum tidur?" "Aku sudah tidur tapi bangun lagi.

aku berteman denganmu pun belum lama. aku bisa cepat pulang dan melaporkan hal ini kepada ayahku." Hiat-kun tertawa dan berkata: "Masih berkata tidak marah. Supek sudah meninggal.sesudah aku bisa bertemu denganmu. aku tidak berani marah kepadanya. jadi tidak memerlukanku lagi!" Hiat-kun tertawa dan berkata: "Aku tahu orang yang kau maksud adalah Wie Thian-hoan. karena itu kau tidak akan peduli lagi kepadaku?" Dengan cepat Coh Thian-su berkata: "Sumoi. kau marah kepadanya juga marah kepadaku. dia pasti mau membantumu." Tanya Hiat-kun dengan tertawa: . Toako kau sedikit pikun!" Hati Coh Thian-su bergetar dan dia berkata : "Aku salah apa? Mohon diberi petunjuk. seharusnya aku menjemputmu dan membawamu ke Yang-ciu tapi kau sudah mempunyai tempat lain. tapi itu masalah kecil mengapa kau selalu mengingat terus? Jangan hanya gara-gara dia." Tanya Hiat-kun: ”Kau baru pergi dari rumah selama 1 bulan apakah sudah ingin pulang?" "Kali ini aku pergi karena diperintah oleh ayah untuk mencari tahu keberadaan Supek Kang. Toako tidak peduli lagi kepadaku " Kata Coh Thian-su: "Bukan aku tidak mau membantumu. memang dia salah. jangan berpikir seperti itu. karena aku tahu ada orang yang lebih kuat 10 kali lipat dariku menjagamu. aku hanya khawatir dia tidak suka bila melihatku bersamamu. bukan aku tidak peduli padamu." "Memang malam itu sebenarnya dia tidak boleh berlaku begitu kepadamu. apakah kau masih marah kepadanya?" "Ilmu silatnya lebih baik dan ku. maka itu " Hiat-kun mengerutkan dahi dan berkata: "Kau mengira aku sudah mempunyai tempat untuk berteduh.

aku akan pulang setelah mengantarmu ke rumah Su-giok."Apakah kau bermaksud tinggal lama di rumah Su-giok?" Coh Thian-su terpaku dan bertanya. Wie Thian-hoan adalah tetanggaku waktu aku masih kecil." "Yang mana?" "Kau bilang." "Apakah kau sudah siap bila tidak bertemu dengan Wie Thianhoan kau akan langsung pergi juga?" Kata Hiat-kun: "Benar. musuhmu juga musuhku. aku dan Wie Thian-hoan harus membantumu. Bila dia tidak mau membantuku. membuat Coh Thian-su ragu dan berkata: "Bagiku memang seperti itu. tapi ada hal yang tidak kumengerti. apakah benar?" Hiat-kun berkali-kali mengatakan 'kita'. kita tidak perlu sungkan karena kita adalah saudara seperguruan. Kau adalah Suhengku. aku bisa langsung meminta Toako membantuku karena kau adalah Suhengku. kau tidak sama. bila dia ada di rumah Kie. aku berharap bisa bertemu dengan dia lagi juga berharap dia bisa membantuku. dia mau membantuku karena musuh kami sama. "Apa maksudmu?" "Jawab dulu pertanyaanku?" "Sudah kukatakan. kita hanya akan bertamu selama 2 hingga 3 hari saja. juga tidak apa-apa aku tidak akan marah. tapi kau juga pasti banyak teman masa kecil. kemudian tinggal selama 2 hingga 3 hari setelah itu aku akan pulang dan berpisah denganmu.. ." Coh Thian-su berkata: "Kita adalah Suheng-Sumoi.." Kata Hiat-kun: "Kita disana juga belum tentu bisa bertemu dengan Wie Thianhoan. apakah dalam hatimu aku lebih dekat daripada dia?" Kata Hiat-kun: "Benar. karena musuhku juga musuhnya tapi seumur hidup aku tidak bisa bergantung terus padanya. kami tumbuh bersama." Segera Hiat-kun berkata: "Bagiku juga seperti itu. tapi kau.

. tapi suatu hari dia pasti akan membentuk keluarga. tidak perlu mendengar . dia bukan orang lain. sekarang dia tinggal di rumah Kie." Kata Coh Thian-su: "Aku tidak mengatakan tentang keluarga Kie. sementara dia hanya bisa diam.. suami istri belum resmi. aku sudah bisa lihat walaupun kau belum menikah dengan Hie Tiong-gwee tapi kalian belum menjalankan adat pernikahan.' Lalu dia berkata: "Adik. apakah selamanya aku harus bergantung padanya?" "Aku kira. aku bilang adalah Wie Thian-hoan." ”Kau mengira apa ?” Pikir Coh Thian-su. Hiat-kun terus berkata: "Karena itu walau di rumah Kie bertemu atau tidak dengannya. dia hanya teman baik sewaktu aku masih kecil. kau juga tidak mau Sumoi mu diam terus di rumah orang lain bukan?" Kata Coh Thian-su: "Ini tidak bisa disebut diam di rumah orang lain.apakah kau tidak tahu Suheng-Sumoi hubunganya lebih dekat daripada tetangga?" Jawaban dari Hiat-kun benar-benar di luar dugaan Coh Thian-su. Tidak perlu demi dirinya tidak mau menikah. apakah kau mau dengar?" "Katakanlah!" "Wie Thian-hoan benar-benar mencintaimu." Kata Hiat-kun: "Aku sudah mengatakan Wie Thian-hoan bukan orang lain. "Aku dan keluarga Kie bukan saudara juga bukan teman baik. bila kau menikah dengan Wei Tian Tuan itu sangat pantas. tapi bila dibandingkan denganmu dia adalah orang lain. 'Lebih baik jujur kepadanya.kira. berarti dia juga keluarga Kie. memang benar aku dan Nona Kie begitu bertemu sudah merasa cocok. aku mempunyai ganjalan. tapi Coh Thian-su tidak menjawab lagi.. aku harus tetap harus pergi. apalagi sudah terbukti bahwa Hie adalah musuh yang membunuh ayahmu..

aku tetap akan pergi!" Setelah mengatakan itu Hiat-kun tertawa: "Karena itu kau tidak perlu memperhatikan apakah dia menyukaimu atau tidak. aku masih seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang belum mengerti cinta." Kata Hiat-kun. Saat kau pergi aku juga akan pergi." Hati Coh Thian-su bergetar dan berkata: "Tapi Wie Thian-hoan benar-benar menyukaimu!" "Mungkin dia tidak tahu yang mana disebut suka dan yang mana disebut cinta." "Aku salah." Hiat-kun terpaku dan menarik nafas. dia berpikir. maka dia semakin sayang kepadamu. Hati Hiat-kun terasa sakit." Hiat-kun menarik nafas dan berkata: "Kata-kata Toako masuk akal." Hiat-kun menghindari pandangan Coh Thian-su dan berkata: "Aku pernah mengatakan walaupun aku bertemu dengan Wie Thianhoan di rumah Kie. aku sudah tidak menganggap bahwa aku adalah istri Hie Tiong-gwee lagi." "Aku mengira kalian saling menyukai. Tapi ada satu hal yang salah. Aku tahu kau sering membaca buku tidak disangka kau pun mengerti perasaan orang. karena itu dia merasa bersalah dan karena sudah lama tidak bertemu. "Maksudmu kalian hanya adik kakak saja karena kedua keluarga kalian mendapat musibah. Aku menyukainya hanya Sebagai Seorang kakak. di mana?" "Aku hanya teman kecilnya. bagian atas adalah tentang semua hal di dunia seperti sebuah ilmu. 'Apakah perasaan Hoan Toako seperti yang diceritakan oleh Coh Toako?' Coh Thian-su menatap mata Hiat-kun. karena menyesal menjadi sayang lama kelamaan berubah menjadi cinta.perkataan orang lain apalagi suatu hari nanti kebusukan Hie akan terbongkar. Waktu itu kau pasti tidak akan dicemooh orang-orang. bukan kekasih lamanya. "Kau salah. dengan pelan dia berkata: "Karena merasa bersalah menjadi menyesal." . "Toako. Bila mencari sebabnya mungkin dia menganggap keluargamu hancur karena ada kaitannya dengan keluarganya. aku pernah melihat sepasang Tui-lian (semacam spanduk panjang). yang bawah adalah mengerti perasaan orang seperti sebuah buku. dia berkata. pada waktu kami berpisah.

Dia tidak mau dan marah kepada Wie Thian-hoan. Apakah ini bukan disebut cinta? Hanya saja dia tidak mengatakannya kepadaku. "Dia dekat denganmu. "Apakah kau tidak keterlaluan bersikap seperti itu kepada Wie Thian-hoan. tidak perlu mencintai perempuan yang sudah melupakannya." Waktu itu Wie Thian-hoan belum cukup mendapat bukti bahwa Hie Tiong-gwee adalah pembunuh ayahnya. Hati Coh Thian-su bergetar. Dia hanya menjelaskan alasan ingin bertemu dengan Hiat-kun. dia tidak lagi bertemu denganku. dia berpikir. Sekarang dia menguping pembicaraan antara Hiat-kun dengan Coh Thian-su. lambat laun dia akan melupakanku. dia selalu percaya bahwa Hoan Toako benar-benar mencintai dia. Tapi dia juga masih ada sedikit keraguan." Kie Su-giok dalam hati sangat gembira. dia berpikir.' Kie Su-giok yang teringat lagi pada kata-kata Wie Thian-hoan malam itu. dia tidak membohongiku. kemudian menyuruhnya pulang sendiri. Bagi gadis yang mata hatinya baru terbuka karena cinta.Hiat-kun jelas-jelas mengatakan tidak mempedulikan Wie Thianhoan. dia hampir mendengar detak jantungnya sendiri. bila sudah tahu jangan bertanya lagi!" "Apakah Wie Thian-hoan mencintainya?" "Aku kira begitu. dengan bercanda dia berkata. apakah kau tidak tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya? Orang ini lebih-lebih tidak dapat dia tinggalkan. aku hanya tidak mau dia menikah dengan Hie Tionggwee yang aku benci." "Apakah sekarang dia berada di dalam perahu?" Hiat-kun tertawa dan berkata: "Benar. awalnya dia akan merasa sedih tapi bila sudah lewat waktu yang lama." "Siapakah dia?" Tanya Coh Thian-su. Wie Thian-hoan ingin kembali lagi mencari Hiat-kun. dia akan baik-baik saja. kau tidak mengerti. dia selalu mengkhawatirkan Sumoinya karena saat itu dia belum meninggalkan Lok-yang. Bila dia sudah mendapat jodoh yang dia cintai. sewaktu aku bersamanya selama 2 hari. dia adalah teman waktu aku masih kecil dulu. waktu itu Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata: "Adik. tapi sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah pendekar palsu. tapi dia tetap tidak ingin kau pergi darinya. 'Kelihatannya Cici Hiat-kun ." "Kau salah lagi. 'Wie Toako masih ingat kepadaku.

itu sangat bagus!" Terdengar Coh Thian-su berkata lagi: ”Dua hari lagi aku akan berpisah denganmu." Sebenarnya Coh Thian-su ingin mengundang Hiat-kun ke rumahnya.sudah bisa mencintai Suhengnya. bukan orang lain!" "Yang aku maksud adalah apakah kau tidak takut namamu akan tercemar?" "Apakah kau takut Hie Tiong-gwee akan menyalahkanku karena menculik istrinya?" "Malam itu dia sudah berkata seperti itu. aku tidak takut Wie Thian-hoan tercemar namanya. dia hanya mencoba Kata Hiat-kun dengan tertawa: "Apakah kau tidak takut dengan masalahku?" "Kita adalah Suheng-Sumoi." Kata Hiat-kun: . tapi ibu tiriku sudah seperti ibu kandungku " Kata Hiat-kun: "Kalau begitu." "Malam itu kau ditolong oleh Wie Thian-hoan. "Ibuku sudah lama meninggal. "Di rumahmu masih ada siapa?" "Ayah. dan adik perempuanku. bila mereka bisa saling mencintai. kau juga tidak ingin lama-lama di rumah Kie. karena begitu Wie Thian-hoan menikah dengan Sumoinya." Dengan lembut Hiat-kun bertanya. ibu. kalau begitu mungkin kita tidak akan berpisah secepat itu. tapi takut bila berkata sembarangan malah akan membuat Hiat-kun menjadi ketakutan." Kata Hiat-kun: "Aku juga tahu mereka mencurigai bahwa antara aku dan Wie Thian-hoan ada perasaan cinta. gosip ini akan mereda dengan sendirinya. apakah masih ada yang lain?" "Kami sekeluarga hanya ada 4 orang. nasibmu lebih baik." "Aku juga tidak takut." "Apakah ibumu ini adalah ibu kandung?" Tanya Hiat-kun.

" Wajah Coh Thian-su menjadi merah. Hiat-kun mengulanginya lagi. mencoba menebak coretan hurufnya. sepertinya tidak ada perempuan yang ada di hatiku. begitu Coh Thian-su semakin mendekatinya. tiba-tiba Hiat-kun menjabat tangan Coh Thian-su. tiba-tiba dia merasa Hiat-kun sedang menulis kata-kata di telapak tangannya. dalam hati dia ingin tertawa dan berkata pada dirinya sendiri. banyak yang mencomblangiku tapi sebelum berada di Lok-yang. saat itu dia hampir melamar Hiat-kun tapi dia tidak berani. jantungnya berdebar-debar terus. Sengaja Hiat-kun bertanya: "Apakah gadis itu adalah Nona Kie?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Jangan berkata seperti itu. tiba-tiba dia mendapat ide. di kemudian hari bila kau bertemu dengan gadis yang kau cintai. dia akan marah. . dia hanya menunggu adik seperguruannya. aku pun seperti itu." Ini artinya setelah dia tiba di Lok-yang. jarinya pun gemetar. sebenarnya dia ingin memegang tangan Hiat-kun. Coh Thian-su menenangkan diri. mungkin dia akan menganggapku tidak tahu diri. Coh Thian-su baru mengerti apa yang ditulis oleh Hiat-kun."Kalau begitu kau belum menikah?" Coh Thian-su tampak malu dan berkata: "Jangan menertawakanku. dia sudah menemukan perempuan yang bisa membuatnya jatuh cinta. bila aku bersamamu. Setelah lama dengan suara bergetar dia berkata: "Kau tidak takut. Hiat-kun melihat dia. bila terdengar Wie Thian-hoan. aku akan merusak namamu. dia ingin mengungkapkan cintanya kepada Hiat-kun." Suaranya bergetar." Dia tidak menjawab. gadis itu tidak akan berani menikah denganmu. "Bila sandiwara ini diteruskan." Kata Hiat-kun: "Kau belum menikah. tapi entah mengapa dia tidak bisa menggerakkan jari-jarinya. mengapa tidak takut pada gosip yang akan beredar? Toako. Coh Thian-su sangat gembira. persyaratanku terlalu tinggi.

kau tidak takut gosip. Dia hanya bisa berkata: "Sumoi. sebenarnya kita adalah satu keluarga. aku ingin. Toako. Coh Thian-su merasa kelembutan Hiat-kun hanya pura-pura. Bagaimana apa kau jadi ikut denganku pulang ke Yang-ciu?" "Ayahmu adalah paman guruku. seharusnya aku bertemu dengan beliau. Tapi dia mengerti maksud Hiat-kun. kau bisa menganggap rumahku adalah rumahmu juga.. . tolong bersikap intim denganku. kali ini mereka tidak berpura-pura. dia pasti akan senang. Hiat-kun menarik kembali tangannya. ini sangat baik. Hiat-kun merasa Coh Thian-su sepertinya kecewa. Langit sudah tertutup oleh awan hitam." Kata Hiat-kun. suasananya gelap seperti hati Coh Thian-su. sekarang dia baru mengerti! Perasaannya langsung membeku. Apakah benar?" Tidak sengaja mereka saling berpegangan tangan. sinar bulan semakin menghilang. dari suaranya terdengar dia hampir menangis Dalam hati Coh Thian-su juga merasa sedih. "Bila kau mau." Kata-kata Coh Thian-su begitu sederhana. Walaupun perasaannya beku tapi dia tetap berkata: "Adik." Kata Hiat-kun : "Aku tidak punya rumah dan juga saudara. tapi dia tidak mengatakannya dengan jelas. jangan begitu.Kata-kata yang ditulis Hiat-kun adalah: di depan Nona Kie. Coh Thian-su bukan orang bodoh. dalam hati dia berkata: "Aku masih harus membantu sandiwaranya. terima kasih kau mau menerimaku di rumahmu. sekarang pun tidak ada tempat untuk berteduh." Kata-kata ini keluar dari dalam hatinya. dengan lembut dia berkata: "Coh Toako. kau sedang memikirkan apa?" Hati Coh Thian-su sangat sedih.." "Ayahku bila tahu ada gadis yang kusuka.

kali ini dia benar-benar terkejut. "Cici Hiat! Cici Hiat!" dia berteriak sekencang-kencangnya Hiat-kun menyahut dari luar. "Adik Giok. Dia memejamkan mata pura-pura tidur. Hanya merasa ada angin lewat. tapi tangannya sudah mencengkramnya. Jari orang itu dengan lembut memegang rambutnya dengan ringan sangat sangat ringan seperti angin musim semi yang berhembus. tapi semua percakapan mereka dia sudah dengar. pantas dia sangat gembira hingga tidak bisa bicara. dia takut ketahuan karena itu dia pura-pura tidur. Tapi sekarang dia tidak bisa melihat apa-apa. tapi orang ini tetap tidak terkena serangannya Dia sering berlatih senjata rahasia. "Cici Hiat adalah si Cantik dari Lok-yang." Dia berpikir. Tapi dia bukan sedih. "Apakah tadi dia tidak tertidur? Begitu terbangun tidak melihatku kemudian sengaja berteriak?" "Cici Hiat. awan hitam pun masih menutupi bulan. pura-pura terbangun dan tidur. tapi dia merasakan nafas orang itu. dia juga merasa jari-jari orang itu gemetar. Dia sangat terkejut. 'Mengapa mereka terdiam? Apakah karena mereka juga merasa gembira?' Tiba-tiba dia merasa ada seseorang mendekatinya. tapi air matanya adalah air mata gembira. segera dia membuka matanya. hatinya pun bergejolak. Kie Su-giok pura-pura tertidur.Mereka tidak bicara lagi. Kie Su-giok mengeluarkan serangan dengan cepat. orang itu sudah menghilang. benar dia memang seperti Hiat-kun matanya sudah penuh dengan air mata. bila Coh Thian-su tahu Sumoinya mencintai dia. Tapi Kie Su-giok tahu. kau ada di mana? Apakah tadi kau masuk ke . angin itu bukan masuk melalui jendela. kau sudah bangun?" Dia mendengar Kie Su-giok berteriak. Dia mengira Hiat-kun sudah kembali. asal tidak berlalu gelap paling sedikit dia bisa tahu sosok orang itu. dia pun terkejut.

Mereka sedang mengobrol dan langit tertutup oleh awan hitam. Siapa yang mempunyai ilmu silat begitu tinggi? Bisa menipu mata Coh Thian-su dan Hiat-kun? dia bisa masuk ke dalam perahu tanpa diketahui oleh mereka sama sekali.. Coh Toako pun berkata seperti itu. tapi hanya sebentar kemudian menghilang. Coh Thian-su melihat ke darat dia seperti melihat ada bayangan orang." Dalam keadaan seperti itu terpaksa dia mengaku. Tanya Hiat-kun: "Apakah tadi kau bermimpi buruk?" "Sejak tadi aku sudah bangun. Coh Thian-su pun berkata: "Aneh. wajahnya masih penuh tanda tanya. aku tidak bermimpi. "Temanilah Nona Kie.kamarku?" suara Kie Su-giok terdengar gemetar. aku akan ke darat untuk melihat. . Bulu kuduk Kie Su-giok merinding dan berteriak: "Tadi di depan tempat tidurku ada seseorang. Kie Sugiok sudah menyalakan lampu." Hiat-kun setengah percaya dan masuk ke dalam perahu." "Apa? Ada orang? Mengapa bisa begitu?" Belum habis kata-katanya. tadi juga aku merasakan ada seseorang." Awan hitam sudah menghilang. setelah meninggalkan perahu mereka baru merasa curiga. tidak menutupnutupi lagi bahwa dia tadi pura-pura tertidur. tadi aku dan Coh Toako sedang mengobrol sebentar lagi dia akan menemuimu.. Hiat-kun terpaku dan berkata: "Kau jangan takut. Sekarang Hiat-kun percaya. Tadi dia merasakan perahu sedikit bergoyang menurut pengalamannya ini bukan karena gelombang air. Kata Coh Thian-su." Hiat-kun mengira Kie Su-giok sedang bermimpi buruk. Tingginya ilmu silat orang itu membuat Hiat-kun sangat terkejut.

dia pasti akan kembali ke sisiku. "Sekarang harus bagaimana?" biasanya Coh Thian-su sangat tegas dalam mengambil keputusan. sekarang dia pun kebingungan. Di darat ada sebuah gunung Coh Thian-su tahu Wie Thian-hoan tidak akan . dia mendengar percakapanku dan Coh Thian-su. Hatinya sangat kacau. bila Wie Thian-hoan sudah mendengar percakapan itu dia hanya akan bersedih tapi tidak akan memukul Coh Thian-su untuk melampiaskan kemarahan. tapi bayangan orang itu tidak ada. "Dia pasti Hoan Toako. dia lebih suka Wie Thian-hoan salah paham. Yang dipikirkan Hiat-kun juga dipikirkan oleh Kie Su-giok Dia melihat Hiat-kun dengan cepat lari ke darat." Hiat-kun mencari alasan dan menuju daratan. Hiat-kun pun tidak ingin bertemu dengan Wie Thian-hoan tapi mengapa dia menyusul Coh Thian-su? Mungkin Hiat-kun juga tidak tahu alasannya. siapakah dia?" Hiat-kun jadi bingung Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan dalam pikirannya dan dia menjawab sendiri. Dia bukan mau menjelaskan kepada Wie Thian-hoan. Apakah dia takut Wie Thianhoan dan Coh Thian-su bertengkar? Ini juga bukan alasannya. dia tahu sifat Wie Thian-hoan yang sombong. Dia berlari di atas pohon. dia mengira Hiat-kun sudah jatuh cinta kepadanya kemudian Wie Thian-hoan mendengar dan beilaii keluar." "Adik. aku akan lihat siapa dia? Aku takut Coh Toako mengalami masalah." Gadis yang jatuh cinta selalu berpikir yang muluk-muluk tapi kali ini dia kecewa karena Wie Toakonya tidak kembali. hanya terdengar burung yang terkejut karena Coh Thian-su terbang. dia pikir. Dia mengira aku menyukai Coh Thian-su."Walaupun orang itu tidak berniat jahat. "Bila Wie Thian-hoan tahu bahwa Hiat-kun menyukai Coh Toako. dia mengira orang itu adalah Wie Thian-hoan. itu pasti Wie Toako! Dengan sembunyi-sembunyi dia melihatku tapi mengapa Wie Toako tidak datang dengan terang-terangan saja? Apakah dia takut diketahui oleh Hiat-kun? Apakah dia merasa malu? Atau dia masih ada perselisihan dengan Coh Toako?" Dia juga mencari alasan mengapa Wie Thian-hoan tidak datang dengan terang-terangan? Dia berharap Wie Toako akan kembali. tapi aku berharap dia cepat kembali. dia sedih kemudian pergi diam-diam. Kie Su-giok dan Hiat-kun berpikir seperti itu. kau tenang dulu. demikian juga dengan Coh Thian-su. Coh Thian-su berpikir seperti Hiat-kun.

temuilah Hiat-kun!" Coh Thian-su berteriak. Walaupun ilmunya tidak setinggi Wie Thian-hoan tapi bila Wie Thian-hoan bersembunyi di balik semak-semak. apakah aku akan terus membuatnya sakit hati hingga dia tua? Aku harus menyatukan Wie Thian-hoan dan Jian Hiat-kun.terkejar olehnya. "Mungkin sekarang dia sedang mengobati lukanya. batu kedua hampir mengenai jalan darah yang mematikan. Orang yang belajar silat selalu mempunyai jurus untuk melindungi diri. Dia berharap Wie Thian-hoan belum jauh. Tapi dia tetap mencoba. Dia disalahkan tidak apa-apa tapi Hiat-kun yang akan menjadi korbannya. tunggulah sebentar.bagaimana menjelaskannya. dalam keadaan seperti ini dia mengeluarkan Poan-koan-pit untuk menangkis senjata rahasia itu. sekali mendengar sudah tahu bahwa tenaga batu itu sangat besar." Bila dia menjelaskannya kepada Wie Thianhoan rencana Hiat-kun akan gagal. Begitu juga dengan Coh Thian-su. Coh Thian-su sangat gembira sekaligus terkejut. Waktu itu Coh Thian-su sudah tahu bahwa Wie Thian-hoan akan mencabut nyawanya. Dia akan mati . "Wie Toako. "Wie Toako. Dia kebingungan dan dia berharap bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan di gunung itu tidak ada suara apa-apa hanya terdengar gema suaranya saja. Yang menyambut dia bukanlah Wie Thian-hoan melainkan 2 butir batu kecil. Coh Thian-su berharap bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan. "Dia sudah begitu menderita. dia sudah tidak dapat mengelak lagi. Tiba-tiba dia mendengar ada seseorang yang menarik nafas. "Harus . Hiat-kun demi Su-giok mengorbankan diri. bila kau tidak mau bertemu denganku. Dua butir batu kecil itu terbang dengan suara mendesing keras. dia pasti bisa mendengarnya. Bila dia tidak menjelaskannya Wie Thian-hoan akan salah paham kepadanya." pikir Coh Thian-su. karena dia tahu Wie Thian-hoan sangat mencintai Hiat-kun. Batu pertama berhasil dipukul olehnya. kemudian menjelaskan semuanya. atau harus menyatukan Wie Thianhoan dan Kie Su-giok?" Apakah dia harus memasuki putaran cinta ini? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. segera dia berlari ke gunung itu. aku akan bicara denganmu!" Dia memakai ilmu mengirim suara dari jauh untuk menyampaikan kata-kata ini.

" Ternyata begitu Hiat-kun bertanya. Coh Thian-su tidak tahu siapa orang itu dan tetap menganggap dia adalah Wie Thian-hoan. dia sebenarnya tidak perlu memakai cara seperti ini karena aku pun tidak akan bisa mengejarnya." pikir Coh Thian-su. "Toako. Batu yang dilontarkan oleh Wie Thian-hoan sudah menjadi bukti yang jelas bahwa dia tidak ingin bertemu denganku. Dia mengejutkanku dengan cara seperti ini. kemudian terdengar suara 'BUG'. batu itu datang dari tempat jauh. terdengar Hiat-kun berteriak dan berlari ke arahnya. Kie Su-giok dan Hiat-kun sudah meninggalkan tempat itu. Bayangan orang itu masih tidak terlihat. Batu terbang dengan kekuatan penuh tapi pada saat mengenai lututnya terasa tidak begitu bertenaga. tapi jalan darahnya tidak tertutup. tiba-tiba Coh Thian-su bergerak dan dia menjawab. tenaga dalamnya cukup kuat. tapi Coh Thian-su sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Hiat-kun. "Aku pun tidak tahu siapa dia. walau bagaimana pun dia tetap harus duduk beristirahat. Dia tidak tahu bahwa orang yang misterius ini dengan orang yang menolong Ting Po adalah orang yang sama. Pada saat dia sedang melonggarkan jalan darahnya. ilmu silatnya begitu tinggi. dan aku juga tidak terluka. dia belum tahu siapa Coh Thian-su sebenarnya. walaupun terkena pukulan batu itu. ." pikir Coh Thian-su. batu itu sudah membelok dari arah atas ke bawah." Hiat-kun bertanya: "Siapakah dia?" Hiat-kun berkata dia. Pertama. Ini saja sudah membuat Coh Thian-su terkejut. karena orang itu tidak mau membunuhnya. "Tidak disangka ilmu silat Wie Thian-hoan lebih tinggi dari perkiraanku. batu itu mengenai jalan darah di lutut Coh Thian-su. dia hanya merasa sedikit sakit. dia ingat sewaktu di rumah Hie Tiong-gwee pada saat dia pertama kali bertemu dengan Wie Thian-hoan. tapi caranya begitu unik. ilmu silat Kie Yan-gan saja aku belum pernah lihat. hanya orang yang menolong Ting Po yang bisa disetarakan dengan dia.karena disangka 'musuh cinta'. Ting Po pun disentil dengan batu kecil di lutut tapi pada saat itu Coh Thian-su. Belum habis Coh Thian-su berpikir. dari semua pesilat yang pernah aku temui. apakah kau terluka?" Coh Thian-su tertawa: "Untung dia tidak mau membunuhku. sungguh sangat tidak berharga.

"Waktu itu dia mengira aku menculik adik seperguruannya. dia tahu aku tidak bersamamu maka dia akan menemuimu. sepertinya kau sedang marah kepadaku.. Waktu itu bukan karenaa dia mau membenciku. aku masih dapat menahan serangannya. aku benar-benar ingin mencari musuhku. lebih baik aku pulang dulu. biarlah aku ke ibukota seorang diri mencari musuhku dan kau mengantar Nona Kie pulang. begitu bertemu dia menyerang dengan ganas.. bila aku bersamamu." Tadinya Coh Thian-su tidak ingin mengantar mereka berdua. tapi." Kata Hiat-kun: "Kita di rumah hanya 3 hari. berarti dia tidak akan ke rumah Kie dan berkumpul dengan kita. bila kau tidak mau mengerti diriku. apakah kau marah?" "Tidak." "Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Toako. kita sama-sama mengantar Nona Kie pulang." Dengan lembut Hiat-kun berkata: "Toako." "Aku belum tahu siapa dia. dia tidak akan mau bertemu denganmu. mengapa sekarang kau mau meninggalkanku?" Kata Coh Thian-su: "Sudah kukatakan aku berharap kalian bisa berkumpul kembali." Kata Coh Thian-su: "Kalau begitu. kau juga tidak perlu bersama-sama denganku terus. Walaupun aku sudah bertarung dengan Tuan Kiam-ta. maka itu aku meminta tolong kepadamu. "Baiklah. Apakah kau sudah lupa? Karena aku ingin melepaskan diri darinya." . aku hanya bilang ingin ikut pulang denganmu." "Tapi apa? Bukankah kau sudah berjanji akan tetap bersamaku. itu tidak berarti apa-apa. Pertanyaan ini sudah lama tersimpan di hatinya dan sangar erat hubungan dengannya." Coh Thian-su menjawab dengan penuh keraguan "Mungkin dia. aku tidak dapat mengikutimu. di rumah Kie bertemu atau tidak dengan dia." "Aku juga pernah berkata. tapi malam ini ilmu silatnya tidak mungkin maju begitu pesat. akhirnya dia berkata. tapi adiknya dengan lembut meminta dan dia pun sebenarnya ingin mencari tahu hubungan antara ibu tirinya dengan keluarga Kie." Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Adik. walaupun akhirnya aku ditotok. setelah sampai di rumah Kie sebaiknya kita berpisah.

tapi mereka sudah mengerti hati Coh Thian-su sudah tahu Hiat-kun mencintai Wie Thian-hoan. "Coh Thian-su sebenarnya adalah orang yang sombong tapi demi diriku dia mau melakukan Segalanya.. Tapi masih mau bersandiwara dengan Hiat-kun agar hati Kie Su-giok menjadi tenang." Hiat-kun menjadi terharu." Dua kalimat ini membuat Hiat-kun meneteskan air mata. tapi Nona Kie juga kasihan bila tidak mendapatkan Hoan Toako.. kelak pasti akan ada. tapi aku tidak akan membuatnya sedih. 'Sayang kita terlambat bertemu. apakah aku sudah salah bicara? Melihatmu. hatimu sangat baik. aku tidak apa-apa. ini juga suara hatiku tapi aku tidak ingin bercerita kepada Nona Kie. sekarang kata-kata Coh Thian-su membuatnya menangis." Dia sangat berterima kasih sekaligus merasa bersalah. hal ini membuatnya tersiksa. aku benar-benar membuatmu tersiksa!" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Kau Yang lebih tersiksa lagi. nasibku yang tidak baik.' Hati Coh Thian-su juga bergetar dan dia berkata: "Adik. Toako. dalam hati dia berpikir." Masih dengan menangis Hiat-kun berkata: "Toako. kau akan bernasib baik. kau tidak bersalah. tapi aku iri dengan nasib baiknya."Aku juga sudah mengatakan bahwa aku tidak takut dilibatkan dengan urusanmu." tidak terasa Coh Thian-su sudah mulai marah. Dia akan sangat sedih. "Toako. Hiat-kun juga tahu bahwa Coh Thian-su mencintainya.. Coh Toako. dia memiliki cici sebaik dirimu. dia memegang tangan Coh Thian-su lebih erat lagi.. aku tidak dapat menerima cintamu. bisakah kau bertahan dengan siksaan ini?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Kau bilang kasihan kepadanya. dia teringat dia hampir tertipu menjadi istri dari musuhnya dan dihina oleh keluarga Hie. hatiku sudah kuserahkan kepada Hoan Toako. Toako. Percakapan mereka masing-masing. dia memegang tangan Coh Thian-su dan berkata. belum selesai. biarlah nasibku tidak baik. maafkan aku. lagi pula dia masih muda dan polos." . "Toako. aku minta demi diriku dan demi Nona Kie. mengapa dia harus sedih? Kau membiarkan orang beruntung.

dalam hati berpikir. walaupun tidak deras tapi seperti angin topan yang membawa bencana." . "Jangan bicara lagi. "Toako. mereka saling mencintai. kaki Coh Thian-su masih belum bisa berjalan dengan lancar." Sebenarnya Coh Thian-su bisa berjalan sendiri. "Bocah ini nasibnya bagus. dia sudah hampir jatuh. "Aku tidak salah. aku akan membunuh bocah tengik itu begitu juga dengan perempuannya. tapi dia tetap membiarkan Hiat-kun menuntun jalannya. Dia melihat mereka kembali ke dalam perahu. karena Coh Thian-su dan Hiat-kun memakai ilmu mengirimkan suara dalam bercakap-cakap maka dia hanya bisa melihat tapi tidak dapat mendengar. Kata Hiat-kun. Jalan begitu licin. Melihat mereka pulang sambil berpegangan tangan. 'Kelak akan ada gadis haik yang akan mencintaimu. aku akan memapahmu. 'Kau melakukan ini agar Kie Su-giok melihatnya. Tapi dia pasti akan kembali ke sisiku.Yang ingin dia katakan adalah. Sangat sayang anak Di gunung itu juga ada orang yang melihat sandiwara itu. aku tidak akan membiarkan mereka tahu bahwa aku sudah melihat mereka " ---ooo0dw0ooo--B. dia berpikir. satu jam yang lalu bila aku tidak melihat mereka seperti itu. kau tidak perlu berpura-pura kuat. dia baru saja mau melepaskan tangan Hiat-kun. Dia tidak tahu bahwa semua ini hanya sandiwara. kita harus kembali lagi untuk melihat Nona Kie yang bernasib baik. Tiba-tiba hujan gerimis. hatinya sedikit kecewa karena Wie Toako Luak ikul dengan mereka." kata Coh Thian-su. sebenarnya dia ingin membunuh Coh Thian-su tapi sekarang dia lebih senang menonton sandiwara ini. Tapi yaiig paluig mendominasi adalah rasa gembira. aku takut mereka malu. Hujan kecil ini seperti hatinya.' Dan Kie Su-giok melihat sandiwara ini. Dia adalah ayah Kie Su-giok.' Tapi dia tidak mengutarakannya. Dalam hati dia berpikir. aku akan ikut memainkan sandiwara ini. Wie Toako mungkin marah dan tidak ingin bertemu dengan mereka lagi.

ayahnya sering mengkhawatirkan dia dan putra Wie Seng-kong. Tapi dia juga ingat. sepertinya nama ini aku kenal. ada seseorang yang pernah menyebut nama Wie Thian-hoan. Kakaknya yang lain Tong Hwie-yan dengan ayah Kie Lek-beng bersahabat. Percakapan Hiat-kun dan Coh Thian-su di perahu. Dia seperti anak kecil yang menghisap jempolnya. Walaupun dia baru berkenalan dengan Tong Hwai-ie tapi dia sudah tahu nama itu sejak dulu." "Benar. karena ke 2 jarinya pernah memegang rambut putrinya. Wie Thian-hoan adalah Hui-thian-sin-liong. Wie Seng-kong belum meninggal. Ho Cing-kim walaupun tidak ada hubungan dengan keluarga Kie tapi Kie Lek-beng sebelum terkenal sudah sering mendengar nama kedua orang itu Perasaan Kie Lek-beng terhadap ayahnya sangat rumit. Tong Hwai-ie hanya orang biasa. namanya asing di dunia persilatan. Sekarang dia sudah mengetahu 3 hal. dia pun sudah mendengarnya. Sebelum dia meninggalkan rumah. Ketiga. putrinya mencintai Wie Thian-hoan. Saudara angkatnya lebih terkenal lagi. Tapi dia tidak tahu bahwa ketiga hal itu ada yang benar dan ada yang salah. Pertama. dia juga . Dia melihat putrinya tertidur dengan nyenyak juga mendengar igauan putrinya yang memanggil-manggil 'Hoan Toako'. Wie Seng-kong. "Wie Thian-hoan. tapi nama Hui-thian banyak yang tahu. yang dicintai Hiat-kun adalah Suhengnya. "Wie Thian-hoan. dia takut bertemu dengan ayahnya tapi juga rindu kepadanya. tapi kakaknya Ho-ie lebih terkenal di dunia persilatan. Dia kenal dengan semua teman ayahnya.Mengapa dia dengan cepat berubah pikiran? Karena dalam waktu 1 jam dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya." Dia segera memikirkan Suhengnya." akhirnya dia terpikir juga ke sana. Coh Thian-su. Yang dia pikirkan adalah bagaimana cara agar putrinya bahagia. Kedua. yang dicintai oleh Wie Thianhoan adalah Hiat-kun. dia bertemu dengan teman ayahnya yang tidak pernah bertemu dengannya. Yang memberitahu julukan Wie Thian-hoan sebagai Hui-thiansin-liong adalah teman barunya yang bernama Tong Hwai-ie. dia adalah Pendekar Ho Cing-kim.

Pembicaraannya dimulai dari 'Hui-thian-sin-liong'. ini bukan kejahatan " Tapi dia tidak ingin berdebat dengan Tong Hwai-ie. apa hubungan mereka dengan "Kepala Ketua Lui dipenggal dan mata Ketua Li ditusuk hingga buta” Dalam hati Kie Lek-beng berkata: "Kedua orang itu bukan benar-benar orang baik. Tong Hwai-ie tidak tahu siapa dia. tapi dia tahu bahwa silatnya sangat tinggi. Kalau begitu silat Huithian benar-benar hebat. Dia berharap bisa mendapat kabar tentang ayahnya dari mulut Tong Hwai-ie. Tapi kejahatan mereka lebih banyak daripada kebaikan. mereka memakai nama pendekar. "Benar." . aku bisa melihat dengan jelas. Pendekar Soasay juga dirugikan dan hal itu membuat orang menjadi marah. apakah kau tahu?" Kie Lek-beng menjawab. "Apakah kau kenal dengan Ketua Lui dan Ketua Li?" "Aku pernah mendengar nama mereka. Kata Tong Hwai-ie. dia hanya berkata: "Mereka berdua walaupun tidak nomor satu ilmu silatnya. tapi Tong Hwai-ie sama sekali tidak menyinggungnya. tapi mereka bisa digolongkan pesilat tangguh. "Sepertinya aku pernah mendengar. tapi aku tidak begitu memperhatikannya Bagaimana dengan silatnya nun aku tidak tahu Apakah dia memang sangat jahat?" Dari kehidupannya sendiri dia merasa kabar di dunia persilatan kebanyakan terlalu mengada-ada. Hui-thian-sin-Uong?" Jawab Kie Lek-beng. "Selama 2 tahun ini di dunia persilatan muncul penjahat kelas kakap yang dijuluki 'Hui-thian-sin-liong'." Kata Kie Lek-beng: "Coba kau ceritakan beberapa kejahatannya yang pernah kau dengar?" Kata Tong Hwai-ie." Kata Tong Hwai-ie: "Dia sudah melukai 2 orang ini. kabar di dunia persilatan kadang-kadang terlalu mengada-ada.tidak akan memberitahu bahwa dia adalah putra pesilat nomor satu di dunia persilatan. Hui-thian-sin-liong memenggal dan menusuk hingga buta. Pernah sekali Kie Lek-beng ditanya. tapi Hui-thian-sin-liong adalah penjahat kelas kakap.

tapi sudah diketahui siapa namanya. siapakah gurunya?" Kata Tong Hwai-ie: "Kami belum tahu identitasnya. banyak yang menyangka bahwa dia adalah Pemimpin wilayah Soasay. walaupun merasa kenal tapi dia tidak menelusuri lebih jauh lagi." Kemudian dia berkata lagi: "Dia masih begitu muda tapi sudah bisa memotong telinga Pendekar Ho." Dalam hati Kie Lek-beng berkomentar. 'Kakak angkatmu orangnya seperti apa? Apakah kau tahu bahwa dia juga berpurapura menjadi orang baik. Pendekar Ho adalah kakak angkatku. dia adalah Wie Thian-hoan. Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata: "Aku pasti tidak mengenal orang itu. karena itu aku harus membantu dia membala dendam. mengapa dia bisa dipotong telinganya? Berarti julukan Hui-thian benar-benar cocok untuknya. justru aku ingin meminta bantuanmu untuk menghadapi Hui-thian. Dia tidak peduli dengan masalah orang lain. Tanya Kie Lek-beng: "Apakah kakak angkatmu juga dirugikan?" "Hui-thian memotong sepasang telinganya. tapi karena Ho Cing-kim adalah orang yang bermuka dua." Tong Hwai-ie sangat senang dan berkata: "Kakak Kie. bila ada waktu aku ingin bertemu dengannya. dia sudah tahu bahwa Ho Cingkim adalah pendekar yang menerima hasil barang kejahatan. "Jurus Pendekar Ho sangat hebat." Jawab Tong Hwai-ie. "Berapa usia Wie Thian-hoan?" "Mungkin ada 20 tahun lebih." jawab Tong Hwai-ie. yang dipikirkannya saat itu adalah nama dan hal-hal yang ada hubungannya dengannya. lebih-lebih daripada Ketua Lui dan Ketua Li? Kakak angkatmu sebenarnya juga penjahat. Apakah kau pernah mendengar nama ini?" Sepertinya Kie Lek-beng pemah mendengar tapi karena dia baru kembali lagi ke dunia persilatan.Kie Lek-beng terkejut dan berkata: "Apakah dia adalah Ho Cingkim?" "Benar." ' "Apakah kau tahu dia berada di mana?" "Sudah banyak orang yang mencarinya. kita bisa sama-sama pergi ke rumah Hie Tiong-gwee untuk memberi selamat atas ." Ternyata 20 tahun yang lalu sewaktu Kie Lek-beng berteman dengan orang-orang dunia hitam. bila kau memang berniat. orang yang kukenal sudah berumur 40 tahun lebih. benar-benar di luar dugaanku.

kami belum benar-benar akrab!' Kemudian dia berkata: "Bila kau tidak mau membantu. Tong Hwai-ie sangat kecewa.. kita bisa ke rumah Hie." "Menurutmu. tolong carikan orang yang bisa mengalahkan Hui-thian. pasti dia akan tahu. dia sangat sulit dikalahkan.pernikahannya." Kata Tong Hwai-ie: "Aku tidak mau berbohong. memang banyak pesilat tangguh yang mempunyai hubungan erat dengan kakakku. aku tidak suka berteman dengan orang terkenal. Hie Tiong-gwee adalah pendekar ternama lebih terkenal dari Ho Cing-kim. sekarang siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan ini? tanya Kie Lek-beng. aku mempunyai sifat yang aneh. Waktunya adalah bulan depan tanggal 15.' Dia ingin tahu keadaan ayahnya dari mulut Tong Hwai-ie." "Mengapa aku bisa tidak tahu ada orang yang begitu terkenal? Tapi apa hubungannya dengan Hui-thian?" "Ada perselihan antara Hie Tayhiap dan Hui-thian yang sangat dalam. dalam hati berpikir. tapi sayang. bila berteman dengannya juga tidak ada ruginya." Kata Kie Lek-beng: "Kalau begitu kalian belum tahu Hui-thian sekarang ada di mana? Apakah dia akan datang ke tempat Hie?" Kata Tong Hwai-ie: "Hie Tayhiap mempunyai pergaulan yang luas. pasti banyak pendekar dunia persilatan yang kenal dengan kakakmu. sudah banyak orang yang akan datang ke rumah Hie." Kata Kie Lekbeng: "Kau bilang Hie Tayhiap pergaulannya sangat luas. Dalam hati dia berpikir. . "Akhirnya aku bisa memancing hal yang ingin kuketahui. 'Jangan salahkan dia." Kie Lek-beng tertawa dan berkata: "Rumahnya terlalu besar. kakakmu juga ketua pengiriman barang di ibukota. apalagi aku ingin santai tidak suka terikat Aku ingin bertemu dengan Hui-thian tapi bukan untuk bertarung " Dari kata-katanya dia memberitahu Tong Hwai-ie bahwa dia tidak ingin mencari musuh..

" Tanya Kie Lek-beng. dia masih hidup tapi sifatnya sangat aneh. kelakuannya sangat cocok denganku. aku curiga bahwa kau mempunyai hubungan dengannya. dia malah merasa senang." Hujan turun sangat kecil dan tidak teratur. Dia tertawa terbahak-bahak. sekarang dia sudah tahu bahwa Wie Thian-hoan adalah putra dari Suhengnya. ilmu silatmu begitu tinggi." "Kie Toako. kemudian berkata: "Memang margaku juga Kie. tapi aku tidak ada hubungan dengannya. tapi setelah Kie Lek-beng tahu bahwa putrinya menyukai 'penjahat kelas berat'." Dia berpikir lagi."Apakah kau tidak tahu siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan? Kecuali Kie Yan-gan. begitu juga dengan kakakku. dia juga tidak akan takut . dia langsung menghilang dari dunia persilatan dan tidak berhubungan dengan teman-teman di dunia persilatan lagi" "Apakah kau juga belum pernah bertemu dengannya? Apakah dia sudah.. Sekarang dia berada di mana. masih muda sudah mempunyai nama besar. ada apa dengannya?" Jawab Tong Hwai-ie: "Sejak putranya mati. Dia mengingat kembali kenangan masa lalu. aku malah merasa khawatir. "Menurut cerita kakakku. Aku bahkan mengira kau dan dia masih bersaudara.' Orang-orang mengatakan bahwa Wie Thian-hoan adalah penjahat kelas berat. "Bila Wie Thian-hoan adalah orang yang lurus. 'Orang seperti itu pasti tidak akan mau mengakuiku sebagai mertuanya. tidak ada yang lain.. dengan tertawa kecut dia berkata: "Putra Kie Yan-gan sudah mau. begitu kacau. tidak ada yang tahu." Kata Tong Hwai-ie. dia menolak berhubungan dengan teman-teman dunia persilatan. dia dipanggil panjahat kelas berat. hati Kie Lek-beng seperti hujan itu. Seorang Wie itu seperti apa? Secara garis besar dia tidak tahu. bila tidak ada bukti bahwa murid dan putra Kie Yan-gan sudah mati. 'Bocah tengik itu lumayan juga. Kie Lek-beng menahan hatinya yang bergejolak. dalam hati dia berpikir." Kie Lek-beng memegang luka di wajahnya. bila ada yang tahu tidak ada yang berani mencarinya." Kie Lek-beng bertanya lagi: "Tadi kau mengatakan tentang Kie Yan-gan.

Tadinya dia ingin membalas dendam kepada Coh Kim-sung. "Bila aku lebih muda 20 tahun." Hujan sudah berhenti.. sekarang aku akan membantu putriku mencapai keinginannya. 'Putriku sangat mirip dengan ibunya. mana yang benar. dia lebih cantik dari ibunya pada waktu dia menikah denganku." Sekarang dia mulai mengkhawatirkan Wie Thian-hoan. Hiat-kun dan putrinya semakin menjauh. Untung dia mencintai Coh Thian-su bukan Wie Thian-hoan. begitu bertemu dengan gadis yang begitu cantik. menggegerkan dunia persilatan. tapi bayangan putrinya masih melekat di hatinya. hal ini sudah diketahui olehnya dan Wie Thian-hoan mencintai putrinya ini sudah diketahui dari mulut Hiat-kun.' Dia memikirkan seseorang. aku harus membantunya. 'Mengapa Suhengku bisa mati? Tapi walau bagaimana pun nasibnya masih lebih baik dariku. Karena itulah dia tidak membunuh Coh Thian-su. 'Aku belum pernah menjadi ayah sehari pun. hati pun ikut menjadi cerah. mengapa dia bermusuhan dengan banyak orang persilatan? Apakah dia bisa menghadapi mereka?" Dia melihat perahu Coh Thian-su. walau tidak begitu jelas . tapi bocah tengik itu apakah benar-benar mencintai putriku?" Putrinya takut Wie Thian-hoan mencintai Hiat-kun. sekarang aku sudah tahu siapa yang dicintai putriku. Wie Thian-hoan membuat keributan di rumah Hie.. yaitu Hiat-kun. tapi dia mengakui bahwa Hiat-kun lebih cantik dari putrinya. malam sudah lewat. Hatinya terasa manis. Perahu itu sudah menghilang dari pandangan. walaupun dia menganggap putrinya adalah barang berharga. "Aku belum pernah bertanggung jawab kepada putriku.mempunyai mertua seperti diriku. Tapi sekarang dia tahu bahwa dia mempunyai seorang putri. tapi. rasa cinta kepada putrinya melebihi rasa bencinya kepada Coh Kim-sung. jadi aku harus memperhatikan putranya. Memang dia masih dendam kepada Coh Kim-sung dan dendam kepada orang-orang dunia persilatan yang memaksanya ke jalan buntu. dia masih belum tahu. putri yang sangat lucu. waktu kecil aku sering iri kepadanya karena ayah lebih sayang kepadanya.' Dia berpikir lagi. dia berkata kepada dirinya sendiri. tidak disangka putriku pun mencintai putranya. Tidak. tentu aku akan tertarik Kepadanya. sekarang dia mengubah pikirannya. Kie Lek-beng turun gunung Seperti matahari yang mengusir awan hitam.

" Kie Lek-beng tertawa dan berkata: "Pepatah mengatakan: jadi orang bisa bertemu di mana saja. kalau begitu kau sudah tahu masalah Hie Tiong-gwee?" Kata Kie Lek-beng: "Aku hanya mendengar sekilas. 'Orang yang membuat kabar benar-benar bertemu setan. ternyata kau ada di sini. Dan dia juga bermusuhan dengan Tuan Kiam-ta dan It Piau cinjin." Jawab Tong Hwai-ie: "Si Cantik ini bernama Kang Hiat-kun. aku tidak ikut Tong Hwai-ie ke rumah Hie waktu dia menikah.tapi secara garis besar dia sudah tahu "Sayang.' . entah benar atau tidak apakah kelakuan Wie Thian-hoan begitu gila sampai menculik istri Hie Tayhiap?" Tapi dia berpikir lagi. putrinya akan dilindungi oleh kakeknya. dia adalah putri seorang guru silat. mengapa kau berada di sini?" Jawab Tong Hwai-ie.. Bukankah kau akan ke Lok-yang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. karena Wie Thian-hoan membuat keributan di rumah Hie. melukai Hie Tionggwee dan menculik istrinya. tiba-tiba ada yang berlari ke arahnya dan berteriak: "Kie Toako! Kie Toako!" Dia melihat orang yang berlari ke arahnya adalah Tong Hwai-ie. namanya adalah. bila tidak mungkin pada saat itu aku sudah berteman dengan Wie Thian-hoan dan putriku." Dia tahu begitu pulang. umurnya masih begitu muda. Dunia persilatan dibuat geger!" "Colan istri Hie adalah si Cantik dari Lok-yang. Sekarang aku harus mencari mereka. "Karena keluarga Hie juga aku bisa datang ke sini. Tong Hwai-ie berlari ke hadapannya dan berkat: "Aku mengira aku salah lihat.. dengan ilmu silat setinggi apa pun tidak akan bisa mengalahkan begitu banyak pesilat tangguh. Bocah tengik itu juga kedengarannya seorang pemberani. tapi dia lebih mengkhawatirkan Wie Thian-hoan Kemana harus mencari Wie Thian-hoan? Dia sedang berjalan. aku baru saja bertemu dengan Hiat-kun.

dalam hati dia berpikir.' Lalu dia bertanya: "Kau ke sini ada apa?" "Karena silat Wie Thian-hoan terlalu kuat. 'Ilmu silat Wie Thianhoan lebih tinggi dari perkiraanku bila dia dijodohkan dengan putriku." Kie Lek-beng bisa menebak siapa orang itu. Kie Lek-beng malah terlihat sangat senang. memang sangat pantas. malah bersembunyi.Kata Tong Hwai-ie: "Kata siapa berita itu tidak benar? Aku baru dari sana!" "Apakah kau sendiri yang melihat Wie Thian-hoan menculik Hiatkun?" "Aku tidak melihat sendiri tapi murid-murid Hie yang berkata demikian. aku kira ini bukan bohong. kemudian dia mengganti topik pembicaraannya dan bertanya: "Aku belum bertanya. aku sendiri yang lihat. maka aku ke sini mencarimu untuk meminta bantuan. sangat memalukan tadinya aku akan membalas dendam untuk kakakku. begitu melihat ilmu silatnya. waktu itu kau berada di sana. mengapa kau juga ada di sini?" . dia tidak perlu mengeluarkan jurus. coba ceritakan bagaimana kejadiannya?" Tong Hwai-ie menceritakan peristiwa hari itu. tapi begitu Hui-thian melihatnya dia akan langsung bertekuk lutut. "Asalkan orang ini mau membantu. sepertinya kau lebih memperhatikan pengantin perempuannya dibandingkan Hie Tayhiap?" Kie Lek-beng tertawa dan berkata: "Karena dia adalah gadis cantik yang membuatku penasaran. dia malah terus menatap Kie Lekbeng. tapi sengaja dia bertanya: "Orang itu begitu lihai siapakah dia?" Tong Hwai-ie tidak menjawab." Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata. bila dia melukai Hie." Dengan aneh Tong Hwai-ie bertanya: "Kie Toako." Tanya Kie Lek-beng: "Orang yang kau cari harus mempunyai ilmu silat yang tinggi dan mempunyai keyakinan bisa mengalahkan Hui-thian.

'Walaupun dia she Kie. ”Menantu dari pesilat nomor satu dunia persilatan. bila kau membutuhkan uang. Lotoa dari Huang-ho-sam-kui dipukul orang hingga cacat. Nama Huang-ho-sam-kui di dunia persilatan sangat buruk. Lalu Kie Lek-beng tertawa. Bila kau mau mencari mereka aku tidak dapat membantu. kau sudah lama tidak bertemu dengan Huang-hosam-kui?" "Sudah 20 tahun lebih aku tidak bertemu dengan mereka. tapi aku mengerti peraturan dunia hitam. sebenarnya aku tidak begitu kenal dengan mereka." Tong Hwai-ie merasa aneh. sekarang ini aku bukan orang dunia hitam. dia adalah Lo-toa dari Huang-ho-sam-kui bernama Bong-piau. Mereka awalnya tidak tahu siapa perempuan itu. . tapi jangan bilang kau meminjamnya. aku ingin meminjam uang. tapi dengan Kie Yan-gan dia sama sekali tidak ada hubungan." Kata Tong Hwai-ie: "Ternyata kau sudah 20 tahun tidak bertemu dengan mereka."Aku baru mengunjungi teman. dalam hati dia berpikir. mereka ingin mempermainkan dia. ini sudah terjadi 20 tahun lalu. kau membutuhkan berapa." Langsung Tong Hwai-ie berkata" "Kie Toako. Tapi sayang tidak ada seorang pun dari Huang-ho-sam-kui yang dapat aku temui. aku tahu hal ini. aku bertemu mereka hanya sekali." Sengaja Kie Lek-beng berkata: "Silat Lo-toa Huang-ho-sam-kui pun lumayan bagus. "Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. mungkin kau juga kenal dengannya. tapi tertawanya tidak lepas. beberapa tahun kemudian matanya Lo-toa menjadi buta. Kie Yan-gan. siapa yang memukul dia menjadi cacat?" Kata Tong Hwai-ie." Kie Lek-beng tahu bahwa Tong Hwai-ie tidak kenal dengan Huang-ho-sam-kui jadi dia berani mengutarakan niatnya. tapi dia langsung mengatakan kepadaku dan kelihatannya dia tidak berbohong. Kau tidak perlu tergesa-gesa memberi uang kepadaku. kemudian setelah tahu dia itu siapa. Jujur saja. mereka langsung kabur dan entah bersembunyi di mana. Aku mau bertanya sebenarnya siapa yang kau cari?" Tong Hwai-ie tertawa dan berkata: "Aku mencari orang nomor satu di dunia persilatan.

Tanya Kie Lek-beng: "Apakah rumah Kie Yan-gan ada di sekitar sini? Katamu tidak ada seorang pun yang tahu dia berada di mana. aku kira dia tidak akan berpangku tangan begitu saja." "Bukan. itu membuktikan bahwa kakakku juga tidak berani mencarinya." "Ide yang bagus." "Apakah kau tahu dia tidak ada di rumah?" Tong Hwai-ie menggelengkan kepalanya dan berkata: "Tidak!"Tanya Kie Lek-beng: "Sebenarnya ada apa?" Jawab Tong Hwai-ie. karena Tuan Kiam-ta. aku akan menambah-nambahkan bahwa Tuan Kiam-ta kalah agar Kie Yangan tahu bahwa teman lamanya sudah dirugikan. bertemu dengannya juga tidak." Tanya Kie Lek-beng: "Apakah kau takut kepada larangannya. begitu aku bertemu dengan Kie Yan-gan. "Aku sama sekali tidak masuk ke rumahnya. ini pun hanya coba-coba." "Apakah kau memakai nama Tuan Kiam-ta. termasuk kakakmu. "Benar. menurutku mereka bentrok cukup seru. Kie Yan-gan dan Tuan Kiam-ta adalah teman lama. cepatlah pergi!" Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata: "Aku sudah ke sana. Hui-thian melukai Hie Tiong-gwee." "Apakah dia berjanji?" Tanya Kie Lek-beng. yang kukatakan adalah setelah putra Kie Yangan meninggal. juga tidak ada yang berani mencari dia. aku tidak mendapatkan orang yang bisa mengalahkan Hui-thian. dia pun sempat bertarung dengan Tuan Kiam-ta. kemudian coba-coba meminta bantuan kepadanya?" Tanya Kie Lek-beng. Begitu juga dengan kakakku. "Aku bertemu dengan pelayan . tidak ada yang tahu dia tinggal di mana." "Kau salah ingat." Tanya Kie Lek-beng: "Mengapa sekarang kau berani mencarinya?" "Pertama. Kedua. dia tidak ingin berteman lagi dengan orang-orang dunia persilatan.

dia dan kakakku menjadi teman. semenjak itu. Terkahir dia tidak menjadi penjahat lagi. lalu?" Kata Tong Hwai-ie: "Untung dia bertemu denganku. Bila aku tidak bertemu dengan Ting Po." Kata Tong Hwai-ie: "Benar. begitu juga denganku.. begitu dia tahu maksudku ke sini. "Ternyata Hui-thian adalah cucu muridnya.tuanya. dan kami menjadi lebih akrab lagi. beberapa kilometer lagi aku tiba di rumahnya. Siapakah Ting Po. Ting Po. Waktu itu dia berada di belakang Wei TianYuan memakai baju hitam. Hal ini sempat menggegerkan. lalu katanya: "Aku kenal dengan nama Ting Po. tapi sudah lupa-lupa ingat. dia adalah Ting Po. kau . apakah kau kenal?" Kie Lek-beng berlagak sedang berpikir. belakangan kakakmu mengambil kembali barang barang penting itu.. malah menjadi pelayan keluarga Kie. Tanya Kie Lek-beng: "Bila sudah bertemu dengan Ting Po." Kata Tong Hwai-ie. segera dia menasihati agar jangan mencari Kie Yan-gan " "Mengapa?" Sebenarnya dia sudah tahu alasannya. "Dua puluh tahun yang lalu ada seorang penjahat kelas berat dia selalu merampas barang penting di ibukota. apakah kau tahu?" Kata Kie Lek-beng: "Aku ingat. Apakah penjahat besar itu adalah. memang Kie Yan-gan sendiri yang mengajar silat kepadanya" Kata Kie Lek-beng: "Kalau begitu Kie Yan-gan sangat sayang kepada cucu muridnya ini?" Kata Tong Hwai-ie: "Itu sudah pasti dan Hui-thian juga adalah calon menantu dari cucunya.

bila kau tidak tahu. baru kami akan berunding.tahu siapa dia?" Kata Kie Lek-beng: "Kau bilang kau tidak tahu identitas perempuan itu. bila bertemu dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee. Mereka mengira Wie Thian-hoan akan menyusul ke ibukota." Tanya Kie Lek-beng: "Sekarang kau akan melakukan apa?" Kata Tong Hwai-ie: "Aku akan pulang dulu ke ibukota. dan membiarkan Wie Thian-hoan tahu bahwa mereka kabur ke ibukota. Karena itu sengaja mereka membocorkan kabar ini. mana aku bisa tahu? "Sekarang aku katakan bahwa dia adalah cucu perempuan Kie Yan-gan." Tanya Kie Lek-beng: "Mengapa kalian bisa tahu bahwa Hui-thian akan ke ibukota?" "Kami sangat mengangumi perhitungan Tuan Kiam-ta." Kata Kie Lek-beng lagi.." dia mana mau menghadapi cucu muridnya tersayang. Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata: "Bila aku bertemu dengan Kie Cianpwee. dia bermusuhan dengan Hie. kelihatannya mereka menyembunyikan sesuatu. Perkiraan Tuan Kiam-ta ternyata benar!" Tanya Kie Lek-beng: "Membuktikan apa?" . aku pasti akan diusir itu pun masih beruntung. "Untung kau tidak minta tolong kepadanya.. apalagi calon menantu cucunya lagi. Sebenarnya mereka ke ibukota untuk mencari kepala pasukan dan menunggu Hui-thian masuk ke dalam perangkap mereka. dia tidak akan menyerah begitu saja. bila tidak." Tanya Kie Lek-beng: "Apakah mereka berdua sudah berada di ibukota?" "Benar. sifat Wie Thian-hoan sangat kejam.

" Kie Lek-beng merasa aneh dan berkata. dia adalah kepala pasukan." "Dia adalah Tuan Kiam-ta. ilmu keluarganya yaitu Kau-in-kiam-hoat (Pedang menginjak awan). kau terlalu merendahkan diri. bila main keroyok itu tidak apaapa. tapi bila dia tiba-tiba menyerang. aku ingin tahu 2 pesilat tangguh yang bisa melawan Hui-thian itu siapa?" Jawab Tong Hwai-ie: "Pertama. sulit bagi kami untuk menahannya. dan kakakku tidak termasuk di dalamnya. Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee pergaulannya sangat luas." "Dan yang satu lagi. Di ibukota walaupun banyak pesilat tangguh tapi yang bisa melawan Wie Thian-hoan bisa dihitung dengan jari. tapi ilmu silat Wie Thian-hoan sangat tinggi." Kata Kie Lek-beng: "Apakah Kakak Tang bisa menjelaskannya?" . waktu itu dia ikut dengan It Piau cinjin." Kata Tong Hwai-ie. aku tahu dia sudah 2 kali bertarungan dengan Hui-thian dan kedudukannya seimbang. orangnya pun licik seperti seekor naga sakti terlihat kepala tapi tidak terlihat ekornya. orang-orang hanya tahu sebagian dari kejadian. "Seharusnya memang seperti itu. Bok Ci-giauw." Kie Lek-beng terkejut dan berkata: "Di jalan aku mendengar katanya Tuan Kiam-ta kalah di tangan Hui-thian." "Apakah kau sempat bertemu dengan It Piau cinjin?" "Aku juga hanya mendengar berita ini tapi sangat bisa dipercaya karena yang menyampaikan berita ini adalah murid Kun-lun. itu pun hanya ada 2 orang." Kata Kie Lek-beng: "Semua pesilat tangguh berkumpul di ibukota."Sepuluh hari yang lalu It Piau cinjin pernah bertemu dengan Wie Thian-hoan yang sedang berangkat ke ibukota. "Kakakmu adalah Kepala pengiriman di ibukota. apakah ini hanya berita burung?" "Ini juga bukan berita burung. kau tidak perlu lagi meminta bantuan kepada Kie Yan-gan. bila ada lebih satu pesilat tangguh maka akan bertambah satu lagi keyakinan. salah satu ilmu dahsyat di dunia persilatan walaupun dia tidak dapat mengalahkan Hui-thian dia tetap tidak akan kalah. Bong Cong-kian dan murid It Piau berteman baik. Bong Cong-kian. para pesilat tangguh di ibulota pasti akan membantu mereka.

walau agak dibesarbesarkan tapi paling sedikit mereka bertarung dan tidak ada yang kalah. selama 20 tahun ini entah Tuan Kiamta telah berlatih ilmu silat apa?' Kemudian dia berpikir lagi: 'Thian Kiam-ta ditambah dengan Bok Ci-giauw. apalagi mereka sedang mencari pesilat tangguh untuk membantu melawan Hui-thian. dia sebagai saksi/juri ingin membalas dendam di antara Hie dan Wie Thian-hoan Begitu dia dipaksa bertarung dengan Wie Thian-hoan." "Lalu bagaimana dengan kejadian kedua kalinya?" "Kedua kali. dia akan benar-benar masuk ke dalam perangkap mereka. Dia tetap ingin membunuh Hie karena itu Tuan Kiam-ta bertarung mati-matian melawan Wie Thian-hoan." Sebenarnya Tong Hwai-ie juga tidak tahu bahwa yang pertama bertarung dengan Hui-thian adalah Tuan Kiam-ta. Sekarang Wie Thian-hoan sedang dalam perjalanan ke ibukota. kedua kalinya Hui-thian bertarung dengan seseorang yang mirip Tuan Kiam-ta. bukan benar-benar kalah. tidak tahunya Wie Thian-hoan memakai serangannya untuk membunuh. tapi katanya posisi Tuan Kiam-ta berada di atas angin. 'Dua puluh tahun yang lalu ilmu silat Tuan Kiam-ta berada di bawahku. dia berharap hanya bertarung secara biasa saja. kau sedang memikirkan apa?" "Aku sedang berpikir. Tong Hwai-ie melihat Kie Lek-beng sedang berpikir kemudian dia coba-coba bertanya: "Kie Toako. dia melukai Hie hingga terluka parah dan pada malam harinya masuk ke rumah Hie dan merebut istri Hie Tionggwee. sandiwara apa yang akan dimainkan di ibukota? Bila bisa melihat Hui-thian bertarung dengan 2 pesilat tangguh. walaupun tidak ada yang kalah. itu sangat menarik!" . dulu kekuatanku seperti kekuatan Wie Thian-hoan sekarang."Pertama kali bertarung dengan Tuan Kiam-ta. Wie Thian-hoan pasti tidak akan sanggup melawan mereka. karena Tuan Kiam-ta sengaja kalah. bila tidak Hie mana bisa lolos dari tangan Hui-thian?" Dalam hati Kie Lek-beng berpikir." "Mengapa?" "Karena pada saat itu dia belum tahu bahwa Hui-thian datang ke sana untuk membunuh Hie dan merebut istrinya. bila sekarang bisa bertanding secara seri dengan Hui-thian. dia kalah." Kata Kie Lek-beng: "Kau tidak ada di sana dan hanya mendengar cerita dan orang-orang saja bukan?" "Murid-murid Hie yang menyaksikannya.

mungkin dia tidak ada waktu berteman denganmu." "Tidak." "Siapa yang ingin berteman dengannya?" Kata Tong Hwai-ie: "Bila tidak berteman dengannya. Sekarang aku sudah tahu dia berada di ibukota dan ini adalah suatu kesempatan. kau tidak mau membantuku. aku berterima kasih kepadamu!" Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata: "Kau jangan berterima kasih kepadaku. mana bisa mencoba ilmu silatnya." Kata Tong Hwai-ie: "Sayang." "Maksudmu. dulu aku belum tahu dia berada di mana." Kata Tong Hwai-ie: "Hui-thian ke ibukota untuk mencari musuhnya. kau ingin mencoba ilmu silatnya?" "Benar. aku tidak membantumu." Kata Kie Lek-beng: "Tadi kau mengatakan bahwa Hie dan Tuan Kiam-ta berada di ibukota untuk . Kedua. dari dulu sudah kukatakan bila ada kesempatan aku akan bertemu dengannya. aku sudah berubah pikiran. Tong Hwai-ie sangat gembira dan berkata: "Bila Kie Toako ingin membantu itu akan sangat baik. apalagi kau tidak dapat mencarinya. bila tidak suasana akan lebih ramai lagi." Kata Kie Lek-beng. apakah kau juga akan pergi ke sana untuk menonton?" "Memang aku bermaksud begitu.Tong Hwai-ie sangat senang dan berkata: "Kie Toako. di mana-mana orang bercerita tentang Hui-thian dan ilmu silatnya semakin lihai." Tong Hwai-ie menjadi terkejut: "Mengapa kau berkata seperti itu?" "Apakah kau tahu alasannya mengapa aku berubah pikiran? Pertama. ini adalah demi diriku sendiri.

aku berharap dia bisa bertarung denganku. bila diam di rumah jenderal. aku hanya mencoba ilmu silatnya saja." Segera Tong Hwai-ie tertawa dan berkata: "Aku akan membantumu mencapai keinginanmu. seumur hidupku aku tidak mempunyai kesenangan apa-apa." Kata Tong kwai-ie Kata Kie Lek-beng: "Biar aku yang pertama bertarung dengannya. "Ini bukan menjilat." Kie Lek-beng mengerutkan dahi dan berkata: "Kakak Tong.memasang perangkap. "Dia minta bantuanku tapi aku tidak berani mendapat posisi kepadanya dan aku sudah biasa hidup bebas. aku akan merasa terkekang. Apalagi dia datang untuk masuk ke dalam perangkap. ini juga seperti pertarungan antara hidup dan mati. dia pasti akan sangat senang." "Tapi kami bukan ingin bertanding silat dengannya. "Di dunia uu ada kutu buku ada juga yang gila ilmu silat seperti orang bodoh. bila kepala pasukan Bok Ci-giauw tahu dan kau akan tinggal di rumahnya. aku sudah bilang aku tidak akan menjilat orang yang berkuasa" Kata Tong Hwai-ie. tapi bila dia bertarung dengan Hui-thian. kesenanganku hanya ilmu silat. bila kau bersama kami. tapi dia yang meminta kepadamu. kita akan benar-benar bertarung?" "Benar. Kalian melukiskan Hui-thian begitu lihai.. kami berjuang untuk hidup dan mati. aku tidak merasa bersalah karena dia adalah penjahat f kelas kakap. sebenarnya bantuannya sangat besar. kalian mempunyai banyak mata-mata bila dia sudah tiba di ibukota pasti akan langsung tahu." Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata. bila aku mati di tangannya." [ Dalam hati Tong Hwai-ie tertawa. Dia bilang tidak akan membantu kami. kalau hanya mencoba tidak akan ada artinya. bila aku datang bersamamu pasti ada kesempatan untuk bertemu dengannya.." Kata Tong Hwai-ie: . sebaiknya bila aku bisa membunuh dia." Kata Tong Hwai-ie: "Kalau begitu. aku rela.

' ---ooo0dw0ooo--C. tubuhnya kurus dan kering. demi putriku aku harus melindungi Wie Thian-hoan. Sedang putrinya berharap ketika tiba di rumah dapat bertemu dengan Wie ." Dalam hati dia merasa bersalah." Kata Kie Lek-beng: "Baik. Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Pergi bersamamu tidak perlu mengkhawatirkan makan dan minum." Kie Lek-beng mengangkat kepalanya dan tertawa: "Baiklah kali ini merupakan pengecualian. dia bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan. aku tahu kau tidak suka bergaul dengan orang-orang terkenal. bila kau senang mengoborol ya mengobrol saja." Sesudah berkata Tong Hwai-ie mengeluarkan beberapa keping perak. ini uangmu untuk bekal dalam perjalanan. Dalam hati dia berpikir. tapi kau harus berteman degnan Jenderal Bok dan Tnan Kiam-ta " Mereka bercakap-cakap di tepi sungai. harus ada orang yang memberitahumu. mari kita pergi sekarang. bila kau ingin sendiri. Dua Generasi benci dan cinta Kie Lek-beng berharap bila sampai di ibukota." "Bila kau mau mencari Hui-thian untuk bertarung. kau tidak mau identitasmu terbongkar. sekarang dia adalah seorang pesilat yang wajahnya penuh bekas luka. tidak ada Oiaug yang menuangmu. dia berpikir. 'Siapa yang bisa mengenalku sekarang. dia tertawa kecut. Kata Tong Hwai-ie: "Kie Toako." "Baiklah. kali ini dia kira dia bisa memperalatku. 'Tong Hwai-ie orangnya tidak baik juga tidak jahat. tapi bertemulah satu kali dengan mereka. waktu itu dia adalah pemuda yang sangat tampan. padahal sebenarnya aku yang memperalatnya."Kalau begitu kau tinggal di rumah kakakku saja Di kantor kakakku ada berbagai macam teman. siapa yang bisa mengenaliku sebagai Kie Siauya?' Dua puluh tahun yang lalu dia pernah bertemu dengan Tuan Kiam-ta dan Bok Cu-giauw. waktu itu Kie Lek-beng tidak menjawab malah mencuci muka di sungai dan melihat bayangannya di air. itu sesuai dengan keinginanku.

Kie Yan-gan sudah tiba di sana. ayahnya adalah Pendekar Yang-ciu. tidak disangka kau lebih cepat tiba di rumah. dia terpaku dan berkata.." . tawanya langsung hilang. aku membawa tamu ke rumah.Thian-hoan. Tiba-tiba dia seperti melihat monster. Kie Su-giok tertawa dan berkata: "Kakek. Waktu itu kau mengatakan ada urusan pribadi. dan Hiat-kun sudah tiba di rumah dan melihat Paman Ting berdiri di hadapan menyambutnya. mata kakek juga tenis menatap Coh Thian-su. yang satu lagi adalah sapaan dari Ong Toanio.. matanya terus menatap Coh Thian-su." Kata Kie Su-giok: "Oh begitu! Mana Wie Toako?" "Wie Siauya belum pulang. Ong Toanio adalah pengasuh ibunya walaupun ibu Su-giok sudah meninggalkan rumah Kie tapi Ong Toanio masih tetap tinggal di rumah Kie. Keanehan Ong Toanio sudah diperhatikan oleh Coh Thian-su. dia sendiri belum tahu. Kie Su-giok memanggil kakeknya tapi kakeknya tidak melihat dia." Kie Su-giok marah dan berkata: "Tidak ada alasan dia tidak pulang. Mereka berdua belum tampak batang hidungnya tapi suaranya sudah terdengar lebih dahulu. waktu itu sebenarnya aku ingin mencari seorang teman tapi teman itu sedang tidak berada di tempat. dia membuka mulut seperti ingin berteriak tapi tidak keluar suara. Kakeknya seperti Ong Toanio. dia sendiri juga merasa aneh. "Paman Ting. Coh Thian-su. jadi aku kembali lebih cepat ke rumah. Tapi harapan Kie Su-giok selalu kosong." Ting Po tertawa dan berkata: "Temuilah kakekmu!" "Giok-ji. Dia. harus memakan waktu 3 hingga 5 hari baru bisa pulang?" Jawab Ting Po: "Benar. hal ini membuat dia sedikit terkejut. kau sudah pulang?" Yang pertama adalah sapaan kakeknya. "Mengapa Ong Toanio melihatku seperti melihat setan? Begitu terkejut?" Belum habis berpikir. dia tiba terlebih dahulu di mang tamu sebelum kakeknya. Suara Ong Toanio terdengar sangat gembira. apakah harapan Kie Su-giok akan terkabul. ini adalah Coh Toako.

benar Kalau begitu aku dan ayahmu adalah teman lama'" Kata-kata ini ditujukan kepada Coh Thian-su. setelah mengobrol beberapa kalimat. . Entah dia sudah mendengar berapa banyak? Dia senang dengan Thian-hoan. waktu itu Su-giok baru berumur 6 hingga 7 tahun. walaupun aku belum pernah bertemu dengan ayahmu tapi dia sangat terkenal. Terima kasih kau mau mengantar cucuku pulang. Memang benar Kie Yang Ran pernah memuji Coh Kim-sung tapi bukan kepada Su-giok melainkan kepada Ting Po dan itu pun sudah 10 tahun yang lalu. tapi sebenarnya Kie Yan-gan lebih terkejut dari dia. Waktu itu Ting Po memberitahunya bahwa menantunya lari ke keluarga Coh di Yang-ciu. apakah sekarang dia berubah menyukai putra Coh Kim-sung. dengan tersenyum dia berkata: "Kau tidak perlu memperkenalkan kedua tamu ini lagi karena Paman Ting sudah memberitahuku. mengapa harus seperti itu? Apakah antara ayah dan keluarga Kie ada rasa permusuhan?" Dia sedang menebak-nebak. Tuan Coh." Sikap Kie Yan-gan sangat sopan terhadap Coh Thian-su. tapi kesopanan mi malah membuatnya tidak enak. bukankah kau sering mengatakan tentang Coh Tayhiap kepadaku? Kau pernah mengatakan bahwa pendekar muda nomor satu adalah Coh Kim-sung. dia hanya tahu dari mulut ayahnya bahwa kakek ini adalah pesilat nomor satu. mereka berhenti berbincang. dengan cepat dia menutupi kebohongannya. "Kakek.' Kie Su-giok sepertinya dapat menebak pikiran Coh Thian-su. itu pun hanya sekali. Dalam hati Kie Yan-gan berpikir." Dengan dingin Kie Yan-gan berkata: "Benar. Sebenarnya Coh Thian-su belum pernah mengatakan hal ini. tapi sama sekali tidak terlihat seperti itu. dalam hati dia berpikir.Wajah Kie Yan-gan sudah kembali normal. ayahnya juga sering bercerita tentang kakek. 'Su-giok pernah mengatakan bahwa ayah dan kakeknya adalah teman baik. Sekarang Coh Thian-su ingat ayahnya pernah berkata bahwa dia harus menghindari Kie Yan-gan dan tidak boleh berhubungan dengan keluarga Kie. mengapa Kie Su-giok harus mengada-ada? "Kelihatannya Su-giok ingin aku berteman dengan kakeknya. apakah dia tahu ibunya ada di rumah Coh? Kalau tidak mengapa dia bisa dekat dengan Coh Thian-su?" Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. 'Rupanya pembicaraanku dengan Ting Po sudah didengar oleh cucuku. Apakah aku sudah salah ingat? Semua sudah kuberitahu kepada Coh Toako.

nona yang dia susui hingga besar. Kembali ke Kanglam (Kang Lam) yang begitu indah. Ong Toanio melihat sorot main Kie Yan-gan seperti es. Ong Toanio tidak peduli dengan kemarahan Ting Po. menyadarkan dia dari lamunan panjang." suara berwibawa memanggilnya. One Toanio tidak menyahut. Dan perempuan itu adalah nonanya bernama Cong Eng-lam. "Ong Toanio. dalam hati dia berpikir." Ting Po langsung menyambung: "Ong Toanio kau kenapa? Tuan besar sedang berbicara dengan tamu. tolong siapkan sayur dan arak. Ong Toanio juga menikmati keceriaan mereka. kembali ke musim semi di Yangciu. ayo cepat keluarkan. Dia langsung tersadar.Tiba-tiba Ong Toanio berteriak: "Ternyata dia adalah putra Pendekar Yang-ciu.. .. bisa bisa menikah dengan orang yang dicintai alangkah baiknya. dia tclap melihat Coh Thian-su kemudian melihat Kie Su-giok. "Ong Toanio." Dia marah kepada Ong Toanio supaya jangan ikut campur. kau jangan ikut campur!" Dengan tersenyum Coh Thian-su bertanya. Ong Toanio mencuri pandang ke arah nonanya yang sedaiif bermesraan. Status mereka sebagai pembantu dan majikan tapi mereka malah terlihat seperti ibu dan anak. Laki-laki itu berasal dari keluarga silat di Yang-ciu bernama Coh Kim-sung." "Untung aku tidak menjelekkan Coh Siauya. Kenangannya kembali ke masa 20 tahun silam. "Pantas apa?" "Pantas ilmu silatmu begitu bagus. "Mengapa kau bisa tahu ilmu silatku bagus?" "Ting Po yang mengatakannya. Perempuan itu sangat cantik dan laki-lakinya sangat tampan. mengapa masih bengong di sini?" kata Kie Yan-gan. kekasih. dia langsung bergegas pergi kc dapur. Tuan besar sedang memanggilnya." Kata Ong Toanio. pantas. Waktu itu semua orang sudah pulang hanya tertinggal sepasani.

Su-giok menyambung kata-kata tadi: "Kakek." Walaupun Kie Yan-gan tertawa tapi Coh Thian-su merasa tawanya terpaksa." Dia keluar dari ruangan. tapi ilmu silat adalah hal yang kedua. Julukan Diauhiap. dia tidak sebanding . aku tidak berani menerimanya. apakah dia bisa hidup dengan baik? bagaimana pun putra putri mereka tidak boleh seperti mereka." "Kali ini Coh Toako sangat membantuku. wie Thoan-hoan." Yang ingin dia sampaikan adalah pujian tinggi yang diberikan Su giok untuknya tidak sesuai dengan kata hatinya. yang paling penting adalah nama di dunia persilatan. Coh Thian-su juga terpaksa tertawa dan berkata: "Cianpwee terlalu memuji."Su-giok sangat mirip dengan ibunya." Kie Yan-gan ikut tertawa dan berkata. Coh Siauya seperti ayahnya Nonaku ada di rumah Coh. ini sudah sewajarnya. dan dia adalah cucu murid anda. Su-giok tertawa dan berkata: "Sekarang pendekar muda yang berbakat adalah Coh Toako. ilmu silatku belum sehebat ayah masih kalah jauh. jangan lihat dia masih muda karena ilmu silatnya lebih tinggi dari diriku. Tanya Kie Yan-gan: "Apakah kalian pernah bertemu?" Coh Thian-su mengangguk dan berkata: "Ilmu silatnya jauh di atasku. Menurutku Siauhiap yang berbakat hanya ada satu orang. sekarang harus diubah. itu untuk ayahnya sebagai pendekar Yang-ciu yang terkenal. Apa yang sudah dibantunya nanti aku akan ceritakan kepada kakek" Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Ada ayah seperti itu. seumur hidup membuat kesalahan cinta. cucumu juga tahu. "Ilmu silat Suhengku memang lumayan bagus."Itu kata-kataku sepuluh tahun lalu." "Oh ya? Kalimat yang mana?" tanya Kie Yan-gan. anaknya pun tidak beda jauh Ilmu silatnya pasti tinggi. Kakek. mendengar tawa Kie Su-giok. aku tidak salah ingat dengan kata-katainu. sekarang julukan itu harus diberikan kepada anaknya.

Kata Kie Yan-gan: "Kalau ceritanya sangat panjang. Nona Kang. apakah Tuan Kiam-ta ada hubungan dengan peristiwa itu?" Jawab Hiat-kun: "Apakah dia ada hubungannya dengan peristiwa malam itu. Benar juga. Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata: "Kata-kata Su-giok benar juga. Yang aku tahu dia yang membunuh ibuku. ibuku baru dibunuh di Lok-yang.denganmu. tanyakanlah kepada Cici Kang. dia melukai Tuan Kiam-ta tapi itu bukan kesalahannya. hari ini adalah hari . Su-giok bukan ingin merendahkan Wie Thian-hoan melainkan menyembunyikan maksud lain." Kata Su-giok. sengaja dia berbaik-baik kepada Coh Thian-su. tapi cerita ini sangat panjang. dia ingin kakeknya menghormati tamu yang diundangnya. aku dengan senang hati menceritakannya. Pertama. aku tahu bagaimana orangnya. yang disebut pendekar bila ingin menang ilmu silatnya harus bagus. Tuan Kiam-ta pun sudah dilukai olehnya. besok saja kau ceritakan. Kedua. hal yang dialami oleh keluargamu aku tahu dari Thian-hoan." Tepat pada saat itu Ong Toanio membawa sayur dan arak. Ini adalah kenyataan." Kie Yan-gan terkejut dan berkata: "Mengapa Tuan Kiam-ta melakukan hal yang begitu memalukan?" "Bila Cianpwee tidak percaya. tapi ilmu silat adalah hal kedua aku tidak tahu bagaimana keadaan Hoan di luar sana. aku tahu keluargamu telah dicelakai oleh musuh hingga berantakan." Kata Su-giok: "Aku tidak merasa kelakuan Wie Toako di Lok-yang keterlaluan.. aku tidak tahu. Apalagi kali ini dia di Lok-yang telah melakukan keributan. Tapi dia sudah mendapat julukan 'penjahat kelas berat'." Kata Kie Yan-gan: "Dari tadi aku mengobrol denganmu hingga lupa menyapa gadis ini. menurutmu apakah dia orang jahat?" Kata Su-giok: "Dia sangat jahat dan di depan orang-orang berpura-pura baik bila kakek tidak percaya. siapa sebenarnya Tuan Kiam-ta? Kakek tentu tahu bukan?" Kata Kie Yan-gan: "Aku berteman dengannya sudah puluhan tahun.. dia ingin memakai kesempatan ini dia ingin menerangkan bahwa Wie Toako telah dikambinghitamkan tapi kakeknya tidak mengerti maksudnya.

kau pasti pandai minum. tetap aku harus memberitahu semua ini kepada Su-giok. mari kita bersulang!" "Maaf Cianpwee. mari temani aku minum!" Kata Coh Thian-su: "Hari ini semua orang merasa gembira. dalam hati dia berpikir. mari kita minum!" Kie Yan-gan minum hingga 6 hingga 7 gelas sekaligus. kalian jangan memandang umurku. kau di sini sudah tidak ada yang harus dilakukan." Masakan Ong Toanio sangat lezat bila dia mau beralih profesi dia bisa menjadi koki yang ternama. bila langsung membuka topengnya. aku maklum bila dia tidak ingin mendengarnya. katanya hari ini adalah hari yang menggembirakan dan minum-minum sepuasnya tapi masing-masing minum dan tidak berkata-kata Tiba-tiba Su-giok berkata: "Kakek." Dalam hati Ong Toanio berkata: "Apalah Coh Siauya akan curiga kepadaku? Tapi kertas tidak dapat membungkus api. 'Berteman sudah sekian lama dengan Tuan Kiam-ta. Coh Thian-su menghabiskan 3 cangkir. kau jangan terus minum!" . Hiat-kun mengerti perasaan Kie Yan-gan. dia akan merasa sangat sedih.yang menggembirakan. Kie Yan-gan tidak bicara Coh Thian-su juga tidak berani bicara. itu tidak apa-apa. aku tidak bisa minum. aku tidak ingin mendengar cerita sedih. lebih baik kau kembali ke dapur atau makanlah” Kie Yan-gan mengangkat cangkir araknya dan berkata: "Dua orang tamu datang berkunjung. dia berkata: "Tuan Coh adalah orang Yang-ciu. tuan besar memujiku bisa memasak sayur Yang-ciu. aku tidak akan membiarkan Su-giok mengalami cinta seperti ayah dan ibunya Walaupun dia tahu identitasku." Tapi Ong Toanio terlihat paling gembira. Ting Po khawatir Ong Toanio akan menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan. Ting Po berkata: "Ong Toanio. cara Tuan Kiam-ta berbohong sangat lihai bahkan pesilat nomor satu pun sudah dia tipu." Kata Hiat-kun." Ong Toanio sangat mengkhawatirkan Su-giok. kau minum semampumu saja " Kata Kie Yan-gan lagi: "Kau adalah orang persilatan pergaulan ayahmu sangat luas. Meski dia tidak bertanya kepadaku. "Kalau begitu.

aku pasti sudah dibunuhnya. Kie Yan-gan bertanya: "Apakah kau merasa dia benar-benar membelai rambutmu?" Wajah Su-giok menjadi merah dan berkata: "Aku mendengar nafasnya. bila tidak dia tidak akan bersikap lembut seperti itu. setelah habis ceritanya. tadi kau mengatakan tidak ada alasan. tapi masih bertanya. seharusnya dia sudah tiha'" Sepertinya Kie Yan-gan terkejut. "Dia pulang duku. Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Berarti kau belum bertemu dengannya" "Tapi aku tahu pasti orang itu pasti dia." Kie Yan-gan menjadi aneh: "Mengapa kau tidak bersama dengannya?" "Waktu itu aku tidur belum sempat membuka mata." Kata Su-siok. semenjak pulang kau marah-marah terus." Kata Kie Yan-gan: "Coba jelaskan sudah terjadi apa?" Su-giok bercerita tentang kejadian semalam." "Kau menganggap Hoan Toako belum pulang.Kie Yan-gan baru sadar dan berkata: "Benar. "Hal apa yang membuatmu begitu tegang?" "Kakek sudah tahu. itu tidak masuk akal?" Kata Kie Yan-gan. bila orang itu berniat jahat. dia sudah pergi!" Kata Kie Su-giok. karena wajahnya hampir menempel . segera dia berhenti tertawa dia meletakkan cangkirnya dan berkata: "Apa artinya ini? Bukankah kalian berpisah di Lok-yang? Jadi dia yang menyuruhmu pulang dulu? Mengapa kau tahu dia tidak berada di Lok-yang?" "Karena kemarin malam aku bertemu dengannya. apa yang kau maksud?" "Yang aku maksud bukan Orang.

mungkin aku sudah pikun." Jawab Ting Po. tentunya kau sudah lelah.di wajahku." "Mari Coh Siauya." . kau membuatku kebingungan. beristirahatlah!" Kie Yan-gan berkata lagi. Coh Thian-su meletakkan cangkir dan berkata.. siapakah dia?" "Aku juga tidak tahu. tangan yang memegang cangkir tampak bergetar. aku belum puas minum. ikut denganku!" kata Ting Po.. "Maaf. nanti temani aku minum. Su-giok merasa kata-kata kakeknya tidak masuk akal. Kata Kie Yan-gan: "Lo Ting. seperti yang ketakutan tapi juga seperti yang tidak dapat menahan kegembiraan hatinya. "Kakek. Apakah kamarnya sudah disiapkan?" "Sudah. Su-giok merasa aneh dan bertanya: "Apakah kakek mengira dia bukan Hoan Toako? Apakah dia adalah musuh?" "Orang itu tidak akan melukaimu. tolong antar dia ke kamar untuk beristirahat. Kata Su-giok lagi. aku sudah tidak dapat menemani Cianpwee minum. dia mengira kakeknya terlalu banyak minum sehingga salah dalam berkata-kata. aku tidak tahu!" Kie Yan-gan seperti tahu siapa orang itu. tidak perlu tambahkan kamar lagi. tapi dia tidak dapat memberitahukan ini kepada cucunya. dia sudah tahu apa yang telah terjadi. "Cici Kang sekamar denganku. Nona Kang. Orang itu tidak akan melukaiku tapi dia juga bukan Hoan Toako." Dia minum lagi." Kie Yan-gan tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Aku sedikit pikun. 'Lo Ting. apakah dia itu Thian-hoan." Wajah Kie Yan-gan langsung menjadi pucat.

Apalagi bila yang datang adalah Kie Yan-gan. masih ada orang yang berani masuk ke rumahnya Apakah yang datang adalah dia? Tengah malam begini ada apa?' Bagaimana pun juga Coh Thian-su merasa khawatir. dia hanya bisa memejamkan matanya pura-pura tidur. ilmu meringankan tubuh Kie Yan-gan lebih tinggi dari orang itu. Jendela dibuka orang itu masuk. semua orang bersikap aneh kepadanya. tapi kesadarannya belum hilang. Coh Thian-su sangat terkejut. dia malah merinding. "Ya!" dalam hati dia mengerti bahwa ada yang ingin Kie Yan-gan sampaikan kepadanya. dia adalah orang yang sangat pintar kecuali Kie Su-giok. Dia pun merasa bahwa sebenarnya Kie Yan-gan tidak suka dengan kedatangan Coh Thian-su ke rmnahnya tapi dia tidak memusuhi Coh Thian-su. orang itu bukan Kie Yau-gan. tiba-tiba dia merasa ada seseorang di luar jendela dan berusaha mendorong jendela itu. Coh Thian-su walaupun minum banyak. mereka pasti tidak mempunyai perselisihan apapun. tapi tidak bisa tidur. walaupun dia itu Ting Po dia tetap akan kalah. 'Di rumah pesilat nomor satu. dalam hati berpikir. Tapi kehidupan dunia persilatan begitu rumit sulit untuk diperkirakaa "Bila tahu akan jadi hegini lebih baik aku tidak datang " Dia sedang berpikir. Suara ini bila didengar oleh orang biasa tidak akan terasa aneh tapi setelah didengar oleh Coh Thian-su. orang itu berjalan ke arah tempat tidurnya dia mendengar seperti ada suara orang yang menggoreng kacang. kakinya melangkah dengan ringan seperti seekor kucing. Dia sudah tidak peduli apa yang akan terjadi. Dia berbaring di tempat tidur. Orang itu adalah seorang pesilat. Bila yang datang adalah musuh Coh Thian-su. Ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi. Coh Thian-su mengira orang itu adalah Ting Po. Tapi Cou Thiaii-su tahu. Dia tahu ilmu silatnya masih kalah jauh dibandingkan mereka.Ting Po menjawab. sekali mendengar sudah tahu bagaimana cara . Ayah dan Kie Yan-gan belum pernah bertemu. keringat dingin mulai bercucuran. Coh Thian-su sudah mengeluarkan keringat dingin.

Ong Toanio duduk. jangan takut! Aku hanya ingin bertanya satu hal!" "Silahkan!" "Apakah kau menyukai nonaku?" "Tengah malam begini. tapi tempat tidurnya bergoyang. orang ini berani datang untuk membunuhnya. wajahnya menghadap ke tempat tidur tiba-tiba dia mengayunkan tangannya. mati tidak bisa hidup pun tidak bisa Apakah Coh Thian-su harus menunggu kematiannya? Coh Thian-su belum mengambil keputusan. bangunlah!" kata Ong Toanio. siapakah dia? Coh Thian-su belum bisa menebaknya. kau ke kamarku. Orang itu berdiri di depan tempat tidur dengan kepalan tangan yang siap menyerang. Tapi Coh Thian-su mengerti maksud orang itu. Tidak ada senjata rahasia. tiba-tiba dia mendengar orang itu menarik nafas dan berkata: "Jangan!" Suaranya serak dan tua. Ini adalah gerakan siap menyerang. orang itu bukan Ting Po. Tapi untuk apa orang itu melakukannya? Dia datang untuk mencabut nyawa Coh Thian-su Melawan orang itu atau tunggu mati? Di rumah pesilat nomor satu di dunia persilatan. kalimat itu sebenarnya adalah. tapi Ong Toanio. apa hanya ingin . dia pasti diperintah oleh Kie Yan-gan. Coh Thian-su pura-pura terkejut dan turun dari tempat tidur sepasang matanya terus melihat Ong Toanio. Ternyata Ong Toanio mengeluarkan serangan dan gerakan itu membuat Coh Thian-su 'bangun'. "Coh Siauya. Keadaan mi membuatnya tersiksa karena ilmu silat yang begitu tinggi membuat lawan. "Coh Siauya. Coh Thian-su hampir loncat karena dia mengira Ong Toanio akan melemparkan senjata rahasia. orang itu sudah memasang lampu.dia mengepalkan tangan hingga terdengar bunyi derak tulang-tulangnya. Dengan dingin Ong Toanio berkata. Di luar dugaan Coh Thian-su. "Jangan membunuh dia!" Saat itu Coh Thian-su merasa ada cahaya yang menyilaukan.

aku tidak akan menerima undangannya dan bertamu di sini. aku akan menjawab yang sebenarnya. sepertinya aku tidak perlu menjawab. karena itu aku tanya kepadamu. jawablah pertanyaanku. bila aku membenci nonamu. apakah kau menganggap nona sebagai teman biasa?" . apakah kau akan menikah dengannya?" Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak: "Kau terlalu jauh berpikir. aku tidak main-main!" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Seharusnya kau tidak perlu bertanya." "Yang aku maksud bukan ini. ini adalah masalah pribadi. tapi namamu di dunia persilatan sangat terkenal. bila kau belum mempunyai kekasih. Bila kau mau merayunya dia bisa berubah pikiran. Apakah kau tidak tahu bahwa nonamu menyukai Wie Siauya?" Wajah Ong Toanio tampak serius dan berkata: "Jangan tertawa! Aku mengatakan yang sebenarnya. Ong Toanio berkata: "Benar. apakah kau punya pikiran seperti itu?" Kata Coh Thian-su: "Baiklah." "Maksudmu apa?" Ong Toanio tampak marah dan berkata: "Kau jangan berpura-pura tidak mengerti maksudku.menanyakan hal itu?" jawab Coh Thian-su." "Aku hanya ingin tahu. nona dan Wie Siauya tumbuh bersama. aku ingin kau berkata jujur. aku sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah denpannya” "Apakah kau sudah mempunyai kekasih?" Coh Thian-su menjawab: "Kau bertanya terlalu banyak. sekarang Siauya dituduh menjadi penjahat kelas berat.

sekeluargamu akan mendapat musibah. "Nonaku tidak secantik Nona Kang." "Bila aku menikah dengan nonamu. kau tidak perlu banyak bertanya. besok aku akan pergi supaya kau merasa tenang!" Mendengar kata-kata Coh Thian-su. Sebenarnya aku akan memberitahu sesuatu kepadamu. tapi kakek dari nonaku adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan. apakah itu tidak boleh dilakukan?" Kata Coh Thian-su." Coh Thian-su terkejut dan bertanya: "Mengapa?" Jawab Ong Toanio dengan dingin: "Kau bertanya terlalu banyak. bukan aku menciirigaimu aku hanya takut kalian akan melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. aku hanya ingin tahu alasannya. hanya ada 1 kalimat yang harus kau ingat!" "Apakah itu?" "Besok kau harus pergi dari sini!" Coh Thian-su sangat marah dan berkata: "Aku tidak akan diam terus di rumah Kie." Dengan dingin Coh Thian-su berkata: "Temyata kau mengira aku menginginkan kedudukan di keluarga Kie? Kau menghina diriku."Bila kau bertanya seperti itu. "Benar. Ong Toanio merasa senang dan berkata: "Coh Siauya." "Mengapa? Kau tidak perlu curiga aku punya niat ini." "Aku hanya bisa memberitahumu bila kau tidak menikah dengan nonaku. bila kau memang tidak berniat menikah dengan nona. sekarang pun aku bisa pergi!" Ong Toanio tertawa dan berkata: "Jangan tergesa-gesa!" . aku pun akan menjawab seperti tadi" "Apakah benar?" Coh Thian-su menjadi marah dan berkata: "Mengapa kau cunga bahwa aku senang pada nonamu?" Kata Ong Toanio.

jangan salahkan aku karena tidak sopan. aku mau tidur. Baiklah. apakah dia sudah punya anak?" Kata Coh Thian-su. apakah yang hendak kau tanyakan adalah tentang ibu tiriku?" Ong Toanio tidak menjawab tapi kepalanya mengangguk Tanya Coh Thian-su: "Hal apa yang ingin kau tahu tentang ibu tiriku?" "Apakah dia hidup bahagia?" Tanya Coh Thian-su: "Mengapa kau bertanya seperti itu?" "Coh Siauya. Adikku paling senang dengan baju yang disulam oleh ibu. aku benarbenar memperhatikan dia."Terima kasih kau tidak mengusirku sekarang." . besok perjalananku jauh. aku ingin bertanya tentang seseorang baru aku akan meninggalkan tempat ini. sekarang tinggalkan aku. ingin tahu apakah dia lebih senang atau malah lebih banyak bersedih?" Kata Coh Thian-su: "Apakah hidupnya senang? Aku tidak dapat mewakili dia menjawabnya. aku juga menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri." "Siapakah dia?" "Ibu kandungmu sudah meninggal lama bukan? Dan ibumu yang sekarang adalah ibu tiri?" "Benar. aku hanya tahu ayahku dan dia tidak pernah bertengkar." Tapi Ong Toanio tidak mau pergi. "Adik tiriku sudah berusia 14 tahun." Wajah Ong Toanio tertawa dan berkata: "Kalau begitu dia hidup dengan bahagia." "Apakah dia masih senang menyulam?" "Bajuku dan baju adikku semua dibuat olehnya. Dia ragu tapi akhirnya bertanya juga: "Coh Siauya.

Kau jangan bengong.Tanya Ong Toanio: "Apakah kau tidak suka?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Aku adalah laki-laki. dari kecil aku memanggilnya begitu." "Sampaikan salamku untuk nona. "Baiklah. sejak dia dilahirkan. dalam hati dia berpikir. bila aku mampu aku pasti akan melakukannya. ayah dan ibu tiriku. aku sudah mengurusnya. aku adalah ibu asuh dari ibu tirimu. ada ceritanya " Kata Coh Thian-su: "Tolong beritahu kepadaku. apakah mereka kenal dengan majikanmu?" "Coh Siauya. aku minta satu hal padamu. 'Sepertinya Coh Thian-su belum tahu hubungan antara ibu tiriuya dan keluarga Kie." Ong Toanio bertanya lagi: "Apakah dia masih senang main kecapi?" "Kelihatannya kau sangat mengenal ibuku. nona adalah ibu tirimu. aku bisa berada di keluarga Kie." Kata Ong Toanio. dengan cepat dia berkata: . dia terdiam sebentar kemudian berkata: "Aku tidak berbohong." Coh Thian-su terkejut dan bertanya: "Waktu itu? Berarti waktu itu dia tinggal di keluarga Kie?" Ong Toanio tidak tahu Coh Thian-su sudah tahu sebanyak apa.""Dua puluh tahun lalu aku pernah menjadi pelayannya. katakan saja. putrinya pun aku panggil nona." Coh Thian-su terpaku dan bertanya: "Putrinya?" Ong Toanio terkejut dan Coh Thian-su sudah mengerti.' Ong Toanio tidak berani mengatakan yang sebenarnya. aku tidak berani mengenakan baju yang disulam.

bila kelak bertemu aku juga akan memanggilnya nona. Kata Ong Toanio: "Tolong beritahu kepada ibu tirimu. "Coh Siauya. kau jangan marah. hatinya serasa ada gelombang sedikit demi sedikit dia sudah dapat menebak. kotak ini tolong berikan kepadanya " Kata Coh Thian-su: "Di dalam kotak itu ada apa? Ong Toanio." Tiba-tiba Ong Toanio meloncat dan keluar lewat jendela." "Tidak mungkin kau tidak tahu."Kau juga punya adik perempuan. kau." Perasaan ini sudah bukan antara majikan dan pelayan lagi. kau jangan banyak tanya. Ini adalah contoh gambar sulam yang sudah kusimpan sejak dulu. besok segera pergi!" Coh Thian-su tidak dapat tidur. 'Apakah Ong Toanio kembali lagi? . apakah dia memiliki yang lain di rumahmu? Bila kau mau tolong kembalikan barang miliknya. Coh Thian-su sangat terharu dan berkata: "Baik. baiklah aku akan membukanya.. aku sangat merindukannya. aku tidak menyalahkanmu.. ada suara yang masuk. Dia sedang berpikir tiba-tiba mendengar di atas atap ada orang lewat secepat angin." Penjelasan ini terdengar masuk akal. Mungkin aku tidak dapat bertemu dengannya lagi.. tapi aku harus tahu. Coh Thian-su sambil terkejut. Sekarang tolong beritahu hal yang tadi aku tanyakan. tapi Coh Thian-su curiga. Yang menjadi sumber rasa anehnya adalah ibu tirinya. dia tidak bertanya lagi. dia berpikir. Hatinya tidak dapat tenang. keluarganya dan keluarga Kie mempunyai hubungan aneh.." "Kau selalu berkelana di dunia persilatan." "Tentang apa?" "Antara ibu tiriku dan ayah Su-giok. membawa barang titipan memang harus hati-hati. dia duduk sambil menatap lampu. menunggu hari terang. dengan begitu keinginanku sudah terlaksana. apakah dua keluarga ini masih ada ikatan keluarga?" "Aku tidak tahu. aku akan memberikan barang mi kepadanya.

bila Ong Toanio ingin mengusir Hiatkun tidak mungkin dilakukan di depan Su-giok. pohon-pohon waktu tidak ada angin tapi terus bergoyang. Ong Toanio tidak masuk. Di bawah sinar bulan yang terang." Jawab Coh Thian-su." Dengan pelan Ting Po berkata: "Apa yang menjadi pikiranmu?" "Tidak ada. tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan. begitu juga dengan Hiatkun." "Katakanlah!" kata Coh Thian-su. Paman Ting mengapa kau bertanya seperti itu?" Dia mengira Ting Po datang untuk mengawasinya. sudah malam begini kau masih menikmati keindahan bunga dan belum tidur?" Coh Thian-su membalikkan tubuh dan di hadapannya adalah Ting Po. Coh Thian-su tidak ingat bahwa Hiatkun sekamar dengan Su-giok.Mungkin Ong Toanio beruban pikiran dan memberitahu hal yang sebenarnya. Tiba-tiba terdengar suara yang berkata: "Coh Siauya. dia mengira Hiat-kun bersembuyi di dalam. Dia masuk ke dalam semak-semak. "Dia bukan Ong Toanio. "Aku tidak dapat tidur karena itu aku keluar untuk berjalanjalan. kali ini kau mengantar nona pulang tuan besar sangat berterima kasih kepadamu. Anign yang dibawa orang itu semakin menjauh. dia langsung lari keluar. tapi malu untuk masuk ke dalam kamarku. dia ingin bercerita denganku. apakah kau sudah lama meninggalkan rumah?" "Hampir 2 bulan. . Wajah Coh Thian-su menjadi merah dan berkata. Dengan pelan Ting Po berkata: "Coh Siauya. dia balik bertanya kepada Ting Po. Coh Thian-su tidak berpikir panjang lagi. apakah dia Hiat-kun?" Mengingat apa yang sudah dia alami.' "Ong Toanio!" Coh Thian-su memanggilnya. Tapi tuan. Ting Po tertawa dan berkata: "Tidak apa-apa. "Apakah Hiat-kun diusir juga oleh Ong Toanio." Bermacam-macam pikiran berkelebat di dalam otaknya membuat orang pintar terlihat bodoh.

aku harus berlutut kepadamu. baiklah jujur aku akan mengatakan bahwa ayahmu menunggu kepulanganmu. sudah 10 tahun lebih aku tidak bertemu dengan ayahmu. tapi aku harap kau jujur kepadaku!" Kata Ting Po: "Kau adalah tamu dari nona. jangan salah paham. aku adalah seorang pelayan tidak dapat berbasa basi tapi ini pun demi kebaikanmu supaya kau cepat pulang!" Kekesalan Coh Thian-su agak mereda dan berkata: "Paman Ting. dan tanyakan kepadanya apakah tebakanku benar. aku sendiri yang berkata seperti itu." "Apakah tebakanmu ada buktinya?" Tanya Coh Thian-su. kau menyunihku pulang pasti ada sebabnya. aku tahu kau adalah teman ayahku. kau berkata seperti itu sepertinya sangat berat bagiku." Coh Thian-su merasa lebih aneh tapi dan bertanya: "Apakah ini hanya tebakanmu?" Jawab Ting Po: "Benar. berarti kau adalah majikanku. aku adalah pelayan keluarga Kie. cepatlah pulang!" Coh Thian-su merasa sangat kesal dan berkata: "Apakah kau mewakili tuanmu mengusirku?" "Coh Siauya. apakah aku menjilat kepadamu?" "Paman Ting. "Kau pulang dan beritahu ayahmu bahwa akulah yang menyuruhmu pulang. tapi aku juga tidak asal menebak. "Setelah berkata itu Chu Tian hu benar-benar berlutut Dengan ringan Ting Po mengangkat tubuh Coh Thian-su." "Apakah kau menganggap dirimu adalah Cukat Liang?" Kata-kata ini sangat menusuk hati Ting Po. Aku hanya mengatakan itu saja. Coh Thian-su hanya berharap Ting Po mengatakan alasan yang sebenarnya. Kata Ting Po: "Terima kasih kau tidak menganggapku sebagai pelayan."Kalau begitu. bila kau berkata seperti itu. tentunya bukan dia yang bilang. Jangan salahkan aku. kau bertamu ke sini." Tanya Coh Thian-su dengan aneh: "Mengapa kau bisa tahu?" "Aku menebak dia akan pergi ke tempat jauh. "Aku tidak mempunyai bukti. .

Apakah yang akan terjadi? ---ooo0dw0ooo- BAB 9 Laki-laki yang hidupnya tidak tenang Selalu khawatir dan bersembunyi Siluman rase sudah terlihat Sekali salah sulit diperbaiki A. Mendengar ini Coh Thian-su sangat terkejut. tapi dia juga percaya." "Aku harus bertanya kepada siapa?" Tanya Coh Thian-su. keyakinannya seperti mengatakan bahwa matahari terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat. belum tiba di rumah aku bisa mati penasaran. Gin-ho (Rase Perak) dan Kim-ho (Rase Emas) Ting Po mengatakannya dengan begitu yakin. itu adalah urusannya. "Tanyakanlah kepada ayahmu. baik aku akan memberitahu bila kau terus tinggal di sini kau akan mendapat musibah. aku ingin tanya. ada sangkutpautnya dengan ayahnya. Dengan dingin dia bertanya: "Paman Ting." 'Mendapat musibah'. kau membuatku penasaran. Ong Toanio juga berkata seperti itu Tapi kata-kata Ong Toanio tidak separah Ting Po. menasihati tuan." "Bila kau memaksa ingin tahu.walaupun ini bukan rahasia tapi aku tidak dapat memberitahumu. apakah bila aku pulang dan memberitahu kepada . Agar cepat pulang ke rumah sendiri. bukan seperti menebak—bila dia tidak mendengar nasihat Ting Po untuk cepat pulang. dan musibah ini akan berhubungan dengan ayahmu. Musibah tidak dapat dicegah. tapi ayahmu akan memberi tahu atau tidak. mereka ayah dan anak akan mendapat musibah." Kata Coh Thian-su: "Paman Ting.

tapi dia juga tidak dapat diancam oleh orang lain. menurutnya. tapi dia sudah mengakuinya. dia pun tidak akan menyebut nama majikannya. tidak akan dianggap sebagai tamu karena dia ingin . Orang yang bisa mengalahkannya bisa dihitung dengan jari.ayah apa yang kau katakan. aku sudah mengerti. "Pantas Paman Ting bicaranya tidak jelas." "Baiklah. jika mau membunuhku mungkin mudah tapi mengancam ayahku. waktu itu dia sudah takut bahwa ayahnya hanya takut kepada pak tua Kie. Kali ini giliran Coh Thian-su yang tidak menjawab. dia pernah mencuri dengar percakapan antara ayahnya dan ibu tirinya. bila ayahmu ingin menceritakannya dia pasti akan mengatakannya. Sewaktu Coh Thian-su masih kecil. 'Guru Siauw-lim dan Ketua Bu-tong juga belum tentu mempunyai keyakinan ayah bisa mendapat musibah. Kecurigaan yang lain sudah terlihat jawabannya. dia berkata: "Coh Siauya. ayahku tidak takut dengan siapa pun. 'Teman laki-laki dari cucu perempuannya." Ting Po tidak mempeduhkan tawa dingin Coh Thian-su. hanya takut kepadanya. ayahku akan pergi jauh untuk menghindari musibah ini?" Kata Ting Po: "Kau jangan terlalu banyak bertanya. apakah kau sengaja ingin tinggal lama di sini? Aku harap kau jangan bertindak gegabah." "Siapa yang kau maksud?" Tanya Ting Po." Ayahnya yaitu Coh Kim-sung sudah lama menjadi seorang pesilat tangguh. kalau pun bisa ayahku juga tidak akan bisa diancam oleh mereka. Yang dimaksud dengan Coh Thian-su adalah Kie Yan-gan. aku memang tidak akan tinggal lama di sini." Ting Po tidak menjawab pertanyaan Coh Thian-su. benar." pikir Coh Thian-su. sepertinya tidak akan begitu mudah. ayahnya benar-benar takut kepada Kie Yan-gan. Dalam hati Coh Thian-su berpikir. kau akan mengerti. asal kau pulang. ternyata dia mewakili majikannya memberi peringatan. Dengan tertawa dingin Coh Thian-su berkata: "Ayahku sangat ramah terhadap orang lain." Ting Po terpaku: "Apa kau sudah mengerti semuanya?" Jawab Coh Thian-su: "Aku sudah tahu siapa dia.

Biar saja aku dianggap terkejut oleh dia' Berpikir sampai di sini. dari sini saja sudah ada perkiraan walaupun bukan dendam yang dalam tapi juga ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Paman Ting memperingatiku. seperti ada hawa panas yang mengalir melalui punggungnya dan masuk ke seluruh tubuhnya." Suaranya tiba-tiba berhenti. kau. tapi ayah pernah menyuruhku agar menghindari bertemu dengan keluarga Kie. sedikit demi sedikit dia teringat kejadian sebelum dia pingsan. Entah berapa lama. Coh Thian-su merasa ada angin kecil yang lewat dan seperti ada senjata tajam yang menghalanginya. Tapi bila dia ingin memaksaku melakukan hal yang tidak aku suka. dia tidak mengijinkan laki-laki manapun yang mungkin bisa dicintai oleh cucunya untuk tinggal di rumahnya. segera tahu ada orang yang sedang mengalirkan hawa murni ke dalam tubuhnya.. Yang dia khawatirkan adalah dia takut aku mencintai cucunya. tidak disangka pesilat . Dia adalah pesilat nomor satu. besok aku akan pergi!" "Coh Siauya. Baiklah. 'Walaupun aku tidak tahu antara ayah dan Kie Yan-gan ada dendam seperti apa. dia juga seperti mendengar Ting Po berteriak.. bila aku memaksa tinggal di sini.menjodohkan cucunya dengan cucu murid yang dilatihnya sendiri. kau belum mengerti. tapi Coh Thian-su sudah pingsan. Coh Thian-su sudah sangat marah. Dan teringat dia sudah terkena serangan senjata rahasia. kau beritahu kepada majikanmu. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini. Ting Po mengejarnya dan berkata: "Coh Siauya. kau jangan berpikir macam-macam!" "Aku sudah mengerti. tapi dia adalah seorang pesilat. Ini sudah pasti!' Coh Thian-su berpikir lagi. pak tua itu tidak akan berlaku baik kepadaku karena pak tua Kie mempunyai sifat yang aneh dan sudah terkenal di dunia persilatan. bila tidak ada sesuatu apa pun dia tidak akan bermasalah dengan orang yang lebih muda. tapi matanya terasa berat dan tidak dapat dibuka. begitu dia tersadar. bahwa akan terjadi bencana kepada ayahku. dia langsung membalikkan tubuh dan pergi. Coh Thian-su merasa ada yang aneh. Dari kata-kata Paman Ting sudah terlihat dengan jelas. Coh Thian-su mulai sadar. Senjata rahasia itu sudah direndam oleh racun yang keras. dia merasa dadanya menjadi kesemutan. itu tidak sama. sepertinya kata-kata ini bukan untuk mengagetkanku.

tapi siapa yang menolongnya? Belum habis berpikir. kau jangan berteriak. 'Ting Po memanggilnya tuan besar." Keadaan sebenarnya dan perkiraan manusia kadang-kadang tidak sama. "Kemungkinan yang lain adalah cucunya." Waktu itu Kie Yan-gan pun sudah selesai dan dia mulai beristirahat. bagaimana keadaan Coh Toako? Tolonglah dia kek. Dan orang ini ada hubungan erat dengannya. jangan kacaukan suasana hati kakekmu. tiba-tiba ada yang bicara: "Tuan besar beristirahatlah! Meski sudah setengah batang dupa terbakar tapi tuan besar sudah menghabiskan tenaga latihan selama 3 tahun. pembunuh yang keji yang dianggap sebagai musuhnya malah menjadi dewa penolong dan siap mengorbankan nyawanya. dari kata-kata Kie Yan-gan. Coh Thian-su terkejut dan berpikir. apakah dewa penolongku adalah Kie Yan-gan?' Benar saja terdengar Kie Yan-gan berkata: "Habis tenaga sedikit tidak apa-apa." "Apakah Coh Toako sudah membaik?" . Coh Thian-su sangat terkejut. dalam waktu sehari semalam dia berusaha mengeluarkan racun dari tubuh Coh Thian-su." Ini adalah suara Ting Po. karena keluarganya yang ada hanya Su giok. tapi mengapa Su-giok ingin melukaiku?" Persoalan ini membuat Coh Thian-su pusing tujuh keliling Begitu Su-giok masuk dia langsung berteriak: "Kakek.nomor satu memakai cara yang keji untuk membunuhnya. dia seperti agak lelah dan berkata: "Sudah Selesai!" "Apa yang sudah selesai?" Tanya Su-giok. apakah kau tahu begitu terjadi musibah ini. kakekmu sudah sehari semalam tidak tidur. kau harus menolongnya!" Dengan suara kecil Ting Po berkata: "Nona. "Apa yang kau harapkan itu sudah selesai kulakukan. asal bisa menolong nyawanya walaupun harus ditukar oleh nyawaku juga tidak masalah. dia sudah tahu siapa pelakunya.

Cici Kang sudah 2 hari tidak makan." "Begitu kau memujiku." . bila kakek tidak menangkap pelakunya. Baiklah. tidak dapat menjamin bisa menangkapnya. kau menyuruh kakek melakukan apa pun. tidak perlu kakek yang turun tangan." "Aku adalah orang tua yang tidak lama lagi akan masuk ke dalam peti mati. apa yang kau minta?" tanya Kie Yan-gan. Kakek belum tua." "Begitukah?" "Kakek. nama baik kakek akan terancam. pesilat tangguh lain pun pasti akan mau membantumu dengan begitu aku akan tenang karena kakek pasti bisa menangkap penyerang gelap ini." "Benar. bagaimana aku bisa mengangkat kepala di depan Coh Toako dan Cici Kang bila kabar ini tersebar. aku masih mempunyai satu permintaan. Sekarang Su-giok sudah agak tenang. aku tidak main-main. kau tidak peduli lagi dengan nama baik tapi aku masih peduli. "Ini bukan untukku. Supaya Cici Kang jadi bisa tenang. kau akan hidup 30 tahun lagi" Kata Kie Yan-gan: "Kalau begitu. tadi aku lihat dia sedang menangis. aku akan lebih malu lagi di depan orang lain. kakek sudah tahu pasti ada yang kau minta. aku tidak akan mengijinkan kakek berkata seperti itu. kakek pasti akan menepatinya. dia mendekati kakeknya dan berkata: "Kakek. semua orang tahu bahwa kakek adalah orang nomor satu di dunia persilatan. tapi aku jamin dia sudah terlepas dari bahaya." "Kakek. tapi di rumah kakek ada yang berani berbuat kejahatan. cepatlah beritahu Cici Kang bahwa Coh Toako keadaannya sudah tidak berbahaya lagi." Kie Yan-gan baru berkata: "Sebenarnya kakek hanya bercanda denganmu. kakek sangat baik! kakek yang baik." Kie Yan-gan menjawab dengan nafsa agak sesak. aku akan menjadi siluman tua?" "Kakek. tahun ini baru berumur 70 tahun." Su-giok marah dan berkata: "Kakek. asal kau mau. tidak butuh nama baik lagi. tapi aku hanya bisa berusaha. tapi demi nama baik kakek." Kata Kie Yan-gan: "Bila kau sudah tenang. kau adalah cucu kesayanganku."Walaupun tidak dapat segera sembuh seluruhnya.

" Coh Thian-su mendengar percakapan mereka. Ting Po hanya terdiam. tiba-tiba mendengar Kie Yan-gan menceritakan tentang anaknya. Sudah sana pergi! Cici Kang sudah menunggumu.Kata Su-giok. "Apakah benar?" "Benar. mana mungkin dia takut dengan ." Kata Kie Yan-gan: "Mungkin kau tidak bisa mengejar karena kau tidak bermaksud mengejarnya." Ting Po terkejut dan berkata: "Aku tidak tahu. Untung saja dia tidak menjadi orang jahat karena terlalu kumanja. Tiba-tiba Kie Yan-gan berkata: "Lo Ting. kau tidak berani mengejarnya karena kau takut. 'Ting Po adalah penjahat kelas kakap yang membunuh orang tanpa memejamkan mata. dalam hati dia berpikir." untuk "Apa yang harus kutakuti?" Coh Thian-su juga merasa aneh dengan kata-kata Kie Yan-gan. dia pun mempunyai pertanyaan yang sama." Kie Su-giok tahu jawaban kakeknya mengandung makna lain dan dia bertanya: "Kakek." Ting Po berdiri di sisinya. apa kau lihat siapa penyerang gelap itu? Sekarang. sudah banyak melewati berbagai halangan. karena itulah aku mendidik Su-yiok dan juga memanjakannya. karena orang itu larinya sangat ccpiii aku tidak sempat melihat. siapakah penyerangnya? Kie Yan-gan melihat Su-giok masuk ke dalam dan dia menarik nafas: "Ayahnya sewaktu kecil diajar dengan ketat olehku tapi entah mengapa dia bisa menjadi anak durhaka. kau harus mengatakannya kepadaku." "Kau tidak tahu atau tidak berani mengatakannya?" "Aku benar-benar tidak tahu. kakek apakah kau tidak tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih?" "Kalau begitu aku akan tenang. apa maksudmu?" Kata Kie Yan-gan: "Aku merasa tenang karena cucuku tidak direbut oleh orang lain.

" Sebenarnya Coh Thian-su sudah bisa membuka matanya tapi dia tidak berani. 'Pantas Kie Cianpwee tadi mengatakan bahwa dia akan menolongku karena ingin menebus dosa!' . mata Coh Thian-su seperti melihat kabut. karena sekarang dia sudah tahu orang itu adalah putra Kie Yan-gan. tapi hatimu sudah tahu siapa dia. Begitu mendengar jawaban itu. jangan menutupi kejahatan binatang itu lagi! Aku sudah tahu siapa dia!" Coh Thian-su terkejut. tapi walaupun kau tidak sempat melihat dia. aku bilang kau takut karena orang itu bukan musuhmu tapi adalah orang yang sangat kau sayangi!" Dengan gemetar Ting Po berkata: "Tuan besar. "Tuan besar. dari mana datangnya putra Kie Yan-gan ini?' Coh Thian-su baru mengerti. Sekarang aku yakin orang itu bukan Siauya. apakah kau mengakuinya?" Ting Po tidak menjawab. hanya berkata bahwa hatimu takut. yang dimaksud binatang oleh Kie Yan-gan itu siapa? Kecurigaan baru keluar tapi jawaban sudah keluar dari mulut Ting Po. apakah kau kira aku sengaja melepaskannya? Aku benar-benar tidak tahu siapa dia." "Aku tidak berkata seperti itu. dia tidak mempunyai paman. Kie Yan-gan terus berkata: "Aku percaya kau tidak sempat melihat wajahnya.penjahat kecil?' Kata Kie Yan-gan: "Benar. waktu itu aku takut orang itu adalah Siauya. sepertinya dia sudah mengakuinya. Kie Yan-gan melanjutkan: "Kau takut mengenali dia jadi kau berpura-pura tidak melihatnya atau kau yang membuatnya menjadi tidak tahu. dia tidak mengerti. karena kau takut jadi kau tidak berani mengejar. 'Ayah Su-giok sudah mati." Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata: "Lo Ting." Ting Po tetap terdiam.

" Kata Kie Yan-gan. karena sudah direndam oleh 3 macam jenis racun. tapi ini bukan milik keluarga Tong. aku ingin lihat. tapi hamba merasa dia sudah mulai menyesal. Jarum itu buatannya sangat bagus. Kata Kie Yan-gan: "Lo Ting." "Senjata ini berasal dari keluarga Tong. Siauya tidak akan melakukan hal sekeji itu. Kedua. hanya saja waktu itu dia sudah salah jalan karena salah berteman. jarum itu dibagi menjadi 3 bagian. "Kalau begitu ini milik keluarga mana?" Tanya Ting Po. kau lebih berpengalaman. Siauya tidak biasa memakai senjata rahasia yang penuh dengan racun. jarum kecil ini berasal dari keluarga mana?" "Ini adalah jarum Ting-seng dari Suchuan dari keluarga Tong. pantas bila kau tidak tahu." Jawab Kie Yan-gan. tidak pernah mendengar ada senjata rahasia keluarga Bok." Kata Kie Yan-gan: "Ini adalah rahasia dunia persilatan. "Aku hanya tahu keluarga yang memiliki senjata rahasia nomor satu di dunia persilatan ini adalah keluarga Tong." Kata Kie Yan-gan: "Itu hanya tebakanmu. kemudian dibawanya ke hadapan Kie Yan-gan." Ting Po tidak takut dimarahi oleh majikannya.Terdengar Kie Yan-gan bertanya kepada Ting Po: "Kau mengandalkan bukti apa bahwa bukan binatang ini yang melakukannya!" "Pertama." . "Propinsi Soasay dari keluarga Bok." Kie Yan-gan marah dan berkata: "Kau masih mau membelanya? Apakah tidak cukup banyak kejahatan yang telah dia lakukan? Dulu dia juga berani membunuh 4 murid Bu-tong. keluarga Tong tidak ingin hal itu digembar gemborkan. waktu itu kau berada di Liauw-tong. tidak ada bukti yang kuat. kemudian dia berkata: "Sifat Siauya tidak begitu jahat." "Senjata rahasia itu bukan milik Siauya. Ting Po memakai sarung tangan dan dengan teliti membersihkannya. walaupun dia tidak berani pulang. keluarkan jarum itu. ditengah jarum adalah lubang." Jarum beracun itu ditarik oleh batu magnet dari luka Coh Thiansu dan masih ada bekas darah." "Baik. warna jarum itu pun terbagi menjadi 3 warna. beberapa hari yang lalu hamba bertemu dengannya.

katanya dia mempunyai kekurangan di tubuhnya." "Walaupun sayang kepada anak ini. Mereka benar-benar sangat serasi. Umur 16 tahun dia sudah dapat menguasai sebanyak 20 macam ilmu senjata tajam." "Setelah mati. pada umur 20 tahun dia sudah menikah. juga tidak perlu tahu nama-nama mereka. Nyonya Tong melahirkan seorang putra. semakin besar semakin tidak mirip."Apakah tuan besar bisa menjelaskannya?" Kata Kie Yan-gan: "Kepada orang lain mungkin aku tidak dapat menjelaskannya.. itu bukan hal . Putranya lebih pintar dari ayahnya. belum mencapai usia 20 tahun dia sudah bisa menguasai 18 macam senjata tajam dan di dalam keluarga Tong belum pernah ada yang bisa seperti dia. kita sebut saja dia sebagai Tuan Tong. Ada sebab lain yang tidak diketahui oleh orang lain. Tuan Tong ini sangat pintar. "Jangan terburu-buru akan kuceritakan semuanya. tapi tidak ada yang tahu sebenarnya mereka sering bertengkar." "Setelah menikah selama 3 tahun. "Karena Tuan Tong ini rajin berlatih ilmu silat dan dia tidak memperhatikan istrinya. anak ini tumbuh besar tapi tidak mirip dengan dia. apakah semuanya berubah?" Tanya Ting Po. senjata ini sangat sulit dikuasai oleh anak-anak keluarga Tong. sebelum dia meninggal semua keluarganya memuji dia sebagai istri yang baik. mengurus suami dan anak-anaknya dengan telaten. Katanya senjata rahasia keluarga Tong ada 33 jenis dan memiliki. tapi dengan kelahiran anak ini membawa duri ke dalam hatinya. peran utamanya adalah laki-laki dari keluarga Tong. Istrinya berasal dari keluarga pesilat yang terkenal." "Bertengkar karena apa?" Tanya Ting Po. semua orang iri kepada suami istri ini." Kata Ting Po "Nyonya Tong ini berasal dari keluarga terkenal dan dia bersekolah sangat tinggi." "Kau tidak perlu bertanya kapan hal ini terjadi. juga sangat baik terhadap mertuanya. tapi kau adalah pengecualian.. Dari kecil harus berlatih dengan berat dan berlatih selama puluhan tahun itu pun hanya bisa mencapai beberapa persen saja.beribu-ribu macam cara menggunakannya. Tuan Tong sangat suka kepada ilmu silat karena itu dia sangat sayang kepada anak ini." "Kalau begitu Nyonya Tong ini pasti tidak kerasan tinggal di rumah." Kata Ting Po: "Bila anak mirip dengan ibunya tapi tidak mirip dengan ayahnya.

" "Karena Tuan Tong curiga." Kata Ting Po: "Keluarga Tang terkenal di dunia persilatan. tentu dia akan setuju. bila terlambat nyawa tidak akan tertolong lagi. bagaimana cara membereskannya?" Kata Kie Yan-gan: "Tuan Tong pulang dan marah-marah kepada istrinya. Kedua. suaminya teringat kepada kebaikan istrinya kemarahannya pun reda. tapi di luaran sudah banyak beredar kabar burung dan ini juga terdengar oleh Tuan Tong. siapa . ketenangannya akan terusik. tapi bila suaminya jujur. keluarga Tong pun tidak akan melepaskan anak ini. karena sebelumnya dia sudah minum arak yang beracun. sebelum suaminya marah besar." "Nyonya Tong begitu jujur." "Apakah suaminya mengabulkannya?" "Bagaimana menurutmu?" "Bila dia ingin istrinya pergi dengan tenang. begitu Nyonya Tong bunuh diri. bila terjadi hal seperti ini. karena istrinya tahu akan terjadi hal seperti ini dan dia pun dengan jujur menceritakannya. Anak ini adalah hasil hubungan gelap dengan teman baik Tuan Tong. dia berkata 'hal ini bukan semuanya salahmu. Pertama. teman baiknya berselingkuh dengan istrinya. lalu dia mencari teman baiknya yang pernah menjadi tabib istana dan memeriksanya." "Racun itu berasal dari racun senjata rahasia." "Sebelum istrinya meninggal tentu dia akan begitu. dia tidak meminta suaminya memaafkannya." Kata Kie Yan-gan: "Benar. mengapa kau harus melakukan ini?'." Kata Nyonya Tong: "Aku bersalah kepadamu. memaafkannya?" Tanya Ting Po apakah dia tahu bahwa suaminya akan "Tidak. sangat sulit berjanji di depannya. tolong biarkan dia terus hidup. hasilnya membuktikan bahwa dia sama sekali tidak bisa mempunyai anak (mandul). di antara keluarga Tong tidak ada yang berani berkomentar. aku harap kau bisa melepaskan anakku. aturan keluarga Tong sangat ketat. keluarganya tidak berkometar karena Nyonya Tong ini sangat bisa menempatkan diri di keluarganya. Kertas tidak dapat membungkus api.yang aneh. yang bermarga Bok'. istrinya sudah meninggal. di dalam hati Tuan Tong dia mulai curiga. walaupun Tuan Tong tidak membunuh anak ini. senjata rahasia tidak dapat dan tidak boleh dipelajari oleh keluarga lain.

"Apakah paman Bok sendiri yang memberikannya?" "Paman Bok sudah masuk dan tidak keluar lagi. itu tidak aneh. tapi dia takut anak ini akan balas dendam kepadanya. Itu anaknya. segera dia menjadi curiga dan bertanya: "Kenapa pulang-pulang langsung mencariku?" Anak itu menjawab: "Paman Bok memberikan hadiah untuk ayah. terakhir dia hanya mengatakan 2 kalimat." Tuan Tong merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Apakah Nyonya Tang sudah membunuh kekasih gelapnya?" "Kali ini kau salah. dia bertanya lagi. tidak.. "Ibumu baru tidur. Tuan Tong sedang memikirkan kata-kata istrinya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memanggil ayah. dia teringat pada kata-kata istrinya sebelum meninggal. Paman Bok menyuruh orang rumahnya memberikan ini kepadaku. kau jangan ribut." "Orang seperti Tuan Tong harus bisa memegang janjinya. Tuan Tong ingin membunuh kekasih gelap istrinya. pikiran Tuan Tong memang seperti dirimu. Keluarga Tong dan keluarga Bok adalah 2 keluarga yang berteman baik. Dia mengatakan: "Aku benci temanmu tapi kau tidak perlu membunuhnya. karena itu dia tidak segera menjawab permintaan istrinya sepertinya Nyonya Tong tahu pikiran suaminya." Jawab anak itu.pun tidak dapat menahan diri. bila anaknya biasa bermain ke rumah Bok.." katakata lain sudah tidak terdengar. mengapa ayah menanyakan hal ini?" . Dia buru-buru menutup mayat istrinya dengan selimut. ada apa mencariku?" "Aku baru pulang dari rumah paman Bok. apakah Tuan Tong tega membohongi istrinya?" "Benar. tapi hari itu tidak sama. Paman Bok sendiri tidak mengatakan apa-apa karena itu aku juga tidak dapat memberitahu apa-apa. "Hadiah apa ini?" "Aku tidak tahu. tidak." Anak itu memberikan tas kulit kepada ayahnya. hanya namanya saja masuk ke keluarga Tong dan dia berkata. tapi kondisi dia sudah sangat lemah.

" Anak itu sebenarnya ingin tahu hadiah apa yang berada di dalam tas itu. aku melakukan semua ini demi kebaikanmu. tapi persoalan ini dapat ditunda. "Tuan Tong menulis sepucuk surat. dia membuka surat itu. surat itu berisi: Anakku. Kata-kata di dalam surat seperti kata-kata istrinya sebelum meninggal. Sebulan kemudian semua tenaga dalamnya hilang. tapi belum genap 1 bulan sudah terjadi hal yang aneh pada tubuhnya. Hanya merasa takut dan aneh. "Surat itu pasti berisi tentang identitasnya." Kata Ting Po. dia minta agar Tuan Tong mau melepaskan anaknya supaya hidup terus. tapi tidak mempunyai ilmu tenaga dalam. dia meminta maaf. Anak ini tetap menuruti perintah ayahnya. Walaupun merasa aneh." Anak ini sangat menurut kepada ayahnya. dia memenggal kepalanya sendiri dan memberikannya kepada Tuan Tong dan di dalam tas itu ada sepucuk surat. sebulan sesudah itu baru kau buka surat ini dan kau akan tahu. "Benar. Tas itu dibuka oleh Tuan Tang. aku memberimu segelas arak. tapi karena ayahnya sudah menyuruh dia keluar. kau pergi dulu ke Suchuan. apakah kau ingat sebelum kau pergi. sekalian membantuku membereskan beberapa persoalan. dia terkejut dan sepertinya nyawanya tidak bersatu lagi dengan tubuhnya. tapi ingat bila belum waktunya kau jangan buka!'. Arak itu kucampur dengan obat yang dapat memusnahkan ilmu silat. dia masih tetap seperti orang biasa mempunyai tenaga. kau di rumah . Sebulan kemudian."Tidak apa-apa. dia malah merasa curiga kalau dia mendapat penyakit aneh sehingga membuatnya kehilangan tenaga dalam. tapi ayahnya berkata seperti itu pasti ada sebabnya dan dia menurut. terpaksa dia menurut. isinya adalah kepala orang! Ting Po terkejut dan berkata: "Itu kepala siapa?" Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata: "Kepala orang she Bok. sudah bisa berkelana di dunia persilatan. Kalau begitu bagaimana dia dapat membereskan urusan yang dipesan oleh ayahnya. kau pergilah dulu. karena kau bukan bermarga Tong. mimpi pun tidak disangka bahwa ayahnya sudah memusnahkan tenaga dalamnya tapi dia tidak curiga. aku memusnahkan ilmumu. kau jangan salahkan aku. Dia merasa ilmu silatnya semakin hari semakin menghilang. 'kau sudah berusia 16 tahun. Pertama." "Terakhir bagaimana?" Kata Ting Po. dia memanggil anaknya dan berkata. Kedua.

anak itu tetap mengajarkan ilmu silat keluarga Tong kepada turunannya. Ketiga. dia tidak akan berani memakai senjata rahasia melukai orang. tidak mengijinkan dia mengajar ilmu silat keluarga Tong kepada orang lain. Kata Kie Yan-gan: "Tebakanmu pun tidak salah. Hanya keluarga Tong yang memakai obat ini. Pertama. Tuan Tong memakai cara ini benar-benar sudah memberi kelonggaran untuk anak ini. walaupun anak ini sangat berbakat di dunia persilatan. dia tahu masih banyak yang belum diceritakan olehnya. Tentunya kau mengerti caraku. tapi ada sepasang adik kakak. Dia sudah lama mengikuti Kie Yan-gan." "Tuan Tang pun memikirkan hal ini tapi dia berpikir lagi. "Lo Ting. . Bila lawannya bisa sedikit silat sebelum racun menyebar sudah dapat membunuh anak itu dulu. yaitu sang kakak bernama Bok Hoo-hoo dan Bok Koan-koan." Kata Ting Po: "Biasanya cara memusnahkan ilmu silat seseorang adalah dengan mematahkan tulang pundaknya. khasiatnya lebih kejam dan lebih beracun dibandingkan dengan racun keluarga Tong. Kie Yan-gan tertawa dan berkata: "Aku hanya bercerita dengan ditambah sedikit bumbu-bumbu. tidak diijinkan memakai senjata rahasia keluarga Tong. Jarum beracun ini adalah salah satu contohnya. apakah kau pernah membaca surat itu? Mengapa kau bisa berkata begitu jelas?" Tanya Ting Po." Di dalam surat masih terdapat 3 larangan. orang itu akan mendapat musibah atau bahkan dibunuh!" "Tuan besar. Tapi bila tidak boleh mengajarkan kepada orang lain.Tong sudah 16 tahun. Kedua. agar cerita itu bertambah menarik." "Ilmu silat anak itu sebenarnya sudah musnah dan menurut kebiasaan. tapi dia belum bisa menguasai dengan sempurna senjata rahasia keluarga Tong. larangan ini pasti tidak akan dituruti. Senjata rahasia keluarga Tong diganti namanya menjadi keluarga Bok." Tiba-tiba Kie Yan-gan membesarkan suaranya. sebenarnya keluarga Bok di propinsi Saosay kau tidak tahu. Aturan keluarga Tong sudah tahu dengan jelas. Apalagi begitu mengeluarkan ilmu silat Tong di luar keluarga Tong. Kie Yan-gan dan tokoh utama cerita ini pasti ada hubungannya. anak itu tidak diijinkan masuk ke wilayah Suchuan." Tapi Ting Po sudah tahu dari sorot mata Kie Yan-gan terlihat begitu berbeda seperti menyimpan banyak rahasia. bila Tuan Tong masih hidup.

aku tidak ingat siapa namanya. aku tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini." Kata Kie Yan-gan: "Keluarga Bok. Ini salahku. Tuan besar." "Gin-ho yaitu Bok Koan-koan pernah menjual obat dan terakhir pernah tinggal di kota ini selama setengah tahun. dia akan berubah menjadi baik. Kie Yan-gan melihatnya dan bertanya: "Siapa yang bercerita kepadamu?" "Dua puluh tahun yang lalu aku masih melakukan usaha yang tidak memerlukan modal. Walaupun wajahnya biasa tapi hatinya sangat terkejut." Ting Po menarik nafas dan berkata: "Tuan besar.dijuluki Kim-ho dan Gin-ho. tuan besar?" "Aku tahu binatang itu kumpul kebo dengan Gin-ho. mungkin hanya sekedar iseng. Bila sudah menikah. apakah kau pernah mendengarnya? Dua puluh tahun yang lalu mereka sudah cukup terkenal. aku yang bersalah." "Aku pernah mendengar. apakah tuan besar curiga dengan 2 bersaudara Bok itu? Kalau begitu tidak ada hubungannya dengan Siauya. aku dengar dari teman-temanku di dunia hitam. apa kau hanya tahu sedikit?" "Ya." Ting Po tampak sedang berpikir. sebenarnya Kie Yan-gan pun tahu sampai seberapa banyak? Kemudian dia coba-coba bertanya: "Tuan besar yang melukai Coh Siauya adalah senjata rahasia beracun dari Shan Xi yaitu dari keluarga Mu.." Jawab Ting Po. hukumlah aku!" Kata Kie Yan-gan: .siapa yang tahu bakal seperti ini. mereka mengatakan Kim-ho dan Gin-ho adalah adik kakak penjahat. terlalu menyayangi Siauya. mereka adalah anak-anak dari anak haram itu. aku hanya mengira karena dia masih muda hatinya masih bergejolak. tapi mereka memang tidak sembarangan mengeluarkan senjata rahasia.. aku memang hanya tahu sedikit. aku juga tahu kau selalu menutupi kesalahan dari binatang itu." Tiba-tiba Kie Yan-gan berubah menjadi dingin: "Mengenai 2 bersaudara Bok ini. Apakah kau juga tidak tahu?" Dengan gemetar Ting Po berkata: "Apa yang kau ketahui. yaitu Kim-ho dan Gin-ho adalah dua bersaudara. siapa yang tahu. ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi tapi mereka tidak berkata bahwa kakak beradik itu memiliki senjata rahasia yang mematikan.

semua itu sudah terlambat. Coh Thian-su sudah sadar. binatang itu durhaka tapi dia sangat berbakat belajar ilmu silat pun bahkan bisa melampaui aku." "Kau masih memanggilnya Siauya? Aku khawatir binatang itu masih mau membunuh Coh Kim-sung!" 'Tapi kejadian itu sudah 20 tahun yang lalu. mengapa putra Kie Yan-gan mau membunuhnya secara diam-diam. juga bukan Kie Lek-beng. senjata rahasia Bok sudah dipelajari olehnya. Binatang ini dari kecil bila sudah melakukan kesalahan tidak pernah menyesalinya. diam-diam sudah bisa memukul Ji-pak-siangeng. Dia sudah dapat menebak. "Ada pepatah yang mengatakan: yang tahu anak pastilah ayahnya." Kata Kie Yan-gan: "Bok Koan-koan tidak akan seberani itu. yang menyerang Coh Siauya mungkin saja Bok Koan-koan. yang aku khawatirkan adalah keselamatan nyawa ayahnya." Ting Po tidak berani bicara." Kata Ting Po. Bok Koan-koan. dia. Begitu tahu dia berbuat kesalahan di luar. tapi ini bukan kesalahanmu. Kie Yan-gan melanjutkan lagi: "Binatang ini kumpul kebo dengan Gin-ho.. tapi di dunia ini kadang-kadang banyak orang yang salah tebak. yang salah adalah aku. tapi bila . terdengar Kie Yan-gan berkata lagi.. dia bisa. Yang diam-diam menyerang Coh Thian-su bukan Gin-ho. tapi binatang ini berdasarkan ceritamu. Jarum beracun ini adalah milik keluarga Bok. Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata: "Kita tidak perlu mengkhawatirkan jiwa Coh Thian-su." Walaupun Kie Yan-gan berkata seperti itu. sepertinya ilmu silatnya sudah lebih tinggi dari aku." Ting Po dengan suara gemetar berkata: "Kau bilang Siauya. dia sudah mulai bisa bicara tapi dia masih berpura-pura pingsan. kata-katanya membuat Coh Thian-su lebih terkejut lagi. tapi tidak benar-benar memperhatikannya. laki-laki atau perempuan aku tidak tahu."Kau terlalu menyayanginya. Aku hanya tahu bahwa mendidik anak itu harus ketat. Hanya berada di depanku dia jadi penurut. tidak pernah melihat dia berbuat nakal." Ting Po setengah percaya dan berkata: "Aku tidak jelas melihat si penyerang gelap.

Coh Thian-su benar-benar terkejut. semua orang meyakinkanku. Apakah kau tidak tahu itu? Kalau begitu apa tujuannya membunuh Coh Thiansu. Lo Ting.orang lain bersalah kepadanya dia tidak akan memaafkan orang itu. kemudian menerima kabar bahwa dia sudah mati di bawah pedang 5 Bu-tong Tianglo. Ternyata dia sudah tahu dari awal. menyuruh ayahku meninggalkan rumah dan pergi jauh. Hal ini pun kau sudah lihat. aku mau kau segera berangkat ke rumah Coh Kim-sung. Bila dia tidak pergi. Cong Eng-lam. sekarang ilmu silatnya sudah maju pesat. aku takut dia tidak mau mendengar nasihatmu. dia tahu itu. tapi kita tetap harus waspada. aku takut kau tidak dapat mencarinya. . hanya saja tidak ada orang yang bisa menasihati Siauya." "Siauya belum tentu akan membunuh Coh Kim-sung. juga tidak dapat menyalahkan Coh Kim-sung. terdengar Ting Po menarik nafas: "Sebenarnya tidak boleh menyalahkan Siauya. "Kau saja sudah tahu bahwa Cong Eng-lam menikah dengan Coh Kim-sung." Ting Po tertawa kecut dan berkata: "Tuan besar terlalu memuji. aku pun pasti akan menyuruhnya menikah lagi. apakah aku harus mencarinya?" "Benar. Hamba akan segera pergi ke Yang-ciu. Apakah kau sudah lupa? Binatang itu lebih-lebih tidak dapat melupakannya." Sekarang Coh Thian-su baru mengerti: "Pantas malam itu Ting Po menasihatiku agar aku segera pulang. hidupnya hanya untuk membalas dendam. di dunia ini hanya kau yang bisa menasihatinya. Mengapa ayahnya melakukan hal ini? Belum habis pikirannya. mana bisa menyalahkan Eng-lam." Kata Ting Po.. Ibu tirinya bernama Cong Eng-lam. suruh mereka ke kuil Siauw-lim untuk bersembunyi." "Binatang ini tidak dapat berpikir bahwa dia hampir mencekik mati istrinya. harus membalas kepada orang yang merebut istrinya!" Ting Po tidak yakin bahwa pembunuh itu adalah Siauyanya tapi dia juga tidak berani membantah. apakah bukan karena dia adalah putra Coh Kim-sung? Dalam pikirannya dia masih menganggap dia yang benar. tapi dia sudah menikah dengan ayahnya. ternyata ibu tirinya adalah menantu keluarga Kie dan suaminya belum meninggal. tolong nasihati dia.. dia akan mencari Coh Kim-sung untuk balas dendam" "Mungkin dia belum tahu. bila kau sempat bertemu dengannya. Waktu itu dia hampir mencekik mati istrinya. walaupun kau bisa menemukannya.

Jaga dirimu tuan besar. Keputusan Kie Cianpwee benar!" Dia mengira yang bisa membunuh ayahnya bisa dihitung jari. terima kasih kau telah menolongku." Mendengar langkah Ting Po yang menjauh. biar dia yang membunuhku!" "Tuan besar jangan terlalu menuduh Siauya. Hanya saja binatang ini adalah putra kandungku bukan anak haram." Dia bicara dengan mengirimkan suara dari jauh. Ong Toanio membawa semangkuk kuah ginseng." Dan dia berkata kepada Hiat-kun. Hatinya sangat gelisah. "Mereka tidak akan membunuh ayah. Orang-orang ini adalah orang-orang dari perkumpulan garis putih. aku akan segera pulang. dia tampak sedikit malu. tolong suapi dia!" Hiat-kun ingin Su-giok menyangka dia kekasih Coh Thian-su. tidak berapa lama kemudian Su-giok. Dia bukan orang seperti itu. Coh Thian-su baru pura-pura tersadar. "Cici Kang. Aku sangat malu. Hiat-kun dan Ong Toanio sudah datang. ilmu silatnya pun lebih berbakat dari ayahnya. Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata: "Binatang itu dan anak yang berada dalam cerita itu. bila aku tidak bisa membunuhnya. tapi kemudian hatinya pun mulai tenang. dia lebih pintar dari ayahnya. aku tahu kau pasti akan merasa aneh. cepat panggil Nona Kang kemari. aku pasti akan membunuhnya. kuah ginseng itu dia berikan kepada Su-giok dan berkata: "Suapilah dia!" Dia takut kata-kata semalam yang dia ucapkan bisa keluar. siapa orang itu. sekarang dia bertambah kuat. Kata Kie Yan-gan: "Kau jangan banyak bicara dulu. Kata Kie Yan-gan: "Coh Siauya kau sudah sadar? Su-giok. kemudian dia mulai menyuapi Coh Thian-su.Yang tahu anak hanya ayahnya. aku belum . hanya tidak tahu itu. dia juga bukan anak durhaka.. Coh Thian-su yang pura-pura baru sadar berkata: "Kie Cianpwee. aku pun tidak dapat memusnahkan ilmu silatnya." Sekarang dia tahu bahwa yang ingin membunuh ayahnya adalah anak Kie Yan-gan. tapi tolong beritahu dia bila dia tidak mau mendengar nasihatku dan membunuh Coh Kim-sung. mengapa ada yang menyerangmu diam-diam. Kata Su-giok: "Kau harus memberikannya pada Nona Kang.." dia pura-pura tidak ada tenaga untuk bicara.

mengapa terburu-buru pergi?" Kie Yangan tertawa dan berkata: "Dia sudah bertemu dengan Sumoinya. dia berkata kepada Coh Thian-su. dia keluar mewakili kakekku untuk meminta bantuan. aku harus pulang lebih cepat bersama dengan adik. ayah dan Supek Kang sudah kehilangan komunikasi selama 20 tahun lebih." Kie Yan-gan tertawa dan berkata: . keadaan ini tidak berbahaya dari dirimu. ada Paman Ting yang mcntmi tahu. Bila ayahmu mengijinkan baru kau bisa tenang. Kata Su-giok: "Lukamu belum sembuh. dia juga tahu Ting Po pergi ke mana. Kata Kie Yan-gan: "Bukankah kau mau mencari pembunuhnya? Aku menyuruh linu Po mencarinya." Hiat-kun menundukkan kepalanya. dia li-lnh banyak mengenal orang-orang dunia persilatan dibanding kakek. dan ingin pulang lebih cepat. Supek sudah meninggal." "Benar." Su-giok sangat senang. kita jangan menghalanginya. Pada hari ketiga ilmu silatnya sudah pulih sebanyak 30 % dan dia pamit pulang. tidak mungkin dia berkata bahwa pembunuh itu adalah putranya sendiri." Dengan cepat Su-giok berkata: "Coh Toako. kali ini aku ke Lok-yang mengikuti perintah ayah mencari keberadaan Supek dan Sumoi. "Ke mana Paman Ting?" Kata Su-giok. Hanya saja dia tidak dapat bercerita Dia juga tidak bisa dengan tenang beristirahat." Dia berbohong karena ada cucunya. supaya ayah tidak khawatir. mimpi ayahnya dipukul oleh putra Kie Yan-gan hingga terluka parah. kau bisa dengan tenang beristirahat.tahu. "Orang-orang dunia persilatan tahu hubungan antara kakek dim Paman Ting. kau berani datang ke Lok-yang seorang diri mencari Suhengmu. pura-pura malu. kau ingin cepat-cepat melamar Cici Kang. ilmu silatku tidak begitu tinggi. aku ikut Suhengku pulang. sebenarnya hanya butuh beberapa hari beristirahat tapi kau terlihat sudah tidak sabar. dia berkata: "Adik. pembunuh itu pasti akan tertangkap. selama 2 malmu berturut-turut dia mimpi buruk. Coli Toako." Su-giok tidak tahu bahwa Coh Thian-su sudah tahu sinpn penyerangnya.

Kata Hiat-kun: "Adik. jangan begitu." Kata Kie Yan-gan: "Ini hanya hadiah kecil. barang ini tidak berharga tapi bila kau membawanya di sisimu. aku tidak perlu khawatir lagi. karena dia menganggap mereka sebagai sepasang kekasih. aku akan memberikan hadiah untukmu. baiklah. kemudian memberikan hadiah ini. Terimalah!" Setelah mendengar kata-kata Kie Yan-gan." untuk perhatian dari Cianpwee. aku tidak akan menahan kalian. aku ingin meminta maaf kepadamu. anggaplah hadiah ini sebagai pertemuan pertama kita " Setelah itu dia mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus oleh kain merah Bungkusan itu tipis seperti buku."Anak bodoh." sengaja dia membawa-bawa nama Coh Thian-su Tibatiba Kie Yan-gan berkata: "Jangan pergi dulu!" Tanya Coh Thian-su: "Cianpwee ada pesan apa?" Kata Kie Yan-gan: "Aku sangat menyesal kau mendapat bencana di rumahku. ini pasti ada alasannya. berjalan menuju kaki gunung. kalian ingin cepat-cepat pulang. mungkin nanti akan ada gunanya. Hadiah Yang Aneh Coh Thian-su dan Jian Hiat-kun meninggalkan kediaman Kie. Pertama. sebenarnya harinya sangat senang. kami sangat berterima kasih atas kebaikanmu." Lalu dia berkata: "Terima kasih menerimanya. hati Coh Thian-su pun tergerak. kalian boleh pergi!" Sengaja dia seperti marah. aku terlalu banyak mengurusi Cici Kang. Tanya Hiat-kun: "Apakah yang diberikan oleh Kie Cianpwee? Apa aku boleh melihatnya?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Aku juga ingin tahu benda apa itu? Dia memberikan ini di depanmu. Cianpwee jangan sungkan. pasti kita boleh sama-sama melihatnya. Kalau begitu aku akan ---ooo0dw0ooo--B. Kedua. ada kau yang menjaga Coh Toako. Kata Coh Thian-su: "Cianpwee sudah menolongku dan aku belum sempat membalas budi." Mereka mulai membuka bungkusan itu "Aku . "Dia sudah berkali-kali minta maaf. apakah kau sudah mengerti? Tidak perlu mengkhawatirkan Coh Toako lagi!" Kie Su-giok berkata: "Baiklah.

menebak ini pasti buku rahasia ilmu silat" Kata-kata Hiat-kun belum habis. tapi dia hanya menulis setengahnya dan ada beberapa coretan masih ada yang kurang. Biauw-ang adalah buku jaman dulu yang diperuntukkan bagi anak kecil untuk belajar menulis." Mengapa orang nomor satu dunia persilatan menganggap hadiah ini adalah hadiah mahal dan memberikannya kepada Coh Thian-su? Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Mungkin dia menganggap aku "kurang pandai maka dia menyuruhku belajar dari awal." "Hal apa?" Tanya Coh Thian-su. "Anak itu pintar tapi malas. Buku ini disebut Biauw-ang. jadi buku ini adalah hadiah istimewa. dari buku ini kita bisa melihat satu hal." ." Hiat-kun membukanya dan melihat. Setelah itu anak-anak mengikuti urutan penulisan huruf tersebut. mereka sudah mendapat jawabannya. dia terkejut buku Biauw-ang ini diperuntukkan bagi anak kecil belajar menulis sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu silat. "Ini adalah buku Biauw-ang. Kang Hiat-kun membukanya." Hiat-kun tertawa dan berkata: "Kau jangan bercanda. guru-guru biasanya menulis huruf-huruf ini untuk dijadikan contoh bagi muridnya. "Dari mana kau tahu?" "Kau lihat urutan penulisannya." Hati Coh Thian-su tergerak dan berkata: "Kau bisa menebak siapa anak ini?" "Aku tidak tahu. Dari sana kita tahu dia tidak teliti." Kata Hiat-kun. sangat teratur dan sangat indah. Guru memberi contoh huruf menggunakan tinta merah. apakah itu cucunya?" "Mengapa kau menebak Kie Su-giok?" "Mungkin dia mau menjodohkan cucunya denganmu. dia terkejut dan berkata: "Yang ditulus di sini adalah huruf biasa.

apakah kau tahu bahwa mereka sekeluarga termasuk Ong Toanio dan Paman Ting sudah menganggap Wie Thian-hoan sebagai calon menantu cucu Kie Yangan.aku tidak bisa denganmu." Kata Coh Thian-su: "Apakah kau sendiri ingin membalas dendam?" . apa gunanya?" Jawab Coh Thian-su: "Kie Cianpwee susah ditebak perilakunya. mana mungkin aku menyalahkanmu." Coh Thian-su terkejut dan bertanya: "Kau pergi seorang diri ke ibukota untuk apa?" "Aku mendapat kabar yang bisa dipercaya bahwa Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta sudah pergi ke ibukota." Kang Hiat-kun terpaku dan berkata: "Mengapa kau harus minta maaf?" "Kata-kataku kepada Kie Yan-gan. ilmu silatku ditambah dengan ilmu silatmu belum tentu dapat melawannya. aku mau minta maaf.Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Kau bilang aku bercanda.. mengapa kau begitu serius? Tapi jujur bicara Kie Cianpwee hanya memberi hadiah ini. tapi kau jangan. Tolong beritahu kepadaku. apakah kau tidak marah? Aku hanya ingin cepat pulang. ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu." "Coba katakan!" "Aku hanya membuat keluarga Kie salah sangka. tapi bila bertemu dengan pesilat tangguh seperti Kiam-ta." Hiat-kun tertawa dan berkata: "Aku hanya bercanda. dari awal sudah kuceritakan kepadamu. kau tinggal beberapa hari di rumah mereka. jalan darah-jalan darahku sudah dibuka oleh Kie Cianpwee walaupun sekarang sudah pulih 30 % dalam 2 hingga 3 hari akan pulih seluruhnya.. kau jangan bercanda." Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata: "Jujur aku ingin Su-giok salah paham dengan keadaan kita. Aku ingin tahu kau akan pergi ke mana?" "Aku akan pergi ke ibukota. tapi menggunakan namamu menjadi alasan. ilmu silatmu sudah pulih berapa persen?" "Tidak perlu mengkhawatirkanku. Tapi dengan kondisi seperti sekarang untuk menjaga keselamatan sendiri masih bisa. ada hal yang ingin kukatakan kepdamu.

tapi Coh Thian-su tidak menaruh curiga walaupun dia terus mengatakan ingin menjodohkan Wie Thian-hoan dengan Su-giok. Tapi dia tetap tidak dapat melupakan Wie Thianhoan. aku pun ada urusan penting dan harus pulang."Mungkin di ibukota ada yang membantuku untuk membalas dendam." "Aku bisa sedikit ilmu mengubah wajah. Tapi bila didengar oleh orang lain masalah ini akan sangat merepotkan." Kata Coh Thian-su Lagi: "Bila kau dibantu oleh Wie Thian-hoan aku bisa tenang tapi aku takut di tengah perjalanan kau akan dikenali oleh orang-orang. Dalam hati dia berpikir. tapi bila dia pulang bersama Hiat-kun. Sumoi. Sementara kita berpisah di sini saja. kesalahan ibu tirinya pun dapat dimaafkan. Kau tenang saja. tapi dengan begitu lebih baik karena aku tidak perlu memikirkan perasaannya terus. Dia berkata: "Aku hanya berjanji kepada ayahku dalam waktu sebulan ini harus pulang dan sekarang waktunya sudah tiba.' Hiat-kun berkata: . hanya dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Coh Thian-su menarik nafas dan berkata: "Kita adalah Suheng. aku akan hati-hati dan tahu diri." "Aku juga dengar dari Paman Ting bahwa Wie Thian-hoan juga pergi ke ibukota." Wajah Hiat-kun menjadi merah dan bertanya: "Ada masalah apakah kau harus cepat-cepat pulang? Sebenarnya aku tidak takut dicurigai oleh orang-orang. Hiatkun akan terbawa-bawa lagi. Sebenarnya Coh Thian-su tidak tenang bila Hiat-kun pergi seorang diri. kemudian bertemu dengan pembunuh yang ingin membunuh ayahnya." Coh Thian-su tidak ingin menceritakan persoalan yang terjadi di dalam keluarganya. seharusnya aku membantumu untuk membalas dendam. walaupun yang bersalah bukan ayahnya. tapi aku tahu kau takut dicurigai. tapi mendengar Coh Thian-su berkata seperti itu. Padahal maksud dari Hiat-kun adalah hanya ingin bertemu dengan Wie Thian-hoan." Kata Hiat-kun. seperti ada sesuatu yang dia sedihkan. 'Ternyata posisiku di hatinya tidak seperti yang dia katakan." Walaupun Hiat-kun tidak bisa ikut Coh Thian-su.

dia yang mengajak Coh Thian-su ke Lokyang dan dia adalah Sin Kong-ta. tapi dengan terpaksa dia membiarkan orang itu masuk ke dalam kamarnya. tidak ada orang yang menyebrang malam-malam. dia mencari penginapan untuk beristirahat. dia merasa kehilangan sekali. dia senang berada di antara anak-anak muda. setelah tiba di sisi Huang-ho. Coh Thian-su melihat sosok Hiat-kun yang semakin menghilang. Coh Thian-su tidak menyangka di tempat seperti itu ada seorang teman yang mencarinya. aku tidak boleh mempunyai pikiran yang macam-macam. Ada apa? Hayo cepat katakan!" "Jangan terburu-buru. terpaksa Coh Thian-su harus bermalam. Dia berjalan sendiri. Setelah masuk ke dalam kamar dan mencuci muka. "Mengapa kau tahu aku berada di sini?" Sin Kong-ta menutup pintu dan berkata: "Aku juga menginap di penginapan ini. ada pepatah yang mengatakan: meskipun sampai sepatu besi sobek pun tidak dapat ditemukan. tapi sekarang tidak butuh waktu lama bisa menemukannya. Aku khawatir tidak dapat bertemu denganmu lagi. ternyata sekarang tiba-tiba bertemu di sini!" Coh Thian-su berkata: "Sepertinya kau sengaja mencariku. karena merasa menjadi yang tertua. Sin Kong-ta adalah si wartawan berjalan. Hari sudah malam."Kalau kau sudah janji kepada ayahmu sebaiknya cepat pulang!" Mereka masing-masing mempunyai pikiran yang tidak sama kemudian mereka pun berpisah.' Setelah berpikir demikian. air Huang-ho sedang pasang. tapi aku mau . aku tiba 1 jam lebih awal. tadi kau baru tiba sengaja tidak aku menyapamu karena di luar sulit untuk bicara. terdengar ada yang mengetuk pintu. sebelum membuka pintu dia bertanya: "Siapa?" "Apakah kau tidak kenal dengan suaraku?" Orang itu dikenalnya. 'Dia sudah ada yang memiliki." Tanya Coh Thian-su: "Apakah kau mempunyai rahasia lagi yang ingin kau sampaikan?" "Benar. Coh Thian-su tidak menyukai orang ini. di seberangnya adalah Holam. rahasia ini berhubungan denganmu. aku pasti akan mengatakannya padamu. hatinya menjadi tenang.

" Kata Coh Thian-su: "Ayahku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan. bila tidak kau akan sia sia berjalan. Hui-thian membuat keributan di rumah Hie. jangan beritahu kepada orang lain. kau sudah menyaksikannya sendiri. ayahmu dan Hie Tayhiap tidak berteman. mengapa ada hubungannya dengan kejadian ini?" "Kau hanya tahu sebagian kecil ceritanya." Kata Coh Thian-su: "Ayahku dan Hie Tiong-gwee tidak pernah berteman." Sin Kong-ta tertawa dan berkata: "Untung aku bertemu denganmu di sini." "Untuk apa pulang?""Pertanyaanmu sangat aneh. tentu saja pulang untuk berkumpul dengan keluarga. ayahmu pergi ke ibukota karena hal ini juga. tapi dia berteman baik dengan Tuan Kiam-ta." "Apa arti dari kata-katamu?" "Ayahmu menyuruhmu agar kau jangan pulang!" "Mengapa?" "Keluargamu telah pergi ke Peking dan ayahmu menitipkan kabar ini kepadaku agar menyuruhmu pergi ke ibukota dan berkumpul dengannya di sana. Memang benar. apalagi dengan Hui-thian. untuk apa dia pergi ke ibukota?" Dengan suara kecil Sin Kong-ta berkata: "Ini adalah sebuah rahasia besar.bertanya dulu. demi menyelamatkan diri dari . kau mau ke mana?" "Aku akan pulang." "Memangnya kenapa?" "Tuan Kiam-ta dan Hie Tayhiap.

dan karena melihat wajahmu juga maka aku memberi ijin untuk pergi. begitu bertemu dengannya dia langsung bertanya. tapi ilmu pena besi ayahmu juga tinggi." "Tuan Kiam-ta berpikir.kejaran Hui-thian." "Ayahmu menanyakan kau pergi ke mana? Tapi aku tidak bisa menjawab. dia mendengar Tuan Kiam-ta takut kepada Hui-thiaa Dia pasti ingin ikut ayahmu untuk membantunya. ini adalah kehormatan untuk ayahmu karena dia berteman baik dengan Tuan Kiam-ta maka ayahmu terpaksa harus pergi. tapi Hui-thian tetap tidak mau melepaskan mereka. apalagi banyak pesilat tangguh juga yang datang ke ibukota" Coh Thian-su bertanya: "Bagaimana pesan mengatakannya?" ayahku kepadamu? Apakah kau bisa dengan jelas "Aku pulang ke Yang-ciu dan berkunjung ke rumah ayahmu." Kata-katanya sangat masuk akal dan ada bukti yang kuat membuat Coh Thian-su percaya. aku menjadi sangat khawatir!'. Sekarang di rumah keluarga Hie telah terjadi keributan. jumlahnya hanya ada 10 orang lebih. kalau seumur hidup bersembunyi dari kejaran Hui-thian juga bukan cara yang baik. sekarang Hui-thian ke ibukota untuk membunuh mereka." Coh Thian-su hanya percaya setengah dan berkata: "Bila ayahku hanya pergi sendiri itu tidak aneh. Hie Tayhiap. karena itu dia. dia dan ayahmu adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. aku hanya bisa bertanya kepadamu!" . Sin Kong-ta tahu bahwa Coh Thian-su merasa cemas. berita yang didapatnya sangat cepat dan tepat. Tidak terasa wajahnya juga berubah. ayahmu tidak akan kalah. tapi mengapa semua keluargaku dibawa?" "Ibu tirimu juga seorang pesilat. Tong Hwie-yan memberi undangan kepada para pahlawan dan teman-teman mereka untuk datang ke ibukota dengan tujuan menangkap Hui-thian-sin-liong. mereka pergi ke ibukota. Di antaranya adalah ayahmu. 'mengapa kau pulang seorang diri? Mana putraku? Karena kau yang memberi undangan. Tapi yang pantas diundang oleh mereka juga tidak banyak. dan kepala kantor pengiriman." Dalam hati Coh Thian-su berkata: "Dijuluki sebagai wartawan berjalan memang tidak ada salahnya. karena kau belum pulang maka adikmu juga dibawa karena tidak ada yang mengawasinya. dia malah menasihatinya dan berkata: "Walaupun Hui-thian sangat lihai.

aku kembali ke Lok-yang mencarimu. Aku pikir begitu meninggalkan Lok-yang 5-6 hari kemudian setelah tahu keadaan Hie. itu sudah 10 hari semenjak aku meninggalkan Lok-yang. aku hanya mengatakannya padamu tolong jangan bocorkan!" . kau malah berkunjung ke beberapa tempat. Waktu aku ke gunung Ong-bu. Sin Kong-ta mulai bertanya lagi: "Sudah tahu salah." "Aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan tentang Gunung Ong-bu?" Tanya Coh Thian-su. apa kau lupa dengan janjimu kepada ayahmu?" Dia sedang menebak kata-kata Sin Kong-ta yang mana yang benar dan yang mana yang bohong. tapi aku tetap teringat kepadamu. Waktu itu karena aku ketakutan cepat-cepat meninggalkan Lok-yang. apakah kau pernah pergi ke Ong-bu-san?" Hati Coh Thian-su sedikit bergetar: "Benar-benar wartawan berjalan."Aku hanya jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat yang indah. dia tertawa dan berkata: "Kalau begitu kau masih perhatian kepadaku. Suara Sin Kong-ta dikecilkan dan menjawab: "Ini adalah rahasia. bila naik lagi ke atas gunung akan menghabiskan banyak waktu. hal ini pun kulakukan demi dirimu!" "Apakah karena takut aku marah maka kau berkata seperti itu?" "Aku tidak berbohong kepadamu. mengapa kau tidak ke sana untuk mencari tahu?" Coh Thian-su tertawa dan berkata: "Sin Toako. ada yang bilang kau dipukul oleh Hui-thian." Kata-kata Coh Thian-su membuat Sin Kong-ta sangat senang." Jawab Coh Thian-su. kau berjanji dengan ayahmu dalam waktu 1 bulan kau akan pulang." "Gunung Ong-bu adalah gunung yang terkenal. apakah dia mengetahui sesuatu?" Coh Thian-su menjawab: "Aku hanya lewat di kaki gunungnya. aku tidak lupa dengan janjiku kepada ayah. tidak naik ke atas gunung. Aku bertanya kepadamu. aku hanya setengah percaya pada berita ini. Sin Kong-ta menggelengkan kepala dan berkata: "Kau benar-benar tidak punya pikiran. anak muda biasanya senang bermain.

pesilat nomor satu adalah Kie Yan-gan. sudah lama tidak keluar di dunia persilatan. tidak mudah mengundangnya." Dia tahu sifat Sin Kong-ta. aku harus pergi seorang diri." Dengan suara kecil Sin Kong-ta menjawab: "Banyak orang mengira Kie Yan-gan sudah meninggal..Kata Coh Thian-su: "Bila tidak percaya kepadaku. tapi lebih baik lagi mengundang Kie Yan Ran." Dalam hati Coh Thian-su tertawa tapi dia juga tidak ingin membocorkan hubungan antara Hui-thian dengan Kie Yan-gan. orang yang tidak disukai mengunjunginya akan disiksa oleh dia. dia sudah pensiun dari dunia persilatan. jangan bilang saja." Kata Sin Kong-ta." Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata: "Sin Toako. "Apakah kau tahu siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan?" "Aku pernah mendengar dari ayah bahwa 30 tahun yang lalu." Kata Coh Thian-su. Sin Toako. Demi membantu teman. kabar yang didapat ini sangat cepat. kau harus berpikir dulu sebanyak 3 kali. Pesilat nomor satu di dunia persilatan masih dia Aku tahu dimana dia tinggal. "Benar. Bila bukan aku yang mengundang dia turun dan gunung. tapi karena dia juga adalah persilat nomor satu." Sin Kong-ta tidak senang dan berkata: "Anak kecil kau tahu apa? Karena orang lain tidak dapat mengundangnya maka Tuan Kiam-ta menyuruhku mengundangnya karena aku dan dia adalah sahabat . aku pernah dengar dari ayah bahwa silat Kie Cianpwee sangat aneh. tetap tidak dapat lolos dari tangannya." "Aku ingin mencari Kie Yan-gan. Coh Thian-su mencoba menasihatinya: "Dia adalah pesilat nomor satu. tapi aku tahu dia belum meninggal. bila disuruh jangan bercerita dia pasti akan bercerita. dia bersembunyi di gunung Ong-bu. dia pasti tidak akan mau. "Ternyata kau juga berteman dengan Kie Cianpwee. walaupun Tuan Kiam-ta sudah mengundang banyak teman untuk membantunya." "Ternyata kau ingin mengundang dia membantu Tuan Kiam-ta dalam menghadapi Hui-thian. begitu dia muncul walaupun Hui-thian bisa terbang kelangit. kalau begitu kau pikir. mengapa sebelumnya tidak pernah bilang kepadaku?" Dengan senang Sin Kong-ta berkata: "Walau aku tidak suka menyombongkan diri tapi aku memang berteman baik dengan Kie Yan-gan.. Sekarang ini siapa? Aku tidak tahu. aku tidak enak menggembur gemborkannya.

Pelayan penginapan yang tadinya tidak senang begitu melihat uang yang banyak langsung tertawa dan mengucapkah terima kasih. kuda itu sepertinya kuda yang sering menempuh perjalanan jauh. wajahnya langung terkejut sekaligus senang dan dia berkata. mana mungkin dia menutup pintu. supaya dia dihajar oleh Kie Cianpwee. Coh Thian-su sudah tahu siapa dia. tidak perlu kembali. dia pasti akan menyambut dengan senang hati." Waktu itu terdengar bunyi derap kuda. teman lamamu pastilah orang yang sangat kuat!" "Apakah kau tahu di dunia persilatan ada yang bernama Ting Po?" Tamu yang datang begitu malam tidak lain adalah Ting Po. biar saja dia pergi ke rumah Kie Yan-gan. orang itu sudah masuk ke dalam penginapan. Aku hanya menginap satu malam. suara itu berhenti. sengaja dia bertanya kepada Sin Kong-ta: "Sin Toako. aku sudah membangunkanmu. semakin lama kebohongannya semakin besar. "Sepertinya orang itu adalah teman lamaku." Coh Thian-su menatap Sin Kong-ta.karib. ambilah uang ini. setelah tiba di pintu penginapan." Silat Sin Kong-ta tidak tinggi tapi pengalamannya sangat banyak." Ternyata dia memberikan uang perak sebesar 10 tail." Begitu orang itu bicara. dalam hati dia berpikir. Jalannya begitu terburu-buru yang datang pasti bukan orang biasa. "Maaf. masa aku bisa tidak tahu? Katanya 20 tahun yang . Kata Coh Thian-su: "Orang yang begitu terkenal. Sin Kong-ta sedang mendengar. kata Sin Kong-ta: "Malam begini masih ada orang yang datang. tolong jangan narah. Kata-katanya belum selesai. 'Sepertinya Kie Cianpwee tidak akan membunuhnya. terdengar dia berkata kepada pelayan.

tapi jangan ceritakan kepada orang lain. apakah kau akan mencarinya?" "Aku dan dia sudah 20 tahun tidak bertemu. tapi entah mengapa tiba-tiba menghilang dari dunia persilatan. teman lama sulit untuk bertemu. Barang itu adalah pemberian raja. Sin Toako. Ayahku dan dia ada sedikit selisih paham. kau adalah temannya. kau juga ikut aku ke sana untuk mengunjunginya. Labu giok itu sebesar mulut mangkuk. ambil kesempatan ini untuk mengenalnya. walaupun bukan musuh besar tapi sudah melukainya." Chu Tian Shu ingin tahu seberapa banyak informasi tentang Ting Po yang diketahui oleh Sin Kong-ta. "Rahasiaku dan keluarga Kie tidak boleh diketahui oleh wartawan berjalan ini. kau pasti tahu dia ke mana. Sekarang dia kembali lagi mungkin ilmu silatnya sudah pulih seperti semula.lalu dia adalah penjahat kelas berat di Liauw-tong. Tanya Sin Kong-ta: "Mengapa kau terlihat begitu aneh? Wajahmu seperti ingin tertawa atau malah ingin menangis?" Setelah lama Coh Thian-su baru bisa menghentikan tawanya. jangan sebarkan ke luar. kau orang yang tahu tidak banyak. dia menahan tawanya. Sin Kong-ta berbisik di telingannya dan berkata: "Berita ini akan membuat Ting Po malu. akhirnya adik raja itu menyuruh 8 pengawal istana menghadapinya. "Sin Toako. aku pasti akan menemuinya. ada suatu kali dia mencuri benda antik labu giok milik salah satu adik raja. aku hanya akan mengatakannya padamu. Musuhnya begitu banyak karena itu dia bersembunyi di suatu pulau untuk mengobati lukanya. Aku akan menceritakannya kepadamu. mereka pernah bertarung secara bersahabat ." Cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya." Coh Thian-su mendengar Sin Kong-ta hanya sembarangan bicara. sedangkan dia juga terluka parah." Dalam hati Coh Thian-su berpikir. tapi kedelapan pengawal itu mati di tangannya. seperti Sin Kong-ta dia pun berbisik di telinganya dan berkata: "Jangan beritahu dia bahwa aku ada di sini!" Sin Kong-ta tampak terkejut: "Mengapa?" "Ini adalah rahasia besar.

bila bertemu dengannya. waktu itu dia bertarung dengan Ting Po.Kau adalah teman ayah. Jarak satu ruang kosong saja sebenarnya sulit mendungku percakapan orang di kamar dengan suara kecil. dia kalah 1 jurus. terakhir setelah melalui perundingan dua belah pihak Ting Po mengembalikan barang yang sudah dirampok. besok kau tidak perlu menungguku. dalam hati dia berpikir. karena itu kepala kantor Piau-ang-ta membuat pesta besar-besaran sebagai ucapan terima kasih kepada Ting Po. dengan dingin dia berkata: "Siapa kau?" Sin Kong-ta segera berkata: "Ting Lo-toa." Lalu dia tertawa dan berkata: "Aku belum tua. karena sudah terlalu lama aku hampir lupa. Kamar yang dihuni oleh Ting Po adalah kamar yang paling bagus." Hati Coh Thian-su terasa geli." Ting Po terpaku dan bertanya: "Kapan? Di mana?" "Sudah 20 tahun lebih. Tapi bagi Coh Thian-su. ini bukan hal yang sulit. aku ingat sekarang. kita masing unitmu berpisah. dari kecil dia sudah berlatih silat dan pendengarannya lebih tajam dari orang lain. di depan adalah ruangan tidak tertutup. Kalau begitu kau jangan temui dia!" Kata Coh Thian-su: "Ting Po orangnya mementingkan harga diri. apakah ayah tidak pernah bercerita kepadamu. begitu dia pergi dia langsung berkonsentrasi ingin mendengarkan pembicaraan mereka. di belakangnya adalah kebun sayur tidak ada kamar yang bersebelahan dengan kamar itu. di kantor Piau-ang-ta. mungkin Sin Kong-ta adalah salah satu dari . Ting Po melihat ada orang yang tidak dia kenal mengunjunginya dia merasa aneh. Dua puluh tahun yang lalu ayahmu pernah memberitahuku... "Pantas wajahnya begitu lesu. waktu itu dia merampok barang yang dibawa oleh Piau-ang-ta. jangan tanyakan hal ini!" Sin Kong-ta baru mengerti. Waktu itu orang yang datang ke pesta lebih dari 30 orang." Ting Po baru ingat. aku sudah mengerti. apakah kau sudah melupakanku? Kita pernah bertemu di kantor pengiriman barang. Dia tengkurap di bawah dan mendengar satu kata pun tidak terlewatkan." Sin Kong-ta buru-buru menjawab: "Benar. Baiklah aku akan mencarinya.

"Ternyata kau adalah si wartawan berjalan. bila Ting Toako membutuhkanku. kau belum punya julukan lain. "Ting Lotoa. aku pasti." "Untuk apa kau tanyakan hal ini?" Dia mulai bersikap tidak bersahabat." Kata Sin Kong-ta: "Jangan terlalu keras suaramu!" Sebenarnya dia takut Coh Thian-su akan mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa dia sudah berbohong. si wartawan berjalan ini walau ilmu silatnya tidak begitu tinggi tapi dia mempunyai keahlian istimewa... atau mungkin kau sudah tahu bahwa di penginapan ini ada orang jahat?" "Tidak ada orang jahat." Ting Po memotong kata-katanya dan berkata: "Baiklah. hanya mendengar suaranya tanpa melihat orang. Aku hanya merasa aneh... bila dia sudah mendengar suara orang itu. "Sudah 20 tahun tidak bertemu. karena identitas Toako. Sin Kong-ta terkejut dalam hati dia berpikir. Ting Po tertawa dan berkata: "Di kiri dan kanan kamar ini tidak ada kamar lain tidak perlu takut ada yang mendengar.tamu-tamu itu Walaupun Ting Po tidak kenal dengannya. Mendengar nama ini Ting Po sudah tidak asing dan dia langcung tertawa. Kemudian Sin Kong-ta memperkenalkan diri. bila aku butuh bantuanmu aku pasti akan mencarimu. Tapi keahlian ini hanya bisa dia terapkan pada orang-orang terkenal saja. 'Mengapa aku lupa larangan orang dunia hitam?' Segera dia berkata: "Tidak apa-apa. Untung Ting Po tidak marah." "Kau tahu aku sekarang bekerja di mana?" Tanya Ting Po. Sin Kong ta mendengarnya dengan teliti. Walaupun sudah lewat beberapa tahun. Toako pasti masih berdagang yang tidak memerlukan modal. tapi mungkin ada orang persilatan." Ini adalah kata-kata agar Sin Kong-ta segera pergi. waktu itu Sin Kong ta mendengar Ting Po berbicara dengan orang orang. akhirnya kau . aku senang berteman. dia masih bisa mengenali orang itu. sepertinya sudah 20 tahun berlalu. dalam hati dia berkata.

" Tanya Ting Po: . apakah kau tidak tahu?" Sin Kong-ta tidak bisa menebak maksud Ting Po." "Apakah kau orang Yang-ciu?" Karena 20 tahun yang lalu Sin Kong-ta belum terkenal seperti sekarang. benar. dia hanya berkata: "Benar. dan membunuhku untuk tutup mulut?" "Ada apa Ting Toako?" suara Sin Kong-ta terdengar bergetar. aku akan kembali ke kamarku. tiba-tiba dia berkata." "Kau adalah orang terkenal di Yang-ciu. dengan pelan dia berkata: "Sin Toako. dia tahu bahwa orang yang berada di hadapannya adalah seorang perampok yang membunuh orang tanpa memandang bulu. Coh Kim-sung karena dia adalah benar-benar seorang pendekar. Kelak dia akan butuh orang sepertiku. aku dengar orang-orang berkata seperti itu." Sin Kong-ta terkejut dan bertanya: "Apakah kau baru dari Yangciu?" "Aku baru dari sana. "Tunggu sebentar!" Sin Kong-ta terkejut. terima kasih Ting Toako sudah memuji orang Yang-ciu." Sin Kong-ta sangat terkejut dan berkata: "Ting Toako ingin menanyakan apa? Aku pasti akan menjawabnya dengan jelas.tahu siapa aku. kau mau beristirahat. ada satu hal yang ingin kutanyakan. "Apakah dia tidak ingin orang lain tahu bahwa dia ada di sini." Segera dia berdiri dan pamit kembali ke kamarnya dan dia berkata: "Ting Toako. Wajah Ting Po tidak terlihat marah. Sin Kong-ta baru tenang dan berkata: "Kampung halamanku ada di Yang-ciu. dengan sopan dia mempersilakan Sin Kong-ta agar duduk kembali. apakah kau tahu orang terkenal di Yangciu?" "Apakah yang kau maksud Coh Tayhiap?" "Harus mengatakan Pendekar Yang-ciu." Ting Po seperti sedang memikirkan sesuatu. dan Ting Po baru kembali dari Yang-ciu maka dia tahu ada orang terkenal seperti Sin Kong-ta. aku turut merasa bangga.

" Menurut kebiasaan Sin Kong-ta. Kata Sin Kong-ta: "Ting toako.' Sin Kong-ta bertanya." "Dua bulan yang lalu kau dan putra Coh Kim-sung. bila dia mempunyai sangkut paut dengan orang itu. Coh Tayhiap satu tempat tinggal denganmu. aku harus meladeninya." "Ya aku tahu. aku dan Coh Kim-sung hanya teman biasa saja." "Aku sering berkelana. waktuku di kampung halaman hanya sebentar saja. tapi aku tidak bersama dengan putra Coh Kim-sung. mana mungkin hanya kenal begitu saja.' Segera dia berkata: "Benar. yang ingin aku tanyakan adalah apakah kau tahu keadaannya sekarang?" Dia merasa aneh tapi Ting Po menatapnya dengan sorot mata dingin seperti es dan sangat tajam seperti pisau. 'Kelihatannya dia mulai curiga kepadaku. Sin Kong-ta berpikir. karena kami sekampung dan aku lebih tua dari dia jadi kami pergi sama-sama. kau salah paham." Tanya Ting Po: "Belakangan ini apakah kau sering pulang kampung?" "Benar."Apakah kau dan Coh Kim-sung berteman baik? yang ingin aku tanyakan adalah mengenai Coh Tayhiap." Ting Po mengerutkan dahi dan berkata: "Pergaulan Sin Toako sangat luas. tapi sekarang dia tidak berani berbohong dia takut Ting Po salah paham bahwa dia dan Coh Kim-sung adalah teman baik. 'Beritanya beredar sangat cepat. "Apa yang Ting Toako ingin ketahui?" . kami tidak ada hubungan apa-apa." Sin Kong-ta terkejut dan berpikir. pergi ke Lokyang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. kadang-kadang dalam 1 tahun tidak bertemu satu kali. dia pasti akan mengatakan dia adalah teman orang itu. terkenal di mana-mana.

orang-orang persilatan tahu bahwa berita yang didapat darimu sangat cepat.. apakah kau tidak mau mengatakan padaku?" "Jujur bicara." "Ting Toako." Sin Kong-ta berkata: "Terima kasih kau mau mengerti. aku dengar Coh Kim-sung sekarang ini berada di rumah Kie Yan-gan." "Tapi apa?" Jawab Sin Kong-ta: "Tapi aku tidak tahu apakah ini benar?" "Benar atau salah. dia membawa istrinya bertamu ke rumah Kie tapi putranya tidak ikut. asalnya dari mana jangan kau tanyakan. terserah. aku ke rumahnya tapi tidak ada orangnya. aku juga tidak tahu tapi." Ting Po tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Benar-benar hal yang aneh. katanya Kie Cianpwee sekarang tinggal di gunung Ongbu."Aku ingin tahu ke mana perginya Coh Tayhiap. katakan saja!" "Ini adalah rahasia besar. aku tahu dia sudah meninggalkan Yang-ciu. yang tahu hanya sedikit. bila tidak mau tidak perlu bercerita. aku tidak akan memaksa." "Bila kau mau bercerita. Ini adalah rahasia besar.." "Apakah istri dan anaknya juga dibawa?" Tanya Ting Po. "Benar." Ting Po terpaku dan berkata: "Apakah Kie Yan-gan yang kau maksud adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan?" Kata Sin Kong-ta: "Benar. ceritakan saja. karena Coh Tayhiap dan Kie Cianpwee tidak ingin ada orang yang tahu. tolong kecilkan suaramu." ." Ting Po menahan tawanya dan berkata: "Benar. Coh Kim-sung bisa membawa istrinya ke rumah Kie. tapi Coh Kim-sung juga tahu. kau tahu mengapa aku merasa aneh?" "Aku tidak tahu. aku lupa.

bulan kemarin dia menjadi saksi pernikahan Hie Tiong-gwee. dia pergi ke rumah Kie itu wajar." Sin Kong-ta tidak tahu bahwa yang dikatakan Ting Po adalah sindiran. hubungan orang lain apakah masih ada hubungan keluarga atau teman. Dia sendiri masih mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Kie. kau tahu dengan jelas. cepat ceritakan kepadaku!" "Istri Coh Kim-sung adalah anak angkat dari Kie Yan-gan."Kie Yan-gan sudah 20 tahun menghilang dari dunia persilatan. orang ini sangat terkenal di dunia persilatan. juga ada hubungannya dengan Tuan Kiam-ta. Apakah itu benar?" "Benar.' Sin Kong-ta tidak tahu bahwa Ting Po adalah pelayan keluarga Kie dan selama 20 tahun tinggal di rumah Kie. diam-diam kali ini Coh Kim-sung pergi untuk menemui Kie Yan-gan." "Bila menghitung waktunya. saat Kie Yan-gan pensiun dari dunia persilatan dan Coh Kim-sung baru masuk dunia persilatan. kenapa ada hubungannya dengan Tuan Kiam-ta?" . 'Dia benar-benar pembohong." Ting Po berkata: "Menurutmu sebenarnya Coh Kim-sung adalah menantu Kie Yan gan. tapi kau hanya tahu sebagian. Coh Kim-sung dan Kie Yan-gan adalah teman baik. Coh Kim-sung membawa istri dan anaknya ke rumah Kie. nanti akan kuceritakan semua dan kau tidak akan merasa aneh lagi." "Apakah dia adalah Tuan Kiam-ta?" "Benar. mengapa dia bisa berteman baik dengan Kie Cianpwee?" Dalam hati dia tertawa." " "Kalau begitu. berita yang kau dapat cepat juga. Dia sudah tahu mana yang benar dan mana yang bohong. malah dia sangat senang dan berkata: "Kau terlalu memuji. "Ting Toako. pergaulanmu benar-benar luas. apakah itu aneh?" "Sin Toako.

untung aku bertemu dengan orang yang tahu berita. urusan mencari Coh Tayhiap labih baik nanti saja." Sin Kong-ta sangat senang dan berpikir." "Lalu kenapa?" "Hui-thian menghina Hie Tiong-gwee.Kata Sin Kong-ta: "Itu hal lain lagi. apakah kau tahu?" "Aku hanya mendengar sekilas. kali ini dia ke rumah Kie demi kepentingan teman juga demi dirinya sendiri. dia melukai Hie dan merebut istrinya. biar aku yang menemanimu. kalau tidak aku harus jauh-jauh mencari Coh Tayhiap!" Kata Sin Kong-ta: "Gunung Ong-bu tidak jauh dari sini." "Aku tidak berani menjilat pesilat nomor satu Kie Yan-gan. dia juga meminta bantuan Kie Cianpwee membantunya mencari putranya. Coh Tayhiap juga ingin mencari putranya karena ada yang mengatakan Hui-thian sudah membunuh Coh Thian-su. 'Aku ingin tahu dia berbohong apa lagi?' Jawab Sin Kong-ta: "Bulan kemarin Hui-thian membuat keributan di rumah Hie. 'Pengantin perempuannya karena mencari Wie Siauya maka dia ke rumah Kie. dia mengira antara . tadi sudah kukatakan Tuan Kiam-ta adalah saksi pernikahan Hie Tiong-gwee. kau berbohong terlalu banyak." "Pada hari pernikahan Hie. aku terima kebaikanmu.' Dia berbohong karena dia sendiri pun mempunyai maksud lain. dia tidak dapat meninggalkan Hie begitu saja karena itu Coh Kim-sung mewakilinya mengundang Kie Cianpwee untuk keluar lagi ke dunia persilatan." Ting Po bersikap seperti baru mengerti dan berkata: "Ternyata begitu." "Sungguh keterlaluan Hui-thian itu! Lalu apa hubungannya dengan Coh Kim-sung yang berkunjung ke rumah Kie?" Tapi dalam hati dia sangat geli. Tuan Kiam-ta harus berlaku adil tapi demi melindungi Hie yang terluka. bila Ting Toako ingin mencari Coh Kim-sung. 'Benar-benar sesuai perkiraanku." "Hal apa lagi?" Dalam hati Ting Po berpikir.' Sin Kong-ta masih berkata: "Apakah Ting Toako sudah lupa.

Tuan Kiam-ta takut kie Cianpwee tidak tahu keadaan ini karena itu Tuan Kiam-ta menyuruhku untuk menyampaikan semua ini kepada Kie Cianpwee. bila yang terluka adalah Ting Po. Yang membuatnya geli adalah Sin Kong-ta membuat berita bohong di depan orang yang sudah tahu. itu tidak apa-apa tapi bila yang terluka adalah Coh Kim-sung. Dari percakapan mereka. 'Dua ekor macan berkelahi." Ting Po tertawa dan berkata: "Kau sangat pintar bicara. terdengar suara Ting Po yang tertawa. pasti ada salah satu yang terluka. sayang Ting Toako tidak bisa sama-sama denganku pergi ke rumah Kie untuk melihat keramaian ini. Dalam hati Coh Thian-su berpikir. Dia memang senang berbohong tapi kepada teman baik dia tetap memperhatikan.Coh Kim-sung dan Ting Po memang ada permusuhan. yang membuatnya khawatir adalah khawatir Ting Po akan menghukumnya. juga tahu hal yang sebenarnya. sekarang aku akan ke gunung Ong-bu untuk mencari mereka. Dia berpikir. Coh Thian-su bisa mengambil kesimpulan bahwa ayahnya sudah meninggalkan Yang-ciu karena Ting Po tidak bertemu dengan ayannya." Sin Kong-ta berkata: "Aku harap begitu." "Apakah Coh Kim-sung sendiri pun tidak dapat mengundang Kie Cianpwee?" Tanya Ting Po. "Kau berbicara seperti itu pasti berteman baik dengan Kie Cianpwee?" Kata Sin Kong-ta: "Bukan teman baik tapi dia masih menganggapku teman. aku akan menolongnya. Coh Thian-su mencuri dengar percakapan mereka. kau pasti bisa mengajak Kie Cianpwee turun gunung.' Belum habis pikirannya. 'Walaupun Sin Kong-ta selalu membuat gosip tapi dia masih memperhatikan ayah dan aku. aku akan merasa sangat menyesal karena sudah mengetahui masalah yang sebenarnya dan tidak memberitahu kepada Coh Kim-sung." "Bila kau ke rumah Kie. hatinya menjadi geli sendiri tapi juga khawatir. keramaian pasti akan terjadi hanya saja aku tidak tega . "Sebenarnya kami tidak perlu tegang hanya saja Hui-thian itu terlalu kuat.' Karena itu dia membuat berita burung bahwa Coh Kim-sung adalah menantu Kie Yan-gan dan sekarang berada di rumah Kie. Ting Po pasti tidak akan berani mencari Coh Kim-sung ke rumah Kie Yan-gan. bila hukuman dari Ting Po terlalu berat.

dia sudah tahu Sin Kong-ta datang dari arah mana. jadi kau jangan terkejut. . hanya mendorong sudah tahu bahwa itu adalah kamar Sin Kong-ta. Waktu Sin Kong-ta keluar dari kamar. tapi dunia persilatan bila kekurangan orang sepertimu akan terlalu sepi karena itu aku tidak akan memusnahkan ilmu silatmu." Belum habis pikirannya. terdengar Ting Po berkata: "Aku menotok jalan darahmu untuk menolongmu." Sin Kong-ta terpaku dan bertanya: "Apa maksud Ting Toako?" "Aku yang harus ke rumah Kie. sewaktu Sin Kong-ta mendekatinya." Sekarang Coh Thian-su baru merasa tenang. 'Bila aku jadi Ting Po." Kata-katanya belum selesai tapi dia sudah roboh di bawah. kau hanya menjilat Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee dan kau mencari tempat tinggal Kie Yan-gan kau mengira jadi atau tidak jadi tidak akan jadi masalah. terdengar Ting Po berkata lagi: "Kau menganggapku teman tapi aku harus menasihatimu bergosip boleh-boleh saja tapi jangan menjadi penjudi. kau tidak tahu ini adalah taruhan yang berbahaya. aku sudah menotok jalan darahmu. biar kau masih bisa berkelana di dunia persilatan. bila kalah kau akan kehilangan nyawamu." Kemudian Ting Po membuka pintu kamar dan terdengar suara angin yang dibawa oleh kibasan baju. bila Ting Po tidak membunuhnya. Coh Thian-su adalah seorang pesilat. meski kau tidak mati. Ting Po adalah seorang pesilat berpengalaman. tapi kau tidak boleh!" "Mengapa. tapi caramu berbohong memang nomor satu. 12 jam kemudian akan terbuka. Coh Thian-su terkejut dan ingin melihatnya. Aku tahu kau sama sekali tidak mengenal Kie Yan-gan.. Bila Sin Kong-ta pergi ke rumah Kie Yan-gan. aku pun akan berbuat seperti itu. setidaknya ilmu silatmu akan dimusnahkan. Walau aku benci padamu. dalam hati dia berpikir. tidak membuatmu terluka tapi dalam waktu 3-5 hari tidak akan pulih secara sempurna. sekali mendengar sudah tahu bahwa Ting Po menggendong Sin Kong-ta kembali ke kamarnya. dia hanya menutup dari luar tapi tidak dikunci.melihatnya. apakah kau mengerti? Seumur hidup aku sudah bertemu dengan Enghiongenghiong dunia persilatan. Sekarang kau tidak mengerti. ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan. kelak pasti akan tahu.. Kie Cianpwee pasti akan memerintahkan Ting Po menghadapi dia. Bila kau hanya berbohong itu tidak apa-apa tapi bila benarbenar mengundang Kie Yan-gan turun gunung.

Tidak sengaja ke Hoa-san Ada seekor kuda yang melintasi kaki Hoa-san. bila tidak aku bisa menikmati dulu keindahan Hoa-san kemudian mendaki ke puncaknya. "Apakah Hiat-kun sudah sampai di ibukota? Dia ke ibukota untuk mencari Hui-thian agar dapat membantunya membalas dendam. hatinya pun ikut merasa gembira. dia meninggalkan penginapan itu. kadang-kadang dia lebih banyak mengkhawatirkan dia daripada ayahnya. Coh Thian-su berpikir. jalan keluar dari sana berada punggung gunung. Aku harap setelah pulang dari ibukota aku bisa pulang bersama-sama dengan ayah dan menikmati keindahan alam disini. Dari jauh terlihat seperti seutas tali turun dari langit sekarang Coh Thian-su berada di bawah Tiang-lung." Mengingat keadaan ayahnya.' Uang sewa kamar sudah dilunasi. sekarang Coh Thian-su berada di kaki Hoa-san. Sekarang sudah pukul 4 dini hari. mengambil keputusan diam-diam ---ooo0dw0ooo--C. yang menunggang kuda itu adalah seorang pemuda berumur 20 tahun lebih. Yang harus aku tahu sudah terjawab semua.Tidak lama kemudian Ting Po kembali ke kamarnya. "Sayang aku ada keperluan lain. Cang Long terkenal sebagai tempat berbahaya. dia hanya bisa melihat puncak gunung yang tajam. Sekarang dia memikirkan Hiat-kun lagi. ada sebuah jalan. Walau bertemu . aku juga tidak perlu bertemu dengan Ting Po. Pemuda itu adalah Coh Thian-su yang akan pergi ke ibukota untuk mencari ayahnya. Walaupun dia terlihat gagah tapi sorot matanya terlihat khawatir. aku harus pergi ke ibukota. Ayahku diundang oleh Tuan Kiam-ta untuk menghadapi Hui-thian. Dari atas Hoa-san bisa terlihat Huang-ho. supaya ayah tidak masuk ke dalam perangkap mereka. mereka belum tentu bisa bertemu. Dia melihat kemegahan Hoa-san. "Ayah diundang oleh Tuan Kiam-ta ke ibukota. hatinya menjadi agak gelisah tadinya dia berjalan dengan lambat kemudian dia mempercepat lagi. sepertinya ini bukan bohong. jalan itu panjang dan sempit. Ada satu orang lagi yang dia khawatirkan. Yang paling dia khawatirkan adalah keadaan ayahnya.

Terdengar 3 kali suara beradu. semua tampak gelap. Perempuan itu berada dalam bahaya. Senjata paku datang dengan cepat. orang itu tidak perlu mengeluarkan senjata rahaisa. dia segera menghentukan kudanya. berarti jarak mereka sama jauhnya. Perempuan itu jatuh dari atas gunung. "Siapa kau berani menghalangiku?" Coh Thian-su juga marah dan berkata. malah dengan dingin berkata. perempuan itu sudah terguling hingga ke tengah gunung. . dia berjalan terus. Dia melihat seorang perempuan jatuh terguling-guling dari atas gunung. pasti laki-laki dan perempuan tadi bersekongkol menyerangnya. Hati Coh Thian-su menjadi dingin. tangannya sudah melempar 3 buah senjata paku. Walaupun saat itu Coh Thian-su sudah berjalan dengan begitu cepat. Asap dengan cepat mengeklingi Coh Thian-su. tiba-tiba terdengar orang berteriak minta tolong! Yang meminta tolong adalah suara perempuan. dia tidak menolong. tapi begitu dia melempar 3 buah paku seperti ingin cepat-cepat mencabut nyawanya. dia seperti terbang berlari mengejar dia. mungkin akan menganggap kawan adalah musuh. walau dia tidak mati tapi tubuhnya pasti akan terluka. segera dia melempar 3 keping uang logam. Coh Thian-su tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi. Orang itu berlari dengan cepat dari atas gunung ke bawah. 3 keping uang dan 3 buah paku saling beradu. di belakangnya ada orang yang mengejarnya Laki-laki itu berwajah seram. Coh Thian-su menunggang kuda dari kaki gunung dan memanjat naik ke atas. di sekitar sana langsung penuh dengan asap. tapi begitu mendekat.pun belum tentu saling kenal. melihat perempuan itu terjatuh. begitu dia mendengar ada yang meminta tolong. "Apakah kau masih bisa lolos dari tanganku?" Selesai berkata seperti itu. ini bukan hal baik yang dilakukan oleh tuan!" Coh Thian-su turun dari kuda ingin memapah perempuan itu." Mengingat salah paham yang akan terjadi. dalam 5 langkah tidak terlihat apa pun. "Orang sudah jatuh ke dalam sumur kau masih menjatuhkan batu ke atasnya. Begitu kudanya mulai berlari dengan cepat. Orang itu marah dan berkata. Tapi senjata rahasia itu akan lebih cepat sampai daripada kuda Coh Thian-su. kemudian berbarengan terjatuh. perempuan itu tiba-tiba melompat dan terdengar bunyi ledakan. hampir mengenai tubuh perempuan itu.

Coh Thian-su merasa orang itu sangat menakutkan. Wajah orang itu tidak seperti wajah seram milik orang lain sebaliknya malah tidak ada ekspresi sedikit pun. perempuan itu sudah naik ke atas kudanya dan langsung turun gunung. Coh Thian-su mendengar ada suara derap kuda yang berlari. Dengan dingin orang itu berkata: "Penjahat kecil. Sangat pucat dan tidak berwarna. Dalam hati Coh Thian-su berpikir. . tapi Coh Thian-su merasa orang yang berdiri di hadapannya seperti baru keluar dari liang kubur. aku memang marah. laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya. dia mengeluarkan keahliannya dan meloncat keluar dari gumpalan asap itu. siluman tadi siapamu? Cepat katakan!" suaranya seperti wajahnya. Dilihat dari penampilannya seperti seorang pelajar yang tidak pernah melihat sinar matahari. Kau penjahat kecil seharusnya disamakan dengan siluman itu!' Coh Thian-su marah dan berkata" "Sekali bicara sudah melukai orang. sekali melihat. Hanya sekejap gumpalan asap sudah menghilang. dengan cepat hilang dari pandangannya. 'Laki-laki ini sangat galak dan perempuan itu pasti takut aku tidak bisa menolongnya. jadi dia mengambil kesempatan ini mencuri kudaku dan melarikan diri. Waktu itu perempuan tadi sudah menghilang tidak meninggalkan jejak. sekarang mereka saling pandang. sekarang dia dapat melihat sekelilingnya dengan jelas. Pada waktu yang sama.Untung tenaga dalam Coh Thian-su cukup kuat. tapi dari kejadian ini dapat diketahui bahwa perempuan dan laki-laki itu tidak berkomplot. aku dan orang tadi sama sekali tidak kenal. tenaga dalam orang itu berada di atas Coh Thian-su. laki-laki itu mengeluarkan serangan. dinginnya tidak dapat dilukiskan. walaupun dia mencuri kudaku tapi ini juga tidak bisa disalahkan. Aku tidak boleh takut dengan orang seperti monster ini!' Dia langsung berkata: "Mengapa begitu bertemu sudah langsung marah-marah kepadaku?' Orang itu tertawa dingin dan menjawab: "Ya. Pikir Coh Thian-su. Perubahan ini di luar dugaan Coh Thian-su. dengan gerakan cepat dia menahan nafas.' Belum habis berpikir.

dia juga berkata: "Apakah kau tahu siapa siluman perempuan itu? Kau harus tahu . aku hanya tidak tega melihat perempuan lemah itu mati di sini. mungkin aku telah melakukan kesalahan dalam menolong orang. Wajah orang itu sama sekali tidak ada ekspresi. "Kau tidak dapat menjelaskan alasannya. apakah kau mau bertarung? Baiklah." Kata Coh Thian-su.Dan aku juga tidak tahu siapa kau!" Orang itu berkata lagi: "Kalau tidak kenal mengapa membantunya melarikan diri?" "Aku tidak kenal denganmu juga tidak kenal dengan dia. baiklah asal kau bisa memberikan alasan membunuh dia. tapi kata-katanya semakin beringas. aku tidak mau bicara denganmu lagi!" Orang itu berteriak: "Berhenti!" Dia menghalangi langkah Coh Thian-su. aku akan minta maaf!" Orang itu tertawa dingin dan berkata: "Siapa dirimu? Apakah aku mengundangmu menjadi hakim? Dengan enaknya minta maaf!" "Kau ingin aku bagaimana?" Kata orang itu: "Aku ingin kau bunuh diri di hadapanku!" Coh Thian-su sangat marah dan berkata: "Aku belum pernah melihat orang seperti dirimu. Maaf bila kau tidak bisa menjelaskannya. apakah kau menganggapku orang jahat?" Jawab Coh Thian-su: "Kau dan dia. aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. ini adalah kata-kata yang aneh. Orang itu sangat marah dengan perkataan Coh Thian-su. siapa yang baik atau jahat aku tidak tahu. "Seorang perempuan seperti siluman tadi masih ada yang bilang dia adalah perempuan yang lemah. aku akan meladenimu!" kata Coh Thian-su.

bila'murid Hoa-san cukup kalau kau menangkap dia. di sini ada 2 jalan pilihan untukmu. kau seharusnya tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. aku ingin kau sendiri yang memusnahkan ilmu silatmu atau kau boleh mencari cara yang mudah lainnya untuk . tapi maksudku itu." Kata orang itu: "Bocak tengik. apakah ini bisa dijadikan alasan?" "Apakah kau tahu perguruan Hoa-san adalah perguruan lurus? Kelihatannya silatmu sangat tinggi.. aku tidak akan ikut campur. sebenarnya aku harus tanya jelas dulu identitasmu baru membereskanmu. kau pasti tahu ilmu silat siluman perempuan itu adalah ilmu sesat. mengapa harus membelanya?" Kata Coh Thian-su dengan dingin: "Kau juga bukan murid Hoa-san." Dia menganggap Coh Thian-su dan siluman perempuan masih satu komplotan Dengan tertawa dingin Coh Thian-su berkata: "Aku tahu kau ingin melampiaskan kemarahanmu padaku." Orang itu terpaku dan bertanya: "Kau tahu siapa aku?" Kata Coh Thian-su: "Aku melihatmu melempar senjata rahasia. itu bukan perbuatan dari perkumpulan lurus.. dia pasti bukan murid Hoa-san. Bila kau bukan komplotannya. apa maumu?" Kata orang itu: "Pertama. Baiklah. aku lebih tidak sudi bicara denganmu. kau berani tidak sopan kepadaku. aku tidak tahu siapa kau.kau sekarang ada di mana?" Kata Coh Thian-su: "Semua orang pun tahu ini adalah Hoa-san." "Maksudmu bagaimana?" '"Menjatuhkan batu ke dalam sumur pada saat orang itu berada di dalam sumur.

kau tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk membunuhku!" Orang itu berkata: "Baik." Kata-kata ini mengandung 2 arti. gerakan dua senjata ini diluar perhitungan orang itu. pena kiri ke atas pena kanan ke arah luar. Orang itu sangat terkejut. kalau tuan ingin mengukur kemampuanku. 'Sepertinya ini adalah ilmu silat sepasang pena menotok jalan darah. malah mencengkram ke arah Coh Thian-su. Maaf. Hati-hati!" telapak tangan kirinya dengan ringan digerakan. Coh Thian-su tidak akan tahu dia berasal dari perguruan mana. . bila aku mulai bertindak tidak sopan. Orang itu tidak menghindar. Dia langsung mengganti posisi." Kata Coh Thian-su: "Asalkan kau bisa membunuhku. Pertama: Coh Thian-su pasti tidak dapat menahan 10 jurusnya. Orang itu berteriak: "Sekarang aku akan menyerangmu. telapak tangan kanan mengeluarkan 2 jari untuk menotok.. caranya mencenkrannya sangat aneh. mati pun aku rela." Kata orang itu: "Mengapa kau tidak memilih jalan ini saja?" "Benar." Coh Thian-su mengeluarkan jurus Poan-koan-pit mencoba menotok dari kiri dan kanan. tidak perlu menghitung berapa jurus. Kedua: walaupun bisa bertahan. Asal kau bisa menerima 10 jurusku. sepasang pena Coh Thian-su pun mengikuti ke arah orang itu.. sepertinya dia ingin merebut Poan-koanpit dari tangan Coh Thian-su. Kata Coh Thian-su: "Baiklah.' Dia memuji coretan pena Coh Thian-su yang indah. dalam hati dia berpikir." Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Kenapa bukan dengan cara yang lebih berat? Yang paling berat adalah dengan cara bunuh diri. jalan yang kedua adalah bertarung. "Baiklah aku harap dalam 10 jurus kau tidak mati dan bisa menerka aku sebenarnya dari perguruan mana.memusnahkan." Kata orang itu. apalagi tenaga dalamnya pun tidak biasa. Guratan pena Coh Thian-su sangat aneh.

habislah aku!" Orang itu langsung mengeluarkan 7 jurus serangan. maaf aku ingin bertanya. Coh Kim-sung dari Yang-ciu itu siapamu?"' Orang itu terus menatap Coh Thian-su dan bertanya: "Dia adalah ayahku.Dia bukan menotok melainkan membuat 2 jari sebagai pengganti pedang dan jurus ini adalah jurus pedang." Orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Aku percaya dengan kata-katamu tadi." Orang itu berkata: "Sudah. Dalam hati Coh Thian-su terkejut. Cianpwee ini adalah paman Bu-tong yang mana?" Orang itu terkejut dan berkata: "Benar-benar hebat. Akulah yang kalah. "Bila dia benar-benar memakai pedang. harap kau jangan marah. mengapa dengan kejam menghadapi perempuan tadi. aku harus minta maaf kepadamu. sekarang sudah-memasuki jurus ke 13. walaupun hanya memakai jari tapi Poan-koan-pit nya hampir lepas dari tangan Coh Thian-su. "Coretan yang hebat. hanya 5 Bu-tong Tianglo yang baru bisa mengusai dengan lancar dan menggunakannya. terus menerus mengarah pada 7 jalan darah Coh Thian-su. Dia memakai jari untuk menotok. dalam jurus yang ke 12 aku baru mengetahui jurus Cianpwee yaitu Lian-hoan-tui-beng-kiam-hoat (Jurus pedang berantai pencabut nyawa). aku pun kalah dalam hal yang kedua." Kata Coh Thian-su: "Cianpwee terlalu sungkan. Coh Thian-su mengeluarkan semua kemampuannya untuk melawan orang itu. aku bersalah kepadamu. Orang itu memakai jari sebagai pengganti pedang tapi tidak sehebat Poan-koan-pit. jadi aku yang kalah! Maaf aku ingin bertanya kepadamu. tapi aku yakin kau masih curiga kepadaku. karena jurus Lianhoan-tui-beng-kiam-hoat sangat rumit." Kata Coh Thian-su: . aku yang bersalah. kita tidak perlu basa basi lagi." Kata Coh Thian-su: "Tidak. murid-murid Bu-tong hanya bisa menguasai sedikit. Meskipun begitu Tapi Coh Thian-su tetap kalah dalam hal tenaga dalam. sudah.

dia tertawa dan berkata: "Kau benar. pasti ada alasannya." Kata Coh Thian-su: "Ya. karena ingin mencari tahu tentang suatu hal maka aku berpakaian seperti orang biasa." Kata Coh Thian-su: "Ternyata Anda adalah Yu He-cu Tosu. 'Mengapa dia memandangiku begitu? Apakah dia tahu bahwa aku sudah pernah bertemu dengan Kie Yan-gan?' Dia segera menjawab: "Ya. bila Cianpwee berbuat seperti itu. Orang itu terpaku dan bertanya: "Mengapa kau bisa tahu bahwa aku adalah salah satu di antara 5 Bu-tong Tianglo?" "Ilmu pedang Cianpwee sangat lihai." Orang itu seperti sangat menikmati pujian Coh Thian-su." "Apakah kau tahu siapa siluman itu? Baiklah aku akan memberitahumu siapa siluman itu Dua puluh tahun yang lalu di dunia persilatan ada seorang penjahat besar. aku pernah dengar. pastilah ketua perguruan. Coh Thian-su merasa aneh. aku ingin bertanya."Orang itu berkata lagi: "Kau pasti tahu bahwa Kie Lek-beng mati di bawah pedang milik 5 Bu-tong Tianglo. aku adalah salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo benama Yu He-cu."Aku yang ceroboh. Maaf Cianpwee. kau adalah 5 Bu-tong Tianglo yang mana?" Coh Thian-su sudah bertanya sebanyak 2 kali mengenai identitas orang itu. terimalah hormatku kepada Anda." Dia bicara tapi matanya memelototi Coh Thian-su seperti ingin mengetahui rahasia dalam hati Coh Thian-su. mengenai ayah dan anak ini. bila bukan salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo. dalam hati dia berpikir. orang itu bernama Kie Lek-beng dan dia adalah putra Kie Yan-gan. aku pernah dengar. kau pasti sudah tahu . ilmunya sangat tinggi dan dia masih muda." .

aku tidak pernah bertemu orang dengan wajah asliku.Tapi dalam hati dia berpikir. sekarang walaupun sudah berumur 50 tahun lebih. Coh Thian-su berteriak. Coh Thian-su sangat terkejut.' Ternyata Yu He-cu sebelum menjadi Tosu bernama Pang Kun. dengan sedih tapi mencoba untuk tertawa. Melihat wajahnya yang penuh dengan bekas luka ada yang lurus dan horizontal. Yu He-cu seperti tahu pikirannya. Sudah menjadi Tianglo sebelum berusia 40 tahun. dia tidak berani menjawab. Wajah orang yang berkulit tipis. luka itu seperti tulisan yang dibuat dengan goresan cepat." Tiba-tiba dia menarik kulit wajahnya. Kun berarti tampan. seperti jaring laba-laba. luka ini dibuat dalam 1 jurus serangan seperti diukir dengan pedang di wajahnya. 'Apakah kau ingin melihat wajah asliku?' Sewaktu berkata seperti itu sorot matanya memancarkan kesedihan yang sangat kental. dalam hati dia berpikir. ternyata dia memakai topeng yang sangat tipis dan ringan yang dibuat oleh tangan manusia. 'Yu He-cu yang diceritakan oleh orang-orang sepertinya tidak sama dengan sosok orang ini. tapi tidak terkena tulangnya juga tidak melukai hidung dan mata. dia adalah salah satu di antara 5 Bu-tong Tianglo yang paling muda. dia berkata. dia baru sadar bahwa itu tidak sopan. 'Orang yang melukainya pasti ilmu pedangnya sudah sangat tinggi. Begitu topeng itu dibuka. tapi bila diperhatikan lagi lebih teliti lagi. begitu diukir sudah terjadi banyak luka. Yu He-cu kembali memasang topengnya.' Sasarannya sangat tepat tidak dapat dilukiskan dengan katakata. menurut sepengetahuan Coh Thian-su. seharusnya sisa ketampanannya masih ada. "Apakah kau terkejut? Luka ini adalah pemberian dari Kie Lekbeng. wajah itu bukan bentuk aslinya karena sudah dirusak oleh orang lain. tidak akan berubah menjadi begitu menakutkan. Coh Thian-su merasa perasaannya menjadi dingin. aku masih . Ternyata wajah asli Yu He-cu tidak tampan malah terlihat sangat jelek. tapi hari ini merupakan pengecualian. dia berkata. Yu He-cu menarik nafas dan berkata: "Dalam waktu 10 tahun ini.

" Coh Thian-su terdiam. Bok Koan-koan. karena tidak tahu dendam antara 5 Bu-tong Tianglo dengan Kie Lek-beng." "Siapa yang pernah membicarakannya?" Coh Thian-su menjadi kesal dalam hati dia berpikir. mereka bilang senjata rahasia sepasang adik kakak ini bisa menandingi kehebatan senjata rahasia keluarga Tong dari Suchuan. tapi aku tidak percaya. 'Keahlian senjata rahasia mereka memang berasal dari keluarga Tong. dia tidak dapat menjawab. kakaknya Kim-ho (rase emas) lebih kuat.membencinya walaupun dia sudah mati. dia dipengaruhi oleh iiluman itu hingga menjadi penjahat kelas berat. 'Ternyata dia adalah Gin-ho. Katanya keluarga Tong sudah curiga kepada sepasang adik kakak ini. ada yang membicarakan sepasang adik kakak ini. kelihatannya selain Kie Yan-gan belum ada yang tahu. tapi dia tidak begitu lihai.rlalu banyak tanya' Dia tidak ingin rahasia ini diketahui. "Waktu aku ke rumah Hie Tiong-gwee untuk memberi selamat." . dia tidak mau demi menjilat Yu He-cu and membenci Kie Lek-beng. 'Tosu ini . dia tertawa dan berkata: "Yang berkata seperti itu memang sangat tepat. "Lalu apa hubungannya dengan perempuan itu?" Kata Yu he-cu: "Perempuan itu adalah salah satu dari sepasang siluman rase yang jernama Gin-ho." Dalam hati Coh Thian-su berpikir. Dia adalah si adik yang bernama Bok Koankoan Bok <oan-koan adalah kekasih gelap Kie Lek-beng. Kau sudah lihat kehebatan senjata rahasianya. Bok Koan-koan adalah iblis perempuan yang tadi. Coh Thian-su bertanya.' Yu he-cu melihat Coh Thian-su dan bertanya: "Apakah kau juga kenal dengan Bok Koan-koan?" "Ada yang pernah membicarakan dia. wah ternyata aku sudah salah menolong orang. Yang pernah menyaksikannya." Kata-kata Coh Thian-su tidak dicurigai oleh Yu he-cu. berkata mirip dengan senjata rahasia keluarga Tong dari Suchuan. paling sedikit orang-orang Bu-tong juga belum tahu. terpaksa dia berbohong." Kata Ju Mie Zi: "Bagaimana mereka mengatakannya?" "Sepertinya mereka sedang membicarakan mengenai senjata rahasia." Pikir Coh Thian-su.

" "Aku jarang tahu keadaan di dunia persilatan juga jarang mengurusi masalah orang lain. dia yang menentukan." Yu He-cu tidak menjawab. dalam hati Coh Thian-su juga harus berpikir. itu tidak aneh. Yu He-cu yang sombong." Kata Coh Thian-su: "Kalau ada kebaikan untuk ayahku. tidak menyangka Coh Thian-su begitu hormat kepada yang lebih tua." Kata Coh Thian-su: "Memang ayah sering bercerita tentang guru. harap kau mau menjawab dengan jujur." Kata Coh Thian-su: "Guru. Bila perlu berbohong akan dilakukannya. kau hanya tahu sedikit mengenai sepasang iblis ini. Kata Yu He-cu: "Tamu yang datang ke rumah Hie memberitahuku. Tanya Yu He-cu: "Apakah kau pernah tinggal di rumah Kie Yan-gan?" "Guru dengar dari mana?" Yu He-cu senang bertanya-tanya. ternyata aku salah tebak. dia berkata: "Aku ingin bertanya tentang ayahmu. dia tidak akan menjawab. harus berkata jujur atau tidak. kira-kira siapa yang memberitahuku. mereka diperhatikan oleh tamu-tamu Hie. setelah Hui thian membuat keributan. Apakah un umum demi kebaikan ayahnya. tapi segera dia berkata. . beberapa hari kemudian ada yang melihat kau bersama dengan cucu Kie Yan-gan naik dalam satu perahu.Yu He-cu berkata: "Ternyata kau pernah mendengar secara tidak sengaja. Aku kira kau juga tahu." Sebenarnya ayahnya hanya berkata tentang 5 Bu-tong Tianglo. bila dia bisa menjawab dia akan menjawab bila tidak. apa yang ingin guru tanyakan?" Tapi dalam hati Coh Thian-su sudah siap menjawab." Kie Su-giok dan Hui-thian sama-sama membuat keributan di rumah Hie. Yu he-cu seperti tahu pikirannya. "Aku dan ayahmu sudah 10 tahun lebih tidak bertemu tapi aku juga bersahabat dengan ayahmu. kenapa aku harus menutupnutupinya?" Dia berkata seperti itu supaya bisa mundur. dia sangat puas dan dia berkata: "Aku ingin bertanya kepadamu. boleh dibilang untuk kebaikan ayahmu.

" Kata Coh Thian-su. bila bukan karena sayang mana mungkin kalian langsung cocok? Aku harap kau bisa menjadi menantu keluarga Kie. Hui-thian. Aku juga tahu dia adalah adik seperguruan Hui-thian. Bila kau menjadi menantu cucunya mungkin kita bisa mendapat kebaikan.Coh Thian-su terkejut dan berpikir. putra Kie Yan-gan tidak baik. Yu he-cu tertawa dan berkata. aku tahu kau tidak membantu Hui-thian. tetapi mengapa kau tidak?" Kata Coh Thian-su." Sewaktu dia masih muda dia dijuluki laki-laki yang berwajah tampan. 'Untung mereka hanya tahu Kie Su-giok tapi tidak tahu Kang Hiat-kun juga ada di dalam perahu. begitu juga dengan cucu muridnya. walaupun Coh Thian-su tidak tahu Yu He-cu sewaktu masih muda tapi dia tahu pasti banyak berhubungan dengan perempuan." "Benar. Aku jadi tamunya tapi telah mau membantu Hui-thian. aku menerima undangan untuk tinggal di rumah Su Giok karena aku ingin mengenal kakeknya yang terkenal itu. aku bukan orang yang ingin mencapai posisi tinggi. banyak orang persilatan yang ingin seperti ini. jujur saja." Sebenarnya dia ingin Yu He-cu salah sangka kepadanya. bila tidak terpaksa. "Guru. tapi dendam antara Hui-thian dengan Hie Tiong-gwee aku tidak tahu juga tidak mau tahu." Kata Coh Thian-su. "Aku dan Nona Kie hanya bertemu secara tidak sengaja mana bisa membicarakan tentang pernikahan. aku berharap kau bisa menikah dengan cucu Kie Yan-gan. tapi bila Kie Yan-gan adalah orang yang netral. bila aku jadi kau. apa yang ingin anda ceritakan? Mengapa menyangkut pautkan dengan diriku?" . Kata Yu He-cu: "Aku tidak bercanda. "Kau tidak perlu menjelaskannya. Wajah Coh Thian-su menjadi merah dan berkata: "Guru. kita tidak akan mau bermusuhan dengannya." Yu He-cu tertawa dan berkata: "Dia baru mengenalmu tapi sudah mengundangmu bertamu ke rumahnya. dia juga tidak mau kau membantunya. jangan tertawakan aku. aku juga tidak bisa menolak undangannya. Katanya Nona Kie itu sangat cantik apalagi kakeknya adalah pesilat nomor satu di duiuu persilatan.

mereka ingin berhadapan dengan cucu murid Kie Yan-gan. Kita akan lebih sulit menghadapi Hui-thian. aku tidak akan menanyakannya. tidak dapat dilupakan Apa yang akan terjadi? Bersambung.Jilid 2 ---ooo0dw0ooo--- . karena itu aku hanya bisa membereskan sendiri masalah ini." Kata Coh Thian-su: "Guru." Kata Yu He-cu lagi: "Karena mereka sudah tahu hubungan antara Hui-thian dan Nona Kie. Hui-thian terluka karena Nyonya Hie. terakhir Nona Kie datang dan menolong kakak seperguruannya. katanya dia belum mati. mereka adalah kakak adik seperguruan juga sepasang kekasih. Sayang Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee belum tahu hubunganmu dengan Nona Kie. wajah sudah rusak Dua puluh tahun dendam lama. bila tahu mereka tentu akan senang. paling sedikit bisa mengurangi kekhawatiran. dia sudah mengerti kalimat ini. Bila aku berhadapan dengan putra Kie Yan-gan lebih sulit lagi. kau jangan menyebarkan gossip. Huithian akan menjadi menantu Kie Yan-gan..Yu He-cu tertawa dan berkata: "Masalahmu juga masalah yang penting!" "Apakah kau tahu sebabnya? Karena mereka khawatir Hui-thian sudah membuat keributan di rumah Hie walaupun aku tidak berada di sana." Di bawah pedang. Apa yang ingin dia ketahui? Benar saja Yu He-cu berkata lagi: "Yang ingin kuketahui adalah mengenai putra Kie Yan-gan. apakah kabar ini benar? Kau harus jawab dengan jujur. bila Nona Kie mau menikah dengan kakak seperguruannya. aku dan Nona Kie tidak mempunyai hubungan apa-apa." Kata Yu He-cu: "Aku tahu kau khawatir karena belum tiba waktunya. tapi ada yang memberitahuku. Hui-thian." Coh Thian-su mendengar "yang aku hadapi adalah putra Kie Yangan'. Aku dan Kiam-ta memiliki perbedaan.. apakah benar?" "Benar.

memang wajahnya tidak mirip jadi belum dapat dipastikan apakah dia Kie Lek-beng atau bukan. di ibu kota ada sebuah kantor Piau (pengiriman barang) yang bernama Sinhoan." Kata Coh Thian-su: "Apakah temanmu sebelumnya memang sudah kenal." "Apakah ada yang sudah bertemu dengannya?" "Benar. Perubahan di Hoa-san Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata. menurut mereka wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan Kie Lek-beng." . mengapa masih bisa hidup?" Kata Yu He-cu: "Lebih dari 10 tahun aku juga mengira seperti itu. dan orang itu mempunyai ciri-ciri seperti dia. ada orang yang pernah bertemu dengannya. dengan Kie Lek-beng?" "Mereka kenal dan juga pernah dirugikan oleh Kie Lek-beng. wajahnya ada bekas luka. ketua kantor itu bernama Tong Hwie-yan. "Apa? Kie Lek-beng belum mati? Bukankah kau yang bilang dia mati di bawah ilmu pedang Bu-tong? Dia terluka parah dan jatuh ke sungai. ilmu silat dan gerak geriknya sehari-hari memang mirip dengan Kie Lek-beng. tidak ada yang tahu identitasnya tapi ilmu silatnya sangat tinggi. Melihat ilmu silatnya. adiknya bernama Tong Hwai-ie mempunyai seorang teman baru. "Teman yang bertemu dengannya. Kejadiannya begini.BAB 10 Keanehan membuat terkejut Ketua dibunuh Terkurung di batu yang sepi Perempuan cantik menaruh hati A. tapi sekarang aku mendapat kabar yang membuatku berpikir kembali." "Seperti dia? Apa maksudnya?" Tanya Coh Thian-su. sepertinya itu adalah ilmu silat keluarga Kie. sangat mengenali ilmu silatnya.

harap dia mau menyerahkannya kepada kami. walau bagaimana pun ilmu silatnya ditutup-tutupi. tapi pak tua itu adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan."Bila wajahnya tidak mirip pasti bukan dia.." "Wajah bisa diubah dengan ketrampilan tangan. dia memang hanya mempunyai satu anak. ini semua kesalahanku. Walau dia tidak bersedia. tapi sayang. walau kemungkinannya kecil tapi kami tetap harus waspada karena itu sebelum tahu apakah Kie Lek-beng masih hidup atau memang sudah mati." Yu He-cu tertawa kecut dan berkata lagi: "Kie Cianpwee dan siluman itu tidak sama. bila perlu kami akam mengundang ketua Siauw-lim.. kau sekarang sudah tahu mengapa aku harus menangkap siluman perempuan itu. dia pasti akan kembali mencari 5 Butong Tianglo. menurutku ketua perkumpulan Hoa-san yaitu Thian Koan. aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.” "Aku sangat malu dan minta maaf." Kata Yu He-cu: "Hal itu sudah lewat..Adik. dan Thian Hian mereka pernah berteman dengan Kie Yan-gan. tapi aku lebih percaya bahwa dia masih hidup. melalui jalan ini kita bisa menemukan Kie Lek-beng yaitu menemui ayahnya. merusak rencana guru. Kami 5 Butong Tianglo tidak mampu membunuh Kie Lek-beng.. sekarang bila disuruh untuk menyerahkan putranya dia pasti tidak akan bersedia. Dia tidak membalas dendam kepada kami itu juga sudah sangat menguntungkan. tapi kami sudah minta ijin asal dia tidak turut campur. aku bisa menangkap perempuan itu dan memaksanya mengatakan di mana Kie Lekbeng. Kali ini aku ke Hoa-san adalah untuk meminta bantuan kepada teman-teman Hoa-san. jangan salahkan dirimu lagi. . bila Kie Lekbeng memang hidup kembali. aku tidak meminta mereka untuk bertarung dengan Kie Yan-gan. dia adalah kekasih gelap Kie Lek-beng bila Kie Lek-beng masih hidup dia pasti tahu. lebih baik kita cari jalan kedua." Kata Coh Thian-su: "Apakah kau mengira Kie Yan-gan mau melakukannya? Apalagi dia hanya mempunyai anak satu-satunya. hanya meminta Kie Yan-gan jangan melindungi anaknya. tapi di mata pesilat lain tetap bisa tahu berasal dari mana gerak ilmu silatnya. kami sudah memikirkan hal yang terburuk. putranya icrluka di bawah pedang Bu-tong Tianglo." "Benar. perkumpulan Bu-tong masih sanggup mengalahkan Kie Lek-beng.. bila putranya sudah kembali ke rumah. Kie Yan-gan.

Go-bi Ceng-seng. Kie Lek-beng adalah musuh ayahnya. sepertinya kau tidak bertemu dengan Kie Lek-beng." Dalam hati Coh Thian-su berpikir. Tapi aku juga tidak menyangka. aku tidak perlu menangkap siluman itu. Siluman itu kabur setelah bertemu denganmu. tapi Nona Kie belum pernah bercerita tentang ayahnya. Memang benar. apakah mereka pernah membicarakan hal ini. 'Kau terlalu pandai dalam memperhitungkan segalanya. jalan pertama tidak berhasil." Coh Thian-su tidak ingin mengatakan kepada Yu He-cu bahwa Kie Lek-beng masih hidup karena dia mempunyai rencana lain. Kie Yangan juga takut kalau putranya akan membunuh ayahnya. Coh Thiansu tidak ingin mengatakan kepada Yu He-cu bahwa Kie Lek-beng masih hidup karena dia mempunyai rencana lain. yang lainnya kumohon mencari Kie Yan-gan pun pasti tidak akan mau. dia jadi mengetahui semua masalah itu. dan Butong. Hari itu ketika dia pura-pura tidak sadar. tapi sedikit banyak kau pasti tahu. perkumpulan-perkumpulan itu pasti akan menolak' Dengan sengaja Coh Thian-su berkata: "Apakah ketua Hoa-san sudah berjanji akan mendukungmu?" "Apakah kau tidak melihat aku seorang diri turun dari gunung? Bila mereka setuju. Memang benar. begitu juga dengan jalan kedua." "Thian Hian tosu sebenarnya adalah temanku tapi sekarang dia sedang bertapa dan tidak bisa terus diganggu. Kie Lek-beng adalah musuh ayahnya. meminta agar mereka mau bergabung untuk menghadapi Kie Yan-gan dan putranya bila Kie Yan-gan masih melindungi putranya kami akan langsung bergabung melawannya. tapi dalam hati Coh Thian-su berharap permusuhan ini bisa diselesaikan dengan baik. sekarang sudah kutemukan jalan ketiga" Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata: "Apakah guru menganggapku sebagai jalan yang ketiga? Mungkin jalan ketiga pun akan gagal. yaitu sebelum menikah dengan ayahnya ibu itirnya pernah menikah dengan Kie . secara kebetulan begitu turun dari gunung sudah bertemu dengan siluman itu." Kata Yu He-cu: "Kau baru pulang dari keluarga Kie. Apakah Kie Yan-gan pernah cerita kepada cucunya bahwa ayahnya masih hidup?" "Aku tidak tahu. kemudian mendengar pembicaraan antara Kie Yan-gan dan Ting Po.

Dia berhutang budi kepada Kie Yan-gan. Yu He-cu sangat kecewa dan berkata. tidak akan membuka rahasia tentang hidup atau matinya Kie Lek-beng. orang yang tidak berdosa akan banyak mati. Dia juga tidak tahu siapa yang sudah menyerangnya secara tibatiba. 'walaupun rencana Yu He-cu bisa membuat Kie Lekbeng mati sekali lagi. Kie Lek-beng selalu menyiksa ibu tirinya. Yu He-cu terdiam lama baru berkata: "Kie Yan-gan dan Ting Po adalah rubah tua." . ibu tirinya sudah pernah berkasih-kasihan dengan ayahnya. walaupun Kie Lek-beng ingin dia mati (entah mengapa dia tidak yakin penyerangnya adalah Kie Lek-beng). dia ingin melindungi ayah Coh Thian-su di lain sisi. Kie Yangan menyuruh Ting Po ke Yang-chi dengan tujuan melarang putranya membuat kesalahan lebih besar lagi. Apalagi dia dan Su-giok bukan teman yang kenal begitu saja." Yu He-cu berkata pada dirinya sendiri: "Ini sangat aneh. Kie Lek-beng menjadi marah.' Karena itu dia menutup mulutnya. apakah dia Kie Lek-beng? Bila dia memang Kie Lek-beng. dan mereka tidak bisa seperti Kie Lek-beng. ibu tirinya baru menikah dengan ayahnya Ayah dan ibu tirinya tidak salah. bisa hidup kembali. apakah mereka pernah mengatakan tentang putra Kie Yan-gan?" Coh Thian-su menggelengkan kepala. dia tidak akan dendam. dia juga melakukan semua ini demi putranya. tapi juga akan membuat banyak orang persilatan berkorban. mereka tidak akan memberitahu kepada orang lain. "Coba kau pikir lagi. apakah ini berarti air susu dibalas dengan air tuba? Dia berpikir. Dari pembicaraan antara Kie Yan-gan dan Ting Po dia merasa walau Kie Yan-gan terus memaki-maki putranya tapi di dalam hatinya. sebenarnya dia sangat sayang kepada putranya. karena tidak mendapat cinta dari istrinya. dia memperlakukanku tidak baik juga tidak buruk. Sepertinya semua ini masih bisa dimaafkan. mungkin dia belum tahu.Lek-beng dan sebelum menikah dengan Kie Lek-beng. apakah Kie Cianpwee memperlakukanmu dengan baik?" Coh Thian-su menjawab: "Aku berbeda 2 generasi dengan beliau. biia dia membantu orang lain membunuh Kie Lek-beng. tapi yang menolongnya adalah ayah Kie Lek-beng yaitu Kie Yan-gan. ketika kau di sana. terakhir setelah Kie Lek-beng meninggal.

dalam hati dia berpikir. katanya teman barunya ini sangat benci kepada Pendekar Kang-lam. walau sedikit berbahaya itu lebih baik daripada ke rumah Kie." Coh Thian-su agak tenang: "Ternyata dia hanya tahu tentang itu saja. 'Aku harus tetap melayaninya' Kemudian dia berkata: "Terima kasih kau sudah menasihatiku. Coh Thian-su melihat ke puncak gunung. kedua: tidak boleh bekerja di kantor Piau Aku adalah Butong Tianglo. "Bila guru ingin tahu. bila 5 Bu-tong Tianglo pergi ke ibukota akan segera diketahui oleh Kie Lek-beng. kalau bisa jangan berteman dengan mereka." Kata Yu He-cu."Belum tahu tentang apa?" "Kie Lek-beng adalah musuh Bu-tong juga musuh ayahmu." Kata Yu He-cu "Guru." Kata Coh Thian-su. suara itu datang dari puncak gunung. aku pamit dulu karena akan pergi ke ibukota" Waktu itu terdengar bunyi lonceng. apakah kau tidak tahu?" Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata: "Apakah benar? mengapa ayahku tidak pernah memberitahuku? Mengapa dia bisa bermusuhan dengan ayahku?" "Aku pun tidak tahu. mengapa tidak pergi ke ibukota dan menanyakannya langsung kepada Tong Hwai-ie. "Kau tidak tahu aturan Bu-tong Pertama: tidak boleh menjadi pejabat. aku harus menjadi contoh bagi murid-murid Bu-tong. puncak itu tertutup oleh kabut. membuat gendang telinga berdenging. kabar ini aku ketahui dari Tong Hwai-ie. bila orang itu adalah Kie Lek-beng ini akan berbahaya untuk ayahmu. bisa terdengar bunyi lonceng dan suaranya begitu terburu-buru." Sebenarnya dia takut bertemu dengan Kie Lek-beng di ibukota. Dia terkejut. ada pesan apa untukku?" . Coh Thian-su mulai kesal kepada Yu He-cu. tidak seperti suara lonceng dari kuilkuil biasa" "Kau jangan turun gunung dulu. "Dari tempat yang begitu jauh. Coh Kim-sung. dalam hati dia berpikir.

Kata Coh Thian-su: "Kedua kalimat itu sangat bertolak belakang.: "Kau dengar bunyi lonceng itu begitu terburu-buru bukan? Apakah kau tahu itu artinya apa?" "Aku ingin bertanya kepada guru. bergoyang-goyang karena hembusan angin yang kencang. Di jurang itu terbentang rantai besi yang panjang. seperti siluman perempuan Gin-ho. tapi bila hal itu disebabkan oleh orang luar yang masuk ke Hoa-san dan membuat keributan di sana serta merugikan perkumpulan Hoa-san. bila sekarang kau turun gunung. membuat hati orang menjadi tidak tenang Di sebelah kiri dinding ada tulisan 'harus ingat kepada ayah dan ibu'. "Pasti lelah terjadi sesuatu di perkumpulan Hoa-san kalau itu gara-gara orang dalam sepertinya tidak akan apa-apa."Apakah kau mendengar bunyi lonceng itu?" "Suaranya begitu keras. beratnya 5. tapi dia memikirkan kata-katanya yang masuk akal. kira-kira panjangnya ada puluhan meter dan rantai itu sudah berkarat. segera dia berhenti melangkah dan berkata: "Perkumpulan Hoa-san adalah perkumpulan besar.400 kilogram. bila ingat terus kepada ayah dan ibu bagaimana bisa punya semangat untuk terus maju?" "Karena yang menulis adalah orang yang berbeda. orang tuli pun dapat mendengar!" Kata Yu He-cu. dia juga tidak ada . setiba di tempat yang begitu berbahaya. kau akan dicurigai oleh murid-murid Hoa-san. terlihat di dinding jurang ada tulisan Hwi-sim-sik (Batu hati pulang) dengan huruf yang besar." "Belum tentu orang dalam. bila bukan hal yang penting. lonceng itu tidak akan dibunyikan. lonceng itu terletak di puncak gunung. murid-murid Hoa-san paling sedikit ada ratusan hingga seribu orang. di kanan dinding tertulis "berani untuk maju'." "Itu artinya apa?" Tanya Coh Thian-su." Kata Yu He-cu: "Itu adalah suara lonceng untuk mengumpulkan semua orang Hoa-san. siapa yang berani membuat keributan di sana?" Mereka dengan cepat naik ke atas gunung." Walaupun Coh Thian-su tidak menyukai Yu He-cu. sekali berbunyi bisa terdengar hingga 10 kilometer.

tapi ini pasti bukan tanpa alasan." Kata Coh Thian-su. aku hanya orang kecil tidak bisa berteman dengan mereka. murid-murid Hoa-san sedang mencarinya. kau ikutlah naik ke puncak. terpaksa Coh Thian-su mengikutinya Bunyi lonceng sudah berhenti. kata Yu He-cu. "Walaupun kau tidak berteman dengan mereka." Dia terdiam sebentar dan berkata lagi: "Mengapa siluman perempuan itu bisa berada di Hoa-san? Benarbenar aneh. aku harus kembali untuk melihatnya. dengan terpaksa kau harus menjadi pengawalku." Yu He-cu mengerutkan dahi dan berkata.hubungannya dengan perkumpulan Hoa-san." Coh Thian-su tertawa kecut: "Aku harus menghindari kecurigaan mereka. aku harus menggunakan nama Bu-tong sebagai rasa simpatiku. aku akan melindungimu. walaupun tidak membutuhkan bantuanku. Guru. Rupanya telah terjadi sesuatu di perkumpulan Hoa-san. setelah kita tahu apa yang sudah terjadi. apakah dia ada komplotannya di sini? Kemudian diketahui oleh murid-murid Hoasan?" Kata Coh Thian-su dengan tertawa: "Apakah guru curiga bahwa aku adalah komplotannya?" Yu He-cu juga tertawa: "Kita sudah membicarakannya dari tadi. "Huruf yang terdapat di sebelah kanan adalah "berani untuk maju'." Kata Coh Thian-su: "Aku tidak mengenal satu pun dari murid-murid Hoa-san. terlihat ada asap biru keluar dari puncak itu. tapi mereka pasti mengenal ayahmu. tapi apakah murid-murid Hoa-san akan percaya kepadamu. aku tidak mencurigaimu. huruf itu ditulis ." Smbil bicara dia mulai mendaki gunung. "Kelihatannya benar-benar ada musuh yang datang dari luar. saat itu kau mau turun gunung pun tidak apaapa." Lanjut Yu He-cu lagi: "Aku baru bertemu dengan ketua Hoa-san yaitu Thian Koan tojin. lebih baik sekarang kau ikut aku.

kedua kalimat ini dia menyuruh tukang ukir untuk mengukirnya. Dia memakai tempat ini untuk melatih muridmuridnya. "Benar. maksudnya adalah orang yang sudah sampai di tempat ini harus berhenti dan kembali lagi ke tempat asal." "Sepertinya murid-murid Hoa-san jarang naik turun di sini?" tanya Coh Thian-su." "Kita sudah tiba di sini. "huruf-huruf ini adalah kakek guru yang pertama yang mendirikan perkumpulan Hoa-san yang menuliskannya. seperti main ayunan." Kata Yu He-cu. "Kita bukan murid Kong-hu-cu karena ini adalah jalan pintas untuk naik ke atas gunung. jangan sungkan. coretannya hampir sama dengan huruf 'Hwi-sim-sik'." Coh Thian-su memegang rantai. aku akan jalan dulu meskipun jatuh akan ada guru yang menolongku. setelah tiba di rumah dia menulis Hwi-sim-sik dan "harus ingat kepada ayah dan ibu'. ayo kau dulu!" Coh Thian-su mengerti maksudnya dari berkata: "Baiklah. yaitu melatih ilmu meringankan tubuh karena itu dia memberi semangat "berani untuk maju'. dia berasal dari Dinasti Tong." Kata Coh Thian-su: "Yang kiri tertulis 'harus ingat kepada ayah dan ibu'. "Benar. semakin diayun semakin tinggi. kita mau naik terus atau kembali ke tempat tadi?" Kata Coh Thian-su. sepertinya orang yang menulis huruf itu bisa ilmu silat. di tengah udara dia berkata: "Guru." "Benar. katanya pada saat Han-ih naik ke atas gunung ini dia tidak berani turun lagi." jawab Yu He-cu. jangan tertawakan aku!" Yu He-cu terkejut dan memuji: . sepertinya yang menulis adalah orang yang terpelajar. karena itu aku mengajakmu lewat sini. Tapi orang yang belajar ilmu silat biasanya ingin mendapat ilmu silat yang lebih tinggi. tapi di sini adalah jalan yang tercepat untuk mendaki ke atas. terakhir dia melepaskan rantai dan terbang ke atas. selalu memegang rantai dan dengan susah payah mendaki. Yang menuliskannya adalah Han-ih." "Apakah aku sanggup melakukannya?" "Ilmu meringankan tubuhmu pasti tinggi. karena murid-murid yang bisa berlatih hingga berjalan di jurang ini tidak banyak. di sini pun ada sedikit ceritanya. karena itu dia menangis dan melempar bukunya. ditulis dengan mantap dan pelan.dengan sangat tegas.

Yang menyerang Coh Tkian-su pertama kalinya adalah Han Ku. sifatnya pemarah. tapi sudah menyuruhku menyerah sungguh tidak sopan!" Dia tahu orang itu pasti murid Hoa-san. jurus yang kedua dikeluarkan untuk membunuh Coh Thian-su. Coh Thian-su baru turun. Coh Thian-su harus berjaga supaya tubuhnya bisa seimbang. Yang pertama bernama Han He. Orang itu bukan memuji. Jurus yang pertama adalah menotok dengan pedang. Coh Thian-su sudah tidak mempunyai waktu untuk bicara Ternyata kedua tosu itu adalah murid dari ketua Hoa-san. Kembali dia memakai .. Terlihat Coh Thian-su hampir jatuh dan tubuhnya miring ke depan sebenarnya dengan tubuh condong ke depan dia bisa menotok orang itu dengan penanya. hal itu memaksanya mengeluarkan serangan untuk membunuh. dia sedang sedih karena dalam perkumpulan mereka sedang terjadi perubahan yang menyedihkan. Dia melihat ada orang yang tidak dikenal dengan silat yang begitu tinggi masuk ke dalam perkumpulan mereka Dia menganggap Coh Thian-su adalah musuh. tangkap dia hidup-hidup!" Jurus pedangnya digerakan lebih cepat lagi.. dia berteriak. tapi setelah bertarung dia hampir kalah. berdatang pula seorang tosu yang lain. yaitu Thian Koan. "Adik. Coh Thian-su sangat marah. Pedang datang dengan cepat dan ganas. dalam satu jurus sudah menotok kearah 6 jalan darah. kedua tosu itu menyerang dari kiri dan kanan. Waktu itu juga Coh Thian-su sudah mengangkat Poan-koan-pit. Coh Thian-su marah karena. pertama: kedua kaki baru menapak tanah sudah diserang dengan begitu cepat. Orang itu terkejut." Kata-kata Coh Thian-su belum habis. jurus pertama yang dikeluarkan bukan untuk membunuh Coh Thian-su. "Kau beium tahu aku siapa. dengarkan katakataku."Ilmu meringankan tubuh yang bagus!" "Ilmu meringankan tubuh yang bagus!" dari Hwi-sim-sik juga ada yang berteriak. Coh Thian-su berteriak: "Mengapa kalian tidak bertanya jelas dulu. Sekarang dia mengikuti kata-kata kakak seperguruannya. yang kedua bernama Han Ku. segera dia membalikkan tubuh dan pedangya pun dimiringkan untuk menghindari pena Coh Thian-su Kemudian dia menusuk ke arah tenggorokan Coh Thian-su. orang itu sudah menusuknya dengan pedang dan berteriak: "Siapa kau! Berani tidak sopan datang ke Hoa-san! robohlah!" dia adalah seorang tosu.

Coh Thian-su tentu saja tidak mau ditotok. apakah masih ada komplotannya? Si bocah tengik ini tidak akan bisa lari. dia menahan serangan kakak beradik ini. dan berkata: "Siapa kau. ternyata Yu He-cu dengan ringan telah menotok mereka. Coh Thian-su ingin bicara lagi tapi dia sudah diserang oleh Han Ku dan Han Ku berkata: "Aku tidak punya waktu mendengar cerita palsumu. Kata Han He: "Adik Pai. tapi belum tentu bisa mengalahkanku." Dua orang itu berjalan mendekati jurang. di sini tidak perlu bantuan kalian. Yu He-cu berteriak lagi: "Apakah kalian tidak mengenalku?" Kedua orang itu masih menyerang. belum sampai di ujung. terdengar suara senjata berbunyi. semuanya akan menjadi jelas. malah menyerangnya dengan pedang. 'Menotok jalan darah dengan pedang memang jurus yang aneh." Pikir Coh Thian-su. setelah tertangkap kau baru bisa berkata dengan jujur.' Dia sedang marah. mereka merasa jalan darah di tangan tertotok. Adik Hi. saat itu dia melihat ada 2 orang lagi yang bersiap-siap mengeluarkan pedang untuk menyerangnya. Coh Thian-su juga mengalami perubahan.jurus menotok jalan darah dengan pedang. dia ingin mengeluarkan jurus yang mematikan tapi akhirnya dia memilih untuk menahan diri." Coh Thian-su menahan serangan mereka. Pada waktu yang sama.. Yu He-cu sudah naik. Pikir Coh Thian-su." Belum habis bicara. kalian lihat ke dekat jurang. 'Bila Yu He-cu tosu sudah datang. Begitu naik Yu He-cu berteriak: "Berhenti! Semua adalah orang sendiri!" Tapi kedua orang itu tidak berhenti. Coh Thian-su mengangkat sepasang kuasnya untuk menahan serangan Han He. Kedua orang itu ..

tapi Han Ku malah maju ke depan. dada Han Ku pasti sudah berlubang. Senjata dijatuhkan oleh musuh. pedang sudah terguling terangkat lagi dan pegangan pedang sudah kembali lagi kepada pemiliknya. Yu He-cu melambaikan lengan bajunya. wajahku sudah bukan wajah asli lagi pantas kalian tidak kenal denganku. "Kelima Bu-tong Tianglo benar-benar bukan nama kosong. Han Ku terpaku dan Han He berteriak. orang tidak sempat melihatnya. penanya disilangkan. Yu He-cu tahu aturan ini karena itu dia mengembalikan pedang itu dengan cepat. mereka merasa tangan mereka sudah mati rasa. pedang yang dipegang pun sudah terlepas. maka dua orang itu berteriak lagi. bila Coh Thian-su tidak cepat-cepat menarik kembali tangannya. itu adalah hal yang paling memalukan. yang kiri menotok Han He yang kanan menotok Han Ku. harapan Coh Thian-su langsung hilang." Ilmu silat Han He masih di bawah Coh Thian-su." . "Sute. Dia melihat Han Ku tidak terluka. Dengan tersenyum dia berkata. dia lolos dari totokan Coh Thiansu." Dengan senang hati kedua orang itu membungkukkan tubuh dan memberi hormat kepada Yu He-cu. jangan kurang ajar! Guru ini adalah guru Bu-tong yaitu Yu Tosu. Kedua orang itu terkejut dan berterima kasih. Tapi baju Han Ku di bagian dada sudah berlubang. tidak akan tahu bahwa pedang milik kedua orang itu pernah terlepas. dalam hati mereka berpikir. untung dengan cepat Coh Thian-su masih menahan penanya. Kedua pedang hampir jatuh bersamaan. Karena Coh Thian-su melihat kedua orang itu masih menyerang Yu He-cu. tapi sudah 18 tahun yang lalu. dia tahu Coh Thian-su belum mengeluarkan semua jurusnya. segera dia mengeluarkan jurus yang lebih tinggi.tidak berhenti tapi kedua tosu itu berhenti terlebih dulu. "Maafkan aku! Apakah kalian adalah murid-murid Hoa-san?" Orang persilatan lebih mementingkan mati daripada dihina. Tapi begitu Coh Thian-su mengeluarkan jurus. Han He sudah keluar dari lingkaran pertarungan. Kedua orang itu belum habis bicara. Walaupun kalah oleh orang yang berilmu lebih tinggi tapi hati mereka tetap tidak suka. sekarang aku sudah berbeda dengan yang dulu. Yu He-cu tertawa dan berkata: "Kali itu aku ke Hoa-san. Bila tidak berdiri di sisinya. Coh Thian-su pun melihat sikapnya sudah tidak bermusuhan lagi.

Karena Han Ku dan Han He adalah murid dari ketua Hoa-san yakni Thian Koan tojin jadi ketika Yu He-cu mengunjungi gurunya. Dua buah mata memelototi Coh Thian-su. Yu He-cu tertawa dan berkata: "Dia adalah putra dari Pendekar Kang-lam." Kata Han He: "Ini hanya salah paham. apakah Coh Tayhiap bertemu dengan Yu He-cu di kaki gunung atau di atas gunung? Apakah Coh Tayhiap mendengar suara lonceng?" karena dua jam yang lalu Yu He-cu baru pamitan dengan Thian Koan.." Han Ku berkata: "Mengapa Coh Tayhiap bisa berada di sini? Kau mewakili ayahmu datang ke sini atau sekedar menikmati keindahan Hoa-san?" "Aku hanya lewat Hoa-san dan bertemu dengan Guru Yu He-cu. Sebelum Yu He-cu sempat bertanya kepada mereka. dengan dingin dia bertanya: "Pendekar ini adalah." Yu He-cu juga tampak tidak senang dan berkata: .Han He dan Han Ku pun datang untuk memberi hormat. bila dihitunghitung Coh Thian-su bertemu dengan Yu He-cu pasti bukan di kaki gunung. Kata Han He: "Sute. mereka sudah bertanya dulu kepada Coh Thian-su. mereka sudah pernah bertemu. maaf aku ingin bertanya. Coh Kim-sung.. Sekarang Yu He-cu sudah berada di Hwi-sim-sik. kemarahannya belum reda. seharusnya kami yang minta maaf. jangan bertindak tidak sopan kepada putra Coh Kim-sung." karena dia dirugikan oleh Coh Thian-su. maaf bila telah berlaku tidak sopan." Kata Han Ku: "Benar-benar suatu kebetulan." "Aku adalah Coh Thian-su. tidak ada hubungan dengan Coh Toako. dia diantar oleh Han He dan Han Ku keluar dari pundak gunung itu. Dia bertanya dengan sangat jelas bila Coh Thian-su sudah tiba lebih dulu di puncak gunung berarti dia adalah orang yang dicurigai. pedang yang panjang belum dikembalikan ke tempatnya.

beliau masih sehat walafiat. itu lebih-lebih mencurigakan." Ini benar-benar seperti mendengar petir di siang bolong. bila tidak aku akan disangka sebagai pembunuhnya.. aku bukan membicarakanmu. sekarang paman kedua yang menggantikan kedudukan guru. Untung saja tadi aku tidak turun gunung. apakah."Aku dan Coh Tayhiap hanya bertemu secara kebetulan. mereka ingin cepat-cepat mencari pembunuhnya.' "Apakah dia dibunuh?" Tanya Yu he-ca "Penyebab kematiannya masih belum diketahui. 'Pantas harus membunyikan lonceng untuk mengumpulkan semua orang karena ketua mereka mati dengan tidak wajar. Suara lonceng berbunyi begitu tergesa-gesa. tapi anda tidak akan bisa bertemu dengan guruku lagi. kami akan mencari orang yang kirakira mencurigakan." Dengan suara rendah Han Yu menjawab: "Guruku sudah meninggal. aku mendengar bunyi lonceng yang terburu-buru. jadi bila di jalan bertemu dengan orang yang tidak dikenal dan ilmunya sangat tinggi." Yu He-cu terkejut dan berteriak: "Apa kau bilang? Aku baru saja berpisah dengan gurumu. bila bertemu dengan gurumu baru aku akan memberitahunya." Han He menjawab: "Guruku mati dengan tidak jelas!" Kalimat ini membuktikan bahwa gurunya mati dengan tidak wajar! Gurunya adalah ketua perkumpulan Hoa-san bukan orang biasa! Pikir Coh Thian-su. tolong beritahu kepadaku." Tiba-tiba Han-ih berkata: "Orang jarang yang datang kemari.. Dia bengong sebentar dan langsung berteriak. pada saat kau naik gunung. apakah kau bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal?" . "Bagaimana bisa terjadi? Tadi ketika kami berbincang-bincang. dia tahu pasti telah terjadi sesuatu yang penting tapi tidak disangka. mimpi pun tidak menyangka. kabar yang diperoleh lebih buruk dari dugaannya. sudah terjadi apa di sini?" Han He menjawab dengan sedih: "Terima kasih atas perhatiannya. tapi dugaan besar dia diserang secara diam-diam. Coh Tayhiap.

Bok Koan-koan." Perasaan Coh Thian-su tidak enak." "Orangnya seperti apa?" Tanya Han Ku. Dia memanfaatkan nama ayah Coh Thian-su dan Bu-tong. Dia merasa aneh karena Yu He-cu tidak menangkapnya.' Yu He-cu berkata lagi: "Han He. Bok Koan-koan.Coh Thian-su merasa marah karena disindir. 'Gin-ho." "Apakah ilmu meringankan tubuh siluman itu lebih tinggi dari guru?" "Dia mengeluarkan asap beracun. dia tahu maksud Yu He-cu agar Coh Thian-su bisa terlepas dari rasa curiga mereka. Kata Yu He-cu: "Tadinya aku tidak ingin melepaskan siluman itu tapi sayang aku tidak dapat mengejarnya. aku bicara dulu dengan mereka." "Dia juga kekasih gelap Kie Lek-beng. Bok Koan-koan dilepaskan olehku dan bila diketahui oleh mereka akan lebih baik. aku yang bertemu dengannya. tapi akhirnya aku kehilangan jejaknya." Han-he terkejut dan berkata : "Gin-ho. bila mereka tidak percaya. dia berpikir. apa boleh buat. menurutku Kie Lek-beng belum mati.' Yu He-cu mengatakannya lebih dulu: "Ada. "Dia adalah perempuan. dia adalah Gin-ho. coba kau periksa jalan . dalam hati dia berfikir : 'Supaya aku tidak dicurigai maka guru berbohong. bila aku membencinya itu sungguh tidak pantas. "Mana siluman itu?" Tanya Han Ku." Han He dan Han Ku hampir bersamaan berkata: "Kie Lek-beng? Bukankah dia musuh Bu-tong?" "Dia musuh Bu-tong juga musuh dari ayah Coh Tayhiap!" Kata Yu he-cu. dia sangat lihai menggunakan senjata rahasia yang beracun. walaupun aku tidak terkena asap. kau diajarkan mengenai obat-obatan dari gurumu. Coh Thian-su juga hampir terkena racun itu.

"Benar. tapi sekarang sudah terjadi hal ini." Kata Han Ku: "Pembunuhnya bukan dia. paman guru menunggu kedatangan Guru Yu He-cu. tapi dia tidak akan bisa meracuni guru dan ilmu silatnya tidak begitu tinggi." Kata Yu He-cu. Han Ku pun mulai tidak mencurigai Coh Thian-su lagi. tapi sedikit banyak racun sudah masuk ke dalam tubuhnya. Hoa-san-pai pun mendapat musibah yang begitu aneh. walaupun Yu He-cu sendiri sedang mencari Bok Koan-koan." Karena Yu He-cu adalah salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo. ini sangat mencurigakan. apakah masih ada sisa racunnya?" Walaupun waktu itu Coh Thian-su menahan nafas. demikian juga denganku. Dia juga mendengar Coh Thian-su terkena asap beracun. dan murid andalannya pun tidak tahu apa penyebabnya.darah Coh Thian-su. Kata Han He: "Walaupun siluman itu sangat mahir menggunakan racun. lebih baik kita cari dan tangkap dia!" Kata Han He: "Benar. tabib biasa tidak akan bisa tahu Setelah tahu identitas Coh Thian-su. masalah ini kita saja yang membereskannya.. karena tenaga. dan setelah 1 jam racun itu baru bisa bersih. kalau begitu temani aku menginap satu malam di sini. silahkan menemui mereka. itu pun berkat kekuatan tenaga dalam Coh Thian-su. Begitu keempat murid Hoa-san pergi." Kata Coh Thian-su. Mencari pembunuh itu'adalah tugas Hoa-san. tiba-tiba ketuanya meninggal.. aku harus mewakili ayah mengucapkan turut berduka cita." Yu He-cu sambil berjalan berkata: . maka dia mewakili Bu-tong mengucapkan turut berduka cita. sepertinya tidak mungkin dia bisa masuk ke dalam kuil kami. apakah. dalam Coh Thian-su kuat hanya mengalami sedikit gangguan pada jalan darahnya dengan orang normal tidak berbeda jauh. tapi ketua mereka sudah meninggal. tapi dia tiba-tiba muncul di Hoa-san. Yu He-cu berkata: "Tidak disangka. Adik Coh. "Ayahku tidak begitu kenal dengan Hoa-san-pai. walaupun kau ingin cepat-cepat tiba di ibukota.

" Yu He-cu tertawa dan berkata." Tiba-tiba ada 2 ekor merpati pos yang lewat. mereka melalui jalan setapak. tapi aku sudah melakukan kesalahan besar. harus mengatakan dengan jujur kepada mereka. seperti rumah-rumah yang berada dalam lukisan kuno yang bernama Sian-san-ke-lou. "Aku bukan sengaja berbohong kepada mereka."Hal mengenai kita pernah bertemu dengan Bok Koan-koan. dijuluki laki-laki berwajah tampan. waktu itu pun aku belum menjadi tosu. karena murid Hoa-san itu sangat banyak karena itu tadi aku mengatakannya. sebeium Yu He-cu menjadi tosu. terakhir dia bertarung dengan Kie Lek-beng bersama 5 Bu-tong Tianglo lainnya. di bidang tulis menulis keahliannya tidak kalah dengan ilmu silatnya. malah tidak menyinggung ilmu silat Tiba-tiba Pang Kun menjadi tosu. karena itu mereka sangat cocok. semenjak itu sudah 10 tahun lebih dia belum pernah turun dari gunung Bu-tong dan juga tidak pernah bertemu dengan Coh Kim-sung lagi Yu He-cu mengenang kembali masa lalu. kau juga masih anak ingusan dan tentu tidak akan ingat" Kata Coh Thian-su: . akhirnya mereka tiba di tempat murid-murid Hoa-san. aku tidak enak hati. tidak semua orang Hoa-san seperti Han Ku. apakah mereka sudah mempunyai bukti?" Mereka sambil bercakap-cakap sambil berjalan. guru telah mengatakannya aku sangat berterima kasih. dia bernama Pang Kun. menarik nafas dan berkata: "Aku pernah melihat lukisan itu di rumahmu. murid Hoa-san pasti ada yang tahu. dengan sembarangan mencurigai orang. Jalan itu juga sangat berbahaya. Lalu Yu He-cu berkata: "Kau lihat bangunan rumah ini? Posisi dan bangunannya tepat. tapi itu sudah 20 tahun yang lalu. "Tenanglah." Ayah Coh Thian-su selain ilmu silatnya tinggi. nanti aku akan beritahu kepada Cianpwee mereka." Kata Coh Thian-su: "Demi diriku agar tidak dicurigai. Wajahnya dihancurkan oleh Kie Lek-beng." Kata Coh Thian-su. karena Han Ku sudah mencurigai mu." "Memang seharusnya demikian. kata Yu He-cu. "Itu adalah merpati pos milik Hoa-san. begitu bertemu lebih banyak bercakap-cakap tentang lukisan dan tulis menulis. Dia pun seperti Coh Kim-sung ilmu silat dan bidang tulis menulis sama tingginya. bila kita tidak mengatakannya.

pun harus ditulis pada saat aku sedang mabuk. 'Pertama kali berjumpa dengannya karena dia terlalu cerewet aku jadi tidak suka. Puisi itu juga bukan puisi buaianku melainkan diambil dari jaman Dinasti Tong. cerewet. apakah karena kami belum mengenal dengan baik?" Tidak terasa mereka sudah tiba di kuil Kun-sian. hanya teringat kepada salah satu puisi yang mengisi lukisan itu. dia selalu melindungi yang lebih muda. Aku sudah lupa semua. aku yang memberi puisi itu ke dalam lukisan itu. waktu itu aku belum bisa menikmati lukisan. apa yang sudah aku tulis aku sudah tidak ingat lagi. . Biasanya lukisan-lukisan yang sudah disimpan jarang dikeluarkan. Aku dan Hui-thian saling benci. untuk untuk "Lukisan itu berasal dari Dinasti Song." Kata Yu He-cu Puisinya seperti ini: Di luar batu tumbuh lumut hijau Sang-ceng terdampar tidak bisa pulang Selalu bermimpi hujan membasahi atap Tapi ada angin tidak ada hujan Sampai sekarang masih terkatung-katung Aku belum berubah pikiran Kapan Yu-long bisa melalui langit memberitahu Ini harus ditanyakan kepada dewi berbaju ungu di langit SengLi-ci Seng Li-ci Puisi ini diambil dari puisi orang lain. mereka pergi dengan tergesa-gesa mengucapkan bela sungkawa." "Puisi yang mana?" Tanya Yu He-cu. itu." Pikir Coh Thian-su. bila sudah sadar. Coh Thian-su merasa aneh. tapi sekarang aku baru tahu bahwa dia adalah orang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi. aku juga pernah melihat lukisan itu sekali. dan aku menulis kaligrafinya. dan membuatku ingin marah."Ayahku juga sudah jarang mengajak teman-temannya ke rumah untuk melihat lukisan dan kaligrafi. tapi dia masih mempunyai waktu menceritakan puisi itu. di mataku dia adalah seorang tosu yang sombong. tulis menulis pun sama bagusnya dengan silatnya.

setelah meminum obat itu baru Thian Ki tojin berkata. matanya pun terlihat tidak bersemangat. Ternyata sewaktu Thian Koan tosu sedang bertapa. harap kau mau menerima hadiah kecil ini. Yu He-cu melihat sahabatnya. yang satu lagi adalah teman baik dari Yu He-cu yaitu Hweesio Thian Hian." Dua orang hweesio itu salah satunya adalah 6 Cianpwee Hoa-san Pai. Yu He-cu terkejut dan berkata. walaupun dia masih hidup. "Terima kasih kakak sudah menyambut kami. Hal ringan yang dialami adalah tenaga dalam akan terkuras habis. begitu melihat teman baiknya segera Yu He-cu menarik tangannya dan berkata: "Sudah lama tidak bersua. biasanya dalam bertapa dan melatih silat bila belum tiba waktunya dan berhenti di tengah jalan akan membuat tubuh menjadi lumpuh. tapi tenaganya hampir habis. karena Cianpwee menyambut Cianpwee lain itu sudah tidak aneh. Tapi dari sini sudah dapat tertebak bahwa mereka melakukannya dengan tergesa-gesa. Murid-murid Hoa-san pasti sudah tahu. malah mungkin bisa jadi orang cacat. "Ketua kami sudah meninggal untung kau datang kemari untuk membantu. yang paling fatal adalah nyawanya berada dalam bahaya. Bila ketua meninggal mereka pasti sedih tapi Yu He-cu tahu Thian Hian tosu hampir tersesat latihannya dan hampir mati.Sudah ada 2 orang hweesio tua yang menyambut mereka. dari sini dapat diketahui bahwa ketua mereka diserang hingga mati oleh orang lain. masih ada hal lain yang tidak baik yang mungkin dapat terjadi. "Tadinya aku ingin menjemput kalian ke bawah." Dia langsung memberi sebutir obat kepada Thian Hian tosu. seharusnya selesai dalam waktu 2 hari lagi. karena dia tahu dengan teman sendiri tidak perlu ada rasa sungkan. Yu He-cu sudah lupa kepada sopan santun. ternyata kalian sudah datang . mengundang dia keluar. menurut kebiasaan mereka berita mengenai kematian ketua sementara akan disembunyikan dulu." Dia tidak mengucapkan terima kasih untuk obat yang diberikan oleh Yu He-cu. Karena kejadian ini sangat tiba-tiba terpaksa mereka mengundangnya untuk merundingkannya bersama-sama mencari cara menahan serangan musuh. Yang membuatnya terkejut adalah wajah teman baiknya terlihat lesu. Yang membuat Yu He-cu terkejut adalah bukan karena mereka keluar untuk menyambut.

mereka sendiri sedang turun gunung" Kata Yu He-cu: "Aku dengar katanya Guru Thian Koan sudah meninggal. hari ini sudah banyak terjadi hal yang aneh dan di luar dugaan. kau kembali tidak membuatku terkejut tapi Coh Tayhiap datang ke sini." Kata Thian-ki "Belum lama aku pamitan dengan ketua. tidak seharusnya aku bertanya dulu. jujur bicara kau adalah teman baik kami. walau ada yang memberi kabar." Yu He-cu terpaku dan menjawab: "Apakah kau sudah tahu bahwa aku datang bersama dengannya?" Kata Thian Ki tojin: ”Aku baru tahu tadi.' Kata Yu He-cu: "Benar. dalam hati dia berpikir." Yu He-cu bertanya lagi: "Apakah Han He dan Han Ku sudah memberitahu Anda?" "Benar. dia tidak suka membuat orang menjadi marah. "Thian Ji adalah orang yang paling sabar dalam Hoa-san Pai. Bertemu dengan Coh Tayhiap adalah salah satunya. aku baru mendapat surat dari mereka yang dikirim oleh merpati pos. mengapa bisa terjadi hal ini?" Jawab Thian Ki: "Kakak dan para Cianpwee Hoa-san sedang mencari tahu mengenai kematian ketua. bila kami tadi melewati jalan setapak." Coh Thian-su dalam hati merasa aneh dia berpikir. aku tidak bisa sembarangan memberi tahu dan menebak-nebak" 'Tidak boleh sembaragan menebak' seperti mengatakan pada dirinya sendiri juga kepada Yu He-cu dan ini membuat Yu He-cu menjadi marah.dengan cepat ke sini. dia pasti tidak tahu siapa aku. mengapa hari ini dia begitu lain? Apakah dia curiga bahwa aku mempunyai hubungan dengan kematian ketua Hoa-san?' . 'Aku tidak mengenal murid Hoa-san. malah menjadi perpisahan untuk selama-lamanya. sungguh di luar dugaan." 'Tidak apa-apa. apakah itu benar? Maaf.

"Kakak tidak perlu merasa sungkan. Thian Ki sangat iri juga menyesal. Kali ini aku kembali lagi ke dunia persilatan. Thian Bu Tosu mengucapkan beberapa kata sambutan untuk menyambut Coh Thian-su. pergaulan Yu He-cu lebih luas. banyak nama yang belum pernah kudengar. murid-murid yang berada di luar sedang mencari pembunuhnya kalau semua sudah pulang dengan laporan tidak ada orang yang bisa dicurigai. segera dia berkata. "Ketua kami dibunuh. malah membuat Thian Ki menjadi marah karena dia mengira Thian Hian berniat memojokkannya. menurut Suheng Thian Wu. kami meminta bantuan kepada perkumpulan kakak dan mencari pembunuhnya" Kata-kata Thian Hian sangat jujur dan benar. tapi kalian jangan bocorkan peristiwa ini dulu. dendam ini harus dibalas. "Apakah aku bisa memberi penghormatan terakhir kepada almarhum?" Kata Thian Wu. kita tidak . Kedua. "Harap tunggu sebentar lagi. dia berkata." Thian Bu tosu menarik nafas dan berkata. perintahkan saja mereka supaya tidak usah melapor lagi. "Panjahat itu lebih pintar dari kami. tapi Hoa-san-pai dan Bu-tonhai adalah perkumpulan yang sudah bersahabat sekian lama. aku bilang kemarian ketua belum jelas. Pertama. ilmu sukuku pun kurang tinggi. Tapi dia terluka karena luka apa? Pembunuhnya berasal dari mana? Semuanya belum di ketahui. perkumpulan kalian mengalami musibah." Kata Yu He-cu. aku pun tidak dapat berpangku tangan begitu saja. "Kakak Yu He-cu bukan orang lain. karena hal ini sangat memalukan. kami membutuhkan bantuanmu. biarpun menyuruh murid-murid untuk menangkapnya itu pun rasanya sulit." Yu He-cu dan Coh Thian-su ditemani oleh 2 orang Cianpwee Hoasan-pai masuk ke dalam kuil Sang-ceng Di dalam sudah penuh dengan orang-orang.Kata Thian Hian tosu. ketua kami mati karena dibunuh. sepertinya aku juga tidak dapat membantu. kata-katanya sopan selain itu juga sangat jujur. kita tidak perlu menutupnutupi. sudah 10 tahun lebih aku tidak pernah meninggalkan Gunung Bu-tong." Kemudian dia berkata lagi kepada murid-murid Hoa-san. "Benar. Yu He-cu melihat begitu banyak orang dia menjadi sulit bicara.

Maaf." kata Coh Thian-su. tapi karena Siauhiap tidak tahu identitasnya. Baru saja dia mau berpamitan. tiba-tiba Thian Bu tojin sudah bicara lagi. bila ayahmu ada di sini. lebih baik membiarkan dia mengira bahwa kita belum tahu bahwa ketua sudah meninggal. kami tidak menyalahkanmu." ." Terpaksa Coh Thian-su tinggal di sana. ada pepatah yang mengatakan: mengumpulkan pikiran yang luas pasti akan banyak gunanya. "Aku sudah tahu. "Terima kasih Cianpwee begitu mempercayaiku. ilmu silatnya pun tinggi. kami saling percaya. dia pun tidak akan lepas tangan. Siauhiap!" "Murid-murid Hoa-san tidak menganggapku sebagai musuh. Thian Bu tojin sudah berkata: "Coh Siauhiap tidak perlu sungkan kepada kami. Pendekar muda banyak belajar." Kata Yu He-cu.. Pendekar muda. Mereka sedang mencari pembunuhnya. kau sudah bertemu dengan kekasih Kie Lekbeng. Dia baru akan bercerita." Kata Thian Bu tojin: "Jangan sungkan-sungkan. tapi ada 1 hal yang ingin kukatakan. tapi karena kesalahanku maka dia terlepas. kau mewakili ayahmu menngucapkan bela sungkawa. walaupun mereka tidak mencurigai bahwa aku bisa membocorkan rahasia mereka. murid mereka sendiri pun tidak boleh mendengar rahasia mereka.. walaupun aku dan ayahmu bukan sahabat karib tapi kami juga saling mengenal.boleh memberi kesempatan kepada musuh." "Biar aku saja yang bercerita. tapi ada orang yang patut dicurigai." "Apakah guru sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Yu he-cu..'' Semua murid-murid Hoa-san sudah dibubarkan. bila Anda mau belajar kepadaku. tapi Thian Bu belum menyuruh orang membawa Coh Thian-su ke kamar. aku tidak berani menerimanya. ini adalah rahasia besar. "Silahkan bicara. tapi aku sendiri harus tahu diri. harap Siauhiap jangan pergi dulu!" Kata Coh Thian-su : "Aku adalah orang yang masih banyak belajar. Jawab Thian Bu. terpaksa dia masih berdiri. aku harus banyak belajar kepada pendekar muda.

"Sewaktu aku mendengar bunyi lonceng, aku sudah berada di tengah gunung,
menghitung perkiraan waktu saat aku berpisah dengan Thian Koan hanya ada dua
jam. Mengapa dia bisa dibunuh? Dan mengapa kalian bisa tahu?" tanya Yu He-cu.
Kata Thian Bu:
"Waktu kau pergi, kami masih sempat bertemu dengan beliau. Waktu itu ketua
kami masih berunding mengenai masalah-masalah yang menggegerkan dunia
persilatan „
Tanya Yu He-cu:
"Apakah mengenai Hui-thian yang membuat keributan di Lokyang? Dan masalah
Hui-thian dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tionggwee yang menjadi musuhnya?"
"Apakah mengenai Hui-thian yang membuat keributan di Lokyang? Dan masalah
Hui-thian dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tionggwee yang menjadi musuhnya?"
"Benar, Tuan Kiam-ta, Hie Tiong-gwee dan Tong Hwie-yan menyebarkan
undangan kepada para pendekar, apakah kalian sudah menerimanya?"
"Aku sudah menerimanya, tapi kami tidak ingin masuk ke dalam pergulatan ini.
Bagaimana dengan kalian?"
"Kami pun demikian, tapi ketua mempunyai kesulitan."
"Kesulitan apa?" Tanya Yu He-cu.
"Orang persilatan sudah tahu bahwa Hui-thian adalah cucu murid kesayangan dari
Kie Yan-gan, ketua dengan Kie Yan-gan adalah teman baik. Ini sudah banyak
orang yang tahu"
"Apakah Thian Koan Toako takut
macam-macam?" Tanya Yu He-cu.

orang

akan

mengatakan

hal

yang

Kata Thian Bu:
"Benar, bila kami tidak menanggapi undangan itu pasti orang akan mengatakan
hal yang macam-macam, karena Kie Yan-gan adalah teman ketua jadi kalian tidak
mau merusak persahabatan
atau kalian takut kepada Kie Yan-gan, atau takut kepada cucu muridnya, pasti itu
yang mereka katakan."
Kata Yu He-cu:
"Jadi kalian memutuskan untuk ikut ambil bagian?"
"Hingga kau bertemu dengan Thian Koan Toako, kami belum mengambil
keputusan."

"Pantas ketika aku mengatakan masalah keluarga Kie dia selalu menghindar, dia
berteman lebih akrab dengan Tuan Kiam-ta daripada denganku. Tuan Kiam-ta
meminta bantuannya, dia pun tidak bisa mengambil keputusan." Kata Yu He-cu.
Kata Yu He-cu:
"Dalam perundingan terakhir, apakah sudah ada keputusan?"
"Kali ini bukan berunding, tapi kakak memberitahu kepada kami
suatu hal, hal ini belum pernah terpikir oleh kami, dari hal itulah membuat kami
bisa mengambil keputusan."
"Hal ini pasti ada hubungannya dengan undangan untuk para pendekar bukan?"
Kata Yu He-cu.
Thian Bu mengangguk dan berkata:
"Begitu kau pergi, dia menerima sepucuk surat dari Tuan Kiam-ta surat itu
dititipkan kepada perkumpulan pengemis."
"Apa isi surat itu?" tanya Yu He-cu.
Thian Bu menyerahkan surat itu kepada Yu He-cu dan berkata."
"Silahkan toako lihat sendiri, apakah itu adalah tulisan Tuan Kiam-ta?"
Surat itu isinya sangat sederhana, yaitu mengenai perselisihan antara Tuan
Kiam-ta dan Hui-thian, dan dia meminta agar Hoa-sanpai
"Ini benar-benar sangat aneh, surat ini benar-benar ditulis oleh Tuan Kiam-ta,
kata-kata yang berada dalam surat itu sangat berbeda isinya dengan undangan
para pendekar, mengapa dia bisa berubah pikiran? Apakah ide ini juga merupakan
pikiran Hie Tionggwee dan Tong Hwie-yan?"
"Di mana pengemis yang mengantar surat ini?" Tanya Coh Thiansu.
"Mereka memakai merpati untuk mengantar surat-surat itu, burung merpati
perkumpulan pengemis bisa terbang jarak jauh dan di tiap kota mereka
mempunyai cabangnya." Kata Thian Bu.
"Apakah kau curiga bahwa surat itu palsu?" Tanya Yu He-cu.
"Aku percaya Cianpwee bisa meyakinkan bahwa tulisan di dalam surat itu memang
ditulis oleh Tuan Kiam-ta, tapi kata-kata Tuan Kiam-ta pada surat awal dan surat
terakhir tidak sama, ini membuatku agak curiga."
Tanya Yu He-cu:
"Karena itu kau mengira saat Tuan Kiam-ta mengirim surat ini, berarti dia
mempunyai pesan yang lain?"

"Benar, tapi mereka mengirim surat dengan merpati pos. walaupun ada maksud
lain, kita pun tidak tahu." Jawab Coh Thiansu.
Setelah lama dia baru berkata lagi,
"Menurut kebiasaan yang ada, bila ada hal yang begitu penting, dia harus
menitipkan kepada muridnya yang bisa dipercaya untuk menyampaikannya."
Kata Yu He-cu:
"Kalau begitu, kau curiga bahwa yang menyebarkan undangan untuk para
pendekar adalah palsu?"
"Benar, aku mempunyai pikiran seperti itu, surat itu memang ditulis oleh Tuan
Kiam-ta dan undangan itu adalah palsu."
Kata Thian Ki tojin:
"Apakah dia bukan tiba-tiba berubah pikiran?"
"Hal ini sangat penting dan bukan main-main, bila tiba-tiba berubah pikiran, orang
seperti Tuan Kiam-ta pasti akan langsung menjelaskannya "
Kata Yu He-cu.
"Bila ada yang memalsukan namanya, mengapa Tuan Kiam-ta tidak membuka
kedoknya? Dalam surat itu dia pun menjelaskan bahwa dia dan Hui-thian
mempunyai perselisihan, harus dia sendiri yang bisa membereskannya, dan dia
juga tidak membantah bahwa surat untuk para pendekar itu dia sendiri yang
menyebarkannya!"
"Kata-kata Anda benar guru. Karena itu aku merasa seperti masuk ke dalam kabut
yang tebal!" Kata Coh Thian-su.
"Semua pun tidak dapat menebak, lebih baik kita dengar cerita dari Thian Bu
Toako, tadi Toako bilang bahwa ketua kalian pada saat mengeluarkan surat Tuan
Kiam-ta, kalian sudah mengambil keputusan yaitu.....”
"Semua pun tidak dapat menebak, lebih baik kita dengar cerita dari Thian Bu
Toako, tadi Toako bilang bahwa ketua kalian pada saat mengeluarkan surat Tuan
Kiam-ta, kalian sudah mengambil keputusan yaitu tidak akan ikut campur tangan
dalam masalah Huithian dan Tuan Kiam-ta, apakah benar?" kata Yu He-cu.
"Benar!" Jawab Thian Bu
"Lalu bagaimana lagi?"
Wajah Thian Bu berubah kemudian berkata:
"Setelah pertemuan itu dibubarkan, kami keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Thian
Koan Toako berteriak 'Kau, kau...!'. Suara Thian Koan Toako sangat terkejut dan

marah. Kami berlari untuk melihatnya, tapi saat itu juga dia sudah meninggal,
siapa pembunuhnya? Bayangannya pun tidak terlihat!"
Dia melihat Coh Thian-su dan bertanya:
"Katanya kemarin kau bertamu ke rumah Kie Yan-gan, apakah Kie Yan-gan ada di
rumah?"
Yu He-cu tampak terkejut dan bertanya: "Apakah kau mencurigai Kie Yan-gan?"
Kata Thian Bu:
"Kie Yan-gan adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan, dia tidak akan
menggunakan cara seperti itu untuk membunuh orang lain. Sebenarnya aku tidak
mencurigai dia tapi kecuali dia, siapa yang bisa membunuh dalam waktu yang
begitu singkat dapat membunuh kakakku? Apakah aku harus mencurigai Ketua
Siauw-lim atau Ketua Bu-tong?
"Kita semua bukan orang luar, aku harus jujur, apakah Ketua Siauw-lim
mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi? Tapi Ketua Butong tidak mempunyai ilmu
sehebat itu." Kata Yu He-cu.
"Yang pasti juga bukan Kie Cianpwee." Kata Coh Thian-su.
"Coh Siauhiap, mengapa kau bisa yakin?" Tanya Thian Ki.
"Kie Cianpwee tidak pernah keluar dari rumah, paling sedikit waktu aku pergi dari
rumahnya, beliau masih ada di sana, dan aku datang ke sini menunggang kuda.
Walaupun bukan kuda yang terbaik, orang yang bisa meringankan tubuh mungkin
bisa lebih cepat dari kudaku, tapi dari Gunung Ong-bu hingga Hoa-san paling
sedikit jaraknya 700-800 li, aku tidak percaya dengan jarak yang begitu jauh, ada
orang yang bisa lari lebih cepat dari kudaku."
"Daripada kita hanya menebak-nebak, lebih baik kita beri penghormatan terakhir
kepada almarhum." Kata Yu He-cu.
"Baiklah Coh Tayhiap, kau pun ikut bersama kami untuk melihatlihat" Kata Thian
Bu.
Mereka memasuki ruang rahasia, posisi Thian Koan masih seperti ketika dia
diburuh, posisinya berbaring di tempat tidur. Wajah orang yang sudah meninggal,
menampakkan ekspresi yang aneh. Ada ekspresi marah, terkejut, semua
bercampur menjadi satu. Walaupun sudah kaku tapi dari wajahnya terlihat
kegetiran hatinya.
"Kelihatannya si pembunuh ini adalah orang yang dikenal oleh Thian Koan Toako."
Kata Yu He-cu.
Thian Bu mengangguk dan berkata,

"Bisa jadi dia itu sahabatnya, bila tidak wajahnya tidak akan begitu menunjukan
roman terkejut" Kata Giauw Rwang suthay:
"Aku juga berpikir seperti ini, karena pembunuhnya adalah orang yang dikenal,
maka Toako tidak menyangka dan dia tidak waspada, bila tidak ketua masih bisa
menahan serangan, sekalipun dia adalah Kie Yan-gan, juga tidak akan bisa
langsung membunuhnya."
Kata Thian Bu:
"Aku masih curiga orang itu adalah orang yang dikenal oleh Toako, dan kamipun
kenal dengannya, tapi aku tidak tahu silat si pembunuh ini berasal dari mana?
Apakah Kakak Yu He-cu bisa melihatnya?"
Coh Thian-su dan Yu He-cu melihat dengan teliti, pakaian bagian dada Thian Koan
sudah robek, tapi tubuhnya tidak terluka, yang lebih aneh lagi kepalanya
melengkung masuk ke dalam, seperti dipukul oleh benda berat, tapi bila dipukul
oleh benda berat seharusnya luka itu membengkak. Bila dibunuh oleh tenaga
telapak tangan agaknya mustahil membunuh pesilat tangguh seperti Thian Koan
mati dan kepalanya tidak hancur, tapi setidaknya juga harus meninggalkan luka,
tiba-tiba Coh Thian-su teringat pada satu hal segera dia menjadi curiga tapi wajah
Yu He-cu masih terlihat seperti kebingungan.
"Sepertinya si pembunuh ini merobek baju ketua untuk mencari surat itu, untung
surat itu tidak ada di tangannya" Kata Thian Bu.
Kata Yu He-cu:
"Mengapa kakakmu tidak menyimpan sendiri malah memberikannya padamu,
apakah dia tahu akan terjadi sesuatu?"
"Bukan memberikannya kepadaku, tapi kepada Thian Ki." Thian Ki juga berkata:
"Surat itu juga bukan diberikan kepadaku, karena waktu itu aku akan menyuruh
Thian Hian keluar lebih awal dari bertapanya, ketua menyuruhku memberinya
kepada Thian Hian, karena hanya dia satu-satunya orang yang ada di perkumpulan
kami yang tahu tulisan Tuan Kiam-ta dan Kie Cianpwee. Yang ditakutkan oleh
ketua adalah adanya pemalsuan tulisan Kie Yan-gan kepada Tuan Kiam-ta!"
Kata Thian Hian:
"Tapi itu benar-benar tulisan Tuan Kiam-ta!" Kata Giauw Kwang suthay:
"Lebih baik kita menyelidiki ilmu silat si pembunuh itu, apakah Kakak Yu He-cu
sudah melihatnya?" Kata Yu He-cu:
"Tenaga telapak tangan yang sangat kuat dan lembut yang digabungkan. Tenaga
ini disebut ilmu telapak tangan Kim-kong dan ilmu Bian-ciang yang dipadukan."

"Tenaga telapak tangan yang sangat kuat dan lembut yang digabungkan. Tenaga
ini disebut ilmu telapak tangan Kim-kong dan ilmu Bian-ciang yang dipadukan."
Kata Coh Thian-su secara tiba-tiba:
"Itu bukan telapak tangan Kim-kong tapi itu adalah ilmu Ta-sikpek-jiu dengan
Bian-ciang yang dikombinasikan menjadi satu."
Kata Thian Bu Tosu:
"Kau benar-benar jeli Coh Tayhiap, aku juga mencurigainya seperti
Ta-sik-pek-jiu sangat keras, sedangkan Bian-ciang sangat lembut, bila kedua
ini dijadikan satu, membunuh orang tidak akan meninggalkan bekas luka,
sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa ilmu silat ini. Apakah Coh Siauhiap
memberi petunjuk?"

itu.
ilmu
tapi
bisa

Jawab Coh Thian-su:
"Sebenarnya aku tidak tahu, tapi pernah ada orang yang memberitahuku,
sepertinya yang memiliki ilmu silat semacam ini hanya Tuan Kiam-ta."
Dia tahu dari Hiat-kun, karena paman dan ibunya dibunuh oleh ilmu silat ini,
Hiat-kun juga pernah menggambarkan keadaan korban pada saat mati. Begitu Coh
Thian-su melihat mayat Thian Koan Tosu, sudah mengetahui bahwa pembunuhnya
adalah orang itu
Nama Tuan Kiam-ta pernah disebut oleh ibu Hiat-kun sebelum dia meninggal,
waktu itu Wie Thian-hoan dan Hiat-kun mendengarnya malah Wie Thian-hoan
sempat mengejar pembunuh itu, dari belakang orang itu terlihat seperti Tuan
Kiam-ta. Terakhir pada saat Wie Thian-hoan masuk ke tempat kediaman Hie
Tionggwee untuk ketiga kalinya, dia bertarung dengan Tuan Kiam-ta sebanyak 2
kali. Dia pun menggunakan ilmu silat ini untuk melawan Hui-thian.
Walaupun masih menjadi teka teki, tapi dalam hati Hiat-kun sudah menganggap
Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibunya tapi Coh Thian-su hanya mempercayai
setengahnya dia tidak percaya kepada Wie Thian-hoan.
Waktu Coh Thian-su mengatakan bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuhnya,
Thian Hian Tosu segera mengerutkan dahinya dan mengatakan,
"Pembunuhnya tidak mungkin Tuan Kiam-ta. Dia menitipkan surat-surat itu kepada
merpati pos milik Kai-pang. Walaupun setelah menitipkan surat dia langsung
datang ke sini, tapi tidak akan secepat burung merpati pos. Walaupun Tuan
Kiam-ta adalah orang ternama, tapi ilmu silatnya masih di bawahku. Aku tidak
percaya dia menyembunyikan silat ini selama puluhan tahun."
Kata Thian Bu Tosu,

"Coh Siauhiap, tadi kau yang mengatakan itu, apa alasanmu?" Jawab-Coh
Thian-su,
"Aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta satu kali, ilmu silatnya lebih tinggi
dariku, tapi juga tidak terlalu jauh, aku tidak....”
Bagaimana bisa menjelaskannya? Karena dia sendiri pun tidak tahu jawabannya,
maka dia hanya bisa berkata 'sepertinya'. Tapi masih banyak teka teki yang belum
terjawab maka dia pun tidak dapat menjelaskannya.
Kata Giauw Kwang suthay:
"Siapa temanmu?" tanya Thian Ki tojin.
"Maaf, aku tidak dapat memberitahunya."
Kata Thian Bu tojin:
"Mungkin Tuan Kiam-ta tidak mendapat ilmu silat ini tapi leluhur keiuarga Kiam
juga ada yang berlatih ilmu seperti ini, tapi karena tidak mampu menguasainya
maka mereka pun tidak meneruskannya."
Kata Thian Hian tojin,
"Toako, yang kau katakan leluhurnya, apakah dia adalah ayah Tuan Kiam-ta? Aku
ingat guru pernah mengatakan bahwa 10 tahun yang lalu, namun telapak tangan
milik ayah Tuan Kam-ta adalah menempati posisi nomor satu di dunia persilatan."
Kata Thian Bu tojin,
"Aku tahu, waktu aku baru masuk ke dunia persilatan, dia masih hidup, aku pun
pernah melihat ilmu silatnya, dia sudah mengusai Ta-sik-pek-jiu membelah batu
dan Bian-ciang yang bisa memukul batu menjadi bubuk. Tapi ilmu yang
dikeluarkan satu-satu, belum bisa menggabungkan 2 ilmu silat ini. Yang aku
maksud leluhurnya adalah ayah dari kakeknya, dia sudah bisa menyatukan ilmu
ini, tapi dia sendiri belum bisa menguasainya. Nama leluhurnya adalah Kiam Hin.
Katanya bila ilmu silatnya sudah terlatih, sebuah tahu yang diletakkan di atas
papan batu, dan dengan tenaga telapak tangan memukulnya, tahu itu tidak akan
hancur tapi papan batunya yang terbelah, kemampuan ayah Tuan Kiam-ta masih
jauh dengan kemampuan ayah dari kakeknya, dan ayah kakeknya termasuk pesilat
yang hebat."
Kata Thian Hian:
"Kalau begitu yang membunuh ketua kami juga belum terlatih hingga tingkat
tertinggi?"
Kata Thian Bu:
"Benar! Tapi orang itu kemampuannya berada di atas Kiam Hin, kalian tahu
bagaimana kemampuan ilmu silat ketua kami, ternyata sekarang bisa dibunuh oleh

penjahat itu, tabuh tidak terluka, ilmu silat mi seperti membelah tahu tapi yang
hancur adalah papan batunya. Tubuh bagian luar tidak terluka tapi tubuh bagian
dalam sudah hancur oleh tenaga telapak tangan ”
Kata Yu He-cu:
"Apakah keluarga Kiam tidak ada lagi yang bisa ilmu ini Atau adakah lagi orang
yang bisa menguasai ilmu silat ini?"
Kata Thian Bu:
"Pepatah mengatakan: di luar langit masih ada langit, di luar orang masih ada
orang lain. Di dunia persilatan ini masih banyak tersembunyi naga dan harimau
yang belum diketahui."
Kata Giauw Kwang Tokow:
"Katanya Tuan Kiam-ta memiliki seorang adik tapi adiknya jarang berkelana di
dunia persilatan."
Kata Thian Ki tosu:
"Adik, apakah kau mencurigai Tuan Kiam-ji? Tapi Tuan Kiam-ji karena salah
berlatih ilmu silat dia menjadi lumpuh, karena itulah dia mengundurkan diri dari
dunia persilatan."
Siapakah pembunuh itu? Tetap tidak ada jawaban, terpaksa
mempersilahkan para tamu untuk beristirahat

Thian Bu

Malam harinya, Coh Thian-su tidak dapat tidur, ayahnya sudah menerima
undangan untuk para pendekar dan pergi ke ibukota. Apakah Tuan Kiam-ta itu
adalah seorang penjahat? Dia juga tidak tahu. Tapi sekarang ada orang yang akan
membuat susah ayahnya, dia adalah Kie Lek-beng. Ilmu silat Kie Lek-beng lebih
tinggi dari pembunuh Thian Koan Tosu. Dia ingin segera menolong ayahnya. Dia
memutuskan setelah hari terang dia akan berpamitan. Sebenarnya Thian Bu Tosu
ingin menyuruh murid-muridnya mengantar Coh Thian-su turun gunung, tapi
akhirnya Yu He-cu sendiri yang mengantarkannya turun gunung.
Kata Coh Thian-su:
"Aku sudah tahu jalannya, tidak perlu diantar lagi!" Kata Yu Hecu:
"Aku datang bersama denganmu, walau tidak bisa pulang samasama setidaknya
aku harus mengantarkanmu turun gunung, masih ada yang ingin kukatakan
kepadamu."
Ternyata karena kesalahpahaman kemarin, cara berpikir Coh Thian-su kepada Yu
He-cu sudah berubah dan Yu He-cu menganggap Coh Thian-su sebagai
sahabatnya, sekarang mereka akan berpisah, Coh Thian-su merasa sedih.

Sepanjang jalan Yu He-cu tetap membicarakan 2 topik masalah ini. Pertama
adalah mengenai Kie Lek-beng, masih hidup atau sudah mati. Kedua, dia menitip
salam untuk ayahnya, kemarin masalah ini sudah dibicarakan, sekarang
pendapatnya bertambah lagi, dia berkata:
"Bila Kie Lek-beng masih hidup, hal pertama yang dilakukannya adalah membunuh
5 Bu-tong Tianglo, yang kedua yang dicari olehnya adalah ayahmu dan banyak
bukti yang mengarah bahwa Kie Lek-beng masih hidup dan ilmu silatnya
bertambah hebat, bukan aku meremehkan ayahmu. Ayahmu juga tidak akan bisa
menahan serangannya, aku kira ayahmu juga harus bergabung dengan Butong,
bila tidak pergilah ke kuil Siauw-lim untuk menghindar."
Coh Thian-su tahu bahwa Kie Lek-beng belum mati, tapi dia sudah memutuskan.
Jadi dia hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya.
"Ada apa Toako mencariku?" Tanya Yu He-cu
Thian Ki tertawa dan berkata:
"Bukan aku yang mencarimu tapi Giauw Kwang suthay."
"Setelah aku mengantar tamu, nanti aku baru akan menemuinya.''
Thian Ki tertawa lagi dan berkata:
"Kau harus mengerti sifat Giauw Kwang suthay, kau menyuruhnya menunggu
begitu lama tentu dia akan marah, biar aku saja yang mengantar tamu turun
gunung."
"Baiklah!"
Coh Thian-su berkata:
"Anda berdua tidak perlu lagi mengantarkanku turun gunung, aku sudah tahu jalan
yang harus ditempuh, biar aku pergi sendiri."
Yu He-cu ingin cepat-cepat bertemu denga Giauw Kwang suthay.
Dan dia berkata:
"Baiklah, terpaksa kau sendiri yang turun gunung."
Thian Ki tojin berkata:
"Kalau begitu, aku pun tidak akan mengantar."
Coh Thian-su turun gunung sendiri.
Tidak lama kemudian dia sudah tiba di Kian-ti-ciang. Kian-ti-ciang adalah 2 sisi
tebing yang curam dan di tengah-tengahnya terdapat jalan yang kecil, tapi tidak
dapat dikatakan sebagai jalan karena itu hanya celah batu saja, karena sulitnya

medan yang harus ditempuh maka jalan pun harus memegang rantai besi, tempat
itu hanya ada sedikit cahaya, tidak ada pemandangan yang bagus, dapat dikatakan
seperti terowongan dengan jalan yang miring. Kedua sisinya adalah dinding batu,
hanya bisa dilewati oleh satu orang, orang harus selangkah demi selangkah
memanjat naik hingga ke puncak, lubang itu panjangnya 6 meter, di pinggirnya
terdapat papan besi. Bila papan besi ini ditutup, akan terputuslah jalan ke
Hoa-san. Jalan itu adalah jalan menuju Hoa-san yang paling dekat.
Karena Coh Thian-su terburu-buru, tiba-tiba dalam kegelapan terjadi sesuatu, tidak
terduga meluncur keluar beberapa panah, untung saja dia cepat menghindar.
Panah yang pertama hampir mengenai tubuhnya, kemudian panah kedua dan
ketiga mampu ditangkisnya dengan Poan-koan-pit.
Coh Thian-su berteriak:
"Siapa yang berani menyerangku secara curang?!!"
Walaupun dia tidak memegang rantai tapi dia pun tidak dapat menggunakan ilmu
meringankan tubuh karena jalan ku sangat sempit dan berada di tengah-tengah
celah batu. Orang itu sepertinya sudah mengetahui keadaan di sana, Coh Thian-su
hanya melihat ada bayangan orang yang berkelebat. Yang lebih celaka lagi belum
sampai di ujung jalan itu, tempat itu sudah gelap dan tidak terlihat apa pun.
Ternyata orang itu menutup ujung lubang keluar dengan papan besi, dengan cara
apa pun Coh Thian-su tidak dapat membuka tutup besi itu.
Ternyata orang itu menutup ujung lubang keluar dengan papan besi, dengan cara
apa pun Coh Thian-su tidak dapat membuka tutup besi itu.
Tiba-tiba Coh Thian-su mencium bau yang sangat harum dan manis. Setelah Coh
Thian-su mencium harum ini, dia segera menguap dan merasa sangat mengantuk.
Coh Thian-su sering berkelana di dunia persilatan, walaupun pengalamannya
belum begitu banyak, tapi sekarang dia langsung tahu bahwa wewangian ini
mengandung racun. Racun ini datang dari sela-sela batu. Bila dia pingsan maka dia
akan seperti kura-kura dalam gentong, tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga,
dia akan mati karena asap beracun itu.
Dia segera menahan nafas, mundur selangkah demi selangkah, sebenarnya dia
ingin cepat keluar melalui lubang lain.
Karena jalan itu bukan jalan yang rata ditambah lagi dia sudah menghisap sedikit
asap beracun, bila memakai ilmu meringankan tubuh, racun akan dengan cepat
menyebar, bila ingin kembali ke jalan asal juga sulit karena keadaan sudah sangat
gelap.
Dia mengira-ngira bahwa dia sekarang berada di tengah-tengah Kian-ti-ciang. Di

dalam Kian-ti-ciang sangat gelap, kelihatannya jalan keluar sudah ditutup oleh
papan besi itu. Coh Thian-su tidak ingin menghabiskan tenaga, dia duduk bersila di
bawah, entah bisa bertahan berapa lama dia juga tidak tahu. Dia hanya berharap
ada orang lain yang tahu dia berada di sana.
Bau harum terus keluar dari sela-sela batu, Coh Thian-su merasa dia makin tidak
sadar.
Sepertinya sudah begitu lama berlalu dia baru sadar dan dia merasa sedang
dipeluk oleh seseorang, tubuh orang itu sangat lembut seperti tubuh seorang
perempuan.
"Apakah aku sedang bermimpi?" Coh Thian-su masih merasa terkejut, tiba-tiba dia
merasa ada yang menekan bibirnya dengan bibir orang itu, dan memberi nafas
buatan, sekarang dia sudah sadar, dan dia merasa orang itu adalah perempuan.
Coh Thian-su terkejut dan mendorongnya, tapi tenaganya belum pulih, sebenarnya
dia tidak mampu mendorong perempuan itu. Tapi karena ada reaksinya
perempuan itu juga lebih terkejut dari Coh Thian-su maka dia melepaskan Coh
Thian-su.
Coh Thian-su berteriak:
"Siapa kau? Kau sedang apa?"
"Coh Siauhiap, kau jangan curiga, aku bukan orang jahat, aku mau menolongmu,
kau sudah menghirup asap beracun itu, obat penawarku tidak cocok maka
terpaksa aku melakukan, melakukan..."
Suara perempuan itu bergetar, dia tidak dapat melihat wajah perempuan itu dalam
kegelapan, tapi dari suaranya terdengar dia sangat malu.
'Terima kasih kau sudah menolongku, tadi aku belum sadar dan telah membuatmu
marah, maafkan aku."
Kata perempuan itu:
"Coh Siauhiap, syukurlah kau sudah sadar, biar aku yang memapahmu keluar."
"Aku bisa keluar dengan menarik rantai ini, Nona tidak perlu khawatir."
Sekarang sudah terlihat ada cahaya yang masuk, dia sudah pulih seperti sedia
kala, dia mulai menarik rantai, selangkah demi selangkah mulai berjalan.
Perempuan itu mengikutinya dari belakang, walau Coh Thian-su tidak berani
membalikkan tubuh untuk melihat tapi dia tahu perempuan itu dengan teliti
sedang memperhatikannya.
”Nona, apakah kau murid Hoa-san ? Mengapa kau tahu aku terkurung di sini?
Siapa siluman yang telah meracuniku?" tanya Coh Thian-su

"Aku tidak tahu iblis itu, hati-hati, kita keluar dulu baru bicara lagi..." sekarang Coh
Thian-su sudah meloncat keluar dari mulut terowongan itu.
Terlihat sinar matahari yang begitu cerah, Coh Thian-su menghirup udara yang
segar, segera dia merasa tubuhnya penuh dengan semangat. Dia membalikkan
kepala untuk melihat, ternyata di belakang Coh Thian-su adalah seorang tokow
yang cantik, wajahnya masih kelihatan merah.
Orang itu bukan orang lain, Coh Thian-su pernah melihatnya kemarin, dia bernama
Ceng Loan. Gurunya adalah Giauw Kwang suthay, satu-satunya Tokow yang
berada di Hoa-san Pai.
"Terima kasih kau telah menolongku, maaf bila aku sudah berbuat tidak sopan."
Kata Coh Thian-su.
Wajah Ceng Loan lebih menjadi merah lagi, dia berkata:
"Kau mendapat musibah di Hoa-san, aku wajib menolongmu, jangan mengatakan
apa-apa lagi."
"Benar."
Tapi dia tidak mengerti mengapa perempuan itu bisa datang tepat pada waktunya.
Kata Ceng Loan:
"Tadi pagi guruku menyuruh mencari Guru Yu He-cu, ternyata Guru Yu He-cu
mengantarkanmu turun gunung. Guruku sifatnya sangat aneh, aku takut Guru Yu
He-cu akan lama mengantarmu, jadi aku menyusul Guru Yu He-cu agar cepat
kembali, kenapa kau seorang diri, mana Guru Yu He-cu?"
Kata Coh Thian-su:
"Dia sudah ikut dengan Guru Thian Ki kembali ke perkumpulan, apakah kau tidak
bertemu dengan mereka?"
Sekarang Ceng Loan terlihat agak tenang dan berkata:
"Bila Guru Yu He-cu sudah kembali itu lebih baik, bila tidak guruku akan marah,
untung juga tidak bertemu dengan mereka di tengah jalan jadi aku bisa melewati
jalan ke Kian-ti-ciang."
Dia berkata lagi:
"Setiba di Kian-ti-ciang, melihat mulut terowongan itu ditutup aku merasa aneh,
kemudian aku mencium ada bau harum yang keluar dari sana, aku tahu keadaan
sangat berbahaya dan aku membuka papan besi itu, dan ternyata kau sudah
pingsan di sana."

Coh Thian-su sangat berterima kasih dan berkata: "Kau melakukan hal yang
berbahaya, bila iblis itu masih berada di sekitar sana dan menutup kembali papan
itu, kau pun akan terkurung di dalam"
Kata Ceng Loan:
"Aku hanya berpikir saat itu aku tidak mempunyai obat penawar, aku lupa pada
keadaan sekelilingku yang berbahaya."
Tiba-tiba mereka mendengar suara Yu He-cu, "Coh Siauhiap, mengapa kau masih
berada di sini?"
Kemudian ada suara perempuan:
"Ceng Loan, mengapa kau bersembunyi di sini? Apa yang sudah terjadi?" orang itu
adalah Giauw Kwang Tokow.
Karena Ceng Loan tidak kembali-kembali maka Giauw Kwang Tokow dan Guru Yu
He-cu menyusul dan mencarinya.
Ternyata Guru Yu He-cu langsung tahu apa yang sudah terjadi karena wajah Coh
Thian-su terlihat sangat pucat, segera dia berkata:
"Cepat kemari! Di mana lukamu?"
"Aku tidak terluka, hanya menghirup asap beracun yang wangi tapi aku sudah
ditolong oleh guru kecil ini."
Terhadap Yu He-cu dia tidak berani bohong juga tidak mau menjelaskan dengan
detil.
Kata Yu He-cu.
"Jangan banyak bicara dulu, aku tolong kau dulu!" dia membantu Coh dengan
tenaga dalam meluruskan nafasnya, Coh Thian-su sudah mulai merasa tubuhnya
menjadi hangat dan tenaga pun sudah mulai pulih kembali.
Giauw Kwang Tokow berkata:
"Kau sudah menolong orang jadi aku tidak menyalahkanmu, coba kau ceritakan,
mengapa kau tahu bahwa Coh Siauhiap berada di dalam sana?"
Ceng Loan mulai bercerita kepada gurunya tapi tidak secara mendetil, tapi
wajahnya mulai menjadi merah, Giauw Kwang sudah bisa menebak apa yang
sudah terjadi.
Kata Giauw Kwang Tokow:
"Aku akan melihat keadaan Kian-ti-ciang."
"Aneh! Sangat aneh!"

"Apa yang aneh?" tanya Yu He-cu
Kata Giauw Kwang suthay:
"Sepertinya asap beracun yang harum itu berasal dari keluarga Tong!"
Kata Yu He-cu:
"Keluarga Tong selalu berprinsip, bila kita tidak membuat masalah dengan mereka,
maka mereka tidak akan menyerang terlebih dahulu kepada kita. Apakah
Hoa-san-pai punya bermasalah dengan mereka?"
"Sudah tentu tidak!"
Kata Yu He-cu:
"Ini sangat aneh, sepengetahuanku, sudah puluhan tahun keluarga Tong tidak
pernah berkelana di dunia persilatan. Merekapun tidak akan menggunakan cara
keji menyerang orang lain. Apakah kau tidak salah ?"
Yu He-cu sangat tahu mengenai senjata rahasia dan racun. Dia baru mengalirkan
tenaga dalamnya untuk Coh Thian-su, dia pun tahu bahwa tenaga dalam Coh
Thian-su sudah terkuras dan sudah terkena Su-kut-san (racun bubuk pelemas
tulang). Dia terkejut dan berkata:
"Seharusnya memang bukan orang dari keluarga Tong tapi setelah melihat
semuanya aku jadi bingung."
"Aku juga bingung." Kata Giauw Kwang.
"Bingung mengenai apa?" Tanya Yu He-cu.
Kata Giauw Kwang:
"Mengapa orang itu bisa tahu rahasia Kian-ti-ciang? Aku bisa pastikan ini adalah
wewangian dari keluarga Tong, tapi tidak dapat memastikan bahwa orang itu
adalah murid keluarga Tong."
"Senjata rahasia keluarga Tong tidak boleh dipelajari oleh orang lain." Kata Yu
He-cu.
Yu He-cu dan Giauw Kwang sama-sama kebingungan, mereka tidak dapat
menebaknya, tapi Coh Thian-su sudah tahu, dia mengetahui sebuah kenyataan.
Dia tahu di keluarga Tong pernah ada seorang anak haram, dia hampir menguasai
seluruh ilmu silat Tong, karena istrinya diketahui berselingkuh, maka anak itu
diusir oleh ayahnya dengan cara aneh.
Rahasia ini didengar oleh Coh Thian-su secara diam-diam dari perbincangan antara
Kie Yan-gan dan Ting Po.

Yang membuatnya pingsan bukan Su-kut-san dari keluarga Tong melainkan
keluarga Bok.
Tapi dia juga belum yakin apakah keturunan keluarga Bok hanya ada Kim-ho dan
Gin-ho?
Yang paling dia curigai adalah Bok Koan-koan, karena Bok Koankoan pernah diusir
oleh Yu He-cu apakah dia masih berani datang ke sini?
Yang dilihat oleh Coh Thian-su hanya bayangan orang itu, walau tidak jelas tapi
sepertinya sosok perempuan.
Ini adalah rahasia keluarga Tong, Kie Yan-gan sudah berpesan kepada Ting Po
agar tidak menyebarkan kepada orang luar karena itu juga Coh Thian-su tidak
berani mengatakannya.
Yu He-cu berkata lagi:
"Apakah kau curiga kepada murid-murid Hoa-san sendiri?" Jawab Giauw Kwang:
"Aku tidak berani mengatakannya, tapi ketua kami dibunuh, bila tidak ada
pengkhianat orang luar pun tidak akan semudah itu beraksi, aku hanya
menyimpulkannya sendiri, kalian jangan menyebarluaskan dulu berita ini."
Tiba-tiba Giauw Kwang Tokow bertanya:
"Ceng Loan, dengan cara apa kau membersihkan racun dari tubuh CohSiauya?"
"Aku memakai obat Kiong-hoa-ih-lu-wan yang guru pernah berikan."
Kata Giauw Kwang:
"Racun ini adalah racun dari keluarga Tong obat sepertinya Kiong-hoa-ih-lu-wan
tidak dapat menawarkan racun itu. Dengan cara apa kau membuat Coh Siauya
cepat sadar? Dan dia bisa sendiri keluar dari Kian-ti-ciang?"
Wajah Ceng Loan menjadi merah dan menjawab: "Mungkin tenaga dalam Coh
Siauya sangat tinggi."
Kata Giauw Kwang:
"Tenaga dalam Coh Siauya tinggi atau tidak, aku tidak tahu, Yu He-cu bagaimana
menurutmu?"
Dalam pikiran Yu He-cu berkata, “Menolong orang, mengapa harus terus menerus
menanyakan hal itu kepada muridnya?'
Yu He-cu menjawab".
"Mungkin obatmu bisa menawarkan racun, kau sendiri belum pernah mencobanya,
jadi tidak tahu khasiatnya"

"Mungkin aku sendiri sudah linglung" Tiba-tiba dia bertanya kepada Coh Thian-su:
"Siapa lagi anggota keluargamu selain dirimu?"
Coh Thian-su menjadi terpaku dan menjawab: "Ayah, ibu tiriku, dan seorang adik
perempuan."
Kata Giauw Kwang Tokow: "Artinya kau belum punyai istri?"
Wajah Coh Thian-su menjadi merah, tapi dia harus tetap dengan sopan menjawab:
"Aku belum menikah."
"Apakah kau sudah bertunangan?"
"Belum," jawab Coh Thian-su, wajahnya lebih memerah. Coh Thian-su
benar-benar tidak bisa menjawab, dalam pikirannya ada bayangan Kang
Hiat-kun, tapi dia tahu Hiat-kun menyukai Hui
thian. Dia tidak dapat menganggap Hiat-kun sebagai kekasihnya. Kata Giauw
Kwang, "Ada ya bilang ada, kalau tidak ada ya bilang tidak ada, untuk
apa malu-malu? Cepatlah kaujawab!" "Tidak ada," terpaksa Coh Thian-su
menjawab seperti itu. Dengan senang Giauw Kwang berkata: "Baiklah, kalau
begitu menikahlah dengan muridku ini!" Walaupun sejak tadi Coh Thian-su sudah
dapat menebak maksud
Giauw Kwang, dia tidak menyangka tokow ini akan begitu terangterangan
melamarnya, Coh Thian-su hanya bisa bengong dan wajahnya memerah.
” Mengapa kau diam saja ? Apakah kau tidak menyukai muridku ini?" tanya Giauw
Kwang suthay.
Ceng Loan menangis dan berkata: "Guru, jangan berkata seperti itu!"
"Apakah kau tidak menyukai Coh Siauya? Bila sudah dewasa harus menikah, kalian
tidak perlu merasa malu."
Kata Ceng Loan:
"Apakah guru sudah lupa, bahwa aku dan guru sama-sama seorang Tokow?"
Kata Giauw Kwang suthay:
"Kita tidak sama, kau masih mempunyai ayah, tahun lalu aku sudah mencarinya
dan dia berharap kau bisa pulang untuk mengurusnya, aku sudah
memberitahumu."
Ternyata ayah dan ibu Ceng Loan adalah sahabat Giauw Kwang, semenjak istrinya
meninggal, ayah Ceng Loan meninggalkannya lalu bergabung dengan para

pemberontak untuk menggulingkan pemerintahan. Sudah lama dia tidak pulang,
semua mengira bahwa ayah Ceng Loan sudah meninggal. Ceng Loan dibawa oleh
Giauw Kwang dan menjadikannya sebagai murid satu-satunya
Ceng Loan terlihat hampir menangis dan berkata: "Aku akan mengikuti guru,
seumur hidup tidak akan masuk ke dunia ramai.”
"Menjadi seorang pendeta adalah untuk menenangkan hati, demi diriku kau tidak
mau mengurus ayahmu, kau jangan terlalu banyak ikut campur, aku tidak mau kau
ikuti terus, pulanglah, jadilah orang biasa dan menikah."
Hati Yu He-cu terasa geli dan dia ingin tertawa, 'Mana ada cara seperti itu melamar
orang?'
Dia pun tidak mau Ceng Loan merasa sedih, dia berkata: "Aku pun setuju bila
Ceng Loan menjadi orang biasa tapi tidak perlu menikah sekarang, itu tidak ada
hubungannya!"
Yu He-cu belum habis berkata-kata sudah dimarahi oleh Giauw Kwang,
"Kau tahu apa? Ceng Loan adalah muridku, dia dibesarkan olehku, apakah kau
lebih mengerti dia dibanding diriku? Dia tidak bicara, tapi aku tahu dia menyukai
Coh Siauya!"
Ceng Loan sangat malu, dia menutup wajahnya dan segera berlari menjauh.
Kata Giauw Kwang Tokow:
"Lihatlah dia! Aku sudah tahu dia menyukai Coh Siauya, perempuan biasanya lebih
pemalu, jadi aku yang mengambil keputusan. Kakak Yu He-cu, kau yang menjadi
mak comblang dari pihak laki-laki."
Giauw Kwang terus berkata seperti itu seakan-akan Coh Thian-su sudah setuju,
maka dia tidak perlu lagi meminta pendapat Coh Thian-su.
Coh Thian-su hanya terpaku, akhirnya dia bisa bicara:
"Terima kasih atas kebaikan Cianpwee, tapi maaf aku tidak bisa menuruti kemauan
Cianpwee!"
Giauw Kwang Tokow marah dan berkata,
"Apakah muridku tidak sepadan denganmu? Kau tidak menyukai wajahnya? Atau
ilmu silatnya tidak sebanding denganmu?"
"Semuanya bukan!"
"Jadi karena apa?"
Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'di dunia ini ternyata ada juga orang yang
memaksa seperti itu.'

Dia merasa marah sekaligus malu, dia melihat ke arah Yu He-cu, dia meminta
'bantuan' kepada Yu He-cu.
Yu He-cu tertawa dan berkata:
"Sahabat, memilih menantu tidak perlu terburu-buru, kau harus tahu bahwa
keluarganya adalah keluarga pesilat nomor satu di Kang-lam "
Belum habis kata-katanya, wajah Giauw Kwang sudah berubah, dia berkata:
"Ternyata Coh Siauya tidak suka kepada muridku karena merasa tidak serasi!
Benar, aku memang Tokow yang miskin muridku juga orang miskin. Baiklah, kami
tidak akan mencari posisi dan menjilat Coh Siauya Silahkan kau pergi!"
Dari tadi memang Coh Thian-su sudah ingin pergi, tapi dia juga tidak mau Giauw
Kwang Tokow salah paham kepadanya, dia berkata:
"Aku bukan orang yang berpandangan sempit, kata-kata tadi semua diucapkan
olehmu bukan olehku." Dari kata-kata Coh Thiansu, dia mulai berlaku tidak sopan
kepada Giauw Kwang.
Giauw Kwang Tokow malah terlihat senang, dia berkata: "Ternyata kau tidak
bermaksud seperti itu."
Dia berkata lagi, "Kakak Yu He-cu, kau tidak bisa memakai hatimu sendiri untuk
mengukur dalamnya hati Coh Siauya."
"Lebih baik Coh Siauya sendiri yang menjawab, mau atau tidak mau, maka urusan
pun akan menjadi selesai"
Kata Coh Thian-su:
"Aku tetap mempersilakan Guru Yu He-cu yang menolak, karena dia lebih tahu
kesulitanku."
Giauw Kwang menggeleng-gelengkan kepala dan berkata:
"Perempuan dan laki-laki saling menyukai kemudian menikah, bukankah itu adalah
hai yang menyenangkan, mengapa kau malah merasa susah? Benar-benar
merepotkan, kakak Yu He-cu, bila kau memang tahu, coba katakan kepadaku!"
Jawab Yu He-cu:
"Kau bersikap seperti itu, hingga membuatku lupa sudah mengtakan sampai
dimana ”
"Kau bilang dia berasal dari keluarga pesilat nomor satu di Kanglam."
Kata Yu He-cu:
"Benar, maka dia pun harus mendapat restu dari ayah dan ibunya, biar mereka

hal kecil aku bisa membantunya mengambil keputusan. kita tidak perlu bertanya kepadanya. kau jangan mengatakan yang tidak-tidak!" Giauw Kwang tertawa dan berkata: "Coh Siauhiap.yang mengambil keputusan. Aku tidak mau menghalangi masa depan muridmu." Kata Giauw Kwang: "Bila ayahmu sudah meninggalkan ibukota.. aku hanya berpikir seperti itu. Apakah kau takut Hui-thian membunuh ayahmu? Bila Hui-thian membunuh ayahmu. dia tertawa dan berkata: "Teman adalah teman. apakah kau tidak bisa mengambil keputusan? Ibunya adalah ibu tiri." Kata Giauw Kwang: "Ayahnya adalah teman baikmu. tapi itu hanya untuk kalangan orang terpelajar. dia berkata." Yu He-cu melihat Giauw Kwang yang tidak tahu aturan." Coh Thian-su dibuat tidak berdaya oleh Giauw Kwang. tertawa pun tidak bisa. aku akan menunggu kau memberitahu kepada ayah dan ibumu. jangan salahkan aku. tapi tidak akan bisa sampai membunuh ayahku." Tanya Giauw Kwang: "Apakah ayahmu seperti orang lain." Yu He-cu mengerutkan dahi dan berkata: "Giauw Kwang. "Hui-thian memang berilmu tinggi. harus ayah dan ibunya yang mengambil keputusan. aku selalu seperti ini. kemudian menikah kau tidak perlu menungguku. Apakah aku bisa bertemu dengannya. menangis tidak bisa. tidak kusangka dalam keluarga pesilat pun harus seperti itu." Kata Giauw Kwang: "Aku juga tahu aturan ini. aku pun akan menyuruh Ceng Loan menunggumu melewati masa duka selama 3 tahun. Baiklah. aku pun tidak tahu. Ceng Loan pun akan menunggumu!" Kata Coh Thian-su: "Kali ini aku akan ke ibukota untuk mencari ayahku. Aku berdoa agar ayahmu panjang umur. pasti ada suatu hari kau bisa bertemu dengannya. aku bukan menyumpahi ayahmu. Bukan ini yang kupikirkan. Bila kau menginginkan muridmu menjadi orang biasa. bila masalah besar. melihat guru dan murid yang miskin seperti ..

dia ingin marah sekaligus ingin tertawa. Pada hari ketiga dia sudah tiba di Propinsi Ho-pak di kota Lengpau Karena kudanya sudah direbut oleh Gin-ho. jangan ganggu dia lagi!" Giauw Kwang Tokow tahu bicara terus pun percuma. tapi bila kembali memikirkan masalah tadi. melihatnya lari karena marah dan malu. Walaupun dia marah. Dalam beberapa hari ini tempat-tempat yang dilewati olehnya adalah tempat yang miskin dan tidak ada pasar yang menjual kuda. dia tidak bisa pergi ke ibukota hanya dengan mengandalkan kedua kakinya. bila aku punya pikiran seperti itu berarti sudah menghinanya!" Coh Thian-su sudah menenangkan hatinya kemudian dia meneruskan langkahnya. kau beritahu saja kepada ayahnya agar membatalkan lamaran itu." Kata Yu He-cu: "Baiklah. "Di dunia ini ternyata ada juga orang yang tidah tahu aturan. Coh Thian-su pun tidak berniat untuk membelinya. kuda itu tua dan kurus. Dia seperti melepaskan beban yang beratnya beribu-ribu kilo di pundaknya. Coh Thian-su pun merasa kasihan kepadanya. Coh Thian-su segera pamit kemudian pergi.” pikir Coh Thian-su. "Walaupun Leng-pau bukan tempat kuda yang bagus dan ternama tapi bila . Apakah benar Ceng Loan menaruh hati kepadanya seperti yang dikatakan oleh gurunya? Tidak mungkin! Dari kecil Ceng Loan sudah menjadi Tokow. Alasan kedua.kami dengan sebelah mata?" Yu He-cu menahan tawanya dan berkata: "Bagaimana bila ayahnya dalam waktu dekat ini sudah melamar orang lain?" Jawab Giauw Kwang: "Kalau begitu. maka dia memutuskan untuk membeli seekor kuda. "Dia mau menolongku karena hatinya baik malah disalah sangka oleh gurunya. "Aku bukan laki-laki tampan dan juga bukan pendekar." Coh Thian-su sudah turun gunung. maka dia membiarkan Coh Thian-su pergi." Pikir Coh Thian-su. kau masih membutuhkan bantuan apa lagi? Tapi kau harus membiarkan Coh Thian-su pergi. ”Hari ini aku sudah tiba di Leng-pau. Di perjalanan kadang-kadang dia melihat kuda yang sedang menarik kererta barang tapi kuda itu pun kurus dan pemiliknya pun beium tentu mau menjualnya. Bok Koan-koan. tidak mungkin dia jatuh cinta kepadaku. tapi dia sangat berterima kasih kepada Ceng Loan.

tamu yang lebih tua yang berada di sisinya melarangnya lintiiv tertawa. Bok Koan-koan telah merebut kudanya. satu kata pun tidak tertinggal. masuklah seorang tamu perempuan. Perempuan itu berusia kira-kira 30 tahun. juga dua macam-sayur. Ini membuat heran orang-orang di sana. bajunya berwarna merah yang disulam oleh sutra. Coh Thiansu menjadi gemas. yaitu Bok Koan-koan. Tapi Coh Thian-su berusaha menahan diri. Dia tahu pasar kuda itu dibuka pada siang hari. tapi Coh Thian-su tetap tidak mendapat kuda yang cocok. yang sedang makan segera menaruh sumpitnya Coh Thian-su melihatnya setelah melihat Coh Thian-su merasa terkejut. tapi tadi dia datang tidak menunggang kuda seperti Coh Thian-su dia pun berjalan kaki ke kota ini. Dandanannya benar-benar berlebihan dan terlihat sangat genit. Perempuan yang datang sendiri untuk minum arak itu tidak aneh. tapi ini adalah rumah makan. Memang benar dia ingin segera membuat perhitungan dengan Bok Koan-koan. terdapat seorang tamu yang masih muda yang tidak dapat menahan tawanya. Coh Thian-su takut akan melukai orang lain. Tamu yang sedang minum arak segera menaruh cangkirnya. Dengan suara manja dia berteriak: "Pelayan." Di kota itu ada pasar yang menjual kuda. Baru saja dia duduk.nasibku mujur. tusuk kondenya terbuat dari emas. matanya terlihat besar. Coh Thian-su berlagak tidak tahu kelakuannya. Tamu itu tidak lain adalah orang yang pernah dia temui di Hoasan. dia menuruti pesanan Coh Thian-su dan cara bicaranya pun sama. apalagi sekarang ini Bok Koan-koan seperti sedang mempermainkannya." Pesanannya seperti pesanan Coh Thian-su. Dia malah menunduk dan minum arak. Bok Koan-koan sering menyerang menggunakan racun. Begitu dia masuk ke dalam sudah menarik perhatian para tamu. aku pesan setengah kilogram daging dan 1 kilogram arak. mungkin aku bisa mendapat kuda yang cocok. tapi perempuan di kota itu tidak ada yang segenit dia. maka dia memutuskan untuk mampir ke rumah makan dulu untuk makan siang. tamu yang muda itu tidak tahan dan mengejek kepadanya. Coh Thian-su sekali melihat sudah ingin marah. bila benar-benar bertarung dengannya. tapi Bok Koan-koan terus menatapnya. berkata: .

hitung berapa semuanya!" Kata pelayan itu: "Nona. sayur yang kau pesan belum matang. dengan tertawa dingin dia berkata: "Seluruhnya tubuhnya penuh dengan kecabulan masih berpura pura jadi orang baik. apa artinya ini?" Tamu yang muda itu berkata: "Minum arak sendiri. Tamu yang muda itu melihat sosok Bok Koan-koan dari belakang. duduklah sebentar lagi!" Kata Bok Koan-koan: "Di sini bau. berapa semuanya? Aku bayar semuanya!" setelah dia membayar dia langsung pergi." pikir Coh Thian-su. dia tidak bersuara. apakah kau sejak lahir memang sudah bodoh?" Coh Thian-su berlaku pura-pura bodoh dan bertanya: "Kakak. Sekarang Bok Koan-koan berjalan menuju ke tempat yang agak menurun. Tidak terasa mereka sudah berjalan sejauh 10 li. . arak Anda pun masih ada separuh. apa enaknya?" Bok Koan-koan menaruh cangkir araknya dan berdiri kemudian dia berteriak: "Pelayan. dia tidak dapat melihat Bok Koan-koan lagi dan Bok Koankoan pun tidak dapat melihatnya."Hei hidung belang. dia ikut berdiri dan membayar pesanannya kepada pelayan. masih sempat marah-marah lagi. Coh Thian-su ingin mengikuti Bok Koan-koan hingga ke tempat sepi." Kata tamu yang lebih tua berkata lagi: "Kau jangan sembarangan bicara! Musibah biasanya datang dari mulut orang!" Coh Thian-su mengambil keputusan untuk mengikuti Bok Koankoan. jalan sudah sepi. mulai memasuki jalan di pegunungan. "Tidak ada orang. baru dia mulai berani bergerak. aku tidak bisa minum lagi. dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Dia melihat Bok Koan-koan sedang berjalan ke depan. hanya menjaga jarak sepanjang mata masih bisa melihat.

tapi segera dia tertawa dan berkata. Coh Thian-su mengira tadinya dia bisa menyerang Bok Koankoan dengan tiba-tiba. tadi begitu berani. dia tertawa dan berkata: "Aku tahu kau pasti akan mengejarku. mengapa sekarang menjadi takut?" Jawab Coh Thian-su dengan marah: "Jangan sembarangan bicara! Aku. bila Koan-koan tiba-tiba menyerang dengan senjata rahasia Coh Thian-su pasti tidak akan bisa mengelak. dia malah merasa aneh. apakah kau malu sehingga tidak mengakuinya?" Coh Thian-su berkata: "Siluman tidak tahu malu! Aku ke sini untuk membuat perhitungan denganmu!" Wajah Bok Koan-koan langsung berubah. Anehnya Koan-koan tidak menyerangnya. tiba-tiba dia mendengar ada tawa perempuan dan berkata.Coh Thian-su langsung mencarinya. begitu dia melihat. "Aku ada di sini!" itu adalah suara Bok Koan-koan. dia memelototi Coh Thian-su dan berkata: "Anak muda. apakah kau sudah gila? Pemuda setampan dirimu. Ternyata sewaktu Bok Koan-koan berjalan dijalan yang menurun.. Bok Koan-koan yang sudah berada di hadapannya. dia mundur beberapa langkah." Bok Koan-koan tertawa dan berkata: "Kau mau apa? Di rumah makan tadi kau mencuri pandang ke arahku. "Mencariku untuk membuat perhitungan? Aku berhutang budi kepadamu? Atau mempunyai hutang apa kepadamu?" Coh Thian-su berkata: "Jangan sembarangan bicara! Apakah kau tidak tahu siapa aku ini? Kau berhutang nyawa dan beuda. Yang lebih aneh lagi.. malah mendekati Coh Thian-su dan mulai bicara. ternyata yang terjadi malah sebaliknya. bils aku pernah . dia bersiap akan menyerang. Koan-koan sepertinya tidak kenal dengannya. Hai kau. aku harus membuat perhitungan denganmu!" Bok Koan-koan mendengar Coh Thian-su berkata dengan serius. Dua bersaudara Bok sangat mahir menggunakan senjata rahasia. Coh Thian-su merasa terkejut dan mulai berjaga-jaga. dia langsung bersembunyi di balik batu besar. aku. aku tahu kau menyukaiku.

Coh Thian-su percaya kepada Tuan Kiam-ta bahwa dia adalah orang yang benar. masih hidup ataukah sudah mati. 'Baiklah. Bok Koan-koan sangat berhubungan erat dengan beberapa masalah di dunia persilatan. kematian ketua Hoa-san Pai juga pasti ada hubungan dengannya. dalam hari dia berpikir. "Kau dibakar hingga menjadi abu pun aku masih kenal! Kau merebut barangku dan hampir mencelakaiku. aku akan lihat dia akan melakukan apa lagi? Sementara aku menunggu dulu. masih ada hal yang lain yang terjadi dalam . aku pasti akan ingat. tapi dia berusaha menjawab dengan tegas. kau masih menganggap bahwa aku sudah melupakanmu?!" Bok Koan-koan tertawa dan berkata: "Apakah benar? Mengapa aku tidak tahu kejadian itu?" "Bukan hanya hal itu. siapa namamu? Di mana dan kapan aku pernah bertemu denganmu?" Coh Thian-su merasa sangat aneh. mengapa kau jadi pendiam? Apakah kau sudah tahu bahwa kau sudah salah lihat orang?" Sebenarnya pendirian Coh Thian-su mulai goyah. dia tidak seperti main-main!' Tiba-tiba dia teringat kepada Tuan Kiam-ta. dia tidak percaya kepada Bok Koan-koan kalau dia tidak mempunyai niat jahat kepadanya. 'Dia sedang mempermainkanku atau dia punya rencana lain? Tapi melihat dari cara bicaranya. dia lebih curiga bahwa Bok Koan-koan sedang mempermainkannya.bertemu denganmu. dia tidak seperti main-main!' Coh Thian-su merasa sangat aneh. Bok Koan-koan tertawa dan berkata: "Hai anak muda. dalam hati dia berpikir. "Apakah Gin-ho pun ada kembarannya?" Tapi Bok Koan-koan dan Tuan Kiam-ta tidak sama. dia paling tahu dengan jelas. salah satunya adalah teka teki Kie Lekbeng. apakah memang benar Tuan Kiam-ta itu ada yang palsu atau dia sendiri yang membuatnya seperti itu? Coh Thian-su menjadi curiga.' pikir Coh Thian-su. 'Dia sedang mempermainkanku atau dia punya rencana lain? Tapi melihat dari cara bicaranya. ada orang yang berani memalsukan dia.

setelah lama dia baru berkata: "Apakah Kie Yan-gan yang kau maksud adalah pesilat nomor satu itu?" "Benar. coba kau ceritakan. kapan dan di mana aku pernah mencelakai Bo-tan mengapa aku harus mencelakaimu?" "Melakukan apa? Tanyalah pada dirimu sendiri! Terjadi 7 hari yang lalu tempatnya adalah di tempat rumah Kie Yan-gan." Kata Bok Koan-koan: "Bagaimana caraku mengancam jiwamu?" "Kau menggunakan jarum beracun dari keluarga Tong dan menotok 3 jalan darahku!" Kata Bok Koan-koan: "Apakah benar kau sudah melihatku?" "Aku tidak dapat melihat dengan jelas.waktu 10 hari ini. mengapa harus menuduhku?" Dengan dingin Coh Thian-su menjawab: . setelah terkena jarum itu aku sempat pingsan. cucu murid Kie Yan-gan?" J awab Coh Thian-su: "Bukan. memang ada berapa Kie Yan-gan di dunia ini?" "Kau mempunyai hubungan apa dengan Kie Yan-gan? Apakah kau adalah Wie Thian-hoan." Bok Koan-koan tampak terkejut. tapi aku yakin orang itu adalah seorang perempuan." Kata Bok Koan-koan: "Baiklah. aku tidak akan salah melihatnya!" Kata Bok Koan-koan: "Di dunia ini begitu banyak perempuan. aku dan tidak Kie Yan-gan tidak mempunyai hubungan saudara.

saat itu aku berada 300 li jauhnya dari keluarga Kie. berarti yang kulihat malam itu adalah setan!" Kata Bok Koan-koan: "Kau bukan bertemu dengan setan. aku berasal dari keluarga Bok dan dijuluki Gin-ho. tapi baru saja bicara sedikit. tidak ada orang ketiga... aku juga pernah menjadi kekasih putra Kie Yan-gan yaitu Kie Lek-beng. tapi tidak akan mempan terhadapku aku tahu dari pelayan keluarga Kie yaitu Ting Po. kemudian berkata: "Apakah aku harus mempercayai mulut setanmu? Bila aku percaya kepadamu.“Karena perempuan yang bisa menggunakan jarum beracun dari keluarga Tong. tiba-tiba dia tampak enggan untuk berkata lagi." Dengan dingin Coh Thian-su tertawa sinis. Kata Coh Thian-su: "Yang aku lihat malam itu bukan setan tapi seekor rase!" Dengan marah Bok Koan-koan berkata: "Kau tidak perlu mengejekku! Memang benar. orang yang satu lagi tidak mungkin tanpa sebab akan datang ke rumah Kie!" Wajah Koan-koan berubah kemudian berkata: "Kau sudah tahu identitasku! Aku beritahu kepadamu. dan aku yakin orang itu dirimu!" Kata Bok Koan-koan: "Mengapa bukan orang yang satu lagi?" "Kau bisa berbohong mengenai hubunganmu dengan keluarga Kie kepada orang lain. Aku mengakui ini di depanmu. kau boleh percaya atau tidak. Kata Bok Koan-koan: "Aku berkata jujur kepadamu. tapi kau juga harus jujur kepadaku!" Kata Coh Thian-su: "Yang aku ceritakan tentang kejadian malam itu memang benar!" . Coh Thian-su pun menjadi bengong. apakah kau puas sekarang?!" Coh Thian-su tidak menyangka bahwa Bok Koan-koan akan begitu terus terang. yang kau tuduhkan malam itu semua salah." Dari cara bicaranya terlihat dia ingin mengatakan yang sebenarnya.

Wajah Koan-koan tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan dia berkata: "Tapi aku tidak percaya kepada kata-katamu. tapi sekarang aku tahu bahwa orang yang paling lihai adalah putranya.Kata Bek Koan-koan: "Mungkin kau tidak sengaja berbohong. tidak akan obat penawarnya." Coh Thian-su menjawab: "Aku tidak butuh kepercayaanmu!" Bok Koan-koan seperti tidak mendengar kata-kata Coh Thian-su. mengapa sampai sekarang kau masih hidup?" Coh Thian-su tertawa dingin: "Aku memang tidak bisa menawarkan racun itu tapi kau jangan meremehkan kemampuan orang lain!" Kata Bok Koan-koan: "Kalau begitu. orang nomor satu di dunia persilatan hingga di masa tuanya. dia melanjutkan: "Dua puluh tahun yang lalu Kie Yan-gan sudah lenyap dari dunia persilatan. tapi bagiku semua itu banyak yang tidak benar!" "Apa yang tidak benar?" "Jarum beracun keluarga Tong bila sudah terkena jalan darah. hanya bisa mencelakai orang. Kie Lek-beng!" Tanya Koan-koan: "Mengapa kau bisa tahu?" "Kie Yan-gan sendiri yang mengatakannya." Coh Thian-su mengamati wajah Bok Koan-koan." Coh Thian-su menatapnya dan berkata: "Apakah sewaktu Kie Yan-gan masih muda ilmu silat yang dikuasai sudah sangat lihai? Aku tidak tahu. mengapa dia harus menghabiskan tenaga dalamnya untuk menolongmu?" Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata: "Kau anggap semua orang seperti dirimu. ilmunya semakin maju bukan mundur. kau dan dia tidak ada hubungan keluarga. tapi tidak mau menolong orang!" .

'Aku sudah tahu alasannya. aku lebih tahu seorang Kie Yan-gan daripada dirimu! "Aku tidak mau berdebat denganmu!" Dalam hati dia berpikir. tapi tidak tahu siapa dirimu. Coh Thian-su menjadi marah dan berkata: "Kau jangan bertindak tidak sopan!" Tanya Bok Koan-koan: "Di bagian mana aku tidak sopan?" "Aku mengatakan nama ayahku. apakah benar kau tidak tahu namaku? Kau sengaja balik bertanya. ada urusan apa dengan ayahku?" Bok Koan-koan tertawa terbahak-bahak. Apakah nama pun aku tidak boleh tahu?" Jawab Coh Thian-su: "Kau pernah mencelakaiku. tidak mungkin aku bisa memberitahumu!' Kata Bok Koan-koan: "Dari tadi aku terus bicara denganmu.Bok Koan-koan tertawa terbahak-bahak. kelihatannya dia benar-benar tidak tahu siapa itu Coh Thian-su. aku adalah Coh Thian-su dari Yang-ciu!" Bok Koan-koan hanya bengong. kemudia dia berkata: ”Yang-ciu itu siapamu?" "Dia adalah ayahku. tapi tawanya penuh amarah dan juga kesedihan Coh Thian-su bertanya: "Kau menertawakan apa?" Bok Koan-koan menghentikan tawanya dan berkata: "Kau sudah tahu mengenai diriku seberapa banyak? Berani menasihatiku? Tapi aku beritahu kepadamu. mengapa kau malah tertawa!" "Apakah Coh Kim-sung itu benar-benar ayahmu?" "Kurang ajar! Kau mengira aku mengakui orang lain menjadi ayahku?!" Kata Bok Koan-koan: . baiklah aku akan beritahu.

Bok Koan-koan segera mundur 10 langkah. 'Senjata rahasia keluarga Tong benar-benar sangat aneh. dan segera maju ke arah Bok Koan-koan. hei. dia tidak melihat ada jarum yang menempel di batu magnet itu. dia sudah memikirkan cara untuk menangkis serangan itu. batu itu bisa menghisap jarum beracun itu. pena Coh Thian-su sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya. tadi kau berada di tempat terang dan aku berada di tempat gelap. bila aku ingin melukaimu dengan senjata rahasia tidak perlu menunggu hingga saat ini. dalam hati dia berpikir. Coh Thian-su semenjak tadi sudah siap dan waspada. apakah kau tahu perselisihan antara keluarga Kie dan Coh Kim-sung?" Kata Bok Koan-koan lagi: "Coh Kim-sung adalah musuh keluarga Kie dan kau adalah putra Coh Kim-sung. walau aku sudah bersiapsiap. Coh Thian-su mengayunkan kedua penanya.' Bok Koan-koan tertawa dan berkata: . dia bisa mengelak. tapi di dadanya ada sisa-sisa tanah. Semenjak diserang dengan jarum beracun oleh Bok Koan-koan. Kau tidak dapat melihatku dengan jelas dan saat itu bila aku mau aku bisa menyerangmu!" Coh Thian-su melibat kuasnya. ternyata yang dilemparkan oleh Bok Koan-koan pun bukan senjata rahasia berbentuk jarum. Mengapa dia mau begitu saja menghabiskaa tenaga dalamnya untuk menolongmu?" Tiba-tiba dia melambaikan tangannya. dia tidak membuatmu susah pun sudah sangat beruntung."Memang patut dicurigai. Dia segera pindah posisi dan Poan-koan-pit sudah berada di tangannya. tetap saja masih mengenai tubuhku. kau jangan marah! Setelah mendengar dengan jelas baru bertarung. Coh Thian-su terkejut. aku tanya sekali lagi. tapi Bok Koan-koan lebih tinggi lagi. Ilmu meringankan tubuh Coh Thian-su sangat tinggi. walaupun Kie Yan-gan menganggapmu masih kecil. dia tertawa dan berkata: "Lihat dengan jelas dulu. tidak terdengar suara jarum perak yang beradu dengan batu magnet. itu pun belum terlambat. Di ujung Posn-koan-pit sudah terpasang batu magnet. ternyata yang dilontarkan Bok Koan-koan adalah bulatan-bulatan tanah.

segera dia tertawa terbahak-bahak." Coh Thian-su masih ragu: "Apakah aku sudah salah melihat orang? tapi aku yakin orang itu adalah dia! Bila kakak beradik pasti akan ada perbedaannya. tidak ada yang benar-benar mirip. Tapi aku percaya 4 hari yang lalu kau juga merebut kudaku. tapi bila kau ingin bukti dan saksi itu tidak sulit." Kata Coh Thian-su: "Aku tidak tahu di mana kau menyembunyikan kudaku."Maafkan aku atas kata-kata yang sudah kuucapkan. Yu He-cu benar-benar menyaksikannya dan malah sempat bertarung denganmu. kau mau membuat perhitungan apa lagi denganku?" Dengan ragu Coh Thian-su bertanya: "Kau bilang malam itu yang menyerangku dengan jarum beracun bukan kau. Sekarang aku yakin kau adalah putra Coh Kim-sung. . tapi hari itu dia kebetulan sedang berada di Hoa-san Ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan Bu-tong dan pergi ke Hoasan. orang yang terluka di bawah pedang Kie Lek-beng yaitu Yu He-cu bukankah dia sudah mundur dari dunia persilatan? Mengapa dia bisa tahu?" Jawab Coh Thian-su: "Memang benar. bila bukan karena kesalahanku. Baiklah. untung saja kau percaya yang ingin mencabut nyawamu waktu itu bukan aku." Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata: "Kau pura-pura bingung. Bila berhutang barang aku bisa bayar. apakah itu adalah dirimu?" Bok Koan-koan terpaku. 10 tahun lebih dia tidak turun dari gunung Butong." "Siapa yang bisa menjadi saksi?" "Bu-tong Tianglo. Yu He-cu" Kata Bok Koan-koan: "Kau bilang aku merebut kudamu di Hoa-san. kau sudah mati dibunuhnya!" Kata Bok Koan-koan "Kalau begitu kau pernah menolongku? Aku benar-benar tidak tahu balas budi. Tapi harus ada bukti aku tidak mau disalah sangka lagi. "Kau bilang aku berhutang nyawa dan hutang benda. Aku tidak bisa bayar hutang nyawa.

tapi kau membuatku bingung. "Benar. bila aku adalah perempuan yang akan ditangkap oleh Yu He-cu. bila menunggang kuda. mengapa aku masih berada di sini?" Coh Thian-su tidak dapat menjawab." Kata Bok koan-koan. jadi yang kau katakan tadi tentu bukan pura-pura karena Kie Lekbenglah aku dibenci oleh Yu He-cu. Bok Koan-koan berkata lagi: . Yu He-cu dan ayahmu bersahabat. sepengetahuanku. dia hanya menatap Gin-ho. "Bila aku tahu dia adalah Yu He-cu dan kau adalah Gin-ho. mengapa kau malah menolongku?” Kata Coh Thian-su. aku tidak akan membantumu!" Bok Koan-koan tertawa dan berkata: "Ternyata kau belum tahu jelas identitas kedua belah pihak. bila mempunyai kuda mengapa harus berjalan kaki?" Kata Coh Thian-su dengan dingin: "Mana aku tahu semua siasatmu?" "Jarak dari sini dengan Hoa-san hanya 3 hari bila ditempuh dengan berjalan kaki.Maaf. apakah kudamu adalah kuda yang bagus?" Coh Thian-su berkata: "Walaupun kuda itu bukan kuda yang terbaik tapi bila sehari bisa menempuh jarak sepanjang 200 U itu sudah cukup. mungkin kau melihat perempuan itu cantik maka kau menolongnya. dia mau membunuhku. Sebenarnya setelah merebut kudamu aku harus pergi. benar-benar membuatku kagum tapi sayangnya perempuan itu malah mencuri kudamu!" Coh Thian-su tampak marah dan berkata: "Kau balas air susu dengan air tuba kau berani bilang bahwa perempuan itu bukan dirimu?" Bok Koan-koan menjawab dengan serius: "Memang bukan aku!" Dia berkata lagi: "Kau pikir 5 Bu-tong Tianglo sangat benci kepada Kie Lek-beng. sehari pun kau sudah sampai di sini.

orang-orang Hoa-san dan Yu Hecu pun pasti berpikiran seperti itu." Bok Koan-koan tertawa dan berkata: "Kau mencurigaiku sebagai pembunuh ketua Hoa-san Pai?" Kata Coh Thian-su: "Kau masih belum mampu untuk membunuh dengan tangan sendiri. "Benar. tapi kau adalah orang yang membantu pembunuhnya!" Bok Koan-koan tertawa: "Kau punya pikiran seperti itu.. ketua Hoa-san Pai pun dibunuh pada hari itu juga. mungkin berita ini bukan kau sendiri yang mendengar. aku harus meninggalkan Hoa-san semakin jauh semakin bagus. tapi kau masih mempunyai kesempatan untuk menelitinya dengan jelas!" Coh Thian-su menatap Bok Koan-koan dengan melotot. wajahnya terlihat ragu dan dia berkata: "Apakah kau benar-benar bukan perempuan itu?" "Apakah kau belum merasa jelas? Tidak perlu terburu-buru aku memang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini." Ucap Coh Thian-su. dia hanya menatap Gin-ho. ketua Hoa-san Pai pun dibunuh pada hari itu juga" Coh Thian-su tidak dapat menjawab. Bok Koan-koan berkata lagi: "Apakah hal itu sudah terjadi 4 hari yang lalu?" "Benar. Kata Bok Koan-koan: "Apakah kau sudah melihatnya dengan jelas? Wajahku mempunyai satu kelebihan dibandingkan perempuan itu." Coh Thian-su menatapnya. wajahmu ada tahi lalat berwarna merah. tapi. terima kasih kau sudah memberitahuku." Bok Koan-koan tertawa: .."Apakah hal itu sudah terjadi 4 hari yang lalu?" "Benar." Kata Coh Thian-su lagi: "Berita yang kau dapat sangat cepat. sepertinya dia sudah tahu perbedaannya.

sejak dia menikah." "Dia adalah ciciku. maka kau kan tahu ini palsu atau bukan!" Wajah Coh Thian-su menjadi merah dengan dingin dia berkata. aku pun berterima kasih kepadamu. tapi aku tidak dapat memberitahumu karena aku sendiripun tidak tahu alasannya" Kata Coh Thian-su: "Kalian adalah kakak beradik. tapi kau hanya tahu sebagian saja. tapi dalam hati dia menganggap karena Kie Lek-beng bermusuhan dengan ayahnya dan Bok Koankoan "Aku tahu bagaimana pendapatmu tentang diriku. tidak ada hubungannya denganmu. aku dan Kie Lek-beng bersembunyi di tempat terpencil.. "Aku dan cirimu tidak mempunyai hubungan apa pun." "Aku percaya kepada kata-katamu. kau mengira dia mau berunding denganku sebelum bertindak? Kau salah! Memang aku dan dia adalah saudara kembar. Akan kuberitahu kepadamu bahwa pemikiranmu salah. tiba-tiba dia berkata: . kau sudah percaya bahwa aku bukan perempuan itu?" "Jadi dia." Kata Coh Thian-su: "Terima kasih. mengapa kau tidak tahu?" "Sepertinya kau salah perkiraan. aku tidak berniat mencelakai keluarga Coh. tapi aku masih ingin tahu." Dia seperti berpikir. kami tidak pernah bertemu lagi. aku akan membantu.. mengapa dia mau mencelakaiku?" tanya Coh Thian-su." Bok Koan-koan sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya dia berkata: "Ini adalah masalahku. kau pun tidak perlu tahu. dia adalah. "Kita sedang membicarakan masalah yang serius!" "Aku pun serius. mengapa cicimu ingin mencelakaiku? Bila aku tahu alasannya." Jawaban ini membuat Coh Thian-su bertanya-tanya lagi. Bok Koan-koan malah balik bertanya: "Apakah aku juga mempunyai alasan untuk membunuh atau mencelakaimu?" Coh Thian-su tidak menjawab."Kau curiga bahwa tahi lalat ini palsu? Kau boleh menyentuhnya. bila bukan karena terpaksa aku tidak akan membalas dendam kepada cicimu. dari kecil terus bersama.

dia akan menangkap kembaran Gin-ho dan perempuan yang berdiri di hadapannya adalah Gin-ho. Coh Thian-su tampak ragu. "Kau mengatakan gunung apa? Di mana itu?" Pikiran Koan-koan sepertinya sedang kacau. "Kau terlalu banyak ingin tahu!" Bok Koan-koan tertawa lagi dan berkata: "Apakah kau masih mau membuat perhitungan denganku?" Coh Thian-su sudah berjanji kepada Yu He-cu. tapi hanya kau yang tidak boleh membunuhku! Karena belum tentu kau bisa membunuhku!" Kata Coh T