BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Medis
1.

Pengertian
Skizofrenia adalah suatu keadaan juwa yang terpecah belah adanya kerekatan
atau dishasmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan. (Bleliler, 1911)
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating)
yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh
genetik, fisik dan sosial budaya. (Rusdi Maslim, 1997; 46).
Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di manamana sejak dahulu kala. Sebelum Kraepelin tidak ada kesatuan pendapat mengenai
berbagai gangguan jiwa yang sekarang dinamakan skizofrenia.
(Kaplan dan Sadock, 2003).
Kraepelin ialah seorang ahli kedokteran jiwa di kota Munich dan ia
mengumpulkan gejala-gejala dan sindroma itu dan menggolongkannya ke dalam
satu kesatuan yang dinamakannya demensia precox.
Menurut Kreapelin pada penyakit ini terjadi kemunduran intelegensi sebelum
waktunya, sebab itu dinamakannya demensia (kemunduran intelegensi) precox
(muda, sebelum waktunya).
(Kaplan dan Sadock, 2003).

2.

Etiologi
a.

Keturunan
Potensi untuk mendapatkan skizofrenia diperkirakan diturunkan (bukan
penyakit itu sendiri) melalui gen yang resesif. Potensi ini kemungkinan kuat dan
lemah tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan pada individu, apakah
akan terjadi skizofrenia atau tidak.

b.

Endokrine
Hal ini berhubungan dengan sering timbulnya skizofrenia pada usia pubertas,
waktu klimaks sterium.

Kehilangan kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik. .Kadang-kadang emosi. d. afeks serta ekspresinya tidak mempunyai kesamaan. misalnya acuh tak acuh terhadap hal . langkah. . h. tekanan jiwa. . Susunan Saraf Pusat Adanya kelainan susunan saraf pusat yaitu pada diencepalon / korteks otak. flights of ideas. dan kehilangan kapasitas untuk prmindahan. nafsu makan berkurang dan berat badan berkurang. Tanda dan Gejala a.Afeks dan emosi kadang kala. . Teori Sigmund Freud Skizofrenia termasuk psikogenik yang terdapat kelainan ego. Metabolisme Klien dengan skizofrenia sering tampak pucat. Tetapi ini dapat dimasukkan dalam kelompok teori somatogenik yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan badaniah. e. pada penderita timbul rasa sedih dan marah. Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikosomatik dengan etiologi yang belum jelas.Parathimi adalah penderita seharusnya menimbulkan senang dan gembira akan tetapi ia menangis. g. Teori Adolf Meyer Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit. super ego. keturunan. f. dan sisi) kadang sebuah ide belum selesai dibicarakan sudah muncul ide lain. 3. Tanda dan gejala primer : 1) Gangguan proses pikir (bentuk. . dan penyakit jiwa seperti luas arterosklerosis otak. sehingga ada yang menduga bahwa skizofrenia disebabkan gangguan metabolisme saat lahir. bloking prestasi. 2) Gangguan afeks dan emosi yang meliputi : . maladopsi. .hal yang penting bagi diri sendiri.Parathini adalah apa yang seharusnya menimbulkan senang dan gembira. Skizofrenia merupakan suatu sindrom yang disebabkan oleh bermacam – macam sebab. antara lain pendidikan yang salah. tidak sehat.Emosi berlainan sehingga terlihat seperti dibuat-buat.c.

penderita skizofrenia mengidentifikasi dirinya adalah suatu objek yang tidak ada artinya. 3) Gangguan kemauan Tidak dapat mengambil keputusan. waham sering kali tidak logis sama sekali. selalu memberikan alasan walaupun tidak dapat tepat dan jelas. Tanda dan gejala sekunder : a) Waham Pada skizofrenia. tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia akan mungkin akan menjadi “pengemis”. Gejala utama ialah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. “pelacur” atau “penjahat” (Maramis. Jenis ini timbul secara perlahan. Pada permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri dari pergaulan. b) Halusinasi Pada skizofrenia. 4. b. b. kalalepsi yaitu suatu posisi badan dipertahankan dalam waktu yang lama. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan atau pelajaran dan pada akhirnya menjadi pengangguran. Gangguan proses berfikir biasanya sukar ditemukan. sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Skizofrenia Hebefrenik . Fleksibel bila suatu anggota badan digerakkan / dibengkokkan terasa suatu tahanan. contoh membenci dan mencintai. Jenis-Jenis Skizofrenia Skizofrenia dibedakan menjadi beberapa jenis.Akibat kepribadian yang terpecah-pecah maka timbul dua hal yang berlawanan yang terjadi secara bersamaan. halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Negativitas yaitu menentang / justru melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang disusun.. Skizofrenia Simplek Skizofrenia simpleks. c) Menarik diri Sebagai contoh. yaitu : a. 2004). 4) Gejala psikomotor / gejala katatonik / gangguan perbuatan 5) Melakukan kegiatan berulang-ulang.

Waham dan halusinasi banyak sekali. di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaan. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan (Maramis. Skizofrenia Residual Skizofrenia residual. d. Kesadarannya mungkin berkabut. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik. menurut Maramis (2004) permulaannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15–25 tahun. Dalam keadaan ini timbul perasaan . 2004). terdapat hiperaktivitas motorik. Skizofrenia Paranoid Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan katatonia sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala campuran hebefrenia dan katatonia. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek. e. Sedangkan pada gaduh gelisah katatonik. juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia (Maramis. g. Skizofrenia Skizoafiktif Pada skizofrenia skizoafektif. tapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia. Secara tibatiba atau perlahan-lahan penderita keluar dari keadaan stuporini dan mulai berbicara dan bergerak. 2004). timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. c. Episode Skizofrenia Akut Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan mimpi. tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. f. 2004). Skizofrenia Katatonik Menurut Maramis (2004) skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia. Pada stupor katatonik. Gejala yang menyolok adalah gangguan proses berfikir. Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini. merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya Bleuler. gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.

Psikofarmaka Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekuivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat. yaitu : 1) Halusinasi yang menetap yang disertai dengan waham yang mengembang. perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi. 4) Gejala-gejala seperti sikap apatis. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen. Prognosisnya baik dalam waktu beberapa minggu atau biasanya kurang dari enam bulan penderita sudah baik. kesadaran yang jernih dan kemauan yang intelektual biasanya tetap terpelihara walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Klien dengan skizofrenia paling sedikit dua gejala dibawah ini yang terus ada secara jelas. h. Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai cara. dapat diganti dengan obat anti psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis . maka timbul gejala-gejala salah satu jenis skizofrenia yang lainnya. otonomik. 3) Perilaku katatonik seperti gaduh dan gelisah. (Maramis. 2004). 5. Pemilihan jenis anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental. Pengobatan Pengobatan pada penderita skizofrenia harus secepat mungkin. yaitu : a.seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berubah. bicara yang jarang dan cenderung menarik diri. Skizofrenia Tak Terinci / Tak Tergolongkan Skizofrenia tak terinci umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari persepsi serta efek yang tak wajar. Kadang-kadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang. 2) Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan. ekstrapiramidal). Semuanya seakan-akan mempunyai arti yang khusus baginya.

peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. tardive dyskinesia. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis. Obat antipsikotik yang beredar di pasaran dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (APG I) dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll). nigostriatal dan tuberoin fundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal. APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik. olanzapine. fluphenazine. menarik diri. defekasi dan hipotensi. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat anti psikosis atipikal. waham dan halusinasi. 2007). Selain itu APG I menimbulkan efek samping anti kolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguan miksi. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine. Onset efek sekunder (efek samping): 2-6 jam. (Luana. hipoaktif. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau anti psikotik atipikal.ekuivalennya. maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. . haloperidol dan pimozide. mesokortikal. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di antaranya adalah trifluoperazine. Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. quetiapine dan rispendon. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. hiperaktif dan sulit tidur. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg di antaranya adalah chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah. Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: a) Onset efek primer (efek klinis): 2-4 minggu.

dan untuk terapi pemeliharaan.Psikoterapi keluarga . malam besar) sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita. muntah. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode. Psikososial Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain: 1) Psikoterapi individual . . Berguna untuk pasien yang tidak / sulit minum obat.5 sampai 5 kali). 2007) b. d) Obat anti psikosis long acting: fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc.Sosial skill training .Terapi suportif .b) Waktu paruh: 12-24 jam (pemberian 1-2 x per hari) c) Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil. IM untuk 2-4 minggu. (Luana. pusing dan gemetar. Pada umumnya pemberian obat anti psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian antikolinergik seperti injeksi sulfas atropin 0. Cara atau lama pemberiannya dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda). Terapi Elektro Konkulsif (ECT) Terapi ini dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita yang lebih banyak diberikan pada serangan berulang. terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung. mual.Manajemen kasus c. dievaluasi setiap 2 minggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-12 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 2 minggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug holidaytapering off).25 mg (secara intra muskular).Terapi okupasi . tablet trihexyphenidyl 3x2 mg/hari. diare.Terapi kognitif dan perilaku (CBT) 2) Psikoterapi kelompok .

riwayat keluarga gangguan mood. sukar konsentrasi. tidak ada faktor pencetus. 2007). autistik. terutama keluarga memegang peran penting dalam proses terjadinya skizofrenia. depresi. kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. 6. di mana pusat dari psikopatologinya adalah gangguan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. gejala negatif. 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Laborami Prefrontal Apabila terapi secara intensif tidak berhasil dan penderita sangat mengganggu lingkungan maka dapat dilakukan cara ini. Terapi koma insulin Hasil kerja baik untuk mendorong penderita bergaul dengan orang lain.d. sulit tidur. dikatakan oleh Sullivan bahwa skizofrenia . e. sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk. tidak menikah/janda/duda. Secara umum 25% individu sembuh sempurna. terutama keluarga memegang peran penting dalam proses penyembuhan skizofrenia. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak. tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua. lingkungan. Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Kekambuhan Skizofrenia : Sullivan mengemukakan teori psikodinamika skizofrenia berdasarkan perjalanan-perjalanan klinik. sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda. onset tidak jelas. menikah. sistem pendukung buruk. Pernyataan ini juga berlaku sebaliknya. gejala depresi. tidak remisi dalam 3 tahun. riwayat sosial buruk. Kekambuhan Skizofrenia Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu: menjadi ragu-ragu dan serba takut. tidak ada minat serta menarik diri. tidak nafsu makan. riwayat keluarga skizofrenia. (Iyus. riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik. (Luana. 2007) 7. Sebab. riwayat trauma prenatal. onset akut. faktor pencetus jelas. Prognosis Skizofrenia Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada. Lingkungan.

tetapi obatobatan tersebut tidak dapat mengajarkan tentang kehidupan dan keterampilan meskipun dapat memperbaiki kualitas hidup penderita melalui penekanan gejalagejala. obat antipsikotik dan psikoedukasi keluarga dilaporkan tidak ada yang kambuh. Sebaliknya semakin lemah dukungan sosial keluarga terhadap penderita memungkinkan semakin lama tingkat kesembuhan skizofrenia. Demikian juga halnya dengan kekambuhan skizofrenia. terkait dengan kuat lemahnya dukungan sosial keluarga. . (Kaplan dan Sadock. Pemberian obat antipsikotik dapat mengurangi resiko kekambuhan. penderita yang mendapat pengobatan antipsikotik 41% dan 19% penderita yang pada keluarga diberikan psikoedukasi. Dari penelitian didapat bahwa 45% penderita skizofrenia yang mendapat pengobatan antipsikotik akan mengalami kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat. Penderita yang mendapat latihan keterampilan sosial. 2003). Pengajaran kehidupan dan keterampilan sosial hanya mungkin didapat penderita melalui dukungan sosial keluarga. Hal ini berarti pengobatan skizofrenia harus dilakukan dengan cara interaksi multidimensional. Semakin kuat dukungan sosial keluarga terhadap penderita memungkinkan semakin cepat tingkat kesembuhan skizofrenia.merupakan hasil dari kumpulan pengalaman-pengalaman traumatis dalam hubungannya dengan lingkungan selama masa perkembangan individu. Gejala-gejala dan ketidakmampuan sosial serta ketidakmampuan individual yang di tunjukkan merupakan hasil dari benturan-benturan yang dialami dalam kehidupan. sedangkan penderita yang diberi plasebo 70% kambuh. Hal ini menunjukkan bahwa kuat lemahnya dukungan sosial keluarga terhadap penderita berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan skizofrenia. Angka kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat pada penderita skizofrenia yang mendapat latihan keterampilan sosial adalah 20%.